Anda di halaman 1dari 15

ANTAGONISME ANTARA KAPANG ANTAGONIS

DAN KAPANG PATOGEN

LAPORAN PRAKTIKUM

Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Praktikum Mikrobiologi Lanjutyang dibina


oleh Prof. Dr. Dra.Utami Sri Hastuti, M.Pd

Oleh
Kelompok 4
Kelas/Off: B/A
Ilda Sartifa Sari (140341863057)
Irani Lailatu Badria (140341863067)
Ghaziah Kusumawati C. (140341863040)

PENDIDIKAN BIOLOGI PROGRAM MAGISTER


PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
NOVEMBER 2018
A. Judul : Antagonisme antara Kapang Antagonis dan Patogen
Topik : Antagonisme kapang
Tanggal: 13 November 2018
Tujuan Praktikum
1. Mahasiswa dapat mengamati aktivitas antagonnisme antara kapang
antagonis dan kapang patogen.
2. Mahasiswa dapat megukur daya antagonisme beberapa spesies kapang
antagonisme terhadap kapang patogen.

B. Dasar Teori
Antagonis adalah peristiwa yang menyebabkan tertekannya aktivitas suatu
mikroorganisme jika dua mikroorganisme atau lebih berada pada tempat yang
berdekatan. Uji antagonis merupakan uji yang digunakan membuktikan bahwa
mikroorganisme yang bersifat antagonis dapat menghambat aktivitas
mikrooganisme lain yang berada ditempat yang berdekatan. Mikroorganisme yang
bersifat antagonis ini memiliki pertumbuhan yang cepat sehingga dapat menutupi
mikroorganisme yang berdekatan dengannya (Tuju 2004).
Kapang adalah jamur yang membentuk bulu-bulu halus pada permukaan
substrat, seperti Rhizopus, Botrytis, dan Choanephora. Cendawan adalah jamur
yang banyak membentuk tubuh buah yang besar, misalnya Lycoperdon (jamur
kelentos), Volvariella (jamur merang) dan Auricularia (jamur kuping). Jamur
parasit mempunyai hifa yang ektofitik dan endofitik. Hifa yang ektofitik berada
pada permukaan tanaman inang, biasanya berwarna keputih-putihan, halus,
menyerupai sarang laba-laba, atau berwarna hitam atau coklat, membentuk jalinan
tidak teratur. Miselium yang endofitik berada di dalam jaringan tanaman inang
dan dapat tumbuh secara interseluler (di antara sel) atau intraseluler (masuk ke
dalam sel) (Alfizar, 2013).
Peran ekologi dari jamur yaitu dalam dinamika air/drainase, siklus hara dan
pengendalian penyakit. Bersama dengan bakteri, jamur berperan penting dalam
proses dekomposisi pada rantai makanan di tanah. Jamur dapat mengkonversi
bahan organik menjadi bahan yang dapat dimanfaatkan oleh organisma lain. Hifa
jamur secara fisik berfungsi sebagai perekat pada agregat tanah sehingga dapat
memperbaiki stabilitas agregat tanah. Berdasarkan arti pentingnya di alam yang
telah disebut di atas maka jamur secara fungsional dikelompokan sebagai patogen
atau parasit, perombak (decomposer) dan mutualis (Darmono, 1997).
Salah satu bentuk interaksi antar mikroorganisme adalah antagonisme, yaitu
interaksi yang menimbulkan efek merugikan pada pertumbuhan salah satu
mikroorganisme, sedangkan mikroorganisme lain diuntungkan. Interaksi
antagoisme terjadi apabila beberapa jenis mikroorganisme menempati ruang yang
sama, sehingga mikroorganisme tersebut harus berkompetisi terhadap nutrien dan
ruang yang tersedia. Mikroorganisme yang memiliki kemampuan berkompetisi
dengan mikroorganisme lain dalam hal perolehan nutrien dan ruang dari
lingkungan akan bertahan hidup dan berkembang biak dengan sukses (Harman,
2006).
Interaksi antagonisme dapat terjadi antar sesama fungi, antar sesama bakteri,
ataupun antara fungi dengan bakteri. Mikroorganisme yang memiliki kemampuan
antagonisme disebut sebagai mikroorganisme antagonis. Khamir epifit merupakan
salah satu khamir yang tumbuh secara alami di permukaan bagian tumbuhan
seperti batang, daun, bunga, dan buah. Pada substrat tersebut terdapat keragaman
populasi mikroorganisme sehingga terjadi banyak interaksi antar populasi, salah
satunya adalah interaksi antagonism (Ekowati, 2000)
Mekanisme antagonisme yang dilakukan mikrorganisme antagonis antara
lain kompetisi ruang dan nutrien, antibiosis, parasitisme, dan predasi. Mekanisme
kompetisi ruang dan nutrien terjadi saat mikrorganisme antagonis ditumbuhkan
bersama mikroorganisme lain dalam kondisi ruang dan nutrien yang terbatas.
Kesuksesan berkompetisi ditunjukkan melalui pertumbuhan sel serta kolonisasi
dari mikroorganisme antagonis yang lebih cepat dibandingkan mikroorganisme
patogen. Mekanisme antibiosis melibatkan penggunaan senyawa metabolit
sekunder seperti enzim pelisis, senyawa volatile, siderophores atau senyawa
toksik lainnya. Mekanisme parasitisme terjadi saat mikroorganisme antagonis
menjadikan mikroorganisme lain sebagai inang yang menyediakan habitat dan
nutrien untuk pertumbuhan. Mekanisme predasi terjadi melalui kontak langsung
atau melalui struktur khusus dari mikroorgaisme antagonis, misalnya appresoria,
yang mampu menembus dinding sel hifa atau spora sehingga mengganggu
viabilitas sel (Fenina, 2012).
Jamur fusarium oxysporum merupakan penyebab penyakit layu dan busuk
batang pada berbagai jenis tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan. Inang
dari patogen ini adalah sayuran, bawang, kentang, tomat, kubis, lobak, petsai,
sawi, temu-temuan, semangka, melon, pepaya, salak, krisan, anggrek, kacang
panjang, cabai, ketimun, jambu biji, dan jahe. Tanaman lain yang diketahui
menjadi inang patogen ini adalah kelapa sawit, kelapa, lada, vanili, dan kapas
(Semangun, 2004).
Salah satu spesies yang dapat digunakan sebagai mikroorgaisme antagonis
adalah Trichoderma spp.. Trichoderma spp. merupakan jamur asli tanah yang
bersifat menguntungkan karena mempunyai sifat antagonis yang tinggi terhadap
jamur-jamur patogen tanaman budidaya. Mekanisme pengendalian yang bersifat
spesifik target dan mampu meningkatkan hasil produksi tanaman, menjadi
keunggulan tersendiri bagi jamur Trichoderma spp. ini sebagai agen pengendali
hayati. Pemanfaatan Trichoderma spp. sebagai agen pengendali hayati jamur
patogen Phytopthora infestans merupakan salah satu alternatif penting untuk
mengendalikan jamur patogen tersebut tanpa menimbulkan dampak negatif
terhadap lingkungan.
Sebagai patogen sekunder bila jamur menginfeksi tanaman inang setelah ada
serangan jamur patogen lain, sehingga tingkat serangan menjadi sedemikian parah
[Joffe, (1973) dalam Isnaini, dkk. (2004)]. Jamur dapat menyebar melalui
pengangkutan bibit dan tanah yang terbawa angin atau air atau alat pertanian.
Populasi patogen dapat bertahan secara alami di dalam tanah dan pada akar-akar
tanaman sakit. Apabila terdapat tanaman yang peka maka bila terdapat luka pada
akarnya, fusarium oxysporum akan segera menginfeksinya. Menurut Thomas
dalam Ekowati (2000), Trichoderma sp. mampu memproduksi protein
ekstraseluler yang mampu melisiskan dinding sel patogen yaitu melalui uji
aktivitas enzimatis. Menurut Darmono (1997), molekul antibiosis yang dihasilkan
oleh Trichoderma sp.yaitu 1,3 glukanase dan khitinase. Kedua enzim tersebut
menghancurkan glukan dan kitin yang merupakan komponen dinding hifa dari
beberapa cendawan patogen tanaman.

Jamur Trichoderma spp. dapat menjadi hiperparasit pada beberapa jenis


jamur penyebab penyakit tanaman, pertumbuhannya sangat cepat dan tidak
menjadi penyakit untuk tanaman tingkat tinggi. Mekanisme antagonis yang
dilakukan adalah berupa persaingan hidup, parasitisme, antibiosis dan lisis.
Menurut Purwantisari, dkk (2009) dalam Rifai (1969) jenis Trichoderma yang
umum dijumpai di Indonesia adalah: T.piluliferum, T. polysporum, T. hamatum,
T.koningii, T. aureoviride, T. harzianum, T.longibrachiatum. T. psudokoningii, dan
T. viride (Djafarudin, 2000).
Trichoderma spp. sebagai jasad antagonis mudah dibiakkan secara massal,
mudah disimpan dalam waktu lama dan dapat diaplikasikan sebagai seedfurrow
dalam bentuk tepung atau granular/butiran. Beberapa keuntungan dan keunggulan
Trichoderma spp. yang lain adalah mudah dimonitor dan dapat berkembang biak,
sehingga keberadaannya di lingkungan dapat bertahan lama serta aman bagi
lingkungan, hewan dan manusia lantaran tidak menimbulkan residu kimia
berbahaya yang persisten di dalam tanah. Penggunaan jamur antagonis sebagai
agen hayati harus dalam bentuk formulasi yang tepat dengan bahan yang mudah
tersedia. Menurut Purwantisari, dkk (2009) dalam Weller dan Cook (1983) bahwa
untuk menstabilkan efektifitas agensia hayati harus diformulasikan. Beberapa
laporan menyebutkan bahwa P. fluorescens, Gliocladiumdan Trichoderma telah
diformulasikan dalam bentuk cair, tepung dan kompos. Perkembangbiakan
Trichoderma spp. akan terjadi bila hifa jamur mengadakan kontak dengan bahan
organik seperti kompos, bekatul atau beras jagung (Purwantisari, dkk, 2009).
Metode yang digunakan mengacu pada metode dual kultur Sibounnavong.
Spora kapang antagonis ditumbuhkan bersama dengan spora kapang patogen
dalam satu media PDA. Spora ditumbuhkan dengan jarak 3 cm dari tepi cawan.
Inkubasi dilakukan selama 5 hari. Kapang patogen ditumbuhkan pada media tanpa
kapang antagonis sebagai control (Nugroho, 2003). Persentase hambatan
pertumbuhan dihitung dengan persamaan:

R1 = diameter koloni dari patogen media kontrol


R2 = diameter koloni dari patogen pada media dual kultur
Gambar 1. Uji Dual Kultur Kapang Antagonis dan Kapang Patogen
Sumber: Galuh, dkk. tt

Pengamatan mekanisme penghambatan kapang antagonis terhadap kapang


patogen dilakukan dengan pembuatan slide culture. Spora kapang patogen
ditumbuhkan pada sisi potongan media PDA seluas 1 cm 2 dengan tinggi 2 mm
sementara kapang antagonis pada sisi lainnya. Inkubasi dilakukan selama 48-72
jam selanjutnya dilakukan pengamatan pada daerah kontak (Howell, 2011)
Genus Trichoderma termasuk kapang Imperfekti (Subdivisi Deuteromyco-
tina), kelas Hyphomycetes, Ordo Moniliales, Family Moniliaceae. Kapang ini
termasuk jenis saprofit, hidup di tanah dan kayu, beberapa spesies bersifat parasit
pada kapang lain. Secara umum banyak ditemukan pada tanaman jagung, terutama
dibagian akar sebagai endophyte. Struktur morfologi terdiri dari miselium/hifa
bersepta, phialofor (konidiofor) berbentuk vas bunga (piala), membesar di bagian
bawah dan menyempit di bagian ujung, bercabang atau keluar langsung dari
miselium, bersifat hialin, pada ujungnya terdapat sekelompok sel konidia (spora)
berbentu oval, uniseluler, bersifat hialin, dan sekelompok konidia ini dinamakan
slimy ball. Koloni tumbuh dengan cepat, hifa dari T.viride secara mikroskopik
akan tampak setelah berumur 2 – 4 hari, dalam waktu 7 hari akan menyebar ke
seluruh permukaan media dicawan petri. Koloni tampak seperti kapas (floccose),
pipih, mula-mula berwarna putih, lalu menjadi padat seperti wol dengan warna
berumur 9 hari dengan berkembangnya miselium dan konidia. Bagian dasar
(reverse) dari koloni putih sampai krem atau kecoklatan. Organisme yang
berperan sebagai agen kontrol biologis berinteraksi dengan organismelain sebagai
induk semang (host) yaitu melalui tiga cara: parasitisme (menggunakan sumber
nutrisi dari induk semang), kompetisi (dalam hal tempat dan nutrisi) dan antibiosis
(dengan zat hasil metabolit yang berefek terhadap induk semang). Kapang
Trichoderma sp. lebih dominan berinteraksi secara antibiosis. Sifat enzim
ekstraseluler yang bersifat amilolitik, pektinolitik, proteolitik, dan selulolitik pada
T.viride dan zat volatile seperti alkil piron pada T. harzianum. Enzim khitinase
dihasilkan olehT. harzianum dapat merusak dinding kapang yang mengandung
khitin. Enzim β 1-3glukanase dapat merusak dinding sel kapang yang
mengandung β 1,3 – glukan. Hifa dari F. moniliforme mengalami lisis dan
mengakibatkan berkurangnya diameter koloni dalam 6 – 14 hari inkubasi bila
dibiakkan bersama dengan T. viride. Dengan demikian Trichoderma sp. sebagai
agen antagonis berperan sebagai agen kontrol biologi untuk kapang lain yang
patogenik/toksigenik yang dinding selnya mengandung chitin, glucan dan protein
(Kumala, 2008).
Agen biokontrol merupakan mikroorganisme antagonis yang digunakan
dalam menghambat pertumbuhan patogen tertentu dan diaplikasikan pada suatu
substrat. Mikroorganisme yang dapat dijadikan biokontrol memiliki karakteristik
diantaranya memiliki materi genetik yang stabil; dapat beradaptasi pada suhu
ruang yang ekstrim, seperti suhu rendah untuk penyimpanan (mendekati 0°C);
mampu beradaptasi pada substrat yang memiliki konsentrasi gula tinggi, tekanan
osmosis tinggi, dan pH rendah (Isnaini, 2000).

C. Alat dan Bahan


Alat
1. Cawan petri
2. Bor gabus
3. Jarum inokulasi
4. Laminar Air Flow
5. Inkubator
6. Lampu spiritus
7. Batang pengaduk
8. Penggaris
9. Tabung reaksi
10. Alat tulis
Bahan
1. Biakan murni kapang Fusarium solani
2. Biakan murni kapang Thricordema harzianum dan Thricordema viride.
3. Medium Czapek Agar
4. Tissue
D. Cara Kerja
(sudah disiapkan sebelumnya oleh asisten)
Dibuat biakan-biakan kapang: Fusarium solani, F. oxysporum, F. verticiloides,
Trichoderma harzianum, Trichoderma viride

Dipotong biakan kapang-kapang Fusarium spp. sebagai kapang patogen dan


kapang-kapang Trichoderma spp. dengan menggunakan bor gabus steril secara
aseptik

Disiapkan medium lempeng PCA. Diletakkan pada permukaan masing-masing


medium lempeng PCA tersebut satu potongan biakkan kapang Fusarium sp. pada
sisi kiri dan satu potongan biakan kapang Trichoderma sp. pada sisi kanan berjajar
dengan jarak 3 cm.

Diinkubasikan pada suhu 25˚C selama 3x24 jam. Tiap hari dilakukan pengamatan
terhadap pertumbuhan koloni kapang

Dilakukan pengukuran daya antagonisme antara kapang antagonis Trichoderma sp.


dan Fusarium sp. yang ditumbuhkan bersama pada medium lempeng PCA dengan
rumus:

Daya antagonisme (%) =

(keterangan dijabarkan di analisa data)


E. Data
Tabel 1. Pengamatan Antagonisme Antar Mikroba

Daya
R1 R2
Perlakuan Gambar Antagonisme
(cm) (cm)
(%)

TrichodermaA
harzianum
vs 2.8 cm 1.7 cm 39,2%
Fusarium
oxysporum

Trichoderma viride
vs
3,2 cm 2 cm 37,5%
Fusarium
oxysporum

Perhitungan
Rumus:

P (Daya antagonisme) = x 100%

1. Perlakuan 1 (Trichoderma harzianum vs Fusarium oxysporum)

P= x 100% = 39,2%

2. Perlakuan 2 (Trichoderma viride vs Fusarium oxysporum)

P= x 100% = 37,5%

F. Analisis Data
Parktikum kali ini untuk melihat antagonis antar kapang yaitu kapang
patogen dan kapang antagonis. Kapang antagonis yang digunakan yaitu
Trichoderma harzianum dan Trichoderma viride sedangkan kapang patogen yang
digunakan yaitu Fusarium oxysporum. Kapang yang digunakan didapatkan dari
isolate yang sudah disediakan oleh Laboratorium. Berdasarkan hasil perhitungan
yang dilakukan setelah pengamatan bahwa kapang Trichoderma harzianum dan
Trichoderma viride yang digunakan memiliki daya antagonisme terhadap kapang
patogen Fusarium oxysporum. Kapang Trichoderma harzianum dapat
menghambat pertumbuhan kapang Fusarium oxysporum sebesar 39,2%
sedangkan Trichoderma viride memiliki daya antagonisme terhadap Fusarium
oxysporum sebesar 37,5%. Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kapang
Trichoderma harzianum memiliki daya antagonisme lebih tinggi dibandingkan
kapang Trichoderma viride dalam menghambat pertumbuhan kapang patogen
Fusarium oxysporum.

G. Pembahasan
Uji antagonisme kapang yaitu anatara kapang antagonis dan kapang patogen.
a. Trichoderma harzianum dan Fusarium oxysporum
Keberadaan kapang antagonis yang mudah ditemukan pada ekosistem
pertanian dapat dimanfaatkan sebagai APH. Kapang antagonis yang sangat umum
ditemukan adalah Trichoderma sp. (Rao, 2010; Padmaja et al., 2013).
Berdasarkan hasil pengamatan Trichoderma harziarum mampu menghambat
pertumbuhan patogen Fusarium oxysporum, dengan daya antagonisme 39,2%.
Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Ningsih, (2016), persentase daya
antagonisme Trichoderma harziarum dan Fusarium oxysporum sebesar 60%.
Munir et al. (2013) mengatakan bahwa Trichoderma sp. merupakan cendawan
kosmopolit yang dapat berkembang di akar, tanah, dan daun yang dapat
meningkatkan pertumbuhan, menginduksi ketahanan tanaman, dan bersifat
antagonis terhadap patogen penyebab penyakit tanaman. T. harzianum merupakan
cendawan yang paling umum dijumpai di tanah dan sering digunakan dalam
pengendalian hayati baik terhadap patogen tular tanah maupun patogen filosfer,
spesies dari cendawan ini telah banyak diformulasikan sebagai fungisida dengan
spekrtum inang yang luas (Soesanto 2008). T. harzianum mampu memperlambat
masa inkubasi, menurunkan intensitas penyakit, dan menurunkan tingkat virulensi
sembilan isolat Fusarium oxysporum penyebab penyakit layu pada tanaman
kencur (Prabowo et al. 2006).
T. harzianum (R2) memiliki diameter lebih besar dari pada diameter Fusarium
oxysporum yaitu sebesar 2,8 cm sedangkan diameter Fusarium oxysporum
sebesar 1,7 cm. Hal tersebut memungkinkan terjadinya mekanisme kompetisi
antara masing-masing cendawan uji. Kompetisi terjadi apabila terdapat persaingan
dalam mendapatkan faktor tumbuh seperti ruang dan nutrisi yang sama antara
dua mikroba atau lebih, dimana salah satu dari mikroba memanfatkan lebih
banyak faktor tumbuh ersebut. Kompetisi menyebabkan cendawan patogen tidak
mempunyai ruang tumbuh untuk hidupnya (Octaviani et al 2015). Mekanisme
antibiosis dapat dilihat dari adanya zona penghambatan pada hasil uji antagonisme
in vitro (Gambar pengamatan). Adanya zona penghambatan menunjukkan
terjadinya mekanisme antibiosis yang dilakukan kandidat cendawan antagonis
terhadap patogen uji. Mekanisme antibiosis terjadi apabila suatu agens hayati
mampu menghasilkan senyawa metabolit yang bersifat toksik terhadap organisme
lain sehingga dapat menghambat pertumbuhan dan mematikan inangnya
(Kusdiana 2011).
Menurut Soesanto (2008), cendawan antagonis dapat membentuk alat
penetrasi yang terbentuk dari hifa yang meililit atau hifa yang kontak dengan hifa
patogen, alat penetrasi akan melubangi dinding sel patogen dengan bantuan
enzim. Mekanisme mikoparasit terjadi apabila suatu agens hayati mampu
memproduksi enzim ekstraseluler untuk melubangi dinding sel cendawan lain,
kemudian melakukan penetrasi dan mengabsorbsi isi sel cendawan tersebut
sebagai nutrisinya (Octaviani et al. 2015).
b. Trichoderma viridae dan Fusarium oxysporum
Berdasarkan hasil pengamatan persentase daya antagonisme Trichoderma
viridae dan Fusarium oxysporum adalah 37,5%, berbeda dengan perentase daya
antagonisme Trichoderma harziarum dan Fusarium oxysporum 39,2%, persentase
daya antagonisme Trichoderma viridae dan Fusarium oxysporum daripada
perentase daya antagonisme Trichoderma harziarum dan Fusarium oxysporum.
Hal ini karena Mikroba antagonis memiliki mekanisme penghambatan yang
berbeda-beda dan dapat memiliki lebih dari satu mekanisme penghambatan,
masing-masing mekanisme tersebut berpengaruh terhadap penghambatan
pertumbuhan patogen maupun terhadap pertumbuhan tanaman (Soesanto 2008).
Efisiensi daya antagonis kapang Trichoderma spp. yang berbeda terhadap
kapang patogen tertentu dapat disebabkan oleh kecepatan tumbuh, kadar dan
macam senyawa kimia, serta enzim yang dihasilkan oleh masing-masing spesies
(Matroudi et al., 2009; Octriana, 2011; Amaria dkk., 2013). Kecepatan
pertumbuhan yang tinggi dapat menentukan aktivitas kapang antagonis terhadap
kapang patogen. Diameter kapang Trichoderma viridae lebih tinggi dari pada
diameter kapang Fusarium oxysporum. Hal ini karena kapang Trichoderma
viridae memiliki kecepatan tumbuhan yang mengungguli kapang Fusarium
oxysporum, sehingga dapat menguasai kompetisi ruang dan nutrisi. Trichoderma
sp. menghasilkan sejumlah enzim ekstraseluler β-1.3-glukanase dan kitinase yang
dapat melarutkan dinding sel patogen (Lewis dan Papavizas 1984).

H. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum kali ini, dapat disimpulkan:
1. Uji antagonisme kapang antagonis dan patogen, menggunakan dua kapang
antagonis yaitu Trichoderma harzianum dan Trichoderma viridae terhadap
kapang patogen Fusarium oxysporum. Memiliki tingkat pertumbuhan kapang
antagonis lebih cepat dari pada kapang patogen Fusarium oxysporum.
2. Pesentase daya anatagonisme antara kapang antagonis Trichoderma
harzianum dan Fusarium oxysporum (39,2%) lebih besar daripada pesentase
daya anatagonisme antara kapang antagonis Trichoderma viridae dan
Fusarium oxysporum (37,5%).
I. Diskusi
1. Berapa daya antagonisme Trichoderma harzianum terhadap Fusarium
oxysporum?
Jawab: daya antagonisme Trichoderma harzianum yaitu 39,2%
2. Berapa daya antagonisme Trichoderma viridae terhadap Fusarium
oxysporum?
Jawab: daya antagonisme Trichoderma harzianum yaitu 37,5%
3. Kapang antagonis manakah yang lebih efektif mengendalikan pertumbuhan
Fusarium oxysporum berdasarkan daya antagonisnya?
Jawab: Kapang antagonis yang lebih efektif dala mengendalikan kapang
pathogen yaitu Trichoderma harzianum karena dilihat dari nilai
presentasenya jika kapang Trichoderma harzianum lebih besar dari kapang
antagonis Trichoderma viridae yaitu dengan nilai 39,2%.

DAFTAR RUJUKAN
Alfizar., Marlina., Susanti, Fitri. 2013. Kemampuan Antagonis Trichoderma Sp.
Terhadap Beberapa Jamur Patogen In Vitro. Jurnal Bioteknologi. Vol. 8
(45):46- 53. Unsyiah Kuala Press.

Darmono, 1997. Biofungisida Trichoderma sp. untuk pengendalian patogen


penyakit tanaman perkebunan dalam Prosiding Pertemuan Teknis
Bioteknologi Perkebunan untuk Praktek. Bogor: Unit Penelitian
Bioteknologi Perkebunan.

Djafarudin. 2000. Dasar-dasar Pengendalian Penyakit Tanaman. Bumi Aksara.


Jakarta.

Ekowati N, Ratnaningtyas & Mumpuni. 2000. Aktivitas senyawa antifungi


beberapa isolate lokal Gliocladium spp dan Trichoderma sp. Terhadap
Phyptophthora pakmivora penyebab busuk buah kakao. Laporan
Penelitian. UNSOED, Purwokerto.

Harman.T,. 2006. Pertanian Pengendalian Hayati. Yogyakarta: UGM press.

Howell, C. R., DeVay, J. E., Garber, R. H. dan Batson, W. E. 2011. Field Control
of cotton seedling deseases with Trichoderna virens in combination with
fungicide seed treatments. Journal of Cotton Science 1 : 15-20.

Isnaini, M. Rohyadi, dan Murdan, 2004. Identifikasi dan Uji Patogenitas Jamur-
jamur Penyebab Penyakit Busuk Batang Tanaman Vanili di Lombok Timur.
Fakultas Pertanian Universitas Mataram. Mataram.

Kumala, Agustina, dan Wahyu.. 2008. Uji Aktivitas Antimikroba Metabolit


Sekunder Kapang Endofit Tanaman Trengguli (Cassia futula L ) . Jurnal
Bahan Alam Indonesia. Vol.6, No.2: 46-48. Surabaya: Universitas
Surabaya.

Kusdiana A.P.J. 2011. Eksplorasi Dan Identifikasi Cendawan Antagonis Terhadap


Rigidoporus Lignosus Penyebab Jamur Akar Putih Pada Karet. Bogor:
Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Lewis J. A., Papavizas G.C. 1984. A New Approach To Stimulate Population


Proliperation Of Trichoderma Sp. And Other Potensial Biocontrol Fungi
Introduced Into Natural Soil. Phytopathology. 74(10):1240-1244.

Munir S, Jamal Q., Bano K., Sherwani S. K., Bokhari T.Z., Khan T.A., Khan R.A.,
Jabbar A., Anees M. 2013. Biocontrol ability of Trichoderma. Intl J Agri
Crop Sci. 6(18):1246-1252.

Nugroho, A dan Ginting. 2003. Isolasi dan Karakterisasi Sebagian Kitinase


Trichoderma viridae TNJ63. Jurnal Nature Indonesia, (5)2: 101-106.
Semangun H. 2000. Penyakit-Penyakit Tanaman Perkebunan Indonesia.
Yogyakarta: Gajah Mada Univ Press.

Octaviani E. A, Achmad, Herliyana E. N. 2015. Potensi Trichoderma Harzianum


Dan Gliocladium Sp. Sebagai Agens Hayati Terhadap Botryodiplodia Sp.
Penyebab Penyakit Mati Pucuk Pada Jabon (Anthocephalus cadamba
(Roxb.) miq). Jurnal Silvikultur Tropika. vol 06(1):27-32.

Octriana, L. 2011. Potensi Agen Hayati dalam Menghambat Pertumbuhan


Phytum sp. secara In Vitro.Buletin Plasma Nuftah 17 (2): 138-142.

Padmaja, M., et al. 2013. Trichoderma sp. as a Microbial Antagonist Against


Rhizoctonia solani. International Journal of Pharmacy & harmaceutical
Sciences5 (4): 322-325.

Prabowo A. K. E, Prihatiningsih N, Soesanto L. 2006. Potensi Trichoderma


harzianum dalam mengendalikan sembilan isolat Fusarium oxysporum
Schlecht. f.sp. Zingeberi Trujillo pada kencur. Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian
Indonesia. 8(2):76-78.

Rao, S.N.S. 2010. Mikroorganisme Tanah & Pertumbuhan Tanaman. Jakarta:


Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press).

Soesanto L. 2008. Pengantar Pengendalian Hayati Penyakit Tanaman, Suplemen


ke Gulma dan Nematoda. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Tuju MJ. 2004. Antagonisme Trichoderma spp, to Raistonia solanacearum Cause


of Wilt Bacteria ini Potato Plant. Jurnal Mikrobiologi Eugenia.10(2) :
143-155