Anda di halaman 1dari 10

ASKEP KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN

SISTEM PERIKONDRITIS

OLEH:1. DESI OKTAVIANA


2. SRI RAHAYU HARTUTI
3. DIAN SAHITA MELINDA
4. HENTI SUSILAWATI
5. LILI ROHMANIA
6. MELI SOLFERIANA

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes) QAMARUL HUDA BAGU-

PRINGGARATA - LOMBOK TENGAH 2015-20


DAFTAR ISI

Daftar isi............................................................................................................................

Kata Pengantar.................................................................................................................

BAB I : PEMBAHASAN.................................................................................................

1. Definisi Perikondritis ..............................................................................................

2. . Etiologi ..................................................................................................................

3. Patofisiologi.............................................................................................................

4 Tanda dan Gejala . ...................................................................................................

5. Pemeriksaan penunjang...........................................................................................

6.Komplikasi................................................................................................................

7. Penatalaksaan Medik...............................................................................................

8. Asuhan Keperawatan...............................................................................................

BAB II : PENUTUP........................................................................................................

1.Kesimpulan............................................................................................................

2.Saran.....................................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur saya panjatkan kepada tuhan yang maha esa, karena atas berkat
dan limpahan rahmatnyalah maka saya boleh menyelesaikan sebuah karya tulis dengan tepat
waktu.
Berikut ini penulis mempersembahkan sebuah makalah dengan judul "ASKEP PADA
PASIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM PERIKONDRIA ", yang mmenurut saya dapat
memberikan manfaat yang besar bagi kita untuk mempelajari seluruh wawasan tentang ginjal
. Melalui kata pengantar ini penulis lebih dahulu meminta maaf dan memohon permakluman
bila mana isi makalah ini ada kekurangan dan ada tulisan yang saya buat kurang tepat atau
menyinggu perasaan pembaca.
Dengan ini saya mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa terima kasih dan
semoga allah SWT memberkahi makalah ini sehingga dapat memberikan manfaat.

Penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi semua pihak dan bila terdapat
kekurangan dalam pembuatan makalah ini penulis mohon maaf, karena penulis menyadari
makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.
BAB I
PEMBAHASAN
1. Definisi Perikondritis
Perikondritis adalah radang pada tulang rawan daun telinga yang terjadi apabila suatu
trauma atau radang menyebabkan efusi serum atau pus di antara lapisan perikondrium dan
kartilago telinga luar (1,2). Umumnya trauma berupa laserasi atau akibat kerusakan yang
tidak disengajakan pada pembedahan telinga (1,3,4). Adakalanya perikondritis terjadi setelah
suatu memar tanpa adanya hematoma(2). Dalam stage awal infeksi, pinna dapat menjadi
merah dan kenyal. Ini diikuti oleh pembengkakan yang general dan membentuk abses
subperikondrial dengan pus terkumpul di antara perikondrium dan tulang rawan dibawahnya.

2. Etiologi
Luka akibat terbakar aurikel adalah faktor predisposisi yang paling sering, sehingga
25% dapat terjadi infeksi. Baru-baru ini juga didapatkan peningkatan infeksi yang disebabkan
oleh tindik telinga.(5). Karena menindik telinga sekarang sebagian dilakukan di pinna, suatu
daerah yang melibatkan porsi kartilago dari aurikel, dapat memberi resiko yang besar untuk
terjadinya perikondritis. Infeksi dari Pseudomonas dapat menyebabkan deformitas kosmetik
yang berat.(3). Suatu furunkel yang tidak memadai pengobatannya merupakan sumber agen
penyebab yang potensial, seperti mikrokokus jenis virulen (Stafilokokus), Streptokokus, atau
Pseudomonas aeruginosa.(1, 6). Infeksi juga dapat dapat terjadi pada saat aspirasi dan insisi
hematoma auris. Cedera pada kartilago juga dapat disebabkan oleh frostbite.(3). perikondritis
juga dapat terjadi sebagai komplikasi dari pembedahan seperti mastoidectomi atau
komplikasi dari hematoma atau otitis eksterna yang disebabkan oleh berenang di air yang
terkontaminasi.
3. Patofisiologi
 Trauma : Laserasi atau akibat kerusakan yang tidak disengaja pada
pembedahan telinga, memar.

 Radang : Furunkel dengan pengobatan yang tidak adekuat


Infiltrasi perikondrium  supurasi  nekrosis tulang rawan

dapat terjadi deformitas daun telinga

4. Tanda dan Gejala


Penderita penyakit ini biasanya mengeluhkan daun telinga yang membengkak,
merah, panas, terasa nyeri, jika ditekan terasa sakit. Pembengkakan daun telinga itu menjalar
ke bagian belakang daun telinga sehingga sangat menonjol.
5. Pemeriksaan Penunjang
- Pemeriksaan penunjang perikondritis dapat dilakukan biopsi pada lapisan
perikondrium dan kartilago telinga luar..
- Pemeriksaan darah dapat menunjukkan infeksi okultisme
- Tes darah ( CBC count, WBC count untuk mencari infeksi, sickle cell anemia, studi
fungsi tiroid dan antibody untuk tiroiditis
6. Komplikasi
Akibat perikondritis dapat terjadi deformitas aurikula yang nyata. Dapat terjadi
komplikasi, yaitu tulang rawan hancur dan menciut serta keriput, sehingga terjadi telinga lisut
(cauliflower ear).

7. Penatalaksanaan Medik
Berikan antibiotik parenteral dan pengobatan topikal untuk infeksi kanalis penyerta.
Pilihan obat disesuaikan dengan hasil biakan atau petunjuk lain mengenai organisme yang
terlibat. Bila kondisi ini tampaknya meluas dan terdapat adanya bukti-bukti adanya cairan di
bawah perikondrium, terdapat indikasi untuk mengeluarkan cairan. Karena tulang rawan
tidak memiliki suplai darah langsung bila dipisahkan dari perikondrium, maka dapat terjadi
nekrosis tulang rawan. Dengan demikian, tulang rawan yang nekrosis perlu dieksisi dan
drainase dipertahankan.

Diagnosis
Diagnosis Perikondritis seringkali ditegakkan berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik.
Diagnosisnya mudah, bagian aurikula yang terlibat membengkak, menjadi merah, terasa
panas, dan sangat nyeri tekan. Mungkin terjadi perubahan bentuk yang abnormal pada
telinga. Riwayat trauma pada telinga penting untuk mendiagnosis Perikondritis atau
Kondritis, karena keduanya merupakan hasil dari luka pada kartilago. Diagnosa Perikondritis
tidak akan keliru dengan lepra pada aurikula yang menyebabkan inflamasi dan perubahan
bentuk yang kronik dan dapat didiagnosis dengan biopsy.
Diagnosis Banding
Penyakit lain dimana Perikondritis menjadi alternatif diagnosis termasuk pada penyakit
Polikondritis Berulang. Penyakit kedua yang mirip dengan perikondritis adalah Erisipelas.
Polikondritis Berulang
Penyakit yang tidak diketahui etiologinya ini menyebabkan peradangan dan destruksi tulang
rawan. Merupakan suatu gangguan tulang rawan generalisata, melibatkan hidung dan telinga
pada 80-90% kasus. Deformitas aurikula menyerupai suatu perikondritis akut yang infeksius
atau suatu telinga bunga kol (cauliflower ear) yang meradang. Hilangnya tulang rawan
menyebabkan telinga menjadi “lemas” dan timbul deformitas hidung pelana. Peradangan
yang bergantian pada kedua telinga (tanpa sebab predisposisi) atau adanya demam memberi
kesan gangguan ini. Dapat ditemukan tinitus dan vertigo, demikian pula kehilangan
pendengaran akibat kolaps meatus akustikus eksternus. Bila laring, trakea dan bronkus ikut
terlibat dapat berakibat suara menjadi serak dan bahkan kematian akibat kolaps dinding
laringotrakea dan bronkus.
Aktivitas penyakit berfluktuasi dan prognosisnya tak dapat diramalkan. Dapat berupa
serangan tunggal atau dapat pula serangan berulang selama-bertahun-tahun. Pengobatan
berupa salisilat dan steroid pada serangan akut, meskipun terdapat kontroversi mengenai
pemberian steroid. Dapson telah digunakan untuk mencegah serangan ulangan. Struktur-
struktur yang terserang harus dilindungi dari trauma.1
Erisipelas
Erisipelas adalah infeksi pada dermis yang disebabkan oleh Streptokokus β hemolitikus Grup
A yang memberikan gejala berupa nyeri, eritema, bengkak, keras, dan panas. Eritema dan
pembengkakan tidak mengikuti batas anatomis tapi berbatas tegas. Gejala sistemik berupa
demam dan malaise juga dapat ditemukan. Infeksi ini diobati dengan penisilin oral, karena
penyakit ini berjalan dengan progresif dan berpotensi mengurangi kualitas hidup, penanganan
dibutuhkan sedini mungkin.
BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN PERIKONDIDIS

A. Pengkajian Fokus
1. Anamnesis
- Aurikula Bengkak, Nyeri, Merah
- Kadang dapat disertai demam
.
2. Pemeriksaan
a. Kriteria dx : edema luas aurikula, hyperemia, panas, nyeri palpasi
b. Suhu tubuh meningkat
c. Supuratif  fluktuasi
d. Nekrosis  deformitas
e. Pembesaran KGB regional
f. Lekosit meningkat
.
B. Diagnosis Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi
2. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan ttg penyakit, penyebab infeksi dan
tindakan pencegahannya
3. Kurang pengetahuan berhubunagn dengan kurang terpaparnya informasi tentang
penyakit, pengobatan

C. Rencana Asuhan Keperawatan

Diagnosis Tujuan dan kreteria Intervensi Rasional


keperawatan hasil

Nyeri b/d proses Tujuan : Setelah 1. Kaji tingkat nyeri ssi Memberi info
inflamasi diberikan tindakan skala nyeri untuk mengkaji
keperawatan rasa respon terhadap
nyeri pasien dapat intervensi
berkurang 2. Kaji dan catat respon membantu dalam
pasien terhadap memberi
Kriteria hasil :
intervensi intervensi
- Melaporkan nyeri selanjutnya
3. Kolaborasi beri
berkurang/ terkontrol. mengurangi nyeri
preparat analgetik
Menunjukkan 4. Memasang sumbu untuk menjaga
ekspresi wajah/ bila kanalis auditorius kanalis tetap
mengalami edema terbuka
postur tubuh rileks.

Diagnosa Tujuan dan kreteria


Intervensi Rasional
keperawatan hasil
Ansietas b/d kurang Tujuan : mengurangi Dengarkan dgn mendengar
pengetahuan ttg ansietas cermat apa yg memungkinkan
penyakit, penyebab Kriteria Hasil : dikatakan klien deteksi dan koreksi
infeksi dan tindakan- Klien tidak tentang penyakit dan mengenai
pencegahannya menampakkan tanda- tindakannya kesalahpahaman
tanda gelisah dan kesalahan
- Klien terlihat tenang informasi
Berikan penjelasan pengetahuan ttg
singkat ttg diagnosa spesifik
organisme dan tindakan dapat
penyebab; sasarn meningkatkan
penaganan; jadwal kepatuhan
tindak lanjut
Berikan kesempatan pertanyaan klien
pada klien untuk menandakan
bertanya dan masalah yg perlu
berdiskusi diklarifikasi

Diagnosa Tujuan dan kriteria


Intervensi Rasional
keperawatan hasil
Kurang pengetahuan Tujuan : Setelah 1. Kaji tingkat Mengetahui tingkat
b.d.kurang diberikan tindakan pengetahuan pasien. pemahaman dan
terpaparnya keperawatan, pengetahuan pasien
informasi tentang diharapkan terjadi tentang penyakitnya
penyakit, peningkatan serta indikator
pengobatan pengetahuan dalam melakukan
mengenai kondisi dan intervensi
penanganan yang 2. Berikan informasi Meningkatkan
pada pasien tentang pemahaman klien
bersangkutan
perjalanan tentang kondisi
Kreteria hasil : penyakitnya. kesehatan
- Melaporkan
3. Berikan penjelasan Mengurangi tingkat
pemahaman pada pasien tentang kecemasan dan
setiap tindakan membantu
mengenai penyakit
keperawatan yang meningkatkan
yang dialami diberikan kerjasama dalam
mendukung
- Menanyakan tentang
program terapi
pilihan terapi yang yang diberikan
merupakan petunjuk
kesiapan belajar
Daftar Pustaka

1. Boies L.R. Perikondritis. In : Adams G.L., Boies L.R., Higler P.A. Penyakit Telinga

Luar, Boies Buku Ajar Penyakit THT (BOIES Fundamentals of Otolaryngology). Edisi 6.

Minnesota : Penerbit Buku Kedokteran; 1997. P.81.

2. Sosialisman, Helmi. Kelainan Telinga Luar. In : Soepardi E.A., Iskandar N. Buku

Ajar Ilmu Kesehatan Telinga-Hidung-Tenggorok Kepala Leher. Edisi 5. Jakarta. Balai

Penerbit FKUI; 2004. P.45.