Anda di halaman 1dari 15

KIMIA FISIKA

“Aplikasi Sel Volta dan Sel Elektrolisis”

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kimia Fisika

Disusun Oleh Kelompok 7 :

Yahya Ardian Yuma Pracesa (17031010001)

Intan Shafira Widyananda (17031010010)

Elda Prian Budi (17031010011)

Hafidz Rizky Baharsyah (17031010016)

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”

JAWA TIMUR

FAKULTAS TEKNIK

TEKNIK KIMIA
I. Pengertian Sel Elektrokimia
Elektrokimia merupakan bagian dari ilmu kimia yang mempelajari
hubungan antara perubahan zat dan arus listrik yang berlangsung dalam sel
elektrokimia. Sedangkan sel elektrokimia adalah suatu sel yang disusun untuk
mengubah energi kimia menjadi energi listrik atau sebaliknya. Sel elektrokimia
terbagi menjadi dua:
1. Sel elektrolisis, yaitu sel yang mengubah energi listrik menjadi energi kimia.
Arus listrik digunakan untuk melangsungkan reaksi redoks tak spontan.
2. Sel Volta/Galvani, yaitu sel yang mengubah energi kimia menjadi energi
listrik. Reaksi redoks spontan digunakan untuk menghasilkan listrik.
Sel elektrokimia merupakan suatu sistem yang terdiri atas dua elektroda,
dan larutan/leburan elektrolit sebagai penghantar elektron. Pada sel volta maupun
sel elektrolisis, reaksi redoks berlangsung dalam suatu elektroda.
(Ratna,2015)

I.1 Penerapan Sel Volta Pada Baterai Nikel Kadmium (NiCd)


Baterai Nikel Kadmium (NiCd) pertama kali ditemukan di Swedia, oleh
Waldmar Jungner pada tahun 1899. Namun baru diproduksi secara masal pada
tahun 1960an. Baterai jenis ini memiliki tegangan sel sebesar 1,2 Volt dengan
kerapatan energi dua kali lipat dari baterai asam timbal. Baterai NiCd termasuk
golongan baterai yang dapat diisi ulang (rechargeable battery). Baterai NiCd
menggunakan nikel untuk elektroda positif dan kadmium untuk negative. Baterai
nikel kadmium memiliki nilai hambatan intenal yang kecil dan memungkinkan
untuk di charge dan discharge dengan rate yang tinggi. Umumnya baterai jenis ini
memiliki waktu siklus hingga lebih dari 500 siklus. Salah satu kekurangan baterai
jenis nikel kadmium adalah adanya efek ingatan (memory effect) yang berarti
bahwa baterai dapat mengingat jumlah energi yang dilepaskan pada saat discharge
sebelumnya.
Efek ingatan disebabkan oleh perubahan yang terjadi pada struktur
kristal elektrode ketika baterai nikel kadmium diisi muatan listrik kembali
sebelum seluruh energi listrik yang terdapat pada baterai nikel kadmiun
dikeluarkan/digunakan. Selain itu, baterai nikel kadmium juga sangat sensitif
terhadap kelebihan pengisian, sehingga perlu perhatian khusus pada saat pengisian
muatan listrik pada baterai. Dengan kata lain, pengisian ulang harus dilakukan
pada saat daya baterai benar-benar habis. Karena baterai NiCD memiliki memory
effect, semakin lama kapasitasnya akan menurun jika pengisian belum benar-
benar kosong.
Cadmium memiliki energi potensial reduksi standar (Eored) sebesar -0.40
V, sedangkan Eored Nikel  sebesar -0.25 V. Oleh karena Eored Nikel lebih besar
(lebih mendekati positif, yang berarti kecenderungan mengalami reduksi lebih
besar), maka dalam sistem baterai NiCd, yang menggunakan Nikel dan Cadmium
sebagai elektroda, elektroda Nikel akan mengalami reduksi (di sebut sebagai
katoda), sedangkan elektroda Cadmium mengalami oksidasi (disebut sebagai
anoda), selama reaksi spontan yang menghasilkan listrik (discharge). Selanjutnya,
elektroda Nikel akan disebut sebagai elektroda positif, sementara elektroda
Cadmium disebut sebagai elektroda negatif. Reaksi kimia yang berlangsung di
dalam baterai NiCd melibatkan air dan zat elektrolit KOH, serta bersifat dapat
balik (reversible). Oleh karena itu, baterai dapat ‘diisi ulang’ atau rechargeable,
dengan membalik reaksi yang semula mengubah energi kimia menjadi energi
listrik, kepada reaksi balikan yakni, mengubah energi listrik menjadi energi kimia.
Pada reaksi balikan, elektroda yang semula mengalami reduksi akan mengalami
oksidasi, begitupun sebaliknya untuk elektroda yang semua mengalami oksidasi
akan mengalami reduksi. Sehingga, katoda dan anoda berubah pada reaksi
kebalikan.
Selama penggunaan baterai sebagai sumber energi listrik bagi berbagai
alat elektronik, baterai NiCd melakukan reaksi kimia. Adapun prinsip
Elektrokimia yang bekerja adalah bahwa pada baterai terjadi reaksi oksidasi dan
reduksi yang menyebabkan pergerakan elektron, sehingga dihasilkan arus listrik.
Berikut ini adalah reaksi kimia yang terjadi selama penggunaan baterai
(discharge) :
Positif (reduksi)          : 2NiOOH + 2H2O + 2e- --> 2Ni(OH)2 + 2OH-
Negatif (oksidasi)       : Cd + 2OH- --> Cd(OH)2 + 2e-
reaksi net ion              : 2NiOOH + 2H2O + Cd  --> 2Ni(OH)2 + Cd(OH)2
Salah satu karakteristik baterai NiCd adalah bahwa zat elektrolit tidak
berperan secara langsung, tapi berperan dalam transportasi OH -. Sementara itu,
apabila seluruh NiOOH telah diubah menjadi Ni(OH)2 dan atau seluruh Cd telah
menjadi Cd(OH)2 maka diperlukan 'pengisian ulang' baterai agar ia dapat
digunakan kembali. Hal tersebut dilakukan dengan membalik reaksi melalui
pemberian arus listrik (sesuai prinsip elektrolisis, mengubah energi listrik menjadi
energi kimia). Ketika arus listrik diberikan, maka elektron akan bergerak menuju
kutub baterai yang lebih positif dan menyebabkan reaksi kimia kebalikan sebagai
berikut :
Negatif (reduksi)         : Cd(OH)2 + 2e-  --> Cd + 2OH-
Positif (oksidasi)         : 2Ni(OH)2 + 2OH-  --> 2NiOOH + 2H2O + 2e-
reaksi net ion               : 2Ni(OH)2 + Cd(OH)2 --> 2NiOOH + 2H2O + Cd
            Pengaliran arus listrik memaksa terjadinya oksidasi-reduksi di dalam
baterai, sehingga kondisi kembali seperti sebelum digunakan. Tetapi, apabila
terjadi overcharge (seluruh Ni(OH)2 dan atau Cd(OH)2 telah diubah menjadi
NiOOH dan Cd tetapi arus listrik masih tetap dialirkan), maka arus listrik akan
tetap memaksa terjadinya oksidasi dan reduksi, dan reaksi tersebut dilakukan pada
air sesuai persamaan berikut :
Positif                          : 4OH-  --> O2 + 2H2O + 4e-
Negatif                        : 2H2O + 4e-  --> 2OH- + H2
net ion reaction           : 2OH-  --> H2 + O2
            Tetapi, reaksi antara oksigen dan hidrogen dapat menyebabkan ledakan
dalam proses pembentukan air dengan ∆E = -285.8 kJ/mol. Oleh karena itu, gas
harus dialirkan secara tepat, atau pembentukan salah satu gas harus dicegah. Hal
kedualah yang dilakukan para pembuat baterai NiCd, yakni mencegah
pembentukan gas Hidrogen. Untuk melakukan hal tersebut, kapasitas elektroda
negatif dibuat lebih besar dibandingkan elektroda positif, sehingga elektroda
positif akan 'terisi penuh' lebih dahulu dari elektroda negatif.     
(Anonim, 2013)
Gambar 1. Penampang Membujur Baterai NiCd
Seperti yang terlihat pada Gambar 1, Komponen penyusun baterai NiCd
adalah elektroda positif (Nikel hidrat (NiOOH)), elektroda negatif (Cadmium),
separator (berserat-serat/fibrous), case (sebagai pelindung baterai), sealing
plate (menjaga sistem dari interferensi zat lain seperti CO2, yang dapat bereaksi
dengan 2KOH membentuk K2CO3, dan menyebabkan terbentuknya CdCO3,
yang keduanya dapat mengganggu siklus dalam baterai), insulation ring,
dan insulation gasket.
            Masih sesuai dengan ilustrasi pada Gambar 1, kedua elektroda dalam
baterai NiCd dipisahkan oleh separator yang berserat dan memungkinkan gas
untuk melaluinya. Menurut pengamatan Anna Cyganowski pada baterai Sanyo
Cadnica KR-1300 SC (1.2 V, 1300 mAh) berusia 10 tahun dengan menggunakan
mikroskop optis Leitz perbesaran 3 hingga 25 kali, bahan penyusun separator
adalah polypropylene/polyamine, seperti nylon. Berikut adalah gambar baterai
NiCd yang telah dibongkar.
Gambar 2. Baterai NiCd yang dibongkar
            Menurut literatur dari Handbook of Secondary Storage Batteries and
Charge Regulators in Photovoltaic Systems, zat elektrolit yang digunakan pada
baterai NiCd adalah aqueous KOH dengan konsentrasi 20-34% berat murni KOH.
Tetapi, masih berdasarkan pengamatan Anna Cyganowski pada baterai yang sama
dengan alat yang sama, zat elektrolit yang ada pada baterai teramati sebagai
serbuk padat.
(Gumela,
2012)
            Kelebihan dari baterai ini adalah tempat yang digunakan sama dengan
tempat yang digunakan pada baterai biasa sehingga tidak perlu memodifikasi
casing-nya. Selain itu jika dibandingkan dengan baterai biasa, baterai nikel
cadmium atau yang lebih dikenal sebagai Baterai NiCad ini, mempunyai daya
tahan sedikit di atas baterai biasa (dengan catatan kondisi baterai NiCad ini masih
baik).
            Kekurangan baterai NiCad adalah biaya pembuatannya mahal, kapasitas
berkurang jika tidak baterai dikosongkan (memory effect), dan tidak ramah
lingkungan (beracun).

Solusi              : Baterai nikel kadmium sangat sensitif terhadap kelebihan


pengisian, sehingga perlu perhatian khusus pada saat pengisian muatan listrik
pada baterai. Pada saat pengisian telah selesai maka suhu akan naik dengan cepat
(panas meningkat dengan cepat) sehingga charger perlu dimatikan. Karena jika
tidak dimatikan akan dapat menyebabkan suhu baterai akan naik terus dan pada
akhirnya akan meledak. Dan logam Cd itu beracun, oleh karena itu penggunaan
Cd diganti dengan logam hidrida, misalnya litium hidrida (LiH).
Baterai Nikel - Kadmium digunakan sebagai baterai dalam berbagai peralatan luar
angkasa sejak tahun 1970-an. Misalnya pada satelit dan beberapa peralatan luar
angkasa. Umumnya peralatan tersebut didesain sedemikian rupa sehingga dapat
menghemat pemakaian ruangan dalam pesawat. Selain itu, baterai NiCd sendiri
juga biasa digunakan di berbagai alat elektronik seperti peralatan remote control,
lampu darurat, serta beberapa peralatan tanpa kabel yang lain.

(Samudra, 2017)
I.2 Penerapan Elektrolisis Pada Elektroplating Krom

Gambar 3. Anoda, Katoda, dan Elektrolit

Anoda adalah terminal positif, dihubungkan dengan kutub positif dari sumber
arus listrik. Anoda dalam larutan elektrolit ada yang larut dan ada yang
tidak.Anoda yang tidak larut berfungsi sebagai penghantar arus listrik saja.,
sedangkan anoda yang larut berfungsi selain penghantar arus listrik, juga sebagai
bahan baku pelapis. Katoda dapat diartikan sebagai benda kerja yang akan
dilapisi, dihubungkan dengan kutub negatif dari sumber arus listrik. Elektrolit
berupa larutan yang molekulnya dapat larut dalam air dan terurai menjadi partikel-
partikel yang bermuatan positf atau negatif. Karena electroplating adalah suatu
proses yang menghasilkan lapisan tipis logam di atas permukaan logam lainnya
dengan cara elektrolisis, maka perlu kita ketahui skema proses electroplating
tersebut.
a. Skema Proses Electroplating
Perpindahan ion logam dengan bantuan arus listrik melalui larutan
elektrolit sehinnga ion logam mengendap pada benda padat yang akan dilapisi.
Ion logam diperoleh dari elektrolit maupun berasal dari pelarutan anoda logam di
dalam elektrolit. Pengendapan terjadi pada benda kerja yang berlaku sebagai
katoda.
Gambar 4. Skema Proses Electroplating

Reaksi Kimia pembentukan lapisan Chrome

Cr2+ (aq) + 2e- →Cr (s)

Pembentukan gas Hidrogen

2H+ (aq) + 2e- →H2 (g)

Reduksi oksigen terlarut

½ O2 (g) + 2H+ →H2O (l)

Pada ANODA

Pembentukan gas oksigen

H2O (l) → 4H+ (aq) + O2 (g) + 4e-

Oksidasi gas Hidrogen

H2 (g) →2H+(aq) + 2e-

Mekanisme terjadinya pelapisan logam adalah dimulai dari dikelilinginya


ion-ion logam oleh molekul-molekul pelarut yang mengalami polarisai. Di dekat
permukaan katoda, terbentuk daerah Electrical Double Layer (EDL) yang
bertindak seperti lapisan dielektrik. Adanya lapisan EDL memberi beban
tambahan bagi ion-ion untuk menembusnya. Dengan gaya dorong beda potensial
listrik dan dibantu oleh reaksi-reaksi kimia, ion-ion logam akan menuju
permukaan katoda dan menangkap electron dari katoda, sambil mendeposisikan
diri di permukaan katoda. Dalam kondisi equilibrium, setelah ion-ion mengalami
discharge menjadi atom-atom kemudian akan menempatkan diri pada permukaan
katoda dengan mula-mula menyesuaikan mengikuti susunan atom dari material
katoda.
(Anonim, 2017)
Elektroplating dibuat dengan jalan mengalirkan arus listrik melalui larutan
antara logam atau material lain yang konduktif. Dua buah plat logam merupakan
anoda dan katoda dihubungkan pada kutub positif dan negatif terminal sumber
arus searah (DC). Logam yang terhubung dengan kutub positif disebut anoda dan
yang terhubung dengan kutub negatif disebut katoda. Ketika sumber tegangan
digunakan pada elektrolit, maka kutub positif mengeluarkan ion bergerak dalam
larutan menuju katoda dan disebut sebagai kation. Kutub negatif juga
mengeluarkan ion, bergerak menuju anoda dan disebut sebagai anion. Larutannya
disebut elektrolit. Besarnya listrik yang mengalir yang dinyatakan dengan
Coulomb adalah sama dengan arus listrik dikalikan dengan waktu. Dalam
pemakaian secara umum atau dalam pemakaian elektroplating satuannya adalah
ampere-jam (Ampere-hour) yang besarnya 3600 coulomb, yaitu sama dengan
listrik yang mengalir ketika arus listrik sebesar 1 ampere mengalir selama 1 jam.

b. Hubungan Antara Kelistrikan Dan Ilmu Kimia Pada Reaksi


Elektrokimia
Michael Faraday pada tahun 1833 menetapkan hubungan antara kelistrikan
dan ilmu kimia pada semua reaksi elektrokimia. Dua hukum Faraday ini adalah :
1. Hukum I : Jumlah dari tiap elemen atau grup dari elemen-elemen yang
dibebaskan pada kedua anoda dan katoda selama elektrolisa sebanding dengan
jumlah listrik yang mengalir dalam larutan.
2. Hukum II : Jumlah dari arus listrik bebas sama dengan jumlah ion atau jumlah
substansi ion yang dibebaskan dengan memberikan sejumlah arus listrik adalah
sebanding dengan berat ekivalennya.
Elektroplating atau pelapisan krom banyak dilaksanakan untuk
mendapatkan permukaan yang menarik.  Karena sifat khas khrom yang sangat
tahan karat maka pelapisan khrom mempunyai kelebihaan tersendiri bila
dibandingkan dengan pelapisan lainnya. Selain sifat dekoratif dan atraktif dari
pelapisan khrom, keuntungan lain dari pelapisan khrom adalah dapat dicapainya
hasil pelapisan yang keras. Sumber logam khrom didapat dari asam khrom, tapi
dalam perdagangan yang tersedia adalah khrom oksida (Cr O 3) sehingga
terdapatnya asam khrom adalah pada waktu khrom oksida bercampur dengan air

Chrome Electroplating ini tidak hanya oleh industri-industri besar saja


yang menggunakannya, industri-industri menengah dan kecil pun banyak yang
menfaatkan chrome plating ini, bahkan industri-industri Rumah Tanggapun juga
ikut serta menggunakannya untuk memproduksi produknya.
Sering kita lihat dari mobil-mobilan sampai ke mobil asli, dari mobil yang murah
sampai mobil yang mewah. Dari sepeda ontel sampai sepeda motor, dari
perlengkapan rumah tangga sampai dapurnya, dari radio sampai ke komputer, dan
masih banyak yang lainnya. Tujuan pelapisan chrome ini untuk memperbaiki
tampak muka, memperlambat terjadinya korosi atau karat, meningkatkan
ketahanan terhadap gesekan, menanbah ukuran yang presisi.

c. Tujuan Elektroplating Chrome


Pelapisan chrome bertujuan:

1) Untuk keperluan dekorasi yang sifatnya tipis, agak lunak dan mengkilat.
Sering digunakan untuk alat-alat rumah tangga, asessoris kendaraan
bermotor, elektronik dan masih banyak yang lainnya.
2) Keperluan menambah pressisi yang bersifat keras dimana sering
digunakan untuk bantanlan agar tidak cepas aus oleh gesesekan seperti
Piston , Bearing, dan yang lainnya.
d. Klasifikasi Pelapisan Krom
Pelapisan krom dapat diklasifikasikan menjadi 2 macam, yaitu :
1.    Pelapisan dekoratif
               Pada pelapisan ini umumnya logam (benda kerja) terlebih dahulu dilapisi
dengan tembaga kemudian nikel dan akhirnya krom. Tebal lapisan krom dekoratif
umumnya berkisar antara 0.25 – 0.50 mikron.
2.    Pelapisan krom keras
               Pelapisan ini sering disebut industrial krom, yaitu pelapisan krom yang
memanfaatkan sifat-sifat krom untuk mendapatkan sifat-sifat seperti : tahan panas,
aus, erosi, korosi dan koefisien gesk rendah. Pada pelapisan krom keras, krom
diendapkan pada logam dasar secara langsung tanpa melalui pelapisan
perantara.  Biasanya pelapisan ini lebih tebal daripada pelapisan dekoratif.
Berbeda dengan lapisan tembaga dan nikel dimana logam yang berfungsi sebagai
anoda yaitu tembaga dan nikel. Untuk pelapisan krom, logam krom tidak akan
berfungsi dengan baik sebagai anoda, sehingga dalam pelapisan krom digunakan
anoda yang tidak larut yaitu lead (Pb). Sebutan lain untuk lapisan hard chrome
adalah functional chrome plating. Disebut demikian karena lapisan hard chrome
lebih banyak dimanfaatkan untuk keperluan engineering. 
Sifat-sifat yang dimiliki oleh lapisan hard chrome adalah :
a. Tidak membutuhkan undercoat berupa lapisan nikel.
b. Mempunyai tingkat kekerasan yang tinggi yaitu sekitar 55-60 HRc (skala
Rockwell C).
c. Tingkat ketebalan lapisannya tergolong cukup tinggi yaitu sekitar 1-1000 μm. 
d. Lapisannya memiliki microcrack.
e. Tahan terhadap gesekan dan aus.
f. Tahan terhadap korosi.
       

e. Pemanfaatan Penggunaan Hard Chrome


 Beberapa produk yang dapat ditemui telah memanfaatkan penggunaan lapisan
hard chrome diantaranya adalah :
a. Pump Shafts dan Rotors.
b. Hydraulic Rams dan Cylinders.
c. Print Rollers.
d. Gear Shafts.
e. Motorcycle Forks.
f. Cutting Tools.
g. Mold dan Dies.
h. Textile Guide.
i. Ball Valve.
j. Plunger.
k. Gage.
f. Tahapan Proses Elektroplating Hard Chrome
Tahapan proses hard chrome plating adalah sebagai berikut:
1. Pre cleaning            6. Rinse *
2. Stress relief *          7. Anodic etching 
3. Soak cleaning *       8. Rinse 
4. Rinse *                    9. Elektroplating hard chrome 
5. Aktivasi *               10. Rinse 
                                    11. Pengeringan
                                    12. Hydrogen embrittlement relief *
Keterangan:
* Bila diperlukan
Perlengkapan standar untuk proses decorative chrome plating adalah:
1. Tangki
2. Heater
3. Anoda 
4. Power supply DC 

(Rustandi, 2013)
g. Cara Pelapisan Krom
         Pelapisan krom menggunakan bahan dasar asam kromat, dan asam
sulfat sebagai bahan pemicu arus, dengan perbandingan campuran yang
tertentu.Perbandingan yang umum bisa 100:1 sampai 400:1. Jika perbandingannya
menyimpang dari ketentuan biasanya akan menghasilkan lapisan yang tidak sesuai
dengan yang diharapkan.Faktor lain yang sangat berpengaruh pada proses
pelapisan krom ini adalah temperatur cairan dan besar arus listrik yang mengalir
sewaktu melakukan pelapisan. Temperatur pelapisan bervariasi antara 35 °C
sampai 60 °C dengan besar perbandingan besar arus 18 A/dm2 sampai 27 A/dm2.
           Elektroda yang digunakan pada pelapisan krom ini adalah timbal (Pb)
sebagai anoda (kutub positif) dan benda yang akan dilapis sebagai katoda(kutub
negatif). Jarak antara elektroda tersebut antara 9 cm sampai 29 cm. Sumber listrik
yang digunakan adalah arus searah antara 10 – 25 Volt, atau bisa juga
menggunakan aki mobil.
(Iyok, 2011)
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2013. “Baterai Nikel-Kadmium”.(


http://tugas12ipa1.blogspot.co.id/2013
/10/baterai-nikel-kadmium.html) diakses pada tanggal 11 Mei 2018 pukul
14.9 WIB
Anonim. 2017. “Skema Cara Pelapisan Logam Secara Listrik (elektroplating)”.
(https://tsffarmasiunsoed2012.wordpress.com/2012/05/22/fenomena-
korosi/ skema-elektroplating/) diakses pada tanggal 11 Mei 2018 pukul
15.05 WIB
Gumela, Mohamad Teguh. 2012. “Baterai Nikel-Cadmium (NiCd Battery)”. (http:
//motegum.blogspot.co.id/2012/09/baterai-nicd.html) diakses pada
tanggal 11Mei 2018 pukul 14.54 WIB
Iyok. 2011. “Elektroplating”. (
http://emperor-nisem08.blogspot.co.id/2011/12
elektroplating.html) diakses pada tanggal 11 Mei 2018 pukul 14.59 WIB
Ratna.2015.“Elektrokimia”.
(http://ratnandroet.blogspot.co.id/2015/06/elektrokimia.html) diakses pada
tanggal 13 Mei 2015 Pukul 09.59
Rustandi, Didit. 2013. “Elektroplating di Industri”. (
https://makalaheletrolpating.
blogspot.co.id/2013/12/elektroplating-di-industri.html) diakses pada tanggal
11 Mei 2018 pukul 15.00 WIB
Samudra, Herlambang Bintang. 2017. “Artikel Redoks Tentang Baterai Nikel
Kadmium”. (http://blogshare123.blogspot.co.id/2017/) diakses pada
tanggal 11 Mei 2018 pukul 14.56 WIB