0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
284 tayangan43 halaman

ASKEP Meningitis

Dokumen tersebut membahas tentang penyakit meningitis, termasuk definisi, etiologi, manifestasi klinis, dan pemeriksaan penunjang. Meningitis adalah radang selaput otak yang disebabkan bakteri atau virus dengan gejala seperti demam dan nyeri kepala. Diagnosis didasarkan pada pemeriksaan cairan sumsum tulang belakang.

Diunggah oleh

Mey Rahmawati
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
284 tayangan43 halaman

ASKEP Meningitis

Dokumen tersebut membahas tentang penyakit meningitis, termasuk definisi, etiologi, manifestasi klinis, dan pemeriksaan penunjang. Meningitis adalah radang selaput otak yang disebabkan bakteri atau virus dengan gejala seperti demam dan nyeri kepala. Diagnosis didasarkan pada pemeriksaan cairan sumsum tulang belakang.

Diunggah oleh

Mey Rahmawati
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dewasa ini penyakit meningitis merupakan penyakit yang serius karena
letaknya dekat dengan otak dan tulang belakang sehingga dapat menyebabkan
kerusakan kendali gerak, pikiran, bahkan kematian. Kebanyakan kasus
meningitis disebabkan oleh mikroorganisme seperti virus, bakteri, jamur atau
parasit yang menyebar dalam darah dan cairan otak. Daerah “Sabuk
Meningitis” di Afrika terbentang dari Senegal di barat Ethiopia di timur.
Daerah ini ditinggali kurang lebih 300 juta jiwa manusia. Pada 1996 terjadi
wabah meningitis dimana 250.000 orang menderita penyakit ini dengan
25.000 korban jiwa. Meningitis bacterial terjadi pada kira-kira 3 per 100.000
orang setiap tahunnya di Negara-negara barat. Studi populasi secara luas
memperlihatkan bahwa meningitis virus lebih sering terjadi sekitar 10,9 per
100.000 orang, dan lebih sering terjadi pada musim panas. Di Brasil, angka
meningitis bacterial lebih tinggi, yaitu 45,8 per 100.000 orang setiap tahun.
Doenges, Marilyn E, dkk.(2015).
Oleh karena itu mengingat jumlah penyebaran penyakit infeksi meningitis
semakin hari semakin meningkat, kami bermaksud untuk mengulas lebih
lanjut mengenai penyakit Meningitis melalui makalah yang berisi laporan
pendahuluan serta asuhan keperawatan teori. Harsono.(2015).
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana laporan pendahuluan pada penyakit meningitis?
2. Bagaimana konsep Asuhan Keperawatan pada pasien dengan meningitis?
3. Apa saja intervensi yang diberikan pada pasien dengan meningitis?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui bagian-bagian pada laporan pendahuluan pada penyakit
meningitis.
2. Mengetahui konsep asuhan keperawatan pada pasien dengan meningitis.
3. Mengetahui intervensi yang diberikan pada pasien dengan meningitis.
BAB II

KONSEP MEDIS
2.1 Definisi
Meningitis adalah radang dari selaput otak yaitu lapisan aracnioid dan
piameter yang disebabkan oleh bakteri dan virus (Judha & Rahil, 2011).
Meningitis adalah infeksi akut yang mengenai selaput mengineal yang dapat
disebabkan oleh berbagai mikroorganisme dengan ditandai adanya gejala
spesifik dari sistem saraf pusat yaitu gangguan kesadaran, gejala rangsang
meningkat, gejala peningkatan tekanan intrakranial, & gejala defisit neurologi
(Judha & Rahil, 2011).
2.2 Etiologi
Meningitis dapat disebabkan oleh virus, bakteri, riketsia, jamur, cacing
dan protozoa. Penyebab paling sering adalah virus dan bakteri. Meningitis
yang disebabkan oleh bakteri berakibat lebih fatal dibandingkan meningitis
penyebab lain karena mekanisme kerusakan dan gangguan otak yang
disebabkan oleh bakteri maupun produk bakteri lebih berat. Infectious Agent
meningitis purulenta mempunyai kecenderungan pada golongan umur tertentu,
yaitu golongan neonatus paling banyak disebabkan oleh E.Coli, S.beta
hemolitikus dan Listeria monositogenes. Golongan umur dibawah 5 tahun
(balita) disebabkan oleh H.influenzae, Meningococcus dan Pneumococcus.
Golongan umur 5-20 tahun, disebabkan oleh Haemophilus influenzae,
Neisseria meningitidis dan Streptococcus, Pneumococcus, dan pada usia
dewasa (>20 tahun) disebabkan oleh Meningococcus, Pneumococcus,
Stafilocccus, Streptococcus dan Listeria.Penyebab meningitis serosa yang
paling banyak ditemukan adalah kuman Tuberculosis dan virus. Meningitis
yang disebabkan oleh virus mempunyai prognosis yang lebih baik, cenderung
jinak dan bisa sembuh sendiri. Penyebab meningitis virus yang paling sering
ditemukan yaitu Mumpsvirus, Echovirus, dan Coxsackie virus , sedangkan
Herpes simplex , Herpes zooster, dan enterovirus jarang menjadi penyebab
meningitis aseptik (viral) (Widagdo, 2011).
2.3 Manifestasi Klinis
Meningitis ditandai dengan adanya gejala-gejaa seperti panas mendadak,
letargi, muntah dan kejang. Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan
cairan serebrospinal (CSS) melalui pungsi lumbal.
Meningitis karena virus ditandai dengan cairan serebrospinal yang jernih
serta rasa sakit penderita tidak terlalu berat. Pada umumnya, meningitis yang
disebabkan oleh Mumpsvirus ditandai dengan gejala anoreksia dan malaise.
Kemudian diikuti oleh pembesaran kelenjar parotid sebelum invasi kuman ke
sususanan saraf pusat. Pada meningitis yang disebabkan oleh Echovirus
ditandai dengan timbulnya ruam mukopapular yang tidak gatal di daerah
wajah, leher, dada, badan, dan ekstremitas. Gejala yang tampak pada
meningitis Coxsackie virus yaitu tampak lesi vasikuler pada palatum, uvula,
tonsil, dan lidah dan pada tahap lanjut timbul keluhan berupa sakit kepala,
muntah, demam, kaku leher,dan nyeri punggung.
Meningitis bakteri biasanya didahului oleh gejala gangguan alat
pernafasan dan gastrointestinal. Meningitis bakteri pada neonatus terjadi
secara akut dengan gejala panas tinggi,mual,muntah,gangguan pernafasan,
kejang, nafsu makan berkurang, dehidrasi dan konstipasi, biasanya sealu
ditandai dengan fontanella yang mencembung. Pada dewasa biasanya dimulai
dengan gangguan saluran pernafasan bagian atas, penyakit juga bersifat akut
dengan gejala panas tinggi, nyeri kepala hebat, malaise, nyeri otot dan nyeri
punggung. Cairan serebropsinal tampak kabur keruh atau purulen.
Meningitis Tuberkulosa terdiri dari tiga stadium, yaitu stadium I atau
stadium prodromal selama 2-3 minggu dengan gejala ringan dan nampak
seperti gejala infeksi biasa. Pada orang dewasa terdapat panas yang hilang
timbul, nyeri kepala, konstipasi, kurang nafsu makan, fotofobia, nyeri
punggung, halusinasi, dan sangat gelisah.
Stadium II atau stadium transisi berlangsung sellama 1-3 minggu dengan
gejaa penyakit lebih berat dimana penderita mengalami nyeri kepala yang
hebat dan kadang disertai kejang terutama pada bayi dan anak-anak. Tanda-
tanda rangsangan meningeal mulai nyata, seluruh tubuh dapat menjadi kaku,
terdapat tanda-tanda peningkatan intrakarnial, ubun-ubun menonjol dan
muntah lebih hebat. Stadium III atau stadium teminal ditandai dengan
kelumpuhan dan gangguan kesadaran sampai koma. Pada stadium ini
penderita dapat meninggal dunia dalam waktu tiga minggu bila tidak
mendapat pengobatan sebagaimana mestinya. (Ganiem,2011)
2.4 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang meningitis bakteri
Pemeriksaan CSS melalui pungsi lumbal merupakan alat diagnostik utama
dalam menegakkan meningitis bakteri (Tunkel, 2001). Pada pemeriksaan CSS
yang mendukung kearah infeksi meningitis bakteri adalah jumlah leukosit
meningkat bisa mencapai ribuan dengan dominan neutrofil (>60%), kadar
protein dalam CSS meningkat (>200 milligram (mg)/desiliter (dL)) dan
penurunan konsentrasi glukosa (<40 mg/dL atau kurang dari 30% gula darah
sewaktu) (Ganiem, 2011). Dikatakan kadar leukosit CSS rendah (0-20/mm3)
berhubungan dengan prognosis yang buruk. Pewarnaan gram dan kultur harus
dilakukan pada semua spesimen CSS. Gangguan dari SDO menyebabkan
peningkatan kadar protein CSS pada hampir semua pasien. Kadar glukosa <40
mg/dL ditemukan pada sekitar 60% pasien dengan sebagian besar memiliki
rasio serum glukosa ≤0,4. Pada saat yang sama, kadar leukosit dan protein
CSS normal dapat ditemukan pada pasien immunocompromise berat dalam
beberapa kasus meningitis neonatus dan pada awal penyakit (Nudelman dan
Tunkel, 2009).
Pemeriksaan pewarnaan gram pada CSS dapat dilakukan cepat, akurat pada
60-90% dengan spesifitas hampir 100% pada pasien dengan meningitis
bakteri (Domingoetal., 1997). Semakin tinggi konsentrasi bakteri di dalam
CSS, kemungkinan mendeteksi organisme dengan pewarnaan gram lebih
tinggi. Pasien yang telah mendapatkan antibiotik sebelum terapi yang sesuai
mungkin memiliki penurunan akurasi dalam mengidentifikasi organisme.
Beberapa tes diagnostik cepat telah dikembangkan untuk membantu dalam
menegakkan diagnosis meningitis bakteri (Gray dan Fedorko, 1992; Tunkel,
2001).Tes aglutinasi latex mendeteksi antigen H. influenzae tipe B, S.
pneumonia, N. meningitidis, E. coli K1 dan kelompok streptokokus B.
Namun, mengingat tes antigen bakteri kurang berperan dalam pemberian
terapi antibiotik dan telah dilaporkan memberikan hasil positif palsu maka
penggunaan rutin modalitas ini untuk diagnostik cepat dari penyebab infeksi
bakteri meningitis tidak dianjurkan (Tunkeletal., 2004). Tes amplifikasi asam
nukleat, seperti PolymeraseChainReaction (PCR) telah digunakan untuk
mengetahui DeoxyriboNucleicAcid (DNA) dari pasien dengan meningitis
yang disebabkan oleh beberapa patogen meningeal. Pemeriksaan PCR bakteri
berperan dalam menegakkan diagnosis meningitis dan keputusan dalam
memulai atau menghentikan terapi antibiotika. Dalam suatu studi berbasis
luas, menunjukkan sensitivitas PCR 100% dengan spesifisitas dari 98,2%,
nilai prediksi positif 98,2% dan nilai prediksi negatif prediktif 100%
(Saravolatzetal., 2003). Sensitivitas PCR dalam mendiagnosis meningitis
pneumokokus sekitar 92-100% dan spesifisitas sebesar 100% (Werno dan
Murdoch, 2008). PCR sangat berperan terhadap pasien yang telah menerima
antibiotik sebelum pengobatan yang sesuai dan pada kultur kuman negatif
pada pemeriksaan CSS (Singhietal., 2002; Tunkeletal., 2004). Beberapa
peranan protein telah dipelajari dalam mendiagnosis meningitis bakteri akut.
Pasien dengan meningitis bakteri akut mengalami peningkatan konsentrasi C-
Reaktif Protein (CRP) dan serum prokalsitonin yang dapat digunakan dalam
membedakan meningitis bakteri dan meningitis virus (Nathan dan Scheld,
2002). Suatu studi melaporkan sensitivitas dan spesifisitas serum prokalsitonin
sebesar 100% untuk mendiagnosis meningitis bakteri, meskipun telah
dilaporkan didapatkan hasil negatif palsu (Viallonetal., 1999; Schwarz etal.,
2000). Tes lain yang digunakan adalah tes immunokromatografi untuk
mendeteksi kuman S. pneumonia pada CSS dengan sensitivitas dan
spesifisitas 100% dalam mendiagnosis meningitis pneumokokus piogenik
(Saha etal., 2005). Meskipun demikian diperlukan penelitian lebih lanjut untuk
menentukan kegunaan tes ini dalam mendiagnosis meningitis pneumokokus
(Nudelman dan Tunkel, 2009).
2.5 Penatalaksanaan

Penatalaksanaan meningitis diawali dengan stabilisasi hemodinamik dan


pengambilan sampel untuk diagnosis pasti. Penatalaksanaan obat-obatan diberikan
sesuai dengan etiologi meningitis.

Penanganan Awal Pada pasien dengan keadaan syok atau hipotensif pemberian
infus kristaloid harus segera diberikan sampai euvolemia. Pada pasien dengan
gangguan status mental, perlu dilakukan proteksi jalan napas dan kontrol agar
tidak terjadi kejang. Pada pasien yang memiliki kondisi cenderung stabil,
dilakukan pemberian oksigen, akses intravena, dan pungsi lumbal. Apabila
diperlukan, dapat dilakukan pemeriksaan CT Scan sebelum pungsi lumbal. Kultur
darah segera dilakukan jika dianggap perlu dan dilanjutkan dengan pemberian
antimikroba empiris
Terapi definitif tergantung pada penyebab meningitis
Meningitis Bakteri
Pemberian terapi empiris dari meningitis bakteri biasanya dilakukan berdasarkan
usia pasien, faktor risiko, dan manifestasi klinis. Terapi empiris sebaiknya
diberikan tidak lebih dari 1 jam setelah pemeriksaan diagnostik dilakukan.
Pilihan terapi empiris berdasarkan usia adalah sebagai berikut :
a) Neonatus dengan onset dini (usia < 1 minggu) : Ampicillin 150
mg/kgBB/hari setiap 8 jam + Gentamisin 5 mg/kgBB/hari setiap 12 jam
atau Cefotaxime 100-150 mg/kgBB/hari setiap 8-12 jam
b) Neonatus dengan onset lambat (usia 1-6 minggu) : Ampicillin 200
mg/kgBB/hari setiap 6-8 jam + Gentamisin 7,5 mg/kgBB/hari setiap 8
jam atau Cefotaxime 150-200 mg/kgBB/jam setiap 6-8 jam
c) Infant dan anak-anak : Cefotaxime 225-300 mgmg/kgBB/hari setiap 6-8
jam + Vankomisin 60 mg/kgBB/hari setiap 6 jam
d) Dewasa : Cefotaxime 225-300 mgmg/kgBB/hari setiap 6-8 jam +
Vankomisin 30-60 mg/kgBB/hari setiap 8-12 jam
e) Geriatri : Cefotaxime 8-12 g/hari setiap 4-6 jam + Ampisilin 12 g/hari
setiap 4 jam + Vankomisin 30-60 mg/kgBB/hari setiap 8-12 jam
Pada infeksi S. pneumoniae, antibiotik pilihan yang diberikan adalah
penicillin G atau cefotaxime selama 10-14 hari. Pada
infeksi Pseudomonasaeruginosa antibiotik yang direkomendasikan adalah
cefepime, ceftazidime, atau meropenem. Pada
infeksi Haemophilusinfluenzae antibiotik yang direkomendasikan adalah
ampisilin, cefotaxime, atau ceftriaxone. Berikut adalah dosis yang
direkomendasikan :

a. Penicillin G dosis anak 300.000 IU/kgBB/hari setiap 4-6 jam, dosis


dewasa 24 juta/hari IU setiap 4 jam
b. Cefotaxime dosis anak 300 mg/kgBB/hari setiap 6-8 jam, dosis dewasa
8-12 gram/hari 4-6 jam
c. Cefepime dosis anak 150 mg/kgBB/hari setiap 8 jam, dosis dewasa 6
gram/hari setiap 8 jam
d. Ceftazidime dosis anak 200 mg/kgBB/hari setiap 8 jam, dosis dewasa 6
gram/hari setiap 8 jam
e. Meropenem dosis anak 120 mg/kgBB/hari setiap 8 jam, dosis dewasa 6
gram/hari setiap 8 jam
f. Ampisilin dosis anak 300-400 mg/kgBB/hari setiap 6 jam, dosis dewasa
12 gram per hari setiap 4 jam
g. Ceftriaxone dosis anak 100 mg/kgBB/hari setiap 12-24 jam, dosis
dewasa 4 gram/hari setiap 12 jam.
Meningitis Virus
Kebanyakan kasus meningitis virus bersifat lebih ringan dan self-limited.
Pasien biasanya hanya memerlukan terapi suportif dan tidak memerlukan
terapi spesifik tertentu. Tatalaksana antivirus pada meningitis Herpes Simplex
Virus (HSV) masih kontroversial, namun beberapa dokter akan memberikan
Acyclovir 10 mg/kg IV setiap 8 jam.  Pada meningitis akibat
cytomegalovirusantivirus yang direkomendasikan adalah Ganciclovir selama
21 hari.
Meningitis Tuberkulosis (TB)
Tatalaksana meningitis tuberkulosis adalah menggunakan kombinasi Obat
Anti Tuberkulosis (OAT) kategori I (HZ diberikan selama 2 bulan,
dilanjutkan dengan RH 4 bulan) dengan durasi pemberian obat selama 9-12
bulan.
Kortikosteroid
Kortikosteroid berperan untuk membatasi produksi mediator inflamasi,
seperti IL-1, IL-6, dan TNF, dan eksudat. Selain itu, steroid dapat membantu
menurunkan edema sehingga tidak mengganggu aliran cairan serebrospinal
dan tekanan serebral bisa kembali turun. Beberapa penelitian juga
melaporkan bahwa deksametason dapat membantu menurunkan risiko
komplikasi meningitis, seperti kehilangan pendengaran atau kecacatan akibat
meningitis.
Berdasarkan bukti klinis yang ada, penggunaan kortikosteroid pada
meningitis bakterial dapat menurunkan risiko sekuele gangguan pendengaran
dan sekuele neurologis jangka pendek secara signifikan. Namun,
kortikosteroid dilaporkan tidak menurunkan risiko mortalitas dan sekuele
neurologis jangka panjang. Perlu dicatat pula bahwa studi yang ada dilakukan
di negara maju, sehingga penggunaan steroid di negara berkembang masih
memerlukan tinjauan lebih lanjut.
Terapi Simptomatik
Nyeri kepala hebat biasanya membutuhkan analgesik, seperti opioid. Pada
pasien dengan demam dapat diberikan paracetamol. Pada pasien dengan
keluhan mual muntah dapat diberikan antiemetik, seperti ondansentron.
Tatalaksana antiepileptik diberikan apabila terjadi kejang. Pemberian
antiepileptik profilaksis tidak dianjurkan.
2.6 Prognosis
Komplikasi akut yang umumnya terjadi pada meningitis bakteri dapat berupa:
syok, gagal napas, apnu, perubahan status mental/koma, peningkatan TIK,
kejang, Disseminated Intravascular Coagulation (DIC), efusi subdural, abses
subdural, abses intraserebral dan bahkan kematian. Pasien dapat mengalami
perubahan status mental atau bahkan koma.Sekitar 15% dari pasien anak yang
menderita meningitis pneumokokus mengalami syok). Syok dan DIC sering
berhubungan dengan meningitis meningokokus. Apnu atau gagal napas dapat
juga terjadi, terutama pada bayi. Kejang terjadi pada sekitar sepertiga pasien.
Kejang yang menetap (lebih dari 4hari) atau mulai akhir cenderung terkait
dengan gejala sisa neurologis. Kejang fokal membawa prognosis yang lebih
buruk dibandingkan kejang umum. Jika terjadi kejang fokal harus diwaspadai
kemungkinan komplikasi seperti empiema subdural, abses otak, atau
peningkatan TIK dan disarankan dilakukan pemeriksaan neuroimaging. Efusi
subdural yang terjadi pada sepertiga pasien anak umumnya asimptomatik,
dapat membaik secara spontan dan tidak menyebabkan gejala sisa neurologi
permanen. Dapat juga terjadi Sindrom of Inappropriate Anti Diuretic
Hormone (SIADH) sehingga elektrolit dan keseimbangan cairan harus
dipantau ketat.Semua komplikasi seperti syok, DIC, perubahan status
mental/koma,gangguan pernapasan, kejang, peningkatan TIK, SIADH dan
gejala lainnya ditangani dengan terapi yang lazim diberikan (Widagdo, 2011).
Bakteri, virus, protozoa
Pathway

Hematogen Udara Peradangan


organ/jaringan yang
dekat dengan selaput
Luka Saluran nafas
otak

Aliran Darah
Aliran darah

Menginfeksi selaput
meningen

MENINGITIS Iskemia
Menekan arteri dan jaringan
kapiler darah otak
Pelepasan pirogen endogen Edema
Hipoksia
Pelepasan mediator Suplai darah ke jaringan
Interleukin1 & 6 Peningkatan masa intrakranial
kimia otak

Merangsang saraf vagus Peningkatan TIK Cedera jaringan


Penurunan
Diteruskan ke nosiseptor
kesadaran
Merangsang saraf simpatis
Sinyal mencapai SSP Infark cerebri
Nyeri dipresepsikan
Mual & Muntah PENURUNAN
Pembentukan prostaglandin KAPASITAS CVA
NYERI AKUT ADAPTIF
Intake makanan menurun INTRAKRANIAL
Merangsang hiphothalamus GANGGUAN
meningkatkan suhu HIPERTERMIA MOBILITAS FISIK
DEFISIT NUTRISI
BAB III

KONSEP KEPERAWATAN

1.1 Pengkajian
a. Identifikasi Kebutuhan Dasar Yang Mengalami Gangguan

Kategori dan Subkategori Masalah


Fisiologis Respirasi Tidak ada masalah

Sirkulasi Tidak ada masalah

Nutrisi dan cairan Ds :


- Nafsu makan
menurun
Do :
- Berat badan
menurun minimal
10% dibawah
rentang ideal
- Otot pengunyah
lemah
- Otot menelan lemah

Eliminasi Tidak ada masalah

Aktivitas dan istirahat Ds :


- Mengeluh sulit
menggerakan
ekstremitas
- Enggan melakukan
pergeraken
- Merasa cemas saat
saat bergerak

Ds :
- Kekuatan otot
menurun
- Rentang gerak
(ROM) menurun
- Sendi kaku
- Gerakan terbatas
- Fisik lemah
Neurosensori Ds :
- Sakit kepala
Do :
- Tingkat kesadaran
menurun
- Refleks neurologis
terganggu
- Tekanan intrakarnial
(TIK) besar atau
sama dengan 20
mmHg
Reproduksi dan Tidak ada masalah
Seksualitas

Psikologis Nyeri dan Ds :


Kenyamanan - Mengeluh Nyeri
Do:
- Tanpak Meringis
- Gelisah
- Frekuensi nadi
meningkat
- Bersikap protektif
(mis. Waspada,
posisi menghindari
nyeri)
- Sulit Tidur
- Tekanan darah
meningkat
- Pola nafas berubah

Integritas ego tidak ada masalah


Pertumbuhan dan tidak ada masalah
perkembangan
Perilaku Kebersihan diri tidak ada masalah
Penyuluhan dan tidak ada masalah
pembelajaran

Relasional Interaksi social tidak ada masalah

Lingkungan Keamanan dan Do :


proteksi -
Ds :
- Suhu tubuh diatas
nilai normal
- Kulit terasa hangat
- Kulit merah
- Kejang
- Takikardi
- Takipnea

1.2 Analisa Data

DATA SUBJEKTIF ETIOLOGI MASALAH


DAN OBJEKTIF KEPERAWATAN
Ds :
Edema
NYERI AKUT
- Mengeluh Nyeri
Do:
Peningkatan masa
- Tanpak Meringis intrakranial
- Gelisah
- Frekuensi nadi
meningkat Pelepasan mediator kimia
- Bersikap protektif
(mis. Waspada, Nyeri dipresepsikan
posisi Diteruskan ke nosiseptor
menghindari
nyeri)
- Sulit Tidur
- Tekanan darah
meningkat NYERI AKUT
- Pola nafas
berubah
Do :
Pelepasan pirogen endogen
HIPERTERMIA
Ds :
- Suhu tubuh diatas
nilai normal Interleukin1 & 6
- Kulit terasa
hangat
- Kulit merah Merangsang saraf vagus
- Kejang
- Takikardi
Sinyal mencapai SSP
- Takipnea

Pembentukan prostaglandin

Merangsang hiphothalamus
meningkatkan suhu

HIPERTERMIA

Ds : Edema
DEFISIT NUTRISI
- Nafsu makan
menurun Peningkatan masa
Do :
- Berat badan Peningkatan TIK
menurun minimal
10% dibawah
rentang ideal Merangsang saraf simpatis
- Otot pengunyah
lemah Mual & Muntah
- Otot menelan
lemah
Intake makanan menurun
DEFISIT NUTRISI

Ds :
Peningkatan TIK PENURUNAN
- Sakit kepala KAPASITAS
Do : ADAPTIF
- Tingkat kesadaran Menekan arteri dan kapiler INTRAKRANIAL
menurun darah otak
- Refleks neurologis
Suplai darah ke otak

Penurunan kesadaran
PENURUNAN
KAPASITAS ADAPTIF
INTRAKRANIAL
terganggu
Tekanan intrakarnial
(TIK) besar atau sama
dengan 20 mmHg

Ds :
Suplai darah ke otak GANGGUAN
- Mengeluh sulit
MOBILITAS
menggerakan
Iskemia jaringan FISIK
ekstremitas
- Enggan
melakukan Hipoksia jaringan
pergeraken
- Merasa cemas saat Cedera jaringan
saat bergerak
Infark cerebri
Ds :
- Kekuatan otot CVA
menurun
- Rentang gerak
(ROM) menurun GANGGUAN
- Sendi kaku MOBILITAS FISIK
- Gerakan terbatas
- Fisik lemah

1.3 Diagnosa Keperawatan


1. Dx.Nyeri Akut b.d agen pencedera fisiologis (mis.inflamasi, iskemia,
neoplasma). d.d mengeluh nyeri, tampak meringis, gelisah, frekuensi
nadi meningkat,bersikap protektif,sulit tidur, tekanan darah meningkat
, pola nafas berubah.
2. Dx. Hipertermia b.d proses penyakit (mis. infeksi, kanker) d.d suhu
tubuh diatas nilai normal, kulit terasa hangat, kulit merah, kejang,
takikardi, takpnea.
3. Dx. Defisit nutrisi b.d kurangnya asupan makanan, ketidak mampuan
menelan makanan. d.d nafsu makan menurun, berat badan menurun
minimal 10% di bawah rentang ideal, otot pengunyah lemah, otot
menelan lemah.
4. Dx. Penurunan Kapasitas Intrakranial b.d obstruksi aliran cairan
serebrospinal (mis. hiedrosefalus, edema serebral (mis. akibat cedera
kepala{hemato epidural,subdural, hematoma subrachoid,hematoma
intraserebral}. strok iskemik,strok hemoragik, hipoksia, ensofalepati
iskemik, pacaoprasi ) d.d sakit kepala, tingkat kesadaran menurun,
refleks neurologis terganggu, tekanan intrakranial besar atau sama
dengan 20 mmHg.
5. Dx. gangguan mobilitas fisik b.d gangguan neuromuskular
d.d sulit menggerakan ekstremitas, enggan melakukan pergerakan,
merasa cemas saat bergerak, kekuatan otot menurun, rentang gerak
menururn, sendi kaku, gerakan terbatas, fisik lemah.
1.4 Intervensi Keperawatan

Diagnosa
SLKI SIKI Rasional
keperawatan
Nyeri akut (D.0077) 1. Tingkat nyeri 1. Manajemen nyeri 1. Manajemen nyeri
Kategori : psikologis Setelah dilakukan
Observasi Observasi
Subkategori : nyeri tindakan selama 3 x 24
1. Identifikasi lokasi , karakteristik , durasi 1. Agar mengetahui
dan kenyamanan jam masalah tingkat nyeri
, frekuensi , kualitas,intensitas nyeri lokasi dari nyeri
Definisi teratasi dengan indikator
2. Identifikasi skala nyeri 2. Agar mengetahui
Pengalaman 1. Keluhan
skala nyeri yang
sensorik atau nyeri (3) Teraupetik
dirasakan klien
emosional yang 2. Meringis 3. Berikan tekhnik nonfarmakologis untuk
berkaitan (3) mengurangi rasa nyeri Terauperik
dengan 3. Gelisah(3) 4. Kontrol lingkungan yang memperberat 3. Untuk menurunkan
kerusakan rasa nyeri nyeri yang dirasakan
keterangan
jaringan actual 5. Fasilitasi istirahat dan tidur 4. Agar menurunkan
1. Meningkat
atau fungsional nyeri yang
2. Cukup Edukasi
, dengan onset disebabkan oleh
meningkat 6. Jelaskan penyebab , periode dan pemicu
mendadak atau lingkungan
3. Edang nyeri
lambatdan 5. Agar klien dapat
berintensitas 4. Cukup 7. Jelaskan strategi meredakan nyeri beristirahat dengan
ringan hingga menurun baik
Kolaborasi
berat yang 5. Menurun
8. Kolaborasi pemberian analgetik , jika Edukasi
berlangsung
perlu 6. Agar klien
kurang dari 3 2. Kontrol nyeri
mengetahui apa yang
bulan
Setelah dilakukan menyebabkan nyeri
Penyebab
tindakanselama 3 x 24 7. Agar klien
1. Agen 2. Pemberian analgesic
jam masalah kontrol mengtahui strategi
pencedera
nyeri teratasi dengan Observasi yang diberikan
fisiologis
indikator 1. Identifikasi riwayat alergi obat
( mis ,
1. Melaporkan nyeri 2. Monitor tanda-tanda vital sebelum dan Kolaborasi
inflamasi ,
terkontrol (3) sesudah pemberian analgesic
iskemia ,
2. Kemampuan 3. Monitor efektifitas analgesic 8. Agar nyeri yang
neoplasma)
mengenali dirasakan dapat reda
Gejala dan tanda penyebab nyeri (3)
3. pemantauan nyeri
mayor 3. Dukungan orang
Subjektif terdekat (3) observasi
2. Pemberian
1. Mengeluh nyeri 1. identifikasi factor pencetus dan pereda
Keterangan analgesic
nyeri
Subjektif 1. Menurun 2. monitor kualitas nyeri Observasi
1. Tampak 2. Cukup menurun 3. monitor lokasi dan penyebaran nyeri 1. Agar mengetahui
meringis 3. Sedang riwayat obat yang
teraupetik
2. Gelisah 4. Cukup meningkat diberikan
4. dokumentasikan hasil pemantauan
5. Meningkat 2. Agar mengetahu
Gejala dan tanda
edukasi tanda- tanda yang
minor
5. jelaskan tujuan dan prosedur diberikan oleh obat
Subjektif
pemantauan 3. Agar mengetahui
-
apakah analgesic
Objektif
yang diberikan
1. Tekanan darah
4. pemberian obat secara efektif
meningkat
2. Proses berfikir observasi
terganggu 1. periksa tanggal kadaluarsa obat 3. pemantauan nyeri
2. monitor efek samping obat Observasi
Kondisi klinis terkait
1. Agar mengetahui
1. Infeksi teraupetik
factor dan pereda
3. perhatikan prosedur pemberian obat
nyeri
yang aman dan akurat
2. Agar mengetahui
4. lakukan prinsip enam benar
kualitas nyeri pada
klien
edukasi 3. Agar mengetahui
5. jelaskan jenis obat , alas an pemberian , lokasi dan
tindakan yang diharapkan , efek penyebaran nyeri
samping
Teraupetik
4. Agar kita dapat
5. manajemen terapi radiasi mengetahui hasi dari
pemantauan
observasi
1. monitor efek samping dan toksik terapi Edukasi
5. Agar klien
teraupetik
mengetahui tujuan
-
dan prosedur
Edukasi
pemantauan
2. jelaskan tujuan dan prosedur terapi
4. Pemberian obat
radiasi
3. anjurkan asupan cairan dan nutrisi Observasi
1. Agar mengetahui
kolaborasi
tanggal kadaluarsa
4. kolaborasi pemberian obat untuk dari obat
mengendalikan efek samping 2. Agar mengetahui
efek samping yang
dibeikanoleh obat

Teraupetik
3. Agar tidak salah
memberikan obat
kepada klien
4. Agar sesuai dengan
SOP

Edukasi
5. Agar klien
mengtahui dengan
jelas obat yang
diberikan

5. Manajemen terapi
radiasi

Observasi
1. Agar mengetahui
efek samping dan
toksik terapi yang
sedang dilakukan

Teraupetik
-
Edukasi
2. Agar klien
mengtahui tujuan
dan prosedur dari
terapi radiasi
3. Agar terpenuhi
cairan dan nutrisi
klien

Kolaborasi
4. Agar dapat
meredakan efek
samping dari obat
yang di berikan

Deficit nutrisi 1. Status nutrisi 1.Manajemen nutrisi 1. Manajemen nutrisi


(D.0019) Setelah dilakukan Observasi: Observasi
Kategori: Fisiologis tindakan keperawatan 1) Identifikasi status nutrisi 1.) Untuk
Subkategori: Nutrisi selama 3x24 jam 2) Identifikasi perlunya penggunaan mengetahui
dan cairan masalah status nutrisi penggunaan selang nasogastric status nutrsi
Definisi : teratasi dengan 3) Monitor asupan makanan pasien
Asupan nutrisi tidak indikator Terapeutik : 2.) Untuk
cukup untuk 1.) Porsi makanan 1) Lakukan oral hygine sebelum memasukan
memenuhi kebutuhan yang makan,jika perlu cairan atau
metabolism dihabiskan (3) 2) Berikan makanan tinggi kalori dan nutrisi jika
Gejala dan tanda 2.) Kekuatan otot tinggi protein pasien tidak
mayor menguyah (3) 3) Berikan suplemen makanan,jika perlu mampu
Subjektif 3.) Kekuatan otot Edukasi: mengkonsumsi
- menelan (3) 1) Ajarkan diet yang di programkan makanan
Objektif Keterangan: Kolaborasi: 3.) Untuk
1.) Berat badan 1.) Menurun 1.) Kolaborasi pemberian medikasi mengetahui
menurun 2.) Cukup menurun sebelum makan (mis, pereda asupan makanan
minimal 10% 3.) Sedang nyeri,antimetik),jika perlu pasien
dibawah 4.) Cukup meningkat 2.) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk Terapeutik:
rentang ideal 5.) Meningkat menentukan jumlah kalori dan jenis 1.) Agar kebersihan
Gejala dan tanda nutrient yang dibutuhkan,jika perlu mulut pasien terjaga
minor 2. Nafsu makan 2.Pemantauan nutrisi 2.) Agar asupan
Subjektif Setelah dilakukan Observasi: makanan pasien
1.) Kram/nyeri tindakan keperawatan 1.) Identifikasi faktor yang mempengaruhi terjaga
abdomen selama 3x24 jam masalah asupan gizi (mis,mengunyah tidak 3.) Agar nutrisi pasien
2.) Nafsu makan nafsu makan teratasi adekuat,gangguan menelan) terjaga
menurun dengan indikator: 2.) Identifikasi perubahan berat badan Edukasi:
Objektif: 1.) Keinginan makan 3.) Identifikasi pola makan 1.) Mengatur pola
1.) Membran (2) (mis,kesukaan/tidak sukaan) makan pasien
mukosa pucat 2.) Asupan cairan (3) 4.) Monitor mual muntah Kolaborasi:
3.) Asupan nutrisi (3) 5.) Monitor hasil laboratorium 1.) Agar bisa mengatasi
Keterangan: (mis,transferrin,kreatinin,hemoglobin,he masalah nutrisi
1.) Memburuk matocrit,dan elektrolit darah) pasien
2.) Cukup memburuk Terapeutik: 2.) Untuk mengontrol
3.) Sedang 1.) Timbang berat badan nutrisi pasien
4.) Cukup membaik 2.) Hitung perubahan berat badan 2. Pemantauan nutrisi
5.) Membaik 3.) Dokumentasi hasil pemantauan
Edukasi: Observasi:
1.) Jelaskan tujuan dan prosedur 1.) Agar asupan gizi
pemantauan pasien terjaga
2.) Informasikan hasil pemantauan jika 2.) Untuk mengetahui
perlu kebutuhan nutrisi
3. Manajemen energy pasien
Observasi: 3.) Untuk mengatur pola
1.) Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang makan pasien
mengakibatkan kelelahan 4.) Untuk mengurangi
2.) Monitor pola dan jam tidur mual pada pasien
Terapeutik: 5.) Untuk mengetahui
1.) Sediakan lingkungan yang nyaman dan hasil pemeriksaan
rendah stimulus lab pasien
2.) Lakukan latihan rentang gerak pasif dan Terapeutik:
aktif 1.) Untuk mengetahui
3.) Berikan akifitas distraksi yang berat badan pasien
menenangkan 2.) Untuk mengetahui
Edukasi: perubahan berat
1.) Anjurkan tirah baring badan pasien
2.) Ajurkan aktifitas secara bertahap 3.) Untuk bisa
Kolaborasi: mengetahui hasil
1.) Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara pemantauan pasien
meningkatkan asupan makanan Edukasi:
4. Manajemen gangguan makan 1.) Agar pasien
Observasi: mengetahui prosedur
1.) Monitor asupan dan keluarnya makanan 2.) Agar pasien
dan cairan serta kebutuhan kalori mengetahui hasil
Terapeutik: pemantauan
1.) Timbang berat badan secara rutin 3. Manajemen energy
2.) Diskusikan perilaku makan dan jumlah Observasi:
aktifitas fisik (termasuk olahraga) yang 1.) Untuk mengetahui
sesuai kelahan yang
3.) Damping ke kamar mandi untuk dirasakan klien
pengamatan perilaku memuntahkan 2.) Untuk mengatur
kembali makanan istirahat pasien
4.) Rencanakan program pengobatan untuk Terapeutik:
perawatan dirumah 1.) Agar pasien merasa
(mis.medis,konseling) nyaman
Edukasi: 2.) Untuk melatih pasien
1.) Anjurkan membuat catatan harian untuk gerak aktif
tentang perasaan dan situasi pemicu 3.) Agar pasien bisa
pengeluaran makanan (mis,muntah) merasa enang
2.) Ajarkan keterampilan koping untuk Edukasi:
penyelesaian masalah perilaku makan 1.) Untuk
Kolaborasi: menyamankan
1.) Kolaborasi dengan ahli gizi tentang pasien
target berat badan,kebutuhan kalori dan 2.) Agar aktifitas pasien
pilihan makanan teratur
5. Pemberian makanan Kolaborasi:
Observasi: 1.) Agar bisa
1.) Identifikasi makanan yang di meningkatkan pola
programkan asupan makanan
2.) Identifikasi kemampuan menelan pasien
Terapeutik: 4. Manajemen
1.) Lakukan kebersihan tangan dan mulut gangguan makan
sebelum makan Observasi:
2.) Sediakan lingkungan yang 1.) Untuk bisa
menyenangkan selama waktu makan mengontrol asupan
3.) Berikan posisi duduk atau semi flowler makanan dan
saat makan kebutan cairan yang
4.) Berikan makanan hangat,jika keluar
memungkinkan Terapeutik:
5.) Berikan makanan sesuai keinginan,jika 1.) Agar bisa
memungkinkan mengetahui berat
Edukasi: badan pasien
1.) Anjurkan orang tua atau keluarga 2.) Untuk mengatur
membantu memberi makan kepada perilaku makan dan
pasien aktifitas yang akan
Kolaborasi: dilakukan pasien
1.) Kolaborasi pemberian analgesic yang 3.) Agar perawat bisa
adekuat sebelum makan,jika peru mengetahui perilaku
pasien
4.) Agar pengobatan
berjalan dengan baik
Edukasi:
1.) Agar bisa
mengetahui
pengeluaran
makanan pasien
2.) Untuk melatih pasien
agar mandiri
Kolaborasi:
1.) Agar mencapai
target yang di
inginkan
5. Pemberian
makanan
Observasi:
1.) Agar bisa
mengetahui program
makanan yang
dijalani pasien
2.) Agar pasien bisa
merasa nyaman
3.) Untuk memberikan
kenyaman saat
pasien makan
4.) Agar nafsu makan
pasien bisa
bertambah
5.) Agar nafsu makan
pasien meningkat
Edukasi:
1.) Untuk memenuhi
kebutuhan nutrsi
Kolaborasi:
1.) Agar pasien tidak
merasakan sakit saat
makan.
Penurunan kapasitas 1. Kapasitas adaptif 1. Manajemen peningkatan tekanan 1. Manajemen
adaptif intrakarnial intrakarnial intrakarnial peningkatan tekanan
(0066) Setelah dilakukan Observasi: intrakarnial
Kategori: fisiologis tindakan 1) Identifikasi penyebab peningkatan Observasi:
Subkategori: keperawatan TIK (mis., edema serebral) 1) Mnghindari
neurosensori selama 3x24 jam 2) Monitor tanda dan gejala TIK (mis., penyebab
Definisi: gangguan masalah teratasi kesadaran menurun) terjadinya TIK
mekanisme dinamika dengan indikator: Terapeutik: 2) Penentuan
intrakarnial dalam 1. Tingkat 3) Cegah terjadinya kejang intervensi untuk
melakukan kompensasi kesadaran (2) 4) Pertahankan suhu tubuh normal mengatasi
terhadap stimulus yang 2. Fungsi kognitif Edukasi: terjadinya TIK
dapat menurunkan (2) Kolaborasi: Terpeutik:
kapasitas intrakarnial 3. Sakit kepala (4) 5) Kolaborasi pemberian antikonvulsan 3) Mengurangi
Gejala dan tanda 2. Control kejang 2. Pemantauan tekanan intrakarnial tingkat
mayor Setelah dilakukan Observasi: keparahan TIK
Subjektif: tindakan 1) Monitor tekanan perfusi serebral 4) Meminimalisir
- Sakit kepala keperawatan 2) Monitor jumlah, kecepatan, dan terjadinya kejang
Objektif: selama 3x24 jam karakteristik drainase cairan Kolaborasi:
- Tekanan darah masalah teratasi serebrospinal 5) Mencegah
meningkat dengan indikator: Terapeutik: terjadinya kejang
dengan tekanan 1. Kemampuan 3) Ambil sampel drainase cairan 2. Pemantauan tekanan
nadi (pulse mencegah serebrospinal intrakarnial
pressure) faktor 4) Pertahankan posisi kepala dan leher Observasi:
melebar resiko/pemicu netral 1) Mengetahui
- Tingkat kejang Edukasi: keadaan umum
kesadaran 2. Hubungan 5) Jelaskan tujuan dan prosedur tekanan perfusi
menurun sosial Kolaborasi: - serebral
- Respon pupil 3. Pola tidur Edukasi: - 2) Menentukan
melambat atau 3. Pemantauan Neurologis keadaan umum
tidak sama Observasi: cairan
- Reflex 1) Monitor tingkat kesadaran serebrospinal
neurologis 2) Monitor batuk dan reflex muntah Terapeutik:
terganggu Terapeutik: 3) Untuk
Gejala dan tanda minor 3) Tingkatkan frekuensi pemantauan pemeriksaan
Subjektif: - neurologis laboratorium
Objektif: 4) Hindari aktivitas yang dapat 4) Mencegah
- Muntah (tanpa meningkatkan tekanan intrakarnial terjadinya TIK
disertai mual) Edukasi: Kolaborasi: -
- Tampak 5) Jelaskan tujuan dan prosedur Edukasi: -
lesu/lemah pemantauan 3. Pemantauan
- Fungsi kognitif Kolaborasi: - neurologis
terganggu 4. Manajemen kejang Observasi:
- TIK ≥20 mmH Observasi: 1) Mengetahui
1) Monitor terjadinya kejang berulang seberapa parah
2) Monitor karakteristik kejang kondisi pasien
3) Monitor status neurologis 2) Mencegah
Terapeutik: terjadinya
4) Baringkan pasien agar tidak terjatuh muntah yang
5) Catat durasi kejang menyebabkan
Edukasi: defisit nutrisi
6) Anjurkan keluarga menghindari Terapeutik:
memasukkan apapun kedalam mulut 3) Mempermudah
pasien saat periode kejang mendiagnosa
7) Anjurkan keluarga tidak keparahan
menggunakan kekerasan untuk penyakit
menahan gerakan pasien 4) Meminimalisir
Kolaborasi: terjadinya
8) Kolaborasi pemberian antikonvulsan peningkatan TIK
5. Pemantauan tanda vital Edukasi:
Observasi: 5) Agar pasien
1) Monitor tekanan darah mengetahui
2) Identifikasi penyebab perubahan tujuan
tanda vital danprosedur
Terpaeutik: pemantauan
3) Atur interval pemantauan sesuai 4. Manajemen kejang
kondisi pasien Observasi:
4) Dokumentasikan hasil pemantauan 1) Terjadinya
Edukasi: kejang berulang
5) Jelaskan tujuan dan prosedur dapat
pemantauan memperparah
6) Informasikan hasil pemantauan penyakit
Kolaborasi: - 2) Mengetahui
seberapa parah
kejang yang
terjadi
3) Menentukan
tindakan yang
akan diambil
Terapeutik:
4) Meminimalisir
resiko cedera
5) Mengatahui
seberapa patah
dan lama
terjadinya kejang
Edukasi:
6) Memasukkan
sesuatu kedalam
mulut pasien saat
kejang akan
memperparah
kondisi pasien
7) Tanpa
kekerasanpun,
kejang akan
berhenti dengan
sendirinya
8) Mencegah
terjadinya kejang
5. Pemantauan tanda-
tanda vital
Observasi:
1) Mengetahui
normal/tidaknya
tekanan darah
2) Mengetahui
secara umum
perubahan tanda-
tanda vital
terapeutik:
3) Mempermudah
pemantauan
4) Memudahkan
tinjak lanjut
perawatan
Edukasi:
5) Agar pasien dan
keluarga
mengetahui
tujuan dan
prosedur
pemantauan
6) Agar pasien dan
keluarga
mengetahui hasil
pemantauan
Hipertermia (D.0130) Termoregulasi Manajemen Hipertermi Manajemen Hipertermi
Kategori : Lingkungan Setelah dilakukan
Subkategori : Observasi : Observasi :
tindakan keperawatan
Keamanan dan 1. Monitor suhu tubuh 1. Untuk melihat suhu
Proteksi selama 3x24 jam Terapeutik : tubuh dari pasien
Definisi : Suhu tubuh 1. Sediakan lingkungan yang dingin Terapeutik :
masalahTermoregulasi
meningkat diatas Edukasi : 1. Agar pasien merasa
rentang normal tubuh. teratasi dengan indikator : 1. Anjurkan tirah baring Nyaman dengan
Penyebab : Kolaborasi : lingkungan yang ada
1. Menggigil (3)
1. Terpapar 1. Kolaborasi pemberian cairan dan di sekitar.
lingkungan Ket : elektrolit intravena, jika perlu Edukasi :
panas 1. Agar pasien merasa
1. Meningkat
2. Proses penyakit Regulasi Temperatur lebih baik
(mis, 2. Cukup Meningkat Kolaborasi :
infeksi,Kanker) Observasi : 1. Agar cairan yang
3. Sedang
3. Ketidaksesuaia 1. Monitor tekanan darah, frekuensi diberikan terpenuhi
n pakaian 4. Cukup Menurun pernapasan, dan nadi
dengan suhu 2. Monitor warna dan suhu kulit Regulasi Temperatur
5. Menurun
lingkungan Terapeutik :
4. Peningkatan 1. Tingkatkan asupan cairan dan nutrisi Obsrvasi :
laju yang adekuat 1. Untuk mengetahui
2. Suhu Tubuh (3)
metabolisme Edukasi : TTV dari pasien
5. Aktivitas 3. Kadar glukosa 1. Jelaskan cara pencegahan hipotermi 2. Untuk mengetahui
berlebihan karena terpapar udara dingin warna dan suhu kulit
darah (3)
Gejala dan Tanda Kolaborasi : Terapeutik :
Mayor Ket : 1. Kolaborasi pemberian antiseptik,jika 1. Agar pasien
Subjektif : perlu mendapatkan asupan
1. Memburuk
- 2. Cukup memburuk cairan dan nutrisi
Objektif : Pemberian Obat yang baik
3. Sedang
1. Suhu tubuh Edukasi :
diatas nilai 4. Cukup Membaik Observasi : 1. Agar pasien
normal 1. Identifikasi kemungkinan alergi, mengetahui cara
5. Membaik
Gejala dan Tanda interaksi,dan kontraindikasi obat pencegahan
Minor 2. Monitor efek terapeutik obat hipotermi
Subjektif : Terapeutik : Kolaborasi :
- 1. Perhatikan prosedur pemberian obat 1. Agar pasien
Objektif : yang aman dan akurat mendapatkan
1. Kulit merah Edukasi : pengobatan yang
2. Kulit terasa hangat 1. Jelaskan jenis obat, alasan pemberian, baik.
tindakan yang diharapkan, dan efek
samping sebelum pemberian. Pemberian Obat

Observasi :
1. Untuk mengetahui
alergi yang di
dapatkan oleh pasien
2. Untuk mengetahui
efek dari obat yan
diberikan
Terapeutik :
1. Agar obat yang
diberikan kepada
pasien tetap aman
dan akurat
Edukasi :
1. Agar pasien
mengetahui efek
samping dari obat
yang akan diberikan
Gangguan Mobilitas Mobilitas Fisik Dukungan Ambulasi Dukungan ambulasi
Fisik (D.0014) Setelah dilakukan
Kategori : Fisiologis Observasi : Observasi:
tindakan keperawatan
Subkategori : 1. Identifikasi adanya nyeri atau keluhan 1. Untuk mengetahui
Aktivitas/Istirahat selama 3x24 jam masalah fisik lainnya keluhan yg dialami
Terapeutik klien
Mobilitas Fisik
Definisi : Keterbatasan 1. Fasilitasi melakukan mobilisasi fisik,
dalam gerakan fisik teratasi dengan indikator : jika perlu
dari satu atau lebih Edukasi : Teraupetik
1. Nyeri (3)
ekstremitas secara 1. Jelaskan tujuan dan prosedur ambulasi 1. Untuk mengetahui
2. Kecemasan (3)
mandiri. keadaan fisik pada
3. Kaku Sendi (3)
Penyebab : Dukungan Mobilisasi pasien
Ket :
1. Perubahan Edukasi:
1. Menigkat
metabolisme Observasi : 1. Supaya klien
2. Cukup Meningkat
2. Ketidak 1. Monitor frekuensi jantung dan tekanan mengetahui tindakan
3. Sedang
bugaran fisik darah sebelum memulai mobilisasi yg dilakukan
4. Cukup Menurun
3. Malnutrisi Terapeutik : perawat
5. Menurun
4. Gangguan 1. Libatkan keluarga untuk membantu
neuromuskular pasien dalam meningkatkan pergerakan Dukungan mobilisasi
5. Nyeri Edukasi :
Gejala Dan Tanda 1. Jelaskan tujuan dan prosedur mobilisasi Observasi:
Mayor : 2. Anjurkan melakukan mobilisasi dini 1. Supaya perawat
Subjektif : tau apa yg harus
1. Mengeluh sulit Pencegahan Jatuh dilakukan pada
menggerakkan saat tindakan
ekstremitas Observasi : berlangsung
Objektif : 1. Identifikasi faktor lingkungan yang Teraupetik:
1. Kekuatan otot meningkatkan risiko jatuh (mis, lantai 1. Supaya keluarga
menurun licin, penerangan kurang) dapat membantu
2. Rentang gerak Terapeutik : saat proses
(ROM) 1. Orientasikan ruangan pad pasien dan pemulihan pada
menurun keluarga klie
Gejala dan Tanda Edukasi :
Minor : 1. Anjurkan menggunakan alas kaki yang
Subjektif : tidak licin Edukasi:
1. Nyeri saat 1. Untuk
bergerak Manajemen Energi memberikan
2. Merasa cemas pengetahuan pada
saat bergerak Observasi : klien
Objektif : 1. Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang 2. Agar pasien sudah
1. Sendi kaku mengakibatkan kelelahan terlatih untuk
2. Fisik lemah 2. Monitor kelelahan fisik dan emosional melakikan gerakan
Terapeutik :
1. Lakukan latihan rentang gerak pasif Pencegahan jatuh
dan/atau aktif Obervasi
2. Berikan aktivitas distraksi yang 1. Untuk menghindari
menenangkan adanya faktor risiko
Edukasi : terhadap klien
1. Anjurkan melakukan aktivitas secara
bertahap Teraupetik
Kolaborasi : 1. Untuk memberikan
1. Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara kenyamanan
meningkatkan asupan makanan. terhadap klien
Edukasi:
1. Untuk menjaga
pasien agar tidak
terpeleset

Manajemen energi

Observasi
1. Untuk melihat
kondisi yg dialami
klien
2. Agar pasien tidak
mengalami kelelahan

Teraupetik:
1. Untuk
memulihkan
kondisi klien
2. Supaya klien
merasa nyaman
saat melakukan
gerakan

Edukasi:
1. Untuk
memberikan
proses
penyembuhan
pada klien
Kolaborasi:
1. Untuk memberikan
nutrisi yg baik saat
proses pemulihan
BAB IV

PENUTUP

4.1 Simpulan

Dari uraian singkat tentang meningitis diatas dapat diperoleh beberapa poin antara
lain :

1. Menurut Smeltzer (2015), Meningitis merupakan radang pada meningen


(membran yang mengelilingi otak dan medula spinalis) dan disebabkan oleh virus,
bakteri atau organ-organ jamur.

2. Penyebab dari penyakit meningitis antara lain Bakteri; Mycobacterium


tuberculosa, Diplococcus pneumoniae (pneumokok), Neisseria meningitis
(meningokok), Streptococus haemolyticuss, Staphylococcus aureus, Haemophilus
influenzae, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Peudomonas aeruginosa.
Penyebab lainnya lues, Virus, Toxoplasma gondhii dan Ricketsia

4.2 Saran

harapkan dengan adanya makalah ini pembaca khususnya mahasiswa


keperaDiwatan dapat memperoleh ilmu yang lebih tentang penyakit meningitis
dan bagaimana penerapan asuhan keperawatan pada pasien dengan meningitis.
Semoga makalah ini dapat dijadikan sumber literature yang layak digunakan
untuk mahasiswa.
DAFTAR PUSTAKA

Alam, A., 2011, Kejadian Meningitis Bakterial pada Anak yang Menderita
Kejang Demam Pertama,Sari Pediari, IDAI 13, 293–8.
Bamberger DM. Diagnosis, initialmanagement, andpreventionof
meningitis. Am Fam Physician. 2010;82(12): 1491-1498.
12. Oordt-Speets AM, Boljin R, Hoorn RCV, Bhavsar A, Kyaw MH.
Global etiologyofbacterial meningitis: a systematicreviewand meta-
analysis. PLoS One. 2018;13(6): e0198772.
Doenges, Marilyn E, dkk.(2015).Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman
untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih
Bahasa, I Made Kariasa, N Made Sumarwati. Editor edisi bahasa
Indonesia, Monica Ester, Yasmin asih. Ed.3. Jakarta : EGC.
Ganiem, Ahmad Rizal. 2011. Meingitis Bakterialis Akut. In : Sudewi, AA
Raka, Sugianto Paulus, Ritarwan Kiking, editors kelompok Studi
Neuro Infeksi. Airlangga University Press. P. 1-11.
Harsono.(2015).Buku Ajar Neurologi Klinis.Ed.I.Yogyakarta : Gajah
Mada University Press.
Judha M & Rahil H.N. 2011 Sistem Persarafan Dalam Asuhan
Keperawatan. Yogyakarta: Gosyen Publishing.
Judha M & Rahil H.N. 2011 Sistem Persarafan Dalam Asuhan
Keperawatan. Yogyakarta: Gosyen Publishing.
Long, Barbara C. perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses
Keperawatan. Bandung : yayasan Ikatan Alumni Pendidikan
Keperawatan; 1996.
Nurarif H. Amin & Kusuma Hardi. 2013. Aplikasi Asuhan
KeperawatanBerdasarkan Diagnosa Medis & NANDA (North
American Nursing Diagnosis Association) NIC-NOC. Mediaction
Publishing.
Price, Sylvia Anderson. Pathophysiology : Clinical Concepts Of Disease
Processes. Alih Bahasa Peter Anugrah. Ed. 4. Jakarta : EGC; 2015.
Smeltzer, Suzanne C & Bare,Brenda G.(2015).Buku Ajar Keperawatan
Medikal Bedah Brunner & Suddarth.Alih bahasa, Agung
Waluyo,dkk.Editor edisi bahasa Indonesia, Monica
Ester.Ed.8.Jakarta : EGC.
Shao M, Xu P, Liu J, Liu W, Wu X. The roleofadjunctivedexamethasone
in thetreatmentofbacterial meningitis: anupdatedsystematic meta-
analysis. PatientPreferenceandAdherence. 2016;10:1243-1249.
Tucker, Susan Martin et al. Patient care Standards : Nursing Process,
diagnosis, And Outcome. Alih bahasa Yasmin asih. Ed. 5. Jakarta :
EGC; 2015.
Widagdo. 2011. Masalah dan Tatalaksana Penyakit Infeksi Pada Anak.
Jakarta: CV Sagung Seto.
Widagdo. 2011. Masalah dan Tatalaksana Penyakit Infeksi Pada Anak.
Jakarta: CV Sagung Seto.

Anda mungkin juga menyukai