Anda di halaman 1dari 8

PENENTUAN BILANGAN IODIUM METODE HANUS

Metode : Hanus ,titrasi Iodometri


Tanggal Praktikum : Jum’at, 12 April 2019
Sampel : Minyak curah

1. TUJUAN PRAKTEK
Untuk menentukan bilangan iodium pada menggunakan metode Hanus, pada minyak pangan.

2. PRINSIP METODE
Bilangan iodium didefinisikan sebagai jumlah gram iodium yang diserap oleh 100 g lipid. Nilai
yang didapat menunjukkan derajat ketidakjenuhan lipid.

3. TINJAUAN PUSTAKA
Gliserida tak jenuh pada lemak atau minyak mempunyai kemampuan untuk mengikat
iodium. Proses pengikatan tersebut dibantu dengan adanya iodin klorida atau iodin bromide, dan
membentuk suatu senyawa jenuh. Reaksi yang terjadi adalah reaksi pemutusan ikatan rangkap
pada gliserida atau asam lemak tak jenuh seperti ditunjukkan pada reaksi 3.

nI2 + -n(CH=CH) n(CH – CH) - ………. (Reaksi 3)


| |
‫׀‬ ‫׀‬

Jumlah iod yang diabsorbsi menunjukkan derajat ketidakjenuhan lemak/minyak. Semakin


banyak iodium yang dapat diikat, maka semakin banyak asam lemak tak jenuh pada minyak/lemak
tersebut. Jumlah asam lemak tak jenuh pada lemak/minyak dapat memberikan informasi jenis
lemak/minyak tersebut. Setiap minyak/lemak berbeda memiliki rentangbilangan iodium yang
berbeda pula.
Metode yang dapat digunakan pada penetapan bilangan iodium adalah metode hanus dan
metode Wijs. Analisis dengan kedua metode ini akan memberikan hasil sedikit berbeda tetapi
masih dalam rentang variasi perbedaan bilangan iodium dalam lemak/minyak tersebut.
Penentuan bilangan iodium pada minyak/lemak dilakukan dengan cara menambahkan
sejumlah iodium (berlebih) ke dalam lemak/minyak. Iodium akan berikatan dengan asam lemak
tak jenuh pada sampel, dan memberikan sisa iodium yang ttidak bereaksi. Kemudian titrasi
iodometri dilakukan untuk menentukan jumlah iodium awal (tritasi blanko), dan jumlah iodium
sisa (titrasi sampel), jumlah iodium yang bereaksi dan setara dengan jumlah asam lemak tak jenuh
pada sampel, didapatkan dari pengurangan jumlah iodium awal dan iodium sisa. Reaksi tritasi 0

I2 + 2Na2S2O3 Na2S4O6 + 2NaI ……… (Reaksi 4)

4. PERALATAN

a. Neraca analitik

b. Labu iod 250 mL

c. Labu ukur 100 mL

d. Pipet volume 10 mL

e. Gelas Ukur

f. Buret 50 mL

g. Pipet tetes

5. PEREAKSI
1) Pereaksi Hanus
2) Larutkan 13,2 g I2 dalam 1 L asam asetat glasial. Jika seluruh iodium sudah larut dan
larutan telah dingin, tambahkan brom (Br2) secukupnya, umumnya 3 mL.
3) Kloroform
4) Larutan KI 15%
5) Larutan Na2S2O3.5H2O 0,1 N
6) Indicator amilum 1%

6. PROSEDUR
A. PENIMBANGAN SAMPEL
Sampel ditimbang dengan jumlah seperti pada tabel C.

Tabel C. jumlah penimbangan sampel untuk analisis bilangan iod pada minyak pangan
Bilangan iod yang diharapkan
Berat sampel (g)
(g iod/100g)
3 10,58 - 8,46
10 3,17 - 2,54
20 1,59 - 1,27
40 0,79 - 0,63
80 0,40 - 0,32
120 0,26 - 0,21
160 0,20 - 0,16
200 0,16 - 0,13
Keterangan : berat sampel yang yang diuji sebanyak 1,27–1,59 gram dengan bilangan iod yang
diharapkan 20 g iod/100g.

B. PROSEDUR KERJA
1. Menimbang sampel dan memasukkan sampel kedalam labu iod
2. Menambahkan 10 mL kloroform. Menambahkan 25,0 ml pereaksi hanus dan biarkan 30
menit ditempat gelap sambal sesekali dikocok ( sesudah reaksi diharapkan terdapat banyak
kelebihan iodiu, sedikitnya 60%).
3. Menambahkan 10 mL larutan KI 15%, kocok. Membilas labu iod dan tutup dengan 100
mL aquades. Inkubasi didalam ruang gelap 10-15 menit.
4. Mentitrasi larutan dengan Na2S2O3.5H2O 0,1 N yang telah distandarisasi hingga warna
larutan memudar.
5. Menambahkan 2 mL indicator amilum 1% dan lanjutkan titrasi. Jika warna biru hampir
hilang,hentikan titrasi. Erlenmeyer digoyang – goyang dengan cepat sehingga iodium yang
masih tinggal dalam kloroform akan pindah ke larutan KI.
6. Melakukan titrasi hingga warna biru tepat hilang.
7. Melakukan untuk titrasi untuk blanko dengan prosedur yang sama, blanko berisi 25,0 mL
pereaksi Hanus.

8. Mencatat hasil titrasi


9. Melakukan minimal secara duplo hingga hasil presisi.

7. HASIL PENGUJIAN PRAKTIKUM

A. PENIMBANGAN KIO3 0,1 N 100 mL

m = N x V x BE (KIO3)

214 𝑔/𝑚𝑜𝑙
m = 0,1 N x 0,05 L x
6

m = 0,1783 gram (rencana)

Berat gelas arloji = 8,1053 gram


Berat yang harus ditimbang = 0,1783 gram +
= 8,2836 gram
Hasil penimbangan = 8,2934 gram

Berat sesungguhnya = 8,2934 gram − 8,1053 gram = 0,1881 gram

B. STANDARISASI KIO3 0,1 N 50 mL

𝑚
N=
𝑉 𝑋 𝐵𝐸 (KIO3)
0,1881 𝑔𝑟𝑎𝑚
N= 214 𝑔/𝑚𝑜𝑙
0,05 𝐿 𝑥 6

N = 0,1055 N

C. VOLUME STANDARISASI Na2S2O3.5H2O

Volume untuk titrasi 1 = 13,50 mL

Volume untuk titrasi 2 = 13,60 mL


(13,50 𝑚𝐿 + 13,60 𝑚𝐿)
Volume rata – rata = = 13,55 mL
2
D. STANDARISASI Na2S2O3.5H2O 0,1 N
V1 x N1 = V2 x N2
10,0 mL x 0,1055 N = 13,55 mL x N2
N2 = 1,055
13,55mL
N2 = 0,0799 N
E. VOLUME BLANKO

Volume untuk titrasi 1 = 49,00 mL


Volume untuk titrasi 2 = 49,10 mL
(49,00 𝑚𝐿 + 49,10 𝑚𝐿)
Volume rata – rata = = 49,05 mL
2
F. MASSA SAMPEL
Masaa sampel 1 = 0,63 gram
Massa sampel 2 = 0,67 gram
(0,63 gram + 0,67 gram)
Volume rata – rata = = 0,65 gram
2
G. VOLUME SAMPEL
Volume untuk titrasi 1 = 23,40 mL
Volume untuk titrasi 2 = 23,30 mL
(23,40 𝑚𝐿 + 23,30 𝑚𝐿)
Volume rata – rata = = 23,35 mL
2
H. PERHITUNGAN

g iod / 100 g =

(49,05 𝑚𝐿−23,35 𝑚𝐿)𝑥 0,0799 N x 126,9x 100


=
0,65 𝑔𝑟𝑎𝑚
25,4058
=
0,65 gram
= 39,0858 g iod / 100 g
8. HASIL DOKUMENTASI
Hasil gambar Keterangan

Blanko sebelum sebelum di


inkubasi

Blanko ditritasi sebelum


ditambahkan indicator amilum dan
ditritasi kembali

Blanko setelah ditritasi


Sampel sebelum diinkubasi dalam
ruang gelap

Sampel sebelum ditritasi

Sampel setelah ditritasi


9. KESIMPULAN
Dari hasil pratikum yang dilakukan, untuk penentuan bilangan iodium pada minyak curah
mendapatkan hasil 39,0858 g iod / 100 g. Hasil penentuan bilangan iodium pada minyak curah ini
tidak berbeda jauh dengan dengan hasil bilangan iodium yang diharapkan menurut SNI yaitu 40 g
iod/ 100 g.