Anda di halaman 1dari 21

Cerita legenda asal usul dinamakan Gunung Rinjani Lombok

Bagikan :
Kali ini saya menuliskan sebuah artikel tentang pulau Lombok yang berjudul Misteri dan
sejarah yang masih tersimpan di Gunung Rinjani Lombok. Dimana nanti saya akan
mengulas tentang sejarah asal usul dinamakan gunung rinjani, kenapa diberikan nama
rinjani?. Silahkan lanjut membaca artikel ini yang berkisahkan cerita rakyat dari Lombok.
Jika ingin mengetahui lebih banyak lagi, lanjut membaca tentang pulau Lombok.

Sampai sekarang dan hingga saat ini Pulau ini teteap menjadi populer oleh wisatawan dimana
di pulau Lombok ini terdapat gunung terbesar ke 3 di Indonesia yakni Gunung Rinjani
(Montain Rinjani) yang bigitu indah pemandangan alamnya.

Gunung Rinjani adalah gunung terbesar ketiga di Indonesia setelah gunung di Pulau Papua
dan Jawa. Gunung Rinjani terletak di Pulau Lombok - Nusa Tenggara Barat - Indonesia,
tepatnya di Lombok Timur yang ber-ibu kotakan Selong. Gunung ini memliki ketinggian
3.726 m (diatas permukaan laut) dan terletak pada lintang 8º25' LS dan 116º28' BT, Gunung
ini merupakan Gunung favorit bagi para pendaki Indonesia karna keindahan alam yang
dimilikinya.

Gunung ini merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Rinjani yang memiliki luas
sekitar 41.330 ha dan ini akan diusulkan penambahannya sehingga menjadi 76.000 ha ke arah
barat dan timur. Danau kawah Segara Anak yang dimilikinya dengan Gunung Barujari di tepi
danau dilihat dari puncak Gunung Rinjani di sisi timur. Gunung Rinjani dengan titik tertinggi
3.726 m (diatas permukaa laut) , mendominasi sebagian besar pemandangan Pulau Lombok
bagian utara.

Di sebelah barat kerucut Rinjani terdapat kaldera dengan luas sekitar 3.500 m × 4.800 m.
Memanjang kearah timur. Di kaldera ini terdapat Segara Anak (segara = laut, danau) seluas
11.000.000 m persegi dengan kedalaman 230 m. Air yang mengalir dari danau tersebut
membentuk air terjun yang memiliki pemandangan yang sangat indah. mengalir melewati
jurang yang tajam dan curam.

Di Segara Anak banyak dijumpai ikan mas dan mujair sehingga sering digunakan untuk
memancing. Bagian selatan danau ini disebut dengan Segara Endut. Di sisi timur kaldera
terdapat Gunung Baru (atau Gunung Barujari) yang memiliki kawah berukuran 170m×200 m
dengan ketinggian 2.296 - 2376 m (diatas permukaan laut). Gunung kecil ini terakhir
aktif/meletus sejak tanggal 2 Mei 2009 dan sepanjang Mei, setelah sebelumnya meletus pula
pada tahun 2004. Jika letusan tahun 2004 tidak memakan korban jiwa, dan pada letusan tahun
2009 ini telah memakan korban jiwa tidak langsung sebanyak 31 orang, karena banjir
bandang pada Kokok (Sungai) Tanggek akibat desakan lava ke Segara Anak. Sebelumnya,
Gunung Barujari pernah tercatat meletus pada tahun 1944 (sekaligus pembentukannya), 1966,
dan 1994.

Gunung ini merupakan bagian dari ‘cincin api’ yang terkenal dan memegang peranan penting
dalam aspek kehidupan spiritual masyarakat setempat. Diperkirakan bahwa nama Rinjani
berasal dari istilah Jawa Kuno yaitu ‘Tuhan’.

Di sekitar lereng Gunung Rinjani terdapat hutan lebat yang diperciki air terjun dan dikelilingi
pemandangan yang luar biasa indahnya maka tidak heran banyak visitor dari luar negeri
maupun dalam negeri. Di dalam kawasan gunung terdapat danau berbentuk sabit yaitu danau
Segara Anak yang luar biasa yang jaraknya sekitar 6 km bersebrangan dengan titik
terlebarnya. Danau sulfur ini berada 600 m di bawah lereng kawah. Dari tengah danau ini
naik gunung api yang baru yaitu Gunung Baru yang merupakan akibat dari erupsi bertubi-
tubi tahun 1990-an.

Segara Anak merupakan tempat spiritual. Orang Bali datang kesini setiap tahun dan
mengadakan upacara yang disebut pekelan dimana perhiasan ditempatkan di danau sebagai
persembahan kepada roh gunung. Masyarakat Sasak Wetu Telu juga menganggap danau
tersebut sebagai tempat suci dan mereka datang ke sini untuk berdoa pada malam bulan
purnama.

Gunung Rinjani terbentang di Taman Nasional Gunung Rinjani. Taman dengan luas 41.330
ha dan di dalamnya terdapat zona transisi Garis Wallacea. Di tempat inilah flora dan fauna
tropis Asia Tenggara bertemu dengan flora dan fauna Australia. Taman Nasional ini didirikan
tahun 1997 dan merupakan salah satu dari 40 taman nasioanl yang ada di Indonesia.

Bagi para wisatawan, rute trek Rinjani yang berlangsung selama 3 hari meliputi trekking dari
Senaru ke lereng kawah, menuruni kawah danau lalu berlanjut ke Sembalun Lawang yang
dianggap sebagai salah satu tempat penjelajahan terbaik di Asia Tenggara. Para trekker yang
sejati biasanya meneruskan perjalanan ke puncak gunung berapi. Gunung berapi ini dapat
ditempuh dari Sembalun Lawang dan menghabiskan waktu 4 hari yang berakhir di Senaru.

Untuk memastikan bahwa masyarakat setempat mendapatkan keuntungan dari pemasukan


pariwisata maka Trek Rinjani dikelola oleh kemitraan resmi Taman Nasional yaitu
perwakilan masyarakat dan industri sektor umum dan pribadi pariwisata Lombok.
Masyarakat menjalankan koordinasi koperatif penjelajahan di Rinjani Trek Center (RTC) di
Senaru dan Rinjani Information Center (RIC) di Sembalun Lawang.

Pemasukan dari pariwisata dan tiket masuk digunakan untuk konservasi, manajemen, dan
membantu Taman Nasional dengan pemeliharaan Trek Rinjani, dengan demikian Taman
Nasional dapat terpelihara dengan baik. Model manajemen ini adalah manajemen yang unik
di Indonesia dan dianggap sebagai contoh praktik ekowisata di Indonesia.

Danau segara anak menyimpan berbagai misteri dan dan kekuatan gaib, itulah sebabnya
manusia merasa betah tinggal lama di tempat ini. Disinilah komunitas mahkluk gaib yang
disebut Jin bermukim dalam jumlah yang sangat banyak. Keyakinan masyarakat apabila
Danau Segara Anak terlihat luas menandakan bahwa umur orang orang yang melihat itu
masih panjang. Sebaliknya jika tampak sempit maka menandakan umur si penglihat pendek,
untuk itu harus melakukan bersih diri artinya harus berjiwa tenang, bangkitkan semangat
hidup, pandang kembali danau sepuas-puasnya.

Setiap tahun diadakan upacara adat di danau ini baik oleh masyarakat yang beragama Hindu
Bali atau pun Islam masyarakat Sasak. Masyarakat Hindu Bali dua kali setahun mengadakan
upacara agama di danau ini. Masyarakat Sasak bisa beberapa kali mengadakan perjalanan
dalam satu tahun. Terdapat air terjun kokok putih dan juga air panas yang sering dikunjungi
orang untuk tujuan pengobatan.

Puncak Gunung Rinjani diyakini oleh masyarakat Lombok sebagai tempat bersemayam ratu
jin, penguasa gunung Rinjani yang bernama Dewi Anjani. Dari puncak ke arah tenggara
terdapat sebuah kaldera lautan debu yang dinamakan Segara Muncar. Pada saat-saat tertentu
dengan kasat mata dapat terlihat istana Ratu Jin.

Pada zaman dahulu tidak jauh dari pelabuhan Lembar, terdapat sebuah Kerajaan Tuan yang
diperintah oleh seorang Raja yang sangat bijaksana bernama Datu Tuan bersama
permaisurinya yang sangat cantik Dewi Mas. Di bawah pemerintahan Raja Datu Tuan,
kerajaan dalam keadaan aman, damai, dan tenteram. Namun meskipun demikian Raja
kelihatan sering bersedih, hal ini dikarenakan beliau belum dikarunia seorang putera,
sementara Raja dan Permaisuri sudah semakin bertambah tua.

Pada suatu hari Raja dan permaisuri duduk bercakap-cakap membicarakan masalah keluarga.
Baginda mengemukakan bagaimana susahnya kelak karena tidak memiliki anak. Bersabdalah
Datu Tuan “Adinda kanda ingin menyampaikan permintaan, ijinkanlah kakanda mengambil
istri seorang lagi. Mudah-mudahan dengan demikian kita akan dikaruniai anak yang akan
menggantikan pemerintahan kelak”.
Setelah Sang Permaisuri menyetujui, maka Baginda Datu Tuan segera meminang seorang
gadis cantik yang bernama Sunggar Tutul, puteri dari Patih Aur.

Semenjak itu perhatian Raja terhadap Dewi Mas berkurang, beliau lebih sering tinggal di
istana isteri yang baru. Raja yang terkenal adil ini telah bertindak tidak adil terhadap
permaisurinya. Meskipun demikian Dewi Mas tetap selalu sabar, dan karena kemurahan
Yang Maha Kuasa maka Dewi Mas mengandung.
Berita tentang Dewi Mas mengandung ini tentu saja mengejutkan Sunggar tutul, ia takut Raja
akan berpaling dari dirinya dan kembali ke Permaisuri Dewi Mas. Untuk itu dengan cara
yang licik Sunggar Tutul menghasut Raja, bahwa kehamilan Dewi Mas diakibatkan oleh
perbuatan serong dengan seorang yang bernama Lok Deos.

Murkalah Baginda Datu Tuan, maka Dewi Mas pun di usir dari istana dan dibuang ke sebuah
gili. Dengan ditemani para pengiringnya Dewi Mas tinggal di gili, mereka membangun suatu
pemukiman. Dewi Mas tetap tegar dalam menempuh kehidupan menuju hari depan. Pada
suatu ketika lewatlah sebuah kapal mendekati gili tersebut, seperti ada suatu kekuatan gaib
sang Nakhoda kapal tersebut mengarahkan kapalnya ke gili, dan dari kejauhan dia melihat
seorang wanita cantik yang bersinar. Nakhoda dan para awak kapalpun berlabuh dan mampir
ke pondok Dewi Mas.

Setelah dijamu para penumpang kapal tersebut menanyakan kenapa Dewi Mas bisa tinggal di
tempat tersebut, karena selama ini gili tersebut tidak berpenghuni. Dewi Mas pun
menceritakan semua peristiwa yang dialaminya. Dewi Mas meminta Nakhoda dan awak
kapal tersebut untuk mengantarkannya ke pulau Bali. Akhirnya Dewi Mas beserta para
pengiringnya tinggal di Bali dan membangun pemukiman baru.
Hari kelahiranpun tiba, Dewi Mas melahirkan dua anak kembar yang masing-masing disertai
dengan keajaiban. Seorang bayi laki-laki lahir beserta sebilah keris, dan seorang lagi bayi
perempuan lahir beserta anak panah. Bayi laki-laki ini diberi nama Raden Nuna Putra Janjak
sedangkan bayi perempuan dinamakan Dewi Rinjani.

Kedua bayi tersebut tumbuh besar menjadi anak-anak yang lucu dan menarik. Namun pada
suatu hari kedua anak tersebut menanyakan siapakah ayah mereka, karena selama ini mereka
sering diejek teman-temannya karena tidak punya ayah. Karena desakan kedua anaknya yang
terus menerus, maka Dewi Mas pun menceritakan semua kisah yang dialaminya.
Diceritakannya bahwa ayah mereka adalah seorang Raja di Lombok yang bernama Datu
Tuan, dirinya dibuang kesebuah gili karena difitnah oleh madunya Sunggar Tutul.

Raden Nuna Putra Janjak menjadi sangat marah dia memohon kepada ibunya agar diijinkan
untuk menemui ayahnya ke Lombok. Karena terus di desak akhirnya Dewi Mas pun
mengijinkan puteranya bersama para pengiring berlayar ke Lombok.

Sesampai di Lombok Raden Nuna Putra Janjak segera masuk ke istana namun di hadang oleh
para penjaga. Pertarunganpun tak terelakkan, Raden Nuna Putra Janjak meskipun masih kecil
namun dengan keris ditangan yang muncul bersamaan ketika ia lahir, sangatlah sakti dan tak
tertandingi. Banyak lawan yang tak berdaya hingga Baginda Datu Tuan harus turun
bertanding. Pertarungan yang serupun terjadilah, mereka saling menghujamkan kerisnya.
Mereka berdua sama kuat, keris masing-masing tidak dapat saling melukai. Tiba-tiba
terdengarlah suara gaib dari angkasa ” Hai Datu Tuan, jangan kau aniaya anak itu. Anak itu
adalah anak kandungmu sendiri dari istrimu Dewi Mas”.

Setelah mendengar suara itu , ia amat menyesal maka dipeluknya Raden Nuna Putra Janjak.
Setelah mendengar cerita dari Raden Nuna Putra Janjak , maka Baginda Datu Tuan segera
menjemput permaisuri ke Bali. Seluruh istana dan penduduk Tuan bersuka cita, Dewi Mas
tidak menaruh dendam sama sekali kepada Sunggar Tutul, mereka semua hidup damai dan
tenteram. Raden Nuna Putra Janjak tumbuh dewasa menjadi seorang pemuda yang sangat
tampan dan bijaksana. Baginda Datu Tuan sudah semakin tua dan akhirnya menyerahkan
tahta kerajaan kepada puteranya.

Sesudah puteranya naik tahta Baginda Datu Tuan kemudian menyepi di gunung diiringi
putrinya Dewi Rinjani. Di puncak gunung itulah baginda dan puterinya bertapa bersemedi
memuja Yang Maha Kuasa. Di puncak gunung ini Dewi Rinjani diangkat oleh para Jin dan
mahluk halus untuk dijadikan Ratu. Dan sejak saat itulah gunung yang tinggi di pulau
Lombok tersebut dinamakan Gunung Rinjani.
Legenda Lombok Tentang Cerita Dewi Anjani
Bagikan :
Kisah Ratu Dewi Anjani / Menapak Sejarah Gunung Rinjani. Pada satu masa di dekat negeri
Alengka (tempat para raksasa), tersebutlah sebuah pertapaan yang disebut dengan Gunung
Sukendra. Pertapaan itu dihuni oleh Resi Gotama dan keluarganya. Resi Gotama adalah
keturunan Bathara Ismaya, putra Prabu Heriya dari Mahespati. Resi Gotama memiliki
seorang kakak bernama Prabu Kartawirya yang kelak akan menurunkan Prabu
Arjunasasrabahu. Atas jasa-jasa dan baktinya kepada para dewa, Resi Gotama dianugrahi
seorang bidadari kahyangan bernama Dewi Windradi. Dari hasil perkawinannya mereka
dikaruniai tiga orang anak Dewi Anjani, Guwarsa (Subali) dan GuwaResi (Sugriwa).

Tahun berganti tahun, Dewi Windradi yang selalu dalam kesepian karena bersuamikan
seorang brahmana tua, akhirnya tergoda oleh panah asmara Bhatara Surya (dewa Matahari).
Terjadi saat sang dewi sering berjemur telanjang mandi sinar matahari di pagi hari.
Terjalinlah hubungan asmara secara rahasia sedemikian rapih sehingga sampai bertahun-
tahun tidak diketahui oleh Resi Gotama, maupun oleh ketiga putranya yang sudah menginjak
dewasa. Akibat suatu kesalahan kecil yang dilakukan oleh Dewi Anjani, jalinan kasih yang
sudah berlangsung cukup lama itu, akhirnya terbongkar dan membawa akibat yang sangat
buruk bagi keluarga Resi Gotama.

Karena rasa cintanya yang begitu besar pada Dewi Anjani, Dewi Windradi mengabaikan
pesan Bhatara Surya, memberikan pusaka kedewataan Cupumanik Astagina kepada Anjani.
Padahal ketika memberikan Cupumanik Astagina kepada Dewi Windradi, Bhatara Surya
telah berwanti-wanti untuk jangan sekah-kali benda kedewatan itu ditunjukkan apalagi
diberikan orang lain, walau itu putranya sendiri. Kalau pesan itu sampai terlanggar, sesuatu
kejadian yang tak diharapkan akan terjadi.

Cupumanik Astagina adalah pusaka kadewatan yang menurut ketentuan dewata tidak boleh
dillhat atau dimiliki oleh manusia lumrah. Larangan ini disebabkan karena Cupumanik
Astagina disamping memiliki khasiat kesaktian yang luar biasa, juga didalamnya
mengandung rahasia kehidupan alam nyata dan alam kesuragaan. Dengan membuka
Cupumanik Astagina, melalui mangkoknya kita akan dapat melihat dengan nyata dan jelas
gambaran surga yang serba polos, suci dan penuh kenikmatan.

Sedangkan dari tutupnya akan dapat dilihat dengan jelas seluruh kehidupan semua makluk
yang ada di jagad raya. Sedangkan khasiat kesaktian yang dimiliki Cupumanik Astagina ialah
dapat memenuhi semua apa yang diminta dan menjadi keinginan pemiliknya.
Bagi masyarakat hindu, cupu ini merupakan suatu wadah berbentuk bundar berukuran kecil
terbuat dari kayu atau logam. Manik=permata, melambangkan sesuatu yang indah.
Asthagina=delapan macarn sifat yang harus dimiliki oleh seorang brahmana:

1. daya sarwa buthesu (belas kasih kepada sekalian makluk),

2. ksatim (suka memaafkan, sabar),

3. anasunyah ( tidak kecewa atau menyesal),

4. saucam (suci lahir batin),

5. anayasah (tidak mengeluarkan tenaga berlebih-lebihan. Jawa; nyengka, ngaya),

6. manggalam (beritikad baik),

7. akarpanyah (tidak merasa miskin baik dalam hal batiniah maupun lahiriah, begitu
pula dalam hal budi),

8. asprebah (tidak berkeinginan atau bahwa nafsu duniawi)].

Namun dorongan rasa cinta terhadap putri tunggaInya telah melupakan pesan Bhatara Surya.
Dewi Windradi memberikan Cupumanik Astagina kepada Anjani, disertai pesan agar tidak
menunjukkan benda tersebut baik kepada ayahnya maupun kepada kedua adiknya.

Suatu kesalahan dilakukan oleh Anjani. Suatu hari ketika ia akan mencoba kesaktian
Cupumanik Astagina, kedua adiknya, Guwarsa dan Guwarsi melihatnya. Terjadilah keributan
diantara mereka, saling berebut Cupumanik Astagina. Anjani menangis melapor pada ibunya,
sementara Guwarsa dan Guwarsi mengadu pada ayahnya. Bahkan secara emosi Guwarsa dan
Guwarsi menuduh ayahnya, Resi Gotama telah berbuat tidak adil dengan menganak emaskan
Anjani. Suatu tindakan yang menyimpang dari sifat seorang resi.

Tuduhan kedua putranya membuat hati Resi Gotama sedih dan prihatin, sebab ia merasa tidak
pernah berbuat seperti itu. Segera ia memerintahkan Jembawan, pembantu setianya untuk
memanggil Dewi Anjani dan Dewi Windradi. Karena rasa takut dan hormat kepada ayahnya,
Dewi Anjani menyerahkan Cupumanik Astagina kepada ayahnya. Anjani berterus terang,
bahwaa benda itu pemberian dari ibunya.

Sementara Dewi Windradi bersikap diam membisu tidak berani berterus terang dari mana ia
mendapatkan benda kadewatan tersebut. Dewi Windradi seperti dihadapkan pada buah
simalakama. Berterus terang, akan memebongkar hubungan gelapnya dengan Bhatara Surya.
Bersikap diam, sama saja artinya dengan tidak menghormati suaminya.

Sikap membisu Dewi Windradi membuat Resi Gotama marah, dan mengutuknya menjadi
patung batu, yang dengan kesaktiannya, dilemparkannya melayang, dan jatuh di taman
Argasoka kerajaan Alengka disertai kutukan, kelak akan memjelma kembali menjadi manusia
setelah dihantamkan ke kepala raksasa.

Demi keadilan, Resi Gotama melemparkan Cupumanik Astagina ke udara. Siapapun yang
menemukan benda tersebut, dialah pemiliknya. Karena dorongan nafsu, Dewi Anjani,
GuwaResi Guwarsa dan Jembawan segera mengejar benda kadewatan tersebut. Tetapi
Cupumanik Astagina seolah-olah mempunyal sayap. Sebentar saja telah melintas dibalik
bukit. Cupu tersebut terbelah menjadi dua bagian, jatuh ke tanah dan berubah wujud menjadi
telaga. Bagian Cupu jatuh di negara Ayodya menjadi Telaga Nirmala, sedangkan tutupnya
jatuh di tengah hutan menjadi telaga Sumala.

[ Mitos yang hidup di kalangan masyarakat Dieng menyebutkan bahwa Telaga Merdada,
yang letaknya 3,5 kilometer dari Desa Dieng, dianggap sebagai penjelmaan dari Cupu Manik
Astagina. Di dekat Telaga Pengilon atau Telaga Cermin (konon cerita, bisa dipakai untuk
kaca cermin) terdapat Goa Semar. Masyarakat setempat mempercayainya sebagai bekas
tempat semedi Bodronoyo atau Semar. Goa batu ini mempunyai panjang sekitar lima meter
dan dikeramatkan oleh masyarakat Dieng ].

Anjani, Guwarsi, Guwarsa dan Jembawan yang mengira cupu jatuh kedalam telaga, langsung
saja mendekati telaga dan meloncat masuk kedalamnya. Suatu malapetaka terjadi, Guwarsa,
Guwarsi dan Jembawan masing-masing berubah wujud menjadi seekor manusia kera.
Melihat ada seekor kera dihadapannya, Guwarsa menyerang kera itu karena menganggap
kera itu menghalang-halangi perjalanannya.

Pertarungan tak pelak terjadi diantara mereka. Pertempuran seru dua saudara yang sudah
menjadi kera itu berlangsung seimbang. Keduanya saling cakar, saling pukul untuk
mengalahkan satu dengan lainnya. Sementara Jembawan yang memandang dari kejauhan
tampak heran melihat dua kera yang bertengkar namun segala tingkah laku dan
pengucapannya sama persis seperti junjungannya Guwarsa dan Guwarsi. Dengan hati-hati
Jembawan mendekat dan menyapa mereka. Merasa namanya dipanggil mereka berhenti
bertengkar. Barulah mereka sadar bahwa ketiganya telah berubah wujud menjadi seekor kera.
Dan merekapun saling berpelukan! menangisi kejadian yang menimpa diri mereka.

Adapun Dewi Anjani yang berlari-lari datang menyusul, karena merasa kepanasan,
sesampainya di tepi telaga lalu merendamkan kakinya serta membasuh mukanya, dan…
wajah, tangan dan kakinya berubah ujud menjadi wajah, tangan dan kaki kera. Setelah
masing-masing mengetahui adanya kutukan dahsyat yang menimpa mereka, dengan sedih
dan ratap tangis penyesalan, mereka kembali ke pertapaan.

Resi Gotama yang waskita dengan tenang menerima kedatangan ketiga putranya yang telah
berubah wujud menjadi kera. Setelah memberi nasehat seperlunya, Resi Gotama menyuruh
ketiga putranya untuk pergi bertapa sebagai cara penebusan dosa dan memperoleh anugerah
Dewata.

Subali ‘tapangalong’ bergantungan di atas pepohonan seperti kalong (kelelawar besar)


layaknya. Sugriwa ‘tapa ngidang’ mengembara dalam hutan seperti kijang, sedang Anjani
‘tapa ngodhok’ berendam di air seperti katak ulahnya di tepi telaga Madirda. la tidak makan
kalau tidak ada dedaunan atau apapun yang dapat dimakan yang melayang jatuh di
pangkuannya, dan untuk melepas rasa haus ia membasahi mulutnya dengan air embun.

Beberapa tahun berialu, syahdan Batara Guru pada suatu waktu melanglang buana dengan
naik lembu Andininya. Ketika melewati telaga Madirda dilihatnya Anjani bertapa berbadan
kurus kering, timbul rasa belas kasihannya, maka dipetiknya dedaunan sinom (daun muda
pohon asam), dilemparkan ke arah telaga dan jatuh di pangkuan Anjani. Anjanipun
memakannya, dan … iapun menjadi hamil karenanya.

Setelah tiba saatnya, bayi yang dikandungnya lahir dalam ujud kera berwarna putih sekujur
badannya. Bayi itu kemudian diberi nama Hanoman, mengacu kepada daun sinom pemberian
Batara Guru yang menyebabkan kehamilan Anjani. Dengan demikian dituturkan bahwa
Hanoman adalah putra Batara Guru dan Dewi Anjani.

Hingga saat ini belum ada teman-teman di Lombok dapat menceritakan mengapa Gunung
Rinjani ada di Lombok….. hanya mereka bercerita kadang para pendaki saat mencapai
caldera dalam keadaan capai suka mendapatkan penampakan dari Dewi Rinjani yang cantik
dengan sebagian tangannya dan mukanya berbulu mirip kera…. katanya… Jika ada yang tahu
kisahnya tolong dilengkapi untuk melengkapi cerita dari gunung yang tercantik ini…

Konon dalam kisah kerajaan Majapahit, Damar Wulan dapat mengalahkan Menak Jinggo
setelah dia bertapa di Gunung Rinjani. Menak Jinggo menuntut ilmunya di Gunung Slamet.
Semakin tinggi tempatnya, maka semakin besar kekuatan super natural yang akan
diperoleh….. allahualam…. hanya Tuhan yang tahu…. Tapi kalau lihat sejarah agama, kitab-
kitab itu memang diturunkan di alam bebas seperti puncak gunung dan didalam gua.
Cerita Rakyat Lombok Timur Tentang Batu Blog
Bagikan :
Batu Golog, Cerita Rakyat Padamara Lombok TimurNTB | Ini adalah Sebuah Cerita
Rakyat dari Desa Padamara, Kecamatan Sukamulia, Lombok Timur, NTB. Pada jaman
dahulu di daerah Padamara dekat Sungai Sawing hiduplah sebuah keluarga miskin. Sang istri
bernama Inaq Lembain dan sang suami bernama Amaq Lembain. Mata pencaharian mereka
adalah buruh tani. Setiap hari mereka berjalan kedesa desa menawarkan tenaganya untuk
menumbuk padi. Kalau Inaq Lembain menumbuk padi maka kedua anaknya menyertai pula.
Pada suatu hari, ia sedang asyik menumbuk padi. Kedua anaknya ditaruhnya diatas sebuah
batu ceper didekat tempat ia bekerja.

Anehnya, ketika Inaq mulai menumbuk, batu tempat mereka duduk makin lama makin
menaik. Merasa seperti diangkat, maka anaknya yang sulung mulai memanggil ibunya: "Ibu
batu ini makin tinggi." Namun sayangnya Inaq Lembain sedang sibuk bekerja. Dijawabnya,
"Anakku tunggulah sebentar, Ibu baru saja menumbuk".

Begitulah yang terjadi secara berulang-ulang. Batu ceper itu makin lama makin meninggi
hingga melebihi pohon kelapa. Kedua anak itu kemudian berteriak sejadi-jadinya. Namun,
Inaq Lembain tetap sibuk menumbuk dan menampi beras. Suara anak-anak itu makin lama
makin sayup. Akhirnya suara itu sudah tidak terdengar lagi.

Batu Goloq itu makin lama makin tinggi. Hingga membawa kedua anak itu mencapai awan.
Mereka menangis sejadi-jadinya. Baru saat itu Inaq Lembain tersadar, bahwa kedua anaknya
sudah tidak ada. Mereka dibawa naik oleh Batu Goloq.

Inaq Lembain menangis tersedu-sedu. Ia kemudian berdoa agar dapat mengambil anaknya.
Syahdan doa itu terjawab. Ia diberi kekuatan gaib. dengan sabuknya ia akan dapat
memenggal Batu Goloq itu. Ajaib, dengan menebaskan sabuknya batu itu terpenggal menjadi
tiga bagian. Bagian pertama jatuh di suatu tempat yang kemudian diberi nama Desa
Gembong olrh karena menyebabkan tanah di sana bergetar. Bagian ke dua jatuh di tempat
yang diberi nama Dasan Batu oleh karena ada orang yang menyaksikan jatuhnya penggalan
batu ini. Dan potongan terakhir jatuh di suatu tempat yang menimbulkan suara gemuruh.
Sehingga tempat itu diberi nama Montong Teker.
Sedangkan kedua anak itu tidak jatuh ke bumi. Mereka telah berubah menjadi dua ekor
burung. Anak sulung berubah menjadi burung Kekuwo dan adiknya berubah menjadi burung
Kelik. Oleh karena keduanya berasal dari manusia maka kedua burung itu tidak mampu
mengerami telurnya
Legenda Putri Nyale di Selatan Lombok Tengah
Bagikan :
Sejarah Putri Nyale Cerita Orang Sasak Lombok.Menurut dongeng bahwa pada zaman
dahulu di pantai selatan Pulau Lombok terdapat sebuah kerajaan yang bernama Tonjang
Beru. Sekeliling di kerajaan ini dibuat ruangan - ruangan yang besar. Ruangan ini digunakan
untuk pertemuan raja - raja. Negeri Tonjang Beru ini diperintah oleh raja yang terkenal akan
kearifan dan kebijaksanaannya Raja itu bernama raja Tonjang Beru dengan permaisurinya
Dewi Seranting.

Baginda mempunyai seorang putri, namanya Putri Mandalika. Ketika sang putri menginjak
usia dewasa, amat elok parasnya. Ia sangat anggun dan cantik jelita. Matanya laksana
bagaikan bintang di timur. Pipinya laksana pauh dilayang. Rambutnya bagaikan mayang
terurai. Di samping anggun dan cantik ia terkenal ramah dan sopan. Tutur bahasanya lembut.
Itulah yang membuat sang putri menjadi kebanggaan para rakyatnya.

Semua rakyat sangat bangga mempunyai raja yang arif dan bijaksana yang ingin membantu
rakyatnya yang kesusahan. Berkat segala bantuan dari raja rakyat negeri Tonjang Beru
menjadi hidup makmur, aman dan sentosa. Kecantikan dan keanggunan Putri Mandalika
sangat tersohor dari ujung timur sampai ujung barat pulau Lombok. Kecantikan dan
keanggunan sang putri terdengar oleh para pangeran - pangeran yang membagi habis bumi
Sasak (Lombok). Masing - masing dari kerajaan Johor, Lipur, Pane, Kuripan, Daha, dan
kerajaan Beru. Para pangerannya pada jatuh cintar. Mereka mabuk kepayang melihat
kecantikan dan keanggunan sang putri.

Mereka saling mengadu peruntungan, siapa bisa mempersunting Putri Mandalika. Apa daya
dengan sepenuh perasaan halusnya, Putri Mandalika menampik. Para pangeran jadi gigit jari.
Dua pangeran amat murka menerima kenyataan itu. Mereka adalah Pangeran Datu Teruna
dan Pangeran Maliawang. Masing - masing dari kerajaan Johor dan kerajaan Lipur. Datu
Teruna mengutus Arya Bawal dan Arya Tebuik untuk melamar, dengan ancaman hancurnya
kerajaan Tonjang Beru bila lamaran itu ditolaknya. Pangeran Maliawang mengirim Arya
Bumbang dan Arya Tuna dengan hajat dan ancaman yang serupa.

Putri Mandalika tidak bergeming. Serta merta Datu Teruna melepaskan senggeger Utusaning
Allah, sedang Maliawang meniup Senggeger Jaring Sutra. Keampuhan kedua senggeger ini
tak kepalang tanggung dimata Putri Mandalika, wajah kedua pangeran itu muncul
berbarengan. Tak bisa makan, tak bisa tidur, sang putri akhirnya kurus kering. Seisi negeri
Tonjang Beru disaput duka.

Kenapa sang putri menolak lamaran ? Karena, selain rasa cintanya


mesti bicara, ia juga merasa memikul tanggung jawab yang tidak kecil. Akan timbul bencana
manakala sang putri menjatuhkan pilihannya pada salah seorang pangeran. Dalam semadi,
sang putri mendapat wangsit agar mengundang semua pangeran dalam pertemuan pada
tanggal 20 bulan 10 ( bulan Sasak ) menjelang pagi - pagi buta sebelum adzan subuh
berkumandang. Mereka harus disertai oleh seluruh rakyat masing - masing. Semua para
undangan diminta datang dan berkumpul di pantai Kuta. Tanpa diduga - duga enam orang
para pangeran datang, dan rakyat banyak yang datang, ribuan jumlahnya. Pantai yang
didatangi ini bagaikan dikerumuni semut.

Ada yang datang dua hari sebelum hari yang ditentukan oleh sang putri. Anak - anak sampai
kakek - kakek pun datang memenuhi undangan sang putri ditempat itu. Rupanya mereka
ingin menyaksikan bagaimana sang putri akan menentukan pilihannya. Pengunjung berduyun
- duyun datang dari seluruh penjuru pulau Lombok. Merekapun berkumpul dengan hati sabar
menanti kehadiran sang putri.
Betul seperti janjinya. Sang putri muncul sebelum adzan berkumandang. Persis ketika langit
memerah di ufuk timur, sang putri yang cantik dan anggun ini hadir dengan diusung
menggunakan usungan yang berlapiskan emas. Prajurit kerajaan berjalan di kiri, di kanan,
dan di belakang sang putri. Sungguh pengawalan yang ketat. Semua undangan yang
menunggu berhari - hari hanya bisa melongo kecantikan dan keanggunan sang putri. Sang
putri datang dengan gaun yang sangat indah. Bahannya dari kain sutera yang sangat halus.

Tidak lama kemudian, sang putri melangkah, lalu berhenti di onggokan batu, membelakangi
laut lepas. Disitu Putri Mandalika berdiri kemudian ia menoleh kepada seluruh undangannya.
Sang putri berbicara singkat, tetapi isinya padat, mengumumkan keputusannya dengan suara
lantang dengan berseru : ??Wahai ayahanda dan ibunda serta semua pangeran dan rakyat
negeri Tonjang Beru yang aku cintai. Hari ini aku telah menetapkan bahwa diriku untuk
kamu semua. Aku tidak dapat memilih satu diantara pangeran. Karena ini takdir yang
menghendaki agar aku menjadi Nyale yang dapat kalian nikmati bersama pada bulan dan
tanggal saat munculnya Nyale di permukaan laut.??

Bersamaan dan berakhirnya kata - kata tersebut para pangeran pada bingung rakyat pun ikut
bingung dan bertanya - tanya memikirkan kata - kata itu. Tanpa diduga - duga sang putri
mencampakkan sesuatu di atas batu dan menceburkan diri ke dalam laut yang langsung di
telan gelombang disertai dengan angin kencang, kilat dan petir yang menggelegar.

Tidak ada tanda - tanda sang putri ada di tempat itu. Pada saat mereka pada kebingungan
muncullah binatang kecil yang jumlahnya sangat banyak yang kini disebut sebagai Nyale.
Binatang itu berbentuk cacing laut. Dugaan mereka binatang itulah jelmaan dari sang putri.
Lalu beramai - ramai mereka berlomba mengambil binatang itu sebanyak - banyaknya untuk
dinikmati sebagai rasa cinta kasih dan pula sebagai santapan atau keperluan lainnya.
Itulah kisah Bau Nyale. Penangkapan Nyale menjadi tradisi turun - temurun di pulau
Lombok. Pada saat acara Bau Nyale yang dilangsungkan pada masa sekarang ini, mereka
sejak sore hari mereka yang akan menangkap Nyale berkumpul di pantai mengisi acara
dengan peresean, membuat kemah dan mengisi acara malam dengan berbagai kesenian
tradisional seperti Betandak (berbalas pantun), Bejambik (pemberian cendera mata kepada
kekasih), serta Belancaran (pesiar dengan perahu). Dan tak ketinggalan pula, digelar drama
kolosal Putri Mandalika di pantai Seger.
************
etiap tanggal duapuluh bulan kesepuluh dalam penanggalan Sasak atau lima hari setelah
bulan purnama, menjelang fajar di pantai Seger Kabupaten Lombok Tengah selalu
berlangsung acara menarik yang dikunjungi banyak orang termasuk wisatawan. Acara yang
menarik itu bernama Bau Nyale. Bau dari bahasa Sasak artinya menangkap. Sedangkan
Nyale, sejenis cacing laut yang hidup di lubang - lubang batu karang di bawah permukaan
laut.

Penduduk setempat mempercayai Nyale memiliki tuah yang dapat mendatangkan


kesejahteraan bagi yang menghargainya dan mudarat bagi orang yang
meremehkannya.??Itulah yang berkembang selama ini,?? ujar Lalu Wirekarme yang pernah
menjabat sebagai Kepala Sub Dinas Pemasaran Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok
Tengah.

Tradisi menangkap Nyale (bahasa sasak Bau Nyale) dipercaya timbul akibat pengaruh
keadaan alam dan pola kehidupan masyarakat tani yang mempunyai kepercayaan yang
mendasar akan kebesaran Tuhan, menciptakan alam dengan segala isinya termasuk binatang
sejenis Anelida yang disebut Nyale. Kemunculannya di pantai Lombok Selatan yang ditandai
dengan keajaiban alam sebagai rahmat Tuhan atas makhluk ini.

Beberapa waktu sebelum Nyale keluar hujan turun deras dimalam hari diselingi kilat dan
petir yang menggelegar disertai dengan tiupan angin yang sangat kencang. Diperkirakan pada
hari keempat setelah purnama, malam menjelang Nyale hendak keluar, hujan menjadi reda,
berganti dengan hujan rintik - rintik, suasana menjadi demikian tenang, pada dini hari Nyale
mulai menampakkan diri bergulung - gulung bersama ombak yang gemuruh memecah pantai,
dan secepat itu pula Nyale berangsur - angsur lenyap dari permukaan laut bersamaan dengan
fajar menyingsing di ufuk timur.
Dalam kegiatan ini terlihat yang paling menonjol adalah fungsi solidaritas dan kebersamaan
dalam kelompok masyarakat yang dapat terus dipertahankan karena ikut mendukung
kelangsungan budaya tradisional.

Keajaiban Nyale bagi suku Sasak Lombok telah menimbulkan dongeng tentang kejadian
yang tersebar hampir keseluruh lapisan masyarakat Lombok dan sekitarnya. Dongeng ini
sangat menarik dengan cerita yang sangat romantis dan berkembang melalui penuturan orang
- orang tua yang kemudian tersusun dalam naskah tentang legenda Nyale
Cerita Rakyat Desa Lenek Lombok Timur
Bagikan :
Cerita Rakyat Desa Lenek Lombok Timur.Menurut beberapa catatan sejarah, desa tertua
di Pulau Lombok bernama Desa Perigi. Desa ini terletak (saat ini) di Kecamatan Pringgabaya
Kabupaten Lombok Timur. Catatan lainnya yang menyebutkan bahwa desa pertama dan
tertua di Pulau Lombok adalah sebuah desa yang dikenal dengan sebutan Desa Laek (desa
lama) yang diperkirakan terletak di sekitar Kecamatan Sambelia sekarang.

Pada suatu masa Desa Perigi ini dilanda musibah yang sangat mengenaskan, yaitu banjir
bandang yang disebabkan oleh meluapnya air Danau Segara Anak sehingga menyebabkan
hanyut dan tenggelamnya Desa Perigi tersebut. Sebagian masyarakat pergi mengungsi ke
daerah pegunungan untuk menyelamatkan diri. Setelah banjir reda seluruh masyarakat Desa
Perigi yang selamat (raja beserta rakyatnya) pergi meninggalkan desanya dan mencari tempat
baru untuk dijadikan sebagai tempat tinggal, tempat baru ini dikenal dengan Labuan Lombok
yang terletak di Kabupaten Lombok Timur. Di tempat inilah, kehidupan baru dimulai.

Setelah berjalan beberapa generasi, maka pada suatu saat raja memerintahkan kepada
sebagian rakyatnya untuk meninggalkan Desa Labuan Lombok dengan tujuan untuk mencari
tempat yang masih kosong untuk dijadikan tempat tinggal yang baru. Diantara kelompok-
kelompok masyarakat itu, ada yang singgah kemudian menetap diantara desa-desa yang
sekarang ini bernama : Desa Borok Dadap, Desa Sukatain, Desa Langko, dan Desa
Sukamulia. Penduduk Desa Sukamulia inilah yang kemudian menjadi cikal bakal penduduk
Desa Lenek sekarang ini.

Desa Lenek, dahulu bernama Desa Sukamulia, penduduknya saat itu hanya berjumlah 140
orang. Jumlah 140 ini tidak bisa berkembang biak, entah karena apa, ada yang
mengatakan kalau masalah ini akibat pengaruh desanya. Pada masa itu yang menjadi Penoak
Desa (Pimpinan Desa) bernama BALOQ DASA. Baloq Dasa hanyalah pimpinan desa (bukan
seorang raja), tetapi dalam menjalankan tugas keseharian memimpin desa, beliau dibantu
oleh Patih yang berjumlah empat orang. Adapun keempat patih tersebut adalah : Patih
Tembeng Bagia, Patih Si Nyiur, Patih Demung Papak, dan Patih Ramban Biaq.

Pada suatu hari Patih Ramban Biaq beserta ketiga patih lainnya diutus oleh Baloq Dasa pergi
ke Kerajaan Selaparang untuk melaporkan kepada raja disana tentang kondisi masyarakat
desa Sukamulia yang tidak bisa berkembang. Singkat cerita, Raja Selaparang mengutus ke-
empat patih tersebut untuk pergi menemui salah seorang keluarga raja di Desa Benoa
(Kerajaan Benoa) di Lombok Tengah, untuk menjemput orang yang bernama Wirangbaya
(Raden Wirangbaya).
Setelah rombongan sampai di Desa Benoa, mereka semua kemudian menyampaikan kepada
Raja Benoa, bahwa Raja Selaparang telah mengangkat orang yang bernama Raden
Wirangbaya untuk menjadi pimpinan di Desa Sukamulia. Dan untuk membantu tugas-tugas
Raden Wirangbaya, maka Raja Selaparang berkenan memberikan pengiring/pengikut
sebanyak 160 orang, serta dibekali dengan beberapa buah pusaka oleh raja antara lain : 1
buah Boneka Patung Kucing Mas (Meong Mas), boneka kucing yang di saput atau dilapisi
emas murni, Keris Pusaka yang juga di lapisi emas, yang diberi nama Si Papak/Bung Papak,
Sabuk Belo dan beberapa buah tombak serta beberapa pusaka lainnya.

Setelah beberapa tahun memimpin Desa Sukamulia yang berpusat di Presak Lenek (sekarang
menjadi desa pemekaran yang bernama Desa Lenek Pesiraman), Raden Wirangbaya
selanjutnya memindahkan pusat pemerintahannya kesebelah utara sejauh lebih kurang satu
kilometer, perkampungan baru yang pertamakali dibuat itu di beri nama Gubuk Koloh
Petung, akan tetapi oleh masyarakat dulu dikenal dengan sebutan LENDEK (bergeser,
pergeseran, atau perpindahan sejauh 1 km), kemudian lama kelamaan oleh masyarakat
dikenal dengan sebutan LENEK. Tidak ada catatan tertulis seputar waktu perpidahan
tersebut, hanya saja pada waktu itu diketahui bahwa agama Islam sudah masuk dan
berkembang di Desa Sukamulia ini walaupun belum begitu pesat.

Dalam beberapa informasi tersebut bila dihubungkan dan ditilik data tentang sejarah
masuknya agama Islam di Lombok yaitu sekitar abad ke 16 hingga pertengahan abad ke 18,
maka bisa diperkirakan Raden Wirangbaya melaksanakan rencana pemerintahannya itu
adalah sekitar antara akhir abad ke 16 atau awal abad ke 17.

Setelah berpindah tempat jumlah penduduknya pun sudah mulai berkembang dengan cukup
pesat, ini terjadi karena telah “dimulainya” perkawinan antara penduduk Sukamulia yang
berjumlah 140 orang dengan pengikut Raden Wirangbaya yang berjumlah 160 orang. Di
masa inilah kemudian Raden Wirangbaya mengutus ke empat orang patih tersebut untuk
pindah ketempat yang masih berada dibawah kekuasaannya untuk menjadi wakilnya didalam
memerintah di tempat wilayahnya masing-masing.

Patih Demung Papak diperintahkan untuk menuju kesebelah barat desa yang dinamakan
Dasan Paok Pondong, disini Patih Demung Papak ini berdomisili dan menjalankan tugasnya
sebagai wakil dari Raden Wirangbaya. Patih Tembeng Bagia diperintahkan untuk menuju
kesebelah selatan desa tepatnya di Dusun Dasan Tembeng, sementara itu Patih Si Nyiur juga
menuju ke selatan, hanya saja kalau Patih Tembeng Bagia ke selatan barat, maka Patih Si
Nyiur keselatan bagian timur, dan di tempat yang diperintah oleh Patih Si Nyiur inilah yang
sekarang dikenal dengan nama Dasan Nyiur sesuai dengan nama Patihnya, sedangkan Patih
Ramban Biak diperintahkan menuju kesebelah utara desa yang kemudian daerah itu
dinamakan Dasan Ramban Biak.

Untuk memperdalam pengetahuan dan pemahaman agama pada masyarakat/rakyatnya maka


Raden Wirangbaya memerintahkan untuk mendirikan sebuah bangunan sarana peribadatan
sebagai tempat mengajar agama Islam yang dinamakan pesanteren, atau yang oleh
masyarakat setempat biasanya disebut Santeren. Pada saat pertama kali didirikan santeren itu
dinamakan Santeren Mulang, dinamakan demikian karena memang tempat itu digunakan
untuk mengajarkan ajaran-ajaran agama (Mulang berasal dari bahasa jawa yang berarti
Mengajar). Tetapi entah karena apa akhirnya lama kelamaan nama santeren Mulang berubah
menjadi Santeren Malang. Dari hal ini dapat diketahui seberapa besar pengaruh jawa
(Majapahit) terhadap kehidupan rakyat Desa Lenek waktu itu, dan juga sampai dengan hari
ini.
Selain itu juga didirikan sebuah tempat pemandian yang tujuannya adalah disamping untuk
tempat mandi, juga sebagai tempat rekreasi maupun istirahat, tempat ini dinamakan
Pesirman. Kemudian seperti halnya pada banyak kejadian maka nama itupun saat ini lebih
dikenal dengan nama Pesiraman.

Dari proses kesejarahan tersebut, maka walaupun secara geografis letak desa lenek demikian
adanya, akan tetapi kultur atau budaya masyaraktnya tetap memiliki banyak kesamaan. Hal
ini juga yang menyebabkan mereka tetap merasa satu, sebagai salah satu buktinya adalah
bahwa tidak jarang terjadi sekelompok keluarga yang berdomisili di ujung utara desa masih
bersaudara dengan yang di ujung selatan maupun lainnya, faktor pendukung lainnya adalah
terdapatnya beberapa peninggalan sejarah, seperti bekas masjid tua ” Masjid Presak” (Presak
= bekas pusat pemerintahan desa yang ditinggalkan) dan bekas tempat pakaian orang tua
yang di sebut MIJO.

Sampai saat ini masyarakat Desa Lenek adalah merupakan salah satu masyarakat yang masih
mampu melestarikan budaya daerah setempat dalam lingkaran hidupnya, baik yang berupa
upacara yang bersifat ritual maupun upacara lainnya. Beberapa upacara daur hidup yang
masih dilestarikan oleh masyarakat desa lenek diantaranya adalah Upacara Khitanan,
Kelahiran, Perkawinan, juga Kematian.

Selain itu ada juga beberapa upacara yang berkaitan nilai agama yaitu, Upacara Bubur Putek
(tanggal 10 Muharam), Upacara pembuatan Bubur Abang (tanggal 10 Syapar), Upacara
Mulut Adat (tanggal 12 Rabiulawal), serta ada pula upacara yang berkaitan dengan alam
misalnya, Begawe Belauq, Upacara Ngalu Ujan, Upacara Betetulak, Upacara Ngayu-ayu.

Upacara Adat Mulut Bleq merupakan salah satu bentuk upacara ritual pada masyarakat
Lombok Timur, khususnya yang berada di desa Lenek yang berlangsung secara turun
temurun dari dulu sampai saat ini, upacara ini dimaksudkan untuk memperingati kelahiran
nabi besar Muhammad SAW dengan secara adat, dimana pelaksanaan upacara ini dimulai
dari tanggal 10 sampai dengan 15 Rabiulawal pada setiap tahunnya. Upacara Mulut Bleq
diawali dengan pengeluaran Sabuk Belo kemudian dilanjutkan dengan acara Pepaosan,
Pembuatan Minyak Obat dan acara puncaknya ialah Praja Mulud. Pada siang harinya acara
dilanjutkan dengan pengajian, penyantunan Anak Yatim Piatu dan pemberian makan kepada
semua mahluk. Sedangkan pada malam harinya diramaikan dengan berbagai macam kesenian
sasak.

Sabuk Belo disini merupakann simbol yang melambangkan ikatan persaudaraan,


Kekeluargaan, Persatuan dan Kestuan antara sesama mahluk, sebagaimana yang tertulis
dalam sastra sasak ” Belo tetandan ta entiq, Pait pria ta kaken, Teguq tegeng maraq batu,
Kekah datan keneng obah, Tulus karang jari apur”, atau dalam Al’Quran di sebutkan ”
Wa’tasimu- bihabblillahijami’an wala tafarraqu”.

Berkaitan dengan pemberian makan kepada semua mahluk hidup, hal ini merupakan tujuan
Nabi Muhammad yang diutus oleh Allah SWT sebagai penyelamat alam semesta (Rahmatan
Lil Alamin) atau dalam sastra sasak disebutkan “mel bao mel bawaq, maraq aiq dalem selao
(Memayu Hayuning Bwana)”, yang dilandasi dengan sifat kasih sayangnya terhadap segala
sesuatu (hanngelampahkan agung dana nira).

Pada dasarnya seluruh rangkaian upacara adat “Mulut Bleq” adalah merupakan penghayatan
kepada Tuhan Yang Maha Esa bagi masyarakat adat. Tentunya memperingati hari kelahiran
Nabi Besar Muhammad SAW mempunyai makna khusus dan dalam karena sebagai
masyarakat adat unsur menembah, Pasrah kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah faktor yang
dominan di dalam hidup dan kehidupan.

Di dalam menembah dan pasrah kepada Tuhan Yang Maha Esa tersebut perlu diingat bahwa
unsur kebersihan jasmani dan rohani sangat dominan. Mengingat bahwa sang pencipta
bersifat Maha Suci, maka hanya dengan kesucian jasmani dan kesucian jiwalah kita dapat
sampai kepadanya. Oleh karena itulah bagi para masyarakat penghayat, momen Mulut Bleq
merupakan titik tolak untuk merenung, menilai, dan mengintrofeksi diri sendiri sekaligus
untuk meneladani segala prilaku dan perjalanan hidup Rasulullah
Asal Usul dinamakan Lombok Cerita Orang Sasak Lombok
Bagikan :
Sejarah cerita orang sasak Lombok Sejarah Asal Usul Nama Lombok | Cerita Rakyat Suku
Sasak Lombok - Pulau Lombok luasnya sepertiga dari luas Pulau Sumbawa. Namun,
penduduk Nusa Tenggara Barat yang berjumlah lebih dari tiga juta, dua pertiganya tinggal di
Pulau Lombok. Hal ini terjadi karena Pulau Lombok lebih subur dari Pulau Sumbawa.
Penduduk Pulau Lombok adalah orang Sasak. Mereka sebagian besar memeluk agama Islam.

Lombok dan Sasak adalah dua nama yang tidak bisa dipisahkan. Nama Lombok untuk
sebutan pulaunya, nama Sasak untuk sebutan suku bangsanya. Lombok berasal dari bahasa
Sasak; “lombo,” artinya “lurus”. Sasak sebenarnya berasal dari “sak-sak” yang artinya
“perahu bercadik”.
Namun, banyak orang yang salah mengerti. Lombok diartikan “cabe” sehingga ada yang
mengartikan pulau Lombok sebagai “pulau pedas”. Padahal cabe dalam bahasa Sasak adalah
“sebia” (dibaca “sebie”)

Cerita di bawah ini akan menjelaskan asal usul mengapa disebut Lombok dan Sasak. Nama
Lombok dalam berbagai cerita lisan maupun tertulis dalam takepan lontar adalah salah satu
nama dari Pulau Lombok. Nama lain yang sering disebut adalah pulau “Meneng” yang berarti
“sepi”. Ada yang menyebut “Gumi Sasak”, ada yang menyebut “Gumi (bumi) Selaparang”,
sesuai dengan nama salah satu kerajaan yang terkenal di Lombok pada zaman dulu, yaitu
kerajaan Selaparang.

Pulau Lombok sejak zaman kerajaan Majapahit sudah terkenal. Hal ini terbukti dengan
disebutnya dalam buku Negara kertagama yang ditulis oleh Empu Prapanca.
Negarakertagama ditemukan juga di Lombok.

Legenda masyarakat menceritakan bahwa pada zaman dahulu


kala, kerajaan Mataram Lama di Jawa Tengah dipimpin oleh seorang raja wanita bernama
Pramudawardhani yang kawin dengan Rakai Pikatan. Konon sang Permaisuri adalah seorang
ahli pemerintahan, sedangkan sang suami ahli peperangan. Kekuasaannya ke barat sampai ke
Pulau Sumatra, ke timur sampai ke Pulau Flores. Ketika itulah banyak rakyat Mataram pergi
berlayar ke arah timur melalui Laut Jawa menggunakan perahu bercadik.

Tujuan mereka berlayar tidak diketahui secara pasti. Apakah untuk memperluas kekuasaan
atau menghindari kerja berat, karena pada saat itu Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan
Candi Kalasan sedang dibangun oleh sang raja.
Demikianlah mereka berlayar lurus ke timur dan mendarat di sebuah pelabuhan. Pelabuhan
itu diberi nama Lomboq (lurus), untuk mengenang perjalanan panjang.
Mereka lurus ke timur tersebut. Selanjutnya, Lombok kini tidak hanya menjadi nama
pelabuhan tempat perahu itu mendarat, tetapi juga menjadi nama pulau Lomboq yang
kemudian berubah menjadi Lombok. Mereka berlayar menggunakan perahu bercadik yang
disebut “sak-sak”, dan jadilah mereka dinamakan orang Sak-Sak Yang berarti orang yang
datang menggunakan perahu. Kemudian, mereka membaur dengan penduduk asli. Pada
waktu itu, di Pulau Lombok telah ada kerajaan yang disebut kerajaan Kedarao (mungkin
sekarang Sembalun dan Sambelia).

Mereka kemudian mendirikan kerajaan Lombok yang berpusat di Labuhan Lombok


sekarang. Kerajaan Lombok menjadi besar, berkembang dalam lima abad, hingga dikenal di
seluruh Nusantara, sebagai pelabuhan yang dikunjungi oleh para pedagang dari Tuban,
Gresik, Makasar, Banjarmasin, Ternate, Tidore, bahkan Malaka. Jika datang ke Lombok,
orang Malaka membeli beras, tarum, dan kayu sepang.

Kerajaan Lombok kemudian dikalahkan


oleh kerajaan Majapahit. Raja dan permaisurinya lari ke gunung dan mendirikan kerajaan
baru Yang diberi nama Watuparang yang kemudian terkenal dengan nama kerajaan
Selaparang.
Kapan nama Lomboq berubah menjadi Lombok, dan nama Sak-Sak berubah menjadi Sasak
tidak diketahui secara pasti. Yang jelas sekarang pulaunya terkenal dengan nama Pulau
Lombok dan suku bangsanya terkenal dengan nama suku Sasak. Nama Selaparang Sudah
diabadikan menjadi nama sebuah jalan protokol dan nama lapangan terbang di Mataram, ibu
kota provinsi Nusa Tenggara Barat.