Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pelayanan keperawatan merupakan pelayanan utama dari pelayanan

rumah sakit. Hal ini terjadi karena pelayanan keperawatan diberikan selama 24 jam

kepada pasien yang membutuhkannya, berbeda dengan pelayanan medis dan

pelayanan kesehatan lainnya yang hanya membutuhkan waktu yang relatif singkat

dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada kliennya. Dengan demikian

pelayanan keperawatan perlu ditingkatkan kualitasnya secara terus-menerus dan

berkesinambungan sehingga pelayanan rumah sakit akan meningkat juga seiring

dengan peningkatan kualitas pelayanan keperawatan. (Ritizza, 2013).

Kualitas pelayanan keperawatan sangat dipengaruhi oleh proses, peran dan

fungsi dari manajemen pelayanan keperawatan, karena manajemen keperawatan

adalah suatu tugas khusus yang harus dilaksanakan oleh manajer/ pengelola

keperawatan yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan serta

mengawasi sumber-sumber yang ada, baik sumber daya maupun sumber dana

sehingga dapat memberikan pelayanan keperawatan yang efektif dan efisien baik

kepada klien, keluarga dan masyarakat. (Donny, 2014).

Untuk memberikan pelayanan keperawatan yang efektif dan efisien baik

bagi klien ataupun rumah sakit/ tempat praktek beberapa sudah menggunakan

penerapan ilmu praktik professional salah satunya evidence Based Practice (EBP)

yaitu upaya untuk mengambil keputusan klinis berdasarkan sumber yang paling

relevan dan valid. Oleh karena itu EBP merupakan jalan untuk

mentransformasikan hasil penelitian ke dalam praktek sehingga perawat dapat

meningkatkan “quality of care” terhadap pasien. Selain itu implementasi EBP juga

akan menurunkan biaya perawatan yang memberi dampak positif tidak hanya bagi

pasien, perawat, tapi juga bagi institusi pelayanan kesehatan.

1
Evidence-Based Practice (EBP), merupakan pendekatan yang dapat

digunakan dalam praktik perawatan kesehatan, yang berdasarkan evidence atau

fakta. Selama ini, khususnya dalam keperawatan, seringkali ditemui praktik-praktik

atau intervensi yang berdasarkan “biasanya juga begitu”. Sebagai contoh,

penerapan kompres dingin dan alkohol bath masih sering digunakan tidak hanya

oleh masyarakat awam tetapi juga oleh petugas kesehatan, dengan asumsi dapat

menurunkan suhu tubuh lebih cepat, sedangkan penelitian terbaru

mengungkapkan bahwa penggunaan kompres hangat dan teknik tepid sponge

meningkatkan efektifitas penggunaan kompres dalam menurunkan suhu tubuh.

Merubah sikap adalah sesuatu yang sangat sulit, bahkan mungkin hal yang

sia-sia. Orang tidak akan bisa merubah adat orang lain, kecuali orang-orang di

dalamnya yang merubah diri mereka sendiri. Tetapi meningkatkan kesadaran, dan

masalah kesehatan di masyarakat, akan meningkatkan kebutuhan masyarakat

akan pelayanan kesehatan. Tentu pelayanan yang paling efektif & efisien menjadi

tuntutan sekaligus tantangan besar yang harus di cari problem solving-nya.

Penggunaan evidence base dalam praktek akan menjadi dasar scientific

dalam pengambilan keputusan klinis sehingga intervensi yang diberikan dapat

dipertanggungjawabkan. Sayangnya pendekatan evidence base di Indonesia

belum berkembang termasuk penggunaan hasil riset ke dalam praktek. Tidak

dapat dipungkiri bahwa riset di Indonesia hanya untuk kebutuhan penyelesaian

studi sehingga hanya menjadi tumpukan kertas semata.

Mengingat pentingnya peranan manajemen pelayanan keperawatan dan

menariknya konsep EBP sebagai pengembangan ilmu keperawatan, maka dalam

makalah ini penulis tertarik untuk membahas tentang pengertian, proses, dimensi,

penilaian, strategi, indikator, standar, dan peran dalam menejemen mutu

pelayanan keperawatan yang berbasis EBP sehingga dapat menggambarkan

bagaimana manajemen keperawatan yang bermutu seharusnya dilaksanakan.

2
B. Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini untuk menjelaskan dan mengetahui tentang

konsep teoritis penjaminan askep konsep berbais Evidence Based Practice.

3
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Konsep Teoritis Penjaminan Mutu

Penjaminan mutu adalah proses penetapan dan pemenuhan standar mutu

pengelolaan secara konsisten dan berkelanjutan, sehingga konsumen,

produsen, dan pihak lain yang berkepentingan memperoleh kepuasan. Khusus

Pelayanan Kesehatan Penjaminan mutu pelayanan kesehatan adalah proses

penetapan dan pemenuhan standar mutu pengelolaan pelayanan kesehatan

secara konsisten dan berkelanjutan, sehingga stakeholders memperoleh

kepuasan. (Suryadi,2009).

1. Peran Komite Keperawatan dalam Pengawasan Mutu

Komite keperawatan memiliki tujuan untuk mewujudkan

profesionalisme dalam pelayanan keperawatan, memberikan masukan

kepada pimpinan rumah sakit berkaitan dengan profesionalisme perawat

dalam memberikan pelayanan keperawatan, menyelesaikan masalah –

masalah terkait dengan penerapan disiplin dan etik keperawatan serta

meningkatakan mutu pelayanan keperawatan.

Peran komite keperawatan dalam pengawasan mutu adalah sebagai

berikut

a. Memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan profesi keperawatan

melalui kegitan terorganisasi.

b. Mempertahankan pelayanan keperawatan berkualitas dan aman bagi

pasien.

c. Menjamin tersedianya perawat yang kompeten, etis sesuai dengan

kewenangannya.

4
d. Menyelesaikan masalah keperawatan yang terkait dengan disiplin, etik

dan moral perawat.

e. Melakukan kajian berbagai aspek keperawatan untuk meningkatkan

kualitas pelayanan.

f. Menjamin diterapkannya standar praktik, asuhan dan prosedur

keperawatan.

g. Membangun dan membina hubungan kerja tim di dalam rumah sakit.

h. Merancang, mengimplementasikan serta memantau dan menilai ide – ide

baru.

i. Mengkomunikasikan, mendidik, negosiasi dan merekomendasikan hasil

kinerja perawat untuk pengembangan karir. (Ayun,2014)

2. Kualitas Pelayanan (TQM)

a. Definisi TQM

Total Quality Management adalah kualitas menjadi hal utama yang

menjadi titik fokus setiap perusahaan. Berbagai hal dilakukan untuk

meningkatkan kualitas yang diterapkan pada produk, pelayanan dan

manajemen perusahaan. Seiring dengan perkembangan ilmu

pengetahuan, lahirlah suatu inovasi yang dikenal dengan TQM. Menurut

Tjiptono & Anastasia (2003) TQM merupakan suatu pendekatan dalam

menjalankan usaha yang mencoba untuk memaksimumkan daya saing

organisasi melalui perbaikan terus-menerus atas produk, jasa, manusia,

proses, dan lingkungannya.”

Dalam kualitas pelayanan yang baik, terdapat beberapa jenis kriteria

pelayanan, antara lain adalah sebagai berikut :

1) Ketepatan waktu pelayanan, termasuk didalamnya waktu untuk

menunggu selama transaksi maupun proses pembayaran.

5
2) Akurasi pelayanan, yaitu meminimalkan kesalahan dalam pelayanan

maupun transaksi.

3) Sopan santun dan keramahan ketika memberikan pelayanan.

4) Kemudahan mendapatkan pelayanan, yaitu seperti tersedianya

sumber daya manusia untuk membantu melayani konsumen, serta

fasilitas pendukung seperti komputer untuk mencari ketersediaan

suatu produk.

5) Kenyaman konsumen, yaitu seperti lokasi, tempat parkir, ruang

tunggu yang nyaman, aspek kebersihan, ketersediaan informasi,

dan lain sebagainya

b. Dimensi Kualitas Pelayanan

1) Tangibles

Tangibles adalah bukti konkret kemampuan suatu perusahaan

untuk menampilkan yang terbaik bagi pelanggan. Baik dari sisi fisik

tampilan bangunan, fasilitas, perlengkapan teknologi pendukung,

hingga penampilan karyawan.

2) Reliability

Reliability adalah kemampuan perusahaan untuk memberikan

pelayanan yang sesuai dengan harapan konsumen terkait

kecepatan, ketepatan waktu, tidak ada kesalahan, sikap simpatik,

dan lain sebagainya.

3) Responsiveness

Responsiveness adalah tanggap memberikan pelayanan yang

cepat atau responsif serta diiringi dengan cara penyampaian yang

jelas dan mudah dimengerti.

6
4) Assurance

Assurance adalah jaminan dan kepastian yang diperoleh dari

sikap sopan santun karyawan, komunikasi yang baik, dan

pengetahuan yang dimiliki, sehingga mampu menumbuhkan rasa

percaya pelanggan.

5) Empati

Empati adalah memberikan perhatian yang tulus dan bersifat

pribadi kepada pelanggan, hal ini dilakukan untuk mengetahui

keinginan konsumen secara akurat dan spesifik.

c. Prinsip - Prinsip TQM

Prinsip-prinsip dalam sistem TQM harus dibangun atas dasar 5 pilar

sistem yaitu; Produk, Proses, Organisasi, Kepemimpinan, dan Komitmen.

Pendapat lain dikemukakan oleh Hensler dan Brunnell (dalam Scheuing

dan Christopher, 1993: 165-166) yang dikutip oleh Drs. M.N. Nasution,

M.S.c., A.P.U. dalam bukkunya yang berjudul Manjemen Mutu Terpadu,

mengatakan bahwa TQM merupakan suatu konsep yang berupaya,

melaksanakan sistem manajemen kualitas kelas dunia. Untuk itu,

diperlukan perubahan besar dalam budaya dan sistem nilai suatu

organisasi. ada empat prinsip utama dalam TQM, yaitu :

1) Kepuasan Pelanggan Dalam Total Quality Management, konsep

mengenai kualitas dan pelanggan diperluas. Kualitas tidak hanya

bermakna kesesuaian dengan spesifikasi tertentu, tetapi kualitas

tersebut ditentukan oleh pelanggan. Kebutuhan pelanggan diusahakan

untuk dipuaskan dalam segala aspek, termasuk dalam harga,

keamanan, dan ketepatan waktu.

7
2) Respek terhadap setiap orang.

Dalam perusahaan berkualitas, setiap karyawan dipandang

sebagai individu yang memiliki talenta dan kreatifitas yang khas.

Dengan demikian, karyawan merupakan sumber daya organisasi yang

paling bernilai. Oleh karena itu, setiap orang dalam organisasi

diperlukan dengan baik dan diberikan kesempatan untuk terlibat dan

berpartisipasi dalam tim pengambil keputusan.

3) Manajemen berdasarkan fakta

Perusahaan kelas berkualitas berorientasi pada fakta, maksudnya

bahwa setiap keputusan selalu didasarkan pada data, bukan sekedar

pada perasaan. Ada dua konsep pokok yang berkaitan dengan hal ini:

a) prioritas, yakni suatu konsep yang menyatakan bahwa perbaikan

tidak dapat dilakukan pada semua aspek pada saat yang

bersamaan, mengingat keterbatasan sumber daya yang ada;

b) variasi atau variabilitas kinerja manusia, variasi/variabilitas

(keragaman) kinerja/kemampuan dari setiap anggota merupakan

bagian yang wajar dari setiap sistem organisasi. Maksudnya,

setiap perbedaan yang terjadi dikaji, kemudian ditetapkan

langkah/kebijakan yang paling sesuai untuk diterapkan. Dengan

demikian, manajemen dapat memprediksikan hasil dari setiap

keputusan dan tindakan yang dilakukan.

4) Perbaikan yang berkesinambungan

Agar dapat sukses, setiap perusahaan perlu melakukan proses

sistematis dalam melaksanakan perbaikan secara berkesinambungan.

Konsep yang berlaku disini adalah siklus PDCAA (plan-do-check-act-

analyze), yang terdiri dari langkah-langkah perencanaan, dan

melakukan tindakan koreksi terhadap hasil yang diperoleh.

8
d. Metode Total Quality Management

Pembahasan mengenai metode TQM difokuskan pada tiga pakar utama

yang merupakan pelopor dalam pengembangan TQM. Mereka adalah W.

Edwards Deming, Joseph M. Juran, dan Philip B. Crosby.

Penjelasan selengkapnya dijelaskan Nasution (2004), sebagai berikut :

1) Metode W. Edwards Deming

Selama ini Deming dikenal sebagai Bapak gerakan TQM. Deming

mencatat kesuksesan dalam memimpin revolusi kualitas di Jepang, yaitu

dengan memperkenalkan penggunaan teknik pemecahan masalah dan

pengendalian proses statistic (statistical process control = SPC). Deming

menganjurkan penggunaan SPC agar perusahaan dapat membedakan

penyebab sistematis dan penyebab khusus dalam menangani kualitas. Ia

berkeyakinan bahwa perbedaan atau variasi merupakan suatu fakta yang

tidak dapat dihindari dalam kehidupan industri.

Siklus Deming (Deming Cycle), Siklus ini dikembangkan untuk

menghubungkan antara operasi dengan kebutuhan pelanggan dan

memfokuskan sumber daya semua bagian dalam perusahaan (riset,

desain, operasi, dan pemasaran) secara terpadu dan sinergi untuk

memenuhi kebutuhan pelanggan (Ross, 1994: 237). Siklus Deming adalah

model perbaikan berkesinambungan yang dikembangkan oleh W. Edward

Deming yang terdiri atas empat komponen utama secara berurutan yang

dikenal dengan siklus PDCA (Plan-Do-Check-Act)

2) Metode Joseph M. Juran

Juran mendefinisikan kualitas sebagai cocok / sesuai untuk

digunakan (fitness for use), yang mengandung pengertian bahwa suatu

barang atau jasa harus dapat memenuhi apa yang diharapkan oleh para

9
pemakainya. Satu kontribusi Juran yang paling terkenal adalah Juran’s

Three Basic Steps to Progress, diantaranya :

a) Mencapai perbaikan terstruktur atas dasar kesinambungan yang

dikombinasikan dengan dedikasi dan keadaan yang mendesak.

b) Mengadakan program pelatihan secara luas. c.Membentuk komitmen

dan kepemimpinan pada tingkat manajemen yang lebih tinggi.

3) Metode Philip B. Crosby

Crosby terkenal dengan anjuran manajemen zero defect dan

pencegahan. Dalil manajemen kualitas menurut Crosby adalah sebagai

berikut :

a) Definisi kualitas adalah sama dengan persyaratan.

Pada awalnya kualitas diterjemahkan sebagai tingkat kebagusan atau

kebaikan (goodness). Definisi ini memiliki kelemahan, yaitu tidak

menerangkan secara spesifik baik / bagus itu bagaimana. Definisi

kualitas menurut Corsby adalah memenuhi atau sama dengan

persyaratan (conformance to requirements). Kurang sedikit saja dari

persyaratannya maka suatu barang atau jasa dikatakan tidak

berkualitas. Persyaratan tersebut dapat berubah sesuai dengan

keinginan pelanggan, kebutuhan organisasi, pemasok dan sumber,

pemerintah, teknologi, serta pasar atau persaingan.

b) Sistem Kualitas adalah pencegahan

Pada masa lalu, sistem kualitas adalah penilaian (appraisal).

Suatu produk dinilai pada akhir proses. Penilaian akhir ini hanya

menyatakan bahwa apabila baik, maka akan diserahkan kepada

distributor, sedangkan bila buruk akan disingkirkan. Penilaian seperti

10
ini tidak menyelesaikan masalah, karena yang buruk akan selalu ada.

Maka dari itu, sebaiknya dilakukan pencegahan dari awal sehingga

output-nya dijamin bagus serta hemat biaya dan waktu. Dalam hal ini

dikenal the law of tens. Maksudnya, bila kita menemukan suatu

kesalahan di awal proses, biayanya cuma satu rupiah. Akan tetapi,

bila ditemukan di proses kedua, maka biayanya menjadi 10 rupiah.

Atas dasar itulah sistem kualitas menurut Corsby merupakan

pencegahan.

c) Kerusakan Nol (zero defect) merupakan standar kinerja yang harus

digunakan Konsep yang berlaku di masa lalu, yaitu konsep mendekati

(close enough concept), misalnya efisiensi mesin mendekati 95

persen. Namun, coba dihitung berapa besarnya inefisiensi 5 persen

bila dikalikan dengan penjualan. Bila diukur dalam rupiah, maka baru

disadari besar sekali nilainya. Orang sering terjebak dengan nilai

persentase, sehingga Crosby mengajukan konsep kerusakan nol,

yang menurutnya dapat tercapai bila perusahaan melakukan sesuatu

dengan benar sejak pertama proses dan setiap proses.

3. Penilaian Kinerja Perawat

Penilaian kinerja disebut juga sebagai performance appraisal,

performance evaluation, development review, performance review and

development. Penilaian kinerja merupakan kegiatan untuk menilai

keberhasilan atau kegagalan seorang pegawai dalam melaksanakan

tugasnya. Oleh karena itu, penilaian kinerja harus berpedoman pada

ukuran–ukuran yang telah disepakati bersama dalam standar kerja

(Usman,2011)

11
Penilaian kinerja perawat merupakan mengevaluasi kinerja perawat

sesuai dengan standar praktik professional dan peraturan yang berlaku.

Penilaian kinerja perawat merupakan suatu cara untuk menjamin

tercapainya standar praktek keperawatan. Penilaian kinerja merupakan alat

yang paling dapat dipercaya oleh manajer perawat dalam mengontrol

sumber daya manusia dan produktivitas. Proses penilaian kinerja dapat

digunakan secara efektif dalam mengarahkan perilaku pegawai, dalam

rangka menghasilkan jasa keperawatan dalam kualitas dan volume yang

tinggi. Perawat manajer dapat menggunakan proses operasional kinerja

untuk mengatur arah kerja dalam memilih, melatih, membimbing

perencanaan karier serta memberi penghargaan kepada perawat yang

berkompeten (Nursalam,2008).

Menurut Nursalam (2008) manfaat dari penilaian kerja yaitu:

a. Meningkatkan prestasi kerja staf secara individu atau kelompok dengan

memberikan kesempatan pada mereka untuk memenuhi kebutuhan

aktualisasi diri dalam kerangka pencapaian tujuan pelayanan di rumah

sakit.

b. Peningkatan yang terjadi pada prestasi staf secara perorangan pada

gilirannya akan mempengaruhi atau mendorong sumber daya manusia

secara keseluruhannya.

c. Merangsang minat dalam pengembangan pribadi dengan tujuan

meningkatkan hasil karya dan prestasi dengan cara memberikan umpan

balik kepada mereka tentang prestasinya.

d. Membantu rumah sakit untuk dapat menyusun program pengembangan

dan pelatihan staf yang lebih tepat guna, sehingga rumah sakit akan

mempunyai tenaga yang cakap dan trampil untuk pengembangan

pelayanan keperawatan dimasa depan.

12
e. Menyediakan alat dan sarana untuk membandingkan prestasi kerja

dengan meningkatkan gajinya atau sistem imbalan yang baik.

f. Memberikan kesempatan kepada pegawai atau staf untuk mengeluarkan

perasaannya tentang pekerjaannya atau hal lain yang ada kaitannya

melalui jalur komunikasi dan dialog, sehingga dapat mempererat

hubungan antara atasan dan bawahan.

Nursalam, (2008) standar pelayanan keperawatan adalah

pernyataan deskriptif mengenai kualitas pelayanan yang diinginkan untuk

menilai pelayanan keperawatan yang telah diberikan pada pasien. Tujuan

standar keperawatan adalah meningkatkan kualitas asuhan

keperawatan, mengurangi biaya asuhan keperawatan, dan melindungi

perawat dari kelalaian dalam melaksanakan tugas dan melindungi pasien

dari tindakan yang tidak terapeutik. Dalam menilai kualitas pelayanan

keperawatan kepada klien digunakan standar praktik keperawatan yang

merupakan pedoman bagi perawat dalam melaksanakan asuhan

keperawatan. Standar praktek keperawatan telah di jabarkan oleh PPNI

(Persatuan Perawat Nasional Indonesi) (2000) yang mengacu dalam

tahapan proses keperawatan yang meliputi: (1) Pengkajian; (2) Diagnosa

keperawatan; (3) Perencanaan; (4) Implementasi; (5) Evaluasi.

1) Standar Satu: Pengkajian Keperawatan

Perawat mengumpulkan data tentang status kesehatan klien

secara sistematis, menyeluruh, akurat, singkat, dan

berkesinambungan. Kriteria pengkajian keperawatan, meliputi:

a) Pengumpulan data dilakukan dengan cara anamnesa, observasi,

pemeriksaan fisik serta dari pemeriksaan penunjang.

b) Sumber data adalah klien, keluarga, atau orang yang terkait, tim

kesehatan, rekam medis, dan catatan lain.

13
c) Data yang dikumpulkan, difokuskan untuk mengidentifikasi:

 Status kesehatan klien masa lalu

 Status kesehatan klien saat ini

 Status biologis-psikologis-sosial-spiritual

d) Respon terhadap terapi

e) Harapan terhadap tingkat kesehatan yang optimal

f) Resiko-resiko tinggi masalah

2) Standar Dua: Diagnosa Keperawatan

Perawat menganalisa data pengkajian untuk merumuskan dignosa

keperawatan. Adapun kriteria proses:

a. Proses diagnosa terdiri dari analisa, interpretasi data, identifikasi

masalah klien, dan perumusan diagnosa keperawatan.

b. Diagnosa keperawatan terdiri dari: masalah (P), Penyebab (E), dan

tanda atau gejala (S), atau terdiri dari masalah dan penyebab (PE).

c. Bekerjasama dengan klien, dan petugas kesehatan lain untuk

memvalidasi diagnosa keperawatan.

d. Melakukan pengkajian ulang dan merevisi diagnosa berdasarkan

data terbaru.

3) Standar Tiga: Perencanaan Keperawatan

Perawat membuat rencana tindakan keperawatan untuk mengatasi

masalah dan meningkatkan kesehatan klien. Kriteria prosesnya, meliputi:

a. Perencanaan terdiri dari penetapan prioritas masalah, tujuan, dan

rencana tindakan keperawatan.

b. Bekerjasama dengan klien dalam menyusun rencana tindakan

keperawatan.

c. Perencanaan bersifat individual sesuai dengan kondisi atau

kebutuhan klien.

14
d. Mendokumentasi rencana keperawatan.

4) Standar Empat: Implementasi

Perawat mengimplementasikan tindakan yang telah diidentifikasi

dalam rencana asuhan keperawatan. Kriteria proses, meliputi:

a. Bekerja sama dengan klien dalam pelaksanaan tindakan

keperawatan

b. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain.

c. Melakukan tindakan keperawatan untuk mengatasi kesehatan klien.

d. Memberikan pendidikan pada klien dan keluarga mengenai konsep

keterampilan asuhan diri serta membantu klien memodifikasi

lingkungan yang digunakan.

e. Mengkaji ulang dan merevisi pelaksanaan tindakan keperawatan

berdasarkan respon klien.

5) Standar Lima: Evaluasi Keperawatan

Perawat mengevaluasi kemajuan klien terhadap tindakan

keperawatan dalam pencapaian tujuan dan merevisi data dasar dan

perencanaan. Adapun kriteria prosesnya:

a) Menyusun perencanaan evaluasi hasil dari intervensi secara

komprehensif, tepat waktu dan terus menerus.

b) Menggunakan data dasar dan respon klien dalam mengukut

perkembangan ke arah pencapaian tujuan.

c) Memvalidasi dan menganalisa data baru dengan teman sejawat.

d) Bekerja sama dengan klien keluarga untuk memodifikasi rencana

asuhan keperawatan.

e) Mendokumentasi hasil evaluasi dan memodifikasi perencanaan.

15
B. Konsep Teoritis Praktek Keperawatan Berbasis Bukti (Evidence Based

Practice)

1. Konsep POA (Plan Of Action)

Perencanaan adalah menetapkan hal-hal yang akan datang dan tidak

akan dilakukan pada menit, jam atau waktu yang akan datang. Perencanaan

merupakan jembatan antara dimana kita sekarang dengan dimana kita saat

yang akan datang. Perencanaan merupakan proses intelektual yang didasarkan

pada fakta dan informasi, bukan emosi dan harapan (Douglas, 1992; Gillies,

1994).

Perencanaan adalah proses penyusunan rencana yang digunakan untuk

mengatasi masalah kesehatan di suatu wilayah tertentu. Suatu perencanaan

kegiatan perlu dilakukan setelah suatu organisasi melakukan analisis situasi,

menetapkan prioritas masalah, merumuskan masalah, mencari penyebab

masalah dengan salah satunya memakai metode fishbone, baru setelah itu

melakukan plan of action.

Planning of Action (POA) atau disebut juga Rencana Usulan Kegiatan

(RUK) merupakan sebuah proses yang ditempuh untuk mencapai sasaran

kegiatan. Rencana kegiatan dapat memiliki beberapa bentuk, antara lain:

a. Rangkaian sasaran yang lebih spesifik dengan jangka waktu lebih pendek,

b. Rangkaian kegiatan yang saling terkait akibat dipilihnya alternatif

pemecahan masalah

c. Rencana kegiatan yang memiliki jangka waktu spesifik, kebutuhan sumber

daya yang spesifik, dan akuntabilitas untuk setiap tahapannya.

Menurut Supriyanto dan Nyoman (2007), Perlu beberapa hal yang

dipertimbangkan sebelum menyusun Plan of Action (POA), yaitu dengan

memperhatikan kemampuan sumber daya organisasi atau komponen masukan

16
(input), seperti: Informasi, Organisasi atau mekanisme, Teknologi atau cara, dan

Sumber Daya Manusia (SDM).

2. Tujuan planning of action

a) Mengidentifikasi apa saja yang harus dilakukan

b) Menguji dan membuktikan bahwa:

a. Sasaran dapat tercapai sesuai dengan waktu yang telah dijadualkan

b. Adanya kemampuan untuk mencapai sasaran

c. Sumber daya yang dibutuhkan dapat diperoleh

d. Semua informasi yang diperlukan untuk mencapai sasaran dapat diperoleh

e. Adanya beberapa alternatif yang harus diperhatikan.

c) Berperan sebagai media komunikasi

a. Hal ini menjadi lebih penting apabila berbagai unit dalam organisasi

memiliki peran yang berbeda dalam pencapaian

b. Dapat memotivasi pihak yang berkepentingan dalam pencapaian

sasaran.

3. Kriteria Planning of Action (POA) yang Baik

Dalam penerapannya, Plan of Acton (POA) harus baik dan efektif agar

kegiatan program yang direncanakan dapat dijalankan sesuai dengan tujuan.

Berikut ini beberapa kriteria Plan of Acton (POA) dikatakan baik, antara lain:

a) Spesific (Spesifik)

Rencana kegiatan harus spesifik dan berkaitan dengan keadaan

yang ingin dirubah. Rencana kegiatan perlu penjelasan secara pasti

berapa Sumber Daya Manusia (SDM) yang dibutuhkan, siapa saja

mereka, bagaimana dan kapan mengkomunikasikannya.

b) Measurable (Terukur)

Rencana kegiatan harus dapat menunjukkan apa yang

sesungguhnya telah dicapai.

17
c) Attainable/achievable (dapat dicapai)

Rencana kegiatan harus dapat dicapai dengan biaya yang masuk

akal. Ini berarti bahwa rencana tersebut harus sederhana tetapi efektif,

tidak harus membutuhkan anggaran yang besar. Selain itu teknik dan

metode yang digunakan juga harus yang sesuai untuk bisa dilakukan.

d) Relevant (sesuai)

Rencana kegiatan harus sesuai dan bisa diterapkan di suatu

organisasi atau di suatu wilayah yang ingin di intervensi. Harus sesuai

dengan pegawai atau masyarakat di wilayah tersebut.

e) Timely (sesuai waktu)

Rencana kegiatan harus merupakan sesuatu yang dibutuhkan

sekarang atau sesuatu yang segera dibutuhkan. Jadi waktu yang sesuai

sangat diperlukan dalam rencana kegiatan agar kegiatan dapat berjalan

efektif.

4. Langkah Planning of Action (POA)

a) Mengidentifikasi masalah dengan pernyataan masalah (Diagram 6 kata:

What, Who, When, Where, Why, How), sebagai berikut:

1) Masalah apa yang terjadi?

2) Dimana masalah tersebut terjadi?

3) Kapan masalah tersebut terjadi?

4) Siapa yang mengalami masalah tersebut?

5) Mengapa msalah tersebut terjadi?

6) Bagaimana cara mengatasi masalah tersebut?

b) Setelah masalah diidentifikasi, tentukan solusi apa yang bisa dilakukan.

c) Menyusun Rencana Usulan Kegiatan (RUK).

18
Menurut Supriyanto dan Nyoman (2007), beberapa hal yang perlu

diperhatikan dalam menyusun Plan of Action atau Rencana Usulan

Kegiatan (RUK), antara lain:

 Pembahasan Ulang Masalah

Setelah menentukan masalah dan melakukan analisis

penyebab masalah, dapat dilihat keadaan atau situasi yang ada saat

ini dan mencoba menggambarkan keadaan tersebut nantinya sesuai

dengan yang diharapkan.

 Perumusan Tujuan Umum

Dengan melihat situasi yang ada saat ini dengan gambaran

situasi yang diharapkan nantinya dan juga atas dasar tujan umum

pembangunan kesehatan, maka dapat dirumuskan tujuan umum

program atau kegiatan yang akan dilaksanakan.

Tujuan umum adalah suatu pernyataan yang bersifat umum

dan luas yang menggambarkan hasil akhir (outcome atau dampak)

yang diharapkan.

 Perumusan Tujuan Khusus

Tujuan khusus merupakan pernyataan yang bersifat spesifik,

dapat diukur (kuantitatif) dengan batas waktu pencapaian untuk

mencapai tujuan umum. Bentuk pernyataan dalam tujuan khusus

sifatnya positif, merupakan keadaan yang diinginkan. Penentuan

indikator tujuan khusus program dapat menggunakan kriteria

SMARTS (Smart, Measurable, Attainable, Realistic, Time-bound,

Sustainable)

 Penentuan Kriteria Keberhasilan

Penentuan kriteria keberhasilan atau biasa disebut indikator

keberhasilan dari suatu rencana kegiatan, perlu dilakukan agar

19
organisasi tahu seberapa jauh program atau kegiatan yang

direncanakan tersebut berhasil atau tercapai. Menentukan kriteria atau

indikator keberhasilan disesuaikan dengan tujuan khusus yang telah

ditentukan.

Pada program kegiatan yang diusulkan harus mengandung

unsur 5W+1H, yaitu:

o Who : Siapa yang harus bertanggung jawab untuk melaksanakan

rencana kegiatan?

o What : Pelayanan atau spesifik kegiatan yang akan dilaksanakan

o How Much : Berapa banyak jumlah pelayanan atau kegiatan yang

spesifik?

o Whom : Siapa target sasaran atau populasi apa yang terkena

program?

o Where : Dimana lokasi atau daerah dimana aktivitas atau program

dilaksanakan?

o When : Kapan waktu pelaksanaan kegiatan atau program?

Rencana Usulan Kegiatan (RUK) disusun dalam bentuk matriks (Gantt

Chart) yang berisikan rincian kegiatan, tujuan, sasaran, target, waktu,

besaran kegiatan (volume), dan hasil yang diharapkan.

d) Langkah keempat, Bersama-sama dengan pihak yang berkepentingan

menguji dan melakukan validasi rencana kegiatan untuk mendapatkan

kesepakatan dan dukungan. (Yuan,2016)

2. Konsep Evidence Based Practice

Evidence Based Practice (EBP) adalah proses penggunaan bukti-bukti

terbaik yang jelas, tegas dan berkesinambungan guna pembuatan keputusan

klinik dalam merawat individu pasien. Dalam penerapan EBP harus memenuhi

20
tiga kriteria yaitu berdasar bukti empiris, sesuai keinginan pasien, dan adanya

keahlian dari praktisi.

a) Model Evidence Based Practice

1) Model Stetler

Model Stetler dikembangkan pertama kali tahun 1976

kemudian diperbaiki tahun 1994 dan revisi terakhir 2001. Model ini

terdiri dari 5 tahapan dalam menerapkan Evidence Base Practice

Nursing.

 Tahap persiapan.

Pada tahap ini dilakukan identifikasi masalah atau isu yang

muncul, kemudian menvalidasi masalah dengan bukti atau

landasan alasan yang kuat.

 Tahap validasi.

Tahap ini dimulai dengan mengkritisi bukti atau jurnal yang ada

(baik bukti empiris, non empiris, sistematik review), kemudian

diidentifikasi level setiap bukti menggunakan table “level of

evidence”. Tahapan bisa berhenti di sini apabila tidak ada bukti

atau bukti yang ada tidak mendukung.

 Tahap evaluasi perbandingan/ pengambilan keputusan.

Pada tahap ini dilakukan sintesis temuan yang ada dan

pengambilan bukti yang bisa dipakai. Pada tahap ini bisa muncul

keputusan untuk melakukan penelitian sendiri apabila bukti yang

ada tidak bisa dipakai.

 Tahap translasi atau aplikasi.

Tahap ini memutuskan pada level apa kita akan melakukan

penelitian (individu, kelompok,organisasi). Membuat proposal

21
untuk penelitian, menentukan strategi untuk melakukan

diseminasi formal dan memulai melakukan pilot projek.

 Tahap evaluasi.

Tahap evaluasi bisa dikerjakan secara formal maupun non

formal, terdiri atas evaluasi formatif dan sumatif, yang di

dalamnya termasuk evaluasi biaya.

2) Model IOWA

Model IOWA diawali dengan adanya trigger atau masalah.

Trigger bisa berupa knowledge focus atau problem focus. Jika

masalah yang ada menjadi prioritas organisasi, maka baru

dibentuklah tim. Tim terdiri atas dokter, perawat dan tenaga

kesehatan lain yang tertarik dan paham dalam penelitian. Langkah

berikutnya adalah minsintesis bukti-bukti yang ada.Apabila bukti yang

kuat sudah diperoleh, maka segera dilakukan uji coba dan hasilnya

harus dievaluasi dan didiseminasikan.

3) Model konseptual Rosswurm & Larrabee

Model ini disebut juga dengan model Evidence Based Practice

Change yang terdiri dari 6 langkah yaitu :

 Tahap 1 :mengkaji kebutuhan untuk perubahan praktis

 Tahap 2 : tentukkan evidence terbaik

 Tahap 3 : kritikal analisis evidence

 Tahap 4 : design perubahan dalam praktek

 Tahap 5 : implementasi dan evaluasi perunbahan

 Tahap 6 : integrasikan dan maintain perubahan dalam praktek

Model ini menjelaskan bahwa penerapan Evidence Based

Nursing ke lahan paktek harus memperhatikan latar belakang teori

22
yang ada, kevalidan dan kereliabilitasan metode yang digunakan,

serta penggunaan nomenklatur yang standar.

b) Manfaat Evidence Based Practice

Manfaat EBP penting untuk praktik keperawatan :

 Memberikan hasil asuhan keperawatan yang lebih baik kepada

pasien

 Memberikan kontribusi perkembangan ilmu keperawatan

 Menjadikan standar praktik saat ini dan relevan

 Meningkatkan kepercayaan diri dalam mengambil keputusan

 Mendukung kebijakan dan rosedur saat ini dan termasuk menjadi

penelitian terbaru

 Integrasi EBP dan praktik asuhan keperawatan sangat penting untuk

meningkatkan kualitas perawatan pada pasien.

c) Langkah-langkah dalam EBP


1) Langkah 1: Kembangkan semangat penelitian. Sebelum memulai
dalam tahapan yang sebenarnya didalam EBP, harus ditumbuhkan
semangat dalam penelitian sehingga klinikan akan lebih nyaman dan
tertarik mengenai pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan
perawatan pasien
2) Langkah 2: Ajukan pertanyaan klinis dalam format PICOT.
Pertanyaan klinis dalam format PICOT untuk menghasilkan evidence
yang lebih baik dan relevan.
a) Populasi pasien (P),
b) Intervensi (I),
c) Perbandingan intervensi atau kelompok (C),
d) Hasil / Outcome (O), dan
e) Waktu / Time (T).
Format PICOT menyediakan kerangka kerja yang efisien untuk
mencari database elektronik, yang dirancang untuk mengambil hanya
artikel-artikel yang relevan dengan pertanyaan klinis. Menggunakan
skenario kasus pada waktu respon cepat sebagai contoh, cara untuk

23
membingkai pertanyaan tentang apakah penggunaan waktu tersebut
akan menghasilkan hasil yang positif akan menjadi: "Di rumah sakit
perawatan akut (populasi pasien), bagaimana memiliki time respon
cepat (intervensi) dibandingkan dengan tidak memiliki time respon
cepat (perbandingan) mempengaruhi jumlah serangan jantung (hasil)
selama periode tiga bulan (waktu)? "
3) Langkah 3: Cari bukti terbaik. Mencari bukti untuk
menginformasikan praktek klinis adalah sangat efisien ketika
pertanyaan diminta dalam format PICOT. Jika perawat dalam
skenario respon cepat itu hanya mengetik "Apa dampak dari memiliki
time respon cepat?" ke dalam kolom pencarian dari database,
hasilnya akan menjadi ratusan abstrak, sebagian besar dari mereka
tidak relevan. Menggunakan format PICOT membantu untuk
mengidentifikasi kata kunci atau frase yang ketika masuk berturut-
turut dan kemudian digabungkan, memperlancar lokasi artikel yang
relevan dalam database penelitian besar seperti MEDLINE atau
CINAHL. Untuk pertanyaan PICOT pada time respon cepat, frase
kunci pertama untuk dimasukkan ke dalam database akan perawatan
akut, subjek umum yang kemungkinan besar akan mengakibatkan
ribuan kutipan dan abstrak. Istilah kedua akan dicari akan rapid
respon time, diikuti oleh serangan jantung dan istilah yang tersisa
dalam pertanyaan PICOT. Langkah terakhir dari pencarian adalah
untuk menggabungkan hasil pencarian untuk setiap istilah. Metode ini
mempersempit hasil untuk artikel yang berkaitan dengan pertanyaan
klinis, sering mengakibatkan kurang dari 20. Hal ini juga membantu
untuk menetapkan batas akhir pencarian, seperti "subyek manusia"
atau "English," untuk menghilangkan studi hewan atau artikel di luar
negeri bahasa.
4) Langkah 4: Kritis menilai bukti. Setelah artikel yang dipilih untuk
review, mereka harus cepat dinilai untuk menentukan yang paling
relevan, valid, terpercaya, dan berlaku untuk pertanyaan klinis. Studi-
studi ini adalah "studi kiper." Salah satu alasan perawat khawatir
bahwa mereka tidak punya waktu untuk menerapkan EBP adalah
bahwa banyak telah diajarkan proses mengkritisi melelahkan,
termasuk penggunaan berbagai pertanyaan yang dirancang untuk

24
mengungkapkan setiap elemen dari sebuah penelitian. Penilaian
kritis yang cepat menggunakan tiga pertanyaan penting untuk
mengevaluasi sebuah studi :
a. Apakah hasil penelitian valid? Ini pertanyaan validitas studi
berpusat pada apakah metode penelitian yang cukup ketat untuk
membuat temuan sedekat mungkin dengan kebenaran. Sebagai
contoh, apakah para peneliti secara acak menetapkan mata
pelajaran untuk pengobatan atau kelompok kontrol dan
memastikan bahwa mereka merupakan kunci karakteristik
sebelum perawatan? Apakah instrumen yang valid dan reliabel
digunakan untuk mengukur hasil kunci?
b. Apakah hasilnya bisa dikonfirmasi? Untuk studi intervensi,
pertanyaan ini keandalan studi membahas apakah intervensi
bekerja, dampaknya pada hasil, dan kemungkinan memperoleh
hasil yang sama dalam pengaturan praktek dokter sendiri. Untuk
studi kualitatif, ini meliputi penilaian apakah pendekatan penelitian
sesuai dengan tujuan penelitian, bersama dengan mengevaluasi
aspek-aspek lain dari penelitian ini seperti apakah hasilnya bisa
dikonfirmasi.
c. Akankah hasil membantu saya merawat pasien saya? Ini
pertanyaan penelitian penerapan mencakup pertimbangan klinis
seperti apakah subyek dalam penelitian ini mirip dengan pasien
sendiri, apakah manfaat lebih besar daripada risiko, kelayakan
dan efektivitas biaya, dan nilai-nilai dan preferensi pasien. Setelah
menilai studi masing-masing, langkah berikutnya adalah untuk
mensintesis studi untuk menentukan apakah mereka datang ke
kesimpulan yang sama, sehingga mendukung keputusan EBP
atau perubahan.
5) Langkah 5: Mengintegrasikan bukti dengan keahlian klinis dan
preferensi pasien dan nilai-nilai. Bukti penelitian saja tidak cukup
untuk membenarkan perubahan dalam praktek. Keahlian klinis,
berdasarkan penilaian pasien, data laboratorium, dan data dari
program manajemen hasil, serta preferensi dan nilai-nilai pasien
adalah komponen penting dari EBP. Tidak ada formula ajaib untuk
bagaimana untuk menimbang masing-masing elemen; pelaksanaan

25
EBP sangat dipengaruhi oleh variabel kelembagaan dan klinis.
Misalnya, ada tubuh yang kuat dari bukti yang menunjukkan
penurunan kejadian depresi pada pasien luka bakar jika mereka
menerima delapan sesi terapi kognitif-perilaku sebelum dikeluarkan
dari rumah sakit. Anda ingin pasien Anda memiliki terapi ini dan begitu
mereka. Tapi keterbatasan anggaran di rumah sakit Anda mencegah
mempekerjakan terapis untuk menawarkan pengobatan. Defisit
sumber daya ini menghambat pelaksanaan EBP.
6) Langkah 6: Evaluasi hasil keputusan praktek atau perubahan
berdasarkan bukti. Setelah menerapkan EBP, penting untuk
memantau dan mengevaluasi setiap perubahan hasil sehingga efek
positif dapat didukung dan yang negatif diperbaiki. Hanya karena
intervensi efektif dalam uji ketat dikendalikan tidak berarti ia akan
bekerja dengan cara yang sama dalam pengaturan klinis.
Pemantauan efek perubahan EBP pada kualitas perawatan
kesehatan dan hasil dapat membantu dokter melihat kekurangan
dalam pelaksanaan dan mengidentifikasi lebih tepat pasien mana
yang paling mungkin untuk mendapatkan keuntungan. Ketika hasil
berbeda dari yang dilaporkan dalam literatur penelitian, pemantauan
dapat membantu menentukan.
7) Langkah 7: Menyebarluaskan hasil EBP. Perawat dapat mencapai
hasil yang indah bagi pasien mereka melalui EBP, tetapi mereka
sering gagal untuk berbagi pengalaman dengan rekan-rekan dan
organisasi perawatan kesehatan mereka sendiri atau lainnya. Hal ini
menyebabkan perlu duplikasi usaha, dan melanggengkan
pendekatan klinis yang tidak berdasarkan bukti-bukti. Di antara cara
untuk menyebarkan inisiatif sukses adalah putaran EBP di institusi
Anda, presentasi di konferensi lokal, regional, dan nasional, dan
laporan dalam jurnal peer-review, news letter profesional, dan
publikasi untuk khalayak umum.

26
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan konsep Evidence Based Practice di atas, dapat

disimpulkan bahwa ada 3 faktor yang seacara garis besar menenentukan

tercapainya pelaksanaan praktek keperawatan yang lebih baik yaitu, penelitian

yang dilakukan berdasarkan fenomena yang terjadi di kaitkan dengan teori yang

telah ada, pengalaman klinis terhadap sustu kasus, dan pengalaman pribadi yang

bersumber dari pasien. Dengan memperhatikan factor-faktor tersebut, maka di

harapkan pelaksanaan pemeberian pelayanan kesehatan khususnya pemberian

asuhan keperawatan dapat di tingkatkan terutama dalam hal peningkatan

pelayanan kesehatan atau keperawatan, pengurangan biaya (cost effective) dan

peningkatan kepuasan pasien atas pelayanan yang diberikan. Namun dalam

pelaksanaan penerapan Evidence Based Practice ini sendiri tidaklah mudah,

hambatan utama dalam pelaksanaannya yaitu kurangnya pemahaman dan

kurangnya referensi yang dapat digunakan sebagai pedoman pelaksanaan

penerapan EBP itu sendiri.

B. Saran

Dalam pemberian pelayanan kesehatan khususnya asuhan keperawatan

yang baik, serta mengambil keputusan yang bersifat klinis hendaknya mengacu

pada SPO yang dibuat berdasarkan teori-teori dan penelitian terkini. Evidence

Based Practice dapat menjadi panduan dalam menentukan atau membuat SPO

yang memiliki landasan berdasarkan teori, penelitian, serta pengalaman klinis baik

oleh petugas kesehatan maupun pasien.

27
DAFTAR PUSTAKA

Ayun, Q., 2014. Peran Komite Keperawatan dalam Pengawasan Mutu dan

Audit Keperawatan. SlideShare, p.24. Available at:

http://www.slideshare.net/ayunannaim/audit-mutu [Accessed January 20, 2019].

Nasution, M., 2004. Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management),

Jakarta: Ghalia Indonesia. Available at:

http://www.landasanteori.com/2015/10/pengertian-total-quality-management-tqm.html.

Suryadi, T., 2009. Pengertian dan Pelaksanaan Penjaminan Mutu Pelayanan

Kesehatan. Scribd. Available at: https://www.scribd.com/doc/17381263/Pengertian-

Dan-Pelaksanaan-Mutu-Pelayanan-Kesehatan [Accessed January 20, 2019].

Tjiptono, F. & Anastasia, D., 2003. Total Quality Management Edisi Kedu.,

Yogyakarta: Andi Offset. Available at:

http://www.landasanteori.com/2015/10/pengertian-total-quality-management-tqm.html.

Yuan, H., 2016. Planning Of Action (POA) & Implementasi Manajemen

Keperawatan. Scribd. Available at:

https://id.scribd.com/document/330652316/Makalah-Plan-of-Action-Manajemen

[Accessed January 23, 2019].

28