Anda di halaman 1dari 4

REFLEKSI TINDAKAN

PEMASANGAN INFUS

Nama Mahasiswa : Putri

NIM : C121 13 317

1. Tindakan Keperawatan yang dilakukan: Perawatan luka


 Nama Klien : Tn. Y
 Diagnosa Medis : CKD + Febris
 Tanggal Dilakukan : 20 April 2017
2. Diagnosa Keperawatan : Hipertermi
3. Tujuan Tindakan
a. Memberikan cairan dan elektrolit untuk menjaga keseimbangan di dalam tubuh

b. Memberikan glukosa yang dibutuhkan untuk metabolisme

c. Memberikan vitamin dan mineral yang larut dalam air

d. Memberikan pertolongan pada kasus gawat darurat

e. Memberikan obat

f. Memberikan darah dan produk darah

4. Prinsip dan Rasional Tindakan :

a. Prinsip tindakan :
1) Teknik steril
2) Vena yang dipilih: besar, lurus, panjang (sesuaikan dengan abocath). Pilih bagian
distal lebih dahulu.
b. Rasional tindakan :
1) Mencegah terjadinya infeksi melalui pembuluh darah
2) Infus set(abocath) terpasang tepat pada pembuluh darah vena
3) Mempermudah akses cairan serta obat langsung ke dalam pembuluh darah.
Analisa Tindakan yang dilakukan

Pemasangan infus bertujuan untuk mempertahankan atau mengganti cairan tubuh

yang tidak dapat dipertahankan secara adekuat melalui oral. Pemasangan infus ini juga

berfungsi sebagai jalan masuk untuk pemberian obat-obatan kedalam tubuh. Adapun hal-

hal yang dilakukan pada pemasangan infus adalah :

1. Periksa instruksi dokter terkait jenis cairan, jumlah yang diberikan dan kecepatan aliran

untuk memastikan prosedur yang benar.

2. Pastikan untuk mencuci tangan dan memakai sarung tangan untuk mencegah terjadinya

infeksi.

3. Buka dan siapkan infus set kemudian periksa bungkus infus terkait sedimen,

kekeruhan, perubahan warna dan tanggal kadaluarsa. Namun hal ini tidak dilakukan

selama tindakan dilakukan.

4. Keluarkan infus set dari bungkusan dan luruskan tetapi ujung selang dibiarkan tertutup

dengan tutup plastik sampai infus dimulai. Hal ini dilakukan untuk menjaga sterilitas

ujung selang infus.

5. Buka penutup botol cairan kemudian sambungkan dengan infus set dengan cara

menusuk pada bagian mulut botol. Kemudian tempelkan label pada botol cairan yang

bertuliskan waktu ketika infus dipasang dan kecepatan alirannya. Hal ini bertujuan

untuk membantu memastikan apakah kecepatan aliran sudah benar atau tidak. Namun

hal tersebut tidak dilakukan pada saat pemasangan infus pada Tn.Y.

6. Gantung botol cairan pada tiang infus yang berada sekitar 90 cm di atas kepala pasien.

Ketinggian tersebut diperlukan untuk memungkinkan gravitasi melawan tekanan vena

sehingga memudahkan aliran cairan ke dalam vena.


7. Lepaskan klem dan biarkan cairan mengalir dalam selang sampai semua gelembung

udara keluar untuk mencegah masuknya udara ke dalam vena (emboli).

8. Pilihlah vena yang akan dilakukan penusukan, jika memungkinkan pilihlah lengan

pasien yang tidak dominan. Vena yang dicari relatif lurus sambil mempertimbangkan

panjang kateter IV.

9. Pasang turniket sekitar 15-20 cm diatas lokasi penusukan vena. Apabila denyut nadi

radialis masih teraba, berarti aliran arteri tidak terhambat, namun selama tindakan tidak

dilakukan pengecekan nadi radialis sehingga tinkat kekencangan turniket tidak

diketahui.

10. Sebelum penusukan, lokasi dibersihkan dengan kapas alkohol dengan teknik sirkuler.

11. Gunakan tangan yang tidak dominan untuk meregangkan kulit dibawah lokasi

penusukan. Hal ini untuk menstabilisasi vena dan membuat kulit teregang untuk

memudahkan penusukan.

12. Kateter IV dipegang pada sudut 15°-30° dengan lubang jarum mengarah keatas.

Tusukkan jarum menembus kulit dan masukkan kedalam vena dalam satu kali tusukan.

Masukkan kateter sekitar 0,5 cm sampai 2 cm sambil menarik jarum secara perlahan-

lahan.

13. Ketika kateter IV sudah berada dalam vena sepenuhnya, lepaskan turniket dan

sambungkan kateter IV dengan selang infus kemudian difiksasi. Atur tetesan cairan

sesuai instruksi.

14. Bersihkan peralatan yang telah digunakan kemudian catat data yang relevan seperti

tanggal dan waktu pemasangan, jumlah dan jenis cairan yang diberikan termasuk obat

dan kecepatan tetesan.


Kesenjangan antara teori dan praktek adalah pada saat melakukan pemasangan
infus, perawat di RS tersebut tidak memberi label pada botol infus dan tidak
menuliskan tanggal pemasangan infus pada plester. Sedangkan menurut SOP pada saat
melakukan pemasangan infus seharusnya menuliskan tanggal pemasangan serta
memberi lebel pada botol infus, hal ini dilakukan untuk mengetahui tanggal
pemasangan serta berapa tetesan infus agar perawat mengetahui kapan cairan infus
habis, serta petugas kesehatan lain mengetahui tanggal pemasangan infus pada klien
tersebut.