Anda di halaman 1dari 25

perbandingan hukum FH-UP

PERTEMUAN KE 14

PERBEDAAN DAN PERSAMAAN KONTRAK


POKOK BAHASAN (PERJANJIAN) ANTARA SISTEM HUKUM
AMERIKA, INGGRIS, RUSIA DAN INDONESIA.

1. Pengertian dan klasifikasi kontrak (perjanjian)


menurut hukum Indonesia
SUB POKOK BAHASAN 2. Perbedaan dan persamaan kontrak (perjanjian)
antara sistem hukum Amerika, Inggris, Rusia dan
Indonesia.

Setelah mengikuti perkuliahan ini diharapkan


mahasiswa mampu :
TUJUAN PEMBELAJARAN 1. Memahami Hukum Pidana Indonesia (KUHP)
dan beberapa negara.
2. Menjelaskan KUHP Indonesia dengan RRC
dan Belanda.
perbandingan hukum FH-UP

PERBEDAAN DAN PERSAMAAN KONTRAK (PERJANJIAN) ANTARA


SISTEM HUKUM AMERIKA, INGGRIS, RUSIA DAN INDONESIA
PERTEMUAN KE 14

A. Pengertian dan klasifikasi kontrak (perjanjian) menurut hukum Indonesia

1. Pengertian Kontrak (Perjanjian)


Istilah yang lazim untuk menyebut kontrak di dalam hukum perdata di
Indonesia, khususnya dalam KUH Perdata yakni “perjanjian”. Pengertian
perjanjian ini ada dalam pasal 1313 KUH Perdata yang menyebutkan bahwa
perjanjian adalah: “Suatu perbuatan yang manasatu pihak atau lebih
mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih.”

Definisi tentang perjanjian sebagaimana dalam pasal 1313 KUH


Perdata tersebut, oleh beberapa ahli dipandang terdapat beberapa kelemahan,
diantaranya adalah:
1) definisi tersebut tidak jelas, karena setiap perbuatan dapat disebut
sebagai perjanjian;
2) tidak tampak asas konsensualisme; dan
3) bersifat dualisme.

Dengan keadaan yang demikian, agar didapat suatu kejelasan maka


penting untuk dicari dalam doktrin yang terkait dengan hal ini. van Dunne
mengemukakan bahwa perjanjian adalah : “ suatu hubungan hukum antara
dua pihak atau lebih berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat
hukum.”
Lebih lanjut dalam teorinya, van Dunne mengemukakan perihal adanya tiga
tahap mengenai proses suatu perjanjian, yaitu:
1) tahap pre contractual, yaitu adanya suatu penawaran dan penerimaan;
2) tahap contractual, yaitu terjadinya pernyataan persesuaian kehendak di
antara para pihak; dan
3) tahap post contractual, adalah tahap pelaksanaan perjanjian.
perbandingan hukum FH-UP

2. Sumber-sumber hukum kontrak.


Dalam melakukan pengkajian perbandingan hukum perdata,
keberadaan sumber hukum mempunyai kedudukan yang sangat penting
karena darinya dapat diketahui dari mana suatu hukum ditemukan dan
bagaimana dirumuskan. Pada dasarnya sumber hukum dibedakan menjadi
dua macam, yakni:
a. sumber hukum materiil,
yaitu terkait dengan dimana materi dari hukum itu didapatkan atau
diambil. Sumber hukum materiil ini merupakan elemen yang membantu
pembentukan hukum, misalkan: hubungan sosial, tradisi, keadaan sosial
dan ekonomi masyarakat, keadaan geografis, kondisi demografis,
perkembangan internasional, teknologi, hasil penelitian, dan sebagainya.

b. sumber hukum formil,


adalah merupakan tempat memperoleh kekuatan hukum. Dalam hal ini
berkaitan dengan bentuk ataupun cara bagaimana suatu ketentuan-
ketentuan hukum itu berlaku Yang diakui umum sebagai hukum formil
adalah: 1) undang-undang; 2) traktat; 3) yurisprudensi; 4) kebiasaan; dan
5) doktrin.
Sumber hukum formil tersebut di atas juga merupakan sumber hukum
kontrak.

Sumber hukum kontrak yang berupa undang-undang merupakan


sumber hukum yang berasal dari perundang-undangan yang dibuat oleh
Pemerintah dengan persetujuan DPR, yakni antara lain:
1. Algemene Bepalingen van Wetgeving (AB),
AB merupakan peraturan umum mengenai perundang-undangan untuk
Indonesia, yang diatur dalam Staatsblad (Stb) tahun 1847 nomor 23, dan
diumumkan secara resmi pada tanggal 30 April 1847.
2. KUH Perdata (Burgelijk Wetboek)
KUH Perdata merupakan ketentuan-ketentuan hukum yang merupakan
produk pemerintah Hindi Belanda, yang diundangkan dengan Maklumat
tanggal 30 April 1837, Stb. 1837 nomor 23, sedangkan di Indonesia
diumumkan dalam Stb. 1848. KUH Perdata ini diberlakukan di Indonesia
perbandingan hukum FH-UP

berdasarkan atas asas konkordansi. Pada awal berlakunya, KUH Perdata


hanya diberlakukan bagi orang-orang Eropa, dan yang dipersamakan
dengan mereka (golongan Timur Asing dan Tionghoa). Di dalam KUH
Perdata hukum kontrak diatur dalam Buku III, yang mengatur mengenai
perikatan.
3. KUH Dagang (Wetboek van Koophandel)
KUHD lahir bersama KUH Perdata yaitu tahun 1837 di Negara Belanda,
berdasarkan asas konkordansi juga diberlakukan di Hindia Belanda pada
tahun 1848. Setelah Indonesia merdeka berdasarkan ketentuan pasal II
Aturan Peralihan UUD 1945 kedua kitab tersebut berlaku di Indonesia.
KUHD terdiri atas 2 buku, buku I berjudul perdagangan pada umumnya
dan buku II berjudul Hak dan Kewajiban yang timbul karena
perhubungan kapal. KUHD ini merupakan lex specialis dari KUH
Perdata.
4. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.
5. Undang-Undang No. 24 Tahun 2000 tentang Jasa Konstruksi.
6. Undang-Undang No. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional.
Traktat adalah perjanjian yang dibuat antara dua negara atau lebih
dalam bidang keperdataan, khususnya kontrak. Ini terutama erat kaitannya
dengan perjanjian Internasional.

3. Klasifikasi Kontrak.
Perihal klasifikasi kontrak ini telah diatur di dalam ketentuan Buku III KUH
Perdata, yang dimulai dari Bab 5 sampai dengan Bab 18. Jumlah pasal yang
mengatur tentang kontrak nominaat (benoemd oveerenkomst = kontrak yang
dikenal di dalam KUH Perdata) ini sebanyak 394 pasal. Di dalam KUH
Perdata, terdapat lima belas jenis kontrak, antara lain:
1. jual beli;
2. tukar menukar;
3. sewa-menyewa;
4. perjanjian melakukan pekerjaan;
5. persekutuan perdata;
6. badan hukum;
perbandingan hukum FH-UP

7. hibah;
8. pemitipan barang;
9. pinjam pakai;
10. pinjam-meminjam;
11. pemberian kkuasa;
12. bunga tetap atau abadi;
13. perjanjian untung-untungan;
14. penanggungan utang;
15. perdamaian.
4. Syarat Sahnya Kontrak.
Mengenai apa yang menjadi syarat sahnya suatu kontrak diatur di
dalam pasal 1320 KUH Perdata. Di dalam pasal ini menentukan empat
syarat sahnya perjanjian, yaitu: 1) adanya kesepakatan kedu belah pihak; 2)
kecakapan untuk melakukan perbuatan hukum; 3) adanya hal tertentu; dan
4) adanya causa yang halal.
Keempat syarat tersebut, penjelasan singkatnya, sebagai berikut:
1) Adanya kesepakatan kedua belah pihak.
Syarat pertama sahnya kontrak adalah adanya kesepakatan atau
consensus dari para pihak. Perihal kesepakatan ini diatur dalam pasal
1320 ayat (1) KUH Perdata. Kesepakatan adalah merupakan persesuaian
pernyataan kehendak antara satu orang atau lebih dengan pihak lainnya.
Yang dimaksud persesuaian adalahmengenai pernyataannya bukan
kehendaknya, karena kehendak ini tidak dapat dilihat atau diketahui olej
orang lain.
2) Kecakapan untuk melakukan perbuatan hukum.
Kecakapan bertindak adalah merup[akan kemampuan untuk melakukan
perbuatan hukum. Perbuatan hukum adalah perbuatan yang akan
menimbulkan akibat hukum. Terhadap orang-orang yang akan
mengadakan perjanjian haruslah orang-orang yang cakap dan wenang
untuk melakukan perbuatan hukum sebagaimana telah ditentukan oleh
Undang-undang. Orang yang cakap/wenang melakukan perbuatan hukum
adalah orang yang sudah dewasa. Standar kedewasaan menurut KUH
Perdata adalah telah berusia 21 tahun da/atau sudah pernah kawin.Dan
orang yang termasuk tidak berwenang dalam melakukan perbuatan
perbandingan hukum FH-UP

hukum adalah: 1) anak dibawah umur (minderjarigheid); 2) orang yang


ditaruh di bawah pengampuan; dan 3) istri (dalam perkembangannya,
istri dapat melakukan perbuatan hukum sebagaimana diatur dalam pasal
31 UU No, 1 tahun 1974 jo SEMA No. 3 tahun 1963).

3) Hal tertentu.
Yang dimaksudkan sebagai hal tertentu dalam perjanjian adalah sesuatu
yang menjadi objek perjanjian (het onderwerp der overeenskomst). Jika
undang-undang berbicara tentang objek perjanjian kadang yang
dimaksudkan adalah “pokok perikatan” yaitu prestasi berupa
memberikan sesuatu, berbuat sesuatu dan tidak berbuat sesuatu. Prestasi
merupakan apa yang menjadi kewajiban debitur dan apa yang menjadi
hak kreditur, kedua hal ini timbul dari perjanjian.
Menurut tradisi, untuk sahnya perjanjian, maka objek perjanjian haruslah:
a) dapat ditentukan;
b) dapat diperdagangkan;
c) memungkinkan untuk dilakukan; dan
d) dapat dinilai dengan uang.

4) Adanya causa yang halal.


Dalam pasal 1320 KUH Perdata tidak menjelaskan pengertian yang jelas
mengenai causa yang halal (orzaak) ini. Bahkan di dalam pasal 1337
KUH Perdata hanya disebutkan causa yang terlarang. Suatu sebab adalah
terlarang apabila bertentangan dengan UU, kesusilaan dan ketertiban
umum. Boge Raad sejak tahun 1927 mengartikan orzaak sebagai sesuatu
yang menjadi tujuan para pihak dalam melakukan perjanjian.
Contohnya : A menjual mobil kepada B. Tetapi mobil yang dijual oleh A
tersebut adalah hasil curian. Jual beli yang seperti ini, dapat
dikatagorikan sebagai jual beli yang tidak mencapai tujuan dari B.
Karena B menginginkan mobil yang dibelinya itu mobil yang sah.

Syarat sahnya perjanjian di atas, sayarat pertama dan kedua disebut


sebagai syarat subyektif, karena menyangkut hal-hal yang berkenaan dengan
perbandingan hukum FH-UP

pihak-pihak yang mengadakan perjanjian. Sedangkan syarat ketiga dan


keempat disebut sebagai syarat objektif, karena menyangkut objek perjanjian.
Apabila dalam suatu perjanjian ternyata tidak memenuhi syarat
subyektif maka perjanjian itu dapat dibatalkan. Artinya, salah satu pihak dapat
mengajukan kmembatalkan perjanjian yang telah disepakati sebelumnya.
Tetapi apabila para pihak tidak ada yang keberatan dengan tidak terpenuhinya
sayarat tersebut, maka perjanjian itu tetap dianggap sah. Dan jika syarat yang
ketiga dan keempat tidak terpenuhi, maka perjanjian itu batal demi hukum.
Artinya, perjanjian tersebut dari awal dianggap tidak pernah ada.

5. Somasi.
Yang dimaksud dengan somasi adalah suatu teguran dari pihak yang
berpiutanng (kreditur) kepada si berutang (debitur) agar dapat memenuhi
prestasi sebagaimana telah ditentukan di dalam perjanjian yang telah mereka
sepakati. Perihal somasi ini diatur dalam Pasal 1238 dan Pasal1243 KUH
Perdata.
Somasi dapat timbul disebabkan debitur tidak memenuhi prestasinya sesuai
dengan ketentuan yang diperjanjikan. Terdapat tiga cara terjadinya somasi
ini, yaitu:
1) debitur melaksanakan prestasi yang keliru, misalnya kreditur menerima
sekeranjang manga, yang seharusnya sekeranjang apel;
2) debitur “tidak memenuhi prestasi” pada hari yang telah dijanjikan. Tidak
memenuhi prestasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
keterlambatan melaksanakan prestasi dan sama sekali tidak memberikan
prestasi. Penyebab tidak melaksanakan prestasi ni dapat dikarenakan
prestasi itu tidak mungkin dilaksanakan atau karena debitur terang-
terangan menolak melaksanakan prestasi;
3) prestasi yang dilaksanakan oleh debitur tidak lagi berguna bagi kreditur
setelah lewat waktu yang diperjanjikan.

Ajaran mengenai somasi ini merupakan suatu instrument hukum guna


untuk mendorong debitur untuk memenuhi prestasinya. Apabila suatu
prestasi sudah tentu tidak dapat dilaksanakan, maka sudah barang tentu tidak
dapat mengharapkan prestasi.
perbandingan hukum FH-UP

Bentuk somasi yang harus disampaikan kreditur kepada debitur adalah


dalam bentuk surat perintah atau sebuah akta yang sejenis. Yang berwenang
mengeluarkan surat perintah itu adalah kreditur atau pejabat yang berwenang
untuk itu, antara lain: Juru sita, badan Urusan Piutang Negara, dan lain-lain.

6. Wanprestasi.
Wanprestasi adalah tidak memenuhi atau lalai melaksanakan
kewajiban sebagaimana yang ditentukan dalam perjanjian yang dibuat antara
kreditur dengan debitur. Wanprestasi ini mempunyai hubungan yang erat
dengan somasi sebab seorang debitur baru dapat dikatakan wanprestasi
apabila dia telah diberikan somasi oleh kreditur atau juru sita. Apabila
somasi itu tidak diindahkannya, maka kreditur berhak membawa
persoalannya ke pengadilan. Dan pengadilanlah yang memutuskan, apakah
debitur wanprestasi atau tidak.
Wanprestasi dapat menimbulkan empat akibat, antara lain:
1) Perikatan tetap ada,
Kreditur masid dapat menuntut debitur terhadap pelaksanaan prestasi,
apabila debitur terlambat memenuhi prestasi. Di samping itu, kreditur
berhak untuk menuntut ganti rugi akibat keterlambatan melaksanakan
prestasinya. Hal ini disebabkan kreditur akan memperolej keuntungan
apabila debitur melaksanakan prestasi itu tepat pada waktunya.
2) Debitur harus membayar ganti rugi kepada kreditur (pasal 1243 KUH
Perdata);
3) Beban resiko beralih untuk kerugian debitur, jika halangan itu timbul
setelah debitur wanprestasi, kecuali apabila ada kesengajaan atau
kesalahan besar dari pihak kreditur. Oleh karena itu tidak dibenarkan
bagi debitur untuk berpegang pada keadaan memaksa;
4) Jika perikatan lahir karena perjanjian timbal balik, kreditur dapat
membebaskan diri dari kewajiban memberikan kontra prestasi dengan
menggunakan pasal 1266 KUH Perdata.

Kreditur dapat juga menuntut kepada debitur yang telah melakukan


wanprestasi, terhadap hal-hal berikut:
1) Kreditur dapat meminta pemenuhan prestasi saja.
perbandingan hukum FH-UP

2) Kreditur dapat menuntur prestasi disertai ganti rugi kepada debitur (1267
KUHPerdata).
3) Kreditur dadat menuntut dan meminta ganti rugi, hanya mungkin
kerugian karena keterlambatan (H.R. 1 November 1918)
4) Kreditur dapat menuntut pembatalan perjanjian.
5) 6 Kreditir dapat menuntut pembatalan disertai ganti rugi kepada debitur.
Ganti rugi itu berupa pembayaran uang denda.

7. Ganti Rugi.
Timbulnya ganti rugi dapat disebabkan oleh dua hal,yaitu ganti rugi
yang disebabkan oleh wanprestasi dan ganti rugi yang disebabkan oleh
perbuatan melawan hukum. Ganti rugi karena wanprestasi diatur dalam
Buku III KUH Perdata, yang dimulai dari pasal 1243 sampai dengan pasal
1252. Sedangkan ganti rugi yang disebabkan oleh perbuatan melawan
hukum adalah suatu bentuk ganti rugi yang dibebankan kepada seseorang
yang oleh karena kesalahannya telah menimbulkan kerugian pada orang lain
(onrechtmatigedaad - pasal 1365 KUH Perdata). Ganti rugi ini timbul
karena adanya kesalahan dari seseorang, bukan karena wanprestasi.
Ganti rugai yang disebabkan wanprestasi adalah bentuk ganti rugi
yang dibebankan kepada debitur yang tidak memenuhi ketentuan dari
perjanjian yang telah dibuatnya dengan kreditur. Misalnya, A berjanji akan
mengirimkan beras kepada B pada tanggal 29 Februari 1988. Tetapi pada
tanggal yang telah ditentukan tersebut A belum juga mengirimkan beras itu
kepada B, maka B harus memberikan peringatan (somasi) kepada A,
minimal tiga kali.
Apabila somasi itu telah dilakukan, maka barulah B dapat menuntut
kepada A untuk membayar ganti kerugian. Jadi momentum timbulnya ganti
rugi itu adalah saat telah dilakukan somasi. (H. Salim HS., 2014 : 261)
Ganti kerugian yang dapat dituntut oleh kreditur kepada debitur
adalah:
1) kerugian yang telah dideritanya, yaitu berupa penggantian biaya-biaya
dan kerugian; dan
2) keuntungan yang sedianya akan diperoleh, ini biasanya ditujukan kepada
bung-bunga.
perbandingan hukum FH-UP

8. Keadaan Memaksa (overmacht).


Ketentuan mengenai overmacht atau keadaan memaksa dapat dilihat
pada pasal 1244 KUH Perdata dan pasal 1245 KUH Perdata.
Ketentuan-ketentuan di dalam kedua pasal tersebut memberikan kelonggaran
kepada debitur terkait dengan ganti rugi yang tidak dapat dibebankan kepada
debitur, yaitu :
1) Apabila tidak dapatnya atau tidak tepatnya waktu dalam melaksanakan
perikatan (prestasi) itu disebabkan oleh “suatu hal yang tak terduga” yang
tak dapat dipertanggung jawabkan kepadanya. (pasal 1244 KUH
Perdata).
2) Apabila karena keadaan memaksa atau karena kejadian yang tak
disengaja, sehingga debitur terhalang untuk melakukan sesuatu yang
diwajibkan, atau melakukan perbuatan yang terlarang olehnya. (pasal
1245 KUH Perdata).

Terdapat tiga hal yang menyebabkan debitur untuk tidak melakukan


penggantian biaya, kerugian dan bunga, yaitu: 1) adanya suatu hal yang tak
terduga sebelumnya; 2) adanya kejadian yang tak disengaja; dan 3) keadaan
memaksa.
Keadaan memaksa adalah suatu keadaan di mana debitur tidak dapat
melaksanakan prestasinya kepada kreditur, yang disebabkan karena adanya
suatu kejadian yang berada di luar kekuasaan debitur. Misalkan, karena
adanya gempa bumi, banjir, dan sebagainya.

9. Risiko.
Perihal risiko ini didasarkan pada suatu ajaran di dalam teori hukum
yang disebut “resicoleer” (ajaran tentang resiko). Resicoleer adalah suatu
ajaran, di mana seseorang berkewajiban untuk memikul keruigian, jikalau
ada sesuatu kejadian diluar kesalahan salah satu pihak yang menimpa benda
yang menjadi objek perjanjian. Ajaran ini timbul apabila terdapat keadaan
memaksa (overmacht). Resicoller dapat diterapkan pada perjanjian sepihak
ataupun perjanjian timbal balik.
perbandingan hukum FH-UP

Perjanjian sepihak adalah suatu perjanjian, di mana salah satu pihak


aktif melakukan prestasi sedangkan pihak lainnya pasif. Misalkan, A
memberika sebidang tanah kepada B, yang rencananya akan diserahkan pada
tanggal 29 Februari 1984, tetapi pada tanggal 10 Februari 1984 tanah
tersebut musnah. Maka timbul pertanyaan, siapakah yang menanggung
risiko? Yang menanggung risiko musnahnya tanah tersebut adalah B
(penerima pemberian tanah) (pasal 1237 KUH Perdata).
Perjanjian timbal-balik adalah suatu perjanjian di mana kedua belah
pihak mempunyai kewajiban melakukan prestasi, sesuai dengan kesepakatan
yang dibuat antara keduanya. Yang termasuk perjanjian timbal balik antara
lain: jual beli, sewa menyewa, tukar menukar, dan sebagainya. Contohnya,
A telah membeli sebuah rumah beserta tanahnya pada B. Rumah itu dibeli
pada tanggal 20 Desember 1986. Namun, kunci rumah tersebut oleh B
belum diserahkan kepada A. Kemudian pada tanggal 10 Januari 1987 terjadi
gempa bumi yang memusnahkan rumah tersebut. Lantas dipertanyakan
siapakah yang menanggung risiko musnahnya rumas tersebut?
Menurut Pasal 1460 KUH Perdata, yang menanggung risiko atas musnahnya
rumah tersebut adalah pembeli (A), walaupun rumah tersebut belum
diserahkan dan atau dibayar lunas. Sehingga B berhak menagih sisa
pembayaran yang belum dilunasi oleh A.
Namun pada tahun 1963, Pasal 1460 KUH Perdata tersebut telah dicabut
berdasarkan SEMA no. 3 Tahun 1963. Sehingga ketentuan ini tidak dapat
diterapkan secara tegas. Adapun penerapannya harus memperhatikan
beberapa hal, yaitu:
1) bergantung pada letak dan tempat beradanya barang itu; dan
2) bergantung pada orang yang melakukan kesalahan atas musnahnya
barang tersebut.

Di dalam perjanjian tukar-menukar, risiko tentang musnahnya barang


di luar kesalahan pemilik, maka perjanjian dianggap gugur, dan pihak yang
telah memenuhi perjanjian dapat menuntut pengembalian barang yang telah
dia berikan dalam tukar menukar tersebut (Pasal 1545 KUH Perdata).
perbandingan hukum FH-UP

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalam perjanjian jual beli,


risiko atas musnahnya barang menjadi tanggung jawab pembeli, sedangkan
dalam perjanjian tukar menukar, perjanjian menjadi gugur.

10. Berakhirnya Kontrak.


Berakhirnya kontrak merupakan selesainya atau hapusnya sebuah kontrak
yang dibuat antara dua pihak, yaitu kreditur dan debitur tentang sesuatu hal.
Sesuatu halk di sini bisa berarti segala perbuatan hukum yang dilakukan oleh
kedua belah pihak, bisa jual beli, utang piutang, sewa menyewa, dan lain-
lain.
Di dalam KUH Perdata, telah ditentukan cara-cara berakhirnya
hapusnya perikatan. Hapusnya atau berakhirnya perikatan dapat terjadi
karena sepuluh cara, antara lain:
1) pembayaran;
2) penawaran pembayaran tunai diikuti dengan penyimpanan atau
penitipan (konsignasi);
3) pembauran utang (novasi);
4) perjumpaan utang (kompensasi);
5) percampuran utang (konfusio);
6) pembebasan utang;
7) musnahnya barang terutang;
8) kebatalan atau pembatalan;
9) berlakunya syarat batal; dan
10) daluarsa.
Kesepuluh cara berakhirnya perikatan tersebut tidak disebutkan mana
yang berakhirnya perikatan karena perjanjian dan perikatan karena undang-
undang. Sehingga untuk mengklarifikasi kedua hal tersebut, diperlukan
pengkajian yang teliti dan seksama.
Berdasarkan hasil kajian terhadap pasal-pasal yang mengatur tentang
berakhirnya perikatan, maka menurut Salim HS.,kesepuluh cara berakhirnya
perikatan dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu berakhirnya
perikatan karena perjanjian dan perikatan karena undang-undang.
Yang termasuk cara berakhirnya perikatan karena undang-undang adalah:
1) konsignasi;
perbandingan hukum FH-UP

2) musnahnya barang terutang; dan


3) daluarsa.
Sedangkan berakhirnya perikatan karena perjanjian, adalah sebagai berikut:
1) pembayaran;
2) pembauran utang (novasi);
3) perjumpaan utang (kompensasi);
4) percampuran utang (konfusio);
5) pembebasan utang;
6) kebatalan atau pembatalan; dan
7) berlakunya syarat batal.

B. Perbedaan dan persamaan kontrak (perjanjian) antara sistem hukum


Amerika, Inggris, Rusia dan Indonesia.

1. Perbedaan dan persamaan syarat sahnya kontrak


Dalam membicarakan suatu kontrak, tahap awal yang perlu ditelaah
adalah bagaimana agar suatu kontrak itu dikatakan sah. Pembahasan
Perbandingan Hukum Perdata tentang kontrak ini akan diawali dengan
memperbandingkan syarat sahnya suatu kontrak. Berikut adalah perbedaan
dan persamaan syarat sahnya kontrak antara hukum Amerika, Inggris, Rusia
dan Indonesia.

N Sistem Syarat Sahnya


Perbedaan Persamaan
o. Hukum Kontrak
1 Amerika 1 offer and acceptance 1 Offer and acceptance 1 offer and acceptance
Serikat (penawaran dan (penawaran dan
permintaan); permintaan);
2 meeting of minds; 2 meeting of minds
3 consideration; 3 consideration;
4 competent parties; 4 competent parties; and
and
5 legal subject matter 5 legal subject matter
2 Inggris 1 offer and acceptance 3 Intention to create 1 offer and acceptance
(penawaran dan legal relation (maksud (penawaran dan
penerimaan); para pihak); penerimaan);
2 certainly (prestasi) 5 formalities; 2 certainly (prestasi)
3 Intention to create 4 capacity;
legal relation (maksud
para pihak);
4 capacity; 6 consideration.
5 formalities;
perbandingan hukum FH-UP

6 consideration.

3 Rusia 1 offer (oferta); 1 offer (oferta);


2 acceptance (aktsept); 2 acceptance (aktsept);
3 conformance with the 3 conformance with the
requisite form (forma requivite form (forma
dogovora); dogofora);
4 agreement on 4 agreement on
essential conditions essential conditions
(sushchestvennye (sushchestvennye
usloviia dogovora); usloviia dogovora);
5 other requirements of 5 other requirements of
contract formation contract formation
(syarat lain (syarat lain
pembentukan pembentukan
kontrak) kontrak)

4 Indonesia 1 kesepakatan; 1 kesepakatan;


2 kecakapan; 2 kecakapan;
3 object; 3 object;
4 causa yang halal. 4 causa yang halal.

Apabila dibandingakan syarat yang pertama (offer and acceptance),


maka syarat ini hanya di atur dan dikenal dalam system hukum Amerika,
Inggris dan Rusia, sedangkan dalam system hukum Indonesia syarat
perjanjian tidak dimulai dari penawaran dan penerimaan, tetapi langsung
pada kesepakatan para pihak. Jadi apabila dikaitkan dengan teori van Dunne
tentang fase kontrak, mengenai syarat ini mengesamp[ingkan fase pra
kontraktual.

Sedangkan persamaan mengenai syarat sahnya kontrak antara hukum


Amerika, Inggris dan Indonesia, yaitu adanya:
1) meeting of minds (kesepakatan);
2) competent parties (kecakapan);
3) consideration/certainly (prestasi).

Persamaan syarat sahnya kontrak antara hukum Amerika dan Inggris adalah:
1) offer and acceptance;
2) certainly;
3) capacity; dan
4) consideration.
perbandingan hukum FH-UP

Sedangkan yang berbeda antara hukum Amerika dan Inggris, yaitu dalam
hukum Amerika mengenal legal subject matter, dan hukum Inggris
mengenal:
1) intention to create legal relations (maksud para pihak);
2) formalities (bentuk kontrak).

Apabila diperbandingkan antara hukum Amerika dan Indonesia tentang


syarat sahnya kontrak ini, maka syarat yang sama adalah:
1) meeting of minds (kesepakatan);
2) consideration (prestasi);
3) competent parties (kecakapan); dan
4) legal subject matter (causa yang halal).
Sedangkan yang berbeda antara hukum Amerika dan Indonesia ini
adalah di dalam hukum Amerika terdapat syarat offer and acceptance,
namun dalam hukum Indonesia tidak dicantumkan syarat tersebut, karena
dalam hukum Indonesia yang dilihat pada saat terjadi kesepakatan,
mengenai proses sebelumnya yaitu apa yang ditawarkan oleh para pihak,
bukan dianggap suatu syarat.
Perbedaannya yang ada antara hukum Rusia dengan Indonesia perihal
syarat sahnya kontrak cukup banyak, karena di dalam hukum Indonesia tidak
mengenal, beberapa hal berikut:
1) offer (oferta);
2) acceptance (aktsept);
3) conformance with the requisite form (forma dogovora) bentuk kontrak);
4) other requirements of contract formation (syarat lain pembentukan
kontrak).
Offer (oferta) merupkan tawaran atau undangan dari seseorang (the
offeror) kepada orang lainnya (offeree) untuk memasuki kontrak. Terdapat
dua syarat sahnya suatu penawaran, yaitu harus dinyatakan secara : 1)
terbuka; dan 2) pasti.
Acceptance (Aktsept) merupakan tanggapan dari tawaran atau
undangan yang disampaikan oleh penerima penawaran kepada penawar
untuk memasuki kontrak dengan syarat dan ketentuan yang tercantum dalam
penawaran. Penerimaan itu harus dilakukan secara total dan tanpa syarat.
perbandingan hukum FH-UP

Confermance with the requisite form (forma dogovora) merupakan syarat


yang terkait dengan bentuk perjanjian. Bentuk perjanjian yang dibuat oleh
para pihak dapat dilakukan secara lisan dan tertulis. Bahkan perjanjiannya
dapat dilakukan dalam bentuk akta. Bentuk perjanjian itu sangat tergantung
dari perintah yang tercantum dalam pasal KUH Perdata Rusia. Misalnya
dalam Pasal 574 KUH Peradata Rusia, yang menyebutkan bahwa bentuk
perjanjian hibah atau donasi, yaitu tertulis (writing). Other requirments of
contract formation merupakan syarat lain yang menentukan syarat sahnya
kontrak.

2. Perbedaan dan Persamaan mengenai berakhirnya kontrak.


Dalam sistem hukum Amerika, Inggris, Rusia dan Indonesia,
terminology yang digunakan untuk menentukan berakhirnya suatu kontrak
berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Dalam hukum Amerika,
terdapat dua istilah yang digubakan, yaitu: terminationan dan discharge.
Dalam hukum Inggris, disebut dengan discharging of contract. Sementara
itu, dalam hukum Rusia, disebut dengan termination, sedangkan dalam
system hukum Indonesia, disebut dengan berakhirnya kontrak (hapusnya)
kontrak. Berikut ini disajikan perbedaan dan persamaan tentang berakhirnya
kontrak menurut hukum Amerika, Inggris, Rusia dan Indonesia.

No Sistem
.
Berakhirnya Kontrak Perbedaan Persamaan
Hukum
1 Amerika 1 complete 1 complete
Serikat performance; performance;
2 rescission of the 2 rescission of the
contract; contract;
3 subtitues contract; 3 subtitues contract;
4 accord and 4 accord and
satisfaction; satisfaction;
5 novation; 5 novation;
6 an account stated; 6 an account stated;
7 avoidance of duties 7 avoidance of duties
in a voidable in a voidable
contract; contract;
8 illegality; 8 illegality;
9 bankruptcy; 9 bankruptcy;
10 rejection of proper 10 rejection of proper
tender; tender;
11 occurance of a 11 occurance of a
condition subsequent; condition subsequent;
perbandingan hukum FH-UP
12 breach by the other 12 breach by the other
party; party;
13 impracticability and 13 impracticability and
frustration of frustration of
purpose; dan purpose; dan
14 failure of 14 failure of
consideration. consideration.
Discharging by Discharging by
2 Inggris 1 1
performance; performance;
2 Discharging by 2 Discharging by
agreement; agreement;
3 Discharging by 3 Discharging by
frustration; dan frustration; dan
4 Discharging by 4 Discharging by
breach. breach.
3 Rusia 1 Proper performance; 1 Proper performance;
2 Accord and 2 Accord and
satisfaction; satisfaction;
3 The offset in the 3 The offset in the
cession of the claim; cession of the claim;
4 Merger; 4 Merger;
5 Termination of the 5 Termination of the
obligation by the obligation by the
novation; novation;
6 Termination of the 6 Termination of the
obligation because obligation because
of the impossibility to of the impossibility to
discharge; discharge;
7 Termination of the 7 Termination of the
obligation on the obligation on the
grounds of an act, grounds of an act,
issues by the state issues by the state
body; body;
8 Termination o f the 8 Termination o f the
obligationwith the obligationwith the
citizen’s death; dan citizen’s death; dan
9 Termination o f the 9 Termination o f the
obligationwith the obligationwith the
lliquidation of the lliquidation of the
legal entity. legal entity.
4 Indonesia 1 Pembayaran; 1 Pembayaran;
2 Konsignasi; 2 Konsignasi;
3 Novasi; 3 Novasi;
4 Kompensasi; 4 Kompensasi;
5 Konfusio; 5 Konfusio;
6 Pembebasan utang; 6 Pembebasan utang;
7 Musnahnya barang 7 Musnahnya barang
terutang; terutang;
8 Kebatalan atau 8 Kebatalan atau
pembatalan; pembatalan;
9 Berlaku syarat batal; 9 Berlaku syarat batal;
dan dan
10 daluarsa 10 daluarsa
perbandingan hukum FH-UP

Berdasarkan data-data di atas, berikut ini disajikan perbedaan dan


persamaan berakhirnya kontrak antara hukum Amerika, Inggris, Rusia dan
Indonesia.
`
a. Perbedaan dan persamaan berakhirnya kontrak antara hukum
Amerika dan Indonesia.
Ketentuan mengenai berakhirnya kontrak antara hukum Amerika
dan Indonesia sangat banyak perbedaannya, hal ini dapat dilihat dari
kajian berikut ini. Perbedaan berakhirnya kontrak dalam hukum Amerika
meliputi:
1) complete performace,
merupakan cara berakhirnya kontrak, di mana salah satu atau kedua
belah pihak telah melaksanakan kewajiban secara lengkap.
2) subtitues contract,
adalah berakhirnya perjanjian yang dibuat oleh para pihak karena
ada penggantian tentang subyeknyamaupun substansi kontrak.
3) accord and satisfaction,
cara berakhirnya kontrak di mana kedua belah pihak yang telah
menanda tangani kontrak, melep[askan atau membebaskan pihak
lainnya karena adanya pembayaran ganti rugi. Atau dalam pengerti-
an yang lain bahwa berakhirnya kontrak karena adanya kesepakatan
dari oblige.
Kesepakatan adalah persetujuan antara-pihak-pihak dalam perjanjian
yang sudah ada bahwa oblige akan menerima pelaksanaannya yang
dinyatakan dalam kesepakatan terhadap kepuasan kewajiban-
kewajiban kontraktual obligor.
4) an account stated,
merupakan cara berakhirnya perjanjian, di mana utang yang ada
diubah, direstitusi atau sebaliknya.
5) avoidance of duties in a voidable contract,
adalah cara berakhirnya perjanjian di mana debitur menghindari
kewajiban dalam perjanjian yang dapat dibatalkan.
perbandingan hukum FH-UP

6) Illegality, yaitu berakhirnya perjanjian karena perjanjian yang dibuat


bertentangan dengan hukum.
7) Bankruptcy, merupakan cara berakhirnya kontrak karena salah satu
pihak bangkrut.
8) rejection of proper tender, merupaskan cara berakhirnya kontrak
karena ada penolakan penawaran dari salah satu pihak.
9) breach by the other party, berakhirnya kontrak yang disebabkan
karena salah satu pihak tidak melaksanakan substansi kontrak.
10) impracticability and frustration of purpose, adalah berakhirnya
perjanjian karena ketidakpraktisan dan kehilangan tujuan dari
kontrak yang dibuat oleh para pihak.
11) failure of consideration, merupakan gagalnya pelaksanaan prestasi
yang telah disepakati antara kedua belah pihak.

Sementara itu cara berakhirnya kontrak dalam hukum Indonesia,


yang berbeda adalah meliputi:
1) pembayaran;
2) penawaran pembayaran tunai diikuti dengan penyimpanan atau
penitipan (konsignasi);
3) perjumpaan utang (kompensasi);
4) percampuran utang (konfusio);
5) pembebasan utang;
6) musnahnya barang terutang;
7) berlakunya syarat batal; dan
8) daluarsa.

Dari pengkajian yang dilakukan, terdapat dua cara yang sama


tentang berakhirnya kontrak antara hukum Amerika dan Indonesia, yaitu:
1) novasi (novation); dan
2) kebatalan atau pembatalan atau rescission of the contract (pembatalan
perjanjian)

Novation adalah suatu perjanjian di mana pihak yang baru menggantikan


salah satu pihak asli dalam perjanjian, menghentikan kewajiban-
perbandingan hukum FH-UP

kewajiban para pihak dalam perjanjian lama dan menggantikannya


dengan suatu perjanjian baru antara pihak asli yang tersisa dan pihak
baru.
Rescission of the contract, adalah merupakan pembatalan perjanjian yang
dibuat oleh para pihak.

b. Perbedaan dan persamaan berakhirnya kontrak antara hukum


Inggris, dan Indonesia.
Cara berakhirnya kontrak antara hukum Inggris dan hukum
Indonesia juga banyak perbedaan. Perbedaan itu meliputi :
1) Discharging by agreement;
Adalah berakhirnya perjanjian yang telah dibuat oleh para pihak, di
mana kedua belah pihak telah setuju untuk mengakhiri kontrak yang
telah dibuatnya.
2) Discharging by frustration;
Merupakan cara berakhirnya perjanjian yang telah dibuat oleh kedua
belah pihak, di mana salah satu pihak mengakhiri kontrak tersebut,
karena salah satu pihak melakukan suatu pelanggaran terhadap
kontrak yang telah dibuatnya. Misalkan, A berjanji kepada B untuk
membayar harga barang pada tanggal 10 Januari 2017, namun a
sendiri tidak menepatinya, sehingga B memutuskan kontrak itu.
3) Discharging by breach.
Merupakan cara berakhirnya perjanjian, di mana salah satu pihak
tidak dapat melaksanakan prestasinya karena adanya kejadian yang
berada di luar dirinya, Ini erat kaitannya dengan keadaan memaksa.

Adapun cara berakhirnnya kontrak yang mempunyai kesamaan antara


hukum Inggris dan Indonesia, adalah :
Pembayaran atau dapat disebut sebagai discharge by performance.
Discharge of performance ini adalah cara berakhirnya kontrak, di mana
kedua belah pihak telah melaksanakan prestasinya (hak dan
kewajinannya dengan baik). Bentuk prestasi dimaksud, dalam hukum
Indonesia dapat berupa pembayaran.
perbandingan hukum FH-UP

c. Perbedaan dan persamaan tentang berakhirnya kontrak menurut


hukum Rusia dan Indonesia.
Cara berakhirnya kontrak yang berbeda antara hukum Rusia dan
Indonesia juga banyak, hal ini dapat dilihat dalam kajnian berikut :
Terdapat tujuh cara berakhirnya kontrak yang berbeda dalam
hukum Indonesia, antara lain :
1) penawaran pembayaran tunai diikuti dengan penyimpanan atau
penitipan (konsignasi);
2) perjumpaan utang (kompensasi);
3) percampuran utang (konfusio);
4) pembebasan utang;
5) musnahnya barang terutang;
6) kebatalan atau pembatalan.
7) berlakunya syarat batal; dan

Sedangkan cara berakhirnya kontrak yang berbeda dalam hukum Rusia


yakni meliputi :
1) Accord and satisfaction, diartikan sebagai cara untuk mengakhiri
kontrak yang dibuat olehdebitur dan kreditur, di mana debitur dengan
persetujuan kreditur telah bersepakat untuk memberikan ganti rugi.
Bentuk ganti rugi yaitu pembayaran dalam bentuk uang dan
pengalihan property. Besarnya dan prosedur pembayaran ganti rugi
disepakati oleh kedua belah pihak tersebut.
2) The offset in the cession of the claim, adalah bahwa salah satu pihak
telah melakukan penyerahan ganti rugi terhadap pihak lainnya.
3) Merger, merupakan cara berakhirnya kontrak. Di mana bertemu atau
bergabungnya kedudukan antara debitur engan kreditur dalam satu
orang.
4) Termination of the obligation because of the impossibility to
discharge, adalah cara berakhirnya perjanjian yang dibuat oleh para
pihak, di mana kewajiban tersebut harus dihentikan karena ketidak
mungkinan untuk melaksanakan atau melepaskannya, yang
disebabkab oleh suatu keadaan, yang bukan disebabkan oleh kedua
belah pihak.
perbandingan hukum FH-UP

5) Termination of the obligation on the grounds of an act, issues by the


state body, merupakan cara berakhirnya hak dan kewajiban para
pihak, yang disebabkan adanya kebijakan yang dikeluarkan oleh
negara, di mana hak dan kewajiban itu, tidak mungkin untuk
dilksanakan, baik secara sebagaian atau penuh.Para pihak yang
menderita kerugian sebagai akibat dari kebijakan itu, berhak meminta
hanti rugi, sesuai Pasal 13 dan Pasal 16 KUH Perdata Rusia. Ganti
rugi tersebut dapat dimintakan kepada Pemerintah dan Pemerintah
Daerah.
6) Termination of the obligation with the citizen’s death, adalah berakhir
hak dan kewajiban antara debitur dan kreditur, di mana salah satunya
meninggal dunia.
7) Termination o f the obligation with the lliquidation of the legal entity
adalah cara berakhirnya hak dan kewajiban para pihak, di mana badan
hukumnya dilikuidasi (kreditur dan debitur), dengan pengecualian
khusus.
.
Hanya terdapat dua hal yang sama terkait berakhirnya kontrak antara
hukum Indonesia dengan hukum Rusia ini, yaitu sebagai berikut:
Pembayaran atau proper performance; dan 2) Novasi atau Termination of
the obligation by the novation.

a. Proper performance ini merupakan cara berakhirnya perjanjian di


mana kedua belah pihak telah melaksanakan kewajibannya dengan
baik.
b. Termination of the obligation by the novation, adalah berakhirnya
kewajiban di antara para pihak, di mana perbuatan tersebut harus
diakhiri dengan kesepakatan antara para pihak tentang penggantian
kewajiban utama yang telah ada di antara mereka, dengan kewajiban
lain antara orang-orang yang sama, menetapkan objek yang berbeda
atau dengan cara lain yang berbeda pula (novasi).
perbandingan hukum FH-UP

UJI PEMAHAMAN MATERI

Petunjuk : Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan tulisan tangan di atas


kertas folio bergaris, dan dikumpulkan pada saat perkuliahan berikutnya
di kelas.

Pertanyaan :

1. Bandingkan perihal syarat sahnya kontrak antara hukum Amerika dengan


hukum Rusia.
2. Bandingkan perihal berakhirnya kontrak antara hukum Inggris dan Rusia.
3. Bandingkan perihal berakhirnya kontrak antara hukum Amerika dan Rusia.
perbandingan hukum FH-UP

DAFTAR PUSTAKA

Amir Syarifuddin, Pembaharuan Pemikiran Dalam Hukum Islam, 1990, Angkasa


Raya, Padang.

Ash Shiddieqy, Teungku Muhammad Hasbi, Falsafah Hukum Islam, 2001,


Pustaka Rizki Putra, Semarang.

Beni Ahmad Saebani, Dewi Mayangningsih, Ai Wati, Perbandingan Hukum


Perdata, 2016, Pustaka Setia, Bandung.

Djamil, Fathurrahman, Filsafat Hukum Islam, 1999, Logos Wacana Ilmu, Jakarta

Djazuli, A., Kaidah-Kaidah Fikih, 2007, Kencana, Jakarta.

Hans Kelsen, Teori Hukum Murni – Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif, 2011,
Nusa Media, Bandung.

H. Salim HS., Perbandingan Hukum Perdata – Comparative Civil Law, 2015, PT.
Rajagrafindo Persada, Kota Depok.

Ismatullah, Dedi, Sejarah Sosial Hukum Islam, 2011, Pustaka Setia, Bandung.

L.J. van Apeldoorn, Pengantar Ilmu Hukum, 1985, P.T. Pradnya Paramitha,
Jakarta.

Mohammad Daud Ali, Hukum Islam-Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum
Islam di Indonesia, 1998, Rajawali Pers, Jakarta.

Peter de Cruz, Perbandingan System Hukum Common Law, Civil Law dan
Socialist Law, Penerjemah : Narulita Yusron, 2010, Nusa Media,
Bandung

Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, 2012, PT Citra Aditya Bakti, Bandung.


perbandingan hukum FH-UP

Sinamo Nomensen, Perbandingan Hukum Tata Negara, 2010, Jala Permata


Aksara, Bekasi.

Soeroso, Bunga Rampai Perbandingan Hukum, 2003, Perpustakaan Nasional.

_______, Pengantar Ilmu Hukum, 2004, Sinar Grafika, Jakarta

Subekti, Perbandingan Hukum Perdata, 1974, PT. Pradnya Paramita, Jakarta.

Sudikno, Mengenal hukum, 1988, Liberty, Yogyakata.

Supomo , Bab-Bab Tentang Hukum Adat, 1968, Penerbitan Universitas, Jakarta:.

Suriyaman Mustari Pide, Hukum Adat (Dulu, Kini dan Akan Datang), 2009, Pelita
Pustaka , Jakarta.

Wignjodipuro, Surojo, Pengantar dan Asas-Asas Hukum Adat. 1979, Alumni,,


Bandung,.