Anda di halaman 1dari 21

I.

TINJAUAN PUSTAKA

Kapsul adalah bentuk sediaan padat yang terbungkus dalam suatu cangkang
keras atau lunak yang dapat larut. Cangkang umumnya terbuat dari gelatin, tetapi
dapat juga dibuat dari pati atau bahan lain yang sesuai (Syamsuni, 2005).
Bobot atau volume obat yang dapat diisikan ke dalam kapsul tergantung pada
sifat bahan obat itu sendiri. Ketepatan dan kecepatan memilih ukuran kapsul
biasanya berdasarkan pengalaman atau pengerjaan secara eksperimental
(Syamsuni, 2005).

Bobot Isi pada Densitas


Ukuran Kapsul Volume (ml)
0,8 g/cm³ (g)

000 1,37 1,096


00 0,95 0,760
0 0,68 0,544
1 0,50 0,400
2 0,37 0,296
3 0,30 0,240
4 0,21 0,168
5 0,13 0,104
Tabel 1. Variasi Kapasitas Ukuran Kapsul
Beberapa bahan tambahan pada formulasi massa kapsul diantaranya, yaitu:
a. Bahan pengisi
Bahan pengisi diperlukan untuk mencukupkan massa kapsul sampai pada
bobot yang diinginkan. Bahan pengisi harus inert, tidak boleh mempengaruhi
biofarmasetik, sifat kimia zat aktif, dan fisik sediaan. Contoh pengisi adalah
amilum, amilum jagung, kalsium difosfat, dan lain-lain (Lieberman et. al, 1989).
b. Bahan lubrikan dan glidan
Bahan lubrikan berfungsi untuk mengurangi gesekan antara serbuk dengan
alat. Glidan berfungsi untuk meningkatkan aliran serbuk atau granul sehingga
memperbaiki sifat alir serbuk dengan cara memperkecil gesekan antara sesama
partikel. Contoh lubrikan dan glidan adalah talk, aerosol, dan Mg Stearat
(Lieberman et. al, 1989).
c. Adsorben
Digunakan untuk melindungi bahan berkhasiat dari pengeruh kelembapan,
membantu meningkatkan homogenitas campuran, dan menghindari lembab akibat
reaksi antar bahan. Contoh adsorben adalah Mg Karbonat, aerosol (Ansel, 1989).
Untuk pencampuran massa kapsul (serbuk) dapat dilakukan dengan beberapa
cara, diantaranya adalah:
a. Spatulasi yaitu suatu metode dimana sejumlah serbuk dapat digerus
selembar kertas atau tatakan pembuat pil dengan gerakan spatula obat.
Metode ini umumnya tidak cocok untuk serbuk dalam jumlah besar.
b. Triturasi yaitu proses menggerus obat dalam lumping untuk mengecilkan
ukuran.
c. Tumbling (penggulingan) yaitu mengguling-gulingkan serbuk dalam suatu
wadah besar yang biasanya diputar dengan mesin.
d. Penggiling serbuk khusus yang dirancang untuk mencampur serbuk dengan
gerakan jungkir balik. Pencampuran dengan cara ini merata tetapi
memerlukan waktu. Alat penggiling semacam ini digunakan secara luas
dalam industri, demikian juga terdapat alat-alat pencampur atau pengaduk
serbuk dengan volume besar dan pisau-pisaunya digerakkan oleh mesin
untuk mengaduk serbuk dalam bejana pencampur yang besar (Ansel, 1989).
Ada tiga cara pengisian kapsul, yaitu :
a. Dengan tangan merupakan cara yang paling sederhana, yaitu dengan tangan
tanpa bantuan alat lain. Pada pengisian dengan cara ini sebaiknya digunakan
sarung tangan untuk mencegah alergi yang mungkin timbul akibat tidak
tahan terhadap obat tersebut.
b. Untuk memasukkan obat dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1) Serbuk dibagi dahulu sesuai dengan jumlah kapsul yang diminta.
2) Tiap bagian serbuk tadi dimasukkan kedalam badan kapsul dan ditutup.
c. Dengan alat bukan mesin. Alat yang dimaksud disini adalah alat yang
menggunakan tangan manusia. Dengan menggunakan alat ini akan
didapatkan kapsul yang lebih seragam dan pengerjaannya dapat lebih cepat,
sebab sekali buat dapat dihasilkan berpuluh-puluh kapsul. Alat ini terdiri
atas 2 bagian, yaitu bagian yang tetap dan bagian yang bergerak.
Cara pengisian kapsul:
1) Buka bagian-bagian kapsul
2) Badan kapsul dimasukkan kedalam lubang pada bagian alat yang tidak
bergerak/tetap.
3) Taburkan serbuk yang akan dimasukkan ke dalam kapsul
4) Ratakan dengan bantuan alat kertas film.
5) Tutup kapsul dengan cara merapatkan atau menggerakkan bagian alat
yang bergerak
d. Dengan mesin untuk memproduksi kapsul secara besar-besaran dan
menjaga keseragaman kapsul, perlu dipergunakan alat yang otomatis mulai
dari membuka, mengisi sampai dengan menutup kapsul (Syamsuni, 2005).
Evaluasi massa/serbuk kapsul, meliputi :
a. Sifat alir
Salah satu hal yang penting dalam produksi sediaan padat adalah sifat aliran
serbuk atau granul. Aliran massa akan mempengaruhi keseragaman bobot
dalam sediaan. Kecepatan aliran serbuk ini ditentukan oleh faktor ukuran
partikel, distribusi ukuran partikel, bentuk partikel, bobot jenis. Uji terhadap
sifat alir ini dilakukan dengan menggunakan flow meter.
b. Sudut Istirahat
Cara uji ini juga merupakan uji untuk menentukan sifat aliran massa. Uji ini
dilakukan dengan menggunakan corong, dimana serbuk atau massa
dialirkan melalui corong, kemudian diukur jari-jari dan tinggi dari serbuk
yang jatuh kebawah.
c. Bulk density dan tapped density
Volume dan kerapatan serbuk ditentukan dari ukuran dan bentuk partikel.
Ukuran partikel dan kerapatan serbuk berpengaruh dengan volume serbuk.
Sehingga uji ini berguna untuk penentuan ukuran cangkang kapsul yang
akan digunakan. Bobot serbuk ditimbang dan dituang hati-hati kedalam
suatu gelas ukur kemudian permukaannya diratakan, volume yang terbaca
adalah volume tuang. Bobot ketukan diperoleh melalui ketukan vertikal
timbunan serbuk yang diisikankesebuahgelasukurtertutupyangterletak di
atas dasar lunak. Ketukan tersebut dilakukan sampai diperoleh volume
konstan (Voight, 1989).
Evaluasi kapsul, meliputi :
a. Uji keseragaman bobot
Uji ini dilakukan untuk mengetahui kesesuaian keseragaman bobot sediaan
kapsul yang dihasilkan dengan persyaratan keseragaman bobot dan
kandungan dari Farmakope Indonesia Edisi IV. Memenuhi syarat
Farmakope Indonesia, jika perbedaan dalam persen bobot isi tiap kapsul
terhadap bobot rata-rata tiap isi kapsul tidak boleh lebih dari yang ditetapkan
dalam kolom “A” dan untuk setiap 2 kapsul terhadap bobot rata-rata
ditetapkan dalam kolom “B”.

Bobot rata-rata isi tiap Perbedaan bobot isi kapsul dalam %


kapsul A B
≤ 120 mg 10 20
≥ 120 mg 7,5 15
Tabel 2. Keseragaman Bobot
b. Waktu Hancur
Uji ini dimaksudkan untuk menetapkan kesesuaian batas waktu hancur yang
tertera dalam masing-masing monografi, kecuali pada etiket dinyatakan
bahwa tablet atau kapsul digunakan untuk pelepasan kandungan obat secara
bertahap dalam jangka waktu tertentu atau melepaskan obat dalam dua
periode berbeda atau lebih dengan jarak waktu yang jelas di antara periode
pelepasan tersebut. Uji waktu hancur tidak menyatakan bahwa sediaan atau
bahan aktifnya terlarut sempurna. Sediaan dinyatakan hancur sempurna bila
sisa sediaan, yang tertinggal pada kasa alat uji merupakan masa lunak yang
tidak mempunyai inti yang jelas, kecuali bagian dari penyalut atau cangkang
kapsul yang tidak larut (Depkes RI, 1995).
c. Uji higroskopisitas
Suatu sediaan dikatakan stabil secara fisik apabila tidak menunjukkan
perubahan-perubahan sifat fisik selama masa penyimpanan. Salah satu sifat
fisik yang perlu diamati adalah sifat higroskopisitas sediaan. Uji
higroskopisitas merupakan cara menguji kemampuan bahan obat untuk
menyerap uap dari udara setelah dibiarkan dalam suatu kondisi dan satuan
waktu yang diamati. Sujumlah kapsul ditempatkan perlakuan pengaturan
kelembapan tertentu dan pada temperatur kamar. Masing-masing perlakuan
diamati setiap hari dalam seminggu dan tiap minggu selama satu bulan.
Pengamatan dilakukan terhadap perubahan bobot kapsul, bentuk kapsul,
dan isi kapsul (Augsburger, 2000).
II. DATA PREFORMULASI
2.1 Zat Aktif
Coffein
Rumus molekul : C8H10N4O2
Berat molekul : 194,19 g/mol
Pemerian : Serbuk atau hablur bentuk jarum mengkilap
biasanya menggumpal, putih tidak berbau rasa pahit.
Kelarutan : Agak sukar larut dalam panas dan dalam
etanol 95%, mudah larut dalam kloroform P, sukar
larut dalam eter P.
Khasiat : Stimulasi sistem syaraf pusat, kardiotinikum.

2.2 Eksipien/Bahan Tambahan


- Magnesium Stearat
Pemerian : Serbuk halus, putih dan volumnus, bau lemah khas,
mudah melekat di kulit, bebas dari butiran

Khasiat : Pelicin, untuk memperbaik sifat alir.

- Laktosa
Pemerian : Serbuk hablur, putih, tidak berbau, rasa agak manis.
Kelarutan : Larut dalam 6 bagian air, larut dalam 1 bagian air
mendidih, sukar larut dalam etanol (95%p), praktis
tidak larut dalam kloroform P, dan dalam eter P
(Departemen Kesehatan,1979).

2.3 Tinjauan Farmakologi


2.3.1 Farmakokinetika
Kafein diabsorbsi secara cepat pada saluran cerna dan kadar puncak
dalam darah dicapai selama 30-45 menit (Sukandar, 2006). Pada orang
dewasa yang sehat jangka waktu penyerapannya adalah 3-4 jam.
Sedangkan pada wanita yang memakai kontrasepsi oral waktu
penyerapannya adalah 5-10 jam. Pada bayi dan anak memiliki jangka
waktu penyerapan lebih panjang (30jam). Kafein dapat melewati
plasenta dan lapisan darah-otak dikarenakan sifatnya yang hidrofobik
(Albina, 2002).
Hati merupakan tempat utama dalam proses metabolisme kafein.
Masing-masing dari hasil metabolisme ini akan dimetabolisme lebih
lanjut dan akan dikeluarkan melalui urin.
Waktu paruh eliminasi berkisar antara 3-7 jam dan dapat dipengaruhi
oleh berbagau faktor, meliputi jenis kelamin, usia, penggunaan
kontrasepsi oral, kehamilan dan merokok. Telah dilaporkan bahwa
waktu paruh pada kafein pada wanita lebih singkat dibandingkan dengan
laki-laki (Nawrot, 2003).

2.3.2 Farmakodinamika
Kafein mempunyai efek relaksasi otot polos, terutama otot
polos bronchus, merangsang susunan saraf pusat, otot jantung, dan
meningkatkan diuresis.
a. Jantung : Kadar rendah kafein dalam plasma akan menurunkan
denyut jantung, sebaliknya kadar kafein dan teofilin yang lebih
tinggi menyebabkan tachicardi, bahkan pada individu yang sensitif
mungkin menyebabkan aritmia yang berdampak kepada kontraksi
ventrikel yang premature.

b. Pembuluh darah : Kafein menyebabkan dilatasi pembuluh darah


termasuk pembuluh darah koroner dan pulmonal, karena efek
langsung pada otot pembuluh darah
c. Sirkulasi Otak : Resistensi pembuluh darah otak naik
disertai pengurangan aliran darah dan O2 di otak, ini diduga
merupakan refleksi adanya blokade adenosine oleh xantin
d. Susunan Saraf Pusat : Kafein merupakan perangsang SSP yang kuat.
Orang yang mengkonsumsi kafein tidak terlalu merasa kantuk, tidak
terlalu lelah, dan daya pikirnya lebih cepat serta lebih jernih. Tetapi,
kemampuannya berkurang dalam pekerjaan yang memerlukan
koordinasi otot halus (kerapian), ketepatan waktu atau ketepatan
berhitung. Efek diatas timbul pada pemberian kafein 82-250 mg (1-
3 cangkir kopi).
e. Diuresis : Kafein dapat menyebabkan diuresis dengan cara
meninggikan produksi urin atau menghambat reabsorbsi elektrolit
ditubulus proksimal. Akan tetapi efek yang ditimbulkan sangat
lemah (Sunaryo, 1995).

III. PELAKSANAAN PRAKTIKKUM

3.1 Alat
- Spatula
- Ayakan mesh 30
- Kertas buram
- Alat Pengisi Kapsul,
- Corong Alat Uji
- Stopwach
- Gelas Ukur
- Penggaris
- Desintegration tester
- Timbangan digital
- Botol Kaca Coklat
- Perkamen
- Label

3.2 Bahan
Coffein Anhydrous, Mg Stearat, Laktosa dan Cangkang Kapsul.

3.3 Formula yang direncanakan


Coffein Anydrous 100 mg
Mg Stearat 1%
Laktosa ad 250 mg

3.4 Perhitungan Bahan


Bobot perkapsul 250 mg dan jumlah kapsul yang akan dibuat adalah 100
kapsul.
- Coffein = 100 mg x 100 = 10.000 mg = 10 gram
1 𝑔𝑟𝑎𝑚
- Mg Stearat = × 0,25 𝑔𝑟𝑎𝑚 = 0,0025 gram x 100 = 0,25 gram
100 𝑚𝑙

- Laktosa = 250 mg x 100 tab = 25 gram


= 25 gram – 10,25 gram = 14,75 gram

- Bobot total = 10 gram + 0,25 gram + 14,75 gram = 25 gram


25 𝑔𝑟𝑎𝑚
- Isi rata-rata perkapsul = × 0,25 𝑔𝑟𝑎𝑚 = 250 𝑚𝑔
100

- Perhitungan Ukuran Kapsul


25 𝑔𝑟𝑎𝑚
= = 0,68
36,3 𝑐𝑐

1 𝑔𝑟𝑎𝑚/𝑐𝑐 0,68
= = 𝑥 = 0,46 𝑐𝑐
0,68 𝑐𝑐 𝑥

Jadi No kapsul yang dipakai adalah kapsul nomor 1

3.5 Penimbangan Bahan


- Coffein Anhydrous = 10 garam
- Mg Stearat = 0,25 gram
- Laktosa = 14,75 gram

3.6 Prosedur Kerja


3.6.1 Pembuatan Serbuk
1. Ditimbang bahan – bahan yang dibutuhkan.
2. Dicampurkan bahan –bahan yang memiliki bobot kecil terlebih
dahulu, aduk ad homogen.
3. Ditambahkan bahan dengan bobot yang lebih besar atau per satu ,
masing- masing aduk ad homogen.
4. Setelah semua bahan dicampurkan dan homogen, ditimbang
kembali bobotnya dan dicatat.
5. Diayak dengan ayakan mesh 30.

3.6.2 Pengisian Serbuk


1. Ditimbang cakang kapsul kosong, dicatat bobotnya.
2. Disiapkan alat pengisi kapsul.
3. Dibuka cangkang kapsul dan disusun bagian badan kapsul.
4. Diisikan serbuk kedalam badan kapsul, kemudian diratakan hingga
badan kapsul terisi penuh.
5. Kemudian badan kapsul ditutup dengan penutup kapsul hingga
tertutup rapat.
6. Bersihkan sisa serbuk yang menempel pada permukaan luar kapsul
dengan menggunakan kapas/kain kasa.

3.6.3 Evaluasi Serbuk/Massa Kapsul


3.6.3.1 Waktu Alir
1. Timbang 25 gram serbuk dan tempatkan pada corong alat uji dalam
keadaan tertutup.
2. Siapkan stopwatch untuk menghitung lamanya waktu mengalir.
3. Buka penutup corong dan biarkanserbuk mengalir, catat waktu yang
diperlukan serbuk untuk mengalir sampai habis. Waktu mengalir
dicatat dalam satuan g/detik. Bandingkan hasilnya dengan
persyaratan dalam literatur.

3.6.3.2 Sudut Istirahat


1. Timbang 25 gram serbuk dan tempatkan pada corong alat uji waktu alir
dalam keadaan tertutup.
2. Siapkan kertas milimeter sebagai alas untuk menampung serbuk.
3. Buka penutup corong dan biarkan serbuk mengalir dan ditampung pada
kertas milimeter.
4. Catat tinggi tumpukan serbuk dan diameternya. Hitung sudut istirahat (α)
dan bandingkan hasilnya dengan persyaratan dalam literatur.

3.6.3.3 Bulk density dan tapped density


1. Ditimbang serbuk sebanyak 50 gram dan dicatat sebagai (m).
2. Dimasukkan serbuk tersebut kedalam gelas ukur dan diukur volumenya
(v0).
3. Gelas ukur diketukkan selama 300 kali dan dicatat volumenya ( vtab).
Percobaan diulangi dengan 300 ketukan kedua dan ketiga untuk memastikan
bahwa volume sampel tidak mengalami penurunan.

3.6.4 Evaluasi Kapsul


3.6.4.1 Uji Keseragaman Bobot
1. Timbang seksama 10 kapsul, satu persatu, beri identias tiap kapsul.
2. Dikeluarkan isi kapsul denagn cara yang sesuai.
3. Ditimbang seksama tiap cangkang kapsul kosong dan hitung bobot
netto dari isi tiap kapsul dengan cara mengurangkan bobot cangkang
kapsul dari masing- masing bobot kapsul atau

3.6.4.2 Uji Waktu Hancur


1. Dimasukkan masing-masing 1 kapsul pada tabung pada keranjang.
2. Digunakan media air bersuhu 37 ± 20C.
3. Dilakukan pengamatan terhadap kapsul, semua kapsul harus hancur ,
kecuali bagian dari cangkang kapsul.
4. Bila 1 atau 2 kapsul tidak hancur sempurna, pengujian diulangi dengan 12
kapsul lainnya, tidak kurang 16 dari 18 kapsul yang diuji hancur sempurna.
5. Dicatat waktu yang diperlukan kapsul untuk hancur sempurna

3.6.4.3 Uji Higroskopisitas


1. Sejumlah 3 kapsul ditempatkan didalam botol coklat dan
disimpan.
2. Masing-masing perlakuan diamati setiap hari selama 7 hari
dalam seminggu. Pengamatan dilakukan terhadap perubahan
bobot kapsul, bentuk kapsul dan isi kapsul.
IV. HASIL DAN DISKUSI

4.1 Hasil
4.1.1 Hasil Evaluasi Serbuk/Massa Kapsul
4.1.1.1 Waktu Alir
Data :
NO Waktu Alir ( detik )
1 11
2 7
3 8
Rata-rata 8,6
Tabel
Syarat : talir < 10 detik
Kesimpulan :
Berdasarkan pengujian waktu alir yang didapatkan yaitu 8,6 detik <
10 detik yang berarti memenuhi persyaratan waktu alir yang baik.

4.1.1.2 Sudut Istirahat


Data :
No Tinggi (h=cm) Diameter (d=cm)
1 2 9,5
2 1,5 9,8
3 2,5 9
Rata-Rata 2 9,4
Tabel
Syarat : 20o < α < 40o
2h
Rumus : Tg α = D
2h
Tg α = D
4 cm
= 9,4 cm = 0,42

α = 22,7o
Kesimpulan :
Berdasarkan pengujian sudut istirahat yang didapatkan yaitu α = 22,7o
< 40o menunjukkan bahwa memenuhi persyaratan mudah mengalir,
karena sudut istirahat berada diantara 20o < α < 40o.

4.1.1.3 Bulk density dan tapped density


Data :
No V0 Vtap I rata-rata
1 45 35 22,2 %
2 47 37 21,2 %
3 44 37 15,9 %
Rata-rata 19,76 %
Tabel
Syarat :
(45 − 35 )
I1 = x 100 % = 22,2 %
45
(47 − 37)
I2 = x 100 % = 10,65%
47
(44 − 37 )
I3 = x 100 % = 15,9 %
44
𝐼1 + 𝐼2 + 𝐼3 22,2 + 21,2 + 15,9
Rata- rata = = = 19,76 %
3 3

Kesimpulan :
Berdasarkan pengujian I = 19,76 % ≤ 20% yang berarti memenuhi
persyaratan

4.1.2 Hasil Evaluasi Kapsul


4.1.2.1 Uji Keseragaman Bobot
Berat 10 kapsul : 2,918 mg
Berat rata-rata : 291,8 mg
Bobot Bobot netto Deviasi
Bobot
No Cangkang kapsul (291,8
Kapsul (mg)
kosong (mg) (mg) mg)
1 407 113,8 2932 +1,4
2 407,6 121,1 286,5 -5,3
3 407,3 113,5 293,8 +2
4 405,2 111,7 293,3 +1,5
5 416,9 111,3 305,6 +13,8
6 404,4 112,8 291,6 +0,2
7 406,7 110,7 296 +4,2
8 396,2 110,9 285,3 -6,5
9 403,4 114,6 288,8 -3
10 394,7 110,2 284,5 -7,3
Tabel
13,8
A1 = 291,8 x 100% = 4,72 %
7,3
A2 = 291,8 x 100% = 2,50 %
6,5
A3 = 291,8 x 100% = 2,22 %

Kesimpulan :
Berdasarkan pengujian keseragaman bobot tidak ada kapsul yang
melebihi syarat yang tertera pada kolom A, yang berarti keseragaman
bobot memenuhi persyaratan.

4.1.2.2 Uji Waktu Hancur


Syarat : tidak > 15 menit
Data :

No Dengan Cakram

1 02.16
2 02.33
3 02.50
4 02.54
5 02.47
6 02.55
Rata-rata 02.42
Tabel
Kesimpulan :

Berdasarkan pengujian rata- rata waktu hancur dengan menggunakan


cakram memenuhi syarat, karena waktu hancur 02.42 menit yaitu
tidak > dari 15 menit sesuai syarat.

4.1.2.3 Uji Higroskopisitas


Hari
Hasil Pengamatan
Ke
0 Bentuk dan isi tidak mengalami perubahan

5 Bentuk dan isi tidak mengalami perubahan

14 -

21 -

28 -
Tabel

4.2 Diskusi
Kapsul cangkang keras merupakan kapsul yang cangkangnya terbuat dari
gelatin, kapsul ini dapat pula dibuat dari pati atau bahan lain yang sesuai. Bahan
pembentuk kapsul cangkang keras yaitu bahan pewarna, bahan opak, bahan
pendispersi, bahan pengeras, bahan pengawet. Cangkang kapsul ini umumnya
mengandung air 10-15%. Formulasi kapsul umumnya mengandung sedikitnya
3 bahan serbuk, yaitu : bahan obat, bahan pengisi dan glidan.
Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan yaitu pembuatan formulasi
sediaan kapsul cangkang keras serta evaluasi kapsul. Formulasi yang dibuat
mengandung bahan obat Coffein Anhydrous, Mg stearat sebagai zat pelicin
digunakan untuk memperbaiki sifat alir dari serbuk sewaktu pengisian serbuk
ke dalam cangkang kapsul dan laktosa yang berfungsi sebagai zat pengisi dan
pemanis.
Langkah pertama yang dilakukan dalam percobaan ini yaitu bahan- bahan
yang memiliki massa yang kecil dicampurkan terlebih dahulu kemudian
ditambahkan dengan massa yang lebih besar. Dimasukkan Coffein Anhydrous
kedalam lumpang sebanyak 10 gram, kemudian ditambahkan laktosa sebanyak
14,75 gram, digerus sampai homogen. Bahan yang telah dicampurkan
kemudian diayak dengan ayakan mesh 30.
Dilakukan evaluasi terhadap granul yang telah dibuat sebelumnya,
evaluasi terhadap granul ini berfungsi sebagai parameter dalam pembuatan tablet
yang baik dan mengetahui sifat fisik granul yang akan dikempa, sifat-sifat fisik
yang berkaitan dengan penabletan antara lain, ukuran partikel granul, kerapuhan
dan bulk density serta kompresibilitas. Granul yang mempunyai sifat fisik yang
baik yaitu mudah mengalir dengan baik dan mudah dikempa (kompresibilitas
baik). Untuk itu dilakukan beberapa uji evaluasi yang biasa digunakan sebagai
patokan untuk mengetahui sifat alir granul, yaitu : waktu alir, sudut istirahat, dan
pengetapan (bulk density dan tapped density).
Waktu alir, yaitu waktu yang diperlukan untuk mengalirkan sejumlah
granul atau serbuk pada corong uji. Berdasarkan hasil pengujian didapatkan
waktu alir granul 8,6 > 10 menunjukkan bahwa waktu alir memenuhi syarat.
Menunjukkan daya alir yang baik.
Sudut istirahat, yaitu sudut tetap yang terjadi antara timbunan partikel
berbentuk kerucut dengan bidang horizontal. Berdasarkan hasil pengujian
didapatkan sudut diam 22,7o. Menurut parameter sudut diam dengan sifat alir
disimpulkan bahwa granul mudah mengalir, karena derajat sudut diamnya
berada diantara 20o < α < 40o.
Bulk density dan tapped density/ Pengetapan, yaitu penurunan volume
sejumlah granul atau serbuk akibat hentakan dan getaran. Pada penetapan ini kita
dapat mengetahui persen (%) kompresibilitas dari granul sehingga dapat
diketahui sifat alitnya dan kemudahannya untuk dikempa. Berdasarkan
pengujian didapat hasil kompresibilitas 19,76 %. Syarat kompresibilitas yang
baik yaitu adalah memiliki indeks pengetapan < 20% dan hasil kompresibilitas
tersebut menunjukkan bahwa daya alir granul baik dan memenuhi syarat.
Kompresibilitas berhubungan dengan proses pengisian ke dalam kapsul. Apabila
kompresibilitas baik, maka granul telah memenuhi syarat dan siap untuk disi.
Setelah dilakukan evaluasi terhadap serbuk atau massa kapsul kemudian
ditimbang cangkang kosong selanjutnya di isi kapsul dengan serbuk
menggunakan alat pencetak kapsul dan di tutup badan kapsul dengan tutup
kapsul hingga tertutup rapat. Setelah pengisian selesai dilakukan evaluasi
terhadap kapsul. Pengujian yang dilakukan yaitu uji keragaman bobot, uji waktu
hancur dan uji higroskopisitas.
Uji keragaman bobot dilakukan dengan cara menimbang sepuluh kapsul
satu per satu kemudian. Sehingga diperoleh berat netto 10 kapsul yaitu 2,918
mg dan berat rata-rata kapsul yaitu 291,9 mg. Berdasarkan tabel keseragaman
bobot diperoleh deviasi yaitu A1 = 4,72 %, A2 = 2,50 %, A3 = 2,22 %.
Berdasarkan % deviasi yang diperoleh sehingga memenuhi persyaratan pada
Farmakope yaitu tidak ada kapsul yang melebihi syarat yang tertera pada kolom
A.
Pengujian waktu hancur kapsul penting dilakukan untuk mengetahui
waktu sediaan dinyatakan hancur sempurna bila sisa sediaan yang tertinggal
pada kasa alat uji merupakan massa lunak yang tidak mempunyai inti yang jelas
atau cangkang kapsul yang tidak larut kecuali dinyatakan lain waktu yang
diperlukan untuk menghancurkan 6 kapsul dengan menggunakan cakram tidak
boleh lebih dari 15 menit. Berdasarkan tabel waktu hancur diperoleh rata-rata
waktu hancur kapsul adalah 2 menit 42 detik , sehingga sediaan kapsul yang di
buat telah memenuhi persyaratan evaluasi waktu hancur, karena keseluruhan
kapsul yang diuji mempunyai rentang waktu 15 menit.
Uji higroskopisitas dilakukan untuk melihat apakah terjadi perubahan
terhadap bobot kapsul, isi kapsul dan bentuk kapsul sehingga dapat menentukan
kualitas dari kapsul yang diproduksi.
V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Dari hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa formulasi yang dibuat telah
memenuhi persyaratan serbuk/massa kapsul mulai dari uji sifat alir serbuk, uji
sudut istirahat, uji bulk density dan tapped density. Serta evaluasi sediaan
kapsul yaitu uji keragaman bobot dan uji waktu hancur

5.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA

Albina, LM. 2002. Interaction of Caffeine and Restrain Stress During Pregnancy
in Mice. Spain : University Terragona.
Ansel, H.C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Edisi ke-4. Jakarta :
Penerbit Universitas Indonesia.
Augsburger, L.L. 2000. Modern Pharmaceutics : Hard and Soft Gelatin Capsules.
Edisi 2. New York : Mercel Dekker.
Departemen Kesehatan. 1979. Farmakope Indonesia. Edisi III. Jakarta :
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Departemen Kesehatan. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta :
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Lieberman, H. A., Lachman, L., & Schwartz, J.B. 1989. Pharmaceutical Dosage
Forms.Volume I. New York: Marcel Dekker, Inc.
Nawrot, P, et al. 2003. Effects of Caffeine on Human Health Food Additives and
Contaminants. Vol.20.
Sukandar, E. 2006. Neurologi Klinik. Edisi Ketiga. Bandung : Pusat Informasi
Ilmiah (PII) Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran UNPAD.
Sunaryo, W. 1995. Farmakologi dan Terapi. Edisi 4. Jakarta : Penerbit Fakultas
Kedokteran UI.
Syamsuni, H.A. 2005. Ilmu Resep. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Voight, R. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Yogyakarta : Gadjah Mada
University Press.
LAMPIRAN