Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM FARMAKOLOGI DASAR

“CARA PEMBERIAN OBAT SECARA PER ORAL”

Disusun oleh:

Cicilia Dian K. (16.0564)

Bunga Arya P. (16.0565)

Ida Sari Dewi (16.0576)

Sintya Arianti (16.0582)

Yuli Efitasari (16.0592)

Tgl Praktikum : 22 April 2017

Hari Praktikum : Sabtu

Dosen Pembimbing : Fef Rukminingsih, M.Sc., Apt

Puji Hartati, A.Md

LABORATORIUM FARMAKOLOGI DASAR

AKADEMI FARMASI THERESIANA

2017
PRAKTIKUM FARMAKOLOGI DASAR

CARA PEMBERIAN OBAT SECARA PER ORAL

I. TUJUAN
1. Mahasiswa mampu mengenal cara dan rute pemberian obat secara peroral.
2. Mahasiswa mampu memahami konsekuensi praktis dari pengaruh rute
pemberian obat secara peroral.
3. Mahasiswa mampu mengenal manifestasi berbagai efek obat diazepam yang
diberikan.

II. DASAR TEORI

Penggunaan hewan percobaan dalam penelitian ilmiah di bidang


kedokteran/biomedis telah berjalan puluhan tahun yang lalu. Hewan sebagai model
atau sarana percobaan haruslah memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu, antara
lain persyaratan genetis / keturunan dan lingkungan yang memadai dalam
pengelolaannya, di samping faktor ekonomis, mudah tidaknya diperoleh, serta
mampu memberikan reaksi biologis yang mirip kejadiannya pada manusia
(Tjay,T.H dan Rahardja,K, 2002).

Struktur dan fungsi gen pada mencit dan manusia biasanya serupa, dan
penelitian-penelitian pada mencit dapat memberikan pemahaman mengenai
penyakit pada manusia (Harison, 2008 ). Karakteristik utama mencit adalah dalam
laboratorium mudah ditangani, bersifat penakut, fotofobik, cenderung berkumpul
dengan sesamanya, mempunyai kecenderungan untuk bersembunyi dan lebih aktif
pada malam hari, kehadiran manusia akan menghambat mencit, suhu tubuh normal
(37,8oC). Laju respirasi normal 163 tiap menit (Singagerda, 2009).

Cara memperlakukan mencit adalah sebagai berikut : mencit diangkat dengan


memegangnya pada ujung ekornya dengan tangan kanan, dan dibiarkan
menjangkau kawat kandang dengan kaki depannya. Dengan tangan kiri, kulit,
tengkuknya dijepit di antara telunjuk dan ibu jari. Kemudian ekornya dipindahkan
dari tangan kanan ke antara jari manis dan jari kelingking tangan kiri, hingga
mencit cukup erat dipegang. Pemberian obat dapat dimulai (Singagerda, 2009).

Rute pemberian obat (Routes of Administration) merupakan salah satu faktor


yang mempengaruhi efek obat, karena karakteristik lingkungan fisiologis anatomi
dan biokimia yang berbeda pada daerah kontak obat dan tubuh karakteristik ini
berbeda karena jumlah suplai darah yang berbeda. Enzim-enzim dan getah-getah
fisiologis yang terdapat di lingkungan tersebut juga berbeda. Hal-hal ini
menyebabkan bahwa jumlah obat yang dapat mencapai lokasi kerjanya dalam
waktu tertentu akan berbeda, tergantung dari rute pemberian obat (Katzung, B.G,
1989).

Cara pemberian obat melalui oral (mulut), sublingual (bawah lidah), rektal
(dubur) dan parenteral tertentu, seperti melalui intradermal, intramuskular,
subkutan, dan intraperitonial, melibatkan proses penyerapan obat yang
berbeda-beda. Pemberian secara parenteral yang lain, seperti melalui intravena,
intra-arteri, intraspinal dan intrasereberal, tidak melibatkan proses penyerapan, obat
langsung masuk ke peredaran darah dan kemudian menuju sisi reseptor (receptor
site). Cara pemberian yang lain adalah inhalasi melalui hidung dan secara setempat
melalui kulit atau mata. Proses penyerapan dasar penting dalam menentukan
aktifitas farmakologis obat. Kegagalan atau kehilangan obat selama proses
penyerapan akan memperngaruhi aktifitas obat dan menyebabkan kegagalan
pengobatan ( Siswandono dan Soekardjo, 1995).

Masing-masing cara pemberian ini mempunyai keuntungan dan manfaat


tertentu. Suatu senyawa obat mungkin efektif bila diberikan dengan cara lain.
Perbedaan ini salah satunya disebabkan oleh adanya perbedaan dalam hal
kecepatan absorbsi dari berbagai cara pemberian, yang selanjutnya akan
berpengaruh terhadap efek dan aktivitas farmakologinya. Waktu yang diperlukan
suatu obat mulai dari diberikan sampai menimbulkan efek meliputi:
a) Onset
Onset adalah waktu yang diperlukan mulai dari obat diberikan sampai
dengan obat menimbulkan efek.
b) Durasi
Durasi adalah waktu yang diperlukan mulai dari obat menimbulkan efek
sampai dengan obat tersebut tidak berefek lagi (Tim
Farmakologi-Toksikologi, 2015)
III. ALAT dan BAHAN
 Alat :

1. Spuit injeksi per oral


2. Jarum oral
3. Mortir dan stamper
4. Cawan porselen
5. Beakerglass
6. Stopwatch
7. Labu takar 100mL
8. Timbangan digital
9. Kompor listrik

 Bahan :
1. Diazepam
2. Aquadest
3. CMC Na
 Hewan Percobaan : Mecit Jantan
 Obat : Diazepam
 Dosis Diazepam : 0,12-0,8 mg/kg BB/hari diberikan tiap 6-8 jam (DIH, 2009)
 Volume Maksimal = 1 ml
IV. CARA KERJA

1. Membuat Larutan Stok

Diambil tablet tablet, masukkan mortir gerus halus

Ditimbang CMC Na, dikembangkan ke dalam aqua panas, aduk

CMC Na yang sudah mengembang dimasukkan dalam campuran

diazepam, aduk homogen

Ad-kan dengan aquadest

2. Penimbangan dan Penandaan Mencit

Diambil mencit dengan cara memegang bagian ekornya

Ditandai dengan spidol permanen

Dimasukkan ke dalam beakerglass yang sudah ditara di atas timbangan

Dicatat berat badan mencit


3. Cara Pemberian Obat Secara Per oral

Diberikan mencit pada bagian tengkuknya

Jarum oral yang telah diisi larutan oral dimasukkan ke dalam

mulut mencit melalui langit-langit esofagus

Didorong larutan oral tersebut ke dalam esofagus

Dicatat waktu pemberian obat, mulai timbulnya

efek dan hilangnya efek

Efek yang diamati :

1. Aktivitas spontan dari respon terhadap rangsangan/stimulus pada keadaan


normal.

2. Perubahan aktivasi baik spontan maupun stimulus.

3. Usaha untuk menegakkan diri tidak berhasil.

4. Diam, tidak bergerak, usaha untuk menegakkan diri tidak lagi dicoba.

5. Dicatat waktu hingga mencit sadar.


V. HASIL
 Perhitungan Larutan Stok

Dosis Diazepam sebagai sedative, oral : 0,12-0,8 mg/kg/hari diberikan 6-8 jam
(DIH, 2009 ed.19)

1x = 0,12-0,8 mg/kg BB = 0,03-0,26 mg/kg BB


3-4
1 hr = 24 = 3-4 x sehari
6-8 jam
Dosis untuk manusia 70 kg = 70 kg x (0,03-0,26 mg/kg BB)
= 2,1 – 18,2 mg
Dosis untuk mencit 20 g = 0,0026 x (2,1-18,2 mg)
= 0,0054 - 0,0473 mg/20 mencit
Nilai tengah = 0,0054 mg + 0,0473 mg = 0,026 mg/20 g mencit
2
Batas minimal = D x BB = C x Vp
0,026 mg x 20 g = C x 0,5 mL
20 g
0,026 mg = 0,5 mL C
C = 0,026 mg
0,5 mL
C = 0,05 mg/mL
Batas maximal = D x BB = C x Vp
0,026 mg x 40 g = C x 0,5 mL
20 g
0,026 x 2 = 0,5 mL C

C = 0,052 mg
0,5 mL
C = 0,104 mg/mL

Range = 0,052 + 0,104 mg/mL


2

= 0,078 mg/mL ≅ 0,1 mg/mL

Larutan stok = 0,1 mg/mL → 50 mL

= 0,1 mg/mL x 50 mg = 5 mg

Tablet diazepam @ 5 mg = 5 mg x 1 tablet = 1 tablet @ 5 mg


5 mg
Suspending Agent = CMC Na 0,5 % (Kontrol negatif)

= 0,5 x 50 mL = 0,25 g
100
Aquadest panas untuk pelarut = (1-10) x 0,25 g = 0,25 ml = 2,5 ml
Yang digunakan ± 2,5 mL
 Volume Pemberian Pada Mencit Jantan

Berat badan mencit

I Mencit 1 : 30,31 g
II Mencit 2 : 29,20 g
III Mencit 3 : 31,84 g
IV Mencit 4 : 27,77 g
V Mencit 5 : 31,00 g

I. Mencit 1
D x BB = C x Vp
0,026 mg x 30,31 g = 0,1 mg/mL x Vp
20 g
0,0394 mg = 0,1 mg/mL x Vp
0,0394 mg = Vp
0,1 mg/mL
0,394 mL = Vp
0,394 mL x 80 = 31,52 unit

II. Mencit 2
D x BB = C x Vp
0,026 mg x 29,20 g = 0,1 mg/mL x Vp
20 g
0,0379 mg = 0,1 mg/mL x Vp
0,0379 mg = Vp
0,1 mg/mL
0,379 mL = Vp
0,379 mL x 80 = 30,32 unit
III. Mencit 3
D x BB = C x Vp
0,026 mg x 31,84 g = 0,1 mg/mL x Vp
20 g
0,0413 mg = 0,1 mg/mL x Vp
0,0413 mg = Vp
0,1 mg/mL
0,413 mL =Vp
0,413 mL x 80 = 33,04 unit

IV. Mencit 4 (Kontrol Negatif)


Kepada mencit 4 sebagai kontrol negatif diberikan 0.5 ml larutan Cmc Na 0.5%
(atau sebanyak 40 unit).

V. Mencit 5
D x BB = C x Vp
0,026 mg x 31,00 g = 0,1 mg/mL x Vp
20 g
0,0403 mg = 0,1 mg/mL x Vp
0,0403 mg = Vp
0,1 mg/mL
0,403 mL = Vp
0,403 mL x 80 = 32,24 unit
VI. PEMBAHASAN

Praktikum ini bertujuan mengetahui cara pemberian obat pada binatang


percobaan dan untuk mengetahui pengaruh cara absorpsi obat yang diberikan pada
mencit. Mencit dipilih sebagai hewan uji karena proses metabolisme dalam
tubuhnya berlangsung cepat sehingga sangat cocok untuk dijadikan sebagai objek
pengamatan. Berikut adalah data yang didapatkan selama praktikum berlangsung:

Waktu Mencit 1 Mencit 2 Mencit 3 Mencit 4 Mencit 5

Pemberian 11.21 11.20 11.10 10.55 11.12


obat

Obat mulai 11.31 11.35 11.18 - 10.


memberikan
reaksi

Onset 11.35 11.45 11.25 11.18 11.29

Durasi 10 menit Sampai Sampai Sampai 16 menit


(11.45 dengan jam dengan jam dengan jam (11.45
mencit 12.00 12.00 12.00 mencit
bangun) mencit mencit mencit bangun)
masih masih masih
tertidur tertidur tertidur

Tabel Pengamatan Mencit

Keterangan:

 Pemberian obat: obat selesai diberikan seluruhnya pada mencit.


 Obat mulai memberikan reaksi: adalah masa tenang di mana mencit terlihat
mulai lemas dan hanya sedikit bergerak.
 Obat mencapai onset: mencit tertidur.
 Durasi: lamanya mencit tertidur.
Data menunjukkan adanya perbedaan waktu onset dan durasi yang cukup
signifikan. Hal tersebut terjadi karena beberapa alasan yaitu kondisi mencit yang
stres karena tidak mendapatkan perlakuan yang baik sebelum pemberian obat,
mencit yang kelelahan, dan kesalahan praktikan saat memberikan obat kepada
mencit (obat tumpah sehingga dosis berkurang/tidak tepat).

Adanya kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh praktikan membuat data yang


didapatkan menjadi kurang valid. Mencit pertama sudah kembali sadar sepenuhnya
hanya dalam waktu 10 menit, dan mencit kelima kembali sadar sepenuhnya dalam
waktu 16 menit. Mencit kedua masih tertidur ketika sudah 15 menit berlalu, dan
mencit ketiga masih tertidur walau sudah 35 menit. Mencit keempat sebagai mencit
kontrol tertidur namun dalam pengamatan menunjukkan bahwa satu kali dalam
rentang waktu sekitar 8-10 menit mencit menunjukkan tanda-tanda pergerakan
ringan (berpindah posisi, menggerakkan kaki), sementara mencit yang benar-benar
tidur karena efek sedative diazepam tidur tanpa bergerak sedikitpun.

Di dalam tubuh, obat per oral akan membutuhkan waktu tertentu untuk
mencapai onset. Obat yang diberikan per oral akan mengalami proses adsorbsi dan
beberapa jenis obat akan mengalami first pass effect (efek lintas pertama obat)
sehingga kadar obat di dalam darah menjadi berkurang. First pass effect adalah
fenomena metabolisme obat di mana konsentrasi obat berkurang secara besar
sebelum mencapai sirkulasi sistemik. Obat yang hilang selama absorpsi ini
terutama karena pengaruh dinding usus dan liver (hati).
VII. KESIMPULAN
1. Sebelum melakukan penyuntikan oral pada mencit, sebaiknya mencit berada
dalam kondisi tidak stres. Mencit yang mengalami perlakuan buruk sebelum
percobaan dimulai terlihat lebih agresif dan menyulitkan ketika akan disuntik.
2. Praktikan harus menguasai dan memahami cara menyuntik mencit dengan benar
sehingga proses pemberian obat dengan jarum oral bisa berlangsung dalam
waktu yang singkat (supaya saat melakukan penyuntikkan tidak menyakiti
hewan uji).
3. Faktor penentu dalam proses absorbsi obat secara per oral adalah bentuk sediaan
dan cara pemberiannya. Hal ini terkait efek biologis seperti absorpsi, kecepatan
absorpsi, bioavailabilitas, onset, durasi, dan dosis. Pemberian per oral
membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai onset. Sediaan berbentuk cair
juga akan mencapai onset lebih cepat.
DAFTAR PUSTAKA

Harison, 2008. Farmakologi Jilid I, Pusdiknakes, Jakarta.

Katzung, B. G., 1989, Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi 11, diterjemahkan oleh
staf.

Singagerda, Linda Kirana, 2009, Hewan Uji Dalam Eksperimen Farmakologi. ITB
press, Bandung.

Siswandono dan Soekardjo, 1995, Kimia Medisinal. Penerbit Airlangga University


Press, Surabaya.

Tim Departemen Farmakologi FKUI, 2007, Farmakologi dan Terapi. Fakultas


Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

Tjay, T. H., & Rahardja, K., 2002, Obat-Obat Penting, Khasiat, Penggunaan dan

Efek-Efek Sampingnya Edisi Kelima, PT. Elex Media Komputindo Kelompok


Gramedia, Jakarta.
Semarang, 24 April 2017
Dosen Pengampu, Praktikan,

(Cicilia Dian K.)

(Bunga Arya P.)

(Ida Sari D.)

(Sintya Arianti)

(Yuli Efitasari)