Anda di halaman 1dari 45

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN EPILEPSI

MAKALAH

Tugas Mata Kuliah Keperawatan


Medikal Bedah 3
Yang dibimbing oleh:
Ibu Zakiyah Yasin, S.Kep., Ns., M.Kep.

Oleh:

R.A. Nadia Haq 716.6.2.0795


Hadi Frayitno 716.6.2.0772
Brilian Karunia 716.6.20790

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS WIRARAJA SUMENEP
Jl. Raya Sumenep-Pamekasan Km 05 Patean Sumenep
November, 2018
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah ilmiah tentang “Asuhan Keperawatan Pada Pasien
Epilepsi” ini.
Makalah ilmiah ini telah kami susun secara maksimal dan mendapatkan
bantuan dari berbagai pihak, sehingga kami dapat menyelesaikan pembuatan
makalah ini. Untuk itu, kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua
pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa penulisan
makalah ini masih jauh dari kata sempurna baik dari segi susunan kalimat maupun
tata bahasanya. Oleh karena itu, kami mengharapkan saran dan kritik dari
pembaca agar kami dapat memperbaikinya dalam penulisan makalah selanjutnya.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang “Asuhan
Keperawatan Pada Pasien Epilepsi” ini dapat memberikan manfaat maupun
inpirasi terhadap pembaca.

Sumenep, 27 November 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................i
DAFTAR ISI............................................................................................................ii
BAB 1......................................................................................................................1
PENDAHULUAN...................................................................................................1
1.1 Latar Belakang..........................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.....................................................................................1
1.3 Tujuan Penulisan.......................................................................................1
BAB 2......................................................................................................................3
LAPORAN PENDAHULUAN................................................................................3
2.1 Pengertian Epilepsi....................................................................................3
2.2 Etiologi......................................................................................................3
2.3 Patofisiologi...............................................................................................4
2.4 Manifestasi klinis......................................................................................6
2.5 Pemeriksaan diagnostik.............................................................................7
2.6 Penatalaksanaan.........................................................................................7
BAB 3....................................................................................................................12
KONSEP TEORI ASUHAN KEPERAWATAN....................................................12
3.1 Pengkajian Pasien....................................................................................12
3.2 Diagnosa Keperawatan............................................................................15
3.3 Intervensi Keperawatan...........................................................................16
BAB 4....................................................................................................................18
APLIKASI ASUHAN KEPERAWATAN..............................................................18
4.1 Pengkajian...............................................................................................18
4.2 Diagnosa Keperawatan Sesuai Prioritas..................................................28
4.3 Rencana Asuhan Keparawatan................................................................29
4.4 Catatan Perkembangan............................................................................32
BAB 5....................................................................................................................40
PENUTUP..............................................................................................................40

ii
5.1 Simpulan..................................................................................................40
5.2 Saran........................................................................................................40
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................42

iii
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Epilepsi merupakan salah satu penyakit syaraf yang sering dijumpai,
terdapat pada semua bangsa, segala usia dimana laki – laki sedikit lebih banyak
dari wanita. Insiden tertinggi terdapat pada golongan usia dini yang akan menurun
pada gabungan usia dewasa muda sampai setengah tua kemudian meningkat lagi
pada usia lanjut.
Epilepsi itu sendiri didefenisikan sebagai kumpulan gejala dan tanda – tanda
klinis yang muncul disebabkan gangguan fungsi otak secara intermiten yang
terjadi akibat lepas muatan listrik abnormal atau berlebihan dari neuron – neuron
secara paroksismal dengan berbagai macam etiologi.
Prevalensi epilepsi berkisar antara 0,5% - 2%. Di Indonesia penelitian
epidemiologik tentang epilepsi belum pernah dilakukan namun bila dipakai angka
prevalensi yang dikemukakan seperti dalam rujukan maka dapat diperkirakan
bahwa bila penduduk Indonesia saat ini sekitar 220 juta akan ditemukan antara 1,1
sampai 4,4, juta penderita penyandang epilepsi.
Upaya yang harus dilakukan dalam mengatasi penyakit epilepsi sebaiknya
dibutuhkan penanganan secara terpadu dari berbagai pihak baik itu dari keluarga,
masyarakat dan petugas kesehatan agar dapat bebas dari serangan epileptik.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana Laporan Pendahuluan (LP) dari penyakit Epilepsi?
2. Bagaimana konsep teori Asuhan Keperawatan (ASKEP) pada penyakit
Epilepsi?
3. Bagaimana aplikasi Asuhan Keperawatan (ASKEP) pada pasien dengan
penyakit Epilepsi?

1.3 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui Laporan Pendahuluan (LP) dari penyakit Epilepsi.

1
2. Untuk mengetahui konsep teori Asuhan Keperawatan (ASKEP) pada
penyakit epilepsy.
3. Untuk mengetahui aplikasi Asuhan Keperawatan (ASKEP) pada pasien
dengan penyakit Epilepsi.

2
BAB 2
LAPORAN PENDAHULUAN

2.1 Pengertian Epilepsi


Epilepsi adalah gangguan kronik otak dengan ciri timbulnya gejala-gejala
yang datang dalam serangan-serangan, berulang-ulang yang disebabkan lepas
muatan listrik abnormal sel-sel saraf otak, yang bersifat reversibel dengan
berbagai etiologi (Arif, 2000).
Epilepsi adalah suatu gejala atau manifestasi lepasnya muatan listrik yang
berlebihan di sel neuron saraf pusat yang dapat menimbulkan hilangnya
kesadaran, gerakan involunter, fenomena sensorik abnormal, kenaikan aktivitas
otonom dan berbagai gangguan fisik (Doengos, 2000).

2.2 Etiologi
Perlu diketahui bahwa epilepsi bukanlah suatu penyakit, tetapi suatu gejala
yang dapat timbul karena penyakit. Secara umum serangan epilepsi dapat timbul
jika terjadi pelepasan aktifitas energi yang berlebihan dan mendadak dalam
otak, sehingga mengganggu kerja otak. Otak akan segera mengoreksinya dan
kembali normal dalam beberapa saat.
1. Epilepsi primer (idiopatik)
Epilepsi primer hingga kini tidak ditemukan penyebabnya, tidak ditemukan
kelainan pada jaringan otak. Diduga bahwa terdapat kelainan atau gangguan
keseimbangan zat kimiawi dan sel-sel saraf pada area jaringan otak yang
abnormal. Faktor genetik dimana bila salah satu orang tua epilepsi (epilepsi
idiopatik) maka kemungkinan 4% anaknya epilepsi, sedangkan bila kedua orang
tuanya epilepsi maka kemungkinan anaknya epilepsi menjadi 20%-30%.

2. Epilepsi sekunder (simtomatik)


a. Faktor herediter, seperti neurofibromatosis, hipoparatiroidisme, dan
hipoglikemia.
b. Faktor genetik seperti pada kejang demam.
c. Kelainan congenital otak seperti atropi, agenesis korpus kolosum.
d. Gangguan metabolic seperti hipoglikemia, hipoklasemia, hiponatremia,
hipernatremia.

3
e. Infeksi seperti radang yang disebabkan virus atau bakteri pada otak dan
selaputnya seperti toksoplasmosis, meningitis.
f. Trauma seperti contusio cerebri, hematoma sub arachnoid, hematoma
subdural.
g. Neoplasma otak dan selaputnya.
h. Kelainan pembuluh darah, malformasi dan penyakit kolagen.
i. Keracunan oleh timbal, kamper/kapur barus, fenotiazin.
j. Lain-lain seperti penyakit darah, gangguan keseimbangan hormon,
degenerasi cerebral
Faktor precipitasi atau faktor pencetus atau yang mempermudah terjadinya
gejala
a. Faktor sensoris seperti cahaya yang berkedip-kedip (fotosensitif), bunyi-
bunyi yang mengejutkan, air, dan lain-lain.
b. Faktor sistemis seperti demam, penyakit infeksi, obat-obatan tertentu
(fenotiazin, klorpropamid, barbiturat, valium), perubahan hormonal
(hipoglikemia), kelelahan fisik.
c. Faktor mental seperti stress, gangguan emosional, kurang tidur.
Tidak semua sel neuron di susunan saraf pusat dapat mengakibatkan kejang
epilepsi klinik, walaupun ia melepas muatan listrik berlebihan. Sel neuron di
serebellum di bagian bawah batang otak dan di medulla spinalis, walaupun
mereka dapat melepaskan muatan listrik berlebihan, namun posisi mereka
menyebabkan tidak mampu mengakibatkan kejang epilepsi. Sampai saat ini belum
terungkap dengan pasti mekanisme apa yang mencetuskan sel-sel neuron untuk
melepas muatan secara sinkron dan berlebihan.

2.3 Patofisiologi
Konduksi atau hantaran merupakan proses aktif yang bekerja sendiri dan
memerlukan penggunaan energi oleh saraf. Konduksi impuls saraf walaupun
cepat, namun berlangsung lebih lambat daripada listrik, karena jaringan saraf
merupakan konduktor pasif yang relatif sangat buruk. Saraf memerlukan potensial
beberapa volt untuk dapat menghasilkan impuls, sebab sel saraf mempunyai
ambang yang rendah terhadap perangsangan (impuls). Di tingkat membran sel, sel
fokus kejang memperlihatkan beberapa fenomena biokimiawi, termasuk yang
berikut:

4
1. Instabilitas membran sel saraf, sehingga sel lebih mudah mengalami
pengaktifan.
2. Neuron-neuron hipersensitif dengan ambang untuk melepaskan muatan
menurun dan apabila terpicu akan melepaskan muatan menurun secara
berlebihan.
3. Peningkatan suhu tubuh misalnya pada kasus kejang demam dapat
mengakibatkan peningkatan metabolisme basal 10-15% sehingga kebutuhan
akan oksigen dalam metabolisme tersebut pun akan ikut meningkat hingga
20%.
4. Defisiensi vitamin b6, konsumsi msg berlebih, dan adanya cedera kepala
dapat mengakibatkan sinkronisasi dalam aliran listrik dalam otak.
Sinkronisasi ini dapat terjadi pada sekelompok atau seluruh neuron di otak
secara serentak, secara teori sinkronisasi ini dapat terjadi.
a. Fungsi jaringan neuron penghambat (neurotransmitter gaba dan glisin)
kurang optimal hingga terjadi pelepasan impuls epileptik secara
berlebihan.
b. Keadaan dimana fungsi jaringan neuron eksitatorik (glutamat dan
aspartat) berlebihan hingga terjadi pelepasan impuls epileptik berlebihan
juga.
5. Ketidakseimbangan ion yang mengubah keseimbangan asam-basa atau
elektrolit, yang mengganggu homeostatis kimiawi neuron sehingga terjadi
kelainan depolarisasi neuron. Gangguan keseimbangan ini menyebabkan
peningkatan berlebihan neurotransmitter aksitatorik atau deplesi
neurotransmitter inhibitorik.
6. Hipoglikemia merupakan salah satu penyakit akibat gangguan metabolisme
yang dapat mengakibatkan epilepsi. Kekurangan glukosa dapat
mempengaruhi suplai ke otak khususnya bagi metabolisme sel glia pada
otak. Epilepsi terjadi akibat adanya kerusakan membran pada sel glia otak.
7. Tumor atau neoplasma pada otak mengakibatkan terjadinya peningkatan
tekanan intrakranial sehingga suplai oksigen ke otak melalui pembuluh
darah pun terganggu.

5
2.4 Manifestasi klinis
1. Manifestasi klinik dapat berupa kejang-kejang, gangguan kesadaran atau
gangguan penginderaan.
2. Bagian tubuh yang kejang tergantung lokasi dan sifat fokus epileptogen.
3. Dapat mengalami aura yaitu suatu sensasi tanda sebelum kejang epileptik
(aura dapat berupa perasaan tidak enak, melihat sesuatu, mencium bau-
bauan tidak enak, mendengar suara gemuruh, mengecap sesuatu, sakit
kepala dan sebagainya).
4. Napas terlihat sesak dan jantung berdebar.
5. Raut muka pucat dan badannya berkeringat.
6. Satu jari atau tangan yang bergetar, mulut tersentak dengan gejala sensorik
khusus atau somatosensorik seperti: mengalami sinar, bunyi, bau atau rasa
yang tidak normal seperti pada keadaan normal.
7. Individu terdiam tidak bergerak atau bergerak secara automatik, dan
terkadang individu tidak ingat kejadian tersebut setelah episode epileptikus
tersebut lewat.
8. Di saat serangan, penyandang epilepsi terkadang juga tidak dapat berbicara
secara tiba- tiba.
9. Kedua lengan dan tangannya kejang, serta dapat pula tungkainya
menendang- menendang.
10. Gigi geliginya terkancing.
11. Bola matanya berputar- putar.
12. Terkadang keluar busa dari mulut dan diikuti dengan buang air kecil.
13. Klien sadar kembali dengan lesu, nyeri otot dan sakit kepala.

2.5 Pemeriksaan diagnostik


1. Pemeriksaan laboratorium
a. Elektrolit: tidak seimbang dapat berpengaruh atau menjadi predisposisi
pada aktivitas kejang
b. Glukosa : hipoglikemi, dapat menjadi presipitasi (pencetus kejang)
c. Ureum atau kreatinin: meningkat, dapat meningkatkan resiko timbulnya
aktivitas kejang atau mungkin sebagai indikasi nefrotoksik yang
berhubungan dengan pengobatan.

6
d. Pungsi lumbal (pl): untuk mendeteksi tekanan abnormal dari css, tanda-
tanda infeksi, perdarahan (hemoragik subarachnoid, subdural) sebagai
penyebab kejang tersebut.
2. Pemeriksaan eeg
Pemeriksaan eeg sangat berguna untuk diagnosis epilepsi. Rekaman eeg
dapat menentukan fokus serta jenis epilepsi apakah fokal, multifokal,
kortikal atau subkortikal dan sebagainya. Harus dilakukan secara berkala
(kira-kira 8-12 % pasien epilepsi mempunyai rekaman eeg yang normal).
3. MRI : melokalisasi lesi-lesi fokal.
4. Pemeriksaan radiologis
Foto tengkorak untuk mengetahui kelainan tulang tengkorak, destruksi
tulang, kalsifikasi intrakranium yang abnormal, tanda peninggian tik seperti
pelebaran sutura, erosi sela tursika dan sebagainya
Pneumoensefalografi dan ventrikulografi untuk melihat gambaran ventrikel,
sisterna, rongga sub arachnoid serta gambaran otak. Arteriografi untuk
mengetahui pembuluh darah di otak: anomali pembuluh darah otak, penyumbatan,
neoplasma dan hematoma

2.6 Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan medis
a. Farmakoterapi : anti kovulsion untuk mengontrol kejang
b. Pembedahan : untuk pasien epilepsi akibat tumor otak, abses, kista atau
adanya anomali vaskuler
c. Jenis obat yang sering digunakan
1) Phenobarbital (luminal).
2) Primidone (mysolin)
Di hepar primidone di ubah menjadi phenobarbital dan
phenyletylmalonamid.
3) Difenilhidantoin (dph, dilantin, phenytoin).
4) Carbamazine (tegretol).
 Mempunyai khasiat psikotropik yang mungkin disebabkan
pengontrolan bangkitan epilepsi itu sendiri atau mungkin juga
carbamazine memang mempunyai efek psikotropik.
 Sifat ini menguntungkan penderita epilepsi lobus temporalis
yang sering disertai gangguan tingkah laku.
5) Diazepam.

7
 Biasanya dipergunakan pada kejang yang sedang berlangsung
(status konvulsi.).
 Pemberian i.m. hasilnya kurang memuaskan karena
penyerapannya lambat. Sebaiknya diberikan i.v. atau intra rektal.
6) Nitrazepam (inogadon).
7) Ethosuximide (zarontine)
Merupakan obat pilihan pertama untuk epilepsi petit mal
8) Na-valproat (dopakene)
 Obat pilihan kedua pada petit mal
 Pada epilepsi grand mal pun dapat dipakai.
 Obat ini dapat meninggikan kadar gaba di dalam otak.
 Efek samping mual, muntah, anorexia
9) Acetazolamide (diamox).
 Kadang-kadang dipakai sebagai obat tambahan dalam
pengobatan epilepsi.
 Zat ini menghambat enzim carbonic-anhidrase sehingga ph otak
menurun, influks Na berkurang akibatnya membran sel dalam
keadaan hiperpolarisasi.
10) ACTH
Seringkali memberikan perbaikan yang dramatis pada spasme
infantil.

2. Penatalaksanaan keperawatan
Cara menanggulangi kejang epilepsi:
1) Selama kejang
a. Berikan privasi dan perlindungan pada pasien dari penonton yang
ingin tahu
b. Mengamankan pasien di lantai jika memungkinkan
c. Hindarkan benturan kepala atau bagian tubuh lainnya dari bendar
keras, tajam atau panas. Jauhkan ia dari tempat / benda berbahaya.
d. Longgarkan bajunya. Bila mungkin, miringkan kepalanya kesamping
untuk mencegah lidahnya menutupi jalan pernapasan.
e. Biarkan kejang berlangsung. Jangan memasukkan benda keras
diantara giginya, karena dapat mengakibatkan gigi patah. Untuk
mencegah gigi klien melukai lidah, dapat diselipkan kain lunak
disela mulut penderita tapi jangan sampai menutupi jalan
pernapasannya.

8
f. Ajarkan penderita untuk mengenali tanda-tanda awal munculnya
epilepsi atau yang biasa disebut “aura”. Jika penderita mulai
merasakan aura, maka sebaiknya berhenti melakukan aktivitas
apapun pada saat itu dan anjurkan untuk langsung beristirahat atau
tidur.
g. Bila serangan berulang-ulang dalam waktu singkat atau penyandang
terluka berat, bawa ia ke dokter atau rumah sakit terdekat.

2) Setelah kejang
a. Pertahankan pasien pada salah satu sisi untuk mencegah aspirasi.
Yakinkan bahwa jalan napas tidak mengalami gangguan.
b. Biasanya terdapat periode ekonfusi setelah kejang grand mal.
c. Periode apnea pendek dapat terjadi selama atau secara tiba- tiba
setelah kejang.
d. Pasien pada saat bangun, harus diorientasikan terhadap lingkungan
e. Beri penderita minum untuk mengembalikan energi yang hilang
selama kejang dan biarkan penderita beristirahat.
f. Jika pasien mengalami serangan berat setelah kejang (postiktal),
coba untuk menangani situasi dengan pendekatan yang lembut dan
member restrein yang lembut
g. Laporkan adanya serangan pada kerabat terdekatnya. Ini penting
untuk pemberian pengobatan oleh dokter.
Penanganan terhadap penyakit ini bukan saja menyangkut penanganan
medikamentosa dan perawatan belaka, namun yang lebih penting adalah
bagaimana meminimalisasikan dampak yang muncul akibat penyakit ini bagi
penderita dan keluarga maupun merubah stigma masyarakat tentang penderita
epilepsi.

9
Idiopatik Tumor, infeksi Asfiksia
Demam Faktor lain
otak neonatorum

Gangguan aliran listrik di otak

Epilepsi

B1 B2 B6
B3 B4 B5

Aktivitas listrik Adanya bangkitan


Kejang Aktivitas Adanya Adanya
menyebar ke Impuls inhibisi Hiperaktivitas
motorik listrik di listrik bangkitan bangkitan
nervus V, IX, X
med.oblongata dari formasi neuron
menyebar ke listrik di listrik di otak
retikularis
lob.frontal dan otak
Spasme otot berkurang
parietal
pernapasan Otot2 lidah Mengganggu Keb.energi
Inkoordinasi Inkoordinasi
melemah pusat Cardio meningkat
SSP dan SST di SSP dan SST di Hiperaktivitas
Control postur daerah sakrum daerah anal dan serabut fusiform
tubuh dan rektum dinamik otot
Menutup sal.trakea Gg.metabolisme
Apnea Peningkatan perilaku menurun di otak
Nadi Kontraksi
kandung kemih
Spasme jalan Penurunan Penurunan
Depresi tidak terkontrol ATP menurun
napas tonus otot kekuatan otot
Perubahan
pus.pernapasan Perubahan fungsi
frekuensi jantung
psikomotor
MK: Penurunan
MK: Pola MK: Gg.
MK: Bersihan Penurunan Inkontinensia kesadaran
Napas Tidak Mobilitas fisik
jalan napas MK: kapasitas fekal
Efektif MK: Risiko
tidak efektif Penurunan kandung kemih
Cedera MK:
curah Imobilitas
jantung Intoleransi fisik
MK: aktivitas
Gangguan
eliminasi urin
10
BAB 3
KONSEP TEORI ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian Pasien


Perawat mengumpulkan informasi tentang riwayat kejang pasien. Pasien
ditanyakan tentang faktor atau kejadian yang dapat menimbulkan kejang. Asupan
alkohol dicatat. Efek epilepsi pada gaya hidup dikaji. Obsevasi dan pengkajian
selama dan setelah kejang akan membantu dalam mengindentifikasi tipe kejang
dan penatalaksanaannya.
1. Pengkajian
a. Riwayat Kesehatan
1) Keluhan utama: keluhan yang dirasakan pasien saat dilakukan
pengkajian.
2) Riwayat kesehatan sekarang: Riwayat penyakit yang diderita pasien saat
masuk RS (Apa yang terjadi selama serangan).
3) Riwayat kesehatan yang lalu: sejak kapan serangan seperti ini terjadi,
pada usia berapa serangan pertama terjadi, frekuensi serangan, adakah
faktor presipitasi seperti demam, kurang tidur emosi, riwayat sakit kepala
berat, pernah menderita cidera otak, operasi atau makan obat-obat
tertentu/alkoholik).
4) Riwayat kesehatan keluarga: adakah riwayat penyakit yang sama diderita
oleh anggota keluarga yang lain atau riwayat penyakit lain baik bersifat
genetik maupun tidak.
5) Riwayat sebelum serangan: adakah gangguan tingkah laku, emosi apakah
disertai aktifitas atonomik yaitu berkeringat, jantung berdebar, adakah
aura yang mendahului serangan baik sensori, auditorik, olfaktorik.

b. Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan umum
2) Pemeriksaan Persistem
a) Sistem Persepsi dan Sensori

12
Apakah pasien menggigit lidah, mulut berbuih, sakit kepala, otot-otot
sakit, adakah halusinasi dan ilusi, yang disertai vertigo, bibir dan
muka berubah warna, mata dan kepala menyimpang pada satu posisi,
berapa lama gerakan tersebut, apakah lokasi atau sifatnya berubah
pada satu posisi/keduanya.
b) Sistem Persyarafan
 Selama serangan: Penurunan kesadaran/pingsan? Kehilangan
kesadaran / lena? Disertai komponen motorik seperti kejang
tonik, klonik, mioklonik, atonik, berapa lama gerakan
tersebut? Apakah pasien jatuh kelantai.
 Proses Serangan: Apakah pasien letarsi, bingung, sakit kepala,
gangguan bicara, hemiplegi sementara, ingatkah pasien apa yang
terjadi sebelum selama dan sesudah serangan, adakah perubahan
tingkat kesadaran, evaluasi kemungkinan terjadi cidera selama
kejang (memer, luka gores)
c) Sistem Pernafasan: Apakah terjadi perubahan pernafasan (nafas yang
dalam).
d) Sistem Kardiovaskuler: Apakah terjadi perubahan denyut jantung.
e) Sistem Gastrointestinal: apakah terjadi inkontinensia feses, nausea.
f) Sistem Integumen: adakah memar, luka gores.
g) Sistem Reproduksi.
h) Sistem Perkemihan: adakah inkontinensia urin

c. Istirahat & Aktivitas


1) Gejala: Keletihan, kelemahan umum.
Keterbatasan dalam aktivitas / bekerja yang ditimbulkan oleh diri
sendiri / orang terdekat.
2) Tanda: Perubahan tonus / kekuatan otot.
3) Gerakan involunter / kontraksi otot ataupun sekelompok otot.

d. Sirkulasi
1) Gejala: Iktal: Hypertensi, peningkatan nadi, sianosis.

13
Postiktal: Tanda vital normal atau depresi dengan penurunan nadi dan
pernafasan.

e. Integritas Ego
1) Gejala: Stressor eksternal / internal yang berhubungan dengan keadaan
dan / atau penanganan. Peka rangsang; perasaan tidak ada harapan / tidak
berdaya. Perubahan dalam berhubungan.
2) Tanda: Pelebaran rentang respons emosional.

f. Eliminasi
1) Gejala: Inkontinensia episodik.
2) Tanda: Iktal: peningkatan tekanan kandung kemih dan tonus sfingter.
Postiktal: otot relaksasi yang mengakibatkan inkontinensia (baik urine /
fekal).

g. Cairan Makanan
1) Gejala: Sensitivitas terhadap makanan, mual / muntah yang berhubungan
dengan aktivitas kejang.
2) Tanda: Kerusakan jaringan lunak / gigi (cedera selama kejang).
Hyperplasia gingival (efek samping pemakaian Dilantin jangka panjang).

h. Neurosensori
1) Gejala: Riwayat sakit kepala, aktivitas kejang berulang, pingsan, pusing.
Riwayat trauma kepala, anoksia dan infeksi serebral.
Adanya aura (rangsangan visual, auditorius, area halusinogenik).
2) Postiktal: kelemahan, nyeri otot, area parestese / paralisis.
3) Tanda: karakteristik kejang.

i. Nyeri / Kenyamanan
1) Gejala: sakit kepala, nyeri otot / punggung pada periode postiktal.
Nyeri abnormal paroksismal selama fase iktal.
2) Tanda: sikap / tingkah laku yang berhati-hati
Perubahan tonus otot.
Tingkah laku gelisah / distraksi.

j. Pernafasan
1) Gejala: fase iktal: gigi mengatup, sianosis, pernafasan menurun / cepat;
peningkatan sekresi mukus.
Fase postiktal: apnea.

14
k. Keamanan
1) Gejala: riwayat terjatuh / trauma, fraktur.
Adanya alergi.
2) Tanda: trauma pada jaringan lunak / ekimosis.
Penurunan kekuatan / tonus otot secara menyeluruh.

l. Interaksi Sosial
1) Gejala: masalah dalam hubungan interpersonal dalam keluarga atau
lingkungan sosialnya. Pembatasan / penghindaran terhadap kontak sosial.

m. Pembelajaran & Penyuluhan


1) Gejala: Adanya riwayat epilepsi pada keluarga.
Penggunaan / ketergantungan obat (termasuk alkohol).

3.2 Diagnosa Keperawatan


1. Pola napas tidak efektif b/d depresi pusat pernapasan
2. Resiko cedera b/d perubahan fungsi psikomotor, kelemahan
keseimbangan, keterbatasan kognitik/perubahan kesadaran.
3. Kurang pengetahuan b/d kurang kekurangan informasi.
4. Risiko harga diri rendah situasional b.d gangguan gambaran diri

3.3 Intervensi Keperawatan


Dx 1: Pola napas tidak efektif b/d depresi pusat pernapasan
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan klien dapat
menunjukkan pola napas yang efektif.
Kriteria Hasil: Klien dapat mempertahankan pola pernapasan efektif dengan
jalan napas paten.
Intervensi :
1. Letakkan pasien pada posisi miring, permukaan datar, miringkan kepala
selama serangan kejang.
Rasional: Meningkatkan darah (drainase) secret, mencegah udara jatuh dan
menyambut jalan napas.
2. Tanggalkan pakaian pada daerah leher /dada dan abdomen.
Rasional: Untuk memfasilitasi usaha bernapas/ekspresi dada.

15
3. Masukkan spodel lidah/jalan napas buatan atau gulungan benda lunak sesuai
indikasi.
Rasional: Jika memasukkannya di awal untuk membuka rahang, alat ini dapat
mencegah tergigitnya lidah dan memfasilitasi saat melakukan pengisapan
lendir/memberi sokongan terhadap pernapasan jika diperlukan.
4. Lakukan pengisapan sesuai indikasi.
Rasional: Menurunkan resiko aspirusi/astiksia.
5. Kolaborasi: Berikan tambahan O2/ventilasi manual sesuai kebutuhan pada
fase posktal.
Rasional: Dapat menurunkan hipoksia serebral sebagai akibat dari sirkulasi
yang menurun/O2 sekunder terhadap spasme vesikuler selama serangan
kejang.

Dx 2: Resiko cedera b/d perubahan fungsi psikomotor, kelemahan, kesulitan


keseimbangan, keterbatasan kognitif/perubahan kesadaran.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan kita dapat
mengungkapkan pemahaman faktor dan menunjang kemungkinan trauma.
Kriteria Hasil: Perubahan gaya hidup untuk mengurangi faktor resiko dan
melindungi diri dari cedera.
Intervensi:
1. Observasi pencetus kejang yang terjadi pada pasien.
Rasional: Alkohol berbagai obat dan stimulasi lain (kurang tidur, lampu yang
terlalu terang, menonton TV yang terlalu lama) dapat meningkatkan aktivitas
otak yang selanjutnya meningkatkan resiko kesadarannnya kejang.
2. Pertahankan bantalan lunak pada penghalang tempat tidur yang terpasang
dengan posisi tempat tidur yang rendah. Rasional: Mengurangi trauma saat
kejang terjadi selama pasien berada di tempat tidur.
3. Anjurkan pada keluarga untuk menemani pasien dalam waktu beberapa lama
selama/setelah kejang.
Rasional: Meningkatkan keamanan pasien.
4. Kolaborisasi.

16
Berikan obat sesuai indikasi (obat anti epilepsi) meliputi karboma zepam,
klorozepam.
Rasional: Untuk mengatasi kejang
.

17
BAB 4
APLIKASI ASUHAN KEPERAWATAN

4.1 Pengkajian
1. Identitas
Nama : Tn. Apon Sahadi
Jenis Kelamin : Laki-laki
Usia : 44 tahun
Tanggal lahir : 4 September 1967
Alamat : Jawa Barat
Status Perkawinan : Menikah
Agama : Islam
Pekerjaan : Tidak Bekerja
Pendidikan : SLTP
Suku Bangsa : WNI
No RM : 0-21-21-60
Tanggal Kunjungan RS : 24 Februari 2014
Poliklinik : Saraf

2. Keluhan Utama
Kejang 3 Bulan SMRS
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Seorang pasien laki-laki berusia 44 tahun diantar oleh istrinya datang ke
poliklinik Saraf RS Marzoeki Mahdi dengan keluhan kejang 3 Bulan SMRS.
Kejang terjadi tiba-tiba saat pasien sedang dalam keadaan beristirahat. Menurut
istri pasien, pasien tiba-tiba jatuh lalu kejang. Kejang terjadi diseluruh tubuh
disertai kaku dan kelojotan, pasien dalam keadaan tidak sadar. Saat kejang, mata
memandang keatas, lidah tidak tergigit tapi keluar lendir berbusa dari mulut
pasien. Pasien juga mengaku sebelum kejang dirinya terasa seperti akan pingsan.
Menurut istri pasien kejang berlangsung kurang lebih 30 menit. Setelah kejang
pasien mengaku tersadar. Keluhan kejang dirasakan sejak tahun 2011. Pasien
mengaku sering kejang berulang. Kejang yang terjadi tidak berhubungan dengan
demam. Kejang biasanya terjadi lebih dari 1 kali dalam seminggu. Biasanya
setelah kejang pasien tersadar dan merasa pusing lalu tertidur karena lemas.
Pasien mengaku juga sering sakit kepala, merasa kepala nya seperti kurang

18
nyaman. BAK dan BAB normal. Pasien sudah berobat ke poliklinik Saraf pada
tahun 2011, namun setelah itu lebih sering berobat ke klinik umum.

4. Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien mengaku memiliki riwayat kejang saat usia sekitar 10 tahun, namun
hanya beberapa kali dan pasien lupa tentang pola kejangnya. Riwayat trauma
kepala atau infeksi sebelumnya disangkal. Pasien memiliki riwayat hipertensi dan
penyakit jantung. Riwayat DM, penyakit paru serta alergi obat-obatan di sangkal
oleh pasien.

5. Riwayat Penyakit Keluarga


Pasien mengaku kakak kandung pasien juga memiliki riwayat kejang
berulang, namun pasien tidak dapat menjelaskan tentang pola kejangnya.

6. Keadaan umum
Kesadaran : compos mentis – tampak sakit ringan
Tekanan darah : 140/80 mmHg,
Denyut nadi : 84 x/mnt, isi cukup, irama regular teratur, equal
Frekuensi Nafas : 18 x /mnt.
Suhu : 36,3oC.
BB : 60 kg.
TB : 165 cm.
BMI : 22, 03 (gizi cukup)

7. Status Generalis
Kepala
a. Bentuk : normochepali, simetri
b. Nyeri tekan : (-)

19
c. Rambut : hitam lurus dengan beberapa uban, distribusi merata,
allopecia (-)
d. Wajah : simetris, pucat (-), ikterik (-), petekie (-)
e. Mata : Edema kelopak mata (-/-), pupil bulat isokor Ø 2 mm|2mm.
RCL (+/+) RCTL (+/+) konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), sekret
(-/-), ptosis (-/-), lagoftalmus (-/-).
f.Hidung : Simetris , septum deviasi (-), deformitas (-), sekret (+/+).
g. Telinga : normotia, pendengaran normal, nyeri tekan tragus dan
mastoid (-).
h. Gigi Mulut : Jumlah gigi 31, terdapat gigi tanggal incisivus 2 kanan
bawah, karies gigi (-), perdarahan gusi (-), oral hygiene cukup baik.
i. Lidah : coated tongue (-), papil atrofi (-).
j. Tenggorokan : normal, tidak hiperemis, tonsil T1-T1

Leher
a. Kelenjar Getah Bening : Tidak teraba membesar
b. Kelenjar Tiroid : Tidak teraba membesar
c. Trakhea : Lurus, tidak ada deviasi
d. JVP : 5+2 cm H20

Thoraks
a. Paru
Inspeksi : Hemithoraks simetris saat statis dan dinamis,
retraksi sela iga (-), deformitas (-)
Palpasi : Vokal fremitus kanan dan kiri simetris
Perkusi : Sonor di kedua lapang paru
Auskultasi : Suara nafas vesikuler, ronkhi (-/-), wheezing (+/+)
b. Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : Ictus cordis teraba di ICS V , 1 cm medial linea
midclavicularis sinistra
Perkusi : batas jantung atas : ICS III linea parasternal kiri
Batas jantung kanan : ICS IV linea sternalis kiri
Batas jantung kiri : ICS V 1 cm medial linea
midclavicularis sinistra

20
Auskultasi : BJ I-II regular , murmur (-), gallop (-)

Abdomen
Inspeksi : dinding abdomen datar, jaringan parut (-)
Auskultasi : bising usus 2x/menit
Palpasi : supel, nyeri tekan tidak ada, hepar dan lien tidak teraba
membesar
Perkusi : timpani (+) pada 9 regio abdomen

Ekstremitas
Atas : akral hangat (+/+), oedem (-/-)
Bawah : akral hangat (+/+), oedem (-/-) -

8.Status Neurologis
1. Kesadaran : Composmentis
2. GCS : E 4 V5 M 6
3. Tanda Rangsang meningeal :

Kaku kuduk : -

Brudzinsky 1 : -

Brudzinsky 2 : -|-

Laseque : >700 | >700

Kernig : >1350 | >1350
4. Saraf kranial :
N. I (Olfactorius )
Kanan Kiri Keterangan
Daya pembau Dbn dbn Dalam batas
normal

N.II (Opticus)
Kanan Kiri Keterangan
Daya penglihatan Dbn Dbn Dalam batas

21
Lapang pandang Dbn Dbn
normal
Pengenalan warna Dbn Dbn

N.III (Oculomotorius)
Kanan Kiri Keterangan
Ptosis (-) (-)
Pupil
Bentuk Bulat Bulat
Ukuran Φ2mm Φ2mm
Dalam batas
akomodasi baik baik
normal
Refleks pupil
Langsung (+) (+)
Tidak langsung (+) (+)
Gerak bola mata Dbn Dbn
Kedudukan bola ortoforia ortoforia
mata

N. IV (Trokhlearis)
Kanan Kiri Keterangan
Gerak bola mata Dbn Dbn Dalam batas
normal

N. V (Trigeminus)
Kanan Kiri Keterangan
Motorik Dbn Dbn
Sensibilitas
Opthalmikus Dbn Dbn Dalam batas
Maxilaris Dbn Dbn normal
Mandibularis Dbn Dbn

N. VI (Abduscens)

22
Kanan Kiri Keterangan
Gerak bola mata Dbn Dbn Dalam batas
Strabismus (-) (-) normal

N. VII (Facialis)
Kanan Kiri Keterangan
Motorik
Saat diam simetris simetris Dalam batas
Mengernyitkan dahi Dbn Dbn normal
Senyum Dbn Dbn
memperlihatkan gigi Dbn Dbn
Daya perasa 2/3 Tidak Tidak dilakukan
anterior lidah dilakukan

N. VIII (Vestibulo-Kokhlearis)
Kanan Kiri Keterangan
Pendengaran
Tuli konduktif (-) (-)
Tuli sensorieural (-) (-) Dalam batas
Vestibular normal
Vertigo (-) (-)
Nistagmus (-) (-)

N. IX (Glossofaringeus)
Kanan Kiri Keterangan
Arkus farings Simetris Simetris
Daya perasa 1/3 Dalam batas
posterior lidah Tidak Tidak normal
dilakukan dilakukan

N. X (Vagus)

23
Kanan Kiri Keterangan
Arkus farings Simetris Simetris
Disfonia - - Dalam batas
Refleks muntah Tidak Tidak normal
dilakukan dilakukan

N. XI (Assesorius)
Kanan Kiri Keterangan
Motorik
Menoleh dbn dbn Dalam batas
Mengankat bahu dbn dbn normal
Trofi Eutrofi Eutrofi

N. XII (Hipoglossus)
Kanan Kiri Keterangan
Motorik dbn Dbn
Trofi eutrofi Eutrofi Dalam batas
Tremor (-) (-) normal
Disartri (-) (-)

9. Sistem motorik
Kanan Kiri
Ekstremitas atas
Kekuatan 4444 4444
Tonus N N
Trofi Eu Eu
Ger.involunter (-) (-)
Ekstremitas bawah
Kekuatan 4444 4444
Tonus N N
Trofi Eu Eu
Ger.involunter (-) (-)

10. Sistem sensorik

24
Sensasi Kanan Kiri Keterangan
Raba baik baik Dalam batas
Nyeri baik baik normal
Suhu Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Propioseptif Tidak dilakukan Tidak dilakukan

11. Refleks
Refleks Kanan Kiri Keterangan
Fisiologis
Biseps (+) (+)
Triseps (+) (+)
Patella (+) (+)
Achilles (+) (+)
Patologis
Hoffman Tromer (-) (-)
Babinski (-) (-) Dalam batas
Chaddock (-) (-) normal
Openheim (-) (-)
Gordon (-) (-)
Schaeffer (-) (-)

12. Fungsi koordinasi dan keseimbangan


Pemeriksaan Kanan Kiri Keterangan
Jari tangan – jari tangan Baik Baik
Jari tangan – hidung Baik Baik
Tumit – lutut Baik Baik
Pronasi – supinasi Baik Baik
Romberg test Tidak Tidak dilakukan
dilakukan

13. Sistem otonom


Miksi : Baik

25
Defekasi : Baik
Keringat : Baik

26
Analisa Data
Data Masalah Penyebab
DS: Istri px mengatakan bahwa Bersihan jalan napas Hipersekresi jalan
suaminya sesak napas dan tidak efektif napas
keluar lendir saat kejang.
DO:
- Dispnea
- Wheezing
- Bibir pucat
- Otot bantu pernapasan (+)
- Cuping hidung (+)
- RR : 28 x / menit
DS: Px mengatakan nyeri pada Nyeri akut Agen pencedera
bagian kepalanya.
P: Kepala berdenyut setelah
kejang
Q:
R: Kepala
S: 6
T: Saat mengangkat
kepalanya
DO:
- Wajah meringis
- Memegang daerah nyeri
(kepala)
- Tampak enggan unttuk
mengangkat kepalanya.
- TTV
RR: 28 x / menit
N: 112 x / menit
S: 37.1 0C
TD: 130/90 mmHg

27
DS: Px mengatakan bahwa Gg persepsi sensori Gg penglihatan
pandangannya terasa kabur
setelah kejang.
DO:
- Distorsi penglihatan
- Ketajaman menurun
- Ptosis (-)
DS: Px mengatakan lemas Intoleransi aktifitas Kelemahan fisik
seperti tidak memiliki
tenaga untuk beraktifitas.
DO:
- Tampak lemas
- Eutrofi
- Kekuatan 4444

4.2 Diagnosa Keperawatan Sesuai Prioritas


1. Bersihan jalan napas tidak efektif b.d hiperseksresi jalan napas
2. Nyeri akut b.d agen pencedera
3. Gg persepsi sensori b.d gg penglihatan.
4. Intoleransi altifitas b.d kelemahan fisik

28
4.3 Rencana Asuhan Keparawatan

HARI/ DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI RASIONAL


TGL KEPERAWATAN
Bersihan jalan napas tidak Setelah dilakukan tindakan a. Observasi TTV. a. Adanya sputum pada jalan napas
efektif b.d hipersekresi keperawatan selama 3 x 24 jam, mempengaruhi TTV.
jalan napas masalah ketidak efektifan b. Observasi karakteristik sputum yang b. Untuk mengetahui kandungan
bersihan jalan napas dapat keluar. sputum
teratasi. c. Berikan posisi yang nyaman pada c. Posisi yang nayaman membantu
Kriteria hasil: pasien. memaksimalkan ventilasi.
a. Suara napas vesikuler. d. Lakukan fisioterapi dada jika d. Membantu pengeluaran sputum.
b. Menunjukkan kepatenan diperlukan.
jalan napas. e. Ajarkan cara melakukan batuk efektif. e. Batuk efektif membantu
c. Tidak ada cyanosis. mengeluarkan sputum secara
d. Batuk efektif (+) mandiri.
e. Dapat mengeluarkan f. Anjurkan untuk meminum cairan yang f. Cairan hangat membantu
sputum. hangatt mengencerkan sputum yang ada
f. TTV dalam batas normal di jalan napas.
RR: 16-24 x / menit g. Kolaborasi dengan dokter dalam g. Pemenuhan kebutuhan O2 dari
N: 60 – 100 x / menit pemberian O2. pasien ditentukan oleh dokter.

29
S: 36.5 – 37.2 0C h. Kolaborasi dengan dokter dalam h. Mengeluarkan sputum.
TD: 110-140 mmHg melakukan melakukan nebul /
pengisapan.
Nyeri akut b.d agen Setelah dilakukan tindakan a. Observasi keadaan umum. a. Nyeri yang dialami pasien
pencedera keperawatan selama 3 x 24 jam, biasanya mempengaruhi keadaan
masalah nyeri akut dapat umumnya.
teratasi. b. Kaji nyeri berdasarkan pengkajian b. Mengkaji nyeri secara
Kriteria hasil: PQRST. keseluruhan, salah satunya untuk
a. Keadaan umum baik mengetahui skala nyeri.
b. Tidak mengeluh nyeri c. Observasi respon nonverbal pada c. Rsepon nonverbal menjadi info
c. Reaksi nonverbal tidak pasien. tambahan tentang nyeri yang
menunjukkan gg dirasakan pasien.
kenyamanan. d. Berikan tepid sponge pada daerah d. Tepid sponge membantu
d. Skala nyeri 0-3. nyeri. meminimalisir nyeri.
e. Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi e. Relaksasi dan distraksi
pada pasien. membantu meminimalisir nyeri.
f. Himbau pasien untuk membatasi f. Rasa nyeri biasanya timbul saat
aktifitas yang merangsang nyeri. melakukan aktifitas yang
berlebih.
g. Kolaborasi dengan dokter dalam g. Mengatasi nyeri

30
pemberian analgesik.
Gg persepsi sensori b.d gg Setelah dilakukan tindakan a. Observasi ketajaman penglihatan. a. Kejang mempengaruhi persepsi
penglihatan keperawatan selama 2 x 24 jam, sensori mata.
masalah gangguan penglihatan b. Kaji distorsi penglihatan yang b. Distorsi yang berlanjut
dapat teratasi. berlanjut. menunjukkan adanya gangguan
Kriteria hasil: di bagian mata pasien.
a. Penglihatan membaik c. Kaji jarak pandang penglihatan pada c. Untuk mengetahui keparahan
b. Tidak ada distorsi pasien. dari pandangan kaburnya.
penglihatan. d. Letakkan barang-barang yang d. Menghindari resiko cidera akibat
c. Ketajaman penglihatan dibutuhkan pasien di dekatnya. gg penglihatannya.
membaik. e. Anjurkan pasien untuk mengedipkan e. Pandangan kabur yang
mata sejenak saat pandangannya berlangsung lama biasanya akan
terasa kabur lagi. menyebabkan rasa pusing.
f. Kolaborasi dengan dokter spesialis f. Untuk mengetahui keadaan mata
mata.
Intoleransi aktifitas b.d Setelah dilakuakn tindakan a. Kaji kekuatan otot. a. Kekuatan otot sebagai indikator
kelemahan fisik keperawatan selama 2 x 24 jam, diangkatnya diagnosa intoleransi
masalah intoleransi aktifitas atifitas.
dapat teratasi. b. Monitor tonus otot. b. Kelemahan pada bagian otot
Kriteria hasil: dapat dilihat dari tonus ototnya.

31
a. Mampu beraktifitas secara c. Berikan alat bantu gerak. c. Untuk memudahkan pasien
mandiri. bergerak / berjalan.
b. Tidak ada kelemahan fisik. d. Anjurkan pasien untuk meminimalisir d. Mengurangi penambahan beban
c. Kekuatan otot 5 5 5 5. aktifitas yang tidak di butuhkan/ kerja dari otot.
bedrest.
e. Anjurkan pasien untuk mengganti e. Menghindari adanya edema /
posisi setiap 2 jam. ulkus.
f. Kolaborasi dengan keluarga untuk f. Latihan mobilisasi membantu
latihan mobilisasi pada pasien. mengatasi terjadinya kekakuan
pada pasien.

4.4 Catatan Perkembangan


Hari/ Dx. Keperawatan Jam Implementasi TTD/ Evaluasi TTD/Nama
Tgl Nama
Bersihan jalan napas a. Mengobservasi TTV. S: Px mengatakan sesaknya sudah
tidak efektif b.d b. Mengobservasi karakteristik berkurang, dan masih batuk.
hiperseksresi jalan sputum yang keluar. O:
napas. c. Memberikan posisi yang nyaman - Dispnea.
pada pasein. - Dapat mengeluarkan sputum.
d. Mengajarkan cara melakukan - Sputum kental, tidak berbau.

32
batuk efektif. - Batuk (+)
e. Menganjurkan untuk meminum air - Wheezing.
hangat. - Nasal canul (+)
f. Berkolaborasi dengan dokter - TTV:
dalam pemberian O2. RR: 25 x / menit, N: 109 x /
menit; S: 37.3 0C.
A: Masalah teratasi sebagian.
P: Lanjutkan intervensi a - f
Nyeri akut b.d agen a. Mengobservasi keadaan umum. S: Px mengatakan nyeri di kepalanya
pencedera b. Mengkaji nyeri berdasarkan sudah tidak terlalu sakit.
pengkajian PQRST. P: Kepala berdenyut setelah kejang
c. Mengobservasi respon nonverbal Q: Diberi beban berat
pada pasien. R: Kepala
d. Memberikan tepid sponge pada S: 4
daerah nyeri. T: Saat mengangkat kepalanya
e. Mengajarkan teknik relaksasi dan
distraksi pada pasien. O:
f. Menghimbau pasien untuk - Keadaan umum meningkat.
meminimalisir aktifitas yang - Ekspresi wajah tidak meringis
merangsang nyeri. kesakitan.

33
g. Berkolaborasi dengan dokter - TTV:
dalam pemberian analgesik. RR: 25 x / menit, N: 109 x /
menit; S: 37.3 0C
A: Masalah nyeri akut teratasi sebagian.
P: Lanjutkan intervensi a - g
Gg persepsi sensori a. Mengobservasi ketajaman S: Px mengatakan penglihatannya
b.d gg penglihatan penglihatan. membaik, tidak kabur lagi.
b. Mengkaji distori penglihatan yang O:
berlanjut. - Distorsi penglihatan (-)
c. Mengkaji jarak pandang - Ketajaman penglihatan baik.
penglihatan pada pasien. - Persepsi sensori tepat.
d. Meletakkan barang-barang yang - Ptosis (-)
dibutuhkan pasien di dekatnya. A: Masalah teratasi.
e. Menganjurkan pasien untuk P: Hentikan intervensi.
mengedipkan mata sejenak saat
pandangannya terasa kabur lagi.
f. Berkolaborasi dengan dokter
spesialis mata.
Intoleransi aktifitas b.d a. Mengkaji kekuatan otot. S: Px mengatakan masih lemas untuk
kelemahan fisik b. Memonitor tonus otot. berjalan tanpa bantuan. Otot-ototnya

34
c. Memberikan alat bantu untuk terasa lemah.
memudahkan pasien berjalan. O:
d. Menganjurkan pasien untuk - Menggunakan alat bantu untuk
meminimalisir aktifitas yang tidak bergerak.
dibutuhkan. - Belum mampu berjalan sendiri.
e. Menganjurkan pasien untuk - Tonus otot lemah.
mengganti posisi setiap 2 jam - Kekuatan otot 4 4 4 4
f. Berkolaborasi dengan keluarga A: Masalah belum teratasi.
untuk latihan mobilisasi pada P: Lanjutkan intervensi a – f.
pasien.

Bersihan jalan napas a. Mengobservasi TTV. S: Px mengatakan tidak sesak, tapi


tidak efektif b.d b. Mengauskultasi suara napas pada masih batuk.
hiperseksresi jalan pasien. O:
napas. c. Mengobservasi warna sputum - Dispnea (-)
yang keluar. - Dapat mengeluarkan sputum.
d. Memberikan posisi yang nyaman - Sputum kental, tidak berbau.
pada pasein. - Batuk (+)
e. Mengajarkan cara melakukan - Wheezing (-)
batuk efektif. - Nasal canul (+)

35
f. Menganjurkan untuk meminum air - TTV:
hangat. RR: 18 x / menit, N: 107 x /
g. Berkolaborasi dengan dokter menit; S: 36.8 0C.
dalam pemberian O2. A: Masalah teratasi sebagian.
P: Lanjutkan intervensi a, b, c, e, f, dan
g.
Nyeri akut b.d agen a. Mengobservasi keadaan umum. S: Px mengatakan nyeri di kepalanya
pencedera b. Mengkaji nyeri berdasarkan hilang timbul dan tidak terlalu sakit.
pengkajian PQRST. P: Kepala berdenyut setelah kejang
c. Mengobservasi respon nonverbal Q: Diberi beban berat
apada pasien. R: Kepala
d. Memberikan tepid sponge pada S: 4
daerah nyeri. T: Saat mengangkat kepalanya.
e. Mengajarkan teknik relaksasi dan O:
distraksi pada pasien. - Keadaan umum meningkat.
f. Menghimbau pasien untuk - Ekspresi wajah tidak meringis
meminimalisir aktifitas yang kesakitan.
merangsang nyeri. - TTV:
g. Berkolaborasi dengan dokter RR: 18 x / menit, N: 107 x /
dalam pemberian analgesik. menit; S: 36.8 0C.

36
A: Masalah nyeri akut teratasi sebagian.
P: Lanjutkan intervensi a - g
Intoleransi aktifitas b.d a. Mengkaji kekuatan otot. S: Px mengatakan sudah mampu untuk
kelemahan fisik b. Memonitor tonus otot. berjalan sendiri.
c. Memberikan alat bantu untuk O:
memudahkan pasien berjalan. - Alat bantu gerak (-).
d. Menganjurkan pasien untuk - Mampu berjalan sendiri.
meminimalisir aktifitas yang tidak - Tonus otot meningkat.
dibutuhkan. - Kekuatan otot 5 5 5 5
e. Menganjurkan pasien untuk A: Masalah teratasi.
mengganti posisi setiap 2 jam P: Hentikan intervensi.
f. Berkolaborasi dengan keluarga
untuk latihan mobilisasi pada
pasien.

Bersihan jalan napas a. Mengobservasi TTV. S: Px mengatakan tidak sesak, batuk


tidak efektif b.d b. Mengauskultasi suara napas pada kadang-kadang
hiperseksresi jalan pasien. O:
napas. c. Mengobservasi warna sputum - Dispnea (-)
yang keluar. - Sputum (-)
d. Memberikan posisi yang nyaman - Batuk kadang-kadang

37
pada pasein. - Wheezing (-)
e. Melakukan fisioterapi dada jika - Nasal canul (-)
diperlukan - TTV:
f. Mengajarkan cara melakukan RR: 21 x / menit, N: 97 x / menit;
batuk efektif. S: 36.9 0C.
g. Menganjurkan untuk meminum air A: Masalah teratasi.
hangat. P: Hentikan intervensi
h. Berkolaborasi dengan dokter
dalam pemberian O2.
i. Berkolaborasi dengan dokter
dalam melakukan melakukan
nebul / pengisapan.
Nyeri akut b.d agen a. Mengobservasi keadaan umum. S: Px mengatakan tidak nyeri lagi.
pencedera b. Mengkaji nyeri berdasarkan Skala: 4
pengkajian PQRST. O:
c. Mengobservasi respon nonverbal - Keadaan umum meningkat.
apada pasien. - Ekspresi wajah tidak meringis
d. Memberikan tepid sponge pada kesakitan.
daerah nyeri. - TTV:
e. Mengajarkan teknik relaksasi dan RR: 21 x / menit, N: 97 x / menit;

38
distraksi pada pasien. S: 36.9 0C
f. Menghimbau pasien untuk A: Masalah teratasi.
meminimalisir aktifitas yang P: Hentikan intervensi
merangsang nyeri.
g. Berkolaborasi dengan dokter
dalam pemberian analgesik.

39
BAB 5
PENUTUP

5.1 Simpulan
Epilepsy adalah kompleks gejala dari beberapa kelainan fungsi otak yang
ditandai dengan terjadinya kejang secara berulang. Dapat berkaitan dengan
kehilangan kesadaran, gerakan yang berlebihan, atau kehilangan tonus atau
gerakan otot. Epilepsi disebabkan oleh beberapa hal, antara lain:
1. Kelainan yang terjadi selama perkembangan janin/kehamilan ibu, seperti ibu
menelan obat-obat tertentu yang dapat merusak otak janin, mengalami
infeksi, minum alcohol, atau mengalami cidera.
2. Kelainan yang terjadi pada saat kelahiran, seperti kurang oksigen yang
mengalir ke otak (hipoksia), kerusakan karena tindakan.
3. Cidera kepala yang dapat menyebabkan kerusakan pada otak.
4. Tumor otak merupakan penyebab epilepsi yang tidak umum terutama pada
anak-anak.
5. Penyumbatan pembuluh darah otak atau kelainan pembuluh darah otak.
6. Radang atau infeksi pada otak dan selaput otak.
7. Penyakit keturunan seperti fenilketonuria (fku), sclerosis tuberose dan
neurofibromatosis dapat menyebabkan kejang-kejang yang berulang.
8. Kecendrungan timbulnya epilepsi yang diturunkan. Hal ini disebabkan karena
rangsang serangan yang lebih rendah dari normal diturunkan pada anak
Epilepsi dapat menyebabkan komplikasi antara lain:
1. Kerusakan otak akibat hipeksia dan retardasi mental dapat timbul akibat
kejang yang berulang.
2. Dapat timbul depresi dan keadaan cemas

5.2 Saran
Setelah penulisan makalah ini, kami mengharapkan masyarakat pada
umumnya dan mahasiswa keperawatan pada khususnya mengetahui pengertian,
tindakan penanganan awal, serta mengetahui asuhan keperawatan pada klien
dengan epilepsi. Oleh karena penyandang epilepsi sering dihadapkan pada
berbagai masalah psikososial yang menghambat kehidupan normal, maka

40
seyogyanya kita memaklumi pasien dengan gangguan epilepsi dengan cara
menghargai dan menjaga privasi klien tersebut. Hal itu dilaksanakan agar pasien
tetap dapat bersosialisasi dengan masyarakat dan tidak akan menimbulkan
masalah pasien yang menarik diri.

41
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth, 2001. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Volume 3. EGC:
Jakarta.
Doenges E. Marylin, 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. EGC: Jakarta.
Price A. Sylvia, 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses – Proses Penyakit Edisi
6. EGC: Jakarta.

Sumber Lain:
Anonim. Makalah Dan Askep Epilepsi. Akses:
[https://www.scribd.com/doc/216098872/Makalah-Dan-Askep-Epilepsi-
Jadi]
Anonim. WOC Epilepsi. Akses:
[https://www.scribd.com/document/99577516/woc-epilepsi]

42