Anda di halaman 1dari 9

SERAPAH BUAYA

Zaman dahulu kala, hiduplah dua orang nelayan yang sangat miskin. Mereka hanya
menggantungkan hidupnya dengan sebuah sampan yang sudah lapuk yang sudah dimakan usia. Setiap
hari mereka menggunakan sampan itu untuk mencari nafkah.
Suatu hari, mereka mengayuhkan sampan tua milik mereka ke sebuah sungai yang sangat dalam
dan angker. Air sungai itu berwarna kehitam-hitaman. Tidak sedikit ikan dan udang yang terdapat
sungai tersebut. Tidak hanya ikan dan udang, predator ganas seperti buaya juga ada di sungai itu.
Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat nelayan untuk mencari rezeki di sungai.
Saat mereka pergi memancing, kedua nelayan tersebut melihat sebuah rumah kosong di pinggir
sungai. Rumah tersebut sangat aneh karena rumah itu hanya terbuat dari daun dan ranting kering.
Mereka sangat penasaran terhadap rumah yang mereka temui tersebut. Namun, di hati kecil mereka
timbul rasa takut. Keberanian mereka ciut.
Suatu ketika mereka kembali pergi memancing. Kali ini mereka pergi pada malam hari karena
menurut omongan orang bahwa tangkapan pada malam hari lebih banyak dari pada siang hari. Pada
saat memancing, mereka mendengar suara riuh dari rumah aneh yang mereka jumpai sebelumya.
Karena semakin penasaran, mereka pun mendekati rumah itu. Sesampainya di depan rumah, mereka
sangat terkejut karena banyak buaya yang ada di dalam rumah aneh tersebut. Karena takut, satu
diantara nelayan itupun ingin segera pulang. Ia sangat khawatir dan takut nantinya buaya-buaya itu
menyerang dirinya.
Mendengar temannya ketakutan, satu di antara nelayanmasih ingin berada di tempat tersebut
karena penasaran terhadap aktivitas buaya di rumah tersebut. Ternyata ada buaya yang menunggu
rumah tersebut sedang melakukan perkawinan.
Banyak sekali buaya yang berkumpul di rumah itu.Tidak disangka-sangka, seekor buaya
mengamuk di tengah prosesi perkawinan. Kedua nelayan tersebut semakin penasaran. Ternyata buaya
itu mengamuk karena buaya perempuan yang menikah adalah kekasihnya. Karena sakit hati, buaya
itu pun langsung mengeluarkan kata-kata:
bukan jerok sembarang jerok
Jerok itu asam paye
Bukan tulok sembarang tulok
tulok itu untok merodok mate buaye
Mendengar kata-kata itu seluruh buaya yang ada di dalam rumah itu pun lari. Pernikahan buaya
itu pun gagal. Melihat hal itu, sang nelayan terkejut dan menjadikan kata-kata itu untuk penangkal
buaya (serapah). Akhirnya, sampai sekarang berdasarkan cerita ini, serapah (sumpahan) itu
digunakan sebagian nelayan untuk melindungi dirinya apabila diserang oleh buaya.
Cerita Rakyat Kubu Raya : Bajak Si Anak Perkasa
Teluk siak terhampar bemban
Tersebutlah cerita zaman dahulu kala
Hari berlari bulan berjalan
Pembulak orang pembulaklah kita
Terdapat sebuah kampung yang di dalamnya hiduplah sepasang suami istri yang dikaruniai
seorang anak. Anak itu sangat gemar bermain gasing. Setiap hari anak itu bermain gasing di sekitar
rumahnya. Saking seringnya, tidak ada yang mampu mengalahkannya dalam bermain gasing.
Akhirnya, anak itu di beri nama Bajak. Karena si Bajak tidak ada teman bermain gasing, bajak
meminta kepada ayahnya untuk dibuatkan sebuah parang. Orang tuanya memang tukang pembuat
parang yang terampil. Sang ayah membuatkan si Bajak parang selama tujuh hari tujuh malam.
Setelah parang jadi, si Bajak pun ingin mengembara dan meminta kepada ibunya untuk
membuatkan ketupat sebanyak tujuh buah sebagai bekal sarapan dalam perjalanan. Parang si Bajak
sangat besar, ujung parangnya menyentuh tanah dan dapat menjadi anak sungai. Dalam perjalanan di
dalam hutan, si Bajak mendengar suara gemuruh yang sangat aneh. Si Bajak pun penasaran tentang
sumber suarayang ada di sana. Ternyata, yang membuat suara gemuruh itu adalah “Runtun
Danau”. Runtun Danau merupakan seorang pendekar yang ada di hutan. Ia sangat kuat sehingga
mampu menumbangkan pohon-pohon dengan cara menarik rotan yang ada di pohon tersebut.
Melihat hal tersebut, si Bajak pun menyapa Runtun Danau.
“Hai saudara, apa yang sedang kamu lakukan?” tanya si Bajak.
“Eeee, kamu sudah merasa hebat ya. Beraninya kamu menegurku,” sahut si Rumpun Danau dengan
wajah yang menantang.
“Eeee, aku si tidak merasa hebat,” jawab si bajak dengan tenang.
“Kalau kamu tidak hebat, mengapa kamu berani menegurku. Bagaimana kalau kita taruhan saja”
tantang Rumpun Danau.
“Apa hal yang akan jadi taruhan kita?” tanya si Bajak.
“Bagaimana kita bertarung nyawa saja, siapa yang bisa hidup dialah pemenangnya,” sahut si
Rumpun Danau dengan wajah yang sangar.
“Saya tidak setuju kalau kita bertarung nyawa saudaraku, bagaimana kita taruhan yang lain saja”
saran Bajak dengan wajah yang santai.
“Apa itu,” sergap si Runtun Danau.
“Kita bertarung kekuatan saja. Siapa yang paling dalam menghempaskan tubuh ke dalam tanah maka
dialah pemenangnya,” sahut si Bajak.
“Hahaha... itu mudah, tetapi apa taruhannya jika menang?” tanya Runtun Danau yang percaya diri.
“Siapa yang menang dia akan menjadi abang dan siapa yang kalah dia akan menjadi adiik,” tutur si
bajak dengan raut muka yang santai.
“Boleh, biar aku yang pertama yang menghempaskan tubuhmu ke tanah,” tantang Runtun Danau.
“Silakan saudaraku,” sahut si Bajak.
Si Runtun Danau pun menghempaskan tubuh si Bajak dengan tenaga penuh. Ternyata, tubuh si Bajak
hanya terbenam sebatas mata kaki.
“Sekarang giliranmu,” sahut si Runtun Danau sambil tersenyum dan meremehkan si Bajak.
“Duaaaar...,“ suara hempasan si Bajak.
Runtun Danau pun terbenam hingga pinggang. Muka Runtun Danau pucat karena merasa sangat
terkejut akan hempasan si Bajak.
“Aku mengaku kalah, kamulah yang terkuat. Aku dengan rela akan menjadi adikmu,” kata si Runtun
Danau dengan wajah yang pucat.
“Siapa namamu?” tanya si Bajak.
“Nama ku Runtun Danau. Siapa gerangan nama abang?” ungkap Runtun Danau.
“Nama ku Bajak,” jawab si Bajak.
Kemudian, Runtun Danau dan si Bajak pergi mengembara menyusuri hutan bersama-sama.
Mereka pun berjalan melewati hutan yang sangat lebat. Tujuh hari tujuh malam mereka lewati di
hutan. Malam ke delapan, mereka mendengar suara aneh yang berasal dari sekitar mereka.
“lengkang... lengkung... lengkang... lengkung,” suara di semak-semak hutan. Mereka pun penasaran
sehinlgga mereka mencari tahu sumber suara tersebut. Ternyata, ada seorang pendekar yang
mencabut pepohonan dan melempar pohon-pohon tersebut ke segala arah sehingga mengeluarkan
bunyi “lengkang... lengkung... lengkang... lengkung”. Orang itu bernama Pencabut Tunggul. Hanya
dialah yang menjadi pendekar terhebat di hutan tersebut. Runtun Danau pun memberanikan diri untuk
bertanya kepada Pencabut Tunggul.
“Apa kabar saudara?” tanya si Runtun Danau.
Si Cabut Tunggul pun terkejut karena ada orang berani menyapanya. Sebelumnya, tidak ada
satu orang pun yang berani menyapanya karena dia terkenal dengan sosok yang ganas dan kuat.
“Eeeh... kamu sudah merasa kuat? Berani-beraninya kamu menegurku?” tanya si Cabut Tunggul
dengan ekspresi marah.
“Aku tidak hebat dan juga tidak kuat,” sahut Runtun Danau.
Karena merasa terganggu dan tertantang, Cabut Tunggul menantang si Runtun Danau untuk
bertarung. Namun, Runtun Danau menolak usulan dari Cabut Tunggul.
“Bagaimana kita taruhan saja,” kata si Runtun Danau.
“Taruhan apa?” kata si Cabut Tunggul.
“Barangsiapa yang bisa menghempas tubuh lawannya ke dalam tanah maka dialah pemenangnya.
Siapa menang dia menjadi abang dan yang kalah menjadi adik,” tutur si Runtun Danau.
“Boleh,” sahut Cabut Tunggul.
Si Cabut tunggul pun menghempaskan tubuh si Runtun Danau.
“Duaaaar,” suara hempasannya.
Ternyata, si Runtun Danau hanya terbenam se batas lutut ke bawah tanah.
“Sekarang giliranmu,” tutur si Cabut Tunggul.
“Baiklah,” kata si Runtun Danau.
“duaaar.” suara hempasan tubuh Cabut Tunggul.
Cabut tunggul terbenam bedalam tanah sebatas pinggang.
Sejak saat itu, Si Cabut tunggul pun mengakui bahwa Runtun Danaulah yang terkuat dan
menjadi adik dari Runtun Danau dan Bajak. Cabut Tunggul pun ingin ikut mengembara bersama
Bajak dan Rumpun Danau. Akhirnya mereka menjadi tiga bersaudara. Mereka bertiga pun berjalan
bersama-sama masuk hutan. Dalam perjalanan mereka mendengar suara deru air yang ada di tengah
hutan. Mereka pun menyusuri dan mencari tahu sumber suara. Ternyata, ada seorang pria yang sedang
menimba air sungai. Pria itu sangat kuat sehingga mampu mengeringkan sungai dengan sekejap.
Nama orang tersebut Si Timbak Tasik.
“Apa kabar saudara?” tanya Si Cabut Tunggul kepada Timbal Tasik.
“Eeeh, kau sudah merasa hebat? Beraninya kamu negurku?” jawab si Timbak Tasik.
“Saya tidak hebat, saya cuma ingin menyapa,” jawab si Cabut tunggul.
“Dari sekian lama, belum ada yang berani menyapa saya. Kalau kamu benar-benar merasa hebat mari
lawan saya, kita bertarung” jawab Timbak Tasik dengan wajah yang menantang.
“Saya mau bertarung, tetapi tidak berkelahi, melainkan siapa yang bisa menghempas tubuh lawannya
kedalam tanah, dialah pemenangnya. Siapa yang menghempaskan paling dalam, dialah
pemenangnya, yang menang menjadi abang dan yang kalah menjadi adik,” Tawar si Cabut Tunggul.
“Boleh, biarkan saya yang menghempaskan tubuhmu lebih dulu,” jawab si Timbak Tasik.
“Ya silakan,” jawab Cabut tunggul.
“Duaaar,” suara hempasan.
Ternyata si Cabut Tunggul hanya tenggelam sampai paha di bawah tanah.
“Sekarang giliranmu,” tantang si Timbak Tasik.
“Baiklah,” jawab si Cabut Tunggul.
“Duaaaar” suara hempasannya.
Akhirnya Timbak Tasik tertancap di bawah tanah hingga batas dada.
“Kamu memang kuat, kita sudah berjanji atas taruhan kita, maka kuanggap kau sebagai abangku”
ungkap si Timbak Tasik.
Mereka berempat menjadi keluarga angkat. Yang menjadi abang pertama adalah Bajak, adik
pertama Runtun Danau, adik kedua Cabut Tunggul, dan adik ketiga Timbak Tasik. Mereka pun selalu
bersama-sama menyusuri hutan.
Setelah beberapa lama berjalan menyusuri hutan, mereka kehabisan makanan. Akhirnya,
mereka berjalan dan menemukan sebuah danau. Si Bajak menyuruh sang adik, yaitu Timbak Tasik
untuk mengeringkan danau tersebut dengan cara menguras air di danau tersebut. Dalam sekejap air
pun mengering. Seekor ikan besar tergeletak di tengah danau. Si Timbak Tasik mencoba untuk
mengambil ikan itu. Namun, ia tidak mampu mengangkat ikan besar tersebut. Kemudian, Tasik minta
bantuan kepada Cabut Tunggul dan Runtun Danau. Namun, mereka juga tidak bisa mengangkat ikan
raksasa tersebut.
Mereka meminta bantuan kepada abang pertama, yaitu Si Bajak. Dengan enteng si Bajak
mengangkat ikan tersebut ke daratan. Mereka menghidupkan api lalu membakar ikan tersebut hingga
matang. Mereka pun dapat merasa nyaman karena lapar telah hilang.
Selepas makan, masalah pun timbul. Saat hendak melempar sisa kepala ikan, dari ke tiga adik
bajak tidak ada satu pun yang mampu membuang atau melempar kepala ikan tersebut. Sudah
beberapa kali semua adik Bajak mencoba untuk membuangnya, tetapi tetap tidak berhasil.
Sang adik pun meminta bantuan kepada abang untuk membuang kepala ikan tersebut. Tanpa
menunggu lama, Bajak pun membuang kepala ikan tersebut. Hanya menjentikkan jari kakinya, lalu
kepala ikan tersebut terlempar jauh. Setelah kepala ikan itu terbuang, sang adik bertanya kepada
Bajak.
“Selanjutnya kita mau kemana bang?” tanya sang adik.
“Kita akan menuju ke arah kepala ikan tadi,” jawab si Bajak.
Tanpa sepengetahuan mereka, ternyata kepala ikan tersebut terjatuh di sebuah kerajaan.
Seluruh penghuni kerajaan resah dengan keberadaan bangkai kepala ikan karena kepala ikan tersebut
menimbulkan aroma tidak sedap yang sangat menyengat. Tidak ada satu orang pun yang mampu
membuang kepala ikan tersebut.
Raja pun mengumumkan sayembara kepada semua penghuni kerajaan.
“Barang siapa yang mampu membuang kepala ikan ini, saya akan menikahkannya dengan putriku,”
kata raja dengan tegas.
Bajak dan ketiga adiknya pun berjalan mencari kepala ikan yang terlempar tadi. Mereka
bersama-sama menyusuri hutan dan mencari posisi kepala ikan itu terlempar. Sepanjang perjalanan,
ujung parang Bajak terhunjam ke tanah sehingga menyebabkan setiap tanah yang dilewatinya
menjadi anak sungai.
Setelah tujuh hari tujuh malam, mereka pun menemukan sebuah kerajaan yang bau busuk.
Ternyata, sumber bau itu berasal dari bangkai ikan yang selama ini mereka cari. Dari kejauhan, sang
raja melihat empat bersaudara tersebut . Raja pun menghampiri mereka dan meminta bantuan kepada
empat saudara tersebut untuk membuang kepala ikan tadi dengan jaminan menikahkan putrinya
dengan orang yang mampu membuang kepala ikan tersebut.
Dengan rasa percaya diri Si Timbak Tasik pun menerima tantangan dari raja karena Timbak
Tasik menyukai anak raja yang sangat cantik. Alhasil, si Timbak tasik pun tidak mampu
menggerakkan kepala ikan tersebut. Begitu pula dengan kedua saudaranya.
Si Bajak pun mencoba membuang kepala ikan tersebut. Dengan sentikan tangannya kepala
ikan itu pun terlempar jauh. Melihat hal itu raja pun kagum dan menjodohkan anaknya dengan si
Bajak. Namun, si Bajak menolak tawaran raja.
“Biar adikku saja si Timbak Tasik yang menikahi putrimu,” ungkap si Bajak kepada raja.
Raja pun menyetujui permintaan Si Bajak.
Timbak Tasik pun akhirnya menikah dengan seorang putri dan tinggal di kerajaan itu. Si Bajak
dan kedua adiknya melanjutkan perjalanan. Sebelum berangkat, Si Bajak meminta kepada Timbak
Tasik untuk menanam pohon selasih di depan kerajaan dan berkata “apabila tanaman selasih ini layu,
berarti aku dalam kesusahan,” ungkap si Bajak kepada sang adik.
Bajak dan kedua adiknya pun melanjutkan perjalanan. Sepanjang perjalanan parang si bajak
terus terseret di tanah.
“Kita mau kemana bang?” tanya sang adik.
“Kita akan menyusuri kepala ikan yang terlempar tadi,” kata si Bajak.
Ternyata kepala ikan tersebut jatuh di sebuah kerajaan yang lain. Raja kerajaan mempunyai
seorang anak yang sangat cantik. Melihat kepala ikan tersebut sang raja khawatir. Raja menganggap
bahwa akan terjadi musibah besar yang akan menimpa kerajaannya. Karena tidak ada seorang pun
yang mampu menyingkirkan kepala ikan tersebut, raja pun mengumumkan sesuatu kepada seluruh
penghuni kerajaan.
“Barang siapa yang bisa membuang kepala ikan ini, saya akan menikahkannya dengan putriku”
ungkap sanga raja dengan tegasnya.
Si Bajak dan kedua adiknya pun sampai ketempat jatuhnya kepala ikan itu. Mendengar
pengumuman raja, Si Cabut Tunggul pun dengan sigap mencoba membuang kepala ikan itu karena
dia berharap bisa menikahi anak sang raja. Namun, Si Cabut Tunggul tidak mampu membuang kepala
ikan tersebut. Akhirnya si Bajak lagi yang membuang ikan tersebut dengan jentikan jarinya. Ikan itu
pun terlempar jauh. Sesuai dengan pengumuman, raja pun meminta Bajak untuk menikahi Putri Raja.
tetapi bajak menolaknya.
“Biar adikku si Cabut Tunggul saja yang menikahi anakmu,’’ ungkap si Bajak kepada raja.
“Baiklah kalau itu kemauanmu,” Jawab sang Raja.
Cabut Tunggul pun menikah.
Tinggallah Bajak dan Runtun Danau yang melanjutkan perjalanan. Sebelum berangkat, si Bajak
meminta kepada Cabut Tunggul untuk menanam tanaman selasih di depan kerajaaan.
“Apabila tumbuhan selasih ini layu berarti aku dalam kesusahan,” ungkap si Bajak. “Baiklah
abangku,” jawab si Cabut Tunggul.
Bajak dan Runtun Danau pun meninggalkan kerajaan dan melanjutkan perjalanan. Dalam
perjalanan, Runtun Danau bertanya kepada Bajak.
“Mau kemana kita bang?” tanya Runtun Danau.
“Kita akan menyusuri kepala ikan yang terlempar tadi,” jawab Bajak.
Mereka pun berjalan melewati hutan rimba, seperti biasa parang si Bajak terus terseret
sepanjang perjalanan. Selama tujuh hari tujuh malam, Bajak dan adiknya mencari kepala ikan yang
terlempar tadi. Ternyata kepala ikan tersebut terjatuh di sebuah keraaan yang besar. Melihat kepala
ikan tersebut, raja pun meminta kepada seluruh prajuritnya untuk membuang kepala ikan tersebut.
Namun, hal yang sama terjadi, semua hanya sia-sia.
Raja bingung bagaimana cara membuang kepala ikan itu. Karna kepala ikan itu menimbulkan bau
yang sangat menyengat raja pun memberi pengumuman.
“Barang siapa dapat membuang kepala ikan ini, aku akan menikahkannya dengan putriku” ungkap
sang Raja.
Bajak dan Runtun Danau pun sampai di istana tersebut. Sesampainya di istana, Runtun Danau
melihat wanita yang sangat cantik di teras kerajaan. Ternyata wanita itu adalah anak sang raja.
Mendengar pengumuman sang raja, Runtun Danau pun langsung mencoba mengangkat dan
membuang ikan tersebut. Namun selalu sia-sia, sedikitpun ikan itu tidak bergerak dari tempatnya.
Akhirnya, Bajak membuang ikan tersebut dengan menjentikkan tangannya dan ikan itu pun
terlempar jauh. Sesuai dengan janji sang Raja pun meminta Bajak untuk menikahi anaknya. Namun,
sekali lagi Bajak menolaknya.
“Biar adikku si Runtun Danau saja yang menikahi anakmu,” pinta si Bajak.
“Baiklah kalau itu maumu’’ jawab si Raja.
Runtun Danau pun menikah dengan anak raja. Tinggal Bajak seorang diri yang melanjutkan
perjalanan. Sebelum melanjutkan perjalanan, Bajak kembali meminta kepada Runtun Danau untuk
menanam tumbuhan selasih.
“Apabila tumbuhan ini layu, berarti aku mendapat musibah,” ungkap Bajak.
“Baiklah abangku,” jawab Runtun Danau.
Bajak pun melanjutkan perjalanan untuk mencari kepala ikan yang sudah terlempar jauh
seorang diri. Selama tujuh hari tujuh malam Bajak mencari kepala ikan tersebut. Akhirnya, Bajak
menemukan kepala ikan itu di sebuah kerajaan. Kerajaan itu sangat sepi. Tampak tidak ada kehidupan
di kerajaan tersebut. Bajak pun berbicara sendiri di depan kerajaan.
“Alangkah senangnya kalau berdua, ada teman bicara,” ungkap si Bajak.
Akhirnya keluarlah inang (pembantu kerajaan) dari samping tiang kerajaan yang besar itu. Setelah
inang keluar, Bajak pun berkata lagi kepada inang.
“Alangkah enaknya apabila bertiga, ada juga yang menyaksikan pembicaraan,” ungkap si Bajak.
Setelah Bajak berbicara seperti itu, sang Putri pun keluar dari samping tiang kerajaan. Bajak pun
terkejut melihat dua orang keluar dari samping tiang kerajaan.
“Mengapa kerajaaan ini sepi inang, kemana yang lain?” tanya Bajak yang kebingungan.
“Raja dan seluruh prajurit sudah mati di makan burung garuda yang sangat besar,” jawab si inang
dengan wajah yang sedih.
“Bagaimana cara memanggil burung itu inang?” tanya si Bajak.
“Caranya, tumbukkan saja lesung yang ada di istana ini sebanyak tiga kali pada hari Jumat, pasti
burung itu akan datang,” jelas inang.
“baiklah kalau begitu caranya, aku akan memanggil burung itu,” jawab Bajak.
“Jangan kaupanggil burung itu, nanti kita bertiga akan mati dimakannya,” jawab inang sambil
ketakutan.
“Tidak inang, aku akan membunuh burung tersebut dengan parangku,” jawab Bajak dengan penuh
keyakinan.
Bajak pun langsung mengambil alu untuk menumbuk lesung kerajaan.
“Inang, sembunyikan tuan putri dalam kerajaan!” perintah Bajak.
“Baik tuan,” jawab inang sambil membawa tuan putri pergi.
“Lentung... lentung... lentung...,” bunyi lesung yang ditumbuk oleh Bajak.
Tidak beberapa lama, burung garudapun datang. Dengan seketika, langitpun menjadi gelap
gulita, burung itu sangat besar. Burung itu langsung menyambar Bajak. Dengan cepat Bajak menarik
parangnya dan menebas kepala burung garuda itu hingga mati. Bajak puntertimpa sayap burung
garuda sehingga tidak bisa keluar dari sayap tersebut. Inang dan tuan putri pun keluar dan mencoba
unituk membantu Bajak tapi itu semua hanya sia-sia. Karna sayap burung tang menimpa Bajak sangat
besar dan berat.
Ketiga adik Bajak mengetahui bahwa Bajak mendapat musibah karna kondisi tanaman selasih
yang ditanamnya layu. Tidak menunggu lama lagi, Rumpun Danau, Cabut Tunggul, dan Timbak
Tasik bergegas untuk membantu Bajak dengan cara mengikuti anak sungai yang terbentuk bekas
ujung parang Bajak.
Sesampainya di tempat keberadaan Bajak, mereka pun melihat Bajak sudah tertimpa sayap
burung garuda tersebut. Mereka mencoba bersama-sama mengangkat sayap burung tersebut. Namun,
sayap itu tidak terangkat.
“Lari saudaraku, tinggalkan tempat ini. Aku tidak apa-apa,” ungkap Bajak.
Mendengar hal tersebut, ketiga adik pun lari meninggalkan Bajak. Akhirnya, Bajak menolak sayap
burung tersebut dan dapat keluar dari himpitan sayap burung besar tadi. Bajak bangga dengan
saudara-saudaranya yang sudah menepati janji.
Setelah dapat keluar dari himpitan sayap burung tersebut. Bajak pun membelah perut burung
garuda itu. Bajak melihat banyak sekali bolah mata manusia yang ada di dalam perut burung itu.
akhirnya Bajak menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati dimakan burung garuda itu.
Raja juga hidup kembali akhirnya sang Raja menikahkan Putrinya dengan Bajak. singkat cerita
mereka pun hidup bahagia bersama di istana.