Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH PEMASARAN DAN KEWIRAUSAHAAN FARMASI

“KOMIX”
Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Pemasaran dan Kewirausahaan
Farmasi

Disusun oleh:
1. Aditha Pratiwi ()
2. Agnes Angelika Lorinanto (2161197)
3. Indra Bayu Setiawan (2161206)
4. Nurhaidah (2161218)
5. Reinhard (21612)
6. Ulfa Malakiki (2161216)

AKADEMI FARMASI TADULAKO FARMA


PALU
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan yang Maha Esa yang telah
memberikan kemudahan dan kesempatan bagi kami untuk dapat menyelesaikan
tugas makalah ini, yang berjudul “Komix”.
Makalah ini dibuat semaksimal mungkin dengan berusaha menghindarkan dari
kesalahan dan kekurangan. Tetapi, kami menyadari, bahwasanya manusia tidak
akan pernah luput dari kesalahan, untuk itu kritik dan saran yang bersifat
membangun sangat kami harapkan demi perbaikan kamian makalah selanjutnya.
Akhirnya, semoga makalah ini dapat memberikan wawasan kepada para
pembaca. Terima kasih.

Palu, 8 Desember 2018


Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................... ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang .......................................................................................... 4
1.2. Rumusan Masalah ..................................................................................... 4
1.3. Tujuan ....................................................................................................... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Marketing Mix .......................................................................................... 6
2.2. Komponen Marketing Mix........................................................................ 11
2.3. Analisis SWOT ......................................................................................... 17
BAB III PEMBAHASAN
3.1. Contoh Produk .......................................................................................... 19
3.2. Tempat Distribusi ...................................................................................... 19
3.3. Promosi .....................................................................................................
BAB IV PENUTUP
4.1. Kesimpulan ...............................................................................................
4.2. Saran ..........................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 20

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pemasaran farmasi merupakan sub bagian dasar pemasaran dimana nilai
pelayanan kefarmasian atau yang lebih dikenal dengan (Pharmaceutical care)
diaplikasikan. Orientasi pemasaran farmasi tidak hanya terbatas pada produk
tetapi justru memberikan perhatian yang berlebih pada layanan farmasi yang
prima. Sehingga pemasaran dan praktek pelayanan kefarmasian memiliki
sejarah hidup panjang berdampingan satu sama lain. Alat pemasaran telah
digunakan untuk membantu farmasis menangani banyak isu-isu dalam
berbagai rung lingkup praktik, seperti berapa tarifnya untuk satu resep obat,
apakah perlu untuk mendapatkan pelayanan monitoring farmakokinetik atau
satelit peracikan di rumah sakit, yang produk bebasnya (OTC) dibawa, dan
apakah akan menggunakan perantara untuk semua produk atau memesan
langsung dari produsen.
Aspek pokok pemasaran meliputi enam hal, anatara lain :
1. Pemasaran berkenaan dengan upaya memuaskan kebutuhan dan keinginan
pelanggan. Untuk itu, pemahaman atas perilaku konsumen, berserta
kebutuhan, keinginan mereka yang merupakan kunci sukses pemasaran.
2. Pemasaran mencakup pertukaran, dimana pasar dan pelanggan saling
memberikan sesuatu yang bernilai, sehingga masing-masing pihak
mendapatkan manfaat spesifik. Pemasar menyediakan produk atau jasa,
kemudian mengkomunikasikan dan memfasilitasi pengiriman atau
penyampaian kepada pelanggan. Sedangkan pelanggan melengkapi
pertukaran tersebut dengan membayar uang senilai tertentu yang disepakati
dan memberikan informasi berharga yang berpotensi digunakan untuk
menfasilitasi pertukaran dimasa datang.
3. Pemasaran membutuhkan keputusan menyangkut 4 P (product, place, price
and promotion) untuk produk fisik misal seperti obat, alat kesehatan,
kosmetik, dan lain-lain dan 7 P (product, price, place, promotion, people,

4
process and physical evidence untuk jasa, misal pelayanan informasi obat,
penyuluhan obat, dan lain sebagainya. 4P dan 7P ini dikenal dengan istilah
bauran pemasaran (marketing mix), yakni serangkaian aktivitas terkendali
yang digunakan perusahaan untuk merespon keinginan pasar sasaran.
4. Pemasaran dapat dilakukan oleh individu maupun organisasi.
5. Pemasaran berlangsung dalam berbagai setting atau konteks. Diantaranya
perusahaan bisnis (profit-oriented) dan organisasi nirlaba; online dan
offline: barang fisik, jasa, maupun non tradtional marketing (person, place,
cause event, dan organization marketing).
6. Pemasaran membantu proses menciptakan nilai (value) bagi pelanggan.
Konsep nilai mengacu pada hubungan antra manfaat (benefit) dan biaya
(cost), atau apa yang diterima sesorang dibandingkan apa yang ia berikan.
Sebuah produk dipersepsikan memberikan nilai positif apabila manfaat
yang diterima lebih besar dibandingkan biaya yang dikeluarkan.
Secara garis besar, peran penting pemasaran diwujudkan melalui delapan
fungsi universal yang meliputi:
1. Pembelian (buying), yaitu memastikan bahwa produk yang dijual tersedia
dalam jumlah jumlah memadai agar dapat memenuhi permintaan
pelanggan. Bagi pengecer, misalnya kemampuan memahami perilaku
konsumen bermanfaat dalam mengantisipasi preferensi konsumen dimasa
datang.
2. Penjualan (selling), yakni menggunakan periklanan, personal selling dan
promosi penjualan untuk menyelaraskan produk dengan kebutuhan
pelanggan.
3. Pengangkutan (transporting), berkaitan dengan memindahkan produk dari
lokasi produksi ke lokasi yang nyaman diakses oleh para pembeli.
4. Penyimpanan (storing), berkaitan dengan aktivitas menyimpan produk
sampai dibutuhkan untuk dijual.
5. Standarisasi dan Pengelompokan (standardizing and grading), yakni
memastikan bahwa produk sesuai dengan pengendalian kualitas dan
kuantitas dalam hal ukuran, berat dan variabel lainnya.

5
6. Keuangan (financing) yaitu menyediakan fasilitas kredit kepada anggota
saluran distribusi (PBF) dan konsumen.
7. Pengambilan risiko (risk taking), yakni menghadapi segala ketidakpastian
berkenaan dengan pembelian yang dilakukan pelanggan di masa datang.
8. Pemastian informasi pemasaran (securing marketing information),
menyangkut pengumpulan informasi mengenai konsumen, pesaing, dan
saluran distribusi demi kepentingan pengambilan keputusan pemasaran.
Ada beberapa tipe pola orientasi pemasaran farmasi yaitu orientasi internal
tercermin dalam orientasi produksi, orientasi produk, dan orientasi penjualan,
sedangkan orientasi eksternal terdiri dari orientasi konsumen dan orientasi
social marketing (holistic marketing). Kendati demikian, setiap orientasi
memiliki keunikan dan konteks aplikasinya masing-masing.
1. Orientasi produk
Berasumsi bahwa konsumen akan menyukai produk obat yang tersedia
dimana-mana, mutu yang baik dan harga ekonomis. Proses pemasaran
produk obat-obatan mempunyai karakteristik tertentu. Misalnya, obat-
obatan yang dijual secara bebas dapat dilakukan secara umum kepada
public baik melalui media cetak maupun media elektronik. Namun obat-
obatan yang termasuk dalam daftar G sesuai dengan kode etik kedokteran
tidak boleh diiklankan secara langsung kepada umum. Karena pemasaran
atau memperkenalkan produk-produk obatan yang termasuk dalam daftar
G tidak dapat dilakukan secara langsung maka produsen obat dalam
kegiatan pemasarannya biasanya melakukan beberapa hal salahsatunya
menggunakan jasa PBF, menggunakan jasa detailer, dan lain-lain.
Perusahan farmasi di era revolusi industri konsep produk bukan hanya pada
berorientasi pada produk fisik saja tetapi akan berkonsentrasi pada upaya
menciptakan efisiensi produksi, biaya rendah dan distribusi massal.
2. Orientasi Produksi
Berasumsi bahwa konsumen akan menyukai dan mengutamakan produk
yang telah tersedia dan terjangkau oleh konsumen dan harganya ekonomis.
Penganut orientasi yang bermula pada era revolusi industri akan

6
menciptakan efisiensi produksi, biaya rendah dan distribusi missal. Dengan
demikian fokus utama orientasi ini adalah distribusi dan harga. Orientasi
ini masih banyak dijumpai dinegara-negara berkembang seperti Indonesia,
apalagi dalam situasi krisis ekonomi. Membanjiri produk-produk murah
dari negara lain merupakan salahsatu contoh aplikasi orientasi produksi.
Risiko terbesar orientasi produksi yang dihasilkan cendrung standard dan
mengabaikan keinginan khusus konsumen. Selain itu produk murah
dipersepsikan berkualitas buruk oleh kebanyakan konsumen.
3. Orientasi Penjualan (selling orientation)
Berkeyakinan bahwa konsumen tidak tertarik untuk membeli produk dalam
jumlah banyak, jika mereka tidak diyakinkan dan bahkan bila perlu dibujuk
dengan promosi yang gencar. Praktek pemasaran ini umumnya dilakukan
untuk produk yang kurang dikenal konsumen atau pemasaran nirlaba
(penggalangan dana sosial, dll). Kebanyakan praktek penjualan ini
berorientasi [pada penjualan jika menghadapi overcapacity (penawaran
jauh melampaui permintaan). Tujuannya lebih dititikberatkan pada
“menjual apa yang bisa dibuat” dan bukannya “membuat apa yang
diinginkan pasar”.
4. Orientasi Konsumen (consumer orientation)
Berpandangan bahwa untuk mewujudkan keberhasilan pencapaian tujuan
pemasaran terletak pada kemampuan perusahaan farmasi dalam
menciptakan, memberikan, dan mengkomunikasikan nilai pelanggan
(customer value) kepada pasar sasarannya (target market) secara lebih
efektif dibandingkan para pesaing. Orientasi ini bertumpu pada empat pilar
utama: pasar sasaran, kebutuhan pelanggan, pemasaran terintegrasi
(intregated marketing) dan profitabilitas. Pasar sasaran adalah pelanggan
yang dipilih untuk dilayani dengan program pemasaran khusus bagi
mereka. Mengapa pasar sasaran (target market), Alasannya adalah bahwa
kebutuhan dan keinginan setiap pelanggan begitu beragam. Amat sulit
barang kali tidak mungkin) untuk bisa memenuhi semua kebutuhan dan
keinginan yang dimiliki semua pelanggan dengan tingkat kepuasan yang

7
sama. Karena itu, sebagian besar pemasar berfokus pada tipe pelanggan
yang spesifik yang dijadikan target untuk dilayani. Lebih lanjut
keberhasilan pemasaran sangat ditentukan pula oleh kemampuan
perusahaan farmasi dalam membedakan lima jenis kebutuhan :
a. Stated needs (contohnya konsumen membutuhkan obat generic berlogo
(OGB) yang harganya terjangkau).
b. Real needs (contohnya, konsumen membutuhkan OGB yang biaya
pengoperasionalnya murah.
c. Unstated needs (konsumen mengharapkan pelayanan informasi obat
OGB dari perusahaan farmasi).
d. Secret needs (contohnya, konsumen ingin dipandang teman-temannya
sebagai konsumen yang cerdas dalam memilih produk).
e. Delight needs (misalnya konsumen berharap bahwa perusahaan farmasi
memberikan diskon terhadap pembelian OGB dalam jumlah banyak).
Orientasi konsumen cukup cerdas untuk memahami apa yang mereka
butuhkan, oleh sebab itu orientasi konsumen menempatkan konsumen
sebagai pusat dari segala aktivitas perusahaan tersebut, dibutuhkan
integrasi anatar fungsi pemasaran (seperti periklanan, layanan pelanggan,
riset pemasaran) dan antar departemen (departemen riset dan
pengembangan, departemen akuntansi dan keuangan, departemen
produksi, departemen sumber daya manusia). Dengan kata lain dibutuhkan
keselarasan anatara external marketing (pemasaran yang ditujukan kepada
pihak-pihak di luar perusahaan farmasi dan internal marketing (proses
merekrut, menyeleksi, melatih, dan memotivasi para karyawan sedemikian
rupa sehingga mereka sanggup melayani pelanggan secara memuaskan).
5. Orientasi societal marketing (holistic marketing)
Dalam industri dan bisnis farmasi, pemasaran farmasi harus dilandasi
ketergantungan antara empat Dimensi pokok antara lain: internal
marketing, integrate marketing, relation ship marketing, dan performance
marketing. Pemasaran internal bertujuan memastikan bahwa setiap pihak
(baik individu maupun tim kerja) dalam perusahaan farmasi atau bisnis

8
farmasi sungguh-sungguh menghayati dan menerapkan prinsip-prinsip
pemasaran farmasi. Fokus utamanya adalah merekrut, menyeleksi,
memperkerjakan, melath, dan memotivasi karyawan yang bersedia dan
sanggup melayani pelanggan dengan baik. Integrate marketing
menekankan keselarasan antar elemen bauran pemasaran, yakni produk,
harga, promosi, kuantitas dan waktu pemasaran.

1.2. Rumusan Masalah


1.2.1. Bagaimana sejarah PT. Bintang Toedjo dan informasi obat komix?
1.2.2. Dimanakah tempat pendistribusian obat komix?
1.2.3. Sebutkan bentuk-bentuk promosi obat komix!

1.3. Tujuan
1.3.1. Untuk mengetahui sejarah PT. Bintang Toedjo dan informasi obat
komix.
1.3.2. Untuk mengetahui tempat pendistribusian obat komix.
1.3.3. Untuk mengetahui bentuk-bentuk promosi obat komix.

9
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Marketing Mix


a. Pengertian Marketing Mix
Beberapa ahli di bidang ilmu pemasaran pernah menjelaskan tentang
definisi marketing mix, diantaranya adalah:
1. Kotler dan Armstrong
Pengertian marketing mix atau bauran pemasaran menurut kotler dan
Armstrong adalah perangkat alat pemasaran taktis yang dapat
dikendalikan, produk, harga, distribusi, dan promosi yang dipadukan
oleh perusahaan untuk menghasilkan respons yang diinginkan
dalam target market.
2. Alma
Pengertian marketing mix menurut Alma adalah strategi
mengkombinasikan kegiatan-kegiatan marketing, agar tercipta
kombinasi maksimal sehingga akan muncul hasil paling memuaskan.
3. Sumarmi dan Soeprihanto
Pengertian marketing mix menurut Sumarmi dan Soeprihanto adalah
kombinasi dari variabel atau kegiatan yang merupakan inti dari sistem
pemasaran yaitu produk, harga, promosi, dan distribusi. Dengan kata
lain definisi marketing mix adalah kumpulan dari variabel yang dapat
digunakan oleh perusahaan untuk dapat mempengaruhi tanggapan
konsumen.
4. Assauri
Definisi marketing mix menurut Assauri adalah kombinasi variabel
atau kegiatan yang merupakan inti dari sistem pemasaran, variabel
mana dapat di kendalikan oleh pemasaran untuk mempengaruhi reaksi
para pembeli atau konsumen.

10
5. Kismono
Pengertian marketing mix atau bauran pemasaran menurut Kismono
adalah kombinasi dari variabel atau kegiatan yang merupakan inti dari
pemasaran yang terdiri dari strategi produk (product), harga (price),
promosi (promotion), dan tempat (place).
6. Dhaimesta dan Irwan
Pengertian marketing mix menurut Dhaimesta dan Irwan adalah
variabel-variabel yang dipakai oleh perusahaan sebagai sarana untuk
memenuhi atau melayani kebutuhan dan keinginan konsumen.
Jadi dapat disimpulkan bahwa marketing mix strategi pemasaran yang
dilaksanakan secara terpadu atau strategi pemasaran yang dilakukan secara
bersamaan. Strategi tersebut digunakan dengan menerapkan elemen
strategi yang ada dalam marketing mix itu sendiri.
b. Kegiatan dan Tujuan Marketing Mix
1. Periklanan (Advertising)
Periklanan merupakan salah satu kegiatan penting dalam marketing
mix. Tujuan utama dari periklanan ini adalah untuk memberikan
informasi tentang produk (barang/ jasa) kepada target konsumen dan
untuk meningkatkan penjualan.
2. Promosi Penjualan (Sales Promotion)
Promosi penjualan adalah kumpulan berbagai alat intensif yang
dirancang untuk mendorong pembelian suatu barang/ jasa. Kegiatan
inti sebagian besar berjangka pendek dan tidak dilakukan secara
berulang. Tujuan sales promotion ini adalah untuk meningkatkan
penjualan. Kegiatan ini bisa dilakukan dengan cara pemberian diskon,
pengadaan kontes, pemberian kupon atau sampel produk.
3. Pemasaran Langsung (Direct Marketing)
Direct marketing adalah sistem pemasaran interaktif yang
menggunakan satu atau lebih media iklan untuk menghasilkan
tanggapan dan atau transaksi yang dapat diukur pada suatu lokasi.
Tujuan direct marketing adalah untuk mengkomunikasikan produk

11
atau jasa secara langsung kepada konsumen yang dianggap target
market potensial.

2.2. Komponen Marketing Mix


1. Produk (Product)
Produk disini bisa berupa apa saja (baik yang berwujud fisik semacam
makanan dan buku maupun yang bersifat digital berupa aplikasi dan
sebagainya). Produk ini juga termasuk jasa maupun layanan yang dapat
ditawarkan oleh perusahaan. Intinya produk adalah segala bentuk
penawaran yang produsen lakukan kepada klien atau customer, yang sesuai
dengan keinginan atau kebutuhan dari pelanggan itu sendiri. Secara teori,
produk merupakan segala bentuk yang ditawarkan ke pasar untuk
digunakan atau dikonsumsi sehingga bisa memenuhi kebutuhan dan
keinginan pasar. Keinginan pasar tersebut bisa berupa fisik, jasa, orang,
organisasi dan ide. Produk adalah hasil dari kegiatan produksi perusahaan
yang nantinya akan di jual oleh perusahaan itu sendiri. Produk juga bisa
jadi berupa barang yang dibeli oleh perusahaan untuk kemudian dijual
kembali kepada konsumen atau customernya. Produk atau jasa yang
dihasilkan haruslah memiliki kualitas dan keunikan yang mampu
meningkatkan daya saing produk atau jasa tersebut di pasaran.
2. Harga (Price)
Harga yang dimaksud adalah sejumlah uang yang harus dibayar oleh user
atau klien untuk mendapatkan produk yang produsen tawarkan. Dengan
kata lain, seseorang akan membeli barang jika pengorbanan yang
dikeluarkan (yaitu uang dan waktu) sesuai dengan manfaat yang ia ingin
dapatkan dari produksi barang atau jasa yang ditawarkan oleh perusahaan
tersebut. Jadi fokus terkait poin ini adalah bagaimana caranya agar
perusahaan dapat membuat pelanggan atau calon pembeli potensial merasa
pengeluarannya sesuai dengan apa yang dia dapat, atau dalam istilah
bahasa Inggris yang biasa dipakai “worth it”. Jika calon pembeli potensial
telah memiliki pemikiran bahwa ia merasa pengeluaran yang akan

12
dikeluarkan tersebut sebanding dengan apa yang ia dapatkan, mereka akan
segera datang ke toko atau mengunjungi product page perusahaan di
website (bagi perusahaan yang bergerak di bisnis e-commerce atau online
shop). Mereka akan segera memesan produk atau jasa apapun yang
ditawarkan pada mereka. Ada beberapa pertanyaan mendasar sebelum
perusahaan mematok berapa harga dari produk dan jasa yang akan
ditawarkan. Berikut adalah beberapa p
ertanyaan tersebut:
 Berapa biaya produksi yang harus tanggung untuk membuat produk
atau melaksanakan layanan yang ditawarkan tersebut?
 Kira-kira seberapa nilai dari produk yang dihargai oleh customer
nantinya?
 Apakah sedikit pengurangan harga jual bisa meningkatkan jumlah
keinginan pasar?
 Apakah harga dari suatu produk tersebut bisa tetap dalam jangkauan
seperti pada kompetitor bisnis?
3. Saluran Distribusi (Place)
Saluran distribusi yang tepat juga menentukan berhasil tidaknya strategi
marketing. Oleh karena itu, saluran distribusi menempati posisi yang
krusial dalam marketing mix. Adapun definisi dari saluran distribusi ini
sendiri adalah berbagai kegiatan atau upaya apapun yang dilakukan oleh
perusahaan untuk membuat produk atau jasanya mudah diperoleh atau
tersedia di tangan konsumen maupun pelanggannya. Karena tujuan dari
distribusi adalah menyediakan barang dan jasa yang dibutuhkan dan
diinginkan oleh konsumen pada waktu dan tempat yang tepat, maka
kemudahan akses maupun ketersediaan produk pada outlet yang tepat juga
harus diperhatikan oleh setiap perusahaan. Ada beberapa pertanyaan
mendasar sebelum perusahaan mengembangkan eksekusi distribusi Anda.
Berikut adalah pertanyaan-pertanyaan tersebut:
 Di mana klien atau potential buyer biasa mendapat atau mencari produk
yang mereka inginkan?

13
 Bagaimana cara yang bisa dilakukan untuk mengakses berbagai saluran
distribusi yang ada dan ingin dipakai?
 Apa perbedaan atau keunggulan strategi saluran distribusi yang
digunakan bila dibandingkan dengan para kompetitor bisnis?
4. Promosi (Promotion)
Promosi yang dimaksud adalah sebuah upaya persuasi (bujukan atau
dorongan) untuk mengajak para konsumen maupun calon konsumen untuk
membeli (atau menggunakan) produk maupun jasa yang dihasilkan oleh
suatu perusahaan. Ada beberapa elemen yang dapat perusahaan optimalkan
terkait promosi. Berikut adalah beberapa elemen tersebut:
 Sales person. Sales person ini adalah orang-orang yang melakukan
penawaran produk maupun jasa yang ditawarkan oleh perusahaan Anda
ke target pasar atau orang-orang).
 Public relation. Public relation adalah orang-orang yang
bertanggungjawab untuk menjaga nama baik perusahaan, sekaligus
menjalankan fungsi branding bagi perusahaan sehingga brand
perusahaan dikenal oleh banyak orang secara positif.
 Periklanan. Periklanan maksudnya adalah segala macam promosi yang
dipublikasikan melalui berbagai saluran media. Perusahaan dapat
menentukan saluran media apa yang tepat sesuai karakter produk dan
kebutuhan pasar baik itu televisi, koran, radio atau baliho.

2.3.Analisis SWOT
a. Pengertian SWOT
Menurut Freddy Rangkuti, analisis SWOT adalah identifikasi berbagai
faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahan. Analisis ini
didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths)
dan peluang (opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan
kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats).
Analisis SWOT menurut Sondang P. Siagian merupakan salah satu
instrumen analisis yang ampuh apabila digunakan dengan tepat. Telah

14
diketahui pula secara luas bahwa “SWOT merupakan akronim untuk kata-
kata strengths (kekuatan), weaknesses (kelemahan), opportunities (peluang)
dan threats (ancaman).
Analisis SWOT menurut Philip Kotler diartikan sebagai evaluasi terhadap
keseluruhan kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman. Analisis SWOT
merupakan salah satu instrumen analisis lingkungan internal dan eksternal
perusahaan yang dikenal luas. Analisis ini didasarkan pada asumsi bahwa
suatu strategi yang efektif akan meminimalkan kelemahan dan ancaman.
Bila diterapkan secara akurat, asumsi sederhana ini mempunyai dampak
yang besar atas rancangan suatu strategi yang berhasil.
b. Fungsi SWOT
Menurut Ferrel dan Harline (2005), fungsi dari analisis SWOT adalah untuk
mendapatkan informasi dari analisis situasi dan memisahkannya dalam
pokok persoalan internal (kekuatan dan kelemahan) dan pokok persoalan
eksternal (peluang dan ancaman). Analisis SWOT tersebut akan
menjelaskan apakah informasi tersebut berindikasi sesuatu yang akan
membantu perusahaan mencapai tujuannya atau memberikan indikasi
bahwa terdapat rintangan yang harus dihadapi atau diminimalkan untuk
memenuhi pemasukan yang diinginkan.
c. Faktor-Faktor Strategis dalam Analisis SWOT
1. Faktor berupa kekuatan
Yang dimaksud dengan faktor-faktor kekuatan yang dimiliki oleh suatu
perusahaan termasuk satuan-satuan bisnis didalamnya, antara lain
kompetisi khusus yang terdapat dalam organisasi yang berakibat pada
pemilikan keunggulan komparatif oleh unit usaha dipasaran. Dikatakan
demikian karena satuan bisnis memilki sumber keterampilan, produk
andalan dan sebagainya yang membuatnya lebih kuat dari pada pesaing
dalam memuaskan kebutuhan pasar yang sudah dan direncanakan akan
dilayani oleh satuan usaha yang bersangkutan.

15
2. Faktor kelemahan
Yang dimaksud dengan kelemahan ialah keterbatasan atau kekurangan
dalam hal sumber, keterampilan, dan kemampuan yang menjadi
penghalang serius bagi penampilan kinerja organisasi yang memuaskan.
3. Faktor peluang
Definisi peluang secara sederhana peluang ialah berbagai situasi
lingkungan yang menguntungkan bagi suatu satuan bisnis.
4. Faktor ancaman
Pengertian ancaman merupakan kebalikan pengertian peluang yaitu
faktor-faktor lingkungan yang tidak menguntungkan suatu satuan bisnis
jika jika tidak diatasi ancaman akan menjadi bahaya bagi satuan bisnis
yang bersangkutan baik unutk masa sekarang maupun dimasa depan.
d. Model Pendekatan dalam Menganalisa SWOT
1. Matrik SWOT
Matrik ini dapat mengambarkan secara jelas bagaimana peluang dan
ancaman eksternal yang dihadapi perusahaan dapat disesuaikan dengan
kekuatan dan kelemahan yang dimilki perusahaan.
2. Matrik Boston Consulting Group
Matrik BCG diciptakan oleh Boston Consulting Group (BCG) yang
mempunyai beberapa tujuan diantaranya adalah untuk mengembangkan
strategi pangsa pasar untuk portofolio produk berdasarkan karakteristik
cash-flownya, serta untuk memutuskan apakah perlu meneruskan
investasi produk yang tidak menguntungkan. Matriks BGC juga dapat
digunakan untuk mengukur kinerja manajemen berdasarkan kinerja
produk di pasaran.
3. Matrik Internal dan Eksternal
Matrik ini dapat dikembangkan dari model Boston Consulting Group
(GE-Model) parameter yang digunakan meliputi parameter kekuatan
internal parusahaan dan pengaruh eksternal yang dihadapi. Tujuan
penggunaan model ini adalah untuk memperoleh strategis bisnis
ditingkatkan korporat yang lebih detail.

16
4. Matrik Space
Matrik space adalah untuk mempertajam analisis agar perusahaan dapat
melihat posisi dan arah perkembangan dimasa akan datang. Matrik
space dapat memperlihatkan denga jelas kekuatan keuangan dan
kekuatan industry pada suatu perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa
perusahaan tersebut secara financial relative cukup kuat untuk
mendayagunakan keuntungan kompetitif secara optimal melalui
tindakan agresif dalam merebut pasar.
5. Matrik Grand Strategy
Matrik ini biasa digunakan untuk memecahkan masalah yang sering
dihadapi dalam penggunaan analisis SWOT yaitu untuk menentukan
apakah perusahan ingin memanfaatkan posisi yang kuat atau mengatasi
kendala yang ada dalam perusahaan.

17
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Contoh Produk


a. Sejarah PT. Bintang Toedjoe
PT Bintang Toedjoe
merupakan salah satu anak
perusahaan terbesar dari PT
Kalbe Farma Group, yang
notabene merupakan perusahaan farmasi terkemuka di Indonesia. Bintang
Toedjoe sendiri didirikan pada tanggal 29 April 1946. Pada saat itu Tan Jun
She bersama dengan menantunya yang bernama Tjia Pu Tjien dan Hioe On
Tjan ingin mendirikan sebuah perusahaan farmasi yang kemudian diberi
nama Bintang Toedjoe. Nama Bintang Toedjoe sendiri muncul karena
terinspirasi dari anak Tan Jun yang berjumlah tujuh orang.
Resep pertama yang diracik Tan Jun adalah obat sakit kepala yang
kemudian diberi nama Puyer Bintang Toedjoe No. 16. Produk buatan Tan
Jun direspon cukup baik di pasaran, sehingga dia mulai memproduksi obat
dalam skala lebih besar di pabrik. Tak memerlukan waktu yang lama bagi
Puyer No. 16 untuk merajai pasaran. Terbukti bahwa obat sakit kepala yang
manjur dengan harga terjangkau ini banyak dicari oleh konsumen
Indonesia. Tak khayal bahwa pabrik obat sakit kepala ini kemudian
dipindahkan dari yang semula di Garut menuju ke Jakarta.
Sejalan dengan permintaan konsumen yang semakin bervariasi akan
jenis obat, akhirnya pada tahu 1974 Bintang Toedjoe mulai memproduksi
obat resep dokter (ethical). Kemajuan ini juga dibantu dengan semakin
banyaknya ahli farmasi dalam kegiatan produksi perusahaan. Beberapa
tahun berselang, tepatnya pada tahun 1985, Bintang Toedjoe diakuisisi oleh
Kalbe Farma yang menyebabkan semakin berkembangnya bisnis yang
dihadapi Bintang Toedjoe. Sektor pasar Bintang Toedjoe merupakan

18
kalangan menengah ke bawah yang membutuhkan produk farmasi yang
berkualitas namun dengan harga terjangkau.
Seiring dengan jumlah produksi yang semakin meningkat, akhirnya
pada tahun 1993 Bintang Toedjoe memindahkan lokasi produksinya ke
Kawasan Industri Pulogadung dengan menempati area seluas 12.000 meter
persegi. Pada tahun 2002, Bintang Toejdoe juga membuka pabrik bagi di
atas tanah seluas 25.000 meter persegi. Dengan kedua pabrik tersebut
Bintang Toejdoe masih tetap beroperasi hingga saat ini.
Adapun beberapa penghargaan yang telah diraih Bintang Toedjoe
antara lain menerima sertifikasi CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik)
dari Departemen Kesehatan RI tahun 1994 untuk pabrik Pulogadung, dan
sertifikat ISO 9001 pada tahun 1997 (PT Bintang Toedjoe menjadi salah
satu perusahaan farmasi pertama di Indonesia yang menerimanya). Selain
itu Bintang Toedjoe juga memperoleh sertifikat bertaraf internasional,
yakni ISO 14000, HACCP, dan OHSAS. Beberapa produk buatan Bintang
Toedjoe antara lain Extra Joss, E-Juss, Komix dan produk warisan Puyer
Bintang Toedjoe No. 16. Komitmen yang terus dijaga membuat Bintang
Toedjoe tetap menjadi produsen produk farmasi yang dipercaya oleh
masyarakat hingga saat ini.
b. Indikasi, Komposisi, Dosis dan Aturan Pakai, Kontraindikasi, Perhatian,
Golongan Obat, Kemasan, Harga
1. Indikasi:
Antitusif dan ekspektoran pada batuk produktif maupun non produktif.
2. Komposisi per sachet:
Guaifenesin 100 mg
Dextromethorphan HBr 15 mg
Chlorpheniramine maleate 2 mg
3. Dosis dan aturan pakai:
Dewasa: 3-4 kali sehari 1-2 sachet, diminum setelah makan.
Anak: 3-4 kali sehari ½-1 sachet, diminum setelah makan.

19
4. Kontraindikasi:
Penderita dengan gangguan jantung, diabetes melitus dan penderita
hipersensitif terhadap komponen obat ini.
5. Perhatian :
Hati - hati penggunaan pada penderita dengan gangguan fungsi hati dan
ginjal, glaukoma, hipertrofi prostat, hipertiroid dan retensi urine. Tidak
dianjurkan penggunaan pada anak usia di bawah 6 tahun, wanita hamil
dan menyusui, kecuali atas petunjuk dokter. Hati - hati penggunaan
bersamaan dengan obat - obtan lain yang menekan susunan saraf pusat.
6. Golongan obat: Bebas terbatas
7. Kemasan: Dus berisi 30 sachet; 10 sachet
8. Harga:
PBF ke apotek:
Apotek ke konsumen: Rp 37500/ dus

3.2. Tempat distribusi


Komix banyak didistribusikan di apotek, toko obat, dan beberapa swalayan.

3.3. Promosi
Promosi komix berupa iklan di televisi, shopblind, roll banner, umbul-
umbul, flyer, banner advertising, spanduk, T banner, event desk.

20
BAB IV
PENUTUP

21
DAFTAR PUSTAKA

Bahri, Saeful. 2015. Analisis Marketing Mix-7 (Product, Price, Promotion, Place,
People, Physical Evidence and Process) Terhadap Keputusan Pembelian di
Toko Busana Muslim Al-Hakim Purwakarta Jawa Barat. Universitas Islam
Negeri Sunan Kalijaga. Yogyakarta.
Ikatan Apoteker Indonesia. 2016. ISO (Informasi Spesialite Obat). PT. ISFI
Penerbitan. Jakarta.
Kurniawan, Adin Hakim dan Yayan Setiawan. 2018. Pemasaran Farmasi.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta.
Nurwinda, Andi. 2011. Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker di PT. Bintang
Toedjo Jl. Rawa Sumur Barat II/K-9, Jakarta Timur Periode 5 September – 4
November 2011. Universitas Indonesia. Depok.
Siagian, Sondang P. 2000. Manajemen Strategik. PT Bumi Aksara. Jakarta.

22