Anda di halaman 1dari 9

Sebuah Garis Bawah Perjalanan Pendekar Tanpa Nama

Oleh : Muhammad Darussakau

Bagian 1: Jurus Tanpa Bentuk


Garis awal bagian sub dari jurus tanpa bentuk

Kearifan pertama dari subjudul kedua jurus tanpa bentuk tentang maut berkelebat di balik kelam
pada halaman dua belas ada ungkapan “Mustahil melawan Jurus Tanpa Bentuk dengan ilmu silat
mana pun selama jurusnya masih berbentuk, karena yang diserangnya adalah pikiran”. Halaman
selanjutnya yaitu tiga belas sejenis sebuah gumam pendekar Tanpa Nama saat membantai atau
mengalahkan musuh-musuhnya, ia berkata “Jurus Tanpa Bentuk adalah jurus yang tidak
terdapat dalam dirinya sendiri, melainkan selalu sudah ada dalam jurus-jurus yang dihadapi.
Ibarat kata jurus ilmu silat adalah suatu isi, maka Jurus Tanpa Bentuk akan menjadi kekosongan,
ini membuat serangan maut bagaikan membuka kelemahan dirinya sendiri”.

Garis kedua bagian sub dari jurus tanpa bentuk

Bagian kesepuluh subjudul dari jurus tanpa bentuk yaitu “kisah rakit dan perbincangan yang
kudengar” tepatnya halaman tujuh puluh tujuh ada ungkapan “Orang tua berjenggot putih itu
benar, tetapi kebenaran diriku belum juga terungkap, bahkan ketidak benarannya bisa diterima
sebagai kebenaran baru. Betapa kebenaran itu ternyata seperti ruang kosong yang akan
diperebutkan siapa pun yang berkehendak mengisinya”. Lantas selanjutnya “Aku tidak pernah
menceritakan riwayat hidupku kepada siapa pun, tiada seorang pun, siapa pun tidak, dank u kira
tidak akan pernah, karena kuanggap diriku tidak perlu sebagai seseorang yang pernah ada. Aku
telah menghilang untuk menghilangkan diriku. Siapa nyana diriku terhindarkan begitu rupa di
luar kehendakku? Apakah yang tidak lebih berlawanan dari diriku selain dinyatakan sebagai
orang yang paling berbahaya untuk Negara karena menghina agama?

Garis ketiga bagian sub dari jurus tanpa bentuk

“Kepada siapakah kita harus percaya” kata tersebut adalah subjudul kesebelas dari jurus tanpa
bentuk. Termasuk sub kesebelas pada halaman delapan puluh tiga ada ungkapan “Persoalanku
adalah, kepada penguasa macam apakah kiranya kecerdasan itu mengabdi?”.

Garis keempat “lelaki tua yang gemuk, berjambul dan selalu diiringi macan putih” sub
ketiga belas bagian jurus tanpa bentuk tepatnya pada halaman 96

Ada ungkapan “Sebagai pekerja, telah kudorong siapa pun yang seharusnya tidak berada disana
untuk mogok. Kuracuni mereka dengan pikiran-pikiran baru yang tidak terbayangkan
sebelumnya, bahwa hidup mereka adalah kedaulatan mereka sendiri. Apalah artinya sebuah
candi, yang dibangun atas nama ajaran yang mencerahkan alam pikiran yang membuat kalian
percaya memang merupakan hak mereka untuk menguasai hidup kalian. Sadarlah! Bangkitlah!
Maka kita semua akan duduk bersama dalam kesetaraan!.”

Garis kelima “Kunci penalaran dan pendekar aksara berdarah” sub kedua puluh bagian
dari jurus tanpa bentuk tepatnya pada halaman 147 dan 150

Halaman 147, ada ungkapan “Aksara yang dituliskan pedang, begitur rupa menggurat tubuh
manusia. Namun pendekar Tanpa Nama, mulai menuliskan riwayat hidupnya”. Selanjutnya
“Bagaimanakah memindahkan ilmu ketubuhan? Tentu sebuah pembayangan harus bekerja.
Pembayangan adalah penafsiran berdasarkan pemahaman, karenannya kemempuan pembacaan,
yakni membaca, menafsir, dan memberi makna, menjadi mutlak dalam pemindahan tersebut.
Dengan pengolahan Jurus-Jurus Dharmacakra, aku telah memanfaatkan penafsirannya yang
pertama sebagai gagasan tentang gerak, atau susunan gerak, yang berlapis-lapis.”

Halaman 150, ungkapan selanjutnya “Kepada seorang guru ia tidak mesti belajar bertahun-tahun
dengan penuh penghayatan, dan apalagi pengabdian, karena seorang guru kadang-kadang juga
memeras dan memanfaatkan wibawa untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk belajar dengan
suatu pendekatan tertentu untuk menyerap ilmu.”

Bagian 2: Anak Sepasang Naga


Garis keenam “Sepasang naga dari celah kledung” sub kedua puluh satu bagian dari anak
sepasang naga tepatnya pada halaman 164 dan 165

Halaman 164 dan 165, ada ungkapan “Perpisahan yang sudah dipastikan akan berlangsung untuk
selama-lamanya. Aku memang telah dilatih dengan segala cara untuk menjadi tabah dalam
penderitan, tetapi inilah peristiwa yang sungguh berat kutanggungkan. Air mataku mengalir
deras membasahi pipi. Kenyataan betapa keduanya telah memungutku, dari nasib yang lebih jauh
lagi dari pasti, telah membuat kepedihanku semakin tajam dan dalam. Namun sebelum mereka
berangkat kutanyakan sesuatu.

“siapakah sebenarnya namaku, Ibu?

Ibuku tampak menahan air mata ketika telah duduk di atas punggung kuda.

“Kami tidak mengetahuinnya, Anakku, kami tidak tahu namamu ketika menemukanmu dan kami
membiarkannya tetap seperti itu. Kami tidak ingin mengubah jalan hidupmu meski kami wajib
menurunkan ilmu silat agar dikau bisa membela diri dari bahaya yang mengancam hidupmu itu,
tetapi selebihnya kami biarkan dirimu tumbuh sebagai dirimu, kami harus selalu memupuk
pertumbuhanmu itu.”

Garis ketujuh “Kejatuhan mayat yang terkena embun” sub kedua puluh empat bagian
dari anak sepasang naga tepatnya halaman 181

Ada ungkapan “Kuingat ayahku pernah berkata, kedudukan segenap pengetahuan dalam dunia
ilmu adalah setara. Apalah artinya ilmu persilatan tanpa ilmu penobaumbutan? Apalah artinya
ilmu pengobatan tanpa ilmu tumbuh-tumbuhan? Apalah artinya ilmu tumbuh-tumbuhan tanpa
ilmu pengetahuan tentang tanah, iklim, dan musim? Keberadaan ilmu yang satu ditentukan oleh
keberadaan ilmu yang lain, Anakku, “Ujar ayahku,” Pengetahuan yang satu berkaiytan dengan
pengetahuan yang lain, ilmu pengetahuan adalah susunan pengetahuan-pengetahuan itu sendiri,
yang satu tidak bisa dilepaskan dari yang lain.” Selanjutnya masih pada halaman 181 “Jangan
pernah lupa bahwa ilmu pengetahuan harus dipersembahkan bagi kemanusiaan.”

Garis kedelapan “Naga berlari di atas langit” sub kedua puluh lima bagian dari anak
sepasang naga tepatnya pada halaman 189

Ada ungkapan bijak pada halaman 189 “Teringat kata orang tuaku, pasangan pendekar itu,
sekadar bahwa orang yang menpunyai kelebihan harus mengabdikan kelebihannya itu kepada
mereka yang membutuhkannya.” Seterusnya “Aku menghela napas. Kematian adalah sebuah
kemungkinan.” Masih dalam halaman 189 “Belajar membaca bagiku bukan hanya mengenal
huruf dan bagaimana bunyinya, melainkan melalui istilah-istilah kunci berusaha membuka
jendela dunia dan mendapatkan pengetahuan. Namun tiada kata-kata akan menjelma
pengetahuan tanpa pendalaman, dan pendalaman adalah usaha keras yang menuntut ketekunan.”

Garis kesembilan “Pertarunganku yang pertama” Sub kedua puluh enam bagian dari
anak sepasang naga tepatnya pada halaman 195 dan 198

Halaman 195, ada ungkapan “Dunia persilatan adalah dunia para pendekar yang penuh dengan
gagasan tentang keberanian dan kejujuran, tetapi banyak orang mempelajari ilmu silat hanya
untuk mengabdi kemenangan melalui kelicikan.”

Halaman 198,“Naga adalah lambang kemegahan dan kekuasaan, tetapi lebih dari itu naga adalah
lambing kewibawaan. Maka gelar dengan nama naga biasanya diberikan oleh kalangan persilatan
sebagai pengakuan dan pengukuhan atas wibawa yang didapat dari keunggulan ilmu silatnya,
atau jika seseorang menamakan dirinya sendiri dengan naga maka ia harus merebut dan meminta
pengakuan sampai dunia persilatan mengakuinya.”
Garis kesepuluh “Jurus penjerat naga” Sub kedua puluh delapan bagian dari anak
sepasang naga tepatnya halaman 210

Ada ungkapan “Ilmu hanya dapat menjadi milik kita jika kita menjalankan ilmu itu,
melakuukannya, menghayatinya, menjadikannya bagian dari diri kita, dan itulah yang membuat
ilmu berbeda dengan pengetahuan. Ilmu baru menjadi ilmu jika menjadi bagian diri kita,
sedangkan pengetahuan ibarat kekayaan yang dapat hilang, dank arena itu ilmu harus mampu
menjadikan pengetahuan sebagai ilmu pengetahuan yang dapat diserap melalui pembelajaran.”

Garis kesebelas “Para pemungut pajak” Sub ketiga puluh tiga bagian dari sepasang anak
naga tepatnya halaman 250

Pada halaman 250 ada ungkapan, “Hampir semuanya telah kubaca meskipun tidak semuanya
kumengerti. Mengenal aksara saja tak cukup untuk membaca rupanya, yang juga dibutuhkan
adalah kematangan hati dan otak dalam pembacaan, dan diriku yang masih berumur 15 tahun
tentu masih jauh dari kematangan itu.”

Garis kedua belas “Apakah menulis itu?” Sub keempat puluh bagian dari anak sepasang
naga tepatnya pada halaman 303

Ada ungkapan “Aku sadar , aku belum pernah dan belum mampu menjawab pertanyaan Nawa
sebelum ia bisa membaca dan menulis: Apakah menulis itu? Namun kuharap dengan belajar
membaca dan menulis itu sendiri, setidaknya ia memahami pengertian paling sederhana yang
selama ini kuhayati tentang menulis, yakni mencatat dan menyampaikan. Mencatat, karena kita
memindahkan segala sesuatu ke dalam tulisan, menyampaikan, karena tulisan adalah sesuatu
yang dibaca, siapa pun pembacanya, bahkan jika ia penulisnya sendiri.”

Bagian 3: Kematian dan Kesempurnaan


Garis ketiga belas “Pertarungan malam” sub keempat puluh dua bagian dari kematian
dan kesempurnaan tepatnya hlaman 315

Pada halaman 315 ada ungkapan “Tidak ada jalan hidup yang lebih mulia dibanding jalan hidup
yang lain, kata ibuku, jalan hidup seorang pendeta tidaklah lebih tinggi dari jalan hidup tukang
emas. Ukuran kesempurnaan bhiksu maupun pedanda tidaklah lebih tinggi dari ukuran
kesempurnaan tukang emas, begitu pula ukuran kesempurnaan pendekar silat tidaklah lebih
tinggi dari ukuran kesempurnaan petani bawang, karena dalam setiap jalan, kesempurnaan
menunjukkan pencerahan. Ingatlah itu selalu, anakku.” Lantas apakah ukuran tinggi dan rendah
untuk membandingkannya, ibu? Tidak ada ukuran untuk membandingkannya, Anakku, bahkan
sesama pendekar silat sebetulnya takmungkin saling membandingkan kesempurnaannya, karena
kesempurnaan adalah ukuran masing-masing.”
Garis keempat belas “Ingatan matahari dan ketenangan rembulan” sub keempat puluh
tiga bagian dari kematian dan kesempurnaan tepatnya halaman 328

Ada ungkapan “Salah satu ciri terpenting dunia naga dalam persilatan adalah kemampuan tinggi
dalam meramu berbagai macam ilmu silat, sehingga menjadi ilmu silat baru.”

Garis kelima belas “Sepuluh tahun kemudian” sub keempat puluh empat bagian dari
kematian dan kesempurnaan tepatnta halaman 331, 333, dan 334

Halaman 331 ada ungkapan “Sebetulnya ruang mengikuti waktu dan waktu mengikuti ruang,
karena ruang sebesar waktu dan waktu itu sebesar rung.” Selanjutnya pada halaman 333
ungkapannya seperti berikut “Para pendekar menafsirkan jurus sebagai jurus saja, tetapi aku
mengembalikannya kepada gerak. Jadi bagiku bagaikan tiada ilmu silat selain pemahaman atas
ruang, gerak, dan waktu. Aku adalah tubuh di dalam ruang yang bergerak dalam waktu, apabila
ruang waktu menyatu, tubuhku melebur sebagai gerak itu sendiri tanpa harus menggerakkannya.
Gerak hanya digerakkan oleh kehendak, tetapi kehendak diluar keinginan dan tujuan, melainkan
sekedar kehendak untuk bergerak sebagai bagian gerak semesta. Tubuhku hanya ada sebagai
sarana gerak sahaja, ada atau tiada tubuhku, ia mengada dalam gerak, dengan segala ke-tak-
bergerak-annya. Demikianlah diriku tinggal napikiran dan napas, yang segalanya mengatur
tubuh. Secepat aku berpikir, secepat itu pula kemampuan gerak tubuhku. Napas menghidupi
tubuh, pikiran menggerakkan tubuh.”

Selanjutnya ungkapan yang terdapat dari halaman 334 berbunyi “Ruang berada dalam diriku,
bukan aku berda dalam ruang, dan dengan keberadaan ruang dalam diriku maka aku pun
memiliki waktuku seperti yang kumau.” Selnjutnya masih dlam halaman 334 “Dengan hanya
mengemban kekerasan, ilmu silat menjadi kasar dan tanpa cinta, menjadi sampah kebudayaan.”

Garis keenam belas “Aturan untuk raja” sub keempat puluh lima bagian dari kematian
dan kesempurnaan tepatnya pada halaman 347

Pada halaman 347 ada ungkapan “Aku tertwa dalam hati, tetapi juga sedih, merana, dan merasa
sendiri, meski kuingat kata pasangan pendekar yang mengasuhku, bahwa jalan hidup seorang
pendekar adalah jalan kesunyian, tempat seorang hanyalah ditemani diri sendiri.”

Garis ketujuh belas “Rehat dan filsafat” sud keenam puluh bagian dari kematian dan
kesempurnaan tepatnya pada halaman 451, 455, dan 456

Ada ungkapan begini di halaman 451 “Jika ilmu silat dalam sastra hanya semu, bagaimana
caranya menjadi filsafat? Ketajaman pedang kata-kata dalam dirimu, lebih tajamkah dari pedang
pesilat?.” Selanjutnya pada halaman 455 ada ungkapan “Apabila dalam ilmu persilatan kita harus
bertanggung jawab atas setiap kematin yang kita sebabkan, maka dalam ilmu penulisan kita
harus bertanggung jawab agar setiap kalimat tidak merupakan penipuan, karena setiap kali
seorang pembaca terkecoh pandangannya atas kenyataan, dosa seorang penulis sama besar
dengan pembunuhan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan.” Dan pada halaman 456 ada
ungkapan bijak lagi “Aku masih menulis ketika dunia seperti membuka diri kepada diriku,
mengeluarkan diriku dari dunia di dalam batok kepalaku sendiri.”

Bagian 4: Dua Pedang Menulis Kematian


Garis tanpa angka “Ilmu hitam dan ilmu putih” salah satu sub dari dua pedang menulis
kematian halaman 476

“Jangan khawatir, Anak! Aku tidak sembarang menurunkan ilmuku. Namun ada beberapa hal,
yang membuatmu secara terpaksa harus menerimanya. Pertama, suatau ilmu disebut ilmu hitam
sebetulnya hanyalah karena tujuannya, karena ilmu yang sama sangat mungkin digunakan untuk
membela mereka yang lemah dan tidak berdaya, jadi benar ilmu hitam dapat mempengaruhi
pemiliknya, sama benarnya seperti penguasaan ilmu putih yang tetap sahaja dapat membuat
pemiliknya sombong dan gila kuasa. Maka, karena dirimu sudah menyerap dan menghayati
segala sifat kebaikan dengan mantap, dikau tidak akan berpindah ke golongan hitam meski
memiliki ilmu yang disebut ilmu hitam, sebaliknya meskipun ilmu yang dikau miliki adalah ilmu
putih, jika dalam dirimu timbul perasaan jumawa dan angkuh karena memilikinya, serta bangga
pula telah mengalahkan semua lawan, maka apalah bedanya kepribadian semacam itu dengan
kepribadian golongan hitam?.”

Garis kedelapan belas “Seperti bercium dan bercinta” sub keenam puluh tiga bagian dari
dua pedang menulis kematian tepatnya pada halaman 483

Halaman 483 ada sebuah ungkapan hikmah “Bahwa manusia hidup demi makna tertentu.”

Garis kesembilan belas “Menghasut lingkar para raja” sub ketujuh puluh enam bgian dari
dua pedang menulis kematian tepatnya halaman 574, 575, 576, dan 578

Selanjutnya pada halaman 574 ada ungkapan “Aku tidak bisa mengambil keputusan karena aku
telah membiasakan diriku untuk hidup menurut aliran sungai kehidupan yang mebawaku,
kemana arus mengalir kesanalah aku akan berada, kemana ujung kakiku mengarah ke sana pula
aku akan melangkah. Itulah memang kehidupan yang kuiginkan, mengembara seperti angina
tanpa tujuan apa pun selain pengembaraan itu sendiri.” Selanjutnya pada halaman 575 sebagai
lanjutannya “Seorang pendekar pengelana memang tidak terikat oleh apa pun, tetapi ia tetap
terikat oleh kewajiban kepada kehidupan. Bahwa dalam segala kesempatan ia wajib memelihara
dan menjaga kehidupan seperti merawat tanaman dan pertumbuhan.”

Deangan kemampuannya dalam ilmu silat, itu berarti ia harus mnggunakannya untuk membela
mereka yang tertindas, lemah dan tidak berdaya, serta menegakkan keadilan, karena
ketidakadilan akan membunuh kehidupan. Suatu kewajiban yang tersa berat bagi mereka yang
masih memikirkan dirinya sendiri, ketika dengan bersemangat mencari ilmu sebanyak-
banyaknya dalam perjalanan mengembara keberbagai penjuru bumi dalam suasana kebebasan.”
Selanjutnya pada halaman 576 ada ungkapan “Bukakankan aku seperti telah ditakdirkan untuk
lahir dan menjalani kehidupan tanpa nama?.” Dan pada halaman 578 ada ungkapan sederhana
“parasaan terancam menimbulkan ketakuatan, ketakutan mendorong penindasan, dan penindasan
memdorong pemberontakan, yang hanya akan berjalan bila didukung pengkhianatan.”

Garis kedua puluh “Membaca gerakan pedang” sub ketujuh puluh tujuh bagian dari dua
pedang menulis kematian tepatnya pada halaman 583

“Ilmu silat bagiku adalah hak milik semua orang yang ingin mempelajarinya, tak seorang guru
pun berhak menguasai ilmu silatnnya untuk dirinya sendiri sahaja, karena jika itu terjadi maka
kesempurnaan rohani yang diburunya dalam ilmu persilatan tidak akan pernah dicapainya.”

Garis kedua puluh satu “Tulisan dan kejujuran” sub kedelapan puluh bagian dari dua
pedang menulis kematian tepatnya pada halaman 610 dan 611

Pada halaman 610 ada ungkapan “Seberapa jauhkan aku dapat berterusterang dengan segalanya?
Aku sebetulnya menuliskan semua itu untuk diriku, dengan harapan segala ingatanku terkuras
tanpa sisa. Peristiwa setiap saat, gambaran setiap pandangan, rincian setiap gerak, isi setiap kitab,
makna setiap kejadian, arti setiap perlambangan, aku ingin mengungkapkan semuanya,
selengkap-lengkapnya, serinci-rincinya, selus-luasnya, sebanyak-banyaknya, sejelas-jelasnya,
sepenuh-penuhnya, seutuh-utuhnya, segalanya, tanpa sisa. Selanjutnya ungkpan pada halaman
611 “Meskipun kepada diriku sendiri, seberapa jauh aku harus menampilkan diri dengan segala
keburukanku?.......? Hmm. Kejujuran ternyata merupakan perkara yang sulit…….”

Banyak alas an kenapa orang merasa perlu menuliskan kenangannya, Nawa, tetapi apa pun
alasannya, setiap kenangan yang dituliskan akan selalu bermakna setiap kali dibaca, sedangkan
karena dalam setiap pembacaan terdapat penafsiran yang berbeda, maka kebermaknaanya akan
berganda. Artinya, tidak penting benar apa maksud hati seorang penulis itu, Nawa, yang penting
adalah bagaimana tulisannya dapat bermakna bagi pembaca……”
Bagian 5: Pendekar Tujuh Lautan
Garis kedua puluh dua “Berlayar kesamudravidpa” sub kedlapan puluh satu bagian dari
pendekar tujuh lautan tepatnya pada halaman 618 dan 619

ungkapan yang terdapat dari 618 yaitu “Tiada makna dalam diri alam sendiri. Makna datang dari
manusia, apa pun makna yang diberikannya.” Selanjutnya halaman 619 ungkapannya adalah
“Namun akhirnya hanya kuasa kesepakatan yang berlaku, dunia mrnjadi sempit, dan kekerdilan
pemikiran merajalela. Maka seseorang yang berusaha melihat dunia harus berangkat
mengembara, atau menguak tempurung kekerdilannya melalui kitab-kitab yang membuka mata.”

Garis kedua puluh dua “Mantra nagarjuna” sub kedelapan puluh empat bagian dari
pendekar tujuh lautan tepatnya pada halaman 640

Diungkpakan “Adalah keyakinan yang membuat segala kegaiban bisa berjalan, kata pasangan
pendekar yang mengasuhku itu, maka keyakinan itulah yang harus dihancurkan untuk
memudarkan kegaibannya.”

Garis kedua puluh tiga “Pendekar dawai maut” sub kesembilan puluh dua bagian dari
pendekar tujuh lautan tepatnya halaman 694 dan 695

Halaman 694 diungkapkan “Kenalilah lawanmu sebaik dikau mengenal dirimu, Anakku, kata
ibuku dulu. Karena hanya dengan begitu dikau dapat mengenali kelemahannya.” Lantas ungkpa
halaman selanjutnya yaitu 695 dikatakan “Janganlah menjadi jumawa anak muda, pelajarilah
segala sesuatu, apa pun itu, meskipun dari sesuatu yang sangat sederhana……”

Garis kedua puluh empat “Jika hidup tidak berjalan seperti yang kita inginkan” sub
kesembilan puluh tujuh bagian dari pendekar tujuh lautan tepatnya halaman 737

“katanya kura-kura raksasa yang menjadi penyangga dunia ini bergerak, sehingga terjadilah
gempa. Benarkah itu, Ibu? Kutanya ibuku waktu itu. Ibuku pun menjawab, bahwa segala cerita
tentang asal-usul sesuatu adalah usaha menusia untuk menjelaskan dunia, dengan segala
pembendaharaan bahasa dan pengertian yang saat itu mereka miliki. Janganlah terlalu cepat
menertawakan cerita orang-orang tua, Anakku, kata ibuk lagi. Karena cerita yang mana pun akan
berguna jika kita pandai menafsirkannya. Sudah jelas anak kecil pun tahu dunia tidak berdiri di
atas punggung kura-kura.”

Garis kedua puluh lima “Kehormatan pada pembaca” sub keseratus bagian dari pendekar
tujuh lautan tepatnya pada halaman 759

pada halaman 759 ini diungkapkan “Seorang pembaca sebetulnya bekerjasama kerasnya dengan
seorang penulis. Artinya ketika membaca sebetulnya ia juga sedang menuliskannya kembali.
Menuliskan kembali bacaan itu untuk dirinya sendiri, menurut kebutuhan dan kepentingannya
sendiri.”
Sekedar catatan
Pembahasan novel nagabumi yang akan di diskusikan di lpik, aku tidak akan membahas
bagaimana unsur yang ada dalam sebuah novel seperti unsur tema, karakter, plot, point of view,
dan latar. Tapi disini aku lebih mengurai apa yang aku garis bawahi dari perjalananan pendekar
Tanpa Nama atau sejenis kearifan-kearifn yang aku dapat, dengan mungurai apada adanya
sehingga langsung dapat mengena bahwa tek sastra itu sebagai realitas kehidupan seperti halnya
kehidupan dan ada korelasinya dengan kehidupan sehari-hari yang kita jejaki, dengan
membacanya kita dapat bermain kealam dengan latar kebudayaan dunia abad VIII-XI seperti
naga bumi ini. semoga dalam diskuusi ini kita dapat memberi makna dari perjalanan pendekar
Tanpa Nama dengan berbagai macam kepala yang memiliki latar pengalaman dan pengetahuan
yang berbeda-beda sekaligus dengan keunikannya masing-masing, kita bisa menafsirnya dengan
kearifan setiap kepala itu. Wal hasil karena butuh berpikir mendalam untuk dapat memetakan
novel setebal kurang lebih 815 halaman, yang jelas kalau ingin lebih gamblang bagai mana
perjalanan pendekar tanpa nama dari bagian pertama dengan judul Jurus Tanpa Bentuk-bagian
kelima yaitu Pendekar Tujuh Lautan dalam novel nagabumi teman-teman dapat membacanya
sendiri sebab sangat menantang untuk dibaca dan dipahami…. Slamat membaca, karena ketika
kita membaca ada sesutu yang kita tunggu-tunggu ketika kita pulang dari sela-sela kesibukan,
oooh ia ada yang menungguku, dia sipendekar tanpa nama bagai mana nasibnya dalam novel
naga bumi atau apa pun bacaanya… dengan sesuatu yang menunggu itu kita tidak hanya diam
dan hidup dihari yang itu-itu juga, dikehidupan yang ini-ini juga, jenuh membosankan hampa
makna tapi dengan membaca kita bisa berpetualang kemana aja yang kita suka bahkan kealam
barzah sekalipun, meni kakitu-kitu teuing kaalam barzah sok ari bisamah……huahahahaaa
klebat!