Anda di halaman 1dari 24

Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, Vol. 3 No.

2 Agustus 2012: 109-132

Prakiraan bahaya letusan Gunung Api Ijen Jawa Timur


Hazard assessment of Ijen volcanic eruption East Java
A. Zaennudin, Deden Wahyudin, Mamay Surmayadi, dan E. Kusdinar
Badan Geologi
Jln. Diponegoro 57 Bandung

ABSTRAK

Gunung Ijen di ujung timur Pulau Jawa, merupakan salah satu gunung api yang mempunyai danau kawah
di puncaknya dengan ukuran kawah 600x900 m, Ijen menjadi salah satu objek wisata menarik di Jawa
Timur. Selain pemandangan yang indah, kawah Ijen menjanjikan belerang yang berlimpah. Tak heran
kalau Kawah Ijen selalu ramai dikunjungi wisatawan dan para penambang belerang. Seperti gunung api
lainnya Ijen juga sewaktu-waktu dapat menimbulkan bahaya bagi para pengunjung dan masyarakat yang
tinggal di sekitar Gunung Ijen. Oleh karena itu, untuk mencegah dan mengurangi risiko yang mungkin
terjadi, diperlukan mitigasi bencana melalui prakiraan bahaya gunung api berupa kajian ilmiah untuk
mengetahui karakteristik vulkanisme gunung api tersebut. Kajian ini didasarkan pada sifat alamiah gu-
nung api melalui telaahan data geologi, geofisika, dan geokimia serta data terkait lainnya secara kom-
prehensif dan terintegrasi. Telaahan data tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran karakteristik
erupsi gunung Ijen sebagai acuan dalam menentukan jenis potensi ancaman bahayanya. Berdasarkan hasil
analisis produk erupsi Gunung Ijen pada masa lampau dan interpretasi sejarah geologi, Gunung Ijen sering
meletus hebat. Oleh karena itu, perlu diantisipasi bila gunung api tersebut meletus kembali. Disamping
volume air danau kawah yang cukup besar dan sangat asam, juga kemungkinan dapat terjadi awan panas
bercampur air danau yang tumpah memasuki sungai-sungai yang berhulu di danau kawah. Bila ini terjadi
maka akan menjadi lahar letusan yang lebih berbahaya karena selain panas juga bersifat asam. Kuatnya
alterasi di daerah lereng bagian atas dan dinding sekitar kawah dapat menyebabkan kegagalan lereng (sec-
tor failure) maka bila terjadi erupsi besar dapat memicu terjadinya longsoran puing vulkanik (“volcanic
debris avalanche”).

Kata kunci: Prakiraan, Bahaya Letusan, Ijen, Jawa Timur

ABSTRACT

Mt. Ijen in the eastern tip of Java Island, is a volcano that has a crater lake on its summit. Its crater lake
which is about 600 X 900 m in size, Ijen becomes an interesting tourists attraction in East Java. Apart from
having a beautiful scenery, Ijen crater produces promissing abundant of sulphur deposits. No wonder that the
crater of Ijen is always crowded by tourists and sulphur miners. As well as other volcanoes, may at any time
can cause hazards to the visitors and the people who live around the volcano. Therefore, to prevent and reduce
the risks that may occur, a mitigation effort through a volcanic hazard assessment in the form of scientific

Naskah diterima 2 Juli 2012, selesai direvisi 15 Agustus 2012


Korespondensi, email: akhmadzen@vsi.esdm.go.id
109
110 Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, Vol. 3 No. 2 Agustus 2012:109-132

study to determine the characteristics of volcanism of the volcano is required. This study is based on the nature
of the volcano through an integrated research of geological, geophysical, geochemical and other relevant data
comprehensively. The data study is hoped can ilustrate the characteristics of Ijen eruption as a reference
in determining the kind of potential hazard threat. Based on analysis results of previous eruption products
of Ijen volcano and interpretation of its geologic history, this volcano erupted frequently. Therefore, future
eruption of this volcano should be anticipated. Apart from the large volume and high acidity of the lake
water, the possibility of the occurrence of pyroclastic flows mixed up with the lake water spills into the
rivers originating from the crater lake may take place. When this matter happens, an eruption lahars may
occur and it would be more dangerous because the lahars not only hot but it is also very acid. The strong
alteration in the upper slopes and walls around the crater may cause slope failure (sector failure), then if
a large eruption occurs it can trigger a volcanic debris avalanche.
Keywords: Hazard assessment, eruption, Ijen, East Java

PENDAHULUAN yang umumnya tumbuh pada dinding kaldera.


Selain itu, keunikan Kompleks Gunung Ijen
Kompleks Gunung Ijen merupakan gunung adalah gunung api yang mempunyai danau
api strato yang terletak di ujung timur Pulau kawah dengan kedalaman sekitar 190 m dan
Jawa, dengan karakteristik yang berbeda de- mempunyai derajat keasaman yang sangat
ngan gunung api lainnya di Indonesia. Kom- tinggi (pH < 0,2) serta volume air danau yang
pleks Gunung Ijen adalah suatu gunung api sangat besar, sekitar 36 juta m3. Sejarah pem-
yang terdiri atas beberapa gunung api yang bentukan gunung api ini pada masa lampau
tumbuh di sekitar dinding dan di dalam kal- menjadikan Kawah Ijen memiliki potensi un-
dera Ijen Tua. Kawah Ijen adalah salah satu tuk menghasilkan lahar letusan, selain potensi
gunung api yang sampai saat ini masih aktif ancaman bahaya erupsi lainnya. Jumlah popu-
yang tumbuh di dalam Kaldera Ijen Tua. Kal- lasi yang cukup padat di kawasan rawan ben-
dera tersebut merupakan depresi gunung api cana gunung api dan jumlah wisatawan yang
besar berdiameter 14-16 km dan berbentuk cukup banyak menimbulkan permasalahan
elips. yang sangat penting dalam mitigasi bencana
Keunikan Kompleks Gunung Ijen diban- Gunung Ijen.
dingkan dengan gunung api lainnya di In-
donesia adalah sebagai model perpaduan Geologi Regional
antara pertumbuhan gunung api poligenetik
Kompleks Gunung Ijen secara fisiografi ber-
dan monogentik yang tumbuh di dalam dan
ada dalam Zona Solo di bagian timur Pulau
di pinggir kaldera. Pada umumnya aktivi-
Jawa (Bemmelen, 1949). Zona Solo me-
tas gunung api pasca pembentukan kaldera
rupakan zona depresi memanjang berarah
membentuk kompleks gunung api monoge-
barat – timur yang secara tektonik terbentuk
netik tetapi pada gunung api yang berukuran
karena terpatahkan pada saat pembentukan
besar membentuk gunung api poligenetik
geoantiklin Jawa, sehingga pada batas antara
Prakiraan bahaya letusan Gunung Api Ijen Jawa Timur- A. Zaennudin drr. 111

Zona Solo dengan Zona Pegunungan Sela- kaldera selatan sebagian besar telah tertutupi
tan yang berada di bagian selatan Zona Solo, oleh endapan vulkanik hasil erupsi kerucut-
membentuk struktur patahan dengan dinding kerucut gunung api yang aktif pasca kaldera.
terjal. Proses depresi Zona Solo menghasil- Gunung Kendeng merupakan gunung api
kan sesar tangga (block faulting) yang me- tunggal dan besar dengan ketinggian sekitar
mungkinkan terbentuknya gunung api muda 4.000 m dpl, karena suatu letusan paroksisma
di Pulau Jawa, khususnya di Jawa Timur ter- mengakibatkan bagian puncaknya hilang.
masuk Kompleks Gunung Ijen.
Berdasarkan umur mutlak dan umur relatif
Kompleks Gunung Ijen tumbuh di atas ba- dari beberapa endapan batuan yang terdapat
tuan sedimen Kenozoikum. Vulkanismenya di wilayah ini, kompleks Kaldera Ijen dapat
diperkirakan mulai terbentuk dalam periode dibagi menjadi tiga fase pembentukan gunung
waktu yang bersamaan dengan vulkanisme api sesuai dengan tahap kegiatan vulkanis-
Gunung Iyang (Argopuro) pada kala Plisto- menya, yaitu: fase Gunung Ijen Tua (Gunung
sen Atas (Bemmelen, 1949), atau sekitar Kendeng), fase non vulkanisme dengan ter-
700.000 tahun yang lalu, bahkan lebih muda. bentuknya Danau Blawan, dan fase vulkan-
Pada akhir kala Plistosen, sebagian tubuh Gu- isme pasca Kaldera Ijen (Zaennudin drr.,
nung Tengger Tua, Iyang, dan Ijen Tua (Gu- 2004).
nung Kendeng) menggelincir ke arah cekung-
Gunung Kendeng merupakan gunung api
an geosinklin di sebelah utaranya sehingga
strato terbentuk pada zaman Plistosen (Bem-
menyebabkan terjadinya perlipatan endapan
melen, 1949). Aktivitas gunung api ini ber-
batuan sedimen Plio-Plistosen (Bemmelen,
akhir setelah terbentuk kaldera pada kisaran
1949). Gaya kompresi dan perlipatan di utara
waktu antara 300.000-50.000 tahun yang lalu,
ini dikompensasikan oleh pergerakan sesar
menghasilkan endapan aliran piroklastika (ig-
tarikan di Zona Solo. Selama Holosen gunung
nimbrit) dan jatuhan piroklastika. Endapan
api muda pada Zona Solo terbentuk seperti
batuan ini tersebar sangat luas menutupi ham-
Semeru, Lamongan, kerucut muda Kompleks
pir seluruh permukaan gunung api tersebut
Iyang-Argopuro, Ijen Tua (Kendeng), dan
dengan ketebalan lebih dari 50 m di sekitar
Raung. Gunung api muda ini tumbuh menu-
dinding dan dasar kaldera serta lebih dari 15
tupi sesar mendatar, rekahan, dan gejala ten-
m di sekitar dam Liwung, Asembagus. Dalam
sional lainnya yang terbentuk pada fase tek-
pencapaian keseimbangan setelah terbentuk-
tonik pendahuluan.
nya kaldera terbentuklah sesar Pedati di din-
ding kaldera utara dan sesar Jampit di dinding
Geologi Kompleks Gunung Ijen
kaldera barat daya.
Kompleks Kaldera Ijen merupakan kompleks
Setelah terbentuknya kaldera dan sesar-sesar
gunung api yang mempunyai kaldera berdia-
tersebut, maka aktivitas vulkanik Gunung
meter sekitar 15 - 16 km berbentuk elips yang
Kendeng terhenti sama sekali. Kemudian
hanya menyisakan dinding kaldera bagian
disusul oleh proses erosi dan sedimentasi
utara melengkung ke arah selatan. Dinding
112 Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, Vol. 3 No. 2 Agustus 2012:109-132

material-material vulkanik hasil pembentuk- vulkanik, sehingga air Danau Blawan men-
an kaldera. Lahar terbentuk pertama kali se- jadi jernih. Hal ini memungkinkan binatang-
bagai reworked dari material lepas endapan binatang yang hidup di lingkungan air danau
piroklastika. Lahar tersebut diendapkan di berkembang dengan baik dan subur. Terben-
daerah-daerah yang relatif mempunyai mor- tuklah endapan batu gamping pada beberapa
fologi rendah pada saat itu, khususnya di tempat yang memungkinkan untuk tumbuh
dalam Kaldera Ijen yang menyelimuti dasar menjadi terumbu. Endapan batu gamping ini
kalderanya. Setelah endapan lahar terbentuk terdapat di sekitar Desa Kapuran dan gua ka-
dan membatu, maka endapan lahar ini tidak pur Damarwulan, yaitu daerah bagian paling
dapat ditembus oleh air. Curah hujan yang utara dari Kaldera Ijen. Wilayah ini diduga
tinggi dalam kurun waktu yang sangat lama sebagai bagian danau yang paling dalam pada
menyebabkan air tersebut terakumulasi di saat itu. Endapan sedimen klastika Danau Bl-
dalam Kaldera Ijen. Air tersebut tidak mem- awan ini berumur sekitar 50.000 tahun yang
punyai saluran keluar terhalang oleh dinding lalu (Sitorus, 1990).
kaldera dan tidak dapat merembes ke dasar
Proses erosi terus berlangsung di kompleks
akhirnya membentuk danau kaldera yang
Kaldera Ijen, begitu pula di zona lemah sesar
dinamakan Danau Blawan. Proses erosi dan
Pedati di dinding kaldera utara yang pada
sedimentasi berlangsung terus, baik yang ter-
akhirnya mencapai permukaan air Danau Bla-
jadi di dalam kaldera maupun di luar dinding
wan. Air danau mengalir melewati sesar Peda-
kaldera.
ti menuju ke Selat Madura di sebelah utara.
Erosi yang terjadi di bagian luar kaldera Peranan aliran air dari danau semakin lama
mengerosi material lepas mencapai bagian semakin besar mengakibatkan erosi di sesar
yang keras dari endapan ignimbrit hasil pem- Pedati semakin intensif dan akhirnya menca-
bentukan kaldera. Hasil erosi dari material pai dasar Danau Blawan. Danau Blawan ke-
lepas di wilayah ini kemudian diendapkan di ring setelah ada jalan keluarnya air melewati
Selat Madura dan Selat Bali. Sedangkan erosi sesar tersebut, bahkan endapan sedimen klas-
yang terjadi di dalam Kaldera Ijen terangkut tika danau Blawan yang dekat dengan aliran
dan terendapkan di Danau Blawan memben- sungai Banyupait, Kali Sat, dan Kali Sengon
tuk endapan sedimen klastika danau. Endap- tererosi lagi membentuk lembah-lembah
an sedimen klastika danau ini didominasi yang cukup dalam. Proses ini berlangsung
oleh material-material vulkanik berlimpahan cukup lama disertai proses litifikasi endapan-
batu apung halus membentuk batu pasir, dan endapan sedimen klastika danau.
batu lanau. Dengan berjalannya waktu, pada
Setelah sedimen klastik danau membatu
akhirnya tidak ada lagi material lepas yang
kemudian terjadi peristiwa tektonik yang
dapat dierosi dan ditransport karena sudah
cukup besar menghasilkan sesar-sesar Bla-
mencapai endapan yang keras dari ignimbrit.
wan, Watucapil, dan Kukusan yang berarah
Aliran sungai yang mengalir ke danau sudah relatif timur laut – barat daya serta kemung-
semakin baik, tidak mengandung material kinan sesar terpendam di bagian selatan Kal-
Prakiraan bahaya letusan Gunung Api Ijen Jawa Timur- A. Zaennudin drr. 113

dera Ijen yang berarah relatif timur – barat. Malang, Gunung Anyar, Gunung Ijen, dan
Peristiwa tektonik inilah yang diduga sebagai sebagainya. Kerucut-kerucut tersebut relatif
pemicu aktivitas vulkanik yang berlangsung lebih kecil dari gunung api yang muncul di
pasca kaldera. Pusat-pusat erupsi kerucut dinding kaldera. Gunung Ijen merupakan gu-
gunung api pasca kaldera muncul pada zona nung api yang saat ini masih aktif. Gunung
lemah tersebut membentuk suatu kelurusan api ini membangun tubuhnya sekitar 6.000 ta-
timur – barat yang dimulai dari Gunung Me- hun yang lalu berdasarkan penanggalan umur
rapi, Gunung Ijen di bagian timur sampai Gu- dari arang yang terdapat dalam endapan aliran
nung Raung di sebelah barat. abu.

Aktivitas vulkanik pertama yang terjadi pasca


Sejarah Erupsi Dalam Kehidupan Manusia
kaldera tidak dapat diketahui secara pasti,
tetapi berdasarkan umur endapan batuan Sejarah erupsi Kawah Ijen dalam kehidupan
yang telah dilakukan, pentarikhannya adalah manusia mulai tercatat pada tahun 1796 dan
sebagai berikut: Gunung Blau berumur seki- letusan-letusan yang pernah terjadi terlihat
tar 50.000 tahun, kemudian disusul oleh ak- dalam catatan di bawah ini:
tivitas Gunung Jampit yang berumur sekitar 1796: Letusan pertama yang tercatat, dan
45.000 tahun, atau kedua gunung api tersebut dianggap merupakan letusan frea-
bererupsi pada kurun waktu yang hampir ber- tik.
samaan. Setelah aktivitas kedua gunung api
tersebut kemudian muncul Gunung Suket di 1817: 16 Januari, penduduk di sekitar
dinding kaldera barat laut berumur 37.900 Banyuwangi mendengar suara ge-
tahun yang umurnya hampir bersamaan de- muruh dahsyat seperti dentuman
ngan Gunung Rante di dinding kaldera sela- meriam, disertai dengan gempa
tan (30.000 tahun), Gunung Ringgih di din- bumi. Pada tanggal 15 Januari ter-
ding kaldera timur laut (29.800 tahun), dan jadi banjir lumpur menuju Banyu-
Gunung Pawenan di dinding timur ( 24.400 wangi, (Junghuhn,1853, p.1022),
tahun). Bila melihat lokasinya Gunung Blau sedangkan Taverne (1926, p. 102)
dan Gunung Jampit terletak pada sesar-sesar menduga kemungkinan pada waktu
yang terbentuk dalam generasi pertama sete- letusan 1817 sebagian besar air da-
lah terbentuknya kaldera, kemudian disusul nau dialirkan oleh Kali Banyupait.
aktivitas-aktivitas gunung api yang muncul 1917: Taverne (1926, p. 102) Menu-
di dinding kaldera seperti Gunung Suket, lis bahwa pada waktu itu air da-
Gunung Ringgih, Gunung Pawenan, Gunung nau kelihatan mendidih bercampur
Merapi, dan Gunung Rante. lumpur dan uap, kadang-kadang
letusan terjadi di danau kawah,
Generasi berikutnya adalah gunung-gunung lumpur dilemparkan ke atas sam-
api yang muncul berarah timur - barat, seperti pai 8 – 10 m di atas muka air. Hal
Gunung Papak, Gunung Kukusan, Gunung yang sama terulang lagi pada 7 – 14
Widodaren, Gunung Gending Waluh, Gunung Maret. Neuman Van Padang (1951,
114 Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, Vol. 3 No. 2 Agustus 2012:109-132

p 158), menganggapnya letusan di bualan air berdiameter sekitar 5 m


danau kawah pada 25 Februari dan disertai perubahan warna air kawah
13 Maret sebagai letusan freatik. dari hijau muda menjadi coklat.
1936: Neuman van Padang (1951, p. 158), Menurut para penambang belerang
menganggap pada 5 – 25 November terjadi semburan gas setinggi 25
terjadi letusan freatik dan letusan di – 50 m dengan kecepatan tinggi.
danau kawah yang menghasilkan Bualan ini tercatat oleh seismograf
lahar seperti letusan pada tahun dalam bentuk gempa tremor terus
1796 dan 1817. Saat itu korban jiwa menerus dari 16 – 25 Maret 1991.
tidak ada. 1993: Pada tanggal 3 Juli jam 08.45 terjadi
1952: Pada 22 April pukul 6.30, terjadi le- letusan freatik di tengah danau di-
tusan asap setinggi 1 km dan suara sertai tekanan kuat dan bunyi yang
guguran terdengar dari Sempol. Di keras dengan semburan setinggi 75
dalam kawah terjadi letusan lumpur m, Warna air dari hijau keputihan
setinggi 7 m, hampir sama dengan berubah menjadi kecoklatan dan
peristiwa letusan tahun 1936. Saat permukaan danau menjadi gelap.
itu Korban jiwa tidak ada. (Hadiku- Tanggal 4 Juli, jam 08.35 terjadi
sumo, 1950 – 1957, p. 184 dalam letusan freatik ditandai dengan me-
Kusumadinata drr., 1979). nyemburkan air setinggi sekitar 35
m. Tanggal 7 Juli jam 02.15 terjadi
1962: Pada tanggal 13 April di bagian
letusan freatik disertai suara yang
tengah permukaan Danau Ijen ter-
cukup keras dan terdengar sampai
jadi bualan gas di dua tempat, yang
sejauh 1 km. Pada 1 Agustus jam
masing-masing berdiameter sekitar
16.35, terjadi letusan freatik diser-
10 m. Pada tanggal 18 April jam
tai dua suara letusan yang terdengar
07.42 terjadi bualan air di bagian
sampai 1 km. Letusan ini didahului
utara danau kawah, berdiameter
oleh gempa yang terasa di sekitar
sekitar 6 m. Kemudian bualan air
puncak. Gumpalan asap berwarna
tersebut membesar menjadi 15 – 20
putih tebal dengan tekanan kuat ter-
m. Pada jam 12.15 bualan air me-
lihat mencapai ketinggian sekitar
nyemburkan air setinggi sekitar 10
500 m.
m. Warna air danau yang semula
hijau muda berubah menjadi hijau 1999: Pada tanggal 28 Juni sampai 28
keputihan. Juli terjadi kenaikan aktivitas di
danau kawah yang ditandai dengan
1976: 30 Oktober, jam 09.44 tampak
kenaikan suhu air yang mencapai
bualan air pada dua tempat dekat
46° C (3 Juli) dan pada waktu yang
Silenong selama 30 menit.
bersamaan suhu solfatara 1, 4, dan 5
1991: Pada 15, 21, dan 22 Maret terjadi masing-masing 198° C, 176° C, dan
Prakiraan bahaya letusan Gunung Api Ijen Jawa Timur- A. Zaennudin drr. 115

168° C. Pada tanggal 8 Juli terjadi tik. Pada tanggal 14 Januari suhu
penurunan suhu air danau kawah permukaan air danau kawah di Dam
pada lokasi yang sama menjadi 40° mencapai 48° C.
C, sedangkan suhu solfatara meng-
Dari sejarah kegiatannya, sejak tahun 1991
alami peningkatan masing-masing
terjadi letusan freatik setiap satu sampai tiga
menjadi 210° C, 221° C, dan 207°
tahun. Sedangkan tahun 1917 sampai 1991
C.
periode letusan tercatat 6 sampai 16 tahun.
2000: Pada tanggal 6 Juni 2000 terjadi Letusan besar yang menelan korban manusia
peningkatan aktivitas yang ditan- adalah letusan tahun 1817.
dai dengan adanya kenaikan suhu
danau kawah Ijen mencapai 55° C
dan terjadi letusan freatik. Dari data ANALISIS DATA DAN INTERPRETASI
seismic tercatat adanya peningkat- Metodologi
an jumlah gempa, berupa gempa
vulkanik dan tremor yang kemu- Pemahaman aktivitas vulkanisme suatu gu-
dian jumlahnya meningkat pada nung api dalam proses pembentukannya
akhir bulan Juli. Tinggi asap di merupakan syarat mutlak untuk mengetahui
atas kawah yang semula 25 m pada ancaman bahaya gunung api pada masa yang
akhir pertengahan September naik akan datang, yang sering disebut sebagai pra-
menjadi 50 m. Seminggu kemudian kiraan bahaya gunung api. Prakiraan bahaya
aktivitas menurun antara lain ditan- gunung api merupakan suatu kajian ilmiah
dai oleh tinggi asap yang kembali untuk mengetahui karakteristik vulkanisme
menjadi 25 m dan suhu air danau suatu gunung api sebagai acuan dalam pe-
kawah turun menjadi kurang dari nentuan potensi ancaman bahayanya. Kajian
40° C. ini didasarkan pada sifat alamiah gunung api
melalui telaahan data geologi, geofisika, dan
2001: Tanggal 8 Januari terjadi peningkat-
geokimia serta data terkait lainnya secara
an aktivitas vulkanik ditandai de-
komprehensif dan terintegrasi. Telaahan data
ngan adanya bualan air danau se-
tersebut dapat memberikan gambaran karak-
perti mendidih, gas solfatara ter-
tersitik letusan gunung api sebagai acuan
cium sangat tajam, terdengar suara
penentuan jenis dan model potensi ancaman
blaser yang nyaring, asap putih
bahaya gunung api.
tebal dengan tekanan yang kuat,
arah asap tegak lurus, dan pada Gunung api sebagai suatu fenomena alam
lokasi penambangan belerang ter- yang terbentuk dari dinamika geologi yang
jadi kebakaran belerang. Menurut berevolusi sering memperlihatkan aktivitas
pekerja tambang belerang bahwa vulkanismenya secara tidak menentu yang
telah terjadi letusan di air danau dikenal dengan istilah stochastic processes.
kawah, kemungkinan letusan frea- Dalam dunia kegunungapian, pemahaman
116 Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, Vol. 3 No. 2 Agustus 2012:109-132

stochastic processes dalam ruang dan waktu ruang dan waktu geologi. Semua komponen
geologi merupakan suatu hal mutlak dalam penting yang terkait dengan prakiraan ba-
penentuan prakiraan bahaya gunung api pada haya gunung api ini akan diproses ke dalam
masa yang akan datang. Pemahaman sifat pemodelan komputer sebagai bentuk simulasi
alamiah suatu gunung api yang dipadukan prakiraan bahaya gunung api. Salah satu mo-
dengan data sejarah letusan pada masa lam- del komputer yang dapat dipergunakan adalah
pau dapat dijadikan dasar dalam menentukan sistem informasi geografis (SIG).
model ancaman bahaya gunung api tersebut,
SIG merupakan suatu sistem komputer yang
baik secara kualitatif, kuantitatif, atau perpa-
dipergunakan dalam penyimpanan dan pe-
duan keduanya.
mutakhiran informasi geografis. SIG dicip-
Ruang dan waktu geologi dalam kajian pra- takan untuk mendukung atau mempermudah
kiraan bahaya gunung api perlu dipertim- pekerjaan; meliputi penyimpanan, pengatur-
bangkan. Ruang memiliki pengertian ter- an, pemutakhiran, analisis, pemodelan, serta
hadap estimasi lokasi atau sumber potensi penampilan data dan informasi secara spasial,
ancaman bahaya, luas, dan jarak jangkau se- sebagai solusi dalam pemecahan masalah
baran dari setiap jenis potensi bahaya gunung -masalah perencanaan dan managemen. Ap-
api sebagai implikasi besaran kekuatan letus- likasi SIG dapat dipergunakan dalam keper-
an gunung api. Waktu dalam skala geologi luan mitigasi bencana gunung api, termasuk
memiliki implikasi terhadap probabilitas atau prakiraan bahayanya. Prakiraan bahaya gu-
kemungkinan waktu kejadian letusan gu- nung api, SIG memperkenalkan perspektif
nung api pada masa yang akan datang. Ana- baru dalam peningkatan akurasi analisis dan
lisis statistik data sejarah letusan pada masa pemodelan sebagai pengganti metoda kon-
lampau dapat memberikan gambaran rentang vensional. Beberapa tahapan pekerjaan yang
waktu fase istirahat dan reaktivasi vulkanisme dilakukan secara konvensional akan diganti
suatu gunung api, sehingga gambaran umum secara komputer dengan parameter dan prose-
periodisitasinya dapat diperkirakan. dur yang diperlukan untuk sebuah pekerjaan.

Prakiraan potensi bahaya gunung api dilaku-


Morfologi
kan melalui pendekatan deterministik dan
probabilistik. Pendekatan deterministik di- Kompleks Gunung Ijen merupakan model
dasarkan pada data - data geologi, geofisika, pertumbuhan gunung api poligenetik (strato-
dan geokimia, serta data penunjang lainnya volcano) dan monogenetik yang terbentuk
sebagai identifikasi karakteristik vulkanisme di dasar dan dinding kaldera, pasca pemben-
dalam penentuan potensi ancaman bahaya tukan kaldera. Sebagian kerucut gunung api
letusan gunung api pada masa yang akan da- strato tumbuh di dasar kaldera dan sebagian
tang. Sementara itu, pendekatan probabilistik besar lainnya tumbuh di pinggir kaldera se-
lebih ditekankan pada analisis statistik data hingga mengakibatkan hanya sebagian din-
sejarah letusan sebagai gambaran besaran ding Kaldera Ijen yang terlihat masih utuh
letusan pada masa yang akan datang dalam (Gambar 1).
Prakiraan bahaya letusan Gunung Api Ijen Jawa Timur- A. Zaennudin drr. 117

Gambar 1. Dinding Kaldera Ijen bagian utara yang masih dapat dikenali.
Foto: M. Surmayadi, PVMBG.

Berdasarkan urutan arah jarum jam, kerucut Sedikitnya terdapat 17 kerucut sinder sebagai
gunung api strato di Kompleks Gunung Ijen gunung api monogenetik yang terkonsentrasi
adalah Gunung Kukusan, Gunung Merapi, di dasar Kaldera Ijen (Gambar 2). Dimensi
Gunung Rante, Gunung Pendil – Jampit, dan tubuh kerucut sinder yang bervariasi menun-
Gunung Suket. Sementara itu, kerucut gunung jukkan variasi fase erupsinya. Secara umum,
api strato yang tumbuh di dasar kaldera, yaitu dimensi tubuh kerucut sinder di Kompleks
Gunung Blau, Gunung Pawenan, dan Gu- Gunung Ijen dikelompokan ke dalam dimensi
nung Ijen sebagai kerucut gunung api termu- kerucut besar dan kecil. Kerucut sinder berdi-
da, berada di bagian timur laut Kaldera Ijen. mensi besar, seperti Kukusan, Genteng, dan
Berdasarkan dimensi tubuh gunung apinya, Jampit, berbentuk agak memanjang dengan
kerucut gunung api strato yang tumbuh di ba- ketinggian rata - rata 100 m dari bagian dasar
gian pinggir kaldera lebih besar dibandingkan dan panjang lereng bawah mencapai 2-5 km.
dengan yang tumbuh di dasarnya. Pola lereng Pada umumnya, tipe kerucut sinder ini memi-
tubuh gunung api ini yang cenderung berkem- liki fase erupsi yang lebih panjang dengan va-
bang ke arah luar kaldera mencerminkan dis- riasi material letusan berupa jatuhan piroklas-
tribusi bahan letusan gunung api menjauhi tika dan aliran lava. Sementara itu, kerucut
kaldera. Hal ini diinterpretasikan bahwa per- sinder dengan dimensi kecil, seperti Gending
tumbuhan kerucut gunung api strato ini ber- Waluh, Anyar, Lingkar, dan Melatan, memi-
ada di dinding luar kaldera. liki rata - rata ketinggian dan diameter 50 m
118 Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, Vol. 3 No. 2 Agustus 2012:109-132

Gambar 2. Kerucut sinder Anyar (kiri) dan Linkar (kanan) di dasar Kaldera Ijen.
Foto: Zaennudin, PVMBG.

dan 500 m. Produk letusan pada umumnya campuran antara tipe monogenetik dan poli-
hanya jatuhan piroklastika yang kemungkin- genetik yang tumbuh setelah pembentukan
an terbentuk melalui satu fase letusan dalam Kaldera Ijen. Gunung api monogenetik ter-
kurun waktu yang tidak terlalu lama. bentuk oleh material suatu erupsi atau fase
erupsi gunung api, sedangkan gunung api
Pola sebaran kerucut sinder dan lerengnya di poligenetik menghasilkan beberapa kali erup-
antara kerucut di dasar kaldera menghasilkan si atau fase erupsi yang sering dibatasi oleh
morfologi perbukitan rendah bergelombang. jeda waktu antar erupsi yang panjang dan se-
Kondisi ini menyebabkan jarangnya dijumpai ring memperlihatkan adanya evolusi magma-
lembah sungai permanen, kecuali Kali Banyu- tik selama fase vulkanismenya.
pait dan Kali Sengon yang berhulu di lereng
atas Kawah Ijen. Kedua sungai ini mengalir Vulkanisme Gunung Ijen Tua (Gunung Ken-
ke arah utara kaldera dan keluar kaldera mela- deng) berlangsung kira – kira selama 400.000
lui celah sempit (Gambar 3), di sekitar kam- tahun dengan asumsi awal vulkanisme seki-
pung Balawan, yang diduga terbentuk karena tar 700.000 tahun yang lalu berdasarkan
proses tektonik. studi regional. Fase vulkanisme ini berasal
dari diferensiasi magma yang manghasilkan
Vulkanisme Kompleks Gunung Ijen produk erupsi berupa aliran lava dan endapan
piroklastika berkomposisi basaltik hingga
Data geologi menunjukkan bahwa Kompleks dasitik (Sujanto drr., 1988). Endapan alir-
Gunung Ijen merupakan model gunung api an piroklastika dan jatuhan piroklastika se-
Prakiraan bahaya letusan Gunung Api Ijen Jawa Timur- A. Zaennudin drr. 119

Gambar 3. Celah sempit di sekitar Blawan yang diduga terbentuk oleh proses tektonik yang
membelah dinding Kaldera Ijen bagian utara. Foto: Zaennudin, PVMBG.

cara dominan tersusun oleh batu apung dan kanisme lanjutan ini dapat dikelompokan ke-
sebagian litik andesit dan basalt. Aliran lava dalam 2 tipe, yaitu monogenetik dan polige-
berkomposisi sangat variatif mulai dari ba- netik yang tumbuh secara simultan. Sebagian
salt, andesit hingga dasit. Berdasarkan variasi besar gunung api poligenetik, seperti Ringgih
komposisi kimia batuannya, vulkanisme Ijen – Kukusan, Merapi, Rante, Jampit – Pendil,
Tua berlangsung secara dinamis dalam kurun dan Suket, tumbuh pada bagian dinding kal-
waktu yang diduga cukup panjang. dera. Sementara itu 3 gunung api poligenetik
Blau, Pawenan, dan Kawah Ijen, tumbuh di
Setelah vulkanisme berlangsung selama ku-
dasar kaldera membentuk kelompok yang ter-
rang lebih 400.000 tahun, erupsi berskala
pisah dari 12 buah gunung api monogenetik.
sangat besar yang identik dengan tipe letusan
Kelompok gunung api poligenetik mengha-
plinian yang terjadi antara 300.000-50.000 ta-
silkan variasi produk letusan yang terdiri atas
hun yang lalu, menghasilkan kaldera dengan
aliran lava, aliran piroklastika, dan jatuhan
diameter 14 – 16 km. Pembentukan kaldera
piroklastika berkomposisi basaltik hingga an-
tersebut disertai dengan pembentukan endap-
desitik. Sementara itu, gunung api monogene-
an aliran piroklastika berbatuapung yang
tik membentuk kerucut sinder dengan aliran
tersebar ke bagian lereng utara dari sumber
lava berkomposisi basaltik dan andesit basal-
erupsi.
tik. Kerucut sinder berdimensi besar, seperti
Vulkanisme lanjutan pasca pembentukan kal- Kukusan, Genteng, dan Jampit. Pada umum-
dera berlangsung sekitar 50.000 tahun yang nya memiliki fase erupsi yang lebih panjang
lalu, terjadi di dasar dan dinding kaldera. Vul- dengan variasi material letusan berupa jatuh-
120 Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, Vol. 3 No. 2 Agustus 2012:109-132

an piroklastika dan aliran lava (Gambar 4 sebabkan adanya interaksi antara air dan gas
dan Gambar 5). Sementara itu, kerucut sinder magma (Sumarti, 1998). Fumarola dengan
dengan dimensi kecil, seperti Gending Waluh, kandungan SO2, HCl, HF, dan lain sebagian-
Anyar, Lingkar, dan Melatan, pada umumnya nya menghasilkan kandungan sulfat, klorida,
hanya tersusun atas jatuhan piroklastika yang dan fluorida yang sangat pekat pada air danau
kemungkinan terbentuk melalui satu fase le- kawah.
tusan dalam kurun waktu yang tidak terlalu
lama. Prakiraan Erupsi Masa Mendatang

Kawah Ijen sebagai gunung api termuda dan Data letusan pra sejarah menunjukkan bahwa
masih aktif hingga saat ini secara stratigrafi erupsi Kompleks Gunung Ijen bersifat efusif
tersusun atas aliran lava, endapan aliran dan eksplosif. Tidak diketahui secara pasti
piroklastika, dan jatuhan piroklastika. Endap- kapan vulkanisme Kompleks Gunung Ijen
an termuda Kawah Ijen yang teridentifikasi di mulai berlangsung. Berdasarkan data geologi
lapangan adalah endapan hasil letusan freatik regional, awal vulkanisme Kompleks Gunung
(Gambar 6). Letusan freatik memiliki poten- Ijen diasumsikan mulai terjadi pada kala Plis-
si besar terjadi di Kawah Ijen, sehubungan tosen Akhir (Bemmelen, 1949) atau sekitar
dengan kondisi kawah yang terisi air. Danau 700.000 tahun yang lalu. Berdasarkan rekon-
Kawah Ijen ini memiliki derajat keasaman struksi data geologi, durasi vulkanisme Kom-
yang sangat tinggi dengan pH 0,2 yang di- pleks Gunung Ijen dari awal hingga kondisi

Gambar 4. Endapan aliran piroklastika berbatuapung hasil pembentukan Kaldera Ijen.


Prakiraan bahaya letusan Gunung Api Ijen Jawa Timur- A. Zaennudin drr. 121

Gambar 5. Aliran lava yang dihasilkan dari erupsi kerucut sinder Genteng.

Gambar 6. Endapan batuan berwarna keputih-keputihan hasil letusan freatik Kawah Ijen.
Lapisan berwarna kehitaman (bagian bawah) merupakan endapan jatuhan piroklastika
skorean yang dihasilkan dari erupsi magmatik Gunung Ijen.
122 Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, Vol. 3 No. 2 Agustus 2012:109-132

sekarang diawali sebagai gunung api strato nya masih memiliki probabilitas tinggi untuk
yang telah mengalami penghancuran dan erupsi pada masa mendatang. Sehubungan
pembentukan kaldera, serta kembali menjadi dengan keterbatasan data, terutama umur
gunung api strato (poligenetik) dan mono- batuan, maka sulit untuk memperkirakan
genetik. Jika data pentarikhan umur 294.400 perubahan vulkanisme dari poligenetik ke
tahun diasumsikan sebagai fase akhir vul- monogenetik dan lokasi vulkanisme yang
kanisme Ijen Tua, maka sistem Kaldera Ijen baru seandainya terjadi perubahan sistem vul-
kemungkinan terbentuk sekitar 300.000 tahun kanisme. Meskipun demikian, diperhitungkan
yang lalu, setelah berlangsung vulkanisme se- secara kasar aktivitas vulkanik Kompleks Gu-
lama kurang lebih 400.000 tahun. nung Ijen masih berlangsung di Kawah Ijen
yang diperkirakan telah berlangsung selama
Tidak diketahui secara pasti durasi vulkan-
20.000 tahun, sedikitnya dalam 10.000 tahun
isme suatu gunung api poligenetik dan mono-
ke depan. Statistika kasar ini tanpa memper-
getik di Kompleks Gunung Ijen. Meskipun de-
hitungkan faktor tektonik yang kemungkinan
mikian, perkiraan statistika kasar berdasarkan
mempengaruhi perubahan sistem vulkanisme.
data umur batuan di Kompleks Gunung Ijen
(Sujanto drr., 1988), durasi sistem poligenetik Data seismisitas Kompleks Gunung Ijen pe-
kemungkinan berkisar antara 15.000 – 35.000 riode 1989-1997 (Hermawansyah, 1997) me-
tahun, sedangkan durasi sistem monogene- nunjukkan bahwa sumber gempa vulkanik
tik kemungkinan sekitar 10.000 tahun untuk berada pada kedalaman antara 3-4 km di
satu fase monogenetik. Bila dibandingkan de- bawah dan di sekitar Kawah Ijen. Hal ini
ngan data durasi rata – rata dan durasi terpan- menunjukkan bahwa pusat aktivitas vulkanik
jang vulkanisme sistem strato (poligenetik) Kompleks Gunung Ijen berpusat di bawah
berkomposisi intermedier – mafik di dunia Danau Kawah Ijen.
selama 240.000 dan 1.300.000 tahun (Ferrari,
Data geokimia batuan menunjukkan bahwa
1995), maka vulkanisme Kompleks Gunung
evolusi kimia magma Kompleks Gunung Ijen
Ijen dengan sistem strato atau poligenetik
berkisar antara andesit hingga basaltik. Jika
diperkirakan masih akan terus berlangsung.
tidak terjadi perubahan mendasar pada sistem
Sistem monogenetik memiliki durasi vulkan-
magmatiknya, maka erupsi Gunung Ijen pada
ismenya antara 2.987.000 hingga 5.700.000
masa mendatang diasumsikan bersifat andesit
tahun secara rata-rata di dunia (Ferrari, 1995).
atau basaltik dengan energi letusan lebih ren-
Vulkanisme Kompleks Gunung Ijen pasca dah.
kaldera telah berlangsung sekitar 50.000 ta-
hun yang lalu. Pertumbuhan vulkanisme poli-
PRAKIRAAN BAHAYA GUNUNG API
genetik dan monogentik secara simultan ter-
bentuk pasca pembentukan kaldera. Apabila Fenomena Bahaya Gunung api
diasumsikan bahwa vulkanisme poligenetik
Bahaya gunung api merupakan fenomena
dan monogenetik tumbuh bersamaan sekitar
yang memiliki potensi untuk mengancam ma-
50.000 tahun lalu, maka durasi vulkanisme-
nusia dan kehidupannya serta lingkungannya
Prakiraan bahaya letusan Gunung Api Ijen Jawa Timur- A. Zaennudin drr. 123

(Gambar 7). Data deterministik pada masa pra transportasi udara yang melintasi kawasan
sejarah yang terangkum dalam peta geologi sekitar Kompleks Gunung Ijen .
gunung api Kompleks Gunung Ijen dijadi-
Analisis geologi, geokimia, dan geofisika se-
kan dasar dalam evaluasi fenomena gunung
cara terintegrasi menyimpulkan bahwa erupsi
api dan asosiasi ancaman bahayanya. Bahaya
Kompleks Gunung Ijen pada masa mendatang
gunung api Kompleks Gunung Ijen yang
diperkirakan terjadi di sekitar Kawah Ijen se-
berasosiasi dengan aktivitas gunung api dan
bagai kawah aktif di Kompleks Gunung Ijen
erupsinya tidak hanya mengancam kawasan sekarang. Ancaman bahaya gunung api Ka-
di sekitar Kompleks Gunung Ijen, tetapi akan wah Ijen berupa aliran piroklastika, jatuhan
berpengaruh secara regional terhadap daerah piroklastika, aliran lava, dan lahar letusan.
lainnya terutama yang disebabkan oleh abu Kawasan Kompleks Gunung Ijen yang me-
erupsi. Selain mengancam kesehatan dan miliki potensi ancaman tergambar dalam
lingkungan hidup manusia, abu erupsi Kom- ilustrasi peta prakiraan bahaya gunung api.
pleks Gunung Ijen juga memungkinkan akan Batas pelamparan zona bahaya didasarkan
menjadi ancaman serius terhadap kelancaran pada pendekatan deterministik semi kuantita-

Gambar 7. Fenomena bahaya gunung api (Myers et al., 1997).


124 Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, Vol. 3 No. 2 Agustus 2012:109-132

tif dan kondisi morfologinya. Selain bahaya pada masa prasejarah kehidupan manusia
gunung api yang dihasilkan erupsi, bahaya sering kali menghasilkan lontaran batu dan
lainnya datang dari air danau Kawah Ijen hujan abu lebat. Identifikasi singkapan lontar-
dengan derajat keasaman yang sangat tinggi an batu yang berasal dari erupsi prasejarah
sehingga dapat mengancam kesehatan dan banyak dijumpai di lereng barat dan kawasan
lingkungan hidup manusia. puncak.

Berdasarkan data determinisitik, lontaran batu


Bahaya Erupsi Kawah Ijen (pijar) dan hujan lumpur atau lontaran mate-
Aliran Piroklastika rial rombakan hasil letusan freatik menghasil-
kan jangkauan sebaran dengan radius lebih
Meskipun data deterministik memperlihatkan kurang 2,5 km dari Kawah Ijen (Gambar 8B).
pelamparan aliran piroklastika Kawah Ijen Data deterministik ini dijadikan dasar pra-
dalam jangkauan terbatas, namun dalam pem- kiraan bahaya lontaran batu dan hujan lumpur
bentukan endapan aliran piroklastik di masa atau lontaran material rombakan hasil letusan
yang akan datang memiliki potensi cukup freatik pada masa yang akan datang.
signifikan. Prakiraan bahaya aliran piroklas-
tika Kawah Ijen sangat dipengaruhi oleh fak- Berdasarkan pada data deterministik pra-
tor morfologi dikarenakan posisi Kawah Ijen kiraan bahaya hujan abu lebat akibat erupsi
berada di antara himpitan tubuh gunung api Kawah Ijen pada masa yang akan datang,
lainnya. tidak dapat dilakukan karena tidak adanya
data kondisi arah dan kecepatan angin pada
Pelamparan aliran piroklastika Kawah Ijen beberapa kilometer di atas Kawah Ijen. De-
memiliki potensi kuat untuk melanda Banyu- ngan demikian prakiraan potensi ancaman
pait. Aliran piroklastik tersebut akan melalui bahaya hujan abu lebat diduga dalam radius
cela-celah antara kerucut Blau dan Pawenan, jangkauan terjauh, sekitar 7 km dari kawah,
antara Pawenan dan Gunung Merapi, dan Kali sehingga dalam kondisi umum merupakan
Bendo sebagai lembah antara Gunung Rante suatu kawasan berbentuk lingkaran.
dan tubuh Gunung Merapi (Gambar 8A).
Aliran Lava
Jatuhan Piroklastika
Aliran lava Kompleks Gunung Ijen terbentuk
Prakiraan bahaya jatuhan piroklastika dapat selama prasejarah dengan jarak pelamparan
dikelompokkan menjadi hujan abu dan lontar- berkisar antara 5 km sampai hampir 17 km
an batu pijar. Kedua produk erupsi gunung api dari sumber erupsi. Kawah Ijen menghasil-
ini terbentuk melalui mekanisme dan waktu kan aliran lava dengan jangkauan antara
yang sama. Pergerakan dan sebaran abu vul- 4-15 km. Aliran lava prasejarah Kawah Ijen
kanik sangat dipengaruhi oleh arah dan kece- berkomposisi basaltik. Sehubungan dengan
patan angin, sedangkan lontaran batu (pijar) viskositasnya yang rendah, pelamparan alir-
tidak dipengaruhi angin karena beratnya. an lava dapat mencapai jarak yang jauh dari
Erupsi gunung api Kompleks Gunung Ijen
Prakiraan bahaya letusan Gunung Api Ijen Jawa Timur- A. Zaennudin drr. 125

sumber erupsinya. Meskipun demikian, peng- lume air danau kawah kurang lebih 36.000.000
alirannya dikontrol oleh kondisi morfologi. m3, radius dan kecepatan aliran air, rheologi
batuan yang diadopsi dari beberapa pustaka,
Prakiraan ancaman bahaya aliran lava dari
dan kondisi morfologi melalui model elevasi
Kawah Ijen pada erupsi yang akan datang
digital berdasarkan intrapolasi data keting-
dilakukan berdasarkan pada perpaduan data
gian pada peta topografi AMS tahun 1964.
deterministik dan simulasi dengan para-
Radius dan kecepatan aliran air menggam-
meter aliran lava basaltik yang diadopsi dari
barkan hubungan linier antara peningkatan
beberapa sumber pustaka dan kondisi mor-
radius aliran air dan peningkatan kecepatan
fologi di Kompleks Gunung Ijen. Prakiraan
aliran masa. Kecepatan awal aliran danau
bahaya aliran lava mengarah ke utara melalui
yang tumpah dalam simulasi ini diasumsikan
Kali Banyupait dan Kali Senon dan berhenti
pada mekanisme yang sama dengan aliran
mendekati celah kaldera di sekitar Blawan.
piroklastika dengan tinggi kolom letusan 7 m
Jarak pelamparan aliran lava ini mendekati
sesuai dengan data sejarah (Junghuhn,1853,
13 km. Sementara itu, kecenderungan aliran
dikutip oleh Kusumadinata drr., 1979).
lava ke arah selatan melalui Kali Bendo da-
pat mencapai sekitar 9 km dari sumber erupsi Hasil simulasi memperlihatkan bahwa aliran
(Gambar 8C). lahar letusan apabila diarahkan ke utara mela-
lui Kali Banyupait dan Kali Sengon mencapai
Lahar Letusan jarak sekitar 23 km dari sumber erupsi. Se-
mentara itu, apabila simulasi diarahkan ke se-
Lahar letusan merupakan lahar yang terben- latan melalui Kali Bendo dapat mecapai jarak
tuk bersamaan dengan terjadinya letusan pada 27 km (Gambar 8D).
gunung api berdanau kawah. Volume air da-
nau dengan jarak pelemparan lahar letusan
Lahar
memiliki hubungan yang sangat signifikan.
Semakin besar volume air semakin jauh ja- Lahar hujan di Kompleks Gunung Ijen ke-
rak pelamparan lahar letusan, dan sebaliknya. mungkinan terjadi setelah terjadi erupsi ber-
Sedikitnya terjadi 3 kali pembentukan la- dasarkan data deterministik geologi pada
har letusan di Kawah Ijen, yaitu tahun 1817, masa lampau. Material potensi lahar yang
1936, dan 1952 (Kusumadinata drr., 1979). berasal dari endapan aliran piroklastika dan
Lahar letusan menyebar ke arah utara dan se- abu letusan memiliki potensi untuk menjadi
latan melalui Kali Banyupait dan kali Bendo. lahar melalui Kali Banyupait dan Kali Sengon
Sebagian informasi menyebutkan lahar letus- (Gambar 9). Sementara itu, material potensi
an ke arah selatan mendekati Banyuwangi lahar yang berasal dari abu letusan memiliki
pada tahun 1817 (Junghuhn,1853, dikutip potensi untuk menjadi lahar melalui sungai
oleh Kusumadinata drr., 1979). – sungai yang berpola radial yang berhulu di
kawasan puncak.
Simulasi bahaya lahar letusan Kawan Ijen di-
dasarkan atas beberapa parameter, seperti vo-
126 Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, Vol. 3 No. 2 Agustus 2012:109-132

Gambar 8. Prakiraan bahaya Erupsi Kawah Ijen berdasarkan jenis endapan yang dihasilkan.
A: Aliran awan panas
B: Jatuhan piroklastika
C: Aliran lava
D: Lahar letusan yang bersumber dari kawah Ijen (erupsi freatik)
Prakiraan bahaya letusan Gunung Api Ijen Jawa Timur- A. Zaennudin drr. 127

Gambar 9. Prakiraan bahaya aliran lahar yang bersumber


dari Kawah Ijen.

Bahaya Gunung api Lainnya aran air. Akan tetapi beberapa rembesan pada
bagian lereng menyebabkan air danau kawah
Ancaman bahaya yang berasal dari Kawah
mengalir melalui Kali Banyupait – Banyu-
Ijen, selain meterial hasil erupsi adalah air
putih sepanjang kurang lebih 40 km. Sepan-
danau kawah dengan derajat keasaman yang
jang alirannya terjadi percampuran dengan
sangat tinggi (pH 0,2). Kondisi keasaman air
air yang lebih segar dan lebih basa sehingga
danau (hyper-acid water) disebabkan adanya
terjadi pengurangan derajat keasamaan air
interaksi antara air dan gas yang bersumber
yang berasal dari danau kawah Ijen ini. Sur-
dari magma (Sumarti, 1998). Fumarola de-
vei kimia air di sekitar Asembagus menunjuk-
ngan kandungan SO2, HCl, HF, dan sebagi-
kan bahwa sumur - sumur penduduk di sekitar
anya menghasilkan kandungan sulfat klorida
pantai yang digunakan secara intensif untuk
dan fluorida yang sangat pekat pada air danau
kebutuhan hidup dan pertanian memiliki de-
kawah.
rajat keasaman masih cukup tinggi dengan
Sebuah bendungan di bagian barat Kawah pH 3 - 4 (Sumarti, 1998). Analisis kimia air
Ijen dibuat untuk mengatur regulasi pengelu- menunjukkan tingginya kandungan flourida
128 Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, Vol. 3 No. 2 Agustus 2012:109-132

yang dapat menyebabkan kerusakan gigi pen- • Tidak diketahui secara pasti kapan vul-
duduk di sekitarnya yang mengkonsumsi air kanisme Kompleks Gunung Ijen mulai
tersebut. Rasio elemen – elemen di dalam air berlangsung. Berdasarkan data geologi
sumur di Asembagus memiliki kandungan regional, awal vulkanisme Kompleks
kimia yang relatif sama dengan air sungai di Gunung Ijen diasumsikan mulai terjadi
kawasan hulu dan air danau kawah Ijen (Su- pada kala Plistosen Akhir (Bemmelen,
marti, 1998). Dengan demikian air sumur di 1949) atau sekitar 700.000 tahun yang
kawasan Asembagus telah terinfiltrasi oleh air lalu (Sitorus, 1990). Jika data pentarikhan
danau kawah Gunung Ijen. umur 294.400 tahun diasumsikan sebagai
fase akhir vulkanisme Ijen Tua, maka sis-
tem Kaldera Ijen kemungkinan terbentuk
DISKUSI DAN PEMBAHASAN
sekitar 300.000 tahun yang lalu, setelah
Kompleks Gunung Ijen adalah suatu kumpul- berlangsung vulkanisme selama lebih
an gunung api yang terdiri dari beberapa kurang 400.000 tahun.
gunung api yang tumbuh di sekitar dinding • Tidak diketahui secara pasti durasi vul-
dan di dalam kaldera Ijen Tua. Gunung Ijen kanisme suatu gunung api poligenetik dan
adalah salah satu gunung api yang sampai monogenetik di Kompleks Gunung Ijen.
saat ini masih aktif tumbuh di dalam Kalde- Perkiraan statistika kasar berdasarkan
ra Gunung Ijen Tua, yang merupakan depresi data umur batuan di Kompleks Gunung
vulkanik besar dengan diameter lebih kurang Ijen (Sujanto drr., 1988), durasi sistem
16 km berbentuk elips. Keunikan Kompleks poligenetik kemungkinan berkisar antara
Gunung Ijen dibandingkan dengan gunung 15.000 – 35.000 tahun, sedangkan durasi
api lainnya di Indonesia adalah merupakan sistem monogenetik kemungkinan sekitar
model perpaduan gunung api poligenetik 10.000 tahun. Bila dibandingkan dengan
dan monogenetik yang tumbuh di dalam dan data durasi rata – rata dan durasi terpan-
pinggir kaldera. Selain itu Kompleks Gunung jang vulkanisme sistem strato (poligene-
Ijen mempunyai air danau Kawah Ijen dengan tik) berkomposisi intermedier – mafik di
derajat keasaman yang sangat tinggi. Dengan dunia, maka vulkanisme Kompleks Gu-
volume air danau yang sangat besar sekitar nung Ijen dengan sistem strato atau poli-
36 juta m3. Pengalaman masa lampau men- genetik dan monogenetik diperkirakan
jadikan Gunung Ijen memiliki potensi untuk masih akan terus berlangsung.
menghasilkan lahar letusan dan kemungkinan
• Asumsi vulkanisme poligenetik dan
terbentuknya debris avalanche, selain potensi
monogenetik tumbuh bersamaan sekitar
ancaman bahaya erupsi lainnya.
50.000 tahun lalu, maka durasi vulkanis-
Analisis probabilistik dan deterministik menya masih memiliki probabilitas tinggi
dalam interpretasi karateristik vulkanisme untuk erupsi pada masa mendatang. Hi-
Kompleks Gunung Ijen pada masa yang akan tungan secara kasar aktivitas vulkanik
datang menunjukkan bahwa: Kompleks Gunung Ijen diperkirakan telah
Prakiraan bahaya letusan Gunung Api Ijen Jawa Timur- A. Zaennudin drr. 129

berlangsung selama 10.000 tahun, diduga Analisis geologi, geokimia, dan geofisika
kegiatan akan berlangsung sedikitnya secara terintegrasi menyimpulkan bahwa
dalam 10.000 tahun ke depan. Statistika erupsi di Kompleks Gunung Ijen pada
kasar ini tanpa memperhitungkan fak- masa mendatang terjadi di Kawah Gu-
tor tektonik yang kemungkinan mempe- nung Ijen sebagai kawah aktif Kompleks
ngaruhi perubahan sistem vulkanisme. Gunung api tersebut. Ancaman bahaya
• Evolusi magmatik gunung api Kompleks gunung api dari Gunung Ijen berupa alir-
Gunung Ijen yang bercirikan dengan vari- an piroklastika, jatuhan piroklastika, alir-
asi kandungan silika, memiliki variasi ber- an lava, lahar letusan dan hujan, serta
beda yang berkisar dari basalt, andesit ba- bahaya lainnya yang ditimbulkan oleh air
saltik, dan andesit (SiO2 48,21 - 62,32%). danau kawah yang bersifat sangat asam.
Variasi batuan Kompleks Gunung Ijen Kawasan gunung api Kompleks Gunung
pasca pembentukan kaldera yang berkisar Ijen yang memiliki potensi ancaman ter-
dari basalt hingga andesit kemungkinan gambar dalam ilustrasi peta prakiraan ba-
masih berasal dari satu sumber magma haya gunung api Kompleks Gunung Ijen
berdasarkan analisis pola diagram SiO2 (Gambar 10). Batas pelamparan zona ba-
– Al2O3. Interpretasi ini didukung den- haya didasarkan pada pendekatan deter-
gan pola korelasi antara SiO2 terhadap Sr ministik kuantitatif dan semi kuantitatif.
dan Br yang tidak memperlihatkan pola • Kawasan yang kemungkinan terkena lon-
bimodal atau klastering yang cukup sig- taran batu jika terjadi erupsi berada dalam
nifikan. Rendahnya harga Ni, Sr, dan Cr radius 2,5 km dari danau kawah Gunung
semakin memperkuat interpretasi bahwa Ijen.
magma Kompleks Gunung Ijen pasca • Kawasan akumulasi abu jika terjadi letus-
kaldera berasal dari satu sumber magma an berskala besar berada dalam radius 7
turunan yang telah mengalami fase diffe- km dari kawah Gunung Ijen dengan ke-
rensiasi (Sitorus, 1990). Jika tidak terjadi tebalan lebih dari 15 cm.
perubahan mendasar pada sistem mag-
• Kawasan yang kemungkinan terlanda
matiknya, erupsi Gunung Ijen pada masa
aliran piroklastika dalam erupsi berskala
mendatang diasumsikan bersifat andesit
besar hampir mencapai 12 km dari sum-
atau basaltik dengan energi letusan lebih
bernya.
rendah.
• Kawasan yang kemungkinan menjadi
• Data seismisitas Kompleks Gunung
landaan terjauh aliran lava mendekati 15
Ijen periode 1989 – 1998 menunjukkan
km.
sumber gempa vulkanik berada pada
kedalaman antara 3 – 4 km di bawah dan • Kawasan aliran lahar letusan apabila
sekitar danau kawah Gunung Ijen. Hal ini mengarah ke utara mengalir melalui Kali
menunjukkan bahwa pusat aktivitas vul- Banyupait dan Kali Sengon mencapai ja-
kanik Kompleks Gunung Ijen berpusat di rak sekitar 23 km, sedangkan apabila si-
Kawah Gunung Ijen.
130 Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, Vol. 3 No. 2 Agustus 2012:109-132

Gambar 10. Prakiraan bahaya gunung api Kompleks Kawah Ijen.

mulasi diarahkan ke selatan lahar meng- Kompleks Gunung Ijen menjadi kendala
alir melalui Kali Bendo hingga sejauh 27 utama. Untuk menambah akurasi hasil
km. analisis diperlukan beberapa penelitian
• Kawasan yang kemungkinan menjadi lainnya berupa:
landaan aliran lahar hujan berada pada • Pentarikhan umur batuan dari gunung
sungai – sungai berpola radial yang ber- api strato dan monogenetik yang ter-
hulu di kawasan puncak. bentuk paska Kaldera Ijen sebagai
Keterbatasan data penunjang yang diper- gambaran durasi fase vulkanisme ke-
lukan dalam prakiraan bahaya gunung api dua jenis gunung api tersebut.
Prakiraan bahaya letusan Gunung Api Ijen Jawa Timur- A. Zaennudin drr. 131

• Melakukan survei potensial diri (SP), kawah yang cukup besar dan sangat asam,
terutama di dasar kaldera sebagai di samping hasil letusan seperti awan panas,
gambaran kemungkinan terbentuknya erupsi freatik berupa lahar letusan, dan mung-
sistem gunung api monogenetik pada kin dapat terjadi debris avalanche.
masa yang akan datang.
ACUAN
KESIMPULAN Bemmelen, R.W. van., 1949, The Geology of
Indonesia, Vol. I A, Government Printing Office,
Gunung api Ijen adalah kerucut gunung api The Hague.
strato yang tumbuh pada tepi Kaldera Ijen ba-
Hermawansyah, 1997, Analisis Kegempaan
gian tenggara yang mempunyai danau kawah Gunung Ijen, Jawa Timur tahun 1989 – 1997.
di puncaknya. Danau kawah ini terisi air yang Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi,
sangat asam bervolume sekitar 36.000.000 Badan Geologi, tidak dipubliksikan.
m3. Gunung api ini dalam pembentukan tu- Junghun, F., 1853, Landschap Banjowangi en
buhnya pernah terjadi letusan-letusan eksplo- omtreken van den Idjen, Java, II. P. 997 - 1047
sif yang hebat dengan jejaknya berupa kawah
Kusumadinata, K., Hadian, R., Hamidi, S., dan
berdiameter 600 x 900 m. Sedikitnya ada em- Reksowirogo, L., D., 1979, Data Dasar Gunung
pat kawah besar terdapat di puncaknya yang api Indonesia, Direktorat Vulkanologi, Direktorat
saling memotong.Letusan-letusan yang ter- Jenderal Geologi dan Sumberdaya Mineral,
catat dalam sejarah hanya berupa letusan-le- Departemen Pertambangan dan Energi, RI.
tusan freatik yang kadangkala menumpahkan Myers, B., Steven R., Stauffer P., Hendley II, and
isi danau kawahnya seperti yang terjadi pada James W., 1997, What are Volcano Hazards ? U.S.
abad ke-19. Letusan ini merupakan letusan Geological Survey Fact Sheet 002-97.
freatik terbesar yang tercatat dalam seja- Neumann van Padang, M., 1951. Catalogue of the
rah. Air danau tumpah ke arah utara sampai active volcanoes of the world including solfatara
mencapai Asembagus dan ke arah tenggara fields, v.1, Indonesia, p. 156 – 159.
mencapai Rogojampi. Sejarah geologi Gu- Sitorus, K., 1990, Volcanic Stratigraphy and
nung Ijen maupun Gunung Kendeng (Gunung Geochemistry of Ijen Caldera complex, East-Java,
Ijen Tua) menunjukkan sering meletus hebat, Unpublished, Master Thesis, Victoria University
maka tidak menutup kemungkinan pada masa of Wellington, New Zealand.
mendatang dapat meletus dengan hebat seper- Sujanto, Syarifudin, M.Z., dan Sitorus, K., 1988,
ti yang pernah terjadi sebelumnya. Bila hal ini eta Geologi Gunung api Komplek Kaldera Ijen,
terjadi dapat merupakan ancaman serius bagi Jawa Timur. Bandung: Direktorat Vulkanologi.
lingkungan sekitarnya, termasuk penduduk Sumarti, S., 1998, Volcanogenic Pollutants in
yang bermukim di sekitar gunung api dan di Hyperacid River Discharge from Ijen Crater Lake,
sepanjang sungai yang berhulu di danau ka- East Java, Indonesia, Thesis of Doctorandus-
Degree in Geochemistry, Faculty of Earth
wah ini dan merupakan malapetaka. Bencana
Sciences, Utrecht University.
dapat sangat besar karena volume air danau
132 Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, Vol. 3 No. 2 Agustus 2012:109-132

Taverne, N.J.M., 1926. Vulkaanstudien op Java, Blawan, Ijen Caldera, East Java, Annual Meeting
Vulkanol. Med., n. 7, p 99 – 102. of Geological Association of Indonesia, Surabaya
– Indonesia.
Zaennudin, A., Sumarti S., Sutaningsih, E.N.,
dan Sukarnen, 2005, Genetic of an Ancient Lake