Anda di halaman 1dari 17

HUKUM AGRARIA

KODE MATA KULIAH : WU14228

BLOCK BOOK

Planning group:

Prof. Dr. Ibrahim, R.SH.MH


Bagian Hukum Administrasi Negara

I Gusti Nyoman Agung, SH. MHum


Bagian Hukum Keperdataan

I Ketut Sudiarta, SH.MH


Bagian Hukum Administrasi Negara

Cok Dalem Dahana, SH. MKn


Bagian Hukum Administrasi Negara

Ni Gusti Ayu Dyah Satyawati, SH.MKn, LLM


Bagian Hukum Administrasi Negara

I Made Sarna, SH.MKn


Bagian Hukum Administrasi Negara

I Nyoman Darmada, SH
Bagian Hukum Keperdataan

I Nengah Suharta, SH.


Bagian Hukum Administrasi Negara

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS UDAYANA
2009/2010
1. Identitas Mata Kuliah

Wu 14228 : HUKUM AGRARIA


Team Pengajar : Prof. Dr. Ibrahim, R.SH.MH
I Gusti Nyoman Agung, SH. MHum
I Ketut Sudiarta, SH.MH
Cok Dalem Dahana, SH. MKn
Ni Gusti Ayu Dyah Satyawati, SH.MKn, LLM
I Made Sarna, SH.MKn
I Nyoman Darmada, SH
I Nengah Suharta, SH.
Status Mata Kuliah : Mata Kuliah Wajib Nasional ( Kurikulum inti )
SKS :2

2. Diskripsi Mata Kuliah


Bagian Hukum Administrasi Negara diharapkan mampu mewujudkan
pendidikan yang bebasis kompetensi sesuai dengan hasil akhir yang diinginkan.
Hal ini juga merupakan kristalisasi dari visi dan misi Universitas Udayana yaitu :
Unggul, Mandiri, dan Berbudaya.
Agar proses pembelajaran bermutu dan terimplementasikan dengan baik
dimana dosen sebagai salah satu komponen dari proses pembelajaran dituntut
memiliki kompetensi, antara lain: penguasaan materi perkuliahan, memilih media
pembelajaran, kemampuan menerangkan materi, dll. Bahkan, tidak boleh
dilupakan adalah melakukan evaluasi terhadap komponen pendukungnya.
Substansi materi yang terkandung dalam UU No 5 Tahun 1960 tentang
Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria ( selanjutnya disingkat UUPA) memiliki
dua aspek yakni aspek keperdataan / privat dan aspek publik. Dalam hukum
publik banyak kebijakan-kebijakan pemerintah dalam bidang Agraria yang
dikeluarkan menyebabkan pro dan kontra. Ada peraturan di bawah undang-
undang yang dikeluarkan tidak berdasarkan undang-undang atau peraturan yang
lebih tinggi /tidak sesuai dengan hierarki prundang-undangan. Ada peraturan
yang dikeluarkan yang memfasilitasi golongan tertentu yang semestinya sebuah
peraturan adalah independen seperti Peraturan Presiden No. 36 Tahun 2005
tentang Pengadaan Tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan
umum, oleh banyak kalangan dianggap melanggar HAM.
Materi-materi perkuliahan tersebutlah yang secara cepat bergerak melalui
kebijakan pemerintah yang diantisipasi dan disesuaikan dengan materi
perkuliahan.

3. Tujuan Mata Kuliah

Setelah menyelesaikan kuliah ini, mahasiswa semester III Fakultas Hukum UNUD
dapat menerapkan pengetahuannya untuk memecahkan kasus-kasus tanah yang
terjadi atau kasus-kasus yang akan terjadi dalam praktek.

4. Metoda dan Strategi Pembelajaran

1. Metoda Perkuliahan
Metoda perkuliahan adalah Problem Base Learning ( PBL ) pusat
pembelajaran ada pada mahasiswa. Metoda yang diterapkan adalah “belajar’
(Learning) bukan “mengajar”(teaching). Startegi pembelajaran: kombinasi
perkuliahan 50 % ( 6 kali pertemuan perkuliahan) dan tutorial 50 % (6 kali
pertemuan tutorial ). Satu kali pertemuan untuk UTS (Ujian Tengah
Semester) dan satu kali pertemuan untuk UAS ( Ujian Akhir Semester ).
Jumlah kelseluruhan pertemuan 14 kali pertemuan.

2. Pelaksanaan Perkuliahan dan Tutorial


Dalam mata kuliah hukum Agraria ini, perkuliahan direncanakan berlangsung
selama 6 ( enam) kali pertemuan, yaitu setiap pertemuan ke 1,3,5,7,9 dan
11. Totorial 6 (enam ) kali pertemuan yaitu setiap pertemuan ke 2,4,6,8,10
dan 12.
3. Strategi Perkuliahan
Perkuliahan tentang sub-sub pokok bahasan dipaparkan dengan alat Bantu
media papan tulis, power point slide, serta penyiapan bahan bacaan tertentu
yang dipandang sulit diakses oleh mahasiswa. Sebelum mengikuti
perkuliahan mahasiswa sudah mempersiapkan diri (self study) mencari bahan
materi, membaca dan memahami pokok bahasan yang akan dikuliahkan
sesuai dengan arahan (guidance) dalam block book. Tehnik perkuliahan:
pemaparan materi, Tanya jawab dan diskusi (proses pembelajaran dua arah).
4. Strategi tutorial
i. Mahasiswa mengerjakan tugas-tugas : ( Discussion task , Study task dan
Problem task ) sebagai bagian dari self study ( 20 jam perminggu ),
kemudian berdiskusi di kelas tutorial, presentasi power point, dan diskusi
peran ( berperan sebagai tergugat, penggugat dan hakim di pengadilan
dalam kasus pertanahan.
ii. Dalam enam (6) kali tutorial di kelas, mahasiswa diwajibkan:
1. Menyetor karya tulis berupa paper sesuai dengan topic tutorial 1,
2,3,4 ). Pilih salah satu topic-topik tersebut disetor paling lambat
pada tutorial ke 4.
2. Mempresentasikan tugas tutorial dalam bentukpower point
presentation untuk tugas tutorial 1, 2,4 )
3. Mengambil peran sebagai penggugat, tergugat atau hakim untuk
materi tutorial 3.

5. Ujian dan penilaian


Ujian
Ujian dilaksanakan dua kali dalam bentuk tertulis yaitu Ujian Tengah Semester
(UTS) dan Ujian Akhir Semester ( UAS )
Penilaian
Penilaian akhir dari proses pembelajaran ini berdasarkan rumus nilai akhir sesuai
dengan buku pedoman Fakultas Hukum 2009, yaitu:
(UTS + TT) + (2 x UAS)
2
NA =
3

Skala Nilai Penguasaan Keterangan dengan skala nilai


Huruf Angka Kompetisi 0-10 0-100
A 4 Sangat baik 8,0-10,0 80-100
B+ 3,5 Antara sangat baik dengan baik 7,0-7,9 70-79
B 3 Baik 6,5-6,9 65-69
C+ 2,5 Antara baik dan cukup 6,0-6,4 60-64
C 2 Cukup 5,5-5,9 55-59
D+ 1,5 Kurang 5,0-5,4 50-54
D 1 Sangat kurang 4,0-4,9 40-49
E 0 Gagal 0,0-3,9 0-39

6. Materi Perkuliahan ( Organisasi perkuliahan )


I. Pendahuluan
1. Pengertian Hukum Agraria dan Hukum tanah
2. Hubungan Politik Agraria Nasional dalam UUD 1945 dalam kebijakan
pemerintah dengan UUPA
3. Ruang lingkup pengaturan UUPA

II. Hukum Agraria Sebelum Berlakunya UUPA


1. Hukum Tanah yang Dualistik dan Pluralistik
2. Hak-Hak penguasan tanah yang bersumber pada Hukum Tanah Adat dan
Hukum Tanah Barat
3. Hukum Tanah Administrasi Pemerintah Hindia Belanda

III. Sejarah Pembentukan UUPA


1. Panitia Agraria Yogyakarta
2. Panitia Agraria Jakarta
3. Panitia Agraria Soewakyo
4. Rancangan Soenarjo
5. Rancangan Sadjarwo
6. Dasar-dasar Pengaturan UUPA
7. Peraturan peralihan
8. Tentang pelaksanaan UUPA

IV. Hukum Tanah Nasional


1. Peranan Hukum Tanah Adat dalam pembentukan Hukum Tanah Nasional
2. Sumber-sumber Hukum Tanah Nasional
3. Asas-Asas Hukum Tanah Nasional

V. Hak Atas Tanah menurut UUPA


1. Pengertian dan Isi masing-masing Hak Atas Tanah
2. Subjek dari objek masing-masing Hak Atas Tanah
3. Hak-hak yang dapat dibebani Hak Tanggungan

VI. Ketentuan Pokok Hak-Hak Penguasaan Atas Tanah


1. Pencabutan Hak Atas Tanah
2. Pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan
umum

VII. Ketentuam Pokok Pendaftaran Hak Atas Tanah


1. Pengertian, tujuan, dan peraturan yang mengatur Pendaftaran Hak Atas
Tanah ( HAT )
2. Kegiatan penyelenggaraan pendaftaran tanah
3. Sistem Pendaftaran Atas Tanah
4. Asas-asas dalam Pendaftaran Atas Tanah

VIII. Ketentuan-Ketentuan Pokok Landreform


1. Dasar untuk penyelenggaraan Landreform
2. Pengertian dan tujuan Landreform
3. Program Landreform

IX. Ketentuan Pokok Tata Guna Tanah


1. Dasar Hukum Tata Guna Tanah
2. Pengertian dan tujuan Penatagunaan Tanah
3. Asas-asas Tata Guna Tanah
4. Kegiatan-kegiatan Tata Guna Tanah
7. Bahan Bacaan
1. Abdurahman; Kedudukan Hukum Adat Dalam Rangka Pembangunan
Nasional, Alumni Bandung, 1978.
2. Ali Sofwan Husein, Konflik Pertanahan Dimensi Keadilan dan Kepentingan
Ekonomi, Pustaka Sinar Harapan Jakarta, 1997.
3. Arie Sukanti Hutagalung dan Markus Gunawan, Kewenangan Pemerintah
di Bidang Pertanahan,Rajawali Pers, Jakarta, 2008
4. Aslan Noor, Konsep Hak Milik Atas Tanah Bagi Bangsa Indonesia, Ditinjau
dari Ajaran Hak Asasi Manusia, Penerbit CV Mandar Maju,Bandung, 2006.
5. Achmad Rubaie, Hukum Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum,
Penerbit Banyumedia,Malang Jawa Timur, 2007.
6. Aminuddin Salle, Hukum Pengadaan Tanah untuk Kepentingan Umum,
Penerbit Kreasi Total Media,Jakarta, 2007.
7. Budi Harsono;Undang-Undang Pokok Agraria, Sejarah Penyusunan Isi dan
Pelaksanaannya, Jambatan Jakarta,1961.
8. ---,Hukum Agraria Jilid I, Jambatan Jakarta, 1981.
9. Mahfud MD; Politik Hukum di Indonesia, LP3ES, Jakarta, 2001.
10. Maria SW Sumardjono, Kebijakan Pertanahan Antara Regulasi Dan
Implementasi, Penerbit Buku Kompas, Jakarta 2006.
11. ----, Tanah Dalam Perspektif Hak Ekonomi Sosial Dan Budaya, Penerbit
Buku Kompas, Jakarta, 2008
12. Muhammad Bakrie, Hak Menguasai Tanah Oleh Negara( Paradigma Baru
Untuk Reformasi Agraria, Citra Media Yogyakarta, 2007.
13. Susanto;Hukum Pertanahan ( Agraria), Pradnya Paramita,1980.
14. Sudikno Mertokusumo;Hukum Dan Politik Agraria, Karunika, Jakarta,
1988.
15. Muhadar, Viktimisasi Kejahatan Di Bidang Pertanahan, LaksBang
Pressindo Yogyakarta, 2006.

8. Persiapan Proses Perkuliahan


Mahasiswa diwajibkan sudah memiliki block book mata kuliah Hukum Agraria ini
sebelum perkuliahan dimulai dan sudah mempersiapkan materi sehingga proses
perkuliahan dan tutorial dapat terlaksana dengan lancar.
Pertemuan 1. Perkuliahan 1.( Lectures )

Pendahuluan
 Pengertian Hukum Agraria dan Hukum Tanah
 Hubungan Politik Agraria Nasional dalam UUD 1945 dalam kebijakan
pemerintah dengan UUPA
 Ruang lingkup pengaturan UUPA

Bahan Bacaan :
A. Perundang-Undangan:
 Undang-Undang Dasar Negara Rpublik Indonesia Tahun 1945
 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-
pokok Agraria.

B. Literatur:
 Abdurahman; Kedudukan Hukum Adat Dalam Rangka Pembangunan
Nasional, Alumni Bandung, 1978.
 Budi Harsono;Undang-Undang Pokok Agraria, Sejarah Penyusunan Isi dan
Pelaksanaannya, Jambatan Jakarta,1961.
 ---,Hukum Agraria Jilid I, Jambatan Jakarta, 1981.
 Mahfud MD; Politik Hukum di Indonesia, LP3ES, Jakarta, 2001

Pertemuan 2. Tutorial 1 - Discussion Task-Study Task.

Jika dilihat dari semenjak penjajahan Belanda, sudah dikenal pengaturan


tentang hukum tanah di daerah jajahan ( waktu itu Indosnesia disebut dengan
Hindia Belanda), seperti dikenal adanya Stb 1870 No 118 tentang Agrarish
Wet dalam Pasal 1 nya mengatur tentang Domein Verklaring.
Dengan tidak mengurangi berlakunya ketentuan ke2 dan ke 3 dari
Undang-undang tersebut ( ayat 5 dan6 Pasal 51 IS ) maka tetap dipegang teguh
dasar hukum yang menyatakan bahwa semua tanah yang tidak ada buktinya hak
eigendom adalah kepunyaan negara” Asas domein ( domein beginsel ) atau
pernyataan domein berdasarkan ketentuan pasal 20 S 1870 No 118 hanya
diberlakukan di Jawa dan Madura saja. Tetapi dengan S 1875 No 119a,
pernyataan domein itu diberlakukan juga untuk daerah luar Jawa dan Madura.
Pernyataan domein yang dimuat dalam S 1870 No 118 dan S 1875 No 119a itu
bersifat umum dan oleh karena itu disebut juga pernyataan domein umum.
Hukum agraria di Indonesia sebelum lahirnya UU No 5 tahun 1960 ,
disebut dengan Hukum Agraria lama, apabila ada istilah hukum agraria lama,
tentunya ada pula istilah hukum agraria baru. Batasan yang dapat dipergunakan
untuk menentukan kedua istilah tersebut adalah pada tanggal 24 September
1960, yaitu mulai berlakunya UUPA, artinya sebelum berlakunya UUPA disebut
Hukum Agraria lama, dan sesudah berlakunya UUPA disebut dengan hukum
agraria baru.
Semenjak Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945, landasan hukum
dalam Undang-Undang Darar 1945 mengenai pengaturan keagrariaan atau
pertanahan terdapat dalam Bab XIV tentang kehjejahteraan Sosial, pasal 33 ayat
(3) yang berbunyi sebagai berikut : “ Bumi dan Air dan Kekyaan alam yang
terkandung dialamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besar
kemakmuran rakyat”
Didiskusikan: Apa makna dari asas domein verklaring pada saat itu,
apakah domein verklaring dapat diidentikkan dengan hak menguasai dari negara
berdasarkan UUD 1945? Apa arti dari hak menguasai dari negara tersebut ?
Bandingkan konsep domein verklaring dengan konsep hak menguasai tanah dari
negara.

Bahan Bacaan :
 Perundang-Undangan:
 Undang-Undang Dasar Negara Rpublik Indonesia Tahun 1945
 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-
pokok Agraria.

 Literatur:
 Muhammad Bakrie, Hak Menguasai Tanah Oleh Negara( Paradigma Baru
Untuk Reformasi Agraria, Citra Media Yogyakarta, 2007
 Abdurahman; Kedudukan Hukum Adat Dalam Rangka Pembangunan
Nasional, Alumni Bandung, 1978.
 Budi Harsono;Undang-Undang Pokok Agraria, Sejarah Penyusunan Isi dan
Pelaksanaannya, Jambatan Jakarta,1961.
 ---,Hukum Agraria Jilid I, Jambatan Jakarta, 1981.
 Mahfud MD; Politik Hukum di Indonesia, LP3ES, Jakarta, 2001

Pertemuan 3. Perkuliahan 2. (Lectures)

 Hukum Agraria Sebelum Berlakunya UUPA


 Hukum Tanah yang Dualistik dan Pluralistik
 Hak-Hak penguasan tanah yang bersumber pada Hukum Tanah Adat dan
Hukum Tanah Barat
 Hukum Tanah Administrasi Pemerintah Hindia Belanda

Bahan Bacaan :
 Perundang-Undangan:
 Undang-Undang Dasar Negara Rpublik Indonesia Tahun 1945
 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-
pokok Agraria.
 Literatur:
 Abdurahman; Kedudukan Hukum Adat Dalam Rangka Pembangunan
Nasional, Alumni Bandung, 1978.
 Aslan Noor, Konsep Hak Milik Atas Tanah Bagi Bangsa Indonesia, Ditinjau
dari Ajaran Hak Asasi Manusia, Penerbit CV Mandar Maju,Bandung, 2006.
 Budi Harsono;Undang-Undang Pokok Agraria, Sejarah Penyusunan Isi dan
Pelaksanaannya, Jambatan Jakarta,1961.
 ---,Hukum Agraria Jilid I, Jambatan Jakarta, 1981.
 Mahfud MD; Politik Hukum di Indonesia, LP3ES, Jakarta, 2001.
 Maria SW Sumardjono, Kebijakan Pertanahan Antara Regulasi Dan
Implementasi, Penerbit Buku Kompas, Jakarta 2006.
 ----, Tanah Dalam Perspektif Hak Ekonomi Sosial Dan Budaya, Penerbit
Buku Kompas, Jakarta, 2008
 Muhammad Bakrie, Hak Menguasai Tanah Oleh Negara( Paradigma Baru
Untuk Reformasi Agraria, Citra Media Yogyakarta, 2007.

Pertemuan 4. Totorial 2 Discussion Task- Study Task

Hukum agraria adat adalah keseluruhan daripada kaidah-kaidah hukum


agraria yang bersumber pada hukum adat, yang berlaku terhadap tanah tertentu
yaitu tanah-tanah yang dihaki/ dipunyai dengan hak-hak atas tanah yang diatur
menurut hukum adat. Hak-hak atas tanah yang diatur menurut hukum adat
disebut dengan Tanah Adat atau Tanah Indonesia.
Sebutan sebagai tanah Indonesia sebenarnya lebih luas pengertiannya
daripada sebutan tanah adat. Kalau hak itu bersumber pada hukum adat dan
berada pada pada masyarakat hukum adat setempat tanahnya disebut dengan
tanah adat dan haknya disebut hak adat.Disamping itu ada tanah yang tidak
termasuk pengertian ini ialah tanah- yang dihaki dengan ciptaan pemerintah.
Jadi hak yang timbul dari hukum adat, tetapi dibuat/ diciptakan oleh pemerintah,
misalnya hak agrarisch eigendom. Contoh-contoh tanah adat ( tanah indonesia )
lainnya sperti tanah hak ulayat, tanah milik yayasan), tanah hak usaha atas
tanah partikelir, tanah gogolan, tanah bengkok.
Hukum agraria adat yang bersumber pada hukum adat sifatnya tidak
tertulis jiwanya gotong royong dan kekeluargaan sesuai dengan sifat hukum
adat.Meskipun hukum agraria adat tersebut pokok-pokok dan asas-asasnya
sama, tetapi menunjukkan juga adanya perbedaan-perbedaan berdasarkan
daerah atau masyarakat tempat berlakunya hukum agraria adat itu.Oleh sebab
itu nampak bahwa hukum agraria adat itu isinya beraneka ragam sehingga
disebut pluraklistis. Hukum agraria adat sebagai hukum sifatnya tidak tertulis,
mempunyai kelemahan disamping formulasinya tidak tertulis, mempunyai
kelemahan disamping tidak tegas juga tidak memberikan jaminan kepastian
hukum.
Hukum agraria barat adalah keseluruhan kaidah-kaidah hukum agraria
yang bersumber pada hukum perdata barat khususnya yang diatur dalam KUH
Perdata yang sebagian besar dimuat pada buku II, III dan IV. Hukum agraria
barat sifatnya tertulis oleh sebab itu nampak formulasinya tegas dan mudah
untuk dipaksakan berlakunya sebagai hukum positif. Hukum agraria barat
jiwanya liberal individualistis, hal ini dapat dimengerti sebab dengan
dianutnya asas konkordansi dalam penyusunan perundang-undangan Hindia
belanda dahulu, akibatnya KUH Perdata Indonesia juga konkordan dengan BW
Negeri Belanda yang berjiwa liberal individualistis. Oleh sebab itu tidaklah heran
lagi apabila hukum agraria barat berjiwa liberal individualistis.
Diskusikan: dengan adanya UU No 5 Tahun 1960,apakah ketentuan-
ketentuan yang ada sudah tidak berlaku lagi ? Apakah dengan berlakunya
ketentuan-ketentuan yang diterbitkan oleh pemerintah Hindia Belanda, apakah
tidak bertentangang dengan UUPA ? atau jika hukum adat dipergunakan sebagai
salah satu dasar penyusunan UUPA, dimana dapat ditemukan hukum adat adat
dalam rumusan ketentuan UUPA ? atau hal-hal apa dari hukum adat
dipergunakan dalam penyusunan UUPA ?

Bahan Bacaan :
 Perundang-Undangan:
 Undang-Undang Dasar Negara Rpublik Indonesia Tahun 1945
 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok
Agraria.

 Literatur:
 Abdurahman; Kedudukan Hukum Adat Dalam Rangka Pembangunan
Nasional, Alumni Bandung, 1978.
 Budi Harsono;Undang-Undang Pokok Agraria, Sejarah Penyusunan Isi dan
Pelaksanaannya, Jambatan Jakarta,1961.
 ---,Hukum Agraria Jilid I, Jambatan Jakarta, 1981.
 Mahfud MD; Politik Hukum di Indonesia, LP3ES, Jakarta, 2001
 Aslan Noor, Konsep Hak Milik Atas Tanah Bagi Bangsa Indonesia, Ditinjau
dari Ajaran Hak Asasi Manusia, Penerbit CV Mandar Maju,Bandung, 2006.

Pertemuan 5. Perkuliahan 3.(Lectures).

 Sejarah Pembentukan UUPA


 Panitia Agraria Yogyakarta
 Panitia Agraria Jakarta
 Panitia Agraria Soewakyo
 Rancangan Soenarjo
 Rancangan Sadjarwo
 Dasar-dasar Pengaturan UUPA
 Peraturan peralihan Tentang pelaksanaan UUPA

 Hukum Tanah Nasional


 Peranan Hukum Tanah Adat dalam pembentukan Hukum Tanah Nasional
 Sumber-sumber Hukum Tanah Nasional
 Asas-Asas Hukum Tanah Nasional

Bahan Bacaan :
 Perundang-Undangan:
 Undang-Undang Dasar Negara Rpublik Indonesia Tahun 1945
 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-
pokok Agraria.

 Literatur:
 Abdurahman; Kedudukan Hukum Adat Dalam Rangka Pembangunan
Nasional, Alumni Bandung, 1978.
 Budi Harsono;Undang-Undang Pokok Agraria, Sejarah Penyusunan Isi dan
Pelaksanaannya, Jambatan Jakarta,1961.
 ---,Hukum Agraria Jilid I, Jambatan Jakarta, 1981.
 Maria SW Sumardjono Tanah Dalam Perspektif Hak Ekonomi Sosial Dan
Budaya, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2008
 Muhammad Bakrie, Hak Menguasai Tanah Oleh Negara( Paradigma Baru
Untuk Reformasi Agraria, Citra Media Yogyakarta, 2007.
 Susanto;Hukum Pertanahan ( Agraria), Pradnya Paramita,1980.
 Sudikno Mertokusumo;Hukum Dan Politik Agraria, Karunika, Jakarta, 1988.

Pertemuan 6. Totorial 3. Discussion Task- Study Task.

Masalah pertanahan ini dari semula tidak lepas dari perhatian para
pendiri Republik ini untuk mendapatkan prioritas penangannya dengan segera,
sehingga pemanfaatan, penggunaan, penguasaan dan pemilikan tanah dapat
memberikan sebesar-besarnya kemakmuran bagi seluruh rakyat.
Beranjak dari pemikiran tersebut diatas, maka untuk mewujudkannya
perlu dirumuskan dalam bentuk berbagai peraturan salah satunya adalah dalam
bentuk Undang-Undang. Pembentukan Undang-Undang yang membahas
persoalan Agraria di Indonesia memakan waktu yang sangat panjang. Dimulai
tahun 1948 akhirnya tanggal 24 September 1960 baru berhasil dirumuskan UU
No 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria. Dari Tahun
1960 hingga tahun 2009 ini, UU No 5 Tahun 1960 masih tetap berlaku.
Didiskusikan: Apakah secara normatif rumusan-rumusan yang terdapat
dalam UU No 5 Tahun 1960 ini sesuai dengan keadaan sekarang?

Bahan Bacaan :
 Perundang-Undangan:
 Undang-Undang Dasar Negara Rpublik Indonesia Tahun 1945
 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok
Agraria.
 Literatur:
 Abdurahman; Kedudukan Hukum Adat Dalam Rangka Pembangunan
Nasional, Alumni Bandung, 1978.
 Aslan Noor, Konsep Hak Milik Atas Tanah Bagi Bangsa Indonesia, Ditinjau
dari Ajaran Hak Asasi Manusia, Penerbit CV Mandar Maju,Bandung, 2006.
 Adrian Sutedi, Politik dan Kebijakan Hukum Pertanahan serta berbagai
permasalahannya, BP Cipta Jaya Jakarta, 2006.
 Budi Harsono;Undang-Undang Pokok Agraria, Sejarah Penyusunan Isi dan
Pelaksanaannya, Jambatan Jakarta,1961.
 ---,Hukum Agraria Jilid I, Jambatan Jakarta, 1981.
 Mahfud MD; Politik Hukum di Indonesia, LP3ES, Jakarta, 2001.
 Maria SW Sumardjono, Kebijakan Pertanahan Antara Regulasi Dan
Implementasi, Penerbit Buku Kompas, Jakarta 2006.
 ----, Tanah Dalam Perspektif Hak Ekonomi Sosial Dan Budaya, Penerbit Buku
Kompas, Jakarta, 2008
 Muhammad Bakrie, Hak Menguasai Tanah Oleh Negara( Paradigma Baru
Untuk Reformasi Agraria, Citra Media Yogyakarta, 2007.

Pertemuan 7. Perkuliahan 4.( Lectures ).

 Hak Atas Tanah menurut UUPA


 Pengertian dan Isi masing-masing Hak Atas Tanah
 Subjek dari objek masing-masing Hak Atas Tanah
 Hak-hak yang dapat dibebani Hak Tanggungan

 Bahan Bacaan :
 Perundang-Undangan:
 Undang-Undang Dasar Negara Rpublik Indonesia Tahun 1945
 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-
pokok Agraria.

 Literatur:
 Abdurahman; Kedudukan Hukum Adat Dalam Rangka Pembangunan
Nasional, Alumni Bandung, 1978.
 Aslan Noor, Konsep Hak Milik Atas Tanah Bagi Bangsa Indonesia, Ditinjau
dari Ajaran Hak Asasi Manusia, Penerbit CV Mandar Maju,Bandung, 2006.
 Adrian Sutedi, Politik dan Kebijakan Hukum Pertanahan serta berbagai
permasalahannya, BP Cipta Jaya Jakarta, 2006.
 Budi Harsono;Undang-Undang Pokok Agraria, Sejarah Penyusunan Isi dan
Pelaksanaannya, Jambatan Jakarta,1961.
 ---,Hukum Agraria Jilid I, Jambatan Jakarta, 1981.
 Mahfud MD; Politik Hukum di Indonesia, LP3ES, Jakarta, 2001.
 Maria SW Sumardjono, Kebijakan Pertanahan Antara Regulasi Dan
Implementasi, Penerbit Buku Kompas, Jakarta 2006.
 ----, Tanah Dalam Perspektif Hak Ekonomi Sosial Dan Budaya, Penerbit Buku
Kompas, Jakarta, 2008
 Muhammad Bakrie, Hak Menguasai Tanah Oleh Negara( Paradigma Baru
Untuk Reformasi Agraria, Citra Media Yogyakarta, 2007.
 Susanto;Hukum Pertanahan ( Agraria), Pradnya Paramita,1980.
 Sudikno Mertokusumo;Hukum Dan Politik Agraria, Karunika, Jakarta, 1988.

Pertemuan 8. Totorial 4. Discussion Task- Study Task

Bapak Ahmad membeli sebidang tanah pada tahun 1980 tetapi baru diurus
sertifikat kepemilikan hak atas tanahnya di kantor Badan Pertanahan. Pada
tahun 1999 Pemerintah Darah setempat menerbitkan Peraturan Daerah tentang
Rencana Tata Ruang Daerah, dimana di lokasi tanah yang dibeli oleh Pak
Ahmad ditentukan sebagai kawasan Rencana Tata Ruang Hijau Kota ( RTHK )
dengan Koefisien Daerah Bangun ( KDB ) 0%.
Diskusikan, apakah Bapak Ahmad boleh mengurus dan dapat diterbitkan
sertifikat hak atas tanahnya ? apakah Bapak Ahmad boleh mendirikan bangunan
di tanah yang dibeli, sebelum Perda RTRW tersebut diterbitkan oleh Pemda
setempat ?. Jika tidak boleh dibangun, berarti kepentingan Bapak Ahmad
dirugikan oleh adanya Perda RTRW tersebut, bagaimana proses penyelesaiannya
?

Bahan Bacaan :
 Perundang-Undangan:
 Undang-Undang Dasar Negara Rpublik Indonesia Tahun 1945
 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok
Agraria.
 Peraturan Presiden No 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi
pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum

 Perda RTRW ( Provinsi Bali / Perda Kab/ Kota )

 Literatur:
 Abdurahman; Kedudukan Hukum Adat Dalam Rangka Pembangunan
Nasional, Alumni Bandung, 1978.
 Aslan Noor, Konsep Hak Milik Atas Tanah Bagi Bangsa Indonesia, Ditinjau
dari Ajaran Hak Asasi Manusia, Penerbit CV Mandar Maju,Bandung, 2006.
 Adrian Sutedi, Politik dan Kebijakan Hukum Pertanahan serta berbagai
permasalahannya, BP Cipta Jaya Jakarta, 2006.
 Budi Harsono;Undang-Undang Pokok Agraria, Sejarah Penyusunan Isi dan
Pelaksanaannya, Jambatan Jakarta,1961.
 ---,Hukum Agraria Jilid I, Jambatan Jakarta, 1981.
 Mahfud MD; Politik Hukum di Indonesia, LP3ES, Jakarta, 2001.
 Maria SW Sumardjono, Kebijakan Pertanahan Antara Regulasi Dan
Implementasi, Penerbit Buku Kompas, Jakarta 2006.
 ----, Tanah Dalam Perspektif Hak Ekonomi Sosial Dan Budaya, Penerbit Buku
Kompas, Jakarta, 2008
 Muhammad Bakrie, Hak Menguasai Tanah Oleh Negara( Paradigma Baru
Untuk Reformasi Agraria, Citra Media Yogyakarta, 2007.
 Susanto;Hukum Pertanahan ( Agraria), Pradnya Paramita,1980.
 Sudikno Mertokusumo;Hukum Dan Politik Agraria, Karunika, Jakarta, 1988.

Pertemuan 9. Perkuliahan 5.( Lectures ).

 Ketentuan Pokok Hak-Hak Penguasaan Atas Tanah


 Pencabutan Hak Atas Tanah
 Pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan
umum

Bahan Bacaan :
 Perundang-Undangan:
 Undang-Undang Dasar Negara Rpublik Indonesia Tahun 1945
 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-
pokok Agraria.
 Peraturan Presiden No 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi
pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum

 Literatur:
 Abdurahman; Kedudukan Hukum Adat Dalam Rangka Pembangunan
Nasional, Alumni Bandung, 1978.
 Aslan Noor, Konsep Hak Milik Atas Tanah Bagi Bangsa Indonesia, Ditinjau
dari Ajaran Hak Asasi Manusia, Penerbit CV Mandar Maju,Bandung, 2006.
 Adrian Sutedi, Politik dan Kebijakan Hukum Pertanahan serta berbagai
permasalahannya, BP Cipta Jaya Jakarta, 2006.
 Budi Harsono;Undang-Undang Pokok Agraria, Sejarah Penyusunan Isi dan
Pelaksanaannya, Jambatan Jakarta,1961.
 ---,Hukum Agraria Jilid I, Jambatan Jakarta, 1981.
 Mahfud MD; Politik Hukum di Indonesia, LP3ES, Jakarta, 2001.
 Maria SW Sumardjono, Kebijakan Pertanahan Antara Regulasi Dan
Implementasi, Penerbit Buku Kompas, Jakarta 2006.
 ----, Tanah Dalam Perspektif Hak Ekonomi Sosial Dan Budaya, Penerbit
Buku Kompas, Jakarta, 2008
 Muhammad Bakrie, Hak Menguasai Tanah Oleh Negara( Paradigma Baru
Untuk Reformasi Agraria, Citra Media Yogyakarta, 2007.
 Susanto;Hukum Pertanahan ( Agraria), Pradnya Paramita,1980.
 Sudikno Mertokusumo;Hukum Dan Politik Agraria, Karunika, Jakarta, 1988.
 Muhadar, Viktimisasi Kejahatan Di Bidang Pertanahan, LaksBang Pressindo
Yogyakarta, 2006.

Pertemuan 10. Totorial 5. Discussion Task- Study Task

Bali dikenal sebagai pulau pariwisata, ada investor akan mengembangkan


usahanya dibidang golf, untuk membuka lapangan golf tersebut pengusaha
tersebut mengajukan permohonan kepada pemerintah daerah setempat untuk
memperoleh tanah yang akan dijadikan lapangan golf. Pemerintah daerah
setempat mempergunakan dasar demi kepentingan umum lalu membebaskan
beberapa hektar (ha) sawah warga yang masih produktif sebagai lahan pertanian
untuk lapangan golf. Dilain tempat untuk membangun pasar pemerintah daerah
membebaskan lahan warga untuk dijadikan pasar. Diskusikan, bagaimana
menentukan kriteria kepentingan umum dalam kasus pembebasan hak atas
tanah. Apakah warga yang dikenakan pembebasan dapat menolak, jika tanahnya
dikenakan pembebasan ? atau apakah pemerntah dapat memaksakan kegiatan
pembebasan ini ? bukankah ciri-ciri dari hak milik atas tanah tersebut, terkuat,
terpenuh dan turun temurun ?

Bahan Bacaan :
 Perundang-Undangan:
 Undang-Undang Dasar Negara Rpublik Indonesia Tahun 1945
 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-
pokok Agraria.
 Peraturan Presiden No 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi
pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum

 Literatur:
 Abdurahman; Kedudukan Hukum Adat Dalam Rangka Pembangunan
Nasional, Alumni Bandung, 1978.
 Aslan Noor, Konsep Hak Milik Atas Tanah Bagi Bangsa Indonesia, Ditinjau
dari Ajaran Hak Asasi Manusia, Penerbit CV Mandar Maju,Bandung, 2006.
 Adrian Sutedi, Politik dan Kebijakan Hukum Pertanahan serta berbagai
permasalahannya, BP Cipta Jaya Jakarta, 2006.
 Budi Harsono;Undang-Undang Pokok Agraria, Sejarah Penyusunan Isi dan
Pelaksanaannya, Jambatan Jakarta,1961.
 ---,Hukum Agraria Jilid I, Jambatan Jakarta, 1981.
 Mahfud MD; Politik Hukum di Indonesia, LP3ES, Jakarta, 2001.
 Maria SW Sumardjono, Kebijakan Pertanahan Antara Regulasi Dan
Implementasi, Penerbit Buku Kompas, Jakarta 2006.
 ----, Tanah Dalam Perspektif Hak Ekonomi Sosial Dan Budaya, Penerbit
Buku Kompas, Jakarta, 2008
 Muhammad Bakrie, Hak Menguasai Tanah Oleh Negara( Paradigma Baru
Untuk Reformasi Agraria, Citra Media Yogyakarta, 2007.
 Susanto;Hukum Pertanahan ( Agraria), Pradnya Paramita,1980.
 Sudikno Mertokusumo;Hukum Dan Politik Agraria, Karunika, Jakarta, 1988.
 Muhadar, Viktimisasi Kejahatan Di Bidang Pertanahan, LaksBang Pressindo
Yogyakarta, 2006.

Pertemuan 11. Perkuliahan 6.( Lectures )

 Ketentuam Pokok Pendaftaran Hak Atas Tanah


 Pengertian, tujuan, dan peraturan yang mengatur Pendaftaran Hak Atas
Tanah ( HAT )
 Kegiatan penyelenggaraan pendaftaran tanah
 Sistem Pendaftaran Atas Tanah
 Asas-asas dalam Pendaftaran Atas Tanah
 Ketentuan-Ketentuan Pokok Landreform
 Dasar untuk penyelenggaraan Landreform
 Pengertian dan tujuan Landreform
 Program Landreform

Bahan Bacaan :
 Perundang-Undangan:
 Undang-Undang Dasar Negara Rpublik Indonesia Tahun 1945
 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-
pokok Agraria.
 Literatur:
 Abdurahman; Kedudukan Hukum Adat Dalam Rangka Pembangunan
Nasional, Alumni Bandung, 1978.
 Ali Sofwan Husein, Konflik Pertanahan Dimensi Keadilan dan Kepentingan
Ekonomi, Pustaka Sinar Harapan Jakarta, 1997.
 Arie Sukanti Hutagalung dan Markus Gunawan, Kewenangan Pemerintah
di Bidang Pertanahan,Rajawali Pers, Jakarta, 2008
 Aslan Noor, Konsep Hak Milik Atas Tanah Bagi Bangsa Indonesia, Ditinjau
dari Ajaran Hak Asasi Manusia, Penerbit CV Mandar Maju,Bandung, 2006.
 Achmad Rubaie, Hukum Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum,
Penerbit Banyumedia,Malang Jawa Timur, 2007.
 Aminuddin Salle, Hukum Pengadaan Tanah untuk Kepentingan Umum,
Penerbit Kreasi Total Media,Jakarta, 2007.
 Budi Harsono;Undang-Undang Pokok Agraria, Sejarah Penyusunan Isi dan
Pelaksanaannya, Jambatan Jakarta,1961.
 ---,Hukum Agraria Jilid I, Jambatan Jakarta, 1981.
 Mahfud MD; Politik Hukum di Indonesia, LP3ES, Jakarta, 2001.
 Maria SW Sumardjono, Kebijakan Pertanahan Antara Regulasi Dan
Implementasi, Penerbit Buku Kompas, Jakarta 2006.
 ----, Tanah Dalam Perspektif Hak Ekonomi Sosial Dan Budaya, Penerbit
Buku Kompas, Jakarta, 2008
 Muhammad Bakrie, Hak Menguasai Tanah Oleh Negara( Paradigma Baru
Untuk Reformasi Agraria, Citra Media Yogyakarta, 2007.
 Susanto;Hukum Pertanahan ( Agraria), Pradnya Paramita,1980.
 Sudikno Mertokusumo;Hukum Dan Politik Agraria, Karunika, Jakarta,
1988.
 Muhadar, Viktimisasi Kejahatan Di Bidang Pertanahan, LaksBang
Pressindo Yogyakarta, 2006.

Pertemuan 12. Totorial 6 Discussion Task- Study Task

Pemerintah daerah menerbitkan kebijakan melakukan penataan terhadap


status kepemikan hak-hak atas tanah yang dimiliki oleh masyarakat adat
(baca Banjar Adat ) dengan jalan mensertifikatkan tanah-tanah yang
diatasnya berdiri bangunan balai banjar. Diskusikan: apakah Banjar boleh
bertidak sebagai subyek dalam sertifikat hak atas tanah ? Jika dapat hak
apa yang dapat diberikan terhadap proses permohonan seperti itu ? Apa
dampaknya jika tanah bangunan Balai Banjar Adat disertifikatkan hak atas
tanahnya ?

Bahan Bacaan :
 Perundang-Undangan:
 Undang-Undang Dasar Negara Rpublik Indonesia Tahun 1945
 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok
Agraria.
 Literatur:
 Abdurahman; Kedudukan Hukum Adat Dalam Rangka Pembangunan
Nasional, Alumni Bandung, 1978.
 Ali Sofwan Husein, Konflik Pertanahan Dimensi Keadilan dan Kepentingan
Ekonomi, Pustaka Sinar Harapan Jakarta, 1997.
 Arie Sukanti Hutagalung dan Markus Gunawan, Kewenangan Pemerintah di
Bidang Pertanahan,Rajawali Pers, Jakarta, 2008
 Aslan Noor, Konsep Hak Milik Atas Tanah Bagi Bangsa Indonesia, Ditinjau
dari Ajaran Hak Asasi Manusia, Penerbit CV Mandar Maju,Bandung, 2006.
 Achmad Rubaie, Hukum Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum,
Penerbit Banyumedia,Malang Jawa Timur, 2007.
 Aminuddin Salle, Hukum Pengadaan Tanah untuk Kepentingan Umum,
Penerbit Kreasi Total Media,Jakarta, 2007.
 Budi Harsono;Undang-Undang Pokok Agraria, Sejarah Penyusunan Isi dan
Pelaksanaannya, Jambatan Jakarta,1961.
 ---,Hukum Agraria Jilid I, Jambatan Jakarta, 1981.
 Mahfud MD; Politik Hukum di Indonesia, LP3ES, Jakarta, 2001.
 Maria SW Sumardjono, Kebijakan Pertanahan Antara Regulasi Dan
Implementasi, Penerbit Buku Kompas, Jakarta 2006.
 ----, Tanah Dalam Perspektif Hak Ekonomi Sosial Dan Budaya, Penerbit Buku
Kompas, Jakarta, 2008
 Muhammad Bakrie, Hak Menguasai Tanah Oleh Negara( Paradigma Baru
Untuk Reformasi Agraria, Citra Media Yogyakarta, 2007.
 Susanto;Hukum Pertanahan ( Agraria), Pradnya Paramita,1980.

Anda mungkin juga menyukai