Anda di halaman 1dari 28

1.

Filosofis pendidikan inklusif

Secara sepintas anda akan mengatakan bahwa pendidikan inklusif merupakan pendekatan inovatif
yang di anggap mampu memberikan pelayanan yang terbaik bagi anak berkebutuhan khusus.
Penulis tidak bisa membayangkan bila ada anak berkebutuhan khusus mendapatkan perlakuan
yang tidak adil karena keterbatasan fisik maupun mental yang mempengaruhi interaksi dan
hubungan sosial dengan sesama.

Filosopis pendidikan inklusif mencerminkan paham tentang nilai-nilai filosofis yang


termanifestasi dalam bingkai keberagaman dan kesetaraan antarsesama. Pada praktiknya, filosopis
pendidikan inklusif berupa memperjuangkan anak-anak berkebutuhan khusus agar mereka
mendapatkan akses yang lebih besar dan mempunyai kesempatan yang sama dalam mendapatkan
pelayanan pendidikan secara optimal. Menurut Vaughn, Bos dan Schum (2000), mengemukakan
bahwa dalam praktik, pendidikan inklusif sebaiknya dipakai bergantian dengan
istilah mainstreaming yang secara teori diartikan sebagai penyediaan layanan pendidikan yang
layak bagi anak berkelainan sesuai dengan kebutuhan individunya.

Penulis menilai bahwa filosopis pendidikan inklusif sangat terkait dengan kebutuhan dasar
manusia untuk memperoleh pengalaman belajar bersama anak normal umumnya. Tidak heran bila
pendidikan merupakan kebutuhan dasar setiap manusia untuk menjamin kelangsungan hidupnya.
Oleh karena itu Negara berkewajiban untk memberikan pelayanan pendidikan yang bermutu
kepada setiap warganya tanpa terkecuali termasuk mereka yang memiliki perbedaan dalam
kemampuan (difabel) seperti yang tertuang pada UUD 1945 pasal 31 (1).

Konsep inklusif adalah sebuah filosofi pendidikan yang berkaitan langsung dengan relasi sosial
antar sesama dalam upaya membangun kebersamaan tanpa memandang latar belakang kehidupan
maupun status sosialnya. Mereka yang percaya proses inklusif meyakini bahwa semua orang
adalah bagian yang berharga dalam kebersamaan masyarakat, apapun perbedaan mereka. Dalam
pendidikan ini bahwa semua anak, terlepas dari kemampuan maupun ketidak mampuan mereka,
latar belakang sosial-ekonomi, suku latar belakng budaya atau bahasa menyatu dalam komunikasi
sekolah yang sama.

Sebagai cermin iklusifitas dalam menghargai perbedaan dan keterbatasan, pendidikan di Indonesia
harus mampu menciptakan kesetaraan dan keadilan bagi siapa saja yang dianggap tidak normal
atau berkelainan. Maka kehadiran pendidikan inklusif merupakan perkembangan terkini dari
model pendidikan bagi anak yang memiliki kelainan seperti tunanetra, tunadaksa, tunagrahita,
tunarungu, maupun tunalaras. Secara formal kemudian ditegaskan dalam pernyataan salamaca
pada komperesi dunia tentang pendidikan berkelainan bulan Juni1994 bahwa prinsip mendasar
dari pendidikan inklusif adalah selama memungkinkan semua anak siogianya belajar bersama-
sama tanpa memandang kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada mereka.

Ketika itulah muncul sekolah inklusif yang menampung semua anak berkebutuhan khusus
dipendidikan formal tanpa pengecualian. Sekolah ini menyediakan program pendidikan yang
layak, menantang tetapi sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan setiap siswa maupun bantuan
dan bantuan yang diberikan oleh para guru agar anak-anak berhasil. Namun sayang sistem
pendidikan di Indonesia belum mengakomodasi keberagaman sehingga menyebabkan munculnya
segmentasi lembaga pendidikan yang mendasar pada perbedaan agama, etnis dan bahkan
perbedaan kemampuan, baik fisik maupun mental yang dimiliki oleh siswa. Sementara itu
pendidikan tidak hanya di tunjukan kepada anak yang memiliki kelengkapan fisik tetapi juga
kepada anak yang memiliki keterbelakangan mental. Mereka dianggap sosok yang tidak berdaya
sehingga perlu di bantu dan dikasihani untuk mengatasi permasalahan tersebut disediakan berbagai
bentuk layanan pendidikan atau sekolah bagi mereka.

Penulis bisa memahami bahwa pendidikan inklusif merupakan suatu strategi untuk mempromo
sekolah yang responsif terhadap pendidikan universal yang efektif karena dapat menciptakan
sekolah yang responsif terhadap beragam kebutuhan aktual dari anak dan masyarakat.
Berbicara tentang filosofis pendidkan inklusif di Indonesia, tidak luput dari filosofi bangsa
Indonesia itu sendiri. Sebagai bangsa yang berlandaskan Pancasila, kita dituntut untuk dapat
menjunjung tinggi norma Bhinneka Tunggal Ika, baik secara tekstual maupun kontekstual.

Adapun kaitan antara filosofi Indonesia dan pendidikan inklusif adalah landasan negara menuntut
kita untuk dapat mengemban tugas sebagai khalifah Tuhan dalam bidang pendidikan inklusif.
Sebagai sesama makhluk di dunia, manusia harus saling menolong, mendorong, dan memberi
motivasi agar semua potensi kemanusiaan yang ada pada diri setiap peserta didik, termasuk anak
berkebutuhan khusus (ABK). Hal ini dilakukan agar ABK dapat mengembangkan potensinya
dengan optimal dan mampu meningkatkan kualitas kemandiriannya. Suasana tolong menolong
seperti yang dikemukakan di atas dapat diciptakan melalui suasana belajar dan kerjasama
yang silih asah, silih asih, dan silih asuh (saling mencerdaskan, saling mencinta, dan saling
tenggang rasa).

Filosofi Bhinneka Tunggal Ika mengajak kita untuk meyakini bahwa di dalam diri manusia
bersemayam potensi kemanusiaan yang bila dikembangkan melalui pendidikan yang baik dan
benar dapat berkembang tak terbatas.[1] Perlu diyakini pula bahwa potensi itu pun ada pada diri
setiap ABK. Karena, seperti halnya ras, suku, dan agama di tanah Indonesia, keterbatasan pada
ABK maupun keunggulan pada anak normal pada umumnya memiliki kedudukan yang sejajar.
Berdasarkan penjelasan di atas, jelas bahwa keterbatasan ABK tidak dapat dijadikan alasan untuk
menjadikan pendidikan bersifat segregatif dan eksklusif, sehingga pendidikan untuk ABK harus
dipisahkan dengan anak normal pada umumnya. Karena dengan adanya pendidikan inklusif yang
terintegrasi, peserta didik dapat saling bergaul dan memungkinkan terjadinya saling belajar tentang
perilaku dan pengalaman masing-masing.

Sebagai bangsa beragama, penyelenggaraan pendidikan juga tidak dapat dipisahkan dengan nilai
keagamaan. Terlebih, interaksi yang terjadi dalam lingkup pendidikan tidak dapat dipisahkan dari
hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Keberadaan manusia sebagai makhuk sosial ini
disinggung dalam Al-Quran yang mengatakan bahwa Tuhan menciptakan manusia berbeda satu
sama lain agar dapat saling berhubungan dalam rangka saling membutuhkan.[2]

Keberadaan peserta didik yang membutuhkan layanan khusus adalah manifestasi hakikat manusia
sebagai individu yang harus berinteraksi dengan tujuan berbuat kebaikan. Kembali pada kaliamat
di awal paragraf ini, dapat kita temukan bahwa terdapat kesamaan antara pandangan filosofis dan
agama tentang hakikat manusia. Hal ini dikarenakan keduanya merujuk pada kebenaran yang
hakiki, yakni Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian, adanya titik temu antara landasan filosofis
dan landasan religi diharapkan dapat menjadi acuan dalam pemanfaat penyelenggaraan
pendidikan, khususnya pendidikan inklusif.

Landasan Yuridis

Berdasarkan kesepakatan UNESCO di Salamanca, Spanyol, pada 1944, ditetapkan bahwa


pendidikan di seluruh dunia harus dilaksanakan secara kekhususan atau inklusif. Dalam
kesepakatan tersebut dikatakan bahwa pendidikan adalah hak untuk semua (education for all).
Dengan ini dapat kita simpulkan bahwa hak individu dalam menerima pendidikan tidak dibatasi
oleh perbedaan warna kulit, ras, suku, dan agama. Pun itu hak pendidikan untuk diterima oleh
individu berkebutuhan khusus maupun individu yang normal pada umumnya.
Dengan diselenggarakannya pelayanan pendidikan dengan kekhususan, pendidikan bagi individu
berkebutuhan khusus dapat diintegrasikan untuk keperluan pendidikan (education), bukan untuk
keperluan pembelajaran (instruction). Melalui cara inilah, para individu berkebutuhan khusus
dapat dipergaulkan dengan individu normal pada umumnya.

Bertolak belakang dengan kesepakatan UNESCO 1994 mengenai keharusan pelaksanaan


pendidikan dengan kekhususan, pada Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1991 yang belum
direvisi, terdapat berbagai jenis layanan Pendidikan Luar Biasa (PLB) yang segregatif. Namun
pada 2011, Direktur PLB berinisiatif untuk memulai pelaksanaan pendidikan dengan kekhususan.
Setelah itu, menyusullah Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi untuk mengikuti dan mendukung
inisiatif Direktur PLB, terutama dalam penyelenggaraan LPTK.

Dikarenakan keterlambatan perubahan perundang-undangan pendidikan di Indonesia,


perkembangan pendidikan di Indonesia pun berjalan dengan lambat. Dengan demikian,
kesepakatan UNESCO 1994 tentang keharusan pelaksanaan pendidikan dengan kekhususan dapat
mendukung landasan filosofis, religi, dan keilmuan diharapkan dapat mengubah arah pendidikan
yang segregatif menjadi inklusif (dengan kekhususan).
Berdasarkan landasan-landasan di atas, pendidikan inklusif adalah pendidikan yang didasari oleh
semangat merangkul semua kalangan peserta didik. Dengan kata lain, pendidikan inklusif
mengedepankan sikap menghargai setiap individu peserta didik untuk mendapatkan layanan
pendidikan yang sesuai dengan setiap karakter, kemampuan, dan keterbatasannya. Sehingga,
pendidikan inklusif menjadi jembatan dari perbedaan yang ada di antara setiap individu peserta
didik.

Stainback (1980) mengemukakan bahwa sekolah penyelenggara pendidikan inklusif adalah


sekolah yang menampung semua murid di kelas yang sama. Sekolah ini menyediakan program
pendidikan yang layak, menantang, tetapi disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan setiap
murid maupun bantuan dan dukungan yang dapat diberikan oleh para guru, agar anak-anak
berhasil.

Sebagai penutup artikel ini, dapat dipahami bahwa pendidikan inklusif adalah suatu sistem yang
mengedepankan pemberian perhatian menyeluruh kepada peserta didik, baik dari segi fasilitas,
proses belajar, konten pembelajaran, dan cara guru mendidik sesuai dengan kapasitas,
kemampuan, dan ketidakmampuan yang dimiliki peserta didik. Dengan demikian, secara
sederhana pendidikan inklusif dapat dikatakan sebagai program pendidikan berkeadilan, bukan
penyamarataan.(Nir)

2. Definisi Pendidikan Inklusif


1. Pendidikan Inklusif adalah sistem pelayanan pendidikan yang mensyaratkan anak
berkebutuhan khusus belajar di sekolah-sekolah terdekat di kelas biasa bersama teman-
teman seusianya (Sapon – Shevin dalam 0 Neil 1994 ).

2. Sekolah penyelenggara pendidikan inklusif adalah sekolah yang menampung semua


murid di kelas yang sama. Sekolah ini menyediakan program pendidikan yang layak,
menantang, tetapi disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan setiap murid maupun
bantuan dan dukugan yang dapat diberikan oleh para guru,agar anak-anak berhasil
(Stainback, 1980).

Pendidikan Inklusif adalah sistem layanan pendidikan yang mengatur agar difabel dapat
dilayani di sekolah terdekat, di kelas reguler bersama-sama teman seusianya. Tanpa harus
dikhususkan kelasnya, siswa dapat belajar bersama dengan aksesibilitas yang mendukung
untuk semua siswa tanpa terkecuali difabel.[1] Inklusif dapat berarti bahwa tujuan
pendidikan bagi peserta lembaga pendidikan baik itu dari sekolah dasar sampai tingkat
universitas yang memiliki hambatan adalah keterlibatan yang sebenarnya dari setiap siswa
dalam kehidupan sekolah yang menyeluruh. Pendidikan inklusif dapat berarti penerimaan
siswa atau mahasiswa yang memiliki hambatan ke dalam kurikulum, lingkungan, interaksi
sosial dan konsep diri (visi-misi) sekolah atau universitas.
Pendidikan inklusif bertujuan untuk menyatukan atau menggabungkan pendidikan reguler
dengan pendidikan khusus ke dalam satu sistem lembaga pendidikan yang dipersatukan
untuk mempersatukan kebutuhan semua. Pendidikan inklusif bukan sekedar metode atau
pendekatan pendidikan melainkan suatu bentuk implementasi filosofi yang mengakui
kebhinekaan antar manusia yang mengemban misi tunggal untuk membangun kehidupan
bersama yang lebih baik. Tujuan pendidikan inklusif adalah untuk menyatukan hak semua
orang tanpa terkecuali dalam memperoleh pendidikan.

3. Konsep Dasar Pendidikan Inklusif


1. Pengertian
Pendidikan inklusif adalah sistem layanan pendidikan yang mensyaratkan anak
berkebutuhan khusus belajar di sekolah-sekolah terdekat di kelas biasa bersama teman-
teman seusianya (Sapon-Shevin dalam O’Neil, 1994) Sekolah penyelenggara pendidikan
inklusif adalah sekolah yang menampung semua murid di kelas yang sama. Sekolah ini
menyediakan program pendidikan yang layak, menantang, tetapi disesuaikan dengan
kemampuan dan kebutuhan setiap murid maupun bantuan dan dukungan yang dapat
diberikan oleh para guru, agar anak-anak berhasil (Stainback,1980)
Berdasarkan batasan tersebut pendidikan inklusif dimaksudkan sebagai sistem layanan
pendidikan yang mengikutsertakan anak berkebutuhan khusus belajar bersama dengan
anak sebayanya di sekolah reguler yang terdekat dengan tempat tinggalnya. Semangat
penyelenggaraan pendidikan inklusif adalah memberikan kesempatan atau akses yang
seluas-luasnya kepada semua anak untuk memperoleh pendidikan yang bermutu dan sesuai
dengan kebutuhan individu peserta didik tanpa diskriminasi.
Penyelenggaraan pendidikan inklusif menuntut pihak sekolah melakukan penyesuaian baik
dari segi kurikulum, sarana parasarana pendidikan, maupun sistem pembelajaran yang
disesuaikan dengan kebutuhan individu peserta didik. Untuk itu proses identifikasi dan
asesmen yang akurat perlu dilakukan oleh tenaga yang terlatih dan/atau profesional di
bidangnya untuk dapat menyusun program pendidikan yang sesuai dan obyektif.
2. Pendidikan Segregasi, Pendidikan Terpadu dan Pendidikan Inklusif
Pendidikan inklusif hanya merupakan salah satu model penyelenggaraan pendidikan bagi
anak berkebutuhan khusus. Model yang lain diantaranya adalah sekolah segregasi dan
pendidikan terpadu. Perbedaan ketiga model tersebut dapat diringkas sebagai berikut.
1. Sekolah segregasi
Sekolah segregasi adalah sekolah yang memisahkan anak berkebutuhan khusus dari sistem
persekolahan reguler. Di Indonesia bentuk sekolah segregasi ini berupa satuan pendidikan
khusus atau Sekolah Luar Biasa sesuai dengan jenis kelainan peserta didik. Seperti SLB/A
(untuk anak tunanetra), SLB/B (untuk anak tunarungu), SLB/C (untuk anak tunagrahita),
SLB/D (untuk anak tunadaksa), SLB/E (untuk anak tunalaras), dan lain-lain. Satuan
pendidikan khusus (SLB) terdiri atas jenjang TKLB, SDLB, SMPLB dan SMALB. Sebagai
satuan pendidikan khusus, maka sistem pendidikan yang digunakan terpisah sama sekali
dari sistem pendidikan di sekolah reguler, baik kurikulum, tenaga pendidik dan
kependidikan, sarana prasarana, sampai pada sistem pembelajaran dan evaluasinya.
Kelemahan dari sekolah segregasi ini antara lain aspek perkembangan emosi dan sosial
anak kurang luas karena lingkungan pergaulan yang terbatas.
1. Sekolah terpadu
Sekolah terpadu adalah sekolah yang memberikan kesempatan kepada peserta didik
berkebutuhan khusus untuk mengikuti pendidikan di sekolah reguler tanpa adanya
perlakuan khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan individual anak. Sekolah tetap
menggunakan kurikulum, sarana prasarana, tenaga pendidik dan kependidikan, serta sistem
pembelajaran reguler untuk semua peserta didik. Jika ada peserta didik tertentu mengalami
kesulitan dalam mengikuti pendidikan, maka konsekuensinya peserta didik itu sendiri yang
harus menyesuaikan dengan sistem yang dituntut di sekolah reguler. Dengan kata lain
pendidikan terpadu menuntut anak yang harus menyesuaikan dengan sistem yang
dipersyaratkan sekolah reguler. Kelemahan dari pendidikan melalui sekolah terpadu ini
antara lain, anak berkebutuhan khusus tidak mendapatkan pelayanan sesuai dengan
kebutuhan individual anak. Sedangkan keuntungannya adalah anak berkebutuhan khusus
dapat bergaul di lingkungan sosial yang luas dan wajar.
1. Sekolah inklusif
Sekolah inklusif merupakan perkembangan baru dari pendidikan terpadu. Pada sekolah
inklusif setiap anak sesuai dengan kebutuhan khususnya, semua diusahakan dapat dilayani
secara optimal dengan melakukan berbagai modifikasi dan/atau penyesuaian, mulai dari
kurikulum, sarana prasarana, tenaga pendidik dan kependidikan, sistem pembelajaran
sampai pada sistem penilaiannya. Dengan kata lain pendidikan inklusif mensyaratkan
pihak sekolah yang harus menyesuaikan dengan tuntutan kebutuhan individu peserta didik,
bukan peserta didik yang menyesuaikan dengan sistem persekolahan. Keuntungan dari
pendidikan inklusif anak berkebutuhan khusus maupun anak biasa dapat saling berinteraksi
secara wajar sesuai dengan tuntutan kehidupan sehari-hari di masyarakat, dan kebutuhan
pendidikannya dapat terpenuhi sesuai potensinya masing-masing. Konsekuensi
penyelenggaraan pendidikan inklusif adalah pihak sekolah dituntut melakukaan berbagai
perubahan, mulai cara pandang, sikap, sampai pada proses pendidikan yang berorientasi
pada kebutuhan individual tanpa diskriminasi.
Pengertian Pendidikan Inklusif

Inklusif diambil dari kata dalam bahasa inggris yakni “to include” atau “inclusion” atau
“inclusive” yang berarti mengajak masuk atau mengikutsertakan. Dalam pengertian
“inklusif” yang diajak masuk atau yang diikutsertakan adalah menghargai dan merangkul
setiap individu dengan perbedaan latar belakang, jenis kelamin, etnik, usia, agama, bahasa,
budaya, karakteristik, status, cara/pola hidup, kondisi fisik, kemampuan dan kondisi beda
lainnya (UNESCO: 2001, 17).
Pendidikan inklusif adalah pendidikan yang terbuka dan ramah terhadap pembelajaran
dengan mengedepankan tindakan menghargai dan merangkul perbedaan. Untuk itu,
pendidikan inklusif dipahami sebagai sebuah pendekatan yang berusaha mentransformasi
sistem pendidikan dengan meniadakan hambatan yang dapat menghalangi setiap individu
siswa untuk berpartisipasi penuh dalam pendidikan yang dilengkapi dengan layanan
pendukung. “Inklusif” merupakan perubahan praktis dan sederhana yang memberi peluang
kepada setiap individu dengan setiap perbedaannya untuk bisa berhasil dalam belajar.
Perubahan ini tidak hanya menguntungkan individu yang sering tersisihkan seperti anak
berkebutuhan khusus, tetapi semua anak dan orang tuanya, semua guru dan administrator
sekolah, dan setiap anggota masyarakat dan lingkungannya juga mendapatkan keuntungan
dari setiap perubahan yang dilakukan.

B. Tujuan Pendidikan Inklusif

1. Memastikan bahwa semua anak memiliki akses terhadap pendidikan yang terjangkau,
efektif,
relevan dan tepat dalam wilayah tempat tinggalnya
2. Memastikan semua pihak untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif agar
seluruh
terlibat dalam proses pembelajaran.
Jadi, inklusi dalam pendidikan merupakan proses peningkatan partisipasi siswa dan
mengurangi
keterpisahannya dari budaya, kurikulum dan komunitas sekolah setempat.

C. Aspek yang Terlibat

1. Restrukturisasi budaya, kebijakan dan praktik untuk merespon keberagaman siswa


dalam lingkungannya;
2. Pembelajaran dan partisipasi SEMUA anak yang rentan akan tekanan eksklusi (bukan
hanya siswa penyandang cacat);
3. Meningkatkan mutu sekolah untuk stafnya maupun siswanya;
4. Mengatasi hambatan akses dan partisipasinya;
5. Hak siswa untuk dididik di dalam lingkungan masyarakatnya;
6. Memandang keberagaman sebagai kekayaan sumber, bukan sebagai masalah;
7. Saling memelihara hubungan antara sekolah dan masyarakat;
8. Memandang pendidikan inklusif sebagai satu aspek dari masyarakat inklusif.

D. Prinsip Pendidikan Inklusif

1. Terbuka, adil, tanpa diskriminasi


2. Peka terhadap setiap perbedaan
3. Relevan dan akomodatif terhadap cara belajar
4. Berpusat pada kebutuhan dan keunikan setiap individu peserta didik
5. Inovatif dan fleksibel
6. Kerja sama dan saling mengupayakan bantuan
7. Kecakapan hidup yang mengefektifkan potensi individu peserta didik dengan potensi
lingkungan
E. Prinsip-Prinsip Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif

Inklusi merupakan suatu proses yang berkembang dari waktu ke waktu dan keberhasilan
inklusi tergantung pada persiapan dan penempatan dasar-dasar inklusi itu sendiri. Apabila
inklusi ingin berhasil tentunya sekolah harus menggunakan pendekatan yang berorientasi
kepada kebutuhan siswa. Pada dasarnya, inklusi sosial dalam konteks pendidikan adalah
menghargai dan merangkul setiap individu dengan perbedaan latar belakang, jenis kelamin,
etnik, usia, agama, bahasa, budaya, karakteristik, status, cara/pola hidup, kondisi fisik,
kemampuan dan kondisi beda lainnya (UNESCO: 2001, 17). Sekolah merupakan tempat
di mana semua siswa merupakan anggota yang utuh, memiliki perasaan terhubungkan
dengan teman-temannya, memiliki akses terhadap kurikulum pendidikan umum yang
sesuai dan bermakna, serta memperoleh dukungan untuk keberhasilannya.

Berikut adalah prinsip-prinsip penyelenggaraan pendidikan inklusif:


1. Pendidikan yang ramah
Lingkungan pembelajaran yang ramah berarti ramah terhadap peserta didik dan pendidik,
yaitu anak dan guru belajar bersama sebagai suatu komunitas belajar, menempatkan anak
sebagai pusat pembelajaran, mendorong partisipasi anak dalam belajar, dan guru memiliki
minat untuk memberikan layanan pendidikan yang terbaik.
2. Mengakomodasi kebutuhan
Mengakomodasi kebutuhan setiap peserta didik merupakan salah satu upaya meningkatkan
kualitas pendidikan. Oleh karenanya, diharapkan sekolah penyelenggara harus dapat
mengakomodasi kebutuhan setiap peserta didik dengan cara sebagai berikut:
a. Memerhatikan kondisi peserta didik, yaitu kemampuan dan kebutuhan yang berbeda-
beda serta gaya dan tingkat belajar yang berbeda.
b. Menggunakan kurikulum yang fleksibel.
c. Menggunakan metodologi pembelajaran bervariasi dan pengorganisasian kelas yang bisa
menyentuh pada semua anak dan menghargai perbedaan.
d. Memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar.
e. Melakukan kerja sama dengan berbagai pihak yang terkait.
3. Mengembangkan potensi peserta didik seoptimal mungkin

Sekolah inklusif berupaya memberikan pelayanan pendidikan seoptimal mungkin, agar


peserta didik yang memiliki hambatan dapat mengatasi masalahnya dan dapat mengikuti
proses pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya.

F. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif

Sekolah tentunya diharapkan mampu menyelenggarakan pendidikan inklusif. Keberhasilan


penyelenggaraan pendidikan inklusif di sekolah/madrasah dipengaruhi oleh beberapa hal,
di antaranya:

1. Aspek Rasional

Tidak Berhasil : Manfaat atau keuntungan dari penyelenggaraan inklusi belum


terkomunikasikan kepada seluruh pihak yang terlibat
Berhasil : Semua staf sekolah terlibat dalam pengembangan rasional
penyelenggaraan inklusi dan manfaat-manfaat penyelenggaraan inklusi bagi seluruh siswa
telah terkomunikasikan dengan jelas

2. Aspek Ruang Lingkup


Tidak Berhasil : Perubahan-perubahan yang dilakukan di awal terlalu ambisius, atau terlalu
luas, atau bahkan sangat terbatas
Berhasil : Sekolah memulai dengan hal yang kecil terlebih dahulu (satu atau dua
orang siswa) dan belajar dari kesalahan-kesalahan serta keberhasilannya sebelum
melangkah lebih jauh yang melibatkan siswa-siswa lainnya.

3. Aspek Kecepatan Bertindak


Tidak Berhasil : Perubahan yang dilakukan terlalu terburu-buru atau malahan terlalu
lambat sehingga memungkinkan adanya penurunan antusiasme dari pihak yang terlibat
Berhasil : Kecepatan implementasi inklusi bervariasi dari satu pengaturan (setting)
ke setting lainnya. Kolaborasi yang intens dengan pihak-pihak yang terlibat serta ulasan
secara berkala terhadap kecepatan perubahan akan membantu dalam menjamin
keberhasilan

4. Aspek Sumber Daya


Tidak Berhasil : Tidak tersedianya sumber daya yang tepat atau sumber daya ditempatkan
tidak sesuai dengan peruntukannya
Berhasil : Penyediaan sumber daya yang kuat akan membantu terbentuknya komitmen
dari pihak-pihak yang terlibat dalam mengimplementasikan inklusi. Selain itu, sekolah pun
harus dapat memanfaatkan sumber daya yang tersedia dengan sebaik-baiknya

5. Aspek Komitmen
Tidak Berhasil : Komitmen jangka panjang untuk terimplementasinya inklusi tidak dijaga
Berhasil : Kolaborasi di antara bagian-bagian yang terlibat membantu untuk tetap
terbentuknya komitmen jangka panjang. Ketika angggota terlibat dalam suatu tindakan,
maka mereka akan lebih merasa memiliki dan berkepentingan dengan kesuksesannya

6. Aspek Staf inti


Tidak Berhasil :Anggota staf yang dianggap penting bagi keberhasilan inklusi kurang
berkomitmen atau terlalu banyak tugas yang dipikul
Berhasil : Staf inti dianggap sebagai pemimpin dan motivator yang tugasnya menjamin
kolaborasi yang setara antaranggota dalam komunitas sekolah. Tetapi mereka bukan orang
yang paling bertanggung jawab terhadap keberhasilan implementasi inklusi dibanding
anggota lainnya

7. Aspek Orang tua


Tidak Berhasil : Orang tua tidak terlibat atau tidak berkolaborasi dengan sekolah dalam
menciptakan situasi yang inklusif
Berhasil : Orang tua dilibatkan sebagai pihak yang dapat memberikan kontribusi dan
diberikan dorongan sehingga pandangan, pengetahuan dan keterampilan yang mereka
miliki dapat dimanfaatkan dan dihargai

8. Aspek Kepemimpinan
Tidak Berhasil : Pemimpin sekolah terlalu mengontrol atau tidak mendorong stafnya untuk
mencapai tujuan-tujuan yang lebih tinggi
Berhasil : Pimpinan sekolah memfasilitasi kolaborasi tim kerja, memberi dorongan
anggota secara individual dan menjamin bahwa ide-ide mereka teraktualisasi

9. Aspek Hubungan dengan pihak lain


Tidak Berhasil : Inklusi tidak melibatkan pihak-pihak lain
Berhasil : Inklusi dipandang sebagai bagian yang terintegrasi dari pengembangan sekolah
secara umum dan hubungan dengan berbagai pihak sangatlah penting

A. Pengertian Pendidikan Inklusif


Pendidikan inklusif adalah pendidikan yang terbuka dan ramah terhadap pembelajaran
dengan mengedepankan tindakan menghargai dan merangkul perbedaan. Untuk itu,
pendidikan inklusif dipahami sebagai sebuah pendekatan yang berusaha mentransformasi
sistem pendidikan dengan meniadakan hambatan yang dapat menghalangi setiap individu
siswa untuk berpartisipasi penuh dalam pendidikan yang dilengkapi dengan layanan
pendukung.
B. Tujuan Pendidikan Inklusif
Tujuan pendidikan inklusif adalah:
1. Memastikan bahwa semua anak memiliki akses terhadap pendidikan yang terjangkau,
efektif, relevan dan tepat dalam wilayah tempat tinggalnya
2. Memastikan semua pihak untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif agar
seluruh anak terlibat dalam proses pembelajaran. Jadi, inklusif dalam pendidikan
merupakan proses peningkatan partisipasi siswa dan mengurangi keterpisahannya dari
budaya, kurikulum dan komunitas sekolah setempat.
C. Prinsip Pendidikan Inklusif
1. Terbuka, adil, tanpa diskriminasi;
2. Peka terhadap setiap perbedaan;
3. Relevan dan akomodatif terhadap cara belajar;
4. Berpusat pada kebutuhan dan keunikan setiap individu peserta didik;
5. Inovatif dan fleksibel;
6. Kerja sama dan saling mengupayakan bantuan;
7. Kecakapan hidup yang mengefektifkan potensi individu peserta didik dengan potensi
lingkungan;
D. Prinsip-Prinsip Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif.
1. Pendidikan yang ramah. Lingkungan pembelajaran yang ramah berarti ramah terhadap
peserta didik dan pendidik, yaitu anak dan guru belajar bersama sebagai suatu komunitas
belajar, menempatkan anak sebagai pusat pembelajaran, mendorong partisipasi anak
dalam belajar, dan guru memiliki minat untuk memberikan layanan pendidikan yang
terbaik.
2. Mengakomodasi kebutuhan. Mengakomodasi kebutuhan setiap peserta didik
merupakan salah satu upaya meningkatkan kualitas pendidikan. Oleh karenanya,
diharapkan sekolah penyelenggara harus dapat mengakomodasi kebutuhan setiap peserta
didik dengan cara sebagai berikut: (a) memerhatikan kondisi peserta didik, yaitu
kemampuan dan kebutuhan yang berbeda-beda serta gaya dan tingkat belajar yang
berbeda; (b) menggunakan kurikulum yang fleksibel; (c) menggunakan metodologi
pembelajaran bervariasi dan pengorganisasian kelas yang bisa menyentuh pada semua
anak dan menghargai perbedaan; (d) memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber
belajar; dan (e) melakukan kerja sama dengan berbagai pihak yang terkait.
3. Mengembangkan potensi peserta didik seoptimal mungkin. Sekolah Inklusif
berupaya memberikan pelayanan pendidikan seoptimal mungkin, agar peserta didik yang
memiliki hambatan dapat mengatasi masalahnya dan dapat mengikuti proses
pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya.
========
Pengertian
Hambatan utama anak berkelainan untuk maju termasuk dalam mengakses pendidikan
setinggi mungkin bukan pada kecacatannya, tetapi pada penerimaan sosial masyarakat.
Selama ada alat dan penanganan khusus, maka mereka dapat mengatasi hambatan kelainan
itu. Justru yang sulit dihadapi adalah hambatan sosial. Bahkan, hambatan dalam diri anak
yang berkelainan itupun umumnya juga disebabkan pandangan sosial yang negatif
terhadap dirinya. Untuk itulah, pendidikan yang terselenggara hendaknya memberikan
jaminan bahwa setiap anak akan mendapatkan pelayanan untuk mengembangkan
potensinya secara individual.
Dalam Undang Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 dan Undang Undang Nomor 20 tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa setiap warganegara
mempunyai kesempatan yang sama memperoleh pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa
anak berkelainan berhak pula memperoleh kesempatan yang sama dengan anak lainnya
(anak normal) dalam pendidikan.
Pendidikan inklusif dalam beberapa tahun terakhir ini telah menjadi isu yang sangat
menarik dalam sistem pendidikan nasional. Hal ini dikarenakan, pendidikan inklusif
memberikan perhatian pada pengaturan para siswa yang memiliki kelaian atau kebutuhan
khusus untuk bisa mendapatkan pendidikan pada sekolah-sekolah umum atau regular
sebagai kelas pendidikan khusus part time, pendidikan khusus full time, atau sekolah luar
biasa (segregasi). D.K. Lipsky dan A.D. gartner (Dalam Abdul Salim Choiri, dkk, 2009,
85) mengatakan: Inclusive education as: providing to all students, inclualing those with
significant disabilities, equitable opportunities to receive effective educational services,
with the needed suplementaland support service, in age-appropriate classes in their
neighborhood schools, in order to prepare students for productive lives as full members of
society.
Inklusi adalah suatu sistem ideologi dimana secara bersama-sama tiap-tiap warga sekolah
yaitu masyarakat, kepala sekolah, guru, pengurus yayasan, petugas administrasi sekolah,
para siswa dan orang tua menyadari tanggung jawab bersama dalam mendidik semua siswa
sedemikian sehingga mereka berkembang secara optimal sesuai potnsi mereka. Walaupun
dalam pendidikan inklusif berarti menempatkan siswa berkelainan secara fisik dalam kelas
atau sekolah regular, inklusi bukanlah sekedar memasukkan anak berkelaian sebanyak
mungkin dalam lingkungan belajar siswa normal. Inklusi merupakan suatu sistem yang
hanya dapat diterapkan ketika semua warga sekolah memahami dan mengadopsinya.
Inklusi menyangkut juga hal-hal bagaimana orang dewasa dan teman sekelas yang normal
menyambut semua siswa dalam kelas dan mngenali bahwa keanekaragaman siswa tidak
mengharuskan penggunaan pendekatan tunggal untuk seluruh siswa. Dalam
perkembangannya, inklusi juga termasuk para siswa yang dikaruniai keberbakatan, mereka
yang hidup terpinggirkan, memiliki kecatatan, dan kemampuan belajarnya berada di bawah
rata-rata kelompoknya.
Melalui pendidikan inklusif, anak berkelaian dididik bersama-sama anak lainnya (normal)
untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya. Hal ini dilandasi oleh kenyataan bahwa
di masyarakat terdapat anak normal dan anak berkelainan (berkelainan) yang tidak dapat
dipisahkan sebagai suatu komunitas. Oleh karena itu, anak berkelainan perlu diberi
kesempatan dan peluang yang sama dengan anak normal untuk mendapatkan pelayanan
pendidikan di sekolah (SD) terdekat. Sudah barang tentu SD terdekat itu perlu dipersiapkan
segala sesuatunya.
Bergabungnya anak-anak berkelainan dalam lingkungan belajar bersama anak-anak
normal dapat dilakukan dengan 3 model, yaitu: mainstream, integrative, dan inklusi.
Mainstream adalah suatu sistem pendidikan yang menempatkan anak-anak cacat di
sekolah-sekolah umum, mengikuti kurikulum akademis yang berlaku, dan guru juga tidak
harus melakukan adaptasi kurikulum. Mainstream kebanyakan diselenggarakan untuk
anak-anak yang sakit yang tidak berdampak pada kemampuan kognitif, seperti epilepsy,
asma dan anak-anak dengan kecacatan sensori (dengan fasilitas peralatan, seperti alat bantu
dan buku-buku Braille) dan anak tunadaksa.
Integrasi berarti menempatkan siswa yang berkelainan dalam kelas anak-anak normal
dimana anak-anak berkelainan hanya mengikuti pelajaran-pelajaran yang dapat mereka
ikuti dari gurunya. Sedangkan untuk mata pelajaran akademis lainnya, anak-anak
berkelainan menerima pelajaran pengganti di kelas berbeda yang terpisah dari teman-
teman mereka. Penempatan terintegrasi tidak sama dengan integrasi pengajaran dan
integrasi sosial, karena integrasi bergantung pada dukungan yang diberikan sekolah dan
dalam komunitas yang lebih luas.
Sedangkan inklusi mempunyai pengertian yang beragam. Stainback (Dalam Abdul Salim
Choiri, dkk, 2009, 87) mengemukakan bahwa sekolah inklusi adalah sekolah yang
menampung semua siswa di kelas yang sama. sekolah ini menyediakan program
pendidikan yang layak, menantang, tetapi sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan setiap
siswa. Lebih dari itu, sekolah inklusi juga merupakan tempat setiap anak dapat diterima,
menjadi bagian dari kelas tersebut, dan saling membantu dengan guru dan teman
sebayanya, maupun anggota masyarakat lain agar kebutuhan individualnya dapat
terpenuhi. Selanjutnya, Staub dan Peck (Dalam Abdul Salim Choiri, dkk, 2009, 87)
mengemukakan bahwa pendidikan inklusif adalah penempatan anak berkelainan tingkat
ringan, sedang, dan berat secara penuh di kelas regular. Hal ini menunjukkan bahwa bahwa
kelas regular merupakan tempat belajar yang relevan bagi anak berkelainan, apapun jenis
kelainnya dan bagaimanapun gradasinya.
Sementara itu, Sapon-Shevin (Dalam Abdul Salim Choiri, dkk, 2009, 87) menyatakan
bahwa pendidikan inklusif sebagai sistem layanan pendidikan yang mempersyaratkan agar
semua anak berkelainan dilayani di seolah-sekolah terdekat, di kelas regular bersama-sama
teman seusianya. Oleh karena itu, ditekankan adanya restrukturisasi sekolah, sehingga
menjadi komunitas yang mendukung pemenuhan kebutuhan khusus setiap anak, artinya
kaya dalam sumber belajar dan mendapat dukungan dari semua pihak, yaitu para siswa,
guru, orang tua, dan masyarakat sekitarnya.
Melalui pendidikan inklusif, anak berkelainan dididik bersama-sama anak lainnya (normal)
untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya (Freiberg (Dalam Abdul Salim Choiri,
dkk, 2009, 87)). Hal ini dilandasi oleh kenyataan bahwa di dalam masyarakat terdapat anak
normal dan anak berkelainan yang tidak dapat dipisahkan sebagai suatu komunitas.
Menurut Permendiknas No. 70 tahun 2009 pendidikan inklusif didefinisikan sebagai sistem
penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik
yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan atau bakat istimewa untuk
mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam lingkungan pendidikan secara bersama-
sama dengan peserta didik pada umumnya.
Dalam pelaksanaannya, pendidikan inklusif bertujuan untuk memberikan kesempatan yang
seluas-luasnya dan mewujudkan penyelenggaran pendidikan yang menghargai
keanekaragaman, dan tidak diskriminatif kepada semua peserta didik yang memiliki
kelainan fisik, emosional, mental, dan sosial, atau memiliki potensi kecerdasan dan atau
bakat istimewa untuk memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai kebutuhan dan
kemampuannya.
Dengan demikian, inklusi adalah sebuah filosofi pendidikan dan sosial. Dalam inklusi,
semua orang adalah bagian yang berharga dalam kebersamaan apapun perbedaan mereka.
Dalam pendidikan ini berarti bahwa semua anak, terlepas dari kemampuan maupun
ketidakmampuan mereka, latar belakang sosial-ekonomi, suku, latar belakang budaya atau
bahasa, agama atau jenis kelamin, menyatu dalam komunitas sekolah yang sama.
Pendidikan inklusif berkenaan dengan aktivitas memberikan respon yang sesuai kepada
adanya perbedaan dari kebutuhan belajar baik. Ia merupakan pendekatan yang
memperhatikan bagaimana mentransformasikan sistem pendidikan sehingga mampu
merespon keragaman siswa dan memungkinkan guru dan siswa untuk merasa nyaman
dengan keragaman dan melihatnya lebih sebagai suatu tantangan dan pengayaan dalam
lingkungan belajar daripada suatu problem.
Lebih lanjut, inklusi adalah cara berpikir dan bertindak yang memungkinkan setiap
individu merasakan diterima dan dihargai. Prinsip inklusi mendorong setiap unsur yang
terlibat di dalam proses pembelajaran mengusahakan lingkungan belajar dimana semua
siswa dapat belajar secara efektif bersama-sama. Dengan demikian, tidak ada siswa yang
akan ditolak atau dikeluarkan dari sekolahnya sebab tidak mampu memenuhi standar
akademis yang ditetapkan. Walaupun, pada sisi yang lain beberapa orang tua merasa
khawatir kalau anak-anak mereka yang memiliki kecacatan tersebut akan menjadi bahan
ejekan atau digoda orang-orang di sekitarnya.
3. Implikasi manajerial pendidikan inklusif
Sekolah umum/reguler yang menerapkan program pendidikan inklusif akan berimplikasi
secara manajerial di sekolah tersebut. Diantaranya adalah:
1. Sekolah reguler menyediakan kondisi kelas yang hangat, ramah, menerima
keanekaragaman dan menghargai perbedaan.
2. Sekolah reguler harus siap mengelola kelas yang heterogen dengan menerapkan kurikulum
dan pembelajaran yang bersifat individual.
3. Guru di kelas umum/reguler harus menerapkan pembelajaran yang interaktif.
4. Guru pada sekolah penyelenggara pendidikan inklusif dituntut melakukan kolaborasi
dengan profesi atau sumberdaya lain dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
5. Guru pada sekolah penyelenggara pendidikan inklusif dituntut melibatkan orangtua secara
bermakna dalam proses pendidikan.

4. Sejarah Pendidikan Inklusif


Sejarah perkembangan pendidikan inklusif di dunia pada mulanya diprakarsai dan diawali
dari negara-negara Scandinavia (Denmark, Norwegia, Swedia). Di Amerika Serikat pada
tahun1960-an oleh Presiden Kennedy mengirimkan pakar-pakar Pendidikan Luar Biasa ke
Scandinavia untuk mempelajari mainstreaming dan Least restrictive environment, yang
ternyata cocok untuk diterapkan di Amerika Serikat. Selanjutnya di Inggris dalam Ed.Act.
1991 mulai memperkenalkan adanya konsep pendidikan inklusif dengan ditandai adanya
pergeseran model pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus dari segregatif ke integratif.

Tuntutan penyelenggaraan pendidikan inklusif di dunia semakin nyata terutama sejak


diadakannya konvensi dunia tentang hak anak pada tahun 1989 dan konferensi dunia
tentang pendidikan tahun 1991 di Bangkok yang menghasilkan deklarasi ’education for
all’. Implikasi dari statemen ini mengikat bagi semua anggota konferensi agar semua anak
tanpa kecuali (termasuk anak berkebutuhan khusus) mendapatkan layanana pendidikan
secara memadai.
Sebagai tindak lanjut deklarasi Bangkok, pada tahun 1994 diselenggarakan konvensi
pendidikan di Salamanca Spanyol yang mencetuskan perlunya pendidikan inklusif yang
selanjutnya dikenal dengan ’the Salamanca statement on inclusive education”.

Sejalan dengan kecenderungan tuntutan perkembangan dunia tentang pendidikan inklusif,


Indonesia pada tahun 2004 menyelenggarakan konvensi nasional dengan menghasilkan
Deklarasi Bandung dengan komitmen Indonesia menuju pendidikan inklusif.

Untuk memperjuangkan hak-hak anak dengan hambatan belajar, pada tahun 2005 diadakan
simposium internasional di Bukittinggi dengan menghasilkan Rekomendasi Bukittinggi
yang isinya antara lain menekankan perlunya terus dikembangkan program pendidikan
inklusif sebagai salah satu cara menjamin bahwa semua anak benar-benar memperoleh
pendidikan dan pemeliharaan yang berkualitas dan layak.

Berdasarkan perkembangan sejarah pendidikan inklusif dunia tersebut, maka Pemerintah


Republik Indonesia sejak awal tahun 2000 mengembangkan program pendidikan inklusif.
Program ini merupakan kelanjutan program pendidikan terpadu yang sesungguhnya pernah
diluncurkan di Indonesia pada tahun 1980-an, tetapi kemudian kurang berkembang, dan
baru mulai tahun 2000 dimunculkan kembali dengan mengikuti kecenderungan dunia,
menggunakan konsep pendidikan inklusif.
5. Perkembangan Pendidikan Inklusif di dunia
Perkembangan SLB
• Tahun 1770 : SLB pertama untuk tunarungu di Paris didirikan oleh Charles- Michel
de l’Epee
• Tahun 1784 : SLB pertama untuk tunanetra di Paris didirikan oleh Valentin Hauy
• Pertengahan abad ke-19 : SLB untuk tunagrahita di Eropa dan Amerika
dikembangkan oleh Edward Seguin
• Tahun 1960-an : SLB telah didirikan di (semua) negara di dunia dengan model
serupa: eksklusif

Perkembangan Pendidikan Inklusif


Tahun Keterangan 1960-an Pendidikan integrasi (terutama bagi tunanetra) mulai
dipraktekkan di beberapa negara. Tahun 1980-an Istilah “inclusive education”
diperkenalkan dan dipraktekkan di Canada dan berkembang ke AS dan negara-negara lain
1994 Istilah pendidikan inklusif pertama kali muncul dalam dokumen kebijakan
internasional: The Salamanca Statement, The World Conference on Special Needs
Education

6. Perkembangan Pendidikan Inklusif di Indonesia


SLB
•1901: Dr. Westhoff mendirikan Blinden Instituut di Bandung (sekarang Wyata Guna dan
SLB/A Bandung.
•1927: SLB pertama untuk tunagrahita didirikan di Bandung.
•1930: SLB pertama untuk tunarungu didirikan di Bandung.
•2002: Terdapat 1118 SLB di Indonesia, untuk berbagai kategori kecacatan, dengan 48522
siswa (= ±7,5% populasi ABK usia sekolah.

Pendidikan Inklusif
•1960-an: Integrasi siswa tunanetra di sekolah menengah umum dimulai atas inisiatif
individual.
•1978-1986: Proyek Pendidikan Terpadu bagi anak tunanetra dengan bantuan teknis HKI.
•1999: Pemerintah memperkenalkan gagasan pendidikan inklusif dengan bantuan teknis
dari Universitas Oslo, melalui seminar dan lokakarya.
•2002: Rintisan sekolah inklusif di beberapa kota.
7. Landasan Pendidikan Inklusif
1. Landasan Filosofis
Secara filosofis, penyelenggaraan pendidikan inklusif dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang berbudaya dengan lambang negara Burung Garuda
yang berarti ’bhineka tunggal ika’. Keragaman dalam etnik, dialek, adat istiadat,
keyakinan, tradisi, dan budaya merupakan kekayaan bangsa yang tetap menjunjung tinggi
persatuan dan kesatuan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
2. Pandangan Agama (khususnya Islam) antara lain ditegaskan bahwa : (1) manusia
dilahirkan dalam keadaan suci, (2) kemuliaan seseorang di hadapan Tuhan (Allah) bukan
karena fisik tetapi taqwanya, (3) Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum
itu sendiri (4) manusia diciptakan berbeda-beda untuk saling silaturahmi (‘inklusif’).
3. Pandangan universal Hak azasi manusia, menyatakan bahwa setiap manusia mempunyai
hak untuk hidup layak, hak pendidikan, hak kesehatan, hak pekerjaan.
2. Landasan Yuridis
1. UUD 1945 (Amandemen) Ps. 31: (1) berbunyi ‘Setiap warga negara berhak mendapat
pendidikan. Ayat (2) ’Setiaap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan
pemerintah wajib membiayainya’.
2. UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Ps. 48 ‘Pemerintah wajib
menyelenggarakan pendidikan dasar minimal 9 (sembilan) tahun untuk semua anak. Ps. 49
’Negara, Pemerintah, Keluarga, dan Orangtua wajib memberikan kesempatan yang seluas-
luasnya kepada anak untuk memperoleh pendidikan’.
3. UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Ps. 5 ayat (1) ‘Setiap warga
negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu’. Ayat (2):
Warganegara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual dan/atau sosial
berhak memperoleh pendidikan khusus. Ayat (3) ‘Warga negara di daerah terpencil atau
terbelakang serta masyarakat adat yang terpencil berhak memperoleh pendidikan layanan
khusus’. Ayat (4) ‘Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa
berhak memperoleh pendidikan khusus’. Pasal 11 ayat (1) dan (2) ‘Pemerintah dan
pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin
terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi’.
‘Pemerintah dan pemerintah daerah wajib menjamin tersedianya dana guna
terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan
lima belas tahun’. Pasal 12 ayat (1) ‘Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan
berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat dan
kemampuannya (1.b). Setiap peserta didik berhak pindah ke program pendidikan pada jalur
dan satuan pendidikan lain yang setara (1.e). Pasal 32 ayat (1) ‘Pendidikan khusus
merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam
mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan/atau
memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa’. Ayat (2) ‘Pendidikan layanan khusus
merupakan pendidikan bagi peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang, masyarakat
adat terpencil, dan/atau mengalami bencana alam, bencana sosial, dan tidak mampu dari
segi ekonomi.’ Dalam penjelasan Pasal 15 alinea terakhir dijelaskan bahwa ‘Pendidikan
khusus merupakan penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan atau
peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan
secara inklusif atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan
menengah’. Pasal 45 ayat (1) ‘Setiap satuan pendidikan formal dan non formal
menyediakan sarana dan prasarana yang memenuhi keperluan pendidikan sesuai dengan
pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual, sosial, emosional,
dan kejiwaan peserta didik’.
1. Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Pasal 2 ayat
(1) Lingkungan Standar Nasional Pendidikan meliputi Standar isi, Standar proses, Standar
kompetensi lulusan, Standar pendidik dan kependidikan, Standar sarana prasarana, Standar
pengelolaan, Standar pembiayaan, dan Standar penilaian pendidikan. Dalam PP No.
19/2005 tersebut juga dijelaskan bahwa satuan pendidikan khusus terdiri atas: SDLB,
SMPLB dan SMALB.
2. Surat Edaran Dirjen Dikdasmen Depdiknas No. 380/C.C6/MN/2003 tanggal 20 Januari
2003 Perihal Pendidikan Inklusif: menyeelenggarakan dan mengembangkan di setiap
Kabupaten/Kota sekurang-kurangnya 4 (empat) sekolah yang terdiri dari: SD, SMP, SMA,
dan SMK.
3. Landasan Empiris
1. Deklarasi Hak Asasi Manusia, 1948 (Declaration of Human Rights),
2. Konvensi Hak Anak, 1989 (Convention on the Rights of the Child),
3. Konferensi Dunia tentang Pendidikan untuk Semua, 1990 (World Conference on
Education for All),
4. Resolusi PBB nomor 48/96 tahun 1993 tentang Persamaan Kesempatan bagi Orang
Berkelainan (the standard rules on the equalization of opportunities for persons with
disabilities)
5. Pernyataan Salamanca tentang Pendidikan Inklusi, 1994 (The Salamanca Statement on
Inclusive Education),
6. Komitmen Dakar mengenai Pendidikan untuk Semua, 2000 (The Dakar Commitment on
Education for All), dan
7. Deklarasi Bandung (2004) dengan komitmen “Indonesia menuju pendidikan inklusif”,
8. Rekomendasi Bukittinggi (2005), bahwa pendidikan yang inklusif dan ramah terhadap
anak seyogyanya dipandang sebagai:
(1) Sebuah pendekatan terhadap peningkatankualitas sekolah secara menyeluruh yang
akan menjamin bahwa strategi nasional untuk ‘pendidikan untuk semua’ adalah benar-
benar untuk semua;
(2) Sebuah cara untuk menjamin bahwa semua anak memperoleh pendidikan dan
pemeliharaan yang berkualitas di dalam komunitas tempat tinggalnya sebagai bagian dari
program-program untuk perkembangan usia dini anak, pra sekolah, pendidikan dasar dan
menengah, terutama mereka yang pada saat ini masih belum diberi kesempatan untuk
memperoleh pendidikan di sekolah umum atau masih rentan terhadap marginalisasi dan
eksklusi; dan
(3) Sebuah kontribusi terhadap pengembangan masyarakat yang menghargai dan
menghormati perbedaan individu semua warga negara.
Disamping itu juga menyepakati rekomendasi berikut ini untuk lebih meningkatkan
kualitas sistem pendidikan di Asia dan benua-benua lainnya:
(1) Inklusi seyogyanya dipandang sebagai sebuah prinsip fundamental yang mendasari
semua kebijakan nasional
(2) Konsep kualitas seyogyanya difokuskan pada perkembangan nasional, emosi dan
fisik, maupun pencapaian akademik lainnya
(3) Sistem asesmen dan evaluasi nasional perlu direvisi agar sesuai dengan prinsip-prinsip
non-diskriminasi dan inklusi serta konsep kualitas sebagaimana telah disebutkan di atas
(4) Orang dewasa seyogyanya menghargai dan menghormati semua anak, tanpa
memandang perbedaan karakteristik maupun keadaan individu, serta seharusnya pula
memperhatikan pandangan mereka
(5) Semua kementerian seyogyanya berkoordinasi untuk mengembangkan strategi
bersama menuju inklusi
(6) Demi menjamin pendidikan untuk Semua melalui kerangka sekolah yang ramah
terhadap anak (SRA), maka masalah non-diskriminasi dan inklusi harus diatasi dari semua
dimensi SRA, dengan upaya bersama yang terkoordinasi antara lembaga-lembaga
pemerintah dan non-pemerintah, donor, masyarakat, berbagai kelompok local, orang tua,
anak maupun sektor swasta
(7) Semua pemerintah dan organisasi internasional serta organisasi non-pemerintah,
seyogyanya berkolaborasi dan berkoordinasi dalam setiap upaya untuk mencapai
keberlangsungan pengembangan masyarakat inklusif dan lingkungan yang ramah terhadap
pembelajaran bagi semua anak
(8) Pemerintah seyogyanya mempertimbangkan implikasi sosial maupun ekonomi bila
tidak mendidik semua anak, dan oleh karena itu dalam Manajemen Sistem Informasi
Sekolah harus mencakup semua anak usia sekolah
(9) Program pendidikan pra-jabatan maupun pendidikan dalam jabatan guru seyogyanya
direvisi guna mendukung pengembangan praktek inklusi sejak pada tingkat usia pra-
sekolah hingga usia-usia di atasnya dengan menekankan pada pemahaman secara holistik
tentang perkembangan dan belajar anak termasuk pada intervensi dini
(10) Pemerintah (pusat, propinsi, dan local) dan sekolah seyogyanya membangun dan
memelihara dialog dengan masyarakat, termasuk orang tua, tentang nilai-nilai sistem
pendidikan yang non-diskriminatif dan inklusif

Landasan pedagogis
Pada pasal 3 Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003, disebutkan bahwa tujuan pendidikan
nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman
dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.Jadi,
melalui pendidikan, peserta didik berkelainan dibentuk menjadi warga negara yang
demokratis dan bertanggung jawab, yaitu individu yang mampu menghargai perbedaan dan
berpartisipasi dalam masyarakat. Tujuan ini mustahil tercapai jika sejak awal mereka
diisolasikan dari teman sebayanya di sekolah-sekolah khusus. Betapapun kecilnya, mereka
harus diberi kesempatan bersama teman sebayanya.