Anda di halaman 1dari 9

Salmonella typhi

RESUME

Disusun untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Mikrobiologi yang dibimbing oleh


Bpk. Agung Witjoro, S.Pd., M.Kes.

Oleh :

1. Thania Ayu Pramesty (180342618029)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
PROGRAM STUDI S1 BIOLOGI
Februari 2020
Salmonella typhi
Salmonella typhi (S. typhi) merupakan kuman pathogen penyebab demam
tifoid, yaitu suatu penyakit infeksi sistemik dengan gambaran demam yang
berlangsung lama, adanya bakteremia disertai inflamasiyang dapat merusak usus
dan organ-organ hati (Johnson, 1993). Demam tifoid merupakan penyekit menular
yang tersebar di seluruh dunia, dan sampai sekarang masih menjadi masalah
kesehatan terbesar di negara sedang berkembang dan tropis seperti Asia Tenggara,
Afrika dan Amerika Latin. Insiden penyakit ini masih sangat tinggi dan
diperkirakan sejumlah 21 juta kasus dengan lebih dari 700 kasus berakhir dengan
kematian (Cita, 2011). Pengklasifikasian Salmonella typhi, yaitu:
 Kingdom : Animalia
 Filum : Eubacteria
 Kelas : Prateobacteria
 Ordo : Eubacteriales
 Family : Eubacteriae
 Genus : Salmonella
 Spesies : Salmonella typhi

Salmonella typhi merupakan bakteri Gram negatif, berbentuk bassil,


ukurannya berkisar antara 0,7-1,5 × 2-5 µm, bergerak dengan flagel peritrik,
bersifat intraseluler fakultatif dan anaerob fakultatif (dapat menggunakan O2,
tetapi bisa juga tumbuh tanpa O2).

Gambar 1. Salmonella typhi pada pengamatan di mikroskop.

Sumber: Pelczar (1998).


Salmonella typhi bersifat intraseluler fakultatif dan anaerob fakultatif (dapat
menggunakan O2, tetapi bisa juga tumbuh tanpa O2). Selain itu, Salmonella typhi
juga memiliki antigen somatik (O), antigen flagel (H) dan antigen Kapsul (Vi)
(Samuelson, 2008). Tiga jenis antigen utama pada Salmonella typhi , yaitu sebagai
berikut :

1. Antigen somatik atau antigen O

Antigen ini adalah bagian dinding sel bakteri yang tahan terhadap
pemanasan 100 0 C, alkohol dan asam. Struktur antigen somatik mengandung
lipopolisakarida. Beberapa diantaranya mengandung jenis gula yang spesifik.
Antibodi yang terbentuk terhadap antigen O adalah IgM.

2. Antigen Flagel atau antigen H

Ditemukan dalam 2 fase, yaitu fase 1 spesifik dan fase 2 tidak spesifik.
Antigen H dapat dirusak oleh asam, alkohol, dan pemanasan diatas 60 0 C.
Antibodi terhadap antigen H adalah IgG.

3. Antigen Vi atau antigen kapsul

Antigen ini merupakan polimer polisakarida bersifat asam yang terdapat


pada bagian yang paling luar badan bakteri. Antigen Vi dapat dirusak oleh
asam, fenol, dan pemanasan 600 C selama 1 jam.

Kuman ini tahan terhadap selenit dan natrium deoksikolat yang dapat
membunuh bakteri enterik lain, menghasilkan endotoksin, protein invasin dan
MRHA (Mannosa Resistant Haemaglutinin). Perkembangan bakteri Salmonella
typhi terbilang sangat cepat dan menakjubkan. Setiap selnya mampu membelah
diri setiap 20 menit sekali pada suhu hangat dan pada media tumbuh yang
mengandung protein tinggi. Bisa dibayangkan, satu sel bakteri bisa berkembang
menjadi 90.000 hanya dalam waktu 6 jam (Cita, 2011).
Ada tiga faktor yang menentukan virulensi bakteri Salmonella typhi, yaitu :

a. Daya invasi
Dalam usus halus, bakteri Salmonella typhi yang berpenetrasi di epitel dan
masuk ke dalam jaringan sub-epitel sampai lamina propia. Mekanisme biokimia
yang terjadi saat penetrasi belum diketahui dengan jelas, tetapi prosesnya
menyerupai fagositosis. Setelah penetrasi, bakteri difagosit oleh makrofag,
berkembang biak, dan dibawa oleh makrofag ke bagian tubuh yang lain.
b. Endotoksin
Kemampuan Salmonella yang hidup intra seluler diduga karena memiliki
antigen permukaan (antigen Vi). Simpai sel Salmonella typhi mengandung
kompleks lipopolisakarida (LPS) yang berfungsi sebagai endotoksin dan
merupakan faktor virulensi. Endotoksin dapat merangsang pelepasan zat pirogen
dari sel-sel makrofag dan sel-sel polimorfonunuklear (PMN) sehingga
mengakibatkan demam. Selain itu, endotoksin dapat merangsang aktifasi sistem
komplemen, pelepasan kinin, dan mempengaruhi limfosit. Sirkulasi endotoksin
dalam peredaran darah dapat menyebabkan kejang akibat infeksi.
c. Enterotoksin dan sitotoksin
Toksin lain yang dihasilkan oleh Salmonella typhi adalah enterotoksin
dan sitotoksin. Kedua toksin ini diduga juga dapat meningkatkan daya invasi dan
merupakan faktor virulensi Salmonella typhi (Cita, 2011).

Jenis organisme Salmonella typhi yang sehubungan dengan suplai bahan


pangan manusia banyak ditemukan pada sapi, domba, babi dan ayam. Peternakan
secara intensif untuk hewan ternak dan burung merupakan penyebab bertambah
meningkatnya kejadian akibat Salmonella typhi dari sumber-sumber tersebut.
Kejadian yang terjadi pada peternakan ternak besar atau ayam di negara-negara
maju dapat berkisar antara 0-50% ternak atau ayam tertular Salmonella typhi dari
padang rumput yang tercemar oleh kotoran yang tertular oleh Salmonella typhi
atau tepung ikan, tepung daging, atau tepung tulang yang tercemar. Selama
perjalanan kerumah potong hewan, ternak-ternak (ayam-ayam) ditempatkan
secara berdesak-desakan dan mengalami tekanan, sehingga mengakibatkan
penyebaran mikroorgnisme lebih luas diantara ternak-ternak tersebut. Demikian
juga selama penyembelihan dan kemudian pemotongan karkas terjadi pencemaran
silang (cross – contamination) dari karkas yang tercemar ke karkas yang masih
bersih melalui pisau, alat - alat lainnya dan air pencucian, sehingga keadaan
karkas yang tercemar oleh Salmonella lebih banyak sesudah proses
penyembelihan daripada sebelumnya (Cita, 2011).

Untuk menumbuhkan Salmonella typhi dapat digunakan berbagai macam


media, salahsatunya adalah media Hektoen Enteric Agar (HEA). Media lain yang
dapat digunakanadalah SS agar, bismuth sulfite agar, brilliant green agar, dan
xylose-lisine-deoxycholate (XLD) agar. HEA merupakan media selektif
diferensial. Media ini tergolong selektif karena terdiri dari bile salt yang berguna
untuk menghambat pertumbuhan bakteri gram positif dan beberapa gram negatif,
sehingga diharapkan bakteri yang tumbuh hanya Salmonella typhi. Media ini
digolongkan menjadi media diferensial karena dapat membedakan bakteri
Salmonella dengan bakteri lainnya dengan cara memberikan tiga jenis
karbohidrat pada media, yaitu laktosa, glukosa, dan salisin, dengan komposisi lakt
osa yang palingtinggi. Salmonella tidak dapat memfermentasi laktosa, sehingga
asam yang dihasilkan hanya sedikit karena hanya berasal dari fermentasi glukosa
saja. Hal ini menyebabkan koloni Salmonella akan berwarna hijau-kebiruan
karena asam yang dihasilkannya bereaksi dengan indikator yang ada pada media
HEA, yaitu fuksin asam dan bromtimol blue. Pada BGA (Brilliant Green Agar)
koloni dari tidak berwarna merah, dan transparan hingga keruh dengan lingkaran
merah muda hingga merah. Biakan diduga salmonela positif jika ada TSIA terlihat
warna merah pada permukaan agar, warna kuning pada dasar tabung dengan satu
atau tanpa pembentukan H2S. Pada media xylose-lisine-deoxycholate (XLD)
bakteri Salmonella akan membentuk warna merah dengan atau tanpa pusat
berwarna hitam. Pada media bismuth sulfite agar bakteri Salmonella membentuk
warna hitam atau hijau (Cita, 2011).
A B

Gambar 2. A. Salmonella typhi pada media XLD . B. Salmonella pada media


BGA. Sumber: (Cita, 2011).

Salmonella penyebab gastroenteritis ditandai oleh gejala-gejala yang


umumnya Nampak 12-36 jam setelah makan bahan pangan yang tercemar. Gejala-
gejala tersebut adalah, sebagai berikut :
1. Panas badan semakin hari bertambah tinggi, terutama pada sore dan malam hari.
2. Terjadi selama 7-10 hari, kemudian panasnya menjadi konstan dan kontinyu.
3. berak-berak (diarrhea), sakit kepala, muntah-muntah, pusing bagian bawah,
demam dan kadang-kadang didahului sakit kepala dan menggigil.
4. Hilangnya nafsu makan.
5. Bentuk klasik demam tiphoid selama 4 minggu. Masa inkubasi 7-14 hari.
Minggu pertama, terjadi demam tinggi, sakit kepala, nyeri abdomen, dan
perbedaan peningkatan temperatur dengan denyut nadi.50 % pasien dengan
defekasi normal.
Pada minggu kedua, terjadi splenomegali dan timbul rash.
Pada minggu ketiga, timbul penurunan kesadaran dan peningkatan toksemia,
keterlibatan usus halus terjadi pada minggu ini dengan diare kebiru-biruan dan
berpotensi untuk terjadinya ferforasi.
Pada minggu ke empat, terjadi perbaikan klinis.Tingkat kematian kurang dari 1%,
tetapi jumlah ini meningkat pada anak-anak, orang tua atau orang yang lemah.
Tempat terdapatnya jenis mikroorganisme ini adalah pada alat-alat pencernaan
hewan dan burung (Cita, 2011).
Kuman menembus mukosa epitel usus, berkembang biak di lamina
propina kemudian masuk kedalam kelenjar getah bening mesenterium. Setelah itu
memasuki peredaran darah sehingga terjadi bakteremia pertama yang asimomatis,
lalu kuman masuk ke organ-organ terutama hepar dan sumsum tulang yang
dilanjutkan dengan pelepasan kuman dan endotoksin ke peredaran darah sehingga
menyebabkan bakteremia kedua. Kuman yang berada di hepar akan masuk
kembali ke dalam usus kecil, sehingga terjadi infeksi seperti semula dan sebagian
kumandi keluarkan bersama tinja. Penyebaran penyakit ini terjadi sepanjang tahun
dan tidak tergantung pada iklim, tetapi lebih banyak dijumpai di negara-negara
sedang berkembang di daerah tropis, hal ini disebabkan karena penyediaan air
bersih, sanitasi lingkungan dan kebersihan individu yang masih kurang baik oleh
karena itu pencegahan penyakit demam tifoid mencakup sanitasi dasar dan
kebersihan pribadi, yang meliputi pengolahan air bersih, penyaluran air dan
pengendalian limbah, penyediaan fasilitas cuci tangan, pembangunandan
pemakaian WC, merebus air untuk keperluan minum dan pengawasan terhadap
penyedia makanan (Cita, 2011). Pencegahan dari Inveksi Salmonella typhi, antara
lain:
1. Bahan pangan mentah harus disimpan di freezer
2. Menjaga kebersihan peralatan makan
3. Selalu mencuci tangan sebelum makan
4. Waktu penyimpanan bahan pangan dalam suhu ruang selama dikonsumsi
harus dibatasi yaitu jangan lebih dari 2 jam (hindari memilih metode
prasmanan saat mengkonsumsi makanan sebab makanan diletakakkan dan
tersedia sepanjang waktu di luar pada suhu ruang sehingga rentan
terkontaminasi)
5. Setelah kontak dengan kotoran (feces) hewan, tangan harus dicuci dengan
air hangat serta sabun.
6. Dan pastinya selalu menjaga kesehatan tubuh dengan makanan dan gizi
seimbang, istirahat yang cukup, olahraga.
Jenis-jenis vaksin II yaitu Thypoid Vaccines yang tersedia bagi penderita
terinfeksi oleh Salmonella, kini ada 3, yaitu:

1. Vaksin inactivated whole-cell (menginaktivasi seluruh sel pathogen).


Tiap inividu, direkomendasikan dosis tunggal setiap 3 tahun.
2. Ty21: merupakan vaksin hidup untuk S. typhi. Dikonsumsi secara oral
(melalui mulut) sejumlah 4 dosis. Efektif selama 7 tahun.
3. Vi polysaccharide vaccine: dari polisakarida Vi yang dimurnikan berasal
dari S. typhi . Ditransfer ke dalam otot. Untuk memelihara pertahanan
tubuh. Revaksinasi direkomendasikan setiap 3 tahun.
Vaksin-vaksin tersebut di atas telah menunjukkan 70-90 % effektif
mengobati infeksi oleh kelompok Salmonella typhi (Santoso dkk, 2016).
Daftar Rujukan

Cita, Y. P. Bakteri Salmonella typhi dan Demam Tifoid. Jurnal Kesehatan


Masyarakat, Vol. 6, No. 1. (2011).
Johnson, A.G. 1993. Microbiology and Immunology 2nd edition. Harvard
Publishing Company, Malvern, Pennsylvania. 63-66.
Julius, E. S. 1990. Mikrobiologi Dasar. Jakarta: Binarupa Aksara Latar.
Pelczar, M. J., Chan, E. C. S. 1988. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta:
Universitas Indonesia Press. Dalam Jilid III Edisi IV. Jakarta: Pusat
Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI.
Samuelson, John. 2008. Patologi Umum Penyakit Infeksi dalam Brooks, G.F.,
Butel, Janet S., Morse, S. A. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.

Santoso, A. P. R., Kawuri, R., dan Besung, I. N. K. Potensi Salmonella typhi yang
dilemahkan dengan Sinar Ultraviolet Sebagai Vaksin Alternatif. Jurnal
Metamorfosa III (1): 31-36 (2016).