Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

ZAMAN NARA

Disusun Oleh:

1. Yayang Itrok Dian S. (175110200111014)


2. Pratiwi Indah K. (175110200111015)
3. Rafa Nectarinia (175110200111016)
4. Caroline Natania (175110200111017)

PROGRAM STUDI SASTRA JEPANG

FAKULTAS ILMU BIDAYA

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Jepang adalah negara kepulauan yang terletak di Asia Timur dan berdekatan dengan
Korea, China serta Rusia. Jepang memiliki luas wilayah sekitar 377.944km2, dengan
pulau-pulau utama dari utara ke selatan adalah Hokkaido, Honshu, Shikoku dan Kyushu.
Negara Jepang memiliki bentuk pemerintahan Monarki Konstitusional dengan kaisar
sebagai kepala negara dan perdana menteri sebagai kepala pemerintahan.
Sebagai negara yang maju, tidak dipungkiri bahwa Jepang memiliki pengaruh yang
cukup besar di dunia, baik itu dalam bidang perekonomian maupun bidang yang lain.
Keberhasilan tersebut tidak akan terlepas dari budaya mereka yang mengutamakan kerja
keras. Dapat dikatakan, budaya dan sejarah Jepang memiliki pengaruh kuat dalam
membentuk Jepang yang sekarang.
Oleh karena itu, dalam makalah ini akan membahas Jepang pada zaman dahulu
khususnya pada Zaman Nara. Dimana selain untuk mengetahui bagaimana latar belakang
Negara Jepang, makalah ini juga dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah
Jepang.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan Zaman Nara?
2. Bagaimana kebudayaannya dan apa saja peninggalan dari Zaman Nara?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui tentang Zaman Nara di Jepang
2. Memenuhi tugas dosen

1.4 Manfaat
1. Menambah pengetahuan tentang Zaman Nara di Jepang
2. Menambah kecintaan terhadap kebudayaan dan sejarah negara Jepang
BAB II
PEMBAHASAN

A. Zaman Nara (奈良時代)


Berdasarkan Ensiklopedia Jepang (1983), zaman Nara adalah zaman di Jepang yang
berlangsung selama 84 tahun dari 710-794. Zaman ini terinspirasi dari kota Chang’an pada
masa Dinasti Tang di China dengan sistem pemerintahan Taihō Ritsuryō. Periode Nara
dimulai ketika kaisar wanita Genmei (Kenmei 元明天皇), memindahkan ibukota kekaisaran
dari Asuka ke Heijō-kyō(Nara) pada tahun 710.

Nara memiliki istana yang disebut dengan Istana Heijō. Istana Heijō berdiri di tengah-
tengah pada bagian utara kota, dimana terdapat bangunan Daigokuden yang merupakan aula
utama istana. Heijō-kyō kemudian diperluas hingga timur dimana Kuil Kasuga dan Kōfukuji
serta Tōdaiji berada. Pada masa itu jumlah penduduknya mencapai 200.000 jiwa.

Dalam bidang ekonomi, pertanian dan pertambangan dapat dikembangkan dengan baik.
Para penduduk sudah diperkenalkan tentang cara mengolah tanah dengan menggunakan sapi
atau kuda yang meniru dari dinasti Tang. Di bidang pertambangan, perkembangannya
menimbulkan inspirasi rakyat Jepang untuk membuat uang logam dari emas, perak dan
tembaga yang pertama. Wadō Kaihō adalah mata uang pertama jepang yang dibuat pada
zaman ini.

Sedangkan dalam hal politik, di zaman ini masih sangat terbatas perkembangannya.
Berikut beberapa kaisar yang pernah menjabat, yaitu :

710-715 : Kaisar Genmei (Zaman Wadō, penamaan zaman ini karena kaisar menerima
persembahan tembaga murni)
715-724: Kaisar Genshō (Zaman Reiki pada 715, yang memiliki arti arwah kura-kura, nama
zaman ini diambil setelah kaisar diberi persembahan kura-kura atau mizuki. Kemudian nama
zaman diganti menjadi Zaman Yōrō pada 717 setelah kaisar meminum air dari Air Terjun
Yōrō)
724-749: Kaisar Shōmu (Zaman Jinki Zaman Tempyō)
Zaman Jinki, 724, berasal dari penamaan Jinki (dewa kura-kura), kemudian zaman diganti
pada tahun 729 menjadi Zaman Tempyō.
749-758: Kaisar Kōken/ 孝 謙 天 皇 (Zaman Tempyō-kampō, berlaku setelah kaisar diberi
persembahan emas dan hanya bertahan beberapa bulan pada 749. Setelah itu pada tahun yang
sama berganti nama menjadiTempyō-Shōshō.)
758-764: Kaisar Junnin (Zaman Tempyō-hōji, kemudian diganti kaisar Kōken(Shōtoku))
764-770: Kaisar Shōtoku (Zaman Tempyō-hōji, kemudian berganti nama menjadi Zaman
Tempyō-jingo pada 765, dan berganti nama lagi menjadi Zaman Jingo-keiun 767)
770-781:Kaisar Kōnin
781-akhir periode Nara : Kaisar Kammu

Berdasarkan buku William (2000), posisi tertinggi dalam pembuatan keputusan menurut
Sistem Taihō Ritsuryō adalah Daijōkan yang dibentuk pada 689. Daijōkan atau Dewan
Negara ini terdiri dari tiga menteri, 4 anggota tua dan beberapa anggota muda. Ketiga menteri
tersebut adalah Daijō-Daijin sebagai menteri besar negara (Kanselor), Sodaijin sebagai
menteri kiri dan Udaijin sebagai menteri kanan. Di bawah Daijōkan terdapat 8 Dewan
Eksekutif, antara lain :
 Kunaishō sebagai kementrian rumah tangga kerajaan (mengelola keperluan rumah
tangga raja dan mengelola pendapatan dari tanah milik kerajaan).
 Ōkurashō sebagai kementrian keuangan (mengurus pemasukan dari pajak).
 Jibushō sebagai kementrian urusan rakyat (mengurus tanah dan sensus penduduk).
 Hyōbushō sebagai kementrian urusan militer (mengurus penerimaan calon-calon prajurit).
 Gyōbushō sebagai kementrian kehakiman (bertanggung jawab pada aspek-aspek hukum),
dan 3 menteri yang lain bertugas mengurus dokumen-dokumen yang dihasilkan oleh
birokrasi seperti naskah hukum, surat keputusan dan lain-lain.

Meski begitu, pada zaman ini juga diwarnai kepincangan politik, sosial dan ekonomi.
Diantaranya permasalahan tersebut antara lain :
1)Sistem Taihō Ritsuryō yang berdasarkan Konfusianisme banyak yang bertentangan dengan
ajaran Buddha
2) Perhatian kaisar yang lebih memusatkan pembangunan secara besar-besaran kuil-kuil
Buddha telah menguras keuangan negara dan tenaga kerja seluruh rakyat
3) Banyak petani di desa yang hidup menderita dan meninggalkan tanahnya karena sudah
tidak produktif.
Kemudian untuk mengatasi masalah tersebut pemerintah sempat melaksanakan beberapa
kebijakan, diantaranya: Memberikan hak kepada para bangsawan untuk membuka lahan
pertanian baru yang boleh dimiliki selamanya. Hak mempekerjakan para gelandangan di
tanah yang baru dibuka, tanah baru itu dinamakan Shōen (荘園 atau 庄園). Peraturan ini
dikenal dengan nama Konden Einen Shizaihō, ditetapkan pada tahun 740.
Dengan ditetapkannya kebijakan tanah baru tersebut menimbulkan banyaknya dampak
negatif, paling parahnya sistem pemerintahan Taihō Ritsuryō menjadi semakin pudar. Hal
tersebut terjadi karena kepemilikan tanah pribadi khususnya bangsawan mengakibatkan
pengaruh politik mereka di daerah semakin besar. Kondisi demikian bertentangan dengan isi
Taihō Ritsuryō yang menghendaki kekuasaan politik terpusat di tangan kaisar. Kondisi inilah
yang membuat kekuasaan pemerintah pusat semakin lemah, sehingga memunculkan
golongan bangsawan yang memiliki pengaruh besar baik di pusat maupun di daerah.

B. Kebudayaan dan Peninggalan

Zaman Nara merupakan puncak pertama dalam perkembangan budaya Jepang. Pada
tahun 740, Buddha dan Shinto didamaikan dan Buddha menjadi agama istana. Pada tahun
749, didirakan patung Buddha yang besar untuk disembah di Nara.
Dari segi arsitektur, banyak bangunan atau kuil yang didirikan dengan meniru gaya
bangunan Cina. Berikut beberapa peninggalan dari Zaman Nara :

1. Kebudayaan Tempyō
Pada masa ini terjadi perkembangan kebudayaan yang bernama Tempyō. Tempyō ini
merupakan kebudayaan yang dipengaruhi oleh agama Buddha dan Dinasti Tang, dan
paling berkembang pada masa Kaisar Shomu. Dalam Ensiklopedia Jepang (1983),
kelimpahan budaya Tempyō ini dipengaruhi oleh kontribusi beberapa murid terkenal
antara lain, Gembo, Kibi no Makibi, dan Abe no Nakamaro. Gembo kembali dengan
5000 sutra lebih, sementara Kibi no Makibi, yang telah mempelajari Konfusianisme, ilmu
pengetahuan militer, dan upacara seremonial, membuat sebuah program pendidikan untuk
pejabat pemerintah masa depan.
Dan dengan adanya kebudayaan Tempyō ini menjadikan Nara menuju puncak keemasan.
Pengaruh dari kebudayaan ini dapat dillihat pada Kuil Tōdaiji dan Toshōdaiji.

2. Kesusastraan/Penulisan

 Dalam Ensiklopedia Jepang (1983), di bidang kesusastraan dihasilkan Kojiki (cerita


zaman kuno) dan Nihongi atau Nihonshoki (sejarah jepang) ditulis dalam aksara China
(Kambun) yang hanya memanfaatkan bunyinya saja, tetapi menggunakan cara baca
Jepang. Kojiki selesai ditulis pada tahun 712 M dan dikumpulkan oleh Onoyasumaro.
Nihongi selesai ditulis pada tahun 720 dan dikumpulkan oleh Toneri Shinno. Penulisan
keduanya dilakukan dengan bantuan orang Cina dan Korea. Karena pada saat
penyusunannya orang Jepang belum punya huruf sendiri dan belum pintar menulis. Para
ahli sejarah menyatakan bahwa sebagian cerita/sejarah dalam Nihongi bukanlah sejarah
yang sebenarnya, terutama sejarah sebelum tahun 400 M. Misalnya dalam Nihongi
dikatakan bahwa pemerintahan Kaisar Jinmu dimulai sejak tahun 660 SM – 581 SM,
padahal setelah ditelusur kaisar Jinmu memerintah sejak permulaan abad Masehi.
Banyak hal yang bukan dari zaman purba dimasukkan ke dalamnya. Diperkirakan
kebohongan itu ditulis dengan tujuan politik dan agama untuk mempertinggi martabat
kerajaan dan memberikan bukti adanya zaman purbakala.
 Manyōshū (kumpulan puisi. Ada sekitar 4500 puisi) disusun pada 759 M.Manyōshū
ditulis dengan Manyōgana yaitu tulisan dengan struktur bahasa Cina (Kanji) tetapi
menggunakan cara baca Jepang. Monyōshū dikumpulkan oleh Otomono Yakamochi.

 Fudoki, ditulis pada 733 berupa laporan kuno tentang budaya provinsi, geografi, dan
tradisi lisan yang disampaikan kepada raja-raja penguasa Jepang menggambarkan
kebiasaan, topografi, dan produk lokal, yang disusun pada waktu yang bersamaan.

3. Buddhisme
Ajaran Buddha masuk sebelum Zaman Nara, berdasarkan Nihon Shoki masuk pada
tahun 552. Ajaran itu dikenal ke Jepang atas pesan Sanron, Jōjitsu, Hossō, Kusha,
Ritsu dan Kegon yang merupakan sekolah-sekolah yang mengajarkan religi. Meski
begitu, hanya ada tiga ajaran yang dapat bertahan sebagai bagian dari agama dan
ketiga ajaran tersebut saling berhubungan dengan 119 kuil di Nara. Ketiga ajaran
tersebut yaitu:
- Hossō yang berpusat di Kuil Yakushiji dan Kōfukuji
- Ritsu yang berpusat di Toshōdaiji
- Kegon yang berpusat di Tōdaiji.

4. Bangunan

 Kokubunji dan Kokubunniji


Kokubunji dan Kokubunniji dibangun di setiap provinsi yang memiliki kuil
Buddha. Kokubunji dibangun untuk digunakan para pendeta, sedangkan
Kokubunniji untuk para biarawati.

 Kuil Tōdaiji

- Dibangun tahun 728 atas perintah Kaisar Shomu, kuil ini bernama lain
Konkōmyō Shitennō Gokoku no Tera.
- Dijadikan pusat agama Buddha
- Di dalam kuil terdapat patung Daibutsu
- Kuil ini sempat mengalami kebakaran pada zaman Heian sehingga
sebagian bangunan telah rusak.

 Kuil Toshōdai-ji

(https://www.japanhoppers.com/id/kansai/nara/kanko/1790/)

- Kuil ini didirikan oleh Biksu Gaijin


- Berfungsi sebagai kuil utama sekte Ritsu.

 Kuil Kōfukuji

(http://arsitekturdanlingkungan.wg.ugm.ac.id/2015/07/04/kunjungan-ke-kyoto-februari-2012/)

- Kuil ini dibangun pada tahun 669 oleh Kagami no Ōkimi. Kemudian pada
tahun 672 kuil ini dipindahkan ke Fujiwara-kyō, dan pada tahun 710 kuil
ini diindahkan ke lokasinya yang sekarang di sisi timur Heijō-kyō.

 Shōsōin
- Sebagai tempat penyimpanan benda-benda seni milik Kaisar Shomu dan
terdapat pada kuil Tōdaiji.
- Memiliki gaya arsitektur Azekura Zukuri, yaitu gaya arsitektur Jepang
yang berbentuk sederhana dan terbuat dari kayu. Biasanya terdapat pada
gudang, lumbung, dan struktur utilitarian lainnya.

(http://www.japonia.org.pl/?q=pl/node/64)

 Hokkeji

(https://www.tripadvisor.in/LocationPhotoDirectLink-g298198-d3247505-i167588509-
Hokkeji_Temple-Nara_Nara_Prefecture_Kinki.html)

- Terletak tepat di sebelah timur Heijo-kyō.


- Dibangun oleh Kaisar Komyo pada 745, awalnya digunakan sebagai biara
atau kuil bagi para biksu wanita, terdiri dari halaman, gerbang dan 2
pagoda.
- Menurut catatan kuil, Hokkeji dikerjakan sampai tahun 785.
- Terdapat patung dari Kannon (Kwan Im) berwajah 11
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Nara adalah zaman
pembabakan di Jepang yang terjadi setelah Kaisar Genmei memindahkan ibu kota dari Asuka
ke Heijokyō. Zaman Nara ini terinspirasi dari Dinasti Tang di China, dengan sistemnya yang
terkenal bernama Taihō Taihō Ritsuryō. Beberapa peninggalan dari Zaman Nara antara lain
kuil yang terkenal Tōdaiji, Kōfukuji, Hokkeiji dan karya sastra yang terkenal adalah
Nihonshoki dan Kokiji.
Daftar Pustaka

Beasley, William G. 2000. The Japanese Experience: A Short History of Japan. California:
University of California Press
(Online,https://books.google.co.id/books?id=9AivK7yMICgC&pg diakses pada 22 Februari
2018)
Kodansha. 1983. Encyclopedia of Japan. Japan : Kodansha
Leonard, Jonathan N. 1983. Jepang Purba. Jakarta : Tira Pustaka.
Savitri, Ni Made. 2013. Yamato-Nara. (Online,
http://madesp.lecture.ub.ac.id/2013/02/sejarah-jepang-20122013-2/ diakses pada tanggal 6
Februari 2018)