Anda di halaman 1dari 7

TUGAS 1

RANCANGAN PERCOBAAN

Nama : ANGGI DIAN SAFITRI HASIBUAN


NIM : 41205425117007
Fakultas : Kehutanan

1. Unsur-unsur dasar percobaan dan kegunaannya


a. Pengulangan
Pengulangan adalah percobaan dasar yang dilakukan lebih dari satu kali.
Pengulangan berfungsi sebagai berikut:
- Menghasilkan nilai dugaan bagi galat percobaan.
- Meningkatkan ketepatan percobaan
- Memperluas daya cakup kesimpulan, dan
- Mengendalian ragam galat percobaan.
b. Perlakuan
Perlakuan adalah semua tindakan coba-coba yang dilakukan terhadap suatu
objek, yang pengaruhnya akan diselidiki untuk menguji hipotesis. Perlakuan
ini dapat berasal dari faktor kualitas (mutu), yaitu perlakuan yang hanya
memperhitungkan mutu perlakuan X.
c. Pengendalian Lokal
Pengendalian lokal adalah usaha pengelompokan satuan-satuan percobaan
sedemikian rupa sehingga keragaman dalam kelompok minimal.
Pengelompokan dalam hal ini dapat diartikan sebagai pembagian seluruh
satuan-satuan percobaan ke dalam kelompok-kelompok tertentu
berdasarkan ciri lingkungan percobaan, bahan percobaan, ataupun
perlakuan yang akan diberikan kepada satuan-satuan percobaan tersebut
2. Hal yang harus diperhatikan dalam menentukan jumlah perlakuan dan jumlah
ulangan
a. Hal yang harus diperhatikan dalam menentukan ulangan :
- Keragaman alat, bahan, media, dan lingkungan percobaan. Untuk bahan yg
sudah terdeskripsi secara jelas seperti pupuk buatan, pestisida, benih
varietas unggul, maka diperlukan ulangan yang kecil. Untuk bahan yg
belum terdeskripsi seperti pupuk kandang, pupuk alami, benih varietas
lokal, maka perlu jumlah ulangan yang besar
- Biaya dan tenaga yang tersedia.
b. Hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan perlakuan
- Perancangan himpunan perlakuan, percobaan merupakan ajang pengujian
hipotesis secara empirik, oleh karena itu himpunan (set) perlakuan yang
akan diuji dalam suatu percobaan harus dirancang sesuai dengan fungsi
percobaan tersebut.
- Kodifikasi perlakuan, dalam membuat kode (lambang) perlakuan harus
diingat bahwa kode yang baik adalah kode yang bersifat informatif, artinya
melalui kode ini kita atau orang lain secara langsung bisa memperkirakan
sifat dan jenis faktor perlakuan yang diteliti.
3. Asumsi-asumsi dasar yang harus dipenuhi dalam suatu percobaan:
a. Galat (experimental error) harus teragihkan (distributed) secara rambang
(random), bebas (independent) dan normal. Untuk mebndapatkan galat
yang andal bagi suatu pengujian hipotesis, maka galat ini harus teragihkan
secara rambang (random atau acak), bebas dan normal. Untuk itu ada suatu
teknik yang dapat diterapkan, yaitu dengan cara menempatkan perlakuan
atau ulangan pada petak-petak atau pot-pot percobaan secara rambang.
b. Keragaman contoh (sample variance = s2) bersifat homogen, untuk
mendapatkan kergaman contoh yang homogen maka jika kita melakukan
percobaan di lingkungan yang kurang homogen, kita harus mengontrol atau
mengupayakan agar setidak-tidaknya ada bagian/kelompok-kelomok
tersebut yang homogen sesamanya.
c. Keragaman (s2) dan rerata ( mean=y) contoh tidak menunjukkan adanya
korelasi. Kebebasan ragam dan rerata contoh ini dapat dicapai jika kita telah
melakukan lokal kontrol secara baik atau sesuai dengan kondisi /medan
percobaan. Hal lain yang perlu diupayakan adalah kisaran atau rentang taraf
perlakuan yang dicobakan tidak terlalu lebar.
d. Pengaruh-pengaruh utama (main effect) bersifat aditif baik sesamanya
maupun dengan lingkungannya. Adivitas pengaruh perlakuan dan pengaruh
non perlakuan hanya akan diperoleh jika antara keduanya tidak terjadi
interaksi. Untuk menghindari ini maka lokal kontrol harus dilakukan ecara
baik dan kedua faktor yang terlibat tidak mempunyai sifat yang
terkait/identik.

Karena pemakaian suatau rancangan terhadap suatu percobaan dan/atau


sekelompok data yang tidak memenuhi asumsi-asumsi dasar tersebut akan
menghasilkan kesimpulan yang tidak logis. Sehingga kesimpulannya menjadi
menyesatkan apalagi jika sampai direkomendasikan dan kemudian
diterapkan oleh pemakainya akibatnya akan fatal.

4. Prinsip dasar uji F dan makna hasil ujinya


No Hasil Uji F Maknanya
1. Perlakuan
1.1 Tidak nyata TIDAK ADA perlakuan yang pengaruhnya MENONJOL
dibanding kontrol/perlakuan lainnya
1.2 Nyata/Sangat ADA perlakuan yang pengaruhnya MENONJOL/
Nyata SANGAT MENONJOL dibanding kontrol/perlakuan
lainnya
2. Lokal kontrol
2.1 Tidak nyata Lokal kontrol yang dilakukan TIDAK BERHASIL dalam
menekan heterogenitas langan (galat)
2.2 Nyata/Sangat Lokal kontrol yang dilakukan BERHASIL/ SANGAT
Nyata BERHASIL dalam menekan heterogenitas lapangan
(galat)

5. Penamaan suatu rancangan percobaan:


a. Metode penempatan perlakuan-perlakuan secara acak atau rambang pada
unit-unit percobaan (cara pengacakan /perambangan perlakuan), yaitu :
- Jika perambangan perlakuan dan ulangannya dilakukan secara lengkap
sekaligus, maka rancangannya disebut RANCANGAN ACAK LENGKAP (RAL).
- Jika perambangan perlakuannya secara lengkap dilakukan per satu lokan
kontrol (kelompok-kelompok (block)), maka disebut rancangan acak
kelompok (RAK).
- Jika perlakuan lengkap diacak per dua lokal kontrol (barisan-barisan(rows),
dan lajur/kolom (columbs) disebut rancangan acak kuadrat latin (RAKL
atau RKL))
- Jika pengacakan perlakuan lengkap dilakukan per tiga lokal kontrol disebut
rancangan kuadrat graeco latin (RKGL)
b. Rancangan rancangan yang diberi nama berdasarkan metode pelaksanaan
atau penerapan perlakuan-perlakuan pada satuan-satuan percobaan nya,
sehingga disebut rancangan perlakuan,misalnya:
- Jika penempatan atau penerapan kombinasi-kombinasi perlakuannya pada
satuan-satuan percobaan dilakukan secara serentak atau faktorial maka
disebut rancangan faktorial
- Jika salah sat faktor perlakuan diterapkan secara acak pada petak besar,
sedangkan faktor lainnya diterapkan secara acak pada petak kecil yang
merupakan bagian-bagian dalam suatu petak besar maka disebut
rancangan petak terbagi (RPB), jika dua faktor, atau rancangan petak
terbagi dua kali (RPBD) atau rancangan petak bagian ganda (RPBG).
6. Hitung nilai KK (Koofisien keragaman ) data setiap macam (variable)
pengamatan. Uji praansira hanya perlu dilakukan jika nilai KK nya besar, yaitu
minimal 20% untuk percobaan laboratorium/rumahkaca atau minimal
40%untuk percobaan lapangan.
7. Percobaan merupakan suatu alat penelitian yang digunakan untukmenyelidiki
sesuatu yang belum diketahui atau untuk menguji suatu teori (principle) atau
hipotesis.
10. Ciri-ciri percobaan yang baik dan manfaatnya
a. Kesederhanaan. Suatu percobaan yang baik dicirikan oleh perlakuan-
perlakuan dan metode percobaan yang sederhana dan semudah mungkin,
namun tetap mempertahankan objektivitas suatu percobaan
b. Derajat ketepatan. Perbedaan taraf perlakuan harus makin kecil dengan
makin tingginya tingkat ketelitian yang diinginkan, atau dengan makin
besarnya peluang untuk menerima kebenaran hipotesis yang diajukan.
c. Ketiadaan galat sistematis. Percobaan harus dirancang agar setiap unit-unit
pecobaan akan menerima suatu perlakuan dengan peluang yang sama
besar, menurut suatu metode nonsistematis, agar menghasilkan perkiraan
yang tak bias tentang pengaruh masing-masing perlakuan terhadap nilai-
nilai penagamatan atau hasil-hasil percobaan.
d. Kisaran keabsahan dari kesimpulan. Kesimpulan dari hasil-hasil percobaan
harus mempunyai kisaran keabsahan yang selebar mungkin. Dapat diperoleh
melalui:
- Memperbanyak ulangan percobaan baik menurut waktu maupun menurut
ruang
- Menerapkan perlakuan-perlakuan yang dirancang secara faktorial
e. Kalkulasi derajat ketidakpastian. Suatu percobaan yang baik juga harus
dirancang sedemikian rupa agar memungkinkan si peneliti untuk
mengkalkulasikan kebolehjadian (peluang) terjadinya hasil-hasil
pengamatan yang menyimpang.
11. Keberhasilan suatu percobaan juga ditentukan oleh pemilihan perlakuan-
perlakuan yang akan diterapkan secara hari-hati. Karena pemilihan ini
menentukan ketepatgunaan (efektivitas) hasil percobaan dalam mengevaluasi
jawaban –jawaban bagi pertanyaan pertanyaan yang ditetapkan sebelum
percobaan. Jika hal ini tidak dilakukan maka tidak efektif jawaban-jawaban
bagi pertanyaan yang ditetapkan sebelum percobaan.
12. Rancanagan percobaan berdasarkan jumlah galatnya:
a. Rancangan bergalat tunggal, yang meliputi RAL, RAK, dan RAKL non
faktorial dan faktorial. Rancangan-rancangan faktorial ini menunjukkan
bahwa penelitian bertujuan untuk meneliti pengaruh-pengaruh faktor utama
dan interaksi denga derajat ketelitian yang sama.
b. Rancangan bergalat ganda, merupakan rancangan yang digunakan untuk
percobaan yang mempunyai salah satu faktor (B) dan interaksinya lebih
penting dari faktor utama lainnya (A).
c. Rancangan bergalat triple, meliputi rancangan yang mirip dengan RPB,
hanya saja jumlah faktor yang diteliti ada tiga, sedangkan RPB hanya dua.
13. Judul-judul percobaan sesuai bidang, bidangnya kehutanan
a. Pengaruh cekaman kekeringan terhadap pertumbuhan dan beberapa
karakter morfo-fisiologis bibit tanamn hutan.
b. Penggunaan arang kompos pada media tumbuh anakan mahoni di rumah
kaca
c. Ketahanan serangan penyakit karat tumor pada uji keturuanan sengon
(Falcataria moluccana)
14. Kapan suatu rancangan dapat digunakan:
a. RAL, RAL umumnya cocok digunakan untuk konidisi lingkungan, alat, bahan
dan media yang homogen. Kondisi ini hanya dicapai di ruang-ruang
terkontrol seperti di laboratorium dan rumah kaca.
b. RAK, rancangan ini merupakan rancangan untuk percobaan lapangan yang
paling sederhana. Di lapangan umumnya sulit untuk mendapatkan kondisi
yang benar-benar homogen, sehingga jika percobaan dilakukan menurut
RAL dapat dipastikan akan diperoleh galat yang besar. oleh karena itu untuk
mendapatkan galat yang lebih kecil perlu dilakukan upaya pengendalian
homogenetis pada lokal-lokal tertentu.
c. RAKL, rancangan ini, lokal kontrolnya berupa baris da lajur. Baris dan lajur
ini hanya istilah yang digunakan untuk menunjukkan bahwa perambangan
perlakuan- perlakuan dilakukan secara kuadrat (persegi) atau bersilang arah.
15. Tidak hanya bisa digunakan pada percobaan laboratorium/Rumah kaca jika
kondisinya seperti pada penelitian tentang erosi karena penonjolan pengaruh-
pengaruh perlakuan terhadap erosi (atau mikrobia) yang terjadi dan kirasan
erosi yang terjadi umumnya lebar, maka meskipun percobaan dilakukan pada
kondisi heterogen di lapangan tidak diperlukan adanya lokal kontrol, sehingga
RAL untuk kasus semacam ini juga dapat diterapkan.
16. Iya karena kondisi rumah kaca dan lab memiliki kondisi lingkungan, alat, bahan
dan media yang homogen. Karena kondisi yang homogen apabila dilakukan
percobaan menurut RAL maka perolehan galatnya kecil.
17. Perbedaan antara RAL, RAK, RAKL
No Jenis rancangan percobaan karakteristik
1 RAL Kondisi lingkungan,alat, bahan dan
media yang homogen
2 RAK Kondisi lingkungan yang
heterogen.sehingga perlu ada
pengelompokan (lokal kontrol) untuk
memperoleh galat yang lebih kecil.
3 RKAL Kondisi lingkungan yang hetergen.
Pada RKAL ini lokal kontrolnya
berupa baris dan lajur

18. Alasan mengapa RAKL jarang digunakan:


a. Memrlukan persyaratan jumlah baris=jumlah lajur=jumlah perlakuan.
Sehingga jika jumlah perlakuan terlalu kecil akan menyebabkan ulangan
perlakuan yang terlalu sedikit dan jika jumlah perlakuan terlalu besar akan
menyebabkan ulangan perlakuan yang terlalu besar sehingga akan tidak
ekonomis jika digunakan.
b. Tidak ada interaksi antara baris atau lajur dengan perlakuan. Jika ada
interaki, maka RKAL ini tidak dapat digunakan dan jika tetap digunakan,
maka kesimpulan atau hasil-hasil percobaan tersebut menjadi samar.
c. Adanya dua sumber keragaman data di luar perlakuan yang di teliti. Dua
sumber keragaman ini dapat berupa 2 arah silang kemiringan lereng, 2 arah
silang kesuburan tanah, 2 arah silang cara/tenaga/alat kerja, 2 waktu
pengamatan dan lain-lain, yang penting faktor-faktor ini bukanlah faktor
yang diteliti.