Anda di halaman 1dari 34

PBL SKENARIO 3

BERCAK MERAH DAN GATAL DI SELANGKANGAN

BLOK PANCA INDERA

OLEH

KELOMPOK A- 08

Ketua : Ahmad Rafi Faiq (1102015012)

` Sekretaris : Anggi Larasati (1102015023)

Anggota : Indah Permatasari (1102014130)

Anugrah Haba Lizandi (1102015032)

Desti Dhea Izzani (1102015055)

Dian Ayu Lestati (1102015059)

Faras Qodriyah (1102015074)

Kendra Nugraha (1102015112)

Engka Abu Bakar (1102013097)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI

2017-2018
SKENARIO 3

BERCAK MERAH DAN GATAL DI SELANGKANGAN

Seorang wanita berusia 28 tahun dating ke poliklinik dengan keluhan bercak merah dan gatal
terutama bila keringat di selangkangan sejak 1 minggu yang lalu. Keluhan disertai dengan
beruntus dan kulit yang menebal berwarna gelap. Kelainan ini hilang timbul selama 6 bulan,
hilang apabila diobati dan timbul saat menstruasi atau menggunakan celana berlapis. Riwayat
keputihan disangkal. Kelainan ini dirasakan setelah berat badan penderita bertambah.

Pada pemeriksaan generalis : dalam batas normal

Pada pemeriksaan dermatologis : Regioner, bilateral pada ke-2 sisi medial paha atas tampak lesi
multiple, berbatas tegas, bentuk beraturan, ukuran bervariasi dari diameter 0,03cm sampai 0,1cm,
kering, permukaan halus dengan efloresensiberupa plak eritem, sebagian likhenifikasi yang
hiperpigmentasi, pada bagian tengah tampak central healing dengan ditutupi skuama halus.

Setelah mendapatkan terapi, penderita diminta untuk control rutin dan menjaga serta memelihara
kesehatan kulit sesuai tuntunan ajaran Islam.
KATA-KATA SULIT

1. Lesi multiple : lesi dengan berbagai bentuk dan ukuran.


2. Likhenifikasi : perubahan kulit disertai relief kulit yang semakin jelas.
3. Skuama : lapisan stratum korneum yang mengelupas dari kulit
4. Efloresensi : proses perubahan kulit yang dapat dilihat dengan mata
5. Central healing : kelainan kulit dimana lesi tampak, bagian tengah bersih. Seolah-olah
sembuh dengan bagian tepi tetap aktif
6. Plak : peninggian diatas permukaan kulit. Permukaanya datar dan berisi
infiltrate.Diameter 2 cm atau lebih.
7. Eritema : kemerahan pada kulit karena pelebaran pembuluh darah kapiler yang
Reversible
8. Hiperpigmentasi : penimbunan pigmen berlebi yang membuat kulit lebih gelap.
PERTANYAAN

1. Apa hubungan menstrusi dengan timbulnya bercak merah dan gatal pada pasien ?
2. Apa hubungan kenaikan berat badan terhadap kasus pada scenario ?
3. Apakah penyakit ini menular ? bagaimana cara penularannya ?
4. Mengapa Kelaina yang terjadi hilang timbul ?
5. Bagaimana cara menjaga kesehatan kulit sesuai aaran islam ?
6. Apaka terapi yang tepat pada kasus ini ?
7. Apa etiologi dari kasus ini ?
8. Apa diagnosis dari kasus ini ?
9. Menapa kelan disertai dengan bruntusan ?
10. Apa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menentukan etiologi ?
11. Bagaimana pencegahan dari kasus terdebut ?
JAWABAN

1. Karena saat menstruasi, pasien menggunakan pembalut dan pembalutnya tidak sering diganti.
Maka kondisi didaerah genital akan menadi lembab, seingga timbul jamur dan rasa gatal. Karena
ada rasa gatal maka pasien secara tidak sadar akan menggaruk daerah tersebut dan timbul lah
kemerahan.
2. Peningkatan berat badan akan menyebabkan peningkatan keringat. Seingga keadaan
menadi lembab dan menadi tempat pertumban jamur.
3. Bisa menular. Melali 3 cara, yaitu geofilik : penularan dari tanah ke manusia. Antropofilik
: dari manusia ke manusia. Zoofilik : dari hewan ke manusia.
4. - karena saat menstruasi, kondisi menadi lembab
- Karena Indonesia beriklim tropis
5. - Tidak melakukan seks bebas
- Menutup aurat
- Menggunakan pakaian yang longgar
6. Jamur : diberikan anti jamur
Gatal : diberikan anti histamin
7. Jamur, karena lesinya khas yaitu central healing
8. Dermatofitosis : karena ada lesi multiple, yang berbatas tegas, tepi lebih merah dari pada
bagian tengahnya dan timbul saat keadaan lembab.
9. Karena ada reaksi inflamasi
10. - pemeriksaan KOH
- Pewarnaan super blackblue
- Kultur dengan agar subauround
- Pemeriksaan dengan lampu wood
11. - mengganti pembalut
- Mengeringkan alat vital setelah BAK dan BAB agar tidak lembab
- Menggunakan bahan yang menyerap keringat
- Menggunakan barang-barang pribadi sendiri
HIPOTESIS
Jamur merupakan penyebab dari kasus pada scenario ini. Karena ditemukan efloresensi
dengan lesi yang khas, yaitu central healing. Penyakit karena jamur memiliki geala
diantaranya adalah bruntusan. Bruntusan dapat teradi karena adanya reaksi inflamasi.
Penyakit infeksi oleh jamur dapat menular melalui 3 cara : geifilik,zoofilik dan
antropofilik. .ada beberapa faktor resiko yang menadi pemicu timbulnya jamur yaitu,
kondisi iklim yang tropis, peningkatan berat badan serta saat sedang menstruasi.
Pemeriksaan penunang yang dapat dilakukan untuk menentukan etiologi nya adalah
pemeriksaan dengan lampu wood, dengan KOH 10 %, kultur dengan agar saubouroud.
Dari pemeriksaan yang suda dilakukan dapat ditentukan diagnosis pada scenario ini
adalah dermatofitosis, karena adanya lesi multiple yang berbatas tegas dengan tepi
lebih memerah daripada bagian tengahnya. Karena lesi terdapat di bagian lipatan paha
makan dapat dikatakan penyebabnya karena tinea kruris. Untuk infeksi yang
disebabkan oleh jamur, dapat diberikan anti jamur sebagai pengobatannya.serta untuk
mengurangi rasa gatal, dapat diberikan antihistamin. Pencegahan yang dapat dilakukan
adalah dengan ; sering mengganti pembalut, mengeringkan alat vital setelah BAK,
menggunakan bahan yang menyerap keringat dan menggunakan baran pribadi sendiri
agara tidak terjadi penularan. Jika dilihat dari segi agama, kita juga harus menaga
kesehatan kulit dengan menggunakan pakaian yang menutup aurat dan menggunakan
pakaian yang longgar serta tidak melakukan seks bebas.
SASARAN BELAJAR
1. Mampu memahami dan menjelaskan Anatomi kulit
2. Mampu memahami dan menjelaskan Fisiologi kulit
3. Mampu memahami dan menjelaskan Mikosis
4. Mampu memahami dan menjelaskan Dermatofitosis
4.1. Definisi
4.2. Epidemiologi
4.3. Klasifikasi
4.4. Etiologi
4.5. Patofisiologi
4.6. Manifestasi klinis
4.7. Diagnosis dan diagnosis banding
4.8. Tata laksana
4.9. Prognosis
4.10. Komplikasi
4.11. Pencegahan
5. Mampu memahami dan menjelaskan menajaga kulit menurut pandangan Islam dan menutup
aurat
SASARAN BELAJAR

1. Mampu memahami dan menjelaskan Anatomi kulit

Kulit adalah organ tunggal terberat di tubuh dengan berat sekitar 15% dari berat badan total
dengan luas permukaan sekitar 1,2 - 2,3 m2 pada orang dewasa. Kulit terdiri atas lapisan
epidermis yang berasal dari ektoderm permukaan dan lapisan dermis yang berasal dari
mesoderm. Berdasarkan ketebalan epidermis kulit dapat dibedakan menjadi kulit tebal dan
kulit tipis. Turunan epidermis meliputi rambut, kuku, kelenjar sebasea, dan kelenjar keringat.

Kulit terbagi menjadi 3 lapisan:

1) Epidermis
Epidermis terdiri dari 5 lapisan dan tidak mempunyai pemubuluh darah maupun limpa
sehingga semua nutrisi dan oksigen di dapat dari pembuluh kapiler pada lapisan dermis yang
berdifusi melalui cairan jaringan serta membran basal untuk mencapai epidermis.

Sel-sel epidermis

a. Keratinosit

Sel terbanyak dengan jumlah mencapai 85%-95% pada epidermis. Berasal dari
ektoderm permukaan. Sel berbentuk gepeng ini memiliki sitoplasma yang dipenuhi oleh
skleroprotein birefringen, yakni keratin. Keratin ini mengandung sedikitnya 6 macam
polipeptida dengan berat molekul 40kDa sampai 70 kDa. Sel basal mengandung berat molekul
yang lebih rendah. Proses keratinisasi berlangsung selama 2-3 minggu yang dimulai dari
proses proliferasi, diferensiasi, kematian sel dan pengelupasan. Pada tahap akhir diferensiasi
diikuti penebalan membran sel, kehilangan inti dan organel lain di dalam sel. Selama proses
keratinisasi berlangsung enzim hidrolitik lisosom berperan pada penghancuran organel
sitoplasma.

b. Melanosit

Warna kulit ditentukan oleh berbagai faktor penting seperti kandungan melanin dan
karoten, jumlah pembuluh darah dalam dermis, dan warna darah yang mengalir di dalamnya.
Eumelanin adalah pigmen coklat tua yang dihasilkan oleh melanosit. Sel ini berjumlah 7%-
10% dan berasal dari neuroektoderm. Melanosit memiliki badan sel yang bulat dengan cabang
dendritik yang panjang dan tipis. Hemidesmosom mengikat melanosit ke lamina basalis.

Melanosit paling banyak terdapat pada kulit muka dan genitalia eksterna. Jumlah
melanosit tiap individu hampir sama, hanya jumlah produksi melanin berbeda. Sintesis
melanin berlangsung di dalam melanosit dengan tirosinase berperan penting. Tirosin mula-
mula diubah menjadi 3,4-dihidroksifenilalanin (dopa) dan kemudian menjadi dopaquinon
yang kemudian bertransformasi dan dikonversi menjadi melanin. Dalam melanosit, melanin
berkumpul dalam vesikel yang disebut premelanosom. Vesikel kemudian matang menjadi
melanosom yang disebarkan melalui cabang sitoplasma melanosit ke keratinosit di sekitarnya
terutama yang berada di stratum basale. Setelah granula melanin bermigrasi di dalam juluran
sitoplasma, granula melanin akan berkumpul di daerah supranuklear sehingga inti sel
terlindungi dari radiasi matahari yang merusak. Menggelapnya kulit karena sinar uv adalah
hasil proses dua tahap yakni reaksi fisikokimia menghitamkan melanin dan melepaskannya
dengan cepat ke keratinosit. Pada tahap kedua kecepatan sintesis melanin menjadi meningkat
dan mengakibatkan peningkatan jumlah pigmen.

c. Sel langerhans

Merupakan sel dendritik yang berbentuk bintang, ditemukan terutama di antara


keratinosit dalam lapisan atas stratum spinosum. Sel ini mempunyai reseptor penanda
imunologis yang mirip makrofag. Sel ini mengikat antigen asing di permukaannya dan
merupakan sel pembawa antigen yang menyebabkan limfosit T dapat bereaksi terhadap
antigen yang dibawanya. Sel ini berasal dari sekelompok sel prekursor dalam sumsum tulang.

d. Sel Merkel

Sel ini memiliki jumlah paling sedikit dan berasal dari krista neuralis. Sel ini
terdapat pada lapisan basal kulit tebal, terutama banyak ditemukan di ujung jari, folikel rambut
dan mukosa mulut. Sel ini memiliki peranan sebagai mekanoreseptor.

Epidermis terdiri dari 5 lapisan :

a. Stratum korneum/Lapisan tanduk


 Terdiri dari beberapa lapis sel gepeng yang mati dan tidak berinti
 Protoplasmanya telah berubah menjadi keratin (zat tanduk)

b. Stratum Lusidum
 Lapisan sel gepeng tanpa inti
 protoplasma berubah menjadi protein (eleidin)
 Biasanya terdapat pada kulit tebal telapak kaki dan telapak tangan
 Tidak tampak pada kulit tipis

c. Stratum granulosum / Lapisan Granular


 Merupakan 2 atau 3 lapis sel gepeng
 Sitoplasma berbutir kasar yang terdiri atas keratohialin dan terdapat inti
diantaranya
 Mukosa tidak mempunyai lapisan ini

d. Stratum spinosum / lapisan Malphigi


 Lapisan epidermis yang paling tebal
 Terdiri dari sel polygonal, besarnya berbeda-beda karena ada proses mitosis
 Protoplasmanya jernih karena banyak mengandung glikogen dan inti terletak
ditengah
 Terdapat jembatan antarsel (intecelluler bridges) yg tdd: protoplasma dan
tonofibril
 Perlekatan antar jembatan membentuk nodulus Bizzozero
 Terdapat juga sel langerhans yang berperan dalam respon – respon antigen
kutaneus. Seperti ditunjukan dibawah

e. Stratum basale
 Terdiri dari sel – sel kuboid yang tegak lurus terhadap dermis
 Tersusun sebagai tiang pagar atau palisade
 Lapisan terbawah dari epidermis
 Mengadakan mitosis dan berfungsi reproduktif
 Terdapat melanosit (clear cell) yaitu sel dendritik yang yang membentuk melanin
melindungi kulit dari sinar matahari. Dengan sitoplasma yang basofilik dan inti
gelap, mengandung butir pigmen (melanosomes)

2) Dermis (korium)
Merupakan lapisan dibawah epidermis. Terdiri dari jaringan ikat yang terdiri dari 2 lapisan:
a. Pars papilare
o Bagian yang menonjol ke epidermis
o Berisi ujung serabut saraf dan pembuluh darah
b. Pars retikulare
o Bagian yang menonjol ke subkutan
o Terdiri atas: serabut-serabut penunjang (kolagen, elastin, retikulin), matiks
(cairan kental asam hialuronat dan kondroitin sulfat serta fibroblas)
o Terdiri dari sel fibroblast yang memproduksi kolagen dan retikularis yang
terdapat banyak p. darah, limfe, akar rambut, kelenjar kerngat dan k.
sebaseus.
3) Jaringan Subkutan atau Hipodermis / Subcutis
Terdiri atas jaringan ikat longgar berisi sel-sel lemak di dalamnya. Pada lapisan ini terdapat
ujung-ujung saraf tepi, pembuluh darah dan getah bening.
a. Sel lemak
o Sel lemak dipisahkan oleh trabekula yang fibrosa
o Lapisan terdalam yang banyak mengandung sel liposit yang menghasilkan
banyak lemak. Disebut juga panikulus adiposa yang berfungsi sebagai
cadangan makanan
o Berfungsi juga sebagai bantalan antara kulit dan setruktur internal seperti otot
dan tulang. Sebagai mobilitas kulit, perubahan kontur tubuh dan penyekatan
panas. Sebagai bantalan terhadap trauma. Tempat penumpukan energi
b. Vaskularisasi
Dikulit diatur oleh 2 pleksus:
o Pleksus superfisialis
o Pleksus profunda

Adneksa Kulit
1) Kelenjar-Kelenjar Pada Kulit
a. Kelenjar keringat (glandula sudorifera)
Terdapat di lapisan dermis. Diklasifikasikan menjadi 2 kategori:
- Kelenjar Ekrin terdapat disemua kulit

 Melepaskan keringat sebgai reaksi penngkatan suhu lingkungan dan suhu


tubuh.

 Kecepatan sekresi keringat dikendalkan oleh saraf simpatik. Pengeluaran


keringat pada tangan, kaki, aksila, dahi, sebagai reaksi tubuh terhadap
setress, nyeri dll
- Kelenjar Apokrin

 Terdapat di aksil, anus, skrotum, labia mayora, dan berm,uara pada folkel
rambut

 Kelenjar ininaktif pada masa pubertas,pada wanit a akan membesar dan


berkurang pada sklus haid

 Kelenjar Apokrin memproduksi keringat yang keruh seperti susu yang


diuraikan oleh bajkteri menghasilkan bau khas pada aksila
 Pada telinga bagian luar terdapat kelenjar apokrin khusus yang disebut K.
seruminosa yang menghasilkan serumen (wax)

2) Kelenjar Sebasea
Berfungsi mengontrol sekresi minyak ke dalam ruang antara folikel rambut dan batang
rambut yang akan melumasi rambut sehingga menjadi halus lentur dan lunak.
2. Mampu memahami dan menjelaskan Fisiologi kulit

Kulit berfungsi untuk :


1.Proteksi
Kulit menjaga bagian dalam tubuh terhadap gangguan fisis atau mekanis, gangguan
kimiawi, gangguan bersifat panas, serta gangguan infeksi luar terutama kuman/bakteri maupun
jamur. Gangguan fisik dan mekanik ditanggulangi dengan adanya bantalan lemak subkutis,
tebalnya lapisan kilit, dan serabut penunjang yang berfungsi sebagai pelindung bagian luar
tubuh.
Gangguan sinar UV diatasi oleh sel melanin yang menyerap sebagian sinar tersebut.
Gangguan kimiawi ditanggulangi dengan adanya lemak permukaan kulit yang berasal dari
kelenjar palit kulit yang mempunyai pH 5,0 – 6,5. Lemak permukaan kulit juga berperan dalam
mengatasi banyak mikroba yang ingin masuk ke dalam kulit.

2.Absorpsi
Kulit yang sehat tidak mudah menyerap air, larutan, maupun benda padat. tetapi cairan
yang mudah menguap lebih mungkin diserap kulit, begitu pula zat yang larut dalam minyak.
Permeabilitas kulit terhadap gas CO2 atau O2 mengungkapkan kemungkinan kulit
mempunyai peran dalam fungsi respirasi. Kemampuan absorpsi tersebut dipengaruhi oleh tebal
tipisnya kulit, hidrasi, kelembaban dan metabolisme.

3.Eksresi
Kelenjar-kelenjar kulit mengeluarkan zat-zat sisa metabolisme berupa NaCl. Urea, asam
urat, dan ammonia. Sebum yang dihasilkan berfungsi untuk melindungi kulit karena selain
meminyaki kulit juga menahan evaporasi air yang berlebihan sehingga kulit tidak menjadi
kering.

4.Persepsi
Rangsang panas : badan-badan Ruffini di dermis dan subkutis.
Rangsang dingin : badan-badan Krause yang terletak di dermis.
Rangsang rabaan : badan taktil Meissner di papilla dermis dan badan Merkel Ranvier di
epidermis.
Rangsang tekan : badan Paccini di epidermis.
5.Pengaturan suhu tubuh
Termoregulasi kulit dilakukan dengan mengeluarkan keringat dan mengerutkan pembuluh
darah kulit.

6.Pembentukan pigmen
Perbandingan jumlah sel basal : melanosit adalah 10 : 1. Jumlah melanosit dan jumlah serta
besarnya butiran pigmen menentukan warna kulit ras maupun individu. Pajanan sinar matahari
mempengaruhi produksi melanosom. Pigmen disebar ke epidermis melalui tangan-tangan
dendrite, sedangkan pada dermis melalui sel melanofag. Warna kulit juga dipengaruhi oleh
tebal tipisnya kulit, reduksi Hb, oksi Hb dan karoten.

7.Keratinisasi
Keratinosit dimulai dari sel basal yang mengadakan pembelahan, sel basal yang lain akan
berpindah ke atas dan berubah bentuknya menjadi sel spinosum, makin ke atas makin gepeng
dan bergranula menjadi sel granulosum.
Makin lama inti menghilang dan keratinosit ini menjadi sel tanduk yang amorf. Proses ini
berlangsung normal selama kira-kira 14-21 hari dan member perlindungan kulit terhadap
infeksi secara mekanis fisiologik.

8.Pembentukan vitamin D
Dimungkinkan dengan mengubah 7 dihidroksi kolesterol dengan pertolongan sinar matahari.

9.Fungsi Ekspresi Emosi


Hasil gabungan fungsi yang telah disebut di atas menyebabkan kulit mampu berfungsi
sebagai alat untuk menentukan emosi yang terdapat dalam jiwa manusia. Kegembiraan dapat
dinyatakan oleh otot kulit muka yang relaksasi dan tersenyum, kesedihan diutarakan oleh
kelenjar air mata yang meneteskan air matanya, ketegangan dengan otot kulit dan kelenjar
keringat, ketakutan oleh kontraksi pembuluh darah kapiler kulit sehingga kulit menjadi pucat
dan rasa erotik oleh kelenjar minyak dan pembuluh darah kulit yang melebar sehingga kulit
tampak semakin merah, berminyak, dan menyebarkan bau khas.Semua fungsi kulit pada
manusia berguna untuk mempertahankan kehidupannya sama seperti organ tubuh lain.

3. Mampu memahami dan menjelaskan Mikosis


Mikosis dibedakan menjadi dua yaitu mikosis profunda dan mikosis superficial, mikosis
profunda adalah penyakit yang disebabkan oleh jamur dengan gejala klinis tertentu di bawah
kulit misalnya traktus intestinalis, traktus respiratorius, traktusurogenital, susunan
kardiovaskular, susunan saraf sentral, otot, tulang, dan kadang kulit. Mikosis profunda
biasanya terlihat dalam klinik sebagai penyakit kronik dan residif. Manifestasi klinis
morfologik dapat berupa tumor, infiltrasi, peradangan vegetative, fistel, ulkus,sinus, tersendiri
maupun bersamaan.
Sedangkan mikosis superficial adalah penyakit jamur yang disebabkan oleh jamur yang
hanya menginvasi jaringan superfisialis yang terkeratinisasi (kulit, rambut dan kuku) dan tidak
ke jaringan yang lebih dalam, dan mempunyai dua golongan yaitu dermatofitosis dan non-
dermatofitosis, dermatofitosis mempunyai enzim yang dapat mencerna keratin.
(ilmu penyakit kulit dan kelamin ed 7)

A. MIKOSIS PROFUNDA

Sporotrikosis : infeksi kronik sporotrichum schenkii yang ditandai dengan nodula


-nodula pada kulit atau jaringan subkutan akibat pembengkakan kelenjar limfe yang
kemudian melunak, memecah dan menjadi ulkus indolen.

Penyebab : sporotrichum schenkii


Lokalisasi : bagian tubuh yang terbuka. Terutama ekremitas.
Efloresensi : awalnya berbentuk papula/ nodula eritematosa. Kemudian pecah dan
membentuk ulkus, dinding meninggi, indurasi, dasarnya terdiri dari jaringan granulasi.
Penyebaran khas limfogen proksimal.
Pemeriksaan : preparat langsung : tampak granula sulfur
KOH 10% : tampak hifa bercabang dan bersepta.

Aktinomikosis : adalah penyakit infeksi jamur profundal kronik dengan nodula –


nodula supuratif, granulomatosa disertai sinus – sinus yang mengeluarkan eksudat
purulent.

Penyebab : actinomyces israelii.


Lokalisasi : leher sampai wajah, dinding perut dan dinding dada.
Efloresensi : nodula- nodula keras berwarna merah kehitaman disertai sinus- sinus dengan
purulent.
Pemeriksaan : pada sediaan apusan eksudat : granula sulfur berwarna kuning dengan
diameter 1-5 mm. banyak mengandung eleme-elemen jamur.
Pewarnaan gram : miselium bersifat gram positif.

Kromomikosis : mikosis profundal yang biasanya meyerang kulit dengan gambaran


nodular dan verukosa

Penyebab: satu dari 4 jamur: Phialophora pedrosa, P. verrucose, P. compacta, dan


Cladosporium carionii.
Lokalisasi: Tungkai bawah terutama telapak kaki, punggung kaki dan bokong
Efloresensi : Nodula-nodula lentikuar ssampai nummular denganpermukaan kasar
menyerupai kembang kol danberbatas tegas.
Pemerikasaan : - preparat langsung dari kerokan kkulit dangn KOH10%: hifa +
- biakan jaringan kulit bpada agar sabouround. Sesudah 2-3 minggu tampak
pertumbuhan koloni jamur.
Fikomikosis subkutis : Infeksi jamur profundal dengan gejala pembengkakan dibawah
kulit. Kenyal pada perabaan berbatas tegas.

Penyebab : jamur golongan Mucor dan basidiobolous


Lokalisasi : kaki, leher dan dada
Efloresensi : nodula- nodula berbatas tegas, permukaan rata terkadang ada vistula yang
mengeluarkan cairan serosanguineus.
Pemeriksaan: pemeriksaan cairan Fistel : ditemukan hifa- hifa besar bersekat.
Biakan pada agar sbouraud glukosa : pertumbuhan koloni jamur.

Misetoma : adalah infeksi jamur profundal kronik pada jaringan bawah kulit yang dapat
meluas ke otot dan tulang, sehingga menimbulkan kelainan bentuk.

Penyebab : Actinomycetes, termasuk genus Nocardia dan Streptomyces (tipe aktif


nonmikotik), genus Madurella, Allescheria, Cephalosporium dan phialophora (tipe
eumikotik).

Lokalisasi : terutama kaki, tangan, dada dan bokong.


Efloresensi : Tumor yang teratur dengan fistel atau ulkus ; secret purulent mengandung
datian langhans.
Pemeriksaan : dengan KOH 10% : ditemukan elemen jamur
Biakan agar sabauraud : pertumbuhan koloni berwarna krem sampai coklat.

B. MIKOSIS SUPERFICIAL

NON –DERMATOFITOSIS

Infeksi non-dermatofitosis pada kulit biasanya terjadi pada kulit yang paling luar. Hal ini
disebabkan jenis jamur ini tidak dapat mengeluarkan zat yang dapat mencerna keratin kulit dan
tetap hanya menyerang lapisan kulit yang paling luar. Yang masuk ke dalam golongan ini adalah

1. TINEA VERSICOLOR
Tinea versikolor/Pityriasis versikolor adalah infeksi ringan yang sering terjadi disebabkan oleh
Malasezia furfur. Penyakit jamur kulit ini adalah penyakit yang kronik dan asimtomatik ditandai
oleh bercak putih sampai coklat yang bersisik. Kelainan ini umumnya menyerang badan dan
kadang- kadang terlihat di ketiak, sela paha,tungkai atas, leher, muka dan kulit kepala.
Pertumbuhannya pada kulit (stratum korneum) berupa kelompok sel-sel bulat, bertunas,
berdinding tebal dan memiliki hifa yang berbatang pendek dan bengkok, biasanya tidak
menyebabkan tanda-tanda patologik selain sisik halus sampai kasar. Bentuk lesi tidak teratur,
berbatas tegas sampai difus dan ukuran lesi dapat milier,lentikuler, numuler sampai plakat.

2. PIEDRA
Merupakan infeksi jamur pada rambut sepanjang corong rambut yang memberikan benjolan-
benjolan di luar permukaan rambut tersebut.
Ada dua macam :
Piedra putih : penyebabnya adalah Piedraia beigeli . biasanya menyerang rambut aksila, genital
dan jenggot.
Piedra hitam : penyebabnya adalah Piedraia horlae. Biasanya menyerang rambut kepala.

3. TINEA NIGRA PALMARIS


Tinea nigra palmaris ialah infeksi jamur superfisialis yang biasanya menyerang kulit telapak
kaki dan tangan dengan memberikan warna hitam sampai coklat pada kulit yang terserang. Makula
yang terjadi tidak menonjol pada permukaan kulit, tidak terasa sakit dan tidak ada tanda-tanda
radang.
Kadang-kadang makula ini dapat meluas sampai ke punggung, kaki dan punggung tangan,
bahkan dapat menyebar sampai dileher, dada dan muka.Gambaran efloresensi ini dapat berupa
polosiklis, arsiner dengan warna hitam atau coklat hampir sama seperti setetes nitras argenti yang
diteteskan pada kulit. Penyebabnya adalah Kladosporium wemeki dan jamur ini banyak
menyerang anak-anak dengan higiene kurang baik dan orang-orang yang banyak berkeringat.

4. FOLIKULITIS MALASSEZIA
Penyakit kronisa p-ada folikel pilosebasea yang disebabkan oleh kamur mallasezia sp. Berupa
papul dan pustule folikular, yang biasanya gaatal dan terutama berlokasi di batang tubuh, leher,
dan lengan bagian atas.
Jamur penyebabnya merupakan flora normal kulit, bersifat lipofilik, serupa dengan penyebab
tinea versicolor. Malasezia tumbuh berlebihan dalam folikel sehingga folikel dapt pecah,
menyebabkan reaksi peradangan terhadap lemak bebas yang dihasilkan lipase jamur.

5. ACNE VULGARIS
Perdangan kronik darai folikel pilosebasea yang disebabkan oleh beberapa faktor dengan
gambarn klinik berupa komedo, papul, pustule, nodul, serta kita. Merupakan penyakit yang dapat
sembuh sendiri. Penyebab yang pasti belum jelas. Beberapa etiologi yang diduga terlibat, berupa
foktor interinsik, yaitu genetic, ras hormonal; dan faktor ekstrerinsik berupa stress,
iklim/suhu/kelembapan, kosmeti, diet dan obat-obatan. Terdapat 4 patogenesis timbulnya AV,
yaitu: 1. produksi sebum yang meningkat, 2. Hiperproloferasi folikel pilosebasea, 3. Kolonisasi
Propionibacterium acnes (PA), 4. Proses inflamasi

DERMATOFITOSIS

Penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk, missal stratum korneum pad epidermis,
rmbut, dan kuku, yang disebabkan golongan jamur dermatofita. dermatofita adalahgolongan jamur
yang mempunyai sifat mencerna kreatin. Dermatofita dibagi 3 genus, yaitu: mikrosporum,
tricopyton, dan epidemopyton. Dermatofita yang menginfeksi mausia dibagi atas tempat hidupnya,
yaitu: geofilik, zoofilik, antropifilik.

Istilah Tinea dipakai untuk semua infeksi oleh dermatofita dengan dibubuhi tempat bagian
tubuh yang terkena infeksi, sehingga diperoleh pembagian dermatofitosis sebagai berikut :

1. Tinea kapitis : bila menyerang kulit kepala dan rambut .


2. Tinea korporis : bila menyerang kulit tubuh yang berambut (globrous skin).
3. Tinea kruris : bila menyerang kulit lipat paha, perineum, sekitar anus
dapat meluas sampai ke daerah gluteus, perut bagian bawah
.
4. Tinea manus dan tinea pedis : Bila menyerang daerah kaki dan tangan, terutama telapak
tangan dan kaki serta sela-selajari.
5. Tinea Unguium : bila menyerang kuku .
6. Tinea Barbae : bila menyerang daerah dagu, jenggot, jambang dan kumis.
7. Tinea Imbrikata : bila menyerang seluruh tubuh dengan memberi gambaran
klinik yang khas.

4. Mampu memahami dan menjelaskan Dermatofitosis


4.1. Definisi
Penyakit yang disebabkan oleh golongan jamur dermatofit disebut " Dermatofitosis ". Golongan
jamur ini dapat mencerna keratin kulit oleh karena mempunyai daya tarik kepada keratin
(keratinofilik) sehingga infeksi jamur ini dapat menyerang lapisanlapisan kulit mulai dari stratum
korneurm sampai dengan stratum basalis.
Dermatofitosis disebabkan jamur golongan dermatofita yang terdiri dari tiga genus yaitu genus:
Mikrosporon, Trikofiton dan Epidermofiton. Dari 41 spesies dermafito yang sudah dikenal hanya
23 spesies yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia dan binatang yang terdiri dari 15
spesies Trikofiton, 7 spesies Mikrosporon dan 1 spesies Epidermafiton.

Secara etiologis dermatofitosis disebabkan oleh tiga genus dan penyakit yang ditimbulkan sesuai
dengan penyebabnya. Diagnosis etiologi ini sangat sukar oleh karena harus menunggu hasil biakan
jamur dan ini memerlukan waktu yang agak lama dan tidak praktis. Disamping itu sering satu
gambaran klinik dapat disebabkan oleh beberapa jenis spesies jamur, dan kadang-kadang satu
gambaran klinis dapat disebabkan oleh beberapa spesies dematofita sesuai dengan lokalisasi tubuh
yang diserang.
4.2. Epidemiologi
Indonesia termasuk wilayah yang baik untuk pertumbuhan jamur, sehingga dapat ditemukan
hampir di semua tempat. Menurut Adiguna MS, insidensi penyakit jamur yang terjadi di berbagai
rumah sakit pendidikan di Indonesia bervariasi antara 2,93%-27,6%. Meskipun angka ini tidak
menggambarkan populasi umum.
Dermatomikosis atau mikosis superfisialis cukup banyak diderita penduduk negara tropis. Di
Indonesia angka yang tepat, berapa sesungguhnya insiden dermatomikosis belum ada. Di
Denpasar, golongan penyakit ini menempati urutan kedua setelah dermatitis. Angka insiden
tersebut diperkirakan kurang lebih sama dengan di kota-kota besar Indonesia lainnya. Di daerah
pedalaman angka ini mungkin akan meningkat dengan variasi penyakit yang berbeda.
Sebuah penelitian retrospektif yang dilakukan pada penderita dermatomikosis yang dirawat di
IRNA Penyakit Kulit Dan Kelamin RSU Dr. Soetomo Surabaya dalam kurun waktu antara 2
Januari 1998 sampai dengan 31 Desember 2002. Dari pengamatan selama 5 tahun didapatkan 19
penderita dermatomikosis. Kasus terbanyak terjadi pada usia antara 15-24 tahun (26,3%),
penderita wanita hampir sebanding dengan laki-laki(10:9). Dermatomikosis terbanyak ialah Tinea
Kapitis, Aktinomisetoma, Tinea Kruris et Korporis, Kandidiasis Oral, dan Kandidiasis
Vulvovaginalis.
Jenis organisme penyebab dermatomikosis yang berhasil dibiakkan pada beberapa rumah sakit
tersebut yakni: T.rubrum, T.mentagrophytes, M.canis, M.gypseum, M.tonsurans, E.floccosum,
Candida albicans, C.parapsilosis, C.guilliermondii, Penicillium, dan Scopulariopsis. Menurut
Rippon tahun 1974 ada 37 spesies dermatofita yang menyebabkan penyakit di dunia.9
Di luar seperti India, berdasarkan penelitian di India yang mengambil sampel sebanyak 121 kasus
(98 pria & 23 perempuan), dermatomikosis menempati urutan pertama untuk kasus penyakit kulit,
103 kasus (70,5%), diikuti candidiasis 30 kasus (20,5%) dan pitiriasis versikolor. Di Amerika
endemik dermatomikosis di daerah Utara dan barat Venezuela, brasil, dan beberapa kasus di
laporkan di Columbia dan argentina. Di Eropa infeksi tinea adalah hal yang umum. Perkiraan
insidensi penyakit ini sekitar 10-20%. Di Eropa dermatomikosis merupakan penyakit kulit yang
menempati urutan kedua. Penyakit ini disebabkan oleh tinea pedis, tinea corporis, tinea cruris, dan
tinea rubrum. Tinea rubrum ditemukan pada 76,2% kasus dermatomikosis melalui pemeriksaan
sampel di Eropa.
4.3. Klasifikasi dan Etiologi dan manifestasi klinis

Tinea kapitis
Adalah infeksi jamur superfisial yang menyerang kulit kepala dan rambut.
Penyebab : golongan dermatofita, terutama T. rubrum, T. mentagrophytes dan M. gypseum.
Lokalisasi : daerah kulit kepala dan rambut.
Efloresensi : bergantung dari jenisnya :
1. Gray patch ring worm : papula-papula miliar sekitr muara rambut, rambut mudah putus
, meninggalkan alopesia yang berwarna coklat.
2. Black dot ring worm : infeksi dalam rambut (endotrik) atau diluar rambut (ektotrik),
rambut putus pada permukaan kulit, meninggalkan macula coklat berbintik hitam, dan
warna rambut sekitarnya menadi suram.
3. Kerion : pada kulit kepala tampak bisul-bisul kecil dengan skuamasi akibat radang local,
rambut putus dan mudah dicabut.
4. Tinea favosa: bitnik-bintik berwarna merah kuning ditutupi oleh krusta berbentuk cawan
(scutula), berbau busuk (mousy odor), rambut diatasnya putus-putus dan mudah dicabut.

Tinea barbae
Bentuk iinfeksi jamur dermatofita pada daerah dagu atau jenggot yang menyerang kulit dan folikel
rambut.
Penyebab: biasanya oleh golongan Trichopyton dan microsporum
Lokalisasi: biasanya pada daerah dagu/jenggot, tapi dapat menyebar ke wajah dan leher.
Efloresensi: rambut daerah yang terkena menjadi rapuh dan tidak mengkilat, tampak reaksi radang
pada folikel berupa kemerahan, edema kadang ada pustula.

Tinea korporis
Penyakit kulit yang disebakan oleh jamur superficial golongan dermatofita, menyerang daerah
kulit yang tak berambut pada wajah, lengan, badan, dan tungkai.
Penyebab: epidermophyton, floccusum, atau T. rubrum.
Lokalisasi: wajah, anggota gerak atas dan bawah, dada, punggung.
Efloresensi: lesi berbentuk macula/ plak yang merah hiperpigmentasi central healing, pada tepi
lesi di jumpai papula-papula eritematosa atau vesikel

Tinea pedis
Infeksi jamur superficial pada pergelangan kaki, telapak kaki, dan sela jari kaki
Penyebab: epidermophyton, trivhophyton, microsporum, dan C.albicani
Lokalisasi: interdigitalis, antara jari-jari 3,4, dan 5 serta telapak kaki.
Efloresensi: fisura pada sisi kaki, sisik halus putih halus kecoklatan, vesikulo miliar, vesikopustulo
miliar, hiperkeratotik pada telapak kaki.

Tinea kruris
Infeksi jamur dermatofita daerah kruris dan sekitarnya
Penyebab: sering oleh E. floccosum, namun bisa juga oleh T. rubrum dan T. mentagrophytes.
Lokalisasi: regio inguinalis bilateral, simetris. Meluas ke perineum dan anus sampe gluteus dapat
pula ke abdomen bagian bawah.

Tinea inguium
Infeksi jamur dermatofita pada kuku jari.
Penyebab: T. mentgrophytes dan T. rubrum.
Lokalisasi: semua kuku jari tangan dan kaki
Efloresensi: kuku menjadi rusak dan rapuh serta suram warnanya, permukaan kuku menebal
dibawah kuku nampak detritus yang mengandung elemen jamur.
4.4. Patofisiologi
Cara penularan jamur dapat secara langsung maupun tidak langsung. Penularan langsung dapat
secara fomitis, epitel, rambut yang mengandung jamur baik dari manusia, binatang, atau tanah.
Penularan tidak langsung dapat melalui tanaman, kayu yang dihinggapi jamur, pakaian debu. Agen
penyebab juga dapat ditularkan melalui kontaminasi dengan pakaian, handuk atau sprei penderita
atau autoinokulasi dari tinea pedis, tinea inguium, dan tinea manum.
Jamur ini menghasilkan keratinase yang mencerna keratin, sehingga dapat memudahkan invasi
ke stratum korneum. Infeksi dimulai dengan kolonisasi hifa atau cabang-cabangnya didalam
jaringan keratin yang mati. Hifa ini menghasilkan enzim keratolitik yang berdifusi ke jaringan
epidermis dan menimbulkan reaksi peradangan. Pertumbuhannya dengan pola radial di stratum
korneum menyebabkan timbulnya lesi kulit dengan batas yang jelas dan meninggi (ringworm).
Reaksi kulit semula berbentuk papula yang berkembang menjadi suatu reaksi peradangan.

Infeksi dermatofita melibatkan tiga langkah utama: perlekatan ke keratinosit, penetrasi melalui
dan diantara sel, dan perkembangan respon host.
1. Perlekatan.
Jamur superfisial harus melewati berbagai rintangan untuk bisa melekat pada jaringan keratin
diantaranya sinar UV, suhu, kelembaban, kompetisi dengan flora normal dan sphingosin yang
diproduksi oleh keratinosit. Asam lemak yang diproduksi oleh glandula sebasea juga bersifat
fungistatik.
2. Penetrasi.
Setelah terjadi perlekatan, spora harus berkembang dan menembus stratum korneum pada
kecepatan yang lebih cepat daripada proses desquamasi. Penetrasi juga dibantu oleh sekresi
proteinase, lipase dan enzim mucinolitik, yang juga menyediakan nutrisi untuk jamur. Trauma
dan maserasi juga membantu penetrasi jamur kejaringan. Fungal mannan didalam dinding sel
dermatofita juga bisa menurunkan kecepatan proliferasi keratinosit. Pertahanan baru muncul
ketika begitu jamur mencapai lapisan terdalam dari epidermis.
3. Perkembangan respons host.
Derajat inflamasi dipengaruhi oleh status imun pasien dan organisme yang terlibat. Reaksi
hipersensitivitas tipe IV, atau Delayed Type Hipersensitivity (DHT) memainkan peran yang
sangat penting dalam melawan dermatofita. Pada pasien yang belum pernah terinfeksi
dermatofita sebelumnya, infeksi primer menyebabkan inflamasi minimal dan trichopitin tes
hasilnya negative.infeksi menghasilkan sedikit eritema dan skuama yang dihasilkan oleh
peningkatan pergantian keratinosit.
Dihipotesakan bahwa antigen dermatofita diproses oleh sel langerhans epidermis dan
dipresentasikan dalam limfosit T di nodus limfe. Limfosit T melakukan proliferasi dan
bermigrasi ketempat yang terinfeksi untuk menyerang jamur. Pada saat ini, lesi tiba-tiba
menjadi inflamasi, dan barier epidermal menjadi permeable terhadap transferin dan sel-sel
yang bermigrasi. Segera jamur hilang dan lesi secara spontan menjadi sembuh

4.5. Diagnosis dan diagnosis banding

 Prinsip:
- Sinar Wood diarahkan ke lesi akan dipantulkan berdasarkan perbedaan
berat molekul metabolit organisme penyebab, sehingga menimbulkan
indeks bias berbeda, dan menghasilkan pendaran warna tertentu.

 Alat : Lampu Wood dan ruangan kedap cahaya

 Cara :
- Kulit dan rambut yang akan diperiksa harus dalam keadaan sealamiah
mungkin.
- Obat topikal, bahan kosmetik, lemak, eksudat harus dibersihkan terlebih
dahulu karena dapat memberikan hasil positif palsu.
- Pemeriksaan harus dilakukan di dalam ruangan kedap cahaya agar
perbedaan warna lebih kontras.
- Jarak lampu Wood dengan lesi yang akan diperiksa ± 10-15 cm
- Lampu Wood diarahkan ke bagian lesi dengan pendaran paling besar/jelas.

 Interpretasi

 Tinea kapitis (M canis, M. audouinii, M.rivalieri, M. distortum, M.


ferrugineum dan M. gypseum) : hijau terang.

 Pitiriasis versikolor : putih kekuningan, orange – tembaga, kuning


keemasan, atau putih kebiruan (metabolit koproporfirin).

 Tinea favosa (Trichophyton schoenleinii ) : biru suram / hijau suram (akibat


metabolit pteridin)

 Eritrasma (Corynebacterium minutissimum) : merah koral (metabolit


porfirin).

 Infeksi pseudomonas : hijau (metabolit pioverdin atau fluoresein).

 Hasil positif palsu :


- salep dan krim di kulit atau eksudat : biru - jingga
- tetrasiklin, asam salisilat dan petrolatum : kuning.
1. Pemeriksaan KOH

 Cara pengambilan spesimen :


a) Kulit tidak berambut :
 Dari bagian tepi kulit yang mengalami lesi dikerok ke bagian tengah
dengan pisau tumpul steril
 Menggunakan larutan KOH 10%
b) Kulit yang berambut :
 Rambut yang ada pada daerah lesi dicabut dengan pinset
 Kulit di daerah lesi dikerok untuk dikumpulkan sisik kulitnya
 Gunakan KOH 20% untuk rambut, KOH 10% untuk kulit.
c) Kuku
 Potongan bagian belakang kuku terinfeksi atau kerokan daerah
hiperkeratotik dan penebalan dasar kuku di bagian proksimal
kutikula atau lipatan kuku proksimal
 Gunakan larutan KOH 40%

 Teknik pemeriksaan preparat KOH :


- Teteskan setetes larutan KOH 10-30 % di atas kaca obyek bersih.
- Tambahkan sejumlah spesimen yang akan diperiksa.
- Tutup dengan kaca penutup.
- Panaskan hati-hati dengan melewatkan di atas api bunsen beberapa kali,
tetapi jangan sampai mendidih (biasanya 2-4 kali).
- Tekan kaca penutup perlahan-lahan agar sediaan yang sudah lisis menipis
dan rata.
- Periksa dibawah mikroskop cahaya menggunakan pembesaran 10 kali lalu
dikonfirmasi dengan pembesaran 40 kali.
- Jika diperlukan (preparat belum jernih), dapat dipanaskan kembali sehingga
visualisasi menjadi lebih baik

 Interpretasi
- Dermatofitosis : hifa panjang bersepta, bercabang-cabang dan artrospora
- Pada spesimen rambut terinfeksi dermatofita :
 Jamur di sekeliling batang rambut (ektotriks)

 Jamur di dalam batang rambut (endotriks)


- Pada pemeriksaan, elemen jamur tampak seperti garis dan memiliki indeks
bias berbeda dengan sekitarnya, pada jarak tertentu dipisahkan oleh sekat
dan dijumpai butir – butir bersambung seperti rantai (artrospora).
- Pitiriasis versikolor : spora bulat berdinding tebal, berkelompok dengan
miselium kasar dan terputus-putus/ pendek-pendek (sphaghetti and
meatballs)
- Kandidosis : tampak sel ragi berbentuk lonjong atau bulat, blastospora (sel
ragi bertunas) dan pseudohifa.
Tinea kruris Tinea Tinea Corporis Tinea Pedis Tinea
Kapitis unguium

Letak Lipatan paha, Kulit dan Kulit tubuh tidak Kaki, terutama Kuku
daerah rambut berambut, bisa pada sela-sela
genitokrural, kepala muncul di seluruh jari dan telapak
sekitar anus, bagian tubuh, namun kaki.
bokong, dan umumnya muncul
kadang-kadang pada lengan dan juga dikenal
sampai perut kaki. dengan
bagian bawah. istilah athlete’s
foot

Faktor  -Banyak •DM -Sirkulasi darah -pemakaian Sama


resiko berkeringat. buruk. sepatu tertutup dengan
•Orang kulit untuk waktu Tinea Pedis
 -Mengidap -Usia masih sangat
hitam yang lama,
penyakit kulit
muda atau sangat
lain. •Anak-anak tua.
 -Kelebihan pre-
berat badan pubertas -Kondisi tempat -bertambahnya
atau obesitas. tinggal lembap, kelembaban
•Pekerja basah, dan penuh karena keringat,
 -Memiliki
sistem salon sesak.
kekebalan
•Daerah -Mengalami obesitas
tubuh yang
padat akut. -pecahnya kulit
lemah.
penduduk -Sering melakukan karena mekanis,
 -Berjenis
kontak fisik dengan dan paparan
kelamin pria, •Saling terhadap jamur
walaupun pakai sisir orang atau hewan
wanita juga yang di gedung olah
mungkin raga atau kolam
terjangkit. -Menjalani renang
kemoterapi atau
 -Memakai
mengonsumsi obat-
celana dalam
yang ketat atau obatan steroid yang -pemakaian kaus
alat bantu bisa melemahkan kaki dengan
atletik yang sistem imunitas. bahan yang
tidak dicuci
tidak dapat
setelah -Menderita penyakit
digunakan. menyerap
yang membuat
keringat
 -Menggunakan sistem imunitas
ruangan loker tubuh melemah.
dan kamar
mandi umum. -Mengidap diabetes -kurangnya
tipe 1. kebersihan
-Pernah terinfeksi
jamur sebelumnya.
-Mengalami
aterosklerosis atau
penyempitan dinding
arteri
Etiologi T.rubrum, Tricopyton Trichophyton epidermophyton T.rubrum
dan rubrum floccosum, (tangan)
T.mentagrophy Microsporu Trichophyton
tes m, kecuali mentagrophytes. T.mentagrophyt T.mentagro
T.Concentri es, T. rubrum, phytes
cum dan T. tonsurans (kaki)
(penyebab
tersering
adalah M.
Canis dan T
tonsurans )

Manife -lesi berbatas -Kerion Gejala biasanya  Interdigital -sublungual


stasi tegas. mulai muncul 10 hari tinea distalis
-Grey patch setelah tubuh pedis, umumnya
ringworm menginfeksi
melakukan kontak
daerah lembut
-Peradangan -Black dot dengan jamur. antara jari-jari -bentuk
pada tepi lebih ringworm kaki. gejala lateralis
nyata daripada -Munculnya ruam berupa gatal,
tengahnya. melingkar kemerahan,
kemerahan atau selalu tampak
-leukonikia
keperakan pada kulit. basah.
 trikofita
-Efloresensi  -Kulit bersisik.  Chronic
terdiri atas hyperkeratotic
 -Terasa gatal dan -subungal
macam-macam tinea pedis,
terjadi peradangan.
merupakan proksimalis
bentuk yang
 -Muncul luka kondisi telapak
primer dan kaki kemerahan
melepuh dan berisi
sekunder nanah di sekitar dengan kerak
(polimorf). ruam. yang kronis -distorfi
pada penderita kuku total
-Pada kasus yang tinea pedis.
cukup parah, ruam dapat merasakan
-Bila penyakit melingkar yang gatal atau tidak
ini menjadi muncul akan berlipat merasakan
menahun, ganda, tumbuh besar gejala sama
dapat berupa dan mungkin sekali.
bercak hitam 
menyatu.
 Acute ulcerative
disertai sedikit
tinea pedis,
sisik. - luka melepuh dan adalah kondisi
bernanah bisa munculnya
muncul di sekitar bintik-bintik
-Erosi dan ruam melingkar. berisi nanah dan
Kulit dengan ruam lepuhan-lepuhan
keluarnya
berisi cairan
cairan melingkat akan

biasanya sedikit terangkat dan Vesiculobullous
akibat garukan. kulit di bawahnya athlete’s foot.
terasa gatal. Gejala yang
ditimbulkan
oleh penyakit ini
adalah kulit
yang melepuh
atau adanya
kantung
berongga (bula)
pada lapisan
kulit yang
memerah di area
telapak kaki.
Diagnosis Banding Tinea Kruris

1. Candidosis intertriginosa

Kandidosis adalah penyakit jamur yang disebabkan oleh spesies Candida biasanya oleh
Candida albicans yang bersifat akut atau subakut dan dapat mengenai mulut, vagina, kulit, kuku,
bronki.Penyakit ini terdapat di seluruh dunia, dapat menyerang semua umur, baik laki-laki maupun
perempuan.

Patogenesisnya dapat terjadi apabila ada predisposisi baik endogen maupun eksogen. Faktor
endogen misalkan kehamilan karena perubahan pH dalam vagina, kegemukan karena banyak
keringat, debilitas, iatrogenik, endokrinopati, penyakit kronis orang tua dan bayi, imunologik
(penyakit genetik). Faktor eksogen berupa iklim panas dan kelembapan, kebersihan kulit kurang,
kebiasaan berendam kaki dalam air yang lama menimbulkan maserasi dan memudahkan masuknya
jamur, kontak dengan penderita.

Dapat mengenai daerah lipatan kulit, terutama ketiak, bagian bawah payudara, bagian pusat,
lipat bokong, selangkangan, dan sela antar jari; dapat juga mengenai daerah belakang telinga,
lipatan kulit perut, dan glans penis (balanopostitis). Pada sela jari tangan biasanya antara jari ketiga
dan keempat, pada sela jari kaki antara jari keempat dan kelima, keluhan gatal yang hebat, kadang-
kadang disertai rasa panas seperti terbakar.

Lesi pada penyakit yang akut mula-mula kecil berupa bercak yang berbatas tegas, bersisik,
basah, dan kemerahan. Kemudian meluas, berupa lenting-lenting yang dapat berisi nanah
berdinding tipis, ukuran 2-4 mm, bercak kemerahan, batas tegas, Pada bagian tepi kadang-kadang
tampak papul dan skuama. Lesi tersebut dikelilingi oleh lenting-lenting atau papul di sekitarnya
berisi nanah yang bila pecah meninggalkan daerah yang luka, dengan pinggir yang kasar dan
berkembang seperti lesi utama. Kulit sela jari tampak merah atau terkelupas, dan terjadi lecet. Pada
bentuk yang kronik, kulit sela jari menebal dan berwarna putih.

2. Erytrasma

Erytrasma adalah penyakit bakteri kronik pada stratum korneum yang disebabkan oleh
Corynebacterium minitussismum, ditandai lesi berupa eritema dan skuama halus terutama di
daerah ketiak dan lipat paha. Gejala klinis lesi berukuran sebesar milier sampai plakat. Lesi
eritroskuamosa, berskuama halus kadang terlihat merah kecoklatan. Variasi ini rupanya
bergantung pada area lesi dan warna kulit penderita. Tempat predileksi kadang di daerah
intertriginosa lain terutama pada penderita gemuk. Perluasan lesi terlihat pada pinggir yang
eritematosa dan serpiginose. Lesi tidak menimbul dan tidak terlihat vesikulasi. Efloresensi yang
sama berupa eritema dan skuama pada seluruh lesi merupakan tanda khas dari eritrasma. Skuama
kering yang halus menutupi lesi dan pada perabaan terasa berlemak. Pada pemeriksaan dengan
lampu wood lesi terlihat berfluoresensi merah membara (coral red) (Rasad, Asri, Prof.Dr. 2005)

3. Psoriasis

Psoriasis adalah penyakit yang penyebabnya autoimun, bersifat kronik dan residif, ditandai
dengan adanya bercak-bercak eritema berbatas tegas dengan skuama yang kasar, berlapis-lapis dan
transparan, disertai fenomena tetesan lilin, Auspitz, dan Kobner. Tempat predileksi pada skalp,
perbatasan daerah tersebut dengan muka, ekstremitas ekstensor terutama siku serta lutut dan
daerah lumbosakral. Kelainan kulit terdiri atas bercak eritema yang meninggi (plak) dengan
skuama diatasnya. Eritema sirkumskrip dan merata, tetapi pada stadium penyembuhan sering
bagian di tengah menghilang dan hanya terdapat di pinggir. Skuama berlapis-lapis, kasar dan
berwarna putih seperti mika, serta transparan. Besar kelainan bervariasi dapat lentikular, numular
atau plakat, dapat berkonfluensi.

4. Dermatitis Seboroik

Dermatitis Seboroik merupakan penyakit inflamasi konis yang mengenai daerah kepala dan
badan. Prevalensi Dermatitis Seboroik sebanyak 1-5% populasi.Lebih sering terjadi pada laki-laki
daripada wanita. Penyakit ni dapat mengenai bayi sampa orang dewasa. Umumnya pda bayi terjadi
pada usia 3 bulan sedang pada dewasa pada usia 30-60 tahun. Kelainan kulit berupa eritema dan
skuama yang berminyak dan agak kekuningan dengan batas kurang tegas. Bentuk yang berat
ditandai dengan adanya bercak-bercak berskuama dan berminyak disertai eksudat dan krusta tebal.

4.6. Tata laksana


Pengobatan oral, yang dipilih untuk dermatofitosis adalah

Infeksi Rekomendasi Alternatif

Tinea unguium Terbinafine 250 mg/hr Itraconazole 200 mg/hr /3-5 bulan atau 400
(Onychomycosis) 6 minggu untuk kuku mg/hr seminggu per bulan selama 3-4 bulan
jari tangan, 12 minggu berturut-turut.
untuk kuku jari kaki Fluconazole 150-300 mg/ mgg s.d sembuh (6-
12 bln) Griseofulvin 500-1000 mg/hr s.d
sembuh (12-18 bulan)

Tinea capitis Griseofulvin Terbinafine 250 mg/hr/4 mgg


500mg/day Itraconazole 100 mg/hr/4mgg
(≥ 10mg/kgBB/hari) Fluconazole 100 mg/hr/4 mgg
sampai sembuh (6-8
minggu)

Tinea corporis Griseofulvin 500 mg/hr Terbinafine 250 mg/hr selama 2-4 minggu
sampai sembuh (4-6 Itraconazole 100 mg/hr selama 15 hr atau
minggu), sering 200mg/hr selama 1 mgg. Fluconazole 150-300
dikombinasikan mg/mggu selama 4 mgg.
dengan imidazol.

Tinea cruris Griseofulvin 500 mg/hr Terbinafine 250 mg/hr selama 2-4 mgg
sampai sembuh (4-6 Itraconazole 100 mg/hr selama 15 hr atau 200
minggu) mg/hr selama 1 mgg. Fluconazole 150-300
mg/hr selama 4 mgg.

Tinea pedis Griseofulvin 500mg/hr Terbinafine 250 mg/hr selama 2-4 mgg
sampai sembuh (4-6 Itraconazole 100 mg/hr selama 15 hr atau
minggu) 200mg/hr selama 1 mgg. Fluconazole 150-300
mg/mgg selama 4 mgg.

Chronic and/or Terbinafine 250 mg/hr Itraconazole 200 mg/hr selama 4-6 mgg.
widespread selama 4-6 minggu Griseofulvin 500-1000 mg/hr sampai sembuh
non-responsive (3-6 bulan).
tinea.

Tabel 2.3 Pilihan terapi oral untuk infeksi jamur pada kulit
Pada pengobatan kerion stadium dini diberikan kortikosteroid sistemik sebagai
antiinflamasi, yakni prednisone 3x5 mg atau prednisolone 3x4 mg sehari selama dua minggu,
bersamaaan dengan pemberian grisiofulvine yang diberikan berlanjut 2 minggu setelah lesi hilang.
Terbinafine juga diberikan sebagai pengganti griseofulvine selama 2-3 minggu dosis 62,5-250 mg
sehari tergantung berat badan.
Efek samping griseofulvine jarang dijumpai, yang merupakan keluhan utama ialah sefalgia
yang didapati pada 15% penderita. Efek samping lain berupa gangguan traktus digestifus yaitu:
nausea, vomitus, dan diare. Obat tersebut bersifat fotosensitif dan dapat mengganggu fungsi hepar.
Efek samping terbinafine ditemukan kira-kira 10% penderita, yang tersering gangguan
gastrointestinal diantaranya nausea, vomitus, nyeri lambung, diarea, konstipasi, umumnya ringan.
Efek samping lain berupa ganguan pengecapan, persentasinya kecil. Rasa pengecapan hilang
sebagian atau keseluruhan setelah beberapa minggu minum obat dan hanya bersifat sementara.
Sefalgia ringan dilaporrkan pula 3,3%-7% kasus.
Pada kasus resisten terhadap griseofulvin dapat diberikan ketokonazol sebagai terapi
sistemik 200 mg per hari selam 10 hari sampai 2 minggu pada pagi hari setelah makan.
Ketokonazol kontraindikasi untuk kelainan hepar.
Pengobatan topical yang diberikan adalah :
a. Obat antifungal Topikal
 Imidazol:
o Miconazol : 1-2x /hari, selama 2-3 minggu
Sediaan : krim 2%, bedak kocok ataupun bedak
o Klotrimazol : 2x /hari, selama 4 minggu
Sediaan: krim 1%, solusio, atau bedak kocok
o Ketokonazol : 2-4x /hari, selama 2-4 minggu
Sediaan: krim 1%
 Allilamin
o Nafritin : 4x /hari selama 4 minggu
Sediaan : krim, gel, atau solusio 1%
o Terbinatin : 4x /hari selama 1-4 minggu
Catatan :
1.Obat topikal kurang efektif digunakan pada tinea capitis & cruris
2.Untuk tinea capitis
Rehabilitasi : shampoo Selenium  menurunkan penyebaran spora dan hifa

4.7. Prognosis
Prognosis Tinea kruris akan baik, asalkan kelembaban dan kebersihan kulit selalu dijaga
(Siregar, 2004).

Perkembangan penyakit dermatofitosis dipengaruhi oleh bentuk klinik dan penyebab


penyakitnya disamping faktor-faktor yang memperberat atau memperingan penyakit. Apabila
faktor-faktor yang memperberat penyakit dapat dihilangkan, umumnya penyakit ini dapat
hilang sempurna.

4.8. Komplikasi
Pada penderita Tinea kruris dapat terjadi komplikasi infeksi sekunder oleh organisme candida
atau bakteri. Pemberian obat steroid topikal dapat mengakibatkan eksaserbasi jamur sehingga
menyebabkan penyakit menyebar (Wiederkehr, 2012).

4.9. Pencegahan

Tinea capitis

 Jaga kebersihan diri, terutama terhadap lembab


 Jaga imun tubuh dengan konsumsi makanan bergizi dan hidup sehat
 Hindari kontak dengan pernderita/hewan piaraan.
Tinea Cruris

 Menjaga berat badan ideal


 Mengeringkan badan setelah mandi
 Hindari memakai pakaian yang terlalu ketat
 Bedak antijamur untuk mengurangi resiko berulang
Tinea Manus

 Menjaga kebersihan tangan dan kaki dengan sering mencucinya


 Menjaga kaki agar tetap kering, dan tidak lembab

5. Mampu memahami dan menjelaskan menajaga kulit menurut pandangan Islam dan menutup
aurat

Menjaga kulit dari sinar Matahari – Matahari memiliki peran utama dalam merusak kulit.
Anda perlu melindungi kulit dari matahari guna mencegah penuaan pada kulit. Matahari sangat
berpengaruh dalam membuat kulit berkerut, kering, dan membuat warna kulit berubah;
Penjarangan kulit, tekstur kulit, penipisan kulit serta penyakit kulit yang berhubungan dengan
paparan sinar matahari.

Perintah menutup aurat


Aurat diambil dari perkataan Arab 'Aurah' yang berarti keaiban. Manakala dalam istilah
fiiah aurat diartikan sebagai bagian tubuh badan seseorang yang wajib ditutup atau dilindungi dari
pandangan.
Perintah menutup aurat telah difirmankan oleh Allah s.w.t dalam surah al-ahzab ayat 33
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti
orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta'atilah Allah dan
Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu dan
membersihkan kamu sebersih-bersihnya”.

Manfaat menutup aurat:


1. Selamat dari adzab Allah (adzab neraka)
“Ada dua macam penghuni Neraka yang tak pernah kulihat sebelumnya; sekelompok laki-laki
yang memegang cemeti laksana ekor sapi, mereka mencambuk manusia dengannya. Dan wanita-
wanita yang berpakaian namun telanjang, sesat dan menyesatkan, yang dikepala mereka ada
sesuatu mirip punuk unta. Mereka (wanita-wanita seperti ini) tidak akan masuk surga dan tidak
akan mencium baunya. Sedangkan bau surga itu tercium dari jarak yang jauh” (HR. Muslim).
Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “Wanita-wanita yang
berpakaian namun telanjang” ialah mereka yang menutup sebagian tubuhnya dan menampakkan
sebagian lainnya dengan maksud menunjukkan kecantikannya.
2. Terhindar dari pelecehan

Banyaknya pelecehan seksual terhadap kaum wanita adalah akibat tingkah laku mereka
sendiri. Karena wanita merupakan fitnah (godaan) terbesar. Sebagaiman sabda Nabi
Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam,
“Sepeninggalku tak ada fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada wanita.” (HR.
Bukhari)

Islam telah menggariskan batasan aurat pada lelaki dan wanita.Aurat asas pada lelaki
adalah menutup antara pusat dan lutut. Manakala aurat wanita pula adalah menutup seluruh badan
kecuali muka dan tapak tangan.

1. Aurat Ketika Sembahyang


Aurat wanita ketika sembahyang adalah menutup seluruh badan kecuali muka dan tapak tangan.

2. Aurat Ketika Sendirian


Aurat wanita ketika mereka bersendirian adalah bahagian anggota pusat dan lutut. Ini bererti
bahagian tubuh yang tidak boleh dilihat antara pusat dan lutut.

3. Aurat Ketika Bersama Mahram


Pada asasnya aurat seseorang wanita dengan mahramnya adalah antara pusat dan lutut. Walau pun
begitu wanita dituntut agar menutup mana-mana bahagian tubuh badan yang boleh menaikkan
syahwat lelaki walaupun mahram sendiri.
Perkara ini dilakukan bagi menjaga adab dan tatsusila wanita terutana dalam menjaga kehormatan
agar perkara-perkara sumbang yang tidak diingini tidak akan berlaku.

Syarak telah menggariskan golongan yang dianggap sebagai mahram kepada seseorang wanita
yaitu :
1.Suami
2.Ayah mertua
3.Anak-anak lelaki termasuk cucu sama ada dari anak lelaki atau perempuan
4. Saudara lelaki kandung atau seibu atau sebapak
5. Anak saudara lelaki karena mereka ini tidak boleh dinikahi selama-lamanya
6. Anak saudara dari saudara perempuan
7. Sesama wanita sama ada kaitan keturunan atau seagama
8. Hamba sahaya
9. Pelayan yang tidak ada nafsu syahwat
10. Anak-anak kecil yang belum mempunyai syahwat terhadap wanita. Walau pun begitu, bagi
kanak-kanak yang telah mempunyai syahwat tetapi belum baligh,wanita dilarang menampakkan
aurat terhadap mereka.

Berwudhu
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang
menyucikan/membersihkan diri”. (Al-Baqarah : 222)
Ajaran kebersihan dalam Agama Islam berpangkal atau merupakan konsekusensi dari pada
iman kepada Allah, berupaya menjadikan dirinya suci/bersih supaya Ia berpeluang mendekat
kepada Allah SWT.
Kebersihan itu bersumber dari iman dan merupakan bagian dari iman. Dengan demikian
kebersihan dalam Islam mempunyai aspek ibadah dan aspek moral, dan karena itu sering juga
dipakai kata “bersuci” sebagai padanan kata “membersihkan/melakukan kebersihan”.

Ajaran kebersihan tidak hanya merupakan slogan atau teori belaka, tetapi harus dijadikan
pola hidup praktis, yang mendidik manusia hidup bersih sepanjang masa, bahkan dikembangkan
dalam hukum Islam. Dalam rangka inilah dikenal sarana-sarana kebersihan yang termasuk
kelompok ibadah, seperti : wudhlu, tayamum, mandi (ghusl), pembersihan gigi (siwak).
Adanya kewajiban shalat 5 waktu sehari merupakan jaminan terpeliharanya kebersihan badan
secara terbatas dan minimal, karena ibadah shalat itu baru sah kalau orang terlebih dahulu
membersihkan diri dengan berwudhlu. Demikian juga ibadah tersebut baru sah jika pakaian
dan tempat dimana kita melakukannya memang bersih. Jadi jaminan kebersihan diri, pakaian
dan lingkungan mereka yang melaksanakannya. Disinilah letaknya ibadah itu ikut berperan
membina kesehatan jasmani selain tentunya peran utamanya membina kesehatan jiwa/rohani
manusia.
DAFTAR PUSTAKA

1. Siregar, R.S,Sp.KK. 2002. Penyakit Jamur Kulit Edisi 2. Jakarta: Buku Kedokteran EGC
2. Budimulja, Unandar. 2010. Mikosis (Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Ed.7 p.89-105). Jakarta:
Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
3. Bennet, J.E.: Antumicrobial agents; in: Goodman & Gilman’s. Brunton, L.L: Lazo, J.S. and
Parker, K.L: The Pharmacological Basis of Therapeutics; 11th ed.pp. 1232 (McGraw-Hill,
Medical Publishing Division, New York 2006)
4. Nasution MA, Muis Kamaliah, Juwono, dkk. Diagnosis dan penatalaksanaan dermatofitosis.
Cermin Dunia Kedokteran, edisi khusus 1992, 80:116-118