Anda di halaman 1dari 5

HUBUNGAN ANTARA HUKUM ADAT DAN HUKUM TANAH

NASIONAL

Tanah merupakan sumber daya penting dan strategis di dalam kehidupan


manusia, sebab tanah merupakan tempat bagi manusia untuk menjalani
kehidupannya. Oleh karena tanah sangat dibutuhkan oleh setiap anggota
masyarakat, sehingga sering terjadi sengketa diantara sesamanya, untuk itulah
diperlukan kaedah – kaedah yang mengatur hubungan antara manusia dengan
tanah. Bagi masyarakat hukum adat, tanah mempunyai kedudukan yang sangat
penting, karena merupakan satu-satunya benda kekayaan yang bersifat tetap
dalam keadaannya, bahkan lebih menguntungkan. Selain itu tanah merupakan
tempat tinggal, tempat pencaharian, tempat penguburan, bahkan menurut
kepercayaan mereka adalah tempat tinggal dayang-dayang pelindung persekutuan
dan para leluhur persekutuan. Sehingga diperlukan tangan penguasa yang
berkompeten dalam urusan tanah.
Di lingkungan hukum adat, campur tangan itu dilakukan oleh kepala
berbagai persekutu hukum, seperti kepala atau pengurus desa. Jadi, jika timbul
permasalahan yang berkaitan dengan tanah adat ini, maka pengurus - pengurus
yang telah ada itulah yang akan menyelesaikannya. Dalam hukum tanah adat ini
terdapat kaedah – kaedah hukum. Keseluruhan kaedah hukum yang timbuh dan
berkembang didalam pergaulan hidup antar sesame manusia adalah sangat
berhubungan erat tentang pemamfaatan antar sesame manusia adalah sangat
berhubungan erat tentang pemamfaatan sekaligus menghindarkan perselisihan dan
pemamfaatan tanah sebaik – baiknya.
Hukum tanah adat yang murni berkonsepsi komunalistik, yang
mewujudkan semangat gotong-royong dan kekeluargaan, yang diliputi suasana
religius. Tanah merupakan tanah bersama kelompok teritorial atau genealogik.
Hak-hak perorangan atas tanah secara langsung ataupun tidak langsung bersumber
pada hak bersama tersebut. Oleh karena itu, biarpun sifatnya pribadi, dalam arti
penggunaannya untuk kepentingan pribadi dan keluarganya, tetapi berbeda
dengan hak-hak dalam Hukum Tanah Barat, sejak kelahirannya sekaligus dalam
dirinya sudah terkandung unsur kebersamaan. Sifat komunalistik menunjuk
kepada adanya hak bersama para anggota masyarakat hukum adat atas tanah, yang
dalam kepustakaan hukum disebut Hak Ulayat.
Hukum tanah di Indonesia dari zaman penjajahan terkenal bersifat
‘dualisme’, yang dapat diartikan bahwa status hukum atas tanah ada yang dikuasai
oleh hukum Eropa di satu pihak, dan dikuasai oleh hukum adat, di pihak lain. Saat
ini di Indonesia, persoalan mengenai tanah secara pokok telah diatur oleh
Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA), yakni Undang-Undang Nomor 5 Tahun
1960. Dengan berlakunya UUPA ini, telah memberikan suatu warna tersendiri
dalam pengaturan tentang tanah di Indonesia. Memang diakui, bahwa diadalam
UUPA sendiri secara tegas menyebutkan bahwa hukum agraria nasional bersandar
pada hukum adat. Selain daripada itu, hak ulayat pun tetap diakui keberadaannya.
Pengakuan terhadap masyarakat hukum adat dan hak-haknya dinyatakan dalam
Pasal 18B ayat (2) (Amandemen kedua) menyebutkan bahwa “Negara mengakui
dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat serta hak-hak
tradisonalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan
masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam
undang-undang.” Dan juga pada Pasal 28i ayat (3) (Amandemen Kedua)
menyebutkan bahwa “Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati
selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban.”
Dengan berlakunya UUPA 1960, kita meniadakan dualisme hukum
pertanahan dengan menundukkan kembali hukum adat pada tempatnya sebagai
landasan utama hukum agraria nasional. Namun. Perlu diingat bahwa hukum
agraria nasional itu berdasarkan atas hukum adat tanah yang bersifat nasional, dan
bukan hukum adat yang bersifat kedaerahan atau regional. Artinya, untuk
menciptakan hukum agraria nasional, maka hukum adat yang ada di seluruh
penjuru nusantara, dicarikan format atau bentuk yang umum dan berlaku bagi
seluruh persekutuan adat. Dengan tujuan untuk meminimalisir konflik pertanahan
dalam lapangan hukum tanah adat. Untuk itu, dalam substansi Pasal 5 UUPA
1960 kita dapat menarik kesimpulan, bahwa hukum adat yang berlaku dalam
bidang pertanahan atau agraria adalah yang terhadap kepentingan nasional
(prinsip nasionalitas), pro kepada kepentingan negara, pro kepada sosialisme
Indonesia, tidak bertentangan dengan undang – undang atau peraturan yang lebih
tinggi, dan ditambah dengan unsur agama. Jadi, motivasi dari hukum agraria
nasional, dalam hal ini UUPA 1960 sebagai induknya, benar – benar akan
mengurangi konflik pertanahan yang dapat timbul sebagai akibat penerapan
hukum tanah adat yang bersifat kedaerahan.
Secara garis besar, hubungan antara hukum adat dan hukum pertanahan
nasional menunjukkan hubungan fungsional dimana peran hukum adat adalah
sebagai sumber utama dan pelengkap di dalam hokum pertanahan nasional.
Hubungan tersebut ditunjukkan dalam: Konsideran/Berpendapat UUPA (”...perlu
adanya hukum agraria nasional yg berdasarkan atas hukum adat tentang tanah”)
dan Pasal 5 UUPA (“Hukum Agraria yg berlaku atas bumi, air dan r.a ialah
hukum adat”).

1. Hukum Adat sebagai sumber utama dlm pemb. HTN


Makna dari Sumber Utama adalah bahww dalam rangka pembentukan
Hukum Tanah Nasional, hukum Adat merupakan sumber utama untuk
memperoleh bahan-bahannya, yang berupa:
Konsepsinya memungkinkan penguasaan tanah secara individual,
dengan hak-hak atas tanah yang bersifat pribadi,
sekaligus mengandung unsur kebersamaan. (hak
ulayat)
Asas-asasnya mengenai asas pemisahan horisontal/horizontale
scheiding, yaitu memisahkan kepemilikan antara
tanah dan bangunan dan atau tanaman di atasnya.
Sistemnya Tata jenjang / herarkhi hak-hak penguasaan atas
tanah dalam HTN
Sistem Hukum Adat Sistem HTN
1. Hak Ulayat Masy Hk Adat 1. Hak bangsa Indonesia
2. Hak Kepala/Tetua Adat 2. Hak Menguasai dr Negara
3. Hak-hak atas tanah 3. Hak-hak Penguasaan
Individual
Lembaga hukumnya Lembaga Hukum Adat yang diambil dalam rangka
pembangunan Hukum Tanah Nasional adalah yang
sudah disempurnakan dan disesuaikan dengan
kebutuhan masyarakat yang akan dilayaninya. Yaitu
lembaga hk adat yang telah dimodernisir.

2. Hukum Adat sebagai pelengkap positif Hukum Tanah Nasional


Menunjukkan makna dari pasal 5 UUPA yaitu “Hukum Agraria Nasional ialah
Hukum Adat”. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi hukum adat sebagai sumber
pelengkap (melengkapi) dalam Hukum Tanah Nasional positif tertulis. Dalam hal
Hukum Tanah Nasional tertulis belum langkap, maka norma-norma hukum adat
berfungsi sebagai pelengkap. Jika suatu soal belum ada atau belum lengkap
mendapat pengaturan dalam Hukum Tanah Nasional tertulis, maka yang berlaku
terhadapnya adalah ketentuan hukum adat yang bersangkutan yang berlaku di
daerah tersebut pada waktu terjadinya kasus yang akan diselesaikan atau pada
waktu diperlukan untuk penyelesaiannya.

Syarat-syarat berlakunya norma-norma Hukum Adat:

Dalam pasal 5 UUPA memberi syarat –syarat norma hukum adat yang dipakai
sebagai pelengkap:

a. Sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional dan negara;

b. Berdasarkan atas persatuan bangsa;

c. Tidak bertentangan dengan sosialisme Indonesia;

d. Tidak bertentangan dengan peraturan2 yg tercantum dalam UUPA dan

e. Tidak bertentangan dg peraturan perundangan yang lainnya.


Reference:

Azam, Syaiful. Eksistensi Hukum Tanah Dalam Mewujudkan Tertib Hukum


Agraria.Universitas Sumatera Utara

http://raja1987.blogspot.com/2009/02/hukum-adat-dalam-hukum-tanah-
nasional.html

http://achmadrhamzah.blogspot.com/2010/12/eksistensi-hak-ulayat-di-
indonesia.html

http://gagasanhukum.wordpress.com/2009/01/05/asas-pemisahan-horizontal-
dalam-hukum-tanah-nasional-bagian-iii/