Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Protozoa merupakan organisme bersel tunggal yang sudah memiliki membran inti
(eukariota). Protozoa berukuran mikroskopis, yaitu sekitar 100 sampai 300 mikron. Bentuk sel
Protozoa sangat bervariasi ada yang tetap dan ada yang berubah-ubah. Protozoa umumnya
dapat bergerak aktif karena memiliki alat gerak berupa kaki semu (pseudopodia), bulu cambuk
(flagellum), bulu getar (cilia), namun ada juga yang tidak memiliki alat gerak. Sebagian besar
Protozoa hidup bebas di air tawar dan laut sebagai komponen biotik. Beberapa jenis Protozoa
hidup sebagai parasit pada hewan dan manusia. Protozoa hidup secara heterotrop dengan
memangsa bakteri, protista lain, dan sampah organisme.
Ukuran protozoa beranekaragam, yaitu mulai kurang dari 10 mikron sampai ada yang
mencapai 6 mm, meskipun jarang. Diperairan, protozoa adalah penyusun zooplankton.
Makanan protozoa meliputi bakteri, jenis protista lain, atau detritus (materi organic dari
organisme mati). Protozoa hidup soliter atau berkoloni. Jika keadaan lingkungan kurang
menguntungkan, protozoa membungkus diri membentuk kista untuk mempertahankan diri.
Bila mendapat lingkungan yang sesuai hewan ini akan aktif lagi. Cara hidupnya ada yang
parasit, saprofit, dan ada yang hidup bebas (soliter).

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Bagaimana morfologi pada Balantidium coli, Naegleria fowleri, dan Toxoplasma
gondii ?
2. Bagaimana siklus hidup pada Balantidium coli, Naegleria fowleri, dan Toxoplasma
gondii ?
3. Bagaimana patogenesis dan gejala klinis pada Balantidium coli, Naegleria fowleri,
dan Toxoplasma gondii ?
4. Bagaimana diagnosis pada Balantidium coli, Naegleria fowleri, dan Toxoplasma
gondii ?
5. Bagaimana pengobatan pada Balantidium coli, Naegleria fowleri, dan Toxoplasma
gondii ?
6. Bagaimana pencegahan pada Balantidium coli, Naegleria fowleri, dan Toxoplasma
gondii ?

1
1.3 TUJUAN
1. Untuk dapat mengetahui morfologi pada Balantidium coli, Naegleria fowleri, dan
Toxoplasma gondii
2. Untuk dapat mengetahui siklus hidup pada Balantidium coli, Naegleria fowleri, dan
Toxoplasma gondii
3. Untuk dapat mengetahui patogenesis dan gejala klinis pada Balantidium coli,
Naegleria fowleri, dan Toxoplasma gondii
4. Untuk dapat mengetahui diagnosis pada Balantidium coli, Naegleria fowleri, dan
Toxoplasma gondii
5. Untuk dapat mngetahui pengobatan pada Balantidium coli, Naegleria fowleri, dan
Toxoplasma gondii
6. Untuk dapat mngetahui pencegahan pada Balantidium coli, Naegleria fowleri, dan
Toxoplasma gondii

2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. PROTOZOA
2.1.1 PENGERTIAN PROTOZOA
Protozoa berasal dari kata protos yang berarti pertama dan zoon yang berarti hewan
sehingga disebut sebagai hewan pertama. Protozoa adalah hewan-hewan bersel tunggal dengan
ukuran mikroskopis (antara 10 µ-300 µ) tetapi ada pula yang dapat dilihat makroskopis. Bentuk
tubuh ada yang berubah-ubah, misalnya seperti Amoeba dan ada yang berbentuk tetap seperti
Paramecium. Protozoa umumnya hidup bebas di alam, misalnya dalam air tawar, laut, tanah
dan di tempat-tempat yang lembab. Ada juga yang hidup parasit pada hewan atau manusia.
Protozoa itu mempunyai struktur yang lebih majemuk dari sel tunggal hewan multiseluler dan
walaupun hanya terdirii dari satu sel, namun protozoa merupakan organism sempurna. Karena
struktur yang demikian itu, maka berbagai ahli dalam zoologi menamakan protozoa itu aselular
tetapi keseluruhan organisme itu di bungkus oleh satu plasma membrane.

2.1.2 PENGELOMPOKKAN PROTOZOA


Protozoa dibagi menjadi 4 kelas berdasarkan alat gerak:
A. Kelas Cilliata (Ciliophora)
Ciliata yang dapat menimbulkan penyakit pada manusia hanyalah Balantidium coli.
Infeksi parasit ini menyebabkan balantidiasis, penyakit zoonosis yang ditularkan melalui air
atau makanan yang tercemar kista parasit ini. Babi merupakan sumber alami infeksi, tetapi
infeksi antar manusia juga bisa terjadi.
Balantidium coli
Ciliata ini adalah parasit obligat zoonosis yang tersebar luas di dunia (kosmopolit) yang
menyebabkan balantidiosis atau ciliate dysenteri yang menimbulkan infeksi usus dan disenteri
pada manusia. Balantidium coli hidup di dalam usus manusia, babi, anjing dan primata. Di
dalam usus, parasit berkembang biak dengan cara membelah diri (binary fission), tetapi juga
dapat berkembang biak secara seksual dengan konjugasi.
Infeksi ciliata ini dilaporkan dari berbagai negara, terutama yang penduduknya banyak
memelihara babi. Prevalensi balantidiasis tergantung pada geografi, dan lingkungan;
prevalensinya tinggi di negara-negara berkembang dimana pencemaran dengan tinja manusia
atau tinja babi banyak terjadi. Babi merupakan sumber infeksi alami bagi manusia, namun
infeksi dari manusia ke manusia juga bisa terjadi.

3
Balantidium coli

Morfologi parasit
Terdapat dua stadium Balantidium coli, yaitu stadium trofozoit dan stadium kista.
Kadang-kadang dapat ditemukan stadium prakista parasit ini.

Trofozoit. Stadium trofozoit adalah bentuk vegetatif parasit yang ditemukan pada tinja
penderita, yang tahan sampai 10 hari jika dibiarkan dalam suhu kamar. Trofozoit yang bergerak
memutar dengan cepat mudah dilihat di bawah mikroskop dengan pembesaran 100x karena
mempunyai ukuran yang besar, dengan panjang 30-200 mikron dan lebar 40-70 mikron.
Seluruh permukaan badan trofozoit dipenuhi silia yang berfungsi sebagai alat bergerak. Di
bagian anterior tubuh parasit terdapat cekungan tubuh berbentuk corong yang disebut peristom
dimana pada sisi subterminal terdapat mulut (sitostom) yang dikelilingi silia. Meskipun
Balantidium coli tidak mempunyai usus, tetapi di bagian posterior tubuh parasit ini tampak
adanya anus atau sitopig (cytopyge).
Terdapat dua jenis inti yang dimiliki oleh Balantidium coli, yaitu makronukleus dan
mikronukleus. Makronukleus (macronucleus) berbentuk ginjal dan berukuran besar sedangkan
mikronukleus (micronucleus) mempunyai bentuk seperti titik kecil yang terdapat didalam
cekungan makronukleus. Terdapat dua buah vakuol kontraktil pada bentuk trofozoit dan
beberapa buah vakuol makanan yang berisi leukosit, eritrosit dan sisa-sisa makanan. Sisa-sisa
makanan yang tak tercerna akan dibuang melalui sitopig.
Kista. Bentuk kista Balantidium coli merupakan stadium infektif parasit yang
berbentuk bulat atau agak lonjong berukuran garis tengah antara 50 sampai 70 mikron dan
mempunyai dua lapis dinding kista. Kista yang terisi penuh badan parasit masih menunjukkan
adanya sejumlah silia. Kista mempunyai dinding tebal dengan sitoplasma yang berbentuk
granuler mengandung makronukleus, mikronukleus dan sebuah badan retraktil yang tidak
selalu tampak jelas. Vakuol kontraktil kadang-kadang masih dapat ditemukan. Kista yang tua
dapat terlihat berbentuk granuler.
Bentuk prakista yang kadang-kadang ditemukan jika sediaan segar didiamkan pada
suhu kamar mempunyai dinding sangat tipis. Bentuk ini mengandung trofozoit yang telah
kehilangan bentuknya yang khas dengan parasit yang tidak mengisi penuh seluruh isi kista.
Pada stadium prakista makronukleus dan mikronukleus jarang terlihat. Pada sediaan basah
yang diperiksa dengan mikroskop fase kontras struktur bagian dalam kista maupun trofosoit

4
tampak lebih jelas. Jika dilakukan pewarnaan pada sediaan basah, sebaiknya larutan zat warna
tidak pekat agar zat warna yang terserap sitoplasma tidak mengganggu gambaran struktur
parasit. Untuk mendapatkan kista Balantidium coli dalam jumlah besar dapat dilakukan melalui
konsentrasi secara sedimentasi atau metode pengapungan.

Gambar 1. Balantidium coli, bentuk trofozoit.


Makronukleus mirip ginjal dan cilia tampak di permukaan badan.
(Sumber: Veterinary Parasitology, University of Pennsylvania)

Siklus hidup
Siklus hidup Balantidium coli dengan dua stadium atau bentuk utamanya yaitu stadium
kista dan stadium trofozoit dapat berlangsung pada satu jenis hospes saja. Sebagai sumber
utama infeksi balantidiosis pada manusia adalah babi karena hewan ini merupakan hospes
definitif alami bagi Balantidium coli. Di dalam usus babi parasit ini dapat berkembang biak
dengan baik tanpa mengganggu kesehatan babi. Karena itu babi merupakan hospes reservoir
bagi manusia yang sebenarnya hanyalah merupakan hospes insidental bagi parasit ini.
Infeksi Balantidium coli pada manusia terjadi akibat tertelan kista infektif parasit ini
melalui air atau makanan mentah yang tercemar tinja babi. Kista yang terdapat didalam usus
besar penderita akan berubah menjadi bentuk trofozoit. Didalam lumen usus atau di dalam
submukosa usus trofozoit kemudian akan memperbanyak diri dengan cara membelah diri
(binary transverse fission) atau secara konjugasi.

5
Gambar 2. Daur hidup Balantidium coli

Reproduksi Konjugasi adalah reproduksi yang terjadi sebagai berikut. Dua trofozoit
akan membentuk kista bersama, lalu bertukar material inti. Gabungan dua trofozoit tersebut
kemudian akan berpisah kembali menjadi dua trofozoit baru. Dalam keadaan lingkungan di
dalam usus kurang sesuai bagi kehidupan parasit, maka trofozoit akan berubah menjadi bentuk
kista.

Patogenesis
Balantidium coli dapat menyebabkan ulserasi pada usus besar, yang dapat
menimbulkan perdarahan dan pembentukan lendir sehingga penderita akan mengalami berak
darah yang berlendir.

Diagnosis balantidiosis
Penderita yang mengalami infeksi akut akan menunjukkan gejala klinis dan keluhan
berupa disenteri berat yang berdarah dan berlendir disertai nyeri perut dan kolik yang
intermiten. Meskipun penderita balantidiosis mengalami disenteri berat, pada umumnya
penderita tidak mengalami demam. Penderita balantidiosis kronis umumnya tidak
menunjukkan gejala atau keluhan (asimtomatis), meskipun kadang-kadang terjadi diare
berulang yang diselingi konstipasi. Diagnosis pasti balantidiosis dapat ditegakkan jika melalui
pemeriksaan parasitologis atas tinja penderita dapat ditemukan kista dan atau trofozoit
Balantidium coli.

6
Pengobatan dan pencegahan
Berbagai obat anti parasit dapat diberikan pada penderita balantidiosis, antara lain
metronidazol, iodokuinol, dan oksitetrasiklin. Metronidazol diberikan dengan dosis 3x750 mg
per hari selama 5 hari sedangkan iodoquinol diberikan dengan dosis 3x650 mg / hari selama
21 hari. Oksitrasiklin dapat juga digunakan dengan dosis 4x 500 mg per hari selama 10 hari.
Untuk mencegah penularan Balantidiosis coli, menjaga higiene perorangan dan
kebersihan lingkungan agar tidak tercemar dengan tinja babi harus dilakukan. Makanan dan
minuman harus dimasak sampai matang untuk mencegah terjadinya infeksi parasit ini pada
manusia. Peternakan babi harus ditempatkan jauh dari pemukiman penduduk dan tidak boleh
mencemari saluran air yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan penduduk sehari-hari.

B. Kelas Rhizopoda (Sarcodina)


Rhizopoda adalah kelas golongan protozoa yang pergerakannya menggunakan kaki
semu (pseudopodi) sebagai alat gerak. Terdapat lima spesies amuba yang termasuk ordo
Amoebida yang dapat ditemukan pada manusia (baik yang patogen maupun yang tidak
patogen) yang morfologinya harus dibedakan, yaitu Enamoeba histolytica, Entamoeba coli,
Endolimax nana, Iodamoeba butchlii, dan Dientamoeba fragilis. Selain morfologi bentuk
trofozoit dan bentuk kista, untuk membedakan satu dengan lainnya, harus diperhatikan ciri-ciri
morfologi dan struktur inti dari masing-masing genus.
Ciri khas genus Entamoeba adalah selaput inti yang tampak dibatasi oleh butiran
kromatin halus (Entamoeba histolytica) atau kasar (Entamoeba coli), dengan kariosom yang
padat terletak di tengah (Entamoeba histolytica) atau ditepi inti (Entamoeba coli). Pada
Endolimax kariosomnya mempunyai bentuk yang tidak teratur dan terletak di tepi inti. Genus
Iodamoeba memiliki kariosom yang khas bentuknya dan besar ukurannya, serta dikelilingi oleh
butiran-butiran bulat. Ciri khas Dientamoeba adalah adanya dua inti yang masing-masing inti
memiliki kariosom yang terdiri dari enam butir kromatin.

Naegleria Fowleri

A. Morfologi
Naegleria Fowleri dikenal dengan karakteristik yang disebut amebaflagellata yaitu
memiliki bentuk amoeboid dan flagellata dalam siklus hidupnya. Siklus terdiri atas stadium
trophozoid (amoeba dan flagellata) dan bentuk kista yang non-motile dan resisten. Trophozoid
dapat hidup di air atau tanah yang lembab, Trophozoid bentuk amoeboid ketika bergerak

7
berbentuk memanjang lebih besar pada bagian anterior yang dapat dengan jelas dibedakan
dengan posterior yang menyempit dan membentuk sebuah pseudopodia yang lebar berukuran
7-10 nanometer memiliki 1 inti dengan karyosom sentral yang besar dan dikelilingi oleh sebuah
halo tanpa kromatin perifer.

B. Daur hidup
Seperti amoeba lainnya, amoeba dari spesies ini terdiri atas ektoplasma dan
endoplasma. Di dalam endoplasma terdapat 1 inti vesikular dengan kariosom yang besar dan
dinding inti yang penuh dengan butir-butir kromatin, selain inti juga ditemukan vakuola
kontraktil dan vakuola makanan. Pada genus Naegleria fowleri ditemukan tiga stadium yaitu
stadium ameboid, flagellata, dan kista.
1. Stadium ameboid : mempunyai bentuk tidak teratur, lonjong atau membulat dengan
ukuran rata-rata 29 mikron. Pseudopodium tunggal yang dikeluarkan meluas ke satu
arah.
2. Stadium flagellata : mempunyai bentuk lonjong seperti buah per, mempunyai 1 inti
vesikular, 1 vakuola kontraktil yang terletak pada bagian posterior dan 2 flagel yang
sama panjang. Fase ini hanya ditemukan beberapa jam saja, kemudian berubah menjadi
fase ameboid lagi.
3. Stadium kista : bentuk bulat atau lonjong, mempunyai 1 inti. Berukuran 10-14 mikron.
Pada dindingnya terdapat beberapa lubang yang digunakan untuk eksistasi. Daur hidup
ameba ini belum diketahui dengan jelas.
Cara infeksi pada manusia diperkirakan melalui hidung pada waktu penderita berenang
atau ketika mengambil air wudhu.

8
Gambar 3. Naegleria fowleri di cairan serebrospinal

Gambar 4 . Daur hidup Naegleria fowleri

C. Patologi dan Gejala Klinis


Pada manusia, Naegleria fowleri dapat menyerang sistem saraf pusat melalui hidung
(khusus melalui mukosa penciuman dan piring berkisi dari jaringan-jaringan hidung). Penetrasi
awalnya menghasilkan nekrosis yang signifikan dan pendarahan di lampu penciuman. Dari
sana, amuba tersebut naik sepanjang serabut saraf melalui lantai dari tempurung kepala melalui

9
piring berkisi dan ke otak. Organisme ini mulai mengkonsumsi sel-sel otak sedikit demi sedikit
dengan cara alat mengisap unik diperpanjang dari permukaan selnya. Hal ini kemudian menjadi
patogen menyebabkan meningoencephalitis amuba primer (PAM atau PAME). PAM adalah
sindrom yang mempengaruhi sistem saraf pusat. PAM biasanya terjadi pada anak-anak sehat
atau dewasa muda tanpa riwayat kompromi kekebalan tubuh yang baru saja terkena air tawar.
Amfoterisin B adalah efektif terhadap Naegleria fowleri in vitro tetapi prognosis tetap
suram bagi mereka yang kontrak PAM dan kelangsungan hidup tetap kurang dari 1%.
Berdasarkan pada bukti in vitro saja, CDC saat ini merekomendasikan pengobatan dengan
amfoterisin B untuk meningoencephalitis amuba primer, tetapi tidak ada bukti bahwa
pengobatan ini mempengaruhi hasil pengobatan menggabungkan miconazole, sulfadiazine,
dan tetrasiklin telah menunjukkan keberhasilan yang terbatas hanya bila diberikan pada awal
perjalanan infeksi.
Sementara miltefosine memiliki efek terapi selama penelitian in vitro pada tikus,
klorpromazin (Thorazine) menunjukkan menjadi zat yang paling efektif-penulis
menyimpulkan: “Klorpromazin memiliki aktivis terapeutik terbaik terhadap Naegleria fowleri
in vivo. Oleh karena itu, mungkin menjadi agen terapeutik lebih berguna untuk pengobatan
PAME daripada amfoterisin B.
Diagnosis tepat waktu tetap menjadi hambatan yang sangat signifikan terhadap
keberhasilan pengobatan infeksi, seperti kebanyakan kasus hanya ditemukan bedah mayat.
Infeksi menewaskan 121 orang di AS dari 1937 sampai 2007 termasuk enam di tahun 2007
(tiga di Florida, dua di Texas, dan satu di Arizona). Penyakit ini menewaskan satu pada tahun
2008 di California, satu pada tahun 2009 di Florida, dan tahun 2010 ada 3 kasus yang
dilaporkan, satu di Arkansas, salah satu di Minnesota dan satu di Texas dengan kasus keempat
amuba tak dikenal di South Carolina. Pada tahun 2011 ada 2 kematian di Louisiana karena
penggunaan air keran (meskipun media infeksi jarang) dalam “neti pot”. Ada juga kematian
individu pada tahun 2011 di Virginia, Louisiana, Florida, dan Kansas.

D. Diagnosis
Diagnosis dibuat dengan menemukan amoeba dalam cairan serebrospinal dalam
eksudat purulen dan pada jaringan nekrotik pada bedah mayat. Pada autopsi dapat ditemukan
ameba dalam jumlah besar di lesi jaringan otak. Spesies Naegleria dalam jaringan hanya
ditemukan dalam bentuk trofozoit tanpa adanya kista.

10
C. Pengobatan
Obat yang memberi harapan adalah amfoterisin B, metronidazol, klorokuin, emetin dan
berbagai antibiotika tidak efektif untuk pengobatan meningitis oleh karena Naegleria. Hanya
ada 2 penderita yang pengobatannya berhasil yaitu seorang dengan amfoterisin B 1 mg/kg berat
badan/hari IV dan 0,1 sampai 1,0 mg intratekal 2 kali sehari; seorang lagi diberi amfoterisin B
dengan dosis tinggi ditambah mikonazol dan rifampisin. Prognosis penderita primary amebic
meningoencephalitis biasanya meninggal. Epidemiologi karena ameba ini hidup di air tawar,
tanah dan tinja, maka penyebaran mungkin di seluruh dunia. Dengan ditemukannya penderita
di beberapa tempat pada musim panas timbulnya penyakit mungkin berhubungan dengan
musim karena ameba ini bersifat termofilik.

D. Pencegahan
Temperatur yang hangat ketersediaan makanan yang mencukupi dan kemungkinan
kadar pH yang optimal serta oksigen yang cukup merupakan habitat yang memungkinkan
amoeba ini dapat berkembang. Pencegahan Naegleria fowleri dilakukan dengan pemanasan air
sampai diatas 600 C dan pemberian clorine 0,5-1 mg/l. Pemberian chlorin ini terbukti efektif
baik untuk air minum maupun air kolam renang, namun hal ini tidak mungkin dilakukan
didaerah rekreasi umum lainnya seperti danau dan sungai sehingga pencegahan yang terpenting
adalah dengan memberikan peringatan terutama pada saat musim panas.

C. Kelas Sporozoa
Sporozoa yang penting dalam kelompok ini adalah Toxoplasma gondii dan
Pneumocystis carinii karena dapat menimbulkan penyakit yang berat.

Toxoplasma gondii
Protozoa yang hidup di darah dan jaringan ini dapat menyebabkan penyakit
toksoplasmosis pada manusia dan hewan. Toxoplasma gondii hidup intraseluler di dalam sel-
sel sistem retikulo-endotel dan sel parenkim manusia maupun mamalia terutama kucing dan
unggas. Parasit ini dapat menimbulkan radang dan kerusakan pada kulit, kelenjar getah bening,
jantung, paru, mata, otak dan selaput otak.

11
Distribusi geografis
Toxoplasma gondii tersebar luas di seluruh dunia. Data serologi menunjukkan bahwa
30-40% penduduk dunia terinfeksi Toxoplasma gondii, sehingga toksoplasmosis merupakan
penyakit infeksi yang paling banyak diderita penduduk bumi. Infeksi banyak terjadi di daerah
dataran rendah beriklim panas dibandingkan dengan daerah dingin yang terletak didataran
tinggi. Perancis dan negara-negara yang penduduknya mempunyai kebiasaan makan daging
mentah atau dimasak kurang matang, menunjukkan prevalensi toksoplasmosis yang tinggi.
Penelitian di USA pada tahun 1994 menunjukkan prevalensi serologi toxoplasmosis 22,5% dan
pada perempuan berusia subur (child bearing age) prevalensinya adalah sebesar 15%.

Morfologi parasit
Berdasarkan habitatnya Toxoplasma gondii mempunyai dua bentuk, yaitu bentuk
intraseluler dan bentuk ekstraseluler. Intraseluler, parasit ini mempunyai bentuk yang bulat
atau lonjong sehingga sulit dibedakan morfologinya dari morfologi Leishmania. Ekstraseluler,
parasit ini mempunyai bentuk seperti bulan sabit yang langsing dengan satu ujungnya runcing
sedangkan ujung lainnya tumpul. Toxoplasma gondii ekstraseluler yang berukuran sekitar 2x
5 mikron, mempunyai sebuah inti parasit yang terletak di bagian ujung yang tumpul dari
parasit.

Siklus hidup
Keluarga kucing (Felidae) merupakan hospes definitif yang membawa stadium seksual
Toxoplasma gondii, sehingga hewan ini merupakan sumber utama infeksi parasit ini bagi
manusia. Di dalam tubuh hewan yang menjadi hospes perantara, Toxoplasma terdapat dalam
bentuk aseksual. Cara infeksi dari satu hewan penderita ke hewan lainnya terjadi sesudah
makan daging yang mengandung parasit stadium infektif.

12
Gambar 5. Ookista Toxoplasma gondii.
(URL: http://www.microbeworld.org)

Di dalam usus kucing yang terinfeksi Toxoplasma, parasit akan berkembang baik dalam
bentuk siklus seksual maupun siklus aseksual sehingga akan terbentuk stadium ookista (oocyst)
yang kemudian akan keluar bersama tinja kucing. Dalam waktu 1 sampai 5 hari ookista akan
berkembang menjadi infektif yang dapat menular ke manusia atau hewan lainnya. Di
lingkungan luar rumah, misalnya di dalam air atau tanah basah ookista dapat bertahan hidup
lebih dari satu tahun lamanya. Stadium ookista tahan terhadap pengaruh disinfektan,
pembekuan, kekeringan, akan tetapi akan terbunuh jika dipanaskan pada suhu 700 Celcius
selama 10 menit

.
Gambar 6. Ookista Toxoplasma membentuk spora (merah)
dan yang tidak berspora (biru).
(Sumber: Nolan,University of Pennsylvania)

13
Cara infeksi toksoplasmosis
Pada manusia cara infeksi toksoplasmosis dapat terjadi melalui cara dapatan (acquired)
pada anak maupun orang dewasa. dan secara kongenital cara infeksi dari ibu ke bayi yang
dikandungnya. Cara infeksi secara dapatan terjadi secara oral melalui makanan, melalui udara
dan melalui kulit. Cara infeksi per oral terjadi melalui makanan mentah dalam bentuk daging,
susu sapi atau telur unggas yang tercemar pseudokista parasit, cara infeksi melalui udara atau
droplet infection dengan bahan infektif berasal dari penderita pneumonitis toksoplasmosis dan
cara infeksi melalui kulit terjadi akibat sentuhan atau kontak dengan jaringan misalnya daging
yang infektif atau ekskreta hewan yang sakit misalnya kucing, anjing, babi atau rodensia.
Selain itu toksoplasmosis dapat ditularkan melalui transplantasi organ, transfusi darah atau
masuknya takizoit ke dalam tubuh melalui lecet atau luka pada kulit.

Gambar 7. Siklus hidup dan cara infeksi Toxoplasma gondii.

14
Gambar 8. Takizoit Toxoplasma.gondi
(URL: http://www.dpd.cdc.gov)

Pada toksoplasmosis kongenital cara infeksi pada janin terjadi melalui plasenta dari ibu
hamil yang menderita toksoplasmosis. Cara infeksi yang terjadi di awal kehamilan akan
menyebabkan terjadinya abortus pada janin, atau anak lahir dalam keadaan meninggal. Pada
infeksi toksoplasmosis yang terjadi pada trimester akhir kehamilan, janin yang berada dalam
kandungan tidak menunjukkan kelainan. Gejala-gejala klinis toksoplasmosis pada bayi baru
terlihat dua tiga bulan pasca kelahiran. Selain melalui plasenta, Toxoplasma gondii dapat
ditularkan dari ibu ke anak melalui air susu ibu (ASI), jika ibu tertular parasit ini pada masa
nifas (puerperium).

Patogenesis dan gejala klinis


Tergantung pada stadium infektif yang memasuki tubuh penderita, masa inkubasi
toksoplasmosis berlangsung antara 5-23 hari. Melalui aliran darah parasit akan menyebar ke
berbagai organ, misalnya ke otak, sumsum tulang belakang, sumsum tulang, kelenjar limfe,
mata, paru, limpa, hati dan otot jantung.
Pada orang dewasa yang sehat dan tidak sedang hamil karena sistem imun tubuhnya
mampu melawan infeksi parasit, gejala klinis toksoplasmosis umumnya tidak jelas dan tidak
ada keluhan penderita. Gejala klinis yang ringan mirip gejala flu antara lain berupa
pembengkakan ringan kelenjar limfe dan nyeri otot yang hanya berlangsung selama beberapa
minggu. Meskipun demikian parasit masih berada dalam bentuk tidak aktif di dalam jaringan
dan organ tubuh penderita yang akan berubah kembali menjadi bentuk aktif jika daya tahan
tubuh penderita menurun.

15
Gejala toksoplasmosis tampak jelas pada ibu hamil yang menderita toksoplasmosis
karena dapat mengalami abortus, janin lahir mati atau bayi yang dilahirkan menunjukkan
tanda-tanda toksoplasmosis. Hal ini disebabkan karena parasit menyebabkan kerusakan organ
dan sistem saraf penderita bayi dan anak. Ibu hamil yang terinfeksi Toxoplasma gondii pada
trimester pertama kehamilan umumnya akan mengalami abortus atau janin lahir mati. Infeksi
toksoplasmosis yang terjadi pada trimester terakhir kehamilan akan menyebabkan bayi yang
dilahirkan menunjukkan gejala toksoplasmosis, misalnya berupa ensefalomielitis, kalsifikasi
serebral, korioretinitis, hidrosefalus atau mikrosefalus. Kelainan pada sistem limfatik yang
terjadi pada anak dengan toksoplasmosis kongenital yang berusia 5 sampai 15 tahun, akan
menyebabkan terjadinya demam disertai limfadenitis.
Penyakit mata toksoplasmosis dapat terjadi akibat infeksi kongenital atau infeksi yang
terjadi sesudah anak dilahirkan. Kelainan mata akibat infeksi kongenital toksoplasmosis
biasanya tidak terlihat pada waktu anak dilahirkan, melainkan baru tampak pada waktu usia
dewasa. Kelainan toksoplasmosis mata dapat berupa retinochoroiditis dengan gejala dan
keluhan antara lain nyeri mata, fotofobi, penglihatan kabur dan keluar air mata yang terus
menerus. Penderita juga dapat mengalami kebutaan.
Toksoplasmosis kulit dapat menimbulkan ruam makulopapuler yang mirip ruam
demam tifus, sedangkan toksoplasmosis paru dapat menyebabkan pneumonia interstitial.
Infeksi Toxoplasma pada jantung dapat menyebabkan miokarditis, sedangkan infeksi pada hati
serta limpa dapat menyebabkan terjadinya pembesaran organ-organ tersebut. Penderita yang
sedang mengalami gangguan sistem imun misalnya menderita AIDS/HIV akan menunjukkan
gejala-gejala klinis toksoplasmosis yang berat berupa demam, sakit kepala, gangguan
kesadaran dan gangguan koordinasi. Penderita akan sering mengalami kekambuhan dan re-
infeksi yang berulang-ulang.

Gambar 9. Hidrosefalus toksoplasmosis


(URL: http://www.austincc.edu/microbiol)

16
Diagnosis toksoplasmosis
Gejala-gejala klinis dan keluhan yang dialami penderita dapat juga ditimbulkan oleh
berbagai macam penyakit lain. Diagnosis banding toksoplasmosis yang harus diperhatikan
adalah mononukleosis infeksiosa, tuberkulosis, kriptokokosis, tularemia, bruselosis, listeriosis,
penyakit virus, sifilis, sistiserkosis dan hidatidosis.
Pada pemeriksaan serologi titer imunoglobulin G (IgG) yang tinggi menunjukkan
bahwa seseorang telah pernah terinfeksi dengan parasit ini, sedangkan titer IgM yang tinggi
menunjukkan bahwa seseorang sedang terinfeksi Toxoplasma gondii. Untuk menunjang
diagnosis toksoplasmosis pemeriksaan serologi yang sering dilakukan adalah uji serologi
dengan Sabin-Feldman Dye test, Uji Fiksasi Komplemen, Tes Hemaglutinasi tak langsung
(IHA), Tes toksoplasmin, Uji netralisasi antibodi dan uji ELISA.
Untuk menetapkan diagnosis pasti toksoplasmosis harus dilakukan pemeriksan
mikroskopik histologis secara langsung atas hasil biopsi atau pungsi atau otopsi atas jaringan
organ penderita, atau pemeriksan atas jaringan berasal dari hewan coba yang dinokulasi dengan
bahan infektif. Parasit juga mungkin ditemukan pada pemeriksaan langsung atas darah
penderita, sputum, tinja, cairan serebrospinal, dan cairan amnion.
Pada pemeriksaan darah tepi terdapat gambaran limfositosis (lebih dari 33% ),
monositosis (lebih dari 7%) dan ditemukan sel mononuklir yang atipik. Pemeriksaan cairan
serebrospinal menunjukkan adanya xantokromia, protein yang meningkat dan jumlah sel juga
meningkat. Untuk menentukan adanya infeksi toksoplasmosis dari ibu ke anak (cara infeksi
kongenital) dapat dilakukan pemeriksaan biomolekuler terhadap DNA parasit yang ada di
dalam cairan amnion.

Pengobatan toksoplasmosis
Banyak penderita yang terinfeksi Toxoplasma gondii dapat sembuh dengan sendirinya
tanpa pengobatan. Pengobatan terutama diberikan pada ibu hamil yang terinfeksi di awal
kehamilan, jika terjadi chorioretinitis aktif, miokarditis, atau jika terjadi gangguan pada organ-
organ.
Penderita yang sedang menderita toksoplasmosis diobati dengan terapi antiparasit yang
diberikan dalam bentuk kombinasi Pirimetamin dengan Sulfadiasin sebaiknya disertai
pemberian asam folat untuk mencegah terjadinya depresi sumsum tulang. Pada infeksi yang
berat pengobatan diberikan selama 2 sampai 4 minggu. Cara pemberian kombinasi obat adalah
sebagai berkut : hari pertama Pirimetamin diberikan 50 mg per oral diikuti 6 jam kemudian,

17
25 mg ditambah Sulfadiasin 2 gram. Pada hari ke-2 sampai dengan hari ke-14: Pirimetamin
25 mg /hari ditambah sulfadiasin 4x 1 gram/hari.

Toksoplasmosis dapat diobati dengan Spiramisin sebagai obat tunggal dengan dosis 2-
4 gram per hari selama 3 sampai 4 minggu. Penderita toksoplasmosis mata sebaiknya diberi
tambahan obat klindamisin dan prednisolon untuk mencegah kerusakan saraf mata dan
gangguan pada makula. Selain itu vitamin B kompleks dan asam folat diberikan sebagai obat
penunjang. Penderita dengan gangguan sistem imun misalnya AIDS memerlukan pengobatan
yang terus menerus selama masih mengalami gangguan sistem imun.
Pada perempuan hamil spiramisin diberikan untuk mencegah terjadinya infeksi melalui
plasenta. Jika pada pemeriksaan USG (ultrasonography) terdapat dugaan telah terjadi infeksi
pada bayi maka diberikan pirimetamin dan sulfadiazin. Pirimetamin tidak boleh diberikan pada
16 minggu pertama kehamilan karena bersifat teratogenik, sehingga hanya diberikan
sulfadiazin sebagai obat tunggal. Bayi yang dilahirkan oleh ibu penderita toksoplasmosis
primer atau ibu yang menderita HIV positif diberi pengobatan pirimetamin-sulfadiazin-asam
folat selama tahun pertama sampai terbukti bayi tidak menderita toksoplasmosis kongenital.

Prognosis
Toksoplasmosis yang terjadi pada anak atau orang dewasa, prognosis penyakitnya
tergantung pada jenis dan beratnya kerusakan organ yang terserang. Pada orang dewasa
toksoplasmosis umumnya tidak menunjukkan gejala (asimtomatik). Pada bayi yang menderita
toksoplasmosis akut umumnya fatal akibatnya, meskipun ibu tidak menunjukkan gejala. Anak
yang menderita infeksi toksoplasmosis prenatal, meskipun jarang menimbulkan kematian akan
mengalami cacat yang permanen sifatnya.

Pencegahan toksoplasmosis
Untuk mencegah infeksi toksoplasmosis makanan dan minuman harus dimasak dengan
baik. Selain itu harus dicegah terjadinya kontak langsung dengan daging atau jaringan organ
hewan yang sedang diproses misalnya di tempat pemotongan hewan (abbatoir) dan di tempat
penjualan daging. Selain mengobati penderita (baik manusia naupun hewan) dengan baik,
lingkungan hidup harus dijaga kebersihannya terutama harus bebas dari tinja kucing atau tinja
hewan lainnya.

18
Toksoplasmosis kongenital dapat dicegah dengan melakukan pemeriksaan pada ibu
hamil. Jika ibu hamil belum diketahui apakah ia mempunyai antibodi terhadap Toxoplasma
gondii dianjurkan untuk tidak mengadakan kontak dengan kucing, tidak membersihkan tempat
sampah, selalu menggunakan sarung tangan jika berkebun, dan selalu mencuci tangan sesudah
berkebun, sesudah mencuci daging mentah dan sebelum makan.

D. Kelas Flagellata (Matigophora)

19
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Protozoa berasal dari kata protos yang berarti pertama dan zoon yang berarti hewan
sehingga disebut sebagai hewan pertama. Protozoa adalah hewan-hewan bersel tunggal dengan
ukuran mikroskopis (antara 10 µ-300 µ) tetapi ada pula yang dapat dilihat makroskopis.
Protozoa umumnya hidup bebas di alam, misalnya dalam air tawar, laut, tanah dan di tempat-
tempat yang lembab. Ada juga yang hidup parasit pada hewan atau manusia.
Pada kelas Cilliata (Ciliophora) dapat menimbulkan penyakit pada manusia hanyalah
Balantidium coli. Infeksi parasit ini menyebabkan balantidiasis, penyakit zoonosis yang
ditularkan melalui air atau makanan yang tercemar kista parasit ini.
Pada kelas Rhizopoda (Sarcodina) merupakan kelas golongan protozoa yang
pergerakannya menggunakan kaki semu (pseudopodi) sebagai alat gerak. Contoh spesiesnya
adalah Naegleria Fowleri yang dikenal dengan karakteristik yang disebut amebaflagellata yaitu
memiliki bentuk amoeboid dan flagellata dalam siklus hidupnya. Siklus terdiri atas stadium
trophozoid (amoeba dan flagellata) dan bentuk kista yang non-motile dan resisten.
Pada kelas Sporozoa contoh spesiesnya adalah Toxoplasma gondii dan Pneumocystis
carinii karena dapat menimbulkan penyakit yang berat. Protozoa yang hidup di darah dan
jaringan ini dapat menyebabkan penyakit toksoplasmosis pada manusia dan hewan.
Toxoplasma gondii hidup intraseluler di dalam sel-sel sistem retikulo-endotel dan sel parenkim
manusia maupun mamalia terutama kucing dan unggas. Parasit ini dapat menimbulkan radang
dan kerusakan pada kulit, kelenjar getah bening, jantung, paru, mata, otak dan selaput otak.

20
DAFTAR PUSTAKA

CDC,USA Division of Parasitic Disease, 1999. Balantidium Infection, Center for Disease
Control and Prevention, National Center for Infectious Disease, USA.
Chatterjee KD. 1969. Parasitology, 7th Edition, Published by the author, Calcutta.
Department of Health, 2007. Parasitic Diseases, Centers for Disease Control and Prevention,
Atlanta, Georgia, USA.
Department of Pathology, 2006. Protozoa, University of Cambridge.
Dubey,JP. and Beattie, CP..1988. Toxoplasmosis of Animals and Man. Boca Raton, Florida:
CRC Press.
Soedarto, 2011. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran, Sagung Seto, Jakarta.
Soedarto, 2008. Parasitologi Klinik, Airlangga University Press, Surabaya.
Terazawa a., Muljono R., Susanto L.,Margono, S.S. and Konishi,E. 2003. High Toxoplasma
Antibody Prevalence Among Inhabitans in Jakarta, Jpn J. Infectious Disease, 56:1079.

21