Anda di halaman 1dari 61

PERTEMUAN 1

EFEK OBAT SISTEM SARAF OTONOM

1
BAB 1
PENDAHULUAN
“Pengaruh obat kolinergik dan antikolinergik terhadap kelenjar saliva dan mata”

Latar Belakang
Sistem saraf otonom bekerja menghantarkan rangsang dari SSP ke otot polos, otot jantung
dan kelenjar. Sistem saraf otonom merupakan saraf eferen (motorik), dan merupakan bagian dari
saraf perifer. Sistem saraf otonom ini dibagi dalam 2 bagian, yaitu sistem saraf simpatis dan
sistem saraf parasimpatis. Pada umumnya jika fungsi salah satu sistem dirangsang maka sistem
yang lain akan dihambat.
Sistem saraf otonom tersusun atas saraf praganglion, ganglion dan saraf postganglion.
Impuls saraf diteruskan dengan bantuan neurotransmitter, yang dikeluarkan oleh saraf praganglion
maupun saraf postganglion. Sistem saraf otonom yang dikenal juga dengan nama sistem saraf
vegetatif, sistem saraf keseimbangan visceral atau sistem saraf sadar, sistem mengendalikan dan
mengatur keseimbangan fungsi-fungsi intern tubuh yang berada di luar pengaruh kesadaran dan
kemauan. Sistem ini terdiri atas serabut-serabut saraf-saraf ganglion-ganglion dan jaringan saraf
yang mendarafi jantung, pembuluh darah, kelenjar-kelenjar, alat-alat dalaman dan otot-otot polos.
Untuk selanjutnya, obat-obat yang berhubungan dengan kerja asetilkolin disebut
kolinergik, dan obat-obat yang berhubungan dengan kerja norepineprin disebut adrenergik.
Obat-obat otonom adalah obat yang dapat memengaruhi penerusan impuls dalam SSO dengan
jalan mengganggu sintesa, penimbunan, pembebasan,atau penguraian neurotransmitter atau
memengaruhi kerjanya atas resptor khusus. Akibatnya adalah dipengaruhinya fungsi otot polos
dan organ, jantung dan kelenjar. Ada 2 macam golongan obat otonomik yakni, Golongan
simpatomimetik (merangsang) yang kerjanya mirip dengan saraf simpatis, dan Golongan
simpatolitik (menghambat) untuk simpatis dan parasimpatolitik. Menurut khasiatnya, obat otonom
dapat digolongkan sebagai berikut:
1. Zat-zat yang bekerja terhadap SP, yakni:
a. Parasimpatikomimetika (kolinergika) yang merangsang organ-organ yang dilayani saraf
parasimpatis dan meniru efek perangsangan oleh asetilkolin, misalnya pilokarpin dan
fisostigmin.

2
b.Parasimpatikolitika (antikolinergika) justru melawan efek-efek kilonergika, misalnya
alkaloida, belladona dan propantelin.
2. Zat-zat perintang ganglion
Yang merintangi penerusan impuls dalam sel-sel ganglion simpatis dan parasimpatis. Efek
perintangan ini dampaknya luas, antara lain vasodilatasi karena blokade susunan simpatis,
sehingga dipergunakan pada hipertensi tertentu. Sebagai obat hipertensi zat-zat ini umumnya tidak
digunakan lagi berhubungan efek sampingnya yang menyebabkan blokade pula dari SP (gangguan
penglihatan, obstipasi dan berkurangnya sekresi berbagai kelenjar).

Tujuan Percobaan
Setelah menyelesaikan percobaan ini, mahasiswa dapat :
1. Menghayati secara lebih baik pengaruh berbagai obat system saraf otonom dalam
pengendalian fungsi vegetative tubuh.
2. Mengenal teknik untuk mengevaluasi aktivitas obat kolinergik atau antikolinergik pada
neroefektor parasimpatis

3
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Dasar Teori
System syaraf otonom yang dikenal juga dengan nama sistem syaraf vegetative, sistem
saraf visceral atau sistem saraf tidak sadar, sistem mengendalikan dan mengatur kemauan.
Syatem syaraf ini terdiri dari atas serabut syaraf-syaraf, ganglio-ganglion dan jaringan syaraf
yang mensyarafi jantung, pembuluh darah, kelenjar-kelenjar, alat- alat dalaman dan otot – otot
polos. Obat- obat yang sanggup mempengaruhi fungsi sistem syaraf otonom, bekerja
berdasarkan kemampuannya untuk meniru atau memodifikasi aktivitas neurohimor transmitor
tertentu yang dibebaskan oleh serabut syaraf otonom di ganglion atau sel-sel (organ-
organ)efektor.
Berdasarkan macam-macam saraf ototnom tersebut, maka obat berkhasiat pada sistem
saraf otonom digolongkan menjadi :
1. Obat yang mempengaruhi sistem saraf simpatik :
a. Simpatomimetik / adrenergic, yaitu obat yang meniru efek perangsangan dari
saraf simpatik (oleh noradrenalin ). Contohnya : efedrin, isoprenalin, dan lain-
lain.
b. Simpatolitik / adrenolitik , yaitu obat yang meniru efek bila saraf parasimpatik
ditekan atau melawan efek adrenergic. Contohnya : alkaloida sekale, propanolol,
dan lain –lain.
2. Obat yang mempengaruhi sistem saraf parasimpatik :
a. Parasimpatomimetik / kolinergik, yaitu obat yang meniru perangsangan dari
saraf parasimpatik oleh asetilkolin. Contohnya : pilokarpin dan phisostigmin.
b. Parasimpatolitik / antikolinergik, yaitu obat yang meniru bila saraf
parasimpatik ditekan atau melawan efek kolinergik. Contohnya : alkaloida
belladonna.
Kolinergik adalah sekelompok zat yang dapat menimbulkan efek yang sama dengan
stimulasi susunan parasimpatis (sp), karena melepaskan nerohormon asetilkolin (Ach) diujung-
ujung neuronnya. Reseptor kolinergik terdapat dalam semua ganglia, sinaps, dan neuron

4
postganglioner dari saraf parasimpatis, juga oelat – pelat ujung motoris dan dibagin ssp yang
disebut sistem ekstrapiramidal.
Alkaloid pilokarpin adalah suatu amin tersier dan stabil dari hidrolisis oleh
asetilkolonesterase. Dibandingkandengan asetilkolin dan turunannya, senyawa ini ternyata sangat
lemah. Pilokarpin menunjukkan aktivitas muskarinik dan terutama digunakan untuk oftamologi.
Penggunaan topical pada kornea dapat menimbulkan miosis dengan cepat dan kontaksi otot
siliaris. Pada mata akan terjadi suatu spasme akomodasi, dan penglihatan akan terpaku pada
jarak tertentu, sehingga sulit untuk memfokus suatu objek . Pilokarpin juga merupakan salah satu
pemacu sekresi kelenjar yang terkuat pada kelenjar keringat, air mata, dan saliva, tetapi obat ini
tidak digunakan untuk maksud demikian. Pilokarpin adalah obat terpilih dalam keadaan gawat
yang dapat menurunkan tekanan bola mata baik glaucoma bersudut sempit maupun bersudut
lebar.
Atropin memiliki afinitas kuat terhadap reseptor muskarinik dimana obat ini terikat
secara kompetitif sehingga mencegah asetilkolin terikat pada tempatnya di reseptor muskarinik.
Atropin menyekat reseptor muskarinik baik di sentral maupun di saraf tepi. Kerja obat ini
berlangsung sekitar 4 jam, kecuali jika diteteskan ke dalam mata maka kerjanya bahkan sampai
berhari-hari. Atropin menghambat M. contrictor pupilae dan M. ciliaris lensa mata sehingga
menyebabkan midriasis dan siklopegia (paralisis mekanisme akomodasi).

5
BAB 3
METODOLOGI PRAKTIKUM
1. Alat dan Bahan
1. Kolinergik dan Antikolinergik Kelenjar Saliva
Hewan Coba : Kelinci ( jumlah 1 ekor ), bobot tubuh  1,5 kg
Obat : -Fenobarbital 100 mg / 70kgBB manusia secara IV
-Pilokarpin Hcl 5 mg / kgBB kelinci secara IM
-Atropin SO4 0,25 mg / kgBB kelinci secara IV
Alat : Spuit injeksi 1 ml, timbangan hewan, corong gelas, beaker glass, gelas
ukur

2. Perhitungan dosis
Dosis 1,6 kg kelinci (pilokarpin)
Dosis = 1,6 kg x 5 mg = 8 mg
0,008
Vol = g x 100 ml = 0,4 ml
2

Kelinci 1,6 kg ( atropin )


1,6 kg x 0,25 mg = 0,4 mg
0,0004
Vol = x 100 ml = 0,4 ml
1

3. Prosedur Kerja
1. Siapkan kelinci
2. Hitung dosis dan volume pemberian obat dengan tepat untuk kelinci
3. Sedasikan kelinci dengan fenobarbital 100 mg / 70 kgBB manusia secara IV
4. Suntikan kelinci dengan pilokarpin Hcl 5 mg / kgBB kelinci secara IM
5. Catat waktu saat muncul efek salvias akibat pilokarpin Hcl dan tamping saliva yang
diekskresikan kelinci ke dalam beaker glass selama lima menit. Ukur volume saliva yang
ditampung
6. Setelah lima menit, suntikkan atropine SO4 0,25 mg / kgBB kelinci secara IV

6
7. Catat waktu saat muncul efek salvias akibat atropine SO4 dan tamping saliva yang
dieksresikan kelinci ke dalam beaker glass selama lima menit. Ukur volume saliva yang
ditampung

2. Kolinergik dan Antikolinergik Mata


Hewan Coba : Kelinci ( jumlah 1 ekor ), bobot tubuh  1,5 kg
Obat : -Tetes mata fisostigmin salisilat sebanyak 3 tetes
-Tetes mata pilokarpin Hcl sebanyak 3 tetes
-Tetes mata atropine SO4 sebanyak 3 tetes
-Larutan NaCl 0,9%
Alat : Senter, loupe, penggaris
Prosedur :
1. Siapkan kelinci. Gunting bulu mata kelinci agar tidak mengganggu pengamatan.
2. Sebelum pemberian obat, amati, ukur dan catat diameter pupil pada cahaya suram dan pada
penyinaran dengan senter.
3. Teteskan ke dalam kantong konjungativa kelinci :
a. Mata kanan : tetes mata fisostigmin salisilat sebanyak 3 tetes
b. Mata kiri : tetes mata pilokarpin Hcl sebanyak 3 tetes
4. Tutup masing-masing kelopak mata kelinci selama satu menit.
5. Amati, ukur dan catat diameter pupil setelah pemberian obat
6. Uji respon refleks mata
7. Setelah terjadi miosis kuat pada kedua mata, teteskan atropine SO4
8. Amati, ukur dan catat diameter pupil setelah pemberian obat
9. Catat dan tabelkan pengamatan
10. Setelah percobaan di atas selesai, teteskan larutan fisiologis NaCl 0,9% pada kedua mata
kelinci

7
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Percobaan Bahan Obat Waktu efek Volume saliva


Efek obat Pilokarpin 10.32 0,3 ml
sistem saraf Kelinci
otonom pada
kelenjar saliva Atropine SO4 11.47 1,9 ml

Percobaan Bahan Efek Diameter Pupil Mata


Efek Obat Cahaya suram (cm) 0,5
Sistem Saraf Cahaya senter (cm) 0,4
Otonom pada Mata kanan
Setelah pemberian fisostigmin (cm) 0,4
Mata kelinci
Respon refleks mata -
Setelah pemberian atropine SO4 (cm) 0,6
Cahaya suram (cm) 0,5
Cahaya senter (cm) 0,4
Mata kiri
Setelah pemberian pilokarpin Hcl (cm) 0,4
kelinci
Respon reflex mata -
Setelah pemberian atropine SO4 (cm) 0,6

Pada parktikum yang telah dilakukan terdapat 2 kali percobaan yaitu kolinergik dan
antikolinergik pada kelenjar saliva dan kolinergik dan antikolinergik pada mata, dengan
menggunakan pilokarpin Hcl dan atropine sulfat.
Pada percobaan pertama kolinergik dan antikolinergik pada kelenjar saliva diperoleh
hasil salivasin pada pengaruh obat atropine sulfat lebih banyak dibandingkan pada obat
pilokarpin Hcl hal ini tidak sesuai karena menurut teori yang seharusnya menghasilkan efek
salvias lebih banyak adalah pilokarpin Hcl. Dibandingkan atropine sulfat karena pilokarpin
merupakan obat kolinergik yang dapat merangsang sekresi kelenjar ludah sehingga dapat
memicu terjadinya hipersalivasi pada kelinci, selain itu pilokarpin merupakan salah satu pemacu
sekresi kelenjar terkuat pada kelenjar keringat, air mata dan saliva.
Ketidaksesuaian hasil tersebut disebabkan karena pada saat menampung saliva banyak
yang menempel di tempat kelinci, yang jatuh di beaker glas hanya beberapa tetes saja. Dan
praktikum selanjutnya mengenai pengaruh kolinergik dan ntikolinergik pada mata. Hasil yang
didapat adalah mata kelinci setelah ditetesi atropine menjadi lebih besar dan pada saat ditetesi

8
pilokarpin diameter pupilnya menjadi lebih kecil. Hasil yang didapat sesuai dengan teori bahwa
pilokarpin pada kornea dapat menimbulkan miosis dengan cepat dan kontraksi otot siliaris, pada
mata akan terjadi suatu spasme akomodasi dan penglihatan akan terpaku pada suatu jaral
tertentu, sedangkan pada atropine menghambat M. contrictor pupilae M. aliaris lensa mata
sehingga menyebabkan midriasis siklopegia (paralisis mekanisme akomodasi) midriasis
mengakibatkan fotofobia sedangkan sklopegia menyebabkan hilangnya daya melihat jarak dekat.

9
BAB V
PENUTUP
a. kesimpulan
- Diperoleh hasil salvias pada pengaruh obat atropine sulfat lebih banyak dibandingkan
pada obat pilokarpin Hcl. Hasil ini tidak sesuai teori karena pada teori efek salvias lebih
banyak adalah pilokarpin Hcl
-Dan pada pengaruh kolinergik dan antikolinergik pada mata hasilnya sesuai dengan teori
dimana mata kelinci setelah ditetesi atropine lebih besar dan pada saat ditetesi pilokarpin
menjadi diameter pupilnya lebih kecil

b. Saran
Praktikan dapat berhati – hati dalam setiap praktikum yang dilakukan untuk
menghindari kesalahan atau bahaya yang ditimbulkan serta teliti dan cermat dalam
melakukan percobaan.

10
DAFTAR PUSTAKA
- Syamsudin. Buku ajar farmakologi Efek samping obat. Salemba Medika. Jakarta.
2011
- Neal, Michael J. (2006) At a glance farmakologi medis, edisi kelima Jakarta :
Penerbit Erlangga
- Katzung Bertram E, 2010. Farmakologi Dasar dan klinik, Jakarta : EGC
- Dahlan, M Sopiyudin statistic untuk kedokteran dan kesehatan. Salemba Medika.
Jakarta. 2008

11
PERTEMUAN 2
EFEK LOKAL OBAT

12
BAB 1
PENDAHULUAN
“Metode anastesi lokal”

Latar Belakang
Istilah anestesia dikemukakan pertama kali oleh O.W. Holmes berasal dari bahasa Yunani
anaisthēsia yang berarti tidak ada rasa sakit. Anestesi dibagi menjadi 2 kelompok yaitu: (1)
anesthesia lokal, yakni hilangnya rasa sakit tanpa disertai kehilangan kesadaran; (2) anesthesia
umum adalah tindakan menghilangkan rasa nyeri/sakit secara sentral disertai hilangnya kesadaran
dan dapat pulih kembali (reversible). Komponen trias anestesi ideal terdiri dari hipnotik, analgesik,
dan relaksasi otot. Sejak jaman dahulu, anestesia dilakukan untuk mempermudah tindakan operasi
atau bedah.Obat anestesi umum adalah obat atau agen yang dapat menyebabkan terjadinya efek
anestesia umum yang ditandai dengan penurunan kesadaran secara bertahap karena adanya depresi
susunan saraf pusat. Menurut rute pemberiannya, anestesi umum dibedakan menjadi anestesi
inhalasi dan intravena. Keduanya berbeda dalam hal farmakodinamik.
Pada praktikum ini kami melihat pengaruh pemberian obat kloralhidrat dan
kloralhidrat+diazepam terhadapa perubahan kondisi fisiologis pada hewan percobaan (mencit)
untuk membandingkan kekuatan anastesi dari obat dan membuktikan perbedaan efek dari obat
yang digunakan.
Penggunaan anastesi lokal untuk pencegahan rasa sakit selama operasi, dimulai lebih dari 100
tahun yang lalu sewaktu Kaller (1884) seorang opthalmologist di Wina, mencatat kegunaan dari
kokain suatu ester dari asam para amino benzoat (PABA), dalam menghasilkan anstesi korneal.
(Rusda, 2004)
Anastesi injeksi yang pertama adalah ester lain dari PABA yaitu Procaine yang disintesa oleh
Einhorn pada tahun 1905. Obat ini terbukti tidak bersifat adiksi dan jauh kurang toksik dibanding
kokain. Ester-ester lain telah dibuat termasuk Benzocaine, Dibucaine, Tetracaine dan
Chloroprocaine, dan semuanya terbukti sedikit toksisitasnya, tetapi kadang-kadang menunjukkan
sensitisasi dan reaksi alergi. (Rusda, 2004)
Penelitian untuk anastesi lokal terus berlangsung sehingga banyak obat-obat dengan berbagai
keuntungan dapat digunakan pada saat ini. Oleh sebab itu, sebagai mahasiswa kedokteran harus
mempelajari bagaimana memilih jenis obat anastesi lokal yang akan digunakan dan cara

13
penggunaannya. Obat – obat anastsi lokal dikembangkan dari kokain yang digunakan untuk
pertama kalinya dalam kedokteran gigi dan oftalmologi pada abad ke – 19. Kini kokain sudah
diganti dengan lignokain (lidokain), buvikain (marccain), prilokain dan ropivakain. Prilokain
terutama digunakan dalam preparat topical.

Tujuan Percobaan
1. Mengenal berbagai teknik untuk menyebabkan anatesi lokak pada hewan coba
2. Memahami faktor yang melandasi perbedaan dalam sifat dan potensi kerja anastetika
Local
3. Memahami faktor yang mempengaruhi potensi kerja anastetika local

14
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Dasar Teori
Anestetik lokal atau penghilang rasa sakit setempat adalah obat yang pada penggunaan
lokal merintangi secara reversibel penerusan impuls saraf ke SSP dan dengan demikian
menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri, gatal-gatal rasa panas atau dingin. Banyak
persenyawaan lain juga memiliki daya kerja demikian, tetapi efeknya tidak reversibel dan
menyebabkan kerusakan permanen terhadap sel-sel saraf. Misalnya cara mematikan rasa setempat
juga dapat dicapai dengan pendinginan yang kuat (freezing anaesthesia) atau melalui keracunan
protoplasma (fenol).
Obat yang digunakan dalam menimbulkan anastesia disebut sebagai anastetik, dan
kelompok obat ini dibedakan dalam anastetik umum dan anastetik local. Bergantung pada
dalamnya pembiusan, anastetik umumnya dapat memberikan efek analgesia yaitu hilangnya
sensasi nyeri , atau efek anastesia yaitu analgesia yang disertai hilangnya kesadaran , sedangkan
anastetik umum bekerja di susunan saraf pusat sedangkan anastesi local bekerja langsung pada
serabut saraf perifer.
Dasar saraf pusat sangat peka terhadap obat-obatan , akibatnya sebagian besar obat-
obatannya jika diberikan dalam dosis yang cukup besar menimbulkan efek yang mencolok
terhadap neurotransmisi diberbagai system saraf pusat. Kerja neurotransmitter di pascanipansakan
diikuti dengan pembentukkan second messenger , dalam hal ini Camp selanjutnya mengubah
transmisi di neuron. Disamping asetilkolin sebagai neurotransmitter klasik, dikenal juga
katekolamin, serotonin,GABA, adenosine serta berbagai asam amino dan peptide endogen yang
bertindak sebagai neurotransmitter di SSP, misalnya asam glutamate dengan mekanisme hambatan
pada reseptor NMDA (N-metal-D-asparat).
Anastetik umum dikelompokkan berdasarkan bentuk fisiknya, tetapi pembagian ini tidak
sejalan dengan penggunaan di klinik yang pada dasarnyadibedakan atas 2 cara, yaitu secara
inhalasi atau intravena. Eter, halotan, enfluran, isofluran, metoksifluran, etilklorida, trikloretil dan
fluroksen merupakan cairan yang mudah menguap yang di eliminasi melalui saluran pernafasan.
Meskipun zat-zat ini kontak dengan pasiennya hanya beberapa jam saja, namun dapat
menimbulkan aritmia pada jantung selama proses anastetika berlangsung.

15
Terlepas dari cara penggunaannya suatu anastetik yang ideal sebenernya harus
memperlihatkan 3 efek utama yang dikenal sebagai “Trias anastesia”. Yaitu efek hipnotik
(menidurkan), efek analgesia, dan efek relaksasi otot .
Anestesi lokal biasanya diberikan secara suntikan ke dalam daerah serabut saraf yang akan
menghambat. Oleh karena itu, penyerapan dan distribusi tidak terlalu penting dalam memantau
mula kerja efek dalam menentukan mula kerja anestesi dan halnya mula kerja anestesis umum
terhadap sistem saraf pusat dan toksisitasnya pada jantung. Aplikasi topikal anestesi lokal
bagaimanapun juga memerlukan difusi obat guna mula keja dan lama kerja efek anestesinya.
Absorbsi sistemik suntikan anestesi lokal dari tempat suntikan dipengaruhi oleh beberapa
faktor, antara lain dosis, tempat suntikan, ikatan obat jaringan, adanya bahan vasokonstriktor, dan
sifat fisikokimia obat. Bahan vasokonstriktor seperti epinefrin mengurangi penyerapan sistematik
anestesi lokal dari tempat tumpukan obat dengan mengurangi aliran darah di daerah ini. Keadaan
ini menjadi nyata terhadap obat yang massa kerjanya singkat atau menengah seperti prokain,
lidokain, dan mepivakain (tidak untuk prilokain). Ambilan obat oleh saraf diduga diperkuat oleh
kadar obat lokal yang tinggi ,dan efek dari toksik sistemik obat akan berkurang karena kadar obat
yang masuk dalam darah hanya 1/3 nya saja.
Distribusi anestesi lokal amida disebar meluas dalam tubuh setelah pemberian bolus
intravena. Bukti menunjukkan bahwa penyimpanan obat mungkin terjadi dalam jaringan
lemak. Setelah fase distribusi awal yang cepat, yang mungkin menandakan ambilan ke dalam
organ yang perfusinya tinggi seperti otak, ginjal, dan jantung, dikuti oleh fase distribusi lambat
yang terjadi karena ambilan dari jaringan yang perfusinya sedang, seperti otot dan usus. Karena
waktu paruh plasma yang sangat singkat dari obat tipe ester, maka distribusinya tidak diketahui.
Metabolisme dan ekskresi anestesi lokal diubah dalam hati dan plasma menjadi metabolit
yang mudah larut dalam air dan kemudian diekskresikan ke dalam urin. Karena anestesi lokal yang
bentuknya tak bermuatan mudah berdifusi melalui lipid, maka sedikit atau tidak ada sama sekali
bentuk netralnya yang diekskresikan kerana bentuk ini tidak mudah diserap kembali oleh tubulus
ginjal.

16
BAB 3
METODOLOGI PRAKTIKUM

1. Alat dan Bahan


1. Anastesi Lokal Metode Permukaan
Hewan Coba : Kelinci ( jumlah 1 ekor ), bobot tubuh  1,5 kg
Obat : -Tetes mata prokain Hcl 2% sebanyak 1-2 tetes
-Tetea mata lidokain Hcl 2% sebanyak 1-2 tetes
Alat : Gunting, aplikator, kotak kelinci, stop watch

3. Prosedur Kerja
1. Siapkan kelinci. Gunting bulu mata kelinci agar tidak mengganggu aplikator
2. Sebelum pemberian obat, cek ada / tidaknya respon reflex ocular mata (mata berkedip)
Dengan menggunakan aplikator pada kornea mata secara tegak lurus pada menit ke-0.
CATATAN : Jangan terlalu keras menggunakan aplikator dan ritme harus diatur
3. Teteskan ke dalam kantong konjungtivs kelinci
a. Mata kanan : tetes mata prokain Hcl 2% sebanyak 1-2 tetes
b. Mata kiri : tetes mata lidokain Hcl 2% sebanyak 1-2 tetes
4. Tutup masing-masing kelopak mata kelinci selama satu menit
5. Cek ada/ tidaknya respon reflex ocular mata (mata berkedip) dengan menggunakan aplikator
pada kornea mata secara tegak lurus pada menit ke-5,10,15,20,30,45,60.
6. Catat dan tabelkan pengamatan
7. Setelah percobaan di atas selesai, teteskan larutan fisiologis Nacl 0,9% pada kedua mata
kelinci

2. Anastesi Lokal Metode Regnier


Hewan Coba : Kelinci ( jumlah 1 ekor ), bobot tubuh  1,5 kg
Obat : -Tetes mata prokain Hcl 2% sebanyak 1-2 tetes
-Tetea mata lidokain Hcl 2% sebanyak 1-2 tetes
Alat : Gunting, aplikator, kotak kelinci, stop watch
Prosedur :
1. Siapkan kelinci. Gunting bulu mata kelinci agar tidak mengganggu aplikator

17
2. Sebelum pemberian obat, cek ada / tidaknya respon reflex ocular mata (mata berkedip)
Dengan menggunakan aplikator pada kornea mata secara tegak lurus pada menit ke-0.
CATATAN : Jangan terlalu keras menggunakan aplikator dan ritme harus diatur
3. Teteskan ke dalam kantong konjungtivs kelinci
a. Mata kanan : tetes mata prokain Hcl 2% sebanyak 1-2 tetes
b. Mata kiri : tetes mata lidokain Hcl 2% sebanyak 1-2 tetes
4. Tutup masing-masing kelopak mata kelinci selama satu menit
5. Cek ada/ tidaknya respon reflex ocular mata (mata berkedip) dengan menggunakan
aplikator pada kornea mata secara tegak lurus pada menit ke-8,15,20,25,30,40,50,60.
6. Ketentuan metode Regnier:
a. Pada menit ke-8:
- Jika pemberian aplikator sampai 100 kali tidak ada respon reflex okuler  maka
dicatat angka 100 sebagai respon negative.
- Jika pemberian aplikator sebelum 100 kali terdapat respon reflex okuler  maka
dicatat angka terakhir saat memberikan respon sebagai respon negative.
b. Jika pemberian aplikator pada sentuhan pertama terdapat respon reflex okuler  maka
dicatat angka 1 sebagai respon negative dan menit-menit yang tersisa juga diberi angka 1
c. Jumlah respon reflex okuler negative dimulai dari menit ke-8 hingga menit ke-60.
Jumlah ini menunjukkan angka Regnier dimana efek anastetika local dicapai pada angka
Regnier minimal 13 dan maksimal 800.
7. Setelah percobaan di atas selesai, teteskan larutan fisiologis Nacl 0,9% pada kedua mata
kelinci
8. Catat dan tabelkan pengamatan

3. Anastesi Lokal Metode Infiltrasi


Hewan Coba : Kelinci ( jumlah 1 ekor ), bobot tubuh  1,5 kg
Obat : -Larutan prokain Hcl 1% sebanyak 0,2 ml secara SC
-Larutan prokain Hcl 1% dalam adrenalin (1:50.000) sebanyak 0,2 ml
secara SC
-Larutan lidokain Hcl 1% sebanyak 0,2 ml secara SC
-Larutan lidokain Hcl 1% dalam adrenalin (1:50.000) sebanyak 0,2 ml
secara SC

18
Alat : Gunting, alat cukur, spuit injeksi 1 ml, peniti, kontak kelinci, spidol,
stop watch.
Prosedur :
1. Siapkan kelinci. Gunting bulu punggung kelinci dan cukur hingga bersih kulitnya (hindari
terjadinya luka)
2. Gambar empat daerah penyuntukan dengan jarak  3 cm
3. Sebelum pemberian obat, cek ada / tidaknya respon getaran otot punggung kelinci dengan
menggunakan peniti sebanyak enam kali sentuhan pada daerah penyuntikkan pada menit ke-0
CATATAN : Jangan terlalu keras menggunakan peniti dan ritme harus diatur
4. Suntikkan larutan obat tersebut pada daerah penyuntikkan
5. Cek ada/ tidaknya respon getaran otot punggung kelinci dengan menggunakan peniti
sebanyak enam kali sentuhan pada daerah penyuntikkan pada menit ke-5, 10, 15, 20, 25, 30,
35, 40, 45, 60.
6. Catat dan tabelkan pengamata

4. Anastesi Lokal Metode Konduksi


Hewan Coba : Mencit putih, jantan (jumlah 3 ekor), bobot tubuh 20-30 g
Obat : -Larutan prokain Hcl 0,5 mg / kgBB mencit secara IV
-Larutan lidokain Hcl secara IV
-Larutan NaCl 0,9 % secara IV
Alat : Spuit injeksi 1 ml, kotak penahan mencit, pinset, spidol
Prosedur :
1. Siapkan mencit. Sebelum pemberian obat, cek ada / tidaknya respon Haffner pada mencit
ke-0
2. Hitung dosis dan volume pemberian obat dengan tepat untuk masing- masing mencit.
3. Mencit pertama disuntik dengan larutan prokain Hcl secara IV
4. Mencit kedua disuntik dengan larutan lidokain Hcl secara IV
5. Mencit ketiga disuntik dengan larutan NaCl 0,9 %
6. Cek ada/ tidaknya respon Haffner (ekor mencit dijepit lalu terjadi respon angkat ekor /
mencit bersuara ) pada menit ke- 10, 15, 20, 25, 30.
7. Catat dan tabelkan pengamatan.

19
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kelompok 1 :
Percobaa Bahan Obat Ada / tidaknya Respon Refleks Okuler
n (menit ke-)
0 5 10 15 20 30 45 60
Anastesi Mata kanan NaCl + + + + + + + +
lokal Mata kiri Lidokain Hcl 2% + + + - - - - +
metode

Kelompok 2 :
Percobaa Bahan Obat Ada / tidaknya Respon Refleks Okuler
n (menit ke-)
0 5 10 15 20 30 45 60
Anastesi Mata kanan NaCl + + + + + + + +
lokal Mata kiri Lidokain Hcl 2% + - - - - - + +
metode

Kelompok 3 :
Percoba Bahan Obat Ada / tidaknya Respon Refleks Okuler (menit ke-)
an
0 8 15 20 25 30 40 50 60
Anastesi Mata kanan NaCl + 1 1 1 1 1 1 1 1
lokal Mata kiri Lidokain + 100 100 100 57 25 20 4 1
metode Hcl 2%

Kelompok 4 :
Percoba Bahan Obat Ada / tidaknya Respon Refleks Okuler (menit ke-)
an
0 8 15 20 25 30 40 50 60
Anastesi Mata kanan NaCl + 1 1 1 1 1 1 1 1
lokal Mata kiri Lidokain + 100 100 100 74 42 37 4 1
metode Hcl 2%

20
Kelompok 5 :
Perco Bahan Obat Ada / tidaknya Respon Refleks Okuler (menit ke-)
baan
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 60
Anast Punggu Lidokain
esi ng + + - - - - - - - - -
lokal kanan
metod Punggu Lidokain + - - - - - - - - - +
e ng kiri Hcl 2%
NaCl + + + + + + + + + + +

Kelompok 6
Percobaan Bahan Obat Ada / tidaknya Respon Refleks Okuler (menit
ke-)

0 10 15 20 25 30
Anastesi lokal Mencit Lidokain + + - - + +
metode Hcl
Lidokain
Hcl + + + - - - -
Adrenalin
NaCl 0,9 + + + + + +
%
:
Pada praktikum kali ini kami melakukan percobaan efek local obat (metode anastesi lokal).
Pada percobaan ini setiap kelompok melakukan dengan teknik yang berbeda-beda, anastesi local
yang bertujuan untuk mengetahui cara kerja dan pemberian anastesi local serta faktor-faktor
yang mempengaruhi daya kerja anastesi local.
1. Anastesi lokal metode permukaan
Pada teknik ini dikerjakan oleh kelompok 1 dan 2 dengan menggunakan obat yang sama yaitu
NaCl dan lidokain Hcl 2% hasil percobaan kelompok 1 dan 2 berbeda. Pada obat NaCl sama
hasilnya tidak memberikan efek atau tidak ada respon reflex okuler dikarenakan NaCl sebagai
control negative. Pada obat lidokain Hcl 2% hasil yang diperoleh berbeda pada kelompok 1
hasil percobaan yang didapatkan 30 menit yaitu dari menit ke-15 sampai 45 menit, sedangkan
pada kelompok 2, 25 menit yaitu dari menit ke 5 sampai 30 menit, hal ini disebabakan karena
metabolism pada kelinci berbeda-beda hewan percobaan yang banyak mendapatkan perlakuan

21
yang tidak sesuai bisa mengakibatkan stress sehingga kinerja uretun terganggu (efek menjadi
berkurang)
2. Anastesi lokal metode regnier
Pada teknik ini dikerjakan oleh kelompok 3 dan 4, mendapatkan hasil yang sama pada obat
NaCl pada sentuhan pertama menit ke-8 memberikan respon reflex okuler dan angka regnier
yang di dapat adalah 8, NaCl disini sebagai control negative. Pada obat lidokain Hcl 2%
kelompok 3 dan 4 mendapatkan hasil yang berbeda pada kelompok 3 angka regnier yang
didapat 407 sedangkan kelompok 4 angka regnier yang didapat 458. Lidokain disini adalah
obat yang efek anastesi terjadi lebih cepat, lebih intens, lebih tahan lama. Jadi angka regnier
yang mendekati angka 800 yang lebih baik.
3. Anastesi lokal metode infiltrasi
Pada teknik ini dikerjakan oleh kelompok 5, obat yang digunakan NaCl, lidokain, lidokain
adrenalin. Hasil pada obat NaCl sesuai dengan teori yaitu hasilnya positif itu artinya terjadi
efek reflek okular pada kelinci karena NaCl Merupakan obat control negative saja. Dan pada
obat lidokain dan lidokain adrenalin hasil yang didapat kurang sesuai, karena seharusnya obat
lidokain + adrenalin lebih panjang durasinya secara teori anastesi lokal + adrenalin maka
adrenal akan memperpanjang durasi kerja obat dan memperkuat efek obat.
4. Anastesi lokal metode konduksi
Pada teknik ini dikerjakan oleh kelompok 6 obat yang digunakan adalah lidokain Hcl,
lidokain Hcl + adrenalin dan Nacl 0,9 % hasil yang didapatkan pada percobaan sesuai teori
pada lidokain Hcl hasil percobaan 5 menit, pada lidokain Hcl + adrenalin efek lebih lama
yaitu 15 menit dan pada NaCl langsung berefek karena Nacl merupakan control negativ

22
BAB V
PENUTUP
a. kesimpulan
- Lidokain + adrenalin durasi kerja lebih lama dibandingkan dengan lidokain Hcl
-Variasi biologis hewan coba juga mempengaruhi efek obat
-Nacl sebagai control negativ

b. Saran
Praktikan dapat berhati – hati dalam setiap praktikum yang dilakukan untuk
menghindari kesalahan atau bahaya yang ditimbulkan serta teliti dan cermat dalam
melakukan percobaan.

23
DAFTAR PUSTAKA
- Anonim, 2004. Farmakologi jilid II. Anastetika local. Departemen kesehatan RI
- Gayton, A. c  Hall. J. E Buku ajar fisiologi kedoteran. Jakarta : EGC
- Neal, m.j At a ctance farmakologi medis : Edisi kelima, Erlangga
- J.,Brunetton, Pharmacognosy, Phytochemistry, Medical bedah s,lavoiser Publ.,
Paris 1995
- Dari Martindale, The Extra Pharmacopoeia, 30 ed, p1016).

24
BAB 1
PENDAHULUAN
“Pengaruh Obat Terhadap Membran Dan Kulit Mukosa”

Latar Belakang
Dalam arti luas farmakologi ialah ilmu mengenai pengaruh senyawa terhadap sel hidup,
lewar proses kimia khusunya lewat reseptor. Obat didefinisikan sebagai senyawa yang
digunakan untuk mencegah, mengobati, mendiagnosis penyakit/gangguan atau menimbulkan
suatu kondisi tertentu misalnya membuat seorang infertile, atau melumpuhkan otot rangka
selama pembedahan.
Obat merupakan zat yang digunakan untuk mendiagnosis, mengurangi rasa sakit, serta
mengobati ataupun mencegah penyakit pada manusia dan hewan. Sedangkan menurut
Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 193/Kab/B.VII/71, obat merupakan suatu bahan
atau paduan bahan) bahan yang dimaksudkan untuk digunakan dalam menetapkan diagnosis,
mencegah, mengurangi, menghilangkan, menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit, atau
kelainan badaniah dan rohaniah pada manusia atau hewan dan untuk memperelok atau
memperindah badan atau bagian badan manusia. Mayoritas obat bekerja secara
spesifik terhadap suatu penyakit. Namun tidak jarang juga obat yang bekerjanya secara
menyeluruh.
Hewan yang digunakan diantaranya adalah mencit, tikus, kelinci, marmot. Karakteristik
utama : tikus relatif resisten terhadap infeksi dan cerdas. Tikus putih pada umumnya tenang
dan mudah ditangani. Ia tidak begitu bersifat fotobiak dibnadingkan dengan mencit, dan
kecenderungan untuk berkumpul sesamanya, ukuran tidak begitu besar. Aktivitasnya tidak
begitu terganggu dengan adanya manusia disekitarnya. Suhu tubuh normal : 37,5 – 38,0°C.
Laju respirasi normal 210 tiap menit. Bila diperlakukan kasar (atau apabila ia mengalami
defisiensi nutrisi) tikus menjadi galak dan sering menyerang si pemegang.

25
Tujuan Percobaan
Setelah menyelesaikan percobaan ini, mahasiswa dapat :
1. Memahami efek lokal dari berbagai obat/ senyawa kimia terhadapkulit dan membrane
mukosa berdasarkan cara kerja masing-masing , serta dapat diaplikasikan dalam praktek
dan dampaknya sebagai dasar keamanan penanganan bahan.
2. Memahami sifat dan intensitas kemampuan merusak kulit dan membrane mukosa dari
berbagai obat yang bekerja lokal
3. Menyimpulkan persyaratan farmakologi untuk obat yang dipakai secara lokal

26
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Dasar Teori
Obat merupakan zat yang digunakan untuk mendiagnosis, mengurangi rasa sakit, serta
mengobati ataupun mencegah penyakit pada manusia dan hewan (Ansel, 1985). Sedangkan
menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 193/Kab/B.VII/71, obat merupakan suatu bahan
atau paduan bahan-bahan yang dimaksudkan untuk digunakan dalam menetapkan diagnosis,
mencegah, mengurangi, menghilangkan, menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit, atau
kelainan badaniah dan rohaniah pada manusia atau hewan dan untuk memperelok atau
memperindah badan atau bagian badan manusia.
Mayoritas obat bekerja secara spesifik terhadap suatu penyakit. Namun tidak jarang juga obat
yang bekerjanya secara menyeluruh. Berdasarkan efek obat yang diberikan obat kepada tubuh,
maka obat dibagi menjadi :
1. Obat yang berefek sistemik adalah obat yang memberi pengaruh pada tubuh yang bersifat
menyeluruh (sistemik) dan menggunakan sistem saraf sebagai perantara. Obat ini akan bekerja
jika senyawa obat yang ditentukan bertemu dengan reseptor yang spesifik.
2. Obat yang berefek non-sistemik (lokal) merupakan obat yang mempunyai pengaruh pada tubuh
bersifat lokal atau pada daerah yang diberikan obat. Contoh obat ini adalah obat-obat yang
bersifat anestesi lokal ataupun transdermal.
Berbagai produk obat yang bersifat lokal dibuat bertujuan untuk menghilangkan segala sensasi
yang tidak menyenangkan pada bagian yang spesifik di tubuh. Beberapa contoh dari produk
tersebut bersifat anastetik ataupun obat-obat yang diberikan secara transdermal.
Anastetika lokal atau yang dikenal dengan zat penghilang rasa setempat adalah obat yang pada
penggunaan lokal merintangi secara reversibel penerusan impuls saraf ke SSP dan dengan
demikian menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri, gatal-gatal, rasa panas atau dingin.
Anastetika pertama adalah kokain, yaitu suatu alkaloid yang diperoleh dari daun suatu
tumbuhan alang-alang di pegunungan Andes (Peru). Setelah tahun 1892, perkembangan anastetik
meningkat pesat hingga ditemukan prokain dan benzokain, dan derivat-derivat lainnya seperti
tetrakain dan cinchokain.

27
Anastesi bekerja dengan menghindarkan untuk sementara pembentukan dan tranmisi impuls
melalui sel saraf dan ujungnya. Anastetik lokal juga dapat menghambat penerusan impuls dengan
jalan menurunkan permeabilitas sel saraf untuk ion natrium.
Beberapa kireteria yang harus dipenuhi suatu jenis obat yang digunakan sebagai anestetika
lokal :
1. Tidak merangsang jaringan
2. Tidak mengakibatkan kerusakan permanen terhadap susunan saraf
3. Toksisitas sistemik rendah.
4. Efektif dengan jalan injeksi atau penggunaan setempat pada selaput lendir
5. Mulai kerjanya sesingkat mungkin, tetapi bertahan cukup lama dan dapat larut dalam air
danmenghasilkan larutan yang stabil, juga terhadap pernapasan (sterilisasi) Selain anestesi,
obat-obatan yang digunakan melalui transdermal pun mayoritas menggunakan prinsip efek
lokal yang hanya mengobati/mencegah rasa yang tidak nyaman pada bagian yang
diolesi/ditempelkan obat.
Transdermal merupakan salah satu cara administrasi obat dengan bentuk sediaan farmasi/obat
berupa krim, gel atau patch (koyo) yang digunakan pada permukaan kulit, namun mampu
menghantarkan obat masuk ke dalam tubuh melalui kulit (trans = lewat, dermal = kulit) Beberapa
bahan kimia dapat menyebabkan cedera pada tempat bahan itu bersentuhan dengan tubuh. Efek
lokal ini dapat diakibatkan oleh senyawa-senyawa kaustik, misalnya pada saluran pencernaan,
bahan korosif pada kulit, serta iritasi gas atau uap pada saluran napas. Efek lokal ini
menggambarkan perusakan umum pada sel-sel hidup. Cara penggunaan obat yang memberi efek
lokal adalah:
1. Inhalasi, yaitu larutan obat disemprotkan ke dalam mulut atau hidung dengan alat seperti
:inhaler, nebulizeer atau aerosol.
2. Penggunaan obat pada mukosa seperti: mata, telinga, hidung, vagina, dengan obat tetes, dsb.
3. Penggunaan pada kulit dengan salep, krim, lotion, dsb.
Obat uang dipakai secra local terdiri dari beberapa sifat dan penggunaan di antaranya :
1. Zat yang dapat menggugurkan bulu; bekerja dengan cara memecah ikatan S-S pada keratin
kulit sehingga bulu mudah rusak dan gugur.
2. Zat korosif; bekerja dengan cara megendapkan protein kulit melalui reaksi oksidasi sehingga
kulit dan membrane mukosa akan rusak

28
3. Zat astringen; bekerja dengan cara mengkoagulasikan protein sehingga permeabilitas sel pada
kulit dan membrane mukosa menjadi turun
Fenol dalam berbagai pelarut akan menunjukkan efek local yang berbeda pula; yang dipengaruhu
oleh perbedaan koefisien partisi dan permeabilitas kulit sehingga mempengaruhi penetrasi fenol
ke dalam jaringan

29
BAB 3
METODOLOGI PRAKTIKUM
1. Alat dan Bahan
1. Menggugurkan Bulu
Hewan Coba : Tikus putih, jantan (jumlah 1 ekor), usia 2 bulan, bobot tubuh 200- 300
g
Obat : -Veet cream
-Larutan NaOH 20%
-Larutan Na2S 20%
-Kertas saring
Alat : Gunting bedah, batang pengaduk , gelas arloji, stop watch

2. Prosedur Kerja
1. Siapkan tikus yang terlebih dahulu dikorbankan
2. Ambil kulitnya lalu dibuat tiga potongan, masing-masing berukuran 2,5 x 2,5 cm.
3. Letakkan potongan kulit tersebut di atas gelas arloji yang telah diberi alas kertas saring
4. Catat bau asli/ awal dari obat yang digunakan
5. Oleskan/ teteskan larutan obat pada bagian atas potongan kulit tikus tersebut
6. Amati selama 30 menit efek menggugurkan bulu setelah pemberian obat dengan bantuan
batang pengaduk
7. Catat dan tabelkan pengamatan
Efek
Percobaan Bahan Obat Bau Awal Gugur Bulu (catat
waktu saat mulai
gugur bulu)
Menggugurkan Kulit tikus Veet cream Menyengat 12.02
bulu Larutan NaOH Menyengat 11.58
20%
Larutan NaS 20% Menyengat 12.11

30
2. Korosif
Hewan Coba : Tikus putih, jantan (jumlaj 1 ekor), usia 2 bulan, bobot tubuh 200-300
g
Obat : -Larutan AgCl2 5%
-Larutan fenol 5%
-Larutan NaOH 10%
-Larutan H2SO4 pekat
-Larutan HCl pekat
-Larutan AgNO3 1%
-Kertas saring
Alat : Gunting bedah, batang pengaduk, gelas arloji, stop watch
Prosedur :
1. Siapkan tikus yang terlebih dahulu dikorbankan
2. Ambil ususnya lalu dibuat enam potongan, masing-masing berukuran 4-5 cm
3. Letakkan potongan usus tersebut di atas gelas arloji yang telah diberi alas kertas saring
4. Teteskan larutan obat pada potongan usus tikus tersebut hingga terendam
5. Rendaam selama 30 menit
6. Setelah 30 menit, amati efek korosif/ kerusakanjaringan setelah pemberian obat dengan
bantuan batang pengaduk
7. Catat dan tabelkan pengamatan
Efek
Percobaan Bahan Obat Sifat Korosif Kerusakan pada
jarinagn
Korosif Usus tikus Larutan AgCl2 5% Korosif Mengembang
Larutan fenol 5% Korosif Sedikit memucat
dan mengkerut
Larutan NaOH Korosif Menipis dan
10% mengeras
Larutan H2SO4 Sangat korosif Sangat rusak
pekat
Larutan HCl pekat Sangat korosif Mengerut,
mengeras
Larutan AgNO3 Korosif Menjadi hitam
1%

31
3. Astringen
Prosedur :
1. Mulut praktikan dibilas/ dikumur dengan larutan tannin 1%
2. Rasakan jenis sensasi yang dialami di mulut

3. Catat dan tabelkan pengamatan


Percobaan Bahan Obat Efek Sensasi Mulut
Astringen Mulut untuk kumur Larutan tannin 1%

4. Efek local Fenol


Prosedur :
1. Celupkan empat jari tangan selama 5 menit ke dalam larutan fenol yang tersedia
2. Rasakan jenis sensasi yang dialami jari tangan (rasa tebal, dingin, panas)
3. Jika jari terasa nyeri sebelum 5 menit, angkat segera dan bilas dengan etanol
4. Catat dan tabelkan pengamatan
Percobaan Bahan Obat Efek Sensasi Jari
Tangan (rasa tebal,
dingin, panas)
Fenol dalam Jari tangan Larutan fenol 5% Rasa tebal
berbagai pelarut dalam air
Larutan fenol 5% Rasa dingin
dalam etanol
Larutan fenol 5%
dalam gliserin 25%
Larutan fenol 5%
dalam minyak lemak

32
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Percobaan Bahan Obat Efek


Bau Awal Gugur Bulu (catat
waktu saat mulai
gugur bulu)
Menggugurkan Kulit tikus Veet cream Menyengat 12.02
bulu Larutan NaOH Menyengat 11.58
20%
Larutan NaS 20% Menyengat 12.11

Percobaan Bahan Obat Efek


Sifat Korosif Kerusakan pada
jarinagn
Korosif Usus tikus Larutan AgCl2 5% Korosif Mengembang
Larutan fenol 5% Korosif Sedikit memucat
dan mengkerut
Larutan NaOH Korosif Menipis dan
10% mengeras
Larutan H2SO4 Sangat korosif Sangat rusak
pekat
Larutan HCl pekat Sangat korosif Mengerut,
mengeras
Larutan AgNO3 Korosif Menjadi hitam
1%

Percobaan Bahan Obat Efek Sensasi Jari


Tangan (rasa tebal,
dingin, panas)
Fenol dalam Jari tangan Larutan fenol 5% Rasa tebal
berbagai pelarut dalam air
Larutan fenol 5% Rasa dingin
dalam etanol
Larutan fenol 5%
dalam gliserin 25%
Larutan fenol 5%
dalam minyak lemak

33
Pada percobaan kali ini membahas tentang efek lokal obat yang dilakukan berbagai
macam percobaan . Efek lokal adalah pengaruh obat pada tubuh bersifat lokal atau obat bekerja
stempat.
Pada pengujian efek menggugurkan bulu tikus yang sudah dikorbankan kemudian dikuliti
(di ambil kulitnya ), pada percobaan ini menggunakan obat veet cream larutan NaOH 20% dan
larutan Na2S 20%, setelah dilakukan percobaan bau awal dari ketiga obat memberikan bau yang
menyengat pada waktu 12.02, 11.58 dan 12.11 . Hasil uji ini terjadi karena garam natrium
hidroksida bekerja dengan cara memecahkan ikatan s-s pada keratin kulit sehingga bulu akan
rusak dan mudah gugur.
Pada pengujian efek korosif, beberapa hasil yang di dapat di amati adalah :
- Larutan AgCl2 5% sifat korosif kerusakan pada jaringannya adalah usus menjadi
mengembang
- Larutan fenol 5% sifat korosif kerusakan pada jaringan adalah sedikit memucat dan
mengkerut
- Larutan NaOH 10% sifat korosif kerusakan pada jaringan menipis dan mengeras
- Larutan H2SO4 pekat sifat sangat korosif kerusakan pada jaringan sangat rusak
- Larutan Hcl pekat sifat sangat korosif kerusakan pada jaringan mengerut dan
mengeras
- Larutan AgNO3 1% korosif kerusakan pada jaringan menjadi hitam
Hal ini disebabkan karena zat –zat tersebut mengendapkan protein kulit dari reaksi oksidasi
sehingga menyebabkab membrane mukosa rusak.
Pada uji efek fenol dalam berbagai macam pelarut fenol merupakan senyawa yang dapat
menembus kulit dan mampu menyebabkan terjadinya keratolisis pada kulit. Pada percobaan kali
ini fenol 5% dalam air jari tangan mengalami rasa tebal, hal ini terjadi karena air merupakan
pelarut yang efektif sehingga pencampuran air dan fenol tidak akan mengurangi reaksi dari fenol.
Selanjutnya jari tangan yang dicelupkan kedalam larutan fenol 5% yang ditambah etanol
mengalami dingin etanol merupakan senyawa yang bersifat toksik dan memiliki gugus OH,
sehingga apabila fenol direaksikan dengan etanol akan terbentuk etil etanoat

34
BAB V
PENUTUP
a. kesimpulan
- Semakin tinggi kadar suatu zat yang bersifat menggugurkan bulu, maka akan
semakin mendekati tingkat korosif
- Sama halnya dengan efek menggugurkan bulu, larutan yang bersifat korosif pun
beraneka ragam dan menghasilkan mekanisme efek yang berbeda-beda , tergantung
kepada kekuatan korosif yang dikandungnya

b. Saran
Praktikan dapat berhati – hati dalam setiap praktikum yang dilakukan untuk
menghindari kesalahan atau bahaya yang ditimbulkan serta teliti dan cermat dalam
melakukan percobaan.

35
DAFTAR PUSTAKA
- Ditjen pom, 1979. Farmakope Indonesia Edisi III . DEPKES RI. Jakarta
- Goodman & Gilman , Manual farmakologi dan Terapi, Jakarta : EGC. 2011
- Goth, Andress. 1984. Medical pharmacology, USA O. V. Mosby company
- Hall, LW and Clarke, kw. 1983. Veterinary Anaesthesia. Spanish : Baillere Tindail
Ltd.
- M. D O Ison, James. Bacaan Mudah Farmakologi, Jakarta : EGC , 2003

36
PERTEMUAN 3
EFEK DIURETIKA

37
BAB 1
PENDAHULUAN
“Uji Potensi Diuretika”

Latar Belakang
Pengeluaran urin atau diuresis dapat diartikan sebagai penambahan produksi volume urin
yang dikeluarkan dan pengeluaran jumlah zat zat terlarut dalam air.Obat-obatan yang
menyebabkan suatu keadaan meningkatnya aliran urine disebut Diuretik. Obat-obat ini merupakan
penghambat transpor ion yang menurunkan reabsorbsi Na+ dan ion lain seperti Cl+ memasuki urine
dalam jumlah lebih banyak dibandingkan dalam keadaan normal bersama-sama air, yang
mengangkut secara pasif untuk mempertahankan keseimbangan osmotic. Perubahan Osmotik
dimana dalam tubulus menjadi meningkat karena Natrium lebih banyak dalam urine, dan mengikat
air lebih banyak didalam tubulus ginjal. Dan produksi urine menjadi lebih banyak. Dengan
demikian diuretic meningkatkan volume urine dan sering mengubah PH-nya serta komposisi ion
didalam urine dan darah.
Diuretik adalah obat yang dapat menambah kecepatan pembentukan urin. Istilah diuresis
mempunyai dua pengertian, pertama menunjukkan adanya penambahan volume urin yang
diproduksi dan yang kedua menunjukkan jumlah pengeluaran zat-zat terlarut dalam air.
Berdasarkan mekanisme kerjanya, secara umum diuretik dapat dibagi menjadi dua golongan besar
yaitu diuretik osmotik yaitu yang bekerja dengan cara menarik air ke urin, tanpa mengganggu
sekresi atau absorbsi ion dalam ginjal dan penghambat mekanisme transport elektrolit di dalam
tubuli ginjal, seperti diuretik tiazid (menghambat reabsorbsi natrium dan klorida pada ansa Henle
pars ascendens), Loop diuretik (lebih poten daripada tiazid dan dapat menyebabkan hipokalemia),
diuretik hemat kalium (meningkatkan ekskresi natrium sambil menahan kalium).
Fungsi utama diuretik adalah untuk memobilisasi cairan udem yang berarti mengubah
keseimbangan cairan sedemikian rupa sehingga volume cairan ekstrasel menjadi normal. Proses
diuresis dimulai dengan mengalirnya darah ke dalam glomeruli (gumpalan kapiler) yang terletak
di bagian luar ginjal (cortex). Dinding glomeruli inilah yang bekerja sebagai saringan halus yang
secara pasif dapat dilintasi air, garam dan glukosa. Ultrafiltrat yang diperoleh dari filtrasi dan
mengandung banyak air serta elektrolit ditampung di wadah, yang mengelilingi setiap glomerulus
seperti corong (kapsul Bowman) dan kemudian disalurkan ke pipa kecil. Di sini terjadi penarikan

38
kembali secara aktif dari air dan komponen yang sangat penting bagi tubuh, seperti glukosa dan
garam-garam antara lain ion Na+. Zat-zat ini dikembalikan pada darah melalui kapiler yang
mengelilingi tubuli.sisanya yang tak berguna seperti ”sampah” perombakan metabolisme-protein
(ureum) untuk sebagian besar tidak diserap kembali. Akhirnya filtrat dari semua tubuli ditampung
di suatu saluran pengumpul (ductus coligens), di mana terutama berlangsung penyerapan air
kembali. Filtrat akhir disalurkan ke kandung kemih dan ditimbun sebagai urin.

Tujuan Percobaan
1. Mengetahui secara lebih baik peran insulin dalam tubuh dan pengaruhnya pada
penyakit diabetes
2. Mengenal teknik untuk mengevaluasi penyakit diabetes dengan cara konvensional
3. Melakukan test glukosa konvensional pada manusia menggunakan alat ukur glukosa
darah

39
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Dasar Teori
Diuretik merupakan golongan obat yang berfungsi untuk mendorong produksi air seni
(KBBI.web.id). Diuretikmerupakan obat-obatan yang dapat meningkatkan laju aliran urin.
Golongan obat ini menghambat penyerapan ion natrium pada bagianbagian tertentu dari ginjal.
Oleh karena itu, terdapat perbedaan tekanan osmotik yang menyebabkan air ikut tertarik, sehingga
produksi urin semakin bertambah (Satyadharma, 2014). Diuretik juga bisa diartikan sebagai obat-
obat yang menyebabkan suatu keadaan meningkatnya aliran urin. Obat-obat ini menghambat
transport ion yang menurunkan reabsorpsi Na+ pada bagian-bagian nefron yang berbeda.
Akibatnya Na+ dan ion lain seperti Cl- memasuki urin dalam jumlah lebih banyak dibandingkan
bila keadaan normal bersama-sama air yang mengangkut secara pasif untuk mempertahankan
keseimbangan osmotik (Pamela dkk., 1995).
Fungsi utama diuretik adalah untuk memobilisasi cairan edema yang berarti mengubah
keseimbangan cairan sedemikian rupa sehingga volume cairan ekstrasel kembali menjadi normal
(Farmakologi dan terapi, 2012)
Diuretika adalah senyawa ataupun obat-obatan yang dapat menyebabkan suatu keadaan
meningkatnya aliran urin. Obat-obat ini merupakan penghambat transport ion yang menurunkan
reabsorbsi Na+ pada bagian-bagian nefron yang berbeda. Walaupun kerjanya pada ginjal, diuretika
bukan “obat ginjal”, artinya senyawa ini tidak dapat memperbaiki atau menyembuhkan penyakit
ginjal, diuretik bekerja dengan cara meningkatkan ekskresi ion-ion tertentu, terutama ion natrium
dan klorida, dan dengan ini bersamaan akan meningkatkan ekskresi air. Terbaik adalah jika obat
dapat mengatur elektrolit organisme seperti konsentrasi yang ada dalam cairan interstitium
(Mycek, 1997)
Disamping kerja terhadap ginjal, diuretika juga mempunyai kerja terhadap bagian lain
(ektrasenal) yang besarnya berbeda-beda bergantung pada kelompok diuretiknya. Sebagai contoh,
setelah pemberian iv diuretika jerat henle tipe furosemid, efek timbul sangat cepat. Efek yang baik
pada penanganan insufisiensi jantung akut ini timbul karena adanya preload (beban) jantung akibat
dilatasi vena. Kerja antihipertensi diuretika sekurang-kurangnya sebagian disebabkan oleh
berkurangnya reagibilitasi pembuluh.

40
Masing-masing diuretika memiliki tempat kerja yang berbeda-beda.Inhibitor karbonat
anhidrase terutama bekerja pada tubulus proksimal, diuretika loop, pada bagian menebal jerat
henle menaik, hazid pada tubulus kortortus distal serta diuretika hemat kalium pada duktus renalis
rekti. Tempat kerja menentukan kekuatan kerja dan efek samping penting diuretika (Mycek, 1997)

Diuretika yang dalam daerah yang luas mempunyai kurva hubungan dosis kerja yang
hampir linier disebut diuretika piaton tinggi. Pada diuretika ini, dengan peningkatan dosis akan
dapat dicapai efek diuresis yang lebih kuat. Termasuk dalam golongan ini adalah diuretika loop,
sedangkan diuretika yang mempunyai kurva dosis. Kerja cepat menjadi datar, berarti mulai suatu
titik tertentu peningkatan dosis tak menunjukkan penambahan kerja yang nyata, disebut sebagai
diuretika platon rendah.

41
BAB 3
METODOLOGI PRAKTIKUM
1. Alat dan Bahan
Hewan Coba : Tikus putih, jantan (jumlah 6 ekor), bobot tubuh 200-300 g
Obat : - CMC Na 1% secara PO
- Furosemid 20 mg/ 70 kgBB manusia secara PO
- Spironolakton 100 mg/ 70 kgBB manusia secara PO
- Air hangat 50 ml/ kgBB tikus
Alat : Spuit injeksi 1 ml, sonde, timbangan hewan, kandang diuretic, beaker
glass, gelas ukur

2. Perhitungan dosis
Bobot = 160 g
Furosemide = 0,018 x 20 mg = 0,36
160 𝑔
x 0,36 = 0,288
200 𝑔

Volume = 0,288

Spironolakton = 0,018 x 100 mg = 1,8


10 𝑔
x 1,8 = 1,44 mg
200 𝑔
1,44 𝑚𝑔
Volume = x 50 ml = 0,72
100 𝑚𝑔

3. Prosedur Kerja
1. Puasakan tikus selama 12-16 jam, tetapi tetap diberikan air minum
2. Sebelum pemberian obat, berikan air hangat per oral sebanyak 50 ml/ kgBB tikus
3. Tikus dibagi menjadi 3 kelompok dimana masing-masing kelompok terdiri dari 2 ekor mencit
dengan perbedaan dosis obat yang diberikan :
Kelompok I : CMC Na 1% secara PO
Kelompok II : furosemide 20 mg/ 70 kgBB manusia secara IV
Kelompok III : spironolakton 100 mg/ 70 kgBB manusia secara
4. Hitung dosis dan volume pemberian obat dengan tepat untuk masing-masing mencit
5. Berikan larutan obat sesuai kelompok masing-masing

42
6. Tempatkan tikus ke dalam kandang diuretic
7. Kumpulkan urine selama 2 jam, catat frekuensi pengeluaran urine dan jumlah urine setiap kali
dieksresikan
8. Catat dan tabelkan pengamatan
9. Hitung persentase volume kumulatif urine yang diekskresikan :
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑢𝑟𝑖𝑛𝑒 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑒𝑘𝑠𝑟𝑒𝑠𝑖𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 2 𝑗𝑎𝑚
= 𝑥 100%
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑎𝑖𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑏𝑒𝑟𝑖𝑘𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑟 𝑜𝑟𝑎𝑙

Efek diuretika positif jika persentase volume kumulatif urine yang diekskresikan > 75% dari
volume air yang diberikan

43
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Percobaan Bahan Obat Efek Diuretika


Potensi Tikus CMC Na 1% Frekuensi urinasi 43 64 83
Diuretika secara PO (menit ke-)
Volume urine 0,5 0,8 0,5
(ml)
Volume urine
kumulatif selama 1,8 ml
2 jam (ml)
Volume air yang
diberikan secara 5 ml
PO (ml)
Potensi diuretika 36%
(%)
CMC Na 1 % Frekuensi urinasi 60 83 91
secara PO (menit ke-)
Volume urine 0,5 0,3 0,3
(ml)
Volume urine
kumulatif selama 1,1 ml
2 jam (ml)
Volume air yang
diberikan secara 5 ml
PO (ml)
Potensi diuretika 1,1 𝑚𝑙
x 100 % = 22 %
5 𝑚𝑙
(%)
Furosemide Frekuensi urinasi 54 79 90 120
20 mg (menit ke-)
(manusia 70 Volume urine 1,8 0,5 3 2
kg ) secara (ml)
PO Volume urine
kumulatif selama 7,3 ml
2 jam (ml)
Volume air yang
diberikan secara 5 ml
PO (ml)
Potensi diuretika 146 %
(%)

44
Percobaa Bahan Obat Efek Diuretika
n
Potensi Tikus Furosemid Frekuensi 50 75 84 104 110 116 120
Diuretika e 20 mg urinasi (menit
(manusia ke-)
70 kg ) Volume urine 1 1 0,9 0,6 0,4 0,4 0,3
secara PO (ml)
Volume urine
kumulatif 4,6 ml
selama 2 jam
(ml)
Volume air
yang 5 ml
diberikan
secara PO
(ml)
Potensi 4,6 𝑚𝑙
x 100 % = 52 %
5 𝑚𝑙
diuretika (%)
CMC Na 1 Frekuensi 48 53 73 112
% secara urinasi (menit
PO ke-)
Volume urine 0,7 0,4 0,3 1,1
(ml)
Volume urine
kumulatif 2,5 ml
selama 2 jam
(ml)
Volume air
yang 5 ml
diberikan
secara PO
(ml)
Potensi 50 %
diuretika (%)
Furosemid Frekuensi 42 49 59 64 75
e 20 mg urinasi (menit
(manusia ke-)
70 kg ) Volume urine 0,9 0,8 0,5 0,8 1
secara PO (ml)
Volume urine
kumulatif 4,1 ml
selama 2 jam
(ml)

45
Volume air
yang 5
diberikan
secara PO
(ml)
Potensi 82 %
diuretika (%)

Pada praktikum kali ini merupakan pengujian obat – obat yang berkhasiat sebagai
diuretic. Diureti adalah obat yang dapat menambah kecepatan pembentukan urin sehingga
mempercepat pengeluaran urin dari dalam tubuh.
Pada praktikum kali ini obat yang digunakan adalah CMC Na yang merupakan control
negative, spironolakton dan furosemide. Pada tikus yang diberikan CMC Na potensi diuretikanya
adalah 36 % ( 1,8 ml ) dan 22 % ( 1,1 ml). Tikus yang diberikan obat spironolakton
menghasilkan potensi diuretic sebesar 50 % ( 2,5 ml ) dan 82% (4,1 ml ) hal ini sudah sesuai
dengan teori dimana potensi diuretika pada spironolakton lebih besar dari pada CMC Na 1 %
karena CMC Na 1 % hanya sebagai control negative. Sedanfkan spironolakton merupakan
golongan diuretic hemat kalsium bekerja pada segemen yang berespon terhadap aldosteron pada
nefron, distal dimana hemo stalis K+ dikendalikan dengan mekanisme kerja yaitu berkompetensi
dengan aldosteron pada reseptor ditubulus ginjal distal meningkatkan Nacl dan ekskresi air
selama konversi ion kalium dan hydrogen dan juga dapat memblock efek aldosterone pada otot
polos arterioles. Pada tikus yang diberikan obat furosemide yang merupakan obat diuretika
terjadi potensi diuretika sebesar 146 % (7,3 ml) dan 52 % (4,6 ml), hal ini sudah sesuai dengan
teori dimana furosemide menghasilkan potensi diuretika lebih besar dibandingkan spironolakton
dan CMC Na yang hanya merupakan control negative.
Furosemide merupakan diuretic terkuat dan pesat, dan memiliki mekanisme kerja pada
lengkungan helue dengan cara menghambat reabsorbsi natrium dan mengeluarkan urin
diperbanyak. Obat furosemide mudah diserap melalui saluran cerna, untuk potensi obat diuretic
yang kurang dari 75 % bisa jadi disebabkan karena faktor suhu dimana pada suhu panas, sekresi
urin dapat berkurang.

46
BAB V
PENUTUP
a. kesimpulan
Efek utama dari obat efek diuretic adalah meningkatkan volume urin yang di produksi
sera meningkatkan jumlah pengeluaran zat –zat terlarut dalam air.
Furosemide merupakan obat diuretic kuat dibandingkan spironolakton dan CMC Na 1 %

b. Saran
Praktikan dapat berhati – hati dalam setiap praktikum yang dilakukan untuk
menghindari kesalahan atau bahaya yang ditimbulkan serta teliti dan cermat dalam
melakukan percobaan.

47
DAFTAR PUSTAKA
- Katzung, Bertram G. , (2001) farmakologi Dasar dan klinik, edisi ke - penerbit
salemba media : Jakarta
- Neal. M, j. , 2010 Ata Glame farmakologi medis penerbit Erlangga : Jkarta
- Reinauer, H . P. D , Homt . A . S kanagasababathy c. c. Heuck 2002
- Sukarida, dkk. 2009. 150 farmako terapi. PT . ISFI. Penerbit : Jakarta

48
PERTEMUAN 4
PERCOBAAN UJI DIABETES

49
BAB 1
PENDAHULUAN
“Uji kadar glukosa darah dan antidiabetes”

Latar Belakang
Diabetes mellitus (DM) didefinisikan sebagai suatu penyakit atau gangguan metabolisme
kronis dengan multi etiologi yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah disertai dengan
gangguan metabolisme karbohidrat,lipid dan protein sebagai akibat insufisiensi fungsi
insulin.Insufisiensi fungsi insulin dapat disebabkan oleh gangguan atau defisiensi produksi insulin
oleh sel-sel beta Langerhans kelenjar pankreas, atau disebabkan oleh kurang responsifnya sel-sel
tubuh terhadap insulin. Jika kekurangan produksi insulin atau terdapat resistensi insulin maka
kadar glukosa dalam darah akan meninggi (melebihi nilai normal).
Insulin adalah suatu zat yang dihasilkan oleh sel beta pankreas. Insulin diperlukan agar
glukosa dapat memasuki sel tubuh, di mana gula tersebut kemudian dipergunakan sebagai sumber
energi. Jika tidak ada insulin, atau jumlah insulin tidak memadai, atau jika insulin tersebut cacat ,
maka glukosa tidak dapat memasuki sel dan tetap berada di darah dalam jumlah besar.
Penyakit diabetes melitus atau kencing manis disebabkan oleh multifaktor, keturunan
merupakan salah satu faktor penyebab. Selain keturunan masih diperlukan faktor-faktor lain yang
disebut faktor pencetus, misalnya adanya infeksi virus tertentu, pola makan yang tidak sehat, stres,
.Diabetes mellitus merupakan penyakit menahun yang ditandai dengan kadar glukosa
darah yang melebihi nilai normal. Apabila dibiarkan tidak terkendali, diabetus mellitus dapat
menimbulkan komplikasi yang berakibat fatal, misalnya terjadi penyakit jantung koroner, gagal
ginjal, kebutaan dan lain-lain.
Menurut data stastistik tahun 1995 dari WHO terdapat 135 juta penderita diabetes mellitus
di seluruh dunia. Tahun 2005 jumlah diabetes mellitus diperkirakan akan melonjak lagi mencapai
sekitar 230 juta. Angka mengejutkan dilansir oleh beberapa Perhimpunan Diabetes Internasional
memprediksi jumlah penderita diabetes mellitus lebih dari 220 juta penderita di tahun 2010 dan
lebih dari 300 juta di tahun 2025.

50
Data WHO di tahun 2002 diperkirakan terdapat lebih dari 20 juta penderita diabetes
mellitus di tahun 2025. tahun 2030 angkanya bisa melejit mencapai 21 juta penderita. Saat ini
penyakit diabetes mellitus banyak dijumpai penduduk Indonesia. Bahkan WHO menyebutkan,
jumlah penderita diabetes mellitus di Indonesia menduduki ranking empat setelah India, China,
dan Amerika Serikat.
Apoteker, terutama bagi yang bekerja di sektor kefarmasian komunitas, memiliki peran
yang sangat penting dalam keberhasilan penatalaksanaan diabetes. Membantu penderita
menyesuaikan pola diet sebagaimana yang disarankan ahli gizi, mencegah dan mengendalikan
komplikasi yang mungkin timbul, mencegah dan mengendalikan efek samping obat, memberikan
rekombinasi penyesuaian rejimen dan dosis obat yang harus dikonsumsi penderita bersama-sama
dengan dokter yang merawat penderita, yang kemungkinan dapat berubah dari waktu ke waktu
sesuai dengan kondisi penderita, merupakan peran yang sangat sesuai dengan kompetensi dan
tugas seorang apoteker. Apoteker dapat juga memberikan tambahan ilmu pengetahuan kepada
penderita tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan kondisi dan pengelolaan diabetes.

Tujuan Percobaan
Setelah menyelesaikan percobaan ini, mahasiswa dapat :
1. Mengetahui secara lebih baik peran insulin dalam tubuh dan pengaruhnya pada
penyakit diabetes
2. Mengenal teknik untuk mengevaluasi penyakit dioabetes dengan cara konvensional
3. Melakukan test glukosa konvensional pada manusia menggunakan alat ukur glukosa
darah

51
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Dasar Teori
Diabetes melitus merupakan suatu penyakit yang terjadi akibat adanya gangguan pada
metabolime glukosa, disebabkan kerusakan proses pengaturan sekresi insulin dari sel-sel beta.
Insulin, yang diahasilkan oleh kelenjar pankreas sangat penting untuk menjaga keseimbangan
kadar glukosa darah. Kadar glukosa darah normal pada waktu puasa antara 60-120 mg/dl, dan dua
jam sesudah makan dibawah 140 mg/dl. Bila terjadi gangguan pada kerja insulin, baik secara
kualitas maupun kuantitas, keseimbangan tersebut akan terganggu, dan kadar glukosa darah
cenderung naik (hiperglikemia) (Kee dan Hayes,1996; Tjokroprawiro, 1998). Diabetes melitus
adalah gangguan metabolisme yang ditandai dengan hiperglikemia dan glukosuria yang
berhubungan dengan abnormalitas metabolisme karbohidrat, lemak dan protein yang diakibatkan
kurangnya insulin yang diproduksi oleh sel β pulau Langerhans kelenjar Pankreas baik absolut
maupun relatif (Herman, 1993; Adam, 2000; Sukandar, 2008).
Kelainan metabolisme yang paling utama ialah kelainan metabolisme karbohidrat.
Oleh karena itu, diagnosis diabetes melitus selalu berdasarkan kadar glukosa dalam plasma darah
(Herman, 1993; Adam, 2000). Diabetes melitus merupakan salah satu jenis penyakit yang ditandai
dengan meningkatnya kadar glukosa darah (hiperglikemia) sebagai akibat dari rendahnya sekresi
insulin, gangguan efek insulin, atau keduanya. Diabetes mellitus bukan merupakan patogen
melainkan secara etiologi adalah kerusakan atau gangguan metabolisme. Gejala umum diabetes
adalah hiperglikemia, poliuria, polidipsia, kekurangan berat badan, pandangan mata kabur, dan
kekurangan insulin sampai pada infeksi. Hiperglikemia akut dapat menyebabkan sindrom
hiperosmolar dan kekurangan insulin dan ketoasidosis. Hiperglikemia kronik menyebabkan
kerusakan jangka panjang, disfungsi dan kegagalan metabolisme sel, jaringan dan organ.
Komplikasi jangka panjang diabetes adalah macroangiopathy, microangiopathy, neuropathy,
katarak, diabetes kaki dan diabetes jantung (Reinauer et al, 2002).
Pada diabetes melitus semua proses terganggu, glukosa tidak dapat masuk kedalam sel,
sehingga energi terutama diperoleh dari metabolisme protein dan lemak. Sebenarnya
hiperglikemia sendiri relatif tidak berbahaya, kecuali bila hebat sekali hingga darah menjadi
hiperosmotik terhadap cairan intrasel. Yang nyata berbahaya ialah gliosuria yang timbul, karena

52
glukosa bersifat diuretik osmotik, sehingga diuresis sangat meningkat disertai hilangnya berbagai
efektrolit. Hal ini yang menyebabkan terjadinya dehidrasi dan hilangnya elektrolit pada penderita
diabetes yang tidak diobati. Karena adanya dehidrasi , maka badan berusaha mengatasinya dengan
banyak minum (polidipsia). Badan kehilangan 4 kalori untuk setiap hari gram glukosa yang
diekskresi (Katzung,dkk,2002).
Insulin adalah polipeptida dengan BM kira-kira 6000. Polipeptida ini terdiri dari 51 asam
amino tersusun dalam dua rantai, rantai A terdiri dari 21 asam amino dan rantai B terdiri dari 30
asam amino. Antara rantai A dan B terdapat 2 jembatan disulfide yaitu antara A-7 dengan B-7 dan
A-20 dengan B-19. Selain iu masih terdapat jembatan disulfide antara asam amino ke-6 dan ke-11
pada rantai AKarena insulin babi lebih mirip insulin insani maka dengan bahan insulin babi mudah
dibuat insulin insani semisintetik. Disamping itu juga dapat disintesis insulin manusia dengan
teknik rekombinan DNA (Ganiswarna,dkk,1995).
Sekresi insulin diatur tidak hanya diatur oleh kadar glukosa darah tetapi juga hormon lain
dan mediator autonomik. Sekresi insulin umumnya dipacu oleh ambilan glukosa darah yang tinggi
dan difosforilasi dalam sel pankreas. Insulin umumnya diisolasi dari pankreas sapi dan babi,
namun insulin manusia juga dapat menggantikan hormon hewan untuk terapi. Insulin manusia
diproduksi oleh strain khusus E. Coli yang telah diubah secara genetik. mengandung gen untuk
insulin manusia. Insulin babi paling mendekati struktur insulin manusia, yang dibedakan hanya
oleh satu asam amino. Gejala hipoglikemia merupakan reaksi samping yang paling umum dan
serius dari kelebihan dosis insulin. Reaksi samping lainnya berupa lipodistropi dan reaksi
alergi.Diabetes militus ialah suatu keadaan yang timbul karena defisiensi insulin relatif maupun
absolut. Hiperglikemia timbul karena penyerapan glukosa ke dalam sel terhambat serta
metabolismenya diganggu. Dalam keadaan normal kira-kira 50% glukosa yang dimakan
mengalami metabolisme sempurna menjadi CO2 dan air, 5% diubah menjadi glikogen dan kira-
kira 30-40% diubah menjadi lemak (Siswandono, 1995)

53
BAB 3
METODOLOGI PRAKTIKUM
1. Alat dan Bahan
1. Kolinergik dan Antikolinergik Kelenjar Saliva
Hewan Coba : Mencit putih, jantan ( jumlah 6 ekor ), bobot tubuh 20-30 g
Obat : -Larutan glukosa 5% 1 g/kgBB mencit secara PO
-cmc Na 1% secara PO
-Glibenklamid 5 mg/ 70kgBB manusia secara PO
-Metformin 500 mg / 70 kgBB manusia secara PO
Alat : Spuit injeksi 1 ml, sonde, timbangan hewan, Accu – Check dan strip
glukosa

2. Perhitungan dosis
Mencit : I : 31 g
: II : 33 g
: III : 33 g
 Glukosa
Mencit :
1.) Bobot : 31 g  Glukosa : 1 g/kgBB mencit
31 𝑔
: 0,031 g
1000
0,031 𝑔
Volume : 𝑥 100 𝑚𝑙 = 0,62 ml
5𝑔

2.) Bobot : 33 g  Glukosa : 1g/kgBB mencit


33 g
1000
: 0,033 g
0,033 𝑔
Volume : x 100 ml = 0,66 ml
5𝑔

 Metformin 500 mg / 70 kgBB manusia


1.) Bobot : 31 g
0,0026 x 500 mg = 1,3 mg
31 𝑔
x 1,3 mg = 2,015 mg
20 𝑔
2,015 𝑚𝑔
Volume : x 50 ml = 0,2015  0,2 ml
500 𝑚𝑔

54
2.) Bobot : 33 g
0,0026 x 500 mg = 1,3 mg
33 𝑔
x 1,3 mg = 2,145 mg
20 𝑔
2,145 𝑚𝑔
Volume : x 50 ml = 0,2145  0,2 ml
500 𝑚𝑔

3. Prosedur Kerja
1. Puasakan mencit selama 12-16 jam, tetapi tetap diberikan air minum
2. Cek kadar glukosa darah mencit sebelum pemberian glukosa pada menit ke-0 dengan cara
bagian ujung ekor mencit dipotong, kemudian darah diteteskan ke bagian ujung strip dan setelah
5 detik kadar glukosa darah akan terlihat pada monitor glukometer. Kadar glukosa darah ini
dicatat sebagai kadar glukosa darah puasa (GDP)
3. Berikan larutan glukosa 1 g/kgBB mencit
4. Cek kadar glukosa darah mencit setelah pemberian glukosa pada menit ke-5 dengan cara
bagian ujung ekor mencit dipotong, kemudian darah diteteskan ke bagian ujung strip dan setelah
5 detik kadar glukosa darah akan terlihat pada monitor glukometer. Kadar glukosa darah ini
dicatat sebagai kadar glukosa darah setelah pembebanan.
5. Mencit dibagi menjadi 3 kelompok dimana masing-masing kelompok terdiri dari 2 ekor
mencit dengan perbedaan dosis obat yang diberikan :
Kelompok I : CMC Na 1% secara PO
Kelompok II : Glibenklamid 5 mg / 70 kgBB manusia secara PO
Kelompok III : metformin 500 mg / 70 kgBB manusia secara PO
6. Hitung dosis dan volume pemberian obat dengan tepat untuk masing-masing mencit
7. Berikan larutan obat sesuai kelompok masing-masing pada menit ke-10
8. Cek kadar glukosa darah mencit setelah pemberian glukosa pada menit 20, 40, 60, 80, 100,
dan 120
9. Catat dan tebelkan pengamatan
10. Data yang diperoleh dianalisa secara statistic berdasarkan analisis variansi dan bermakna
perbedaan kadar glukosa darah antara kelompok control negative, positif dan kelompok uji
kemudian dianalisa dengan Student’s t-test. Data disajikan dalam bentuk tabel dan grafi

55
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Rata – rata Kadar glukosa Kadar glukosa Kadar glukosa Rata – rata
penurunan darah awal darah 5 menit darah 60 menit penurunan non
non glukosa setelah perlakuan setelah perlakuan glukosa

Mencit 1 149 mg / dL 180 mg / dL 134 mg / dL


kelompok 1
2 147 mg / dL 169 mg / dL - 58 mg / dL

3 152 mg / dL 208 mg / dL 138 mg / dL

Glibenklamid 1 114 mg / dL 134 mg / dL 77 mg / dL


kelompok 2
2 143 mg / dL 150 mg / dL 50 mg / dL 68,67mg / dL

3 160 mg / dL 170 mg / dL 121 mg / dL

Glibenklamid 1 179 mg / dL 227 mg / dL 107 mg / dL


kelompok 3
2 164 mg / dL 222 mg / dL 107 mg / dL 117,5 mg / dL

3 - - -

Metformin 1 197 mg / dL 204 mg / dL 154 mg / dL


kelompok 4
2 172 mg / dL 191 mg / dL 164 mg / dL 38,5 mg / dL

3 163 mg / dL 201 mg / dL -

Metformin 1 155 mg / dL 183 mg / dL 158 mg / dL


kelompok 5
2 165 mg / dL 190 mg / dL 146 mg / dL 34,3 mg / dL

3 177 mg / dL 197 mg / dL 163 mg / dL

Pada praktikum ini akan dilakukan penentuan penurunan kadar glukosa darah dan
penentuan efek obat antidiabetes terhadap mencit . Dan obat yang digunakan adalah CMC Na
1% glibenklamid dan metformin. Glibenklamid adalah obat yang digunakan pada pasien diabetes
tipe 2 untuk mengendalikan kadar glukosa darah yang tinggi glibenklamid berupua untuk
merangasang tubuh agar menghasilkan insuli lebih banyak dari biasanya untuk meningkatkan

56
glukosa dalam aliran darah. Sedangkan metformin mempunyai mekanisme kerja berbalik dengan
glibenklamid efek ukurannya yang menurunkan glukoneugenes dan meningkatkan penggunaan
glukosa di jaringan.
Pada kelompok 1 menggunakan obat CMC Na 1% secara PO, hasil yang didapat
kelompok 1 tidak sesuai teori karena CMC Na 1% hanya sebagai obat pembanding ( control
negative ). Seharusnya jika diberi CMC Na hasilnya akan lebih besar dan dibandingkan obat
antibiotic efek. Hal ini dapat mempengaruhi data yang diperoleh seperti ketidak telitian
praktikum dalam penimbangan mencit dan kesalahan dalam membaca glukometer. Adapun
faktor yang menyebabkan penurunan kadar glukosa darah adalah :
- Terjadinya penurunan berat badan hewan coba pada saat puasa dikarenakan tidak
adanya asupan makanan sehingga mengalami penghambatan pembentukan lemak
pada tubuh, akibatnya terjadi penurunan kadar glukosa darah.
- Kelainan pada kelenjar hiposfisa atau kelenjar adrenergic
- Dapat disebabkan oleh sensitivitas dan resistensi terhadap insulin yang berbeda pada
setiap hewan coba
- Adanya kemampuan tubuh dalam menanggapi stres yang diberikan berbeda –beda
pada setiap hewan percobaan
- Serta aktivitas fisik yang dilakukan
Pada kelompok 2 dan 3 diberikan obat glibenklamid sedangkan kelompok 4 dan 5
diberikan obat metformin. Menurut teori glibenklamid lebih baik dari pada metformin karena
glibenklamid bekerja merangsang sekresi insulin dari granul sel – sel  langerhans pankreas.
Rangsangannya melalui interaksinya dengan ATP – sensitive K chanel pada membrane sel – sel
 yang menimbulkan depolarisasi membrane dan keadaan ini akan membuka kanal Ca. Dengan
terbuka nya kanal Ca maka ion Ca++ akan masuk sel -  merangsang granul yang berisi insulin
dan akan terjadi sekresi insulin dengan jumlah yang ekivalen dengan peptide – C . Sedangkan
metformin bekerja berdaya mengurangi resistensi insulin, dan meningkatkan sensitivitas jaringan
perifar untuk insulin.
Data yang diperoleh dari percobaan pada kelompok 2 yang diberi obat glibenklamid dan
kelompok 5 yang diberi obat metformin sesuai dengan teori karena glibenklamid lebih efektif
dalam menurunkan gula darah dibandingkan metformin. Pada kelompok 3 yang diberi obat
glibenklamid dan kelompok 5 yang diberi metformin hasil yang didapat juga sesuai yaitu

57
glibenklamid lebih efektif dibandingkan dengan metformin. Begitupun perbandingan kelompok
2 yang diberikan glibenklamid dan kelompok 4 yang diberikan metformin hasil yang diperoleh
juga sesuai teori yaitu glibenklamid lebih efektif dibandingkan dengan metformin. Selanjutnya
kelompok 3 yang diberi glibenklamid dan kelompok 4 yang diberi metformin hasilnya sesuai
teori yaitu glibenklamid lebih efektif dalam menurunkan gula darah dibandingkan metformin.

58
BAB V
PENUTUP
a. kesimpulan
- Menurut literature obat yang efektif menurunkan kadar gula darah yaitu
glibenklamid dimana selama 24 jam dapat tercapai regulasi gula darah optimal yang
mirip pola normal
- Obat glibenklamid merupakan obat antidiabetes golongan sulfonylurea yang cocok
digunakan untuk penderita diabetes II
- Obat metformin merupakan obat anti antlhipoglikemi golongan biguanida yang
cocok digunakan untuk penderita diabetes I

b. Saran
Praktikan dapat berhati – hati dalam setiap praktikum yang dilakukan untuk
menghindari kesalahan atau bahaya yang ditimbulkan serta teliti dan cermat dalam
melakukan percobaan.

59
DAFTAR PUSTAKA
- Neal, m , J . 2006 . AT Glante farmakologi medis Edisi kelima. PT . Gelora Aksura
Pratama : Jakarta
- Tjay, Tan Hoan . 2010 . Obat – obat penting . Gramedia : Jakarta
- Adam J. m . f . 2000 . klasifikasi dan criteria diagnosis diabetes mellitus yang baru .
Cermin Dunla kedokteran No. 127
- Sukarida, dkk. 2009. 150 farmako terapi. PT . ISFI. Penerbit : Jakarta

60