Anda di halaman 1dari 21

Akuntansi Keperilakuan

Aspek Keperilakuan pada Pengakumulasian dan Pengendalian Biaya

Dosen : Ni Putu Sri Harta Mimba, SE., M.Si., Ph.D., Ak, CA, CMA, CIBA, CBV

Kelompok 6:

Yorend Fiscienthar (1707531088)

Luh Asri Eka Dewi (1707531142)

Ni Komang Sri Cristi Okta Dewi (1707531149)

Ida Ayu Sinta Mahadewi (1707531151)

Ni Made Ayu Candra Dewi (1707531157)

Program Studi Akuntansi Reguler Bukit

Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Udayana

2019
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang
telah memberikan kekuatan dan kemampuan, sehingga makalah yang berjudul
“Aspek Keperilakuan pada Pengakumulasian dan Pengendalian Biaya” ini dapat
diselesaikan.
Dengan adanya makalah ini Penulis berharap sedikit membantu para
pembaca dalam memahami lebih dalam tentang Akuntansi Keperilakuan. Kami
menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kata sempurna.
Oleh karena itu, kami mohon saran dan kritiknya yang bersifat membangun
untuk menyempurnakan makalah ini dengan harapan untuk memperbaiki kualitas
makalah. Semoga makalah ini dapat berguna khususnya bagi kami dan umumnya
bagi kita semua yang membacanya.

Jimbaran, 3 Oktober 2019

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................. i


DAFTAR ISI ................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................. 1
1.1 Latar Belakang Masalah .......................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................... 2
1.3 Tujuan Penulisan ..................................................................................... 2
1.4 Manfaat Penulisan ................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN .............................................................................. 3
2.1 Biaya pada fungsi manajemen ................................................................. 3
2.2 Pentingnya Manajemen Biaya ................................................................. 4
2.3 Sistem Biaya Tradisional versus Biaya Standar ........................................ 5
2.4 Perhitungan Biaya Langsung atau Variabel ............................................. 9
2.5 Pengendalian Biaya ................................................................................. 10
2.6 Pengambilan Keputusan .......................................................................... 11
2.7 Aspek Keperilakuan dari Langkah Akuntansi Biaya yang Dipilih ............ 12
BAB III PENUTUP ...................................................................................... 17
3.1 Kesimpulan ............................................................................................. 17
3.2 Saran ....................................................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 18

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Dalam akuntansi keuangan, istilah biaya didefinisikan sebagai suatu pengukuran
dalam satuan moneter, jumlah dari sumber daya yang digunakan untuk beberapa tujuan
dalam akuntansi manajerial. Istilah biaya digunakan dalam beberapa cara yang berbeda.
Terdapat perbedaan jenis dari biaya yang digunakan untuk perbedaan tujuan. Beberapa
biaya sangat bermanfaat dan diperlukan untuk penilaian persediaan dan penentuan laba.
Beberapa biaya sangat bermanfaat untuk perencanaan, penganggaran, dan pengendalian
biaya. Selain itu, masih terdapat manfaat lain dari biaya dalam pengambilan keputusan
jangka pendek dan jangka panjang.
Biaya adalah kas atau nilai ekuivalen kas yang dikorbankan untuk mendapatkan
barang atau jasa yang diharapkan memberi manfaat bagi organisasi pada saat ini atau
pada masa mendatang. Ekuivalen kas berarti sumber non-kas yang dapat ditukar dengan
barang atau jasa yang diinginkan. Dalam usaha menghasilkan manfaat saat ini dan masa
mendatang manajer harus melakukan berbagai usaha untuk meminimalkan biaya yang
dibutuhkan dalam mencapai manfaat tersebut. Mengurangi biaya yang diperlukan untuk
mencapai tujuan berarti perusahaan menjadi lebih efisien. Akan tetapi, biaya tidak hanya
harus ditekan, tetapi harus dikelola secara strategis.
Biaya dikeluarkan untuk mendapatkan manfaat di masa mendatang. Manfaat
(bagi perusahaan yang berorientasi laba atau profit oriented) berarti pendapatan. Jika
biaya telah dihabiskan dalam proses menghasilkan pendapatan, maka biaya tersebut
dinyatakan kedaluwarsa (expired). Biaya yang sudah kedaluwarsa disebut beban
(expense). Pada setiap periode, beban akan dikurangkan dari pendapatan dalam laporan
laba rugi untuk menentukan laba periode tersebut. Sementara itu, biaya yang belum
kedaluwarsa disebut biaya (cost), yang akan dilaporkan dalam laporan neraca. Makalah
ini menjelaskan dan memperkenalkan berbagai jenis biaya yang ada dalam operasi binis,
termasuk biaya langsung (direct cost), biaya tidak langsung (indirect cost), biaya yang
dapat dikendalikan (controllable cost), biaya yang tidak dapat dikendalikan
(uncontollable cost), biaya gabungan (joint cost), biaya diskresioner (discretionary cost),
biaya semivariabel (semivariable cost), dan biaya standar (standar cost). Penggunaan
biaya yang relevan (releynt cost) adalah untuk menilai alternatif yang sebaiknya dipilih.
Biaya tetap dan biaya varlabel akan dijelaskan dalam hubungannya dengan penggunaan

1
dalam proses pengambilan keputusan manajemen, seperti apakah akan menerima atau
menolak suatu penawaran harga atas jasa atau produk tertentu

1.2. Rumusan Masalah


1) Bagaimana perlakuan biaya di dalam fungsi manajemen?
2) Bagaimana pentingnya manajemen biaya?
3) Bagaimana sistem biaya tradisional jika dibandingkan dengan biaya standar?
4) Bagaimana perhitungan biaya langsung atau variabel?
5) Bagaimana pengendalian terhadap biaya?
6) Bagaimana situasi pengambilan keputusan?
7) Bagaimana aspek keperilakuan dari langkah akuntansi biaya yang dipilih?

1.3. Tujuan Penulisan


1) Untuk mengetahui perlakuan biaya di dalam fungsi manajemen
2) Untuk mengetahui pentingnya manajemen biaya
3) Untuk mengetahui sistem biaya tradisional jika dibandingkan dengan biaya standar
4) Untuk mengetahui perhitungan biaya langsung atau variabel
5) Untuk mengetahui pengendalian terhadap biaya
6) Untuk mengetahui situasi pengambilan keputusan
7) Untuk mengetahui aspek keperilakuan dari langkah akuntansi biaya yang dipilih

1.4. Manfaat Penulisan


1) Dapat mengetahui perlakuan biaya di dalam fungsi manajemen
2) Dapat mengetahui pentingnya manajemen biaya
3) Dapat mengetahui sistem biaya tradisional jika dibandingkan dengan biaya standar
4) Dapat mengetahui perhitungan biaya langsung atau variabel
5) Dapat mengetahui pengendalian terhadap biaya
6) Dapat mengetahui situasi pengambilan keputusan
7) Dapat mengetahui aspek keperilakuan dari langkah akuntansi biaya yang dipilih

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Biaya dengan Fungsi Manajemen


Dalam suatu perusahaan manufaktur, biaya dibagi menjadi dua kategori utama
berdasarkan aktivitas fungsionalnya menjadi biaya manufaktur dan biaya non-manufaktur
yang juga sering disebut biaya beroperasi. Biaya manufaktur merupakan seluruh biaya
yang berhubungan dengan aktivitas pabrikasi perusahaan.
Biaya manufaktur dibagi lagi menjadi tiga kategori, yaitu sebagai berikut:
(1) Bahan Baku Langsung
Semua bahan baku yang menjadi satu bagian integral dari produk jadi. Contohnya
adalah baja yang digunakan untuk membuat rangka mobil dan kayu yang digunakan
untuk membuat furnitur. Sedangkan, bahan baku tidak langsung contohnya adalah
lem, paku, dan bahan-bahan kecil lainnya dan digolongkan sebagai bagian dari
overhead pabrik,
(2) Tenaga Kerja Langsung
Tenaga kerja yang dilibatkan secara langsung dalam pembuatan produk. Contohnya
adalah gaji dari pekerja perakitan pada suatu lini perakitan dan gaji dari operator alat-
alat mesin pada suatu pabrik. Sedangkan, tenaga kerja tidak langsung seperti gaji dari
penyedia dan penjaga bangunan, digolongkan sebagai bagian dari biaya overhead
pabrik.
(3) Biaya Overhead Pabrik
Seluruh biaya manufaktur kecuali bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung.
Contohnya meliputi penyusutan, sewa, pajak, asuransi, keuntungan tambahan, pajak
penghasilan dan biaya waktu menganggur. Overhead juga disebut overhead
manufaktur, biaya manufaktur tidak langsung, dan beban pabrik. Biaya kualitas
merupakan biaya yang terjadi karena mutu produk yang rendah atau untuk mencegah
agar mutu yang rendah tidak terjadi. Subkategori dari biaya kualitas yaitu sebagai
berikut:
(a) Biaya pencegahan, biaya yang terjadi untuk mencegah dihasilkannya produk
cacat. Yang termasuk biaya pencegahan meliputi jumlah yang dibelanjakan untuk
program pelatihan kualitas, penelitian kebutuhan pelanggan, siklus kualitas, dan
perbaikan alat-alat perlengkapan produksi. Biaya yang dikeluarkan untuk
pencegahan akan memperkecil biaya yang terjadi untuk penilaian dan kegagalan.

3
(b) Biaya penilaian, biaya yang dibuat untuk melakukan pemantauan atau inspeksi.
Biaya ini dikeluarkan untuk mendeteksi kegagalan produk.
(c) Biaya kegagalan, terdiri dari biaya kegagalan internal dan biaya kegagalan
eksternal. Biaya kegagalan internal merupakan biaya kegagalan yang terjadi
selama proses manufaktur atau proses produksi, seperti biaya bahan baku sisa,
biaya pengerjaan kembali, dan inspeksi ulang. Biaya kegagalan eksternal
merupakan biaya kegagalan yang terjadi setelah produk tersebut dijual, seperti
biaya pengembalian produk, biaya garansi, dan kehilangan penjualan sehubungan
dengan kinerja produk yang buruk.

Biaya non-manufaktur atau biaya operasi dibagi lagi menjadi yaitu sebagai berikut:
1) Biaya Penjualan
Semua biaya yang dihubungkan dengan aktivitas penjualan dan pengiriman dari
produk. Contohnya adalah biaya iklan dan komisi penjualan.
2) Biaya Umum dan Administrasi
Semua biaya yang terjadi dalam kaitannya dengan pelaksaan aktivitas umum dan
administrasi. Contohnya adalah biaya gaji eksekutif dan biaya legal.

2.2. Pentingnya Manajemen Biaya


Kebanyakan pendapatan penjualan dalam suatu perusahaan dihasilkan dengan
mengeluarkan biaya. Oleh karena itu, manajemen biaya adalah penting. Anggaran biaya
dan analisis biaya adalah salah satu cara mengendalikan dan mengatur biaya guna
memperbaiki laba bersih. Cara lain untuk memperbaiki laba bersih adalah mengurangi
biaya, tanpa memedulikan konsekuensinya. Tindakan ini mungkin tidak bijaksana dan
barangkali terdapat cara yang paling baik adalah meninjau setiap biaya (beban) dan
melihat kontribusinya terhadap laba bersih. Jika proporsi biaya iklan dianggap terlalu
tinggi terhadap laba bersih, sementara jika tidak beriklan juga akan menciptakan masalah,
maka sebaiknya dilakukan pemotongan terhadap biaya iklan. Satu dari cara terbaik untuk
mengatur biaya adalah memahami bahwa terdapat banyak jenis biaya. Jika satu biaya dapat
dikenali dari jenis biaya yang sedang dipertimbangkan, keputusan yang lebih baik dapat
dibuat.

4
2.3. Sistem Biaya Tradisional versus Biaya Standar
2.3.1. Tujuan dan Penggunaan Sistem Akuntansi Biaya
Akuntansi biaya mengidentifikasikan, menguantifikasi, mengakumulasikan,
dan melaporkan berbagai elemen biaya yang berkaitan dengan produksi barang
atau penyerahan jasa. Akuntansi biaya memiliki dua tujuan yaitu sebagai berikut:
1) Melayani kebutuhan pengguna eksternal, seperti pemegang saham, kantor
pemeriksaan pajak dan kreditor melalui akumulasi biaya untuk penilaian
persediaan dan penentuan laba.
2) Membantu dalam perencanaan, pengendalian, dan evaluasi aktivitas operasional
harian yang berkaitan dengan analisis dan penilaian profitabilitas relatif atau
tingkat diinginkannya suatu alternatif keputusan dengan menyediakan informasi
biaya yang tepat waktu dan relevan.
Pendekatan dan sistem yang digunakan dalam menyediakan informasi biaya
sangat berbeda satu sama lain. Setiap jenis memiliki aspek keperilakuannya sendiri.
Bila hal ini diabaikan, maka respons manusia yang tidak diinginkan dapat timbul,
di mana hal tersebut berkisar dari agak mengganggu sampai benar-benar destruktif.

2.3.2. Sistem Biaya Tradisional (Historis)


Istilah tradisional (historis) mengacu pada sistem biaya yang membatasi
input pada biaya historis dan mengusahakan penyerapan penuh atas biaya tetap dan
variabel oleh unit produk atau jasa. Sistem biaya tradisional atau historis terutama
fokus pada identifikasi dan akumulasi biaya per unit produk atau jasa. Sistem
tersebut digunakan untuk menghitung nilai persediaan dan data biaya harga pokok
penjualan atau jasa yang diberikan untuk pelaporan keuangan eksternal. Namun,
sistem biaya tradisional tidaklah sesuai untuk pengendalian manajemen yang
efektif karena akumulasi data biaya historis semata-mata tanpa perbandingan
dengan sasaran biaya yang telah ditentukan sebelumnya tidak sesuai dengan
konsep pengendalian kontemporer. Untuk dapat memenuhi konsep pengendalian
kontemporer serta untuk memotivasi manajer dan karyawan, tujuan kinerja dan
sasaran biaya per unit atau untuk periode masa depan tertentu harus ditetapkan.
Kinerja aktual oleh pusat pertanggungjawaban harus secara periodik dibandingkan
dengan tingkat kinerja yang diinginkan. Penyimpangan harus dicatat dan
diinformasikan kembali kepada individu yang berkepentingan sehingga
mendorong tindakan korektif yang segera. Untuk menghindari respons yang

5
disfungsional umumnya disarankan agar manajer segmen hanya bertanggung
jawab atas biaya yang dapat dipengaruhi oleh tindakan mereka. Kelemahan sistem
biaya tradisional ini adalah sebagai berikut:
1) Persyaratan akuntansi keuangan menuntut agar biaya per unit produk atau jasa
memperhitungkan semua biaya, baik yang dapat ditelusuri ke suatu produk atau
jasa maupun yang terjadi untuk satu periode waktu tertentu atau untuk lebih
dari satu objek biaya. Biaya periode atau kapasitas dan biaya yang terjadi untuk
lebih dari satu produk atau segmen tidak dapat ditelusuri langsung ke unit jasa,
produk, atau departemen tertentu. Biaya tersebut dibebankan ke produk atau
jasa melalui alokasi yang kurang lebih bersifat arbitrer. Alokasi ini dapat
menyesatkan manajemen dan memengaruhi kualitas keputusan manajerial
secara negatif, seperti penetapan harga atau keputusan buat atau beli jangka
pendek, yang memerlukan informasi biaya inkremental. Ketika menggunakan
biaya tradisional untuk mengevaluasi kinerja dari manajer segmen, terdapat
kemungkinan bahwa mereka dibebankan dengan sebagian biaya yang atasnya
mereka tidak memiliki kendali. Laporan kinerja yang menggabungkan biaya
langsung dan biaya tidak langsung yang dialokasikan seringkali menghasilkan
pertikaian dan frustasi mengenai validitas dan jumlah dari alokasi tersebut.
Namun, hal yang lebih penting adalah konsekuensi jangka panjang dari
kejadian semacam itu dapat meliputi rendahnya moral dan tingkat aspirasi
karyawan serta respons yang destruktif.
2) Berkaitan dengan penggunaan sistem biaya tradisional untuk tujuan
pengendalian bahwa satu-satunya dasar untuk pengendalian adalah
perbandingan kinerja saat ini dengan kinerja dari periode sebelumnya.
Membandingkan kinerja saat ini dengan periode sebelumnya cukup
menyesatkan karena tidak ada cara untuk mengetahui apakah biaya dari periode
sebelumnya terlalu tinggi, terlalu rendah, atau hampir tepat. Hal yang sama
membingungkannya adalah varians anggaran yang ditimbulkan dari
membandingkan hasil kinerja aktual dengan standar anggaran yang ditetapkan
untuk suatu tingkat aktivitas yang berbeda dengan yang aktualnya dicapai.
Oleh karena itu, semakin jelas bahwa informasi yang diberikan oleh sistem
biaya tradisional tidak sesuai dengan tujuan pengendalian modern. Sistem tersebut
juga memberikan sedikit informasi yang bermanfaat untuk perencanaan dan
pengambilan keputusan manajerial. Kelemahannya yang terbesar adalah sistem

6
tersebut berbahaya karena mendorong respons yang tidak diinginkan dan destruktif
ketika digunakan dalam mengevaluasi kinerja dari individu yang ditugaskan
melaksanakan berbagai aktivitas dalam batasan anggaran tersebut.

2.3.3. Sistem Biaya Standar


1) Ruang Lingkup
Dengan mengakui kelemahan dari sistem biaya tradisional, banyak
organisasi mengadopsi “sistem biaya standar”. Pada awalnya, sistem biaya
standar merupakan pencatatan biaya produksi pada standar. Unit-unit dari aliran
persediaan sepanjang akun persediaan (dari barang dalam pengolahan menjadi
barang jadi ke harga pokok penjualan) pada biaya standar per unit. Ketika harga
yang sebenarnya diketahui, ayat jurnal penyesuain dibuat yang menyatakan
kembali setiap akun neraa dari standar ke aktual. Komponen dari ayat jurnal
penyesuaian ini menyediakan informasi tentang kinerja periode perusahaan,
terutama mengenai efisiensi produksi dan pengendalian biaya.
Sistem biaya standar mencerminkan pencampuran yang potensial efektif
dari akuntansi dengan konsep pengendalian dari teori organisasi modern. Biaya
standar adalah sasaran biaya per unit produk atau jasa yang ditentukan
sebelumnya secara ilmiah yang dikembangkan melalui studi teknik dan
akuntansi. Biaya standar mencerminkan dan canggih mengenai besarnya biaya
untuk melaksanakan suatu tugas tertentu atau menghasilkan suatu produk
tertentu. Aspek pengendalian yang melekat dari perhitungan biaya standar
adalah kapabilitasnya untuk membandingkan, sebagai bagian dari arus data
reguler, kinerja aktual dengan standar yang ditentukan sebelumnya, dan untuk
menyoroti varians (menguntungkan atau tidak menguntungkan) antara kedua
tingkat biaya tersebut. Sistem biaya standar bahkan mampu menentukan
penyebab dari penyimpangan tersebut. Untuk menghasilkan manfaat
pengendalian yang optimal dan mempertahankan relevansi, biaya standar harus
diperbarui secara kontinu.

2) Sistem Biaya Standar dan Anggaran Fleksibel


Taksiran sistem biaya standar sebenarnya menginventarisasi sepanjang
periode pada jumlah anggaran fleksibel. Anggaran fleksibel adalah anggaran
biaya per unit dikalikan dengan jumlah jumlah unit aktual. Oleh karena itu,
sistem biaya standar menjawab pertanyaan seperti apa laporan laba rugi dan

7
neraca akan terlihat jika biaya-biaya dan input per unit harus direncanakan
dengan tepat pada tingkat output aktual yang dicapai (unit yang dibuat dan unit
yang dijual).

3) Kompatibilitas dengan Konsep Teori Organisasi Modern


Dalam mengembangkan kerangka kerja untuk sistem biaya standar yang
sesuai dengan konsep teori organisasi modern, berikut langkah-langkah
pengendalian sebagaimana dijelaskan oleh Edwin Caplain:
(1) Penetapan tujuan organisasi.
(2) Penentuan pusat pertanggungjawaban yang sesuai dan penugasan fungsi
kepada masing-masing.
(3) Pengisian staf dari pusat pertanggungjawaban dengan individu-individu
yang memiliki kemampuan, motivasi, dan pengetahuan yang mencukupi
untuk melakukan fungsinya.
(4) Penciptaan jalur komunikasi antara pusat pertanggungjawaban dan unit
organisasi lainnya serta, dimana perlu, lingkungan eksternal.
(5) Pengembangan prosedur yang memastikan bahwa informasi yang
mencukupi, relevan, dan tepat waktu sepanjang jalur komunikasi.
(6) Desain dan implementasi mekanisme pengendalian yang mengukur dan
mengevaluasi kinerja dalam hal tujuan organisasi dan memberikan umpan
balik mengenai penyesuaian yang diperlukan dalam tujuan dan/atau
kinerja.
Sistem biaya standar dirancang untuk berfungsi secara simultan sebagai:
(1) Sumber informasi, sistem biaya standar menginformasikan kepada
individu yang bertanggung jawab mengenai harapan mereka dalam hal
biaya.
(2) Jalur komunikasi, sistem biaya standar menyebarkan tingkat biaya yang
diharapkan dan pencapaiannya.
(3) Alat pengendalian dan evaluasi kinerja, dicapai melalui laporan biaya
standar periodik yang menyediakan umpan balik mengenai hasil kinerja
masa lalu dan penyimpangannya dari standar kepada individu yang tepat.
Sistem biaya standar memiliki potensi untuk digunakan sebagai alat
bantu dalam meningkatkan motivasi dan keselarasan tujuan dan sebagai alat
untuk mencapai tingkat pengendalian yang otokratis dan koersif. Untuk

8
mencapai nilai pengendalian terbesar yang mungkin, kebanyakan sistem harus
melalui modifikasi-modifikasi tertentu. Modifikasi tersebut tidak begitu
memengaruhi tekniknya itu sendiri, tetapi lebih memengaruhi sikap dan
filososfi dari orang-orang yang mengoperasikan dan menggunakannya.

2.4. Perhitungan Biaya Langsung atau Variabel


2.4.1. Filosofi yang Mendasari
Semua metode akuntansi biaya tradisional yang sesuai dengan konsep biaya
tersebut membebankan unit produk atau jasa dengan biaya penuh. bahan baku
langsung dan tenaga kerja langsung dibebankan langsung keunit produk atau jasa,
sementara overhead tetap dan variabel pada kebanyakan kasus diserap berdasarkan
estimasi tarif yang didasarkan pada volume yang telah ditentukan sebelumnya.
Ketika dasar yang digunakan untuk penyerapan berbeda dengan tingkat kapasitas
yang telah ditentukan sebelumnya, maka prosedur penyerapan akan menimbulkan
penyerapan terlalu tinggi (overabsorption) atau penyerapan terlalu rendah
(underabsortion) atas overhead manufaktur(jasa). Analisis pelengkap dibutuhkan
untuk mengidentifikasikan berbagai kompenen yang menyebabkan terjadinya
penyerapan terlalu tinggi atau terlalu rendah.
Metode akutansi biaya tradisional juga mengabaikan fakta bahwa biaya
overhead tertentu akan tetap konstan tanpa memedulikan kuantitas dari unit yang
dihasilkan atau jasa yang diserahkan, sementara biaya overhead yang lainnya
berfluktuasi terhadap volume. Untuk mengatasi kekurangan ini, alat seperti
penyusunan anggaran fleksibel dan analisis biaya volume laba diperkenalkan.
Untuk memfasilitasi pengambilan keputusan dan pengendalian biaya tanpa
perlu untuk menyusun laporan pelengkap yang menghabiskan banyak waktu, suatu
filosofi perhitungan biaya baru diperkenalkan sejak tahun 1930. Perhitungan biaya
langsung atau biaya variabel membedakan antara biaya produksi dengan biaya
untuk siap menghasilkan. Hanya biaya yang ditimbulkan oleh produksi atau
penyerahan jasa sekarang saja yang diklasifikasikan sebagai biaya per unit produk
atau jasa dan dikapitalisasi sampai barang-barang tersebut terjual atau jasanya
diserahkan.
Pendukung perhitungan biaya langsung mempertimbangkan
pembagian overheadberdasar struktur biayanya sebagai kebutuhan dasar untuk
pengendalian biaya yang efektif sertapengambilan keputusan yang berarti. Dengan

9
mengeluarkan biaya kapasitas atau biaya tetapdalam menilai persediaan dan harga
pokok penjualan, metode ini menempatkan perusahaanmanufaktur dan perusahaan
dagang pada dasar yang sama sejauh berkaitan dengan biaya produk.

2.4.2. Dorongan Keperilakuan


Konsep, prinsip, dan praktik akuntansi memengaruhi pengukuran kinerja
manajerial dan, konsekuensinya, keputusan manajemen. Hal ini tidak selalu
mengarah pada hasil yang diharapkan karena banyak ukuran kinerja memiliki bias
yang terkandung di dalamnya, yang memotivasi manajer untuk memilih alternatif
tindakan yang tidak sesuai dengan kepentingan operasi dan/atau keuangan
perusahaan.
Dalam proses pengujian ulang konsep-konsep dasar, prinsip dan praktik
akuntansi dengan mempertimbangkan implikasi keperilakuan yang mungkin,
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh David Hawkins berikut terlihat sesuai.
1) Apa yang dimotivasi oleh konsep akuntansi, prinsip, atau praktik akuntansi
untuk dilakukan oleh konsep akuntansi, prinsip, atau praktik akuntansi untuk
dilakukan oleh manajer demi kepentingan pribadi mereka yang egois?
2) Apakah tindakan yang mungkin ini mengaburkan kinerja manajerial,
memberikan ilusi kinerja yang sebenarnya tidak ada, atau mengarah pada
tindakan ekonomi yang buruk?
Hawkins menyatakan bahwa konsep, prinsip dan praktik akuntansi adalah
bagus secara keperilakuan maupun teknis jika konsep, prinsip, dan praktik tersebut:
(1) Menghambat manajer dari pengambilan berbagai tindakan operasi yang tidak
menguntungkan guna membenarkan adopsi atas suatu alternatif akuntansi.
(2) Menghambat adopsi atas praktik akuntansi oleh perusahaan yang hanya
menciptakan ilusi kinerja.

2.5. Pengendalian Biaya


Membagi biaya ke dalam komponen variabel dan tetap memberikan dasar yang
lebih baik untuk pengendalian biaya. Hal tersebut memungkinkan penyusunan laporan
laba rugi menggunakan margin kontribusi yang menekankan pada pola perilaku biaya dan
memberikan perincian kepada manajemen mengenai biaya teknik, biaya yang
dikomitmenkan dan biaya diskresioner. Perbedaan ini penting bagi manajemen karena
setiap jenis biaya memerlukan prosedur pengendalian yang berbeda.

10
1) Biaya teknik, meliputi biaya bahan langsung, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya
overheadvariabel, seperti bahan bakar dan listrik.
2) Biaya tetap yang dikomitmenkan atau biayakapasitas adalah “seluruh biaya organisasi
dan pabrik yang terus terjadi (tanpa memedulikan tingkat aktivitas) yang tidak dapat
dikurangi tanpa merugikan kompetensi organisasi untuk memenuhi tujuan jangka
panjang.
3) Biaya diskresioner (juga disebut biaya terprogram) adalah:
(a) Biaya yang muncul dari keputusan periodik (biasanya tahunan) mengenai jumlah
maksimum yang akan dikeluarkan, dan
(b) Biaya yang tidak memiliki hubungan optimum yang dapat ditunjukkan antara
input (yang diukur oleh biaya) dan output (yang diukur oleh pendapatan atau
tujuan lainnya).

2.6. Pengambilan Keputusan


Di samping menekankan perbedaan antara biaya tetap dan biaya variabel serta
memberikan informasi biaya diferensial dalam situasi pengambilan keputusan tertentu,
perhitungan biaya langsung atau biaya variabel memberikan informasi penting lainnya
kepada manajer. Beberapa situasi pengambilan keputusan yang umum akan dijelaskan
berikut.
1) Keputusan Bauran Produk
Ketika dihadapkan dengan keputusan mengenai bauran produk, manajer penjualan
yang mengetahui margin kontribusi dari produk-produknyaakan jauh lebih mampu
untuk memutuskan produk yang akan didorong dan produk yang harus dikurangi atau
ditolerir hanya karena penjualannya menguntungkan produk lain. Pada kasus sumber
daya yang terbatas (seperti jam mesin, bahan baku), margin kontribusi akan
memberikan informasi kepada manajemen untuk memilih bauran yang diharapkan
dapat menghasilkan total kontribusi terbesar terhadap laba.
2) Penentuan Harga Produk Baru
Produk baru umunya diterima di pasar hanya setelah diuji coba secara ekstensif oleh
perusahaan yang memiliki reputasi dalam industri tersebut. Untuk mendorong
perusahaan-perusahaan guna menggunakan produk itu secara percobaan, manajemen
dapat menjualnya pada biaya variabel. Setelah produk tersebut diuji coba secara
mencukupi dan diterima oleh pemakai, produk tersebut akan ditetapkan harganya pada

11
biaya penuh plus mark-up yang konsisten dengan tujuan laba perusahaan secara
keseluruhan.
3) Penetrasi Pasar
Manajer dapat menggunakan biaya variabel sebagai dasar untuk penetuan harga ketika
mereka bermaksud memasuki pasar baru (misalnya luar negeri) dengan produk yang
sudah ada atau ketika mereka terpaksa menghadapi persaingan yang semakin
meningkat selama periode di mana permintaan menurun.
4) Penghapusan Produk
Margin produksi akan membantu manajemen dalam menetukan apakah akan
menghentikan suatu produk atau hanya berhenti menjualnya di pasar tertentu.
5) Pesanan Khusus
Perusahaan juga dapat dihadapkan pada dua jenis situasi pesanan khusus. Situasi
tersebut dapat melibatkan akomodasi untuk pelanggan istimewaatau persyaratan
khusus untuk ukuran, metode pengiriman, atau pengemasan.
6) Kampanye Iklan dan Promosi
Untuk meningkatkan volume penjualan saat ini, perusahaan dapat meluncurkan
kampanye iklan dan promosi khusus. Jika perusahaan menggunakan sistem perhitungan
biaya tradisional maka keputusan tersebut kemungkinan besar hanya akan didasarkan
pada perbandingan antar tambahan biayadengan prospek peningkatan dalam volume
penjualan.
7) Keputusan Mengurangi Biaya
Jika harga jual suatu perusahaan ditetapkan oleh pesaing, maka manjemen akan
mengetahui besarnya biaya variabel yang diperkenankan pada volume overasi saat
inijika tujuan laba tertentu harus dicapai. Pengetahuan ini akan mendorong manajemen
untuk waspada terhadap biaya serta memperkenalkan alat dan prosedur untuk
menghemat biaya.

2.7. Aspek Keperilakuan dari Langkah Akuntansi Biaya yang Dipilih


Bagian ini akan menganalisis aspek keperilakuan dari langkah-langkah akuntansi
yang dipilih yang dapat memodiikasi dalam memicu respons manusia yang disfungsional.
2.7.1. Penetapan Standar
Standar akan menghasilkan perilaku pekerja yang efisien hanya jika standar
tersebut diterima sebagai tingkat aspirasi oleh individu untuk siapa standar
pengendalian dan evaluasi kinerja tersebut didesain. Roymond Miles dan Roger

12
vern mengemukakan empat prasyarat utama berikut bagi sistem pengendalian yang
unggul secara keperilakuan.
1) Standar haruslah ditetapkan dengan cara yang sedemikian rupa sehingga orang
menerimnya sebagai sesuatu realistisdan bukannya arbitrer.
2) Orang-orang harus merasa bahwa mereka memilih pengaruh dalam menetapkan
tujuan mereka sendiri.
3) Orang-orang harus yakin bahwa mereka tidak akan dihukum secara tidak adil
untuk variasi normal yang terjadi secara kebetulan dalam kinerja.
4) Umpan balik atas kinerja haruslah bertujuan untuk koreksi maupun evaluasi.
2.7.2. Partisipasi dalam Penetapan Standar
Michael Foran dan Don DeCoster meringkas logika yang mendasari seluruh
argument yang mendukung partisipasi terjadi, “Jika seorang pekerja berpartisipasi
dalam menetapkan standar kinerjanya sendiri, maka ia akan membuat komitmen
yang tegas terhadap standar tersebut sehingga akan bekerja keras untuk
mencapainya. ”. Dalam salah satu studi empiris, mereka menggunakan teori
disonansi kognitif untuk mendapatkan lebih banyak wawasan mengenai penyebab
partisipasi lebih efektif dalam penetapan standar kinerja. Teori disonasi kognitif
terpusat pada tiga konsep kunci, yaitu: kemauan, disonasi, dan komitmen. Dalam
konteks penetapan standar, teori ini mengimplikasikan bahwa jika manjemen
menginginkan komitmen yang pasti terhadap standar, maka individu yang
dikendalikan harus memiliki pilihan ( kemauan). Ketika memilih sekelompok
standar kinerja tertentu mereka mengalami keraguan (disonasi) mengenai
kebijaksanaan dari pilihan mereka.
2.7.3. Standar yang Ketat versus Standar yang Longgar
Untuk berfungsi sebagai alat motivasi, standar yang digunakan haruslah
tidak terlalu ketat dan tidak terlalu longgar. Standar yang ketat adalah tantangan
yang berguna (penghargaan intrinsik) hanya bagi mandor atau manajer yang
termotivasi oleh kebutuhan akan prestasi yang luar biasa. Bagi kebanyakan
individu, standar yang terlalu ketat dan kemungkinan kegagalan menimbulkan
frustasi dan kecil hati. Kinerja mereka akan mengalami penurunan lebih lanjut
karena mereka berhenti melakukan perbaikan. Semntara itu, standar yang longgar
tidak memberikan manfaat motivasional apapun karena standar tersebut begitu
mudah dicapai. Jadi, mandor dan manajer akan mengabaikan standar tersebut
karena dianggap tidak berarti.

13
2.7.4. Penyerapan Overhead
Bidang lain yang penuh dengan dorongan difungsional adalah penyerapan
overhead. Praktik umum untuk membebankan overhead manufaktur tetap dan
variabel ke produk pada tariff estimasi yang didasarkan pada tingkat kapasitas yang
telah ditentukan sebelumnya. Ketika dasar yang digunakan untuk penyerapan
berbeda dengan yang telah ditentukan sebelumnya, maka varians yangdibebankan
terlalu tinggi atau terlalu rendah akan terjadi. Ukuran dari varians ini juga
dipengaruhi oleh tingkat kapasitas yang dipilh sebagai penyebut dalam penetuan
tariff tersebut. Tingkat kapasitas jangka panjang (kapasitas normal) akan
menghasilkan varians yang berbeda dibandingkan dengan tingkat kapasitas jangka
pendek (kapasitas yang secara aktual dapat dicapai).
2.7.5. Alokasi Biaya Tidak Langsung
Dalam riset yang didukung oleh National Associaton of accountants
(NAA), James Fremgen dan Shu S. Lioa menemukan bahwa
perusahaan responden membedakan dengan tegas dua jenis biaya tidak langsung,
yaitu biaya jasa korporat dan biaya administratif korporat.
1) Biaya jasa korporat adalah biaya jasa yang dilakukan secara sentral untuk
manfaat korporat dan berbagai pusat pertanggungjawaban.
2) Biaya administratif korporat adalah biaya yang diperlukan untuk
mengoperasikan kantor korporat. Biaya ini termasuk gaji, hubungan masyarakat
dan biaya korporat lainnya terjadi untuk menjalankan perusahaan secara
keseluruhan. Tidak ada hubungan yang jelas antara biaya administratif ini
dengan tingkat operasi dari berbagai pusat biaya dan/atau laba di seluruh
organisasi.
2.7.6. Analisis Varians
Unsur utama dari pengendalian biaya adalah perbandingan secara peiodik
antara biaya aktual dengans asaran biaya yang sudah dietentukan sebelumnya, baik
dalam bentuk anggaran maupun bentuk standar. Perbandingan tersebut juga akan
menghasilkan sejumlah varians karena mustahil bahwa biaya aktual yang terjadi
akan setara dengan standar atau anggaran dari elemen operasional yang akan
dikendalikan. Varians tersebut dapat merupakan hasil dari berbagai penyebab,
bebrapa di antaranya dapat dijelaskan dan dikendalikan, smentara yang lain tidak
dapat dijelaskan maupun dikendalikan.

14
2.7.7. Keputusan Investigasi Varians
Keputusan manajemen semata-mata bergntung pada penilainnya atas
signifkansi diskrepansi yang diamati. Varians ini memiliki signifikansi
pengendalian hanya jika varians tersebut berasal dari penyebab yang dapat
ditentukan, dengan kata lain tidak bersifat acak dan rentan terhadap tindakan
perbaikan.
2.7.8. Aspek Keperilakuan
Semua model akuntansi untuk investigasi varians biaya didasarkan pada
pandangan pengendalian struktural. Pandagan ini lebih melihat pengendalian
sebagai”mesin homostatis yang mengukur dirinya sendiri”. pendukungnya tidak
melihat perbedaan antara regulator mekanis dalam suatu sitem sibernetika (seperti
thermostat) dengan regulator manusia(sperti pekerja, mandor atau manajer).
1) Batas pengendaliaKisaran hasil kenerja yang dianggap dapat diterima oleh
manajer adalah batasan pengendalian. Batasan ini menntukan mudah atau
sulitnya sesorang yang dikendalikan untuk berkinerja dalam kisaran yang dapat
diterima dan banyaknya ruang yang mereka miliki untuk gagal sekali waktu.
Tingkat toleransi ini dapat memengaruhi kinerja aktual mereka. Komponen
khusus dari kebijakan pengendalian yang dapat memengaruhi respons manusia
adalah faktor-faktor seperti batas yang ditetapkan oleh manajemen, jenis umpan
balik, keketatan pemaksaan,serta penghargaan dan sanksi yang terkait dengan
kebijakan pengendalian.
2) Hasil umpan balikTidak seperti mesin, informasi umpan balik mengenai kinerja
manusia akan menimbulka perasaan keberhasilan atau kegagalan dalam
individu yang dikendalikan. Umpan balik positif akan memberi tahu mereka
bahwa mereka ada pada jalur yang tepat dan akan memotivasi mereka untuk
mengulangi usaha yang sama. Umpan balik yang negative tidak akan secara
otomatis mendorong mereka untuk melakukan usaha yang lebih besar, tetapi hal
tersebut dapat secara perlahan-lahan akan menurunkan tingkat aspirasi mereka
serta mengikis tingkat usaha dan kinerja mereka.
3) Keketatan pemaksaanPemaksaan yang ketat atas kebijakan pengendalian akan
menimbulkan tekanan dalam diri individu yang dikendalikan. Sementara
tekanan dapat menyegarkan individu-individu tertentu, tekanan tersebut dapat
mengintimidasi yang lain dan mnurunkan kinerja mereka yang sudah buruk

15
lebih jauh lagi. Dalam jangka panjang, pemaksaan yang longgar akan
menrunkan motivasi individu untuk berjuang bagi pencapaian tujuan.
4) Struktur penghargaan
Orang atau kelompok akan memodifikasi perilaku mereka yang tidak diinginkan
dan mengulangi perilaku yang diinginkan ketika mereka memandang bahwa
perubahan atau pengulangan perilaku tersebutdisertai dengan penghargaan
intrinsic maupun ekstrinsik.

16
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Makalah ini membahas mengenai aspek-aspek keperilakuan pada akumulasi dan
pengendalian biaya. Telah ditunjukkan bahwa sistem biaya tradisional tidaklah bagus
secara keperilakuan dan dapat mendorong respons yang tidak diinginkan maupun
destruktif ketika digunakan dalam mengendalikan dan mengevaluasi kinerja individual.
Walaupun sistem biaya standar berpotensi meningkatkan motivasi dan keselarasan
tujuan, sistem tersebut juga dapat digunakan untuk mencapai tingkat pengendalian
otokratis dan koersif yang tinggi. Metode yang unggul secara keperilakuan adalah sistem
perhitungan biaya langsung (variabel) yang dengan mengisolasikan biaya produk dan
biaya periode, memberikan informasi yang lebih relevan untuk mengendalikan berbagai
jenis biaya, dan mengarahkan manajemen kepada keputusan yang lebih menguntungkan.
Telah dianalisis pula aspek-aspek keperilakuan dari langkah-langkah akuntansi biaya dan
menyarankan pendekatan-pendekatan yang dapat mendorong perilaku karyawan yang
diinginkan.

3.2. Saran
Sebaiknya perusahaan menggunakan sistem biaya yang modern karena dibanding
sistem biaya tradisional, sistem biaya yang lebih modern lebih baik secara keperilakuan
dan dapat mendorong respon yang baik ketika digunakan dalam mengendalikan dan
mengevaluasi kinerja individual.

17
DAFTAR PUSTAKA

Lubis, Arfan Ikhsan. 2010. Akuntansi Keperilakuan Edisi 2. Salemba Empat. Jakarta

Suartana, I Wayan. 2010. Akuntansi Keperilakuan. Andi. Yogyakarta

18