Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Intertrigo merupakan istilah umum untuk kelainan kulit didaerah

lipatan/intertriginosa, yang dapat berupa inflamasi maupun infeksi bakteri atau jamur.

Sebagai faktor predisposisi ialah keringat/kelembaban , kegemukan, gesekkan antara 2

permkaan kulit dan oklusi.1,7

Dalam kondisi ini, mudah sekali terjadi sumberinfeksi oleh Candida albicans, yang

ditandai oleh eritema berwarna merah gelap, dapat disertai papul-papul eritematosa

disekitarnya.7

Adanya tanda-tanda radang akut atau kemerahan pada kulit, rasa gatal, mengeluarkan

cairan, pada kasus intertrigo yang parah intertrigo dapat menyebabkan bau busuk dan kulit

dapat pecah dan berdarah. Area yang paling sering terkena, yaitu:

1. Sela jari kaki

2. Ketiak

3. Area selangkangan

4. Bagian bawah perut atau payudara

5. Lipatan leher.3,7

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI
Intertrigo merupakan istilah umum untuk kelainan kulit didaerah

lipatan/intertriginosa, yang dapat berupa inflamasi maupun infeksi bakteri atau jamur.

Sebagai faktor predisposisi ialah keringat/kelembaban , kegemukan, gesekkan antara 2

permkaan kulit dan oklusi.1,7

Dalam kondisi ini, mudah sekali terjadi sumberinfeksi oleh Candida albicans, yang

ditandai oleh eritema berwarna merah gelap, dapat disertai papul-papul eritematosa

disekitarnya.7

2.2 ETIOLOGI
Intertrigo disebabkan oleh lipatan kulit yang menempel dan bergesekan menyebabkan

intertrigo. Gesekan kulit-kulit ini menciptakan lingkungan hangat dan lembab, lingkungan ini

mengundang pertumbuhan jamur dan bakteri. Bakteri Candida albicans, Streptococci dan

Corynebacterium minuttisimum dapat menyebabkan penyakit ini.2,5

2.3 FAKTOR RESIKO


1. Suhu dan kelembaban

2. Usia

3. Jenis kelamin

4. Genetic

5. Obesitas.4

2
2.4 PATOGENESIS
Infeksi dapat terjadi apabila ada faktor predisposisi baik endogen maupun

eksogen:

1. Perubahan fisiologis: usia, kehamilan, dan haid.

2. Faktor mekanik: trauma (luka bakar, aberasi), oklusi local, kelembaban,

maserasi, kegemukan.

3. Faktor nutrisi: defisiensi zat besi, malnutrisi.

4. Penyakit sistemik: penyakit endokrin (missal: diabetes mellitus, sindrom

cushing), uremia, keganasan dan imunodefisiensi.

5. Latrogenik: penggunaan kateter, iradiasi sinar X, penggunaan obat-obatan

(missal: glukokortikoid, agent imunosupresi, antibiotic, dll).4,7

2.4 GEJALA KLINIS

Adanya tanda-tanda radang akut atau kemerahan pada kulit, rasa gatal, mengeluarkan

cairan, pada kasus intertrigo yang parah intertrigo dapat menyebabkan bau busuk dan kulit

dapat pecah dan berdarah. Area yang paling sering terkena, yaitu:

1. Sela jari kaki

2. Ketiak

3. Area selangkangan

4. Bagian bawah perut atau payudara

5. Lipatan leher.3,7

3
2.5 PATOFISIOLOGI

Adapun faktor-faktor yang ikut mendorong perkembangan dermatitis adalah gerakan,

tekanan, macerasi, panas dan dingin, tempat dan luas daerah yang terkena dan adanya

penyakit kulit lain.2

Pada penderita dermatitis ditemukan peningkatan IgE di dalam serum Antigen akan

ditangkap oleh fagosit kemudian akan dipresentasikan ke sel T2 Helper. Sel Th2 akan

memproduksi sitokin kemudian meningkatkan sel-sel B untuk tumbuh dan berfloriferasi

sehingga menghasilkan Antibodi IgE. IgE menempel di sel mast, lalu melepaskan mediator

kimia berupa Histamin. Histamine dianggap sebagai zat penting yang memberi raksi dan

menyebabkan pruritius. Histamine menghambat kemotaksis dan menekan priduksi SelT

dehingga terjadi peningkatan IgE yang akan menyebabkan pruritus (rasa gatal) pada

penderita. Sel ini mempunyai kemampuan melepas Histamin. Histamine sendiri tiak dapat

menyebabkan lesi eritematosa. Kemungkinan zat tersebut menyebabkan prupitus dan eritema,

mungkin karena garukan akibat gatal menimbulkan lesi eritematosa.1,2

2.6 DIAGNOSIS

a. Anamnesis : pasien mengeluhkan rasa gatal, terkadang disertai rasa terbakar akibat

garukan.3

b. Pemeriksaan fisik : terdapat ruam berwarna merah atau kecoklatan pada daerah

predileksi. Untuk intertrigo yang parah tampak kulit pecah dan berdarah.2

c. Pemeriksaan penunjang : kerokan kulit atau usapan mukokutan diperiksa dengan

larutan KOH 20% atau dengan pewarnaan gram, terlihat sel ragi, blastospora, atau hifa

semu.1

4
2.7 DIAGNOSIS BANDING

1. Eritrasma

2. Tinea versicolor

3. Tinea korporis.2,7

2.8 PENATALAKSANAAN

1. Non farmakologi

Edukasi pasien agar meningkatkan kebersihan diri, menjaga badan tetap

kering terutama daerah lipatan tubuh.3,6

2. Farmakologi

Bakteri dapat diberikan antibiotic topical seperti krim asam fusidat, salep

mupirocin, atau antibiotic oral seperti eritromisin.

Jamur dapat diobati dengan antijamur topical seperti clotrimazole.

Penyakit kulit inflamasi sering diobati dengan krim steroid topical potensi

rendah seperti hidrokortison.6

2.9 PROGNOSIS

Umumnya baik, bergantung berat ringannya faktor predisposisi.4,7

5
BAB III

KESIMPULAN

Intertrigo merupakan istilah umum untuk kelainan kulit didaerah

lipatan/intertriginosa, yang dapat berupa inflamasi maupun infeksi bakteri atau jamur.

Sebagai faktor predisposisi ialah keringat/kelembaban , kegemukan, gesekkan antara 2

permkaan kulit dan oklusi.

Dalam kondisi ini, mudah sekali terjadi sumberinfeksi oleh Candida albicans, yang ditandai

oleh eritema berwarna merah gelap, dapat disertai papul-papul eritematosa disekitarnya.

Gejalanya adalah Adanya tanda-tanda radang akut atau kemerahan pada kulit, rasa

gatal, mengeluarkan cairan, pada kasus intertrigo yang parah intertrigo dapat menyebabkan

bau busuk dan kulit dapat pecah dan berdarah. Area yang paling sering terkena, yaitu:

6. Sela jari kaki

7. Ketiak

8. Area selangkangan

9. Bagian bawah perut atau payudara

10. Lipatan leher

Penatalaksanaan dapat diberikan 2 cara yaiotu non farmakologi dan farmakologi.

6. Non farmakologi

Edukasi pasien agar meningkatkan kebersihan diri, menjaga badan tetap kering terutama

daerah lipatan tubuh.

6
7. Farmakologi

Bakteri dapat diberikan antibiotic topical seperti krim asam fusidat, salep mupirocin, atau

antibiotic oral seperti eritromisin.

Jamur dapat diobati dengan antijamur topical seperti clotrimazole.

Penyakit kulit inflamasi sering diobati dengan krim steroid topical potensi rendah seperti

hidrokortison.

7
DAFTAR PUSTAKA

1. Soepardiman L.kelainan kulit: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S, editor. Ilmu Penyakit Kulit

dan Kelamin. Edisi keempat. FKUI. Jakarta. 2005:289-300.

2. Ortonne JP, Bahadoran P, dkk.kandidiasis. Dalam: Freedberg IM, Eisen AZ, Wolff K, dkk,

editor. Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. Sixth edition. Mc Graw-Hill. New

York. 2003 : 836-862.

3. Ortonne J-P, Bahadoran P, Fitzpatrick TB et al. Intertriginosa. Dalam: Freedberg IM,

Eisen AZ, Wolff K, Austen KF et al., editor. Dermatology in General Medicine. Edisi

ke-6. New York: McGraw Hill, 2003: 836-80.

4. Ortonne J-P, Bose SK.Dermatitis intertriginosa: dyschromia. Dalam: Baran R,

Maibach HI, editor. Textbook of Cosmetic Dermatology. Edisi ke-3. London: Taylor

& Francis, 2005: 393-409.

5. Obagi ZE. Obagi Skin Health Restoration and Rejuvenation. New York: Springer-

Verlag, 2000: 87-109.

6. FKUI. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta. FKUI;2015

7. Pedoia. Riehl's Melanosis. Dermatology Information System.;2016