Anda di halaman 1dari 102

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Secara umum pembangunan ekonomi di definisikan sebagai suatu proses yang menyebabkan GNP perkapita (Gross National Product) atau pendapatan masyarakat meningkat dalam periode waktu yang panjang. Oleh sebab itu

pembangunan ekonomi memiliki tiga sifat penting yaitu: suatu proses yang berarti terjadinya perubahan terus menerus, adanya usaha untuk menarik pendapatan perkapita masyarakat. Dan kenaikan pendapatan perkapita masyarakat yang

terjadi dalam jangka panjang. W.W. Rostow mengatakan bahwa proses pembangunan dari semua harus

negara dari yang belum berkembang menjadi yang telah berkembang

melalui beberapa tahapan tertentu. Tahapan itu secara berurutan menurutnya adalah sebagai berikut; tahap masyarakat tradisional (traditional society), tahap prakondisi agar dapat tinggal landas menuju pertumbuhan yang berkelanjutan (precondition for take-off into self-sustaining growth), tahap lepas landas (takeoff), tsahap dorongan menuju kedewasaan konsumsi tinggi massa (high mass consumption). Pada dasarnya pembangunan ekonomi direncanakan dan dilaksanakan sesuai dengan keadaan negara/daerah, kemampuan untuk berkembang dan kemajuan yang ingin dicapai secara nasional/daerah. Kemajuan yang ingin bagi
1

(drive to maturity), dan tahap

dicapai ini merupakan tuntutan dan sekaligus sebagai tantangan

bangsa/daerah itu sendiri. Adapun keberhasilan suatu bangsa/daerah dalam usaha mencapai kemajuan yang diinginkannya, sangat ditentukan oleh kemampuan penyelenggara negara/daerah serta keadaan dan kedudukan bangsa/daerah itu diantara bangsa/daerah lain. Hal itu dilakukan untuk mencapai tujuan

pembangunan atau di Indonesia biasa disebut sebagai Trilogi pembangunan, yaitu; 1)Pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya, 2)meningkatkan laju

pertumbuhan ekonomi, 3) memantapkan stabilitas ekonomi nasional. Indikator makro ekonomi yang sering dijadikan acuan untuk mengevaluasi kinerja pembangunan adalah pertumbuhan ekonomi. Dalam hal ini, proses

pembangunan itu sendiri akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi, maka proses ini secara kumulatif menunjang tercapainya pertumbuhan yang berkelanjutan dalam jangka panjang. Dengan demikian pembangunan mengandung pengertian yang jauh lebih luas daripada pertumbuhan. Konsep pertumbuhan saling terkait dengan pembangunan. Bahkan pertumbuhan harus berjalan bersama-sama dengan pembangunan. Meskipun dalam tahap awalnya pembangunan tidak dapat dilaksanakan tanpa adanya pertumbuhan, pada tahap-tahap berikutnya tanpa adanya pembangunan maka pertumbuhan akan tersendat dan akhirnya akan terhenti. Petumbuhan ekonomi dan prosesnya yang berkelanjutan adalah merupakan kondisi utama bagi kelangsungan pembangunan ekonomi daerah. Karena jumlah penduduk yang terus bertambah dan berarti jumlah kebutuhan ekonomi juga terus bertambah, sehingga dibutuhkan penambahan pendapatan setiap tahun. Hal ini

dapat diperoleh dengan peningkatan output agregat (barang dan jasa) atau Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) setiap tahun. Perkembangan pembangunan perekonomian daerah tergantung dari kondisi dan potensi sumberdaya yang dimiliki masing-masing daerah. Pembangunan

daerah sebagai tolak ukur pertumbuhan ekonomi wilayah, yang salah satunya dengan memprioritaskan membangun dan memperkuat sektor-sektor dibidang ekonomi dengan mengembangkan, meningkatkan dan mendayagunakan

sumberdaya secara optimal dengan tetap memperhatikan ketentuan antara industri dan pertanian yang tangguh serta sektor pembangunan yang lainnya (BPS Sumut). Analisis dalam rangka pengembangan wilayah pada dasarnya memberikan penekanan pada penggunaan potensi dan sumber daya daerah, baik sumberdaya manusia, sumberdaya alam maupun kelembagaan yang ada guna mengantisipasi berbagai permasalahan dan kebutuhan daerah. Disamping itu juga

mengembangkan berbagai kebijakan pembangunan pada tingkat daerah untuk merangsang perkembangan sosial ekonomi daerah yang bersangkutan, terrmasuk menciptakan dan mengantisipasi berbagai peluang. Walaupun demikian, dalam analisis pengembangan daerah, berbagai kegiatan sektoral dan kegiatan yang merupakan bagian dari pembangunan yang ada didaerah yang bersangkutan juga perlu diperhitungkan. Setiap daerah di Indonesia saat ini sedang giat-giatnya melakukan pembangunan. Sejak diberlakukannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang

perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, menyebabkan tiap-tiap daerah semakin memacu pertumbuhan ekonomi peningkatan kesejahteraan masyarakat sebagai bagian dari guna tujuan

penyelenggaraan otonomi daerah yaitu peningkatan pelayanan publik serta memajukan perekonomian daerah. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi merupakan salah satu sasaran yang akan dicapai dalam pelaksanaan pembangunan disuatu daerah. Hal ini dapat diukur berdasarkan kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dari tahun ke tahun. Dengan kata lain PDRB merupakan tolak ukur perkembangan ekonomi secara regional, yang dapat digunakan sebagai dasar perencanaan

pembangunan Nasional. Pertumbuhan ekonomi regional yang dicerminkan oleh PDRB sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang turut memberi andil dalam pertumbuhan produksi dari masing-masing sektor. Demikian halnya dengan Kabupaten Simalungun. Sebagai salah satu

Kabupaten yang memiliki daerah yang cukup luas di Provinsi Sumatera Utara (Sumut), yaitu dengan luas wilayah 4.386,60 km2 menjadikannya sebagai daerah terluas ketiga setelah kabupaten Madina dan Langkat, serta dengan potensi kekayaan sumberdaya yang melimpah, yakni daerah lahan pertanian dan perkebunan yang luas. Pada tahun 2010 Kabupaten Simalungun tercatat sebagai daerah penghasil padi terbesar di Sumut dengan luas lahan pertanian sebesar 42.344 ha. Daerah perkebunan yg luas juga terdapat di daerah ini, baik

perkebunan jagung luasnya sebesar 14.112 ha, sawit (27.155 ha) , karet (13..280,4 ha), kopi (9.610,3 ha), kakao (5.705,26 ha), cengkeh (442,88 ha), kelapa (2.952,38
4

ha), ubi jalar dan ubi kayu (14.214 ha) teh (3.500 ha) serta komoditi pertanian lainnya, yang terdiri dari perkebunan rakyat yang menjadi komoditas unggulan kabupaten ini. Luas areal hutan seluas 138.741,72 ha yang sangat potensial untuk dikembangkan. Selain itu disektor pariwisata, daerah ini juga memiliki panorama alam yg indah, pegunungan dan keindahan Danau Toba dengan kota Pariwisata Parapat yang mendukung peningkatan pertumbuhan ekonomi wilayah dari sektor jasa. Maka sangat diperlukan berbagai kreatifitas pemerintah daerah Kabupaten Simalungun untuk mengoptimalkan potensi-potensi yang ada di daerah tersebut. Melihat kekayaan sumber daya alam yang melimpah tetapi tidak diikuti oleh pertumbuhan ekonomi yang meyakinkan, atau dengan fakta pertumbuhan ekonomi yang rendah, yaitu pertumbuhan ekonomi yang selalu berada dibawah rata-rata pertumbuhan ekonomi provinsi, maka sangat disayangkan jika potensipotensi besar yang ada di Kabupaten Simalungun tidak bisa mendongkrak pertumbuhan perekonomian wilayah tersebut ketingkat pertumbuhan yang lebih tinggi.

8 7 6 5 4 3 2 1 0 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2.72 3.11 6.2 5.74 5.48 4.76 5.31 4.73 6.9 6.39 5.07 4.92 6.35 5.12 pertumbuhan ekonomi Kabupaten Simalungun pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatera Utara

Sumber : Data diolah dari lampiran Grafik. 1.1 Perbandingan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Simalungun dengan pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara 2004-2010 (persen)

Sebagai daerah terluas ketiga di provinsi Sumut, pada tahun 2010 kabupaten Simalungun hanya menjadi daerah terbesar ke-lima perekonomiannya apabila dilihat dari besarnya PDRB kabupaten/kota. Hal ini mengindikasikan bahwa masih kurang dioptimalkannya pengelolaan potensi-potensi yang ada di kabupaten Simalungun. Berdasarkan pengalaman negara-negara maju, pertumbuhan yang cepat dalam sejarah pembangunan suatu bangsa biasanya berawal dari pengembangan beberapa sektor primer. Pertumbuhan cepat tersebut menciptakan efek bola salju (snow ball effect) terhadap sektor-sektor lainnya, khususnya sektor sekunder.

Maka untuk mengembangkan pertumbuhan ekonomi yang dilihat dari perkembangan PDRB, maka sangat diperlukan pembangunan ekonomi yang mengacu pada sektor unggulan, selain berdampak pada percepatan pertumbuhan ekonomi juga akan berpengaruh pada perubahan mendasar dalam struktur perekonomian wilayah. Manfaat mengetahui sektor unggulan, yaitu mampu

memberikan indikasi bagi perekonomian secara nasional dan regional. Sektor unggulan dipastikan memiliki potensi lebih besar untuk tumbuh lebih cepat

dibandingkan sektor lainnya dalam suatu daerah terutama adanya faktor pendukung terhadap sektor unggulan tersebut yaitu akumulasi modal,

pertumbuhan tenaga kerja yang terserap, dan kemajuan teknologi (technological progress). Penciptaan peluang investasi juga dapat dilakukan dengan

memberdayakan potensi sektor unggulan yang dimiliki oleh daerah yang bersangkutan Sektor-sektor tersebut bukan hanya merupakan penyumbang dalam pembentukan produk nasional maupun domestik, tetapi juga memberikan lapangan kerja utama bagi penduduk. Sektor-sektor perekonomian yang mampu menyerap tenaga kerja dan dapat dijadikan indikasi pertumbuhan ekonomi nasional dan domestik adalah: 1) Sektor Pertanian, 2) Sektor Pertambangan dan Penggalian, 3) Sektor Industri Pengolahan, 4) Sektor Listrik, Gas, dan Air Minum, 5) Sektor Bangunan (Konstruksi), 6) Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran, 7) Sektor Pengangkutan dan Komunikasi, 8) Sektor Keuangan, Asuransi, usaha persewaan dan Real estate,dan 9) Sektor Jasa-jasa lainnya.

Maka dari itu setiap pemerintah daerah harus mengetahui sektor-sektor basis yang menjadi sektor unggulan dalam perekonomian daerah. Karena hal ini sangat erat kaitannya dengan peningkatan pembangunan daerah dan strategi perencanaan yang matang, serta kemampuan pemerintah untuk melihat pergeseran-pergeseran struktur ekonomi dan penyerapan tenaga kerja dari tahun ke tahun. Untuk mengetahuinya pemerintah harus melakukan analisis terhadap sektor-sektor yang menjadi sektor unggulan dalam perekonomian daerah dengan membandingkannya dengan perekonomian daerah yang lebih besar. Dari latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka penulis melakukan penelitian yang berjudul Analisis Penentuan Sektor Unggulan di Kabupaten Simalungun. 1.2 Perumusan masalah Berdasarkan penjelasan diatas, maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah; 1. Bagaimanakah klasifikasi pertumbuhan sektor perekonomian wilayah Kabupaten Simalungun? 2. Sektor-sektor apakah yang menjadi sektor basis dan non basis dalam perekonomian wilayah Kabupaten Simalungun? 3. Bagaimanakah perubahan dan pergeseran sektor perekonomian wilayah Kabupaten Simalungun?

4. Sektor-sektor apakah yang menjadi sektor unggulan perekonomian Kabupaten Simalungun? 1.3 Tujuan Penelitian Dari permasalahan diatas, maka ditetapkan tujuan penelitian sebagai berikut; 1. Untuk mengetahui klasifikasi pertumbuhan sektor perekonomian wilayah Kabupaten Simalungun. 2. Untuk mengetahui sektor basis dan non basis dalam perekonomian wilayah Kabupaten Simalungun. 3. Untuk mengetahui perubahan dan pergeseran sektor perekonomian wilayah Kabupaten Simalungun. 4. Untuk menentukan sektor-sektor unggulan perekonomian wilayah Kabupaten Simalungun. 1.4 Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk; 1. Sebagai bahan informasi dan bahan pertimbangan dalam perencanaan pembangunan ekonomi wilayah Kabupaten Simalungun. 2. Sebagai sumbangan informasi dan bahan bacaan bagi penelitian-penelitian yang akan mengkaji lebih dalam mengenai perekonomian wilayah Kabupaten Simalungun.

3. Sebagai informasi untuk mengkaji lebih lanjut pemanfaatan berbagai sumberdaya dalam masyarakat untuk pengembangan pembangunan wilayah Kabupaten Simalungun. 4. Sebagai tambahan wawasan ilmiah dan ilmu pengetahuan penulis dalam disiplin ilmu yang penulis tekuni.

10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pembangunan Ekonomi Regional Pembangunan ekonomi oleh beberapa ekonom dibedakan pengertiannya dengan pertumbuhan ekonomi. Pembangunan ekonomi diartikan sebagai; a) Peningkatan perkapita masyarakat, yaitu tingkat pertambahan PDB/GNP pada suatu tingkat tertentu adalah melebihi tingkat pertambahan penduduk. b) Perkembangan PDB/GNP yang berlaku dalam dalam suatu daerah/negara diikuti oleh perombakan dan modernisasi struktur ekonominya. Dalam pengertian ekonomi yang murni, pembangunan secara tradisional mengandung pengertian kapasitas perekonomian nasional, yang kondisi awalnya kurang lebih berada dalam keadaan statis untuk jangka waktu yang lama, untuk menghasilkan dan mempertahankan tingkat kenaikan produksi nasional kotor (PNK) sekitar 5 sampai 7 persen atau lebih dalam setiap tahunnya ( Todaro, 2003). Pembangunan biasanya didefinisikan sebagai upaya yang secara sadar dilaksanakan oleh suatu bangsa, negara dan pemerintah dalam rangka pencapaian tujuan nasional, melalui pertumbuhan dan perubahan secara terencana . Jadi tidak ada satu negara yang akan mencapai tujuan nasionalnya tanpa melakukan

berbagai jenis kegiatan pembangunan.

11

Dalam perkembangannya muncul pandangan bahwa tujuan utama dari usaha-usaha pembangunan ekonomi bukan lagi menciptakan tingkat pertumbuhan GNP yang setinggi-tingginya, melainkan penghapusan atau pengurangan tingkat kemiskinan, penanggulangan ketimpangan pendapatan,dan penyediaan lapangan kerja dalam konteks perekonomian yang terus berkembang. Pembangunan harus dimengerti sebagai suatu proses multi-dimensi yang

melibatkan reorganisasi dan reorientasi dari seluruh sistem sosial dan ekonomi yang ada. Selain masalah-masalah yang menyangkut peningkatan pendapatan dan produksi, pembangunan umumnya juga melibatkan perubahan-perubahan yang radikal dalam struktur kelembagaan sosial dan administrasi, dan juga sikap nilainilai bahkan adat kebiasaan dan kepercayaan (Todaro ,2003). Jadi dalam perkembangannya, tiap-tiap negara didunia memiliki sistem dan strategi pembangunan yang berbeda-beda. Hal itu disebabkan oleh perbedaan yang ada diantara tiap negara, baik itu faktor ekonomi maupun faktor nonekonomi. Tujuan yang ingin dicapai dari pembangunan ekonomi yang

diwujudkan dalam berbagai kebijaksanaan, secara umum disimpulkan sebagai berikut; 1. mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi serta pertumbuhan produksi nasional yang cepat. 2. mencapai tingkat kestabilan harga dengan kata lain mengendalikan tingkat inflasi yang terjadi diperekonomian.

12

3. Mengatasi masalah pengangguran dan perluasan kesempatan kerja bagi seluruh angkatan kerja. 4. Distribusi pendapatan yang lebih adil dan merata. Menurut Adisasmita (2008:13); pembangunan wilayah (regional) merupakan fungsi dari potensi sumber daya alam, tenaga kerja dan sumber daya manusia, investasi modal, prasarana dan sarana pembangunan, transportasi dan komunikasi, komposisi industri, teknologi situasi ekonomi dan perdagangan antar wilayah, kemampuan pendanaan dan pembiayaan pembangunan daerah, kewirausahaan (kewiraswastaan),kelembagaan daerah dan lingkungan pembangunan secara luas.

Blakely dalam Kuncoro ( 2004: 100), mendefinsikan

pembangunan

ekonomi daerah sebagai suatu proses dimana pemerintah daerah dan seluruh komponen masyarakat mengelola sumber daya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru dan merangsang perkembangan kegiatan ekonomi dalam daerah tersebut. Jadi secara umum, pengertian pembangunan daerah adalah usaha untuk meningkatkan kualitas dan perikehidupan manusia dan masyarakat daerah yang dilakukan secara terus menerus, berlandaskan kemampuan daerah dan kemampuan nasional, dengan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta memperhatikan tantangan perkembangan daerah, nasional dan global. Pengertian daerah disini mencakup daerah Kabupaten/Kota dan Daerah Provinsi, masing-masing sebagai daerah otonom. Pembangunan daerah adalah kesatuan dari semua kegiatan pembangunan baik yang dibiayai oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, swasta maupun

13

swadaya masyarakat. Pembangunan setiap daerah di Indonesia menjadi tanggung jawab seluruh rakyat Indonesia. Rakyat yang bermukim di Sumatera atau Jawa ikut bertanggung jawab atas pembangunan didaerah Irian, demikian pula sebaliknya. Daerah yang lebih kaya menyumbangkan sebagian penghasilannya untuk membantu pembangunan daerah langsung maupun melaui pusat. Modal dasar pembangunan masing-masing daerah berbeda sesuai dengan keadaan alami dan perubahan yang dilakukan oleh manusia. pembangunan daerah meliputi; a. Keadaan dan fisik daerah, meliputi kedaan topografi, tanah, penyebaran wilayah, letak geografi, hidro-orologi dan ekologi daerah, b. Sumber daya alam potensial dan sumber daya riil yang ada diseluruh wilayah, c. Jumlah dan kemampuan penduduk, d. Keadaan dan sifat sosial budaya, meliputi politik dan geo-politik, budaya serta hubungan timbal balik dengan budaya didaerah sekitarnya, jumlah dan persebaran serta keragaman suku dan adat istiadat penduduk, e. Keadaan ekonomi, meliputi keadaan ekonomi dan serta hubungan ekonomi dengan daerah lain dan hubungan ekonomi antar pelaku ekonomi. f. Lembaga dan aparatur pemerintah daerah, g. Peraturan dan undang-undang yang telah ada. Modal dasar yang jauh lebih miskin, baik secara

14

Keberhasilan pembangunan ekonomi, baik pembangunan ekonomi daerah maupun pembangunan ekonomi nasional, ditentukan oleh lima (5) faktor utama, yakni; 1. Keadaan daerah, meliputi keadaan sosial, politik, budaya, keamanan, fisik daerah dan sarana umum. 2. Rencana pembangunan, meliputi tujuan, sasaran dan target pembangunan, strategi dan rencana pelaksana. 3. Sarana pembangunan, meliputi kelembagaan, dana dan sumberdaya manusia serta sumber daya alam yang tersedia. 4. Pengaruh luar, meliputi pengaruh keadaan sosial politik, ekonomi dan keamanan dunia serta kekuatan yang secara khusus mempengaruhi, dan keadaan nasional bagi pembangunan daerah,. 5. Pelaksanaan, meliputi pelaksanaan ketentuan-ketentuan serta pengaturan dan pelaksanaanrencana pembangunan. 2.2 Pertumbuhan Ekonomi Regional Kuznets dalam Jhingan (2000;53) mendefinisikan; pertumbuhan ekonomi sebagai kenaikan jangka panjang dalam kemampuan suatu negara untuk menyediakan semakin banyak jenis barang-barang ekonomi kepada penduduknya; kemampuan ini tumbuh sesuai dengan kemajuan teknologi, dan penyesuaian kelembagaan dan ideologis yang diperlukannya. Defenisi ini memiliki 3 (tiga) komponen; pertama, pertumbuhan ekonomi suatu bangsa terlihat dari meningkatnya secara terus menerus persediaan barang; kedua, teknologi maju merupakan faktor dalam pertumbuhan ekonomi yang menentukan derajat pertumbuhan kemampuan dalam penyediaan aneka macam barang kepada penduduk; ketiga , penggunaan teknologi secara luas dan
15

efisien memerlukan adanya penyesuaian dibidang kelembagaan dan ideologi sehingga inovasi yang dihasilkan ilmu pengetahuan ummat manusia dapat dimanfaatkan secara tepat.

Pertumbuhan pembangunan wilayah

ekonomi

merupakan

unsur

penting

dalam

proses

yang masih merupakan target utama dalam rencana Pertumbuhan ekonomi adalah pendapatan

pembangunan disamping pembangunan sosial.

proses dimana terjadi kenaikan produk nasional bruto riil atau

nasional riil. Suatu perekonomian dikatakan mengalami pertumbuhan atau perkembangan jika tingkat kegiatan ekonominya meningkat atau lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Atau dalam bahasa lain,

perkembangannya baru terjadi bila jumlah barang dan jasa secara fisik yang dihasilkan perekonomian tersebut bertambah besar pada tahun-tahun berikutnya. Indikator keberhasilan pembangunan ekonomi suatu daerah dapat ditunjukkan oleh pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi adalah pertumbuhan

pendapatan masyarakat secara keseluruhan sebagai cerminan kenaikan seluruh nilai tambah ( value added) yang tercipta disuatu daerah. Pertumbuhan ekonomi (Economic Growth) juga merupakan perubahan nilai kegiatan ekonomi dari tahun ke tahun untuk satu periode ke periode yang lain dengan mengambil rata-ratanya dalam waktu yang sama, maka untuk mengatakan tingkat pertumbuhan ekonomi harus dibandingkan dengan tingkat pendapatan nasional dari tahun ketahun. Berikut adalah beberapa teori yang terkait langsung dengan kebijakan yang dapat ditempuh oleh pemerintah daerah;

16

2.2.1

Teori Ekonomi Klasik Yang mencakup teori pertumbuhan dari Adam Smith, David Ricardo,

Thomas Robert Malthus, dan John Stuart Mill. Pencetus teori ekonomi klassik adalah Adam Smith. Adam Smith membagi tahapan pertumbuhan ekonomi

menjadi 5 tahap yang berurutan yang dimulai dari masa berburu, masa beternak, masa bercocok tanam, masa berdagang, dan tahap industri. Menurut teori ini, masyarakat akan bergerak dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern yang kapitalis. Dalam prosesnya, pertumbuhan ekonomi akan semakin terpacu dengan adanya sistem pembagian kerja antar pelaku ekonomi. Dalam hal ini, pekerja adalah sebagai salah satu input bagi proses proses poduksi. Inti dari ajaran Smith adalah agar masyarakat diberi kebebasan seluas-luasnya dalam menentukan kegiatan ekonomi apa yang dirasanya terbaik untuk dilakukannya. Smith sistem ekonomi pasar bebas akan menciptakan Menurut

efisiensi, membawa

ekonomi pada kondisi full employment dan menjamin pertumbuhan ekonomi sampai tercapai posisi stasioner (stationary state). Posisi ini akan terjadi apabila sumberdaya alam telah termanfaatkan secara keseluruhan. Dalam hal ini, pemerintah tidak terlalu dominan dalam mencampuri urusan ekonomi. fasilitas Tugas pemerintah adalah menciptakan kondisi yang mendorong pihak swasta berperan dan menyediakan optimal dalam

perekonomian.Menurut teori ini juga, akumulasi akan menentukan cepat lambatnya pertumbuhan ekonomi yang terjadi pada suatu daerah. Proses

pertumbuhan akan terjadi secara simultan dan memiliki hubungan keterkatitan satu sama lainnya.

17

David Ricardo mengatakan bahwa peranan teknologi akan dapat menghambat berlangsungnya the law of diminishing return, meskipun dasarnya teknologi itu memiliki sifat kaku, dan hanya berubah dalam jangka panjang. Teori pertumbuhan ekonomi klassik dilambangkan oleh fungsi; O = Y = f (K,L,R,T) Dimana; O = Output Y = Pendapatan K = Kapital ( modal) L = Labor ( tenaga kerja) R = Tanah T = teknologi

2.2.2

Teori Pertumbuhan Neo-Klassik Teori ini diwakili oleh teori pertumbuhan Alfred Marshall, Robert M

Solow, Joseph Scumpeter, dan Trevor Swan.

Model Solow dan Swan,

menggunakan unsur pertumbuhan penduduk akumulasi kapital, kemajuan teknologi dan besarnya output yang saling berinteraksi. Teori neo-klasik sebagai penerus dari teori ekonomi klasik menganjurkan agar kondisi selalu diarahkan untuk menuju pasar sempurna. Paham neo-klasik melihat peran kemajuan

teknologi/ inovasi sangat besar dalam memacu pertumbuhan wilayah. Oleh sebab itu pemerintah perlu mendorong kretivitas dalam masyarakat. Analisis paham ini menunjukkan bahwa bahwa untuk terciptanya suatu pertumbuhan yang mantap

18

(steady growth) diperlukan suatu tingkat saving yang tepat dan seluruh keuntungan pengusaha dalam suatu wilayah di investasikan kembali diwilayah tersebut. Menurut Suryana dalam Adearman (2006), pendapat neo-klasik tentang perkembangan ekonomi dapat diikhtisarkan sebagai berikut; 1. Adanya akumulasi kapital merupakan penting dalam pembangunan ekonomi; 2. Perkembangan merupakan proses yang gradual; 3. Perkembangan merupakan proses yang harmonis dan kumulatif; 4. Adanya pikiran yang optimis terhadap perkembangan; 5. Aspek internasional merupakan faktor dalam perkembangan. 2.2.3 Teori Basis Ekspor (Ekspor Base Theory) Teori basis ekspor (ekspor base theory) merupakan bentuk model pendapatan regional yang paling sederhana. Penganjur pertama teori ini adalah Tiebout yang dalam perkembangannya dikembangkan lagi oleh Richardson. Perbedaan pandangan antara Tiebout dan Richardson adalah, Tiebout melihat teori basis dari sisi produksi sedangkan Richardson melihatnya dari sisi pengeluaran. Teori ini membagi kegiatan produksi/jenis pekerjaan yang terdapat dalam satu wilayah atas; pekerjaan basis (dasar) dan pekerjaan services (pelayanan) atau non basis. Asumsi pokok dari teori ini menurut Richardson; bahwa ekspor adalah satu-satunya unsur otonom dalam pengeluaran. Semua komponen pengeluaran lainnya dianggap sebagai fungsi dari pendapatan, dan fungsi pengeluaran serta

19

fungsi impor kedua-duanya diasumsikam tidak mempunyai intersep tetapi bertolak dari titik nol. Jadi secara tidak langsung hal ini berarti diluar

pertambahan alamiah, hanya peningkatan ekspor saja yang dapat mendorong peningkatan pendapatan daerah karena sektor lain terikat peningkatannya oleh peningkatan pendapatan daerah. Strategi pembangunan daerah yang dihasilkan dari teori ini adalah adanya penekanan terhadap pentingnya bantuan kepada dunia usaha yang mempunyai pasar secara nasional maupun internasional. Implementasinya kebijakan yang mencakup pengurangan atau penghapusan hambatan dan batasan terhadap perusahaan-perusahaan yang berorientasi ekspor yang ada dan akan didirikan didaerah itu. 2.2.4 Teori Pertumbuhan Jalur Cepat Yang Disenergikan (Turnpike) Teori yang diperkenalkan oleh Samuelson (1955), mengatakan bahwa setiap negara/wilayah perlu melihat sektor/komoditi apa yang memiliki potensi besar dapat dikembangkan dengan cepat, baik karena potensi alam maupun karena sektor itu memiliki competitive advantage untuk dikembangkan. Artinya, dengan jumlah modal yang sama sektor tersebut dapat memberikan milai tambah yang lebih besar, dapat berproduksi dalam waktu yang relatif singkat dan volume sumbangan untuk perekonomian juga cukup besar. Perkembangan sektor tersebut akan mendorong sektor lain turut berkembang sehingga perekonomian secara keseluruhan akan tumbuh. Menggabungkan jalur cepat (turnpike), dan

mensinergikannya dengan sektor lain yang terkait akan mampu membuat perekonomian tumbuh cepat.

20

2.2.5

Teori Pusat Pertumbuhan (Growth Poles Theory) Growth Poles Theory adalah salah satu teori yang dapat menggabungkan

antara prinsip-prinsip konsentrasi dengan desentralisasi. Dengan demikian teori pusat pengembangan adalah salah satu alat untuk mencapai tujuan pembangunan regional yang saling bertolak belakang, yaitu pertumbuhan dan pemerataan pembangunan keseluruh pelosok daerah. Secara fungsional, pusat pertumbuhan adalah suatu lokasi konsentrasi kelompok usaha atau cabang industri yang

karena sifat hubungannya memiliki unsur-unsur kedinamisan sehingga mampu menstimulasikan kehidupan ekonomi baik kedalam maupun keluar (daerah belakangnya). Secara geografis, pusat pertumbuhan adalah suatu lokasi yang banyak memiliki fasilitas dan kemudahan sehingga menjadi pusat daya tarik (pole of attraction), yang menyebabkan berbagai macam usaha tertarik untuk berlokasi disitu dan masyarakat senang datang memanfaatkan fasilitas yang ada dikota tersebut. Bila kegiatan industri (ekonomi) yang saling berkaitan dikonsentrasikan pada suatu tempat tertentu maka pertumbuhan ekonomi dari daerah yang bersangkutan akan dapat ditingkatkan lebih cepat dibandingkan kalau industri tersebut tersebar Sirozujilam). Dengan demikian apabila sebuah pusat pegembangan didirikan pada suatu daerah yang relatif masih kurang berkembang dibandingkan dengan daerahdaerah lainnya, maka daerah yang bersangkutan akan dapat ditingkatkan sehingga perbedaan kemakmuran antar daerah secara bertahap akan dapat dikurangi. dan terpencar diseluruh pelosok daerah (Richardson dalam

21

2.3

Pendapatan Regional kebijakan pembangunan ekonomi adalah untuk menciptakan

Tujuan

kemakmuran. Salah satu ukuran kemakmuran yang terpenting adalah pendapatan. Kemakmuran tercipta karena ada kegiatan yang menghasilkan pendapatan (Tarigan,2005;13). Menurut Tarigan (2005;13); pendapatan regional adalah tingkat (besarnya) pendapatan masyarakat pada wilayah analisis. Tingkat pendapatan dapat diukur dari total pendapatan wilayah maupun pendapatan rata-rata masyarakat pada wilayah tersebut. Menganalisis suatu region atau membicarakan pembangunan regional tidak mungkin terlepas dari membahas tingkat pendapatan masyarakat di wilayah tersebut. Ada beberapa parameter yang digunakan untuk mengukur adanya pembangunan wilayah. Salah satu parameter terpenting adalah meningkatnya pendapatan masyarakat. Parameter lain, seperti peningkatan lapangan pekerjaan dan pemerataan pendapatan juga sangat terkait dengan peningkatan pendapatan wilayah.

Berbagai konsep yang biasa dipakai dalam membicarakan pendapatan regional adalah (Tarigan, 2005); 1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Produk domestik regional bruto atas harga pasar adalah jumlah nilai

tambah bruto (gross value added) yang timbul dari seluruh sedktor perekonomian diwilayah itu. Nilai tambah bruto adalah nilai produksi (output) dikurangi dengan biaya antara (intermediate cost). Nilai tambah bruto mencakup komponen-komponen faktor pendapatan (upah dan gaji, bunga, sewa tanah, dan keuntungan), penyusutan, dan pajak tidak langsung netto. Jadi dengan menghitung nilai tambah bruto dari masing-masing

22

sektor dan menjumlahkannya, akan menghasilkan produk domestik regional bruto atas dasar harga pasar. PDRB adalah salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi disuatu wilayah/provinsi dalam suatu periode tertentu. Menurut Adiatmojo (2003) , dalam pembangunan berkelanjutan PDRB adalah suatu indikator untuk menunjukkan laju pertumbuhan ekonomi suatu daerah secara sektoral, sehingga dapat dilihat penyebab pertumbuhan ekonomi wilayah tersebut. 2. Produk Domestik Regional Bruto (PDRN) atas Dasar Harga Pasar PDRN atas dasar harga pasar adalah produk domestik regional bruto atas dasar harga pasar dikurangi penyusutan. Penyusutan yang dimaksud adalah nilai susut (aus) atau pengurangan nilai barang-barang modal (mesinmesin, peralatan, kendaraan, dan lainnya) karena barang-barang modal tersebut terpakai dalam proses produksi atau karena faktor waktu. Jika nilai susut barang-barang modal dari seluruh sektor ekonomi dijumlahkan, hasilnya merupakan penyusutan keseluruhan. 3. Produk Domestik Regional Netto (PDRN) atas Dasar Biaya Faktor PDRN atas dasar biaya faktor adalah PDRN atas dasar harga pasar dikurangi pajak tak langsung neto. Pajak tak langsung meliputi pajak

penjualan, bea ekspor, bea cukai, dan pajak lain-lain, kecuali pajak pendapatan dan pajak perseroan. Kalau produk domestik regional netto atas dasar harga pasar dikurangi dengan pajak tidak langsung netto,

hasilnya adalah produk domestik regional netto atas dasar biaya faktor.

23

Metode perhitungan pendapatan regional dapat dibagi dalam dua metode, yaitu metode langsung dan metode tidak langsung. Metode langsung adalah perhitungan dengan menggunakan data daerah atau data asli yang

menggambarkan kondisi daerah dan digali dari sumber data yang ada didaerah itu. Metode langsung dapat digunakan dengan tiga macam cara, yaitu; 1. Pendekatan Produksi Pendekatan produksi adalah penghitungan nilsai tambah barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu kegiatan/sektor ekonomi dengan cara

mengurangkan biaya antara dari total nilai produksi bruto sektor atau subsektor tersebut. Pendekatan ini banyak digunakan untuk

memperkirakan nilai tambah dari sektor/kegiatan yang produksinya berbentuk fisik/barang,seperti pertanian, pertambangan, dan industri sebagainya. Nilai tambah merupakan selisih antara nilai produksi (out put) dan nilai biaya antara (intermediate cost), yaitu bahan baku/penolong dari luar yang dipakai dalam proses produksi. Nilai tambah itu sama dengan balas jasa atas ikut sertanya berbagai faktor produksi dalam berbagai proses produksi. 2. Pendekatan Pendapatan Dalam pendekatan pendapatan, nilai tambah dari setiap kegiatan ekonomi diperkirakan dengan menjumlahkan semua balas jasa yang diterima faktor produksi, yaitu upah dan gaji dan surplus usaha,penyusutan, dan pajak tidak langsung neto. Metode pendekatan pendapatan banyak dipakai pada sektor jasa, tetapi tidak dibayar dengan harga setara pasar, misalnya sektor

24

pemerintah. Hal ini disebabkan kurang lengkapnya data dan tidak adanya metode yang akurat yang dapat dipakai dalam mengukur nilai produksi dan biaya antara dari berbagai kegiatan jasa, terutama kegiatan yang tidak mengutip biaya. 3. Pendekatan Pengeluaran Pendekatan dari segi pengeluaran adalah menjumlahkan nilai penggunaan akhir dari barang jasa yang diproduksi didalam negeri. Kalau dilihat dari segi penggunaan maka total penyediaan/produksi barang dan jasa itu untuk; a. Konsumsi rumah tangga b. Konsumsi lembaga swasta yang tidak mencari untung c. Konsumsi pemerintah d. Pembentukan modal tetap bruto (investasi) e. Perubahan stok f. Ekspor neto Sebetulnya pendekatan pengeluaran juga menghitung apa yang diproduksi diwilayah tersebut tetapi hanya yang menggunakan konsumsi atau penggunaan akhir. Berbeda dengan pendekatan produksi, pendekatan pengeluaran tidak

menimbulkan perhitungan ganda karena apa yang telah dikonsumsi seseorang atau lembaga sebagai konsumsi akhir tidak akan lagi dapat dikonsumsi orang atau lembaga lain. Dalam pendekatan produksi apa yang diproduksi suatu produsen masih mungkin menjadi bagian dari produksi lain karena dijadikan bahan baku.

25

Dengan demikian, penggunaan bahan dari sektor lain harus dikeluarkan terlebih dahulu agar tidak terjadi perhitungan ganda. Sementara itu, metode tidak langsung adalah perhitungan dengan mengalokasikan pendapatan nasional menjadi pendapatan regional, atau dalam kata lain, metode tidak langsung adalah suatu cara mengalokasikan produk domestik bruto dari wilayah yang lebih luas ke masing-masing bagian wilayahnya, misalnya mengalokasikan PDB Indonesia kesetiap provinsi dengan menggunakan alokator tertentu, alokator yang dapat digunakan,yaitu; a. Nilai produksi bruto atau neto setiap sektor/subsektor, pada wilayah yang dialokasikan b. Jumlah produksi fisik c. Tenaga kerja d. Penduduk e. Alokator tidak langsung lainnya Dengan menggunakan salah satu atau kombinasi dari beberapa alokator dapat diperhitungkan persentase bagian masing-masing provinsi terhadp nilai tambah setiap sektor dan subsektor. Metode ini terkadang terpaksa digunakan karena adanya kegiatan usaha yang lokasinya ada di beberapa wilayah, sedangkan pencatatan yang lengkap hanya dilakukan dikantor pusat. 2.4 Sektor Unggulan

Menurut Sambodo dalam Harisman 2007; Sektor unggulan adalah sektor yang salah satunya dipengaruhi oleh faktor anugerah (endowment factors). Selanjutnya faktor ini berkembang lebih lanjut melalui kegiatan investasi dan menjadi tumpuan kegiatan ekonomi. Kriteria sektor unggulan akan sangat

26

bervariasi. Hal ini didasarkan atas seberapa besar peranan sektor tersebut dalam perekonomian daerah, diantaranya : pertama, sektor unggulan tersebut memiliki laju pertumbuhan yang tinggi; kedua, sektor tersebut memiliki angka penyerapan tenaga kerja yang relatif besar; ketiga, sektor tersebut memiliki keterkaitan antar sektor yang tinggi baik ke depan maupun ke belakang; keempat, dapat juga diartikan sebagai sektor yang mampu menciptakan nilai tambah yang tinggi.

Dalam pengembangan wilayah/daerah, pengembangan tidak dapat dilakukan serentak pada semua sektor perekonomian akan tetapi diprioritaskan pada pengembangan sektor-sektor yang potensi berkembangnya cukup besar, atau biasa disebut sebagai sektor unggulan. Karena sektor ini diharapkan dapat

tumbuh dan berkembang pesat yang akan merangsang sektor-sektor lain yang terkait untuk berkembang mengimbangi sektor potensial tersebut. Perkembangan ekonomi suatu wilayah membangun suatu aktivitas perekonomian yang mampu tumbuh dengan pesat dan memiliki keterkaitan yang tinggi dengan sektor lain sehingga membentuk forward linkage dan backward linkage. Pertumbuhan yang cepat dari sektor potensial tersebut akan mendorong polarisasi dari unit-unit ekonomi lainnya yang pada akhirnya secara tidak langsung sektor perekonomian lainnya akan mengalami perkembangan. Menurut pemikiran ekonomi klasik bahwa pembangunan ekonomi didaerah yang kaya sumber daya alamnya akan lebih maju dan masyarakatnya lebih makmur dibandingkan didaerah miskin sumber daya alam. Perbedaan

tingkat pembangunan yang didasarkan atas potensi suatu daerah, berdampak terjadinya perbedaan sektoral dalam pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Secara hipotesis dapat dirumuskan bahwa semakin besar peranan potensi sektor ekonomi yang memiliki nilai tambah terhadap pembentukan atau

27

pertumbuhan PDRB disuatu daerah, maka semakin tinggi laju pertumbuhan PDRB daerah tersebut. Menurut Rachbini dalam Fachrurrazy (2009) ada empat syarat agar suatu sektor tertentu menjadi sektor prioritas, yakni; 1. Sektor tersebut harus menghasilkan produk yang mempunyai permintaan yang cukup besar, sehingga laju pertumbuhan berkembang cepat akibat dari efek permintaan tersebut. 2. Karena ada perubahan teknologi yang teradopsi secara kreatif, maka fungsi produksi baru bergeser dengan pengembangan kapasitas yang lebih luas. 3. Harus terjadi peningkatan investasi kembali dari hasil-hasil produksi sektor yang menjadi prioritas tersebut, baik swasta maupun pemerintah. 4. Sektor tersebut harus berkembang, sehingga mampu memberi pengaruh terhadap sektor-sektor lainnya.

2.5

Teori Basis Ekonomi ( Economic Base Theory) Bendavid-Vall dalam Sirojuzilam, (2005) mengatakan ; Secara umum dan sederhana, basis ekonomi wilayah diartikan sebagai sektor-sektor ekonomi yang aktivitasnya menyebabkan suatu wilayah itu tetap hidup, tumbuh, dan berkembang atau sektor ekonomi yang pokok disuatu wilayah yang dapat menghidupi wilayah tersebut beserta masyarakatnya. Sedangkan menurut teori basis ekonomi, pertumbuhan dan perkembangan suatu wilayah tergantung kepada adanya permintaan dari luar terhadap produksi wilayah tersebut, sehingga perekonomian dibagi menjadi sektor basis atau basis ekspor dan sektor non-basis. Sektor basis yang mengekspor produksinya keluar wilayah disebut sebagai basis ekonomi. Apabila permintaan dari luar wilayah terhadap sektor basis meningkat, maka sektor basis tersebut berkembang dan pada gilirannya dapat membangkitkan pertumbuhan

28

dan perkembangan sektor-sektor non-basis didalam wilayah yang bersangkutan, sehingga akhirnya mengakibatkan berkembangnya wilayah yang bersangkutan.

Dalam kegiatan ekonomi, perekonomian regional dapat dibagi menjadi dua sektor : kegiatan-kegiatan basis ( basic activities) dan kegiatan bukan basis (non-basic activities). Kegiatan basis (basic activities) adalah kegiatan-kegiatan yang mengekspor barang-barang dan jasa-jasa ketempat diluar batas-batas perekonomian masyarakat yang bersangkutan, atau yang memasarkan barangbarang dan jasa-jasa mereka kepada orang-orang yang datang dari luar batas perekonomian masyarakat yang bersangkutan. Kegiatan bukan basis (non-basic activities) adalah kegiatan-kegiatan yang menyediakan barang-barang atau jasa yang dibutuhkan oleh orang-orang yang bertempat tinggal didalam batas-batas perekonomian yang bersangkutan. Kegiatan ini tidak mengekspor barang-barang jadi; luas lingkup produksi mereka adalah bersifat lokal (Glasson,1977). Meningkatnya kegiatan basis dalam suatu wilayah akan menambah arus pendapatan kedalam wilayah yang bersangkutan, menambah permintaan terhadap barang-barang dan jasa-jasa didalamnya, menimbulkan volume kegiatan non basis dan begitu juga sebaliknya. Peningkatan kegiatan basis disebabkan oleh; a. Perkembangan jaringan pengangkutan dan komunikasi b. Peningkatan pendapatan atau permintaan dari luar wilayah, c. Perkembangan teknologi dan usaha-usaha pemerintah pusat atau daerah setempat untuk mengembangkan prasarana sosial ekonomi. dan daerah pasar mereka yang terutama

29

Dengan demikian, kegiatan sektor basis mempunyai peranan sebagai penggerak pertama (prime mover role), dimana setiap perubahan dalam kegiatan ekonomi tersebut akan mempunyai efek pengganda terhadap perubahan perekonomian wilayah (Richardson dalam Sirojuzilam, 2005). Untuk mengetahui apakah suatu sektor merupakan sektor basis atau non basis dapat digunakan beberapa metode, yaitu metode pengukuran langsung dan metode pengukuran tidak langsung. Metode pengukuran langsung dapat

dilakukan dengan melakukan survey langsung untuk mengidentifikasikan sektor mana yang merupakan sektor basis. Metode ini dilakukan untuk menentukan sektor basis dengan tepat, akan tetapi memerlukan biaya, waktu dan tenaga yang cukup besar. Oleh karena itu maka sebagian pakar ekonomi menggunakan

metode pengukuran tidak langsung, yang terdidiri atas beberapa metode,yaitu; 1. Metode Arbritrer, dilakukan dengan cara membagi secara langsung kegiatan perekonomian kedalam kategori ekspor dan non ekspor tanpa melakukan penelitian secara spesifik ditingkat lokal. Metode ini tidak memperhitungkan adanya kenyataan bahwa dalam sesuatu kelompok industri/kegiatan ekonomi bisa terdapat industri-industri yang

menghasilkan barang yang sebagian di ekspor atau dijual kepada lokal atau duanya. 2. Metode Location Quotient (LQ), merupakan suatu alat analisa untuk melihat peranan sektor tertentu dalam suatu wilayah dengan peranan sektor tersebut dalam wilayah yang lebih luas. Asumsi yang digunakan adalah produktivitas rata-rata/konsumsi rata-rata antar wilayah yang

30

sama. Analisis LQ dimaksudkan untuk mengidentifikasi dan merumuskan komposisi dan pergeseran sektor-sektor basis suatu wilayah dengan menggunakan produk domestik regional bruto(PDRB) sebagai indikator pertumbuhan wilayah. Metode LQ ini sangat sederhana dan banyak

digunakan dalam analisis sektor-sektor basis dalam suatu daerah. Walaupun teori ini mengandung kelemahan, namun sudah banyak studi empirik yang dilakukan dalam usaha-usaha memisahkan sektor basis dan non basis. Karena disamping memiliki kelemahan, metode ini juga

mempunyai dua kebaikan penting, pertama ia memperhitungkan ekspor tidak langsung dan ekspor langsung. Kedua metode ini tidak mahal dan dapat pada data historik untuk mengetahui trend (Prasetyo dalam Nudiathulhuda, 2007). 3. Metode Kebutuhan Minimum (minimium requirements) adalah modifikasi dari metode LQ dengan menggunakan distribusi minimum dari employment yang diperlukan untuk menopang industri regional dan

bukannya distribusi rata-rata. Metode ini sangat tergantung pada pemilihan persentase minimum dan tingkat disagregasi. Disagregasi yang terlalu terperinci dapat mengakibatkan hampir semua sektor menjadi basis atau ekspor. Persentase minimium ini dipergunakan sebagai batas dan semua employment didaerah-daerah lain yang lebih tinggi dari persentase dipandang sebagai employment basis. Proses ini dapat diulangi untuk setiap industri didaerah bersangkutan basis total. untuk memperoleh employment

31

Dari ketiga metode tersebut Glasson dan Richardson menyarankan metode LQ dalam menentukan sektor basis. Richardson menyatakan bahwa teknik LQ adalah yang paling lazim digunakan dalam studi-studi basis empirik. Asumsinya adalah jika suatu daerah lebih berspesialisasi dalam memproduksi suatu barang tertentu, maka wilayah tersebut mengekspor barang tersebut sesuai dengan tingkat spesialisasinya dalam memproduksi barang tersebut. Analisis basis dan non basis pada umumnya didasarkan atas nilai tambah atau lapangan kerja. Penggabungan lapangan kerja basis dan lapangan kerja non basis merupakan total lapangan kerja yang tersedia untuk wilayah tersebut. Demikian pula penjumlahan pendapatan sektor basis dan pendapatan sektor non basis. Teori basis ini mempunyai kebaikan mudah ditetapkan, sederhana dan dapat menjelaskan struktur perekonomian suatu daerah dan dampak umum dari perubahan-perubahan jangka pendek. Keterbatasan teori ini tidak terlalu ketat dan dapat menjadi landasan yang sangat bermanfaat bagi peramalan jangka pendek.

2.6

Perencanaan Pembangunan Wilayah Perencanaan pembangunan wilayah adalah merupakan upaya terorganisir

untuk menetapkan sasaran pembangunan ekonomi wilayah, mengumpulkan dan menganalisa informasi, dan membangkitkan dan mengevaluasi berbagai aktivitas dalam kerangka pembangunan wilayah strategis (Sirojuzilam, 2008). Perencanaan pembangunan wilayah menimbulkan proyek-proyek yang banyak melibatkan aksi sektor publik atau sektor publik yang dijalankan oleh

32

organisai non pemerintah.

Pengalaman menunjukkan bahwa pembangunan

ekonomi yang efisien melibatkan pengenalan peran yang sesuai dari sektor publik dan swasta, dan meningkatkan kemampuan kedua sektor itu dalam menjalankan peran masing-masing secara efektif. Meski selalu ada peran yang legitimasi bagi kedua sektor tersebut, tapi peran itu bisa bervariasi antar satu wilayah dengan wilayah lain dan terus mengalami perubahan. Perencanaan wilayah mencakup pada berbagai segi kehidupan yang bersifat komprehensif dan satu sama lain saling bersentuhan, yang semuanya bermuara pada upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Berbagai faktor dalam kehidupan seperti ekonomi, politik, sosial dan budaya maupun adat istiadat berbaur dalam sebuah perencanaan wilayah, yang cukup kompleks. Semua faktor harus dipertimbangkan dan diupayakan berjalan seiring dan saling mendukung. Perencanaan wilayah diharapkan akan dapat menciptakan sinergi bagi

memperkuat posisi pengembangan dan pembangunan wilayah dari berbagai daerah sekitarnya (Miraza,2006). Sudut pandang yang berbeda tentang perencanaan dikemukakan oleh John Friedmen. Menurut Friedman (1987); Planning is primarily a way of thingking about social and economic problems, planning is oriented predominantly toward the future, is deeply concerned with the relation of goals to collective decisions and strives for comprehensiveness in policy and program Friedman melihat perencanaan memerlukan pemikiran yang mendalam dan melibatkan banyak pihak sehingga hasil yang diperoleh dan cara memperoleh

33

hasil itu dapat diterima oleh masyarakat. Hal ini berarti perencanaan sosial dan ekonomi harus memperhatikan aspirasi masyarakat dan melibatkan masyarakat baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Perlu dicatat bahwa definisi Friedmen ini terkait dengan perencanaan pembangunan ekonomi wilayah di negara maju, dimana perencanaan itu merupakan kesepakatan antara pemerintah dan masyarakat. Perencanaan sebenarnya merupakan suatu proses yang berkesinambungan dari waktu kewaktu dengan melibatkan kebijaksanaan dari pembuat keputusan berdasarkan sumber daya yang tersedia dan disusun secara sistematis. Maka pelaksanaan perancangan pembuatan perencanaan itu pada dasarnya adalah mengambil suatu kebijakan dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut; a. Perencanaan berarti memilih berbagai alternatif dari yang terbaik dari sejumlah alternatif yang ada. b. Perencanaan berarti pula alokasi sumber daya yang tersedia baik sumber daya alam maupun sumberdaya manusia. c. Perencanaan mengandung arti rumusan yang sistematis yang didasarkan pada kepentingan masyarakat banyak. d. Perencanaan juga menyangkut tujuan atau sasaran yang harus dicapai. e. Perencanaan juga dapat diartikan atau dikaitkan dengan kepentingan masa depan. Dalam pengertian lain, arti perencanaan adalah suatu proses untuk mempersiapkan secara sistematis dengan kesadaran penggunaan sumber daya yang terbatas akan tetapi diorientasikan untuk mencapai tujuan secara efektif dan

34

efisien, dimana umtuk mencapai tujuan diperlukan perumusan kebijakan (policy formulation) yang akurat. Oleh karena itu beberapa hal yang perlu diketahui sebelum memulai perencanaan pembangunan adalah; 1. Permasalahan yang dihadapi sangat terkait dengan faktor ketersediaan sumber daya yang ada 2. Tujuan serta sasaran rencana yang ingin dicapai oleh pelaksana. 3. Kebijakan dan cara mencapai tujuan maupun sasaran berdasarkan alternatif yang dipandang paling baik. 4. Penjabaran dalam program-program atau kegiatan yang kongkrit. 5. Jangka waktu pencapaian,yang harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: adanya koordinasi antara berbagai pihak; adanya konsistensin dengan variabel sosial ekonomi; Adanya penetapan skala prioritas. Melalui perencanaan pembangunan regional, wilayah diperhatikan secara keseluruhan, yaitu sebagai suatu entitas ekonomi dengan unsur-unsur interaksi yang beragam. Perencanaan adalah intervensi pada rangkaian kejadian-kejadian sosial kemasyarakatan dengan maksud untuk memperbaiki rangkaian kejadian dan aktivitas yang ada dengan maksud; 1. Meningkatkan efisiensi dan rasionalitas 2. Meningkatkan peran kelembagaan dan profesionalitas 3. Merubah atau memperluas pilihan-pilihan untuk menuju tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi bagi seluruh warga masyarakat.

35

Menurut Kuncoro dalam Safii (2007), setidaknya ada tiga unsur dasar dari perencanaan pembangunan ekonomi daerah jika dikaitkan dengan hubungan pusat dan daerah; 1. Perencanaan pembangunan ekonomi daerah yang yang realistik

memerlukan pemahaman tentang hubungan antar daerah dengan lingkungan nasional dimana daerah tersebut merupakan bagian darinya, keterkaitan secara mendasar antara keduanya, dan konsekuensi akhir dari interaksi akhir. 2. Sesuatu yang baik tampaknya secara nasional belum tentu baik untuk daerah, dan sebaliknya baik untuk daerah belum tentu baik secara nasional. 3. Perangkat kelembagaan yang tersedia untuk pembangunan daerah

misalnya, adaministrasi, proses pengambilan keputusan, otoritas biasanya sangat berbeda pada tingkat daerah dengan yang tersedia pada tingkat pusat. Derajat pengendalian kebijakan sangat berbeda pada dua tingkat tersebut. Perencanaan daerah yang efektif harus menggunakan berbagai sumber daya pembangunan yang sebaik mungkin yang benar-benar dapat dicapai, dan mengambil manfaat dari informasi lengkap dan tersedia pada tingkat daerah karena kedekatan para perencananya perencanaan. dengan objek

Menurut Arsyad dalam Fachrurrazy (2009), fungsi-fungsi perencanaan pembangunan secara umum adalah;

36

1. Dengan perencanaan, diharapkan terdapatnya suatu pengarahan kegiatan, adanya pedoman bagi pelaksanaan kegiatan-kegiatan 2. Dengan perencanaan, dapat dilakukan suatu perkiraan potensi-potensi, prosek-prospek pengembangan, hambatan, serta resiko yang mungkin dihadapi pada masa yang akan datang. 3. Perencanaan memberikan kesempatan untuk mengadakan pilihan yang terbaik. 4. Dengan perencanaan, dilakukan penyusunan skala prioritas pentingnya tujuan. 5. Perencanaan sebagai alat untuk mengukur atau standaruntuk mengadakan evaluasi. dari segi

Untuk melakukan penyusunan terhadap perencanaan pembangunan daerah maka pertama kali diperlukan suatu identifikasi masalah dan potensi-potensi pembangunan daerah. Identifikasi ini merupakan kegiatan dalam proses

perencanaan (pre-planning) dengan memberikan gambaran yang menyeluruh tentang sifat atau karakter,tingkat, struktur dan arah kegiatan sosial ekonomi pembangunan daerah. Setelah itu dilihat basic contraints-nya, menganalisis

potensi dan masalah secara menyeluruh, masalah-masalah sektoral, masalahmasalah regional yang disertai dengan data angka secara kuantitatif sebagai bekal melakukan penyusunan perencanaan pembangunan daerah. Tahapan berikutnya adalah melakukan proyeksi untuk kebijakan prospek daerah secara jangka panjang. Kegiatan proyeksi ini meliputi bidang ekonomi yang terdiri dari faktor-

37

faktor produksi, permodalan, tabungan, konsumsi, investasi, ekspor dan impor dan lain-lain, sumberdaya material termasuk peralatan dasar, kegiatan sektor swasta atau ekonomi masyarakat dalam kelembagaannya. Sedangkan pada bidang sosial yang harus diperhatikan dalam rangka melakukan penyusunan terhadap perencanaan pembangunan adalah, kualitas pendidikan penduduk, kesehatan masyarakat, dan budaya yang berkembang dalam lingkungan tersebut. Hal ini penting diketahui sebagai bahan pertimbangan keberhasilan suatu proyek pembangunan daerah. 2.7 Penelitian Terdahulu Penelitian mengenai sektor unggulan telah dilakukan oleh beberapa peneliti di berbagai daerah. Keseluruhan hasil-hasil penelitian yang pernah

dilakukan oleh peneliti terdahulu yang dijadikan dasar dan bahan pertimbangan dalam mengkaji penelitian ini adalah, yaitu; 1. Penelitian yang dilakukan oleh Fachrurrazy tahun 2009, dengan judul Analisis Penentuan Sektor Unggulan Perekonomian Kabupaten Aceh Utara Dengan Pendekatan Sektor Pembentuk PDRB. Tujuan penelitian adalah; 1) untuk mengetahui klasifikasi pertumbuhan sektor perekonomian Wilayah Kabupaten Aceh Utara, 2) untuk mengetahui sektor basis dan non basis dalam perekonomian Wilayah Kabupaten Aceh Utara, 3) untuk mengetahui perubahan dan pergeseran sektor perekonomian wilayah Kabupaten Aceh Utara, 4) untuk menentukan sektor-sektor unggulan perekonomian wilayah Kabupaten Aceh Utara. Dengan menggunakan

metode analisis Klassen Tipology, analisis Location Quotient (LQ) dan

38

analisis Shift Share (S-S). Berdasarkan hasil perhitungan dari ketiga alat analisis menunujukkan bahwa sektor yang merupakan sektor unggulan dengan kriteria tergolong kedalam sektor yang maju dan tumbuh pesat, sektor basis dan kompetirif adalah sektor pertanian. Sub sektor pertanian yang potensial untuk dikembangkan sebagai sub sektor unggulan, yaitu sub sektor tanaman bahan pangan, sub sektor tanaman perkebunan, sub sektor peternakan dan hasil-hasilnya, dan sub sektor perikanan. 2. Penelitian yang dilakukan oleh Akrom Hasani tahun 2010, dengan judul Analisis Struktur Perekonomian Berdasarkan Pendekatan Shift Share di Provinsi Jawa Tengah Periode Tahun 2003-2008. Tujuan penelitian

adalah; 1) untuk menganalisis struktur ekonomi daerah berdasarkan pendekatan shift share dilihat penyerapan tenaga kerja dan kontribusi terhadap PDRB di Provinsi Jawa Tengah, 2) bagaimana pergeseran sektor pertanian, industri, perdagangan dan jasa dilihat dari penyerapan tenaga kerja dan kontribusi terhadap PDRB di Provinsi Jawa Tengah. Hasil dari penelitian yang menggunakan analisis shift share tersebut adalah,terjadi pergeseran struktur perekonomian di Provinsi Jawa Tengah dari sruktur ekonomi pertanian ke struktur ekonomi industri tetapi belum bergeser kesektor ekonomi perdagangan dan jasa. Pergeseran ini diikuti dengan pergeseran penyerapaj tenaga kerja dan kontribusi terhadap PDRB dari sektor pertanian kesektor industri di Provinsi Jawa Tengah. 3. Penelitian yang dilakukan oleh Beni Harisman tahun 2007, dengan judul penelitian adalah Analisis Struktur Ekonomi Dan Identifikasi Sektor-Sektor

39

Unggulan di Provinsi Lampung (Periode 1993-2003). Tujuan penelitian ini adalah; 1) menganalisis ada tidaknya perubahan struktur ekonomi di Provinsi Lampung pada kurun waktu 1993-2003; 2) mengidentifikasikan sektor unggulan diprovinsi Lampung pada kurun waktu 1993-2003. Hasil dari penelitian yang menggunakan analisis LQ dan S-S ini adalah; 1) telah terjadi perubahan struktur ekonomi di Provinsi Lampung dari sektor

primer ke sektor sekunder, berdasarkan rasio PDRB sektor sekunder mendominasi dimana pergeseran bersih telah mengakibatkan kenaikan PDRB di Provinsi Lampung. 2) di Provinsi Lampung terdapat tiga sektor basis yang merupakan sektor unggulan yaitu; sektor pertanian, sektor bangunan/konstruksi, dan sektor pengangkutan. 4. Penelitian yang dilakukan oleh Dewi Sondari tahun 2007, dengan judul penelitian Analisis Sektor Unggulan Dan Kinerja Ekonomi Provinsi Jawa Barat. Tujuan penelitian yang menggunakan metode analisis LQ, Sift Share, dan Pengganda pendapatan ini adalah; 1) mengidentifikasikan sektor yang menjadi sektor unggulan di Provinsi Jawa Barat, 2)

menganalisis dampak pengganda sektor ekonomi basis terhadap pertumbuhan PDRB Provinsi Jawa Barat, 3)menganalisis kinerja ekonomi Provinsi Jawa Barat, 4) menganalisis keterkaitan dan implikasi-implikasi yang akan ditimbulkan dari perkembangan sektor ekonomi basis terhadap pembangunan wilayah. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat 3 sektor yang menjadi sektor basis yang merupakan sektor unggulan di Provinsi Jawa Barat yaitu sektor industri pengolahan, sektor listrik, gas dan air

40

bersih, sektor perdagangan, hotel dan restoran. Selain itu kinerja ekonomi Provinsi Jawa Barat mengalami peningkatan, serta terwujudnya

pembangunan wilayah kearah yang lebih baik. 5. Penelitian yang dilakukan oleh Gita Irina Arief tahun 2009, dengan judul penelitian adalah Identifikasi Dan Peran Sektor Unggulan Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja di Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini

menggunakan analisis LQ dan S-S. Tujuan dari penelitian ini adalah; 1) mengidentifikasikan sektor-sektor yang menjadi sektor ekonomi unggulan di Provinsi DKI Jakarta, 2) menganalisis peran sektor unggulan dalam penyerapan tenaga kerja di Provinsi DKI Jakarta, 3) menganalisis kinerja sektor-sektor ekonomi unggulan di Provinsi DKI Jakarta, baik dilihat dari pertumbuhan maupun dari daya saingnya, 4) menganalisis sektor unggulan yang perlu menjadi prioritas pemerintah daerah dan rekomendasi kebijakan pengembangannya agar turut membantu upaya pengurangan pengangguran di DKI Jakarta. Hasil dari penelitian ini adalah; 1) sektor yang menjadi sektor unggulan di DKI Jakarta adalah sektor industri

pengolahan, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor pengangkutan dan komunikasi , sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, serta sektor jasa-jasa. 2) sektor unggulan yang memiliki daya saing yang lebih baik apabila dibadingkan dengan wilayah lainnya hanya sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan. 6. Penelitian yang dilakukan oleh Nudhiatulhuda Mangun tahun 2007, dengan judul penelitian Analisis Potensi Ekonomi Kabupaten dan Kota di

41

Provinsi Sulawesi Tengah. Penelitian ini menggunakan beberapa metode analisis, yaitu; LQ, S-S, Analisis Model Rasio Pertumbuhan (MRP), dan Tipology Klassen. Tujuan dari penelitian ini adalah; 1) mengetahui

sektor-sektor basis/unggulan ditiap Kabupaten/Kota diwilayah Sulawesi Tengah, 2) mengidentifikasikan dan menganalisis kinerja sektor-sektor ekonomi di masing-masing daerah terutama untuk mengetahui sektorsektor yang mempunyai daya saing kompetitif dan spesialisasi, 3) menganalisis tipologi masing-masing daerah berdasarkan potensi yang dimilikinya, 4) menentukan prioritas sektor basis guna pengembangan pembangunan di Sulawesi Tengah umumnya serta Kabupaten/Kota Khususnya. Hasil dari penelitian ini adalah ; 1) analisis LQ menunjukkan bahwa sektor pertanian merupakan sektor basis yang dominan di Sulawesi Tengah, 2) berdasarkan Tipology Klassen tidak terdapat satu pun Kabupaten/kota yang masuk dalam tipologi daerah cepat maju dan cepat bertumbuh (klasifikasi 1) tetapi rata-rata terdapat di tipologi daerah relatif tertinggal, 3) hasil MRP yang di overlay menunjukkan kabupaten/kota yang ada di Provinsi Sulawesi Tengah tidak satupun mempunyai potensi daya saing kompetitif dan komparatif, 4) hasil S-S menunjukkan bahwa tidak terdapat satupun kabupaten/kota yang memiliki sektor unggulan /daya saing yang kompetitif, tetapi hanya memiliki spesialisasi.

42

2.8

Kerangka Pemikiran

Perekonomian Wilayah Kabupaten Simalungun

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Simalungun

Klasifikasi Pertumbuhan klkk Sektor Ekonomi Wilayah

Sektor Potensial Dalam Pengembangan Wilayah

Perkembangan Struktur Ekonomi Daerah

Tipology Daerah (Klassen Tipology)

Penentuan Sektor Basis (metode LQ)

Penentuan Sektor dengan keunggulan kompetitif (metode shift share)

Analisis Struktur dan Identifikasi Sektor Unggulan

Kebijakan Pembangunan Wilayah Simalungun


43

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian dalam penelitian ini adalah penelitian Deskriptif Kuantitatif. 3.2 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Simalungun. Penentuan lokasi

penelitian dilakukan di Kabupaten Simalungun karena didasarkan memiliki potensi luar biasa untuk dikembangkan. Dengan struktur fisik wilayah yang

beragam dan sebagai salah satu daerah yang terus mengalami perkembangan, maka hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan perencanaan pembangunan sektor-sektor ekonomi di Kabupaten Simalungun. Dimana

penelitian ini menggunakan waktu dengan rentang antara tahun 2004-2010. 3.3 Batasan Operasional Penelitian ini dengan menggunakan data sekunder yaitu data PDRB Simalungun, memiliki beberapa batasan masalah. Adapun pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah; 1. Data PDRB yang diteliti adalah data PDRB Simalungun sebagai daerah studi dan data PDRB Sumatera Utara sebagai daerah referensi.

44

2. Rentang waktu yang digunakan dalam penelitian ini adalah untuk analisis Tipologi Klassen tahun 2000-2010, untuk analisis Location Quotient dan analisis Shift Share menggunakan rentang waktu tahun 2004-2010. 3.4 Defenisi Operasional Variabel Penelitian Defenisi operasional digunakan untuk menyamakan pemahaman tentang variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian dan untuk menghindari terjadinya perbedaan penafsiran. Definisi operasional Penelitian ini adalah: 1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah indikator utama untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi suatu wilayah baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. PDRB di ungkapakan sebagai nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dari sektor perekonomian yang berada dalam suatu wilayah dan dalam periode waktu tertentu. PDRB dapat di lihat dari atas harga konstan dan harga berlaku. Dan PDRB yg digunakan dalam penelitian ini adalah PDRB atas harga konstan 2000. 2. Sektor ekonomi adalah keseluruhan lapangan usaha dalam unit produksi sebagai pembentuk PDRB dalam suatu wilayah, unit produksi itu terdiri dari sembilan sektor, yaitu: (1) sektor pertanian; (2) sektor pertambangan dan penggalian; (3) sektor industri pengolahan; (4) sektor listrik, gas, dan air minum; (5) sektor bangunan (konstruksi); (6) sektor perdagangan, hotel dan restoran; (7) sektor pengangkutan dan komunikasi; (8) sektor

45

keuangan asuransi, usaha persewaan dan real estate; dan (9) sektor jasajasa lainnya. 3. Kegiatan ekonomi adalah kegiatan perekonomian masyarakat yang dibedakan atas dua, yaitu; kegiatan basis dan non basis. 4. Sektor unggulan adalah satu atau beberapa sektor ekonomi yang memiliki laju pertumbuhan yang paling tinggi jika dibandingkan dengan sektor ekonomi pembentuk PDRB lainnya dan menjadi sektor yang memberikan pengaruh serta mampu menarik pertumbuhan sektor lainnya. Sehingga sektor ini menjadi sektor yang diprioritaskan pengembangannya untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi wilayah. 3.5 Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yaitu data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di tiap sektor ekonomi pada wilayah Kabupaten Simalungun dan Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Sumatera Utara dari tahun 2004-2010. Data ini diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Badan Pusat Statistik Simalungun, berbagai literatur, internet, dan sumber-sumber lainnya. 3.6 Metode Pengumpulan Data Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi yang mana cara pengumpulan data melalui dokumen-dokumen tertulis, terutama berupa arsip dan juga termasuk buku-buku tertentu, pendapat, teori, atau hukum dan lain-lain yang berhubungan dengan masalah penelitian. Dokumen yang

46

diperlukan adalah data PDRB kabupaten Simalungun dan Provinsi Sumatera Utara menurut lapangan usaha tahun 2000-2010. 3.7 Metode Analisis Data Metode analisis yang digunakan untuk menjawab permasalahan yang terdapat didalam penelitian ini adalah, dengan menggunakan beberapa metode analisis data, yaitu; 3.7.1 Analisis Tipologi Klassen (Klassen Typology) Analisis Tipologi Klassen adalah melihat perkembangan pembangunan pembangunannya. analisis yang dipergunakan untuk dari setiap daerah dalam proses

analisis ini dipergunakan untuk melihat daur atau arah

perkembangan daerah-daerah, dilihat dari segi pertumbuhan ekonomi daerahnya. Analisis ini meupakan salah satu alat analisis ekonomi regional yang dapat digunakan untuk mengetahui klasifikasi sektor perekonomian wilayah. Jadi

analisis Tipologi Klassen digunakan dengan tujuan mengidentifikasikan posisi sektor perekonomian Kabupaten Simalungun dengan memperhatikan sektor perekonomian Provinsi Sumatera Utara sebagai daerah referensi. Sebagai alat analisis, maka ada dua variabel yang menjadi ukuran dari hipotesis ini, yaitu; 1. Perbedaan antara laju pertumbuhan PDRB persektor daerah Simalungun dengan laju pertumbuhan PDRB persektor daerah Sumatera Utara.

47

2. Perbandingan antara pertumbuhan PDRB persektor daerah Simalungun dengan pertumbuhan PDRB persektor daerah Sumatera Utara dan hasil perbandingan ini selalu bernilai positif. Analisis Tipologi Klassen menghasilkan empat klasifikasi kharakteristik yang berbeda sebagai berikut. 1. Sektor yang maju dan tumbuh dengan pesat (developed sector) (Kuadran I). Kuadran ini merupakan kuadran yang laju pertumbuhan sektor tertentu dalam PDRB (Si) yang lebih besar dibandingkan laju pertumbuhan sektor tersebut dalam PDRB daerah yang menjadi referensi (S) dan memiliki nilai kontribusi sektor terhadap PDRB (Ski) yang lebih dibandingkan kontribusi sektor tersebut terhadap PDRB daerah yang menjadi referensi (sk). Klasisifikasi ini dilambangkan dengan si > s dan ski > sk. 2. Sektor maju tapi tertekan (stagnant sector) (Kuadran II). Kuadran ini merupakan kuadran yang laju pertumbuhan yang sektor tertentu dalam PDRB (si) yang lebih kecil dibandingkan laju pertumbuhan sektor tersebut dalam PDRB daerah yang menjadi referensi (s), tetapi memiliki nilai kontribusi sektor terhadap PDRB (ski) yang lebih besar dibandingkan kontribusi sektor tersebut terhadap PDRB daerah yang menjadi referensi (sk). Klasifikasi ini dilambangkan dengan si < s dan ski > sk. 3. Sektor potensial atau masi dapat berkembang (developing sector) sektor dengan

(Kuadran III). Kuadran ini merupakan kuadran yang laju pertumbuhan sektor tertentu dalam PDRB (si) yang lebih besar dibandingkan laju pertumbuhan sektor tersebut dalam PDRB daerah yang menjadi referensi
48

(s), tetapi memiliki nilai kontribusi sektor terhadap PDRB (ski) yang lebih kecil dibandingkan kontribusi sektor tersebut terhadap PDRB daerah yang menjadi referensi (sk). Klasifikasi ini dilambangkan dengan si > s dan ski < sk. 4. Sektor relatif tertinggal (uderdeveloped sector) (Kuadran IV). Kuadran ini merupakan kuadran yang laju pertumbuhan sektor tertentu dalam PDRB (si) yang lebih kecil dibandingkan laju pertumbuhan sektor tersebut dalam PDRB daerah yang menjadi referensi (s) dan sekaligus memiliki nilai kontribusi sektor tersebut terhadap PDRB (ski) yang lebih kecil dibandingkan kontribusi sektor tersebut terhadap PDRB yang menjadi referensi (sk). Klasifikasi ini dilambangkan dengan si < s dan ski < sk. Klasifikasi sektor PDRB menurut Tipologi Klassen sebagaimana tercantum dalam tabel berikut; Tabel 3.1 Klasifikasi Sektor PDRB menurut Tipologi Klassen Kuadran I Sektor relatif maju dan tumbuh dengan pesat (developed sector) si > s dan ski > sk Kuadran III Sektor potensial atau masih dapat berkembang (developing sector) si > s dan ski < sk Kuadran II Sektor maju tapi tertekan (stagnant sector) si < s dan ski > sk Kuadran IV Sektor relatif tertinggal (uderdeveloped sector) si < s dan ski < sk

49

3.7.2

Analisis Kuosien lokasi (Location Quotion=LQ) Analisis ini digunakan untuk melihat sektor-sektor yang termasuk kedalam

kategori sektor unggulan.

Perhitungan Location Quotien digunakan untuk

menunjukkan perbandingan antara peranan sektor tingkat regional dengan peran sektor diwilayah tingkat atasnya. Hasil dari perhitungan LQ dapat membantu dalam melihat kekuatan dan kelemahan wilayah dibandingkan relatif dengan wilayah yang lebih luas. Dalam analisis ini dilakukan perbandingan antara Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) disektor i Kabupaten Simalungun terhadap PDRB total semua sektor di Kabupaten Simalungun dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) disektor i terhadap PDRB total semua sektor Provinsi Sumatera Utara. Untuk mendapatkan nilai LQ, maka metode yang digunakan adalah mengacu pada formula yang dikemukakan oleh Bendavid-Val dalam Kuncoro(2004) sebagai berikut;

PDRBs, i PDRBs LQ = PDRBsu, i PDRBsu


Dimana; PDRBS,i PDRBS = PDRB sektor i di Kabupaten Simalungun pada tahun tertentu. = Total PDRB di Kabupaten Simalungun pada tahun tertentu.

50

PDRBSU,i PDRBSU

= PDRB sektor i di Provinsi Sumatera Utara pada tahun tertentu. = Total PDRB di Provinsi Sumatera Utara pada tahun tertentu.

Dari analis ini diharapkan didapat sektor-sektor basis di Wilayah Kabupaten Simalungun yang pertumbuhannya dapat dipacu guna meningkatkan pertumbuhan PDRB diwilayah Kabupaten Simalungun. Berdasarkan formulasi yang ditunjukkan dalam persamaan diatas, maka nilai LQ dapat dibagi dalam beberapa penggolongan. Kriteria penggolongannya adalah; 1. Jika LQ > 1, artinya sektor yang ada didaerah Kabupaten Simalungun tersebut merupakan sektor basis yang mampu mengekspor hasil industrinya ke daerah lain. Dalam hal ini tingkat spesialisasi sektor i di wilayah Kabupaten Simalungun lebih besar dibandingkan dengan sektor yang sama dalam perekonomian Provinsi Sumatera Utara. Jadi sektor i tersebut adalah sektor basis dan potensial dikembangkan penggerak perekonomian Kabupaten Simalungun. 2. Jika LQ < 1, artinya sektor yang ada di daerah Kabupaten Simalungun merupakan sektor non basis yang cenderung mengimpor hasil produksi dari daerah lain. Ini berarti tingkat spesialisasi sektor i di daerah dengan sektor yang sebagai

Kabupaten Simalungun lebih kecil dibandingkan

sama dalam perekonomian Provinsi Sumatera Utara. Jadi sektor tersebut bukan merupakan sektor basis dan kurang potensial untuk dikembangkan sebagai penggerak perekonomian Kabupaten Simalungun.

51

3. Jika LQ = 1, artinya adalah produk domestik yang dimiliki daerah Kabupaten Simalungun habis hanya untuk dikonsumsi daerah Kabupaten Simalungun. Ini berarti bahwa tingkat spesialisasi sektor i didaerah

Kabupaten Simalungun adalah sama dengan sektor yang sama dalam perekonomian Provinsi Sumatera Utara. 3.7.3 Analisis Shift Share (Shift Share Analysis) Pada dasarnya analisis ini membahas hubungan antara pertumbuhan wilayah dan struktur ekonomi wilayah, untuk mengetahui perubahan struktur perekonomian dan pertumbuhan ekonomi didaerah dibandingkan dengan perekonomian daerah yang lebih tinggi digunakan analisis Shift Share. Analisis Shift Share dipergunakan untuk menganalisis pertumbuhan dan pergeseran sektorsektor ekonomi di daerah Kabupaten Simalungun. Analisis ini menyatakan

bahwa pertumbuhan ekonomi daerah berhubungan erat dengan tiga komponen yaitu komponen karena pertumbuhan nasional, komponen reaksi antar sektor industri (industrial mix) dan pangsa relatip sektor-sektor daerah (regional share) terhadap sektor-sektor nasional. Melalui analisis shift share, maka pertumbuhan ekonomi dan pergeseran struktural perekonomian wilayah Kabupaten Simalungun ditentukan oleh tiga komponen, yaitu; 1. Proportional Shift Component (Mij), dikenal juga dengan struktural atau Industrial Mix adalah pertumbuhan nilai tambah bruto suatu sektor i pada Kabupaten Simalungun dibandingkan total sektor di tingkat Provinsi

52

Sumatera Utara.

Komponen ini adalah positif bagi daerah yang

berspesialisasi dalam sektor-sektor yang secara nasional pertumbuhannya cepat dan negatif didaerah yang berspesialisasi dalam sektor yang secara nasional pertumbuhannya lambat. Hal ini dipengaruhi oleh unsur luar (eksternal) yang bekerja secara nasional. 2. Differential Shift Component (Cij), kadang disebut sebagai komponen lokasional atau regional, adalah perbedaan antara pertumbuhan ekonomi Kabupaten Simalungun dan nilai tambah bruto sektor yang sama di tingkat Provinsi Sumatera Utara. Komponen ini positif jika daerah tersebut

mempunyai keuntungan lokasional dari pada tingkat nasional dan sebaliknya jika komponen ini bernilai negatif maka daerah tersebut kurang mempunyai keuntungan lokasional dibandingkan dengan tingkat nasional. Hal ini dipengaruhi faktor dari dalam (internal) yang mempengaruhi daerah tersebut. 3. Provincial Share (Nij), digunakan untuk mengetahui pertumbuhan atau pergeseran struktur perekonomian Kabupaten Simalungun dengan menganalisis pertumbuhan PDRB Simalungun sebagai daerah penelitian pada awal penelitian yang dipengaruhi oleh pergeseran pertumbuhan

perekonomian Provinsi Sumatera Utara sebagai daerah referensi. Hal ini akan menunjukkan bagaimana peranan wilayah Provinsi Sumatera Utara dalam mempengaruhi pertumbuhan ekonomi daerah Kabupaten

Simalungun. Analisis Shift Share dirumuskan sebagai berikut;

53

D ij = N ij + M ij + C ij Keterangan : i j n D ij N ij M ij C ij = Sektor-sektor ekonomi yang diteliti = Variabel wilayah yang diteliti (Kabupaten Simalungun) = Variabel wilayah referensi (Sumatera Utara) = Perubahan sektor i di daerah Kabupaten Simalungun = Pertumbuhan nasional sektor i di daerah Kabupaten Simalungun = Bauran industri sektor i di daerah Kabupaten Simalungun = Keunggulan kompetitif sektor i di daerah Kabupaten Simalungun

Dalam penelitian ini variabel yang digunakan adalah PDRB yang dinotasikan sebagai (y). maka : D ij N ij M ij C ij = y* ij y ij = y ij . r n = y ij ( r i n r n) = y ij (r ij r i n)

Keterangan : y ij y*ij = PDRB sektor i di daerah Kaqbupaten Simalungun = PDRB sektor i di daerah Kabupaten Simalungun akhir tahun analisis r ij r in rn = Laju pertumbuhan sektor i di daerah Kabupaten Simalungun = Laju pertumbuhan sektor i di Provinsi Sumatera Utara = Rata-rata Laju pertumbuhan PDRB di daerah Provinsi Sumatera Utara Dimana;

54

rn

Keterangan : y in y*in yn y*n = PDRB sektor i di Provinsi Sumatera Utara ditahun awal analisis = PDRB sektor i di Provinsi Sumatera Utara akhir tahun analisis = Total PDRB semua sektor di daerah Provinsi Sumatera Utara = Total PDRB semua sektor di daerah Provinsi Sumatera akhir tahun analisis Untuk suatu daerah, pertumbuhan regional, bauran industri dan keunggulan kompetitif dapat dijumlahkan untuk semua sektor sebagai keseluruhan daerah, sehingga persamaan shift share untuk sektor i di wilayah penelitian adalah adalah:

D ij = y ij . r n + y ij (r i n r n ) + y ij (r ij r in )

55

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 4.1.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian Keadaan Geografis Kabupaten Simalungun Simalungun sebagai salah satu kabupaten di Sumatera Utara, letaknya diapit oleh 7 kabupaten/kota yaitu, Serdang Bedagai, Deli Serdang, Karo, Toba Samosir, Asahan, Batu Bara, dan Pematang Siantar. Letak astronomis Kabupaten Simalungun adalah 02o36 03o18 Lintang Utara dan 98o32 99o35 Bujur Timur dengan luas wilayah 4.386,60 km2 yakni sekitar 6,12% dari luas wilayah Sumatera Utara dan menjadi daerah terluas ke-3 di Sumatera Utara setelah Kabupaten Madina dan Kabupaten Langkat. Peta Kabupaten Simalungun

Sumber; BPS Simalungun Gambar 4.1 Peta Wilayah Kabupaten Simalungun Sebagai kabupaten yang cukup luas di Provinsi Sumatera Utara, wilayah Simalungun memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut;

56

4.1.2

Sebelah Utara Sebelah Selatan Sebelah Barat Sebelah Timur Ditengah

: Kabupaten Serdang Bedagai dan Deli Serdang : Kabupaten Toba Samosir : Kabupaten Karo : Kabupaten Asahan dan Batu Bara : Kota Pematang Siantar

Wilayah Administrasi Secara administratif berdasarkan Perda Kabupaten Simalungun No. 11

Tahun 2006 maka Kabupaten Simalungun dibagi dalam 31 wilayah kecamatan, yang meliputi 22 kelurahan dan 345 desa/nagori. 31 Kecamatan tersebut adalah Silimakuta, Pematang Silimakuta, Purba, Haranggaol Horison, Dolok Pardamean, Sidamanik, Pematang Sidamanik, Girsang Sipangan Bolon, Tanah Jawa, Hatonduhon, Dolok Panribuan, Jorlang Hataran, Panei, Panombean Panei, Raya, Dolok Silau, Silau Kahean, Raya Kahean, Tapian Dolok, Dolok Batu Nanggar, Siantar, Gunung Malela, Gunung Maligas, Hutabayu Raja, Jawa Maraja Bah Jambi, Pematang Bandar, Bandar Huluan, Bandar, Bandar Masilam, Bosar Maligas,Ujung Padang (BPS Simalungun).

Kecamatan yang memiliki wilayah terluas adalah kecamatan Raya dengan luas 335,60 km2 atau 7,65% dari luas Kabupaten Simalungun, lalu diikuti oleh kecamatan dolok silau dengan luas 288,45 km2 (6,58%) serta kabupaten

Hatonduhan dengan luas 275,80 km2 (6,29%). Sementara itu kecamatan dengan

57

wilayah paling sempit adalah kecamatan Haranggaol Horison dengan luas wilayah 34,50 km2 atau 0,79% dari luas Kabupaten Simalungun serta kecamatan Gunung Maligas dengan luas wilayah 58,52 km2 (1,33%). 4.1.3 Keadaan Demografi Berdasarkan hasil sensus penduduk 2010, jumlah penduduk Kabupaten Simalungun adalah 817.720 jiwa, yang terdiri dari 407.838 jiwa laki-laki dan 409.882 jiwa perempuan. Dengan luas wilayah 4.386,60 km2 yang didiami oleh penduduk 817.720 jiwa maka tingkat kepadatan rata-rata Penduduk Kabupaten Simalungun adalah 186 jiwa/km2. Sementara itu kecamatan yang paling banyak penduduknya adalah kecamatan Bandar dan kecamatan Siantar dengan masingmasing jumlah penduduknya adalah 63.561 jiwa dan 62.853 jiwa. Sedangkan kecamatan dengan jumlah penduduk paling sedikit adalah kecamatan Haranggaol Horison dengan jumlah penduduk sebesar 4.989 jiwa dan kecamatan Pematang Silimakuta dengan jumlah penduduk sebesar 10.330 jiwa.

Sementara itu, berdasarkan

hasil Survei Angkatan Kerja Nasional,

angkatan kerja di Simalungun pada tahun 2010 adalah sebesar 422.657 jiwa dengan tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) sebesar 69,81%, sementara itu pada tahun sebelumnya adalah 69,75%. TPAK Kabupaten Simalungun berada diurutan ke -20 diantara kabupaten/kota di Sumatera Utara. Sementara itu tingkat pengangguran terbuka (TPT) adalah 6,43%, mengalami penurunan bila

dibandingkan pada tahun 2008 yaitu 8,56% dan 7,74% pada tahun 2009. Bila

58

dibandingkan antar kabupaten/kota, maka TPT Simalungun berada pada urutan ke -14 di Provinsi sumatera utara. Tabel 4.1 Indikator Ketenagakerjaan Kabupaten Simalungun Tahun 2008-2010 Uraian
TPT (%) TPAK (%) Angkatan Kerja (orang) Upah Minimum Kabupaten (rupiah) 2008 2009 2010

8,56 69,03 394.108 822.500

7,74 69,75 403.432 908.000

6,43 69,81 422.657 966.000

Sumber; BPS Simalungun 2010 4.1.4 Topografis Kabupaten Simalungun terletak pada dataran tinggi, dengan ketinggian antara 200-1500 m diatas permukaan air laut, dengan topografi yang bervariasi antara datar, landai, miring dan terjal. Secara terperinci, keadaan tanah/topografi Kabupaten Simalungun adalah sebagai berikut; Tanah curam seluas 39.900 ha atau sebesar 9,12% dari luas total wilayah Tanah datar 99.803 ha atau 23,76% dari luas total wilayah Tanah berbukit 96.699 ha atau 22,06% dari luas total wilayah Tanah landai 202.258 ha atau 46,06% dari luas total wilayah

59

4.1.5

Kondisi Perekonomian Kabupaten Simalungun Dalam sepuluh tahun terakhir (2001-2010) terlihat jelas bahwa struktur

perekonomian Kabupaten Simalungun masih didominasi oleh pertanian dengan rata-rata kontribusi terhadap PDRB sebesar 58,41%, lalu dikuti oleh sektor industri pengolahan (16,45%), sektor jasa-jasa (10,14) serta sektor perdagangan, hotel dan restoran (8,23%). Sementara itu sektor dengan kontribusi terkecil

adalah sektor pertambangan dan penggalian dengan rata-rata kontribusi sebesar 0,35%.

Kontribusi Tiga sektor terhadap pembentukan PDRB Simalungun tahun 2010


Sector Agraria (primer) Sector Manufacture (sekunder) Sector Services 58.11%

24.89% 17%

Sumber: Hasil pengolahan data dengan Microsoft Excel Gambar 4.2 kontribusi tiga sektor terhadap pembentukan PDRB Simalungun tahun 2010 Sampai pada tahun 2010, pertanian masih memegang peranan penting dalam pembentukan PDRB Simalungun, walaupun dari tahun ketahun sektor primer mengalami kemunduran kontribusi dan sektor manufaktur serta sektor service mengalami peningkatan kontribusi, namun kontribusi sektor agraris masih

60

mendominasi pembentukan PDRB bahkan melebihi setengah dari nilai PDRB Kabupaten Simalungun. 4.2 Hasil Analisis Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari berbagai sumber penerbitan, seperti yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik daerah (Sumut dan Simalungun), dan sumber-sumber lain yang terkait dengan objek yang diteliti. Data yang diperoleh adalah digunakan untuk dianalisis, dan dengan menggunakan tiga analisis yaitu, analisis Tipologi

Klassen, analisis Location Quotient dan analisis Shift Share, maka didapat hasil sebagai berikut: 4.2.1 Klasifikasi Pertumbuhan Sektor Perekonomian Wilayah Kabupaten Simalungun (Analisis Tipologi Klassen) Topologi Klassen adalah metode yang digunakan untuk mengetahui pengelompokan sektor ekonomi dalam kabupaten Simalungun menurut struktur pertumbuhannya. Dengan menggunakan Matriks Klassen dapat dilakukan empat pengelompokkan sektor dengan memanfaatkan laju pertumbuhan dan nilai kontribusi. Berdasarkan hasil analisis data, maka table 4.4 menyajikan bagaimana gambaran rata-rata pertumbuhan dan rata-rata kontribusi sektor PDRB Kabupaten Simalungun dan Provinsi Sumatera Utara tahun 2001-2010. Berdasarkan tabel berikut dapat kita ketahui bahwa sektor yang memiliki rata-rata pertumbuhan yang terbesar dalam PDRB Kabupaten Simalungun adalah sektor jasa-jasa
61

(11,15%) serta sektor listrik,gas dan air minum (6,76%).

Sedangkan sektor

dengan rata-rata pertumbuhan terkecil adalah sektor industri pengolahan dengan rata-rata pertumbuhan sebesar (1,62%). Sementara itu sektor paling dominan atau sektor yang memiliki kontribusi terbesar dalam PDRB Kabupaten Simalungun adalah sektor pertanian (58,41%), sektor industri pengolahan (16,48%) dan sektor jasa-jasa (10,13%). Sedangkan sektor dengan rata-rata Kontribusi terkecil adalah sektor pertambangan dan penggalian (0,35%), sektor listrik, gas dan air minum (0,45) serta sektor keuangan, asuransi dan jasa perusahaan (1,8%). Tabel 4.2 Rata-rata Pertumbuhan dan rata-rata kontribusi sektor ekonomi terhadap PDRB Simalungun dan Sumatera Utara 2001-2010
Simalungun Rata-rata Rata-rata pertumbuhan kontribusi (Si) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian Pertambangan dan penggalian Industri Pengolahan Listrik, gas dan air minum Bangunan dan Konstruksi Perdagangan, Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, asuransi,dan jasa Perusahaan Jasa-jasa 3,56 4,56 1,62 6,76 4,49 3,5 5,44 5,69 11,15 (Ski) 58,41 0,35 16,48 0,45 1,71 8,23 2,43 1,8 10,14 Sumatera Utara Rata-rata Rata-rata pertumbuhan kontribusi (S) 4,00 3,89 4,96 5,49 7,88 5,50 9,59 8,10 6,22 (Sk) 24,84 1,29 23,67 0,79 6,26 18,37 8,46 6,47 9,56

Sektor

Sumber : Data diolah dari Lampiran Sementara itu apabila dilihat secara Provinsi Sumatera Utara, sektor-sektor dengan rata-rata laju pertumbuhan yang tertinggi adalah sektor pengangkutan dan komunikasi (9,59%), sektor keuangan,asuransi dan jasa perusahaan (8,1%) serta

62

sektor bangunan dan Konstruksi (7,88%). Sedangkan sektor dengan rata-rata pertumbuhan terkecil adalah sektor pertambangan dan penggalian (3,89%) dan sektor pertanian (4,00%). Dan jika dilihat berdasarkan rata-rata kontribusi, maka sektor yang memiliki rata-rata kontribusi terbesar dalam PDRB Provinsi Sumatera Utara adalah sektor pertanian (24,84%), sektor industri pengolahan (23,67%), dan sektor perdagangan, hotel dan restoran (18,37). Sedangkan sektor dengan rata-rata

kontribusi terkecil adalah sektor listrik, gas dan air minum (0,79%) dan sektor pertambangan dan penggalian (1,29%). Lalu berdasarkan hasil analisis data yang ditunjukkan oleh tabel diatas, maka dapat diklasifikasikan sektor PDRB di Kabupaten Simalungun tahun 20012010. Jadi berdasarkan Tabel 4.4, dilihat dari rata-rata pertumbuhan dan rata-rata kontribusi tiap sektor ekonomi terhadap PDRB Kabupaten Simalungun, maka dapat dilihat bahwa terdapat sektor yang dapat dikategorikan sebagai sektor maju dan tumbuh pesat yaitu sektor jasa-jasa. Artinya sektor ini memiliki rata-rata laju pertumbuhan dan rata-rata kontribusi yang lebih besar dalam PDRB Simalungun jika dibandingkan dengan sektor yang sama dalam PDRB Provinsi Simalungun. . Sementara itu sektor yang dapat dikategorikan sebagai sektor maju tapi tertekan adalah sektor pertanian karena dalam PDRB Simalungun sektor ini adalah memiliki rata-rata kontribusi lebih besar tetapi memiliki rata-rata laju pertumbuhan yang lebih kecil jika dibandingkan dengan sektor yang sama dalam PDRB Provinsi Sumatera Utara.

63

Tabel 4.3 Klasifikasi Sektor PDRB Kabupaten Simalungun Tahun 2001-2010 menurut Tipologi Klassen Kuadran I Sektor relatif maju dan tumbuh dengan pesat (developed sector) si > s dan ski > sk sektor jasa-jasa Kuadran III Sektor potensial atau masih dapat berkembang (developing sector) si > s dan ski < sk sektor pertambangan dan penggalian sektor, listrik dan air minum Sumber: Data diolah dari tabel 4.2 Sektor yang dapat dikategorikan sebagai sektor potensial untuk berkembang adalah sektor pertambangan dan penggalian serta sektor listrik, gas dan air minum hal ini disebabkan sektor-sektor tersebut adalah memiliki rata-rata laju pertumbuhan yang lebih besar tetapi memiliki rata-rata kontribusi yang lebih kecil jika dibandingkan dengan sektor yang sama dalam PDRB Provinsi Sumatera Utara. Sementara itu sektor-sektor yang tergolong sebagai sektor relative Kuadran II Sektor maju tapi tertekan (stagnant sector) si < s dan ski > sk sektor pertanian Kuadran IV Sektor relatif tertinggal (uderdeveloped sector) si < s dan ski < sk sektor industri pengolahan sektor bangunan dan konstruksi sektor perdagangan,hotel dan restoran sektor pengangkutan dan komunikasi sektor keuangan, asuransi, dan jasa perusahaan

tertinggal adalah sektor industri pengolahan, sektor bangunan dan konstruksi, sektor perdagangan,hotel dan restoran, sektor pengangkutan dan komunikasi serta

64

sektor keuangan, asuransi dan jasa perusahaan. Hal ini disebabkan karena sektorsektor tersebut memiliki nilai rata-rata laju pertumbuhan dan rata-rata kontribusi yang lebih kcil apabila dibandingkan dengan sektor yang sama dalam pembentukan PDRB Provinsi Sumatera Utara.s 4.2.2 Hasil Analisis Location Quotient (LQ) Analisis ini pada umumnya digunakan untuk menentukan sektor basis di suatu daerah. Dalam hal ini hasil LQ diperoleh dari perbandingan besarnya

peranan antar sektor dalam pembentukan PDRB di daerah penelitian dengan didaerah referensi. Nilai LQ berkisar dari nol hingga dengan positif tak terhingga. Jika nilai LQ lebih besar dari satu (LQ>1), maka maknanya adalah bahwa output pada sektor yang bersangkutan lebih berorientasi ekspor dan sektor tersebut dikategorikan sebagai sektor basis. Apabila nilai LQ kurang dari satu (LQ<1), maka sektor diklasifikasikan sebagai sektor non-basis. Dari hasil perhitungan LQ pada Sembilan sektor yang terdapat dalam perekonomian Simalungun selama kurun waktu 2004-2010 hanya terdapat dua sektor basis dan tujuh sektor lainnya adalah sektor non basis (Tabel 4.). Dua sektor yang menjadi sektor basis adalah sektor pertanian dengan sektor jasa-jasa. Sementara itu tujuh sektor yang menjadi sektor non basis adalah sektor pertambangan & penggalian, sektor Industri pengolahan, sektor listrik, gas dan air bersih, sektor bangunan, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor pengangkutan dan komunikasi, serta sektor keuangan,asuransi dan jasa perusahaan.

65

Tabel 4.4 Nilai LQ Kabupaten Simalungun 2004-2010


Nilai Loqation Quotient No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sektor Pertanian pertambangan dan penggalian industri pengolahan listrik, gas, dan air minum bangunan dan konstruksi perdagangan hotel dan restoran pengangkutan dan komunikasi keuangan, asuransi dan sewa perusahaan jasa-jasa
2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010

2,28 0,28 0,71 0,54 0,30 0,46 0,30 0,28 0,95

2,31 0,29 0,70 0,53 0,28 0,46 0,31 0,28 1,03

2,39 0,32 0,68 0,56 0,26 0,44 0,32 0,29 1,12

2,42 0,30 0,66 0,62 0,26 0,44 0,30 0,30 1,22

2,42 0,30 0,67 0,65 0,25 0,44 0,27 0,27 1,22

2,43 0,31 0,67 0,68 0,25 0,44 0,26 0,27 1,21

2,46 0,31 0,67 0,68 0,25 0,44 0,26 0,27 1,20

Sumber; Data Diolah Lampiran Berdasarkan tabel nilai LQ diatas yang menjadi sektor basis yaitu sektor pertanian yang mendominasi dalam pembentukan PDRB Simalungun adalah dari tahun ketahun selalu mengalami paningkatan nilai LQ. Sejak 2004 sampai 2010 kisaran nilai LQ sektor pertanian berturut-turut adalah sebesar 2,28; 2,31: 2,39; 2,42; 2,42; 2,43; dan 2,46. Antara periode 2007-2008 kisaran nilai LQ sektor pertanian adalah tetap, tidak mengalami penurunan dan peningkatan. Walaupun secara kontribusi terhadap perekonomian daerah selalu mengalami penurunan namun sektor pertanian masi tetap menjadi kontributor terbesar dan tetap memiliki kisaran nilai LQ tertinggi serta cenderung meningkat. Hal ini membuat sektor pertanian sebagai sektor yang memiliki nilai LQ terbesar di Kabupaten Simalungun. Sementara itu, sektor jasa-jasa yang terdiri dari beberapa sub sektor seperti, jasa pemerintahan umum, sosial kemasyarakatan, hiburan dan rekreasi serta jasa perorangan dan rumah tangga, juga menjadi sektor basis dalam perekonomian daerah Simalungun. Sejak 2004 sampai 2010, kisaran nilai LQ
66

sektor jasa-jasa adalah menunjukkan trend kenaikan yg cukup tinggi walaupun pada akhirnya antara tahun 2009-2010 mengalami penurunan kisaran nilai LQ. Kisaran nilai LQ sektor jasa-jasa sepanjang 2004-2010 adalah berturut-turut

sebesar 0,95; 1,03; 1,12; 122; 1,22; 1,21; 1,20. Pada tahun 2004 sektor ini belum bisa dikategorikan sebagai sektor basis karena kisaran nilai LQ nya masih di bawah 1 yaitu sebesar 0,95. Sejak tahun 2005 sektor jasa-jasa sudah dapat

dikategorikan sebagai sektor basis karena kisaran nilai LQ yang lebih besar dari 1 dan terus meningkat. Namun nilai LQ sektor ini pada tahun 2008 statis tidak mengalami perubahan, yang pada tahun berikutnya mengalami penurunan tipis. Dilihat dari perananannya dalam perekonomian wilayah Simalungun, kontribusi sektor ini adalah selalu meningkat dari tahun ketahun. Berdasarkan hasil analisis LQ, terdapat beberapa sektor yang nilai kisaran LQ-nya selalu berfluktuasi atau mengalami trend yang berubah ubah, dan ada yang tetap. Sektor yang mengalami fluktuasi nilai LQ itu adalah sektor yg dalam kurun waktu tertentu meningkat serta dalam kurun waktu berikutnya menurun dan sebaliknya, yaitu sektor pertambangan dan penggalian dengan kisaran nilai LQ sepanjang 2004-2010 adalah sebesar 0,28; 0,29; 0,32; 0,30; 0,30; 0,31; 0,31. Sementara itu sektor pengangkutan dan komunikasi yang awalnya meningkat tetapi pada akhirnya mengalami penurunan, dengan kisaran nilai LQ sepanjang 2004-2010 berturut-turut sebesar 0,30; 0,31; 0,32; 0,30; 0,27; 0,26; 0,26. Begitu juga dengan sektor keuangan, asuransi dan jasa perusahaan dengan kisaran nilai LQ sepanjang 2004-2010 adalah sebesar 0,28: 0,28; 0,29; 0,30; 0,27; 0,27; 0,27.

67

Sementara itu, sektor yang menunjukkan penurunan nilai LQ secara terus menerus dan pada akhirnya statis adalah sektor industri pengolahan, dengan kisaran nilai LQ sepanjang 2004-2010 adalah sebesar 0,71; 0,70; 0,68; 0,66; 0,67; 0,67; 0,67. Serta sektor bangunan dan konstruksi dengan kisaran nilai LQ sebesar 0,30; 0,28; 0,26; 0,26; 0,25; 0,25; 0,25. Sedangkan sektor non basis yang nilai LQ nya terus mengalami peningkatan adalah sektor listrik, gas dan air minum dengan kisaran nilai LQ sepanjang 2004-2010 adalah sebesar 0,54; 0,53; 0,56; 0,62; 0,65; 0,68; 0,68. Dan sektor yang paling kecil nilai LQ-nya diantara sembilan sektor pembentuk PDRB Kabupaten Simalungun adalah sektor bangunan dan konstruksi dengan rata-rata nilai LQ tahun 2004-2010 pada kisaran sebesar 0,26. Walaupun secara analisis LQ dikabupaten Simalungun hanya ada dua sektor yang menjadi sektor unggulan, namun tidak dapat diabaikan bagaimana peranan sektor-sektor lainnya. Karena sebagai sektor-sektor dalam pembentukan PDRB maka kemajuan satu sektor akan sangat dipengaruhi oleh sektor lain. Dalam hal ini, sektor basis yaitu sektor dengan kisaran nilai LQ yang tertinggi akan berpengaruh terhadap pertumbuhan sektor-sektor non basis. 4.2.3 Hasil Analisis Shift Share Analisis Shift Share digunakan untuk mengetahui proses pertumbuhan ekonomi Kabupaten Simalungun dikaitkan dengan wilayah Provinsi Sumatera Utara. Dalam hal ini, PDRB sebagai variabel pendapatan digunakan untuk

menjelaskan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Simalungun. Pertumbuhan sektor68

sektor perekonomian di Kabupaten Simalungun dipengaruhi oleh tiga komponen pertumbuhan wilayah. Ketiga komponen itu adalah Provincial Share (Nij), Proportional Shift Komponen (Mij), dan Differential Shift Component (Cij). Dua komponen shift yaitu Proportional Shift Component dan differential Shift Component adalah berfungsi untuk memisahkan unsur-unsur pertumbuhan Kabupaten Simalungun yang bersifat dari dalam wilayah (intern) dan dari luar wilayah (ekstern). Yang mana Proportional Shift menunjukkan pengaruh dari luar yang bekerja dalam perekonomian daerah Simalungun sementara itu Differential Shift adalah menceritakan pengaruh didaerah Kabupaten Simalungun. Berdasarkan tabel berikut, maka dapat dilihat bagaimana sebenarnya pertumbuhan ekonomi daerah Simalungun sepanjang 2004-2010. analisis ada sektor-sektor yang bernilai positif dan negatif. Dari hasil faktor-faktor yang bekerja

Apabila nilai

Proportional Shift Componen (Mij) adalah positif, maka itu berarti bahwa perekonomian Kabupaten Simalungun berspesialisasi pada sektor yang sama yang tumbuh cepat pada perekonomian Provinsi Sumatera Utara. Dan sebaliknya jika nilai Mij negatif, berarti perekonomian Kabupaten Simalungun

berspesialisasi pada sektor yang sama dan tumbuh lambat pada perekonomian Provinsi Sumatera Utara.

69

Tabel 4.5 Hasil Analisis Shift Share Kabupaten Simalungun tahun 2004-2010
no 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian pertambangan dan penggalian industri pengolahan listrik, gas, dan air minum Bangunan Perdagangan, hotel dan restoran pengangkutan dan komunikasi keuangan, asuransi dan sewa perusahaan jasa-jasa Sektor Nij 872,2064 5,075014 255,3351 6,526517 25,69335 123,2344 35,89934 25,20369 133,895 Mij -233,4826 -0,675099 -90,86826 -2,426137 8,26897 7,472786 23,26505 19,22901 36,40715 Cij 84,956178 1,3700847 -69,88685 5,1796197 -1287232 -25,74714 -20,7144 -5,102695 123,41782 Dij 723,68 5,77 94,58 9,28 21,09 104,96 38,45 39,33 293,72

Sumber; Data Diolah Dari Lampiran Sektor-sektor yang memiliki nilai Proportional Shift Componen (Mij) positif adalah sektor bangunan dengan nilai sebesar 8,26897 , sektor

perdagangan,hotel dan restoran (7,472786), sektor pengangkutan dan komunikasi (23,26505), sektor keuangan,asuransi dan jasa perusahaan (19,22901) serta sektor jasa-jasa (36,40715). Sedangkan sektor-sektor dengan nilai Mij negatif adalah sektor pertanian dengan nilaisebesar -233,4826, pertambangan dan penggalian (0,675099), sektor industri pengolahan (-90,86826) serta sektor Listrik, gas dan air minum (-2,426137). Jadi dapat dilihat bahwa dikabupaten Simalungun terdapat lima sektor dengan komponen pertumbuhan proporsional yang bernilai positif dan empat sektor yang benilai negatif. Begitu juga dengan Nilai Differential Shift (Cij) sektor perekonomian dikabupaten Simalungun selama periode 2004-2010 memiliki nilai positif dan nilai negatif. Hal ini mengindikasikan bahwa terdapat sektor ekonomi Kabupaten Simalungun tumbuh lebih cepat dibandingkan sektor yang sama ditingkat Provinsi Sumatera utara, dan sebaliknya ada pula sektor ekonomi Kabupaten Simalungun
70

yang tumbuh lebih lambat dibandingkan sektor yang sama ditingkat Provinsi Sumatera Utara. Terdapat empat sektor dalam perekonomian Simalungun yang memiliki nilai Differential Shift Component (Cij) adalah sektor pertanian dengan nilai sebesar 84,956178, sektor pertambangan dan penggalian dengan nilai 1,3700847, sektor listrik, gas dan air minum dengan nilai 5,1796197, serta sektor jasa-jasa dengan nilai sebesar 123,41782. Berdasarkan nilai hasil analisis Shift Share

diatas, maka keempat sektor yang memiliki nilai positif tersebut adalah sektor dengan pertumbuhan yang cepat sehingga keempat sektor ini adalah sektor-sektor yang sangat potensial untuk dikembangkan dalam rangka percepatan pertumbuhan ekonomi wilayah Kabupaten Simalungun. Sementara itu lima sektor lain yang memiliki nilai Cij negatif yaitu sektor industri pengolahan dengan nilai -69,88685, sektor bamgunan -1287232, sektor perdagangan,hotel, dan restoran -25,74714, sektor pengangkutan dan komunikasi -20,7144, serta sektor keuangan, asuransi dan jasa perusahaan -5,102695. Kelima sektor ini adalah sektor yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang sangat lambat, sehingga kelima sektor ini adalah sektor-sektor yang kurang potensial. 4.3 Pembahasan Persektor Perekonomian Kabupaten Simalungun Bertambah banyaknya kegiatan basis dalam suatu daerah akan menambah arus pendapatan kedalam wilayah yang bersangkutan, menambah permintaan barang dan jasa sehingga akan menimbulkan kenaikan volume kegiatan. Sebaliknya berkurangnya kegiatan basis akan mengurangi pendapatan suatu

71

daerah dan turunnya permintaan terhadap barang dan jasa dan akan menurunkan volume kegiatan (Richardson, 1977). Jadi secara terperinci melalui penggabungan hasil tiga analisis dalam penelitian ini, yaitu analisis Klassen Tipology, analisis Location Quetient (LQ) dan analisis Shift Share, maka berdasarkan pengamatan terhadap tiap-tiap sektor dapat kita tarik kesimpulan untuk menentukan sektor unggulan dalam perekonomian Kabupaten Simalungun. Jadi, secara lengkap berikut adalah dijelaskan hasil analisis Klassen Tipology selama kurun waktu 2001-2010, analisis LQ dan anlisis Shift Share untuk masing-masing sektor selama kurun waktu 2004-2010. 4.3.1 Analisis Sektor Pertanian Dilihat dari kontribusinya terhadap PDRB Kabupaten Simalungun, sektor Pertanian memiliki peranan yang sangat penting dalam perekonomian. Sebagai mana dapat dilihat dari tabel 4.4 bahwa sektor pertanian memiliki kontribusi terbesar yaitu dengan rata-rata kontribusi sebesar 58,41%, melebihi setengah dari total PDRB Kabupaten Simalungun dan kontribusi sektor ini lebih besar jika dibandingkan dengan kontribusi sektor yang sama ditingkat Provinsi. Sementara itu laju pertumbuhan rata-rata sektor pertanian adalah 3,56% lebih kecil dibandingkan dengan laju pertumbuhan ditingkat provinsi, hal ini menempatkan sektor pertanian sebagai sektor maju tapi tertekan. Secara statistik dari tahun ketahun kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Kabupaten Simalungun memang semakin berkurang, tetapi itu tidak terlalu
72

mempengaruhi posisi sektor pertanian sebagai sektor paling dominan dalam pembentukan PDRB Simalungun. Tingginya kontribusi sektor pertanian dalam PDRB Simalungun adalah, karena berdasarkan topografi wilayah 68,82% dari total wilayah Simalungun adalah daerah potensial untuk dijadikan sebagai tanah pertanian dan perkebunan. Hal ini dapat dilihat dari luasnya perkebunan rakyat dan perkebunan Negara yang terdapat di Simalungun. Berdasarkan hasil analisis Location Loqatient (LQ) 2004-2010, sektor pertanian menunjukkan nilai LQ rata-rata sebesar 2,39 (>1),hal ini berarti sektor ini adalah sektor basis. Artinya bahwa sektor ini adalah tidak hanya dapat

memenuhi kebutuhan Kabupaten Simalungun tapi mampu memenuhi kebutuhan daerah lainnya sehingga komoditas sektor pertanian adalah komoditas yang menjadi andalan untk diekspor.Walau secara kontribusi sektor pertanian terus mengalami penurunan , namun jika dilihat dari hasil analisis LQ, selama kurun waktu 2004-2010 sektor pertanian adalah sektor yang kisaran nilai LQ terus mengalami peningkatan. Kisaran nilai LQ sektor pertanian dapat ditunjukkan oleh grafik berikut;

73

2.5 2.45 2.4 2.35 2.3 2.25 2.2 2.15 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2.31 2.28 LQ sektor pertanian Rata-rata LQ Pertanian 2.42 2.39 2.42 2.46 2.43

Sumber: Data diolah dari tabel 4.4. Gambar 4.3 Grafik Perkembangan LQ Sektor Pertanian Kabupaten Simalungun Sementara itu hasil perhitungan analisis Shift Share sektor pertanian Kabupaten Simalungun nilai Proportional Shift Component (Mij) adalah sebesar 233,4826, ini menunjukkan bahwa sektor ini merupakan sektor yang tumbuh relatif lambat ditingkat Provinsi Sumatera Utara. Sedangkan nilai Differential Shift Component (Cij) sebesar 84,956178 manunjukkan bahwa sektor pertanian di Kabupaten Simalungun mempunyai daya persaingan yang meningkat karena pertumbuhannya lebih cepat dari sektor yang sama di Provinsi Sumatera. Nilai Provincial Share (Nij) sebesar 872,2064, berarti bahwa Provinsi Sumatera Utara memiliki peranan yang positif terhadap pertumbuhan sektor pertanian di Simalungun. Sementara nilai Dij sebesar 723,68 berarti bahwa perubahan PDRB sektor pertanian selama periode 2004-2010 adalah sebesar Rp 723,68 milyar.

74

Tabel 4.6 Hasil Analisis Sektor Pertanian No 1 2 3 4 Aspek Tipologi Klassen Loqation Quotient Mij Cij Parameter Kuadran II >1 Negatif Positif Makna Sektor maju tapi tertekan Sektor basis Tumbuh relatif lambat diprovinsi Pertumbuhan lebih cepat dibanding Provinsi

Jadi berdasarkan penjelasan diatas, maka kesimpulan yang diperoleh adalah bahwa sektor pertanian di Kabupaten Simalungun dapat digolongkan sebagai sektor kedalam sektorr unggulan karena termasuk sektor yang maju tapi tertekan, merupakan sektor basis dan pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan dengan sektor yang sama ditingkat Provinsi. 4.3.2 Analisis Sektor Pertambangan dan Penggalian Tahun 2001-2010 rata-rata kontribusi sektor Pertambangan dan

Penggalian terhadap pembentukan PDRB Kabupaten Simalungun adalah sebesar 0,35% dan kontribusi ini lebih kecil apabila dibandingkan dengan kontribusi sektor yang sama di tingkat provinsi. Hal ini menjadikan sektor pertambangan sebagai sektor dengan kontribusi terkecil dalam PDRB Simalungun. Sementara itu dilihat dari laju pertumbuhan, sektor ini adalah sektor yang selalu berfluktuasi, dalam kurun waktu tertentu meningkat namun dikurun waktu berikutnya menurun. Rata-rata laju pertumbuhan sektor ini adalah 4,56 % lebih tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata laju pertumbuhan sektor yang sama ditingkat provinsi, dengan demikian sektor ini dapat diklasifikasikan sebagai sebagai sektor potensial atau dapat dikembangkan.

75

Selama kurun waktu 2004-2010 nilai LQ sektor pertambangan dan penggalian di Kabupaten Simalungun adalah sangat kecil kisarannya, yaitu dengan rata-rata kisaran nilai sebesar 0,30 (<1), berarti sektor ini tidak termasuk kedalam sektor basis. Perkembangan nilai LQ sektor ini juga bergerak lambat, dan kadang statis, walaupun mengalami peningkatan tetapi sangat lambat.

0.33 0.32 0.31 0.3 0.29 0.28 0.27 0.26 0.25

0.32 0.31 0.3 0.29 0.28 0.3 Nilai LQ Rata-rata Nilai LQ 0.31

2004

2005

2006

2007

2008

2009

2010

Sumber: Data diolah dari tabel 4.4 Grafik 4.4 Perkembangan LQ sektor pertambangan dan penggalian Hasil analisis shift share sektor pertambangan dan penggalian bahwa Proportional Shift Component (Mij) menunjukkan nilai sebesar -0,675099, dengan nilai Mij negatif berarti bahwa sektor ini termasuk sektor yang lambat pertumbuhannya di Provinsi, sedangkan nilai Cij sebesar 1,3700847 menunjukkan bahwa sektor ini memiliki daya saing yang meningkat, karena pertumbuhannya lebih cepat dari pertumbuhan sektor yang sama ditingkat Provinsi. Nilai Nij sebesar 5,075014 manunjukkan bahwa Provinsi Sumater Utara memiliki peranan yang positif terhadap pertumbuhan sektor ini di Kabupaten Simalungun. Nilai Dij sebesar 5,77 berarti bahwa perubahan nilai PDRB sektor ini dalam

76

perekonomian Simalungun selama periode 2004-2010 adalah sebesar Rp 5,77 milyar.


Tabel 4.7 Hasil Analisis Sektor Pertambangan dan Penggalian No 1 2 3 4 Aspek Tipologi Klassen Loqation Quotient Mij Cij Parameter Kuadran III <1 Negatif Positif Makna Sektor Potensial atau dapat berkembang Sektor non basis Tumbuh relatif lambat diprovinsi Pertumbuhan lebih cepat dibanding Provinsi

Jadi berdasarkan analisis sektor pertambangan dan penggalian, maka kesimpulan yang diperoleh adalah bahwa sektor ini belum bisa digolongkan sebagai sektor unggulan di Kabupaten Simalungun, karena sektor ini masih

termasuk dalam klasifikasi sektor potensial atau dapat berkembang. Walaupun tingkat pertumbuhannya lebih cepat bila dibandingkan ditingkat Provinsi, tetapi sektor ini bukanlah sektor basis karena memiliki kisaran nilai LQ yang sangat rendah, berada lebih kecil dari satu (<1). 4.3.3 Sektor Industri Pengolahan Dikabupaten Simalungun, sektor Industri Pengolahan ini adalah sangat menarik untuk diamati. Sebagai sektor dengan rata-rata kontribusi terhadap

PDRB selama 2001-2010 adalah sebesar 16,48%, menjadikan sektor ini sebagai sektor dengan kontribusi terbesar dalam PDRB Simalungun. Tetapi walaupun sebagai kontributor terbesar kedua, itu tak menjamin sektor ini menjadi sektor basis di Kabupaten Simalungun. kontribusinya terhadap PDRB Hal ini disebabkan karena, walaupun Simalungun cukup tinggi, namun bila

77

dibandingkan dengan kontribusi sektor yang sama terhadap PDRB Sumatera Utara, rata-rata kontribusi sektor ini masih lebih kecil. Begitupun juga dengan rata-rata laju pertumbuhannya, rata-rata pertumbuhan sebesar 1,62% ternyata lebih kecil bila dibandingkan dengan pertumbuhan ditingkat Provinsi. Sehingga dengan nilai kontribusi lebih kecil dan laju pertumbuhan yang lebih kecil juga, maka sektor ini dapat diklasifikasikan sebagai sektor relatif tertinggal. Jika dilihat dari analisis LQ, selama kurun waktu 2004-2010, nilai LQ sektor industri pengolahan tidak terlalu besar. Rata-rata nilai LQ sektor ini adalah sebesar 0,68 (<1), hal ini menunjukkan bahwa sektor ini tidak termasuk sebagai sektor basis. Dilihat dari pertumbuhan LQ nya, nilai LQ sektor ini cenderung mengalami penurunan.

0.72 0.71 0.7 0.69 0.68 0.67 0.66 0.65 0.64 0.63

0.71 0.7 0.68 0.67 0.66 0.67 0.67 nilai LQ rata-rata nilai LQ

2004

2005

2006

2007

2008

2009

2010

Sumber: Data diolah dari Tabel 4.4 Grafik 4.5 Perkembangan Nilai LQ Sektor Industri Pengolahan Dilihat dari hasil analisis Shift Share, industri pengolahan memiliki nilai Proportional Shift Component (Mij) sebesar -90,86826 yang berarti bahwa sektor ini tumbuh relatif lambat di Provinsi Sumatera Utara. Dan dengan nilai

78

Differential Shift Component (Cij) sebesar -69,88685 menunjukkan bahwa sektor ini adalah salah satu sektor dengan daya saing menurun, sehingga

pertumbuhannya lebih lambat dibandingkan dengan pertumbuhan di Provinsi. Sementara itu Nilai Nij sebesar 255,3351 berarti bahwa Provinsi Sumatera Utara memiliki perananan positif dalam pertumbuhan sektor ini. Serta nilai Dij sebesar 94,58 menjelaskan bahwa jumlah perubahan nilai PDRB sektor industri pengolahan selama periode 2004-2010 adalah sebesar Rp 94,58 milyar.

Tabel 4.8 Hasil Analisis Sektor Industri pengolahan No 1 2 3 4 Aspek Tipologi Klassen Loqation Quotient Mij Cij Parameter Kuadran IV <1 Negatif Negatif Makna Sektor Relatif Tertinggal Sektor non basis Tumbuh relatif lambat diprovinsi Pertumbuhan lebih lambat dibanding Provinsi

Jadi kesimpulan dari hasil analisis terhadap sektor industri pengolahan adalah, bahwa sektor ini tidak termasuk sektor unggulan. Hal ini disebabkan karena sektor industri pengolahan berada dalam klasifikasi sektor yang relatif tertinggal, sektor non basis dan pertumbuhannya relatif lambat serta tidak kompetitif. 4.3.4 Sektor Listrik, Gas dan Air Minum Pada periode tahun 2001-2010, menurut hasil analisis Klassen Tipology sektor listrik, gas dan air minum di Simalungun adalah menunjukkan rata-rata laju pertumbuhan 6,76%, yang mana itu adalah lebih besar bila dibandingkan dengan pertumbuhan ditingkat Provinsi. Sedangkan rata-rata kontribusi ini adalah lebih

79

kecil dari rata-rata kontribusi ditingkat provinsi. Hal ini membuat sektor ini diklasifikasikan sebagai sektor potensial atau masih dapat berkembang. Sementara itu, jika dilihat dari analisis LQ, nilai LQ sektor ini selama kurun waktu 2004-2010 adalah cenderung mengalami kenaikan. Tapi walaupun mengalami kenaikan tetapi sektor ini belum bisa dikategorikan sebagai sektor basis, karena berdasarkan rata-rata kisaran nilai LQ nya sektor ini hanya memiliki nilai sebesar 0,61 (<1).
0.8 0.7 0.6 0.5 0.4 0.3 0.2 0.1 0 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 0.54 0.53 0.62 0.56 Nilai LQ Rata-rata Nilai LQ 0.65 0.68 0.68

Sumber: Data diolah dari Tabel 4.6 Grafik 4.6 Perkembangan Nilai LQ sektor listrik, gas dan air minum Dilihat dari hasil analisis shift share, selama 2004-2010 dengan nilai Mij sebesar -2,421637 menunjukkan bahwa sektor ini tumbuh relatif lambat di Provinsi Sumatera Utara dan cepat di Kabupaten Simalungun. Sementara itu nilai Cij sebesar 5,1796197 berarti bahwa sektor ini pertumbuhannya di Kabupaten Simalungun lebih cepat dibandingkan di tingkat Provinsi, sehingga sektor ini adalah sektor yang memiliki nilai saing yang tinggi. Nilai Nij sebesar 6,526517

80

berarti bahwa provinsi Sumatera utara memiliki peranan positif terhadap pertumbuhan nilai PDRB sektor listrik, gas dan air minum. Sementara itu nilai Dij sebesar 9,28 mengartikan bahwa perubahan nilai PDRB sektor ini selama periode 2004-2010 adalah sebesar Rp 9,28 milyar

Tabel 4.9 Hasil Analisis Sektor Listrik,gas dan air minum No 1 2 3 4 Aspek Tipologi Klassen Loqation Quotient Mij Cij Parameter Kuadran III <1 Negatif Positif Makna Sektor potensial atau masih dapat berkembang Sektor non basis Tumbuh relatif lambat diprovinsi Pertumbuhan lebih cepat dibanding Provinsi

Jadi berdasarkan hasil analisis terhadap sektor listrik,gas dan air minum, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa sektor ini bukanlah termasuk sektor unggulan, karena tergolong sebagai sektor dengan klasifikasi sektor potensial atau masih dapat berkembang, walaupun sektor ini memiliki tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan tingkat provinsi tetapi sektor ini adalah sektor non basis. 4.3.5 Sektor Bangunan dan Kontruksi Pada periode 2001-2010, sektor bangunan dan konstruksi memberikan rata-rata kontrobusi sebesar 1,71% terhadap PDRB Simalungun, dimana nilai itu lebih kecil dari rata-rata kontribusi ditingkat provinsi. Begitupun juga dengan nilai rata-rata laju pertumbuhan sebesar 4,49% masih lebih kecil dari laju pertumbuhan ditingkat provinsi. Sehingga sektor ini termasuk dalam klasifikasi sektor relatif tertinggal.

81

Sementara itu, jika dilihat dari hasil analisis LQ, selama tahun 2004-2010 sektor bangunan dan konstruksi memiliki nilai rata-rata LQ sebesar 0,26 (<1) sehingga sektor ini tidak termasuk dalam sektor basis diperekonomian Simalungun. Begitupun juga dengan perkembangan nilai LQ sektor ini

menunjukkan grafik yang terus menurun, walau pada akhir periode penelitian nilai LQ nya tetap.

0.35 0.3 0.25 0.2 0.15 0.1 0.05 0 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 0.3 0.28 0.26 0.26

0.25

0.25

0.25 Nilai LQ Rata-rata LQ

Sumber: Data diolah dari Tabel 4.6 Grafik 4.7 Perkembangan Nilai LQ sektor bangunan dan konstruksi Berdasarkan hasil analisis shift share sektor bangunan dan konstruksi dapat dilihat nilai Mij sebesar 8,26897 berarti bahwa sektor ini tumbuh relatif cepat ditingkat provinsi. Nilai Cij sebesar -12,87232 menunjukkan bahwa sektor ini adalah pertumbuhannya lebih lambat bila dibandingkan ditingkat Provinsi Sumatera Utara, sehingga sektor ini adlah sektor dengan daya saing yang sangat menurun. Dengan nilai Nij sebesar 25,69335, berarti bahwa Provinsi Sumatera Utara meiliki peranan postif terhadap pertumbuhan sektor in. Sementara itu nilai

82

Dij sebesar 21,09 berarti bahwa perubahan nilai PDRB sektor bangunan dan konstruksi selama periode 2004-2010 adalah sebesar Rp 21,09 milyar.
Tabel 4.10 Hasil Analisis Sektor Bangunan Dan Konstruksi No 1 2 3 4 Aspek Tipologi Klassen Loqation Quotient Mij Cij Parameter Kuadran IV <1 Positif Negatif Makna Sektor relatif tertinggal Sektor non basis Tumbuh relatif cepat diprovinsi Pertumbuhan lebih lambat dibanding Provinsi

Berdasarkan hasil analisis dengan ketiga metode yang digunakan, maka kesimpulannya adalah bahwa sektor bangunan dan konstruksi tidaklah termasuk dalam sektor unggulan dalam perekonomian Kabupaten Simalungun. Hal ini disebabkan karena sektor ini hanya termasuk dalam sektor relatif tertinggal, tidak termasuk dalam sektor basis serta memiliki daya saing yang menurun karena pertumbuhannya lebih lambat jika dibandingkan ditingkat provinsi. 4.3.6 Sektor perdagangan, hotel dan restoran Pada periode tahun 2001-2010 menurut hasil analisis Klassen Tipology, sektor perdagangan, hotel dan restoran di Kabupaten Simalungun dapat diklasifikasikan sebagai sektor relatif tertinggal. Hal ini disebabkan karena ratarata laju pertumbuhan sektor ini sebesar 3,5% lebih kecil dari rata-rata laju pertumbuhan sektor yang sama di tingkat provinsi. Begitupun juga dengan ratarata kontribusi sektor ini terhadap PDRB Simalungun yang sebesar 8,23% masih lebih kecil jika dibandingkan dengan rata-rata kontribusi ditingkat Provinsi.

83

Berdasarkan hasil analisis LQ, nilai LQ sektor perdagangan, hotel dan restoran selama periode 2004-2010 menunjukkan bahwa sektor ini tidak termasuk dalam sektor basis dalam perekonomian Simalungun karena kisaran nilainya hanya sebesar 0,45(<1), dan perkembangan nilai LQ nya pun menurun dan akhirnya tetap.

0.465 0.46 0.455 0.45 0.445 0.44 0.435 0.43 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 0.44 0.44 0.44 0.44 0.44 Nilai LQ Rata-rata nilai LQ 0.46 0.46

Sumber: Data diolah dari Tabel 4.6 Grafik 4.8 perkembangan nilai LQ sektor perdagangan, hotel dan restoran Sementara itu menurut hasil analisis shift share, sektor perdagangan, hotel dan restoran pada periode 2004-2010 ditunjukkan oleh nilai Mij sebesar 7,472786 yang berarti bahwa sektor ini tumbuh relatif cepat di Provinsi. Serta dengan nilai Cij sebesar -25,74713 yang berarti bahwa sektor ini pertumbuhannya diKabupaten Simalungun lebih lambat dibandingkan pertumbuhan ditingkat provinsi, sehingga sektor ini adalah memiliki daya saing yang menurun. Nilai kisaran Nij sebesar 123,2344 berarti bahwa Provinsi Sumatera Utara neniliki peranan positif terhadap pertumbuhan sektor perdagangan, hotel dan restoran di Kabupaten Simalungun. Sedangkan nilai Dij sebesar 104,96 menunjukkan bahwa perubahan nilai PDRB
84

sektor ini selama periode 2004-2010 dikabupaten Simalungun adalah sebesar Rp 104,96 milyar.
Tabel 4.11 Hasil Analisis Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran No 1 2 3 4 Aspek Tipologi Klassen Loqation Quotient Mij Cij Parameter Kuadran IV <1 Positif Negatif Makna Sektor relatif tertinggal Sektor non basis Tumbuh relatif cepat diprovinsi Pertumbuhan lebih lambat dibanding Provinsi

Jadi, kesimpulan dari hasil analisis terhadap sektor perdagangan, hotel dan restoran adalah bahwa sektor ini tidak termasuk dalam sektor unggulan dalam perekonomian Simalungun. Hal itu disebabkan karena sektor ini hanya termasuk dalam klasifikasi sektor relatif tertinggal, kemudian sektor non basis serta memiliki daya saing yang menurun karena sektor ini pertumbuhannya di Kabupaten Simalungun lebih lambat dibandingkan pertumbuhan ditingkat provinsi. 4.3.7 Sektor Pengangkutan dan Komunikasi Tahun 2001-2010 berdasarkan hasil analisis Klassen Tipology, maka sektor pengangkutan dan komunikasi dalam Perekonomian Kabupaten Karena

Simalungun dapat diklasifikasikan sebagai sektor relatif tertinggal.

berdasarkan perbandingan yang dilakukan terhadap perekonomian tingkat provinsi, rata-rata pertumbuhan sektor ini di Simalungun sebesar 5,44% masih lebih kecil dari rata-rata pertumbuhan ditingkat provinsi. Begitu juga dengan rata-

85

rata kontribusi terhadap PDRB yang sebesar 2,43% masih lebih kecil jika dibandingkan dengan rata-rata kontribusi ditingkat Provinsi. Dari hasil analisis LQ, selama periode 2004-2010 sektor pengangkutan dan komunikasi dalam perekonomian Simalungun memiliki rata-rata nilai LQ sebesar 0,29 (<1) yang berarti bahwa sektor ini bukan termasuk sektor basis dalam perekonomian Simalungun. Dilihat dari perkembangan nilai LQ, sektor ini juga menunjukkan nilai LQ yang terus menurun, bisa dilihat dari grafik berikut.

0.35 0.3 0.25 0.2 0.15 0.1 0.05 0 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Nilai LQ Rata-rata nilai LQ 0.3 0.31 0.32 0.3 0.27 0.26 0.26

Sumber: Data diolah dari Tabel 4.6 Grafik 4.9 Perkembangan Nilai LQ sektor pengangkutan dan komunikasi Sementara itu jika dilihat dari hasil analisis shift share, selama periode 2004-2010 sektor pengangkutan ndan komunikasi memiliki nilai Mij sebesar 23,26505 yang berarti bahwa sektor ini tumbuh relatif cepat di tingkat provinsi, nilai Cij sebesar -20,7144 menunjukkan bahwa sektor ini pertumbuhannya lebih lambat jika dibandingkan dengan pertumbuhan ditingkat provinsi, sehingga sektor ini adalah sektor yang memiliki daya saing yang cenderung menurun. Sementara

86

itu nilai Nij sebesar 35,88934, berarti bahwa Provinsi Sumatera Utara memiliki peranan yang positif terhadap pertumbuhan sektor ini. Serta nilai Dij sebesar 38,45 menunjukkan bahwa perubahan nilai PDRB sektor ini selama kurun waktu 2004-2010 adalah sebesar Rp 38,45 milyar.
Tabel 4.12 Hasil Analisis Sektor Pengangkutan dan Komunikasi No 1 2 3 4 Aspek Tipologi Klassen Loqation Quotient Mij Cij Parameter Kuadran IV <1 Positif Negatif Makna Sektor relatif tertinggal Sektor non basis Tumbuh relatif cepat diprovinsi Pertumbuhan lebih lambat dibanding Provinsi

Jadi dari hasil analisis dari tiga alat metode yang digunakan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa sektor pengangkutan dan komunikasi tidak dapat digolongkan sebagai sektor unggulan dalam perekonomian Simalungun. Hal ini disebabkan karena sektor ini hanya masuk dalam klasifikasi sektor relatif tertinggal, sektor ini juga adalah sektor non basis serta memiliki daya saing yang menurun karena sektor ini memiliki pertumbuhan yang lebihn lambat jika dibandingkan dengan pertumbuhan ditingkat Provinsi. 4.3.8 Sektor Keuangan, Asuransi dan Jasa Perusahaan Sektor keuangan, asuransi dan jasa perusahaan di Kabupaten Simalungun selama kurun waktu 2001-2010 memiliki rata-rata laju pertumbuhan sebesar 5,69%, nilai itu masih lebih kecil bila dibandingkan dengan rata-rata laju pertumbuhan di tingkat provinsi. Dan dengan kontribusi rata-rata sebesar 1,89% terhadap PDRB kabupaten Simalungun masih lebih kecil juga jika dibandingkan

87

dengan rata-rata kontribusi ditingkat provinsi. Jadi berdasarkan analisis Klassen Tipology, maka sektor ini diklasifikasikan sebagai sektor relatif tertinggal. Jika dilihat dari hasil analisis LQ, sektor keuangan, asuransi dan jasa perusahaan di Kabupaten Simalungun selama periode 2004-2010, sektor ini memiliki kisaran nilai dengan rata-rata sebesar 0,28 (<1), sehingga sektor ini adalah sektor non basis dalam Perekonomian Kabupaten Simalungun. Dan jika dilihat dari perkembangan nilai LQ nya, sektor ini memiliki nilai LQ yang berfluktuatif dan cenderumg statis.

0.305 0.3 0.295 0.29 0.285 0.28 0.275 0.27 0.265 0.26 0.255

0.3 0.29 0.28 0.28 0.27 0.27 0.27 Nilai LQ Rata-rata nilai LQ

2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010

Sumber: Data diolah dari Tabel 4.6 Grafik 4.10 Perkembangan nilai LQ sektor keuangan, asuransi dan jasa perusahaan Berdasarkan hasil analisis shift share terhadap sektor keuangan, asuransi dan jasa perusahaan selama periode waktu 2004-2020, didapat nilai Mij sebesar 19,22901 yang berarti bahwa sektor ini tumbuh relatif cepat di tingkat provinsi, sedangkan nilai Cij sebesar -5,102695 menunjukkan bahwa pertumbuhan sektor ini di kabupaten lebih lambat, sehingga sektor ini adalah memiliki daya saing
88

yang cenderung menurun. Sedangkan nilai Nij sebesar 25,20369 menjelaskan bahwa Provinsi Sumatera Utara memiliki peranan yang positif terhadap pertumbuhan sektor ini. Sementara itu nilai Dij sebesar 39,33 menunjukkan

besarnya perubahan nilai PDRB sektor ini selama periode 2004-2010 adalah sebesar Rp 39,33 milyar.
Tabel 4.13 Hasil Analisis Sektor Keuangan, Asuransi dan Jasa Perusahaan No 1 2 3 4 Aspek Tipologi Klassen Loqation Quotient Mij Cij Parameter Kuadran IV <1 Positif Negatif Makna Sektor relatif tertinggal Sektor non basis Tumbuh relatif cepat diprovinsi Pertumbuhan lebih lambat dibanding Provinsi

Jadi dari ketiga alat analisis yg digunakan, maka kesimpulannya adalah bahwa sektor keuangan, asuransi dan jasa perusahaan di Kabupaten Simalungun tidaklah termasuk sektor unggulan, hal ini disebabkan karena sektor ini hanya masuk dalam klasifikasi sektor relatif tertinggal, sektor non basis serta memiliki daya saing yang menurun karen sektor ini tumbuh lebih cepat di provinsi. 4.3.9 Analisis Sektor Jasa-Jasa Sektor jasa-jasa dalam perekonomian Kabupaten Simalungun selama periode 2001-2010 adalah sektor dengan rata-rata laju pertumbuhan tertinggi yaitu sebesar 11,15% lebih besar dibadingkan dengan rata-rata pertumbuhan sektor yang sama ditingkat provinsi. Selain itu sektor ini juga menjadi kontributor

terbesar ke-tiga terhada PDRB Simalungun setelah sektor pertanian dan sektor industri pengolahan dengan rata-rata kontribusi sebesar 10,14% dan lebih besar

89

dari kontribusi sektor yang sama ditingkat provinsi. Jadi dengan demikian maka sektor ini adalah diklasifikasikan sebagai sektor maju dan tumbuh dengan pesat. Berdasarkan hasil analisis LQ terhadap sektor jasa-jasa selama periode 2004-2010, maka diperoleh rata-rata kisaran nilai LQ sebesar 1,14 (>1), yang berarti sektor ini adalah dikategorikan sebagai sektor basis dalam perekonomian Kabupaten Simalungun. Tahun 2004 sektor ini belum masuk dalam kategori sektor basis karena nilai LQ hanya sebesar 0,95 (<1), namun sejak 2005 sektor ini sudah termasuk sektor basis karena nilai LQ yang sudah lebih besar dari satu. Bila dilihat perkembangannya nilai LQ sektor ini memiliki peningkatan yang luar biasa cepat, tapi pada akhirnya diakhir periode penelitian mengalami penurunan tipis.

1.4 1.2 1 0.8 0.6 0.4 0.2 0 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 0.95 1.03 1.22 1.12 1.22 1.21 1.2

Nilai LQ Rata-rata nilai LQ

Sumber: Data diolah dari Tabel 4.6 Grafik 4.11 perkembangan Nilai LQ sektor Jasa-jasa Dari hasil analisis shift share, selama periode 2004-2010 sektor jasa-jasa memiliki nilai Mij sebesar 36,40715 yang berarti sektor ini tumbuh cepat di tingkat provinsi. Sedangkan itu nilai Cij sebesar 123,41782 menunjukkan bahwa
90

sektor ini pertumbuhannya lebih cepat di Kabupaten Simalungun apabila dibandingkan dengan pertumbuhannya ditingkat provinsi. Sementara itu nilai Nij sebesar 133,895, berarti bahwa Provinsi Sumater Utara memilki peranan yang positif terhadap pertumbuhan sektor ini. Serta nilai Dij sebesar 293,72

menunjukkan bahwa perubahan nilai PDRB sektor jasa-jasa selama periode tahun 2004-2010 adalah sebesar Rp 293,72 milyar.
Tabel 4.14 Hasil Analisis Sektor Jasa-jasa No 1 2 3 4 Aspek Tipologi Klassen Loqation Quotient Mij Cij Parameter Kuadran I >1 Positif Positif Makna Sektor maju dan tumbuh dengan pesat Sektor basis Tumbuh relatif cepat diprovinsi Pertumbuhan lebih cepat dibanding Provinsi

Jadi dari hasil analisis dengan ketiga metode yang digunakan, maka sektor jasa-jasa adalah dikategorikan sebagai sektor unggulan dalam perekonomian Kabupaten Simalungun. Hal ini disebabkan oleh, sektor ini diklasifikasikan

sebagai sektor maju dan tumbuh dengan pesat, sebagai sektor basis serta memiliki daya saing yang cenderung meningkat karena pertumbuhannya di Kabupaten lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan di tingkat provinsi. 4.4 Arahan Pembangunan Wilayah Kabupaten Simalungun Dari hasil uraian diatas, maka sektor pertanian dan sektor jasa-jasa merupakan sektor unggulan dalam perekonomian Kabupaten Simalungun, menurut hasil penelitian antara tahun 2004-2010 hasilnya menunjukkan bahwa kedua sektor ini merupakan sektor basis di Kabupaten Simalungun. Oleh sebab itu diperlukan suatu kebijakan dan dorongan dari Pemerintah, terutama dari

91

pemerintah daerah sebagai penanggung jawab wewenang pengelolaan atas wilayah Simalungun untuk lebih mengembangkan potensi-potensi yang ada didaerah ini. Sektor pertanian, sebagai sektor dengan kontribusi terbesar dalam perekonomian Simalungun harus tetap dipertahankan dan dikembangkan lagi hasil-hasil produknya, baik melalui pengembangan produk turunan, perluasan lahan pertanian, peningkatan infrastruktur yang berhubungan langsung dengan pertanian serta dengan berbagai cara lainnya. Sektor pertanian yang terdiri dari subsektor tanaman bahan pangan, subsektor tanaman perkebunan, subsektor peterakan dan hasil-hasilnya, subsektor kehutanan, serta perikanan mengalami peningkatan secara keseluruhan dari tahun ketahun. Pada tahun 2010 kabupaten Simalungun berada dalam posisi teratas

dalam daftar penghasil produk pertanian didaerah Provinsi Sumatera Utara, dimana jika dilihat dari produksi pertanian per hektar, Kabupaten Simalungun dapat produksi perhektarnya sebesar 417.494 ton. Sementara itu jika dilihat dari perkembangan subsektor tanaman pangan/palawija di Kabupaten Simalungun teus mengalami peningkatan dari tahun ke tahu, pada tahun 2010 Kabupaten Simalungun tercatat sebagai daerah penghasl padi terbesar di Provinsi Sumatera Utara dengan jumlah produksi padi sebesar 464.702 ton, atau sekitar 13,17% dari total produksi padi Sumatera Utara, dan tiap tahun Kabupaten Simalungun selalu surplus beras. Begitu juga dengan tanaman jagung sebesar 311.724 ton atau sebesar 26,72% produksi jagung total Sumatera Utara adalah peringkat pertama di

92

provinsi Sumatera Utara. Selain itu tanaman lainnya juga berada diperingkat atas dalam jumlah produksi hasil pertanian di Sumatera Utara, seperti ubi kayu dengan produksi sebesar 373.304 ton, ubi jalar sebesar 35.146 ton serta kacang tanah sebesar 4.958 ton. Hal ini membuat Kabupaten Simalungun adalah salah satu kabupaten swasembada pangan. Kabupaten Simalungun sudah teruji swasembada pangannya selama puluhan tahun. Sementara itu dukungan potensi subsektor perkebunan semakin

memantapkan sektor pertanian sebagai sektor unggulan. Saat ini nilai sektor pertanian hampir 50% ditunjang oleh subsektor perkebunan. Sejak tahun 1995 lahan-lahan pertanian di Simalungun mulai beralih fungsi menjadi lahan perkebunan (terutama jadi lahan sawit). Produksi sawit dan luas lahan sawit di Kabupaten Simalungun terus mengalami peningkatan, hal ini juga disebabkan karena lahan perkebunan teh di kecamatan Raya telah diganti menjadi lahan sawit sehingga saat ini luas lahan sawit di Kabupaten ini adalah sebesar 27.155 ha dengan total produksi 111.011 ton. Sementara itu perkebunan karet di

Simalungun yang terdiri dari perkebunan rakyat dan swasta luasnya 13.280,4 ha. Penjualan hasil perkebunan karet sangat dibantu oleh kehadiran PT Good Year Sumatera Plantations (berdiri tahun 1970), dan kini sudah diambil alih oleh PT Bridgestone, walaupun memiliki perkebunan sendiri tetapi masih tetap menampung hasil perkebunan rakyat dan mengolahnya menjadi bahan setengah jadi sebelum akhirnya dijual keluar daerah. Selain itu masih terdapat beberapa tanaman perkebunan di Kabupaten Simalungun yang potensial untuk

93

dikembangkan karena memiliki kontribusi yang cukup besar, yaitu tanaman cengkeh, cokelat, kelapa, kopi, teh, lada dan lain-lain. Jika melihat produksi pertanian yang sangat melimpah ini, sudah saatnya Pemerintah Kabupaten Simalungun memberikan perhatian khusus untuk lebih mengoptimalkan perkembangan industri pengolahan. Karena dengan perpaduan antara pengembangan sektor pertanian sebagai sumber bahan baku dan sektor industri sebagai alat untuk memberi nilai tambah dengan menghasilkan produk turunan dari produk pertanian serta bila didukung oleh sektor perdagangan yang tangguh akan sangat mendorong Kabupaten Simalungun sebagai daerah

agrobisnis, agroindustri serta agrowisata yang utama di Provinsi Sumatera Utara. Sementara itu dilihat dari subsektor peternakan, kehutanan dan perikanan terus mengalami peningkatan juga. Dari subsektor peternakan jenis ternak yang dibudidayakan adalah kambing, sapi potong, kuda, kerbau dan babi. Dari

subsektor perikanan, yang menjadi komoditas unggulan adalah ikan mas air tawar, ikan ini dipelihara disetiap kecamatan di Kabupaten Simalungun dengan jumlah produksi sebesar 1.036,5 ton. Sementara itu dari subsektor kehutanan, komoditas utama adalah eucaliptus sebesar 105.325,03 m3 dan log rimba dengan produksi sebesar 57.151,5 m3 pertahun, serta komoditi hutan lainnya seperti rotan, bambu, dan lain-lain. Menurut hasil analisis terhadap sektor jasa-jasa, sektor ini juga termasuk dalam kategori sektor unggulan dalam perekonomian Kabupaten Simalungun, kedudukannya sebagai sektor basis sangat terlihat dari peningkatan laju

94

pertumbuhan dan kontribusi dari tahun ketahun. Tetapi walaupun mengalami peningkatan yang luar biasa tiap tahunnya, sektor ini masih sangat didominasi oleh sub sektor pemerintahan umum, dimana sub sektor ini menyumbang 89,49% dalam pembentukan sektor jasa-jasa. Prioritas pembangunan di Kabupaten Simalungun haruslah diprioritaskan terhadap sektor-sektor unggulan. Karena perkembangan sektor-sektor unggulan tersebut akan mendorong keberadaan sektor yang lainnya. Karena dengan

demikian pemerintah daerah harus menentukan prioritas anggaran untuk tiap-tiap sektor unggulan sebagai alat untuk menstimulus perkembangan ekonomi

Kabupaten Simalungun. Dalam otonomi daerah saat ini, dimana kegiatan ekonomi daerah diupayakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat, maka dalam hal ini pemerintah daerah harus mendorong keikutsertaan masyarakat luas untuk berperan dalam kegiatan ekonomi daerah. Sehingga dalam hal ini, dalam masalah perencanaan pembangunan daerah, maka Pemerintah Kabupaten Simalungun harus dapat melakukan pemilihan kebijakan pembangunan yang yang tepat dalam setiap mengambil keputusan. Karena dengan pemilihan kebijaksanaan

pembangunan yang tepat maka arus investasi baik domestik maupun asing akan dirangsang untuk masuk dalam daerah Simalungun, yang mana ini akan menjadi akumulasi modal dalam pendanaan pembangunan daerah.

95

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data tentang Analisis Penentuan Sektor Ungggulan di Kabupaten Simalungun, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut; 1. Hasil penelitian menurut analisis Klassen Tipology dengan penggunaan Matriks Klassen maka dapat diklasifikasikan tiap-tiap sektor dalam perekonomian Simalungun, yakni yang menjadi sektor maju dan tumbuh pesat adalah sektor jasa-jasa, lalu yang menjadi sektor maju tapi tertekan adalah sektor pertanian, sementara dua sektor yaitu sektor pertambangan dan penggalian serta sektor listrik, gas dan air minum adalah sektor potensial yang masih dapat berkembang, sedangkan lima sektor lainnya termasuk dalam klasifikasi sektor relatif tertinggal. 2. Menurut hasil analisis dengan indeks Location Quotient (LQ), maka yang menjadi sektor basis, yakni sektor yang memiliki nilai LQ lebih besar dari satu adalah sektor pertanian dan sektor jasa-jasa. Sementara itu tujuh sektor lainnya adalah sektor non basis. 3. Menurut hasil analisis Shift Share maka di peroleh kesimpulan bahwa dalam perekonomian Simalungun terdapat beberapa sektor yang memiliki keunggulan/daya saing yang kompetitif yaitu; Sektor Pertanian

96

Sektor Pertambangan dan Penggalian Sektor Listrik, Gas dan Air Minum Sektor jasa-jasa. Sementara itu sektor-sektor lainnya bukanlah sektor yang memiliki daya saing yang tinggi/kompetititif. 4. Jadi berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan tiga alat analisis tersebut maka dapat ditarik kesimpulan sektor mana yang memiliki syarat sebagai sektor unggulan dalam perekonomian Kabupaten Simalungun. Syarat/kriteria yang digunakan untuk menentukan sektor yang menjadi sektor unggulan adalah sektor maju, sektor basis serta sektor yang memilki kompetitif/daya saing yang tinggi. Jadi sektor yang dikategorikan sebagai sektor unggulan adalah sektor pertanian dan sektor jasa-jasa. 5.2 Saran-saran Dari kesimpulan yang telah dikemukakan oleh hasil dari ketiga alat analisis diatas, serta dikaitkan dengan kebijakan otonomi daerah ditengah era globalisasi (perekonomian modern), dimana adanya harapan akan perkembangan dan kemandirian ekonomi daerah untuk membangun potensi-potensi yang terdapat dalam wilayahnya sebagai syarat untuk memperkuat kedudukan daerah dalam perekonomian nasional, maka penulis memberikan beberapa saran sebagai berikut:

97

1. Pemerintah Kabupaten Simalungun perlu menetapkan

kebijakan

pembangunan dengan prioritas sektor unggulan / sektor basis tanpa harus mengabaikan sektor non basis. Hal ini adalah bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah yang diukur dari tingkat penerimaan PDRB Kabupaten Simalungun. 2. Walaupun di Kabupaten Simalungun hanya terdapat dua sektor yang menjadi sektor unggulan, dan kedua sektor tersebut menjadi prioritas utama dalam perekonomian, namun tidak dapat diabaikan keberadaan tujuh sektor lainnya. Terutama sektor pertambangan dan penggalian serta sektor listrik, gas dan air minum, mengingat kedua sektor ini adalah sektor yang sangat potensial untuk dikembangkan dan sektor ini juga memiliki daya saing yang cenderung meningkat. Begitu juga dengan

sektor-sektor lain yang tergolong sebagai sektor relatif tertinggal. Seperti sektor industri pengolahan walaupun dari tahun ketahun kontribusi sektor ini dalam kegiatan perekonomian Simalungun selalu mengalami penurunan, akan tetapi mengingat kegiatan perekonomian Kabupaten Simalungun masih didominasi oleh sektor pertanian dan memiliki produksi pertanian yang sangat melimpah, maka sangat diperlukan dukungan dari sektor industri sebagai wadah untuk memberikan nilai tambah bagi hasil-hasil pertanian di kabupaten Simalungun, sehingga dengan demikian potensi hasil-hasil pertanian semakin dapat ditingkatkan. Begitupun juga dengan sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, walaupun berdasarkan hasil analisis bukan menjadi sektor basis, tapi

98

sektor ini tak boleh diabaikan begitu saja, mengingat saat ini berada dalam kegiatan ekonomi yang mengandalkan keberadaan modal maka sangat diperlukan dukungan dari lembaga keuangan yang tangguh untuk menjamin kestabilan kelancaran pendanaan kegiatan-kegiatan ekonomi masyarakat. Karena sangat mustahil pembangunan ekonomi dilakukan apabila tidak memiliki lembaga keuangan yang baik untuk menjamin aliran modal. Sementara itu, jika dilihat dari hasil analisis terhadap sektor pengangkutan dan komunikasi, dapat dilihat bagaimana masih sangat minimnya kontribusi sektor ini dalam perekonomian daerah. Hal ini tentu saja menjadi salah satu masalah besar karena ini mengindikasikan masih minimnya infrastruktur di Kabupaten Simalungun. Padahal dalam

perekonomian modern saat ini transportasi dan komunikasi adalah memegang peranan penting dalam tiap perekonomian. Kelengkapan

transportasi akan mempercepat kegiatan ekonomi, terutama untuk menyalurkan hasil-hasil komoditi daerah, sementara itu keberadaan komunikasi yang memadai akan mempermudah memperoleh informasi, karena dalam perekonomian modern pemenang persaingan adalah mereka yang menguasai informasi. Selain itu juga, salah satu syarat yang

membuat para investor tertarik berinvestasi dalam suatu daerah adalah keberadaan infrastruktur daerah tersebut. 3. Oleh karena itu dalam hal ini pemerintah daerah Kabupaten Simalungun harus mengambil kebijakan yang bertujuan untuk memantapkan dan

99

meningkatkan juga sektor-sektor ekonomi non unggulan agar nantinya dapat menjadi sektor-sektor memberikan kontribusi yang terus meningkat dalam pembentukan PDRB Kabupaten Simalungun. Oleh karena itu

Pemerintah Kabupaten Simalungun perlu melakukan revitalisasi terhadap sektor-sektor dalam perekonomian daerah, baik itu sektor yang non basis maupun sektor basis, serta berusaha untuk menstimulus peningkatan produktivitas dan pengelolaan sektor-sektor potensial agar mempunyai daya saing yang meningkat/kompetitif sehingga meningkatkan pendapatan daerah Kabupaten Simalungun. 4. Bagi para pihak investor yang ingin melakukan investasi di Kabupaten Simalungun, diharapkan penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu pedoman dalam melihat sektor-sektor potensial dalam berinvestasi. 5. Penulis sadar bahwa penelitian ini masih belum sempurna dan masih banyak kekurangan. Penelitian ini masih hanya menggunakan sisi

pendapatan (PDRB) daerah sebagai data untuk menentukan sektor unggulan, oleh sebab itu penulis menyarankan kepada peneliti selanjutnya untuk melanjutkan penelitian ini melihat dari sisi tenaga kerja menurut lapangan usaha untuk menentukan sektor unggulan dan melihat bagaimana pergeseran struktur perekonomian daerah.

100

DAFTAR PUSTAKA Adisasmita, R, 2005. Dasar-dasar Ekonomi Wilayah, Graha Ilmu, Yogyakarta. Badan Pusat Statistik Simalungun, (2001-2010). Kabupaten Simalungun Dalam Angka. Kabupaten Simalungun. Badan Pusat Statistik Sumatera Utara, (2001-2010). Sumatera Utara Dalam Angka. Sumatera Utara. Badan Pusat Statistik ,2011. Statistical Yearbook Of Simalungun 2011. Medan. Bungin, Buchin, 2001. Metodologi Penelitian Sosial: Format Kuantitatif dan Kualitatif, Airlangga University Press. Glasson, Jhon, 1977. Pengantar Perencanaan Regional: Terjemahan Paul

Sitohang, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta. Jhingan, M.L, 2004. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan, PT Raja

Grafindo Persada, Jakarta. Kadiman, Irawan, 2001. Teori dan Indikator Pembangunan, Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia, Jakarta. Bahan Ajar Diklatpim Tingkat III. Richardson, Harry, 1985. Dasar-Dasar Ilmu Ekonomi Regional, Edisi Revisi 2001. Lembaga Penerbit FE-UI, Jakarta. Safii, H.M, 2007. Strategi dan Kebijakan Pembangunan Ekonomi Daerah: Perspektif Teoritik, Averroes Press, Malang. Sirojuzilam, 2008. Disparitas Ekonomi Dan Perencanaan Regional:

Ketimpangan Ekonomi Wilayah Barat dan Wilayah Timur Provinsi Sumatera Utara, Pustaka Bangsa Press, Medan. ________, 2005. Beberapa Aspek Pembangunan Regional, ISEI, Bandung.

101

Sirojuzilam dan Kasyfull Mahalli, 2010. Regional : Pembangunan, Perencanaan, dan Ekonomi, USU Press, Medan. Susantono, Bambang, 2009. Strategi Dalam Penataan Ruang dan Pengembangan Wilayah, Kata Hasta Pustaka, Jakarta Selatan. Tarigan, Robinson, 2002. Perencanaan Pembangunan Wilayah: Pendekatan Ekonomi dan Ruang, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi

Departemen Pendidikan Nasional, Medan. _______, 2003. Perencanaan Pembangunan Wilayah, Bumi Aksara, Jakarta. _______, 2005. Ekonomi Regional: Teori dan Aplikasi, Edisi Revisi, PT Bumi Aksara, Jakarta. Todaro, Michael, 2006. Pembangunan Ekonomi, Edisi Kesembilan, PT Gelora Akasara Pratama, Jakarta. Wiriatmodjo, Piran, dkk, 2001. Pembangunan Daerah, Sektor, dan Nasional, Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia, Jakarta. Bahan Ajar Diklatpim Tingkat III.

102