Anda di halaman 1dari 11

TUGAS TAHAPAN DALAM

PENGEMBANGAN KOMPETENSI
INTI INDUSTRI

Diajukan untuk memenuhi salahsatu syarat


menempuh dan lulus mata kuliah
Perencanaan Pengembangan Industri

Kelas : C
Disusun oleh :
Guruh Reksa Gumiwang (153010116)
Fathur Ginola Putra L. (153010032)
Dindin Zamaludin (153010126)

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS PASUNDAN
BANDUNG
2018
BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Di dalam perencanaan suatu wilayah haruslah memiliki kemampuan untuk menganalisis
potensi ekonomi wilayahnya. Hal ini terkait dengan kewajiban di satu sisi dapat menentukan
sektor-sektor riil mana yang perlu dikembangkan agar perekonomian daerah tersebut dapat
tumbuh dengan cepat dan di sisi lain mampu mengidentifikasi faktor-faktor yang membuat
potensi sector tertentu rendah dan dapat menentukan apakah langkah-langkah yang
diprioritaskan untuk menanggulangi kelemahan tersebut.
Setelah adanya otonomi daerah, masing-masing daerah sudah lebih bebas dalam
menentukan sektor mana yang diprioritaskan pengembangannya. Kemampuan pemerintah
daerah untuk mengembangkan sektor yang memiliki keunggulan dan atau kelemahan di
wilayahnya menjadi semakin sangat penting. Sektor yang memiliki keunggulan , memiliki
prospek yang lebih baik untuk dikembangkan dan diharapkan dapat mendorong sektor-sektor
lainnya untuk berkembang.
Pada Kota Cimahi merupakan merupakan daerah yang kecil hasil pemekaran dari
Kabupaten Bandung yang membutuhkan pembangunan di semua sektor. Pembangunan daerah
Kebupaten sebagai bagian integral dari pembangunan Propinsi dan pembangunan Nasional yang
beorientasi menumbuhkembangkan sektor ekonomi dan komoditas unggulan daerah atau
komoditi yang memiliki potensi perekonomian wilayah tersebut. Dengan pemekaran ini berarti
merupakan kesempatan sekaligus tantangan bagi pemerintah daerah untuk memanfaatkan
seoptimal mungkin potensi dan peluang yang dimiliki guna mendukung pembangunan ekonomi
daerah yang kuat dan berdaya saing tinggi.
Alat analisis yang sering digunakan perekonomian dalam menetapkan sector ekonomi
basis atau potensial atau bidang prioritas dari masing-masing daerah salah satunya
adalah dengan ukuran LQ (Location Quotient). Melalui alat analisa ini yang digunakan di
dalam suatu wilayah/daerah dapat di ketahui sector utama mana yang memberikan
keuntungan ekonomi pada wilayah/daerah ini dan pada akhirnya memberi keuntungan kepada
ekonomi nasional secara keseluruhan. Kemudian dengan menggunakan alat analisis LQ ini juga
dapat dibuat dengan menguraikan sektor-sektor tersebut atas subsektor atau bahkan
perkomoditinya (Tarigan Robinson, 2005)
Berdasarkan hal tersebut diatas dirasakan perlu untuk diteliti apakah sektor pertanian
atau sektor lainnya yang merupakan sektor ekonomi basis atau potensial dengan ukuran LQ
(Location Quotient) untuk pengembangan daerah tersebut . Dengan melihat ukuran
melalui analisis LQ ini yaitu sesuatu kegiatan ekonomi yang secara perbandingan lebih
memberi keuntungan bagi daerah tersebut untuk dikembangkan. Dan dari hasil penelitian
kemudian dapat di kembangkan sector apa di Kota Cimahi
I.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut maka dapat dirumuskan beberapa masalah :
1. Sektor perekonomian yang manakah di Kota Cimahi yang menjadi sector basis?
2. Faktor-faktor apakah yang perlu dianalisa yang diperkirakan merupakan kekuatan dari
sektor, yang menjadi perekonomian basis wilayah Kota Cimahi
I.3.Tujuan
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui :
1. Sektor perekonomian sebagai sektor ekonomi basis di Kota Cimahi
2. Faktor-faktor yang diperkirakan merupakan kekuatan dari sektor yang menjadi
perekonomian basis wilayah Kota Cimahi

I.4.Kegunaan
Penelitian ini diharapkan berguna untuk :
1. Sebagai sumbangan pemikiran bagi pemerintahan Kota Cimahi untuk mempertahankan dan
mengembangkan sektor yang merupakan perekonomian basis di wilayah tersebut.
2. Sebagai sumbangan pemikiran bagi pemerintahan Kota Cimahi untuk menanggulangi
kelemahan dari sektor yang ada yang tidak merupakan perekonomian basis di wilayah
tersebut.
3. Sebagai bahan referensi bagi peneliti-peneliti selanjutnya yang meneliti sektor perekonomian
basis suatu wilayah.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Perencanaan Wilayah


Perencanaan wilayah adalah mengetahui dan menganalisis kondisi saat ini, meramalkan
perkembangan berbagai factor noncotrollable yang relevan, memperkirakan faktor-faktor
pembatas, menetapkan tujuan dan sasaran yang diperkirakan dapat dicapai, menetapkan langkah-
langkah untuk mencapai tujuan tersebut, serta menetapkan lokasi dari berbagai kegiatan yang
akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan atau sasaran tersebut (Tarigan R, 2004). Tujuan
perencanaan wilayah pada tahap akhirnya menghasilkan rencana yang menetapkan lokasi dari
berbagai kegiatan yang direncanakan baik oleh pihak pemerintah ataupun oleh pihak swasta.
Lokasi yang dipilih memberikan efisiensi dan keserasian lingkungan yang paling maksimal. Ilmu
perencanaan wilayah umumnya mengonsentrasikan diri pada bidang perencanaan ekonomi
sosial wilayah yang lebih lazim disebut perencanaan pembangunan ekonomi wilayah.
Menurut Friedman (dalam Tarigan R,2004) mengatakan bahwa perencanaan cara berfikir
mengatasi permasalahan sosial dan ekonomi, untuk menghasilkan sesuatu di masa depan.
Sasaran yang dituju adalah keinginan kolektif dan mengusahakan keterpaduan dalam kebijakan
dan program. Hal ini berarti perencanaan sosial dan ekonomi harus memperhatikan aspirasi
masyarakat dan melibatkan masyarakat baik secara langsung ataupun tidak langsung.
Perencanaan pembangunan ekonomi daerah bukanlah perencanaan dari suatu daerah,
tetapi perencanaan untuk suatu daerah. Melalui perencanaan pembangunan ekonomi daerah,
suatu daerah dilihat secara keseluruhan sebagai suatu unit ekonomi yang di dalamnya terdapat
berbagai unsur yang berinteraksi satu sama lain (Kuncoro M, 2004)
Secara umum pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses dimana pemerintah
daerah dan seluruh komponen masyarakat mengelola berbagai sumber daya yang ada dan
membentuk suatu pola kemitraan untuk menciptakan suatu lapangan pekerjaan baru dan
merangsang perkembangan kegiatan ekonomi dalam daerah tersebut (Blakely dalam Kuncoro
M,2004). Tentu saja makna pembangunan daerah tersebut amat tergantung dari masalah
fundamental yang dihadapi oleh daerah itu. Bagaimana daerah mengatasi masalah fundamental
yang dihadapi ditentukan oleh strategi pembangunan yang dipilih.
2.2. Teori Basis Ekonomi
Teori basis ekonomi mendasarkan pandangannya bahwa laju pertumbuhan ekonomi suatu
wilayah ditentukan oleh besarnya peningkatan ekspor dari wilayah tersebut. Kegiatan ekonomi
dikelompokkan atas kegiatan basis dan kegiatan non basis. Hanya kegiatan basis yang dapat
mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah.
Dalam kondisi pasar tertutup bertambahnya produsen atau produksi yang tidak dibarengi
dengan bertambahnya permintaan local dapat membuat harga jual menjadi turun.
Dalam pengertian ekonomi regional, ekspor adalah menjual produk/jasa ke luar wilayah
baik ke wilayah lain dalam negara itu maupun ke luar negeri. Tenaga kerja yang berdomisili di
wilayah kita, tetapi bekerja dan memperoleh uang dari wilayah lain termasuk dalam pengertian
ekspor. Pada dasarnya kegiatan ekspor adalah semua kegiatan baik penghasil produk maupun
penyedia jasa yang mendatangkan uang dari luar wilayah disebut kegiatan basis. Lapangan kerja
dan pendapatan di sector basis adalah fungsi dari permintaan yang bersifat exogenous (tidak
tergantung pada kekuatan intern/permintaan local).
Semua kegiatan lain yang bukan kegiatan basis termasuk ke dalam kegiatan/sektor
service atau pelayanan, tetapi untuk tidak menciptakan pengertian yang keliru tentang arti
service disebut saja sektor non basis. Sektor non basis adalah untuk memenuhi kebutuhan
konsumsi lokal. Karena sifatnya yang memenuhi kebutuhan lokal, permintaan sektor ini sangat
dipengaruhi oleh tingkat pendapatan masyarakat setempat. Oleh sebab itu kenaikannya sejalan
dengan kenaikan pendapatan masyarakat setempat. Dengan demikian, sektor ini terikat terhadap
kondisi ekonomi setempat dan tidak bisa berkembang melebihi pertumbuhan ekonomi wilayah.
Atas dasar anggapan di atas, satu-satunya sektor yang bisa meningkatkan perekonomian wilayah
melebihi pertumbuhan alamiah adalah sektor basis.
Bagian yang cukup sulit dalam menggunakan analisis basis ekonomi adalah memilah
antara kegiatan basis dan kegiatan non basis. Bahwa analisis basis ekonomi dapat menggunakan
variabel lapangan kerja, pendapatan, atau ukuran lain tetapi yang umum dipakai adalah lapangan
kerja atau pendapatan. Secara logika penggunaan variabel pendapatan lebih mengena kepada
sasaran. Peningkatan pendapatan di sektor basis akan mendorong kenaikan pendapatan di sektor
non basis dalam bentuk korelasi yang lebih ketat dibanding dengan menggunakan variabel
lapangan kerja.
Beberapa metode untuk memilah antara kegiatan basis dan kegiatan non basis adalah
metode langsung, metode tidak langsung, metode campuran, dan metode location quotient.
(Tarigan R, 2005).
Didalam penelitian ini yang digunakan untuk melihat sektor tersebut basis atau non basis
digunakan metode location quotient.

2.3. Pendapatan Daerah


Tujuan kebijakan ekonomi adalah menciptakan kemakmuran. Salah satu ukuran
kemakmuran terpenting adalah pendapatan . Kemakmuran tercipta karena ada kegiatan yang
menghasilkan pendapatan (Tarigan R, 2005).
Pendapatan daerah adalah tingkat (besar nya) pendapatan masyarakat pada wilayah
analisis. Tingkat pendapatan dapat diukur dari total pendapatan wilayah maupun pendapatan
rata-rata masyarakat pada wilayah tersebut.
Ada beberapa parameter yang bisa digunakan untuk mengukur adanya pembangunan
wilayah. Salah satu parameter terpenting adalah meningkatnya pendapatan masyarakat,
parameter lain seperti peningkatan lapangan kerja dan pemerataan pendapatan juga sangat terkait
dengan peningkatan pendapatan wilayah.

2.4. Location Quotient (Kuosien Lokasi)


Analisis Location Quotient (LQ) digunakan untuk menentukan subsekor unggulan atau
ekonomi basis suatu perekonomian wilayah. Subsektor unggulan yang berkembang dengan baik
tentunya mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah, yang
pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan darah secara optimal (Kuncoro M,2004).
Location quotient (kuosien lokasi) atau disingkat LQ adalah suatu perbandingan tentang
besarnya peranan suatu sektor di suatu daerah terhadap besarnya peranan sektor tersebut secara
nasional. Ada banyak variabel yang bisa diperbandingkan, tetapi yang umum adalah nilai tambah
(tingkat pendapatan) dan jumlah lapangan kerja. Berikut ini yang digunakan adalah nilai tambah
(tingkat pendapatan).Rumusnya adalah sebagai berikut (Tarigan R,2005),(Bendavid-Val dlm
Kuncoro M, 2004) :
Xi/PDRB
LQ = ---------------
Xi/PNB
Di mana : xi = Nilai tambah (tingkat pendapatan) sektor i di suatu daerah
PDRB = Produk domestic regional bruto daerah tersebut
Xi = Nilai tambah (tingkat pendapatan) sektor i secara nasional
PNB = Produk nasional bruto atau GNP
Istilah wilayah nasional dapat diartikan untuk wilayah induk/wilayah atasan. Misalnya apabila
diperbandingkan antara wilayah kabupaten dengan provinsi, maka provinsi memegang peran
sebagai wilayah nasional dan seterusnya.
Kriteria pengukuran dari nilai LQ yang dihasilkan mengacu kepada kriteria yang dikemukakan
Bendavid-Val dalam Kuncoro M, 2004 sebagai berikut :
1.LQ > 1, berarti tingkat spesialisasi sektor tertentu pada tingkat daerah lebih besar dari sektor
yang sama pada tingkat provinsi.
2.LQ < 1, berarti tingkat spesialisasi sektor tertentu pada tingkat daerah lebih kecil dari sektor
yang sama pada tingkat provinsi.
3.LQ = 1, berarti tingkat spesialisasi sektor tertentu pada tingkat daerah sama dengan sektor yang
sama pada tingkat provinsi.
Dalam kaitannya dengan pembahasan yang dilakukan, bila nilai LQ > 1 maka
sektor/subsektor/komoditi tersebut merupakan unggulan di daerah dan potensial untuk
dikembangkan sebagai penggerak perekonomian daerah. Apabila nilai LQ < 1 maka
sektor/subsektor/komoditi tersebut bukan merupakan unggulan dan kurang potensial untuk
dikembangkan sebagai penggerak perekonomian daerah.
Analisis LQ bisa dibuat menarik apabila dilakukan dalam bentuk time series/trend,
artinya dianalisis untuk beberapa kurun waktu tertentu. Dalam hal ini perkembangan LQ bisa
dilihat untuk suatu sector tertentu pada kurun waktu yang berbeda, apakah terjadi kenaikan atau
penurunan. Hal ini bisa memancing analisis lebih lanjut, misalnya apabila naik/turun dilihat
faktor-faktor yang membuat daerah tumbuh lebih cepat/tumbuh lebih lambat dari rata-rata
nasional. Hal ini bisa membantu melihat kekuatan/kelemahan wilayah kita dibandingkan secara
relatif dengan wilayah yang lebih luas. Potensi yang positif digunakan dalam strategi
pengembangan wilayah.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Metode Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini ditentukan secara sengaja (purposive) di daerah Kota Cimahi.
Alasan pemilihan lokasi daerah ini adalah karena kota ini merupakan pemekaran dari Kabupaten
Bandung dan Kota Madya Cimahi oleh karena itu daerah ini masih membutuhkan pembangunan
dan pengembangan di berbagai sektor. Dan berdasarkan sektor perekonomian basis.

3.2. Metode Pengumpulan Data


Data yang diperlukan di dalam penelitian ini semua data sekunder.
Tabel 3.1 PDRB Kota Cimahi
KATEGORI URAIAN 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
A Pertanian, Kehutanan dan Perikanan 32469 36419 40425 46414 53802 55144 55094
B Pertambangan dan Penggalian 0 0 0 0 0 0 0
C Industri Pengolahan 6732833 7355839 7995894 8686704 9751243 10594328 11451004
D Pengadaan Listrik dan Gas 36631 39833 43856 42204 50369 61433 73928
E Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang 8186 8532 9010 10413 11063 12009 13739
F Konstruksi 1767293 1905441 2146089 2361903 2619495 2830125 3010137
G Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 2384500 2634764 2860490 3332194 3600479 3971963 4260501
H Transportasi dan Pergudangan 494434 546635 587763 662987 754947 884841 976007
I Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 163098 184321 202533 238975 285428 303377 323217
J Informasi dan Komunikasi 479011 576026 669425 754055 859816 1008763 1159792
K Jasa Keuangan dan Asuransi 318927 370126 435068 539896 590403 677230 752602
L Real Estate 119659 131085 146465 165030 187616 204521 229168
M,N Jasa Perusahaan 19782 23409 27863 30987 34738 38893 42697
O Administrasi Pemerintah, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 362877 385911 485853 523996 549543 607452 641460
P Jasa Pendidikan 359328 398305 475731 564463 723139 831807 931435
Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 92417 105916 123411 146239 175447 210301 238849
R,S,T,U Jasa Lainnya 200165 227647 250391 278844 321191 354386 387702
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO 13571610 14930207 16500267 18385303 20568720 22646574 24547332

Tabel 3.2 PDRB Jawa Barat


Kategori Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
A Pertanian, Kehutanan dan Perikanan 89088260 95452145 100784621 114042322 120787232 132497854 147068413
B Pertambangan dan Penggalian 30126932 38830412 36863496 34829948 33622738 26025115 25347017
C Industri Pengolahan 403571247 448520832 487760808 544183778 604759573 656140108 702139264
D Pengadaan Listrik dan Gas 5334624 6451063 7775965 8783322 11008528 11437569 11920087
E Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang 702596 772141 837627 955503 1019668 1160270 1343138
F Konstruksi 63087799 73882821 88024138 99103612 112073460 125923144 134113402
G Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 139681171 157954971 179461165 199720305 211469532 232322871 250299839
H Transportasi dan Pergudangan 37337711 42390068 47419993 56700883 66392632 83856721 94606045
I Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 21672463 23712902 26494967 30027380 33722153 38098816 43001253
J Informasi dan Komunikasi 20785122 25260047 27876566 30268188 34152993 39711997 45461350
K Jasa Keuangan dan Asuransi 20242188 22775043 27317167 32408455 35512838 39872157 46186437
L Real Estate 9855884 11322065 12456779 13739947 14438750 15578024 16813546
M,N Jasa Perusahaan 3218250 3874382 4350495 4873092 5438669 6076874 6645607
O Administrasi Pemerintah, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 23605341 25339974 28794166 30242182 32191980 36673941 38653631
P Jasa Pendidikan 17961874 21199766 25557788 29595983 35314726 40563279 44676515
Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 5327118 5955590 6628824 7194043 8700874 10614557 12106082
R,S,T,U Jasa Lainnya 15087179 17934377 19841120 22320385 25218732 28278905 32207818
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO 906685760 1021628597 1128245685 1258989329 1385825076 1524832202 1652589443
3.3. Metode Analisa Data
Didalam penelitian untuk menjawab masalah dan tujuan no 1 yaitu penelitian sektor
mana yang menjadi perekonomian basis di Kabupaten Pakpak Bharat adalah menganalisa secara
masing-masing per sektor dengan analisa LQ (Locationt Quotient) yaitu :
KATEGORI URAIAN 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 rata-rata rata-rata komoditas
A Pertanian, Kehutanan dan Perikanan 0,02 0,03 0,03 0,03 0,03 0,03 0,03 0,03 0%
B Pertambangan dan Penggalian - - - - - - - - 0%
C Industri Pengolahan 1,11 1,12 1,12 1,09 1,09 1,09 1,10 1,10 7%
D Pengadaan Listrik dan Gas 0,46 0,42 0,39 0,33 0,31 0,36 0,42 0,38 3%
E Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang 0,78 0,76 0,74 0,75 0,73 0,70 0,69 0,73 5%
F Konstruksi 1,87 1,76 1,67 1,63 1,57 1,51 1,51 1,65 11%
G Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 1,14 1,14 1,09 1,14 1,15 1,15 1,15 1,14 8%
H Transportasi dan Pergudangan 0,88 0,88 0,85 0,80 0,77 0,71 0,69 0,80 5%
I Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 0,50 0,53 0,52 0,54 0,57 0,54 0,51 0,53 4%
J Informasi dan Komunikasi 1,54 1,56 1,64 1,71 1,70 1,71 1,72 1,65 11%
K Jasa Keuangan dan Asuransi 1,05 1,11 1,09 1,14 1,12 1,14 1,10 1,11 7%
L Real Estate 0,81 0,79 0,80 0,82 0,88 0,88 0,92 0,84 6%
M,N Jasa Perusahaan 0,41 0,41 0,44 0,44 0,43 0,43 0,43 0,43 3%
O Administrasi Pemerintah, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 1,03 1,04 1,15 1,19 1,15 1,12 1,12 1,11 7%
P Jasa Pendidikan 1,34 1,29 1,27 1,31 1,38 1,38 1,40 1,34 9%
Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 1,16 1,22 1,27 1,39 1,36 1,33 1,33 1,29 9%
R,S,T,U Jasa Lainnya 0,89 0,87 0,86 0,86 0,86 0,84 0,81 0,86 6%
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO 15,00 14,94 14,93 15,16 15,08 14,93 14,91 14,99 100%

xi/PDRB
LQ = --------------
Xi/PNB
Di mana :
xi = Nilai tambah (tingkat pendapatan) sektor i di Kota Cimahi
PDRB = Produk domestic regional bruto daerah Kota Cimahi

Xi = Nilai tambah (tingkat pendapatan) 9ector I secara nasional (Jawa Barat)


PNB = Produk nasional bruto atau GNP (Jawa Barat).
Untuk menjawab masalah dan tujuan no 2 dan 3 adalah dengan menganalisanya dari
trend pengolahan data-data sekunder yang diperoleh yang dikaitkan dengan keadaan di
lapangan dari daerah penelitian ini.

3.4. Pohon Industri


Gambar 3.1 Pohon Industri Sektor Kota Cimahi
Sektor yang diunggulkan di Kota Cimahi berdasarkan perhitungan LQ yaitu kontruksi,
dimana pada kontruksi tersebut dapat dipilih berupa konstruksi dalam industri baja.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1. Kesimpulan
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan :
1. Sektor Konstruksi menjadi basis pada Kota Cimahi sebesar 11%
2. Faktor-faktor yang diperkirakan merupakan kekuatan sektor pertanian adalah pertama
keadaan cimahi yang telah mempunyai banyak kawasan pemukiman untuk menunjang atau
penyangga Kota Bandung.
3. Faktor-faktor yang diperkirakan merupakan kekuatan sektor konstruksi adalah karena
daerah ini merupakan daerah pemekaran

4.2. Saran
Bagi pemerintahan Kabupaten Kota Cimahi untuk tetap mempertahankan dan mengembangkan terus bagi
sektor-sektor yang merupakan basis perekonomian.