Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH AKUNTANSI BIAYA

BIAYA BAHAN BAKU DAN TENAGA KERJA LANGSUNG

OLEH :

 SAHRUL (105731120317)
 MUHAMMAD ANDRY R (105731121917)
 INA SAKINAH ASDAR (105731122417)
 LULU ANUGRAHSARI POSSUMAH (105731120117)
 ASRI ANNISA (105731121217)
 NUR AFNI (105731120917)
 SARAYANTI (105731131117)

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2018
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI........................................................................................................................... 2
PENDAHULUAN ................................................................................................................... 4
A. LATAR BELAKANG ...................................................................................................... 4
B. RUMUSAN MASALAH ................................................................................................. 4
C. TUJUAN PENULISAN ................................................................................................... 4
BAB II ................................................................................................................................... 5
PEMBAHASAN ..................................................................................................................... 5
A. ANGGARAN TENAGA KERJA LANGSUNG .............................................................. 5
JENIS TENAGA KERJA LANGSUNG .................................................................... 7
B. BIAYA BAHAN BAKU .................................................................................................... 9
C. Penentuan Harga Pokok Bahan Baku ..................................................................... 14
1. Metode Identifikasi Khusus. ................................................................................. 14
2. Metode Biaya Standar ........................................................................................... 14
3. Metode Rata-Rata Harga Pokok Bahan Baku Pada Akhir Bulan ......................... 15
4. Metode Rata-Rata Rergerak / Rata-Rata Tertimbang ........................................... 15
D. Masalah-Masalah Khusus yang Berhubungan Dengan Bahan Baku ...................... 16
1. Sisa Bahan ( Scrap Materials ) .......................................................................... 16
2. Produk Rusak (Spoiled Goods) ......................................................................... 18
3. Produk Cacat ..................................................................................................... 20
BAB III ................................................................................................................................ 21
PENUTUP ........................................................................................................................... 21
A. KESIMPULAN ............................................................................................................. 21
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 22
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kami
kemudahan sehingga dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat dan salam
semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yakni Nabi Muhammad
SAW.

Makalah ini di susun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang


“BIAYA BAHAN BAKU DAN TENAGA KERJA LANGSUNG”, yang kami
sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber. Namun dengan penuh
kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat
terselesaikan.

Makassar, 5 November 2018

Kelompok 1
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Tenaga kerja adalah daya kerja fisik maupun mental yang merupakan
sumbangsih menusia untuk menghasilkan suatu produk atau jasa
tertentu.Tenaga kerja merupakan satu elemen terpenting dalam setiap
perusahaan atau entitas usaha. Suatu produk tidak akan tercipta tanpa adanya
salah satu faktor produksi ini. Oleh karena itu, keberadaan tenaga kerja
sangatlah vital dalam sebuah perusahaan manufaktur maupun perusahaan jasa.
Tenaga kerja perusahaan yang telah mengabdikan dirinya pada perusahaan
tertentu tentunya akan mendapatkan imbalan berupa gaji atau upah yang sesuai
dengan kinerja dan prestasi masing-masing tenaga kerja

Biaya bahan baku merupakan salah satu komponen penting dari biaya
produksi. Masalah yang dihadapi manajemen berkatitan dengan bahan baku
yaitu keterlambatan bahan yang mengganggu proses produksi. Sedangkan
bahan baku yang berlebihan akan mengakibatkan pemborosan pada dana yang
tertanam pada persediaan bahan. Karena dalam penyimpanan bahan baku
menimbulkan beban (biaya) penyimpanan. Pada tahap pengadaan dan
penyimpanan bahan baku dari segi akuntansi timbul masalah penentuan harga
pokok bahan baku yang dibeli, sedangkan pada saat pemakaian bahan baku
timbul masalah penentuan harga pokok bahan baku yang dipakai.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan anggaran tenaga kerja langsung?

2. Apa yang dimaksud dengan bahan baku?

C. TUJUAN PENULISAN
1. Mengetahui pengertian anggaran tenaga kerja langsung

2. Mengetahui pengertian bahan baku


BAB II

PEMBAHASAN

A. ANGGARAN TENAGA KERJA LANGSUNG


Tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja yang dapat melakukakn
konversi bahan baku langsung menjadi produk jadi dan biayanya dapat di
bebankan secara layak keproduk tertentu.sedangkan tenaga kerja tak langsung
adalah tenaga kerja yang tidak dapat di telusuri secara langsung ke dalam
bagian kontruksi ataupun komposisi dari sebuah produk jadi.Anggaran upah
tenaga kerja langsung ialah anggaran yang merencanakan secara lebih
terperinci tentang upah yang akan dibayarkan kepada para tenaga kerja
langsung selama periode yang akan datang, yang didalamnya meliputi rencana
tentang jumlah waktu yang diperlukan oleh para tenaga kerja langsung untuk
menyelesaikan unit yang akan diproduksikan, tarif upah yang akan dibayarkan
kepada para tenaga kerja langsungdan kapan waktunya para tenaga kerja
langsung menjalankan kegiatan prose produksi,yang masing-masing dikaitkan
dengan jenis barang jadi(produk) yang akan dihasilkan,serta tempat atau
departemen dimana para tenaga kerja langsung tersebut akan bekerja.

Tenaga kerja langsung mempunyai sifat-sifat

1.Besar kacilnya biaya untuk tenaga kerja jenis ini berhubungan secara
langsungdengan tingkat kegiatan produksi

2.Biaya yang dikeluarkan untuk tenaga kerja jenis ini merupakan biaya
variabel.

3. tempat kerja tidak selalu di pabrik,tetapi dapat di luar pabrik

Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan tenaga kerja antara lain
adalah:
1. Kebutuhan tenaga kerja.

2. Pencarian atau penarikan tenaga kerja.

3. Latihan bagi tenaga kerja baru.

4. Evaluasi dan spesifikasi pekerjaan bagi para tenaga kerja.

5. Gaji dan upah yang harus diterima oleh tenaga kerja.

6. Pengawasan tenaga kerja.

Anggaran biaya tenaga kerja langsung:

1. Jumlah barang yang diprodusir, yang dilihat dari anggaran produksi.

2. Jam buruh langsung (DLH) yang diperlukan untuk mengerjakan 1 unit


barang.

3. Tingkat upah rata-rata per jam buruh langsung.

4. Jenis barang yang dihasilkan oleh perusahaan.

5. Waktu produksi barang (bulan atau kuartal).

Pada setiap perusahaan tentu ada biaya yang dikeluarkan untuk keperluan
buruh. Buruh atau tenaga kerja, merupakan salah satu faktor produksi yang
utama dan yang selalu ada dalam perusahaan, meskipun pada perusahaan
tersebut sudah digunakan mesin-mesin.Mesin yang bekerja dalam perusahaan
tentu saja perlu ditangani oleh tenaga manusia,meskipun mesin-mesin zaman
sekarang sudah banyak yang bersifat otomatis. TenagaKerja yang bekerja di
pabrik dikelompokkan menjadi dua yakni:

1. tenaga kerja langsung dan,

2. tenaga kerja tak langsung,


JENIS TENAGA KERJA LANGSUNG
Untuk lebih jelasnya klasifikasi anggaran yang dimuat maka terlebih
dahulu dijelaskan dalam berbagai macam klasifikasi anggaran, dalam anggaran
sebagai klasifikasinya meliputi

1. Klasifikasi obyek

2. Klasifikasi organik

3. Klasifikasi fungsional

4. Klasifikasi ekonomi

5. Klasifikasi program perfomance.

Dari pengertian klasifikasi obyek pengelompokkan pengeluaran-


pengeluaran ke dalam jenis barang jasa yang apakan dibeli. Sedangkan untuk
klasifikasi organik adalah pengelompokan anggaran atas kategori suatu
organisasi.

Klasifikasi Fungsional adalah merupakan salah satu pengelompokkan


pengeluaran atas dasar fungsi-fungsi yang akan dijelaskan oleh Mardiasmo,
Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah, (2002 : 124) menyatakan bahwa
ekonomi adalah pengelompokkan pengeluaran atas dasar kelompok kegiatan
fungsi dan proyek yang akan dicapai sehingga dari pengeluaran-pengeluaran
anggaran nantinya dapat diukur efisiensi dan penegasan yang dapat dijalankan.
Dengan mengetahui macam-ma-cam klasifikasi anggaran tersebut di atas,
dengan data yang ada dapatlah ditentukan perencanaan anggaran belanja rutin
pada lokasi penelitian yang terpilih disusun berdasarkan dengan sistimasi
sebagai dasar dalam pertimbangan klasifikasi anggaran yang sesuai.

Mardiasmo, Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah (2002 : 29)


menyajikan data-data dalam penyusunan anggaran belanja rutin pada lokasi
yang terpilih di mana anggaran tersusun sebagai berikut :
1. Belanja Pegawai terbagi atas :

a. Gaji Pokok

b. Tunjangan Tambahan

c. tunjangan istri / suami

d. Tunjangan anak

e. Tunjangan jabatan

f. Belanja Pegawai lainnya yang meliputi :

Ø Tunjangan pangan/beras

Ø Biaya lembur

Ø Honor untuk jurupemelihara bangunan purbakala

2. Belanja barang terdiri atas :

A. Keperluan sehari-hari perkantoran, dipergunakan untuk :


a. Keperluan bahan/ alat tulis menulis
b. Perlatan kantor ketata usahaan
c. Perlatan bahan/ alat tulis menulis dan bahan lain
d. Perlatan rumah tangga kantor
e. Bahan rumah tangga kantor
f. Pembiayaan benda-benda pos
g. Biaya rapat dinas
h. Biaya penerimaan tamu
i. Biaya transportasi
j. Biaya petugas jaga malam.
B. Belanja barang inventaris kantor :
a. Semua barang-barang yang berhubungan dengan barang
inventaris kantor.
b. Barang-barang keperluan tambahan

B. BIAYA BAHAN BAKU


Biaya bahan baku (raw material cost) adalah seluruh biaya untuk
memperoleh sampai dengan bahan siap untuk digunakan yang meliputi harga
bahan, ongklos angkut, penyimpanan dan lain-lain.
Sebelum dibahas unsur-unsur biaya yang membentuk harga pokok
bahan baku yang dibeli, berikut ini diuraikan sistem pembelian lokal bahan
baku.
1. Sistem Pembelian
Sistem pembelian lokal bahan baku terdiri dari prosedur permintaan
pembelian, prosedur order pembelan, prosedur penerimaan barang, prosedur
pencatatan penerimaan barang di gudang, dan prosedur encatatan utang .

• Prosedur Permintaan Pembelian Bahan Baku


Jika persediaan bahan baku yang ada digudang sudah mencapai jumlah
tingkat minimum pemesanan kembali ( reorder point), Bagian gudang
kemudian membuat surat permintaan pembelian (purchase requisition) yang
kemudian dikirimkan ke bagian pembelian .
• Prosedur Penerimaan Bahan Baku
Pemasok mengirimkan bahan baku kepada perusahaan sesuai dengan surat
order pembelian yang diterimanya. Bagian Penerimaan yang bertugas
menerima barang, mencocokan kualitas, kuantitas, jenis serta spesifikasi
bahan baku yang diterima dari pemasok dengan tembusan surat order
pembelian. Apabila bahan baku yang diterima telah sesuai dengan surat order
pembelian, Bagian Penerimaan membuat laporan penerimaan barang untuk
dikirimkan kepada Bagian Akuntansi.
• Prosedur Pencatatan Penerimaan Bahan Baku di Bagian Gudang
Bagian Penerimaan menyerahkan bahan baku yang diterima dari pemasok
kepada Bagian Gudang. Bagian Gudang menyimpan bahan baku tersebut dan
mencatat jumlah bahan baku yang diterima dalam kartu gudang (stock card).
Kartu Gudang di gunakan oleh Bagian Gudang untuk mencatat mutasi tiap-
tiap jenis barang gudang. Kart gudang hanya berisi informasi kuantitas tiap-
tiap jenis barang yang disimpan di gudang dan tidak berisi informasi
mengenai harganya. Catatan kartu guang diawasi bagian akuntansi yang
berupa kartu persediaan.
• Prosedur Pencatatan Utang Yang Timbul dari Pembelian Bahan Baku
Bagian pembelian menerima faktur pembelian dari pemasok. Bagian
pembelian memberikan tanda tangan diatas faktur pembelian, sebagai tanda
persetujuan bahwa faktur dapat dibayar karena pemasok telah memenuhi
syarat-syarat pembelian yang ditentukan oleh perusahaan. Faktur pembelian
yang telah ditandatangani oleh Bagian Pembelian tersebut diserahkan kepada
Bagian Akuntansi. Dalam transaksi pembelian bahan baku, bagian akuntansi
memeriksa ketelitian perhitungan dalam faktur pembelian dan
mencocokannya dengan informasi dalam tembusan surat order pembelian
yang diterima dari Bagian Pembelian dan laporan penerimaan barang yang
diterima dari bagian penerimaan.
Faktur pembelian beserta surat order pembelian dan laporan penerimaan
barang dicatat oleh bagian akuntansi dlm jurnal pembelian yang kemudian di
catat dalam Kartu Persediaan .

Biaya yang Membentuk Harga Pokok Bahan Baku yang Dibeli

Semua biaya yang terjadi untuk memperoleh bahan baku dan untuk
menempatkanya dalam keadaan siap untuk diolah, merupakan unsur harga
pokok bahan baku yg dibeli. Oleh karena itu, harga pokok bahan baku tidak
hanya berupa harga yang tercantum dalam faktur pembelian saja.
Sering kali dalam pembelian bahan baku, perusahaan membayar biaya
angkutan untuk berbagai macam bahan baku yang dibeli. Hal ini
menimbulkan masalah mengenai pengalokasian biaya angkutan tersebut
kepada masing” jenis bahan baku yang diangkut.
Perlakuan terhadap biaya angkutan ini dpt dibedakan sbb :
1. Biaya angkutan diperlakukan sebagai tambahan harga pokok bahan baku
yang dibeli.
2. Biaya angkutan tidak diperlakukan sebagai tambahan harga pokok bahan
baku yang dibeli, namun diperlakukan sebagai unsur biaya overhead pabrik.

Biaya angkutan diperlakukan sebagai tambahan harga pokok bahan


baku yang dibeli
Apabila angkutan diperlakukan sebagai tambahan harga pokok bahan baku
yang dibeli, maka alokasi biaya angkutan kepada masing-masing jenis bahan
baku yang dibeli dapat didasarkan pada :
1. Perbandingan kuantintas tiap jenis bahan baku yang dibeli.
Contoh :
Perusahaan membeli 3 macam bahan baku dengan jumlah harga dalam faktur
sebesar Rp500.000. Biaya angkutan yang dibayar untuk ketiga macam bahan
baku tersebut adalah sebesar Rp300.000. Kuantitas masing-masing jenis
bahan baku yang tercamtum dalam faktur adalah bahan baku A=400 kg,
bahan baku B=350 kg, bahan baku C=50 kg .
Pembagian biaya angkutan kepada tiap-tiap jenis bahan baku adalah:

Berat
Jenis Harga % Harga Pokok Bahan
Bahan faktur Baku
Baku (i) : 800 (ii)xRp 300.000
Kg (ii) (iii)
(i)
A 400 50,00 Rp 150.000
B 350 43,75 131.000
C 50 6,25 18.750
800 100,00 Rp 300.000
2. Perbandingan harga faktur tiap jenis bahan baku yang dibeli.
Contoh :
Perusahaan membeli 4 macam bahan baku dengan harga faktur tiap-
tiap jenis bahan sebagai berikut : Bahan baku A Rp100.000 , bahan baku B
Rp150.000 , bahan baku C Rp225.000 , bahan baku D Rp125.000 . Biaya
angkutan 4 jenis bahan baku tersebut adalah Rp48.000 . Jika biaya
angkutan tersebut dibagi atas dasar perbandingan harga faktur tiap-tiap
jenis bahan baku tersebut, harga pokok tiap jenis bahan baku akan di
bebani dengan tambahan biaya angkutan sebesar Rp0,08 (48.000/600.000)
. Pembagian biaya angkutan sebesar Rp48.000 adalah sbb :
JenisBahan Harga Pembagian Harga
Baku faktur BiayaAngkuta Pokok Bahan
(i) n Baku
(i) x Rp.0,08 (i)+ (ii)
(ii) (iii)
A Rp 100.000 Rp 8.000 Rp108.000
B 150.000 12.000 162.000
C 225.000 18.000 243.000
D 125.000 10.000 135.000
Rp600.000 Rp 48.000 Rp648.000

3. Biaya angkutan diperhitungkan dalam harga pokok bahan baku yang


dibeli berdasarkan tarif yang ditentukan di muka.
Untuk meneyederhanakan perhitungan harga pokok bahan baku, biaya
angkutan dibebankan kepada bahan baku yang dibeli atas dasar tarif yang
ditentukan dimuka. Perhitungan tarif dilakukan dengan menaksir biaya
angkutan yang akan dikeluarkan dalam tahun anggaran tertentu. Taksiran
biaya angkutan ini kemudian dibagi dengan dasar yang akan digunakan untuk
mengalokasikan biaya angkutan tersebut . Pada saat pembelian bahan baku,
harga faktur bahan baku harus ditambah dengan biaya angkutan seesar tarif
yang telah ditentukan. Biaya angkutkutan yang sesungguhnya dikeluarkan
dicatat dalam rekening Biaya Angkutan.

Contoh :
Biaya angkutan yang diperkirakan akan dikeluarkan dalam tahun 20X1
adalah sebesar Rp2.500.000 , dan jumlah bahan baku yang diangkut
diperkirakan sebanyak 50.000 kg . Jadi tarif biaya angkut untuk tahun 20X1
adalah sebesar Rp50 per kg bahan baku yang diangkut . Dalam tahun 20X1
jumlah bahan baku yang dibeli dan alokasi angkutan atas dasar tarif disajikan
sebagai berikut :
Biaya Harga Pokok
JenisBah Berat Harga Faktur Angkutan yg Bahan Baku
an Baku Kg dibebankan
atas Dasar
Tarif (2) + (3)
(1) (2) (1) x Rp50 (4)
(3)
A 25.000 Rp 5.000.000 Rp1.250.000 Rp 6.250.000
B 15.000 4.500.000 750.000 5.250.000
C 10.000 4.000.000 500.000 4.500.000
Rp13.500.000 Rp2.500.000 Rp 16.000.000

Jika misalnya biaya angkutan yg sesungguhnya dlm tahun 20XI adalah


sebesar Rp2.400.000, maka jurnal yg dibuat dalam tahun 20XI untuk
mencatat bahan baku yg dibeli tsb adalah sbb:
(a) Jurnal pembelian bahan baku
Persediaan bahan baku Rp13.500.000
Utang dagang Rp13.500.000
(b) Jurnal pembebanan biaya angkutan atas dasar tarif
Persediaan bahan baku Rp2.500.000
Biaya angkutan Rp2.500.000
(c) Jurnal pencatatan biaya angkutan yg sesungguhnya terjadi
Biaya angkutan Rp2.400.000
Kas Rp2.400.000
(d) Jurnal penutupan saldo rekening biaya angkutan ke
rekening harga pokok penjualan
Biaya angkutan Rp100.000
Harga pokok penjualan Rp100.000
Biaya Angkutan Tidak Diperhitungkan Sebagai Tambahan Harga Pokok
Bahan Baku Yang Dibeli, Tetapi Diperlakukan Sebagai Unsur Biaya
Overhead Pabrik . Dengan cara ini, biaya angkutan tidak diperhitungkan
sebagai tambahan harga pokok bahan baku yang dibeli, namun diperlakukan
sebagai unsur biaya Overhead Pabrik. Pada awal tahun anggaran, jumlah
biaya angkutan yang akan dikeluarkan selama satu tahun ditaksir. Jumlah
taksiran biaya angkutan ini diperhitungkan sebagai unsur biaya overhead
pabrik dalam penentuan tariff biaya overhead pabrik. Biaya angkutan yang
sesungguhnya dikeluarkan kemudian dicatat dalam debit rekening Biaya
Overhead Pabrik Sesungguhnya.

C. Penentuan Harga Pokok Bahan Baku


Berbagai macam metode penentuan harga pokok bahan baku yang dipakai
dalam produksi (materials costing methods) diantaranya adalah :Peramalan
ekonomi (economic forecast)

1. Metode Identifikasi Khusus.

Dalam metode ini, setiap jenis bahan baku yang ada digudang harus di
beri tanda harga pokok per satuan berapa bahan baku tersebut dibeli. Setiap
pembelian bahan baku yang harga persatuanya berbeda dengan harga per
satuan bahan baku yang sudah ada di gudang, harus dipisahkan
penyimpanannya dan diberi tanda pada harga berapa bahan baku tersebut
dibeli. Dalam metode ini, tiap-tiap jenis bahan baku yang ada di gudang jelas
identitas harga pokoknya, sehingga setiap pemakaian bahan baku dapat
diketahui harga pokok per satuanya secara tepat.

2. Metode Biaya Standar


Dalam metode ini, bahan baku yg dibeli dicatat dalam kartu persediaan
sebesar harga standar (standar prince) yaitu harga taksirn yang mencerminkan
harga yang diperkirakan untuk tahun anggaran tertentu. Pada saat pakai,
bahan baku diebankan kepada produk pada harga standar tersebut.

Jurnal yang di buat saat pembelian bahan baku :


Persediaan Bahan Baku XX
Selisih Harga XX

Untuk mencatat bahan baku yang dibeli sebesar harga standar :


Selisih Harga XX
Ytang Dagang XX

Untuk mencatat harga sesungguhnya bahan baku yang dibeli :


Barang Dalam Proses-BBB XX
Persediaan Bahan Baku XX

Jurnal pada saat pemakaian ahan baku :


BDP-BBB XX
Persediaan Bahan Baku XX

3. Metode Rata-Rata Harga Pokok Bahan Baku Pada Akhir Bulan


Dalam metode ini, pada tiap akhir bulan dilakukan perhitungan harga
pokok rata-rata per satuan tiap jenis persediaan bahan baku yang ada di
gudang . Harga pokok rata-rata persatuan ini kemudian digunakan untuk
menghitung harga pokok bahan baku yang dipakai dalam produksi dalam
bulan berikutnya.

4. Metode Rata-Rata Rergerak / Rata-Rata Tertimbang


Dalam meode ini, persediaan bahan baku yang ada di gudang dihitung
harga pokok rata-ratanya, dengan cara membagi total harga pokok dengan
jumlah satuanya . Setiapkali terjadi pembelian yang harga pokok persatuanya
berbeda dengan harga rata-rata pokok persediaan yang ada di gudang, harus
dilakukan perhitungan harga pokok rata-rata per satuan yang baru.
Bahan baku yang dipakai dalam proses prouksi dihitung harga pokoknya
dengan mengalikan jumlah satuan bahan baku yang dipakai dengan harga
pokok rata-rata per satuan bahan baku yang ada di gudang.
Contoh :
Persediaan Bahan Baku A pada 1 Januari 20X1 terdiri dari :
600 kg @Rp2.400 = Rp1.440.000
400 kg @Rp2.500 = Rp1.000.000

Harga
Kuantitas
Tanggal beli Per kg Jumlah
Kransaksi
kg

6/1 Pemakaian 700

15/1 Pembelian 1.200 Rp2.750

17/1 Pembelian 500 Rp3.000 Rp 3.300.000

21/1 Pemakaian 1.100 1.500.000

Jumlah Pemakaian Rp4.800.000

D. Masalah-Masalah Khusus yang Berhubungan Dengan Bahan Baku

1. Sisa Bahan ( Scrap Materials )


Sisa bahan adalah bahan baku yang tersisa dari proses produksi yang tidak
dapat diikutsertakan kembali dalam prosesproduksi dengan tujuan
semula,tetapi ada kemungkinan untuk di gunakan pada proses produksi
dengantujuan yang lain atau di jual.Jika sisa bahan tidak mempunyai nilai
jual, akibat yang ditimbulkan adalah harga pokok persatuan produk jadi lebih
tinggi. Jika bahan masih mempunyai nilai jual, masalah yang timbul adalah
bagaimana memperlakukan hasil penjualan sisa bahan tersebut. Hasil
penjualan sisa bahan dapat diperlakukan sebagai pengurang biaya bahan
baku pesanan yang menghasilkan sisa bahan tersebut, sebagai pengurangan
biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi, atau sebagai penghasil di
luar usaha.
Hasil Penjualan Sisa Bahan Diperlakukan Sebagai Pengurang Biaya
Bahan Baku Yang Dipakai Dalam Pesanan Yang Menghasilkan Sisa
Bahan Tersebut.
Jika sisa bahan terjadi karena karakteristik proses pengolahan pesanan
tertentu, maka hasil penjualan sisa bahan dapat diidentifikasikan dengan
pesanan tersebut.

Jurnal saat penjualan sisa bahan :


Kas / Piutang dagang XX
Barang Dlm Proses-Biaya Bahan Baku XX
Hasil penjualan sisa bahan ini juga dicatat dlm kartu hargapokok pesanan
yang bersangkutan dalam kolom “biaya bahan baku” sebagai pengurang biaya
bahan baku pesanan tersebut
Hasil Penjualan Sisa Bahan Diperlakukan Sebagai Pengurangan
Terhadap Biaya Overhead Pabrik yang Sesungguhnya Terjadi.
Jika sisa bahan tidak dapat diidentifikasikan dengan pesanan tertentu, dan
sisa bahan merupakan hal yang biasa terjadi dalam roses pengerjaan produk,
maka hasil penjualannya dapat diperlakukan sebagai pengurangan
biaya Overhead pabrik sesungguhnnya.
Jurnal pada saat penjualan sisa bahan bku adalah :
Kas/ Piutang Dagang XX
Biaya Overhead pabrik sesungguhnnya XX
Hasil Penjualan Sisa Bahan Diperlakukan Sebagai Penghasilan Di Luar
Usaha .
Hasil penjualan sisa bahan dapat pula diperlakukan sebagai penghasilan di
luar usaha dan tidak sebagai pengurang biaya produksi .
Jurnal saat penjualan sisa bahan adalah :
Kas / Piutang dagang XX
Hasil Penjualan Sisa Bahan XX
Contoh :
Bagian Produksi menyerahkan 2.000 kg sisa bahan baku ke Bagian Gudang.
Sisa bahan tersebut ditaksir laku dijual Rp5000 per kg . Sampai dg akhir
periode akuntansi sisa bahan tersebut telah laku dijual sebanyak 1.250 kg dgn
harga jual Rp6000 per kg.
Jurnal penyerahan sisa bahan :
Persd. Sisa Bahan (2000xRp5000) Rp10.000.000
Hasil Penjualan Rp10.000.000
Jurnal penjualan sisa bahan :
Kas / Piutang Dagang (1.250xRp6000) Rp7.500.000
Persd. Sisa bahan Rp7.500.000
Jurnal Penyesuaian pd akhir periode:
Hasil Penjualan (750xRp5000) Rp3.750.000
Penghasilan yg blm direalisasikan Rp3.750.000
Jurnal penyesuaian karena adanya selisih harga jual : (Rp6000-
Rp5000=Rp1000)
Persd. Bahan baku (1.250xRp1000) Rp1.250.000
Hasil penjualan Rp1.250.000

Jurnal pencatatan persediaan dan penjualan sisa bahan serta jurnal


penyesuaian adanya persediaan yg belum laku dijual dan selisih harga.

2. Produk Rusak (Spoiled Goods)


Produk rusak adalah unit produk yang tidak memenuhi standar produksi
dan tidak dapat di perbaiki karena secara teknis tidak memungkinkan atau
tidak ekonomis. Produk rusak merupakan produk yang telah menyerap biaya
produksi dan secara ekonomis tidak dapat diperbaiki menjadi produk baik.
Perlakuan terhadap produk rusak sangat tergantung dari sifat dan penyebab
terjadinya produk rusak, yaitu:
1. Apabila penyebab terjadinya produk rusak adalah hal yang bersifat luar
biasa, misalnya sulitnya proses produksi, maka harga pokok produk rusak
akan dibebankan sebagai tambahan harga pokok produk yang baik dalam
pesanan yang bersangkutan. Apabila produk rusak laku dijual, maka hasil
penjualan produk rusak akan diperlakukan sebagai pengurang biaya
produksi pesanan yang bersangkutan.
Contoh :
PT Eliona Sari memproduksi atas dasar pesanan. Dalam bulan Januari 20X7
perusahaan menerima pesanan pembuatan 1.000 satuan produk A .
Untuk memenuhi pesanan tersebut perusahaan memproduksi 1.100 satuan
produk A dengan biaya produksi sbb :
BBB 75.000 , BTKL 175.000 , BOP dibebankan atas dasar tarif sebesar 150%
dari BTKL .
Pada saat pesanan selesai dikerjakan 100 satuan produk rusak, yg secara
ekonomis tdk dapat diperbaiki. Produk rusak tersebut diperkirakan laku dijual
350 per satuan.
Jurnal untuk mencatat biaya produksi untuk mengolah 1.100 satuan produk A
Barang Dlm Proses-BBB 75.000
Barang Dlm Proses-BTKL 175.000
Barang Dlm Proses-BOP 262.000
Persediann Bahan Baku 75.000
Gaji dan Upah 175.000
Biaya Overhead yg dibebankan 262.000

Apabila tidak terdapat produk rusak, maka harga pokok per unit adalah :
Rp512.500/1.100 = Rp 466
Dengan adanya produk rusak 100 unit akan mengakibatkan harga pokok
perunitnya menjadi lebih besar karena harga pokok produk rusak dibebankan
pada produk yang baik.
Harga produk A yang baik :
Rp512.500/1000 = Rp 513

Jika produk rusak masih laku dijual, maka hasil penjualan produk rusak
dikurangkan dari biaya produksi yang seluruhnya telah dibebankan kepada
produk yang baik.
Pembagian nilai Jual produk sebagai pengurang terhadap tiap-tiap rekening
Barang Daam Proses tersebut, didasarkan pada perbandingan tiap-tiap elemen
biaya tersebut.

3. Produk Cacat
Produk cacat adalah unit produk yang tidak memenuhi standar produksi da
dapat diperbaiki secara teknis dan ekonomis untuk dapat di jual sebagai
produk baik atau tetap sebagai produk cacat.
Penyebab produk cacat ada dua macam,pertamatimbulnya produk cacat di
sebabkan karena konsumen.kedua,di sebabkan karena kesalahan saat proses
produksi.
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Semua biaya yang terjadi untuk memperoleh bahan baku dan untuk
menempatkanya dalam keadaan siap untuk diolah, merupakan unsur harga pokok
bahan baku yg dibeli. Oleh karena itu, harga pokok bahan baku tidak hanya
berupa harga yang tercantum dalam faktur pembelian saja.

Sering kali dalam pembelian bahan baku, perusahaan membayar biaya


angkutan untuk berbagai macam bahan baku yang dibeli. Hal ini menimbulkan
masalah mengenai pengalokasian biaya angkutan tersebut kepada masing” jenis
bahan baku yang diangkut.Model yang paling tepat harus dipilih dalam
melakukan peramalan.
DAFTAR PUSTAKA

http://www.scribd.com/doc/124251856/anggaran

http://himmatulkhairibalancedlife.blogspot.co.id/2011/04/anggaran

https://sites.google.com/site/penganggaranperusahaan/anggaran