Anda di halaman 1dari 12

TUGAS MATA KULIAH

TOKSIKOLOGI KLINIK

TATA LAKSANA KERACUNAN AMFETAMIN DAN TURUNANNYA


SERTA GOLONGAN OBAT PSIKOTROPIKA

Disusun oleh:

Ikartini Afandi FA/10393 Luthfi Hanifah FA/10400


Isti Fatimah FA/10394 Monika Wisda H. FA/10405
Istiqomah Nur F. FA/10395 Murni Cahyani FA/10407
Lia Rachmawati FA/10398 Nazah Savira FA/10410
Lukluk Ilmi F. FA/10399

FARMASI KLINIK KOMUNITAS


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2018
TATA LAKSANA KERACUNAN AMFETAMIN DAN TURUNANNYA

Amfetamin adalah jenis obat yang sering disalahgunakan karena efeknya dapat
menstimulasi sistem saraf pusat sehingga menyebabkan penggunanya merasa waspada,
lebih berenergi, euforia, delusi, dan halusinasi. Secara medis, amfetamin juga digunakan
sebagai terapi attention-deficit disorder (ADD) dan attention-deficit/hyperactivity disorder
(ADHD). Selain itu, amfetamin juga digunakan untuk terapi depresi dan narkolepsi.
Narkolepsi merupakan gangguan sistem saraf yang mempengaruhi kendali terhadap
aktivitas tidur sehingga menyebabkan penderita tidur dengan nyenyak di waktu yang tidak
tepat.

1. Gejala Klinis dan Parameter Laboratorium


Tanda dan gejala klinis keracunan amfetamin dan turunannya antara lain:
1. Takikardi
2. Hyperthemia (jika >39,5 dapat mengindikasi toksisitas yang lebih berat dan
mengancam nyawa)
3. Penipisan volume
4. Agitasi ekstrim atau gangguan perilaku akut
5. Seizure
6. Tingkat kesadaran yang berubah ( misalnya, disorientasi, kebingungn, delirium)
7. Sakit kepala parah
8. Hipertensi
9. Kesulitan bernapas
10. Nyeri dada atau aritmia

 Parameter Laboratorium
Dilakukan pemeriksaan darah dilihat kadar serum amfetamin. Kadar serum
amfetamin normal adalah 20-120 mcg/mL, efek toksik akan terlihat saat kadarnya >
200 mcg/mL.
Diagnosis seseorang yang diduga keracunan amfetamin dan turunannya yaitu dengan
pemeriksaan laboratorium berupa:
a) Urinalisis : adanya darah dan myoglobin pada urin.
b) Pemeriksaan elektrolit, BUN, kreatinin :
- Hipoglikemia dapat berkontribusi pada perubahan status mental
- Asidosis dapat menyertai toksisitas berat
- Rhabdomyolysis dapat menyebabkan gagal ginjal
- Hiperkalemia yang mengancam jiwa dari gagal ginjal akut
- Profil koagulasi untuk memantau potensi DIC : INR, PT, PTT, trombosit
- Creatinin phospohokinase (CPK) ditandai meningkatnya rhabdomyolysis
- Skrining urin toksikologi (Amfetamin mungkin tidak terdeteksi)
- Pemeriksaan Gas darah arteri (ABG)
Selain dilakukan pemeriksaan lab, juga dilakukan pemeriksaan imaging untuk
menunjang hasil diagnosis, yaitu
a) Rontgen dada, meliputi;
- Sindrom distres pernapasan
- Edema pulmonal nonkardionegik
b) CT Head, yang ditujukan untuk:
- Sakit kepala yang signifikan
- Perubahan status mental
- Tanda -tanda neurologis fokal
- Perdarahan subarachnoid hemoragi

2. Tata Laksana Tak Khas


Tata laksana tidak khas pada pasien yang mengalami keracunan amfetamin dan
turunannya adalah dengan melakukan tindakan ABCDE yang meliputi:
a) Airway (Jalan Napas)
Bebaskan jalan napas dari sumbatan, apabila diperlukan dapat dipasang pipa
endotrakeal untuk mempermudah jalannya napas.
b) Breathing (Pernapasan)
Dijaga agar pasien dapat bernapas dengan baik, apabila diperlukan dapat
diberikan bantuan penapasan.
c) Circulation (Peredaran Darah)
Tekanan darah dan nadi dipertahankan dalam batas normal. Diberikan infus
cairan dengan normal salin, dextrose, atau Ringer Laktat.
d) Decontamination (Dekontaminasi)
Tujuannya adalah untuk mengurangi absorpsi bahan racun makan dilakukan
dekontaminasi tergantung cara masuk bahan racun. Adanya paparan amfetamin
yang masuk melalui saluran cerna, dapat dilakukan pengosongan lambung dan
usus dengan cara, yaitu:
 Emesis
Dapat dilakukan secara mekanik dengan merangsang daerah orofaring
bagian belakang atau dengan obat-obatan: larutan Ipekak 10-20 cc dalam
satu gelas air hangat; Apomorfin 0,6 mg/kgBB im atau 0,01 mg/kgBB iv.
 Bilas lambung
Tujuannya untuk membersihkan bahan racun dari lambung, namun kurang
efektif bila dilakukan lebih dari 4 jam setelah bahan tertelan.
 Katarsis
Tujuannya untuk membersihkan bahan racun di usus halus hingga kolon
dengan memakai 30 g Magnesium Sulfat.
e) Elimination (Eliminasi)
Proses eliminasi bertujuan untuk membersihkan racun di mana diperkirakan
racun telah beredar dalam aliran darah. Pada keracunan amfetamin digunakan
diuresis paksa asam. Diberikan 1,5 amonium klorida dan 500 cc dextrose 5%
yang diberikan bergantian dengan 500 cc normal saline dengan kecepatan 1 L
per jam pada jam pertama dan dilanjutkan 500 cc perjam.

3. Tata Laksana Khas


Tidak terdapat antidotum khusus untuk menangani toksisitas amfetamin.
Penanganan dilakukan pada gejala toksisitas yang mucul.
a) Gejala agitasi dan psikosis diberikan obat golongan benzodiazepine. (John, et al,
2015). Obat yang diberikan tergantung dari keparahan gejala yang terjadi.
Beberapa obat yang umum digunakan adalah :
 Diazepam 5-20 mg yang diberikan peroral setiap 2-5 jam, dengan maksimal
pemberian perhari adalah 120 mg.
 Olanzapine 10-20 mg yang diberikan peroral setiap 2-6 jam, dengan dosis
maksimum perhari adalah 30 mg.
 Olanzapine IM 10 mg dapat diulang setiap 2 jam, dengan dosis maksimal
perhari adalah 30 mg.
 Kombinasi Diazepam dan Olanzapine.
 Droperidol IM 2,5 mg-10 mg, dapat diulang setiap 20 menit, dengna dosis
maksimal perhari 20 mg. (Loke, 2014).
b) Gejala Takikardi diberikan antiaritmia yaitu amidarone 300 mg IV.
c) Terjadinya kenaikan tekanan darah diberikan obat golongan β-blockers
d) Gejala hiperadrenergik diberikan obat Dexemedetomidine.

Monitoring yang dilakukan adalah:


 Respiratory function saat pemberian benzodiazepine terutama secara parenteral.
 Tekanan darah, 30 menit setelah pemberian antidotum.
 ECG, konsentrasi kalium dan magnesium, terutama saat penggunaan dosis
tinggi antipsikotik.

4. Contoh Kasus
Seorang pria 19 tahun telah menelan 8 g metamfetamin. Pasien tidak mengalami
kejang, tetapi mengalami kekakuan yang parah pada awalnya. Pasien diketahui
memiliki riwayat penggunaan metamfetamin. Awalnya pasien bisa berkomunikasi
tetapi mengalami kesulitan. Kondisi pasien yaitu mengeluarkan keringat dingin,
bergetar berat dan mengompol.
Hasil pemeriksaan menunjukkan paru-paru pasien bersih dan tingkat pernapasannya
adalah 60/menit. Elektrokardiogram menunjukkan pasien mengalami takikardia
sinus 200/menit, glukosa darah adalah 81 mg/dL, suhu rektal lebih dari 108 °F, RR
adalah 45/menit, nadi 180 kali/menit, TD 186/96 mmHg. Beberapa saat kemudian
pasien mengalami kekakuan dan goncangan yang menyeluruh, kulitnya panas dan
mengeluarkan keringat, pupilnya membesar, dan dia tidak menanggapi rangsangan
verbal atau menyakitkan.
Tes skrining obat darah yang diambil 8 jam setelah masuk adalah positif untuk
amfetamin, dengan nilai serum 3,5 mg/L

Penyelesaian kasus
• Subjective
Kekakuan, goncangan, keringat dingin, bergetar.
• Objective
Suhu rektal 108◦F, takikardi sinus 200/menit, TD 186/96, nadi 180 kali/menit,
glukosa darah 81 mg/dL, RR 45/menit
• Assessment
Pasien mengalami intoksikasi Metamfetamin. Elektrokardiogram terus
menunjukkan sinus tachycardia.
• Careplan:
 Mengontrol suhu dan agitasi sangat penting untuk menurunkan morbiditas
dari overdosis.
Pasien diberi bungkus es di selangkangan pasien untuk menurunkan suhu
rektal dan juga di leher untuk menurunkan suhu hingga 105,5 °F.
 Selama upaya resusitasi pasien menerima pemberian lorazepam, labetalol,
dan 50% dekstrosa dalam air. Tekanan darahnya menurun hingga 86/44
mmHg.
 Pasien juga diberi lidokain untuk takikardi, lalu denyut jantung pasien
menurun menjadi 140 denyut /menit.
 Saline normal intravena dengan cepat diinfuskan.
 Kemudian sorbitol dan arang aktif diberikan, dan pasien diberikan
famotidin intravena. Pemeriksaan dubur menunjukkan tidak ada fragmen
pil atau benda asing lainnya.
 Dantrolene diresepkan untuk suhu 104 ° F dan lebih tinggi. Suhu menurun
menjadi 103,6 ° F.
 Pasien mengalami koma dan mulai mengeluarkan darah dari berbagai
orifices (lubang).
 Kadar urea nitrogen dan kreatinin darahnya pertama kali meningkat pada
hari ke-2 rawat inap. Tes fungsi hati pasien terus memburuk dari hari ke-2
Kadar creatine kinase serum melebihi 20.000 UIL.
 Jumlah trombositnya menurun menjadi 28.000 jam sehari. Kebutuhan
oksigennya meningkat ketika dia pindah ke sindrom gangguan pernapasan
dewasa.
 Dialisis dimulai pada hari ke 4. Status neurologinya tidak pernah membaik
selama rawat inap.
 Beberapa serangan jantung terjadi.
 Pasien dinyatakan meninggal karena serangan jantung asistol pada hari ke-
16
TATA LAKSANA KERACUNAN GOLONGAN OBAT PSIKOTROPIKA

Obat psikotropika terdiri dari banyak jenis, salah satunya golongan barbiturat. Berikut ini
tata laksanan penanganan keracunan obat golongan barbiturat. Obat golongan barbiturat
bekerja sebagai agonis reseptor GABA yang bersifat neurosupresan di sistem saraf pusat.

1. Gejala Klinis dan Parameter Laboratorium


Gejala toksisitas barbiturat bervariasi dari kasus ke kasus, tetapi biasanya
terjadi kesulitan berpikir, penurunan tingkat kesadaran, bradikardia atau denyut nadi
cepat dan lemah, koordinasi yang buruk, vertigo, mual, kelemahan otot, haus,
oliguria, penurunan suhu, dan pupil yang melebar atau berkontraksi. Pada kasus-
kasus yang fatal ditandai dengan koma, hipotensi (tekanan darah rendah), dan
depresi pernafasan (penurunan upaya untuk bernapas) yang dibuktikan oleh sianosis
dan hipotensi. Edema pulmonal adalah komplikasi lain yang terkait dengan toksisitas
barbiturat dan berkontribusi terhadap depresi pernapasan dan kematian.
Diagnosis dari keracunan obat golongan barbiturat adalah :
1. Tanda-tanda vital : termasuk suhu, denyut nadi, laju pernapasan, dan tekanan
darah.
2. Tes yang dapat dilakukan meliputi : Tes darah dan urin, X-ray dada, EKG
(elektrokardiogram)
Evaluasi penilaian kualitatif dari jumlah obat yang diambil dengan tes
skrining plasma atau urin. Konsentrasi barbiturat plasma dan dosis obat yang tertelan
telah diimplikasikan sebagai korelasi toksisitas yang paling penting. Immunoassays
(EIA) dapat memberikan metode yang efektif biaya dan sensitif untuk mendeteksi
barbiturat dan zat lain yang mungkin ada di tubuh. Metode lain yang sering
digunakan adalah kromatografi gas / spektrometri massa (GC / MS) yang dapat
mengidentifikasi dan mengkonfirmasi keberadaan barbiturat tertentu.
Berikut ini nilai normal untuk kadar barbiturat dalam darah

(Charbek, 2013)
2. Tata Laksana Tak Khas
Penanganan tidak khas kasus keracunan obat golongan barbiturat adalah
sebagai berikut.
a) Tindakan darurat dan suportif, caranya lindungi saluran napas dan bantu
ventilasi jika perlu kepada pasien. Diberikan terapi untuk pasien yang koma,
hipotermia dan hipotensi.
b) Dekontaminasi
Dengan memberikan arang aktif secara oral jika kondisinya sesuai. Bilas
lambung tidak diperlukan setelah konsumsi arang aktif kecil hingga sedang
dapat diberikan segera.
c) Peningkatan eliminasi
 Alkalinisasi urin
Meningkatkan eliminasi urin fenobarbital (asam lemah) tetapi tidak pada
barbiturat lainnya. Nilainya dalam overdosis akut tidak terbukti, dan
berpotensi berkontribusi terhadap kelebihan cairan dan edema paru.
 Arang aktif
Dengan dosis berulang, telah terbukti mengurangi waktu paruh
fenobarbital dan metabolitnya, tetapi datanya bertentangan mengenai
efeknya pada durasi koma, waktu pada ventilasi mekanis, dan waktu
untuk ekstubasi.
 Hemodialisis atau hemoperfusi
Diperlukan untuk pasien yang sangat mabuk yang tidak merespon terapi
suportif.

3. Tata Laksana Khas


Tidak ada antidotum khusus untuk mengatasi keracunan obat golongan barbiturat.

4. Contoh Kasus
Seorang usia 18 tahun dilarikan ke rumah sakit dengan kondisi tidak sadar
dan tidak merespon pada stimulasi nyeri (Koma grade 3). Dari riwayat pasien, malam
sebelumnya mengonsumsi tablet phenobarbital dan setelahnya pasien tidak bangun
pada pagi harinya. Tidak ada riwayat kejang, muntah, mengompol, atau menggigit
lidah.
Beberapa jam setelah mengonsumsi tablet phenobarbital pasien mengalami
demam, takipnea dengan nadi 130 min-1, TD 120/70 mmHg, dan saturasi oksigen
93%. Ukuran pupil normal dan bereaksi dengan cahaya. Pasien didiagnosis
mengalami keracunan barbiturat dan pasien dipindahkan ke ICU. Tak lama setelah
masuk, dia mengalami kejang klonik tonik yang mereda setelah beberapa detik
secara spontan. Dia menjadi saturasi semakin tachypnoe dan oksigen mulai jatuh.
Analisis gas darah yang dilakukan menunjukkan hipokarbia dengan
metabolisme asidosis. Pasien diberi kateter. Pengisapan nasogastrik terus menerus
dilakukan. Terapi cairan tekanan vena sentral dimulai. Pemantauan suhu terus
menerus dilakukan dan perawatan diambil untuk menghindari hipotermia.
Antibiotik, fenitoin, rantidine, dopamin dosis rendah dan bronkodilator
dimulai. Selain itu, sepuluh tablet arang aktif 500mg (5g) dengan albumin telur
diberikan empat jam melalui tabung Ryle. Alkaline diuresis dimulai. Satu liter
larutan Ringer laktat diberikan dan injeksi sodabicarbonate 50cc diberikan intravena
enam jam. Tujuannya adalah menjaga pH urin antara 8-8.5. Potassium serumnya
adalah 2,5.eq lt-1 dan SGOT dan SGPT adalah 118 IU dan 99IU masing-masing.
Serum protein adalah 6g%.
Urin positif untuk badan keton dan serum barbiturat assay positif. Karena
tingkat kesadaran tidak membaik, hemodialisis direncanakan. Hemodialisis
dilakukan menggunakan Sresenius Haemodialyser. Dalam beberapa jam, kondisi
pasien membaik dan dia menatap menanggapi perintah verbal. Tanda-tanda vitalnya
stabil. Dia diekstubasi sekali secara teratur respirasi spontan dipulihkan. Terapi
oksigen dengan ventimask (FiO2 - 60%) dilembagakan. Secara bertahap, pasien
dipantau FiO2 28%. SGOT dan SGPT masih meningkat (masing-masing 222 IU dan
240 IU). Tes serum berulang sekarang mengungkapkan tidak ada residu barbiturat.
Dia pulang seminggu kemudian.

Penyelesaian

1. Cardiorespiratory System
Dia diintubasi secara nasal dan diventilasi oleh Evita-2 (Drager) pada tekanan positif
intermittent mode ventilasi dengan volume tidal 400 ml, FiO2-80% dan frekuensi -
14 menit-1.
2. Pencegahan absorbsi
 Pengisapan nasogastrik terus menerus dilakukan. Terapi cairan tekanan vena
sentral dimulai.
 Antibiotik, fenitoin, rantidine, dopamin dosis rendah dan bronkodilator
dimulai. Selain itu, sepuluh tablet arang aktif 500mg (5g) dengan albumin telur
diberikan empat jam melalui tabung Ryle
3. Penghilangan barbiturat
 Hemodialisis dilakukan menggunakan Sresenius Haemodialyser.
 Alkaline diuresis dimulai. Satu liter larutan Ringer laktat diberikan dan injeksi
sodabicarbonate 50cc diberikan intravena enam jam
4. Supportive system
 Pemantauan suhu terus menerus dilakukan dan perawatan diambil untuk
menghindari hipotermia
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2018, Amphetamine Overdose, diambil dari


https://online.epocrates.com/u/2931341/Amphetamine+overdose, diakses pada 6
November 2018 pukul 19.30 WIB.
Charbek, Edward, 2013, Barbiturate Levels, diambil dari
https://emedicine.medscape.com/article/2089752-overview, diakses pada 12
November 2018 pukul 08.45 WIB.
Jacob, et al, 2017, Barbiturate Intoxication and Overdose, diakses dari
https://medlineplus.gov/ency/article/000951.htm pada 9 November 2018 pukul 18.00
WIB.
John R., et al., 2015, Treatment of Toxicity from Amphetamines, Related Derivatives, and
Analogues: A Systematic Clinical Review., Department of Emergency Medicine PSSB
2100, U.C. Davis Medical Center 2315 Stockton Boulevard Sacramento.
Loke, Kah-Seong, 2014, Guidelines for the Management of Acute Behavioural Disturbance
due to Amphetamine-type Stimulant Intoxication, Australian Drugs Conference,
Australia.
Olson K.R., et al (editors), 2007, Poisoning & Drug Overdose, 5nd ed., Appleton & Lange,
Norwalk.
Putra, Tjok Raka, 1999, Gawat Darurat di Bidang Penyakit Dalam, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta.
Rhee, James W., Amphetamine Poisoning, diambil dari
https://emergency.unboundmedicine.com/view/5minute_emergency_consult/307063
/all/Amphetamine_poisining, diakses pada 6 November 2018 pukul 20.05 WIB.
Suddock et al, 2018, Barbiturate Toxicity, diambil dari
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK499875/, diakses pada 9 November 2018
pukul 15.30 WB.
Wallace, M.E., Rhonda, S., 2000, Fatal Massive Amphetamine Ingestion Associated with
Hyperpyrexia, JABFP, Vol. 13 (4): 302-304.