ASKEP Meningitis
ASKEP Meningitis
PENDAHULUAN
KONSEP MEDIS
2.1 Definisi
Meningitis adalah radang dari selaput otak yaitu lapisan aracnioid dan
piameter yang disebabkan oleh bakteri dan virus (Judha & Rahil, 2011).
Meningitis adalah infeksi akut yang mengenai selaput mengineal yang dapat
disebabkan oleh berbagai mikroorganisme dengan ditandai adanya gejala
spesifik dari sistem saraf pusat yaitu gangguan kesadaran, gejala rangsang
meningkat, gejala peningkatan tekanan intrakranial, & gejala defisit neurologi
(Judha & Rahil, 2011).
2.2 Etiologi
Meningitis dapat disebabkan oleh virus, bakteri, riketsia, jamur, cacing
dan protozoa. Penyebab paling sering adalah virus dan bakteri. Meningitis
yang disebabkan oleh bakteri berakibat lebih fatal dibandingkan meningitis
penyebab lain karena mekanisme kerusakan dan gangguan otak yang
disebabkan oleh bakteri maupun produk bakteri lebih berat. Infectious Agent
meningitis purulenta mempunyai kecenderungan pada golongan umur tertentu,
yaitu golongan neonatus paling banyak disebabkan oleh E.Coli, S.beta
hemolitikus dan Listeria monositogenes. Golongan umur dibawah 5 tahun
(balita) disebabkan oleh H.influenzae, Meningococcus dan Pneumococcus.
Golongan umur 5-20 tahun, disebabkan oleh Haemophilus influenzae,
Neisseria meningitidis dan Streptococcus, Pneumococcus, dan pada usia
dewasa (>20 tahun) disebabkan oleh Meningococcus, Pneumococcus,
Stafilocccus, Streptococcus dan Listeria.Penyebab meningitis serosa yang
paling banyak ditemukan adalah kuman Tuberculosis dan virus. Meningitis
yang disebabkan oleh virus mempunyai prognosis yang lebih baik, cenderung
jinak dan bisa sembuh sendiri. Penyebab meningitis virus yang paling sering
ditemukan yaitu Mumpsvirus, Echovirus, dan Coxsackie virus , sedangkan
Herpes simplex , Herpes zooster, dan enterovirus jarang menjadi penyebab
meningitis aseptik (viral) (Widagdo, 2011).
2.3 Manifestasi Klinis
Meningitis ditandai dengan adanya gejala-gejaa seperti panas mendadak,
letargi, muntah dan kejang. Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan
cairan serebrospinal (CSS) melalui pungsi lumbal.
Meningitis karena virus ditandai dengan cairan serebrospinal yang jernih
serta rasa sakit penderita tidak terlalu berat. Pada umumnya, meningitis yang
disebabkan oleh Mumpsvirus ditandai dengan gejala anoreksia dan malaise.
Kemudian diikuti oleh pembesaran kelenjar parotid sebelum invasi kuman ke
sususanan saraf pusat. Pada meningitis yang disebabkan oleh Echovirus
ditandai dengan timbulnya ruam mukopapular yang tidak gatal di daerah
wajah, leher, dada, badan, dan ekstremitas. Gejala yang tampak pada
meningitis Coxsackie virus yaitu tampak lesi vasikuler pada palatum, uvula,
tonsil, dan lidah dan pada tahap lanjut timbul keluhan berupa sakit kepala,
muntah, demam, kaku leher,dan nyeri punggung.
Meningitis bakteri biasanya didahului oleh gejala gangguan alat
pernafasan dan gastrointestinal. Meningitis bakteri pada neonatus terjadi
secara akut dengan gejala panas tinggi,mual,muntah,gangguan pernafasan,
kejang, nafsu makan berkurang, dehidrasi dan konstipasi, biasanya sealu
ditandai dengan fontanella yang mencembung. Pada dewasa biasanya dimulai
dengan gangguan saluran pernafasan bagian atas, penyakit juga bersifat akut
dengan gejala panas tinggi, nyeri kepala hebat, malaise, nyeri otot dan nyeri
punggung. Cairan serebropsinal tampak kabur keruh atau purulen.
Meningitis Tuberkulosa terdiri dari tiga stadium, yaitu stadium I atau
stadium prodromal selama 2-3 minggu dengan gejala ringan dan nampak
seperti gejala infeksi biasa. Pada orang dewasa terdapat panas yang hilang
timbul, nyeri kepala, konstipasi, kurang nafsu makan, fotofobia, nyeri
punggung, halusinasi, dan sangat gelisah.
Stadium II atau stadium transisi berlangsung sellama 1-3 minggu dengan
gejaa penyakit lebih berat dimana penderita mengalami nyeri kepala yang
hebat dan kadang disertai kejang terutama pada bayi dan anak-anak. Tanda-
tanda rangsangan meningeal mulai nyata, seluruh tubuh dapat menjadi kaku,
terdapat tanda-tanda peningkatan intrakarnial, ubun-ubun menonjol dan
muntah lebih hebat. Stadium III atau stadium teminal ditandai dengan
kelumpuhan dan gangguan kesadaran sampai koma. Pada stadium ini
penderita dapat meninggal dunia dalam waktu tiga minggu bila tidak
mendapat pengobatan sebagaimana mestinya. (Ganiem,2011)
2.4 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang meningitis bakteri
Pemeriksaan CSS melalui pungsi lumbal merupakan alat diagnostik utama
dalam menegakkan meningitis bakteri (Tunkel, 2001). Pada pemeriksaan CSS
yang mendukung kearah infeksi meningitis bakteri adalah jumlah leukosit
meningkat bisa mencapai ribuan dengan dominan neutrofil (>60%), kadar
protein dalam CSS meningkat (>200 milligram (mg)/desiliter (dL)) dan
penurunan konsentrasi glukosa (<40 mg/dL atau kurang dari 30% gula darah
sewaktu) (Ganiem, 2011). Dikatakan kadar leukosit CSS rendah (0-20/mm3)
berhubungan dengan prognosis yang buruk. Pewarnaan gram dan kultur harus
dilakukan pada semua spesimen CSS. Gangguan dari SDO menyebabkan
peningkatan kadar protein CSS pada hampir semua pasien. Kadar glukosa <40
mg/dL ditemukan pada sekitar 60% pasien dengan sebagian besar memiliki
rasio serum glukosa ≤0,4. Pada saat yang sama, kadar leukosit dan protein
CSS normal dapat ditemukan pada pasien immunocompromise berat dalam
beberapa kasus meningitis neonatus dan pada awal penyakit (Nudelman dan
Tunkel, 2009).
Pemeriksaan pewarnaan gram pada CSS dapat dilakukan cepat, akurat pada
60-90% dengan spesifitas hampir 100% pada pasien dengan meningitis
bakteri (Domingoetal., 1997). Semakin tinggi konsentrasi bakteri di dalam
CSS, kemungkinan mendeteksi organisme dengan pewarnaan gram lebih
tinggi. Pasien yang telah mendapatkan antibiotik sebelum terapi yang sesuai
mungkin memiliki penurunan akurasi dalam mengidentifikasi organisme.
Beberapa tes diagnostik cepat telah dikembangkan untuk membantu dalam
menegakkan diagnosis meningitis bakteri (Gray dan Fedorko, 1992; Tunkel,
2001).Tes aglutinasi latex mendeteksi antigen H. influenzae tipe B, S.
pneumonia, N. meningitidis, E. coli K1 dan kelompok streptokokus B.
Namun, mengingat tes antigen bakteri kurang berperan dalam pemberian
terapi antibiotik dan telah dilaporkan memberikan hasil positif palsu maka
penggunaan rutin modalitas ini untuk diagnostik cepat dari penyebab infeksi
bakteri meningitis tidak dianjurkan (Tunkeletal., 2004). Tes amplifikasi asam
nukleat, seperti PolymeraseChainReaction (PCR) telah digunakan untuk
mengetahui DeoxyriboNucleicAcid (DNA) dari pasien dengan meningitis
yang disebabkan oleh beberapa patogen meningeal. Pemeriksaan PCR bakteri
berperan dalam menegakkan diagnosis meningitis dan keputusan dalam
memulai atau menghentikan terapi antibiotika. Dalam suatu studi berbasis
luas, menunjukkan sensitivitas PCR 100% dengan spesifisitas dari 98,2%,
nilai prediksi positif 98,2% dan nilai prediksi negatif prediktif 100%
(Saravolatzetal., 2003). Sensitivitas PCR dalam mendiagnosis meningitis
pneumokokus sekitar 92-100% dan spesifisitas sebesar 100% (Werno dan
Murdoch, 2008). PCR sangat berperan terhadap pasien yang telah menerima
antibiotik sebelum pengobatan yang sesuai dan pada kultur kuman negatif
pada pemeriksaan CSS (Singhietal., 2002; Tunkeletal., 2004). Beberapa
peranan protein telah dipelajari dalam mendiagnosis meningitis bakteri akut.
Pasien dengan meningitis bakteri akut mengalami peningkatan konsentrasi C-
Reaktif Protein (CRP) dan serum prokalsitonin yang dapat digunakan dalam
membedakan meningitis bakteri dan meningitis virus (Nathan dan Scheld,
2002). Suatu studi melaporkan sensitivitas dan spesifisitas serum prokalsitonin
sebesar 100% untuk mendiagnosis meningitis bakteri, meskipun telah
dilaporkan didapatkan hasil negatif palsu (Viallonetal., 1999; Schwarz etal.,
2000). Tes lain yang digunakan adalah tes immunokromatografi untuk
mendeteksi kuman S. pneumonia pada CSS dengan sensitivitas dan
spesifisitas 100% dalam mendiagnosis meningitis pneumokokus piogenik
(Saha etal., 2005). Meskipun demikian diperlukan penelitian lebih lanjut untuk
menentukan kegunaan tes ini dalam mendiagnosis meningitis pneumokokus
(Nudelman dan Tunkel, 2009).
2.5 Penatalaksanaan
Penanganan Awal Pada pasien dengan keadaan syok atau hipotensif pemberian
infus kristaloid harus segera diberikan sampai euvolemia. Pada pasien dengan
gangguan status mental, perlu dilakukan proteksi jalan napas dan kontrol agar
tidak terjadi kejang. Pada pasien yang memiliki kondisi cenderung stabil,
dilakukan pemberian oksigen, akses intravena, dan pungsi lumbal. Apabila
diperlukan, dapat dilakukan pemeriksaan CT Scan sebelum pungsi lumbal. Kultur
darah segera dilakukan jika dianggap perlu dan dilanjutkan dengan pemberian
antimikroba empiris
Terapi definitif tergantung pada penyebab meningitis
Meningitis Bakteri
Pemberian terapi empiris dari meningitis bakteri biasanya dilakukan berdasarkan
usia pasien, faktor risiko, dan manifestasi klinis. Terapi empiris sebaiknya
diberikan tidak lebih dari 1 jam setelah pemeriksaan diagnostik dilakukan.
Pilihan terapi empiris berdasarkan usia adalah sebagai berikut :
a) Neonatus dengan onset dini (usia < 1 minggu) : Ampicillin 150
mg/kgBB/hari setiap 8 jam + Gentamisin 5 mg/kgBB/hari setiap 12 jam
atau Cefotaxime 100-150 mg/kgBB/hari setiap 8-12 jam
b) Neonatus dengan onset lambat (usia 1-6 minggu) : Ampicillin 200
mg/kgBB/hari setiap 6-8 jam + Gentamisin 7,5 mg/kgBB/hari setiap 8
jam atau Cefotaxime 150-200 mg/kgBB/jam setiap 6-8 jam
c) Infant dan anak-anak : Cefotaxime 225-300 mgmg/kgBB/hari setiap 6-8
jam + Vankomisin 60 mg/kgBB/hari setiap 6 jam
d) Dewasa : Cefotaxime 225-300 mgmg/kgBB/hari setiap 6-8 jam +
Vankomisin 30-60 mg/kgBB/hari setiap 8-12 jam
e) Geriatri : Cefotaxime 8-12 g/hari setiap 4-6 jam + Ampisilin 12 g/hari
setiap 4 jam + Vankomisin 30-60 mg/kgBB/hari setiap 8-12 jam
Pada infeksi S. pneumoniae, antibiotik pilihan yang diberikan adalah
penicillin G atau cefotaxime selama 10-14 hari. Pada
infeksi Pseudomonasaeruginosa antibiotik yang direkomendasikan adalah
cefepime, ceftazidime, atau meropenem. Pada
infeksi Haemophilusinfluenzae antibiotik yang direkomendasikan adalah
ampisilin, cefotaxime, atau ceftriaxone. Berikut adalah dosis yang
direkomendasikan :
Aliran Darah
Aliran darah
Menginfeksi selaput
meningen
MENINGITIS Iskemia
Menekan arteri dan jaringan
kapiler darah otak
Pelepasan pirogen endogen Edema
Hipoksia
Pelepasan mediator Suplai darah ke jaringan
Interleukin1 & 6 Peningkatan masa intrakranial
kimia otak
KONSEP KEPERAWATAN
1.1 Pengkajian
a. Identifikasi Kebutuhan Dasar Yang Mengalami Gangguan
Ds :
- Kekuatan otot
menurun
- Rentang gerak
(ROM) menurun
- Sendi kaku
- Gerakan terbatas
- Fisik lemah
Neurosensori Ds :
- Sakit kepala
Do :
- Tingkat kesadaran
menurun
- Refleks neurologis
terganggu
- Tekanan intrakarnial
(TIK) besar atau
sama dengan 20
mmHg
Reproduksi dan Tidak ada masalah
Seksualitas
Pembentukan prostaglandin
Merangsang hiphothalamus
meningkatkan suhu
HIPERTERMIA
Ds : Edema
DEFISIT NUTRISI
- Nafsu makan
menurun Peningkatan masa
Do :
- Berat badan Peningkatan TIK
menurun minimal
10% dibawah
rentang ideal Merangsang saraf simpatis
- Otot pengunyah
lemah Mual & Muntah
- Otot menelan
lemah
Intake makanan menurun
DEFISIT NUTRISI
Ds :
Peningkatan TIK PENURUNAN
- Sakit kepala KAPASITAS
Do : ADAPTIF
- Tingkat kesadaran Menekan arteri dan kapiler INTRAKRANIAL
menurun darah otak
- Refleks neurologis
Suplai darah ke otak
Penurunan kesadaran
PENURUNAN
KAPASITAS ADAPTIF
INTRAKRANIAL
terganggu
Tekanan intrakarnial
(TIK) besar atau sama
dengan 20 mmHg
Ds :
Suplai darah ke otak GANGGUAN
- Mengeluh sulit
MOBILITAS
menggerakan
Iskemia jaringan FISIK
ekstremitas
- Enggan
melakukan Hipoksia jaringan
pergeraken
- Merasa cemas saat Cedera jaringan
saat bergerak
Infark cerebri
Ds :
- Kekuatan otot CVA
menurun
- Rentang gerak
(ROM) menurun GANGGUAN
- Sendi kaku MOBILITAS FISIK
- Gerakan terbatas
- Fisik lemah
Diagnosa
SLKI SIKI Rasional
keperawatan
Nyeri akut (D.0077) 1. Tingkat nyeri 1. Manajemen nyeri 1. Manajemen nyeri
Kategori : psikologis Setelah dilakukan
Observasi Observasi
Subkategori : nyeri tindakan selama 3 x 24
1. Identifikasi lokasi , karakteristik , durasi 1. Agar mengetahui
dan kenyamanan jam masalah tingkat nyeri
, frekuensi , kualitas,intensitas nyeri lokasi dari nyeri
Definisi teratasi dengan indikator
2. Identifikasi skala nyeri 2. Agar mengetahui
Pengalaman 1. Keluhan
skala nyeri yang
sensorik atau nyeri (3) Teraupetik
dirasakan klien
emosional yang 2. Meringis 3. Berikan tekhnik nonfarmakologis untuk
berkaitan (3) mengurangi rasa nyeri Terauperik
dengan 3. Gelisah(3) 4. Kontrol lingkungan yang memperberat 3. Untuk menurunkan
kerusakan rasa nyeri nyeri yang dirasakan
keterangan
jaringan actual 5. Fasilitasi istirahat dan tidur 4. Agar menurunkan
1. Meningkat
atau fungsional nyeri yang
2. Cukup Edukasi
, dengan onset disebabkan oleh
meningkat 6. Jelaskan penyebab , periode dan pemicu
mendadak atau lingkungan
3. Edang nyeri
lambatdan 5. Agar klien dapat
berintensitas 4. Cukup 7. Jelaskan strategi meredakan nyeri beristirahat dengan
ringan hingga menurun baik
Kolaborasi
berat yang 5. Menurun
8. Kolaborasi pemberian analgetik , jika Edukasi
berlangsung
perlu 6. Agar klien
kurang dari 3 2. Kontrol nyeri
mengetahui apa yang
bulan
Setelah dilakukan menyebabkan nyeri
Penyebab
tindakanselama 3 x 24 7. Agar klien
1. Agen 2. Pemberian analgesic
jam masalah kontrol mengtahui strategi
pencedera
nyeri teratasi dengan Observasi yang diberikan
fisiologis
indikator 1. Identifikasi riwayat alergi obat
( mis ,
1. Melaporkan nyeri 2. Monitor tanda-tanda vital sebelum dan Kolaborasi
inflamasi ,
terkontrol (3) sesudah pemberian analgesic
iskemia ,
2. Kemampuan 3. Monitor efektifitas analgesic 8. Agar nyeri yang
neoplasma)
mengenali dirasakan dapat reda
Gejala dan tanda penyebab nyeri (3)
3. pemantauan nyeri
mayor 3. Dukungan orang
Subjektif terdekat (3) observasi
2. Pemberian
1. Mengeluh nyeri 1. identifikasi factor pencetus dan pereda
Keterangan analgesic
nyeri
Subjektif 1. Menurun 2. monitor kualitas nyeri Observasi
1. Tampak 2. Cukup menurun 3. monitor lokasi dan penyebaran nyeri 1. Agar mengetahui
meringis 3. Sedang riwayat obat yang
teraupetik
2. Gelisah 4. Cukup meningkat diberikan
4. dokumentasikan hasil pemantauan
5. Meningkat 2. Agar mengetahu
Gejala dan tanda
edukasi tanda- tanda yang
minor
5. jelaskan tujuan dan prosedur diberikan oleh obat
Subjektif
pemantauan 3. Agar mengetahui
-
apakah analgesic
Objektif
yang diberikan
1. Tekanan darah
4. pemberian obat secara efektif
meningkat
2. Proses berfikir observasi
terganggu 1. periksa tanggal kadaluarsa obat 3. pemantauan nyeri
2. monitor efek samping obat Observasi
Kondisi klinis terkait
1. Agar mengetahui
1. Infeksi teraupetik
factor dan pereda
3. perhatikan prosedur pemberian obat
nyeri
yang aman dan akurat
2. Agar mengetahui
4. lakukan prinsip enam benar
kualitas nyeri pada
klien
edukasi 3. Agar mengetahui
5. jelaskan jenis obat , alas an pemberian , lokasi dan
tindakan yang diharapkan , efek penyebaran nyeri
samping
Teraupetik
4. Agar kita dapat
5. manajemen terapi radiasi mengetahui hasi dari
pemantauan
observasi
1. monitor efek samping dan toksik terapi Edukasi
5. Agar klien
teraupetik
mengetahui tujuan
-
dan prosedur
Edukasi
pemantauan
2. jelaskan tujuan dan prosedur terapi
4. Pemberian obat
radiasi
3. anjurkan asupan cairan dan nutrisi Observasi
1. Agar mengetahui
kolaborasi
tanggal kadaluarsa
4. kolaborasi pemberian obat untuk dari obat
mengendalikan efek samping 2. Agar mengetahui
efek samping yang
dibeikanoleh obat
Teraupetik
3. Agar tidak salah
memberikan obat
kepada klien
4. Agar sesuai dengan
SOP
Edukasi
5. Agar klien
mengtahui dengan
jelas obat yang
diberikan
5. Manajemen terapi
radiasi
Observasi
1. Agar mengetahui
efek samping dan
toksik terapi yang
sedang dilakukan
Teraupetik
-
Edukasi
2. Agar klien
mengtahui tujuan
dan prosedur dari
terapi radiasi
3. Agar terpenuhi
cairan dan nutrisi
klien
Kolaborasi
4. Agar dapat
meredakan efek
samping dari obat
yang di berikan
Observasi :
1. Untuk mengetahui
alergi yang di
dapatkan oleh pasien
2. Untuk mengetahui
efek dari obat yan
diberikan
Terapeutik :
1. Agar obat yang
diberikan kepada
pasien tetap aman
dan akurat
Edukasi :
1. Agar pasien
mengetahui efek
samping dari obat
yang akan diberikan
Gangguan Mobilitas Mobilitas Fisik Dukungan Ambulasi Dukungan ambulasi
Fisik (D.0014) Setelah dilakukan
Kategori : Fisiologis Observasi : Observasi:
tindakan keperawatan
Subkategori : 1. Identifikasi adanya nyeri atau keluhan 1. Untuk mengetahui
Aktivitas/Istirahat selama 3x24 jam masalah fisik lainnya keluhan yg dialami
Terapeutik klien
Mobilitas Fisik
Definisi : Keterbatasan 1. Fasilitasi melakukan mobilisasi fisik,
dalam gerakan fisik teratasi dengan indikator : jika perlu
dari satu atau lebih Edukasi : Teraupetik
1. Nyeri (3)
ekstremitas secara 1. Jelaskan tujuan dan prosedur ambulasi 1. Untuk mengetahui
2. Kecemasan (3)
mandiri. keadaan fisik pada
3. Kaku Sendi (3)
Penyebab : Dukungan Mobilisasi pasien
Ket :
1. Perubahan Edukasi:
1. Menigkat
metabolisme Observasi : 1. Supaya klien
2. Cukup Meningkat
2. Ketidak 1. Monitor frekuensi jantung dan tekanan mengetahui tindakan
3. Sedang
bugaran fisik darah sebelum memulai mobilisasi yg dilakukan
4. Cukup Menurun
3. Malnutrisi Terapeutik : perawat
5. Menurun
4. Gangguan 1. Libatkan keluarga untuk membantu
neuromuskular pasien dalam meningkatkan pergerakan Dukungan mobilisasi
5. Nyeri Edukasi :
Gejala Dan Tanda 1. Jelaskan tujuan dan prosedur mobilisasi Observasi:
Mayor : 2. Anjurkan melakukan mobilisasi dini 1. Supaya perawat
Subjektif : tau apa yg harus
1. Mengeluh sulit Pencegahan Jatuh dilakukan pada
menggerakkan saat tindakan
ekstremitas Observasi : berlangsung
Objektif : 1. Identifikasi faktor lingkungan yang Teraupetik:
1. Kekuatan otot meningkatkan risiko jatuh (mis, lantai 1. Supaya keluarga
menurun licin, penerangan kurang) dapat membantu
2. Rentang gerak Terapeutik : saat proses
(ROM) 1. Orientasikan ruangan pad pasien dan pemulihan pada
menurun keluarga klie
Gejala dan Tanda Edukasi :
Minor : 1. Anjurkan menggunakan alas kaki yang
Subjektif : tidak licin Edukasi:
1. Nyeri saat 1. Untuk
bergerak Manajemen Energi memberikan
2. Merasa cemas pengetahuan pada
saat bergerak Observasi : klien
Objektif : 1. Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang 2. Agar pasien sudah
1. Sendi kaku mengakibatkan kelelahan terlatih untuk
2. Fisik lemah 2. Monitor kelelahan fisik dan emosional melakikan gerakan
Terapeutik :
1. Lakukan latihan rentang gerak pasif Pencegahan jatuh
dan/atau aktif Obervasi
2. Berikan aktivitas distraksi yang 1. Untuk menghindari
menenangkan adanya faktor risiko
Edukasi : terhadap klien
1. Anjurkan melakukan aktivitas secara
bertahap Teraupetik
Kolaborasi : 1. Untuk memberikan
1. Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara kenyamanan
meningkatkan asupan makanan. terhadap klien
Edukasi:
1. Untuk menjaga
pasien agar tidak
terpeleset
Manajemen energi
Observasi
1. Untuk melihat
kondisi yg dialami
klien
2. Agar pasien tidak
mengalami kelelahan
Teraupetik:
1. Untuk
memulihkan
kondisi klien
2. Supaya klien
merasa nyaman
saat melakukan
gerakan
Edukasi:
1. Untuk
memberikan
proses
penyembuhan
pada klien
Kolaborasi:
1. Untuk memberikan
nutrisi yg baik saat
proses pemulihan
BAB IV
PENUTUP
4.1 Simpulan
Dari uraian singkat tentang meningitis diatas dapat diperoleh beberapa poin antara
lain :
4.2 Saran
Alam, A., 2011, Kejadian Meningitis Bakterial pada Anak yang Menderita
Kejang Demam Pertama,Sari Pediari, IDAI 13, 293–8.
Bamberger DM. Diagnosis, initialmanagement, andpreventionof
meningitis. Am Fam Physician. 2010;82(12): 1491-1498.
12. Oordt-Speets AM, Boljin R, Hoorn RCV, Bhavsar A, Kyaw MH.
Global etiologyofbacterial meningitis: a systematicreviewand meta-
analysis. PLoS One. 2018;13(6): e0198772.
Doenges, Marilyn E, dkk.(2015).Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman
untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih
Bahasa, I Made Kariasa, N Made Sumarwati. Editor edisi bahasa
Indonesia, Monica Ester, Yasmin asih. Ed.3. Jakarta : EGC.
Ganiem, Ahmad Rizal. 2011. Meingitis Bakterialis Akut. In : Sudewi, AA
Raka, Sugianto Paulus, Ritarwan Kiking, editors kelompok Studi
Neuro Infeksi. Airlangga University Press. P. 1-11.
Harsono.(2015).Buku Ajar Neurologi Klinis.Ed.I.Yogyakarta : Gajah
Mada University Press.
Judha M & Rahil H.N. 2011 Sistem Persarafan Dalam Asuhan
Keperawatan. Yogyakarta: Gosyen Publishing.
Judha M & Rahil H.N. 2011 Sistem Persarafan Dalam Asuhan
Keperawatan. Yogyakarta: Gosyen Publishing.
Long, Barbara C. perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses
Keperawatan. Bandung : yayasan Ikatan Alumni Pendidikan
Keperawatan; 1996.
Nurarif H. Amin & Kusuma Hardi. 2013. Aplikasi Asuhan
KeperawatanBerdasarkan Diagnosa Medis & NANDA (North
American Nursing Diagnosis Association) NIC-NOC. Mediaction
Publishing.
Price, Sylvia Anderson. Pathophysiology : Clinical Concepts Of Disease
Processes. Alih Bahasa Peter Anugrah. Ed. 4. Jakarta : EGC; 2015.
Smeltzer, Suzanne C & Bare,Brenda G.(2015).Buku Ajar Keperawatan
Medikal Bedah Brunner & Suddarth.Alih bahasa, Agung
Waluyo,dkk.Editor edisi bahasa Indonesia, Monica
Ester.Ed.8.Jakarta : EGC.
Shao M, Xu P, Liu J, Liu W, Wu X. The roleofadjunctivedexamethasone
in thetreatmentofbacterial meningitis: anupdatedsystematic meta-
analysis. PatientPreferenceandAdherence. 2016;10:1243-1249.
Tucker, Susan Martin et al. Patient care Standards : Nursing Process,
diagnosis, And Outcome. Alih bahasa Yasmin asih. Ed. 5. Jakarta :
EGC; 2015.
Widagdo. 2011. Masalah dan Tatalaksana Penyakit Infeksi Pada Anak.
Jakarta: CV Sagung Seto.
Widagdo. 2011. Masalah dan Tatalaksana Penyakit Infeksi Pada Anak.
Jakarta: CV Sagung Seto.