Anda di halaman 1dari 168

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Nama Sekolah : SMA

Mata Pelajaran : Kimia

Kelas/Semester : X/1

Pertemuan : I

Alokasi Waktu : 1 x 45 Menit

Standar Kompetensi

1. Memahami struktur atom, sifat-sifat periodik unsur dan ikatan kimia.

Kompetensi Dasar

1.1.1. Memahami struktur atom berdasarkan teori atom Bohr, sifat-sifat unsure,
massa atom relatif, dan sifat-sifat periodik unsur dalam tabel periodik
serta menyadari keteraturannya melalui pemahaman konfigurasi
elektron.

Indikator

1. massa atom Menentukan partikel dasar atom(proton, electron, dan


neutron).

2. Menentukan konfigurasi Menentukan massa elektron dan elektron


valensi

3. Menentukan massa atom relatif berdasarkan tabel periodik

4. Mengklasifikasikan unsur ke dalam isotop, isobar, dan isotop

I.Tujuan Pembelajaran

Agar siswa dapat :

1. Menentukan partikel dasar (proton, elektron dan neutron ).

2. Menyebutkan nama-nama kulit electron dan electron maksimum


dalam kulit.

3. Menentukan konfigurasi elektron beberapa unsur.


4. Menentukan elektron valensi dari beberapa unsur berdasarkan
konfigurasi elektron.

5. Menentukan relative berdasarkan table periodic

6. Mengklasifikasikan unsure ke dalam isotop, isobar, dan isotop

II. Materi Pembelajaran

1. Partikel-partikel Dasar Penyusun Atom.

2. Massa atom dan massa atom relatif

3. Konfigurasi Elektron.

4. Elektron Valensi

III. Sumber/Alat bantu :

1.Sumber : Buku Kimia untuk SMA Kelas X, Penerbit Grafindo.

2.Alat bantu : Tabel Periodik.

IV. Metode/Pendekatan

1.Metode : Diskusi, Ceramah dan Tanya Jawab.

2.Pendekatan : Keterampilan Proses.

V. Langkah-langkah Pembelajaran

A. Pendahuluan

Alokasi waktu : 10 menit

 Prasyarat pengetahuan :Partikel dasar penyusun atom dan


konfigurasi elektron.

 Motivasi : Guru memberikan gambaran adanya penemuan-


penemuan partikel dasar atom sehingga
pendapat Dalton mengenai atom sebagai
partikel terkecil tidak berlaku lagi.
B. Kegiatan inti

Alokasi waktu : 60 menit

 Guru menyampaikan materi atau memberikan informasi tentang


partikel-partikel dasar atom, massa, muatan, lambang dan letaknya
dalam atom.

 Guru memberikan informasi tentang kulit elektron dan konfigurasi


elektron atom unsur.

 Guru memberikan informasi tentang atom relative berdasarkan


tabel periodik

 Guru menjelaskan tentang isotop, isobar, dan isotop

 Siswa diminta untuk membentuk kelompok diskusi.

 Guru membimbing diskusi.

 Siswa diberi latihan dan mengerjakan LKS dalam kelompok serta


mempresentasikan hasil diskusi.

C. Penutup

 Guru menyimpulkan hasil diskusi.

 Guru membimbing siswa membuat kesimpulan atau rangkuman dari


materi yang telah diajarkan.

 Guru memberikan tes tulis untuk mengetahui daya serap siswa.

VI. Penilaian

1.Prosedur penilaian

Jenis : Pertanyaan lisan dan tulisan.

Bentuk : Kuis dan uraian.

2.Instrumen penilaian

Siswa mengerjakan latihan-latihan berikut !

1. Tentukan jumlah proton, elektron dan neutron unsur/ion berikut :



F-

2. Tuliskan lambang atom berdasarkan data partikel berikut :

 Atom X memiliki 27 proton, 27 elektron dan 32 neutron.

 Atom Y memiliki 1 proton, 1 elektron dan tidak ada neutron

3. Tuliskan nama-nama kulit elektron dan jumlah elektron maksimumnya !

4. kelompokkan atom-atom berikut ke dalam isotop, isobar, dan isoton.

12 15 18
6 C 7 N 8 O

14 14 16
7 N 6 C 8 O

5. Tuliskan konfigurasi elektron unsur-unsur berikut ini :

 N
7

 16 S

 54 Xe

 82 Pb

6. Jelaskan cara penentuan golongan dan periode berdasarkan konfigurasi


elektron !

Mengetahui, Kupang, Juni 2009

Kepala SMA Calon Guru

1. Fero Lynda Lalang

2. Mada E. Lakilaf
Kunci Jawaban

1. . maka ∑ p = ∑ e = NA = Z = 9

∑ n = NM – NA = A – Z = 19 – 9 = 10.

. maka ∑ e = jumlah proton = Z = NA = 11

∑ n = A – Z = 23 – 11 = 12.

.Ion F-, artinya ion F menangkap 1 elektron sehingga jumlah elektronnya


bertambah 1. Jadi, F- memiliki : jumlah proton = Z = 9

Jumlah electron = Z + 1 = 9 + 1 = 10

Jumlah neutron = A – Z = 19 – 9 = 10.

2. . X memiliki NA = Z = ∑ p = 27

A = Z + ∑ n = 27 + 32 = 59

Jadi, lambang atom X adalah .

.Y memiliki NA = Z = ∑ p = 1

A = Z + ∑ n = 1 + 0 = 1.

Atom Y adalah hydrogen, yang merupakan satu-satunya atom yang tidak

memiliki neutron. Jadi, lambang atom Y adalah .

3. Jumlah elektron maksimum disetiap kulit

Kulit n ∑ e maksimum
K 1 2(1)2 = 2
L 2 2(2)2 = 8
M 3 2(3)2 = 18
N 4 2(4)2 = 32

12
Cdengan146 C ;147 Ndengan157 N ;168 Odengan188 O adalah isotop
4. - 6

14
Ndengan146 C adalah isobar
- 7

14
Cdengan168 O adalah isoton
- 6
5.

Unsur K L M N O P
7N 2 5 - - - -
16 S 2 8 6 - - -
54 Xe 2 8 18 18 8 -
82 Pb 2 8 18 32 18 4

6. Cara penentuan golongan dan periode berdasarkan konfigurasi elektron

 Untuk periode dan Golongan

Adapun periode suatu unsur menunjukkan jumlah kulit yang telah terisi
elektron. Elektron valensi dan jumlah kulit yang telah terisi elektron
dapat diketahui dari konfigurasi elektron. Jadi, dari konfigurasi elektron
dapat diketahui nomor golongan dan periode suatu unsur.

Nomor periode sama dengan jumlah kulit.

Nomor golongan sama dengan elektron valensi.

Berdasarkan hubungan tersebut, maka letak unsur dalam sistem


periodik dapat ditentukan berdasarkan konfigurasi elektronnya.

Contoh : Misalkan unsur X dengan konfigurasi elektron sebagai berikut :

K L M N

X = 2 8 18 3

Maka, unsur itu terletak pada periode ke empat (karena mempunyai 4


kulit), dan terdapat pada golongan III A ( karena mempunyai 3 elektron
valensi ).
BAHAN AJAR

Mata Pelajaran : Kimia

Kelas/semester : X/I

Materi Pembelajaran : Struktur Atom dan Sistem Periodak

I. Standar Kompetensi

Memahami struktur atom, sifat-sifat periodik unsur dan ikatan kimia.

II. Kompetensi Dasar

Memahami struktur atom berdasarkan atom Bohr, sifat-sifat unsur, massa


atom relatif dan sifat-sifat periodik unsur dalam tabel periodik unsur serta menyadari
keteraturannya melalui pemahaman konfigurasi elektron.

III.Uraian Materi

A. Partikel-partikel Dasar Penyusun Atom

a.Elektron

Partikel dalam atom pertama kali ditemukan oleh fisikawan Inggris, Joseph J.
Thomson pada tahun 1897. Eksperimen yang dilakukannya menggunakan dua pelat
logam sebagai elektrode dalam tabung kaca vakum. Kedua elektrode tersebut
dihubungkan dengan arus bertegangan tinggi.

Hasil eksperimen menunjukkan adanya sinar yang keluar dari elektrode


negatif(katode) menuju elektrode positif(anode). Sinar yang keluar dari katode
disebut sinar katode, sedangkan tabung vakumnya disebut tabung sinar katode.
Sinar ini tidak terlihat oleh mata, tetapi dapat memendarkan zat tertentu sehingga
dapat terlatak keberadaanya.

Thomson menemukan bahwa medan magnet dan medan listrik mempengaruhi


sinar katode. Ketika magnet didekatkan pada tabung, arah sinar katode berbelok.
Sementara itu, kutub positif medan listrik menarik sinar katode, sedangkan kutub
negatif menolaknya.
Dengan dibelokkannya sinar katode menuju kutub positif, Thomson
menyimpulkan bahwa sinar katode bukanlah gelombang. Menurut Thomson, sinar
katode merupakan arus partikel yang memiliki massa dan bermuatan negatif. Partikel
tersebut dinamakan elektron. Thomson juga berhasil menentukan perbandingan
harga muatan negatif elektron terhadap massanya, yaitu :

= - 1,76 x 108 coulomb/g

Keterangan :

e = muatan elektron dalam satuan coulomb

m = massa elektron dalam satuan gram

Pada tahun 1909, Robert Milikan berhasil menentukan muatan elektron


melalui eksperimen tetesan minyak. (perhatikan gambar 1.5). Dalam eksperimen ini,
Robert Milikan mengamati bahwa setiap tetesan halus minyak selalu memiliki muatan
berupa kelipatan – 1,6 x 10-19 C. Milikan lalu menduga bahwa setiap tetesan minyak
menangkap elektron dengan jumlah satu, dua, tiga, dan seterusnya. Milikan
menyimpulkan elektron bermuatan -1,6 x 10 -19 C. Data ini kemudian dipadukan
dengan penemuan Thomson sehinggan massa elektron dapat ditentukan, yaitu :

= -1,76 x 108 C/g, dan

e = -1,6 x 10-19 C

Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, diperoleh massa elektron sebagai


berikut :

1,6  10 19 C
m =  1,76  10 C / g
8

28
= 9,11  10 gram

Jadi, elektron merupakan subatom dengan massa 9,11 x 10 -28 g dan


bermuatan -1,6 x 10-19 C.
b. Proton

Pada tahun-tahun berikutnya, berkembang pula penelitian mengenai sinar

radioaktif. Diantara radiasi yang dikenal adalah sinar alfa ( . Sinar - merupakan
pertikel yang bermassa 4 sma (7000 x massa elektron) dan bermuatan +3,2 x 10 -19 C

(-2 x muatan elektron namun berlawanan tanda). Sinar inilah yang digunakan oleh
Ernest Rutherford untuk menemukan inti atom pada 1911. Kelompok riset Rutherford

melakukan percobaan dengan lempeng emas dan sinar- . Usaha penemuan partikel
bermuatan positif dalam atom mulai menunjukkan hasil.

Sinar alfa yang bermuatan positif dipancarkan oleh unsur radioaktif dan
diarahkan pada lempengan tipis logam emas. Ternyata, sinar alfa ini dapat
menembus lempengan tipis logam tersebut dan hanya sebagian kecil(1 dari 20.000
partikel) yang dibelokkan atau dipantulkan. Hasil ini berbeda dengan dugaan awal.

Semula partikel sinar- akan diserap, dihamburkan, dipantulkan dan juga diteruskan.

Setahun kemudian, barulah Rutherford menemukan penjelasan atas


fenomena tersebut. Dia mengajukan keterangan bahwa atom merupakan ruang
kosong. Seluruh muatan positif berkumpul pada sebuah titik yang disebut inti atom.
Pada perkembangan berikutnya, diketahui bahwa inti atom memiliki diameter inti =
10-13 cm, sedangkan diameter atomnya sendiri = 10 -8 cm.

Jenis muatan inti atom sama dengan muatan sinar alfa(ditunjukkan oleh

adanya pembelokkan dan penolakkan sinar- ), yaitu muatan positif yang disebut
proton.

c.Neutron

Pada 1932, dua belas tahun setelah hipotesis Rutherford, James Chadwick
melakukan pencobaan penembakan atom berilium dengan sinar alfa. Percobaan ini
menghasilkan penemuan partikel tidak bermuatan, disebut neutron. Partikel neutron
memiliki massa yang hamper sama dengan partikel proton, yaitu 1.836 kali massa
electron.

Dalam perhitungan yang tidak memerlukan ketelitian tinggi, massa proton dan
neutron dapat dianggap sama, yakni 1,67 x 10 -24 gram atau 1 sma. Elektron memiliki

massa kali massa proton. Oleh karena bernilai sangat kecil, massa elektron
dapat diabaikan terhadap massa proton atau dianggap sama dengan nol. Muatan
elektron dinyatakan dengan – 1 sehingga muatan proton adalah + 1 dan muatan
neutron adalah 0.
 Nomor Atom dan Nomor Massa

a. Nomor Atom

Nomor atom suatu unsur menunjukkan jumlah proton yang terdapat


dalam atom. Nomor atom (disingkat NA) diberi lambang Z. Nomor atom
suatu unsur merupakan ciri khas atom unsur tersebut.

Muatan atom suatu unsur selalu netral. Oleh karena itu, jumlah
proton selalu sama dengan jumlah elektron. Dengan demikian, hubungan
antara nomor atom, proton, dan elektron dapat dituliskan sebagai berikut :

Nomor atom = Z = NA =jumlah proton = jumlah elektron

Atom oksigen bernomor atom 8, berarti memiliki 8 proton dan 8


elektron. Atom neon bernomor atom 10, artinya neon memiliki 10 proton
dan 10 elektron. Jadi, jika nomor atom berbeda, unsurnya juga berbeda.

b. Nomor massa

Nomor massa menggambarkan massa partikel-partikel penyusun


atom, yaitu massa proton, massa electron, dan massa neutron. Massa
elektron sangat kecil dibandingkan massa proton dan neutron sehingga
massa elektron ini dapat diabaikan. Nomor massa(NM) diberi notasi A dan
didefinisikan sebagai jumlah proton dan jumlah neutron. Hubungan antara
nomor massa, proton, dan neutron dapat dituliskan sebagai berikut :

Nomor massa = A = jumlah proton + jumlah neutron

Jumlah proton ∑ p = Z = NA

Jumlah neutron = ∑ n

Sehingga

A= Z+∑n

NM= NA + n

Dengan mencantumkan nomor atom dan nomor massa, suatu atom dapat
ditulis dengan notasi sebagai berikut :
Jadi, A adalah nomor massa yang ditulis di kiri atas dan Z adalah nomor
atom yang ditulis di kiri bawah.

c. Isotop

Isotop adalah atom – atom dari unsur yang sama mempunyai massa yang
berbeda. Contoh:

12
6 Cdengan136C

d. Isobar dan Isoton

1. Isobar

Isobar adalah atom dari unsur yang berbeda, tetapi mempunyai


nomor massa yang sama.

Contoh:

14
6 Cdengan 147 N , 11
24 24
Nadengan 12 Mg

2. Isoton

Isoton adalah atom dari unsur yang berbeda, tetapi mempunyai


jumlah neutron yang sama.

Contoh:

13
6 Cdengan147 N ;15
31 32
Pdengan16 S

B. Massa Atom dan Massa Atom Relatif

Massa atom relatif adalah perbandingan massa antara atom yang satu
terhadap atom yang lainnya.oleh karena pada umumnya unsure terdiri dari beberapa
isotop maka pada penetapan massa atom relatif digunakan massa rata – rata dari
isotop- isotop. Dengan demikian, massa atom relatif adalah perbandingan antara

1
massa- massa dari 1 atom suatu unsur terhadap 12 massa 1 atom C–12.

massarata  rata1atomunsurX
Ar unsur X = 1 / 12massa1atomC  12

Satu perduabelas massa 1 atom C-12 ditetapkan sama dengan 1sma, makqa definisi
di ataa dapat ditulis sebagai berikut:
massarata  rata1atomunsurX
Ar unsur X = 1sma

Dengan menata ujlang persamaan di atas, diperoleh :

Massa rata – rata 1 atom unsur X = Ar unsur X  1 sma

C.. Konfigurasi Elektron dan Elektron Valensi

Elektron merupakan partikel atom yang sangat ringan sehingga massanya


dapat diabaikan dan dianggap sama dengan nol. Dalam satu atom, jumlah elektron
sama dengan jumlah proton, tetapi jenis muatannya berlawanan. Letak elektron
berada diluar inti, yaitu terdapat di dalam lintasan-lintasan elektron.

Menurut teori atom Bohr, elektron berada dalam suatu lintasan tau orbit
tertentu yang disebut lintasan elektron atau kulit elektron. Berdasarkan jaraknya dari
inti atom, terdapat beberapa kulit yaitu :

 Kulit ke-1 atau kulit K

 Kulit ke-2 atau kulit L

 Kulit ke-3 atau kulit M

 Kulit ke-4 atau kulit N

 Kulit ke-5 atau kulit O

 Kulit ke-6 atau kulit P

 Kulit ke-7 atau kulit Q

Setiap kulit memiliki tingkat energi tertentu. Semakin dekat ke inti atom, semakin kecil
tingkat energinya. Sebaliknya, semakin jauh dari inti atom, semakin besar tingkat
energinya.

Berdasarkan hal tersebut, urutan tingkat energi dapat dituliskan sebagai


berikut :

Kulit K < kulit L < kulit M < kulit N < kulit O < kulit P < kulit Q , atau E 1 < E2 < E3 < E4
< E 5 < E 6 < E 7.
a.Konfigurasi elektron

Elektron dalam atom tersusun berdasarkan tingkat energinya. Penyusunan


elektron ini dikenal sebagai konfigurasi elektron. Ada dua penyusunan
elektron, yaitu :

 Cara per kulit (cara K L M N ), dan

 Cara per sub kulit (cara s p d f ).

Cara yang ke dua ( per sub kulit ) akan dibahas di kelas XI. Saat ini, Anda
hanya akan diperkenalkan dengan konfigurasi elektron per kulit ( cara K L M
N).

Konfigurasi elektron per kulit didasarkan pada jumlah elektron


maksimum yang dapat mengisi setiap kulit sesuai dengan rumusan,

maksimum per kulit = 2n2

Harga n menunjukkan kulit yang ditempati elektron dapat dilihat pada tabel
dibawah ini :

Jumlah elektron maksimum di setiap kulit

Kulit n ∑e
maksimum
K 1 2 (1)2 = 2
L 2 2 (2)2 = 8
M 3 2 (3)2 = 18
N 4 2 (4)2 = 32

Urutan pengisian elektron dimulai dari kulit yang memiliki tingkat energi
terendah, kemudian kulit berikutnya yang memiliki energi lebih tinggi, sampai pada
kulit terakhir.

Perhatikan contoh pada tabel berikut:

Atom Jumlah elektron Kulit Kulit Kulit Kulit


K(n =1) L(n=2) M(n=2 N(n=4)
)
1 H 1 1 - - -
3Li 3 2 1 - -
12C 6 2 4 - -
12Mg 12 2 8 2 -
33As 33 2 8 18 5

Bagaimana jika jumlah elektron yang tersedia tidak mencapai jumlah elektron
maksimum dalam suatu kulit, bahkan lebih besar dari jumlah elektron sebelumnya ?.
Jika demikian, kulit yang akan ditempati elektron harus menggunakan jumlah elektron
yang sama dengan jumlah elektron maksimum dalam kulit sebelumnya. Cara
konfigurasi tersebut hanya berlaku untuk atom unsur golongan utama (golongan A).
Adapun untuk atom unsur golongan transisi (golonganB)harus menggunakan cara
per sub kulit.

Tips untuk menuliskan konfigurasi elektron unsure-unsur golongan utama :

 Isi penuh sebanyak mungkin kulit, kemudian hitung jumlah elektron yang
tersisa.

 Jika sisa elektron kurang dari 32, maka kulit berikutnya diisi dengan 18
elektron.

 Jika sisa elektron kurang dari 18, maka kulit berikutnya diisi dengan 8 elektron.

 Jika sisa elektron kurang dari 8 elektron, tempatkan pada kulit berikutnya
sebagai kulit terluar.

Perhatikan konfigurasi beberapa unsure berikut.

Atom Jumlah Kulit Kulit Kulit Kulit Kulit O Kulit Kulit


electron K L M N P Q
18Ar 18 2 8 8 - - - -
19K 19 2 8 8 1 - - -
36Kr 36 2 8 18 8 - - -
38Sr 38 2 8 18 8 2 - -
52Te 52 2 8 18 18 6 - -

b.Elektron Valensi

Elektron valensi merupakan elektron yang terletak pada kulit terluar


sehingga memiliki tingkat energi paling tinggi. Elektron valensi inilah yang
berperan dalam reaksi kimia. Elektron kulit teruar ini dapat lepas, dipertukarkan,
atau dipakai bersama dengan atom lain membentuk ikatan antar atom. Dengan
kata lain, sifat kimia atom ditentukan oleh elektron valensinya.

Elektron valensi dapat ditentukan dengan dua cara, yaitu :

 Penentuan elektron valensi dari konfigurasi elektron.

 Penentuan elektron valensi menggunakan tabel periodik(berdasarkan


nomor kulit, jumlah elektron, dan sub kulit dimana pembahasannya
mengenai nama sub kulit akan dipelajari di kelas XI).

Contoh elektron valensi beberapa atom.

Atom Jumlah Kulit Kulit L Kulit Kulit Kulit Kulit Elektron


electron K M N O P Valensi
1H 1  - - - - - 1
2He 2  - - - - - 2
8O 8 2  - - - - 6
13Al 13 2 8  - - - 3

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Nama Sekolah : SMA

Mata Pelajaran : Kimia

Kelas/Semester : X/1

Pertemuan : II
Alokasi Waktu : 1 x 45 Menit

Standar Kompetensi

1. Memahami struktur atom, sifat-sifat periodik unsur dan ikatan kimia.

Kompetensi Dasar

1.1.2. Memahami struktur atom berdasarkan teori atom Bohr, sifat-sifat unsur,
massa atom relatif, dan sifat-sifat periodik unsur dalam tabel periodik
serta menyadari keteraturannya melalui pemahaman konfigurasi
elektron.

Indikator

1. mengklasifikasikan unsur ke dalam logam, non logam dan metalloid

2. menganalisis tabel, grafik untuk menentukan keteraturan jari- jari atom, energi
ionisasi, afinitas elektron dan keelektronegatifan

I.Tujuan Pembelajaran

Agar siswa dapat :

1. mengklasifikasikan unsur ke dalam logam, non logam dan metalloid

2. menganalisis tabel, grafik untuk menentukan keteraturan jari- jari atom,


energi ionisasi, afinitas elektron dan keelektronegatifan

II. Materi Pembelajaran

1. sistem periodik moderen

2. perkembangan dasar pengelompokkan unsur

3. sifat – sifat periodik unsure

III. Sumber/Alat bantu :

1.Sumber : Buku Kimia untuk SMA Kelas X, Penerbit Grafindo.

2.Alat bantu : Tabel Periodik.

IV. Metode/Pendekatan

1.Metode : Diskusi, Ceramah dan Tanya Jawab.

2.Pendekatan : Keterampilan Proses.


V. Langkah-langkah Pembelajaran

A. Pendahuluan

Alokasi waktu : 10 menit

 Prasyarat pengetahuan : Partikel konfigurasi elektron.

 Motivasi :Guru memberikan gambaran


pengelompokkan atas periode golongan
dalam sistem periodik

B. Kegiatan inti

Alokasi waktu : 60 menit

 Guru menyampaikan materi tentang unsur logam, non logam dan


metalloid

 Guru menyampaikan materi tentang jari- jari atom, energi ionisasi,


afinitas electron dan keelektronegatifan

 Siswa diminta untuk membentuk kelompok diskusi.

 Guru membimbing diskusi.

 Siswa diberi latihan dan mengerjakan LKS dalam kelompok serta


mempresentasikan hasil diskusi.

C. Penutup

 Guru menyimpulkan hasil diskusi.

 Guru membimbing siswa membuat kesimpulan atau rangkuman dari


materi yang telah diajarkan.

 Guru memberikan tes tulis untuk mengetahui daya serap siswa.

VI. Penilaian

1.Prosedur penilaian

Jenis : Pertanyaan lisan dan tulisan.

Bentuk : Kuis dan uraian.

2.Instrumen penilaian
Siswa mengerjakan latihan-latihan berikut !

1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan periode dan golongan!

2. Jelaskan dengan singkat apa yang dimaksud dengan:

a. jari-jari atom,

b. energi ionisasi,

c. afinitas elektron,

d. keelektronegatifan.

3. Diketahui konfogurasi elektron unsur:

P:2 8 2

Q : 2 8 18 3

Tentukanlah letak unsur itu dalam periodik!

4. Tentukan apakah unsur berikut termasuk unsur golongan utama, transisi atau
transisi dalam.

a. Magnesium d. zink

b. Klorin e. uranium

c. Kripton

5. Lengkapilah daftar berikut:

Sifat periodik Dari atas ke bawah Dari kiri ke kanan

Jari-jari atom ... ...

Energi ionisasi ... ...

Afinitas elektron ... ...


Keelektronegatifan ... ...

Mengetahui, Kupang, Juni 2009

Kepala SMA Calon Guru

1. Fero Lynda Lalang

2. Mada E. Lakilaf

Kunci Jawaban

1. yang dimaksud dengan :

a. periode adalah lajur-lajur horizontal dalam sistem periodik

b. golongan adalah lajur-lajur vertikal dalam sistem periodik

2. yang dimaksud dengan:


a. jari-jari atom adalah jarak dari inti hingga kulit terluar elektron

b. energi ionisasi adalah besarnya energi yang diperlukan untuk melepas


suatu elektron dari suatu atom netral dalam wujud gas sehingga
terbentuk ion berwujud gas denganmuatan +1.

c. Afinitas elektron adalah energi yang menyertai penambahan 1 elektron


pada satu atom netral dalam wujud gas membentuk ion bermuatan -1.

d. Keelektronegatifan adalah suatu bilangan yang menggambarkan


kecenderungan relatif suatu unsur menarik elektron ke pihaknya dalam
suatu ikatan kimia.

3. konfogurasi elektron unsur:

P:2 8 2

Q : 2 8 18 3

Unsur P terletak pada periode 3 golongan IIA

Unsur Q terletak pada periode 4 golongan IIIA

4. unsur-unsur berikut termasuk:

a. magnesium : unsur golongan utama

b. klorin : unsur golongan utama

c. kripton : unsur golongan utama

d. zink : unsur transisi

e. uranium : unsur transisi dalam

5.

Sifat periodik Dari atas ke bawah Dari kiri ke kanan

Jari-jari atom Semakin besar Semakin kecil

Energi ionisasi Semakin kecil Semakin besar

Afinitas elektron Semakin berkurang Semakin bertambah


Keelektronegatifan Semakin berkurang Semakin bertambah

BAHAN AJAR

Mata Pelajaran : Kimia

Kelas/semester : X/I

Materi Pembelajaran : Struktur Atom dan Sistem Periodak

I. Standar Kompetensi
Memahami struktur atom, sifat-sifat periodik unsur dan ikatan kimia.

II. Kompetensi Dasar

Memahami struktur atom berdasarkan atom Bohr, sifat-sifat unsur, massa


atom relatif dan sifat-sifat periodik unsur dalam tabel periodik unsur serta menyadari
keteraturannya melalui pemahaman konfigurasi elektron.

III.Uraian Materi

A. Sistem Periodik Moderen

1. Periode

Lajur–lajur dalam sistem periodik disebut periode. Sistem periodik moderen terdiri
atas 7 periode.

Periode Jumlah Unsur Nomor Atom

1 2 1-2

2 8 3-10

3 8 11-18

4 18 19-36

5 18 37-54

6 32 55-86

7 32 87-118

2. Golongan

Kolom- kolom vertikal dalam sistem periodik disebut golongan.


Penempatan unsur dalam golongan berdasarkan kemiripan sifat. Periodik
moderen terdiri atas 18 kolom vertikal. Ada dua cara penemaan golongan,
yaitu:

 Sistem 8 golongan
Menurut cara ini, sistem periodik dibagi menjadi 8 golongan yang
masing-masing terdiri atas golongan utama (golongan A) dan golongan
tambahan (golongan B). unsur- unsur golongan B disebut unsur transisi.
Nomor golongan ditulis dengan angka Romawi. Golongan- golongan B
terletak antara golongan IIA dan IIIA. Golongan IIIB terdiri atas 3 kolom
vertikal.

 Sistem 18 golongan

Menurut cara ini, sistem periodik dibagi ke dalam 18 golongan, yaitu


golongan 1 sampai dengan 18, dimulai dari golongan paling kiri. Unsur-
unsur transisi terletak pada golongan 3-12

3. Unsur Transisi dan unsur Transisi Dalam

a. Unsur Transisi

Unsur-unsur ini merupakan peralihan dari golongan IIA ke golongan IIIA, yaitu
unsure-unsur yang harus dialihkan hingga ditemukan unsur yang mempunyai
kemiripan sifat dengan golongan IIIA.

b. Unsur Transisi Dalam

Dua barfis yang ditempatkan di bagia bawah Tabel Periodik disebut unsur
transisi dalam, yaitu terdiri dari:

 Lantanida, yang beranggotakan nomor atom 57 – 70 (14 unsur). Ke–14


unsur ini mempunyai sifat yang mirip dengan lantanium (La), sehingga
disebut lantanoida atau lantanida.

 Aktanida, yang beranggotakan nomor atom 89-102 (14 unsur). Ke- 14


unsur ini sangat mirip dengan aktinium, sehingga disebut aktinoida atau
aktinida.

4. Hubungan Konfigurasi Elektron dengan Sistem Perfiodik

Hubungan antara letak unsur dalam sistem periodik dalam konfigurasi


elektronnya dapat disimpulkan bahwa:

 Nomor periode sama dengan jumlah kulit

 Nomot golongan sama dengan elektron valensi


Berdasarkan hubungan tersebut, maka letak unsur dalam sstem periodik dapat
ditentukan berdasarkan konfigurfasi elektronnya.

B. Perkembangan Dasar Pengelompokkan Unsur

Penggolongan unsur yang pertama dilakukan oleh Lavoisier yang


mengelompokkan unsur ke dalam logam dan nonlogam. Oleh karena pengetahuan
tentang sifat-sifat unsur masih sederhana, unsure-unsur tersebut kelihatannya
berbeda antara unsur yang satu dengan yang lainnya.

Secara kimia, sifat logam dikaitkan dengan keelektropositifan, yaitu


kecenderungan atas melepas elektron membentuk ion positif. Jadi sifat logam
bergantung pada energi ionisasi, semakin sukar bagi atom untuk melepas elektron,
dan semakin berkurang sifat logamnya. Sebaliknya, sifat nonlogam dikaitkan dengan
keelektronegatifan, yaitu kecanderungan atom menarik elektron. Dengan demikian,
sifat logam dan nonlogam dalam sistem periodik unsur adalah:

 Dari kiri ke kanan satu periode, sifat logam berkurang, sedangkan sifat
nonlogam bertambah.

 Dari atas ke bawah suatu golongan, sifat logam bertambah, sedangkan sifat
nonlogam berkurang.

Jadi, unsur logam terletak pada bagian kiri-bawah sistem periodik unsur,
sedangkan unsur nonlogam terletak pada bagian kanan-atas. Akan tetapi, yang
paling bersifat nonlogam adalah golongan VIIA, bukan golongan VIIIA. Unsur
yang terletak di bagian tengah, yaitu unsur yang terletak di sekitar daerah
perbatasan antara logam dan nonlogam, mempunyai sifat logam sekaligus
nonlogam. Unsur itu disebut unsur metalloid.

C. Sifat – Sifat Periodik Unsur

1. Jari-Jari Atom

Jari-jari atom adalah jarak dari inti hingga kulit elektron terluar.

 Dari atas ke bawah dalam satu golongan, jari-jari atom semakin besar

 Dari kiri ke kanan dalam suatu periode, jari-jari atom semakin kecil
Besar kecilnya jari-jari suatu atom ditentukan oleh dua faktor, yaitu jumlah inti
dan muatan inti.

 Untuk unsur-unsur segolongan, semakin banyak kulit atom, semakin


besar jari-jarinya.

 Untuk unsur-unsur seperiode, semakin besar muatan inti, maka


semakin kuat gaya tarik inti terhadap elektron, sehingga semakin kecil
jari-jarinya.

2. Energi Ionisasi

Besarnya energi yang diperlukan untuk melepas suatu elektron dari suatu atom netral
dalam wujud gas sehingga terbentuk ion berwujud gas dengan muatan +1 disebut
energi ionisasi.

Hubungan energi ionisasi dengan nomor atom, yaitu:

 Dalam satu golongan, dari atas ke bawah, energi ionisasi semakin kecil.

 Dalam satu periode, dari kiri ke kanan, energi ionisasi cenderung


bertambah.

Besar kecilnya energi ionisasi tergantung pada besar gaya tarik inti
terhadap elektron kulit terluar, yaitu elektron yang akan dilepaskan. Semakin
kuat gaya tgarik inti, semakin besar energi ionisasi.

 Dalam satu golongan, dari atas ke bawah, jari-jari atom bertambah


besar, sehingga gaya tarik inti terhadap electron terluar semakin lemah.
Oleh karena itu, energi ionisasi berkurang.

 Dalam satu periode, gaya tarik inti bertambah. Oleh karena itu, energi
ionisasi juga bertambah.

3. Afinitas Elektron

Afinitas elektron adalah energi yang menyertai penambahan 1 elektron


pada satu atom netral dalam wujud gas membentuk ion bermuatan -1.

 Dalam satu golongan, dari atas ke bawah, afinitas elektron cenderung


berkurang
 Dalam satu periode, dari kiri ke kanan, afinitas elektron cenderung
bertambah.

 Kecuali unsur alkali tanah dan gas mulia, semua unsur golongan utama
mempunyai afinitas elektron bertanda negatif. Afinitas elektron terbesar
dimiliki oleh golongan halogen.

4. Keelektronegatifan

Keelektronegatifan adalah suatu bilangan yang menggambarkan


kecenderungan relatif suatu unsur menarik elektron ke pihaknya dalam suatu
ikatan kimia.

 Dalam satu golongan, dari atas ke bawah, keelektronegatifan semakin


berkurang

 Dalam satu periode, dari kiri ke kanan, keelektronegatifan semakin


bertambah.
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Nama Sekolah : SMA................

Mata Pelajaran : Kimia

Kelas/Semester : X/I

Pertemuan Ke : 1 (satu)

Alokasi Waktu : 2 jam pelajaran

Standar Kompetensi

Memahami struktur atom, sifat-sifat periodik unsur dan ikatan kimia.

Kompetensi Dasar

Membandingkan proses pembentukan ikatan ion, ikatan kovalen koordinasi dan


ikatan logam serta hubungannya dengan sifat fisik senyawa yang terbetuk.

Indikator

 Menjelaskan kecenderungan suatu unsur untuk mencapai kesetabilannya


 Menggambarkan susunan elektron valensi atom gas mulia (duplet dan oktet)
dan elektron valensi bukan gas mulia (struktur Lewis)

I. Tujuan Pembelajaran
 Siswa dapat menjelaskan kecenderungan suatu unsur untuk mencapai
kesetabilannya
 Siswa dapat menggambarkan susunan elektron valensi atom gas mulia (duplet dan
oktet) dan elektron valensi bukan gas mulia (struktur Lewis)

II. Materi Pembelajaran


 Kestabilan unsur
 Aturan dublet dan oktet
 Struktur Lewis

III. Bahan Ajar (Terlampir)

IV. Metode Pembelajaran


Ceramah dan tanya jawab
V. Langkah-langkah Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran Alokasi Waktu

Pendahuluan 10 menit

Prasyarat : elektron valensi, unsur-unsur gas mulia

Motivasi : guru memberikan gambaran bagaimana kestabilan itu dapat


dicapai apabila terdapat

penambahan atau pengurangan dari jumlah suatu benda,


misalnya neraca akan stabil jika pada kedua timbangnnya
terdapat benda dengan jumlah yang sama

Kegiatan inti 55 menit

 Guru memberikan informasi tentang kecenderungan suatu unsur


mencapai kestabilannya.
 Guru menjelaskan tentang kaidah Duplet dan Oktet
 Guru menjelaskan tentang cara-cara suatu unsur mencapai
kestabilannya.
 Latihan soal
1. Jelaskan cara atom berikut untuk mencapai konfigurasi gas
mulia!
 3 LI
 9 F
2. Tulislah susunan elektron valensi yang sesuai dengan aturan
oktet untuk unsur 19K!
3. Bagaimana unsur barium dapat mencapai kestabilan
4. Buatlah konfigurasi elektron dari unsur Ca! Jelaskan dengan
cara apa unsur tersebut dapat mencapai kestabilan!
5. bagaimana unsur 16S dapat mencapai kestabilan?

 Guru menjelaskan tentang cara menggambar susunan elektron


valensi dengan menggunakan struktur Lewis
Penutup 15 menit

 Guru memberikan kesimpulan


 Guru memberikan post test
1. Jelaskan bagaimana 11Na mencapai kestabilan
2. a. Jelaskan apa yang dimaksud dengan aturan oktet
b. Dengan cara apa unusr bukan gas mulia dapat mencapai
konfigurasi oktet? Jelaskan!

3. Gambarkan struktur lewis dari 10Ne dan 8O


4. Gambarkanlah lambang Lewis untuk masing-masing ion
berikut. Apakah semuanya mempunyai konfigurasi oktet?
a. K+
b. S2-
5. Gambarkanlah lambang Lewis dari atom natrium dan ion
natrium. Jelaskan, manakah yang lebih stabil, atom natrium
atau ion natrium?
VI. Sumber Belajar
1) Buku teks kimia kelas X penerbit grafindo
2) Buku teks kimia kelas X penerbit erlangga
3) Tabel periodik unsur
VII. Penilaian
INDIKATOR JENIS CONTOH BENTUK KUNCI JAWABAN SKOR
TAGIHAN INSTRUMEN INSTRUMEN

Post test 1. Jelaskan Uraian 11 Na : 2 8 1 → 20


bagaimana 11 Na objektif
 Menjelaskan mencapai Na (2 8) + e-
kestabilan melepaskan satu
kecenderungan
elektron membentuk
suatu unsur untuk ion Na+
mencapai
2. a. Jelaskan apa a. Aturan Oktet 20
kesetabilannya yang dimaksud adalah aturan
 Menggambarkan dengan aturan dimana kulit terluar
oktet terisi oleh 8
susunan elektron b. Dengan cara elektron.
valensi atom gas apa unusr bukan b. Unsur bukan gas
gas mulia dapat mulia dapat
mulia (duplet dan mencapai
mencapai
oktet) dan elektron konfigurasi
konfigurasi oktet? elektron melalui
valensi bukan gas Jelaskan. pelepasan dan
mulia (struktur penangkapan
elektron
Lewis)
3. Gambarkan 10 Ne : 2 8 → 10
struktur lewis dari
10Ne dan 8O
Ne

8 O:2 6→

4. Gambarkanlah 25
lambang Lewis K
untuk masing-
masing ion berikut.
2
Apakah semuanya S
mempunyai
konfigurasi oktet?
a.K+
b.S2-

5. Gambarkanlah Na x 35
lambang Lewis dari
atom natrium dan Na x Na
ion natrium.
Jelaskan, manakah Yang lebih stabil yaitu
yang lebih stabil, ion Na sebab kulit
atom natrium atau terluarnya terisi 8
ion natrium? elektron

Kupang, Mei 2009

Mengetahui :

Kepala Sekolah SMA Negeri 3 Kupang Guru Mata Pelajaran :


1. Siti Q. Sado
2. Sri B.R. Ridja
BAHAN AJAR

Nama Sekolah : SMA................

Mata Pelajaran : Kimia

Kelas/Semester : X/I

Pertemuan Ke : 1 (satu)

Alokasi Waktu : 2 jam pelajaran

Standar Kompetensi

Memahami struktur atom, sifat-sifat periodik unsur dan ikatan kimia.

Kompetensi Dasar

Membandingkan proses pembentukan ikatan ion, ikatan kovalen koordinasi dan


ikatan logam serta hubungannya dengan sifat fisik senyawa yang terbetuk.

Indikator

 Menjelaskan kecenderungan suatu unsur untuk mencapai kesetabilannya


 Menggambarkan susunan elektron valensi atom gas mulia (duplet dan oktet)
dan elektron valensi bukan gas mulia (struktur Lewis)

KESTABILAN UNSUR, ATURAN DUBLET DAN OKTET SERTA STRUKTUR LEWIS

Pada umumnya materi di alam terdapat dalam molekul dan jarang sekali yang ada

dalam bentuk atom bebas. Atom-atom bergabung membentuk suatu senyawa melalui suatu

ikatan karena adanya gaya yang bekerja antara atom-atom atau ion-ion yang disebut ikatan

kimia. Pembentukkan ikatan ini bertujuan untuk mencapai kestabilan. Kestabilan suatu unusr

ditentukan oleh susunan elektron-elektronnya dalam atom. Susunan elektron yang stabil terdapat

pada gas mulia (golongan VIIIA).

Unsur Konfigurasi Elektron Elektron Valensi

He
2 2 2

10 Ne 2 8 8

18 Ar 2 8 8 8

36 Kr 2 8 18 8 8

54 Xe 2 8 18 18 8 8
86 Ra 2 8 18 32 18 8 8

Elektron valensi gas mulia adalah 8 (oktet), kecuali He yang memiliki elektron valensi

2 (duplet). Karena kulit terluarnya telah terisi penuh oleh elektron maka unsur-unsur gas

mulia lebih stabil.

Suatu atom yang belum stabil akan berusaha menjadi stabil dengan jalan

menyesuaikan susunan elektron valensinya agar seperti gas mulia dengan membentuk

ikatan kimia dengan atom lain.

Ada dua aturan bagi atom-atom yang berikatan untuk mencapai susunan elektron

seperti gas milia (konfikulasi elektron stabil):

a. Aturan oktet : kecendrungan atom-atom untuk memiliki 8 elektron di kulit terluar.

b. Aturan duplet : kecendrungan atom-atom untuk memiliki 2 elektron di kulit terluar seperti

helium.

Konfigurasi gas mulia dapat dicapai oleh suatu atom dengan berbagai cara sebagai

berikut:

- Melepaskan elektron : dalam membentuk suatu senyawa, atom-atom unsur yang

memiliki elektron valensi dalam jumlah sedikit, misalnya unsur-unsur golongan IA, IIA,

dan IIIA cendrung mengikuti kaidah oktet dengan cara melepaskan elektron untuk

membentuk ion positif. Unsur-unsur ini merupakan unsur-unsur logam (unsur

elektropositif).

Unsur Konfigurasi Elektron Valensi Cenderung Konfigurasi Gas

Elektron Melepas Elektron mulia

3 Li 2 1 1 1 2

4 Be 2 2 2 2 2

11 Na 2 8 1 1 1 2 8

19 K 2 8 8 1 1 1 2 8 8

- Menangkap elektron : dalam pembentukan suatu senyawa, atom-atom unsur yang

memiliki elektron valensi dalam jumlah banyak misalnya unsur-unsur golongan IVA, VA,

VIA, dan VIIA, memiliki kecondongan mengikuti kaidah oktet dengan cara menerima
elektron untuk membentuk ion negatif. Unsur-unsur ysng cenderung membentuk ion

negatif disebut elektronegatif. Unsur-unsur ini merupakan unsur-unsur non logam (unsur

elektronegatif).

Unsur Konfigurasi Elektron Valensi Cenderung Konfigurasi Gas

Elektron Melepas Elektron mulia

1 H 1 1 1 2

7 N 2 5 5 5 2 8

15 P 2 8 5 5 5 2 8 8

- Menggunakan pasangan elektron bersama antara atom-atom yang bergabung. Cara ini

merupakan pembentukan ikatan kovalen.

Struktur Lewis

Penggambaran distribusi elektron dalam suatu struktur molekul dengan

menggunakan tanda elektron barupa tanda titik (.) (kadang-kadang tanda bulatan atau tanda

silang x) disebut struktur Lewis. Cara penggambaran ini diperkenalkan oleh G. N. Lewis.

Tanda elektron ini menggambarkan jumlah elektron valensi. Lewis menggambarkan suatu

unsur terdiri atas lambang kimia dikelilingi oleh sejumlah titik atau silang yang

menggambarkan elektron yang mengelilingi inti atomnya.

Jika lambang unsur dilambangkan X, maka lambang Lewis untuk golongan utama adalah:

Golongan : IA IIA IIIA IVA VA VIA VIIA VIIIA

Lambang Lewis : X X X X X X X X

Lambang Lewis digunakan untuk menjelaskan ikatan kimia antar atom-atom,

meskipun rumus Lewis berlaku terutama untuk ikatan kovalen, tetapi juga dapat digunakan

untuk menggambarkan ikatan ion. Jadi, tanda titik dan silang kadang digunakan untuk

membedaka antara elektron-elektron dari dua atom yang berikatan.

Langkah-langkah untuk menulis struktur Lewis suatu molekul sebagai berikut:

 Menulis simbol atom unsurnya


 Menentukkan bilangan elektron valensiatom tersebut. Jika merupakan ion, tambahkan

elektron untuk setiap muatan negatif, atau kurangi elektron untuk setiap muatan

positif.

 Meletakkan titik (.) atau silang (x) yang mewakili elektron valensi pada sisi simbol

atom.

Contoh:

Simbol Atom Konfigurasi Elektron Valensi Rumus Molekul Lewis

Elektron

1 H 1 1 H atau H x

6 C 2 4 4 x
C atau x C x
x

12 Mg
2 8 2 2
Mg atau x Mg x

Kesimpulan

1. Suatu ikatan dapat terbentuk apabila setelah berikatan, atom-atom tersebut menjadi

lebih stabil dari sebelumnya. Kestabilan yang dimaksud adalah kestabilan dari

susunan elektronnya, yaitu menyamai susunan elektron atom-atom gas mulia.

2. Ada dua aturan bagi atom-atom yang berikatan agar susunan elektronnya menjadi

stabil yaitu aturan oktet yang berarti jumlah elektron terluarnya 8, dan aturan duplet

yang berarti jumlah elektron terluarnya 2.

3. Struktur Lewis merupakan simbol yang berupa notasi titik dan silang kecil untuk

mewakili elektron valensi

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Nama Sekolah : SMA.................


Mata Pelajaran : Kimia

Kelas/Semester : X/I

Pertemuan Ke : 2 (dua)

Alokasi Waktu : 2 jam pelajaran

Standar Kompetensi

Memahami struktur atom, sifat-sifat periodik unsur dan ikatan kimia.

Kompetensi Dasar

Membandingkan proses pembentukan ikatan ion, ikatan kovalen koordinasi dan


ikatan logam serta hubungannya dengan sifat fisik senyawa yang terbetuk.

Indikator

 Menjelaskan proses terbentuknya ikatan ion


 Menjelaskan proses terbentuknya ikatan kovalen tunggal, rangkap dua, dan
rangkap tiga

I. Tujuan Pembelajaran
 Siswa dapat menjelaskan proses pembentukan ion positif dan ion negatif
 Siswa dapat menjelaskan proses terjadinya ikatan ion dan contoh senyawa-
senyawanya
 Siswa dapat menjelaskan proses terbentuknya ikatan kovalen tunggal, rangkap dua,
dan rangkap tiga.

II. Materi Pembelajaran


 Pembentukan ion positif dan ion negatif
 Ikatan ion
 Ikatan kovalen (tunggal, rangkap dua, dan rangkap tiga)

III. Bahan Ajar (Terlampir)

IV. Metode Pembelajaran


Ceramah dan tanya jawab

V. Langkah-langkah Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran Alokasi Waktu

Pendahuluan 10 menit
Prasyarat : unsur-unsur logam dan non logam serta letaknya di
dalam sistem periodik.

Motivasi : guru memberikan contoh perbedaan sifat zat karena


perbedaan ikatan antar atom penyusun. Misalnya
Infardet Grafit yang tersusun dari atom karbon namun
memiliki sifat yang berbeda.

Kegiatan inti 65 menit

o Guru menjelaskan tentang pembentukan ion positif dan ion


negatif
o Latihan soal
Tentukan jumlah proton, neutron, dan elektron dari unsur-unsur di

bawah ini:


9
4 Be 2 
39
19 K


24
12 Mg 2 
85 , 5
37 Rb 

40
20 Ca 2 
Tentukan jumlah proton, neutron dan elektron dari unsur-unsur di

bawah ini :

a)
32
16 S 2 c)
14
7 N 3 e)
37
17 Cl 

b)
19
9 F d)
16
8 O 2

o Guru menjelaskan tentang pembentukan ikatan ion dan contoh


o Latihan soal
Gambarkan proses pembentukkan ikatan dari unsur-unsur

dibawah ini:

i. Na dengan O

ii. Mg dengan F

iii. Al dengan F

iv. Al dengan N

v. K dengan O

o Guru menjelaskan tentang pembentukan ikatan kovalen (kovalen


tunggal, rangkap dua, dan rangkap tiga)
o Guru menjelaskan tentang penulisan struktur Lewis pada ikatan
kovalen
o Latihan soal
Gambarkan proses pembentukkan ikatan kovalen pada

senyawa-senyawa di bawah ini, kemudian tentukanlah jumlah


PEB dan PEI:

 H2O

 Cl2

 CO2

 HCN

 C2H2
Penutup 10 menit

o Guru memberikan kesimpulan


o Guru memberikan tugas
1. Jelaskan mekanisme pembentukan ikatan kovalen! Unsur apa
saja yang dapat membentuk ikatan kovalen!
2. Mengapa senyawa NaF memiliki ikatan ion sedangkan
senyawa HF memiliki ikatan kovalen?
3. Jelaskan pembentukan ikatan yang terjadi pada molekul H2S!
4. Gambarkanlah struktur Lewis dari molekul SO2!
5. Jelaskan pembentukan ikatan yang terjadi pada molekul F2 !

VI. Sumber Belajar


 Buku teks kimia kelas X penerbit grafindo
 Buku teks kimia kelas X penerbit erlangga
 Charta tentang ikatan ion dan ikatan kovalen
VII. Penilaian
INDIKATOR JENIS CONTOH BENTUK KUNCI JAWABAN SKOR
TAGIHAN INSTRUMEN INSTRUMEN

 Menjelaskan Tugas Jelaskan Uraian Pembentukan ikatan 20


mandiri mekanisme objektif kovalen terjadi
proses
pembentukan melalui pemakaian
terbentuknya ikatan pasangan elektron
kovalen! bersama. Unsur-
ikatan ion
Unsur apa unsur yang berikatan
 Menjelaskan saja yang saling menyumbang
proses dapat elektron untuk
membentuk digunakan bersama
terbentuknya ikatan sehingga memenuhi
ikatan kovalen kovalen! aturan oktet ataupun
duplet. Unsur-unsur
tunggal, yang dapat
rangkap dua, membentuk ikatan
kovalen adalah
dan rangkap
unsur-unsur non
tiga. logam
Mengapa Senyawa NaF 20
senyawa NaF memiliki ikatan ion
memiliki karena mudah
ikatan ion melepaskan maupun
sedangkan menangkap elektron.
senyawa HF Na akan melepaskan
memiliki satu elektron
ikatan sedangkan F akan
kovalen? menangkap elektron
yang dilepaskan oleh
Na. Energi yang
dibutuhkan untuk
melepaskan elektron
maupun menangkap
elektron sangat kecil.
Pada senyawa HF
dibutuhkan energi
yang besar untuk
melepaskan maupun
menangkap elektron
sehingga untuk
mencapai kestabilan,
atom H dan F saling
berikatan melalui
pemakaian bersama
pasangan elektron.

Jelaskan 1 H=1 25
pembentukan
ikatan yang 16 S=2 8 6
terjadi pada
S akan meminjam 2
molekul H2S!
elektron dari 2 atom
H sehingga mencapai
konfigurasi seperti
gas mulia

xx
x Sxx x H
H

Gambarka 16 S=2 8 6 25
nlah
struktur O=2 6
8

Lewis dari
molekul
SO2! xx
O S O
xx
xx

Jelaskan 9 F=2 7 10
pembentukan
ikatan yang Atom F akan saling
terjadi pada meminjam 1 elektron
molekul F2 ! sehingga membentuk
senyawa F2.

xx
x F
xx

F
xx
Kupang, Mei 2009

Mengetahui :

Kepala Sekolah SMA Negeri 3 Kupang Guru Mata Pelajaran :

1. Siti Q. Sado
2. Sri B.R. Ridja
BAHAN AJAR

Nama Sekolah : SMA.................

Mata Pelajaran : Kimia

Kelas/Semester : X/I

Pertemuan Ke : 2 (dua)

Alokasi Waktu : 2 jam pelajaran

Standar Kompetensi

Memahami struktur atom, sifat-sifat periodik unsur dan ikatan kimia.

Kompetensi Dasar

Membandingkan proses pembentukan ikatan ion, ikatan kovalen koordinasi dan


ikatan logam serta hubungannya dengan sifat fisik senyawa yang terbetuk.

Indikator

 Menjelaskan proses terbentuknya ikatan ion


 Menjelaskan proses terbentuknya ikatan kovalen tunggal, rangkap dua, dan
rangkap tiga

PEMBENTUKAN ION POSITIF DAN ION NEGATIF, IKATAN ION DAN IKATAN KOVALEN
TUNGGAL (TUNGGAL, RANGKAP DUA, DAN RANGKAP TIGA)

A. Ikatan Ion

Ikatan ion terjadi akibat gaya tarik menarik elektrostatik antara ion positif da ion

negatif. Jadi, ikatan ion adalah ikatan yang terbentuk dari atom yang mudah melepaskan

elektron dengan atom yang mudah menangkap elektron.

Kapan ion positif dan negatif terbentuk?

1. Pembentukkan ion positif

Ion positif terbentuk ketika suatu atom melepaskan elektron. Atom yang

cenderung melepaskan elektron adalah atom-atom golongan IA dan IIA (atom logam).

Golongan-golongan ini memiliki potensial elektro valensi 1 dan 2.

Contoh:

 11 Na konfigurasi elektronnya : 2 8 1 (1 sebagai elektron valensi).


Untuk mencapai kondisi seperti gas mulia maka atom Na akan melepaskan 1

elektron yang paling luar. Dengan melepaskan 1 elektron maka natrium membentuk

ion positif seperti pada reaksi di bawah ini:

Na (2 8 1) → Na+ (2 8) + e

 4 Be konfigurasi elektronnya : 2 2 (2 sebagai elektron valensi).

Untuk mencapai kondisi seperti gas mulia maka atom Be akan melepaskan 2

elektron yang paling luar. Dengan melepaskan 2 elektron maka Berilium membentuk

ion positif seperti pada reaksi di bawah ini:

Be (2 2) → Be2+ ( 2 ) + 2e

Jadi pada pembentukkan ion positif terjadi pengurangan elektron tetapi jumlah

protonnya tetap.

Perhitungan partikel dalam ion positif

NM a+

NA

dimana: jumlah proton = NA

jumlah neutron = NM – NA

jumlah elektron = NA – a

jumlah muatan positif =a

Contoh:

23
11 Na  maka P  11

N  23  11  12

E  11  1  10

2. Pembentukkan Ion Negatif

Ion negatif terbentuk ketika suatu atom menangkap elektron. Atom yang

cendrung menerima elektron adalah atom-atom golongan VIA dan VIIA (atom non

logam). Golongan-golongan ini memiliki potensial tinggi serta memiliki elektron valensi

6 dan 7.
Contoh:

1) 8O konfigurasi elektronnya : 2 6 (6 sebagai elektron valensi)

Untuk mencapai kondisi seperti gas mulia maka atom O akan menangkap 2

elektron. Dengan menangkap 2 elektron maka oksigen membentuk ion negatif

seperti pada reaksi dibawah ini

O (2 6) + 2e → O2- (2 8)

2). 9F konfigurasi elektronnya : 2 7 (7 sebagai elektron valensi)

Untuk mencapai kondisi seperti gas mulia maka atom F akan menangkap

elektron. Dengan menangkap 1 elektron maka flor membentuk ion negatif seperti

pada reaksi di bawah ini:

F (2 7) + e → F- (2 8)

Perhitungan partikel dalam ion negatif

NM a-

NA

Dimana : ∑ Proton = NA

∑ Neutron = NM – NA

∑ Elektron = NA – a

3. Pembentukan Ikatan Ion

Pembentukan ikatan ion terjadi karena serah terima elektron dari suatu atom ke

atom yang memiliki muatan berbeda sehingga terjadi gaya tarik menarik. Ikatan ion

terjadi antara atom yang mudah melepaskan elektron (atom logam) dengan atom

yang yang mudah menangkap elektron (atom non logam).

Contoh:

 Na dan F membentuk NaF

Na (2 8 1) → Na+ (2 8) + e
F (2 7) + e → F- (2 8)

xF
Na x F Na NaF

 Pembentukkan MgS

12 Mg (2 8 2) → Mg2+ (2 8) + 2e

16 S (2 8 6) + 2e → S2- (2 8 8)

2 2
xS
x Mg x S Mg x MgS

Pada ikatan ion antara golongan IIA dengan golongan VIIA, golongan IIA melepaskan

2 elektron sedangkan golongan VIIA menerima 1 elektron. Padahal jumlah elektron

yang dilepaskan harus sama dengan jumlah elektron yang diterima, sehingga

golongan VIIA harus dikalikan 2.

Contoh:

 Pembentukkan MgS

12 Mg (2 8 2) → Mg2+ (2 8) + 2e

17 Cl (2 8 7) + e → S2- (2 8 8) x2

xCl

Cl
2
x Mg x Mg MgCl2
x
Cl Cl

B. Ikatan Kovalen
Ikatan kovalen adalah ikatan yang terjadi karena penggunaan bersama pasangan

elektron oleh dua atau lebih atom yang berikatan sehingga memenuhi aturan oktet maupun

duplet. Atom-atom yang berikatan kovalen adalah atom-atom nonlogam.

Penggambaran penggunaan bersama pasangan elektron dalam atom biasanya

menggunakan notasi (.) dan tanda (x) atau lebih dikenal dengan struktur Lewis.

Contoh:

Pembentukkan senyawa CH4

Jawab:

 Untuk menggambarkan struktur Lewis yang pertama kali harus menyusun konfigurasi

elektron

C = (2 4),
6

H =1
1

 Langkah selanjutnya kita gambar strukturnya sesuai dengan jumlah elektron valensinya.

Perhatikan gambar struktur Lewis berikut:

Hx

Untuk mebentuk kaidah oktet (8 e.v), maka i ataom C akan berikatan dengan 4
atom H. Gambar struktur Lewisnya:

Muatan molekul

H
x

H x C x H

Ikatan kovalen terdiri dari ikatan kovalen tunggal, ikatan kovalen rangkap dua dan ikatan
kovalen rangkap tiga

a) Ikatan Kovalen Tunggal


Ikatan kovalen tunggal adalah ikatan kovalen yang terjadi karena penggunaan

bersama satu pasang elektron. Ikatan ini digambarkan dengan satu garis lurus.

Ikatan ini terjadi pada atom H2, HF, CH4, dan lain-lain.

Contoh:

 Ikatan antara C dan H dalam molekul CH4

C
C, struktur Lewisnya
6

H, struktur lewisnya H x
1

Ikatan kovalen tunggal

H
x

H x C x H
x

 Ikatan antara H dengan H dalam molekul H2

H, struktur lewisnya H
1

H, struktur lewisnya H
1

Struktur H2 sebagai berikut :

H H H x H

Ikatan kovalen tunggal

b) Ikatan Kovalen Rangkap Dua

Ikatan kovalen rangkap dua adalah ikatan kovalen yang terjadi karena

penggunaan bersama dua pasang elektron. Ikatan ini digambarkan dengan dua garis

lurus.

Ikatan ini terjadi pada atom O2, C2H4, dan lain-lain.

 Ikatan antara atom O dengan atom O yang lain dalam molekul O2


PEB

xx
O O x atau O O
O x O
xx

PEI

Ikatan kovalen rangkap 2

c) Ikatan Kovalen Rangkap Tiga

Ikatan kovalen rangkap tiga ikatan kovalen yang terjadi karena penggunaan

bersama tiga pasang elektron. Ikatan ini digambarkan dengan tiga garis lurus.

. Ikatan ini terjadi pada atau N2, C2H2 dan lain-lain.

Contoh:

 N2 mempunyai konfigurasi elektron untuk atom 5N = 2 3, dan elektron valensinya

= 3. dalam struktur lewis molekul N2, atom N memiliki 3 elektron tidak

berpasangan. Jika dua atom nitrogen berikatan, setiap elektron yang tidak

berpasangan saling berikatan dan membentuk struktur lewis sebagai berikut

x
N N N x N atau N N
xx

PEI

Ikatan kovalen rangkap 3

C. Penyimpangan Kaidah Oktet

Penyimpangan ini dapat terjadi pada senyawa kovalen yang struktur Lewis tidak oktet.

Misalnya pada senyawa BeH2, BF3, BCl3, BH3, NO dan NO2, dimana atom Be, B dan N

memiliki elektron kurang dari 8 serta molekul PF 5, PCl5 dan SF6 dimana atom P dan S

memiliki elektron lebih dari 8.


Contoh:

1) Pembentukan molekul BCl3.

5 B dengan konfigurasi elektrron : 2 3 digambarkan B

xx

xx
Cl x
17 Cl dengan konfigurasi elektron 2 8 7 di gambarkan xx

Penggambaran elektron untuk molekul BCl3 adalah sebagai berikut :

xx
Cl
xx
xx

x
Cl
xx xx
Cl atau Cl B Cl
xx

x B Cl
xx

x
xx xx

2) pembentukan Molekul BH3

5 B dengan konfigurasi elektron: 2 3 digambarkan

1 H dengan konfigurasi elektron: 1 digambarkan x H

Pengembangan elektron untuk molekul BH3 adalah sebagai berikut:

x
H

H x B atau H B H
x H

Kesimpulan:
1. Ion positif terbentuk ketika suatu atom melepaskan elektron, sedangkan Ion negatif

terbentuk ketika suatu atom menangkap elektron.

2. Ikatan kovalen tunggal adalah ikatan kovalen yang terjadi karena penggunaan

bersama satu pasang elektron.

3. Ikatan kovalen rangkap dua adalah ikatan kovalen yang terjadi karena penggunaan

bersama dua pasang elektron.

4. Ikatan kovalen rangkap tiga adalah ikatan kovalen yang terjadi karena penggunaan

bersama tiga pasang elektron.


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Nama Sekolah : SMA…….


Mata Pelajaran : Kimia
Kelas / Semester : X/1
Pertemuan ke- : 3 (tiga)
Standar Kompetensi : Memahami struktur atom, sifat-sifat periodik unsur
dan ikatan kimia.
Kompetensi Dasar : Membandingkan proses pembentukan ikatan ion,
ikatan kovalen, ikatan kovalen koordinasi, dan ikatan
logam serta hubungannya dengan sifat fisik senyawa
yang terbentuk.
Indikator : - Menjelaskan proses terbentuknya ikatan koordinasi
pada beberapa senyawa
- Menyelidiki kepolaran beberapa senyawa dan
hubungannya dengan keelektronegatifan melalui
percobaan
Alokasi Waktu : 2 jam pelajaran ( 2 x 45 menit ).

I. Tujuan Pembelajaran
1. Aspek Kognitif, siswa dapat:
 menjelaskan proses terbentuknya ikatan koordinasi pada beberapa senyawa
 mengetahui kepolaran beberapa senyawa dan hubungannya dengan
keelektronegatifan melalui percobaan
2. Aspek Afektif, siswa dapat :
 patuh melaksanakan tugas belajar.
 aktif mengikuti kegiatan pembelajaran (di kelas maupun di laboratorium)
 memiliki respon (mengemukakan pendapat) yang baik terhadap mata
pelajaran yang disapaikan.
3. Aspek Psikomotorik
 Siswa diharapkan dapat menuliskan rumus kimia yang terbentuk pada ikatan
kovalen.

II. Materi Ajar / Pembelajaran


 Ikatan Kovalen Koordinasi
 Kepolaran Senyawa

III. Metode Pembelajaran


Metode : Diskusi kelompok, eksperimen, diskusi informasi, dan tanya-
jawab.
Pendekatan : Konsep
Media : Bahan ajar, LKS (terlampir)

IV. Langkah-langkah Pembelajaran


No. Kegiatan Waktu
I. Kegiatan awal : 10 menit
Prasyarat : Tulis struktur Lewis dari 10Ne!
Motivasi : Tentukan ikatan apakah yang akan terbentuk antara
satu atom S dengan tiga atom O
II. Kegiatan Inti : 70 menit
 Guru menjelaskan tentang ikatan kovalen koordinasi
 Guru menjelaskan tentang kepolaran senyawa, dilanjutkan
dengan percobaan yang dilakukan secara singkat
menggunakan LKS (terlampir).
 Guru melakukan tanya-jawab dan latihan soal
III.1. Kegiatan akhir 10 menit
 Guru bersama siswa menyimpulkan apa yang telah
dipelajari maupun yang telah dipraktekkan.
 Guru memberikan tugas individu kepada siswa, termasuk
tugas pembuatan laporan percobaan yang telah dilakukan.

V. Alat / Bahan / Sumber Belajar


 KIMIA jilid 1 untuk kelas X, Penerbit Erlangga (2007) Jakarta, karangan Michael
Purba.
 KIMIA Untuk SMA/MA Kelas X, Penerbit Grasindo (2007) Jakarta, Karangan
Suyatno, Aris Purwadi, Henang Widayanto, Kuncoro PR.
 PANDUAN KIMIA PRAKTIS SMA, Penerbit Pustaka Widyatama (2008) Jakarta,
Karangan Adi Krisbiyantoro.

VI. Penilaian
a. Jenis tagihan
 Tugas individu
 Laporan percobaan
b. Bentuk instrument : Tes tertulis.
c. Contoh instrument
Soal tugas:
1. Jelaskan proses terbentuknya ikatan kovalen koordinasi!
2. Tunjukkan ikatan kovalen koordinasi yang terjadi pada senyawa SO 3!
3. Bagaimana cara menentukan kepolaran suatu senyawa?
d. Kunci jawaban dan pedoman penskoran
No. Jawaban Skor
1. Proses terbentuknya ikatan kovalen koordinasi dapat terjadi bila : 15
 Pasangan elektron yang digunakan secara bersama hanya
berasal dari salah satu atom yang berikatan.
 Salah satu atom yang berikatan memiliki pasangan elektron
bebas (PEB).
2. Ikatan kovalen yang terjadi pada senyawa SO3 adalah sebagai 20
berikut :
3. Kepolaran suatu zat dapat ditentukan dengan mengamati 15
perilaku zat tersebut dalam medan magnet. Zat polar akan
tertarik dalam medan magnet, sedangkan zat nonpolar tidak.
Senyawa akan bersifat polar jika pada atom pusat dari molekul
senyawa tersebut terdapat pasangan elektron bebas (PEB)
sehingga bentuk molekulnya menjadi tidak simetris.
Total nilai 50

Kupang, Juni 2009


Mengetahui, Calon Guru Kimia
Kepala Sekolah

(……………………...) 1. Sri Budiyanti R. Ridja


2. Siti Q. Sado
BAHAN AJAR

Nama Sekolah : SMA....


Mata Pelajaran : Kimia
Kelas / Semester : X/1
Pertemuan ke- : 3 (tiga)
Standar Kompetensi : Memahami struktur atom, sifat-sifat periodik unsur
dan ikatan kimia.
Kompetensi Dasar : Membandingkan proses pembentukan ikatan ion,
ikatan kovalen, ikatan kovalen koordinasi, dan ikatan
logam serta hubungannya dengan sifat fisik senyawa
yang terbentuk.
Indikator : - Menjelaskan proses terbentuknya ikatan koordinasi
pada beberapa senyawa
- Menyelidiki kepolaran beberapa senyawa dan
hubungannya dengan keelektronegatifan melalui
percobaan
Alokasi Waktu : 2 jam pelajaran ( 2 x 45 menit ).

IKATAN KOVALEN KOORDINASI

Ikatan kovalen koordinasi merupakan ikatan yang terbentuk antara ikatan atom
non logam dengan atom unsur non logam. Dalam ikatan ini terjadi pemakaian
bersama elektron dari salah satu unsur. Atau dengan kata lain, ikatan kovalen
koordinasi adalah ikatan kovalen dimana pasangan elektron yang digunakan
bersama berasal dari satu atom saja.

Ikatan kovalen koordinasi dapat dicontohkan seperti di bawah ini.

Contoh : Amonia (NH3) dapat bereaksi dengan boron triklorida (BCl 3) membentuk
senyawa NH3.BCl3. bagaimanakah bentuk ikatan antara dua molekul tersebut?
Perhatikan rumus elektron dari NH3 dan BCl3 berikut ini.

Pasangan elektron bebas belum oktet

Atom N dalam NH3 sudah oktet dan mempunyai sepasang elektron bebas. Di pihak
lain, atom B dalam BCl3 sudah memasangkan semua elektron valensinya, namun
balum oktet. Seperti yang diketahui, atom N (dari NH 3) dan atom B (dari BCl3) dapat
berkaitan dengan menggunakan bersama pasangan elektron bebas dari atom N.
Ikatan seperti itu kita sebut ikatan kovalen koordinasi atau ikatan semipolar.
Dalam menggambarkan strukutr molekul, ikatan kovalen koordinat dinyatakan
dengan garis berpanah dari atom donor menuju akseptor pasangan elektron. Rumus
elektron dan rumus struktur NH3.BCl3 sebagai berikut.
Gambar. Pembentukan ikatan kovalen kordinasi dalam NH 3.BCl3
. . ...
..
.. H
.. Cl
H .. Cl Cl H ....
. ..B Cl.
.. N . .... .... .. N
.... .... . N B
H + B Cl H Cl atau H
.. ..
.. .. .. .. ..
. .. Cl.
.. H
.. ..
H Cl Cl H ..
Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh berikut ini.
.. ..
Contoh:

Ikatan kovalen koordinat dalam ion NH4+

NH4+ terbentuk dari reaksi antara NH 3 dengan ion H+. Atom N dalam NH3 mempunyai
sepasang elektron bebas, sementara ion H + sudah tidak mempunyai elektron.
Elektron bebas dari atom N kemudian digunakan bersama dengan ion H +.

H
H
.. ..
+
H
+

H .. N .. + H
+
H .. N . H atau

H
.. .. H N H
H H

POLARISASI IKATAN KOVALEN

Apakah anda dapat menjelaskan mengapa minyak sukar larut dalam air? Peristiwa
itu berkaitan dengan pokok bahasan berikut, yaitu molekul polar dan molekul
nonpolar.

1. Ikatan Kovalen Polar dan Kovalen Nonpolar


Di atas, telah dijelaskan hakikat ikatan kovalen, yaitu ikatan yang terbentuk
karena menggunakan sepasang elektron bersama. Namun dekimian, kedudukan
pasangan elektron milik bersama itu selalu simetris terhadap kedua atom yang
berkaitan. Pasangan elektron akan lebih dekat ke arah atom yang mempunyai
keelektronegatifan lebih besar. Hal ini mengakibatkan polarisasi atau pengutuban
ikatan.

(a) Nonpolar (b) Polar

Pada contoh (a), kedudukan pasangan elektron ikatan sudah pasti simetris
terhadap kedua atom H. Dalam molekul H 2 tersebut, muatan negatif (elektron)
terbesar secara homogen. Ikatan seperti itu disebut ikatan kovalen nonpolar.
Pada contoh (b), pasangan elektron ikatan tertarik lebih dekat ke atom Cl, karena
Cl mempunyai daya tarik elektron lebih besar daripada H. Akibatnya, pada HCl
terjadi polarisasi, dimana atom Cl lebih negatif daripada atom H. Ikatan seperti itu
disebut ikatan kovalen polar.

2. Model Polar dan nonpolar


Molekul dengan ikatan kovalen nonpolar, seperti H 2, Cl2, dan N2 sudah tentu
bersifat nonpolar. Tetapi, molekul dengan ikatan polar bisa bersifat polar, bisa pula
bersifat nonpolar, bergantung pada geometri (bentuk) molekulnya. Meski ikatan
yang bersifat polar, jika molekul berbentuk simetris, maka secara keseluruhan
molekul itu akan bersifat nonpolar.

Perhatikan beberapa molekul berikut.

H2O BeCl2 NH3 BF3


bengkok linear piramida segitiga planar
Molekul H2O dan NH3 bersifat polar karena ikatan O – H maupun N – H
bersifat polar (ada perbedaan keelektronegatifan) dan bentuk molekul tidak
simetris. Elektron tidak tersebar merata. Dalam molekul H 2O, pusat muatan (pol)
negatif terletak pada atom O, sedangkan pol positif terletak di antara kedua atom
H. Dalam molekul NH3 pol negatif terletak pada atom N (puncak piramida),
sedangkan pol positif terletak pada bidang alasnya. Bagaimana halnya dengan
molekul BeCl2 dan BF3? Walaupun ada perbedaan keelektronegatifan antara Be
dengan Cl dan B dengan F, molekul BeCl 2 dan BF3 bersifat nonpolar karena
bentuk molekulnya simetris, elektron tersebar merata. Kita tidak dapat
mengatakan sisi sebelah mana lebih positif dan sisi sebelah mana lebih negatif
dari kedua molekul (BeCl2 atau BF3) itu, bukan?

Memeriksa kepolaran dari suatu molekul poliatom dapat dilakukan dengan


menggambarkan ikatan polar sebagai suatu vektor yang arahnya dari atom yang
bermuatan positif ke atom yang bermuatan negatif, jika resultan vektor-vektor
dalam suatu molekul sama dengan nol, berarti molekul itu bersifat nonpolar.
Sebaliknya, jika resultan vektor-vektor tersebut tidak sama dengan nol, berarti
molekul itu bersifat polar. Perhatikan beberapa contoh berikut.

H2O BeCl2 NH3 BF3


(Polar) (Nonpolar) (Polar) (Nonpolar)

3. Menunjukkan kepolaran
Kepolaran suatu zat dapat ditentukan dengan mengamati perilaku zat itu dalam
medan magnet, zat polar tertarik ke dalam medan magnet, sedangkan zat
nonpolar tidak.

4. Momen Dipol
Kepolaran dinyatakan dalam suatu besaran yang disebut momen dipol (μ), yaitu
hasil kali antara selisih muatan (Q) dengan jarak (r) antara pusat muatan positif
dengan pusat muatan negatif.

μ=Qxr

Satuan momen dipol adalah debye (D), dimana 1 D = 3,33 x 10 -30 C m.


Semakin polar suatu zat, semakin besar momen dipolnya. Zat nonpolar
mempunyai momen dipol sama dengan nol. Sekarang dapatlah diketahui
mengapa minyak tidak bercampur dengan air. Hal itu terjadi karena air bersifat
polar, sedangkan minyak bersifat nonpolar. Zat polar cenderung lebih tertarik pada
zat polar, sedangkan zat nonpolar lebih cenderung tertarik pada zat nonpolar.
Oleh karena itu, kedua zat itu tidak saling bercampur. Namun, minyak bisa saja
terlarut dalam tetraklorometana (CCl4).
LEMBAR KERJA SISWA

Judul : Membedakan Zat Polar dan Zat Non Polar


Mata Pelajaran : Kimia
Kelas/Semester : I/I
Tempat : Laboratorium SMA....

A. TUJUAN
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah agar siswa dapat mengetahui perbedaan
zat polar dan non polar
B. PETUNJUK BELAJAR
Siswa dapat membaca materi mengenai polarisasi senyawa.
C. RINGKASAN MATERI
Kepolaran suatu zat dapat ditentukan dengan mengamati perilaku zat itu dalam
medan magnet, zat polar akan tertarik ke dalam medan magnet, sedangkan zat
nonpolar tidak.
D. KEGIATAN
a. Alat dan Bahan yang digunakan
 Alat : buret dan magnet batang
 Bahan : aquades dan minyak tanah
b. Cara Kerja
 Meletakkan buret pada statif dengan posisi yang benar.
 Isi buret dengan aquades. Buka kran buret dan dekatkan magnet batang
pada cucuran air. Perhatikan apakah cucuran air tertarik magnet atau tidak.
Catatan : jika magnet tidak tersedia, sebagai gantinya bisa digunakan
penggaris plastik yang digosokkan terlebih dahulu pada kain wol
atau rambut.
 Ganti buret dengan buret yang bersih dan kering. Kemudian ulangi proseur
dua di atas dengan menggunakan minyak tanah. Lakukan dengan hati-hati
karena minyak tanah mudah terbakar.
c. Pertanyaan/Analisis Data
 Zat manakah yang tertarik oleh magnet?
 Mengapa zat tersebut tertarik oleh magnet?
Tariklah kesimpulan dari kegiatan ini.

Selamat Bekerja
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Nama Sekolah : SMA…….


Mata Pelajaran : Kimia
Kelas / Semester : X/1
Pertemuan ke- : 4 (empat)
Standar Kompetensi : Memahami struktur atom, sifat-sifat periodik unsur
dan ikatan kimia.
Kompetensi Dasar : Membandingkan proses pembentukan ikatan ion,
ikatan kovalen, ikatan kovalen koordinasi, dan ikatan
logam serta hubungannya dengan sifat fisik senyawa
yang terbentuk.
Indikator : - Mendeskripsikan proses pembentukan ikatan logam
dan hubungannya dengan sifat fisik logam.
- Menghubungkan sifat fisis materi dengan jenis
ikatan
Alokasi Waktu : 2 jam pelajaran ( 2 x 45 menit ).

I. Tujuan Pembelajaran
1. Aspek Kognitif, siswa dapat:
 mendeskripsikan proses pembentukan ikatan logam dan hubungannya
dengan sifat fisik logam.
 menjelaskan hubungkan sifat fisis materi dengan jenis ikatan
2. Aspek Afektif, siswa dapat :
 patuh melaksanakan tugas belajar.
 aktif mengikuti kegiatan pembelajaran
 dengan tepat merespon pelajaran (mengemukakan pendapat).
3. Aspek Psikomotorik, siswa dapat :
 menuliskan gambaran pembentukan ikatan logam.

II. Materi Ajar / Pembelajaran


 Ikatan Logam
 Sifat Fisis Materi dalam Ikatan

III. Metode Pembelajaran


Metode : Diskusi kelompok, diskusi informasi, dan tanya-jawab.
Pendekatan : CTL dan konsep
Media : Charta
IV. Langkah-langkah Pembelajaran
No. Kegiatan Waktu
I. Kegiatan awal : 10 menit
Prasyarat : Jelaskan bagaimana terbentuknya ikatan kovalen!
Motivasi : Mengapa tembaga dan seng membentuk ikatan
logam?

II. Kegiatan Inti : 70 menit


 Guru menjelaskan tentang proses pembentukan ikatan
logam dan hubungannya dengan sifat fisik logam.
 Guru menjelaskan hubungan antara sifat fisis materi
dengan jenis ikatannya.
 Guru melakukan tanya-jawab dengan siswa, serta
memberikan beberapa contoh.
III. Kegiatan Akhir: 10 menit
 Guru bersama siswa menyimpulkan apa yang telah
dipelajari bersama.
 Guru memberikan tugas/PR individu kepada siswa.

V. Alat / Bahan / Sumber Belajar


 KIMIA jilid 1 untuk kelas X, Penerbit Erlangga (2007) Jakarta, karangan
Michael Purba.
 KIMIA Untuk SMA/MA Kelas X, Penerbit Grasindo (2007) Jakarta, Karangan
Suyatno, Aris Purwadi, Henang Widayanto, Kuncoro PR.
 RUMUS LENGKAP KIMIA SMA, Penerbit Wahyu Media (2008) Jakarta,
Karangan Anwar Santoso.

VI. Penilaian
a. Jenis tagihan
 Tugas individu berupa PR
b. Bentuk instrument : pekerjaan tertulis.
c. Contoh Instrument
Soal tugas :
1. Jelaskan secara singkat bagaimana ikatan logam dapat terbentuk!
2. Sebutkan minimal dua perbandingan sifat fisis senyawa ion dan senyawa
kovalen!
d. Kunci jawaban dan pedoman penskoran
No. Jawaban Skor
1. Proses terbentuknya ikatan logam dapat terjadi bila : 25
Elektron valensi yang terdapat di dalam logam, membaur
membentuk awan elektron yang menyelimuti ion-ion positif logam
yang telah melpaskan sebagian elektron valensinya. Akibatnya,
terjadi interaksi antara kedua muatan (elektron bermuatan negatif
dengan ion logam yang bermuatan positif) yang berlawanan dan
akan membentuk ikatan logam.
2. Dua perbandingan sifat fisis senyawa ion dan senyawa kovalen 25
diantaranya adalah sebagai berikut :
 Senyawa ion :
- mempunyai titik didih dan titik leleh yang tinggi
- cairan dan larutannya dapat menghantarkan listrik
(berifat elektrolit).
 Senyawa kovalen :
- mempunyai titik didih dan titik leleh yang rendah.
- cairannya tidak dapat menghantarkan listrik.
Total nilai 50

Kupang, April 2009


Mengetahui, Calon Guru Kimia
Kepala Sekolah

(……………………...) 1. Sri Budiyanti R. Ridja


2. Siti Q. Sado
BAHAN AJAR

Nama Sekolah : SMA…….


Mata Pelajaran : Kimia
Kelas / Semester : X/1
Pertemuan ke- : 4 (empat)
Standar Kompetensi : Memahami struktur atom, sifat-sifat periodik unsur
dan ikatan kimia.
Kompetensi Dasar : Membandingkan proses pembentukan ikatan ion,
ikatan kovalen, ikatan kovalen koordinasi, dan ikatan
logam serta hubungannya dengan sifat fisik senyawa
yang terbentuk.
Indikator : - Mendeskripsikan proses pembentukan ikatan logam
dan hubungannya dengan sifat fisik logam.
- Menghubungkan sifat fisis materi dengan jenis
ikatan
Alokasi Waktu : 2 jam pelajaran ( 2 x 45 menit ).

IKATAN LOGAM

Telah diketahui bersama, bahwa logam mempunyai sifat dapat ditempa


(maleable), dapat tarik (ductile), dan merupakan konduktor yang baik. Sifat-sifat
tersebut dapat diperoleh dimana dengan mengetahui bahwa unsur logam mempunyai
sedikit elektron valensi yang kecil. Oleh karena itu, kulit terluar unsur logam relatif
longgar (terdapat banyak tempat kosong), sehingga elektron dapat berpindah dari
satu atom ke atom yang lain. Mobilitas elektron dalam sedemikian bebasnya,
sehingga elektron valensi logam mengalami delokalisasi, yanitu suatu keadaan
dimana suatu elektron valensi tersebut tidak tetap posisinya pada satu atom, tetapi
senantiasa berpindah-pindah dari satu atom ke atom yang lain. Atau dengan kata lain
dapat dikatakan bahwa elektron valensi yang kecil menyebabkan elektron dapat
bergerak bebas dan sangat mudah dilepaskan, akibatnya elektron-elektron valensi
tersebut bukan hanya milik hanya salah satu ion logam, tetapi merupakan milik
bersama ion-ion logam yang berada dalam kisi kristal logam. Elektron-elektron
valensi tersebut berbaur sehingga menyerupai awan atau lautan yang membungkus
ion-ion positif ligam di dalamnya. Jadi, struktur logam dapat dibayangkan sebagai ion-
ion positif yang dibungkus oleh awan atau lautan elektron valensi.

Struktur logam dapat menjelaskan sifat-sifat khas logam, seperti daya hantar
listrik, sifat dapat ditempa dan dapat ditarik. Logam merupakan konduktor yang baik
karena elektron valensinya mudah mengalir. Logam dapat ditempa atau dapat ditarik
karena ketika logam dipukul atau ditarik, atom-atom logam hanya bergeser sehingga
ikatan diantaranya tidak terputus. Contoh ikatan logam adalah tembaga dan seng
yang dapat membentuk kuningan (brass).
PERBANDINGAN SIFAT SENYAWA ION DENGAN SENYAWA KOVALEN

Telah dipelajari, bahwa senyawa antara unsur logam dan nonlogam bersifat
ionik, sedangkan senyawa antarsesama nonlogam bersifat kovalen. Sebenarnya
tidak ada senyawa yang 100% ionik atau 100% kovalen. Misalnya dapat dikatakan
bahwa CsF merupakan senyawa yang paling ionik, sedangkan molekul unsur, seperti
F2, dapat dianggap sebagai 100% kovalen. Kebanyakan senyawa-senyawa lain
terletak diantara dua keadaan ekstrim ini.

F2 AlI3 AlCl3 AlF3 CsF


100% kovalen cenderung kovalen kovalen-ionik cenderung ionik 100% ionik

Oleh karena itu, untuk memastikan suatu senyawa bersifat ionik atau kovalen,
khususnya jika perbedaan keelektronegatifan tidak terlalu besar, perlu dilakukan
pengamatan pada sifat-sifatnya. Antara senyawa ion dan senyawa kovalen terdapat
beberapa perbedaan sifat secara fisik , diantaranya sebagai berikut :

a. Titik Didih
Titik didih senyawa kovalen relatif rendah, sedangkan senyawa ion relatif tinggi.
Kebanyakan senyawa kovalen mendidih di bawah 200 oC, sedangkan senyawa
ion umumnya mendidih di atas 900 oC. Pada suhu kamar, senyawa kovalen ada
yang berupa padatan dengan titik leleh yang relatif rendah, ada yang berupa
cairan, ada pula yang bersifat gas.

Contoh :
Air ( senyawa kovalen ) : titik leleh 0 oC; titik didih 100 oC.
Garam dapur ( senyawa ion ) : titik leleh 801 oC; titik didih 1.517 oC.
b. Kemudahan menguap (volatilitas)
Zat yang mudah menguap, seperti alkohol, cuka, parfum, minyak cengkeh dan
bensin, kita sebut volatil atau atsiri. Zat-zat yang volatil adalah senyawa kovalen
dengan titik didih rendah, sehingga pada suhu kamar sudah cukup banyak yang
menguap. Tidak ada senyawa ionik yang volatil.

c. Kelarutan
Senyawa ion cenderung larut dalam air, tetapi tidak larut dalam pelarut organik
(seperti petroleum eter, aseton, alkohol dan trikloroetana). Misalnya, natrium
klorida (garam dapur) larut dalam air tetapi tidak larut dalam kloroform.
Sebaliknya, kebanyakan senyawa kovalen tidak larut dalam air, tetapi lebih mudah
larut dalam pelarut yang kurang atau nonpolar.

d. Daya Hantar Listrik


Senyawa ion padat tidak menghantar listrik, tetapi lelehan dapat menghantar
listrik. Sebaliknya, baik lelehan maupun padatan senyawa kov alen tidak dacpat
menghantar listrik.
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Nama Sekolah : SMA................................

Mata Pelajaran : Kimia

Kelas/ Semester : X/ I

Pertemuan ke : 8

Standar Kompetensi : Memahami hukum-hukum dasar kimia dan penerapannya dalam


perhitungan kimia (stoikiometri)

Kompetensi Dasar : Mendeskripsikan tata nama senyawa anorganik dan organik


sederhana serta persamaan reaksinya.

Indikator :

 Menuliskan nama senyawa biner


 Menuliskan nama senyawa poliatomik
 Menuliskan nama senyawa organik sederhana
Alokasi Waktu : 2 X 45 Menit

I. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan siswa dapat:

 Menentukan nama senyawa biner untuk senyawa anorganik jika diberikan


rumus molekulnya atau sebaliknya.
 Menentukan nama senyawa biner yang terbentuk dari ikatan kovalen jika
diberikan rumus kimianya atau sebaliknya.
 Menentukan nama senyawa poliatomik jika diberiakn rumus kimia atau
sebaliknya.
II. Materi Pembelajaran
 Tata nama senyawa sederhana
III. Metode Pembelajaran
Ceramah, diskusi informasi, dan tanya jawab.

Pendekatan: Konsep

Media : Charta, LKS

IV. Langkah-langkah Pembelajaran


a. Kegiatan Awal (  5 Menit)
Prasyarat: Sebutkan lambang unsur dari Besi, Nitrogen, Perak,
Aluminium,emas, Kalsium, Neon, Kalium, Oksigen, Helium, Karbon,
Belerang.
Motivasi: Tulis rumus kimia dari Natrium Klorida, Air, dan Magnesium Oksida

b. Kegiatan Inti ( 30 Menit)


1) Siswa mengkaji informasi tentang tata nama senyawa biner dan tata nama
senyawa poliatomik.
2) Guru menjelaskan cara memberikan nama senyawa biner dan bagaimana
menuliskannya (memberi contoh) .
3) Guru menjelaskan cara memberikan nama senyawa poliatomik dan
bagaimana menuliskannya (memberi contoh).
4) Guru memberikan latihan soal:
a) Tulislah nama senyawa dari: BaCl2, ClCr3. SO3, KNO3, dan KOH.
b) Tulislah rumus kimia senyawa organik dari: alkohol, urea, glukosa,
kholoform, dan metana
c. Kegiatan Akhir ( 35 Menit)
 Guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari
a) Menuliskan nama senyawa dari:
BaCl2= Barium Klorida, ClCr3= Kromium (III) Klorida, SO3= Belerang(VI)
Oksida atau Belerang Trioksida, NO3= Kalium Nitrat, KOH= Kalium Hidroksida

b) Alkohol(etanol)= CH3CH2OH, urea(ureum)= CO(NH2)2, glukosa(gula darah,


gula anggur)= C6H12O6, kloroform= CHCl3, metana= CH4
 Pemberian tugas individu sebagai tindak lanjut.
1. Tulislah nama senyawa untuk rumus kimia berikut:
a. NO c. BaO e. CuSO4

b. CCl4 d. HNO3

2. Tulislah rumus kimia senyawa berikut:


a. Kalium Oksida
b. Magnesium Fosfat
c. Tembaga (II) karbonat
d. Raksa (I) Oksida
e. Perak Sulfat
3. Tulislah rumus kimia asam/basa berikut:
a. Asam klorida
b. Asam asetat
c. Natrium hidroksida
d. Aluminium hidroksida
e. Barium hidroksida
4. Tentukan nama senyawa organik dari senyawa berikut:
a. C12H22O11
b. CHI3
c. CH3COCH3
d. C2H6
e. C5H10OH
V. Sumber Belajar
Kimia Jilid 1 untuk kelas X, penerbit Erlangga (2007) Jakarta, karangan Michael
Purba

Kimia untuk SMA/MA kelas X, penerbit Grasindo (2007) Jakarta, karangan


Suyatno,dkk.

VI. Penilaian
Jenis tagihan : Tugas Mandiri

Bentuk instrumen : Uraian Objektif

Contoh instrumen :

1. Tulislah nama senyawa untuk rumus kimia berikut:


a. NO c. BaO e. CuSO4

b. CCl4 d. HNO3

2. Tulislah rumus kimia senyawa berikut:


a. Kalium Oksida
b. Magnesium Fosfat
c. Tembaga (II) karbonat
d. Raksa (I) Oksida
e. Perak Sulfat
3. Tulislah rumus kimia asam/basa berikut:
a. Asam klorida
b. Asam asetat
c.Natrium hidroksida
d. Aluminium hidroksida
e. Barium hidroksida
4. Tentukan nama senyawa organik dari senyawa berikut:
a. C12H22O11
b. CHI3
c. CH3COCH3
d. C2H6
e. C5H10OH

KUNCI JAWABAN

1. a. Nitrogen Oksida

b. Karbon Tetraklorida

c. Barium Oksida

d. Asam Nitrat

e. Tembaga Sulfat
2. a. KO

b. MgPO4

c. CuCO3

d. HgO

e. AgSO4

3. a. HCl

b. CH3COOH

c. NaOH

d. Al(OH)2

e. Ba(OH)2

4. a. Sukrosa

b. Iodoform

c. Aseton

d. Etana

e. Pentanol

PEDOMAN PENSKORAN

No. Soal Skor

1. 25

2 25

3 25

4 25

Jumlah 100

Kupang, Juni 2009

Mengetahui Calon Guru Mata Pelajaran

Kepala SMA…………..

Debrina O. Tasekeb

NIM: 0601060041

Sepliana A. Bessie

NIM: 0601060028
BAHAN AJAR

Tata nama senyawa merupakan nama yang diberikan terhadap suatu senyawa
berdasarkan aturan tertentu.

1. Tata Nama Senyawa Anorganik

Tata nama senyawa anorganik terdiri dari:

 Senyawa molekul (senyawa kovalen ) biner


 Senyawa ion
 Senyawa asam
 Senyawa basa

a. Senyawa Biner

Senyawa biner adalah senyawa yang hanya terdiri dari dua jenis unsur, misalnya: air
(H2O), amoniak (NH3), karbondioksida (CO2) dan lain sebagainya.

1) Rumus senyawa:
Unsur yang terdapat lebih dahulu dalam urutan berikut di tulis didepan

B - Si - C – Sb – As- P – N – H – S- I – Br – Cl – O – F

Contoh:

Rumus kimia amoniak biasa di tulis NH 3 bukan H3N, dan rumus kimia air biasa ditulis
H2O, bukan OH2

2) Nama senyawa ;
Nama senyawa kovalen biner adalah rangkaian nama kedua jenis unsur dengan
akhiran ida pada nama unsur yang kedua.

Contoh :

HCl ; hidrogen klorida

H2S ; hidrogen sulfida

Jika pasangan unsur yang bersenyawa membentuk lebih dari sejenis senyawa, maka
senyawa itu dibedakan dengan angka indeksnya dalam bahasa Yunani. Indeks satu tidak
perlu disebutkan kecuali karbon monoksida 1= mono, 2= di, 3= tri, 4= tetra, 5= penta, 6=
heksa, 7= hepta, 8= okta, 9= nona, 10= deka.

Contoh: CO = Karbon monoksida

CO2 = Karbondioksida
N2O = Dinitrogenoksida

NO = Nitrogenoksida

CS2 = Karbondisulfida

3) Senyawa yang sudah umum dikenal tidak perlu mengikuti aturan diatas. Contoh:
H2O = Air
NH3 = Amoniak

CH4 = Metana

b. Tata Nama Senyawa Ion

Senyawa ion terdiri dari satu kation dan anion. Kation umumnya adalah satu ion
logam, sedangkan anion dapat berupa anion tunggal atau satu anion poliatomik.

1) Rumus senyawa; kation ditulis didepan.


Contoh:

Natrium klorida ditulis NaCl bukan ClNa

Rumus senyawa ion ditentukan oleh perbandingan muatan kation dan anionnya.
Kation dan anion diberi indeks sedemikian rupa sehingga senyawa bersifat netral. Contohnya
dapat dilihat pada tabel berikut:

Rumus
Kation Anion Nama garam
garam

Na+ Cl- NaCl Natrium klorida

Al3+ SO42- Al2(SO4)3 Aluminium sulfat

Cu2+ S2- CuS Tembaga (II) sulfida

2) Nama senyawa; nama senyawa ion adalah rangkaian nama kation (didepan) dan
nama anionnya, angka indeks tidak disebut.
Contoh: NaCl = Natrium Klorida

CACL2 = Kalsium Klorida

NA2SO4 = Natrium Sulfat

Apabila logam mempunyai lebih darii sejenis bilangan oksidasi, senyawa-senyawanya


dibedakan dengan menuliskan bilangan oksidasinya yang ditulis dalam tanda kurung dengan
angka Romawi dibelakang nama unsur logam tersebut.
Contoh; FeCl2 = Besi(II) Klorida

Fe2Cl3 = Besi (III) Sulfida

SnO2 = Timah(IV) Oksida

c. Tata Nama Asam

Asam adalah senyawa hidrogen yang didalam air mempunyai rasa masam. Rumus
kimia Asam umumnya terdiri dari asam hidrogen (umumnya ditulis didepan, dapat dilepas
sebagai ion H+) dan suatu anion yang disebut sisa asam.

Nama anion sisa asam sama dengan asam yang bersangkutan tanpa kata asam. Contoh:

H3PO4, nama asam = Asam Pospat, anionnya = PO43-

d. Tata Nama Basa

Basa adalah senyawa ion dari suatu logam dengan ion OH-. Tata nama basa sama
dengan tata nama senyawa ion.

Contoh: NaOH = Natrium Hidroksida

Al(OH)3 = Aluminium Hidroksida

Ca(OH)2 = Kalsium Hidroksida

2. Tata Nama Senyawa Organik

Senyawa organik adalah senyawa-senyawa karbon dengan sifat-sifat tertentu.


Senyawa organik memiliki tata nama khusus.

Contoh: CH4 = Metana

CO(NH2)2 = Urea

CH3COOH = Asam cuka

CHCl3 = Kloroform

CHI3 = Iodoform

CH3COCH3 = Aseton

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


Nama Sekolah : SMA...............................

Mata Pelajaran : Kimia

Kelas / Semester : X/ 1

Pertemuan ke : 9

Standar Kompetensi : Memahami hukum-hukum dasar kimia dan


penerapannya dalam perhitungan kimia (stoikiometri)

Kompetensi Dasar : Mendeskripsikan tata nama senyawa anorganik dan


organik sederhana serta persamaan reaksinya.

Indikator : Menyetarakan reaksi sederhana dengan diberikan


nama-nama zat yang terlibat dalam reaksi atau sebaliknya.

Alokasi waktu : 2 X 45 Menit

I. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari materi ini, siswa diharapkan dapat:

 Menyetarakan persamaan reaksi jika diberikan rumus kimianya.


 Menyetarakan persamaan reaksi jika diberikan pereaksi dan hasil reaksi
dalam bentuk kata-kata.
II. Materi pembelajaran
Persamaan reaksi

Pengertian persamaan reaksi


Menuliskan persamaan reaksi
Menyetarakan persamaan reaksi
III. Metode Pembelajaran

Diskusi informasi, ceramah dan tanya jawab.

Pendekatan : Konsep

Media : Charta , LKS

IV. Langkah-langkah Pembelajaran


a. Kegiatan Awal ( 10 Menit)
Apersepsi: Tentukan rumus kimia dari asam sulfat!

Motivasi : Jelaskan apakah persamaan reaksi berikut sudah seimbang!

H2(g) + O2(g)  H2O(g)

b. Kegiatan Inti ( 45 Menit)


1) Siswa mengkaji informasi tentang
persamaan reaksi.
2) Guru menjelaskan tentang cara
menuliskan dan menyetarakan persamaan reaksi.
3) Guru memberikan latihan soal:
a) Setarakan persamaan reaksi dari:
1) NaOH(aq) + H2SO4(aq)  Na2SO4(aq) + H2O(l)
2) Al(s) + O2(g)  Al2O3(s)
b) Tuliskan dan setarakan persamaan reaksi dari pembakaran Etana (C2H6)
dengan oksigen menghasilkan gas Karbondioksida dan Uap air!
c) Tuliskan dan setarakan persamaan reaksi dari kristal besi (III) dengan
larutan asam klorida menghasilkan besi (III) dan uap air
c. Kegiatan Akhir ( 35 Menit)
 Guru bersama dengan siswa menyimpulkan materi pembelajaran dengan
menjawab latihan soal.
a). Menyetarakan persamaan reaksi dari:

1) NaOH(aq) + H2SO4 (aq)  Na2SO4(aq) + H2O(l)


Langkah 1

Tetapkan koefisien Na2SO4= 1, sedangkan zat lainnya dengan koefisien


sementara.

aNaOH(aq) + bH2SO4 (aq  1Na2SO4(aq) + cH2O(l)

Langkah 2 ; Setarakan atom Na dan S

Penyetaraan atom Na

Jumlah atom Na di kiri= a, sedangkan di kanan = 1x2, berarti a= 2

2NaOH(aq) + 1H2SO4 (aq)  1Na2SO4(aq) + cH2O(l)

Penyetaraan atom S

Jumlah atom S di kiri= b, sedangkan di kanan= 1, berarti b= 1.

2NaOH(aq) + 1H2SO4 (aq)  1Na2SO4(aq) + cH2O(l)

Langkah 3; Setarakan atom H.dan O

Penyetaraan atom H

Jumlah atom H di kiri= 4, sedangkan di kanan= 2c, berarti 2c= 4, atau c= 2

2NaOH(aq) + 1H2SO4 (aq)  1Na2SO4(aq) + 2H2O(l)

Untuk atom O tidak perlu disetarakan lagi karena persamaan sudah setara.
Jumlah atom O di kiri = di kanan yaitu 6.

2NaOH(aq) + H2SO4 (aq)  Na2SO4(aq) + 2H2O(l) (setara)


2) Al(s) + O2(g)  Al2O3(s) (belum setara)
Langkah 1;

Tetapkan koefisien Al2O3= 1. sedangkan zat lainnya dengan koefisien


sementara.

aAl(s) + bO2(g)  1Al2O3(s)

Langkah 2; Setarakan atom Al

Jumlah atom Al diruas kiri= a, sedangkan diruas kanan 1x2= 2, berarti a= 2

2Al(s) + bO2(g)  1Al2O3(s)

Langkah 3; Setarakan atom O

Jumlah atom O diruas kiri= 2b, sedangkan diruas kanan= 1x3, berarti 2b= 3,
b= 1,5

2Al(s) + 1,5O2(g)  1Al2O3(s)

Agar tidak berbentuk pecahan, semua koefisien persamaan reaksi dikalikan


2.

4Al(s) + 3O2(g)  2Al2O3(s) (setara)

b) Etana bereaksi dengan oksigen menghasilkan gas karbondioksida dan uap air.
 Menuliskan persamaan reaksi
Langkah 1; Etana + gas oksigen  gas karbon dioksida + uap air

Langkah 2 ; C2H6 (g) + O2(g)  CO2(g) + H2O(l)

 Menyetarakan reaksi
Langkah 1;

Tetapkan koefisien C2H6= 1, sedangkan zat lain diberikan koefisien


sementara

1C2H6(g) + aO2(g)  bCO2(g) + cH2O(l)

Langkah 2; Setarakan atom C dan H.

Penyetaraan atom C

Jumlah atom C di kanan b sedangkan di kiri= 1x 2= 2, berarti b= 2

1C2H6(g) + aO2(g)  2CO2(g) + cH2O(l)

Penyetaraan atom H

Jumlah atom H di kiri=6, sedangkan di kanan= 2c berarti, 2c= 6, maka c= 3

1C2H6(g) + aO2(g)  2CO2(g) + 3H2O(l)

Langkah 3; Setarakan atom O.


Jumlah atom O di kiri=2 sedangkan di kanan=7 berarti 2a= 7, maka a= 7/2

1C2H6(g) + 7/2O2(g)  2CO2(g) + 3H2O(l)

Agar tidak berbentuk pecahan, persamaan reaksi dikalikan 2,

menjadi:

2C2H6(g) + 7O2(g)  4CO2(g) + 6H2O(l) (setara)

c) Kristal besi (III) bereaksi dengan larutan asam klorida menghasilkan besi III dan
uap air.
 Menuliskan persamaan reaksi
Langkah 1; Kristal besi (III) + larutan asam klorida  besi III + uap air

Langkah 2; Fe2O3(s) + HCl(aq)  FeCl3(aq) + H2O(l)

 Menyetarakan persamaan reaksi


Langkah 1;

Tetapkan koefisien Fe2O3= 1, sedangkan zat lain diberi koefisien


sementara.

1Fe2O3(s) + aHCl(aq)  bFeCl3(aq) + cH2O(l)

Langkah 2; Setarakan atom Fe dan Cl

Penyetaraan atom Fe

Jumlah atom Fe, di kiri=2 sedangkan di kanan= b, berarti b= 2

1Fe2O3(s) + aHCl(aq)  2Cl3(aq) + cH2O(l)

Penyetaran atom Cl

Jumlah atom Cl, di kiri=a, sedangkan di kanan= 6 berarti a= 6

1Fe2O3(s) + 6HCl(aq)  2Cl3(aq) + cH2O(l)

Langkah 3; Setarakan atom H dan O

Jumlah atom H di kiri= 6 sedangkan di kanan= 2c, berarti 2c=6 maka c= 3,

1Fe2O3(s) + 6HCl(aq)  2Cl3(aq) + 3H2O(l)

Untuk atom O tidak perlu disetarakan lagi karena persamaan reaksi sudah
setara. Jumlah atom O di kiri = di kanan yaitu 3. Angka 1 tidak ditulis, maka
persamaan reaksinya sebagai berikut;

Fe2O3(s) + 6HCl(aq)  2Cl3(aq) + 3H2O(l) (setara)

 Guru memberikan tugas (PR) sebagai tindak lanjut


V. Sumber Belajar
Kimia jilid 1 untuk kelas X , penerbit Erlangga (2007) Jakarta, karangan Michael
Purba

Kimia untuk SMA/MA kelas X, penerbit Grasindo (2007) Jakarta, karangan


Suyatno,dkk.

VI. Penilaian
Jenis tagihan : Tugas Mandiri

Bentuk instrumen : Uraian Objektif

Contoh instrumen :

1. Setarakan persamaan reaksi berikut


SiO2(s)+ C(s)  Si(s) + CO(g)

2. Tuliskan persamaan reaksi setara untuk reaksi berikut


a. Logam natrium bereaksi dengan gas klor membentuk natrium klorida
b. Gas nitrogen bereaksi dengan gas hidrogen membentuk gas amoniak
c. Larutan amonium klorida bereaksi dengan larutan timbal nitrat membentuk
larutan amonium nitrat dan endapan timbal klorida.

KUNCI JAWABAN

1. SiO2(s) + C (s)  Si(s) + CO(g)


Langkah 1;

Tetapkan koefisien SiO2= 1, sedangkan zat lainnya dengan koefisien sementara.

1SiO2(s) + bC (s)  cSi(s) + dCO(g)

Langkah 2 ; setarakan atom Si dan atom O

Penyetaraan atom Si;

Jumlah atom Si di kiri= 1, sedangkan di kanan= c, berarti c= 1

1SiO2(s) + bC (s)  1Si(s) + dCO(g)

Penyetaraan atom O:

Jumlah atom O di kiri= 2, sedangkan di kanan= d, berarti d= 2

1SiO2(s) + bC (s)  1Si(s) + 2CO(g)

Langkah 3; Setarakan atom C.

Jumlah atom C di kiri= b, sedangkan di kanan= 2, berarti b=2

1SiO2(s) + 2C (s)  1Si(s) + 2CO(g)


Angka 1 tidak ditulis, maka reaksinya sebagai berikut:

SiO2(s) + 2C (s)  Si(s) + 2CO(g) (setara)

2. Menuliskan persaman reaksi setara untuk reaksi;


a. Logam natrium bereaksi dengan gas khlor membentuk natrium klorida
Langkah 1 ; Logam natrium + gas khlor  natrium klorida

Langkah 2 ; Na(s) + Cl(g)  NaCl(aq) (setara)

b. Nitrogen bereaksi dengan gas hidrogen membentuk gas amoniak

Langkah 1; Gas nitrogen + gas hidrogen  gas amoniak

Langkah 2; N2(g) + H2(g)  NH3(g) (belum setara)

Langkah 3; N2(g) + 3H2(g)  2NH3(g) ( setara)

c. Larutan amonium klorida bereaksi dengan larutan timbal nitrat membentuk


larutan amonium nitrat dan endapan timbal klorida
Langkah 1;

Larutan amonium klorida + larutan timbal nitrat larutan amonium nitrat


+ timbal klorida

Langkah 2 ;

NH4Cl(aq) + Pb (NO3)2(aq)  NH4NO3(aq) + PbCl2(s) (belum setara)

Langkah 3;

2NH4Cl(aq) + Pb (NO3)2(aq) 2NH4NO3(aq) + PbCl2(s) (setara)

PEDOMAN PENSKORAN

No. Soal Skor

1. 25

2. 75

Jumlah 100
Kupang, Juni 2009

Mengetahui Calon Guru Mata Pelajaran

Kepala SMA…………..

Sepliana A. Bessie

NIM: 0601060028

Debrina O. Tasekeb

NIM: 0601060041
BAHAN AJAR

1. Pengertian Persamaan Reaksi

Persamaan reaksi terdiri dari rumus kimia zat-zat pereaksi (reaktan) dan zat-zat
produk yang dihubungkan dengan tanda panah.

Misalnya: Reaksi antara gas hidrogen dan oksigen membentuk air

2H2(g) + O2(g)  2H2O(l)

Tanda panah menunjukan arah reaksi, dan dapat dibaca sebagai “membentuk” atau
“bereaksi menjadi”, atau istilah lain yang sesuai. Huruf kecil miring dalam tanda kurung yang
mengikuti rumus kimia zat dalam persamaan reaksi menyatakan wujud zat atau keadaan zat
yang bersangkutan. Huruf g berarti gas, l berarti cairan (liquid), s berarti padatan(solid), dan
aq berarti larutan dalam air (aqueos, baca; akues). Bilangan yang mendahului rumus kimia
zat dalam persamaan reaksi disebut koefisien reaksi. Koefisien reaksi menyatakan
perbandingan partikel zat yang terlibat dalam reaksi. Koefisien reaksi haruslah bilangan bulat
paling sederhana. Untuk koefisien 1 tidak perlu ditulis. Jenis dan jumlah atom sebelum dan
sesudah reaksi haruslah sama. Jika persaman reaksinya sudah diberi koefisien yang sesuai
maka disebut persamaan setara. Istilah “ persamaan” digunakan dalam persamaan reaksi
karena kesetaraan atom-atom sebelum dan sesudah reaksi. Persamaan reaksi yang sudah
setara juga mencerminkan hukum kekekalan massa atau hukum Lavoisier.

2. Menuliskan Persamaan Reaksi

Langkah-langkah dalam menuliskan persamaan reaksi:

1) Menuliskan perrsamaan kata-kata yang terdiri dari nama dan keadaan zat (zat-
zat) pereaksi serta nama dan keadaan zat (zat-zat) hasil reaksi, lengkap dengan
keterangan tentang wujud/keadaannya.
2) Menuliskan persamaan rumus yang terdiri dari rumus kimia zat (zat-zat) pereaksi
dan zat-zat hasil reaksi, lengkap dengan keterangan tentang wujud/keadaannya.
3) Menyetarakan yaitu, memberi koefisien yang sesuai sehingga jumlah atom setiap
unsur sama pada kedua ruas.
Contoh;

Aluminium bereaksi dengan larutan asam sulfat membentuk larutan Aluminium


Sulfat dan gas Hidrogen

Langkah 1. Menuliskan persamaan kata-kata

Alumunium + larutan asam sulfat  larutan aluminium sulfat + gas


hidrogen.
Langkah 2. Menuliskan persamaan rumus

Al(s) + H2SO4(aq)  Al2(SO4)3(aq) + H2(g) (belum setara)

Langkah 3. Penyetaraan

2Al(s) + 3H2SO4(aq)  Al2(SO4)3(aq) + 3H2(g) (setara)

3. Menyetarakan Persamaan Reaksi

Langkah-langkah menyetarakan persamaan reaksi antara lain :

a. Tetapkan koefisien salah satu zat, biasanya zat yang rumusnya paling
kompleks=1, sedangkan zat lain diberikan koefisien sementara dengan huruf.
b. Setarakan terlebih dahulu unsur yang terkait langsung dengan zat yang diberi
koefisien itu.
c. Setarakan unsur lainnya. Biasanya akan membantu jika atom O
disetarakan paling akhir.
Contoh;

Reaksi aluminium dengan larutan asam klorida membentuk larutan aluminium


klorida dan gas hidrogen.

Al(s) + HCl(aq)  AlCl3(aq) + H2(g) (belum setara)

Langkah 1;

Tetapakan koefisien AlCl3=1, sedangkan zat lainnya dengan koefisien sementara

aAl(s) + bHCl(aq)  1AlCl3(aq) + cH2(g)

Langkah 2; Setarakan atom Al dan Cl

Penyetaraan atom Al;

Jumlah atom Al di kiri= a, sedangkan di kanan= 1, berarti a= 1. Penyetaraan atom


Cl;

Jumlah atom Cl di kiri= b, sedangkan di kanan= 3, berarati b= 3.

1Al(s) + 3HCl(aq)  1AlCl3(aq) + cH2(g)

Langkah 3 Setarakan H.

Jumlah atom H di kiri= 3, sedangkan di kanan = 2c, berarti 2c= 3, maka

c = 1,5

1Al(s) + 3HCl(aq)  1AlCl3(aq) + 1,5H2(g)

Akhirnya, untuk membulatkan pecahan setengah, semua koefisien dikalikan


dengan 2: 2Al(s) + 6HCl(aq)  2AlCl3(aq) + 3H2(g) (setara)
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Sekolah : SMA…………

Mata pelajaran : Kimia

Kelas/semester : X/I

Alokasi waktu : 4 x 45 menit

STANDAR KOMPETENSI

Hukum Dasar Kimia

KOMPETENSI DASAR

Membuktikan dan mengkomunikasikan berlakunya hukum-hukum dasar kimia melalui


percobaan serta menerapkan konsep mol dalam menyelesaikan perhitungan kimia.

INDIKATOR

 Menggunakan data percobaan untuk membuktikan berlakunya hukum Lavoisier


 Menggunakan data percobaan untuk membuktikan berlakunya hukum Proust
 Menganalisis senyawa untuk membuktikan berlakunya hukum kelipatan
perbandingan (hukum Dalton).
 Menggunakan data percobaan untuk membuktikan berlakunya hukum Gay-
Lussac
 Menggunakan data percobaan untuk membuktikan berlakunya hukum Avogadro

I. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Aspek kognitif ,siswa dapat :
 membuktikan berlakunya hukum Lavoisier melalui percobaan
 membuktikan berlakunya hukum Proust melalui percobaan
 menganalisis senyawa untuk membuktikan berlakunya hukum kelipatan
perbandingan (hukum Dalton).
 membuktikan berlakunya hukum Gay-Lussac melalui data percobaan
 membuktikan berlakunya hukum Avogadro melalui data percobaan

2. Aspek afektif
 Siswa patuh melaksanakan tugas belajar
 Siswa aktif mengikuti kegiatan pembelajaran
 Siswa tepat dan respon mengemukakan pendapat
II. MATERI AJAR
Hukum – Hukum Dasar Kimia

III. METODE PEMBELAJARAN


Diskusi informasi,ceramah,dan Tanya jawab

Pendekatan : konsep

Media : LKS

IV. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN:


PERTEMUAN I

No KEGIATAN PEMBELAJARAN ALOKASI WAKTU

1 Kegiatan Awal: 5 Menit

2 Kegiatan Inti:

1. Guru memberikan penjelasan tentang percobaan yang


akan dilakukan.
2. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok.
3. Siswa melakukan percobaan di bawah pengawasan 70 Menit
guru
Kegiatan Akhir:
3
Siswa menyimpulkan hasil percobaan yang dilakukan
15 Menit
PERTEMUAN II

No KEGIATAN PEMBELAJARAN ALOKASI


WAKTU

1 Kegiatan awal :

Guru memberikan pertanyaan berikut kepada siswa:

1. Tuliskan rumus kimia dari senyawa dalam persamaan reaksi


berikut ini dan setarakan persamaan reaksinya : gas klor + kalium
5 Menit
iodida menghasilkan kalium klorida + gas iod.
2. Asam bromida + aluminium menghasilkan aluminium bromida +
gas hidrogen

Kegiatan inti :

1. Guru menjelaskan hukum kekekalan massa (Lavoisier),hukum


2 perbandingan tetap (Proust) berdasarkan percobaan yang telah
dilakukan.
2. Guru menjelaskan bagaimana membuktikan berlakunya hukum
Dalton dari data percobaan.
3. Siswa diberi kesempatan berdiskusi untuk membuktikan
berlakunya hukum Dalton, hukum Gay Lussac, dan hokum
Avogadro berdasarkan data percobaan.
1. Tabel : Perbandingan massa unsur -unsur dalam beberapa
senyawa

Senyawa Perbandingan massa Perbandingan


unsur-unsur massa unsur yang
berbeda

I.Karbon monoksida 12 g karbon 16 g …


oksigen
II.Karbon dioksida 12 g karbon
32 g 75 Menit
oksigen

I.Belerang dioksida 32 g 32 g …
belerang oksigen
II.Belerang trioksida
32 g 48 g
belerang oksigen

I.Nitrogen 14 g 16 g …
monoksida nitrogen oksigen

II.Dinitrogen oksida 28 g nitogen 16 g


oksigen
2. Tabel : Perbandingan volum gas yang bereaksi dan volum gas
hasil reaksi

Volum gas yang bereaksi Volum gas hasil reaksi ammonia

Nitrogen (ml) Hidrogen (ml) (ml)

10 30 20

20 60 40

30 90 60

40 120 80

Berapakah perbandingan gas nitrogen:hidrogen:ammonia?

3. Sebanyak 35 L gas karbondioksida mengandung 4,5 x


1023molekul. Pada suhu dan tekanan yang sama tentukan :

a. jumlah molekul 7 l gas hidrogen, b.volume gas amonia


yang mengandung 9 x 1023 molekul!

1. Guru memberikan latihan soal :


 Massa besi 14 gram bereaksi dengan 8 gram belerang
menghasilkan besi (II) sulfida……gram
 Perbandingan massa besi dengan massa belerang dalam
senyawa besi sulfida adalah 7:4 berapa gram besi dan
belerang diperlukan apabila terbentuk 27,5 besi sulfida?
 Unsur A dan B membentuk dua senyawa, yaitu X dan Y.
massa unsur A dalam senyawa X dan Y berturut-turut
adalah 40 % dan 50%. Tunjukan bahwa hukum Dalton
berlaku dalam dua senyawa tersebut!
Kegiatan akhir:

 Guru menyimpulkan materi dengan menjawab latihan soal:


1. Fe + S  FeS (22 gram)
3
2. Fe = 7/11 x 27,5 = 17,5 gram, S = 4/11 x 27,5 = 10 gram
3. Senyawa I (X) terdiri atas 40% unsur A dan 60% unsur B
Senyawa II (Y) terdiri atas 50 % unsur A dan 50% unsur B

Massa A : B dalam senyawa X = 40 : 60 = 2 : 3 atau 1 :


1,5

Massa A : B dalam senyawa Y = 50 : 50 = 1: 1 Jika massa


A dalam senyawa X sama dengan senyawa Y misalnya
sama-sama 1 gram,maka masssa B dalam senyawa X :
senyawa Y = 1 : 1,5 = 2 : 3

 Guru memberikan tugas (PR) :


1. Suatu senyawa oksida besi (FeO) memiliki perbandingan
massa besi dan oksigen sebesar 7 : 2. Tentukan % massa
besi dan oksigen dalam senyawa tersebut!
2. Unsur A dan B dapat membentuk dua macam senyawa.
Senyawa I mengandung 40% unsur A dan senyawa II
mengandung 25% unsur A. Tentukan perbandingan
massa unsur B sehingga mengikuti hukum perbandingan
berganda Dalton.
3. Pada pengaratan 5 miliar atom besi dengan oksigen
terbentuk molekul karat Fe2O3. tentukan :
a. persamaan reaksinya
b. jumlah molekul gas hidrogen yang diperlukan
c. jumlah molekul karat (Fe2O3) yang terbentuk
4. Jika 50 ml gas CxHy dibakar dengan 250 ml
oksigen,dihasilkan 150 ml karbondioksida dan sejumlah 10 Menit
uap air. Semua gas diukur pada suhu dan tekanan yang
sama. Tentukan rumus CxHy!

V. ALAT/BAHAN/SUMBER BELAJAR
KIMIA Jilid I Untuk Kelas X, Penerbit Erlangga (2007) Jakarta karangan Michael Purba

CERDAS BELAJAR KIMIA Untuk Kelas X SMA/MA,Penerbit Grafindo Media Pratama


(2007) Jakarta,karangan Nana Sutresna.

VI. PENILAIAN
N INDIKATOR JENIS CONTOH BENTUK KUNCI JAWABAN SKO
O TAGIH INSTRUMEN INSTRUM R
AN EN

1  M Tugas Suatu Uraian Total angka 100


enggunaka mandiri senyawa objektif perbandingan 7 + 2
n data oksida besi = 9. Persen massa
percobaan (FeO) besi = 7/9 x 100% =
untuk memiliki 77,8%. Persen
membuktik perbandingan massa oksigen = 2/9
an massa besi x 100% = 22,2%.
berlakunya dan oksigen Jadi,persen massa
hukum sebesar 7 : 2. besi dan oksigen
Proust Tentukan % dalam FeO berturut-
massa besi turut 77,8% dan
dan oksigen 22,2%
dalam
senyawa
tersebut! Senyawa I
 Mengguna
kan data %A = 40%
percobaan
%B = 60%
untuk
membuktik Senyawa II 100
an Unsur A dan
%A = 25%
berlakunya B dapat
hukum membentuk %B = 75%
Dalton dua macam
Agar persentase A
senyawa.
sama,senyawa I
Senyawa I
dikalikan 2,5 dan
mengandung
senyawa II dikalikan
40% unsur A
4 sehingga diperoleh
dan senyawa
perbandingan massa
II
A dan B sbb
mengandung
25% unsur A. Senyawa I
Tentukan
Massa A =
perbandingan
40x2,5=100
massa unsur
B sehingga Massa B=
mengikuti 60x2,5=160
hukum
perbandingan Senyawa II

berganda MassaA=
Dalton
25x4=100

Massa B =

75x4=300

100
Jadi perbandingan
B1 : B2 = 150 : 300=
1:2
 Mengguna
kan data
percobaan Perbandingan volum
untuk gas sesuai dengan
membuktik perbandingan
an koefisiennya.
berlakunya Perbandingan
hukum volume yang ada
Gay- disederhanakan,kem
Lussac udian dijadikan
sebaga koefisien.
Jika 50 ml gas
CxHy(g) + O2(g) 
CxHy dibakar
CO2(g) + H2O(g)
dengan 250 ml
oksigen,dihasilk Perbandingan volum
an 150 CxHy(g) : O2(g) : CO2(g) +
karbondioksida H2O(g) adalah 50 :
dan sejumlah 250 : 150,dapat
uap air. Semua disederhanakan
gas diukur pada menjadi 1 : 5 : 3.
suhu dan karena koefisien H2O
tekanan yang belum
sama. Tentukan diketahui,dimisalkan
rumus CxHy! koefisien H2O adalah
z.

CxHy(g) +5 O2(g)  3


CO2(g) +z H2O(g)

 atom di ruas kiri =


 atom di ruas
kanan.

Berdasarkan jumlah
O,10= 6 + z,maka z
= 4. sehingga
persamaan
reaksinya menjadi

CxHy(g) +5 O2(g)  3


CO2(g) +4 H2O(g)

Untuk menentukan x
dan y,dilakukan
penyetaraan jumlah
atom C dan H.

 atom di ruas kiri =


 atom di ruas
kanan

Jumlah atom C = x =
3

Jumlah atom H = y = 100


8

Jadi,rumus CxHy
adalah C3H8

a. Persamaa
n reaksinya : 4

Fe(s) + 3 O2(g)  2


Fe2O3(s)
 Mengguna
kan data b. Jumlah

percobaan molekul O2

untuk =koefisien

membuktik O2/koefisien Fe x

an jumlah atom Fe =

berlakunya ¾ x 5 x 109 = 3,75

hukum x 109 molekul.

Avogadro
c. Jumlah
melekul Fe2O3=
2/4 x 5x109 = 2,5 x
109 molekul.

Pada
pengaratan 5
miliar atom besi
dengan oksigen
terbentuk
molekul karat
Fe2O3.

tentukan :

a. Pers
amaan
reaksinya
b. Juml
ah molekul
gas oksigen
yang
diperlukan
c. Juml
ah molekul
karat (Fe2O3)
yang
terbentuk.

Kupang, April 2009

Mengetahui :

Kepala Sekolah SMA . . . Calon Guru

( ) Maria F. Tarto (0601060050)

Irena Abi (0601060048)

Serfina Inga Lika (0601060056)

Maria A. Teo (0601060012)


URAIAN MATERI

HUKUM-HUKUM DASAR KIMIA

Ada lima hukum dasar dalam perhitungan kimia,yaitu Hukum Kekekalan Massa
(Hukum Lavoisier),Hukum Perbandingan Tetap (Hukum Proust),Hukum Perbandingan
Berganda (Hukum Dalton),Hukum Perbandingan Volume (Hukum Gay-Lussac),Hukum
Avogadro.

1. Hukum Kekekalan Massa (Hukum Lavoisier)


Perhatikan proses pembakaran kayu. Zat apakah yang tersisa dari
pembakaran kayu tersebut? Samakah berat kayu semula dengan abu sisa
pembakaran? Tentu abu tersebut lebih ringan. Perhatikan pula pembakaran bensin.
Adakah zat sisa pada pembakaran bensin? Benarkah terjadi perubahan massa
selama reaksi pembakaran kayu dan bensin tersebut?

Pengamatan terhadap proses pembakaran ini sudah dimulai sejak abad ke-17
dengan munculnya teori flogiston yang dikemukakan George Ernest Stahl. Dalam
bahasa Yunani,flogiston berarti tidak mudah terbakar. Teori ini menyebutkan bahwa
pada proses pembakaran dihasilkan gas flogiston sehingga massa zat sisa
pembakaran menjadi lebih kecil. Pada pembakaran kayu dan bensin,abu yang
dihasilkan dari pembakaran bensin jauh lebih sedikit dibandingkan abu sisa
pembakaran kayu. Berarti bedasarkan teori flogiston,bensin mewngandung lebih
banyak gas flogiston,bensin mengandung lebih banyak gas flogiston dibandingkan
kayu. Secara umum,teori flogiston dapat dirumuskan sebagai berikut.

Masssa benda yang dibakar = Massa sisa pembakaran (abu) + Massa gas flogiston

Jadi semakin sedikit massa sisa pembakaran (massa abu),semakin banyak


massa gas flogiston yang dihasilkan. Akan tetapi,bagaimana dengan proses
pembakaran logam? Ternyata,pada proses pembakaran logam terjadi peningkatan
massa logam yang dibakar. Bagaimana dengan jumlah gas flogistonnya?
Berdasarkan teori flogiston tersebut,massa gas flogiston logam bernilai negatif.

Antoine Laurent Lavoisier telah menyelidiki massa zat sebelum dan sesudah
reaksi. Lavoisier menimbang zat sebelum bereaksi kemudian menimbang hasil
reaksinya. Ternyata massa zat sebelum dan sesudah bereaksi selalu sama. Lavoisier
menyimpulkan hasil penemuannya dalam suatu hukum yang disebut Hukum
Kekekalan Massa:”Dalam sistem tertutup,massa zat sebelum dan sesudah reaksi
adalah sama”

Kembali pada proses pembakaran kayu,ternyata selain abu,pada pembakaran


kayu dihasilkan juga oksida karbon,asap,dan uap air. Oksida karbon dan uap air
tersebut berwujud gas yang tidak berwarna sehingga tidak tidak dapat dilihat oleh
mata. Jika keseluruhan massa zat-zat ini ditimbang,diperoleh
Massa kayu + massa oksigen = massa oksida + massa uap + massa asap + massa
abu

Pada teori flogiston,jumlah massa oksigen,oksida karbon,uap air,dan asap


tidak diperhitungkan. Logam yang dibakar akan bereaksi dengan oksigen
menghasilkan oksida logam. Oleh karena mengandung oksigen,tentu massa oksida
logam tersebut lebih besar daripada massa logam semula.

2. Hukum Perbandingan Tetap (Hukum Proust)


Jika anda menguraikan senyawa air melalui elektrolisis,anda akan
memperoleh gas hidrogen dan oksigen. Anda akan mendapati bahwa hidrogen dan
oksigen tersebut memiliki perbandingan volume yang selalu tetap,yaitu 2 : 1.
kemudian jika massa gas-gas tersebut ditimbang secara teliti,anda akan memperoleh
perbandingan massa yang selalu tetap pula,yaitu 1 : 8. Hal ini berlaku untuk
elektrolisis senyawa air dari mana pun sumber airnya,seperti air sungai,air sumur,air
hujan,maupun air es.

Gejala perbandingan tetap yang terdapat pada penguraian air tersebut,juga


terjadi pada penguraian senyawa lain,misanya gas amonia (NH3). Penguraian amonia
menghasilkan gas nitrogen dan gas hydrogen dengan perbandingan volume 1: 3 dan
perbandingan massa 14 : 3. Adapun penguraian senyawa padatan,seperti besi
sulfida,tidak menghasilkan gas sehingga hanya diperoleh data perbandingan
massanya. Pada penguraian senyawa besi sulfida tersebut diperoleh perbandingan
massa besi dan belerang selalu 7 : 4.

Ternyata,jika gas hidrogen direaksikan dengan gas oksigen dengan


perbandingan massa 5 g : 45 g dan 5 g : 40 g,masing-masing tetap menghasilkan 45
g air. Jadi,pada perbandingan massa 5 g : 45 g,massa oksigen yang bereaksi hanya
40 g dan bersisa 5 g sehingga massa air yang terbentuk tetap 45 g,bukan 50 g. begitu
pula jika massa hidrogen ditambah. Misalnya,2 g gas hidrogen direaksikan dengan 8
g gas oksigen. Senyawa air yang terbentuk tetap 9 g,bukan 10 g karena jumlah
hidrogen yang bereaksi hanya 1 g sedangkan 1 g sisanya tidak bereaksi.

Berdasarkan hasil eksperimen yang dilakukan Joseph Louis Proust (1807)


ditemukan fakta sebagai berikut

Perbandingan massa unsur-unsur dalam setiap senyawa selalu tetap.

Inilah yang menjadi salah satu hukum dasar kimia yang kemudian dikenal
sebagai Hukum Perbandingan Tetap atau Hukum Proust. Perhatikan data reaksi
hidrogen dan oksigen menghasilkan air berikut.

Gas Hidrogen + Gas Oksigen  Air

1g 8g 9g
3g 8g 9g

1g 13g 9g

Bagaimana hubungan data reaksi tersebut dengan Hukum Kekekalan Massa?


Reaksi tersebut seolah-olah tidak memenuhi Hukum Kekekalan Massa,bukan?
Benarkah demikian? Ingat,bahwa dalam hasil reaksi terdapat sisa unsur yang tidak
bereaksi. Jika massa unsur yang tidak bereaksi ini diukur dan
diperhitungkan,diperoleh data sebagai berikut.

Tabel: Massa Unsur-Unsur dalam Pembentukkan Senyawa Air

Massa Massa Massa Massa Air Massa Massa Massa


Hidrogen(g) Oksigen(g) Sebelum (g) Sisa Sisa Sesudah
Reaksi (g) Hidrogen Oksigen Reaksi (g)
(g) (g)

1 8 1+8=9 9 0 0 9+0=9

3 8 3 + 8 = 11 9 2 0 9 + 2 = 11

1 13 1 + 13 = 9 0 5 9 + 5 = 14
14

Perhatikan massa unsur yang dicetak tebal pada tabel di atas. Ternyata,jumlah
massa unsur-unsur sebelum bereaksi sama dengan jumlah massa sesudah
reaksi,yaitu jumlah massa senyawa yang terbentuk dan massa unsur sisa yang tidak
bereaksi. Jadi reaksi tersebut sesuai dengan Hukum Kekekalan Massa.

3. Hukum Perbandingan Berganda (Hukum Dalton)


Menurut Hukum Proust,perbandingan hidrogen dan oksigen dalam
pembentukan air (H2O) adalah 1 : 8. selain air,unsur hidrogen dan oksigen juga dapat
membentuk senyawa lain,yaitu hidrogen peroksida (H2O2). Namun,dalam senyawa
hidrogen peroksida,perbandingan massa hidrogen dan oksigennya bukan 1 :
8,melainkan 1 : 16.

Nilai perbandingan massa hidrogen dalam air dan dalam hydrogen peroksida
sama,yaitu 1. perbedaaanya pada perbandingan massa okisigennya. Massa oksigen
dalam air (massa OI) sebesar 8 dan massa oksigen pada hydrogen peroksida (massa
OII) sebesar 8 dan massa oksigen pada hidrogen peroksida (massa OII) sebesar 16
sehingga perbandingan OI : OII = 8 : 16 = 1 : 2. Jadi,massa H tetap,massa O berbeda.

Perhatikan perbandingan massa 1 : 2 atau 2 : 3 merupakan bilangan bulat dan


sederhana. Fakta ini pertama kali ditemukan oleh Dalton sehingga dikenal sebagai
Hukum Dalton atau Hukum Perbandingan Berganda.
Jadi,jika dua unsur membentuk dua macam senyawa atau lebih,untuk massa
salah satu unsur yang sama banyaknya,massa unsur kedua dalam senyawa-senyawa
itu akan berbanding sebagai bilangan bulat dan sederhana.

4. Hukum Perbandingan Volume (Hukum Gay-Lussac


Kimiawan Inggris,Henry Cavendish (1731 -1810),menemukan fakta bahwa
pada pembentukkan air,perbandingan volume gas hidrogen dan gas oksigen adalah 2
: 1. Artinya, 2 volume gas hidrogen (T oC dan P cmHg) akan bereaksi dengan 1
volume gas oksigen (ToC dan P cmHg) untuk menghasilkan air.

Tertarik dengan hasil percobaan Cavendish,seorang kimiawan Perancis,Gay-


Lussac melakukan percobaan dengan sangat teliti dan membenarkan hasil pecobaan
Cavendish. Gay-Lussac mengembangkan penelitian Cavendish dengan melakukan
reaksi pembentukkan air pada suhu di atas 100oC. Gay – Lussac mereaksikan 2
volume gas hidrogen dan 1 volume gas oksigen,ternyata menghasilkan 2 volume uap
air.

Penelitian tersebut dikembangkan dengan mereaksikan 1 volume gas


hidrogen dan 1 volume gas klorin yang menghasilkan 2 volume gas hidrogen klorida.
Ia juga mereaksikan 3 volume gas hydrogen dan 1 volume gas nitrogen
menghasilkan 2 volume gas ammonia. Berdasarkan ketiga percobaan tersebut ia
memperoleh perbandingan volume gas H2 : O2 : H2O = 2 : 1 : 2 , perbandingan
volume gas H2 : Cl : HCl = 1 : 1 : 2,dan perbandingan volume gas H 2 : N2 : NH3 = 3 :
1 : 2.

Berdasarkan data tersebut,ternyata perbandingan volume gas-gas yang


bereaksi dan gas hasil reaksi merupakan perbandingan dengan bilangan bulat dan
sederhana. Berdasarkan fakta ini,Gay-Lussac mengemukakan Hukum Perbandingan
Volume atau Hukum Gay-Lussac.

Volume gas-gas yang bereaksi dan volume gas hasil reaksi,jika diukur pada suhu dan
tekanan yang sama ,berbanding lurus sebagai bilangan-bilangan bulat dan
sederhana.

Jika data dari ketiga percobaan pembentukkan air,hidrogen klorida,dan


ammonia tersebut dikaitkan dengan persamaan reaksinya,diperoleh hasil sebagai
berikut :

a. Reaksi pembentukkan uap air

2H2(g) + O2(g)  2H2O(g)

Perbandingan volume = 2 : 1 : 2

Perbandingan koefisien = 2 : 1 : 2
b. Reaksi pembentukkan gas hidrogen klorida
H2(g) + Cl2(g)  2HCl(g)

Perbandingan volume = 1 : 1 : 2

Perbandingan koefisien = 1 : 1 :2

c. Reaksi pembentukan gas ammonia


3 H2(g) + N2(g)  2NH3(g)

Perbandingan volume = 3 : 1 : 2

Perbandingan koefisien = 3 : 1 : 2

Jadi, dari ketiga persamaan reaksi tersebut dapat disimpulkan bahwa :

Perbandingan volume gas sesuai dengan perbandingan koefisien reaksinya.

Kesimpulan tersebut dapat digunakan untuk membuat rumusan penentuan


volume gas dalam suatu reaksi kimia.

pA(g) + qB (g)  rC(g) + sD(g)

Jika dimisalkan volume gas A sebanyak x liter,volume gas lain dapat dihitung
dengan rumusan :

Volume gas yang dicari

koefiienyangdicari
x
= koefisienyangdiketahui volume yang diketahui.

5. Hukum Avogadro
Menurut hipotesis Dalton-Gay –Lussac :

2 volume hidrogen + 1 volume oksigen  2 volume uap air

2 n atom hidrogen + 1 n atom oksigen  2 n molekul uap air

Dari perbandingan tersebut berlaku :

2 atom hidrogen + 1 atom oksigen  2 molekul uap air

Jadi,untuk menghasilkan 2 molekul uap air diperlukan 1 atom oksigen.


Berarti,untuk menghasilkan 1 molekul uap air diperlukan ½ atom oksigen.

Data tersebut sangat bertentangan dengan teori atom Dalton sebelumnya


yang menyatakan bahwa atom tidak dapat dibagi-bagi sehingga tidak mungkin 1
molekul air dibentuk oleh 1 atom hidrogen dan ½ atom oksigen. Karena alasan
inilah,hipotesis Dalton-Gay-Lussac ditolak. Pada tahun 1811,Amedeo Avogadro
berpendapat bahwa unsure-unsur tersebut tidak harus merupakan atom-atom bebas
tetapi dapat berupa gabungan dari atom-atom yang sama membentuk molekul. Atas
dasar ini,Avogadro mengembangkan hipotesis yang diajukan Dalton-Gay-Lussac.

Pada suhu dan tekanan yang sama,semua gas yang volumenya sama mengandung
jumlah molekul yang sama.

Berarti,jika :

2 volume gas hidrogen + 1 volume gas oksigen  2 volume uap air

2 n molekul gas hidrogen + 1n molekul gas oksigen  2n molekul uap air.

Perhatikan bahwa dalam setiap molekul air yang dihasilkan,terdapat 1 buah


atom oksigen bukan ½ atom oksigen. Hipotesis ini dibuktikan kebenarannya melalui
berbagai eksperimen dan sekarang dikenal sebagai Hukum Avogadro.

Berdasarkan Hukum Avogadro,diperoleh kesimpulan sebagai berikut.

Pada suhu dan tekanan yang sama,perbandingan volume gas sesuai dengan
perbandingan jumlah molekulnya.

Hukum Avogadro dapat dirumuskan dengan pesamaan sebagai berikut

jumlahmolekulx Volumegasx

jumlahmolekuly Volumegasy

Untuk perhitungan penyelesaian soal-soal yang berkaitan dengan volume gas


dan jumlah molekul,dapat dirumuskan sebagai berikut.

Jumlah molekul yang dicari =

Vgasyangdicari
xVgasyangdiketahui
Vgasyangdiketahui

jumlahmolekulyangdicari
xVgasyangdiketahui
V gas = jumlahmolekulyangdiketahui
LEMBAR KERJA SISWA

Mata pelajaran : Kimia

Materi pembelajaran : Hukum-hukum Dasar Kimia

Kelas / semester :X/I

Alokasi waktu : 2 x 45 menit

TUJUAN

Membuktikan berlakunya hukum kekakalan massa dan hkum perbandingan tetap.

RINGKASAN MATERI

Bunyi hukum Lavoisier adalah :”massa zat sebelum dan sesudah reaksi
adalah sama”. jika pemanasan dilakukan dalam tabung tertutup, maka massa tabung
beserta isinya sebelum dan sesudah reaksi akan sama. akan tetapi, jika pemanasan
dilakukan dalam tabung terbuka, maka massa tabung dan isinya setelah pemanasan
akan lebih kecil, karena satu hasil (oksigen) berupa gas.

Bunyi hukum Proust adalah “Perbandingan massa unsur – unsur dalam suatu
senyawa adalah tertentu dan tetap”. Contoh : pada reaksi pembentukkan air

Gas Hidrogen + Gas Oksigen  Air

1g 8g 9g

3g 8g 9g

1g 13g 9g

Dari uraian di atas dapat dibuat grafik hubungan massa hydrogen versus
massa oksigen dalam air sebagai berikut:

Maka perbandingan massa hydrogen : massa oksigen dalam air selalu tetap,
yaitu 1 : 8.

I. Hukum Kekalan Massa

ALAT DAN BAHAN


1. Tabung Y
2. Tutup gabus
3. Neraca
4. Larutan KCl 0,1 M
5. Larutan Pb(NO3)2 0,1M
6. Larutan Pb(CH3COOH)2 0.1M
7. Larutan KI 0,5M

LANGKAH KERJA

1. Timbang tabung Y kosong dan tutup gabusnya.


2. Isi salah satu kaki tabung dengan 5 ml larutan KCl 0,1M kemudian timbang.
3. Isi kaki lainnya dengan 5ml larutan Pb(NO3)2 0,1M dengan volume yang sama
dengan KCl 0,1M. Kemudian timbang.
4. Miringkan tabung hingga kedua larutan bereaksi. Kemudian timbang kembali.
Catat hasil penimbangan sebagai data pengamatan.
5. Lakukan percobaan yang sama dengan menggunakan larutan Pb(CH3COOH)2
0,1M dan larutan KI 0,5M
Massa zat yang bereaksi Massa zat hasil reaksi

Massa KCl 0,1 Massa Pb(NO3)2 0,1M


M

Massa KI 0,5M Massa Pb(CH3COOH)2


0.1M

Pertanyaan

1. Manakah senyawa yang termasuk pereaksi ?


2. Bagaimana cara anda mengetahui telah terjadi reaksi dalam percobaan ini ?
Berapa massa zat hasil reaksi tersebut ? Bandingkan dengan massa total
pereaksi.
3. Apakah yang dapat anda simpulkan berdasarkan data percobaan tersebut ?

KESIMPULAN DAN TUGAS


Berdasarkan percobaan tersebut, buatlah kesimpulan dan laporan secara
berkelompok dengan sebaik mungkin.

II. Hukum Perbandingan Tetap

ALAT DAN BAHAN :

1. Pembakar Bunsen
2. Neraca
3. Kaki tiga
4. Cawan porselin
5. Eksikator
6. Penjepit
7. Tembaga (II) oksida (CuO)
LANGKAH KERJA :

1. Timbang cawan porselin yang bersih dan kering, kemudian dicatat.


2. Masukkan senyawa tembaga (II) oksida sbanyak 7,95 g.
3. Panaskan (cawan + tembaga oksida) selama 1 jam.
4. Matikan api, tutup cawan dan simpan dalam eksikator sampai dingin.
5. Timbang kembali.
6. Ulangi langkah – langkah tersebut hingga diperoleh bobot konstan.
7. Ulangi percobaan dengan bobot tembaga (II) oksida 15,9 g.
DATA PENGAMATAN

N Massa Cawan Massa Cawan + CuO Massa cawan + CuO


o Kosong Sebelum Pemanasan setelah Pemanasan

I II III … …

1 … … … … … … …

2 … … … … … … …

PENGOLAHAN DATA

1. Massa CuO = (massa cawan + massa CuO) – (massa cawan kosong)


2. Massa Cu = (massa cawan + massa Cu) – ( massa cawan kosong)
(Data massa cawan + massa tembaga diambi; dari massa hasil pemanasan
dengan bobot konstan )

3. Massa oksigen = massa CuO – massa Cu.


No Massa CuO Massa Cu Massa O Perbandingan
Massa Cu dengan
Massa O

1 … … … …
2 … … … …

Pertanyaan

1. Jelaskan alas an mengapa pemanasan perlu dilakukan sampai bobot konstan!


2. Gambarkan grafik hubungan massa tembaga dan massa oksigen .
3. Jelaskan hasil perbandingan massa unsure tembaga dan oksigen . Sesuaikan
dengan Hukum Perbandingan Tetap!
4. Tentukan persen massa tembaga dan persen massa oksigen!
5. Jika massa tembaga (II) oksida sebanyak 23,85 g, perkirakan massa tembaga
dan massa oksigen yang dihasilkan!
KESIMPULAN DAN TUGAS

Berdasarkan percobaan ini, buatlah kesimpulan dan laporan secara berkelompok


dengan sebaik mungkin.
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP)

Mata Pelajaran : KIMIA

Kelas/Semester : X/2

Pertemuan Ke : 1

Alokasi Waktu : 2 jam pelajaran

Tahun Pelajaran : 2008/2009

STANDAR KOMPETENSI

Memahami hukum – hukum dasar Kimia dan penerapannya dalam perhitungan Kimia
(Stoikiometri)

KOMPETENSI DASAR

Membuktikan dan mengkomunikasikan berlakunya hukum – hukum dasar Kimia melalui


percobaan serta menerapkan konsep mol dalam menyelesaikan perhitungan Kimia
(Stoikiometri)

INDIKATOR

 Mengkonversikan jumlah mol dengan jumlah partikel, massa dan volume zat.

I. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mempelajari materi pembelajaran ini, siswa diharapkan dapat:

 Menjelaskan pengertian mol sebagai satuan jumlah zat.


 Mengkonversikan jumlah mol dengan jumlah partikel, massa dan volume zat.

II. MATERI PEMBELAJARAN


 Perhitungan kimia

III. METODE PEMBELAJARAN


 Metode : ceramah, Tanya jawab dan pemberian tugas.
 Pendekatan : konsep.
IV. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN
Kegiatan Pembelajaran Waktu

Pendahuluan:

Prasyarat pengetahuan:

 Siswa dapat menjelaskan dan menentukan massa atom 10 menit


relatif dan massa molekul relatif suatu senyawa.
Motivasi; Guru memberi gambaran mol sebagai satuan jumlah
zat.

Kegiatan inti:

 Guru menjelaskan tentang bilangan Avogadro dan


pengertian mol.
 Guru menjelaskan tentang massa molar dan volume
molar.
 Latihan soal-soal.
 Guru menjelaskan hubungan jumlah mol dengan
koefisien reaksi.
 Latihan soal-soal.
Penutup:

 Guru merangkum atau memberi kesimpulan tentang


materi pembelajaran yang telah dipelajari.
 Guru memberi tugas.

60 menit

10 menit

V. SUMBER/ALAT/BAHAN PEMBELAJARAN
 Sumber : Buku Teks Kimia Kelas X, Penerbit Grafindo

VI. PENILAIAN
1. Prosedur Penilaian
1.1 Penilaian Kognitif
Jenis : quis,tes lisan dan tes tulis

Bentuk : uraian
2.1 Penilaian Afektif
 Lembar pengamatan sikap siswa.
2. Bentuk Instrumen:
 Tes isian
3. Contoh Instrumen
1. Berapakah jumlah mol amonia yang terdapat dalam 3,01 x 1026 molekul NH3?
2. Asam sulfat digunakan secara luas dalam industri seperti industri pupuk,
detergen,cat, kertas dan industri bahan peledak. Tentukan massa molar asam
sulfat (H2SO4) jika diketahui Ar H=1, S=32 dan O=16.
3. Berapa gramkah massa zat dari 5 mol emas jika diketahui Ar Au=197.
4. Berapakah jumlah mol 700 g batu kapur (CaCO 3), jika diketahui Ar Ca=40,
C=12 dan O=16.
5. Berapa garam massa 896 mL gas SO2 yang diukur pada keadaan STP?
6. terdapat 4,48 L gas hidrogen pada keadaan STP yang tepat bereaksi dengan
gas oksigen menghasilkan air. Tentukan massa air yang dihasilkan (diketahui
Ar H=1 dan O=16)!
2. Kunci Jawaban dan Pedoman Penskoran
NO Kunci Jawaban Skor
1. 3,01x10 26 molekul 5
Jumlah mol NH3 =  500 mol
6,02 x10 23 molekul mol 1

Jadi, 3,01 x 1026 molekul NH3 = 500 mol

Mr H2SO4 = (2 x Ar H)+ (1 x Ar S)+ (4 x Ar O)


2. 10
= (2 x 1)+ (1 x 32)+ (4 x 16)

= 2+32+64

= 98.

Jadi, massa molar H2SO4 = Mr H2SO4 = 98 g mol-1

Massa 5 mol Au = 5 mol x 197 g mol-1 = 985 gram.


3. 5
Mr CaCO3 = (1 x Ca)+ (1 x Ar C)+ (3 x Ar O)
4.
= (1 x 40)+ (1 x 12)+ (3 x 16)
15
= 40+12+48

= 100.

Mm CaCO3 = Mr CaCO3

700 g
Jumlah mol CaCO3 =  7 mol
100 g mol 1

Jadi 700 g batu kapur = 7 mol batu kapur.

Diketahui Ar S = 32, O=16


5. Mr SO2 = Ar S + (2 x Ar O)

= 32 + (2 x 16) 15

= 64

Volume SO2 = 896 mL = 0.896 L

volume SO2 0,896 L


Jumlah mol SO2 =   0,04 mol
V STP 22,4 L mol 1

Massa SO2 = n SO2 x Mr SO2 = 0,04 mol x 64 g mol-1

= 2,56 g.

Jadi pada keadaan STP, massa 896 mL gas SO2 = 2,56 g.


6.
Persamaan :

2H2(g) + O2(g) 2H2O (l)

Jumlah mol H2O = jumlah mol H2 = 0,2 mol (karena koefisiennya


10
sama) yaitu jumlah mol H2 =
volume H 2 4,48 L
  0,02 mol
volume molar STP 22,4 L mol 1
jadi massa H 2 O  n H 2 O x Mr H 2 O  0,02 mol x18 g mol 1  3,6 g
Total Skor 60

Mengetahui, Kupang,

Kepala Sekolah, Calon Guru Kimia

( ) 1. Irena Abi

NIP : 2. Maria A. Teo

3. Maria F. Tarto

4. Serfina Inga Lika


BAHAN AJAR

Mata Pelajaran : Kimia

Kelas/Semester : X/2

Materi Pembelajaran : Perhitungan Kimia

I. Standar Kompetensi
Memahami hukum-hukum dasar kimia dan penerapannya dalam perhitungan kimia
(stoikiometri)

II. Kompetensi Dasar


Membuktikan dan mengkomunikasikan berlakunya hukum-hukum dasar kimia melalui
percobaan serta menerapkan konsep mol dalam menyelesaikan perhitungan kimia.

III. Uraian Materi


Untuk menghitung jumlah partikel yang merupakan suatu materi yang sangat
kecil, digunakan konsep mol. Mol menyatakan satuan jumlah zat. Satuan jumlah zat
ini sama halnya dengan penyederhanaan jumlah suatu barang.penyederhanaan ini
perlu dilakukan karena proses kimia yang berlangsung dalam kehidupan sehari-hari
melibatkan sekumpulan partikel sangat kecil yang jumlahnya sangat banyak.

Perhitungan konsep mol

Mol menyatakan satuan jumlah zat. Satu mol nilainya sebesar tetapan Avogadro.

1 mol = L partikel

L = bilangan Avogadro = 6.02 x 1023 partikel/mol

Hubungan antara jumlah mol dengan jumlah partikel tersebut dapat


dirumuskan :

jumlahpartikelx
Jumlah mmol x =
L

Atom = jumlah x = n x L

Keterangan :

n = jumlah mol

L = bilangan Avogadro
a. Massa molar
Massa suatu zat disebut massa molar dengan satuan gram/mol. Bilangan massa
molar atom unsur sama dengan bilangan massa atom relatif yang membedakannya
hanya satuannya. Massa molar ditentukan dann massa molar ditentukan dari massa
atom relatif atau ,massa molekul relatif.

 Untuk atom berlaku:


Massa molar (gram/mol) = massa atom relatif

Mm = Ar (sma)

 Untuk senyawa berlaku:


Massa molar (gram/mol) = massa molekul relatif

Mm = Mr

Untuk menghitung jumlah mol zat yang diketahui jumlah massanya digunakan
rumus :

massaZat M M
Jumlah mol = atau n = atau n =
massaMolar Ar Mr

b. Volume molar
Volume molar didefenisikan sebagai volume satu mol zat dalam wujud gas pada
keadaan standar. Volume molar dalam keadaan STP.

n x R xT
Sesuai persamaan gas ideal Vm =
P

1 mol x 0.082 L atm mol 1 K 1 x 273K


=
1 atm

= 22.4 L

VSTP = 22.4 L

Keterangan :

P = tekanan (atm)

V = volume (L)

n = jumlah mol gas (mol)

T = suhu (K)

R = tetapan gas = 0.082 L atm mol-1 K-1

Secara umum perhitungan jumlah mol gas dapat dirumuskan sebagai berikut:
Volumegasx
Jumlah mol gas x =
VSTP

Volume gas x = jumlah mol gas x VSTP

c. Hubungan jumlah mol dan koefisien reaksi


Jumlah mol suatu zat dalam reaksi kimia dapat ditentukan dengan persamaan rumus:

koefisien yang dicari


Jumlah mol = koefisien yang diketahui x jumlah mol yang diketahui

PERTANYAAN

1. Hitung banyaknya molekul gas NO2 dalam 1.5 mol gas NO2?
2. Hitung jumlah mol gas belerang dioksida jika diketahui jumlah partikel SO2 adalah
3.01 x 10-23 molekul?
3. Berapa gramkah massa zat-zat berikut:
a. 5 mol emas (Ar = 197)
b. 8 mol gula (C12H22O11)dimana Ar: C= 12, H=1, O=16.
4. Berapakah jumlah mol 700 gram batu kapur CaCO3 jika diketahui Ar Ca=40,
C=12,dan O=16?
5. Berapa volume (dalam mL) 2,408 x 1021 molekul gas hydrogen?
6. Terdapat 4.48 L gas hydrogen pada keadaan STP yang tepat bereaksi dengan gas
oksigen menghasilkan air. Tentukan:
a. Volume dan massa gas oksigen yang bereaksi pada keadaan STP
b. Massa air yang dihasilkan (diketahui Ar H=1, O=16)

KUNCI JAWABAN

1. Jawab:
mol zat = 6.02 x 1023 partikel

n = 1.5 mol

jumlah molekul gas NO2 = n x L

= 1,5 x 6,02 x 1023 molekul NO2

= 9,03 x 1023 molekul NO2

2. Jawab:
jumlah partikel = 3.01 x 10-23 molekul
3.01 x 10 23 molekul
jumlah mol SO2 = x 1 mol  0.005 mol SO2
6.02 x 10 23 molekul

3. Jawab:
a. massa 5 mol Au = 6 mol x 197 gr/mol = 985 mol
b. Mr C12H22O11 = (12x Ar C) + (22x Ar H) + (11 x Ar O)
= (12x 12) + (22x 1) + (11 x 16)

= 342gr/mol

Massa 1 mol gula = 342 gram

Massa 8 mol gula = 7 mol x 342gr/mol = 2736 gram.

4. Jawab:
Mr CaCO3 = (1x Ar Ca) + (1x Ar C) + (3 x Ar O)

= (1x 40) + (1x 12) + (3 x 16) = 100

m 700 gram
n CaCO3 = Mr  100 gram / mol  7 mol

5. Jawab:
2,408 x 10 23 molekul
jumlah mol H2 =
6,02 x 10 23 molekul / mol

= 4 x 10-3 mol

Volume H2 = n H2 x VSTP = 4 x 10-3 mol x 22,4 L mol-1

= 89,6 x 10-3 L

=89,6 mL

6. Jawab:
a. Persamaan reaksi : 2 H2(g) + O2(g)  2 H2O(l)
volume H 2 4,49 L
Jumlah mol H2 =   0,2 mol
volume molar STP 22,4 L mol 1

koefisien O3
Jumlah mol O2 = x jumlah mol H 2
koefisien H 2

1
= x 0,2 mol  0,1 mol
2

Volume O2 = n O2 x VSTP

= 0,1 mol x 22,2 l mol-1 = 2,24


Massa O2 = n O2 x Mr O2

= 0,1 mol x 32 g mol-1 = 3,2 g.

b. Jumlah mol H2O = jumlah H2 = 0,2 mol (karena koefisiennya sama).


Massa H2O = n H2O x Mr H2O

= 0,2 mol x 18 g mol-1

= 3,6 g.

Kupang, Juni 2009

Mengetahui Guru Kimia

Kepala Sekolah

( ) 1. Irena Abi

NIP : 2. Maria A. Teo

3. Maria F. Tarto

4. Serfina Inga Lika


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP)

Mata Pelajaran : KIMIA

Kelas/Semester : X/2

Pertemuan Ke : 2

Alokasi Waktu : 2 jam pelajaran

Tahun Pelajaran : 2008/2009

STANDAR KOMPETENSI

Memahami hukum – hukum dasar Kimia dan penerapannya dalam perhitungan Kimia
(Stoikiometri)

KOMPETENSI DASAR

Membuktikan dan mengkomunikasikan berlakunya hukum – hukum dasar Kimia melalui


percobaan serta menerapkan konsep mol dalam menyelesaikan perhitungan Kimia
(Stoikiometri)

INDIKATOR

 Menentukan rumus empiris dan rumus molekul


 Menentkan rumus air kristal
 Menentukan kadar zat dalam senyawa

I. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mempelajari materi pembelajaran ini, siswa diharapkan dapat:

 Menentukan rumus empiris dan rumus molekul suatu senyawa.


 Menentukan rumus air kristal.
 Menentukan kadar zat dalam suatu senyawa.

II. MATERI PEMBELAJARAN


 Perhitungan kimia

III. METODE PEMBELAJARAN


 Metode : ceramah, Tanya jawab dan pemberian tugas.
 Pendekatan : konsep.

IV. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN


Kegiatan Pembelajaran Waktu

Pendahuluan:

Prasyarat pengetahuan:

 Siswa dapat menentukan jumlah mol, Ar dan Mr (kuis). 10 menit


Motivasi; guru melakukan percobaan bagaimana pengaruh
kandungan air terhadap bentuk kristal melalui pemanasan
CuSO4.2H2O (biru) CuSO4 (putih)

Kegiatan inti:

 Guru menyampaikan informasi tentang rumus empiris


dan rumus molekul.
 Latihan penentuan rumus empiris dan rumus molekul.
 Guru menjelaskan tentang penentuan rumus senyawa
hidrat (air kristal).
 Latihan soal-soal.
 Guru menjelaskan tentang penentuan kadar unsure
dalam suatu senyawa.
 Latihan penentuan kadar unsur
Penutup:

 Guru merangkum atau memberi kesimpulan tentang


materi pembelajaran yang telah dipelajari.
 Guru memberi tugas.

60 menit

10 menit

V. SUMBER/ALAT/BAHAN PEMBELAJARAN
 Sumber : Buku Teks Kimia Kelas X, Penerbit Grafindo

VI. PENILAIAN
1. Prosedur Penilaian
3.1 Penilaian Kognitif
Jenis : quis,tes lisan dan tes tulis

Bentuk : uraian

4.1 Penilaian Afektif


 Lembar pengamatan sikap siswa.
2. Bentuk Instrument:
 Tes isian
3. Contoh Instrument
1. Suatu senyawa yang terdiri dari unsur C, H, dan O berisi 40% C; 6,67% H
dan sisanya O, jika Mr senyawa itu 60, tentukan rumus empiris dan rumus
molekulnya!
2. Pemanasan 31,2 g garam magnesium sulfat hidrat menghasilkan 24 g
magnesium anhidrat. Jika Ar Mg=24; S=32 ; O=16 dan H=1, tentukan jumlah
molekul hidrat yang terikat dan rumus senyawa terhidratnya!
3. Tentukan massa Al, S dan O dalam 171 kg senyawa Al2(SO4)3. jika diketahui
Ar Al=27, S=32 dan O=16!
Kunci Jawaban dan Pedoman Penskoran

NO Kunci Jawaban Skor


1. 40 20
Berat C = x100 g  40 g
100

6,67
Berat H = x100 g  6,67 g
100

Berat O = 100- (40+6,67 g)=53,33 g.

Perbandingan molekul C : H : O adalah

40 6,67 53,33
: :
12 1 16

= 3,33 : 6,67 : 3,33

=1 :2 :1

Rumus empirisnya adalah: CH2O

Rumus molekulnya: (CH2O)n = 60

= (12+2+16)n = 60

= 30n = 60

60
n= 2
30

jadi rumus molekul senyawa tersebut adalah C2H4O2.

Jadi, 3,01 x 1026 molekul NH3 = 500 mol

Mr H2SO4 = (2 x Ar H)+ (1 x Ar S)+ (4 x Ar O)

= (2 x 1)+ (1 x 32)+ (4 x 16)

= 2+32+64

= 98.

Jadi, massa molar H2SO4 = Mr H2SO4 = 98 g mol-1

Persamaan reaksi;

MgSO4. xH2O MgSO4 + xH2O


2.
Massa H2O = massa MgSO4. xH2O – massa MgSO4

= 31,2 g – 24 g = 7,2 g

massa MgSO4 24 g
Jumlah mol MgSO4 =   0,2 mol 10
Mr MgSO4 120 g mol 1

massa H 2 O 7,2 g
Jumlah mol H2O =  = 0,4 mol
Mr H 2 O 18 g mol 1
Total Skor 60

Mengetahui, Kupang,

Kepala Sekolah, Calon Guru Kimia

( ) 1. Irena Abi

NIP : 2. Maria A. Teo

3. Maria F. Tarto

4. Serfina Inga Lika


BAHAN AJAR

Mata Pelajaran : Kimia

Kelas/Semester : X/2

Materi Pembelajaran : Perhitungan Kimia

I. Standar Kompetensi
Memahami hukum-hukum dasar kimia dan penerapannya dalam perhitungan kimia
(stoikiometri)

II. Kompetensi Dasar


Membuktikan dan mengkomunikasikan berlakunya hukum-hukum dasar kimia melalui
percobaan serta menerapkan konsep mol dalam menyelesaikan perhitungan kimia.

III. Uraian Materi


a. Penentuan Rumus Empiris Dan Rumus Molekul
Rumus empiris merupakan rumus perbandingan jumlah mol unsure-unsur
yang menyusun suatu senyawa. Menentukan rumus empiris berarti menghitung
jumlah mol unsure-unsur kemudian membandingkannnya.

Dalam penentuan tersebut diperlukan sejumlah data, yaitu:

a. Massa unsur, perbandingan massa unsur atau perentase massa unsur yang
menyusun senyawa;
b. Massa atom relative (Ar) unsur tersebut.
Adapun rumus molekul senyawa merupakan rumus kimia yang
menggambarkan jumlah atom dan unsur penyusun senyawa. Dalam penentuan rumus
molekul, perlu ditentukan terlebih dahulu rumus empirisnya. Selanjutnya, dengan
menggunakan data massa molekul relativ (Mr) senyawa dapat ditentukan rumus
molekulnya.

Contoh soal:

 Diketahui bahwa suatu senyawa mengandung unsur karbon, hidrogen dan


oksigen, dalam 3 garam senyawa itu terdapat 1,2 gram karbon, 0,2 gram
hydrogen dan sisanya adalah oksigen. Tentukan rumus empiris senyawa
tersebut!
Jawab:

12 g
Jumlah mol C =  0,1mol
120 g mol 1
0,2 g
Jumlah mol H =  0,2mol
1g mol 1

Massa O = 3 – (1,2 + 0,2) gram = 1,6 gram

1,6 g
Jumlah mol O =  0,1mol
16 g mol 1

Perbandingan mol C: H : O = 0,1 : 0,2 : 0,1 = 1 : 2 : 1

Rumus empiris senyawa tersebut adalah CH2O

 Senyawa x mempunyai rumus empiris CH2O dan massa molekul relative


(Mr=60). Tentukanlah rumus molekul senyawa tersebut!
Jawab:

Mr (CH2O)x = 60 (12+2+16)x = 60

(30)x = 60

X= 2

jadi rumus molekul senyawa tersebut adalah (CH2O)2/

b. Penentuan Senyawa Hidrat


Senyawa hidrat adalah senyawa yang mengikat molekul air. Molekul air yang
terikat tersebut dinamakan molekul hidrat. Berikut beberapa senyawa yang
mengandung senyawa hidrat:

 Cr2O3.3H2O (mengikat 3 molekul hidrat)


 Mn(NO3)2.H2O (mengikat 6 molekul hidrat)
Penentuan jumlah molekul hidrat yang terikat dilakukan dengan cara
memanaskan garam terhidrat (mengandung air) menjadi garam anhidrat (tidak
mengandung air).

Contoh:

Pemanasan 31,2 garam magnesium sulfat hidrat menghasilkan 24 g magnesium


anhidrat. Jika diketahui Ar Mg = 24; S=32; O=16; dan H=1, tentukan jumlah
molekul hidrat yang terikat dan rumus senyawa terhidratnya.

Jawab:

MgSO4.xH2O MgSO4 + xH2O

Massa H2O = massa MgSO4.xH2O – massa MgSO4

= 31,2 g – 24 g = 72 g
massa MgSO4 24 g
 1
 0,2 mol
Jumlah MgSO4 =
M r MgSO4 120 g mol

massa H 2O 7,2 g
  0,4 mol
Jumlah H2O =
M r H 2O 18 g mol 1

Jumlah mol MgSO4 : jumlah H2O = koefisien MgSO4 : koefisien H2O

= 0,2 : 0,4 = 1: x

= 0,2 x = 0,4

x=2

Jumlah molekul hidrat = 2

Jadi, rumus senyawa tersebut adalah MgSO4. 2H2O

c. Penentuan Kadar Unsure Dalam Senyawa


Hukum Proust menyatakan bahwa perbandingan massa unsure-unsurpenyusun
senyawa selau tetap. Ternyata perbandingan massa unsure dalam suatu senyawa yang
telah diketahui rumus kimia dengan konsep Ar dan Mr.

Untuk senyawa XmYn berlaku persamaan sebagai berikut:

m. Ar X
Massa x = x massa X mYn
M r X mYn

Perbandingan unsur dalam senyawa juga dinyatakan dalam persen:

m. Ar X
%x = x % X mYn
M r X mYn

Contoh:

Tentukan massa Al, S dan O dalam 171 kg senyawa Al 2(SO4)3 jika diketahui Ar Al = 27,
S=32 dan O=16.

Jawab:

Mr Al2(SO4)3 = (2 x Ar Al)+ (3 x Ar S)+ (12 x Ar O)

= (2 x 27)+ (3 x 32)+ (12 x 16)

= 342.

2 x Ar Al
Massa Al = x massa Al ( SO4 ) 3
M r Al 2 ( SO4 ) 3

2 x 27
Massa Al = 342 x 171 kg  27
3 x Ar s 3 x 32 gmol 1
Massa S = x massa Al 2 ( SO4 ) 3  x171kg  48 kg
Mr Al 2 ( SO4 ) 3 342 g mol 1

12 x Ar O 12 x16 gmol 1
Massa O = x massa Al 2 ( SO4 ) 3  x171kg  96 kg
Mr Al 2 ( SO4 ) 3 342 g mol 1
PERTANYAAN

1. Suatu senyawa hidrokarbon mengandung 85,7% massa karbon dan sisanya massa
hydrogen. Jika ditentukan Ar H=1, C=12 dan Mr senyawa hidrokarbon 56, tentukan
rumus empiris dan rumus molekul senyawa tersebut.
jadi rumus molekulnya adalah (CH2)4 atau C4H8.

2. Pemanasan 31,2 garam magnesium sulfat hidrat menghasilkan 24 g magnesium


anhidrat. Jika diketahui Ar Mg = 24; S=32; O=16; dan H=1, tentukan jumlah molekul
hidrat yang terikat dan rumus senyawa terhidratnya.
3. Tentukan massa Al, S dan O dalam 171 kg senyawa Al2(SO4)3 jika diketahui Ar Al =
27, S=32 dan O=16.

KUNCI JAWABAN

1. Jawab:
% massa hydrogen = 100% - % massa karbon

= 100% - 85,7% = 14,3%

%C % H
Perbandingan jumlah mol C : jumlah mol H = :
Ar C Ar

85,7% 14,3%
:  7,14: 14,3 1: 2 jadi rumus empiris senyawa teresbut =
12 1
(CH2)n.

Massa molekul relatif (CH2)n = 56

(Ar C+ (2 x ArH)n= 56

(12+ (2 x 1)n = 56

n=4

Jadi rumus molekulnya adalah (CH2)4 atau C4H8.

2. Jawab:
MgSO4.xH2O MgSO4 + xH2O

Massa H2O = massa MgSO4.xH2O – massa MgSO4

= 31,2 g – 24 g = 72 g

massa MgSO4 24 g
Jumlah MgSO4 =   0,2 mol
M r MgSO4 120 g mol 1
massa H 2O 7,2 g
Jumlah H2O =   0,4 mol
M r H 2O 18 g mol 1

Jumlah mol MgSO4 : jumlah H2O = koefisien MgSO4 : koefisien H2O

= 0,2 : 0,4 = 1: x

= 0,2 x = 0,4

x=2

Jumlah molekul hidrat = 2

Jadi, rumus senyawa tersebut adalah MgSO4. 2H2O

3. Jawab:
Mr Al2(SO4)3 = (2 x Ar Al)+ (3 x Ar S)+ (12 x Ar O)

= (2 x 27)+ (3 x 32)+ (12 x 16)

= 342.

2 x Ar Al
Massa Al = x massa Al ( SO4 ) 3
M r Al2 ( SO4 ) 3

2 x 27
Massa Al = 342 x 171 kg  27

3 x Ar s 3 x 32 gmol 1
Massa S = x massa Al 2 ( SO4 ) 3  x171kg  48 kg
Mr Al 2 ( SO4 ) 3 342 g mol 1

12 x Ar O 12 x16 gmol 1
Massa O = x massa Al 2 ( SO4 ) 3  x171kg  96 kg
Mr Al 2 ( SO4 ) 3 342 g mol 1

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


(RPP)

Mata Pelajaran : KIMIA

Kelas/Semester : X/2

Pertemuan Ke : 1

Alokasi Waktu : 2 jam pelajaran

Tahun Pelajaran : 2008/2009

STANDAR KOMPETENSI

Memahami hukum – hukum dasar Kimia dan penerapannya dalam perhitungan Kimia
(Stoikiometri)

KOMPETENSI DASAR

Membuktikan dan mengkomunikasikan berlakunya hukum – hukum dasar Kimia melalui


percobaan serta menerapkan konsep mol dalam menyelesaikan perhitungan Kimia
(Stoikiometri)

INDIKATOR

 Menentukan pereaksi pembatas dalam suatu reaki


 Menentukan banyaknya zat pereaksi atau hasil reaksi

I. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mempelajari materi pembelajaran ini, siswa diharapkan dapat:

 Menentukan pereaksi pembatas dalam suatu reaki.


 Menentukan banyaknya zat pereaksi atau hasil reaksi.

II. MATERI PEMBELAJARAN


 Perhitungan kimia

III. METODE PEMBELAJARAN


 Metode : ceramah, Tanya jawab dan pemberian tugas.
 Pendekatan : konsep.
IV. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN
Kegiatan Pembelajaran Waktu

Pendahuluan:

Prasyarat pengetahuan: konsep mol

Motivasi; guru memberi gambaran tentang pereaksi pembatas 10 menit

Kegiatan inti:

 Guru menjelaskan tentang pereaksi pembatas.


 Guru menjelaskan cara penentuan pereaksi pembatas
 Latihan soal 60 menit

Penutup:

 Guru merangkum atau memberi kesimpulan tentang


materi pembelajaran yang telah dipelajari.
 Guru memberi tugas.

10 menit

V. SUMBER/ALAT/BAHAN PEMBELAJARAN
 Sumber : Buku Teks Kimia Kelas X, Penerbit Grafindo

VI. PENILAIAN
1. Prosedur Penilaian
1.1 Penilaian Kognitif
Jenis : quis,tes lisan dan tes tulis

Bentuk : uraian

2.1 Penilaian Afektif


 Lembar pengamatan sikap siswa.
2. Bentuk Instrumen:
 Tes isian
3. a. Contoh Instrumen
1. metana terbakar (bereaksi dengan oksigen) menurut persamaan:
CH4(g) + 2O2(g) CO2(g) + 2H2O(g)

Dalam satu percobaan, sebanyak 8 gram gas metana dibakar dengan 40


garm oksigen

a. tentukan pereaksi pembatas


b. berapa gram CO2 yang terbentuk? (Ar H=1, C=12, O=16)
Kunci Jawaban dan Pedoman Penskoran.

NO Kunci Jawaban Skor

1. jawab: 10

8g
a. Jumlah mol metana(CH4)=   0,5 mol
16 g mol 1
40 g
Jumlah mol O2 =  1,25 mol
32 g mol 1

Jika dibandingkan dengan koefisien reaksinya, metana


0,5
dikalikan dengan bilangan atau dengan 0,5
1
1,25
sedangkan oksigen dengan bilangan atau 0,625.
2

Karena pengalinya lebih kecil, maka pereaksi


pembatasnya adalah metana.

b. Jumlah mol CO2 yang terbentuk adalah 1 mol x 0,5= 0,5


mol.
Massa CO2 = 0,5 mol x 44 gmol-1 = 22 garam.

Total Skor 10
Mengetahui, Kupang,

Kepala Sekolah, Calon Guru Kimia

( ) 1. Irena Abi

NIP : 2. Maria A. Teo

3. Maria F. Tarto

4. Serfina Inga Lika


BAHAN AJAR

Mata Pelajaran : Kimia

Kelas/Semester : X/2

Materi Pembelajaran : Perhitungan Kimia

I. Standar Kompetensi
Memahami hukum-hukum dasar kimia dan penerapannya dalam perhitungan kimia
(stoikiometri)

II. Kompetensi Dasar


Membuktikan dan mengkomunikasikan berlakunya hukum-hukum dasar kimia melalui
percobaan serta menerapkan konsep mol dalam menyelesaikan perhitungan kimia.

III. Uraian Materi


Seserigkali zat-zat pereaksi dicampurkan tidak dalam jumlah yang sesuai
dengan perbandingankoefisien reaksi. Dalam hal ini salah satu pereaksi akan habis
lebih dahulu, sementara pereaksi lainnya berlebihan. Jumlah hasil reaksi akan
bergantung pada jumlah pereaksi yang habis lebih dahulu disebut sebagai pereaksi
pembatas. Prosedurnya dapat dilakukan sebagai berikut:

 Nyatakan zat yang diketahui dalam mol.


 Bagilah jumlah mol masing-masing dengan koefisiennya.
 Pereaksi yang hasil pembagiannya yang paling kecil merupakan pereaksi
pembatas.
Contoh:

Sebanyak 28 g logam besi direaksikan dengan 48 g gas oksigen menghasilkan Fe2O3


dik Ar Fe=56 dan O=16.

a. Tentukan massa Fe2O3.


b. Tentukan massa zat pereaksi yang tersisa.
Jawab:

28 g
a. Jumlah mol Fe =   0,5 mol
56 g mol 1
48 g
Jumlah mol O2 =  1,5 mol
32 g mol 1

Persamaan reaksi : 4 Fe + 3O2 2 Fe2O3

Jumlah zat : 0,5 mol 1,5 mol


jumlah mol zat 0,5 1,5
:  0,125 mol  0,5 mol
koefisien 4 3

Karena nilai pembagian junlah mol terhadap koefisiennya lebih kecil, zat
yang habis bereaksi adalah besi sehingga digunakan sebagai patokan untuk
perhitungan selanjutnya.

koefisien Fe2 O3
Jumlah mol Fe2O3  x jumlah mol Fe  0,25 mol
koefisien Fe

2
 x 0,5 mol  0,25 mol
3

Mr Fe2O3 = (2 x Ar Fe) + (3 x Ar O)

= (2 x 56) + (3 x 16) = 112 + 48 = 160

Massa Fe2O3 = mol Fe2O3 x Mr Fe2O3

= 0,25 mol x 160 g/mol = 40 gram

koefisien O2
b. Jumlah O2 yang bereaksi = x jumlah mol Fe
koefisienFe
3
= x 0,5 mol = 0,375 mol
4

Massa O2 yang bereaksi = mol O2 yang bereaksi x Mr O2

= 0,375 mol x 32 g/mol

= 12 gram

Massa O2 yang tersisa = massa O2 – massa O2 yang bereaksi

= 48 gram – 12 gram

= 36 gram.
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Sekolah : SMA...........

Mata pelajaran : Kimia

Kelas/semester :X/I

Pertemuan ke- : I dan II

Alokasi waktu : 4 x 45 menit

STANDAR KOMPETENSI : Mengidentifikasikan sifat larutan elektrolit dan


nonelektrolit berdasarkan data hasil percobaan

KOMPETENSI DASAR : Menyelidiki daya hantar listrik berbagai larutan untuk


membedakan larutan elektrolit dan nonelektrolit

INDIKATOR :

1. Menyimpulkan gejala-gejala hantaran arus listrik dalam


berbagai larutan berdasarkan hasil pengamatan
2. Mengelompokan larutan kedalam larutan elektrolit dan
nonelektrolit berdasarkan sifat hantaran listriknya
3. Menjelaskan penyebab kemampuan larutan elektolit
menghantarkan arus listrik
4. Menjelaskan bahwa larutan elektrolit dapat berupa senyawa
ion dan senyawa kovalen polar

I. TUJUAN
o Agar siswa dapat menyimpulkan gejala-gejala hantaran arus listrik dalam
berbagai larutan berdasarkan hasil pengamatan
o Agar siswa dapat mengelompokan larutan kedalam larutan elektrolit dan
nonelektrolit berdasarkan sifat hantaran listriknya
o Agar siswa dapat mejelaskan penyebab kemampuan larutan elektolit
menghantarkan arus listrik
o Agar siswa dapat Menjelaskan bahwa larutan elektrolit dapat berupa senyawa
ion dan senyawa kovalen polar

II. MATERI AJAR / MATERI PEMBELAJARAN

Larutan eletrolit dan larutan nonelektrolit (terlampir)

III. METODE PEMBELAJARAN

Metode pembelajaran yang digunakan adalah metoden ceramah dan tekniknya


adalah praktikum dan diskusi kelompok.
IV. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN

Pertemuan I (Pertama)

 Kegiatan awal (Pendahuluan)


 Apersepsi : Apa itu larutan elektrolit dan larutan nonelektrolit?
 Motivasi :Mengapa air laut dapat dialiri air listrik sehingga orang
sering mengunakan arus listrik untuk menangkap ikan?
 Kegiatan inti
a. Guru membimbing siswa membentuk kelompok
b. Guru melakukan siswa dalam melakukan eksperimen
c. Guru membimbing siswa atau kelompok yang mengalami kesulitan
d. Siswa mengisi lembar pengamatan
e. Siswa membuatm kesimpulan serta memaparkan hasil pengamatan
 Kegiatan penutup
a. Guru membantu siswa dalam menarik kesimpulan
b. Guru memberikan tugas kepada siswa

Pertemuan II (Kedua)

 Kegiatan awal (pendahuluan)


 Apersepsi : Berdasarkan daya hantar listrik maka ada beberapa jenis
larutan?
 Motivasi :-

 Kegiatan inti
a. Dari data hasil percobaan yang ada maka guru membantu siswa dalam
mengelompokan larutan berdasarkan daya hantar listriknya
b. Guru menjelaskan kemampuan larutan elektrolit menghantarkan arus
listrik
c. Guru menjelaskan larutan elektrolit dapat berupa senyawa ion dan
senyawa kovalen polar

 Kegiatan penutup
a. Guru membantu siswa dalam menarik kesimpulan dari materi yang
telah disampaikan
b. Guru memberi tugas individu kepada siswa

V. SUMBER BELAJAR, ALAT DAN BAHAN


 Sumber belajar : Buku Kimia Kelas X
 Alat :
 2 buah batang karbon
 Gelas kimia
 2 buah kabel (panjang ±30 cm)
 1 buah bola lampu
 Bahan :
 Aquadest
 Air sumur
 Larutan garam dapur
 Alcohol
 Larutan cuka

VI. PENILAIAN HASIL BELAJAR

Teknik penilaian : - Test tertulis (tugas dan laporan)

-Test unjuk kerja

Instrument :

Pertemuan pertama

1. Uji petik kerja

Kegiatan: pengamatan terhadap gejala-gejala hantaran arus listrik

No Aspek Skor
1. Ketepatan merangkai peralatan praktikum 4
2. Ketelitian dalam pengamatan 4
3. Prosedur pengamatan yang tepat 2
Jumlah 10

2. Membuat laporan hasil pengamatan

Pertemuan kedua

1. Tuliskan masing-masing 1 contoh larutan elektrolit dan 1 contoh larutan


nonelektrolit
2. Tuliskan reaksi penguraian pada larutan garam laut dan larutan asam asetat
serta jelaskan bagaimana proses penghantaran arus listrik yang terjadi
dalamnya.
MATERI PEMBELAJARAN

 Zat yang dapat menghantarkan arus listrik disebut kondoktor dan yang tidak
dapat menghantarkan arus disebut isolator.

 Listrik adalah aliran elektron. Elektron adalah paartikel subatom yang


bermuatan negatif. Misalnya jika dibuat rangkaian peralatan eksperimen, maka
aliran listrik yang ada dalam suatu larutan dapat dilihat. Larutan yang dapat
menghantarkan arus listrik disebut larutan elektrolit sedangkan yang tidak
dapat menghantarkan arus listrik disebut larutan nonelektrolit.

 Daya hantar listrik dapat diamati dengan merangkai peralatan dimana


disiapkan suatu larutan kemudian dua buah batang karbon dihubungkan pada
dua buah kabel. Kabel tersebut dihubungkan dengan bola lampu kemudian
dihubungkan lagi dengan sumber arus listrik (baterai). Kemudian peralatan
dirangkaikan dan dua buah batang karbon yang telah disambungkan dengan
sumber arus dan bola lampu dimasukan kedalam larutan yang telah disiapkan
kemudian diamati semua perubahan yang terjadi.

 Jika bola lampu menyala terang maka larutan tersebut adalah larutan elektrolit
kuat,jika bola lampu menyala redup atau tidak menyala tapi terdapat
gelembung gas pada batang karbon maka larutan tersebut merupakan larutan
elektrolit lemah sedangkan jika bola lampu tidak menyala serta tidak ada
gelembung gas maka larutan tersebut merupakan larutan nonelektrolit.

 Menurut seorang ahli bernama Svante August Arrhenius dari Swedia pada
tahun 1887, larutan elektrolit dapat menghantarkan arus listrik karena
mengandung ion-ion yang bergerak bebas. Ion-ion itulah yang menghantarkan
arus listrik melalui larutan. Contohnya larutan yang menghantar arus listrik
yang didalamnya terdapat ion-ion yang bergerak bebas adalah NaOH. NaOH
akan terurai dalam air menjadi ion-ion sebagai berikut:

NaOH(s) → Na+(aq) + OH-(aq

Adapun zat nonelektrolit dalam larutan tidak terurai menjadi ion-ion tetapi tetap
berupa molekul. Contohnya: C2H5OH(l) → C2H5OH(aq)

 Elektrolit dapat berupa senyawa ion atau senyawwa kovalen polar yang dapat
terhidrolisis. Senyawa-senyawa seperti NaCl dan NaOH dalam bentuk padatan
tidak dapat menghantarkan arus listrik karena ion-ionnya tidak dapat bergerak
bebas melainkan diam. Oleh karena itu apabila senyawa tersebut dilelehkan
atau dilarutkan maka ion-ionnya akan dapat bergerak bebas sehingga larutan
atau lelehan senyawa ion dapat menghantarkan arus listrik.
 Molekul dapat menghantarkan arus listrik karena dalam air akan mengalami
ionisasi namun tidak semua senyawa polar dapat mengionisasi dalam air, hal
ini terjadi karena dalam molekul tersebut terdapat suatu gaya tarik menarik
yang dapat memutuskan ikatan-ikatan tertentu dalm molekul tersebut sehingga
dapat mengionisasi. Molekul nonpolar tidak ada yang bersifat elektrolit.

Mengetahui Kupang, Juni 2009

Kepala sekolah Calon guru

( ) (Anselmus Boy Baunsele)

NIP: Budiono S. Rahayu


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Sekolah : SMA………

Mata pelajaran : Kimia

Kelas/semester : X/I

Pertemuan ke- : III (tiga)

Alokasi waktu : 4 x 45 menit (2 pertemuan)

STANDAR KOMPETENSI :Mendeskripsikan sifat-sifat larutan, metode pengukuran dan


terapannya.

KOMPETENSI DASAR :Menjelaskan perkembangan konsep reaksi oksidasi reduksi


dan hubungannya dengan tata nama senyawa serta
penerapannya.

INDIKATOR :

1. Membedakan konsep oksidasi reduksi ditinjau dari penggabungan dan pelepasan


oksigen, pelepasan dan penerimaan electron serta peningkatan dan penurunan
bilangan oksidasi.
2. Menentukan bilangan oksidasi atom unsur dalam senyawa atau ion.
3. Menentukan oksidator dan reduktor dalam reaksi redoks
4. Memberi nama senyawa menurut IUPAC
5. Menerapkan konsep larutan elektrolit dan konsep redoks dalam memecahkan
masalah lingkungan.

I. TUJUAN PEMBELAJARAN
a. Agar siswa dapat membedakan konsep oksidasi reduksi ditinjau dari penggabungan
dan pelepasan oksigen, pelepasan dan penerimaan elektron serta peningkatan dan
penurunan bilangan oksidasi.
b. Agar siswa dapat menentukan bilangan oksida atom unsur dalam senyawa atau ion.
c. Agar siswa dapat menentukan oksidator dan reduktor dalam reaksi redoks
d. Agar siswa dapat memberi nama senyawa menurut IUPAC
e. Agar siswa dapat menerapkan konsep larutan elektrolit dan konsep redoks dalam
memecahkan masalah lingkungan.

II. ALAT DAN SUMBER BELAJAR


Sumber belajar berasal dari buku Kimia SMA kelas X
III. MATERI PEMBELAJARAN
Reaksi oksidasi reduksi (terlampir)

IV. METODE PEMBELAJARAN


Metode pembelajaran yang dipakai adalah metode cermah dan pemberian tugas.

V. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN
Pertemuan I (Pertama)

 Kegiatan awal (pendahuluan)


 Motivasi :-Reaksi apakah yang menyebabkan
energi listrik dapat dihasilkan dari baterai?
-Bagaimanakah dapat terjadi perkaratan pada besi?

 Apersepsi : Apa yang dimaksud dengan reaksi


oksidasi Reduksi
 Kegiatan inti
 Guru menjelaskan apa yang dimaksud dengan
reaksi redoks
 Guru menjelaskan pengertian redoks
berdasarkan penggabungan dan pelepasan oksigen, pelepasan dan
penerimaan electron serta peningkatan dan penurunan bilangan oksidasi yang
disertakan dengan contohnya masing-masing.
 Kegiatan akhir (penutup)
Guru membimbing siswa dalam menarik kesimpulan dari penjelasan yang telah
disampaikan serta menindak lanjutinya dengan pemberian tugas.

Pertemuan II (Kedua)

 Kegiatan awal (pendahuluan)


 Motivasi :-
 Apersepsi : Apa yang dimaksud dengan bilangan
oksidasi?
 Kegiatan inti
 Guru menjelaskan bagaimana menentukan
oksidator dan reduktor dalam reaksi redoks yang disertakan dengan conto hnya
masing-masing.
 Guru menjelaskan serta membantu siswa
dalam menentukan tata nama IUPAC dari beberapa senyawa.
 Guru menjelaskan peranan reaksi redoks
dalam pengolahan air limbah.
 Kegiatan akhir (penutup)
Guru membimbing siswa dalam menarik kesimpulan dari penjelasan yang telah
disampaikan serta menindak lanjutinya dengan pemberian tugas.
VI. PENILAIAN
Teknik penilaian : Tes tertulis
Bentuk instrument : Tes isian
Instrumen:

I. Pertemuan I (pertama)
1. Tuliskan pengertian reaksi reduksi dan oksidasi berdasarkan penggabungan dan
pelepasan oksigen, pelepasan dan penerimaan electron yang disertakan dengan
contohnya masing-masing.
2. Kelompokkan reaksi berikut kedalam reaksi oksidasi dan reduksi
 4Fe(s) + 3O2(g) → 2Fe2O3(s)

 C6H12O6 (aq) + 6O2 (g) → 6CO2 (g) + 6H2O (l)

 CH4 (g) + 2O2 (g) →CO2 (g) + 2H2O (l)

 Fe2O3(s) + 3CO (g) → 2Fe(s) + 3CO2(g)

 CuO(s) + H2 (g) → Cu (s) + H2O (g)


3. Apa yang dimaksud dengan bilangan oksidasi?
4. Bagaimana hubungan bilangan oksidasi dengan reaksi redoks?
5. Tentukanlah bilangan oksidasi untuk:
 Na dan Cl dari NaCl
 H dan O dari H2O
 Na dan H dari NaH
 C dari CH4
 S dari SF6

II. Pertemuan II (kedua)


1. Apa yang dimaksud dengan oksidator dan reduktor?
2. Berikanlah nama dari senyawa-senyawa berikut:
a. N2O
b. CuS
c. FeSO4
d. N2O3
e. MgO
3. Untuk reaksi berikut, tentukanlah oksidator dan reduktornya!

a. CuO(s) + H2(g) → Cu(s) + H2O (g)


b. Cu(s) + HNO3(aq) → Cu(NO3)2(aq) + NO(aq) + H2O(l)
MATERI PEMBELAJARAN

 Reaksi yang melibatkan reaksi oksidasi dan reduksi dasebut sebagai reaksi redoks.
 Berdasarkan pelepasan dan penangkapan oksigen maka reaksi oksidasi adalah
reaksi penangkapan atau pengikatan oksigen sedangkan reduksi adalah reaksi
pelepasan oksigen.
Contoh reaksi oksidasi :4Fe(s) + 3O2(g) → 2Fe2O3(s)

Contoh reaksi reduksi :Cr2O3(s) + 2Al(s) → Al2O3(s) + 2Cr(s)

 Berdasarkan pelepasan dan penangkapan elektron maka reaksi oksidasi adalah


reaksi pelepasan elektron sedangkan reduksi adalah reaksi penangkapan electron.
Contoh reaksi oksidasi : 2Cl- → Cl2 + 2e

Contoh reaksi reduksi : Na+ + e → Na

 Berdasarkan penurunan dan penambahan bilangan oksidasi maka reaksi oksidasi


adalah reaksi yang disertai penambahan bilangan oksidasi sedangkan reduksi adalah
reaksi yang disertai dengan penurunan bilangan oksidasi
Contoh reaksi: Ca + S → Ca2+ + S2-

Ca mengalami oksidasi karena bilangan oksidasi meningkat dari 0 menjadi +2 sedangkan


s mengalami reduksi karena bilangan oksidasinya menurun dari 0 menjadi -2.

 Oksidator adalah suatu zat yang mengalami reduksi sedangkan reduktor adalah zat
yang mengalami oksidasi.
Contoh reaksinya: CuO(s) + H2(g) → Cu(s) + H2O (g)

Reduktor adalah H2 dan oksidator adalah CuO.

Reduktor adalah H2 karena mengalami oksidasi yang didalamnya terjadi peningkatan


bilangan oksidasi dari 0 menjadi +1 serta terjadi penangkapan oksigen sedangkan CuO
adalah oksidator karena mengalami reduksi yang didalamnya terjadi penurunan bilangan
oksidasi dan pelepasan oksigen.

 Banyak unsur yang dapat membentuk senyawa dengan lebih dari satu macam tingkat
oksidasi. Salah satu cara yang disarankan IUPAC untuk membedakan senyawa-
senyawa dari unsur seperti itu adalah dengan menuliskan bilangan oksidasinya,
dengan tanda kurung dan angka romawi.
Contoh:

FeSO4 : besi (II) sulfat

N2O : nitrogen (I) oksida

N2O3 : nitrogen (III) oksida

P2O3 :fosforus (III) oksida.


Kupang, Juni 2009

Mengetahui, Calon Guru Kimia

Kepala Sekolah

(………………….) Anselmus B. Baunsele

Budiono S. Rahayu
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Mata pelajaran : Kimia

Kelas / semester : X / II

Pertemuan ke :1

Alokasi waktu : 4 jam pelajaran

Standar kompetensi

Memahami sifat-sifat senyawa organik atas dasar gugus fungsi dan senyawa
makromolekul.

Kompetensi dasar

Mendeskripsikan kekhasan atom karbon dalam membentuk senyawa hidrokarbon.

Indikator

Mengidentifikasi unsur C, H dan O dalam senyawa karbon.

I. Tujuan pembelajaran
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan siswa dapat mengidentifikasi unsur C, H
dan O dalam senyawa karbon.

II. Materi pembelajaran


Identifikasi senyawa organik

III. Sumber/ Alat Bantu


Purba, M. 2007. KIMIA. Untuk keals I. Jilid I. Erlangga. Jakarta.

Sutresna, N. 2007. CERDAS BELAJAR KIMIA untuk kelas X SMA/MA. Grafindo


Media Pratama Jakarta.

IV. Metode/ Pendekatan


Praktikum, pemberian tugas

Pendekatan : konsep

Media : LKS

V. Langkah-langkah pembelajaran
1) Kegiatan awal (5 menit)
Prasyarat : apa yang anda ketahui tentang senyawa hidrokarbon?

Motivasi : unsur apa saja yang terdapat dalan senyawa karbon?

2) Kegiatan inti (60 menit)


Guru membimbing siswa untuk melakukan percobaan berdasarkan cara kerja yang
ada pada LKS kemudian menjawab pertanyaan yang ada pada LKS.

3) Kegiatan akhir (25 menit)


- Guru memberikan kesimpulan :

Adanya unsur C, H dan O dalam senyawa karbon dapat diketahui dengan membakar
senyawa tersebut sehingga terjadi reaksi,

CxHy + O2  CO2 (g) + H2O (g)

CxHyO2 + O2  CO2 (g) + H2O (g)

Pembakaran sampel organik tersebut akan mengubah karbon (C) menjadi


karbondioksida (CO2) dan hidrogen (H) menjadi hidrogen air H 2O. Gas karbondioksida
dapat dikenali berdasarkan sifatnya yang mengeruhkan air kapur ; sedangkan air
dapat dikenali dengan kertas karena air mengubah warna kertas kobalt dari biru
menjadi merah muda.

Ca (OH )2 (aq )  CO 2 ( g ) CaCO 3 ( s )  H 2O (l )


Reaksinya :                       
bening ker uh

Massa C dalam senyawa karbon dapat dihitung dari massa CO2 yang dihasilkan.
Massa C dalam senyawa karbon sama dengan massa C dalam CO 2 dan dapat
dihitung dengan rumus sbb ; Ar C
Massa C = x massa CO2
Mr CO2

Sedangkan massa H dalam senyawa karbon sama dengan massa H dalam H2O.
Massa H ini dapat dihitung dengna menggunakan rumus sbb;

2 x Ar H
Massa H = X massa H2O
Mr H 2 O

. Adapun massa O dalam senyawa karbon dapat dihitung dengan menerapkan hukum
kekekalan massa sehingga diperoleh persamaan berikut.
Massa O = massa senyawa karbon – (massa C + massa H)

Membahas soal :

a. Kekeruhan pada air kapur disebabkan oleh gas Co2


b. Perubahan warna kertas kobalt disebabkan oleh air
- Guru memberi tugas
Pada pembakaran suatu senyawa kidrokarbon, dihasilkan 6,6 g gas CO 2 dan 2,7 g
uap air.jika diketahui massa molekul relatif (Mr) senyawa hidrokarbon tersebut
adalah 42, tentukan massa atom C, H dan O. ( diketahui Ar C=12, H=1, dan O=16)

VI. Penilaian
Indiaktor : Mengidentifikasi unsur C, H dan O dalam senyawa karbon.

Jenis tagihan : tugas mandiri


Contoh istrumen:

Pada pembakaran suatu senyawa kidrokarbon, dihasilkan 6,6 g gas CO 2 dan 2,7 g uap
air. Jika diketahui massa molekul relatif (Mr) senyawa hidrokarbon tersebut adalah 42,
tentukan massa atom C, H dan O. ( diketahui Ar C=12, H=1, dan O=16).

Bentuk instrumen : uraian obyektif.

Kunci jawaban :

Reaksi pembakaran hidrokarbon berlangsung sebagai berikut ;

CxHy + O2  CO2 (g) + H 2O (g). Berdasarkan hukum kekekalan massa, massa


atom C dalam senyawa CxHy = massa atom C dalam senyawa CO2.

massa atom H dalam senyawa CxHy = massa atom H dalam senyawa H2O.

Ar C
Massa atom C dalam senyawa CO2 = x massa CO2
Mr CO2

12
= x 6,6 g = 1,8 g ( skor = 40 )
44

2 x Ar H
Massa atom H dalam senyawa H2O = x massa H2O
Mr H 2 O

2
= x 2,7 g = 0,3 g ( skor = 40 )
8

Massa O = massa senyawa karbon–(massa C + massa H)(skor = 20 )

Mengetahui Kupang, Juni 2009

Kepala sekolah Calon Guru kimia

( ) ( Rosalina ubang)

NIP. NIM.0601060055

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Mata pelajaran : Kimia

Kelas / semester : X / II

Pertemuan ke :1

Alokasi waktu : 4 jam pelajaran


Standar kompetensi

Memahami sifat-sifat senyawa organik atas dasar gugus fungsi dan senyawa
makromolekul.

Kompetensi dasar

Mendeskripsikan kekhasan atom karbon dalam membentuk senyawa hidrokarbon.

Indikator

o Mengelompokan senyawa karbon berdasarkan kejenuhan ikatannya.


o Memberi nama senyawa alkana.
I. Tujuan pembelajaran
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan siswa dapat :

o Mengelompokan senyawa karbon berdasarkan kejenuhan ikatannya.


o Memberi nama senyawa alkana.
II. Materi pembelajaran
o Hidrokarbon berdasarkan kejenuhan ikatannya.
o Senyawa alkana.
III. Sumber/ Alat Bantu
Purba, M. 2007. KIMIA. Untuk keals I. Jilid I. Erlangga. Jakarta.

Sutresna, N. 2007. CERDAS BELAJAR KIMIA untuk kelas X SMA/MA. Grafindo


Media Pratama Jakarta.

IV. Metode/ Pendekatan


Diskusi informasi, dan Ceramah.

Pendekatan : konsep

Media : charta

V. Langkah-langkah pembelajaran
1) Kegiatan awal / kuis ( 5 menit )
a. Berdasarkan kejenuhan ikatan senyawa hidrokarbon dikelompokan menjadi 2.
Sebutkan dan jelaskan!
b. Apakah nama senyawa : CH3
CH3-CH2-C-CH3

CH3

2) Kegiatan inti ( 45 menit )


 Siswa mengkaji literatur tentang senyawa alkana
 Guru menjelaskan tentang penggolongan hidrokarbon berdasarkan kejenuhan
ikatannya
 Guru menjelaskan senyawa alkana : rumus alkana, deret homolog, tata nama
alkana, sumber dan kegunaan

Guru memberikan latihan soal : tuliskan nama IUPAC alkana dari :

a. CH3-CH-CH2-CH3
CH3

b. Gambarkan rumus bangun alkana : 2,3,3-trimetilpentana

3) Kegiatan akhir ( 30 menit )


Guru memberikan kesimpulan dan membahas soal latihan :

Berdasarkan kejenuhan ikatannya, hidrokarbon dibedakan atas hidrokarbon jenuh,


jika semua ikatan karbon-karbon merupakan ikatan tunggal (-C-C-), dan hidrokarbon
tak jenuh, jika terdapat satu saja ikatan rangkap (-C=C-)vatau ikatan rangkap tiga.
Alkana merupakan hidrokarbon ailfatik jenuh, yaitu hidrokarbon dengan rantai terbuka
dan semua ikatan karbon-karbonnya merupakan ikatan tunggal. Rumua umum alkana
:

CnH2n+2, dengan deret homolognya CH4,C2H6,C3C8,C4H10,C5H12,C6H14,C7H16,C8H18,C9H20


dan C10H22. sumber dan kegunaan alkana merupakan komponen utama dari gas alam
dan minyak bumi. Penamaan alkana bercabang sebagai berikut: 1) memilih rantai
induk,rantai terpanjang yang mempunyai cabang terbanyak 2) penomoran dimulai
dari salah satu ujung sehingga cabang mendapat nomor terkecil 3) penulisan nama
dimulai dengan nama cabang (cabang-cabang) sesuai urutan abjad, diakhiri dengna
nama rantai induk. Posisi cabang dinyatakan dengan awalan angka,antara angka
dengan angka dipisahkan dengan tanda koma, antara angka dengan huruf dipisahkan
dengan tanda jedah (-). Kegunaan alkana sebagai bahan bakar,pelarut,sumber
hidrogen,pelumas,bahan baku senyawa organik lain dan bahan baku industri.

Membahas soal latihan : a. 2-metilbutena b. CH3

CH3 - CH- CH - CH2 - CH3

CH3 CH3

VI. Penilaian
Indikator :

o Mengelompokan senyawa karbon berdasarkan kejenuhan ikatannya.


o Memberi nama senyawa alkana.
Jenis tagihan : kuis

Contoh instumen :

1. Berdasarkan kejenuhan ikatan senyawa hidrokarbon dikelompokan menjadi 2.


Sebutkan dan jelaskan!
2. Apakah nama senyawa dari : CH3
CH3-CH2-C-CH3

CH3

Bentuk Instrumen : uraian obyektif

Kunci Jawaban :

1. Ada 2 yakni senyawa hidrokarbon jenuh yang memiliki ciri antar atom C
berikatan tunggal (C-C) sedangkan senyawa hidrokarbon tak jenuh memiliki ciri antar
atom C ada yang berikatan rangkap yaitu iaktan rangkap dua (C=) atau ikatan
rangkap tiga. ( skor = 50 )
2. 2,2 – metilbutana ( skor = 50 )

Mengetahui Kupang, Juni 2009

Kepala sekolah Calon Guru kimia

( ) ( Rosalina ubang)

NIP. NIM.0601060055
BAHAN AJAR

Mata pelajaran : Kimia

Kelas/ Program : X/ Umum

Materi pelajaran : Senyawa Karbon

I. Standar Kompetensi
Memahami sifat-sifat senyawa organik atas dasar gugus fungsi dan senyawa
makromolekul

II. Kompetensi Dasar


Mendeskripsikan kekhasan atom karbon dalam membentuk senyawa
hidrokarbon

III. Uraian Materi


1. Pengujian senyawa karbon
Senyawa karbon dapat berupa senyawa yang tersusun atas unsur karbon
(C) dan unsur hidrogen (H) dan ada juga yang mengandung unsur oksigen
(O). Jika hanya mengandung unsur C dan H disebut senyawa hidrokarbon
(CxHy).

Untuk menguji keberadaan atom karbon, hidrogen, dan oksigen dalam


suatu senyawa dapat dilakukan dengan cara berikut ini:

 Cara sederhana (dalam kehidupan sehari-hari)


o Jika palstik atau karet dibakar, maka hasilnya adalah arang. Arang
merupakan karbon. Ini berarti dalam plastik atau karet mengandung
unsur karbon.
o Jika bahan makanan tumbuhan atau gula pasir dipanaskan terus
menerus akan menghasilkan arang (gosong) yang membuktikan
dalam bahan makanan tumbuhan mengandung unsur karbon.
 Reaksi pembakaran
Pada pembakaran sempurna suatu senyawa hidrokarbon (C xHy) atau
senyawa karbon (CxHyOz) akan menghasilkan gas karbondioksida dan
uap air.

CxHy(g) + O2 → CO2 + H2O(g)

CxHyOz + O2 → CO2 + H2O(g)

Gas karbondioksida yang terbentuk dapat diuji dengan melewatkan gas


tersebut kedalam larutan kapur sehingga larutan kapur yang semula
bening berubah menjadi keruh.

Reaksi yang terjadi: Ca(OH)2(aq) + CO2 → CaCO3(g) + H2O(l)

Bening Keruh

Uap air hasil pembakaran dapat diuji dengan menggunakan kertas


kobalt. Kertas kobalt yang berwarna biru berubah menjadi merah jambu
jika bereaksi dengan uap air.
Massa karbon dalam senyawa karbon dapat dihitung massa CO 2 yang
dihasilkan. Massa C dalam senyawa karbon sama dengan massa C
dalam CO2 dan dapat dihitung dengan rumus:

Massa C =

Untuk massa H dalam senyawa karbon sama dengan massa H dalam


H2O dan dapat dihitung dengan rumus:

Massa H =

Sedangkan massa O dalam senyawa karbon dapat dihitung dengan


persamaan:

Massa O = massa senyawa karbon – (massa C + massa H)

Contoh :

Pada pembakaran suatu senyawa hidrokarbon dihasilkan 6,6 gram gas CO 2


dan 2,7 gram H2O. Jika diketahui massa molekul relatif (Mr) senyawa
hidrokarbon tersebut adalah 42, tentukan rumus molekulnya. (Diketahui Ar C =
12, H = 1, dan O = 16)

Jawab :

Reaksi pembakaran hidrokarbon berlangsung sebagai berikut:

CxHy(g) + O2 → CO2 + H2O(g), maka diperoleh data sebagai berikut:

Massa atom C dalam CxHy = massa atom C dalam senyawa CO2

= = 1,8 gram

Massa atom H dalam CxHy = massa atom H dalam senyawa CO2

= = 0,3 gram

Massa atom O = jumlah mol H = :

= :
= 0,15 : 0,3 = 1 : 2

Rumus empiris = CH2

(CH2)n = 42

(14)n = 42 ; n = 3

Berarti rumus molekul hidrokarbon tersebut adalah (CH2)3 : C3H6

2. Kekhasan atom karbon


Sifat-sifat atom karbon yang menyebabkan terbentuknya senyawa karbon,
yaitu:

a. Atom karbon mampu membentuk empat ikatan kovalen.


Elektron valensi yang dimiliki karbon adalah 4 sehingga pencapaian
kestabilan memerlukan 4 elektron dari atom lainnya dengan
membentuk 4 ikatan kovalen.

b. Atom karbon mampu membentuk rantai karbon


Atom karbon mampu berikatan dengan atom karbon lainnya
membentuk rantai karbon yang sangat panjang. Dengan cara ini
senyawa karbon dengan jumlah atom C yang sama dapat
mempunayai struktur yang berbeda.

3. Jenis atom karbon


Berdasarkan kemampuannya untuk berikatan dengan atom C lainnya,
atom karbon dikelompokkan menjadi:

a. Atom C primer, yaitu atom C yang hanya mengikat satu atomC lainnya.
Pada senyawa hidrokarbon jenuh, atom C primer mengikat tiga atom H
(-CH3)
Contoh:

*CH3 – *CH3 (terdapat dua atom C primer)

*CH3 – CH – *CH3 (terdapat tiga atom C primer)

*CH3

b. Atom C sekunder, yaitu atom C yang mengikat dua atom C lainnya.


Pada suatu senyawa hidrokarbon jenuh, atom C mengikat dua atom H
(-CH2-)
Contoh:

CH3 – *CH2 – CH3 (terdapat satu atom C sekunder)

CH3 – *CH2 – *CH2 – *CH2 – CH3 (terdapat tiga atom C sekunder)

CH3 – *(CH2)10 – CH3 (terdapat 10 atom C sekunder)

c. Atom C tersier, yaitu atom C yang mengikat tiga atom C lainnya. Pada
senyawa hidrokarbon jenuh, atom C hanya mengikat satu atom H.
(-CH-)

(ada satu atom C tersier)

Contoh:

CH3 – *CH – CH3

CH3

CH3 – *CH2 – *CH2 – CH2 – CH3 (ada dua atom C tersier)

│ │

CH3 CH3

d. Atom C kuartener yaitu atom C yang mengikat empat atom C lainnya.


Pada senyawa hidrokarbon jenuh, atom C kuartener tidak megikat
atom H.
Contoh:

CH3 CH3 CH3 CH3

│ │ │ │

CH3 – *C – CH3 CH3 – *C – *C – *C –CH3

│ │ │ │

CH3 CH3 CH3 CH3

Contoh soal: tentukan jumlah atom C primer, sekunder, tersier dan kuartener
pada senyawa berikut:

(CH3)3C – C (CH3)2 – CH – (CH2)5 – CH(CH3) – CH2 – CH3

CH2

CH3

Jawab:

Pada senyawa ini terdapat 8 atom C primer (CH3), 7 atom C sekunder (CH2), 2
atom C tersier (CH) dan 2 atom C kuartener (C).
Struktur Lewis Atom dan Senyawa Karbon

Atom 6C memiliki konfigurasi elektron 2 4. Keempat elektron valensi atom


karbon terdistribusi pada empat posisi secara sistematis.

Untuk memenuhi kaidah oktet, atom karbon dapat membentuk ikatan


berikut :

 Empat ikatan kovalen tunggal contohnya CH4.


CH4 : H

H– C–H

 Satu ikatan karbon rangkap dan dua ikatan kovalen tunggal, contohnya :
C2H4.
C2H4 :

 Dua ikatan rangkap dua, contohnya CO2 :


CO2: O ═ C ═ O

 Satu ikatan kovalen rangkap tiga dan satu ikatan kovalen tunggal, contohnya
C2H2.
C2H2: H – C  C – H

Pembentukan Rantai Karbon

Senyawa karbon dapat membentuk rantai yang sangat panjang. Hal ini terjadi
karena atom C memiliki kemampuan untuk mengikat satu, dua, tiga dan bahkan
empat atom C lainnya.

Perhatikan ikatan pada senyawa-senyawa berikut:

C5H12

Disingkat CH3 – CH2 – CH2 – CH2 – CH3 atau CH3 – (CH2)3 – CH3

C5H12 bentuk lain :


Disingkat CH3 – CH – CH2 – CH3 atau CH3 – CH (CH3) – CH2 – CH3

Kemampuan membentuk berbagai jenis rantai karbon lurus maupun bercabang


inilah yang menyebabkan senyawa karbon jumlahnya sangat banyak.

Mengetahui Kupang, Juni 2009

Kepala sekolah Calon Guru kimia

( ) ( Rosalina ubang)

NIP. NIM.0601060055

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Mata pelajaran : Kimia

Kelas / semester : X / II

Pertemuan ke :1

Alokasi waktu : 4 jam pelajaran

Standar kompetensi

Memahami sifat-sifat senyawa organik atas dasar gugus fungsi dan senyawa
makromolekul.

Kompetensi dasar
Menggolongkan senyawa hidrokarbon berdasarkan strukturnya dan hubungannya
dengan sifat senyawa.

Indikator

1) Siswa dapat mengelompokkan senyawa hidrokarbon berdasarkan struktur molekul


dan kejenuhan ikatan.
2) Siswa dapat memberikan nama senyawa alkana, alkena dan alkuna.

I. Tujuan pembelajaran
Setelah mengikuti pembelajaran ini, siswa dapat:

1. Mengelompokkan senyawa hidrokarbon berdasarkan struktur molekul.


2. Mengelompokkan senyawa hidrokarbon berdasarkan kejenuhan ikatan.
3. Memberi nama senyawa alkana, alkena dan alkuna.
II. Materi pembelajaran
1. Penggolongan hidrokarbon berdasarkan struktur molekul.
2. Penggolongan hidrokarbon berdasarkan kejenuhan ikatan.
3. Tata nama alkana, alkena dan alkuna.
III. Sumber/ Alat Bantu
1. Sumber : buku teks kimia kelas X
2. Alat bantu : Moymood
IV. Metode/ Pendekatan
1) Metode : ceramah, tanya jawab.
2) Pendekatan : ketrampilan konsep.
V. Langkah-langkah pembelajaran
Kegiatan Pembelajaran Alokasi Waktu

Pertemuan I

Pendahuluan:

Pengetahuan prasyarat: pengertian 5 menit


senyawa hidrokarbon, kejenuhan senyawa
karbon.

Kegiatan Inti:

 Guru menyampaikan informasi tentang


pengolongan hidrokarbon berdasarkan
struktur molekul.
 Guru menyampaikan informasi tentang
pengolongan hidrokarbon berdasarkan
kejenuhan ikatan.
65 menit
 Guru menjelaskan tentang persamaan
alkana.
 Latihan soal
Penutup

 Kesimpulan
 Pemberian tugas
Pertemuan II

Pendahuluan:
Pengetahuan prasyarat: penamaan
senyawa-senyawa alkana (quis)
10 menit
Kegiatan inti:

 Guru menjelaskan tentang penamaan


senyawa alkena, contoh, sifat dan
kegunaannya.
 Latihan mengenai penamaan alkena.
 Guru menjelaskan tentang penamaan
senyawa alkuna, contoh, sifat dan 10 menit
kegunaannya.
 Latihan mengenai penamaan alkuna.
Penutup:

 Kesimpulan
 Pemberian tugas

65 menit

5 menit

VI. Penilaian
1. Prosedur penilaian
1.1. Penilaian kognitif.
Jenis: pertanyaan lisan dan tertulis, quis.

Bentuk: uraian dan pilihan ganda

1.2. Penilaian afektif: lembar pengamatan sikap siswa.


2. Instrumen penilaian
Contoh soal pilihan ganda

1. Terdapat lima macam rumus molekul senyawa hidrokarbon sebagai berikut:


a. C2H4 c. C5H12 C6H14
b. C3H6 d. C4H10 f.

Senyawa yang termasuk alkena adalah:

A. a dan b D. c dan d
B. a dan c E. d dan e
C. b dan c
2. Mana yang benar untuk senyawa :
adalah:

A. 2-metil 3-etil pentana D. 3-etil 2-metil pentana


B. 2-etil 2-metil pentana E. 3-etil 4-metil pentana
C. Isopropil pentana

Contoh soal uraian

1. Gambarkan struktur molekul senyawa-senyawa berikut:


a. 3-etil 2 –metil pentana
b. 2-metil 2-pentana
c. 2-etil 5-metil pentana
2. Berilah nama struktur senyawa berikut:
BAHAN AJAR

Mata pelajaran : Kimia

Kelas/ program : X/ Umum

Materi pelajaran : Hidrokarbon

I. Standar Kompetensi
Memahami sifat-sifat senyawa organik atas dasar gugus fungsi dan senyawa
makromolekul.

II. Kompetensi Dasar


Menggolongkan senyawa hidrokarbon berdasarkan strukturnya dan hubungannya
dengan sifat senyawa.

III. Uraian Materi


A. Penggolongan berdasarkan struktur molekul
1. Penggolongan hidrokarbon
Dapat berupa rantai karbon terbuka (rantai alifatik) dan rantai karbon tertutup
(aromatik)

a) Senyawa hidrokarbon alifatik adalah senyawa hidrokarbon


dengan struktur rantai karbon terbuka.
Senyawa yang termasuk hidrokarbon alifatik adalah:

 Alkana: metana (CH4), etana (C2H6), butana (C4H10) dan seterusnya


 Alkena: etena (C2H4), propena (C3H6) dan seterusnya.
 Alkuna: etuna (C2H2), propuna (C3H4) dan seterusnya.
b) Senyawa hidrokarbon alisiklik adalah senyawa hidrokarbon
yang memiliki struktur rantai karbon tertutup. Contoh senyawa hidrokarbon
alisiklik adalah sebagai berikut:

c) Senyawa hidrokarbon aromatik adalah senyawa hidrokarbon


yang memiliki rantai karbon tertutup dan mengandung dua atau lebih ikatan
rangkap yang letaknya berselang-seling. Contoh seyawa aromatik adalah
benzena dan toluena
gambar

2. Penggolongan berdasarkan kejenuhan ikatan


Berdasarkan kejenuhan ikatannya, hidrokarbon dikelompokkan menjadi dua yaitu
senyawa hidrokarbon jenuh dan hidrokarbon tak jenuh.

a. Senyawa hidrokarbon jenuh


Senyawa hidrokarbon jenuh memiliki ciri antar atom berikatan tunggal (C-C).
Senyawa yang termasuk dalam kelompok ini adalah:

1) Golongan alkana:

2) Golongan sikloalkana:

b. Senyawa hidrokarbon tak jenuh


Senyawa hidrokarbon tak jenuh memiliki ciri antaratom C ada yang memiliki
ikatan rangkap, yaitu ikatan rangkap dua (C ═ C) atau ikatan rangkap tiga (C ≡
C). Senyawa yang termasuk kedalam kelompok ini adalah sebagai berikut:

1) Golongan alkena:

2) Golongan alkuna:

3) Senyawa aromatik
B. Tata nama senyawa hidrokarbon
1. Alkana
Alkana merupakan senyawa hidrokarbon jenuh (ikatan antar atom C hanya
berupa ikatan tunggal). Senyawa alkana dapat bersifat kurang reaktif sehingga
disebut dengan parafin atau mempunyai afinitas yang kecil terhadap unsur lain.

a. Rumus umum alkana


Rumus molekul dan rumus struktur senyawa alkana

Nama Rumus molekul

Metana CH4

Etana C2H6

Propana C3H8

Butana C4H10

Pentana C5H12

Heksana C6H14
Heptana C7H16

Oktana C8H18

Nonana C9H20

Dekana C10H22

Undekana C11H24

Dodekana C12H26

Triadekana C13H28

Tetradekana C14H30

Eikosana C15H42

Heneikoksana C16H44

Dokosana C17H46

Trikosana C18H48

Hentriakoktana C19H61

Tetraoktana C20H82

Pentanakontana C21H102

Hektana C22H202

Setiap perubahan satu atom C berarti penambahan satu gugus (CH2). Urutan
suatu golongan senyawa hidrokarbon berdasarkan perbedaan jumlah gugus
CH2 yang teratur disebut deret homolog.

Rumus unsur alkana adalah : CnH2n + 2

1. Tata nama menurut aturan IUPAC


Cara memberi nama alkana berdasarkan IUPAC sebagai berikut :

a. Penamaan alkana rantau lurus sesuai dengan jumlah atom C yang


dimiliki dengan memberi awalan n (n = normal), artinya tidak
bercabang.
Contoh :

CH3-CH2-CH2-CH3 n . butana

CH3-CH2-CH2-CH2-CH3 n . pentana

CH3-CH2-CH2-CH2- CH2-CH3 n. Heksana

Dan seterusnya

b. Penamaan alkana rantai bercabang dengan langkah-langkah


sebagai berikut :
 Menentukan rantai karbon terpanjang sebagai rantai utama.
Contoh :
CH3-CH2-CH2-CH2-CH3

CH3

Atau :

CH3-CH2-CH2-CH2-CH3

CH3

CH3-CH2-CH2-CH2-CH3

CH3 CH2 CH2

CH3 CH2

CH3

Rantai terpanjang 7, mempunyai 3 cabang

 Memberi nomor urut pada rantai utama atom C dimulai dari atom
C yang terdekat dengan cabang.

 Cabang-cabang yang terikat pada rantai utama adalah alkil.


Beberapa contoh gugus alkil dari senyawa alkananya :

Alkana Nama Alkil Nama

CH4 Metana CH3 Metil

C2H6 Etana C2H5 Etil

C4H10 Butana C4H19 Butil

C6H14 Heksana C6H13 Heksil

C7H16 Heptana C7H15 Heptil

C8H18 Oktana C8H17 Oktil

C10H22 Dekana C10H21 Dekil

2. Tata nama alkana yang bersifat umum (nama trival / nama lazim).
a. Untuk rantai karbon yang lurus dan tidak memiliki cabang, diberi
awalan normal atau singkatan n.
Contoh:

b. Jika pada ujung rantai karbon terdapat cabang metil sehingga


membentuk posisi siku, diberi awalan iso-.
Contoh:

c. Pada struktur molekul berikut, berlaku pemberian awalan neo-.


Contoh

b. Tata nama alkana


Penamaan senyawa alkana dapat dilakukan sesuai dengan aturan IUPAC atau dengan
memberi nama yang bersifat umum.

Mengetahui Kupang,… Juni 2009

Kepala Sekolah Calon guru kimia

(………………..) (Eusebius Subaris)

NIP : NIM : 0601060044


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Mata pelajaran : Kimia

Kelas / semester : X / II

Pertemuan ke :1

Alokasi waktu : 4 jam pelajaran

Standar kompetensi

Memahami sifat-sifat senyawa organik atas dasar gugus fungsi dan senyawa
makromolekul.

Kompetensi dasar

Menjelaskan proses pembentukan dan teknik pemisahan fraksi-fraksi minyak bumi


serta kegunaannya.

Indikator

1. Siswa dapat mendeskripsikan proses pembentukan minyak bumi dan gas alam.
2. Siswa dapat menjelaskan komponen-komponen penyusun utama minyak bumi.
3. Menafsirkan bagan penyulingan bertingkat untuk menjelaskan dasar dan teknik
pemisahan fraksi-fraksi minyak bumi.
4. Membedakan kualitas bensin dan bilangan oktannya.

I. Tujuan pembelajaran
Setelah mengikuti pembelajaran ini, siswa dapat:

1. Mendeskripsikan proses pembentukan minyak bumi dan gas alam.


2. Menjelaskan komponen-komponen utama penyusun minyak bumi.
3. Menjelaskan dasar dan teknik pemisahan fraksi-fraksi minyak bumi.
4. Membedakan kualitas bensin berdasarkan bilangan oktannya.
5. menganalisis dampak pembakaran bahan bakar terhadap lingkungan.
II. Materi pembelajaran
1) Pembentukan minyak bumi.
2) Komponen minyak bumi.
3) Pengolahan minyak bumi.
4) Bensin dan bilangan oktan.
5) Dampak pembakaran bahan bakar.
III. Sumber/ Alat Bantu
1) Sumber : buku teks kimia kelas X
2) Alat bantu : charta
IV. Metode/ Pendekatan
1) Metode : diskusi kelompok.
2) Pendekatan : ketrampilan proses.
V. Langkah-langkah pembelajaran
Kegiatan Pembelajaran Alokasi Waktu

Pendahuluan:

Motivasi: guru memberikan pertanyaan tentang


kegunaan dari berbagai bahan bakar seperti
10 menit
minyak tanah, bensin, dan sebagainya serta
menyakan cara pengolahan bahan bakar tersebut.

Kegiatan Inti:

 Guru membagi kelas dalam


5 kelompok dan menjelaskan pembagian
tugas diskusi (dibuat pada pertemuan
sebelumnya)
 Masing-masing kelompok
mendiskusikan tentang pembentukan minyak,
komponen minyak bumi,
pengolahannya, 60 menit
bensin dan bilangan oktan serta dampak
penggunaan bahan bakar.
 Presentasi hasil diskusi oleh
masing-masing kelompok.
Penutup

 Guru menarik kesimpulan dari hasil diskusi


 Pemberian tugas

10 menit

VI. Penilaian
1) Prosedur penilaian
Penilaian kognitif.

Jenis: pertanyaan lisan dan tertulis.

Bentuk: uraian.

Penilaian afektif: lembar pengamatan sikap siswa.

2) Instrumen penilaian
Contoh soal uraian:
1. Sebutkan komponen penyusun minyak bumi.
2. Gas karbon monoksida (CO) yang dihasilkan pada proses pembakaran
minyak bumi memiliki sifat toksik (racun). Jelaskan sifat toksik CO.
Lembar Pengamatan Sikap Siswa

Nama Disiplin Aktivitas Kerjasama Kejujuran Etika Rata-rata

Suatu penilaian dibuat dengan rentang dari 1 s/d 5.

Penafsiran angka:1=sangat kurang; 2=kurang; 3= cukup; 4 = baik; 5 = sangat baik

Mengetahui Kupang,… Juni 2009

Kepala Sekolah Calon guru kimia

(………………..) (Elvis Hubertus Bod)

NIP : NIM : 0601060007

BAHAN AJAR

Mata pelajaran : Kimia


Kelas/ program : X/ Umum

Materi pelajaran : Hidrokarbon

I. Standar Kompetensi
Memahami sifat-sifat senyawa organik atas dasar gugus fungsi dan senyawa
makromolekul.

II. Kompetensi Dasar


Menjelaskan proses pembentukan dan teknik pemisahan fraksi-fraksi minyak bumi serta
kegunaannya.

III. Uraian Materi


C. Proses pembentukan minyak bumi dan gas alam.
Minyak bumi berasal dari bahasa latin yaitu petroleum. Petra berarti batuan dan
oleum berarti minyak. Jadi petroleum artinya minyak batuan. Petroleum terkait
dengan fosil hewan dan tumbuhan yang ditemukan dalam kulit bumi sebagai gas, zat
cair dan zat padat.

Minyak bumi terbebtuk akibat pelapukan sisa-sisa atau bangkai hewan dan tumbuhan
renik serta lapisan-lapisan lumpur yang terkubur dalam jangka waktu jutaan tahun
lamanya didasar laut. Perubahan endapan fosil secara bertahap menjadi lapisan
batuan endapan (sedimen) karena adanya tekanan dan suhu yang tinggi dari panas
bumi. Endapan atau sedimen tersebut secara alami akan berubah menjadi minyak
bumi dan gas alam.

D. Penyusun minyak bumi.


Biasanya minyak bumi yang terdapat pada kulit bumi disertai dengan gas alam.
Komponen penyusun gas alam tersebut tergantung dari sumbernya. Gas alam
merupakan campuran alkana dengan massa molekul sedang.

Sebagian komposisi minyak mentah merupakan hidrokarbon jenuh yaitu alkana dan
sikloalkana. Sebanyak 50% - 95% terdiri dari hidrokarbon alkana, sikloalkana dan
senyawa aromatik. Susunan hidrokarbon dalam minyak bumi berbeda-beda
tergantung dari umur dan suhu pembentukan zat tersebut.

1) Golongan alifatik
Alkana yang dimulai dari rantai pendek sampai rantai panjang dan rantai lurus
maupun bercabang. Komponen yang paling banyak adalah n-oktana atau
isooktana (2,2,4-trimetil pentana).

2) Golongan elisiklik
Sikloalkana, alkana yang berupa rantai tertutup atau siklik, seperti siklopentana
dan sikloheksana. Sikloheksana merupakan komponen terbesar.

3) Golongan aromatik
Senyawa hidrokarbon yang berbentuk siklik segienam dengan ikatan rangkap
selang-seling (benzena dan turunannya).
4) Hidrokarbon tidak jenuh
Jumlahnya sangat sedikit karena mudah mengalami adisi membentuk hidrokarbon
jenuh.

5) Senyawa anorganik
 Belerang = 0,01 – 0,7% terdapat sebagai R-S-R (trioalkana)
 Nitrogen = 0,01 – 0,9% terdapat sebagai pirol (C4H5N)
 Oksigen =0,06–0,4% terdapat sebagai R-COOH (asam karboksilat).
 Organologam = vanadium dan nikel (sedikit)
E. Fraksi-fraksi minyak bumi
Minyak mentah harus diolah terlebih dahulu untuk keperluan bahan bakar kendaraan
atau industri. Pengolahan minyak bumi di pengilangan minyak melalui proses
penyulingan bertingkat (destilasi dan fraksinasi). Prinsip dasar penyulingan bertingkat
adalah pemisahan suatu campuran berdasarkan perbedaan titik didihnya.
Hidrokarbon yang mempunyai titik didih paling randah akan menguap/ memisahkan
diri terlebih dahulu kemudian disusul hidrokarbon yang mempunyai titik didih lebih
tinggi sehingga secara bertingkat seluruh hidrokarbon yang terkandung dalam minyak
bumi dapat dipisahkan.

Setelah mengalami proses penyulingan, fraksi-fraksi dapat


langsung dimanfaatkan, tetapi ada yang langsung diolah
lebih lanjut misalnya reforming, cracking, polimerisasai,
treating, blending.

Fraksi Jumlah Titik didih (C) Kegunaan


atom C

Gas 1-4 -160 sampai -30 Bahan bakar, sumber hidrogen

Petroleum eter 5-6 30-90 Pelarut

Bensin (gasolin) 5-12 70-140 Bahan bakar

Nafta(bensin berat) 6-12 140-180 Zat aditif bensin, bahan dasar


pembuatan senyawa.

Bahan bakar RT dan mesin jet


Minyak tanah (kerotin) 9-14 180-250
Bahan bakar diesel, industri
Solar & minyak diesel 12-18 270-350
Pelumas
Pelumas (oli) 18-22 350 keatas
Bahan bakar
Minyak bakar 22-25 350 keatas
Penerangan
Parafin/lilin 20 keatas 350 keatas
Pelapisan jalan aspal
Aspal bitumen 25 keatas 350 keatas
F. Bensin
Bensin yang berasal dari penyulingan merupakan senyawa hidrokarbon rantai lurus.
Hal ini mengakibatkan pembakaran tidak merata dalam mesin bertekanan tinggi
sehingga menimbulkan ketukan (knocking). Peristiwa tersebut menyebabkan
kerasnya getaran mesin dan mesin menjadi sangat panas yang mengakibatkan mesin
menjadi mudah rusak.

Ketukan pada mesin tidak terjadi jika alkana bercabang dibakar sehingga mutu bensin
dapat dipertinggi dengan menambahkan zat TEL (tetra etil timbal, Pb(C2H5)4) yang
dapat mengurangi ketukan pada mesin.

Mutu bensin ditentukan oleh banyaknya isooktana dan dinyatakan dengan bilangan
oktan. Makin besar bilangan oktan maka kualitas bensin semakin tinggi. Terjadinya
ketukan pada pembakaran menyebabkan bilangan oktan bensin menjadi rendah.

Cara yang digunakan untuk meningkatkan mutu bensin yaitu:

 Cracking : proses pemecahan molekul senyawa yang panjang menjadi


molekul pendek.
 Penambahan zat aditif seperti TEL (tetra etil timbal, Pb(C 2H5)4), MTBE (metil
tertiel butir eter (C5H12O)) dan 1,2-dibromo etana.

G. Dampak Pembakaran Bahan Bakar Terhadap Lingkungan


1) Dampak terhadap udara dan iklim
 Gas CO2 menyebabkan kadar gas rumah kaca di atmosfer meningkat
sehingga terjadi pemanasan global. Gas ini menyerap sinar matahari yang
dipantulkan ke bumi sehingga suhu atmosfer naik dan mengakibatkan
perubahan iklim serta kenaikan permukaan air laut.
 Gas NO di udara yang bereaksi dengan uap air di awan menghasilkan asam
nitrat (HNO3) dan asam sulfat (H2SO4). Jika dari awan tersebut turun hujan
maka di kenal dengan hujan asam.
 Gas SO2 yang teremisi dapat membentuk asam sulfat yang menyebabkan
hujan asam.
 Gas CH4 menyebabkan efek rumah kaca (pemanasan global).
2) Dampak terhadap perairan
Umumnya pencemaran perairan disebabkan oleh kesalahan manusia misalnya
bocornya tanker minyak atau kecelakaan lain yang menyebabkan tumpahnya
minyak.

3) Dampak terhadap tanah


Penambangan batu bara menyebabkan tanah yang subur tidak dapat digunakan
untuk pertanian selama waktu tertentu.

Mengetahui Kupang,… Juni 2009


Kepala Sekolah

Calon guru kimia

(………………..)

NIP : (Elvis Hubertus Bod)

NIM : 0601060007
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Mata pelajaran : Kimia

Kelas / semester : X / II

Pertemuan ke :1

Alokasi waktu : 4 jam pelajaran

Standar kompetensi

Memahami sifat-sifat senyawa organik atas dasar gugus fungsi dan senyawa
makromolekul.

Kompetensi dasar

Menjelaskan kegunaan dan komposisi senyawa hidrokarbon dalam kehidupan sehari-


hari dalam bidang pangan, sandang, papan, perdangan, seni dan estetika.

Indikator

1. Mendeskripsikan kegunaan dan komposisi senyawa hidrokarbon dalam bidang


pangan.
2. Mendeskripsikan kegunaan dan komposisi senyawa hidrokarbon dalam bidang
sandang dan papan.
3. Mendeskripsikan kegunaan dan komposisi senyawa hidrokarbon dalam bidang
seni dan estetika.
I. Tujuan pembelajaran
Setelah mengikuti pembelajaran ini, siswa dapat:

a. Mendeskripsikan kegunaan dan komposisi senyawa hidrokarbon dalam


bidang pangan.
b. Mendeskripsikan kegunaan dan komposisi senyawa hidrokarbon dalam
bidang sandang dan papan.
c. Mendeskripsikan kegunaan dan komposisi senyawa hidrokarbon dalam
bidang seni dan estetika.
II. Materi pembelajaran
a. Kegunaan senyawa hidrokarbon dalam bidang pangan.
b. kegunaan senyawa hidrokarbon dalam bidang sandang dan papan.
c. Kegunaan senyawa hidrokarbon dalam bidang seni dan estetika.
III. Sumber/ Alat Bantu
a. Sumber : buku teks kimia kelas X
b. Alat bantu : charta
IV. Metode/ Pendekatan
a. Metode : diskusi kelompok, tanya jawab.
b. Pendekatan : ketrampilan proses.
V. Langkah-langkah pembelajaran
Kegiatan Pembelajaran Alokasi Waktu

Pendahuluan:

Prasyarat pengetahuan: contoh-contoh senyawa


hidrokarbon.
10 menit
Motivasi: guru memberikan pertanyaan tentang
kegunaan dari berbagai bahan bakar seperti
minyak tanah, bensin, dan sebagainya serta
menyakan cara pengolahan bahan bakar tersebut.

Kegiatan Inti:

1. Guru membagi kelas


dalam beberapa kelompok dan menjelaskan
tugas yang harus dikerjakan oleh tiap
kelompok.
60 menit
2. Masing-masing
kelompok mendiskusikan tentang kegunan
senyawa hidrokarbon dalam bidang pangan,
papan, sandang, seni dan estetika.
3. Presentasi hasil
diskusi oleh masing-masing kelompok.
Penutup

 Guru menarik kesimpulan dari hasil diskusi

10 menit

VI. Penilaian
a. Prosedur penilaian
1. Penilaian kognitif: pertanyaan lisan.
2. Penilaian afektif: lembar pengamatan sikap siswa.
b. Instrumen penilaian
Mengetahui Kupang,… Juni 2009

Kepala Sekolah Calon guru kimia

(………………..) (Elvis Hubertus Bod)

NIP : NIM : 0601060007

BAHAN AJAR
Mata pelajaran : Kimia

Kelas/ program : X/ Umum

Materi pelajaran : Hidrokarbon

I. Standar Kompetensi
Memahami sifat-sifat senyawa organik atas dasar gugus fungsi dan senyawa
makromolekul.

II. Kompetensi Dasar


Menjelaskan kegunaan dan komposisi senyawa hidrokarbon dalam kehidupan sehari-
hari dalam bidang pangan, sandang, papan, perdangan, seni dan estetika.

III. Uraian Materi


a. Peranan senyawa hidrokarbon dalam bidang pangan
 Propena dan butena digunakan untuk pemasakan buah-buahan.
 Glukosa sebagai sumber energi makhluk hidup.
 Monoterpena: limonena (minyak jeruk), mentol (mint).
 Sesquiterpena dan diterpena: kariofilena, vitamin A.
b. Peranan senyawa hidrokarbon dalam bidang sandang dan papan
 Etuna sebagai sintesis pembuatan serat buatan yaitu orlon, vinilsionida.
 Nilon 66 merupakan senyawa yang berupa polimer digunakan untuk serat
pakaian.
 Polivinil klorida (PVC) digunakan untuk membuat pipa, pelapis lantai.
 Polipropilen, orlon yang digunakan sebagai benang untuk karpet, sprei dan
baju.
c. Peranan senyawa hidrokarbon dalam bidang seni dan estetika
 Carbon black atau arang aktif digunakan sebagai pewarna hitam dalam
pembuatan tinta, cat dan ban karet.
 Anth sena digunakan sebagai zat warna.
 Polivinil asetat digunakan sebagai perekat dan cat lateks.
 Polietilen digunakan untuk bahan pembuatan lembaran film.

d. Peranan senyawa hidrokarbon dalam bidang industri dan perdagangan


 Metena, digunakan sebagai zat bakar dan sintesis senyawa metil klorida dan
metanol.
 Butana, di pakai untuk pembuatan 1,3-dibutadiena.
 Pentana, heksana, heptana, digunakan sebagai pelarut dan sintesis.
 Etena dan esilena, digunakan sebagai obat bius.
 Etuna, dipakai pada pengelasan besi dan baja.
 Teflon, sebagai pelapis anti lengket pada alat-alat seperti alat masak dan
setrika.
Mengetahui Kupang,… Juni 2009

Kepala Sekolah Calon guru kimia

(………………..) (Elvis Hubertus Bod)

NIP : NIM : 0601060007