Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH OBSTETRI

PRINSIP PENANGANAN INFEKSI AKUT OBSTETRI, SEPSIS & SYOK SEPTIC


SERTA PENANGANAN INFEKSI AKUT DALAM OBSTETRIC

Disusun oleh :

Devi Sulihayati

Esi Helisa Sari

Heny Vera OD

Ria Riani

Rosita Dewi Murni

Serli Mema Andriani

Vunda Yesa Lestari Putri

Dosen Pembimbing :

Ratna Dewi, SKM, MPH

TK.IA DIII KEBIDANAN

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLTEKKES KEMENKES BENGKULU

TAHUN 2016
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah konsep
kebidanan ini dengan judul “Prinsip Penanganan Infeksi Akut Obstetri, Sepsis, Syok Septic
dan Penanganan Infeksi Akut dalam Obstetric”. Makalah ini di susun dalam rangka
memenuhi tugas mata kuliah Obstetri Program Studi DIII Kebidanan Poltekkes Kemenkes
Bengkulu.
Kami menyadari bahwa dalam menyusun makalah ini masih jauh dari sempurna,
untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun guna
sempurnanya makalah ini. Kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis
khususunya dan bagi pembaca umumnya.
Harap kami, makalah ini dapat menjadi refrensi bagi kami dalam mengarungi masa
depan. Kami juga berharap agar makalah ini dapat berguna bagi orang lain yang
membacanya.
Bengkulu, April 2016

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................................

DAFTAR ISI...............................................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN...........................................................................................................

A. Latar belakang..................................................................................................................
B. Rumusan Masalah............................................................................................................
C. Tujuan...............................................................................................................................

BAB II PEMBAHASAN............................................................................................................

A. Infeksi Akut Obsetri.........................................................................................................


B. Sepsis................................................................................................................................
C. Syok Septik......................................................................................................................

BAB III PENUTUP....................................................................................................................

A. Kesimpulan.......................................................................................................................
B. Saran.................................................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Secara umum pengertian syok adalah suatu keadaan klinis yang akut pada penderita,
dimana berkurangnya darah dalam peredaran darah umum dengan disertai gangguan perfusi
dalam jaringan pada tingkat pembuluh-pembuluh darah kapiler jaringan tubuh. Syok Obstetri
adalah syok yang dijumpai dalam kebidanan yang disebabkan baik oleh perdarahan, trauma,
atau sebab-sebab lainnya. Gejala klinik syok pada umumnya sama yaitu tekanan darah
menurun, nadi cepat dan lemah, pucat, keringat dingin, sianosis jari-jari, sesak nafas,
pengelihatan kabur, gelisah, dan akhirnya oliguria/anuria.

Klasifikasi syok antara lain syok hipovolemik, syok sepsis (endatoxin shock), syok
kardiogenik, dan syok neurogenik. Ada beberapa penanganan kebidanan dalam menghadapi
klien yang mengalami syok – syok tersebut, dimana penanganan tersebut dapat mengurangi
angka kematian ibu dan anak dalam proses peesalinan. Syok adalah suatu keadaan serius
yang terjadi jika sistem kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah) tidak mampu
mengalirkan darah ke seluruh tubuh dalam jumlah yang memadai; syok biasanya
berhubungan dengan tekanan darah rendahdan kematian sel maupun jaringan. Syok
merupakan kegagalan sistem sirkulasi untuk mempertahankan perfusi yangadekuat ke
organ-organ vital.
Syok merupakan suatu kondisi yang mengancam jiwa dan membutuhkan tindakan
segera dan intensif. Syok terjadi akibat berbagai keadaan yang menyebabkan berkurangnya
aliran darah, termasuk kelainan jantung (misalnya serangan jantung ), volume darah yang
rendah (akibat perdarahan hebat atau dehidrasi) atau perubahan pada pembuluh darah
(misalnya karena reaksi alergi atau infeksi).Syok sulit di definisikan, Hal ini berhubungan
dengan sindrom klinik yang di namis, yang di tandai dengan perubahan sehubungan
penurunan sirkulasi volume darah yang menyebabkan ketidaksadaran jika tidak di tangani
dapat menyebabkan kematian.

B. Rumusan Masalah
1. Apa prinsip penanganan infeksi akut obstetri, sepsis dan syok septic?
2. Penanganan infeksi akut dalam obstetric?
C. Tujuan
1. Agar mahasiswi kebidanan mengetahui prinsip penanganan infeksi akut obstetri,
sepsis dan syok septic?
2. Agar mahasiswi mengetahui dan memahami Penanganan infeksi akut dalam
obstetric?
BAB II

PEMBAHASAN

INFEKSI AKUT KASUS OBSTETRIK, SEPSIS dan SYOK SEPTIK

A. Infeksi Akut Obsetri

1. Endometritis
a. Kadang-kadang lokia tertahan dalam uteruus oleh darah, sisa plasenta dan
selaputketuban yang disebut lokiometra dan dapat menyebabkan kenaikan suhu.
b. Uterus agak membesar, nyeri pada perabaaan dan lembek.
2. Septikemia
a. Sejak permulaan, pasien sudah sakit dan lemah.
b. Sampai 3 hari pasca persalinan suhu meniingkat dengan cepat, biasanya disertai
menggigil.
c. Suhu sekitar 39-40 derajat selsius, keaddaan umum cepat memburuk, nadi cepat
(140-160 kali per menit atau lebih).
d. Pasien dapat meninggal dalam 6-7 hari paasca persalinan.
3. Piemia
a. Tidak lama pasca persalinan, pasien sudaah merasa sakit, perut nyeri dan suhu
agak meningkat.
b. Gejala infeksi umum dengan suhu tinggi sserta menggigil terjadi setelah kuman
dengan emboli memasuki peredaran darah umum.
c. Ciri khasnya adalah berulang-ulang suhu meningkat dengan cepat disertai
menggigil lalu diikuti oleh turunnya suhu.
d. Lambat laun timbul gejala abses paru, pnneumonia dan pleuritis.
4. Peritonitis
a. Pada peritonotis umum terjadi peningkataan suhu tubuh, nadi cepat dan kecil,
perut kembung dan nyeri, dan ada defense musculaire.
b. Muka yang semula kemerah-merahan menjadii pucat, mata cekung, kulit muka
dingin; terdapat fasies hippocratica.
c. Pada peritonitis yang terbatas didaerah pelvis, gejala tidak seberat peronitis
umum.
d. Peritonitis yang terbatas : pasien demamm, perut bawah nyeri tetapi keadaan
umum tidak baik.
e. Bisa terdapat pembentukan abses.
5. Selulitis Pelvik
a. Bila suhu tinggi menetap lebih dari satuu minggu disertai rasa nyeri di kiri atau
kanan dan nyeri pada pemeriksaan dalam, patut dicurigai adanya selulitis pelvika.
b. Gejala akan semakin lebih jelas pada perrkembangannya.
c. Pada pemeriksaan dalam dapat diraba tahaanan padat dan nyeri di sebelah uterus.
d. Di tengah jaringan yang meradang itu bissa timbul abses dimana suhu yang mula-
mula tinggi menetap, menjadi naik turun disertai menggigil.
e. Pasien tampak sakit, nadi cepat, dan nyeri perut.
6. Tromboflebitis

Perluasan infeksi nifas yang paling sering ialah perluasan atau invasi
mikroorganisme patogen yang mengikuti aliran darah di sepanjang vena dan cabang-
cabangnya sehingga terjadi tromboflebitis.

7. Metritis

Metritis adalah infeksi uterus setelah persalinan yang merupakan salah satu
penyebab terbesar kematian ibu. Bila pengobatan terlambat atau kurang adekuat dapat
menjadi abses pelviks, peritonitis, syok septik, thrombosis vena yang dalam, emboli
pulmonal, infeksi pelvik yang menahun, dispareunia, penyumbatan tuba dan infertilitas.

8. Prognosis

Prognosis baik bila diatasi dengan pengobatan yang sesuai. Menurut


derajatnya, septikemia merupakan infeksi paling berat dengan mortalitas tinggi, diikuti
peritonitis umum dan piemia.
B. Sepsis

1. Patogenesis

Sepsis melibatkan berbagai mediator inflamasi termasuk berbagai sitokin. Sitokin


proinflamasi dan antiinflamasi terlibat dalam patogenesis sepsis. Termasuk sitokin
proinflamasi adalah TNF, IL-1, interferon (IFN-γ) yang membantu sel menghancurkan
mikroorganisme yang menginfeksi. Termasuk sitokin antiinflamasi adalah interleukin 1
reseptor antagonis (IL-1ra), IL-4, IL-10, yang bertugas untuk memodulasi, koordinasi atau
represi terhadap respon yang berlebihan. Apabila terjadi ketidakseimbangan kerja sitokin
proinflamasi dengan antiinflamasi, maka menimbulkan kerugian bagi tubuh.

Endotoksin dapat secara langsung dengan LPS dan bersama-sama membentuk LPSab
(Lipo Poli Sakarida antibodi). LPSab dalam serum penderita kemudian dengan perantara
reseptor CD14+ akan bereaksi dengan makrofag, dan kemudian makrofag mengekspresikan
imunomodulator. Hal ini terjadi apabila mikroba yang menginfeksi adalah bakteri gram
negatif yang mempunyai LPS pada dindingnya.

Eksotoksin, virus dan parasit yang merupakan superantigen setelah difagosit oleh
monosit atau makrofag yang berperan sebagai Antigen Presenting Cell (APC), kemudian
ditampilkan dalam APC. Antigen ini membawa muatan polipeptida spesifik yang berasal dari
Major Histocompatibility Complex (MHC). Antigen yang bermuatan pada peptida MHC
kelas II akan berikatan dengan CD4+ (limfosit Th1 dan Th2) dengan perantaraan TCR (T cell
receptor).

Limfosit T kemudian akan mengeluarkan substansi dari Th1 yang berfungsi sebagai
immunomodulator yaitu: IFN-γ, IL-2 dan M-CSF (Macrophage Colony stimulating factor).
Limfosit Th2 akan mengekspresikan IL-4, IL-5, IL-6, dan IL-10. IFN-γ merangsang
makrofag mengeluarkan IL-1β dan TNF-α. IFN-γ, IL-1β dan TNF-α merupakan sitokin
proinflamasi, pada sepsis terdapat peningkatan kadar IL-1β dan TNF-α dalam serum
penderita. Sitokin IL-2 dan TNF-α selain merupakan reaksi sepsis, dapat merusakkan endotel
pembuluh darah, yang mekanismenya sampai saat ini belum jelas. IL-1β sebagai
imunoregulator utama juga mempunyai efek pada sel endotel, termasuk pembentukan
prostaglandin E2 (PG-E2) dan merangsang ekspresi intercellular adhesion molecule-1
(ICAM-1). Dengan adanya ICAM-1 menyebabkan neutrofil yang telah tersensitisasi oleh
granulocyte-macrophage colony stimulating factor (GM-CSF) akan mudah mengadakan
adhesi. Interaksi neutrofil dengan endotel terdiri dari 3 langkah, yaitu:

a. Bergulirnya neutrofil P dan E selektin yang dikeluarkan oleh endotel dan L-selektin
neutrofil dala mengikat ligan respektif
b. Merupakan langkah yang sangat penting, adhesi dan aktivasi neutrofil yang mengikat
intergretin CD-11 atau CD-18, yang melekatkan neutrofil pada endotel dengan
molekul adhesi (ICAM) yang dihasilkan oleh endotel
c. Transmigrasi neutrofil menembus dinding endotel.

Neutrofil yang beradhesi dengan endotel akan mengeluarkan lisozyme yang


melisiskan dinding endotel, akibatnya endotel terbuka. Neutrofil juga termasuk radikal bebas
yang mempengaruhi oksigenasi pada mitokondria dan siklus GMPs, sehingga akibatnya
endotel menjadi nekrosis, dan rusak. Kerusakan endotel tersebut menyebabkan vascular leak,
sehingga menyebabkan kerusakan organ multipel. Pendapat lain yang memperkuat pendapat
tersebut bahwa kelainan organ multipel disebabkan karena trombosis dan koagulasi dalam
pembuluh darah kecil sehingga terjadi syok septik yang berakhir dengan kematian.

Untuk mencegah terjadinya sepsis yang berkelanjutan, Th2 mengekspresikan IL-10


sebagai sitokin antiinflamasi yang akan menghambat ekspresi IFN-γ, TNF-α dan fungsi APC.
IL-10 juga memperbaiki jaringan yang rusak akibat peradangan. Apabila IL-10 meningkat
lebih tinggi, maka kemungkinan kejadian syok septik pada sepsis dapat dicegah.(Hermawan,
2007).

2. Gejala Klinis Sepsis

Tidak spesifik, biasanya didahului demam, menggigil, dan gejala konsitutif seperti
lemah, malaise, gelisah atau kebingungan. Tempat infeksi yang paling sering: paru, tractus
digestivus, tractus urinarius, kulit, jaringan lunak, dan saraf pusat. Gejala sepsis akan menjadi
lebih berat pada penderita usia lanjut, penderita diabetes, kanker, gagal organ utama, dan
pasien dengan granulositopenia.

Tanda-tanda MODS dengan terjadinya komplikasi:

a. Sindrom distress pernapasan pada dewasa


b. Koagulasi intravascular
c. Gagal ginjal akut
d. Perdarahan usus
e. Gagal hati
f. Disfungsi sistem saraf pusat
g. Gagal jantung
h. Kematian

(Hermawan, 2007).

3. Diagnosis
a. Riwayat
Menentukan apakah infeksi berasal dari komunitas atau nosokomial, dan
apakah pasien immunocompromise. Beberapa tanda terjadinya sepsis meliputi:
1) Demam atau tanda yang tidak terjelaskan disertai keganasan atau instrumentasi
2) Hipotensi, oliguria, atau anuria
3) Takipnea atau hiperpnea, hipotermia tanpa penyebab yang jelas
4) Perdarahan
b. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik diperlukan untuk mencari lokasi dan penyebab infeksi dan
inflamasi yang terjadi, misalnya pada dugaan infeksi pelvis, dilakukan pemeriksaan
rektum, pelvis, dan genital.

c. Laboratorium

Hitung darah lengkap, dengan hitung diferensial, urinalisis, gambaran


koagulasi, urea darah, nitrogen, kreatinin, elektrolit, uji fungsi hati, kadar asam laktat,
gas darah arteri, elektrokardiogram, dan rontgen dada. Biakan darah, sputum, urin,
dan tempat lain yang terinfeksi harus dilakukan.

Temuan awal lain: Leukositosis dengan shift kiri, trombositopenia,


hiperbilirubinemia, dan proteinuria. Dapat terjadi leukopenia. Adanya hiperventilasi
menimbulkan alkalosis respiratorik. Penderita diabetes dapat mengalami
hiperglikemia. Lipida serum meningkat.
Selanjutnya, trombositopenia memburuk disertai perpanjangan waktu trombin,
penurunan fibrinogen, dan keberadaan D-dimer yang menunjukkan DIC. Azotemia
dan hiperbilirubinemia lebih dominan. Aminotransferase meningkat. Bila otot
pernapasan lelah, terjadi akumulasi laktat serum. Asidosis metabolik terjadi setelah
alkalosis respiratorik. Hiperglikemia diabetik dapat menimbulkan ketoasidosis yang
memperburuk hipotensi.

(Hermawan, 2007).

4. Penatalaksanaan
a. Stabilisasi pasien langsung

Pasien dengan sepsis berat harus dimasukkan dalam ICU. Tanda vital pasien harus
dipantau. Pertahankan curah jantung dan ventilasi yang memadai dengan obat.
Pertimbangkan dialisis untuk membantu fungsi ginjal. Pertahankan tekanan darah arteri pada
pasien hipotensif dengan obat vasoaktif, misal dopamin, dobutamin, dan norepinefrin.

b. Darah harus cepat dibersihkan dari mikroorganisme

Perlu segera perawatan empirik dengan antimikrobial, yang jika diberikan secara dini
dapat menurunkan perkembangan syok dan angka mortalitas. Setelah sampel didapatkan dari
pasien, diperlukan regimen antimikrobial dengan spektrum aktivitas luas. Bila telah
ditemukan penyebab pasti, maka antimikrobial diganti sesuai dengan agen penyebab sepsis
tersebut (Hermawan, 2007).

Sebelum ada hasil kultur darah, diberikan kombinasi antibiotik yang kuat, misalnya
antara golongan penisilin/penicillinase—resistant penicillin dengan gentamisin.

1) Golongan penicillin
a) Procain penicillin 50.000 IU/kgBB/hari im, dibagi dua dosis
b) Ampicillin 4-6 x 1 gram/hari iv selama 7-10 hari
2) Golongan penicillinase—resistant penicillin
a) Kloksasilin (Cloxacillin Orbenin) 4×1 gram/hari iv selama 7-10 hari sering
dikombinasikan dengan ampisilin), dalam hal ini masing-masing dosis obat
diturunkan setengahnya, atau menggunakan preparat kombinasi yang sudah ada
(Ampiclox 4 x 1 gram/hari iv).
b) Metisilin 4-6 x 1 gram/hari iv selama 7-14 hari.
3) Gentamycin
Garamycin, 5 mg/kgBB/hari dibagi tiga dosis im selama 7 hari, hati-hati
terhadap efek nefrotoksiknya.

Bila hasil kultur dan resistensi darah telah ada, pengobatan disesuaikan.
Beberapa bakteri gram negatif yang sering menyebabkan sepsis dan antibiotik yang
dianjurkan:

Bakteri Antibiotik Dosis


Escherichia coli Ampisilin/sefalotin
– Sefalotin: 1-2 gram tiap 4-6 jam,
Klebsiella,
Gentamisin biasanya dilarutkan dalam 50-100
Enterobacter
ml cairan, diberikan per drip dalam
Proteus mirabilis Ampisilin/sefalotin
20-30 menit untuk menghindari
Pr. rettgeri, Pr.
Gentamisin flebitis.
morgagni, Pr. vulgaris
Mima-Herellea Gentamisin – Kloramfenikol: 6 x 0,5 g/hari iv

Pseudomonas Gentamisin
– Klindamisin: 4 x 0,5 g/hari iv
Bacteroides Kloramfenikol/klindamisin

(Purwadianto dan Sampurna, 2000).

4) Fokus infeksi awal harus diobati

Hilangkan benda asing. Salurkan eksudat purulen, khususnya untuk infeksi


anaerobik. Angkat organ yang terinfeksi, hilangkan atau potong jaringan yang gangren
(Hermawan, 2007).

C. Syok Septik

1. Penatalaksanaan Syok Septik

Penatalaksanaan hipotensi dan syok septik merupakan tindakan resusitasi yang perlu
dilakukan sesegera mungkin. Resusitasi dilakukan secara intensif dalam 6 jam pertama,
dimulai sejak pasien tiba di unit gawat darurat. Tindakan mencakup airway: a) breathing; b)
circulation; c) oksigenasi, terapi cairan, vasopresor/inotropik, dan transfusi bila diperlukan.
Pemantauan dengan kateter vena sentral sebaiknya dilakukan untuk mencapai tekanan vena
sentral (CVP) 8-12 mmHg, tekanan arteri rata-rata (MAP)>65 mmHg dan produksi urin >0,5
ml/kgBB/jam.

a. Oksigenasi

Hipoksemia dan hipoksia pada sepsis dapat terjadi sebagai akibat disfungsi atau
kegagalan sistem respirasi karena gangguan ventilasi maupun perfusi. Transpor oksigen ke
jaringan juga dapat terganggu akibat keadaan hipovolemik dan disfungsi miokard
menyebabkan penurunan curah jantung. Kadar hemoglobin yang rendah akibat perdarahan
menyebabkan daya angkut oleh eritrosit menurun. Transpor oksigen ke jaringan dipengaruhi
juga oleh gangguan perfusi akibat disfungsi vaskuler, mikrotrombus dan gangguan
penggunaan oksigen oleh jaringan yang mengalami iskemia.

Oksigenasi bertujuan mengatasi hipoksia dengan upaya meningkatkan saturasi


oksigen di darah, meningkatkan transpor oksigen dan memperbaiki utilisasi oksigen di
jaringan.

b. Terapi cairan

Hipovolemia pada sepsis perlu segera diatasi dengan pemberian cairan baik kristaloid
maupun koloid. Volume cairan yang diberikan perlu dimonitor kecukupannya agar tidak
kurang ataupun berlebih. Secara klinis respon terhadap pemberian cairan dapat terlihat dari
peningkatan tekanan darah, penurunan ferkuensi jantung, kecukupan isi nadi, perabaan kulit
dan ekstremitas, produksi urin, dan membaiknya penurunan kesadaran. Perlu diperhatikan
tanda kelebihan cairan berupa peningkatan tekanan vena jugular, ronki, gallop S3, dan
penurunan saturasi oksigen.

Pada keadaan serum albumin yang rendah (< 2 g/dl) disertai tekanan hidrostatik
melebihi tekanan onkotik plasma, koreksi albumin perlu diberikan. Transfusi eritrosit (PRC)
perlu diberikan pada keadaan perdarahan aktif, atau bila kadar Hb rendah pada keadaan
tertentu misalnya iskemia miokardial dan renjatan septik. Kadar Hb yang akan dicapai pada
sepsis dipertahankan pada 8-10 g/dl.

c. Vasopresor dan inotropik

Vasopresor sebaiknya diberikan setelah keadaan hipovolemik teratasi dengan


pemberian cairan secara adekuat, tetapi pasien masih mengalami hipotensi. Terapi vasopresor
diberikan mulai dosis rendah secara titrasi untuk mencapai MAP 60 mmHg, atau tekanan
sistolik 90 mmHg. Untuk vasopresor dapat digunakan dopamin dengan dosis >8
mcg/kg/menit, norepinefrin 0,03-1,5 mcg/kg/menit, fenileferin 0,5-8 mcg/kg/menit atau
epinefrin 0,1-0,5 mcg/kg/menit. Inotropik yang dapat digunakan adalah dobutamin dosis 2-28
mcg/kg/menit, dopamin 3-8 mc/kg/menit, epinefrin 0,1-0,5 mcg/kg/menit atau inhibitor
fosfodiesterase (amrinon dan milrinon).

d. Bikarbonat

Secara empirik, bikarbonat dapat diberikan bila pH <7,2 atau serum bikarbonat <9
meq/l, dengan disertai upaya untuk memperbaiki keadaan hemodinamik.

e. Disfungsi renal

Sebagai terapi pengganti gagal ginjal akut dapat dilakukan hemodialisis maupun
hemofiltrasi kontinu (continuous hemofiltration). Pada hemodialisis digunakan gradien
tekanan osmotik dalam filtrasi substansi plasma, sedangkan pada hemofiltrasi digunakan
gradien tekanan hidrostatik. Hemofiltrasi dilakukan kontinu selama perawatan, sedangkan
bila kondisi telah stabil dapat dilakukan hemodialisis.

f. Nutrisi

Pada sepsis kecukupan nutrisi berupa kalori, protein, asam lemak, cairan, vitamin dan
mineral perlu diberikan sedini mungkin, diutamakan pemberian secara enteral dan bila tidak
memungkinkan beru diberikan secara parenteral.

g. Kortikosteroid

Saat ini terapi kortikosteroid diberikan hanya pada indikasi insufisiensi adrenal, dan
diberikan secara empirik bila terdapat dugaan keadaan tersebut. Hidrokortison dengan dosis
50mg bolus intravena 4 kali selama 7 hari pada pasien renjatan septik menunjukkan
penurunan mortalitas dibanding kontrol.

2. Penanganan

Terdiri atas 3 garis utama, yaitu pengembalian fungsi sirkulasi darah dan
oksigenisasi, eradikasi infeksi, koreksi cairan dan elektrolit. Eradikasi infeksi:
a. Terapi antibiotika
1) Lakukan pemeriksaan kultur dan tes sensitifikasi
2) Terapi antibiotika harus dimulai secara IV sampai hasil di dapat.
3) Terapi harus meliputi spektrum kuman yang luas
b. Terapi operatif

Indikasi bila ada jaringan yang tertinggal seperti abortus septik,segera jaringan di
keluarkan setelah anti biotika di berikan dan resusitasi telah dimulai dengan :

1) Evakuasi dengan vakum


2) Evakuasi digital
3) Histerektomi pada infeksi yang luas dengan ganggrane (clostridium welchii) atau
trauma pada uterus.
4) Koreksi cairan dan elektrolit
5) Koagulasi intravaskuler diseminata
6) Terapi heparin kecuali ada perdarahan yang aktif dimana keadaan lebih baik di
obati dengan trafusi darah.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Syok Obstetri adalah syok yang dijumpai dalam kebidanan yang disebabkan baik oleh
perdarahan, trauma, atau sebab-sebab lainnya. Klasifikasi Syok: Syok hipovolemik, syok
sepsis (endatoxin shock), syok kardiogenik, dan syok neurogenik.

Penanganan syok terbagi dua bagian yaitu:

a. Penanganan Awal
1. Mintalah bantuan, segera mobilisasi seluruh tenaga yang ada dan siapkan
fasilitas tindakan gawat darurat
2. Lakukan pemeriksaan secara cepat keadaan umum ibu dan harus dipastikan
bahwa jalan napas bebas.
3. Baringkan ibu tersebut dalam posisi miring untuk meminimalkan risiko
terjadinya aspirasi jika ia muntah dan untuk memeastikan jalan napasnya
terbuka.
4. Jagalah ibu tersebut tetap hangat tetapi jangan terlalu panas karena hal ini akan
menambah sirkulasi perifernya dan mengurangi aliran darah ke organ vitalnya.
5. Naikan kaki untuk menambah jumlah darah yang kembali ke jantung (jika
memungkinkan tinggikan tempat tidur pada bagian kaki)
b. Penanganan Khusus

Mulailah infus intra vena. Darah diambil sebelum pemberian cairan infus untuk
pemeriksaan golongan darah dan uji kecocockan (cross match), pemeriksaan hemoglobin,
dan hematokrit. Jika memungkinkan pemeriksaan darah lengkap termasuk trombosit, ureum,
kreatinin, pH darah dan elektrolit, faal hemostasis, dan uji pembekuan.

B. Saran

Makalah merupakan salah satu karya tulis yang dapat membantu para pembacanya
untuk mendapatkan informasi tertentu. Untuk itu,bagi para pembaca sebaiknya membaca
beberapa sumber atau literatur guna perbandingan.
Daftar Pustaka

Chen K dan Pohan H.T. 2007. Penatalaksanaan Syok Septik dalam Sudoyo, Aru W.

Setiyohadi, Bambang. Alwi, Idrus. Simadibrata K, Marcellus. Setiati, Siti. Buku Ajar

Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu

Penyakit Dalam FKUI. Pp: 187-9

Hermawan A.G. 2007. Sepsis daalam Sudoyo, Aru W. Setiyohadi, Bambang. Alwi, Idrus.

Simadibrata K, Marcellus. Setiati, Siti. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi

IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Pp: 1840-3

Purwadianto A dan Sampurna B. 2000. Kedaruratan Medik Edisi Revisi. Jakarta: Bina

Aksara. Pp: 55-6

Heller, Luz. 1983. Ginekologi dan Obstetri. Jakarta : Buku Kedokteran EGC.