Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH

TEORI AKUNTANSI

“TEORI REGULASI; ISU EKONOMI DAN POLITIK DALAM PENETAPAN


STANDAR”

Disusun Oleh:

KELOMPOK 5

BAIQ HAFAZAH
SYAHRUL MAULANA
ZULJIHAD JAELANI

PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI


UNIVERSITAS MATARAM
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa, karena atas ijin, ridho
serta petunjuk-Nya, makalah Teori Akuntansi tentang Teori Regulasi; Isu Ekonomi dan
Politik dalam Penetapan Standar, ini dapat terselesaikan.

Makalah ini merupakan tugas kelompok untuk memenuhi tugas dalam proses
perkuliahan yang diberikan kepada kami oleh dosen pengampu mata kuliah. Oleh karena
itu, dengan segala ketulusan hati kami menyampaikan penghargaan dan ucapan terima
kasih yang sebesar-besarnya.

Kami menyadari masih banyak terdapat kekurangan dalam tulisan ini karena itu
kami sangat mengharapkan masukan dan kritik yang konstruktif guna berbaikan makalah
ini Selanjutnya kami berharap makalah ini dapat memberi manfaat bagi kami khususnya
dalam memahami tentang Teori Akuntansi tentang Teori Regulasi; Isu Ekonomi dan Politik
dalam Penetapan Standar.

Mataram, Juli 2016

Kelompok V
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

1. 1. Latar Belakang ............................................................................................. 1

1. 2. Rumusan Masalah ....................................................................................... 2

1.3. Tujuan dan Manfaat Penulisan …………………………………………………………………..2


BAB II PEMBAHASAN

2.1 Sejarah munculnya Teori Regulasi ………………………………………………................ 3

2.1 Isu-Isu Politik yang Mempengaruhi Pentapan Standar Akuntansi.................. 7

2.1 Isu-Isu Ekonomi yang Mempengaruhi Pentapan Standar Akuntansi ........... 10

BAB III KESIMPULAN

3. 1. Kesimpulan ................................................................................................ 20

3. 2. Saran .......................................................................................................... 20

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Akuntansi mengalami perkembangan yang sangat pesat seiring dengan


tumbuh dan berkembangnya bisnis surat-surat berharga khususnya bisnis saham
di pasar modal. Masyarakat Amerika sudah mengenal bisnis tersebut sejak tahun
1900 (Belkaoui, 2007). Dalam bertransaksi, baik para investor maupun calon
investor telah menggunakan informasi keuangan perusahaan sebagai salah satu
pedoman dalam membuat prediksi-prediksi dan untuk mengambil keputusan
bisnis, yaitu investasi dalam surat-surat berharga, khususnya dalam saham.
Perkembangan positif yang terjadi terhadap bisnis saham di pasar modal Amerika
juga menunjukkan bahwa kebutuhan perusahaan akan modal juga meningkat
seirama dengan perkembangan pasar. Perkembangan ini sekaligus menunjukkan
bahwa pasar modal memegang peranan penting dalam perekonomian suatu
negara khususnya Amerika pada era tersebut. Di samping itu, juga berarti bahwa
kebutuhan dan peran informasi akuntansi menjadi semakin penting.
Penyusun standar merupakan mediator atau penengah antara konflik
kepentingan investor dan manajer. Masalah fundamental teori akuntansi keuangan
adalah bagaimana merekonsiliasi (mensejalankan) pelaporan keuangan dan peran
informasi akuntansi, terkait dengan pengadaan kontrak yang efisien atau sama
dengan bagaimana menentukan jumlah informasi yang benar sesuai dengan
kebutuhan masyarakat. Peramaslaahan ini memunculkan ide dibutuhkannya
regulasi (standard an aturan akuntansi) guna melindungi pengguna informasi
akuntasi. Hal inilah yang mengawali munculnya teori regulasi. Walau demikian Pro
dan Kontra perdebatan mengenai aturan dan regulasi dalam akuntansi
mengemuka seiring perbedaan pandangan yang muncul.

1
1.2 Rumusan Masalah

Dalam penyusunan makalah ini, penulis merumuskan berbagai


permasalahan, antara lain :
1. Bagaimanakah isu ekonomi dan politik memepengaruhi penetapan standar
akuntansi?
2. Apa saja Teori Regulasi dan bagaimana teori Regulasi muncul?
3. Mengapa Standar akuntasi dibutuhkan?

1.3. Tujuan dan Manfaat Penulisan


Penulisan tugas makalah Teori Akuntansi tentang Teori Regulasi; Isu
Ekonomi dan Politik dalam Penetapan Standar bertujuan memberikan
pemahaman tentang bagaimana sesungguhnya isu ekonomi dan politik
mempengaruhi penetapan standar akuntansi, bagaimana teori regulasi menjawab
permasalahan terhadap permasalahan-permasalahan yang muncul dan mengapa
teori regulasi ini dibutuhkan dalam dunia akuntansi dewasa ini.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 SEJARAH MUNCULNYA TEORI REGULASI

Literatur-literatur akuntansi secara formal memulai pembahasan perjalanan


akuntansi dengan mengambil start awal tahun 1900. Masyarakat Amerika pada era
tersebut telah menggunakan informasi akuntansi sebagai salah satu pedoman untuk
pengambilan keputusan investasi. Di sisi yang lain penggalian dan pengembangan
prinsip-prinsip akuntansi baru dilakukan tahun 1933. Pada tahun tersebut Stock
Exchange Commission (SEC) menerbitkan undang-undang yang mengatur tentang
penerbitan sekuritas dan undang-undang 1934 yang mengatur tentang perdagangan
sekuritas dan tahun 1938 SEC memberdayakan Committee on Accounting
Procedures (CAP). CAP merupakan lembaga yang dibentuk oleh The American
Institute of Certified Public Accountants (AICPA) yang bertugas untuk menggali
prinsip-prinsip akuntansi yang memadai dan mendukung praktik-praktik akuntansi.
Jadi, melalui CAP, AICPA dan SEC berharap bahwa informasi akuntansi yang
dihasilkan oleh suatu entitas memiliki kualitas sehingga layak digunakan sebagai
dasar untuk pengambilan keputusan ekonomik khususnya keputusan investasi oleh
para pemakai informasi.
Jika dilihat dari awal peran dan perhatian institusi terhadap praktik-praktik
akuntansi, dapat dipastikan kalau pada tahun munculnya bisnis saham di pasar
modal (1900 – 1933) informasi akuntansi tidak dihasilkan dari prinsip-prinsip
akuntansi yang baik karena tidak dilandasi dengan teori akuntansi. AICPA
memberdayakan CAP mulai tahun 1938 dan perumusan teori akuntansi baru
dipelopori oleh Paton dan Littleton pada tahun 1940 dengan diterbitkannya buku
yang berjudul ”An Introduction to Corporate Accounting Standards”. Menurut
Belkaoui (2007) penyebaran kepemilikan saham-saham pada tahun 1900-1933
memberikan peluang pada manajemen untuk sepenuhnya mengendalikan bentuk
dan isi pengungkapan akuntansi. Intervensi manajemen dicirikan oleh penyelesaian-

3
penyelesaian yang bersifat ad hoc (panitia khusus) terhadap masalah-masalah
mendesak dan kontroversial yang muncul dalam praktik.
Inisiatif manajemen menimbulkan konsekuensi-konsekuensi sebagai
berikut.
1. Sebagian besar teknik akuntansi tidak memiliki dukungan teoretis dan
solusi yang diadopsi bercirikan pragmatis.
2. Fokusnya adalah pada penentuan pendapatan kena pajak dan
minimalisasi pajak pendapatan.
3. Teknik akuntansi yang diadopsi didorong oleh keinginan untuk
meratakan earnings.
4. Masalah-masalah yang kompleks dihindari dan solusi berdasarkan
pengadopsian kebijakan.
5. Perusahaan yang berbeda mengadopsi teknik akuntansi yang berbeda
untuk masalah yang sama.

Beranjak dari konsekuensi-konsekuensi tersebut, SEC memandang penting


untuk melindungi para investor (kepentingan publik) melalui penyediaan
informasi akuntansi yang berkualitas.

Terdapat tarik-menarik yang sangat kuat antara pihak yang setuju dengan
yang tidak setuju terkait dengan apakah diperlukan regulasi terhadap standar
akuntansi keuangan. Pihak yang tidak menginginkan regulasi berargumen dengan
menggunakan teori keagenan (agency theory) yang menyatakan bahwa manajemen
memiliki insentif membuat laporan yang andal dan disajikan secara sukarela kepada
pemilik (shareholder) semata-mata untuk menyelesaikan konflik antara pemilik dan
manajemen. Laporan keuangan digunakan untuk memonitor hubungan kerja
(hubungan keagenan) serta untuk menilai dan menentukan kompensasi yang akan
dibayarkan kepada manajer (Belkaoui, 2007). Perusahaan dituntut untuk menyajikan
laporan secara sukarela dan pengguna informasi dapat memaksa pihak-pihak terkait
untuk menyajikan informasi tersebut.

4
Di samping menggunakan teori keagenan, pihak yang tidak menginginkan
regulasi juga menggunakan pendekatan pasar bebas. Menurut pendekatan ini
informasi akuntansi merupakan produk-produk yang bersifat ekonomis, sama
seperti barang atau jasa lainnya. Informasi akuntansi juga merupakan subjek
kekuatan permintaan dari para pengguna dan disediakan oleh para penyaji. Hasilnya
adalah sejumlah pengungkapan informasi yang optimal pada tingkat harga yang
optimal pula. Kapan suatu informasi diperlukan dan sejumlah harga tertentu
ditawarkan untuk itu, maka pasar akan menyediakan informasi asalkan harga yang
ditawarkan melebihi biaya informasi tersebut.
Pihak-pihak yang menginginkan regulasi akan mengunakan teori kepentingan
publik (The Public Interest Theory) dan teori kepentingan kelompok (The Interest
Group Theory) untuk menyukseskan keinginannya karena pada dasarnya, baik
kegagalan pasar maupun kebutuhan untuk mencapai tujuan sosial memaksa adanya
regulasi akuntansi (Scott, 2000). Teori kepentingan publik menyatakan bahwa
regulasi terjadi karena tuntutan publik dan muncul sebagai koreksi atas kegagalan
pasar. Kegagalan pasar terjadi karena adanya alokasi informasi yang belum optimal
dan ini dapat disebabkan oleh (1) keengganan perusahaan mengungkapkan
informasi, (2) adanya penyelewengan informasi, dan (3) penyajian informasi
akuntansi secara tidak semestinya. Dalam teori ini, sentral otoritas juga disebut
regulator dan diasumsikan bahwa masyarakat memiliki kepentingan terbesar pada
informasi akuntansi. Regulator berusaha untuk melakukan pengaturan dengan
sebaik mungkin karena akan memaksimalkan kesejahteraan sosial. Dalam
penerapannya teori kepentingan publik ternyata memiliki masalah sehingga teori ini
dikatakan memiliki masalah implementasi karena sulit menentukan berapa jumlah
regulasi yang sesuai.
Penentuan jumlah regulasi merupakan sesuatu yang sulit dilakukan untuk
komoditas seperti informasi. Masalah yang lebih sulit terletak pada motivasi dari
regulator itu sendiri. Harus disadari bahwa sangat sulit untuk memonitor operasi
regulator dan kekuatan publik untuk memaksa regulator beroperasi demi
kepentingan publik adalah lemah. Kelemahan tersebut juga akan menimbulkan

5
kemungkinan bahwa badan ini akan beroperasi untuk kepentingan pribadi dan tidak
untuk kepentingan umum.
Teori kepentingan kelompok memiliki pandangan bahwa suatu industri
beroperasi karena terdapat sejumlah kepentingan kelompok. Otoritas politik atau
legistatif juga dapat digolongkan sebagai suatu kelompok kepentingan yang memiliki
kekuatan untuk memasok regulasi untuk mempertahankan kekuasaannya. Oleh
sebab itu, teori ini memiliki pandangan bahwa regulasi adalah suatu komoditas di
mana terdapat penawaran dan permintaan. Komoditas akan dialokasikan kepada
para konstituen dengan efektif secara politis dan dengan meyakinkan legislatif
memberikan bantuan regulasi kepadanya.
Kebutuhan untuk mencapai tujuan sosial dan adanya kegagalan pasar
merupakan bentuk alasan yang digunakan untuk mendukung perlunya regulasi
dalam akuntansi keuangan. Tujuan sosial mencakup kewajaran laporan keuangan,
keseimbangan informasi yang disajikan (information symmetry), dan perlindungan
terhadap para investor. Kegagalan pasar dibedakan menjadi kegagalan secara
eksplisit dan kegagalan secara implisit dalam pasar informasi swasta. Kegagalan
pasar eksplisit terjadi dalam pasar khusus informasi akuntansi karena kuantitas dan
kualitas informasi akuntansi berbeda dari manfaat sosial maksimum yang dapat
diperoleh. Dalam hal ini informasi akuntansi dipandang sebagai barang umum dan
terkait dengan ketidakmampuan untuk mengeluarkan pihak yang terlibat dalam
penjualan informasi (free rider). Teori kegagalan pasar secara implisit menekankan
pada satu kondisi atau lebih sehingga terdapat gangguan dalam pasar informasi
akuntansi. Kondisi yang dimaksud, yaitu (1) monopoli manajemen dalam
menyediakan dan mengendalikan informasi, (2) investor yang naif, (3) adanya
functional fixation dalam proses pengambilan keputusan investor, (4) angka-angka
akuntansi yang tidak memiliki arti ekonomis, (5) beragamnya prosedur akuntansi,
dan (6) tidak adanya objektivitas (Watts dan Zimmerman, 1986).
Leftwich (1980) dalam Watts and Zimmerman (1986) menggunakan earnings
market hypotesis (EMH) sebagai dasar untuk membantah keenam alasan yang
dianggap sebagai pengganggu dan merupakan penyebab terjadinya kegagalan pasar.
Dalam ilmu ekonomi, pasar dianggap gagal apabila kuantitas atau kualitas produk

6
yang diproduksi dalam sebuah pasar yang bebas berbeda dari kuantitas atau kualitas
yang optimal bagi masyarakat. Dalam konteks akuntansi, kegagalan pasar terjadi jika
informasi diproduksi dalam jumlah di bawah atau di atas jumlah optimal kegagalan
pasar secara eksplisit. Dengan menggunakan argumen Leftwich (1980), Watts and
Zimmerman (1986) menolak asersi bahwa regulasi diperlukan untuk mengatasi
kegagalan pasar. Salah satu argumen ini menyatakan bahwa kegagalan pasar tidak
terjadi. Di samping itu, alasan kegagalan pasar secara implisit mengasumsikan
bahwa perumus regulasi mengutamakan kepentingan sosial. Watts and Zimmerman
(1986) menyatakan bahwa asumsi ini tidak deskriptif tidak sesuai dengan kenyataan
dan menyarankan untuk meneliti masalah regulasi dengan asumsi bahwa tiap-tiap
perumus regulasi berusaha memaksimumkan kemakmurannya masing-masing.
Asumsi ini digunakan pula untuk menjelaskan perilaku manajer, terutama ketika
melakukan perubahan kebijakan akuntansi yang tidak mempengaruhi arus kas.

2.2 ISU-ISU POLITIS YANG BERHUBUNGAN DENGAN AKUNTANSI KEUANGAN

Pada awalnya akuntansi dianggap sebagai masalah non-politis sama seperti


matematika (eksakta) atau ilmu pengetahuan alam lainnya. Pernyataan tersebut
selaras dengan definisi akuntansi yang melihat akuntansi dari sisi proses seperti
yang disampaikan oleh A Statement of Basic Accounting Theory (ASOBAT) sebagai
berikut. Akuntansi sebagai suatu proses identifikasi, pengukuran, dan
mengkomunikasikan kejadian ekonomi untuk memberikan pertimbangan-
pertimbangan dan keputusan-keputusan kepada pemakai informasi. Definisi
tersebut dikembangkan pada tahun 1941. Pajak merupakan salah satu bidang
akuntansi yang dianggap paling relevan dengan pemasalahan yang menyangkut
kebijakan umum (public policy) dan perhitungan pajak dilakukan secara teknis,
tanpa harus melibatkan pihak akuntan dalam pengambilan keputusan kebijakan
pajak (Solomons, 1978).
Sejak pembahasan penetapan standar akuntansi oleh regulator yang secara
formal dimulai tahun 1933 di Amerika, kegiatan akuntansi dianggap sudah mengarah
pada masalah politis dan angka-angka yang dilaporkan manajemen perusahaan

7
dalam bentuk laporan keuangan berdampak pada perilaku ekonomi. Wolk et. Al.
(2001) menyatakan bahwa regulator menyusun standar-standar akuntansi dengan
mempertimbangkan secara langsung tiga kondisi, yaitu kondisi ekonomi, kondisi
politik, dan teori akuntansi. Pengaruh kondisi-kondisi tersebut menjadikan standar-
standar akuntansi yang dihasilkan regulator merupakan suatu konsensus yang
digunakan sebagai pedoman praktik-praktik akuntansi dalam suatu negara.
Dikatakan konsensus karena standar-standar akuntansi tidak murni turun dari teori,
tetapi juga standar-standar disusun dalam suatu kancah politik melalui kesepakatan
bersama konsensus. Tidak dapat dihindarkan bahwa kondisi ekonomi dan kondisi
politik suatu negara menggeser pengguna informasi dari pemegang saham
(shareholder) ke stakeholder. Regulator pada masanya sudah mengantisipasi
perkembangan tersebut dan telah juga menuangkannya dalam definisi akuntansi
sehingga muncul definisi akuntansi yang berorientasi pada pengguna informasi
sebagai berikut. ”Akuntansi adalah kegiatan/fungsi penyediaan jasa. Fungsinya
adalah menyediakan informasi kuantitatif tentang unit-unit usaha ekonomik,
terutama yang bersifat keuangan, yang diperkirakan bermanfaat dalam pengambilan
keputusan ekonomik (APB Statement No. 4 : 1970)”.
Regulator yang telah berperan dalam mengatur standar akuntansi di Amerika
adalah Committee on Accounting Procedures (CAP), The Accounting Principles Board
(APB), dan Financial Accounting Standards Board (FASB). CAP diberdayakan oleh
asosiasi akuntan profesional Amerika, yaitu American Institute of Certified Public
Accountants (AICPA) pada tahun 1938 dan dibubarkan tahun 1958, APB didirikan
AICPA tahun 1959 dan dibubarkan tahun 1973, dan selanjutnya digantikan oleh FASB
sampai sekarang. FASB memiliki tujuan untuk menetapkan dan meningkatkan
standar-standar akuntansi keuangan dan pelaporan sebagai panduan dan
pendidikan publik di Amerika Serikat. Kriteria decision usefulness mendasari
informasi dan perspektif pengukuran pada pelaporan keuangan merupakan salah
satu tujuan FASB. Bukti empiris menunjukkan bahwa reaksi pasar melalui perubahan
harga sekuritas terhadap informasi akuntansi menunjukkan bahwa investor
menganggap bahwa informasi itu berguna (Ball and Brown, 1968). Suatu standar
baru dikatakan sukses bila standar tersebut berguna untuk pengambilan keputusan.

8
Meskipun decision usefulness merupakan kriteria yang penting, kriteria tersebut
tidak menjamin kesuksesan sebuah standar.
Pembubaran CAP dan APB dikarenakan kedua badan tersebut dianggap telah
gagal dalam mengatur standar-standar akuntansi yang digunakan sebagai landasan
praktik pada masanya. Kegagalan kedua badan tersebut dapat dipahami karena
sebagai badan pengatur standar akuntansi CAP dan APB mendapatkan berbagai
tekanan politis dalam hubungannya dengan standar-standar akuntansi yang
diterbitkan di samping karena alasan bahwa kedua badan tersebut tidak independen
dengan AICPA. FASB sebagai regulator standar akuntansi dari tahun 1973
melanjutkan tugas-tugas badan pengatur sebelumnya. Dalam menetapkan dan
memperbarui standar akuntansi dan standar pelaporan, FASB menempatkan
penekanan pada due process. Proses tersebut terdiri atas tahap-tahap (Scott, 2000)
sebagai berikut.
1. Evaluasi pendahuluan dari masalah-masalah yang berhubungan
terhadap standar akuntansi dan standar pelaporan.
2. Pengakuan dalam agenda FASB
3. Pertimbangan awal
4. Resolusi tentatif
5. Pertimbangan lanjutan
6. Resolusi final
7. Review lebih lanjut

Dalam melaksanakan aktivitasnya, FASB dituntun oleh beberapa persepsi


yang mencakup objektivitas dalam membuat keputusan, pertimbangan dari
pandangan constituents-nya, pengumuman standar hanya ketika keuntungan yang
ingin dicapai melebihi biaya yang diduga, implementasi perubahan dalam cara
yang meminimalkan gangguan kepada praktik yang ada, dan review dan
amandemen (jika perlu) dari keputusan yang telah lalu. Harus diperhatikan bahwa
FASB adalah suatu badan yang memiliki peran yang berbeda dengan AICPA. AICPA
adalah salah satu badan yang mensponsori dan menyokong standar-standar FASB.
FASB juga memandang penting due process untuk mendistilasi kepentingan-

9
kepentingan para pihak yang berusaha memasukkan kepentingannya kepada
regulator.

2.3 ISU-ISU EKONOMI YANG MEMPENGARUHI PENTAPAN STANDAR AKUNTANSI

Luasnya pengaturan standar adalah tantangan bagi para akuntan.


Banyak aspek produksi informasi perusahaan yang telah diatur, dan banyak dari
regulasi ini didasarkan pada lembaga pengatur standar akuntansi itu sendiri, dalam
bentuk GAAP. Selanjutnya jumlah regulasi akan meningkat sepanjang waktu,
seiring dengan semakin banyaknya standar akuntansi yang diumumkan.
Gambar; Organization of Standard Setting: Economic Issues (Scott ch.12)

Eksternalitas
dan Free-riding
Insentif Private
bagi produksi
Informasi Adverse
selection

Respon pasar pada Kegagalan Seberapa besar


Konsep produksi pengungkapan pasar – peran info. Bisa
informasi penuh bagi regulasi mengatur

Moral Hazard
Insentif berbasis
pasar bagi
produksi informasi

Unanimity

1. KONSEP PRODUKSI INFORMASI

Produksi informasi digunakan untuk dua alasan. Pertama, informasi sebagai


suatu komoditas yang dapat diproduksi dan dijual.Maka, wajar saja jika kita
mempertimbangkan secara terpisah biaya dan manfaat informasi yang
diproduksi.Kedua, memerlukan suatu cara yang dapat menyatukan pemikiran
mengenai berbagai macam cara yang dilakukan untuk memproduksi informasi.

10
Informasi merupakan komoditas yang kompleks.Apa yang kita maksud saat
membicarakan kuantitas informasi yang diproduksi adalah; pertama, kita dapat
memikirkan informasi yang lebih tajam dan benar (finer information), seperti
sebuah termometer. Dalam konteks akuntansi, sistem pelaporan yang tajam dan
akurat (finer) mencakup disclosure footnote yang diperluas atau baru, item-item
lini tambahan pada laporan keuangan, segmen reporting, dll.Dalam kaitannya
dengan teori keputusan disini, produksi informasi yang tajam dan akurat berarti
terdapat suatu kemampuan yang lebih baik untuk membedakan antara realisasi
state of nature (keadaan yang tidak pasti).Kedua, Informasi tambahan dalam
konteks akuntansi berarti pengenalan system informasi baru untuk melaporkan
permasalahn yang tidak tercover oleh system biaya historis. Misalnya, marking-to-
market, yang mengintrodusir pengaruh perubahan harga dalam pelaporan
keuangan diskusi dan analisis manajemen dan informasi keuangan yang
berorientasi pada masa depan yang memperluas tanggungjawab pelaporan untuk
memasukkan operaso perusahaan yang diperkirakan.Cara ketiga produksi
informasi adalah kredibilitas. Dalam istilah akuntansi, informasi yang kredibel
(dapat dipercaya) akan lebih reliable (andal). Seringkali dikatakan bahwa keuangan
yang diaudit oleh auditor the Big six lebih andal dibandingkan yang diausit oleh
auditor selain the Big Six. Keempat, kita bisa memikirkan sejumlah mekanisme lain
untuk produksi informasi, seperti signaling.

2. REGULASI AKTIVITAS EKONOMI


Alasan utama adanya regulasi ini adalah untuk melindungi para individu
yang berada pada suatu informasi yang merugikan.Ini menunjukkan bahwa
informasi asimetri mendasari kebutuhan untuk regulasi atas produksi informasi.
Informasi asimetri seringkali digunakan untuk membenarkan diberlakukanya
regulasi untuk melindungi keadaan yang merugikan informasi.Aturan perdagangan
insider dan regulasi untuk memastikan full disclosure dalam prospectus
merupakan beberapa contohnya.Selain untuk melindungi investor biasa, regulasi

11
semacam ini juga dimaksudkan untuk memperbaiki bekerjanya pasar modal
dengan meningkatkan keyakinan publik mengenai kewajaran pasar modal.
Akuntansi juga sangat dipengaruhi oleh regulasi yang dirancang untuk
melindungi pemakai akibat adanya informasi asimetri.Satu peran penting
akuntansi adan auditing adalah melaporkan informasi yang relevan dan reliable,
sehingga peran seorang akuntan dan auditor tetap kredibel dan kompeten.
Produksi informasi dalam bentuk laporan keuangan memasukkan suatu
audit sebagai bagian dari produks informasi informasi perusahaan. Meskipun
suatu audit tidak dapat menghasilkan informasi secara langsung , audit dapat
menambahkan kredibilitas informasi yang diproduksi perusahaan.
Konsekuensinya, audit merupakan komponen yang penting dari total informasi
yang dirilis oleh perusahaan.
Meskipun keputusan untuk memproduksi informasi oleh perusahaan
sangat diatur, terdapat beberapa contoh deregulasi dalam beberapa tahun
terakhir, pada industry lain – transportasi, telekomunikasi, perbankan, dan institusi
keuangan. Terdapt sdikit keraguan bahwa perubahan semacam itu, setidaknya
pada permulaannya, membantu perkembangan yang substantial dalam efisiensi,
inovasi, dan persaingan harga.Tentunya, mereka menghasilkan perubahan yang
drmatis dalam sruktur industry terpengaruh.
Bentuk yang akan diambil oleh deregulasi pengaturan standar ini dapat
meliputi pembatalan standar yang telah ada. Misalnya, membiarkan perusahaan
menghitung lease atau pension seperti yang mereka putuskan. Juga dapat meliputi
suatu pengurangan dalam pengawasan oleh komisi sekuritas dan otoritas sentral
lain, dengan menempatkan kepercayaan dan semakin besar pada sistem hokum
untuk menghalangi pelaporan yang curang. Namun, bentuk lain akan mengurangi
atau mengeliminasi perlunya audit. Perusahaan dapat dengan bebas menentukan
sifat dan luas audit yang mereka inginkan.
Kebanyakan reaksi orang-orang terhadap usulan ini akan membuat pasar
sekuritas akan memburuk (chaos). Suatu usulan mengenai deregulasi,
mengusulkan bahwa kontraktual privat dan tekanan pasar ini memberikan suatu

12
kesempatan untuk beroperasi lebih bebas, seperti halnya yang mereka miliki pada
industry lain dimana regulasi merupakan suatu kejadian yang berakar kuat.
Kegagalan pasar menunjukkan suatu ketidakmampuan tekanan pasar
dalam emnghasilkan suatu jumlah informasi yang “benar” sesuai masyarakat, yaitu
untuk menghasilkan informasi pada titik dimana biaya marjinal pada masyarakat
sama dengan manfaat marjinalnya. Namun demikian, sejak tujuan regulasi yang
ideal adalah untuk memperbaiki pemecahan first best bagi masyarakat, saat
tekanan tidak bisa melakukannya.Akibatnya, jumlah produksi informasi first best
menurut masyarakat suatu benchmark (patokan) terhadap produksi second
bestmana yang lebih realistis dan dapat dibandingkan, seperti halnya akuntansi
present value yang merupakan suatu benchmark ideal untuk penilaian asset dan
pengukuran income.
Terdapat dua jenis informasi yang dapat dimiliki oleh manajer: jenis
pertama, proprietary information; merupakan informasi yang jika dirilis akan
mempengaruhi secara berlawanan aliran kas perusahaan dimasa mendatang.
Misalnya informasi teknik mengenai paten yang berharga, atau rencana untuk
inisiatif strategi seperti penawaran takeover atau merger.Biaya bagi manajer dan
perusahaan akibat dirilisnya informasi proprietary ini bisa sangat tinggi.Jenis kedua
disebut nonproprietary information;merupakan informasi yang tidak secara
langsung mempengaruhi arus kas perusahaan.Informasi ini mencakup informasi
laporan, peramalan earning, rincian pembiayaan yang baru dll.Audit juga termasuk
dalam informasi yang bersifat nonproprietary.

3. INSENTIF PRIVATEBAGI PRODUKSI INFORMASI


Dorongan untuk memproduksi informasi privat muncul dari kontrak yang
diikuti oleh perusahaan.Informasi yang diperlukan untuk memonitor ketaatan
terhadap kontrak, misalnya jika usaha manajerial tidak dapat diamati, ini
mengarah pada suatu kontrak insentif yang didasarkan atas hasil operasi
perusahaan. Juga suatu audit akan menambah kredibilitas terhadap net income
yang dilaporkan, sehingga baik pemilik dan manajer perusahaan bersedia

13
menerima net income yang dilaporkan sebagai ukutan yang andal atas kinerja
manajemen.
Alasan kontraktual atas produksi informasi privat yang muncul saat
perusahaan yang dimiliki perseorangan akan go public. Ini dirumuskan oleh Jensen
dan Meckling (1976). Manjer – pemilik perusahaan go public, setelah menjual
semua atau sebagian kepentingannya, memiliki motivasi untuk meningkatkan
kelalaian. Perhatikan bahwa sebelum IPO, masalah kelalaian merupakan urusan
internal perusahaan – pemilik sekaligus manajer menanggung semua biaya. Biaya
kelalaian merupakan pengurang profit yang terjadi. Akibat adanya issue baru,
pemilik sekaligus manajer tidak memikul semua biaya itu, pemilik yang baru akan
ikut menanggung bagiannya secara proporsional.
Kontrak dapat memberikan banyak rincian dalam laporan keuangan
(informasi finer) untuk menyulitkan pemilik, yang sekaligus menjadi manajer,
dalam menyembunyikan atau memendamkan biaya dari penghasilan tambahan.
Kontrak juga dapat mewajibkan seuatu audit untuk meningkatkan kredibilitas
produksi informasi.
Investor membutuhkan informasi mengenai return dan risiko yang
diharapkan atas investasi mereka. Manajer perusahaan dan tiap investor akan
mengadakan kontrak mengenai jumlah informasi yang diinginkan tentang arus kas
perusahaan di masa mendatang, posisi keuangan, dll.
Perhatikan bahwa investor yang berbeda umumnya akan membutuhkan
informasi dalam jumlah yang berbeda mengenai perusahaan. Seorang investor,
yang terampil dalaman analisis keuangan, dapat meminta proyeksi ini ia dapat
mempersiapkan suatu estimasi arus kas di masa mendatang dan tingkat
pengembalian investasinya. Sementara investor lain mungkin hanya membutuhkan
informasi mengenai kebijakan deviden perusahaan saja. Investor sangat
menghindari risiko mungkin meminta audit yang sangatk redibel, yang tentunya
membutuhkan biaya yang tinggi, sementara investor lain lebih memilih audit yang
ada, yang biayanya tidak terlalu mahal. Investor lain mungkin tidak meminta tiap
informasi semua itu, khususnya jika portofolio investasi mereka didiversifikasi

14
dengan baik, malah mereka mungkin mengandalkan pada efisiensi pasar untuk
melindungi harga mereka.

4. INSENTIF BERBASIS PASAR BAGI PRODUKSI INFORMASI


Dorongan privat bagi manajer untuk memproduksi informasi mengenai
perusahaanya juga berasal dari tekanan pasar.Pertama kali, pertimbangkan pasar
manajer, dibahas oleh Fama (1980), kita bisa memikirkan manajer sebagai subyek
pasar tenaga kerja manajerial, yang menempatkan nilai pasar atas jasa
manajerialnya. Manajer yang rasional akan memilih nilai pasar yang lebih tinggi,
dengan asumsi hal-hal lain dianggap sama/tidak berubah. Ini akan meningkatkan
reservation utility yang dapat mereka minta dalam kontrak pekerjaan agensi.
Kedua, untuk memaksimumkan nilai pasar perusahaan, manajer tentunya
ingin meminimumkan biaya modalnya.Ini menciptakan suatu dorongan untuk
merilis informasi yang utuh dan kredibel ke pasar. Alasannya adalah bahwa
informasi yang utuh dan kredibel meningkatkan keyakinan investor dalam
perusahaan, yang hasilnya adalah harga pasar sekuritas tersebut akan
meningkatkan atau juga sama dengan, biaya modalnya akan turun, cateris paribus.
Ini akan Nampak dalam meningkatkan profitabilitas dan nilai perusahaan, sehingga
akan meninggikan nilai pasar bagi manajer.
Model formal yang berkaitan dengan informasi yang dirilis bagi nilai pasar
perusahaan ditunjukkan oleh, misalnya, Merton (1987) dan Diamond & Verrecchia
(1991). Dalam model Merton, informasi asimetri dirumuskan hanya sebagai
subset investor yang mengetahui tiap perusahaan. Jika perusahaan bisa
meningkatkan besar subset inim katakanlaj dengan dirilisnya informasi secara
sukarela, nilai pasarnya akan meningkat, cateris paribus. Dalam model Diamond
dan Verrechia, disclosure sukarelaakan mengurangi informasi asimetri antara
perusahaan dengan pasar, yang memudahkan perdagangan sahamnya.
Pasar takeover, juga disebut pasar untuk mengendalika perusahaan.Jika
manaher tidak memaksimumkan nilai perusahaan, perusahaan mungkin
mengarah pada penawaran takeover.Konsekuensinya, pasar take over memotivasi

15
manajer untuk memaksimumkan nilai perusajaan yang mengakibatkan adanya
produksi informasi serupa bagi pihak-pihak dari pasar tenaga kerja manajerial.

5. RESPON PASAR PADA PENUNGKAPAN PENUH


Teori memprediksi bahwa pasar akan merespon secara positif pada
pengungkapan yang ditingkatkan. Hal ini di jelaskan pada teori:
1. Lang and Lundholm (1996)
Tingkat pengungkapan informasi yang tinggi dilakukan oleh
perusahaan yang memiliki korelasi earnings-return yang
rendah (korelasi ini sebagai pengukuran asimetri informasi). Lang dan
Lundholm (1996) menunjukkan bukti bahwa perusahaan yang
mempunyai kebijakan memberikan pengungkapan informasi yang lebih
banyak akan diikuti oleh analis yang lebih besar, tingkat
akurasi forecast yang lebih baik, dispersi forecast yang lebih kecil antar
analis individual, dan mempunyai volatilitas revisi forecast yang lebih
kecil. Dispersi dan volatilitas forecast analis menunjukkan suatu
pengukuran yang valid bagi asimetri informasi. Dengan demikian, hasil
penelitian Lang dan Lundholm (1996) tersebut, menunjukkan bahwa
kebijakan pengungkapan yang lebih informatif akan mengurangi
asimetri informasi.
2. Healy, Hutton and Palepu (1999)
Pengungkapan merupakan salah satu alat yang penting untuk
mengatasi masalah keagenan antara manajemen dan pemilik, karena
dipandang sebagai upaya untuk mengurangi asimetri
informasi.Perusahaan memberikan pengungkapan melalui laporan
tahunan yang telah diatur oleh Bapepam dan lembaga profesi maupun
melalui pengungkapan sukarela sebagai tambahan pengungkapan
minimum yang telah ditetapkan.
3. Welker (1995)
Pengungkapan mempunyai hubungan negatif dengan asimetri
informasi.

16
4. Botoson and Plumlee (2002)
Semakin komprehensif atau tinggi tingkat kelengkapan
pengungkapan laporan keuangan maka akan memperkecil asimetri
informasi. Perusahaan dengan pengungkapan kualitas tinggi
menikmati biaya modal utang dan ekuitas lebih rendah, dan
sebaliknya. Kekuatan pasar akan meningkatkan produksi informasi.

6. SUMBER KEGAGALAN PASAR


Setidaknya ada empat hal yang menyebabkan kegagalan pasar
yaitu:
a. Eksternalitas dan free-riding
b. Adverse selection
c. Moral hazard
d. Unanimity
Sumber kegagalan pasar menyarankan bahwa regulasi
diperlukan.Pasar untuk informasi ditandai dengan eksternalitas & Free-
riding, yang memberi alasan autoritas sentral untuk intervensi. Selama
kekuatan pasar tidak memotivasi rilis informasipenuh, pasar sekuritas &
tenaga manajerial tidak secara penuh memproteksi investor dari
konsekuensi insider trading dan manajemen laba.Akibatnya adalah
pemegang saham tidak akan setuju dalam dukungan mereka atas kebijakan
manajer, bahkan kebijakan yang melibatkan maksimisasi nilai perusahaan.
a. Externalities and Free-Riding
Kekuatan pasar sendirian gagal mendorong penyajian jumlah
produksi informasi, maka diperlukan regulasi dengan alasan:
Eksternalitas merupakan tindakan yang diambil oleh perusahaan
atau individu yang menimbulkan biaya atau manfaat pada pihak lain di
mana pihak yang menciptakan eksternalitas tidak terbebani atau
memperoleh pendapatan.
Free-riding adalah ketika perusahaan atau individu memperoleh
manfaat dari eksternalitas.

17
Informasi adalah barang public dimana tiap investor bisa
menggunakannya dengan bebas tanpa mengeluarkan dana, dengan
mengetahui ini maka tidak ada investor yang mau membayar untuk
memperoleh informasi ini, bila perusahaan tidak memperoleh apapun
maka perusahaan akan mengeluarkan informasi lebih sedikit dari pada
sebaliknya.
b. Adverse Selection (Pemilihan serba salah)
Jika satu pihak (manajer atau orang dalam) memiliki kemanfaatan
informasi melebihi pihak lain (investor), banyak cara bagi manajer dan
orang dalam lainnya dapat mengeksploitasi kemanfaatan informasi mereka
dg biaya pihak luar (e.g:pemilik). Kekuatan pasar tidak memotivasi rilis
informasipenuh karena masih banyak iformasi dalam tak terungkap dan
muncul problema pemilihan serba salah (adverse selection). Permasalahan
adverse selection memiliki dua bentuk yaitu:
1. Insider Trading(permainan orang dalam)
Adanya peluang untuk melakukan insider trading, akan
mengurangi minat investor eksternal terhadap pasar sehingga
pasa menjadi kurang liquid.
2. Penghindaran, penundaan (postponing)bad news
Manajer merahasiakan berita buruk (bad news) tentang
perusahaan dan tidak merilisnya sehingga mempunyai efek yang
merugikan (adverse effect) yaitu (a) Mengakibatkan investor
tidak bisa membedakan saham mana yang bagus dan mana yang
tidak sehingga menambah jumlah bad news yang tidak
diungkapkan dan good news yang diungkapkan berkurang. (b)
Selain itu juga mengurangi kemampuan pasar untuk menilai
kualitas manajer.
c. Moral Hazard (Penyimpangan moral)
Adanya moral hazard menyebabkan pasar tenaga kerja tidak bisa
menilai kualitas dari seorang manajer dengan baik.Penyimpangan moral
(moral hazard), jika satu pihak dapat mengamati tindakan pihak lain dalam

18
transaksi.Pembentukan reputasi pada pasar tenaga manajerial,bersama
dengan kontrak kompensasi berbasis insentif,beroperasi untuk mendukung
produksi informasi manajer,tetapi tidak efektif karena:
 Manajer cenderung lalai, & menghasilkan profitabilitas
rendah,dengan manajemen laba opportunistic
 di samping pasar tenaga manajerial & kontrak insentif
Investormasih juga bersangkutan dengan MH dan manajemen
laba (jelek)
d. Unanimity
Adanya Adverse Selection (AS) dan Moral Hazard (MH)
menyebabkan adanya perbedaan pendapat (lack) di antara investor
mengenai tindakan manajemen dalam memaksimalkan nilai
perusahaan.Jika pasar bekerja dg baik, pemegang saham akan setuju
bahwa manajermemaksimumkan nilai pasar perusahaan, dan sebaliknya.
Menurut Eckern & Wilson (1974), pilihan manajer atas rencana produksi
untukmemaksimumkan nilai pasar perusahaan tidak akansecara umum
disetujui semuapemegang saham di bawah kondisi pasar tertentu.
Blazenko& Scott (1986), dalam suatu ekonomi dimana pasar informasi
tidak bekerja denganbaik akibat Adverse Selection, manajer termotivasi
untuk memilih kualitas audit yg akanmemaksimumkan nilai pasar
perusahaan (menganggap bahwa audit merupakan bentukproduksi
informasi).Efek dari investor bersangkutan denganAdverse Selection dan
Moral Hazard adalah menjadikan harga pasarlebih rendah di bawah nilai
fundamentalnya.Investor & masyarakat akan memperoleh manfaat jika
manajer merilis lebihbanyak informasi yg dianggap manajer sudah optimal

19
BAB III
KESIMPULAN

3.1 KESIMPULAN

Proses penetapan standar tampak paling konsisten dengan teori kepentingan


kelompok dari regulasi. Tentunya secara teknis, bahkan teoretis, kebenaran adalah tidak
cukup untuk menjamin kesuksesan suatu standar. Banyak pula kondisi yang terkait dengan
penetapan standar yang dapat mengancam keberadaan badan penetap standar itu
sendiri.
Perkembangan bisnis dan kondisi ekonomi secara umum memberikan kontribusi
yang sangat kuat kepada regulator untuk menciptakan, menyempurnakan, dan
memperbarui standar akuntansi yang berlaku di suatu negara. Perkembangan bisnis dan
kondisi ekonomi ini juga memberikan kontribusi pada kondisi politik yang berdampak
langsung pada dewan standar untuk mengambil kebijakan tertentu yang berhubungan
dengan standar akuntansi tertentu untuk kepentingan-kepentingan yang lebih luas.
Kondisi ekonomi dan kondisi politik juga memberikan kontribusi pada teori.
Beberapa standar akuntansi yang dominan diturunkan dari teori oleh dewan standar,
ternyata mengalami kegagalan dalam bentuk tidak diterima oleh komunitas bisnis dan
para politisi karena tidak sejalan atau bertentangan dengan tujuan politis tiap-tiap pihak.
Kontribusi kondisi ekonomi dan politik pada sandar akuntansi menjadikan standar
akuntansi merupakan suatu konsensus yang harus ditaati oleh para praktisi akuntansi
pada saat tertentu.

3.2 SARAN

Ditinjau dari sisi perkembangan dewan standar sebagai badan yang memiliki
kewenangan dalam mengatur standar akuntansi tampak bahwa lembaga tersebut tidak
memiliki kekuatan hukum yang baik untuk dapat menjaga indepensinya dalam
menciptakan standar-standar akuntansi didasarkan pada teori yang kuat. Sejarah

20
menunjukkan bahwa badan ini dengan mudahnya dibubarkan dan diganti dengan yang
baru. Berdasarkan kondisi tersebut saran yang dapat diajukan sebagai berikut.
a. Dipikirkan bentuk hukum badan pengatur standar yang memiliki kekuatan hukum
yang memadai dan yang sepadan dengan tugasnya untuk melindungi publik dari
penyelewengan informasi yang dibutuhkan.
b. Sangatlah tepat jika dewan standar memiliki sifat independen dan berpegang teguh
pada teori-teori yang mendukung terciptanya suatu standar sehingga dapat
terhindar dari adanya standar overload.

21
DAFTAR PUSTAKA

Belkaoui, Ahmed. 1986. Accounting Theory (Teori Akuntansi : terjemahan Erwan


Dukat). Yogyakarta.A.K.Group

Scott, William R.. 1997. Financial Acoounting Theory. International Edition. United States
of America, A Simon & Schuster Company.

http://magister-akuntansi.blogspot.co.id/2016/01/teori-regulasi.html