100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
4K tayangan30 halaman

Lab Dan Limbah

Dokumen tersebut membahas tentang prosedur standar operasi laboratorium di pabrik kelapa sawit, termasuk cara mengambil sampel dari berbagai unit proses produksi, metode analisis kualitas minyak sawit dan produk lainnya, serta rumus-rumus perhitungan untuk menentukan kadar air, minyak, dan kerugian minyak.

Diunggah oleh

BobbyTryMayendra
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
4K tayangan30 halaman

Lab Dan Limbah

Dokumen tersebut membahas tentang prosedur standar operasi laboratorium di pabrik kelapa sawit, termasuk cara mengambil sampel dari berbagai unit proses produksi, metode analisis kualitas minyak sawit dan produk lainnya, serta rumus-rumus perhitungan untuk menentukan kadar air, minyak, dan kerugian minyak.

Diunggah oleh

BobbyTryMayendra
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

11.

LABORATORIUM

11.A Pengertian dan Tujuan

Dalam proses pengolahan TBS menjadi minyak sawit (CPO), diperlukan


pemantauan atau pengecekan terhadap kualitas-kualitas dalam proses
pengolahan. Stasiun laboratorium adalah stasiun yang digunakan sebagai
tempat pengujian atau quality kontrol terhadap proses produksi.

Tujuan :

a. Mendapatkan penilaian hasil analisa aktual pabrik dengan target yang


ditetapkan perusahaan untuk analisa mutu produksi dan losses.
b. Mengetahui performance masing-masing unit mesin yang beroperasi
di pabrik kelapa sawit.
c. Mengetahui faktor keberhasilan operasional masing-masing unit
mesin yang beroperasi di pabrik kelapa sawit.

11.B Standar Operasional Prosedur

11.B.1 Standar Operasional Prosedur Sampling


a) Unstripped Bunch
 Penghitungan USB ini dilakukan pada rebusan baru Sterilizer.
 Amati empty bunch yang keluar Thresher sebelum tempat
pengutipan USB oleh petugas.
 Lakukan pengamatan pada 100 tandan empty bunch, tanpa
diacak.
 Dalam 100 tandan empty bunch tersebut hitung dengan
menggunakan counter jumlah tandan empty bunch yang masih
mempunyai ≥ 5 berondolan yang masih melekat atau tidak
terpipil (USB).
 Lakukan penghitungan ini agak beberapa kali (minimal 3 kali).
 Hitung jumlah % USB sebagai
(Jumlah USB)
% USB = x 100 %
100
 Rata – ratakan jumlah USB.
 Hasil perhitungan dimasukkan ke form perhitungan USB.
b) Oil Losses
 Sample oil loss diambil untuk mengetahui kehilangan minyak
dalam proses pengolah kelapa sawit.
 Sample diambil dari kondesat sterilizer, underflow CCT, jalur in
dan out decanter.
 Semua sample dimasukkan ke tempat penampungan sample.
 Sample diambil 2 jam setelah proses start.
 Sample diambil setiap jam.
 Ambil sample dari titik sampling, sebanyak ± 100 ml.
 Saat akan proses stop sample dibawa ke labor untuk dianalisa.
 Sebelum dianalisa sample dikompositkan yang bertujuan untuk
mengambil sample yang mewakili dari semua sample.
c) Purifier
 Sample purifier diambil untuk mengetahui kinerja dari purifier
untuk memurnikan CPO.
 Sample diambil dari jalur in dan out purifier.
 Sample purifier diambil 2 jam setelah proses start.
 Ambil sample dari keluaran valve sampling, sebanyak ± 100 ml.
 Masukkan sample ke tempat penampungan sample.
 Saat akan proses stop sample dibawa kelabor untuk dianalisa.
 Sebelum dianalisa sample dikompositkan yang bertujuan untuk
mengambil sample yang mewakili dari semua sample.
 Sample dianalisa kadar air (VM) dan kotorannya (dirt).
d) Vacuum Dryer
 Sample vacuum diambil untuk mengetahui kualitas dari CPO
yang dihasilkan.
 Sample diambil dari keluaran dari vacuum dryer.
 Sample diambil 2 jam setelah proses start.
 Sample vacuum diambil setiap jam.
 Ambil sample dari keluaran valve sampling, sebanyak ± 100 ml.
 Sample dibawa kelabor untuk dianalisa kadar air dan kotoran.
e) Press Cake
 Sample press cake diambil untuk mengetahui performa dari
press yang yang digunakan untuk analisa BN/TN serta oil loss
di press cake.
 Sample diambil 2 jam setelah proses start.
 Ambil sample dari keluaran dari chute press, sebanyak ± 1 kg
(1 gayung).
 Masukkan sample ke tempat penampungan sample.
 Saat akan proses stop sample dibawa ke labor untuk dianalisa.
 Sebelum dianalisa lakukan quartener sample (pembagian
sample) yang bertujuan untuk mengambil sample yang mewakili
dari semua sample.
f) Fiber Cyclone
 Sample fiber cyclone di ambil untuk mengetahui jumlah kernel
yang terbuang ke boiler.
 Sample diambil 2 jam setelah proses start.
 Ambil sample dari keluaran dari airlock fiber cyclone, sebanyak
± 1 kg (1 gayung).
 Masukkan sample ke tempat penampungan sample.
 Saat akan proses stop sample dibawa ke labor untuk dianalisa.
 Sebelum dianalisa lakukan quartener sample (pembagian
sample) yang bertujuan untuk mengambil sample yang
mewakili dari semua sample.
g) Nut
 Sample nut diambil untuk mengetahui efektifitas pengeringan
yang terjadi di nut silo dan mengetahui karakteristik dari nut
yang akan diolah.
 Sample di ambil 2 jam setelah proses start.
 Ambil sample dari keluaran dari polishing drum dan keluaran
dari nut silo, sebanyak ± 1 kg (1 gayung).
 Masukkan sample ke tempat penampungan sample.
 Saat akan proses stop sample dibawa ke labor untuk dianalisa.
 Sebelum dianalisa lakukan quartener sample (pembagian
sample) yang bertujuan untuk mengambil sample yang mewakili
dari semua sample.
h) Kernel
 Sample kernel diambil untuk mengetahui kualitas dari kernel
yang dihasilkan.
 Sample diambil dari jalur by pass kernel, kernel yang masuk ke
kernel silo dan kernel yang keluar dari kernel silo.
 Khusus untuk keluaran dari kernel silo, sample diambil setiap
melakukan transfer ke bulk silo.
 Sample diambil 2 jam setelah proses start.
 Ambil sample sebanyak ± 1 kg (1 gayung).
 Masukkan sample ke tempat penampungan sample.
 Saat akan proses stop sample dibawa ke labor untuk dianalisa.
 Sebelum dianalisa lakukan quartener sample (pembagian
sample) yang bertujuan untuk mengambil sample yang mewakili
dari semua sample.
11.B.2 Standar Operasional Prosedur Analisa
a) Analisa Oil Losses
 Instruksi ini berlaku untuk analisa Oil Loss Dry Basis (OLDB)
press cake, Oil Content di Heavy Phase, solid decanter,
condensate sterilizer, crude oil tank, feed decanter, dan
underflow CST.
 Timbang Gelas piala 100 ml dan catat beratnya sebagai (1).
 Homogenkan sample, agar sample rata dan mewakili.
 Nolkan bacaan timbangan, kemudian timbang sample hingga
ketelitian 0,1 mg dengan berat sample 10 gram. Catat beratnya
sebagai (2).
 Tempatkan cawan tersebut ke dalam oven pada temperatur 105
±2 oC selama 3 jam.
 Setelah itu ambil cawan tersebut dan dinginkan segera dalam
desikator (30 sampai 45 menit) sebelum ditimbang kembali.
Catat berat cawan yang sudah dingin sebagai (3).
 Jumlahkan Point (1) dan Point (2), catat sebagai (4).
 Point (4) ini kemudian kurangkan dengan Point (3), catat
sebagai (5).
 Selanjutnya sample yang sudah dianalisa kadar airnya ini,
digunakan sebagai sample untuk mencari oil content dan oil
loss.
 Timbang labu ekstraksi yang sudah kering dan batu didih untuk
masing–masing sample dan catat beratnya sebagai (6).
 Sample yang sudah kering tadi pindahkan ke dalam timbel
dengan terlebih dahulu dibungkus dengan kapas atau kertas
tissue, sampai tidak ada sisa sample lagi di dalam gelas piala.
 Tambahkan N-Hexane ke dalam labu ekstraksi.
 Pasang alat sokletasi dan ekstraksi selama 5 jam dengan setting
10 siklus/jam.
 Setelah 5 jam, uapkan kelebihan atau sisa–sisa hexane ke dalam
soklet ekstraktor dan pindahkan labu ekstraksi dari water batch
atau elektro thermal/heating mantel.
 Keringkan labu dalam oven selama 2 jam pada temperatur  105
±2oC.
 Pindahkan labu dan dinginkan dalam desikator selama kurang
lebih ½ jam sebelum ditimbang kembali hingga ketelitian 0,1
mg (7).
 Kurangkan berat point 7 dan berat point 6, dan catat sebagai
(8).
 Lakukan perhitungan kadar air dan oil loss yang ada di fibre,
dengan rumus ;
Volatile Matter (% VM)
(5)
% 𝑉𝑀 = x 100 %
(2)
Oil Content (% Oil)
(8)
% Oil Loss Wet Basis = x 100 %
(2)
Non Oil Solid (% NOS).
% NOS = 100 % - (% VM + % Oil)
Oil Loss Dry Basis untuk sample press cake (% OLDB) ;
100
% Oil Loss Dry Basis = % OLWB
(100 − % VM)
 Hasil perhitungan VM, NOS dimasukkan ke form oil loss dan ke
form Decanter.
 Sedangkan hasil OLDB dimasukkan ke form analisa press cake.
b) Analisa FFA Oil
 Timbang sample untuk analisa CPO sebanyak 10 gram (W) ke
dalam erlenmeyer.
 Tambahkan 50 ml pelarut Iso Propil Alkohol yang telah
dinetralkan.
 Tempatkan erlenmeyer diatas hot plate dan panaskan hingga
temperatur lebih kurang 40 oC.
 Tambahkan beberapa tetes larutan indikator Phenol Pthalien
(PP).
 Titrasi dengan menggunakan NaOH 0,1 N (N) yang telah
distandarisasi hingga timbul warna merah muda yang tetap
setelah pengocokan.
 Catat volume NaOH terpakai sebagai (V).
 Warna harus bertahan untuk 30 detik.
 Menghitung nilai FFA
25,6 x N x V
FFA Sebagai Palmitat =
W
 Prosedur analisa ini berlaku untuk Crude Palm Oil (CPO)
vacuum, storage, dan despatch.
 Hasil perhitungan dimasukkan ke form vacuum, form CPO
produksi, form analisa despatch CPO dan form Despatch, form
Laporan laboratorium form Perhitungan Hasil Produksi.
c) Analisa VM Oil
 Timbang Gelas piala dan catat beratnya sebagai (1).
 Homogenkan sample, agar sample rata dan mewakili.
 Nolkan bacaan timbangan, kemudian timbang sample hingga
ketelitian 0,1 mg dengan berat sample 10 gram. Catat beratnya
sebagai (2).
 Panaskan gelas piala yang telah berisi sample di atas hot plate
sambil digoyang, sampai gelembung air keluar dari minyak
ditandai dengan adanya asap.
 Setelah itu dinginkan gelas piala, dan timbang kembali (3).
 Jumlahkan Point (1) dan Point (2), catat sebagai (4).
 Point (4) ini kemudian kurangkan dengan Point (3), catat
sebagai (5).
 Hitung kadar air dari sample
(5)
% VM = x 100 %
(2)
 Prosedur analisa ini berlaku untuk Crude Palm Oil (CPO)
vacuum, storage, dan despatch.
 Hasil perhitungan dimasukkan ke form vacuum, form CPO
produksi form analisa despatch CPO dan form Despatch CPO,
form Laporan laboratorium form Perhitungan Hasil Produksi.
d) Analisa Dirt Oil
 Timbang gelas piala dan catat beratnya sebagai (1).
 Homogenkan sample, agar sample rata dan mewakili.
 Nolkan bacaan timbangan, kemudian timbang sample hingga
ketelitian 0,1 mg dengan berat sample 10 gram. Catat beratnya
sebagai (2).
 Tempatkan gelas piala tersebut ke dalam oven. Kemudian
panaskan pada temperatur 105 ±2oC selama 3 jam.
 Setelah selesai keluarkan gelas piala tersebut dan dinginkan
segera dalam desikator (30 sampai 45 menit ) sebelum
ditimbang kembali. Catat berat cawan yang sudah dingin
sebagai (3).
 Jumlahkan Point (1) dan Point (2), catat sebagai (4).
 Point (4) ini kemudian kurangkan dengan Point (3), catat
sebagai (5).
 Timbang Crucible dan kertas saring dalam desikator dan
timbang hingga ketelitian 0,1 mg ( 6 ).
 Sample dari CPO produksi, CPO Purifier, dan Vacuum yang
sudah dianalisa kadar airnya dipanaskan dan aduk untuk
menghomogenkan, kemudian tambahkan Petrolleum Eter atau
n–Hexane.
 Saring dengan cermat larutan itu dengan Gooch Crucible
dengan menggunakan pompa vacuum. Gunakan pelarut ( 10
ml) umtuk memindahkan semua minyak dan bahan tidak larut
ke dalam Gooch Crucible.
 Cuci bersih dengan pelarut dan keringkan crucible dalam oven
pada temperatur 105 ±2 oC selama 1 jam.
 Dinginkan dalam desikator hingga temperatur kamar. Timbang
Gooch Crucible dan isinya hingga ketelitian 0,1 mg (7) selama
30 menit.
 Kurangkan berat akhir crucible (7) dengan berat awal crucible
(6), catat beratnya sebagai (8).
 Hitung Kadar air dan kadar kotoran minyak ini dengan rumus
(5)
% VM = x 100 %
(2)
(8)
% Kadar kotoran = x 100 %
(2)
 Prosedur analisa ini berlaku untuk Crude Palm Oil (CPO)
vacuum, storage, despatch, before oil purifier dan after oil
purifier.
 Hasil perhitungan dimasukkan ke form vacuum form CPO
produksi, form analisa despatch CPO dan form Despatch CPO.

e) Analisa PV Oil
 Timbang 5 gr sample (W), ke dalam erlenmeyer 250 ml.
 Tambahkan 30 ml larutan Asam Asetat – Kloroform. Aduk
hingga sample terlarut sempurna.
 Tambahkan 0,5 ml KI jenuh dengan pipet. Aduk larutan selama
1 menit dan kemudian tambah 30 ml aquadest.
 Titrasi dengan 0,01 N Sodium Thiosulphat (N), penambahan
harus perlahan – lahan dan konstan sambil terus diaduk.
 Teruskan titrasi hingga warna kuning hampir hilang.
 Tambahkan 0,5 ml indikator starch. Teruskan titrasi, aduk
erlenmeyer dengan kuat mendekati titik akhir untuk
memisahkan semua I2 di lapisan kloroform.
 Titik akhir titrasi ditandai dengan warna biru tepat hilang.
 Catat volume Thio terpakai sebagai (V).
 Hitung angka peroksida sample dengan rumus
V x N x 1000
𝑃𝑉 =
𝑊
 Prosedur analisa ini berlaku untuk Crude Palm Oil (CPO)
vacuum, storage, dan despatch.
 Hasil perhitungan dimasukkan ke form vacuum, form CPO
produksi, form analisa despatch CPO.
f) Analisa DOBI Oil
 Timbang sample CPO, sebanyak 0,15 gram di dalam labu ukur
25 ml.
 Larutkan dengan Iso–Octane.
 Paskan sampai tanda batas dan Homogenkan.
 Hidupkan Spectro photometer sampai siap untuk digunakan.
 Set panjang gelombang Spectro photometer pada panjang
gelombang 446 nm (Visible) dan 269 nm (UV).
 Sebelum memasukan cuvet ke dalam Spectro photometer, cuvet
harus selalu dibersihkan dengan menggunakan kertas tissue
yang lembut.
 Setiap memasukkan cuvet kedalam spectro photometer posisi
muka cuvet harus yang jernih menghadap ke lubang.
 Lakukan Kalibrasi dengan menggunakan larutan Blanko (Iso–
Octane) pada Cuvet, letak cuvet khusus Blanko harus diletak di
“B” tidak boleh tertukar, untuk sample di No 1 s/d 5.
 Kalibrasi dengan menekan “Run Test” di monitor Spectro
photometer.
 Setelah itu tekan “Measure Blank” di Panel Spectro photometer.
 Lakukan pengukuran Dobi CPO dengan menekan “Measure
sample” di Panel Spectro photometer.
 Catat Nilai Dobi yang tertera pada layar Spectro photometer.
 Prosedur analisa ini berlaku untuk Crude Palm Oil (CPO)
vacuum, storage, dan despatch.
 Hasil perhitungan dimasukkan ke form vacuum, form CPO
produksi, form analisa despatch CPO dan form Despatch CPO,
form Laporan laboratorium serta form Perhitungan Hasil
Produksi.
g) Analisa Press Cake
 Kuarterner (bagi) sample press cake yang telah diambil.
 Timbang Sample press cake (CB).
 Pisahkan secara manual dan teliti semua kernel, free shell, dan
nut yang ada di press cake.
 Timbang masing – masing fraksi yang ada sebagai
 Whole Kernel (WK), Broken Kernel (BK), Whole Nut (WN),
Broken Nut (BN), Free Shell (FS).
 Tambahkan WK dan BK, Sebagai Total Kernel (TK).
 Tambahkan FS, TK, dan BN sebagai Total Broken Nut (TBN).
 Tambahkan TBN dengan WN sebagai Total Nut (TN).
 Lakukan perhitungan :
TBN TBN
% = x 100 %
TN TN
TN TN
% = x 100 %
CB CB
TBK TBK
% = x 100 %
TN TN
 Catat hasil ini dalam form analisa press cake.
h) Analisa Ripple mill
 Kuarterner sample ripple mill.
 Timbang sample cracked mixture (CB).
 Pisahkan masing–masing fraksi yang ada di cracked mixture
sebagai :
Whole kernel (WK).
Broken kernel (BK).
Whole nut (WN).
Broken nut (BN).
Free Shell (FS).
Stone (S).
 Timbang berat masing–masing fraksi yang sudah dipisahkan.
 Persenkan masing–masing fraksi terhadap contoh berat.
% whole nut
(WN)
% whole nut = x 100 %
(CB)
% broken nut
(BN)
% broken nut = x 100 %
(CB)
% broken kernel
(BK)
% broken 𝑘𝑒𝑟𝑛𝑒𝑙 = x 100 %
(CB)
 Hitung effisiensi ripple mill dengan rumus
Effisiensi 𝑅𝑖𝑝𝑝𝑙𝑒 𝑚𝑖𝑙𝑙 = 100 % − (% WK + % BK)
 Catat performance Ripple mill dan hasil analisa dari sample
ripple mill di form ripple mill.
i) Analisa VM Nut
 Pilih secara acak 50 nut dari sample nut dan pecahkan nut secara
hati–hati untuk mengambil kernel.
 Haluskan semua kernel tersebut.
 Timbang petridisk kosong yang sudah kering, catat beratnya (1).
 Nolkan timbangan kembali, masukkan kernel halus timbang 10
gram, catat beratnya (2).
 Catat penambahan berat petridisk dan kernel (3).
 Tempatkan petridisk tersebut ke dalam oven pada. Kemudian
panaskan pada temperatur 105 ±2 oC selama 3 jam.
 Setelah itu ambil petridisk tersebut dan dinginkan segera dalam
desikator (30 sampai 45 menit ) sebelum ditimbang kembali.
Kemudian timbang cawan yang sudah dingin (4).
 Kurangi berat awal petridisk dan sample (3), dengan berat
setelah dipanaskan (4), catat sebagai (5).
 Hitung kadar air dari sample
(5)
% Kadar Air = x 100 %
(2)
 Catat Nilai kadar air ini sebagai kadar air nut.
 Prosedur ini berlaku untuk analisa VM nut in dan nut out.
 Catat hasil perhitungan didalam form ripple mill.
j) Analisa Losses Kernel
 Kuarterner sample dari dry shell, wet shell claybath.
 Timbang sample dry shell atau wet shell yang sudah
dikwarterner, dan catat beratnya sebagai (CB).
 Pisahkan masing – masing fraksi yang ada di dry shell atau wet
shell tadi sebagai :
Whole kernel (WK).
Broken kernel (BK).
Whole nut (WN)
Broken nut (BN).
Free Shell (FS)
 Timbang berat masing – masing fraksi yang sudah dipisahkan.
 Pecahkan Whole nut dan broken nut, kemudian timbang
kernelnya sebagai;
Kernel dari Whole Nut (WNK).
Kernel dari Broken Nut (BNK).
Tambahkan WK, BK, WNK, dan BNK sebagai Total Kernel
(TK).
 Hitung Losses kernel di dry shell atau wet shell ini, dengan
rumus;
TK
% TK = x 100 %
CB
 Catat hasil ini sebagai losses kernel dan masukkan ke form
kernel produksi.
k) Analisa VM Kernel
 Kuarterner sample yang telah diambil.
 Ambil 10 gram secara acak kernel despatch yang telah dianalisa
kotoranya, kemudian haluskan semua kernel tersebut.
 Timbang petridisk kosong yang sudah kering, catat beratnya (1).
 Untuk masing – masing sample lakukan dua buah analisa
(double).
 Nol kan timbangan kembali, masukkan kernel halus timbang 10
gram, catat beratnya (2).
 Catat penambahan berat petridisk dan kernel (3).
 Tempatkan petridisk tersebut ke dalam electric oven. Kemudian
panaskan pada temperatur 105 ± 2 oC selama 30 menit.
 Setelah itu ambil petridisk tersebut dan dinginkan, kemudian
timbang (4).
 Kurangi berat awal petridisk dan sample (3) dengan berat
setelah dipanaskan (4), kemudian catat sebagai (5).
 Hitung kadar air dari sample
(5)
% Kadar Air = x 100 %
(2)
 Rata – ratakan hasil kadar air kedua sample tersebut.
 Catat kadar air kernel.
 Prosedur ini berlaku untuk penentuan kadar air, kernel dan kadar
air kernel despatch.
 Catat hasil ini sebagai kotoran total di form Kenel produksi,
form analisa despatch kernel, form despatch kernel dan form
laporan laboratorium serta Form perhitungan hasil produksi.
l) Analisa Dirt Kernel
 Kuarterner sample yang telah diambil.
 Timbang sample (by pass kernel, wet kernel, kernel
production, dan despatch kernel) yang sudah dikwarterner,
dan catat beratnya (CB).
 Pisahkan masing – masing fraksi yang ada di dry shell atau
wet shell tadi sebagai;
Whole kernel (WK).
Broken kernel (BK).
Whole nut (WN).
Broken nut (BN).
Free Shell (FS).
Stone (S).
 Timbang berat masing – masing fraksi yang sudah
dipisahkan.
 Pecahkan Whole nut dan broken nut, kemudian timbang
kernelnya, dan dapatkan berat shell dengan mengurangi
berat whole nut atau broken nut dengan kernel masing–
masing. Catat berat shell tersebut sebagai;
Shell dari Whole Nut (WNS) - Shell dari Broken Nut (BNS).
Tambahkan WNS, BNS, FS, dan S sebagai Total dirt (TD).
 Hitung Losses kernel di dry shell atau wet shell ini, dengan
rumus ;
TD
% TD = x 100 %
CB
 Catat hasil ini sebagai kotoran total di form Kenel produksi
FR-S9.1-11, form analisa despatch kernel FR-S9.1-16 ,
form despatch kernel FR-S9.1.- 13 dan form laporan
laboratorium FR-S9.1-14 serta Form perhitungan hasil
produksi FR-S9.1-15.

11.C Peralatan/Equipment

11.C.1 Peralatan Ekstraksi

Peralatan ekstraksi terdiri atas labu ekstraksi, kondensor, dan soxhlet.


Bagian-bagian tersebut dibutuhkan dalam proses ekstraksi analisa
sample cair, solid, maupun padat.
Berikut ini merupakan gambar dari peralatan ekstraksi.

11.C.2 Timbangan

Timbangan pada laboratorium memiliki ketelitian yang berbeda


sesuai dengan kebutuhannya. Berikut ini merupakan timbangan
analitik dengan ketelitian 0,0000.
11.C.3 Desikator

Desikator digunakan untuk mendingankan material analisa setelah


melalui proses pemanasan. Berikut ini merupakan gambar desikator.

11.C.4 Oven

Oven digunakan untuk memanaskan sample analisa maupun untuk


mengeringkan alat yang akan digunakan. Berikut ini merupakan
gambar oven analisa dan oven pengering alat.

11.C.5 Hot Plate

Hot plate digunakan untuk analisa kadar air (volatile meter) bagi
sample cair dengan cara dipanaskan hingga air di dalam sample
menguap. Berikut ini merupakan gambar hot plate.
11.D Parameter Kontrol

 % Oil sterilizer condensate : < 2.00 %


 % Unstripped bunch :<5 %
 % Press BN/TN : < 15 %
 % Press OLDB : < 8.5 %
 % Oil underflow CCT : < 8.5 %
 % Oil heavy phase decanter :<1 %
 % Oil solid decanter :<3 %
 % VM before oil purifier : < 0.70 %
 % Dirt before oil purifier : < 0.08 %
 % VM after oil purifier : < 0.45 %
 % Dirt after oil purifier : < 0.03 %
 % FFA oil produksi : < 5.00 %
 %VM oil produksi : < 0.15 %
 % Dirt oil produksi : < 0.02 %
 Dobi oil produksi :>2
 % TK fibre to boiler :<1 %
 % TK dry shell to boiler : < 1.5 %
 % TK wet shell claybath :<3 %
 % VM nut after nut silo : < 14 %
 % Efisiensi ripple mill : > 96 %
 % TD wet kernel claybath :<7 %
 % TD kernel by-pass :<7 %
 % TD kernel silo :<7 %
 % TD kernel produksi :<7 %
 % VM kernel produksi :<7 %
12. LABORATORIUM

12.A Pengertian dan Tujuan


Pabrik kelapa sawit dalam proses pengolahannya untuk mendapatkan
produk berupa crude palm oil dan palm kernel menghasilkan produk
sampingan yang biasa disebut limbah. Limbah pabrik kelapa sawit perlu
dikelola agar tidak menimbulkan pencemaran dan penurunan kualitas
lingkungan.
Limbah pabrik kelapa sawit terbagi menjadi limbah padat dan limbah
cair.
a. Limbah padat
Limbah padat pabrik kelapa sawit merupakan produk sampingan dari
hasil pengolahan tandan buah segar menjadi CPO dan PK yang berupa
padatan.
Berikut ini merupakan limbah padat pada pabrik kelapa sawit:
 Janjangan kosong
 Fiber
 Cangkang
 Abu boiler
b. Limbah cair
Limbah cair pabrik kelapa sawit didefinisikan sebagai hasil proses
produksi yang berbentuk cairan selain CPO dan PKO yang harus
dikelola agar tidak menimbulkan pencemaran dan penurunan kualitas
lingkungan.
Limbah cair pabrik kelapa sawit berasal dari:
 Stasiun sterilizer berupa air condensate
 Stasiun klarifikasi berupa sludge dan air cucian tangki
 Stasiun nut and kernel berupa larutan pemisah claybath
 Air cucian pabrik
Dalam proses pengolahannya limbah harus mencapai standar tertentu
agar tidak mencemari lingkungan.
Baku mutu limbah cair pabrik kelapa sawit dapat dilihat pada tabel
berikut ini;
Tabel Baku Mutu Limbah Cair
Debit limbah maks. sebesar 2,5 m3 per ton CPO
Parameter Kadar Beban cemaran
Satuan Satuan
maks. maks.
BOD 100 mg/l 0.25 kg/ton
COD 350 mg/l 0.88 kg/ton
TSS 250 mg/l 0.63 kg/ton
Minyak dan
25 mg/l 0.0631 kg/ton
lemak
Total N 50 mg/l 0.125 kg/ton
pH - - -

Karakteristik limbai cair yang diperbolehkan untuk dibuang ke badan


sungai dapat dilihat pada
Tabel Karakteristik LCPKS
Parameter Beban Maksimum
pH 6-9
BOD (ppm) 250
COD (ppm) 500
TSS (total suspended solid) 300
NH3-N (ppm) 20
Oil grease (ppm) 30
Air limbah yang dihasilkan dari pabrik kelapa sawit dapat dimanfaatkan
untuk pemupukan pada tanah perkebunan karena air limbah tersebut pada
kondisi tertentu masih mengandung unsur hara yang dapat dimanfaatkan
oleh tanaman. Pemupukan pada air limbah pada umumnya dilakuka
dengan mengalirkan air limbah yang berasal dari kolam limbah ke parit
(bed) yang ada di perkebunan. Cara pemupukan dengan menggunakan air
limbah ini dikenla sebagai land application (LA).
Metode LA yang saat ini banyak digunakan adalah metode irigasi dengan
sistem flatbed, longbed dan furrow. Pemilihan metode LA ini tergantung
dengan kondisi lahan aplikasi yakni tingkat kecuraman area dan
permeabilitas tanah.
Berikut ini pengaturan menganai persyaratan minimal penerapan Land
Application.
Pemrakarsa yang akan melakukan LA wajib mengajukan permohonan
pengkajian pemanfaatan kepada bupati. Selanjutnya, bupati akan
menetapkan persyaratan minimal untuk pelaksaanan pengkajian
pemanfaatan air limbah sebagai berikut:
 Pengaluh terhadap pembudidayaan ikan, hewan, dan tanaman.
 Pengaruh terhadap kualitas tanah dan air tanah.
 Pengaruh terhadap kesehatan masyarakat.
 BOD tidak melebihi 5000 ppm.
 Nilai pH berkisar antara 6-9.
 Dilakukan pada lahan selain gambut.
 Dilakuka pada lahan dengan permeabilitas antara 1,1-15 cm/jam.
 Tidak dilakukan pada lahan dengan kedalaman air tanah <2 meter.
 Areal pengkajian seluas 10-20% dari seluruh areal yang akan
digunakan untuk aplikasi.
 Pembuatan sumur pantau.
Persyaratan tersebut distas datap ditambah dengan persyaratan lain sesuai
kebutuhan masing-masing daerah yang bersangkutan.
Selain persyaratan tersebut diatas, juga ada larangan-larangan di dalam
pelaksanaan LA yaitu:
 Dalam pelaksanaan LA dilarang adanya air larian (run off) ke sungai
atau lingkungan lainnya.
 Pemrakarsa dilarang melakukan pengenceran air limbah yang akan
diaplikasikan.
 Pemrakarsa dilarang membuang air limbah pada tanah diluar wilayah
yang telah ditetapkan.
 Pemrakarsa dilarang membuang air limbah ke sungai bila kualitas
limbah melebihi baku mutu air limbah yang berlaku.
Tujuan
Pengolahan limbah pabrik kelapa sawit bertujuan untuk:
a) Memanfaatkan kembali (re-use) limbah pabrik kelapa sawit yang
masih bisa digunakan kembali.
b) Melakukan pengolahan limbah (recycle) untuk digunakan sebagai
pupuk atau bahan bakar.
c) Limbah juga dapat dijual kepada yang membutuhkan.

12.B Standar Operasional Prosedur

Dalam proses pengolahannya pabrik kelapa sawit selain menghasilkan


produk berupa CPO dan PK juga menghasilkan limbah baik limbah padat
maupun limbah cair, oleh karena itu perlu dilakukan pengolahan limbah
agar tidak terjadi penurunan kualitas lingkungan.
Beberapa proses pengolahan limbah pada pabrik kelapa sawit dijelaskan
sebagai berikut:
Pengelolaan Limbah Padat:
a) Tandan Kosong Pupuk Organik dan Bahan Bakar
b) Cangkan (shell) dan fiber sebagai bahan bakar boiler
Pengelolaan Limbah Cair:
Produksi limbah cair pabrik kelapa sawit (LCPKS) bergantung kepada
tingkat efisiensi pemakaian air selama proses. Secara umum rasio
perbandingan rasio air yang digunakan untuk proses pengolahan dengan
jumlah TBS yang diolah 1:1 dan pada akhirnya rasio produksi LCPKS
adalah sekitar 55-65% terhadap TBS yang diolah. Rata-rata PKS di
Indonesia menghasilkan 1-1,3 m3 LCPKS/ton TBS.
Dalam upaya pengelolaan limbah cair maka setiap PKS membuat kolam
limbah. Kolam limbah adalah kolam yang digunakan untuk menampung
limbah cair sisa hasil proses pengolahan. Kolam limbah terletak di luar
pabrik pengolahan, sehingga pengiriman menuju kolam dilakukan
dengan menggunakan pompa.
Adapun tujuan dari di buatkannya kolam limbah adalah:
a) Untuk menampung limbah cair sisa hasil proses pengolahan.
b) Mengkondisikan limbah sebelum dilakukan land aplication atau
kolam stabilisasi.
Pada prinsip pengolahannya, pengolahan limbah cair meliputi:
a) Proses Anaerobic: tidak memerlukan oksigen dan cahaya, terjadi di
bagian dalam kolam. Tugas utama bakteri yaitu memecah berbagai
senyawa organik kompleks menjadi senyawa organik yang lebih
sederhana.
b) Proses Aerobic: memerlukan oksigen dan cahaya dalam proses
perombakannya, baik oksidasi dengan katalisator kimia maupun
dengan katalisator mikroorganisme. Terjadi di permukaan kolam.
Selama proses perombakan bahan organik (LCPKS yang masih
mengandung minyak dan lemak serta padatan-padatan lainnya) akan
berlangsung dalam suasana anaerob yang dibantu oleh bakteri anaerob
dan dalam proses tersebut akan terjadi tahapan-tahapan proses
perombakan, yaitu:
a) Proses Hydrolisis
Merupakan tahapan awal dalam proses dekomposisi bahan organik
polimer (dalam bentuk makro seperti protein, karbohidrat dan lemak)
oleh mikroba atau bakteri pengurai yang memproduksi enzim ekstra
seluler (hydrolase) seperti lipase, protease, dan karbohidrase menjadi
molekul-molekul yang lebih sederhana sehingga mudah dikonsumsi
oleh mikroorganisme.
b) Proses Acidogenesis
Merupakan tahapan lanjutan setelah proses hidrolisis bahan-bahan
organik dari bentuk polimer menjadi monomer-monomer sederhana
yang selanjutnya akan dirombak lagi menjadi asam-asam mudah
menguap yang melibatkan bakteri acetogenik (penghasil ion hidrogen
dari asam tertentu) yang ditandai dengan meningkatnya konsentrasi
VFA (volatile fatty acid) atau asam-asam mudah menguap dalam
larutan.
c) Proses Achetogenesis
Tahapan selanjutnya adalah proses perombakan (hidrolisis) senyawa-
senyawa unikarbon seperti H2/CO2 atau HCOOH yang dikatabolisis
oleh bakteri homoacetogenik maupun senyawa-senyawa multikarbon
menjadi asam acetat (CH3COOH)
d) Proses Methanogenesis
Tahapan terakhir dalam proses perombakan secara anaerobik adalah
berlangsungnya proses pembentukan gas methane oleh bakteri
methanogenic seperti methanobacillus omelianskii yang
mengkatabolisis asam acetat dan senyawa karbon tunggal menjadi gas
bio.
Design volume kolam anaerobic untuk keperluan land application
menggunakan waktu retensi 61 hari. Sedangkan dari referensi bahwa
waktu tinggal untuk keperluan limbah dibuang langsung ke sungai
(perombakan anaerobic dan dilanjutkan perombakan aerobic) selama
92 hari dengan rincian:
 Perombakan anaerobic : 60 hari,
 Kolam fakultatif (kolam peralihan antara perombakan anaerobic
dengan perombakan aerobic) :20 hari, dilanjutkan
 Perombakan aerobic :12 hari
 Total hari :92 hari
Sistem pengolahan Limbah cair pabrik Kelapa Sawit (LCPKS) dapat
dijelaskan sebagai berikut:
(a) Single Feeding
Single feeding merupakan sistem pengolahan limbah dengan
sistem pendinginan dan bertujuan limbah pabrik dibuang ke
lingkungan (badan sungai).
(b) Multiple Feeding
Multiple feeding merupakan sistem pengolahan limbah dengan
sistem pengenceran (dilution) LCPKS antara raw effluent
(LCPKS segar) dengan diggest effluent (yang sudah diolah).
Tujuan mensubstitusi pupuk organik.
Analisa Biological Oxygen Demand
 Sebelum dilakukan analisa BOD, sebaiknya dilakukan analisa COD
terlebih dahulu untuk menentukan faktor pengenceran yang kita
pakai untuk analisa BOD. Untuk 1 sample, kita lakukan analisa
pada 3 nilai penafsiran yang berbeda yaitu
Penafsiran rendah(R) : BOD = 0,16 x COD.
Penafsiran sedang (S) : BOD = 0,32 x COD
Penafsiran tinggi (T) : BOD = 0,65 x COD
 Dari tafsiran nilai masing – masing tersebut, kita tentukan faktor
pengenceran yang dipakai, sebagai berikut ;
Nilai BOD Perlakuan terhadap sample Pengenceran

500 - 250 10 ml diencerkan menjadi 1000 ml 100 x

250 - 100 20 ml diencerkan menjadi 1000 ml 50 x

100 - 40 50 ml diencerkan menjadi 1000 ml 20 x

 Setelah sample diencerkan, penuhkan botol BOD 300 ml dan tutup.


 Buka tutup botol BOD, tambahkan 2 ml larutan MnSO4 dan 2 ml
larutan alkali–iodide–azida dengan pipet. Ketika penambahan
reagent tersebut, ujung pipet harus berada di bawah permukaan
sample.
 Tutup kembali botol dengan hati–hati untuk mencegah masuknya
gelembung udara.
 Campur isi botol dengan cara membalikkan dan menggoyang–
goyangkan botol10 kali.
 Biarkan endapan menggumpal dan mengendap di dasar botol dalam
5 sampai 10 menit. Tambahkan 2 ml H2SO4 pekat dengan pipet,
tutup kembali botol dan aduk isi botol dengan cara yang sama
diatas.
 Pipet 100 ml larutan kedalam 250 ml, titrasi segera dengan larutan
standar Na2S2O3 1 / 80 N hingga warna kuning hampir hilang.
 Tambahkan 3 – 5 tetes larutan indikator starch 1 %, lanjutkan titrasi
hingga warna biru tepat hilang.
 Lakukan hal yang sama untuk air pengencer yang telah diaerasi
sebagai blanko. Untuk sample yang diinkubasi, isi botol BOD
dengan sample yang telah diencerkan dan air pengencer sebagai
blanko. Tutup botol dengan hati – hati untuk mencegah masuknya
gelembung udara dalam botol. Inkubasi sample pada suhu 30  1
o
C selama 3 hari dalam inkubator.
 Hitung Biological Oxygen Demand (BOD) dengan rumus ;
Biological Oxygen Demand (BOD) = [A–(B+C)]xDxE
ppm
 Keterangan ;
A =kandungan oksigen terlarut dalam sample yang diencerkan
B =kandungan oksigen terlarut dalam sample yang telah
diencerkan setelah inkubasi.
C =Nilai blanko (kandungan oksigen terlarut awal–kandungan
oksigen terlarut akhir).
D =factor pengenceran.
E =factor koreksi untuk volume reagen yang ditambahkan = 1,014
jika volume 300 ml dan reagen yang ditambahkan.
 Catat nilai BOD ini dalam form analisa limbah.
Analisa Chemical Oxygen Demand
 Pipet 50 ml sample kedalam labu reflux 250 ml.
 Kemudian 1 gram HgSO4 dan beberapa batu didih. Aduk
seperlunya untuk meratakan sample. Tambahkan perlahan–lahan
sambil diaduk 5 ml reagen H2SO4 untuk melarutkan HgSO4.
 Dinginkan selama pencampuran untuk mencegah kemungkinan
hilangnya material yang mudah menguap dalam sample.
 Tambahkan 50 ml larutan K2Cr2O7 0,25 N dan diaduk rata.
 Tambahkan lagi 70 ml reagen H2SO4 melalui buret perlahan–lahan
ke dalam labu reflux sambil didinginkan.
 Aduk rata larutan dalam reflux. Hubungkan labu reflux dengan
pendingin balik, dan reflux selama 2 jam.
 Setelah selesai di reflux, dinginkan sample dan bilas bagian dalam
kondensor dengan aquadest.
 Pindahkan campuran dalam gelas piala 500 ml. Tambahkan 3–5
tetes larutan indicator ferroin, dan titrasi dengan Larutan Ferro
Amonium Sulfat hingga warna berubah dari biru hijau kecoklat
kemerahan.
 Catat volume Larutan Ferro Amonium Sulfat terpakai (S).
 Ulangi lagi prosedur diatas untuk blanko dengan menggunakan
aquadest.
 Catat volume Larutan Ferro Amonium Sulfat terpakai (S), untuk
mentitrasi blanko.
 Hitung nilai COD ini dengan rumus ;
(B − S) x N x 8000
COD = ppm
Vs
 Catat nilai COD ini dalam form analisa limbah.
Analisa Volatile Acid
 Saring sample dengan menggunakan kertas saring Whatman no. 4.
 Takar sample sebanyak 200 ml dan masukkan dalam labu destilasi.
 Tambahkan 200 ml aquadest, 10 ml larutan H2SO4 1:1 dan
beberapa butir batu didih. Aduk untuk mencegah terjadinya lapisan
H2SO4 di dasar labu.
 Hubungkan labu dengan kondensor, dan destilasi hingga volume
destilasi mencapai 150 ml (Vs).
 Tambahkan 2 – 3 tetes larutan indikator Phenol Phtalein, titrasi
destilat dengan larutan standar NaOH 0,1 N, sampai timbul warna
merah muda.
 Catat volume NaOH yang terpakai (V).
 Hitung nilai Volatile Acid ini dengan rumus ;
V x 6000
Volatil Acid (VA) = ppm
Vs x 0,7
 Hasil analisa VA dimasukan ke form analisa limbah.
Analisa Total Acid
 Standarkan terlebih dahulu pembacaan pH meter dengan larutan
buffer pH 4 dan pH 7.
 Takar sample sebanyak 50 ml dalam gelas piala 200 ml (Vs).
Celupkan ujung elektroda pH meter pada sample, catat pH sample.
 Titrasi sample dengan larutan standar H2SO4 (N), dimana pH meter
dalam kondisi hidup.
 Selama titrasi, sample harus terus diaduk dengan menggunakan
magnetic stirer. Amati terus nilai pH yang terbaca di pH meter (
tiap perubahan nilai tidak perlu dicatat ).
 Pada saat pH meter menunjukkan nilai 4,5, hentikan titrasi.
Tambahkan beberapa tetes titran lagi untuk memastikan telah
tecapai keseimbangan pH.
 Catat volume H2SO4 yang digunakan (V).
 Hitung nilai Total alkalinity ini dengan rumus ;
Vx N x 50000
Total Alkalinity(TA) = ppm sebagai CaCO3
Vs
 Catat nilai Total Alkalinity ini dalam form analisa limbah.
Analisa Oil and Grease
 Homogenkan sample dengan mengaduknya.
 Takar sample 1000 ml dan masukkan ke dalam corong pisah.
 Tambahkan HCL 1:1dan aduk sebentar.
 Bilas botol contoh uji dengan 30 ml dengan Petroleum meter,
masukkan kedalam corong pisah, tambahkan 30 ml petroleum
meter dan aduk kuat-kuat selama 2 menit.
 Biarkan selama 2 menit sampai fraksi petroleum meter terpisah dari
fraksi air.
 Jika terbentuk emulsi goyangkan perlahan-lahan selama 10 menit.
 Pisahkan fraksi petroleum meter dari sample ke dalam beaker glass
yang telah diketahui berat kosongnya.
 Hitung nilai oil & grease ini dengan rumus ;
mg (W2 − W1)
minyak dan grease = x 1.000.000
L V
Dimana:
W1 = berat beaker glass kosong
W2 = berat beaker glass berisi sample
V = volume sample
 Catat nilai minyak ini dalam form analisa limbah.

12.C Peralatan/Equipment
Peralatan yang terdapat dalam kolam limbah meliputi kolam limbah itu
sendiri beserta peralatan analisa sample kolam limbah sesuai dengan
prosedur yang tertera.
12.C.1 Final Effluent
Final effluent merupakan kolam penampungan pertama semua
buangan air limbah hasil pengolahan pabrik kelapa sawit,
spesifikasinya adalah:
Panjang = 24.8 m
Lebar = 17.7 m
Kedalaman = 4 m
12.C.2 Recycle Storage
Recycle torage merupakan tangki penampungan minyak yang
dikutip kembali dari final effluent yang selanjutnya akan
dilakukan pencampuran dengan minyak proses menuju sand trap
tank jika dari hasil analisa FFA yang terbentuk dari hasil
pencampuran masih sesuai standar perusahaan.
12.C.3 Acid Pond
Acid pond merupakan kolam penampungan air limbah yang
berasal dari final effluent, spesifikasinya adalah:
Panjang = 102 m
Lebar = 33 m
Kedalaman = 3 m
Berikut ini merupakan gambar dari acid pond:

12.C.4 Anaerobic Pond


Anaerobic pond merupakan kolam dimana terjadi perombakkan
air limbah dengan menggunakan bakteri, spesifikasinya adalah:
Panjang = 130 m
Lebar = 36 m
Kedalaman = 4 m
Berikut ini merupakan gambar dari anaerobic pond:

12.C.5 Facultative Pond


Facultatic pond merupakan kolam limbah yang berfungsi untuk
menampung air limbah dengan tujuan sebagai tempat peralihan
perombakan air limbah dengan menggunakan bakteri,
spesifikasinya adalah:
Panjang = 130 m
Lebar = 36 m
Kedalaman = 4 m
Berikut ini merupakan gambar dari facultative pond:
12.C.6 Buffer Pond
Buffer pond merupakan kolam penampungan air limbah terakhir
yang akan dilakukan pemompaan untuk penggunaan LA menuju
perkebunan, spesifikasinya adalah:
Panjang = 40 m
Lebar = 19 m
Kedalaman = 3 m
Berikut ini merupakan gambar dari buffer pond:

12.D Parameter Kontrol

 pH : 6-9
 BOD : <5000 ppm

Anda mungkin juga menyukai