Anda di halaman 1dari 7

KONSEP TERJADINYA SPESIASI ALOPATRIK

Oleh :
Nama : Laely Cahya Wulandari Permata Putri
NIM : B1A016142
Rombongan : VIII
Kelompok :1
Asisten : Hafizh Aulia Khairy Rakananda

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEMATIKA HEWAN I

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2018
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Evolusi adalah proses perubahan atau perkembangan secara bertahap atau


perlahan. Konsep evolusi pertama kali digunakan oleh Herbert Spencer yang (ahli
filsafat Inggris), mengatakan hal yang berkaitan dengan suatu perkembangan ciri atau
sifat atau keadaan dari waktu ke waktu melalui perubahan bertingkat. Evolusi sering
dipakai orang untuk menyatakan adanya suatu perubahan, perkembangan atau
pertumbuhan secara berangsur-angsur. Teori ini pada dasarnya merupakan teori yang
dinamis, yang bukan saja merupakan pelajaran penting dalam biologi tetapi juga
teknologi modern. Terdapat tiga kenyataan dasar yang menyangkut mengenai
perkembangan evolusi, yakni: Pertama, segala macam organisme dibedakan dari
organisme tingkat rendah sampai organisme tingkat tinggi (terdapat gradasi atau
tingkatan). Kedua, dalam perkembangan organisme yang lebih sempurna berasal dari
bentuk yang lebih rendah. Terakhir, ditemukan mahluk antara atau mahluk peralihan
yang telah memfosil, seperti Archaeoptenryx (Wallace, 1992).
Teori evolusi ini berkembang sejalan dengan perubahan zaman dalam arus
globalisasi. Mekanisme evolusi atau proses evolusi mampu menghasilkan ciri-ciri
organism yang makin komplek dan sempurna pada keturunannya. Evolusi dapat terjadi
secara acak atau terarah. Dalam pandangan oppurtunisme evolusi berlangsung
mengikuti kesempatan yang ada di alam dan bukan suatu perencanaan. Berbeda
dengan paham oppurtunisme, paham directionalisme mengemukakan bahwa faktor-
faktor mutasi acak dan seleksi alam yang menyababkan evolusi, tidak sepenuhnya
dapat menjelaskan terjadinya evolusi yang menghasilkan aneka ragam mahluk hidup
(Pyron & Burbrink, 2013).

B. Tujuan

Tujuan praktikum acara spesiasi alopatrik kali ini, antara lain :


1. Memahami konsep spesiasi.
2. Memahami konsep spesiasi pada ikan.
3. Menggunakan software aplikasi komputer yang mendukung penelitian tentang
terjadinya spesiasi.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Spesies adalah suatu kelompok organisme yang hidup di alam bebas, dapat
mengadakan perkawinan secara bebas dan dapat menghasilkan keturunan yang fertile
dan bervitalitas sama bengan induknya. Spesiasi merupakan proses pembentukan
spesies baru yang berbeda dari spesies sebelumnya melalui proses perkembangbiakan
secara natural dalam kerangka evolusi. Spesiasi sangat terkait dengan evolusi,
keduanya merupakan proses perubahan yang berangsur-angsur, sedikit demi sedikit,
secara gradual, perlahan tetapi pasti terjadi. Spesiasi lebih ditekankan pada perubahan
yang terjadi pada populasi jenis tertentu. Kecepatan spesiasi maupun kepunahan
sebagian tergantung pada ukuran kisaran geografis dari suatu daerah. Daerah yang luas
cenderung meningkatkan kecepatan spesiasi dan menurunkan kecepatan kepunahan.
Jenis yang terdapat di daerah yang luas akan mengalami spesiasi lebih cepat,
sedangkan menurunnya luas area akan meningkatkan kepunahan suatu jenis, jadi
menurunkan jumlah jenis yang akan mengalami spesiasi. (Widodo, 2007).
Spesiasi merupaka proses terbentuknya spesies baru dari spesies yang telah
ada sebelumnya. Spesiasi adalah proses kreatif yang mengarah pada penciptaan
keanekaragaman jenis. Jenis baru yang terbentuk mampu mengadakan pertukaran gen
atau melakuakan perkawinan secara alami untuk menghasilkan keturunan yang fertil.
Spesiasi merupakan puncak dari proses evolusi. Spesiasi pada suatu populasi
umumnya dapat disebabkan oleh mekanisme pengisolasian, mutasi dan seleksi alami
serta poliploidi. Mekanisme pengisolasian dapat terjadi karena adanya isolasi geografi
pada populasi yang selanjutnya dapat menciptakan spesiasi simpatrik, alopatrik,
peripatrik parapatrik dan spesiasi simpatrik karena poliploidi (Odum, 1993).
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya spesiasi menurut Odum (1993)
antara lain :
1. Peran isolasi geografis
Mayoritas para ahli biologi berpandangan bahwa faktor awal dalam proses spesiasi
adalah pemisahan geografis, karena selama populasi dari spesies yang sama masih
dalam hubungan langsung maupun tidak langsung gene flow masih dapat terjadi,
meskipun berbagai populasi di dalam sistem dapat menyimpang di dalam beberapa
sifat sehingga menyebabkan variasi intraspesies.
2. Isolasi reproduksi dalam pengaruh isolasi geografis dalam spesiasi dapat terjadi
karena adanya pencegahan gene flow antara dua sistem populasi yang berdekatan
akibat faktor ekstrinsik.
3. Isolasi sebelum perkawinan. Isolasi sebelum perkawinan antara spesies atau
merintangi pembuahan telur. Anggota-anggota spesies yang berbeda berusaha
untuk saling mengawini.
Spesiasi Alopatrik merupakan spesiasi melalui isolasi geografik, misalnya
melalui fragmentasi habitat dan migrasi. Seleksi di bawah kondisi demikian dapat
menghasilkan perubahan yang sangat cepat pada penampilan dan perilaku organisme,
karena seleksi dan hanyutan bekerja secara bebas pada populasi yang terisolasi,
pemisahan pada akhirnya akan menghasilkan organisme yang tidak akan dapat
berkawin campur (Campbell et al., 2004). Isolasi geografi populasi di alopatrik
memungkinkan pergeseran genetik untuk menghasilkan bukti netral (Pitteleoud et al.,
2017).
Spesiasi Simpatrik yaitu terbentuknya jenis baru yang terjadi karena tinggal
atau terdapat pada daerah yang sama. Perbedaan-perbedaan yang dimiliki seringkali
ditonjolkan sehingga dapat dibedakan dengan mudah. Mekanisme terjadinya spesiasi
simpatrik adalah diawali dengan adanya suatu populasi. Selanjutnya bagian dari
populasi tersebut mengalami perbedaan genetik. Perubahan genetik tersebut maka
terjadilah isolasi reproduksi. Dalam spesiasi simpatrik, isolasi reproduksi biasanya
disebabkan oleh adaptasi diferensial dari populasi. Spesies simpatrik bergantung pada
adaptasi relung ekologi yang berbeda, yang menciptakan hambatan aliran gen antara
populasi dan memungkinkan keturunan mengalami divergensi (Pitteleoud et al.,
2017).
Ikan Baceman memiliki bentuk tubuh kombinasi (kepala dorsoventral, badan
pipih dorsolateral) dan letak mulut subterminal, sungutnya berjumlah empat. Ikan
tersebut memiliki sirip punggung, sirip lemak, sirip ekor, sirip anal, sirip dada, dan
sirip perut. Sirip lemak ikan ini lebih panjang dibandingkan dengan sirip ekor, namun
lebih pendek dibandingkan sirip lemak pada Hemibagrus nemurus. Selain itu jari-jari
terdepan sirip punggung dan sirip dada keras dan bergerigi dan dengan sirip ekor
bercagak (Bhagawati, 2013).
Menurut Tamura et al. (2011), terdapat lima jenis test yang ada pada menu
phylogeny di software MEGA. Jenis test itu diantaranya Construct/Test Maximum
Likelihood Tree, Construct/Test Neighbor-Joining Tree, Construct/Test Maximum-
Evolution Tree, Construct/Test UPGMA Tree, Construct/Test Maximum Parsimony
Tree. Program Mega7 dapat digunakan mengetahui tingkat kemiripan antara sekuen
satu dengan sekuen pembanding (standar). Beberapa tahapan umumnya perlu
dilakukan, yaitu dimulai dari installing program, editing data sekuen dilanjutkan
alignment. Dari hasil analisis akan diketahui diagram filogeniknya. Hal ini
menunjukkan sekuen yang mempunyai hubungan kekerabatan dapat diidentifikasi
dengan menempati cabang yang terdekat. Program Mega7 dapat digunakan untuk dua
tujuan sekaligus yaitu pengambilan kesimpulan hubungan evolusi dari sekuensekuen
yang homolog dan memperkirakan keragaman evolusi netral dan selektif diantara
sekuen. Mega7 ini juga dilengkapi dengan hasil berupa diagram pohon filogenetik
serta matrik jarak evolusi (Yuniarti et al., 2016).
III. MATERI DAN METODE

A. Materi

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum acara ini adalah bak preparat, jarum
pentul, jangka sorong, penggaris, gabus, dan alat tulis.
Bahan-bahan yang digunakan adalah ikan Baceman (Hemibragus nemurus).

B. Metode

Metode yang dilakukan dalam praktikum antara lain :


1. Disiapkan preparat yang akan digunakan yaitu ikan Baceman (Hemibragus
nemurus).
2. Diletakkan Baceman (Hemibragus nemurus) di atas kertas milimeter, yang
sebelumnya di bawah kertas milimeter telah dialasi dengan sterofoam.
3. Diberi patokan titik truss pada tubuh ikan dengan menggunakan jarum.
4. Karakter morfometrik diukur dengan menggunakan jangka sorong dengan teknik
truss morphometrics.
5. Konversi hasil pengukuran morfometri ke susunan basa.
6. Kemudian masukan ke dalam MEGA
7. Di catat hasilnya.
DAFTAR REFERENSI

Bhagawati, D., MN Abulias, dan A. Amurwanto. 2013. Fauna Ikan Siluriformes dari
Sungai Serayu, Banjaran, dan Tajum di Kabupaten Banyumas. Jurnal
MIPA. 36(2), pp. 112-122.
Campbell, J. B. Reece, L. G., Mitchell. 2004. Biologi Edisi kelima Jilid 3. Jakarta:
Erlangga.
Odum, E. P. 1993. Dasar-dasar Ekologi. Yogyakarta: UGM press.
Pitteloud C., Nils A., Tomasz S., Alicia M.Y., Roger V., Vlad D., Juan H.R., Ernst B.,
Yannick C., Irena K., Luca F., Sven., Loi’i P., Nadir A., 2017. Climatik
Niche Evolution is Faster in Sympatric than Allopatric Lineages of the
Butterfly Genus Prygus. Published Royal Society. 1(1), pp. 2-10.
Pyron, R. A. & F. T. Burbrink. 2013. Phylogenetic estimates of speciation and
extinction rates for testingecological and evolutionary hypotheses. Trends
in Ecology & Evolution. Pp. 1–8.
Tamura, K., 2 Daniel P., Nicholas P., Glen S., Masatoshi N., and Sudhir K. 2011.
MEGA5: Molecular Evolutionary Genetics Analysis Using Maximum
Likelihood, Evolutionary Distance, and Maximum Parsimony Methods.
Mol. Biol. Evol. 28(10), pp. 2731–2739.
Wallace, A. 1992. Biology The World of Life. USA: Harper Collins Publisher Inc.
Widodo, P. 2007. Spesiasi pada Jambu-Jambuan (Myrtaceae): Model Cepat dan
Lambat. Biodiversitas. 8(1), pp. 79-82.
Yuniarti, H., Cholis, S. B., Rinanti, A. 2016. Diagram Filogenik Hasil Sekuens Basa
DNA Menggunakan Program Mega-7 (Molecular Evolutionary Genetics
Analysis). Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah. 1(2), pp. 109-117.