Anda di halaman 1dari 167

PRAKIRAAN

KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK

Menggunakan

Aplikasi

Simple-E

Pelatihan Master Plan Sistem Distribusi

 Silent  Getar  Jika penting, bisa keluar sebentar Tanya jawab bisa dilakukan kapan

Silent

Getar

Jika penting, bisa keluar

sebentar

Tanya jawab bisa dilakukan kapan saja/setiap saat.

Evaluasi dilakukan melalui praktek dan teori setelah

semua materi diklat disampaikan.

Setelah selesai pelatihan ini, peserta diharapkan mampu menghitung prakiraan kebutuhan tenaga listrik menggunakan aplikasi Simple-E sesuai kaidah ilmu statistik.

PLTMG 500 275 150 kV kV kV 70 kV 3
PLTMG
PLTMG

500

275

150

kV

kV

kV

70 kV

PLTMG 500 275 150 kV kV kV 70 kV 3
PLTMG 500 275 150 kV kV kV 70 kV 3
PLTMG 500 275 150 kV kV kV 70 kV 3
PLTMG 500 275 150 kV kV kV 70 kV 3

Landasan Hukum Perencanaan Bidang Energi dan Ketenagalistrikan (1)

Perencanaan Bidang Energi dan Ketenagalistrikan ( 1 ) UU 30/2007 (Energi) Kebijakan Energi Nasional-KEN (PP
UU 30/2007 (Energi) Kebijakan Energi Nasional-KEN (PP No.79 Tahun 2014) Pasal 11 ayat (2) Kebijakan
UU 30/2007
(Energi)
Kebijakan Energi Nasional-KEN
(PP No.79 Tahun 2014)
Pasal 11 ayat (2)
Kebijakan Energi Nasional ditetapkan oleh
Pemerintah dengan persetujuan DPR
UU 30/2009 (Ketenagalistrikan)
UU 30/2009
(Ketenagalistrikan)
dengan persetujuan DPR UU 30/2009 (Ketenagalistrikan) PP 14/2012 jo PP 23/2014 (Kegiatan Usaha Penyediaan
PP 14/2012 jo PP 23/2014 (Kegiatan Usaha Penyediaan Tenaga Listrik)
PP 14/2012
jo PP 23/2014
(Kegiatan Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik)
jo PP 23/2014 (Kegiatan Usaha Penyediaan Tenaga Listrik) Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional-RUKN (Kepmen ESDM
jo PP 23/2014 (Kegiatan Usaha Penyediaan Tenaga Listrik) Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional-RUKN (Kepmen ESDM
Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional-RUKN (Kepmen ESDM No. 2682.K/21/MEM/2008) Pasal 7 ayat (1) RUKN disusun
Rencana Umum
Ketenagalistrikan Nasional-RUKN
(Kepmen ESDM No. 2682.K/21/MEM/2008)
Pasal 7 ayat (1)
RUKN disusun berdasarkan pada KEN
dan ditetapkan oleh Pemerintah setelah
berkonsultasi dengan DPR RI
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga
Listrik-RUPTL
(RUPTL PT PLN (Persero) - Kepmen ESDM
No. 0074 K/21/MEM/2015)
Pasal 8
Usaha penyediaan tenaga listrik untuk
kepentingan umum dilaksanakan sesuai
dengan RUK dan RUPTL
Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) Pasal 12 ayat (2b) Dewan Energi Nasional bertugas menetapkan RUEN
Rencana Umum Energi Nasional
(RUEN)
Pasal 12 ayat (2b)
Dewan Energi Nasional bertugas
menetapkan RUEN

LANDASAN HUKUM PERENCANAAN BIDANG ENERGI DAN KETENAGALISTRIKAN(2)

HUKUM PERENCANAAN BIDANG ENERGI DAN KETENAGALISTRIKAN(2)   KEN   • Kebijakan yang ditetapkan
 

KEN

 

Kebijakan yang ditetapkan Pemerintah dalam penggunaan dan pemanfaatan energi;

Mengacu pada UU 30/2007 tentang Energi & UU

30/2009 tentang Ketenagalistrikan;

Target bauran energi adalah 23% porsi energi baru

terbarukan pada tahun 2025;

Ditetap oleh Pemerintah dengan persetujuan DPR (Peraturan Pemerintah No. 79 Tahun 2014)

Rencana umum yang disusun Pemerintah tentang penyediaan dan pemanfaatan tenaga listrik;

Mengacu pada UU No. 30/2009 tentang

Ketenagalistrikan dan KEN

Target bauran energi adalah sekitar 1% porsi energi fosil dari BBM pada tahun 2025;

Disusun dan ditetapkan oleh Menteri ESDM setelah berkonsultasi dengan DPR

RUKN

RUEN

Rencana umum yang disusun Pemerintah tentang penggunaan dan pemanfaatan energi (termasuk tenaga listrik);

Mengacu pada UU No. 30/2007 tentang Energi dan

KEN

Target bauran energi adalah 23% porsi energi baru terbarukan pada tahun 2025;

Disusun oleh Menteri ESDM dan ditetap oleh Dewan Energi Nasional (DEN)

Rencana usaha penyediaan tenaga listrik yang disusun oleh pemegang Izin Usaha Peneyediaan Tenaga Listrik - IUPL (PLN dan non-PLN);

Mengacu pada PP 14/2012 junto PP 23/2014 dan

RUKN

Target bauran energi adalah dibawah 2% porsi energi fosil dari BBM pada tahun 2024 RUPTL PT PLN (Persero);

Disusun oleh pemegang IUPL yang memiliki wilayah

usaha dan ditetapkan oleh Menteri/Gubernur sesuai

kewenangannya. (untuk PLN karena bersifat Nasional,

ditetapkan oleh Menteri ESDM)

RUPT

L

LATAR BELAKANG

a.

Kebutuhan tenaga listrik terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan perkembangan ekonomi serta dipengaruhi oleh lingkungan yang terus bergerak dinamis baik

dalam aspek sosial, teknologi, maupun keamanan.

b.

Meningkatnya kebutuhan tenaga listrik harus direspon dengan menyediakan sistem kelistrikan (pembangkit, transmisi, GI, Jardis) yang memadai, baik dari segi jumlah maupun kualitas.

c.

Investasi pembangkit tenaga listrik mempunyai lead time yang

sangat panjang, nilai investasi sangat besar dan umur ekonomi juga panjang.

d.

Dibutuhkan prakiraan (forecasting) jangka panjang yang baik

tentang kebutuhan tenaga listrik dimasa datang.

e.

Prakiraan kebutuhan tenaga listrik merupakan proses awal dari rangkaian kegiatan perencanaan penyediaan tenaga listrik.

Posisi Perencanaan Sistem Kelistrikan Dalam Perencanaan Pembangunan Nasional dan Perencanaan Energi

Perencanaan Nasional dan Kebijakan Energi

Perencanaan Energi Perencanaan Nasional dan Kebijakan Energi Perencanaan Energi Electricity Demand Forecast
Perencanaan Energi Perencanaan Nasional dan Kebijakan Energi Perencanaan Energi Electricity Demand Forecast

Perencanaan Energi

Perencanaan Nasional dan Kebijakan Energi Perencanaan Energi Electricity Demand Forecast Perencanaan Pembangkit

Electricity Demand Forecast

Electricity Demand Forecast Perencanaan Pembangkit Peren canaan Transm isi

Perencanaan Pembangkit

Perencanaan Pembangkit Peren canaan Transm isi

Perencanaan Transmisi

Pertanyaan yang harus dijawab oleh planner:

1.

Bagaimana kebutuhan tenaga listrik akan bertumbuh ?

2.

Kapan harus investasi pembangkit / transmisi baru?

3.

Berapa kapasitas pembangkit

/ transmisi yang akan dibangun?

4.

Apa jenis pembangkit / transmisi yang dibangun?

5.

Dimana harus membangun pembangkit / transmisi baru?

Garis Besar Proses Perencanaan Sistem di PLN

Potensi Energi Primer

Hydro

Gas

Coal

Geothermal

PLN Potensi Energi Primer Hydro Gas Coal Geothermal Kandidat Kandidat Proyek Thermal + Geo Proyek Hydro

Kandidat

Kandidat Proyek Thermal + Geo

Proyek Hydro

Kandidat Kandidat Proyek Thermal + Geo Proyek Hydro Optimasi Perluasan PEMBANGKIT dan TRANSMISI Proyeksi: GDP,

Optimasi Perluasan PEMBANGKIT dan TRANSMISI

Proyek Hydro Optimasi Perluasan PEMBANGKIT dan TRANSMISI Proyeksi: GDP, Pop (RE), Tarif, Daftar Tunggu I Electricity

Proyeksi: GDP, Pop (RE), Tarif, Daftar Tunggu I

Electricity Demand Forecasting

Electricity Demand Forecasting

Electricity Demand Forecasting
Electricity Demand Forecasting

Sistem Pembangkitan dan Transmisi Yang Ada

Forecasting Sistem Pembangkitan dan Transmisi Yang Ada Kriteria Cadangan Penalti Ekonomi untuk ENS Kebijakan,
Forecasting Sistem Pembangkitan dan Transmisi Yang Ada Kriteria Cadangan Penalti Ekonomi untuk ENS Kebijakan,
Forecasting Sistem Pembangkitan dan Transmisi Yang Ada Kriteria Cadangan Penalti Ekonomi untuk ENS Kebijakan,

Kriteria

Cadangan

Penalti

Ekonomi

untuk ENS

Kebijakan, Batasan Finansial

Kebijakan, Batasan Finansial

Penalti Ekonomi untuk ENS Kebijakan, Batasan Finansial Rencana Investasi Analisa Keuangan & Kebutuhan Dana
Penalti Ekonomi untuk ENS Kebijakan, Batasan Finansial Rencana Investasi Analisa Keuangan & Kebutuhan Dana
Rencana Investasi Analisa Keuangan & Kebutuhan Dana Studi Tarif RENCANA INVESTASI
Rencana Investasi
Analisa Keuangan &
Kebutuhan Dana
Studi Tarif
RENCANA INVESTASI

Pendanaan & Implementasi Proyek

8

TUJUAN

a. Mendapatkan angka prakiraan kebutuhan tenaga listrik dengan metode yang tepat dan tingkat kesalahan paling kecil.

b. Ketepatan prakiraan kebutuhan tenaga listrik sangat diperlukan agar tidak terjadi pasokan (pembangkit/ transmisi/ distribusi) yang berlebih (over capacity) atau kekurangan (under capacity), yang keduanya bisa merugikan perusahaan.

c. Forecasting “sangat penting” sebagai dasar dalam proses perencanaan:

Sistem ketenagalistrikan (RUPTL, RJPP, Masterplan)

Proyeksi keuangan (budgets and cost controls)

Marketing (rencana penjualan, new products)

Penyiapan kebutuhan bahan bakar.

Kepegawaian,

Dan sebagainya.

HORIZON PERENCANAAN

Horizon waktu perencanaan (PLN) :

a.

Jangka pendek : harian ~ 2 tahun, bisa dalam bentuk perencanaan harian, mingguan, bulanan, tahunan, perencanaan kegiatan operasional, perencanaan sistem distribusi, dll.

b.

Jangka menengah : 3 ~ 5 tahun, untuk perencanaan

korporat, pembangkit skala kecil, sistem distribusi.

c.

Jangka panjang : 6 ~ 10 tahun, untuk perencanaan pembangkitan, transmisi & GI.

Jangka panjang : > 10 tahun, untuk membuat master plan pengembangan sistem.

Prakiraan (Forecasting)
Prakiraan (Forecasting)
“Prediction is very difficult, especially if it's about the future.” Nils Bohr
“Prediction is very difficult,
especially if it's about the future.”
Nils Bohr
Forecasting is a tool used for predicting future demand based on past demand information.
Forecasting is a tool used for predicting
future demand based on past demand information.

PRAKIRAAN (FORECASTING)

Menggunakan data masa lalu dari sekumpulan variabel untuk membuat estimasi atau perkiraan nilai dimasa yang akan datang.

Merupakan bagian vital dari setiap organisasi bisnis dan sebagai dasar untuk setiap pengambilan keputusan manajemen yang sangat signifikan.

Menjadi dasar dalam perencanaan jangka pendek, menengah dan jangka panjang perusahaan.

PRAKIRAAN (FORECASTING)

Menggunakan data masa lalu dari sekumpulan variabel untuk membuat estimasi atau perkiraan nilai dimasa yang akan datang.

Merupakan bagian vital dari setiap organisasi bisnis dan sebagai dasar untuk setiap pengambilan keputusan manajemen yang sangat signifikan.

Menjadi dasar dalam perencanaan jangka pendek, menengah dan jangka panjang perusahaan.

Apa itu forecasting?

Demand Listrik Memperkirakan kebutuhan y.a.d dengan melihat realisasi kebutuhan masa lalu „10 „11 „12 „13
Demand Listrik
Memperkirakan
kebutuhan y.a.d dengan
melihat realisasi
kebutuhan masa lalu
„10
„11
„12
„13
„14
„15
„16
„17
Tahun
Predicted
demand
looking
back six
years
Actual demand (penjualan masa lalu)
Prediksi demand listrik

Apa yang sebaiknya kita pertimbangkan ketika

melihata data masa lalu seperti ini?

Trends

Seasonality

Cyclical

Autocorrelation

Random variation

pertimbangkan ketika melihata data masa lalu seperti ini? Trends Seasonality Cyclical Autocorrelation Random variation
pertimbangkan ketika melihata data masa lalu seperti ini? Trends Seasonality Cyclical Autocorrelation Random variation
pertimbangkan ketika melihata data masa lalu seperti ini? Trends Seasonality Cyclical Autocorrelation Random variation
pertimbangkan ketika melihata data masa lalu seperti ini? Trends Seasonality Cyclical Autocorrelation Random variation
pertimbangkan ketika melihata data masa lalu seperti ini? Trends Seasonality Cyclical Autocorrelation Random variation

Mengapa Mempelajari Data Runtun Waktu

Dengan mengamati data runtut waktu akan terlihat beberapa komponen yang mempengaruhi suatu pola data masa lalu dan sekarang, yang cenderung berulang dimasa mendatang.

Lima komponen yang ditemukan dalam analisis runtut waktu adalah:

1.

Trend, yaitu komponen jangka panjang yang mendasari pertumbuhan (atau penurunan) suatu data runtut waktu.

2.

Musiman (seasonal), yaitu fluktuasi musiman yang sering dijumpai pada data kuartalan, bulanan atau mingguan.

3.

Siklikal (cyclical), yaitu suatu pola fluktuasi atau siklus dari data runtut

waktu akibat perubahan kondisi ekonomi, dsb.

4.

Autokorelasi adalah korelasi yang terjadi antar observasi dalam satu variabel. Korelasi ini terjadi antar waktu atau individu. Umumnya kasus autokorelasi banyak terjadi pada data time series, artinya kondisi sekarang

dipengaruhi waktu lalu.

5.

Tak beraturan (irregular), yaitu pola acak yang disebabkan oleh peristiwa yang tidak dapat diprediksi atau tidak beraturan, seperti perang, pemogokan, pemilu, atau longsor maupun bencana alam lainnya.

Metode demand forecast

Dikenal ada beberapa model forecasting, namun secara garis besar dapat dikelompokkan dalam 5 kategori:

Subjective: dilakukan dengan intuisi, atau „gut feeling‟

Univariate: semata-mata berdasarkan data masa lalu (time

series). Cara ini dikenal juga sebagai „naive projection‟, misalnya ekstrapolasi trending, eksponential.

Multivariate: memperhatikan hubungan causal atau hubungan

explanatory, karena itu tergantung pada metoda untuk

mengetahui apakah suatu variable mempunyai korelasi dengan variabel lain. Contoh: penjualan listrik mungkin tergantung pada income. Model regresi (dan ekonometric) masuk dalam kategori ini, dan sering disebut juga model prediksi atau causal.

End-use: dibuat dengan menghitung langsung konsumsi listrik

peralatan end-use seperti aircon, penerangan, lemari pendingin,

televisi, seterika, pompa air, dan lain-lain.

Klasifikasi Metode Forecasting :

Metode Kuantitatif

Metode yang penggunaannya didasari pada ketersediaan data mentah disertai serangkaian kaidah matematis untuk meramalkan / membuat prakirakan hasil dimasa yang akan datang.

Metode Kualitatif

Metode ini digunakan dimana tidak ada data model matematik, biasanya dikarenakan data yang ada tidak cukup representatif untuk meramalkan masa yang akan datang (long term forecasting).

Prakiraan didasarkan pada pendapat (subjective) dari satu atau lebih para ahli.

Metode Kuantitatif

Metode Kuantitatif Simulation : model yang dapat menggabungkan efek keacakan dan non-linear. Metode Kualitatif Grass Roots
Metode Kuantitatif Simulation : model yang dapat menggabungkan efek keacakan dan non-linear. Metode Kualitatif Grass Roots

Simulation: model yang dapat menggabungkan efek keacakan dan non-linear.

Metode Kualitatif

Grass Roots: deriving future demand by asking the person closest to the

customer.

Market Research: trying to identify customer habits; new product ideas.

Panel Consensus: deriving future

estimations from the synergy of a

panel of experts in the area.

from the synergy of a panel of experts in the area. Delphi Method : similar to

Delphi Method: similar to the panel consensus but with concealed identities.

KLASIFIKASI METODE FORECASTING (PERAMALAN)

Forecasting Method Quantitative/Objective Forecasting Methods Qualitative/Subjective (judgmental) Forecasting Methods
Forecasting Method
Quantitative/Objective
Forecasting Methods
Qualitative/Subjective
(judgmental) Forecasting Methods
Analogieas
Time Series Methods
Causal Methods
Delphi
Naive
Simple Regression
PERT
Moving Average
Multiple Regression
Survey Techniques
Exponential Smoothing
Neural Networks
Simple Regression
ARIMA
Neural Networks

Memilih metode forecasting yang tepat

1. Jumlah dan tipe data yang tersedia.

Beberapa metode memerlukan data lebih banyak dibandingkan dengan metode yang lain

2. Derajat ketelitian yang diperlukan

Semakin tinggi ketelitian yang ingin dihasilkan akan membutuhkan data lebih banyak

3. Periode horizon perencanaan

Model prakiraan periode 3 bulan akan berbeda dengan model untuk prakiraan 10 tahun

4. Pola data yang tersedia

Level (long term average), trend, seasionality, cyclical

Model Time Series (Deret Berkala) 1. Naive 2. Moving Average : Simple, Weighted 3. Exponential
Model Time Series (Deret Berkala) 1. Naive 2. Moving Average : Simple, Weighted 3. Exponential

Model Time Series (Deret Berkala)

Model Time Series (Deret Berkala) 1. Naive 2. Moving Average : Simple, Weighted 3. Exponential Smoothing
Model Time Series (Deret Berkala) 1. Naive 2. Moving Average : Simple, Weighted 3. Exponential Smoothing
Model Time Series (Deret Berkala) 1. Naive 2. Moving Average : Simple, Weighted 3. Exponential Smoothing

1. Naive

2.

Moving Average : Simple, Weighted

3.

Exponential Smoothing : Level, Trend dan

Sesionality

2. Moving Average : Simple, Weighted 3. Exponential Smoothing : Level, Trend dan Sesionality 4. Simple

4.

Simple Regression

5. ARIMA

Tahun 2012 2013 2014 2015 2016 GWh 174,0 187,5 198,6 ??? Trend ?
Tahun 2012 2013 2014 2015 2016 GWh 174,0 187,5 198,6 ??? Trend ?

Tahun

2012

2013

2014

2015

2016

GWh

174,0

187,5

198,6

???

Trend ?

1. Naive Model

Merupakan metode yang paling sederhana, menganggap bahwa prakiraan periode berikutnya sama dengan nilai aktual periode sebelumnya.

Data aktual periode waktu yang baru saja berlalu merupakan alat peramalan/prakiraan yang terbaik untuk meramalkan/membuat prakiraan keadaan di masa yang akan datang.

Biasanya hasilnya kurang baik.

Contoh (Penjualan):

Mei = 48 kWh, Juni = 48 kWh

di masa yang akan datang.  Biasanya hasilnya kurang baik. Contoh (Penjualan): Mei = 48 kWh,

2a. Simple Moving Average

2a. Simple Moving Average A t + A + A + + A F = t-1
A t + A + A + + A F = t-1 t-2 t-n 
A
t + A
+ A
+
+
A
F
=
t-1
t-2
t-n
 1
t
 1
n
Sales Moving Average Month (000) (n=3) 1 4 NA 2 6 NA 3 5 NA
Sales
Moving Average
Month
(000)
(n=3)
1
4
NA
2
6
NA
3
5
NA
4
?
(4+6+5)/3=5
5
?
6
?

2b. Weighted Moving Average: 3/6, 2/6, 1/6

F t = w A + w A + w A + + w A
F t
= w A
+ w A
+ w A
+
+
w A
1
1
t
2
t-1
3
t-2
n
t-n
1
Month
Sales
Weighted
(000)
Moving
Average
1
4
NA
2
6
NA
3
5
NA
4
3
31/6 = 5.167
5
7
25/6 = 4.167
6
32/6 = 5.333

3. Exponential Smoothing Example 1

F t+1 = F t + a(A t - F t ) i Ai Fi
F t+1 = F t + a(A t - F t )
i
Ai
Fi

Week

Demand

 

a =

0.1

0.6

1

820

 

820.00

820.00

2

775

F

820.00

820.00

= F + a(A 1 F )

3

680

 

2

1

815.50

1

793.00

4

655

 

801.95

725.20

5

750

 

787.26

683.08

6

802

 

783.53

723.23

7

798

 

785.38

770.49

8

689

 

786.64

787.00

9

775

 

776.88

728.20

10

   

776.69

756.28

=820+0,1(820820)

=820

3. Exponential Smoothing Example 1

F t+1 = F t + a(A t - F t ) i Ai Fi
F t+1 = F t + a(A t - F t )
i
Ai
Fi

Week

Demand

 

a =

0.1

0.6

1

820

 

820.00

820.00

2

775

 

820.00

820.00

3

680

F

815.50

793.00

4

655

 

3

2

801.95

= F + a(A 2 F )

2

725.20

5

750

 

787.26

683.08

6

802

 

783.53

723.23

7

798

 

785.38

770.49

8

689

 

786.64

787.00

9

775

 

776.88

728.20

10

   

776.69

756.28

=820+.1(775820)

=815.5

4. Simple Regression

Metode Regresi

Merupakan salah satu teknik analisis statistika yang

digunakan untuk menggambarkan hubungan antara satu

variabel respon dengan satu atau lebih variabel bebas.

Model Regresi Linier Sederhana

Merupakan analisis statistika yang memodelkan hubungan antara satu variabel respon dengan satu variabel bebas menurut bentuk hubungan persamaan linier.

.

Y = f ( X) + ε

atau

Y = a + b X + ε

Misal : prakiraan penjualan kWh sebagai fungsi realisasi penjualan kWh pada tahun-tahun sebelumnya.

5. ARIMA (Auto Regressive Integrated Moving Average)

Model ARIMA :

Model yang mengabaikan (tidak menggunakan) varibel bebas dalam pembuatan prakiraan.

Menggunakan nilai masa lalu dan sekarang untuk

menghasilkan prakiraan jangka pendek yang akurat.

Mempunyai hubungan statistik yang baik antar variabel yang diprakirakan dengan nilai historis variabel tersebut.

Menggunakan satu variabel (univariate) deret waktu.

ARIMA kurang baik untuk prakiraan jangka panjang.

Model Causal Relationship 1. Regresi Linier  Regresi linier dengan 1 variable bebas  Regresi
Model Causal Relationship
Model Causal Relationship

1. Regresi Linier

Regresi linier dengan 1 variable bebas

Regresi linier dengan lebih dari 1 variable bebas (regresi berganda).

2. Regresi Non Linier

Regresi exponensial (ln)

Regresi berpangkat (log).

Pertumbuhan Penduduk Pertumbuhan Ekonomi Harga jual Rp/kWh

Pertumbuhan Penduduk

Pertumbuhan Penduduk Pertumbuhan Ekonomi Harga jual Rp/kWh
Pertumbuhan Penduduk Pertumbuhan Ekonomi Harga jual Rp/kWh
Pertumbuhan Penduduk Pertumbuhan Ekonomi Harga jual Rp/kWh

Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan Penduduk Pertumbuhan Ekonomi Harga jual Rp/kWh
Pertumbuhan Penduduk Pertumbuhan Ekonomi Harga jual Rp/kWh

Harga jual Rp/kWh

Regresi Linier

Ada 2 macam :

Sederhana : Y = a + bX + ε

Berganda : Y = a + b 1 X 1 + b 2 X 2 + b 3 X 3 +

+ε

kWh jual Fitting a straight line to data Predictor 2 Which line best Predictor 1
kWh jual
Fitting a straight
line to data
Predictor 2
Which line best
Predictor 1
fits the data?
b
a
Pertumbuhan ekonomi

Model matematika yang menyatakan hubungan antara variabel tidak bebas (kWh jual) dengan variabel bebas (pertumbuhan ekonomi)

Contoh : Model Regresi

Sederhana : Y = a + bX + ε

Berganda : Y = a + b 1 X 1 + b 2 X 2

+ε

kWh jual Predictor 2 Fitting a straight line to data Predictor 1 Which line best
kWh jual
Predictor 2
Fitting a straight
line to data
Predictor 1
Which line best
fits the data?
Contoh :
GWh = 0,075 * PDB – 26751
b
Pertumbuhan ekonomi
a

Model matematika yang menyatakan hubungan antara variabel tidak bebas (kWh jual) dengan variabel bebas (pertumbuhan ekonomi)

35

 Apa artinya? Min  2 Least Squares Method: i kWh jual ε ε ε
Apa artinya?
Min
2
Least Squares Method:
i
kWh jual
ε
ε
ε
LSM mencari paling
minimum jarak antara
garis dan titik-titik !

Pertumbuhan ekonomi

Regresi Linier

Regresi linier dengan 1 variabel bebas.

Y =

a

+

b X + ε

kWh = a + b*Pop

Regresi linier dengan 3 variabel bebas

Y =

a +

b X 1 + c X 2 + d X 3 + ε

kWh = a + b*Pop + c*GDP + d*Tarif

Regresi Non Linier

Regresi exponensial dg 1 variabel bebas.

Y = a Ln(X) +

b + ε

kWh = a Ln(GDP)+ b

Regresi berpangkat dg 1 variabel bebas

Y =

a e (bX) + ε

kWh = a * e (b*GDP)

Regresi Linier

“Linear Approximation” Graph

&

“Approximation Formula” and “R-Square Value”

Regresi Linier “L inear Approximation ” Graph & “A pproximation Formula” and “R - Square Value”

38

Regresi Non Linier

Regresi Non Linier “Graph”, “A pproximation Formula” and “R - Square Value” on “logarithmic
Regresi Non Linier “Graph”, “A pproximation Formula” and “R - Square Value” on “logarithmic

“Graph”, “Approximation Formula” and “R-Square Value” on “logarithmic approximation”, “Power Approximation” and

“Exponential Approximation”

- Square Value” on “logarithmic approximation”, “Power Approximation” and “Exponential Approximation” 39
39
39

Regresi Linier dan Non Linier

The higher “R-Square Value” is, the more the Approximation Formula fit.

In this case, following formula represent the final consumption of electricity most.

y = 143.38e 0.1283x

In this case, following formula represent the final consumption of electricity most. y = 143.38e 0
In this case, following formula represent the final consumption of electricity most. y = 143.38e 0

41

Regresi Linier dan Non Linier

41 Regresi Linier dan Non Linier
41 Regresi Linier dan Non Linier
41 Regresi Linier dan Non Linier
41 Regresi Linier dan Non Linier
41 Regresi Linier dan Non Linier

Contoh Regresi Non Linier :

Y = ab X

Trend Eksponensial a>0, b>1
Trend Eksponensial
a>0, b>1
a<0, b<1 a>0, b<1
a<0, b<1
a>0, b<1
a<0, b>1
a<0, b>1
: Y = ab X Trend Eksponensial a>0, b>1 a<0, b<1 a>0, b<1 a<0, b>1 Trend
Trend Logistik
Trend Logistik

Contoh: Korelasi Penjualan Listrik dengan GDP

 

Penjualan Listrik PLN

 

Tahun

GDP HK 2000

Penduduk

GWh Sales

2000

1.389.770

206,264,595

79.250

2001

1.442.985

84.616

2002

1.504.381

87.171

2003

1.577.171

90.536

2004

1.656.517

100.097

2005

1.750.815

107.033

2006

1.847.127

112.610

2007

1.963.092

121.247

2008

2.082.104

127.625

2009

2.178.850

134.576

2010

2.314.459

237,641,326

147.297

2011

2.464.566

157.993

2012

2.618.938

173.990

2013

2.770.345

185.500

GWh

GWh Regresi dengan 1 variabel 250.000 y = 35530e 6E-07x Series1 R² = 0,991 200.000 Linear

Regresi dengan 1 variabel

250.000 y = 35530e 6E-07x Series1 R² = 0,991 200.000 Linear (Series1) Expon. (Series1) 150.000
250.000
y = 35530e 6E-07x
Series1
R² = 0,991
200.000
Linear (Series1)
Expon. (Series1)
150.000
y = 0,075x - 26751
R² = 0,996
100.000
50.000
-
-
1.000.000
2.000.000
3.000.000
Expon. (Series1) 150.000 y = 0,075x - 26751 R² = 0,996 100.000 50.000 - - 1.000.000

GDP

Korelasi GWh Jual dengan GDP & Penduduk

Penjualan Listrik PLN
Penjualan Listrik PLN

Penjualan Listrik PLN

Penjualan Listrik PLN
Penjualan Listrik PLN
Penjualan Listrik PLN

Tahun

GDP HK 2000

2000

1.389.770

2001

1.442.985

2002

1.504.381

2003

1.577.171

2004

1.656.517

2005

1.750.815

2006

1.847.127

2007

1.963.092

2008

2.082.104

2009

2.178.850

2010

2.314.459

2011

2.464.566

2012

2.618.938

2013

2.770.345

Penduduk

GWh Sales

206.264.595

79.250

209.206.135

84.616

212.189.624

87.171

215.215.661

90.536

218.284.853

100.097

221.397.814

107.033

224.555.169

112.610

227.757.551

121.247

231.005.602

127.625

234.299.973

134.576

237.641.326

147.297

241.030.330

157.993

244.467.664

173.990

247.954.018

185.500

REGRESI (GWh) dengan dua variable (GDP & Pop)

SUMMARY OUTPUT

Regression Statistics

Multiple R

0,9988145

R

Square

0,9976305

Adjusted R S

0,9971997

Standard Erro 1802,3841

Observations

14

ANOVA

 
 

df

SS

MS

F

ignificance F

 

Regression

2

1,5E+10

7,52E+09

2315,657

3,64E-15

Residual

11 35734471

3248588

Total

13

1,51E+10

 

Coefficients tandard Err

 

t Stat

P-value

Lower 95% Upper 95% ower 95,0

pper 95,0%

Intercept

101059,64

53544,29

1,887403

0,085758

-16790,5

218909,8

-16790,5

218909,8

X

Variable 1

0,0981305

0,009489

10,34129

5,28E-07

0,077245

0,119016

0,077245

0,119016

X

Variable 2

-0,0007599

0,000318

-2,38911

0,035918

-0,00146

-6E-05

-0,00146

-6E-05

Persamaan Regresi yang terbentuk GWh = 101059,64 + 0,09813*GDP 0,00076*Pop

Indikator Utama Model REGRESI

1. Koefisien Korelasi (R) : menunjukkan seberapa besar korelasi

antara variable bebas (X 1 , X 2 , X 3 , variable tidak bebas (Y).

X n ) secara serentak dengan

Menurut Sugiyono (2007) -

R

=

0,00

0,199

sangat rendah

R

= 0,20

-

0,399

rendah

R

= 0,40

-

0,599

sedang

R

=

0,60

-

0,799

kuat / erat

R

= 0,80

-

1,000

sangat kuat/sangat erat

2. Koefisien Deteminasi/Penentu R 2 (R square) : menunjukkan tingkat /prosentase korelasi antara variable bebas (X 1 , X 2 , X 3 ,

X n ) secara serentak dengan variable tidak bebas (Y).

(R 2 1) Hubungannya erat bila R 2 mendekati 1

Indikator Utama Model REGRESI

4. Indikator t value menunjukkan korelasi antara individu variable bebas dengan variable tidak bebas : (X 1 dengan Y), (X 2 dengan Y), (X 3 dengan Y), dst

Significant Admissible to use Insignificant

t-value

 

t t   t

2

1

1

:

:

:

2

5. Durbin Watson: menunjukkan korelasi antara data (t) dengan data (t-1) pada model time series, atau autokorelasi yaitu korelasi residu pada satu pengamatan dengan pengamatan lain pada model regresi. Syarat: Harus ada intercept dan tidak ada variable lag. Durbin Watson Statistic : 1 ≤ DW ≤ 3

DW = 2

:

No serial correlation

DW 0

:

Positive correlation

DW 4

:

Negative correlation

Indikator Utama Model REGRESI

Durbin Watson

Digunakan untuk menguji apakah terdapat autokorelasi dari residual, artinya ada korelasi antara sisa pada periode t dengan sisa pada periode sebelumnya (t-1).

Beberapa penyebab terjadinya auto korelasi, yaitu :

- Kelambanan, sebagai contoh pada kasus perubahan situasi ekonomi biasanya tidak langsung mempunyai pengaruh terhadap konsumsi listrik.

- Spesifikasi bias dalam model tidak menyertakan variabel yang sangat relevan pada model.

- Salah bentuk formula, misalnya formula yang seharusnya nonlinier tetapi digunakan fungsi linier.

- Pengaruh time lag, selain dipengaruhi variabel pada periode t juga dipengaruhi pula variabel pada periode t-1.

Indikator Utama Model REGRESI

6. Multikolinieritas: terjadi korelasi yang kuat diantara sebagian atau semua variabel bebas (X 1 dengan X 2 , X 1 dengan X 3 , X 2 dengan X 3 , dst.). Uji Multikolinieritas : antara lain menggunakan metode

“Korelasi Parsial” ( X 1 = a + b X 2 + c X 3 ) R 2 =

?

7. Uji Normalitas : untuk mengetahui apakah data terdistribusi secara

normal atau tidak ?

Menggunakan plot grafik dimana asumsi normalitas terpenuhi jika titik-titik pada grafik mendekati sumbu diagonalnya

? Menggunakan plot grafik dimana asumsi normalitas terpenuhi jika titik-titik pada grafik mendekati sumbu diagonalnya

Multikolinieritas

GWh = f

(.…)

R

PDRB

2 /AR
2 /AR
E
E

Pop/R

Rp/kW

h

Ekonomi Makro
Ekonomi Makro

Pertumbuhan Ekonomi

Inflasi / deflasi

Ekspor & Impor

Industri dan ketenagakerjaan

Nawacita & MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia)

Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy Tujuan Pengenalan Makroekonomi Peserta diharapkan mampu memahami dan mengimplementasikan konsep

Tujuan Pengenalan Makroekonomi

Peserta diharapkan mampu memahami

dan mengimplementasikan konsep

ekonomi makro dikaitkan dengan bisnis PT (Persero) PLN Sebagai korporasi

Yang bergerak dalam bisnis ketenagalistrikan

Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy

Ilmu Ekonomi

Corporate Culture Academy Ilmu Ekonomi  Mikroekonomi adalah studi bagaimana rumah tangga dan perusahaan membuat
Corporate Culture Academy Ilmu Ekonomi  Mikroekonomi adalah studi bagaimana rumah tangga dan perusahaan membuat

Mikroekonomi adalah studi bagaimana rumah tangga dan perusahaan membuat keputusan dan bagaimana

pembuat keputusan ini berinteraksi dalam pasar. Dalam

mikroekonomi individu memilih memaksimalkan tingkat kepuasan (utility) dengan batasan anggaran.

Makroekonomi adalah studi yang menganalisis peristiwa-peristiwa makroekonomi muncul dari interaksi banyak individu yang mencoba memaksimalkan kemakmurannya. Mengingat variabel adalah jumlah variable yang mendeskripsikan keputusan-keputusan individu. Oleh karena itu studi makroekonomi didasarkan pada landasan mikroekonomi.

Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy Mengapa Perlu Mengetahui Makroekonomi? Tujuan mempelajari makroekonomi untuk dapat menganalisis:

Mengapa Perlu Mengetahui Makroekonomi?

Culture Academy Mengapa Perlu Mengetahui Makroekonomi? Tujuan mempelajari makroekonomi untuk dapat menganalisis: 1.

Tujuan mempelajari makroekonomi untuk dapat menganalisis:

1. Pentingnya kebijakan makroekonomi yang berdampak pada masyarakat umum. 2. Risiko agregat dan dampaknya pada perusahaan

3. Kondisi lingkungan bisnis makroekonomi jangka panjang

umum. 2. Risiko agregat dan dampaknya pada perusahaan 3. Kondisi lingkungan bisnis makroekonomi jangka panjang
Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy Pertumbuhan Konsumsi Listrik Refleksikan Pertumbuhan Ekonomi  Pertumbuhan konsumsi listrik

Pertumbuhan Konsumsi Listrik Refleksikan Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan konsumsi listrik salah satu indikator yang merepresentasikan aktivitas ekonomi mengalami pertumbuhan.

merepresentasikan aktivitas ekonomi mengalami pertumbuhan. MENGAPA ?  Masyarakat mengkonsumsi listrik untuk

MENGAPA ? Masyarakat mengkonsumsi listrik untuk digunakan berbagai aktivitas ekonomi baik yang bersifat konsumtif

maupun produktif.

Konsumsi listrik juga mencerminkan daya beli masyarakat. Semakin tinggi konsumsi listrik biasanya semakin tingggi pendapatan / income masyarakat.

Konsumsi listrik yang lebih banyak oleh masyarakat juga

mencerminkan pemerintah dapat meningkatkan investasi terkait ketenagalistrikan untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.

56

Ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi

Ekonomi berkembang apabila ada peningkatan output (barang dan jasa). Peningkatan output hanya terjadi jika

terdapat investasi yang terus menerus baik melalui

ekspansi maupun investasi baru. Investasi memerlukan modal sehingga tabungan disektor keuangan (bank) mesti

dipupuk sebagai alat investasi. Investasi akan

meningkatkan output dan membuka lapangan kerja.

Belanja pemerintah umumnya bersumber dari pajak dan pendapatan non pajak, yang dapat dikoleksi jika dunia usaha eksis dan tenaga kerja memiliki pendapatan.

Perdagangan akan terjadi jika barang dan jasa

diproduksi. Seluruh sirkulasi ini, hulunya ada INVESTASI.

Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy Pertumbuhan Konsumsi Listrik Refleksikan Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan Konsumsi Listrik Refleksikan Pertumbuhan Ekonomi

Corporate Culture Academy Pertumbuhan Konsumsi Listrik Refleksikan Pertumbuhan Ekonomi
Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy Pertumbuhan Ekonomi Similar Pendapatan Nasional  Pertumbuhan Ekonomi adalah perubahan

Pertumbuhan Ekonomi Similar Pendapatan Nasional

Academy Pertumbuhan Ekonomi Similar Pendapatan Nasional  Pertumbuhan Ekonomi adalah perubahan pendapatan

Pertumbuhan Ekonomi adalah

perubahan pendapatan nasional (produk domestik bruto). Cara menghitung pertumbuhan

ekonomi:

domestik bruto).  Cara menghitung pertumbuhan ekonomi:  : Pertumbuhan Ekonomi g  : Pendapatan Nasional
domestik bruto).  Cara menghitung pertumbuhan ekonomi:  : Pertumbuhan Ekonomi g  : Pendapatan Nasional

: Pertumbuhan Ekonomi

g

: Pendapatan Nasional pada tahun t

Yt-1 : Pendapatan Nasional pada tahun t-1

Pendapatan nasional dapat diproksi dengan menggunakan data produk domestik bruto

Yt

Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy

Pendapatan Nasional

Corporate Culture Academy Pendapatan Nasional  GDP adalah hasil produksi nilai akhir pasar barang dan jasa
Corporate Culture Academy Pendapatan Nasional  GDP adalah hasil produksi nilai akhir pasar barang dan jasa

GDP adalah hasil produksi nilai akhir pasar barang dan jasa yang diproduksi suatu wilayah dalam periode tertentu oleh sumber daya yang ada di dalam wilayah tertentu tanpa memandang pemilik sumber daya itu.

Product (Produk

Gross

Domestic

Domestik Bruto)

itu. Product (Produk  Gross Domestic Domestik Bruto)  GDP = C + I + G

GDP = C + I + G + (X-M)

C adalah pengeluaran konsumsi, I

adalah Investasi, G adalah pengeluaran

pemerintah, X adalah Ekspor dan M adalah Impor

Gross Domestic Product atau Produk Domestik Bruto

Gross Domestic Product (GDP) atau Produk Domestik Bruto (PDB) adalah hasil output produksi (satuan mata uang) dalam

suatu perekonomian dengan tidak memperhitungkan pemilik

faktor produksi dan hanya menghitung total produksi dalam suatu perekonomian saja pada satu periode tertentu (mis.1 th).

Jika dirumus menjadi:

PDB = C + G + I + ( X - M )

atau

Produk Domestik Bruto = pengeluaran rumah tangga +

pengeluaran pemerintah + pengeluaran investasi + (ekspor -

KEGUNAAN PDB/PDRB

KEGUNAAN PDB/PDRB

KEGUNAAN PDB/PDRB

KEGUNAAN PDB/PDRB
KEGUNAAN PDB/PDRB
KEGUNAAN PDB/PDRB

Perubahan Tahun Dasar 2000 Menjadi tahun 2010

Badan Pusat Statistik (BPS) telah melakukan perubahan tahun dasar dalam

penyusunan produk domestik regional bruto (PDRB) dari tahun 2000 menjadi

tahun 2010. Perubahan tahun dasar dilakukan karena selama 10 / sepuluh tahun terakhir telah terjadi perubahan baik pada tatanan lokal maupun global yang berpengaruh pada perekonomian nasional

PDRB tahun dasar 2010 berpedoman pada sistem neraca nasional (SNN) 2008 SNN 2008 adalah rekomendasi internasional tentang bagaimana menyusun ukuran aktivitas ekonomi yang sesuai dengan standar neraca baku yang didasarkan pada prinsip prinsip ekonomi

Perubahan juga dilakukan pada pembaharuan konsep definisi, klasifikasi, cakupan,

Dan metodologi

Perbandingan Klasifikasi PDB/PDRB Lapangan Usaha Tahun Dasar 2000 & 2010

Perbandingan Klasifikasi PDB/PDRB Lapangan Usaha Tahun Dasar 2000 & 2010

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

PDRB harga berlaku (HB) adalah PDRB yang besarnya (dalam satuan mata uang) sesuai dengan nilai riel saat itu/dihitung.

Nilai PDRB = Harga barang x Σ barang yang diproduksi

PDRB harga konstan (HK) adalah PDRB yang besarnya tidak memperhitungkan faktor inflasi atau deflasi.

Contoh:

Th 2010:

Gula : 20 kg x Rp 10 = Rp 200,-

Th 2011 :

Gula : 18 kg x Rp 12 = Rp 216,- Gula : 18 kg x Rp 10 = Rp 180,- (harga tidak naik)

PDRB (HB) tumbuh : (216 200)/200 x 100% = + 8%

PDRB (HK) tumbuh : (180 200)/200 x 100% = - 10%

PDRB harga konstan = PDRB harga berlaku x deflator.

Contoh Produk Domestik Bruto 2013 Indonesia

Harga Berlaku & Harga Konstan 2000

Contoh Produk Domestik Bruto 2013 Indonesia Harga Berlaku & Harga Konstan 2000

Contoh PDRB Harga Konstan 2010 Provinsi Aceh (1)

Contoh PDRB Harga Konstan 2010 Provinsi Aceh (1)

Contoh PDRB Harga Konstan 2010 Provinsi Aceh (2)

Contoh PDRB Harga Konstan 2010 Provinsi Aceh (2)

Kebutuhan

Energi Listrik

Kebutuhan Energi Listrik FAKTOR EXTERNAL PDB Inflasi Penduduk Konsumsi Rumah Tangga Belanja Investasi
Kebutuhan Energi Listrik FAKTOR EXTERNAL PDB Inflasi Penduduk Konsumsi Rumah Tangga Belanja Investasi

FAKTOR EXTERNAL

PDB Inflasi Penduduk Konsumsi Rumah Tangga Belanja Investasi Pemerintah Ekspor/Impor
PDB
Inflasi
Penduduk
Konsumsi
Rumah Tangga
Belanja
Investasi
Pemerintah
Ekspor/Impor

FAKTOR INTERNAL

Jumlah Pelanggan Daya Tersambung Kesiapan Daya Losses & PS
Jumlah Pelanggan Daya Tersambung Kesiapan Daya Losses & PS
Jumlah Pelanggan Daya Tersambung Kesiapan Daya Losses & PS

Jumlah Pelanggan

Daya Tersambung

Jumlah Pelanggan Daya Tersambung Kesiapan Daya Losses & PS
Kesiapan Daya Losses & PS
Kesiapan Daya Losses & PS
Kesiapan Daya Losses & PS

Kesiapan Daya

Losses & PS

Kesiapan Daya Losses & PS

Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan energi listrik dan sumber data

1. Pertumbuhan ekonomi (RUKN, RPJMN, APBN, lainnya)

2. Pertumbuhan penduduk (buku BappenasBPSUNFPA)

3. Target rasio elektrifikasi (RUKN)

4. Pelanggan existing.

5. Calong pelanggan besar yang akan disambung

6. Harga Listrik (harga jual rata-rata)

7. Ketersediaan pasokan listrik

Data Pelanggan Menurut GolonganTarif

Sumber Buku Statistik PLN

Data Pelanggan Menurut GolonganTarif Sumber Buku Statistik PLN R B I P

R

B

I

P

B. Pendekatan Perhitungan

Pengelompokan PDB Sesuai Kelompok Tarif

Dengan 9 Kelompok Lapangan Usaha

PDB untuk kelompok Rumah Tangga, terdiri dari lapangan usaha :

Total without Oil & Gas & its product

PDB untuk kelompok Bisnis, terdiri dari (5, 6, 7, 8) :

1. Construction

2. Trade, Restaurant & Hotel

3. Transportation & Communication

4. Finance, Rent of Build & Business Service

PDB untuk kelompok Publik, terdiri dari lapangan usaha :

Services

PDB untuk kelompok Industri, terdiri dari lapangan usaha :

1. Mining & Quarriying

2. Manufacturing Industries

3. Electric, Gas & Water Supply

Pengelompokan PDB Sesuai Kelompok Tarif

Dengan 17 Kelompok Lapangan Usaha

PDB untuk kelompok Rumah Tangga, terdiri dari lapangan usaha :

Total (Tanpa Migas)

PDB untuk kelompok Bisnis, terdiri dari (F sd. N) :

F.

Konstruksi

G.

Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor

H.

Transportasi dan Pergudangan

I.

Penyediaan Akomodasi dan makan, minuman

J.

Informasi dan komunikasi

K.

Jasa Keuangan

L.

Real Estate

M,N

Jasa Perusahaan

PDB untuk kelompok Publik, terdiri dari lapangan usaha :

O.

Administrasi Pemerintahanan, Pertahanan dan Jaminan Sosial

P.

Jasa Pendidikan

Q.

Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial

R,S,T,U

Jasa Lainnya

PDB untuk kelompok Industri, terdiri dari lapangan usaha :

B. Pertambangan dan Penggalian

C. Industri Pengolahan

D. Pengadaan Listrik dan Gas

E. Pengadaan Air

Konsep Dasar Ekonometri

Definisi Ekonometrika

Ekonometri adalah suatu ilmu yang memanfaatkan metematika dan teori statistik dalam mencari nilai parameter dari pada hubungan ekonomi sebagaimana didalilkan oleh teori ekonomi

Ilmu yang berhubungan dengan:

(1) mengestimasi hubungan-hubungan variabel ekonomi;

(2) mencocokkan teori ekonomi dengan dunia nyata dan untuk menguji hipotesis yang meliputi perilaku-perilaku ekonomi,

(3) meramalkan perilaku dari variabel-variabel ekonomi.

Istilah ekonometri pertama kali diperkenalkan oleh Ragnar Frisch (1933), seorang pakar ekonomi dan statistika berkebangsaan Norwegia

Ekonometri merupakan suatu metode untuk menganalisis fenomena- fenomena ekonomi dengan menggunakan gabungan dari teori ekonomi, matematika dan statistika.

Misal untuk memperkirakan penjualan tenaga listrik, teori ekonomi

akan menyebutkan bahwa :

Besaran konsumsi listrik suatu keluarga akan dipengaruhi oleh pendapatannya, semakin besar pendapatan maka konsumsi listriknya akan semakin meningkat dan sebaliknya.

Rumah tangga tersebut akan mengurangi konsumsi listriknya

apabila rekening listriknya dirasakan mengakibatkan pengeluaran sektor lain terganggu.

Pengurangan konsumsi listrik sebagai akibat penggunaan bentuk

teknologi yang lebih efisien atau lebih hemat.

Konsumsi listrik akan dikurangi bila harga listrik naik dan mengganggu pengeluaran sektor lain

Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy Kenaikan Tarif Listrik Meningkatkan Inflasi  Kenaikan tarif listrik meningkatkan kenaikan

Kenaikan Tarif Listrik Meningkatkan Inflasi

Culture Academy Kenaikan Tarif Listrik Meningkatkan Inflasi  Kenaikan tarif listrik meningkatkan kenaikan biaya

Kenaikan tarif listrik meningkatkan kenaikan biaya produksi sehingga mendorong kenaikan harga harga barang secara umum, selanjutnya terjadi inflasi.

APAKAH INFLASI?

Inflasi adalah kenaikan harga barang- barang secara umum dan terus menerus

Inflasi disebabkan karena dua hal yaitu

Demand Pull Inflation dan Cost Push Inflation

secara umum dan terus menerus  Inflasi disebabkan karena dua hal yaitu Demand Pull Inflation dan
Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy

Penyebab Inflasi

Corporate Culture Academy Penyebab Inflasi  Demand Pull Inflation adalah kondisi inflasi terjadi karena kenaikan
Corporate Culture Academy Penyebab Inflasi  Demand Pull Inflation adalah kondisi inflasi terjadi karena kenaikan

Demand Pull Inflation adalah kondisi inflasi terjadi karena kenaikan permintaan masyarakat terhadap suatu barang sehingga memicu kenaikan harga barang-barang secara umum

Cost Push Inflation adalah kondisi inflasi terjadi karena kenaikan harga barang-barang produksi sehingga memicu kenaikan harga barang-barang secara umum

inflasi terjadi karena kenaikan harga barang-barang produksi sehingga memicu kenaikan harga barang-barang secara umum

Inflasi / Deflasi

Inflasi adalah suatu keadaan dimana harga barang secara umum mengalami kenaikan secara terus menerus

atau terjadi penurunan nilai uang dalam negeri.

Deflasi adalah suatu keadaan dimana terdapat peristiwa penurunan harga barang umum secara terus menerus atau terjadi peningkatan nilai uang dalam negeri.

Depresiasi adalah suatu proses penurunan nilai mata

uang dalam negeri disebabkan adanya mekanisme

perdagangan.

Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy

Menghitung Inflasi

Corporate Culture Academy Menghitung Inflasi  Ada dua metode menghitung inflasi yaitu melalui GDP Deflator dan
Corporate Culture Academy Menghitung Inflasi  Ada dua metode menghitung inflasi yaitu melalui GDP Deflator dan

Ada dua metode menghitung inflasi yaitu melalui GDP Deflator dan Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index)

 Ada dua metode menghitung inflasi yaitu melalui GDP Deflator dan Indeks Harga Konsumen (Consumer Price
 Ada dua metode menghitung inflasi yaitu melalui GDP Deflator dan Indeks Harga Konsumen (Consumer Price
 Ada dua metode menghitung inflasi yaitu melalui GDP Deflator dan Indeks Harga Konsumen (Consumer Price
Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy

Menghitung Inflasi

Corporate Culture Academy Menghitung Inflasi GDP deflator: Menghitung harga barang dan jasa yang diproduksi CPI:
Corporate Culture Academy Menghitung Inflasi GDP deflator: Menghitung harga barang dan jasa yang diproduksi CPI:

GDP deflator:

Menghitung harga barang dan jasa yang diproduksi

CPI:

Menghitung harga barang dan jasa yang dikonsumsi

CPI: Menghitung harga barang dan jasa yang dikonsumsi Hanya mencakup barang yang diproduksi di DN (tidak

Hanya mencakup barang yang diproduksi di DN (tidak termasuk impor)

Harga termasuk barang impor

Menggunakan timbangan (weight) barang dan jasa yang berubah sesuai periode

berlaku berdasarkan

kuantitas pada periode tsb

Menggunakan timbangan (weight) barang dan jasa yang tetap berdasarkan kuantitas

pada tahun/periode tertentu

Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy

Menghitung Inflasi

Corporate Culture Academy Menghitung Inflasi   Kelompok dan Subkelompok 2010 2011 2012 2013  
Corporate Culture Academy Menghitung Inflasi   Kelompok dan Subkelompok 2010 2011 2012 2013  
 

Kelompok dan Subkelompok

2010

2011

2012

2013

 

Indeks Umum

120,97

127,45

132,90

142,18

I

 

Bahan Makanan

136,92

148,62

157,32

176,13

II

 

Makanan Jadi, Minuman, Rokok, dan Tembakau

129,25

135,84

143,41

152,50

III

 

Perumahan, Air, Listrik, Gas, dan Bahan Bakar

117,34

122,24

126,35

132,44

 

A

Biaya Tempat Tinggal

115,38

120,44

125,65

131,74

 

B

Bahan Bakar, Penerangan, dan Air

128,38

134,16

136,23

143,62

 

C

Perlengkapan Rumah Tangga

111,10

113,84

116,32

119,56

 

D

Penyelenggaraan Rumah Tangga

114,22

118,35

122,68

128,52

IV

 

Sandang

121,22

131,36

139,21

141,07

V

 

Kesehatan

114,71

119,03

122,81

126,88

VI

 

Pendidikan, Rekreasi, dan Olah Raga

115,72

120,85

126,22

131,45

VII

 

Transpor, Komunikasi, dan Jasa Keuangan

104,80

107,34

109,41

118,95

Sumber: Badan Pusat Stastistik, 2015

Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy

Menghitung Inflasi

Corporate Culture Academy Menghitung Inflasi  Menghitung inflasi pada tahun 2013 adalah sebesar 7% dengan perhitungan
Corporate Culture Academy Menghitung Inflasi  Menghitung inflasi pada tahun 2013 adalah sebesar 7% dengan perhitungan

Menghitung inflasi pada tahun 2013 adalah sebesar 7% dengan perhitungan sebagai berikut:

2013 adalah sebesar 7% dengan perhitungan sebagai berikut:  Menghitung inflasi kelompok barang bahan bakar,
2013 adalah sebesar 7% dengan perhitungan sebagai berikut:  Menghitung inflasi kelompok barang bahan bakar,

Menghitung inflasi kelompok barang bahan bakar, penerangan dan air pada tahun 2013 adalah sebesar 5,4% dengan perhitungan sebagai berikut:

kelompok barang bahan bakar, penerangan dan air pada tahun 2013 adalah sebesar 5,4% dengan perhitungan sebagai
Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy

Listrik dan Multiplier Effect

Corporate Culture Academy Listrik dan Multiplier Effect  Listrik merupakan kebutuhan masyarakat, hampir semua
Corporate Culture Academy Listrik dan Multiplier Effect  Listrik merupakan kebutuhan masyarakat, hampir semua

Listrik merupakan kebutuhan masyarakat, hampir semua aktivitas ekonomi memerlukan listrik. Ketika listrik padam,

maka aktivitas ekonomi pun terganggu. Produktivitas

masyarakat menurun.

Sebaliknya pada saat kebutuhan listrik terpenuhi maka masyarakat pun dapat melakukan berbagai aktivitas

ekonomi yang produktif seperti perusahaan dapat

menghasilkan output. Kinerja perusahaan tetap terjaga, sehingga pekerja memperoleh pendapatan. Pekerja membelanjakan uangnya. Aktivitas perdagangan pun tetap

bergerak.

sehingga pekerja memperoleh pendapatan. Pekerja membelanjakan uangnya. Aktivitas perdagangan pun tetap bergerak. 84
sehingga pekerja memperoleh pendapatan. Pekerja membelanjakan uangnya. Aktivitas perdagangan pun tetap bergerak. 84

84

Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy Konsep Pendapatan Nasional • • Gross Product Domestik Bruto) Domestic (Produk Cara

Konsep Pendapatan Nasional

Gross

Product

Domestik Bruto)

Domestic

(Produk

Cara

Pengukurannya

Riil

Nominal

Output
Output
Nominal GDP
Nominal GDP
Domestik Bruto) Domestic (Produk Cara Pengukurannya – Riil – Nominal Output Nominal GDP Real GDP GDP

Real GDP

Domestik Bruto) Domestic (Produk Cara Pengukurannya – Riil – Nominal Output Nominal GDP Real GDP GDP

GDP per capita

Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy Pendekatan Pendapatan Nasional • Tiga penghitungan GDP: metode – Pendekatan Produksi –

Pendekatan Pendapatan Nasional

Tiga penghitungan GDP:

metode

Pendekatan Produksi

Pendekatan Pendapatan

Pendekatan Pengeluaran

• Tiga penghitungan GDP: metode – Pendekatan Produksi – Pendekatan Pendapatan – Pendekatan Pengeluaran 86
Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy Tiga Pendekatan Pendapatan Nasional Pendekatan produksi , merupakan jumlah nilai tambah (output

Tiga Pendekatan Pendapatan Nasional

Pendekatan produksi , merupakan jumlah nilai tambah (output konsumsi antara) yang dihasilkan oleh unit-unit produksi yang dimiliki penduduk domestik / suatu daerah dalam jangka waktu yang tertentu (satu tahun)

Pendekatan pendapatan, disebut pendapatan nasional atau pendapatan regional (income) merupakan jumlah pendapatan (balas jasa) yang diterima oleh faktor produksi yang dimiliki oleh penduduk nasional / suatu daerah dalam jangka waktu yang tertentu (satu tahun)

Pendekatan Pengeluaran disebut pengeluaran nasional / pengeluaran regional (expenditure) merupakan jumlah pengeluaran konsumsi yang dilakukan oleh rumah tangga, lembaga swasta nirlaba, pemerintah, pembentukan modal tetap, perubahan stok dan ekspor netto nasional / daerah dalam jangka waktu tertentu (satu tahun)

Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy Penghitungan Pendapatan Nasional • Kelemahan PDB: - Dihitung berdasarkan estimasi - Tdk

Penghitungan Pendapatan Nasional

Kelemahan PDB:

- Dihitung berdasarkan estimasi

- Tdk termasuk unreported activities: illegal drugs,

illegal logging higher in developing countries

- Tdk termasuk under report income menghindari pajak

- Tdk termasuk sektor informal pembantu RT, dll

Perhitungan PDB:

Pendekatan Pendapatan/Income factor payment

(labor payment, capital payment, profit, salary,

devident, interest)

Digunakan untuk mempelajari dari sisi supply (aggregate supply)

Pendekatan Pengeluaran/expenditure C, I, G, NX Digunakan untuk mempelajari dari sisi demand

2

(aggregate demand)

Pendekatan Produksi Menurut sektor

G, NX Digunakan untuk mempelajari dari sisi demand 2 (aggregate demand)  Pendekatan Produksi  Menurut
Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy Penghitungan PDB – Metode Produksi (Netto) • NETT OUTPUT adalah VA yang diciptakan

Penghitungan PDB Metode Produksi (Netto)

NETT OUTPUT adalah VA yang diciptakan dalam suatu proses produksi. Sehingga metode ini menjumlahkan VA yang diwujudkan oleh perusahaan diberbagai lapangan usaha dalam perekonomian.

Contoh VA dari suatu produk :

Produk

Harga Jual

VA

Kapas

50

50

Benang

200

150

Kain

600

400

Pakaian

2

800

200

Nilai Jual & VA

1650

800

Kain  600 400  Pakaian 2  800 200  Nilai Jual & VA 
Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy

Value Added Bahan Mineral (kompas, 14 sept 2018)

Academy Value Added Bahan Mineral ( kompas, 14 sept 2018 ) • UU No.04/2009 Tentang Mineral

UU No.04/2009 Tentang Mineral dan Batubara, pemerintah bersama badan usaha wajib meningkatkan nilai tambah mineral dan batubara (hilirisasi) di dalam negeri.

Selama periode 2014-2016 pemerintah melarang ekspor mineral mentah,

namun tahun 2017 mebuka keran ekspor tsb secara terbatas (untuk biji bauksit

dan nikel kadar rendah), yang dibarengi dengan kewajiban membangun smelter bila tak ada kemajuan pembangunan smelter izin ekspor dicabut.

Fakta hilirisasi (pengolahan & pemurnian mineral di smelter) belum sepenuhnya komprehensif. Mineral yang dimurnikan di domestik sampai menjadi logam siap olah belum bisa dikatakan sebagai produk akhir

Contoh PT. Timah (sebagai anak usaha PT Inalum), ekspor tahun 2017 sebesar 27.000 ton (pasokan ke domestik hanya 3.000 ton).

Volume ekspor yang dominan menandakan industri domestik belum

menggunakan bahan baku tsb secara optimal. Timah bisa menjadi bahan

campuran logam ringan komponen kendaraan dan produk lain .

Begitu pula nikel dan feronikel (kandungan besi 80%), ekspor tahun 2017 sebesar 2,7 juta ton (serapan domestik 204.000 ton). Proyeksi Thaun 2018 sebesar 4 juta ton (serapan domestik 201.000 ton).

Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy

Value Added Bahan Mineral

(lanjutan)

Culture Academy Value Added Bahan Mineral (lanjutan) • Nilai jual biji nikel yangsudah diolah menjadi

Nilai jual biji nikel yangsudah diolah menjadi feronikel nilai jual akan melonjak menjadi 10 kali lipat

Bila pengolahan dilanjutkan lagi menjadi produk stainless steel nilai jual

meningkat menjadi 19 kali.

Hal yang sama pada mineral bauksit, jika diolah menjadi alumina nilai jual meningkat menjadi 8 kali lipat .

Ketika diolah dan dimurnikan lebih lanjut, menjadi batang aluminium nilai jual

meningkat menjadi 30 kali lipat.

Hal sama juga bisa diterapkan untuk batubara (tambang batubara lebih sederhana hanya dikeruk), pengolahan lebih lanjut menjadi gas (gasifikasi batubara) yang bisa digunakan sebagai bahan baku pupuk atau produk petrokimia. Di China batubara diolah menjadi avtur.

Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy Contoh Penghitungan GDP Barnes Columbian Farmer Coffee Importer Starbuck‟s and Noble 2 $

Contoh Penghitungan GDP

Barnes Columbian Farmer Coffee Importer Starbuck‟s and Noble
Barnes
Columbian Farmer
Coffee Importer
Starbuck‟s
and
Noble
Columbian Farmer Coffee Importer Starbuck‟s and Noble 2 $ 4 . 2 0 $7.20 $9.80 Retail

2

$4.20

$7.20 $9.80
$7.20
$9.80
Retail Price
Retail Price

$15.00

Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy Contoh Penghitungan GDP Sal es $5. Roasti 80 ng & Packag ing Shipping

Contoh Penghitungan GDP

Sal es $5. Roasti 80 ng & Packag ing Shipping $2.00 and Importing Green 2
Sal
es
$5.
Roasti
80
ng &
Packag
ing
Shipping
$2.00
and
Importing
Green 2 Coffee $3.00 Beans
$4.20

Nilai Tambah (Value Added)

Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy Contoh Penghitungan GDP Riil Vs Nominal  Pendekatan Produksi (Output)  Penjumlahan dari

Contoh Penghitungan GDP Riil Vs Nominal

Pendekatan Produksi (Output)

Penjumlahan dari semua nilai tambah setiap sektor

Pendekatan Pendapatan (Income)

Penjumlahan pembayaran semua faktor produksi

Pendekatan Pengeluaran (Expenditure)

Penjumlahan pengeluaran semua barang dan jasa

94

semua faktor produksi  Pendekatan Pengeluaran (Expenditure)  Penjumlahan pengeluaran semua barang dan jasa 94
semua faktor produksi  Pendekatan Pengeluaran (Expenditure)  Penjumlahan pengeluaran semua barang dan jasa 94
Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy Contoh Penghitungan GDP Riil Vs Nominal  Pendekatan Produksi (Output)  $4.20 +

Contoh Penghitungan GDP Riil Vs Nominal

Pendekatan Produksi (Output)

$4.20 + $2.00 + $3.00 + $5.80

Pendekatan Pendapatan (Income)

Payments to labor, management and capital for

producing one pound of coffee

Pendekatan Pengeluaran (Expenditure)

$15 final payment for pound of coffee

95

for producing one pound of coffee  Pendekatan Pengeluaran (Expenditure)  $15 final payment for pound
for producing one pound of coffee  Pendekatan Pengeluaran (Expenditure)  $15 final payment for pound
Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy Contoh Penghitungan GDP Riil Vs Nominal  Nominal GDP : nilai output pada

Contoh Penghitungan GDP Riil Vs Nominal

Nominal GDP : nilai output pada suatu periode tertentu, yang dihitung dengan harga pada periode tersebut, atau nilai rupiah pada periode

tsb.

Real GDP : nilai output (semua barang yang diproduksi) dalam dua periode dengan

96

menggunakan harga yang sama. Sehingga dapat

dihitung perubahan output fisik antara beberapa

periode waktu yang berbeda

96 menggunakan harga yang sama. Sehingga dapat dihitung perubahan output fisik antara beberapa periode waktu yang
96 menggunakan harga yang sama. Sehingga dapat dihitung perubahan output fisik antara beberapa periode waktu yang
Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy Contoh Penghitungan GDP Riil Vs Nominal Produksi pada tahun 2012  200 apel

Contoh Penghitungan GDP Riil Vs Nominal

Produksi pada tahun 2012

200 apel dengan harga

500

100 jeruk dengan

harga Rp 400

Produksi 2014

300 apel dengan harga Rp 600

100 jeruk dengan

harga Rp 450

Berapa total jumlah yang diproduksi oleh perusahaan X pada tahun 2012

97

harga Rp 600  100 jeruk dengan harga Rp 450 Berapa total jumlah yang diproduksi oleh
harga Rp 600  100 jeruk dengan harga Rp 450 Berapa total jumlah yang diproduksi oleh
Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy Contoh Penghitungan GDP Produksi pada tahun 2012 Produksi 2014  200 apel dengan

Contoh Penghitungan GDP

Produksi pada tahun 2012

Produksi 2014

200 apel dengan harga

500

100 jeruk dengan harga Rp 400

apel dengan harga 500  100 jeruk dengan harga Rp 400  300 apel dengan harga

300 apel dengan harga Rp 600 100 jeruk dengan harga Rp 450

Produksi Nominal (Nominal Production )= 200 x Rp 500 + 100 x Rp 400

 100 jeruk dengan harga Rp 450 Produksi Nominal (Nominal Production )= 200 x Rp 500

98

= Rp 140.000

 100 jeruk dengan harga Rp 450 Produksi Nominal (Nominal Production )= 200 x Rp 500
Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy Contoh Penghitungan GDP Produksi pada tahun 2012  200 apel dengan harga 500

Contoh Penghitungan GDP

Produksi pada tahun 2012

200 apel dengan harga

500

100 jeruk dengan harga Rp 400

Produksi Nominal

(Nominal Production )

99

Produksi 2014

300 apel dengan harga Rp 600 100 jeruk dengan harga Rp 450

2014  300 apel dengan harga Rp 600  100 jeruk dengan harga Rp 450 =
2014  300 apel dengan harga Rp 600  100 jeruk dengan harga Rp 450 =

= 300 x Rp 600 + 100 x Rp 450

2014  300 apel dengan harga Rp 600  100 jeruk dengan harga Rp 450 =

= Rp 225.000

Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy Contoh Penghitungan GDP Jika Tahun 2014 sebagai dasar penghitungan Produksi pada tahun 2012

Contoh Penghitungan GDP

Jika Tahun 2014 sebagai dasar penghitungan

Produksi pada tahun 2012

200 apel dengan harga

500

100 jeruk dengan harga Rp 400

Produksi Nominal

(Nominal Production )

100

Produksi 2014

300 apel dengan harga Rp 600 100 jeruk dengan harga Rp 450

2014  300 apel dengan harga Rp 600  100 jeruk dengan harga Rp 450 =
2014  300 apel dengan harga Rp 600  100 jeruk dengan harga Rp 450 =

= 300 x Rp 600 + 100 x Rp 450

2014  300 apel dengan harga Rp 600  100 jeruk dengan harga Rp 450 =

= Rp 225.000

Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy Contoh Penghitungan GDP Jika Tahun 2012 sebagai dasar penghintungan Produksi pada tahun 2012

Contoh Penghitungan GDP

Jika Tahun 2012 sebagai dasar penghintungan

Produksi pada tahun 2012

Produksi 2014

200 apel dengan harga

500

100 jeruk dengan harga Rp 400

300 apel dengan harga Rp 600 100 jeruk dengan harga Rp 450

dengan harga Rp 600  100 jeruk dengan harga Rp 450 Produksi Riil (Real Production )

Produksi Riil (Real Production ) = 300 x Rp 500 + 100 x Rp 400

 100 jeruk dengan harga Rp 450 Produksi Riil (Real Production ) = 300 x Rp

101

= Rp 190.000

 100 jeruk dengan harga Rp 450 Produksi Riil (Real Production ) = 300 x Rp
EKONOMI TERBUKA
EKONOMI TERBUKA

EKONOMI TERBUKA

Pada materi ekonomi terbuka ini kita akan

membahas model perekonomian kecil terbuka

yang meliputi Balance of Payment, keseimbangan perekonomian terbuka dan

penentuan tingkat kurs (exchange rate)

Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy The circular flow of income Firms Factor payments Consumption of domestically produced

The circular flow of income Firms

Corporate Culture Academy The circular flow of income Firms Factor payments Consumption of domestically produced
Corporate Culture Academy The circular flow of income Firms Factor payments Consumption of domestically produced
Factor payments Consumption of domestically produced goods and services (C d ) Households
Factor
payments
Consumption of
domestically
produced goods
and services (C d )
Households
Corporate Culture Academy The circular flow of income
Corporate Culture Academy
The circular flow of income
INJECTIONS Export Government expenditure (G) BANKS, GOV etc Net Net taxes (T) saving (S)
INJECTIONS
Export
Government
expenditure (G)
BANKS,
GOV
etc
Net
Net
taxes (T)
saving (S)
(G) BANKS, GOV etc Net Net taxes (T) saving (S) expenditure (X) Investment (I) Factor payments
expenditure (X) Investment (I)
expenditure (X)
Investment (I)
Factor payments Consumption of domestically produced goods and services (C d )
Factor
payments
Consumption of
domestically
produced goods
and services (C d )

ABROAD

Import

expenditure (M)

WITHDRAWALS

Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy KESEIMBANGAN PEREKONOMIAN TERBUKA Dalam perekonomian tertutup kita mengenal tiga komponen C, I,

KESEIMBANGAN PEREKONOMIAN TERBUKA

Dalam perekonomian tertutup kita mengenal tiga komponen C, I, G. Sedangkan dalam perekonomian terbuka sebagian output untuk domestik dan sebagian diekspor ke luar negeri sehingga komponen bertambah menjadi C, I, G, Ex, sehingga :

C C

d

f

C

I I

d

I

f

G G

d

f

G

dimana:

d =

barang- barang domestik

f =

barang-barang luar negeri

EX = ekspor = pengeluaran luar negeri untuk barang-barang domestik IM = impor = C f + I f + G f = pengeluaran domestik untuk barang-barang luar negeri

Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy

KESEIMBANGAN PEREKONOMIAN TERBUKA

NX = net ekspor

= EX IM

PEREKONOMIAN TERBUKA NX = net ekspor = EX – IM • Jika NX > 0, negara

Jika NX > 0, negara mengalami sebuah surplus perdagangan sama dengan NX

Jika NX < 0,

negara mengalami sebuah defisit perdagangan

sama dengan NX

Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy

HUBUNGAN EKONOMI ANTAR BANGSA

1. Perdagangan Internasional

HUBUNGAN EKONOMI ANTAR BANGSA 1. Perdagangan Internasional – Meningkatkan standar hidup dengang berspesialisasi pada

Meningkatkan standar hidup dengang berspesialisasi pada produk yang mempunyai keunggulan komparatif

Mengekspor barang dan jasa yang secara relatif efisien

Mengimpor barang dan jasa yang secara relatif tidak efisien

2. Keuangan Internasional

Sistem keuangan internasional berperan sebagai

lubricant/perantara” yang memfasilitasi pertukaran (via

pembelian & penjualan)

Komoditi untuk mendapatkan mata uang asing

suatu mata uang dengan mata uang lainnya.

Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy

Arti Perekonomian Terbuka Dan

Ukuran Keterbukaan

1. Arti Perekonomian Terbuka

Terbuka Dan Ukuran Keterbukaan 1. Arti Perekonomian Terbuka Perekonomian terbuka adalah perekonomian yang melibatkan

Perekonomian terbuka adalah perekonomian

yang melibatkan diri dalam perdagangan internasional (ekspor dan impor) barang dan jasa

serta modal dengan negara-negara lain.

2. Ukuran Keterbukaan

Rasio ekspor atau impor terhadap GDP

Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy

NERACA PEMBAYARAN INDONESIA

(Balance of Payment)

Academy NERACA PEMBAYARAN INDONESIA (Balance of Payment) 35,000.00 30,000.00 25,000.00 20,000.00 15,000.00 10,000.00

35,000.00

30,000.00

25,000.00

20,000.00

15,000.00

10,000.00

5,000.00

0.00

-5,000.00

-10,000.00

Neraca Pembayaran Indonesia

2010 2011 2012 2013 2014 Q1-2015
2010
2011
2012
2013
2014
Q1-2015

Neraca Pembayaran

Indonesia terus menurun

hingga pada tahun 2013 menyentuh titik balik di posisi USD -7.324 Milyar.

Kemudian meningkat di tahun 2014. Tapi kembali menurun di kuartal pertama tahun ini.

2014. Tapi kembali menurun di kuartal pertama tahun ini. Neraca Pembayaran Indonesia Penurunan ini cukup berdampak

Neraca Pembayaran Indonesia

Penurunan ini cukup

berdampak pada nilai kurs.

Apa yang membuat neraca perdagangan menurun?

Apa dampaknya bagi nilai kurs?

Apa dampaknya bagi perusahaan?

Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy

NERACA PEMBAYARAN INTERNASIONAL

(Balance of Payment)

Academy NERACA PEMBAYARAN INTERNASIONAL (Balance of Payment) • Definisi : pencatatan yang sistematis dari seluruh

Definisi: pencatatan yang sistematis dari seluruh

transaksi ekonomi antara suatu negara dengan

negara lain (belahan dunia lainnya)

Aturan Umum

Transaksi yang menghasilkan valuta asing dicatat dalam pos credit (+)

Transaksi yang menimbulkan pengeluaran valuta

asing dicatat dalam pos debit ()

Corporate Culture Academy
Corporate Culture Academy

Elemen Utama BoP

I. Transaksi Berjalan (Current Account)

1. Impor dan ekspor barang (Balance of Trade)

Komposisi: komoditi primer & manufaktur

Surplus BoT X > M disebut favorable BoT

Defisit BoT X < M disebut unfavorable BoT

2. Jasa : shipping, financial service dll.

3. Pendapatan dari investasi asset di luar negeri (investment income)

4. Transfer Payment

II. Transaksi Modal (Capital Account)

1. Penerimaan