Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM PERTUMBUHAN TANAMAN

D
i
s
u
s
u
n
Oleh :
Aloysius Gonzaga Ruba (B1732004)

JURUSAN BUDIDAYA TANAMAN PANGAN


UNIVERSITAS POLITEKNIK TONGGAK EQUATOR
TAHUN 2017/2018
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Makhluk hidup merupakan setiap individu ciptaan Tuhan yang bernyawa, memiliki
sistem metabolisme tubuh, dapat berkembangbiak, dan mengalami proses pertumbuhan dan
perkembangan pada waktu tertentu. Berdasarkan siklusnya, semua mahluk hidup selalu
mengalami masa-masa dimana mahluk itu dilahirkan, berinteraksi dengan lingkungan hingga
kematian yang menghilangkannya dari permukaan bumi ini. Mahluk hidup yang dimaksud disini
diantaranya adalah manusia, hewan dan tumbuhan.
Proses perkembangan dan pertumbuhan merupakan hal yang paling penting pada
makhluk hidup. Suatu makhluk hidup dikatakan tumbuh apabila mengalami perubahan fisik yang
berkaian dengan pertambahan ukuran, bentuk dan volume yang bersifat tidak kembali lagi ke
asalnya. Sedangkan dikatakan berkembang jika mahluk hidup mengalami tingkat kedewasaan
yang menjadikannya lebih sempurna.
Pada tanaman, perkembangan terjadi pada vase generatif yang ditandai dengan
munculnya bunga pertama yang kemudian akan menghasilkan biji dan buah. Proses
pertumbuhan tanaman terjadi pada vase vegetatif yang ditandai dengan bertambahnya tinggi
batang, bertambahnya luas permukaan daun dan semakin dalamnya perakaran di dalam tanah.
Namun, jika tanaman tersebut mengalami pertambahan ukuran pada tempat yang gelap atau
etiolasi, maka tanaman tersebut tidak dapat dikatakan sedang tumbuh atau mengalami
pertumbuhan. Hal ini dikarenakan syarat dari tumbuh itu sendiri adalah tanaman harus
mengalami perubahan ukuran yang disertai dengan pertambahan berat. Akan tetapi pada kasus
tersebut tanaman hanya mengalami pertambahan ukuran panjang dan tidak mengalami
pertambahan berat melaikan justru menurunkan bobot kering dari tanaman.
Tanaman diketahi memiliki dua macam pertumbuhan yaitu pertumbuhan primer dan
pertumbuhan sekunder. Tanaman dikatakan mengalami pertumbuhan primer apabila tanaman
tersebut mengalami pertambahan ukuran panjang pada batang akibat aktivitas dari jaringan
meristem. Sedangkan tanaman yang dikatakan mengalami pertumbuhan sekunder adalah waktu
dimana organ-organ tanaman bertambah besar akibat pengaruh dari aktivitas jaringan meristem
sekunder, dalam hal ini adalah kambium pada batang tanaman.
Proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman dipengaruhi oleh dua faktor. Faktor
pertama (faktor internal) meliputi sifat gen tumbuhan dan hormon, faktor kedua (faktor
eksternal) meliputi radiasi matahari, temperatur, unsur hara dalam tanah, air, angin dan aktifitas
dari mahluk hidup lain seperti hewan yang dapat membantu proses penyerbukan dan manusia
dalam usaha pertaniannya.

1.2. Tujuan
1. Mempelajari terjadinya proses pertumbuhan dan perkembangan organ tanaman.
2. Mengamati letak daerah pertumbuhan pada akar dan pucuk tanaman.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Goldsworthy (1992) menyatakan bahwa proses perkembangan dan pertumbuhan


merupakan hal yang paling penting pada makhluk hidup. Suatu makhluk hidup dikatakan
tumbuh apabila mengalami perubahan fisik yang berkaitan dengan pertambahan ukuran, bentuk
dan volume yang bersifat tidak kembali lagi ke asalnya. Sedangkan dikatakan berkembang jika
mahluk hidup mengalami tingkat kedewasaan yang menjadikannya lebih sempurna.
Fitter dan Hay (1991), menyatakan bahwa proses pertumbuhan dan perkembangan
tanaman pada umumnya dipengaruhi oleh dua faktor. Faktor pertama atau yang lebih dikenal
dengan faktor internal yaitu faktor yang berasal dari tubuh tanaman itu sendiri yang meliputi sifat
gen dan hormon tumbuhan. Faktor kedua atau yang lebih dikenal dengan faktor eksternal
merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang
berasal dari lingkungan, faktor ini diantaranya radiasi matahari, temperatur, unsur hara dalam
tanah, air, angin dan aktifitas dari mahluk hidup lain seperti hewan yang dapat membantu proses
penyerbukan dan manusia dalam usaha pertaniannya.
Jouban (2012) menyatakan bahwa salinitas yang terjadi pada tanah merupakan salah satu
faktor lingkungan yang paling serius di bidang pertanian dan kehadirannya dapat menghambat
pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Kualitas yang tinggi dari tanaman akan didapatkan
apabila faktor lingkungan sudah baik. Oleh karena itu perlu adanya penentuan faktor lingkungan
dalam pencapaian kualitas dan produksi yang lebih baik. Witkowicx (2010) menambahkan, hasil
produksi yang diperoleh dari suatu tanaman dipengaruhi oleh banyak faktor, faktor yang paling
signifikan adalah faktor genotif dari tanaman, morfologi tanaman, cuaca, dan faktor agronomis
seperti kesuburan tanah, pembibitan, kelembaban tanah, aplikasi pengatur tumbuh, dan interaksi
antara faktor tersebut
Zat humic dalam kesuburan tanah memiliki fungsi yang baik dalam pertumbuhan tanaman
dimana manfaatnya melebihi manfaat yang diberikan oleh sifat fisik dan kimia tanah. Zat humic
membantu mengatur pertumbuhan tanaman untuk mengendalikan germinator benih, inisiasi akar,
perkembangan dan daya serap hara, metabolisme, tinggi tanaman, dan fotosintesis (Zandonadi,
2012). Zat pengatur tumbuh yang diberikan pada tanaman akan memberikan daya pertumbuhan
yang lebih cepat. Zat pengatur tumbuh yang diberikan akan meningkatkan daya perkecambahan
pada benih diantaranya seperti yang digunakan untuk perakaran, perbanyakan vegetatif, dan
pertumbuhan lainnya dari tanaman (Dhoran, 2012)
Vitamin adalah senyawa organik yang berperan penting pada pertumbuhan dan
perkembangan tanaman karena kemampuan dari vitamin sendiri yang dapat memacu
pertumbuhan dan perkembangan biji tanaman (Amalia, 2013). Pertumbuhan dan perkembangan
termasuk tinggi pada tanaman juga dipengaruhi oleh adanya ketersediaan unsur hara dari pupuk
anorganik dan pupuk organik dimana dengan penggunaan pupuk SP-36 dan Bokhasi Ela Sagu
yang meningkatkan pertumbuhan tanaman. Penggunaan dosis yang tepat dan bokhasi ela sagu itu
sendiri akan membantu dalam menyediakan unsur hara mikro, dan unsur hara makro,salah
satunya adalah unsur P yang dibutuhkan oleh tanaman (Soplanit, 2012).
Pertumbuhan tanaman di lapang akan terganggu apabila proses perkecambahannya juga
mengalami gangguan, proses perkecambahan pada biji akan dipengaruhi oleh kadar air dalam
biji itu sendiri, dan kadar air dalam bijidipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti suhu,
kelembaban dan lama biji tersebut disimpan. Agar pertumbuhan tanaman baik maka perlu
adanya pengetahuan tentang kadar air dalam biji selama masa penyimpanan agar viabilitas biji
tidak hilang (Winarni, 2010).
Air adalah salah satu komponen penting yang sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman
dimana pada saat kondisi cekaman air terjadi akan tampak daun-daun dari tanaman yang
mengalami cekaman air akan terlihan daunya kecil-kecil. Air juga merupakan penyusun tubuh
sel dimana air sel daun berperan dalam proses metabolisme dan jika terjadi kekurangan air maka
proses metabolisme yang terjadi akan lebih sedikit (Anshar, 2011).
PEMBAHSAN

Pada pengmatan kecambah tersebut, kecambah lengkeng digunakan sebagai indikator


pertumbuhan akar karena lengkeng merupakan tipe bibit hipogeal dimana kotiledon terdapat
dibawah permukaan tanah sehingga pertumbuhan yang terjadi pun akan lebih optimal,
sebaliknya kecambah jeruk digunakan sebagai indikator pertumbuhan pucuk karena jeruk
merupakan tipe bibit epigeal. Pada tipe bibit ini, kotiledon berada di bagian batang yang berada
di antara kotiledon dan daun pertama sehingga pertumbuhannya pun akan optimal jika terjadi di
atas permukaan tanah.

Goldsworthy (1992) menyatakan bahwa proses perkembangan dan pertumbuhan


merupakan hal yang paling penting pada makhluk hidup. Suatu makhluk hidup dikatakan
tumbuh apabila mengalami perubahan fisik yang berkaitan dengan pertambahan ukuran, bentuk
dan volume yang bersifat tidak kembali lagi ke asalnya. Sedangkan dikatakan berkembang jika
mahluk hidup mengalami tingkat kedewasaan yang menjadikannya lebih sempurna.
Pada biji yang ditanam pada suatu media, maka biji tersebut akan mengalami
perkecambahan yang ditandai dengan munculnya akar dan tunas. Peristiwa dimana sistem
pertunasan muncul untuk pertam kalinya dikenal dengan emergence of seedling. Pada beberapa
tanaman yang telah diteliti, radikal merupakan bagian yang muncul pertam kali yang kemudian
akan diikuti dengan munculnya plumula. Pada tanaman dikotil, batang pada proses
perkecambahan dibedakan menjadi hipokotil dan epikotil. Hipokotil adalah bagian batang yang
berada diantara kotiledon dan radikel, sedangkan epikotil adalah bagian batang yang berada di
antara kotiledon dan daun pertama. Berdasarkan perbedaan letak kotiledon pada tanaman, maka
tipe bibit dapat dibedakan menjadi dua, yaitu tipe bibit epigeal dan tipe bibit hipogeal. Pada tipe
bibit epigeal kotiledon terangkat ke atas permukaan tanah karena adanya perpanjangan hipokotil,
kotiledon berwarna hijau dan berbentuk seperti daun, sedangkan tipe bibit hipogeal memiliki
kotiledon yang tetap berada pada biji baik pada saat perkecambahan ataupun sesudahnya
(Heddy, 1994)
Pertumbuhan tanaman pada saat perkecambahan umumnya ditandai dengan perpanjangan
zona-zona meristematik yang berada pada akar maupun pucuk. Wardiana (2008),
menggambarkan hasil percobaannya melalui grafik dibawah ini.
Grafik pertambahan panjang dalam tiap lokus batang
Pertambahan panjang (mm)

16
14
12
10
kontrol
8
6
4
2 perlakuan
0
1 2 3 4 5 6

Titik Lokus

Grafik di atas menunjukkan tentang pertambahan panjang tanaman pada tiap-tiap lokus.
Berdasasarkan data tersebut diketahui bahwa nilai pertambahan panjang terbesar ada pada saat
berada di titik lokus 3. Pertambahan panjang mengalami peningkatan pada titik lokus petama
hingga ketiga, namun pada titik lokus ke 4 dan 5 mulai mengalami penurunan dan kembali
megalami peningkatan pada titik lokus ke 6. Dari hasil percobaaan ini dapat diketahui bahwa
titik tumbuh pada tumbuhan ada pada area dibawah tunas (lokus 3).
Wardiana (2008), juga menyatakan bahwa proses pemanjangan akar tanaman
terkonsentrasi pada sel-sel yang berada di dekat ujung akar, dimana terletak ketiga zona sel
dengan tahapan pertumbuhan primer yang berurutan. Diawali dari ujung akar ke arah atas
terdapat zona pembelahan sel, zona pemanjangan sel dan zona pematangan sel. Pada zona
pembelahan sel terdapat meristem apikal yang menghasilkan sel-sel meristem primer yang
bersifat meristematik. Zona pembelahan sel pada tanaman bergabung dengan zona pemanjangan
(elongasi). Pada zona ini, sel-sel memanjang sampai sepuluh kali dari panjang awalnya, sehingga
dapat mendorong pertambahan panjang pada sel-sel ujung termuda.
Fitter dan Hay (1991), menyatakan bahwa proses pertumbuhan dan perkembangan
tanaman pada umumnya dipengaruhi oleh dua faktor. Faktor pertama atau yang lebih dikenal
dengan faktor internal yaitu faktor yang berasal dari tubuh tanaman itu sendiri yang meliputi sifat
gen dan hormon tumbuhan. Faktor kedua atau yang lebih dikenal dengan faktor eksternal
merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang
berasal dari lingkungan, faktor ini diantaranya radiasi matahari, temperatur, unsur hara dalam
tanah, air, angin dan aktifitas dari mahluk hidup lain seperti hewan yang dapat membantu proses
penyerbukan dan manusia dalam usaha pertaniannya.
Menurut Prihastanti (2010), salah satu faktor penting yang cukup berpengaruh terhadap
proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman adalah cahaya. Cahaya inilah yang akan
memperngaruhi proses pembuatan zat makanan pada proses fotosintesis. Cahaya selain
mempengaruhi fotosintesis juga sangat dibutuhkan oleh tanaman dalam proses-proses
metabolisme lainnya. Faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman
adalah air. Tersediany air pada tanaman sangat penting untuk menunjang berbagai macam reaksi
pada proses metabolisme tanaman. Reaksi yang dilakukan untuk membasahi bagian atau organ
tanaman. Hal ini dilakukan agar senantiasa tanaman tidak menjadi kering dan unsurhara yang
dibutuhkan tanaman tetap bisa terserap oleh tanah dengan menciptakan kondisi jenuh air pada
tanahnya. Dengan demikian maka penyiraman hendaknya dilakukan setiap hari untuk tanaman
yan masih muda dan dilakukan dengan interval hari tertentu untuk tanaman yang sudah dewasa.
Faktor suhu merupakan faktor eksternal lain yang berkorelasi positif dengan faktor cahaya.
Tanaman dapat tumbuh optimal jika suhu rata-rata mencapai 28ºC hingga 33ºC. Suhu yang
optimal tersebut nantinya akan digunakan oleh tanaman untuk melakukan proses-proses
enzimatik. Ketersediaan oksigen dan karbondioksida pada lingkungan tumbuh juga sangat
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan semua jenis tanaman. Karbondioksida yang
berada di lingkungan akan digunakan tanaman untuk bahan utama proses fotosintesis, sedangkan
oksigen digunakan untuk proses respirasi seluler. Faktor lain yang tidak boleh diabaikan adalah
ketersediaan unsur hara di dalam tanah. Unsur hara dalam tanah yang akan mempengaruhi
kelangsungan hidup suatu tanaman. Semakin subur dan tercukupinya unsur hara di dalam tanah
yang menjadi lokasi tumbuh tanaman maka semakin tinggi pula laju pertumbuhan dan
perkembangan yang terjadi pada tanaman.
Faktor internal meliputi gen dan hormon. Gen merupakan sifat bawaan yang terdapat pada
suatu makhluk hidup, sedangkan hormon adalah suatu zat pengatur tumbuh yang dihasilkan oleh
bagian-bagian tertentu pada suatu tanaman. Hormon-hormon yang dihasilkan oleh tanaman
bermacam-macam dan memiliki fungsi yang berbeda-beda. Hormon dikelompokkan menjadi dua
yaitu hormon yang dapat memicu pertumbuhan dan perkembangan seperti hormon auksin,
giberelin dan sitokinin, sedangkan hormon yang lainnya seperti hormon kalin, asam absisant, gas
etilen dan asam traumalin merupakan hormon yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman.