Anda di halaman 1dari 72

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PT. MAYORA INDAH Tbk

MAKALAH UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH Analisis Laporan Keuangan Yang dibina oleh Yuli Soesetio, S.E., M.M.

Oleh Kelompok 3 Ajeng Wulan Dhari

(170413618311)

Agustin Badriatul Fatimah

(160413607205)

Alda Dia Pasha

(160413607216)

Alodia Fautine Rofely

(160413600308)

Dwi Eka Rahayu

(160413602079)

Yeni ElvianaSanggaeni

(140413600089)

(160413602079) Yeni ElvianaSanggaeni (140413600089) UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS EKONOMI PROGRAM STUDI S1

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS EKONOMI PROGRAM STUDI S1 MANAJEMEN April 2018

BAGIAN 1

1. Pengertian dan Formula Analisis Profitabilitas Rasio Profitabilitas (Profitability Ratio) adalah rasio atau perbandingan untuk mengetahui kemampuan perusahaan untuk mendapatkan laba (profit) dari pendapatan (earning) terkait penjualan, aset dan ekuitas berdasarkan dasar pengukuran tertentu. Jenis- jenis rasio profitabilitas dipakai untuk memperlihatkan seberapa besar laba atau keuntungan yang diperoleh dari kinerja suatu perusahaan yang memengaruhi catatan atas laporan keuangan yang harus sesuai dengan standar akuntansi keuangan. Rasio-rasio profitabilitas diperlukan untuk pencatatan transaksi keuangan biasanya dinilai oleh investor dan kreditur (bank) untuk menilai jumlah laba investasi yang akan diperoleh oleh investor dan besaran laba perusahaan untuk menilai kemampuan perusahaan membayar utang kepada kreditur berdasarkan tingkat pemakaian aset dan sumber daya lainnya sehingga terlihat tingkat efisiensi perusahaan. Efektifitas dan efisiensi manajemen bisa dilihat dari laba yang dihasilkan terhadap penjualan dan investasi perusahaan yang dilihat dari unsur unsur laporan keuangan. Semakin tinggi nilai rasio maka kondisi perusahaan semakin baik berdasarkan rasio profitabilitas. Nilai yang tinggi melambangkan tingka laba dan efisiensi perusahaan tinggi yang bisa dilihat dari tingkat pendapatan dan arus kas. Rasio-rasio profitabilitas memaparkan informasi yang pentingkan daripada rasio periode sebelumnya dan rasio pencapaian pesaing. Dengan demikian, analisis trend industri dibutuhkan untuk menarik kesimpulan yang berguna tentang tingkat laba (profitabilitas) sebuah perusahaan. Rasio profitabilitas mengungkapkan hasil akhir dari seluruh kebijakan keuangan dan keputusan operasional yang dilakukan oleh manajemen suatu perusahaan di mana sistem pencatatan kas kecil juga berpengaruh. Berikut adalah jenis-jenis rasio profitabilitas.

a) ROA (Return On Asset) ROA merupakan rasio profitabilitas yang menunjukkan presentase keuntungan (laba bersih) yang diperoleh perusahaan sehubungan dengan keseluruhan sumber daya atau rata-rata jumlah aset. ROA digunakan untuk mengukur seberapa efisien suatu perusahaan dalam mengelola asetnya untuk menghasilkan laba selama suatu periode.

ROA (Return On Asset) = Net Income/Total Asset.

b) ROE (Return On equity) ROE adalah rasio profitabiltas yang mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dari investasi pemegang saham di perusahaan tersebut. ROE ini menunjukkan seberapa banyak keuntungan yang dapat dihasilkan oleh perusahaan dari setiap satu rupiah yang diinvestasikan oleh para pemegang saham. ROE (Return On Equity) = Net Income/Total Equity.

c) GPM(Gross Profit Margin) atau Marjin Laba Kotor

Marjin Laba Kotor merupakan rasio profitabilitas untuk menilai persentase laba kotor terhadap pendapatan yang dihasilkan dari penjualan. Laba kotor yang dipengaruhi oleh laporan arus kas memaparkan besaran laba yang didapatkan oleh perusahaan dengan pertimbangan biaya yang terpakai untuk memproduksi produk atau jasa. Marjin Laba Kotor ini sering disebut juga dengan Gross Margin Ratio (Rasio Marjin Kotor). Gross profit margin mengukur efisiensi perhitungan harga pokok atau biaya produksi. Semakin besar gross profit margin semakin baik (efisien) kegiatan operasional perusahaan yang menunjukkan harga pokok penjualan lebih rendah daripada penjualan (sales) yang berguna untuk audit operasional. Jika sebaliknya, maka perusahaan kurang baik dalam melakukan kegiatan operasional. Rumus perhitungan GPM sebagai berikut.

GPM=

100%

d) OM (Operating Margin) Merupakan rasio yang menggambarkan pure profit yang diterima atas setiap rupiah dari penjualan yang dilakukan. Rumus perhitungan OM sebagai berikut.

OM= =

100%

e) NPM(Net Profit Margin) atau Marjin Laba Bersih Net Profit Margin atau Marjin Laba Bersih merupakan rasio profitabilitas untuk menilai persentase laba bersih yang didapat setelah dikurangi pajak terhadap pendapatan yang diperoleh dari penjualan. Marjin Laba Bersih ini disebut juga Profit Margin Ratio (Rasio Marjin Laba). Rasio ini mengukur laba bersih setelah pajak terhadap penjualan. Semakin tinggi Net profit margin semakin baik operasi suatu perusahaan. Net profit margin dihitung dengan rumus berikut ini.

NPM=

100%

2. Pengertian dan Formula Analisis Solvabilitas Rasio solvabilitas atau leverage adalah rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam melunasi semua kewajibannya baik jangka pendek maupun jangka panjang dengan jaminan aktiva atau kekayaan yang dimiliki perusahaan hingga perusahaan tutup atau dilikuidasi. Sebesar apa beban utang yang ditanggung perusahaan akan dibandingkan dengan aktivanya. Rasio solvabilitas (Solvency Ratio) memiliki nama lain yaitu Rasio leverage (Leverage Ratio) namun berbeda dengan rasio profitabilitas. Utang jangka panjang yaitu kewajiban untuk membayar pinjaman yang jatuh temponya lebih dari satu tahun. Letak perbedaan antara rasio solvabilitas (rasio leverage) dengan rasio likuiditas adalah jangka waktu pinjaman (kewajiban). Rasio solvabilitas mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka panjang. Sedangkan rasio likuiditas mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek. Rasio solvabilitas membandingkan beban utang perusahaan secara keseluruhan terhadap aset atau ekuitasnya. Rasio ini memaparkan jumlah aset perusahaan yang dimiliki oleh pemegang saham dibandingkan dengan aset yang dimiliki oleh Kreditor (pemberi utang). Jika asset perusahaan lebih banyak dimiliki oleh pemegang, maka perusahaan tersebut kurang Leverage. Jika kreditor atau pemberi utang (biasanya bank) memiliki asset secara dominan, maka perusahaan tersebut memiliki tingkat leverage yang tinggi. Rasio solvabilitas mempermudah manajemen dan investor untuk memahami tingkat risiko struktur modal pada perusahaan melalui catatan atas laporan keuangan.

a) Debt to Asset Ratio (DAR) b) Digunakan untuk mengukur seberapa besar jumlah aktiva perusahaan dibiayai, dengan total hutang . semakin tinggi rasio ini berarti semakin besar jumlah modal pinjaman yang digunakan untuk investasi pada aktiva guna menghasilkan keuntungan bagi perusahaan. DAR adalah rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat solvabilitas perusahaan. Tingkat solvabiltas perusahaan adalah kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban jangka panjang perusahaan tersebut. Suatu perusaahan dikatakan solvabel apabila perusahaan tersebut memiliki aktiva dan

kekayaan yang cukup untuk membayar hutang-hutangnya. Rasio ini menunjukkan besarnya total hutang terhadap keseluruhan total aktiva yang dimilki oleh perusahaan. Rasio ini merupakan presentase dana yang diberikan oleh kreditor bagi perusahaan .Rasio hutang bisa berarti buruk pada situasi ekonomi sulit dan suku bunga tinggi, dimana perusahaan yang memiliki rasio hutang tinggi dapat mengalami masalah keuangan, namun selama ekonomi baik dan suku bunga rendah maka dapat meningkatkan keuntungan. Nilai rasio yang tinggi menunjukkan peningkatan dari resiko kreditor berupa ketidak mampuan perusahaan membayar semua kewajibannya.

Debt to Asset Ratio (DAR) =

c) Debt to Equity Ratio (DER) Adalah rasio keuangan utama dan digunakan untuk menilai posisi keuangan suatu perusahaan. Rasio ini juga merupakan ukuran kemampuan perusahaan untuk melunasi kewajibannya. DER meruapakan rasio penting untuk diperhatikan pada saat memeriksa kesehatan keuangan perusahaan. Jika rasio meningkat maka perusahaan dibiayai oleh kreditor(pemberi hutang) dan bukan dari sumber keuangannya sendiri yg mungkin merupakan trend yg cukup berbahaya, pemberi pinjaman dan investor biasanya memilih DER yang rendah karena kepentingan mereka lebih terlindungi jika terjadi penurunan bisnis pada perusahaan yang bersangkutan. Dengan demikian perusahaan yang memmiiki DER atau rasio hutang terhadap ekuitas yg tinggi mungkin tidak dapat menarik tambahan modal dngan pinjaman dari pihak lain.

Debt to Equity Ratio (DER) =

d) Long Term Debt to Equity Ratio (LTDER) Rasio ini dugunakan untuk mengukur bagian dari modal sendiri yang dijadikan jaminan untuk hutang jangka panjang. Rasio ini menujukkan berapa bagian modal pemilik yang menjadi jaminan utag jangka panjang. Tujuannya yaitu untuk

mengukur berapa bagian dari setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan jaminan hutang jangka panjang dengan cara membandingkan antara hutang jangka panjang

dengan modal sendiri yang telah disediakan oleh perusahaan. Semakin rendah rasio ltder ini maka akan semakin aman bagi kreditur jangka panjang. Ditinjau dari segi likuiditas dan solvabilitas maka suatu perusahan dapat mengalami keadaan

a. Likuid dan solvabel yaitu peruahaan yg dapat memenuhi kewajiban keuangannya baik yang bersifat jangka pendek maupun jangka panjang.

b. Likuid tetapi insolvabel yaitu perusahan yg dapat memenuhi kewajiban jangka pendeknya tetapi tidak dapat memenuhi kewajiban jangka panjangnya.

c. Likuid dan solvabel yaitu perusahaan yang tidak dapat memenuhi kawajiban jangka pendeknya tetapi dapat memenuhi kewajiban jangka panjangnya.

d. Likuid dan insolvabel yaitu perusahaan yang tidak dapat memenuhi kewajiban keuangannya baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Long Term Debt to Equity Ratio (LTDER) =

e) Current Liabilities to Net Worth atau Current Liabilities to Equity Rasio ini menunjukkan bahwa dana pinjaman yang segera akan ditagih ada terdapat sekian kalinya modal sendiri. Jadi rasio ini merupakan rasio antara hutang lancar dengan modal sendiri. Untuk mengetahui seberapa besar bagian darimodal sendiri yang dijadikan jaminan hutang lancar. Semakin kecil rasio ini semakin baik sebab modal sendiri yang ada diperusahaan semakin besar untuk menjamin hutang lancar yang ada pada perusahaan . Batas yang paling rendah dari rasio ini adalah yaitu 100 % atau 1:1

Current Liabilities to Net Worth atau Current Liabilities to Equity =

3.

Pengertian dan Formula AnalisisLikuiditas

a) Current Ratio

Current Ratio digunakan untuk mengetahui sejauh mana aktiva lancar perusahaan dapat digunakan untuk menutupi kewajiban jangka pendek atau utang lancarnya. Semakin besar perbandingan aktiva lancar dengan utang lancar maka artinya semakin tinggi pula kemampuan perusahaan dalam menutupi kewajiban utang lancarnya. Tingginya current ratio dapat menunjukkan adanya uang kas berlebih yang bisa berarti dua hal yaitu besarnya keuntungan yang telah diperoleh atau akibat tidak digunakannya keuangan perusahaan secara efektif untuk berinvestasi.

Current Ratio

b) Quick Ratio

=

x 100%

Quick Ratio digunakan untuk menunjukkan kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek dengan menggunakan aktiva lancar atau tanpa memperhitungkan persediaan karena persediaan akan membutuhkan waktu yang lama untuk diuangkan dibandingka dengan asset lainnya. Quick ratio terdiri dari piutang dan surat-surat berharga. Jadi semakin besar rasio, semakin baik juga posisi keuangan perusahaan. Iika hasilnya mencapai 1:1 atau 100% maka ini akan berakibat baik jika terjadi likuidasi karena perusahaan akan mudah untuk membayar kewajibannya.

Quick Ratio

= −(+ )

x 100%

c) Cash Ratio Cash Ratio digunakan untuk mengukur ketersediaan uang kas untuk melunasi kewajiban (utang) jangka pendek. Uang kas bisa berbentuk rekening giro. Jika rasio sebesar 1:1 atau 100% berarti perbandingan kas atau setara kas dengan utang akan

semakin baik sehinggaperusahaanbisamelunasi utang sesuaijatuh tempo atau sebelum

jatuh tempo.

Cash Ratio = ℎ ℎ

X 100%

d) Working Capital to Total Asset Ratio

Rasio ini dipakai untuk menilai likuiditas dengan menghitung total aktiva dan posisi

modal kerja.

Working Capital to Total Assets Ratio =

X 100%

4. Pengertian dan Formula Analisis Pasar

Rasio pasar merupakan sekumpulan rasio yang nghubungkan harga saham dengan laba dan nilai buku per saham. Rasio ini memberikan petunjuk mengenai apa yang dipikirkan invenstor atas kinerja perusahaan di masa lalu serta prospek di masa mendatang (Moeljadi, 2006:75). Rasio ini memberikan informasi seberapa besar masyarakat (investor) atau para pemegang saham menghargai perusahaan, sehingga mereka mau membeli saham perusahaan dengan harga yang lebih tinggi disbanding dengan nilai buku saham (Sutrisno,

2003:256).

Menurut Hanafi (2004:43). Rasio pasar mengukur harga pasar saham perusahaan, relative terhadap nilai bukunya. Sudut pandang rasio ini lebih banyak berdasar pada sudut pandang investor ataupun calon investor, meskipun pihak manajemen, juga berkepentingan rasio ini. Rasio modal saham atau rasio pasar terdiri dari:

a. Rasio Pendapatan Per Lembar Saham (Earning Per Share) Menurut Alwi (2003:77), Earning Per Share (EPS) biasanya menjadi perhatian pemegang saham pada umumnya atau calon pemegang saham dan manajmeen. EPS menunjukan jumlah uang yang dihasilkan (return) dari seti lembar saham. Semakin besar nilai EPS semakin besar keuntungan yang diterima pemegang saham.

Seorang investor membeli dan mempertahankan saham suatu perusahaan dengan harapan akan memperoleh deviden atau capital gain. Laba biasanya menjadi dasar penentuan pembayaran deviden dan kenaikan harga saham di masa mendatang. Oleh karena itu, para pemegang saham biasanya tertarik dengan angka EPS yang dilaporkan perusahaan. EPS hanya dihitung untuk saham biasa (Prastowo, 2005:93).

EPS =

ℎ− ℎ

− ℎ ℎ

b. Rasio Harga Laba (Price Earning Ratio) Menurut Moeljadi (2006:75), Price Earning Ratio (PER) menunjukan berapa banyak investor bersedia membayar untuk tiap rupiah dari laba yang dilaporkan. Oleh para investor rasio ini digunakan untuk memprediksi kemampuan perusahaan dalam menghasilakan laba di masa yang akan datang. Kesedian para investor untuk menerima kenaikan PER sangat bergantung pada prospek perusahaan. Perusahaan dengan peluang tingkat pertumbuhan yang tingi, biasanya memiliki PER yang tinggi. Sebaliknya perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang rendah cenderung memiliki PER yang rendah pula (Prastowo 2005:96)

PER = ℎ ℎ

X 1 kali

c. Rasio Pasar Per Buku (Market To Book Value Ratio) Rasio ini menunjukan berapa besar nilai perusahaan dari apa yang telah atau sedang ditanamkan oleh pemilik perusahaan, semakin tinggi rasio ini, semakin besar tambahan wealth (kekayaan) yang dinikmati oleh pemilik perusahaan (Husnan, 2006:76) Menurut prastowo (2005:99),jika harga pasar berada di bawah nilai bukunya, investor memandang bahwa perusahaan tidak cukup potensial. Bila seorang investor pesimistik atau prospek suatu saham, banyak saham dijual pada harga di bawah nilai bukunya. Sebaliknya jika investor optimistic maka saham dijual dengan harga di atas nilai bukunya.

MBV = ℎ ℎ

X 1 kali

Book value per share (nilai buku per saham) dihitung dengan membagi ekuitas

saham biasa dengan jumlah saham yang berdedar (Moeljadi, 2006:75)

d. Rasio Pendapatan Deviden (Dividend Yield Ratio)

Dividend Yield adalah dividen yang dibayarkan dibagi dengan harga saham

sekarang (Jones, 2004:41). Dividend yield dinyatakan dalam bentuk persentase yang

merupakan salah satu komponen dari total return (Total Return = Yield + Price Change).

Dividen yield merupakan sebagian dari total return yang akan diperoleh investor.

Biasanya perusahaan yang mempunyai prospek pertumbuhan yang tinggi akan

mempunyai dividend yield yang rendah, karena dividen sebagian besar akan diinvestasikan

kembali. Kemudian karena perusahaan dengan prospek yang tinggi akan mempunyai harga

pasar saham yang tinggi, yang berarti pembaginya tinggi, maka dividend yield untuk

perusahaan macam ini akan cenderung lebih rendah (Hanafi, 2004:43).

DY = ℎ ℎ

X 100%

e. Rasio Pembayaran Dividen (Dividend Payout Ratio)

Rasio ini melihat bagian pendapatan yang dibayarkan sebagai dividen kepada

investor. Bagian lain yang tidak dibagikan akan diinvestasikan kembali ke perusahaan

(Hanafi, 2004:44).

Perusahaan yang mempunyai tingkat pertumbuhan yang tinggi akan mempunyai

rasio pembayaran dividen yang rendah. Sebaliknya perusahaan yang tingkat

pertumbuhannya rendah akan mempunyai raio yang tinggi. Pembayaran dividen juga

merupakan kebijakan dividen perusahaan. Menurut Alwi (2003:78), semakin besar rasio

ini maka semakin lambat atau kecil pertumbuhan pendapatan perusahaan.

DPR =

X 100%

BAGIAN 2

PT. MAYORA INDAH Tbk LaporanPosisiKeuangan Per, 31 Desember 2012

KETERANGAN

JUMLAH

AsetLancar

 

Kas Dan Setara Kas

1,339,570,311,683

Piutang Usaha

2,035,329,264,394

Piutang Lain-Lain

16,017,323,669

Persediaan

1,498,989,460,205

UangMukaPembelian

77,633,807,824

PajakDibayarDimuka

341,138,704,485

BiayaDibayarDimuka

4,920,686,301

Total AsetLancar

5,313,599,558,561

AsetTetap

 

Tanah

188,832,758,158

Bangunan Dan Prasarana

529,260,706,384

Mesin Dan Peralatan

1,673,438,691,302

Peralatan Kantor

21,378,897,921

Kendaraan

47,605,656,696

AsetDalamPenyelesaian

397,416,206,574

Total AsetTetap

2,857,932,917,035

Total Aktiva

8,171,532,475,596

Hutang

 

HutangDagang

841.663.446.001

HutangJangkaPendek

1,924,434,119,144

HutangJangka Panjang

3,310,221,795,521

Ekuitas

5,234,655,914,665

TOTAL HUTANG

 

PT. MAYORA INDAH Tbk LaporanLabaRugi Per, 31 Desember 2012

LabaBruto

2,345,616,118,440.00

Laba Usaha

1,156,559,816,440.00

EBT

959,815,066,914.00

EAT

744,428,404,309.00

PT. MAYORA INDAH Tbk LaporanArus Kas Per, 31 Desember 2012

Arus Kas Operasi

830,244,056,569.00

Arus Kas Investasi

(699,360,306,502.00)

Arus Kas Pendanaan

879,470,158,427.00

PT. MAYORA INDAH Tbk LaporanPosisiKeuangan Per, 31 Desember 2013

KETERANGAN

JUMLAH

AsetLancar

 

Kas Dan Setara Kas

1,860,492,328,823

Piutang Usaha

2,796,178,546,173

Piutang Lain-Lain

16,967,687,340

Persediaan

1,456,454,215,049

UangMukaPembelian

47,888,814,428

PajakDibayarDimuka

236,688,636,014

BiayaDibayarDimuka

15,395,201,044

Total AsetLancar

6,430,065,428,871

AsetTetap

 

Tanah

188,832,758,158

Bangunan Dan Prasarana

770,899,267,552

Mesin Dan Peralatan

1,747,566,120,143

Peralatan Kantor

26,244,251,229

Kendaraan

39,249,015,932

AsetDalamPenyelesaian

341,537,311,668

Total AsetTetap

3,114,328,724,682

Total Aktiva

9,544,394,153,553

Hutang

 

HutangDagang

2,796,178,546,173

HutangJangkaPendek

2,676,892,373,682

HutangJangka Panjang

3,139,430,961,141

Ekuitas

8,612,501,880,996

TOTAL HUTANG

 

PT. MAYORA INDAH Tbk LaporanPosisiKeuangan

Per, 31 Desember 2014

KETERANGAN

JUMLAH

AsetLancar

 

Kas Dan Setara Kas

712,922,612,494

Piutang Usaha

3,046,371,390,443

Piutang Lain-Lain

34,469,136,171

Persediaan

1,966,800,644,217

UangMukaPembelian

180,466,025,508

PajakDibayarDimuka

510,331,330,660

BiayaDibayarDimuka

57,407,483,947

Total AsetLancar

6,508,768,623,440

AsetTetap

 

Tanah

188,832,758,158

Bangunan Dan Prasarana

789,606,339,115

Mesin Dan Peralatan

1,920,060,512,460

Peralatan Kantor

29,958,817,949

Kendaraan

32,537,935,574

AsetDalamPenyelesaian

624,015,353,807

Total AsetTetap

3,585,011,717,063

Total Aktiva

10,093,780,340,503

Hutang

 

HutangDagang

822,654,918,011

HutangJangkaPendek

3,114,337,601,362

HutangJangka Panjang

3,076,215,435,183

Ekuitas

4,077,036,284,827

Total Hutang

 

PT. MAYORA INDAH Tbk LaporanLabaRugi Per, 31 Desember 2014

LabaBruto

2,535,225,808,768.00

Laba Usaha

890,864,034,001.00

EBT

529,267,706,614.00

EAT

409,618,689,484.00

PT. MAYORA INDAH Tbk LaporanArus Kas

Per, 31 Desember 2014

Arus Kas Operasi

(862,339,383,145.00)

Arus Kas Investasi

(815,592,277,343.00)

Arus Kas Pendanaan

521,712,904,799.00

PT. MAYORA INDAH Tbk LaporanPosisiKeuangan Per, 31 Desember 2015

KETERANGAN

JUMLAH

AsetLancar

 

Kas Dan Setara Kas

1,682,075,365,772

Piutang Usaha

3,368,430,940,065

Piutang Lain-Lain

10,813,690,824

Persediaan

1,763,233,048,130

UangMukaPembelian

29,349,557,717

PajakDibayarDimuka

576,478,740,401

BiayaDibayarDimuka

23,695,686,178

Total AsetLancar

7,454,077,029,087

AsetTetap

 

Tanah

225,512,038,158

Bangunan Dan Prasarana

910,764,690,980

Mesin Dan Peralatan

2,137,112,777,613

Peralatan Kantor

34,990,844,011

Kendaraan

26,084,910,578

AsetDalamPenyelesaian

436,230,580,353

Total AsetTetap

3,770,695,841,693

Total Aktiva

11,224,772,870,780

Hutang

 

HutangDagang

1,022,643,536,695

HutangJangkaPendek

3,151,495,162,694

HutangJangka Panjang

2,996,760,596,346

Ekuitas

5,194,459,927,187

Total Hutang

 

PT. MAYORA INDAH Tbk LaporanLabaRugi Per, 31 Desember 2015

LabaBruto

4,198,336,120,007.00

Laba Usaha

1,862,620,832,987.00

EBT

1,640,494,765,801.00

EAT

1,250,233,128,560.00

PT. MAYORA INDAH Tbk LaporanArus Kas Per, 31 Desember 2015

Arus Kas Operasi

2,336,785,497,955.00

Arus Kas Investasi

(540,613,367,669.00)

Arus Kas Pendanaan

(944,661,855,805.00)

PT. MAYORA INDAH Tbk LaporanPosisiKeuangan Per, 31 Desember 2016

KETERANGAN

JUMLAH

AsetLancar

 

Kas Dan Setara Kas

1,543,129,244,709

Piutang Usaha

4,364,284,552,253

Piutang Lain-Lain

24,114,826,295

Persediaan

2,123,676,041,546

UangMukaPembelian

184,988,730,786

PajakDibayarDimuka

467,429,443,121

BiayaDibayarDimuka

32,099,706,600

Beban Tangguhan

60,204,831

Total AsetLancar

8,739,782,750,141

AsetTetap

 

Tanah

244,471,088,158

Bangunandan Prasarana

1,015,312,238,828

Mesindan Peralatan

2,053,306,633,160

Peralatan Kantor

45,736,570,344

Kendaraan

31,238,797,020

AsetdalamPenyelesaian

469,354,702,282

Total AsetTetap

3,859,420,029,792

Total Aktiva

12,599,202,779,933

Hutang

 

HutangDagang

1,329,633,152,416

HutangJangkaPendek

3,884,051,319,005

HutangJangka Panjang

2,773,114,553,072

Ekuitas

6,265,255,987,065

Total Hutang

 

PT. MAYORA INDAH Tbk LaporanLabaRugi Per, 31 Desember 2016

LabaBruto

4,900,422,455,912.00

Laba Usaha

2,315,242,242,867.00

EBT

1,845,683,269,238.00

EAT

1,388,676,127,665.00

PT. MAYORA INDAH Tbk LaporanArus Kas Per, 31 Desember 2016

Arus Kas Operasi

659,314,197,175.00

Arus Kas Investasi

(746,551,666,042.00)

Arus Kas Pendanaan

(11,027,805,520.00)

PT. MAYORA INDAH Tbk LaporanPosisiKeuangan Per, 31 Desember 2017

KETERANGAN

JUMLAH

AsetLancar

 

Kas Dan Setara Kas

1,922,552,686.00

Piutang Usaha

4,517,703,497,784

Piutang Lain-Lain

387,822,279,922

Persediaan

2,227,951,680,724

UangMukaPembelian

82,280,927,238

PajakDibayarDimuka

492,190,611,548

BiayaDibayarDimuka

21,835,391,323

Beban Tangguhan

-

Total AsetLancar

7,731,706,941,225

AsetTetap

 

Tanah

244,471,088,158

Bangunan Dan Prasarana

1,004,580,267,915

Mesin Dan Peralatan

2,164,482,417,856

Peralatan Kantor

75,001,763,205

Kendaraan

28,256,076,801

AsetDalamPenyelesaian

405,412,045,533

Total AsetTetap

3,922,203,659,468

Total Aktiva

11,653,910,600,693

Hutang

 

HutangDagang

1,123,532,556,546

HutangJangkaPendek

3,147,919,560,986

HutangJangka Panjang

2,862,657,684,469

Ekuitas

6,731,630,207,094

Total Hutang

 

PT. MAYORA INDAH Tbk LaporanLabaRugi Per, 31 Desember 2017

LabaBruto

3,234,630,038,436.00

Laba Usaha

1,467,963,254,996.00

EBT

1,266,790,025,482.00

EAT

950,645,190,703.00

PT. MAYORA INDAH Tbk LaporanArus Kas Per, 31 Desember 2017

Arus Kas Operasi

463,023,411,260.00

Arus Kas Investasi

(387,216,427,222.00)

Arus Kas Pendanaan

296,847,455,775.00

2.

PerhitunganAnalisisProfitabilitas A. ROA

a) Formula dan Perhitungan

ROA=

TAHUN

Net Income

Total Aset

ROA

Trend

2012

744,428,404,309.00

8,171,532,475,596

9.11%

100.00%

D2013

1,013,558,238,779.00

9,544,394,153,553

10.62%

116.57%

2014

409,618,689,484.00

10,093,780,340,503

4.06%

38.21%

2015

1,250,233,128,560.00

11,224,772,870,780

11.14%

274.47%

2016

1,388,676,127,665.00

12,599,202,779,933

11.02%

98.96%

2017

950,645,190,703.00

11,653,910,600,693

8.16%

74.01%

ROA 12.00% 11.14% 11.02% 10.62% 10.00% 9.11% 8.00% 8.16% 6.00% ROA 4.00% 4.06% 2.00% 0.00%
ROA
12.00%
11.14%
11.02%
10.62%
10.00%
9.11%
8.00%
8.16%
6.00%
ROA
4.00%
4.06%
2.00%
0.00%
2012
2013
2014
2015
2016
2017

Beberapa kali ROA Perseroan mengalami naik turun yang dapat dikatakan sangat signifikan, contohnya di tahun 2014 dimana ROA mengalami penurunan yang sangat tajam dari tahun-tahun sebelumnya. Direksi menjelaskan bahwa hal ini terjadi karena perseroan tidak dapat mengelola aset yang ada untuk menghasilkan laba selama satu periode tersebut. Tetapi secara keseluruhan ROA Perseroan masih bisa di katakana cukup baik dan masih cenderung berada di atas level 5%. Dimana pada tahun 2014 saldo laba bersih setelah pajak mengalami penurunan , yang mengakibatkan gambar grafik pada tahun 2014 iniu mengalami penurunan yang sangat tajam.

b)

Makna

2012

Harapannya, makin tinggi nilai ROA, maka akan makin baik. Dari perhitungan di atas diperoleh ROA = 9,1%, yang berarti setiap Rp 1 aset maka akan mampu memberikan laba neto sebesar Rp 0,9.

2013

Harapannya, makin tinggi nilai ROA, maka akan makin baik. Dari

perhitungan di atas diperoleh ROA = 10,6% yang berarti setiap Rp

1

aset maka akan mampu memberikan laba neto sebesar Rp0, 106.

2014

Harapannya, makin tinggi nilai ROA, maka akan makin baik. Dari

perhitungan di atas diperoleh ROA = 4,1% yang berarti setiap Rp 1

aset maka akan mampu memberikan laba neto sebesar Rp0,41.

2015

Harapannya, makin tinggi nilai ROA, maka akan makin baik. Dari

perhitungan di atas diperoleh ROA = 11,1%, yang berarti setiap Rp

1

aset maka akan mampu memberikan laba neto sebesar Rp 0,11.

2016

Harapannya, makin tinggi nilai ROA, maka akan makin baik. Dari

perhitungan di atas diperoleh ROA = 11,1% yang berarti setiap Rp

1

aset maka akan mampu memberikan laba neto sebesar Rp 0,11.

2017

Harapannya, makin tinggi nilai ROA, maka akan makin baik. Dari

perhitungan di atas diperoleh ROA = 8,2% yang berarti setiap Rp 1

aset maka akan mampu memberikan laba neto sebesar Rp0,82.

c) Analisis Tren

= ℎ ℎ

100%

TAHUN

Net Income

Total Aset

ROA

Trend

2012

744,428,404,309.00

8,171,532,475,596

9.11%

100.00%

2013

1,013,558,238,779.00

9,544,394,153,553

10.62%

116.57%

2014

409,618,689,484.00

10,093,780,340,503

4.06%

38.21%

2015

1,250,233,128,560.00

11,224,772,870,780

11.14%

274.47%

2016

1,388,676,127,665.00

12,599,202,779,933

11.02%

98.96%

2017

950,645,190,703.00

11,653,910,600,693

8.16%

74.01%

ROA

300.00% 250.00% 200.00% 150.00% 100.00% 50.00% 0.00% 2012 2013 2014 2015 2016 2017 ROA 100.00%
300.00%
250.00%
200.00%
150.00%
100.00%
50.00%
0.00%
2012
2013
2014
2015
2016
2017
ROA
100.00%
116.57%
38.21%
274.47%
98.96%
74.01%

Dari grafik tren di atas, dapat dilihat untuk tren ROA pada tahun 2012-2017 MAYORA mengalami fluktuatif tapi cenderung turun. Ini terjadi karena sebagian besar laba yang diperoleh digunakan untuk membayar utang dan adanya lonjakan bahan baku.

d) Analisis Common Size

ROA

120.00%

100.00%

80.00%

80.00%

60.00%

40.00%

20.00%

0.00%

0.00%

2012

2013

2014

2015

2016

2017

Total Aset

91.65%

90.40%

96.10%

89.98%

90.07%

92.46%

Net Income

8.35%

9.60%

3.90%

10.02%

9.93%

8%

Dari grafik tren di atas, dapat dilihat bahwa grafik untuk total aset dan net income berbanding terbalik. Pada tahun 2013 ke 2014, total aset mengalami kenaikkan yang cukup banyak yakni sebesar 6%, sedangkan untuk net income mengalami penurunan sebesar 6%. Setelah tahun 2014, total asset mengalami penurunan. Penurunan paling tinggi terjadi pada tahun 2014 ke 2015, yakni sebesar 6,8%.

Untuk net income, setelah tahun 2014, mengalami kenaikan dimana kenaikan

terbesar terjadi pada tahun 2014 ke 2015, sebesar 10%.

B. ROE

a) Formula dan perhitungan

ROE=

TAHUN

Net Income

Total Equity

ROE

Trend

2012

744,428,404,309.00

3,067,850,327,238

24.27%

100.00%

2013

1,013,558,238,779.00

3,893,900,119,177

26.03%

107.27%

2014

409,618,689,484.00

4,077,036,284,827

10.05%

38.60%

2015

1,250,233,128,560.00

5,194,459,927,187

24.07%

239.56%

2016

1,388,676,127,665.00

6,265,255,987,065

22.16%

92.09%

2017

950,645,190,703.00

6,731,630,207,094

14.12%

63.71%

30.00%

25.00%

20.00%

15.00%

10.00%

5.00%

0.00%

ROE

26.10% 24.30% 24.10% 22.20% 14.10% 10.10%
26.10%
24.30%
24.10%
22.20%
14.10%
10.10%
0.00% ROE 26.10% 24.30% 24.10% 22.20% 14.10% 10.10% 2012 2013 2014 2015 2016 2017 Secara Return
0.00% ROE 26.10% 24.30% 24.10% 22.20% 14.10% 10.10% 2012 2013 2014 2015 2016 2017 Secara Return
0.00% ROE 26.10% 24.30% 24.10% 22.20% 14.10% 10.10% 2012 2013 2014 2015 2016 2017 Secara Return
0.00% ROE 26.10% 24.30% 24.10% 22.20% 14.10% 10.10% 2012 2013 2014 2015 2016 2017 Secara Return
0.00% ROE 26.10% 24.30% 24.10% 22.20% 14.10% 10.10% 2012 2013 2014 2015 2016 2017 Secara Return
0.00% ROE 26.10% 24.30% 24.10% 22.20% 14.10% 10.10% 2012 2013 2014 2015 2016 2017 Secara Return

2012

2013

2014

2015

2016

2017

Secara Return On Equity (ROE), perseroan mengalami perubahan yang tidak stabil,

bergerak di antara range 10% sampai 24% kecuali pada tahun 2014 yang mengalami

penurunan yang sangat tajam. Dari penjabaran di atas dapat memberikan informasi

pertumbuhan perusahaan, namun tidak menjamin Perseroan akan terus tumbuh pada

kecepatan yang ada tersebut. Kenaikan dan penurunan selama periode di Perseroan ini terjadi akibat meningkatkanya utang dari pinjaman. Perseroan tidak dapat meningkatkan ROE tanpa pinjaman dan atau penjualan saham. Pada tahun 2014 ini Perseroan mengalami penurunan sangat tajam yaitu dari 26,10% ke 10,10%. Hal ini diakibatkan karena Net Income di Perseroan lebih rendah daripada Total equity yang ada. Dengan kata lain interval antara pembilang dan penyebut tersebut tidak terlalu besar. b) Makna

2012

Harapannya, makin tinggi nilai ROE, maka akan makin baik. Dari

perhitungan di atas diperoleh ROE= 24,3%, yang berarti setiap Rp

1

ekuitas maka akan mampu memberikan laba neto sebesar Rp

0,24.

2013

Harapannya, makin tinggi nilai ROE, maka akan makin baik. Dari

perhitungan di atas diperoleh ROE = 26,1% yang berarti setiap Rp

1

ekuitas maka akan mampu memberikan laba neto sebesar RP0,

261.

2014

Harapannya, makin tinggi nilai ROE, maka akan makin baik. Dari perhitungan di atas diperoleh ROE = 10,1% yang berarti setiap Rp

1

ekuitas maka akan mampu memberikan laba neto sebesar

Rp0,101.

2015

Harapannya, makin tinggi nilai ROE, maka akan makin baik. Dari

perhitungan di atas diperoleh ROE = 24,1% yang berarti setiap Rp

1

ekuitas maka akan mampu memberikan laba neto sebesar

Rp0,241.

2016

Harapannya, makin tinggi nilai ROE, maka akan makin baik. Dari perhitungan di atas diperoleh ROE = 22,2%, yang berarti setiap Rp

1

ekuitas maka akan mampu memberikan laba neto sebesar

Rp0,222.

2017

Harapannya, makin tinggi nilai ROE, maka akan makin baik. Dari

perhitungan di atas diperoleh ROE = 14,1% yang berarti setiap Rp

1 ekuitas maka akan mampu memberikan laba neto sebesar

Rp0,1412.

c) Analisis Tren

= ℎ ℎ

100%

TAHUN

Net Income

Total Equity

ROE

Trend

2012

744,428,404,309.00

3,067,850,327,238

24.27%

100.00%

2013

1,013,558,238,779.00

3,893,900,119,177

26.03%

107.27%

2014

409,618,689,484.00

4,077,036,284,827

10.05%

38.60%

2015

1,250,233,128,560.00

5,194,459,927,187

24.07%

239.56%

2016

1,388,676,127,665.00

6,265,255,987,065

22.16%

92.09%

2017

950,645,190,703.00

6,731,630,207,094

14.12%

63.71%

300.00%

250.00%

200.00%

150.00%

100.00%

50.00%

ROE

300.00% 250.00% 200.00% 150.00% 100.00% 50.00% ROE 0.00% 2012 2013 2014 2015 2016 2017   ROE

0.00%

2012

2013

2014

2015

2016

2017

 

ROE

100.00%

107.27%

38.60%

239.56%

92.09%

63.71%

 

Dari grafik tren di atas, dapat dilihat untuk tren ROA pada tahun 2012-2017

MAYORA mengalami fluktuatif tapi cenderung turun. Ini terjadi karena sebagian

besar laba yang diperoleh digunakan untuk membayar utang dan adanya lonjakan

bahan baku.

ROE

100.00% 90.00% 80.00% 70.00% 60.00% 50.00% 40.00% 30.00% 20.00% 10.00% 0.00% 2012 2013 2014 2015
100.00%
90.00%
80.00%
70.00%
60.00%
50.00%
40.00%
30.00%
20.00%
10.00%
0.00%
2012
2013
2014
2015
2016
2017
Total Equity
80.47%
79.35%
90.87%
80.60%
81.86%
87.63%
Net Income
19.53%
20.65%
9.13%
19.40%
18.14%
12%

Dari grafik tren di atas, dapat dilihat bahwa grafik untuk total equity dan net income

berbanding terbalik. Pada tahun 2013 ke 2014, total equity mengalami kenaikkan

yang cukup banyak yakni sebesar 11%, sedangkan untuk net income mengalami

penurunan sebesar 11%. Setelah tahun 2014, total equity mengalami penurunan.

Penurunan paling tinggi terjadi pada tahun 2014 ke 2015, yakni sebesar 10%. Untuk

net income, setelah tahun 2014, mengalami kenaikan dimana kenaikan terbesar

terjadi pada tahun 2014 ke 2015, sebesar 10%.

C. GPM

a) Formula dan perhitungan

GPM=

TAHUN

Laba kotor

Penjualan Bersih

GPM

Trend

2012

2,345,616,118,440.00

10,510,625,669,832.00

22.32%

100.00%

2013

2,921,665,841,784.00

12,017,837,133,337.00

24.31%

108.94%

2014

2,535,225,808,768.00

3,498,158,854,197.00

72.47%

298.11%

2015

4,198,336,120,007.00

14,818,730,635,847.00

28.33%

39.09%

2016

4,900,422,455,912.00

18,349,959,898,358.00

26.71%

94.26%

2017 3,234,630,038,436.00 14,298,836,222,293.00 22.62% 84.71% GPM 80.00% 72.50% 60.00% 40.00% 28.30% 26.70%
2017
3,234,630,038,436.00
14,298,836,222,293.00
22.62%
84.71%
GPM
80.00%
72.50%
60.00%
40.00%
28.30%
26.70%
24.30%
22.30%
22.60%
20.00%
0.00%
2012
2013
2014
2015
2016
2017
TAHUN

Beberapa kali GPM Perseroan sempat tergerus, contohnya di tahun 2014 dimana

GPM mengalami penuruna, direksi menjelaskan bahwa terjadi lonjakan harga

bahan baku yg signifikan. Tapi secara overall, GPM Perseroan masih bisa

di maintain dan cenderung berada di atas level 22%. Dimana pada tahun 2014

penjualan bersih atau pendapatan bersih mengalami penurunan, yang seharusnya

grafik pada tahun 2014 mengalami penurunan malah terjadi kenaikkan, ini

disebabkan karena interval antara penjualan bersih dengan laba kotor tidak terlalu

 

besar.

b)

Makna

2012

Harapannya, makin tinggi GPM, maka akan makin baik. Dari

perhitungan di atas diperoleh GPM = 22,3%, yang berarti setiap Rp

1 penjualan maka akan mampu memberikan laba kotor sebesar Rp

0,22.

2013

Harapannya, makin tinggi nilai GPM, maka akan makin baik. Dari

perhitungan di atas diperoleh GPM = 24,3%, yang berarti setiap Rp

 

1

penjualan maka akan mampu memberikan Laba kotor sebesar

Rp0,243.

2014

Harapannya, makin tinggi nilai GPM, maka akan makin baik. Dari

perhitungan di atas diperoleh GPM = 72,5% yang berarti setiap Rp

1

penjualan maka akan mampu memberikan laba kotor sebesar

Rp0,725.

2015

Harapannya, makin tinggi nilai GPM, maka akan makin baik. Dari

perhitungan di atas diperoleh GPM = 28,3% yang berarti setiap Rp

1

penjualan maka akan mampu memberikan laba kotor sebesar

Rp0,283.

2016

Harapannya, makin tinggi nilai GPM, maka akan makin baik. Dari

perhitungan di atas diperoleh GPM = 26,7%, yang berarti setiap Rp

1

penjualan maka akan mampu memberikan laba kotor sebesar

Rp0,267.

2017

Harapannya, makin tinggi nilai GPM, maka akan makin baik. Dari

perhitungan di atas diperoleh GPM = 22,6% yang berarti setiap Rp

1

penjualan maka akan mampu memberikan laba kotor sebesar

Rp0,226.

c) Analisis Tren

= ℎ ℎ

100%

TAHUN

Laba kotor

Penjualan Bersih

GPM

Trend

2012

2,345,616,118,440.00

10,510,625,669,832.00

22.32%

100.00%

2013

2,921,665,841,784.00

12,017,837,133,337.00

24.31%

108.94%

2014

2,535,225,808,768.00

3,498,158,854,197.00

72.47%

298.11%

2015

4,198,336,120,007.00

14,818,730,635,847.00

28.33%

39.09%

2016

4,900,422,455,912.00

18,349,959,898,358.00

26.71%

94.26%

2017

3,234,630,038,436.00

14,298,836,222,293.00

22.62%

84.71%

GPM

350.00% 300.00% 250.00% 200.00% 150.00% 100.00% 50.00% 0.00% 2012 2013 2014 2015 2016 2017 GPM
350.00%
300.00%
250.00%
200.00%
150.00%
100.00%
50.00%
0.00%
2012
2013
2014
2015
2016
2017
GPM
100.00%
108.94%
298.11%
39.09%
94.26%
84.71%

Dari grafik tren di atas, dapat dilihat untuk tren GPM pada tahun 2012-2017 MAYORA mengalami fluktuatif tapi cenderung turun. Sesungguhnya penurunan yang terjadi pada tahun 2014 ke 2015 cenderung tinggi, hal itu terjadi karena bahan baku naik dan ini bias dijadikan untuk bahan evaluasi agar bias tetap mempertahankan tren agar terus naik.

d) Analisis Common Size

GPM

90.00% 80.00% 70.00% 60.00% 50.00% 40.00% 30.00% 20.00% 10.00% 0.00% 2012 2013 2014 2015 2016
90.00%
80.00%
70.00%
60.00%
50.00%
40.00%
30.00%
20.00%
10.00%
0.00%
2012
2013
2014
2015
2016
2017
Penjualan Bersih
81.76%
80.44%
57.98%
77.92%
78.92%
81.55%
Laba kotor
18.24%
19.56%
42.02%
22.08%
21.08%
18.45%

Dari grafik tren di atas, dapat dilihat bahwa grafik untuk penjualan bersih dan laba

kotor berbanding terbalik. Pada tahun 2013 ke 2014, penjualan bersih mengalami

penurunan yang cukup banyak yakni sebesar 22%, sedangkan untuk modal kerja

mengalami kenaikan sebesar 22%. Setelah tahun 2014, penjualan bersih mengalami

kenaikan setiap tahun, dimana kenaikannya bervariasi. Kenaikan paling tinggi terjadi

pada tahun 2014 ke 2015, yakni sebesar 20%. Untuk laba kotor, setelah tahun 2014,

mengalami penurunan dimana penurunan terbesar terjadi pada tahun 2014 ke 2015,

sebesar 20%. GPM dibentuk oleh gross profit atau laba kotor, laba kotor = penjualan

bersih harga pokok penjualan. Penjualan bersih= penjualan-potongan penjualan

retur penjualan. HPP= pembelian bersih + persediaan awal persediaan akhir.

D. OM

a) Formula dan perhitungan

OM =

TAHUN

EBIT

Penjualan Bersih

OM

Trend

2012

1,156,559,816,440.00

10,510,625,669,832.00

11.00%

100.00%

2013

1,304,809,297,689.00

12,017,837,133,337.00

10.86%

98.67%

2014

890,864,034,001.00

3,498,158,854,197.00

25.47%

234.56%

2015

1,862,620,832,987.00

14,818,730,635,847.00

12.57%

49.36%

2016

2,315,242,242,867.00

18,349,959,898,358.00

12.62%

100.38%

2017

1,467,963,254,996.00

14,298,836,222,293.00

10.27%

81.37%

30.00%

25.00%

20.00%

15.00%

10.00%

5.00%

0.00%

OM 25.47% 12.57% 12.62% 11.00% 10.86% 10.27% 2012 2013 2014 2015 2016 2017
OM
25.47%
12.57%
12.62%
11.00%
10.86%
10.27%
2012
2013
2014
2015
2016
2017

OM

, table rasio profitabilitas tersebut

menunjukkan nilai OM pada PT. Mayora untuk tahun 2012, 2013, 2014, 2015, 2016

dan 2017 berturut- turut adalah sebesar 11.10%, 10.90%, 25.50%, 12.60%, 12.61,

10.30% dengan nilai rata-rata sebesar 13.83%. Nilai rata-rata OM yang diperoleh

perusahaan Mayora jika dibandingkan dengan standar industry yaitu 10.8% sudah

memenuhi nilai standar, hal tersebut menandakan bahwa kemampuan menghasilkan

keuntungan dari kegiatan operasional yang dilakukan cukup baik. Nilai OM dapat

ditingkatkan jika perusahaan Mayora mampu mengelola penggunaan biaya operasional

dengan baik serta adanya peningkatan penjualan, sehingga laba operasional dapat

diperoleh secara maksimal.

OM dibentuk dengan rumus, OM =

b)

Makna

2012

Harapannya, makin tinggi nilai OM, maka akan makin baik. Dari perhitungan tahun 2012 diperoleh OM = 11,1%, yang berarti setiap Rp 1 penjualan maka akan mampu memberikan laba operasi sebesar Rp 0,11.

2013

Harapannya, makin tinggi nilai OM, maka akan makin baik. Dari

perhitungan di atas diperoleh OM = 10,9%, yang berarti setiap Rp 1

 

penjualan

maka

akan

mampu

memberikan

laba

operasi

sebesar

Rp0,109.

2014

Harapannya, makin tinggi nilai OM, maka akan makin baik. Dari

perhitungan di atas diperoleh OM = 25,5% yang berarti setiap Rp 1

penjualan maka akan mampu memberikan laba operasi sebesar

Rp0,255.

2015

Harapannya, makin tinggi nilai OM, maka akan makin baik. Dari

perhitungan di atas diperoleh OM = 12,5%, yang berarti setiap Rp 1

penjualan maka akan mampu memberikan laba operasi sebesar

Rp0,126.

2016

Harapannya, makin tinggi nilai OM, maka akan makin baik. Dari

perhitungan di atas diperoleh OM = 12,5% yang berarti setiap Rp 1

penjualan maka akan mampu memberikan laba operasi sebesar

Rp0,126.

2017

Harapannya, makin tinggi nilai OM, maka akan makin baik. Dari

perhitungan di atas diperoleh OM = 10,3% yang berarti setiap Rp 1

penjualan maka akan mampu memberikan laba operasi sebesar

Rp0,103.

c) Analisis Tren

= ℎ ℎ

100%

TAHUN

EBIT

Penjualan Bersih

OM

Trend

2012

1,156,559,816,440.00

10,510,625,669,832.00

11.00%

100.00%

2013

1,304,809,297,689.00

12,017,837,133,337.00

10.86%

98.67%

2014

890,864,034,001.00

3,498,158,854,197.00

25.47%

234.56%

2015

1,862,620,832,987.00

14,818,730,635,847.00

12.57%

49.36%

2016

2,315,242,242,867.00

18,349,959,898,358.00

12.62%

100.38%

2017

1,467,963,254,996.00

14,298,836,222,293.00

10.27%

81.37%

250.00%

200.00%

150.00%

100.00%

50.00%

OM

250.00% 200.00% 150.00% 100.00% 50.00% OM 0.00% 2012 2013 2014 2015 2016 2017   OM 100.00%

0.00%

2012

2013

2014

2015

2016

2017

 

OM

100.00%

98.669107234

234.56%

49.36%

100.38%

81.37%

 

Dari grafik tren di atas, dapat dilihat untuk tren OM pada tahun 2012-2017 MAYORA mengalami fluktuatif tapi cenderung turun. Sesungguhnya penurunan yang terjadi pada tahun 2014 ke 2015 cenderung tinggi, hal itu terjadi karena bahan baku naik dan ini bias dijadikan untuk bahan evaluasi agar bias tetap mempertahankan tren agar terus naik. OM terdiri dari EBIT, EBIT= pendapatan Biaya operasional. EBIT digunakan untuk mengukur laba yang dihasilkan perusahaan dari operasinya sehingga identic dengan “laba operasi”.

d) Analisis Common Size

OM

100.00% 90.00% 80.00% 70.00% 60.00% 50.00% 40.00% 30.00% 20.00% 10.00% 0.00% 2012 2013 2014 2015
100.00%
90.00%
80.00%
70.00%
60.00%
50.00%
40.00%
30.00%
20.00%
10.00%
0.00%
2012
2013
2014
2015
2016
2017
PENJUALAN
90.09%
90.21%
79.70%
88.83%
88.80%
90.69%
EBIT
9.91%
9.79%
20.30%
11.17%
11.20%
9.31%

Dari grafik tren di atas, dapat dilihat bahwa grafik untuk penjualan bersih dan EBIT

berbanding terbalik. Pada tahun 2013 ke 2014, penjualan bersih mengalami penurunan

yang cukup banyak yakni sebesar 10%, sedangkan untuk modal kerja mengalami

kenaikan sebesar 10%. Setelah tahun 2014, penjualan bersih mengalami kenaikan

setiap tahun, dimana kenaikannya bervariasi. Kenaikan paling tinggi terjadi pada tahun

2014 ke 2015, yakni sebesar 9%. Untuk EBIT, setelah tahun 2014, mengalami

penurunan dimana penurunan terbesar terjadi pada tahun 2014 ke 2015, sebesar 10%.

E. NPM

a) Formula dan perhitungan

NPM=

TAHU

       

N

Net Profit margin

Penjualan Bersih

NPM

Trend

   

10,510,625,669,832.0

 

100.00

2012

744,428,404,309.00

0

7.08%

%

 

1,013,558,238,779.0

12,017,837,133,337.0

 

119.08

2013

0

0

8.43%

%

       

138.84

2014

409,618,689,484.00

3,498,158,854,197.00

11.71%

%

 

1,250,233,128,560.0

14,818,730,635,847.0

   

2015

0

0

8.44%

72.05%

 

1,388,676,127,665.0

18,349,959,898,358.0

   

2016

0

0

7.57%

89.70%

   

14,298,836,222,293.0

   

2017

950,645,190,703.00

0

6.65%

87.85%

NPM 14.00% 12.00% 11.71% 10.00% 8.43% 8.44% 8.00% 7.57% 7.08% 6.65% NPM 6.00% 4.00% 2.00%
NPM
14.00%
12.00%
11.71%
10.00%
8.43%
8.44%
8.00%
7.57%
7.08%
6.65%
NPM
6.00%
4.00%
2.00%
0.00%
2012
2013
2014
2015
2016
2017

Namun secara margin bersih (NPM), Persoroan tidak terlihat terlalu besar, bergerak

di antara range 4% hingga 8% kecuali tahun 2014 yg turun. Itu karena Perseroan

termasuk perusahaan ekspansif yg menggunakan leverage utang bank sehingga laba

bersih pun terpangkas sebagian oleh beban bunga pinjaman karena sebagian besar

pinjaman atas Mayora adalah terhadap pihak bank. Sekali lagi seharusnya pada tahun

2014 itu grafik mengalami penurunan (dari 2013 ke 2014 m3ngalami penurunan) tapi

malah sebaliknya, dan ini dikarenakan interval antara pembilang dan penyebut tidak

terlalu besar. Dari analisis kami terhadap mayora berasumsi bahwa ketika net profit

margin mengalami kenaikan maka revenue juga mengalami kenaikkan, dan begitu juga

sebaliknya. Namun pada perhitungan ini yang paling berpengaruh adalah revenue

(penjualan bersih) karena dalam NPM sendiri interval revenue sangatlah besar tapi net

profit margin masih significant pergembangannya dari tahun ke tahun sedangkan

revenue mengalami kenaikkan yang cukup tinggi dan apabila mengalami penurunan

maka turunnya drastis.

b) Makna

2012

Harapannya, makin tinggi nilai NPM, maka akan makin baik. Dari

perhitungan di atas diperoleh OM = 7,1%, yang berarti setiap Rp 1

penjualan maka akan mampu memberikan laba neto sebesar Rp 0,71.

2013

Harapannya, makin tinggi nilai NPM, maka akan makin baik. Dari

perhitungan di atas diperoleh NPM = 8,4%, yang berarti setiap Rp 1

penjualan maka akan mampu memberikan laba neto sebesar Rp0,84.

2014

Harapannya, makin tinggi nilai NPM, maka akan makin baik. Dari

perhitungan di atas diperoleh NPM = 11,7 yang berarti setiap Rp 1

penjualan maka akan mampu memberikan laba neto sebesar

Rp0,117.

2015

Harapannya, makin tinggi nilai NPM, maka akan makin baik. Dari

perhitungan di atas diperoleh NPM = 8,4% yang berarti setiap Rp 1

penjualan maka akan mampu memberikan laba neto sebesar Rp0,84.

2016

Harapannya, makin tinggi nilai OM, maka akan makin baik. Dari

perhitungan di atas diperoleh OM = 12,5% yang berarti setiap Rp 1

penjualan maka akan mampu memberikan laba operasi sebesar

Rp0,126.

2017

Harapannya, makin tinggi nilai NPM, maka akan makin baik. Dari

perhitungan di atas diperoleh NPM = 6,6% yang berarti setiap Rp 1

penjualan maka akan mampu memberikan laba neto sebesar Rp0,66.

c) Analisis Tren

= ℎ ℎ

100%

NPM

160.00% 140.00% 120.00% 100.00% 80.00% 60.00% 40.00% 20.00% 0.00% 2012 2013 2014 2015 2016 2017
160.00%
140.00%
120.00%
100.00%
80.00%
60.00%
40.00%
20.00%
0.00%
2012
2013
2014
2015
2016
2017
NPM
100.00%
119.08%
138.84%
72.05%
89.70%
87.85%

Dari grafik tren di atas, dapat dilihat untuk tren NPM pada tahun 2012-2017 MAYORA mengalami fluktuatif tapi cenderung turun. Sesungguhnya penurunan yang terjadi pada tahun 2014 ke 2015 cenderung tinggi, hal itu terjadi karena bahan baku naik dan ini bias dijadikan untuk bahan evaluasi agar bias tetap mempertahankan tren agar terus naik.

d) Analisis Common Size

NPM

100.00% 90.00% 80.00% 70.00% 60.00% 50.00% 40.00% 30.00% 20.00% 10.00% 0.00% 2012 2013 2014 2015
100.00%
90.00%
80.00%
70.00%
60.00%
50.00%
40.00%
30.00%
20.00%
10.00%
0.00%
2012
2013
2014
2015
2016
2017
penjualan bersih
93.39%
92.22%
89.52%
92.22%
92.96%
93.77%
Net Profit margin
6.61%
7.78%
10.48%
7.78%
7.04%
6%

Dari grafik tren di atas, dapat dilihat bahwa grafik untuk penjualan bersih dan Net Profit Margin berbanding terbalik. Pada tahun 2013 ke 2014, penjualan bersih

mengalami penurunan yang cukup banyak yakni sebesar 3%, sedangkan untuk modal kerja mengalami kenaikan sebesar 3%. Setelah tahun 2014, penjualan bersih mengalami kenaikan setiap tahun, dimana kenaikannya bervariasi. Kenaikan paling tinggi terjadi pada tahun 2014 ke 2015, yakni sebesar 3%. Untuk EBIT, setelah tahun 2014, mengalami penurunan dimana penurunan terbesar terjadi pada tahun 2014 ke 2015, sebesar 3%.

Kesimpulan dari rasio profitabilitas adalah PT. Mayora dalam memperoleh laba periode sangatlah baik dan dapat mengatur penggunaan laba tersebut untuk membayar hutang serta manajemen di dalam PT. Mayora juga bagus, hal ini dapat dibuktikan pada tahun 2014 penjualan menurun yang dikarenakan harga bahan baku meningkat, akan tetapi mayora dapat menaikkan penjualan sehingga laba yang diperoleh juga naik pada tahun 2015.

3. Perhitungan Analisis Solvabilitas

A. Debt to Asset Ratio (DAR)

2012= 5.234.655.914.665/ 8.171.532.475.596 = 0.640596599 atau 64% 2013=5.816.323.334.823/9.710.223.454.000= 0.598989649 atau 60% 2014= 6.190.553.036.545/10.291.108.129.334 = 0.601543873 atau 60,15% 2015= 6.148.255.759.034/11.342.715.686.221 = 0.542044421 atau 54,201% 2016= 6.657.165.872.077/12.922.421.859.142 = 0.515163949 atau 51,51% 2017= 7.134.109.802.001/13.865.740.009.094 = 0.514513455 atau 51,45%

DAR

TAHUN

NILAI

TREN

 

2012 64.00%

 

100.00%

 

2013 59.89%

 

93.58%

 

2014 60.15%

 

100.43%

 

2015 54.20%

 

90.11%

 

2016 51.51%

 

95.04%

 

2017 51.45%

 

99.88%

DAR 70.00% 60.00% 50.00% 40.00% 30.00% 20.00% 10.00% 0.00% 2011 2012 2013 2014 2015 2016
DAR
70.00%
60.00%
50.00%
40.00%
30.00%
20.00%
10.00%
0.00%
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018

Rasio ini menunjukan nilai relative antara nilai total utang terhadap total aktiva. Rasionya dihitung dengan formula sebagai berikut:

Debt to asset ratio =

( )

( )

Dari formula tersebut diketahui bahwa rasio ini menunjukan seberapa besar pendanaan perusahaan yang dibiayai oleh utang dibanding dengan total aktiva yang dimiliki oleh perusahaan. Semakin besar nilai rasionya, maka semakin besar utang yang dimiliki oleh perusahaan. Artinya semakin besar kewajiban perusahaan yang harus dipenuhi kepada pihak lain. Hasilnya, sekian % total aktiva dibiayai utang.

Makna:

2012

Harapannya. Apabila nilai DAR tinggi maka akan semakin baik bagi perusahaan, dari perhitungan diatas diperoleh DAR = 64%,yang berarti setiap 1 ekuitas maka akan mampu memberikan laba neto sebesar Rp. 0.64

2013

Harapannya. Apabila nilai DAR tinggi maka akan semakin baik bagi perusahaan,

 

dari perhitungan diatas diperoleh DAR = 59.89%,yang berarti setiap 1 ekuitas maka akan mampu memberikan laba neto sebesar Rp. 0.5989

2014

Harapannya. Apabila nilai DAR tinggi maka akan semakin baik bagi perusahaan, dari perhitungan diatas diperoleh DAR = 60.15%,yang berarti setiap 1 ekuitas maka akan mampu memberikan laba neto sebesar Rp. 0.6015

2015

Harapannya. Apabila nilai DAR tinggi maka akan semakin baik bagi perusahaan, dari perhitungan diatas diperoleh DAR = 54.20%,yang berarti setiap 1 ekuitas maka akan mampu memberikan laba neto sebesar Rp. 0.542

2016

Harapannya. Apabila nilai DAR tinggi maka akan semakin baik bagi perusahaan, dari perhitungan diatas diperoleh DAR = 51.51%,yang berarti setiap 1 ekuitas maka akan mampu memberikan laba neto sebesar Rp. 0.5151

2017

Harapannya. Apabila nilai DAR tinggi maka akan semakin baik bagi perusahaan, dari perhitungan diatas diperoleh DAR = 51.45%,yang berarti setiap 1 ekuitas maka akan mampu memberikan laba neto sebesar Rp. 0.5145

B. Debt to Equity Ratio (DER)

2012= 5.234.655.914.665/3.067.850.327.238 = 1.706294426 atau 171% 2013= 5.816.323.334.823/3.893.900.119.177 = 1.493701214 atau 149% 2014= 6.190.553.036.545/4.100.554.992.789 = 1.509686627 atau 151% 2015= 6.148.255.759.034/5.194.459.927.187 = 1.183617902 atau 118% 2016= 6.657.165.872.077/6.265.255.987.065 = 1.062552893 atau 106% 2017= 7.134.109.802.001/6.731.630.207.093 = 1.05978932 atau 106%

DER

TAHUN

NILAI

TREN

 

2012 171%

 

100.00%

 

2013 149%

 

87.54%

 

2014 151%

 

101.07%

 

2015 118%

 

78.40%

 

2016 106%

 

89.77%

 

2017 106%

 

99.74%

TREN DER 180% 160% 140% 120% 100% 80% 60% 40% 20% 0% 2011 2012 2013
TREN DER
180%
160%
140%
120%
100%
80%
60%
40%
20%
0%
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018

Rasio ini menunjukan nilai relative antara total utang dengan total equitas. Rasionya dihitung dengan membagi nilai total utang dengan nilai equitas.

DER =

DER =

Sehingga rasio ini menunjukan besarnya pendanaan perusahaan yang dibiayai oleh

kreditor dibandingkan dengan pendanaan yang dibiayai oleh pemegang saham. semakin besar nilai rasionya, maka semakin besar utang yang dimiliki oleh perusahaan. Artinya semakin besar kewajiban perusahaan yang harus dipenuhi kepada pihak lain.

% (hasil DER) berarti perbandingan antara utang jangka panjang

dengan modal sendiri adalah

Rasio sebesar

% ; 100%.

Makna:

2012

Harapannya, makin rendah nilai DER, maka akan semakin baik, maka akan sedikit mengurangi nilai utang. Dari perhitungan diatas diperoleh DER = 171%, yang berarti setiap Rp. 1 aset akan memberikan laba neto sebesar Rp 1.71

2013

Harapannya, makin rendah nilai DER, maka akan semakin baik, maka akan sedikit mengurangi nilai utang. Dari perhitungan diatas diperoleh DER = 149%, yang berarti setiap Rp. 1 aset akan memberikan laba neto sebesar Rp 1.49

2014

Harapannya, makin rendah nilai DER, maka akan semakin baik, maka akan sedikit mengurangi nilai utang. Dari perhitungan diatas diperoleh DER = 151%, yang berarti setiap Rp. 1 aset akan memberikan laba neto sebesar Rp 1.51

2015

Harapannya, makin rendah nilai DER, maka akan semakin baik, maka akan sedikit mengurangi nilai utang. Dari

 

perhitungan diatas diperoleh DER = 118%, yang berarti setiap Rp. 1 aset akan memberikan laba neto sebesar Rp 1.18

2016

Harapannya, makin rendah nilai DER, maka akan semakin baik, maka akan sedikit mengurangi nilai utang. Dari perhitungan diatas diperoleh DER = 106%, yang berarti setiap Rp. 1 aset akan memberikan laba neto sebesar Rp 1.06

2017

Harapannya, makin rendah nilai DER, maka akan semakin baik, maka akan sedikit mengurangi nilai utang. Dari perhitungan diatas diperoleh DER = 106%, yang berarti setiap Rp. 1 aset akan memberikan laba neto sebesar Rp 1.06

C. Long Term Debt to Equity Ratio (LTDER) 2012= 3.310.221.795.521/3.067.850.327.238 = 1.079003681 atau 108% 2013= 3.139.430.961.141/3.893.900.119.177 = 0.80624332 atau 80,62% 2014= 3.076.215.435.183/4.100.554.992.789 = 0.750194898 atau 75,01% 2015= 2.996.760.596.346/5.194.459.927.187 = 0.576914759 atau 57,69% 2016=2.773.114.553.072/6.265.255.987.065 = 0.442617917 atau 44,26 2017=2.862.657.684.469/6.731.630.207.093 = 0.425254745 atau 42,52

LTDER

TAHUN

NILAI

TREN

 

2012

108%

100.00%

 

2013

81%

74.72%

 

2014

75%

93.04%

 

2015

58%

76.91%

 

2016

44%

76.72%

 

2017

43%

96.07%

LTDER 120% 100% 80% 60% 40% 20% 0% 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
LTDER
120%
100%
80%
60%
40%
20%
0%
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018

Rasio ini digunakan untuk mengukur berapa bagian utang jangka panjang yang terdapat di dalam di dalam modal jangka panjang perusahaan.

hasil LTDER) menunjukan bahwa keseluruhan modal jangka

panjang sebesar sekian terdiri dari utang jangka panjang.

Ratio sebesar (

%

Makna:

2012

Harapannya, makin rendah nilai LTDER, maka akan semakin baik, maka akan sedikit mengurangi nilai utang. Dari perhitungan diatas diperoleh LTDER = 108%, yang berarti setiap Rp. 1 aset akan memberikan laba neto sebesar Rp 1.08

2013

Harapannya, makin rendah nilai LTDER, maka akan semakin baik, maka akan sedikit mengurangi nilai utang. Dari perhitungan diatas diperoleh LTDER = 81%, yang berarti setiap Rp. 1

 

aset akan memberikan laba neto sebesar Rp 0.81

2014

Harapannya, makin rendah nilai LTDER, maka akan semakin baik, maka akan sedikit mengurangi nilai utang. Dari perhitungan diatas diperoleh LTDER = 75%, yang berarti setiap Rp. 1 aset akan memberikan laba neto sebesar Rp 0.75

2015

Harapannya, makin rendah nilai LTDER, maka akan semakin baik, maka akan sedikit mengurangi nilai utang. Dari perhitungan diatas diperoleh LTDER = 58%, yang berarti setiap Rp. 1 aset akan memberikan laba neto sebesar Rp 0.58

2016

Harapannya, makin rendah nilai LTDER, maka akan semakin baik, maka akan sedikit mengurangi nilai utang. Dari perhitungan diatas diperoleh LTDER = 44%, yang berarti setiap Rp. 1 aset akan memberikan laba neto sebesar Rp 0.44

2017

Harapannya, makin rendah nilai LTDER, maka akan semakin baik, maka akan sedikit mengurangi nilai utang. Dari perhitungan diatas diperoleh LTDER = 43%, yang berarti setiap Rp. 1

aset akan memberikan laba neto sebesar Rp 0.43
aset akan memberikan laba neto sebesar Rp 0.43

aset akan memberikan laba neto sebesar

Rp 0.43

D. Current Liabilities to Net Worth atau Current Liabilities to Equity

2012= 1.924.434.119.144/3.067.850.327.238 = 0.627290746 atau 62,72%

2013= 2.676.892.373.682/3.893.900.119.177 = 0.687457894atau 68,74%

2014= 3.114.337.601.362/4.100.554.992.789 = 0.759491729atau 75,94%

2015= 3.151.495.162.694/5.194.459.927.187 = 0.606703143atau 60,67%

2016= 3.884.051.319.005/6.265.255.987.065 = 0.619934976atau 61,99%

2017=3.147.919.560.986/6.731.630.207.093 = 0.467631088atau 46,76%

CURRENT

     

LIABILITIES

TAHUN

NILAI

TREN

   

2012 62.72%

100.00%

   

2013 68.74%

109.60%

   

2014 75.94%

110.47%

   

2015 60.67%

79.89%

   

2016 61.99%

102.18%

   

2017 46.76%

75.43%

Current Liabilities 80.00% 70.00% 60.00% 50.00% 40.00% 30.00% 20.00% 10.00% 0.00% 2011 2012 2013 2014
Current Liabilities
80.00%
70.00%
60.00%
50.00%
40.00%
30.00%
20.00%
10.00%
0.00%
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
2018

Current liabilities adalah kewajiban yang harus diselesaikan di masa datang. Current liabilities ini dibayar dari asset lancar. Semakin tinggi asset lancar yang dimiliki perusahaan tersebut, maka semakin baik kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajibannya, jika hasilnya lebih dari 1, maka perusahaan semakin baik. Makna:

2012

Harapannya, makin tinggi nilai Current Liabilities, maka akan semakin baik bagi perusahaan. Dari perhitungan diatas diperoleh Current Liabilites= 62.72%, yang berarti setiap Rp. 1 aset akan memberikan laba neto sebesar Rp 0.6272

2013

Harapannya, makin tinggi nilai Current Liabilities, maka akan semakin baik bagi perusahaan. Dari perhitungan diatas diperoleh Current Liabilites= 68.74%, yang berarti setiap Rp. 1 aset akan memberikan laba neto sebesar Rp 0.6874

2014

Harapannya, makin tinggi nilai Current Liabilities, maka akan semakin baik bagi perusahaan. Dari perhitungan diatas diperoleh Current Liabilites= 75.94%, yang berarti setiap Rp. 1 aset akan memberikan laba neto sebesar Rp 0.7594

2015

Harapannya, makin tinggi nilai Current Liabilities, maka akan semakin baik bagi perusahaan. Dari perhitungan diatas diperoleh Current Liabilites= 60.67%, yang berarti setiap Rp. 1 aset akan memberikan laba neto sebesar Rp 0.6067

2016

Harapannya, makin tinggi nilai Current

Liabilities, maka akan semakin baik bagi

perusahaan. Dari perhitungan diatas

diperoleh Current Liabilites= 61.99%,

yang berarti setiap Rp. 1 aset akan

memberikan laba neto sebesar Rp 0.6199

2017

Harapannya, makin tinggi nilai Current

Liabilities, maka akan semakin baik bagi

perusahaan. Dari perhitungan diatas

diperoleh Current Liabilites= 46.76%,

yang berarti setiap Rp. 1 aset akan

memberikan laba neto sebesar Rp 0.4676

COMMON SIZE

       

TOTAL

TOTAL

TOTAL

DAR

TOTAL DEBT

TOTAL ASSSET

TOTAL

DEBT

ASSET

PERSENTASE

2012

5,234,655,914,665

8,171,532,475,596

13,406,188,390,261

39.05%

60.95%

100.00%

2013

5,816,323,334,823

9,710,223,454,000

15,526,546,788,823

37.46%

62.54%

100.00%

2014

6,190,553,036,545

10,291,108,129,334

16,481,661,165,879

37.56%

62.44%

100.00%

2015

6,148,255,759,034

11,342,715,686,221

17,490,971,445,255

35.15%

64.85%

100.00%

2016

6,657,165,872,077

12,922,421,859,142

19,579,587,731,219

34.00%

66.00%

100.00%

2017

7,134,109,802,001

13,865,740,009,094

20,999,849,811,095

33.97%

66.03%

100.00%

70.00%

60.00%

50.00%

40.00%

30.00%

20.00%

10.00%

0.00%

DAR70.00% 60.00% 50.00% 40.00% 30.00% 20.00% 10.00% 0.00% 64.85% 66.00% 62.54% 62.44% 60.95% 6 6 .

64.85% 66.00% 62.54% 62.44%
64.85%
66.00%
62.54%
62.44%

60.95%

66.03%

37.46% 37.56% 35.15% 34.00%
37.46%
37.56%
35.15%
34.00%

39.05%

33.97%

1

2

3

62.44% 60.95% 6 6 . 0 3 % 37.46% 37.56% 35.15% 34.00% 3 9 . 0

TOTAL DEBT

4

TOTAL ASSET62.54% 62.44% 60.95% 6 6 . 0 3 % 37.46% 37.56% 35.15% 34.00% 3 9 .

5

6

Dari grafik tersebut dapat dijelaskan bahwa untuk total debt dan total asset, mengalami kenaikan dan penurunan tetapi tidak drastis. Pada tahun 2012 hingga pada tahun 2017 total asset mengalami kenaikan yang cukup yaitu sekitar 10%. Namun untuk total debt mengalami penurunan dari tahun 2012 ke tahun 2017, dari 39,05% menjadi 33,97%.

       

TOTAL

 

TOTAL

DER

TOTAL UTANG

EQUITY

TOTAL

UTANG

EQUITY

PERSENTASE

2012

5,234,655,914,665

3,067,850,327,238

8,302,506,241,903

63.05%

36.95%

100.00%

2013

5,816,323,334,823

3,893,900,119,177

9,710,223,454,000

59.90%

40.10%

100.00%

2014

6,190,553,036,545

4,100,554,992,789

10,291,108,029,334

60.15%

39.85%

100.00%

2015

6,148,255,759,034

5,194,459,927,187

11,342,715,686,221

54.20%

45.80%

100.00%

2016

6,657,165,872,077

6,265,255,987,065

12,922,421,859,142

51.52%

48.48%

100.00%

2017

7,134,109,802,001

6,731,630,207,093

13,865,740,009,094

51.45%

48.55%

100.00%

70.00%

60.00%

50.00%

40.00%

30.00%

20.00%

10.00%

0.00%

DER
DER
59.90% 60.15% 54.20% 51.52% 48.48%
59.90%
60.15%
54.20%
51.52%
48.48%

63.05%

51.45%

48.55%

45.80% 40.10% 39.85%
45.80%
40.10%
39.85%

36.95%

1

2

3

51.52% 48.48% 6 3 . 0 5 % 51.45% 4 8 . 5 5 % 45.80%

TOTAL UTANG

4 EQUITY
4
EQUITY

5

6

Dari grafik tersebut dapat dijelaskan bahwa pada PT MYOR selama tahun 2012-2017, total hutang yang dimiliki perusahaan mengalami penurunan dan kenaikan, akan tetapi meskipun begitu total hutang perusahaan cenderung mengalami penurunan. Dengan kata lain jumlah ekuitas yang dimiliki perusahaan sebaliknya cenderung mengalami peningkatan. Pada tahun 2012 ke tahun 2013 total hutang menurun dari 63,05% menjadi 59,90% namun pada tahun 2014 kembali meningkat menjadi 60,15. Akan tetapi di tahun tahun berikutnya yaitu mulai tahun 2015 hingga 2017 totalhutang perusahaan terus mengalami penurunan. Dari yang awalnya pada tahun 2012 sebesar 63,05% pada tahun 2017 total hutang perusahaan menjadi 51,45%. Hal ini menandakan bahwa ekuitas perusahaan yang pada tahun 2012 sebesar 36,95% mengalami kenaikan yang cukup baik hingga mencapai 48,55% pada tahun 2017.

       

LONG

   

LONG TERM

TERM

TOTAL

LTDER

DEBT

EQUITY

TOTAL

DEBT

EQUITY

PERSENTASE

2012

3,310,221,795,521

3,067,850,327,238

6,378,072,122,759

51.90%

48.10%

100.00%

2013

3,139,430,961,141

3,893,900,119,177

7,033,331,080,318

44.64%

55.36%

100.00%

2014

3,076,215,435,183

4,100,554,992,789

7,176,770,427,972

42.86%

57.14%

100.00%

2015

2,996,760,596,346

5,194,459,927,187

8,191,220,523,533

36.59%

63.41%

100.00%

2016

2,773,114,553,072

6,265,255,987,065

9,038,370,540,137

30.68%

69.32%

100.00%

2017

2,862,657,684,469

6,731,630,207,093

9,594,287,891,562

29.84%

70.16%

100.00%

LTDER LONG TERM DEBT EQUITY 80.00% 70.00% 69.32% 70.16% 63.41% 60.00% 57.14% 55.36% 51.90% 50.00%
LTDER
LONG TERM DEBT
EQUITY
80.00%
70.00%
69.32%
70.16%
63.41%
60.00%
57.14%
55.36%
51.90%
50.00%
48.10%
44.64%
42.86%
40.00%
36.59%
30.00%
30.68%
29.84%
20.00%
10.00%
0.00%
1
2
3
4