Anda di halaman 1dari 22

BAGIAN ILMU PENYAKIT SARAF

FAKULTAS KEDOKTERAN REFERAT


UNIVERSITAS HALUOLEO JANUARI 2020

NEURALGIA POST HERPETIKA

Oleh :

Nurzulifa
K1A1 15 104

Pembimbing :
dr. Irmayani Aboe Kasim, M.Kes., Sp.S

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU PENYAKIT SARAF


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2020
LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa :


Nama : Nurzulifa
NIM : K1A1 15 104
Judul Referat : Neuralgia Post Herpetika

Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada bagian


Ilmu Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Haluoleo.

Kendari, Januari 2020


Mengetahui,
Pembimbing

dr. Irmayani Aboe Kasim, M.Kes., Sp.S


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas Rahmat dan
Karunia-Nya serta salam dan shalawat kepada Rasulullah Muhammad SAW
beserta sahabat dan keluarganya, sehingga penulis dapat menyelesaikan referat ini
dengan judul “Neuralgia Post Herpetika” sebagai salah satu syarat dalam
menyelesaikan Kepaniteraan Klinik di Bagian Ilmu Penyakit Saraf.
Selama persiapan dan penyusunan referat ini rampung, penulis mengalami
kesulitan dalam mencari referensi. Namun berkat bantuan, saran, dan kritik dari
berbagai pihak akhirnya referat ini dapat terselesaikan serta tak lupa penulis
mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada
semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian referat ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan referat ini terdapat banyak
kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis
mengharapkan kritik dan saran untuk menyempurnakan penelitian yang serupa
dimasa yang akan datang. Saya berharap sekiranya laporan kasus dan referat ini
dapat bermanfaat untuk kita semua. Amin.

Kendari, Januari 2020

Hormat Saya,

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman Judul ……………………………………………………………. i


Halaman Pengesahan …………………………………………………….. ii
Kata Pengantar …………………………………………………………… iii
Daftar Isi …………………………………………………………………. iv
BAB I PENDAHULUAN ……………………………………………….. 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ………………………………………. 3
A. Definisi………………………………………………………………. 3
B. Epidemiologi……………………………………………………… 4
C. Etiologi……………………………………………………………… 5
D. Patofisiologi …………………………………………………………. 5
E. Manifestasi Klinis ………………………………………………… 10
F. Diagnosis……………………………………………………………. 13
G. Penatalaksanaan ………………..………………………………… 14
H. Pencegahan …….………………………………………………… 18
I. Edukasi ..……...…………………………………………………… 19
J. Prognosis ……...…………………………………………………… 20
BAB III PENUTUP ……………………………………………………… 21
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… 22
LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN

Nyeri dapat digambarkan sebagai suatu pengalaman sensorik dan

emosional yang tidak menyenangkan yang berkaitan dengan kerusakan jaringan

yang sudah atau berpotensi terjadi, atau dijelaskan berdasarkan kerusakan

tersebut. Definisi ini menghindari pengkorelasian nyeri dengan suatu rangsangan

(stimulus). Definisi ini juga menekankan bahwa nyeri bersifat subjektif dan

merupakan suatu sensasi sekaligus emosi.1,2,3

Secara patologik nyeri dikelompokkan pada nyeri adaptif atau nyeri akut

atau nyeri nosiseptif, dan nyeri maladaptif sebagai nyeri kronik juga disebut

sebagai nyeri neuropatik serta nyeri psikologik atau nyeri idiopatik. Nyeri akut

atau nosiseptif yang diakibatkan oleh kerusakan jaringan, merupakan salah satu

sinyal untuk mempercepat perbaikan dari jaringan yang rusak. Sedangkan nyeri

neuropatik disebut sebagai nyeri fungsional merupakan proses sensorik abnormal

yang disebut juga sebagai gangguan sistem alarm. Nyeri idiopatik yang tidak

berhubungan dengan patologi baik neuropatik maupun nosiseptif dan

memunculkan gejala gangguan psikologik memenuhi somatoform seperti stres,

depresi, ansietas dan sebagainya.1,2,3

Klasifikasi dari nyeri kronik digolongkan dalam 3 kategori : nyeri yang

disebabkan oleh penyakit atau kerusakan pada jaringan itu sendiri (nyeri

nosiseptif, seperti osteoarthritis), nyeri yang disebabkan oleh penyakit atau

kerusakan sistem somatosensori (nyeri neuropatik), dan gabungan antara nyeri

nosiseptif dan neuropatik (nyeri gabungan).1,2,3


International Association for the Study of Pain (IASP) mendefinisikan

nyeri neuropatik adalah nyeri yang dihasilkan dari penyakit atau kerusakan dari

sistem saraf perifer atau sentral, dan berasal dari kelainan fungsi sistem nervus.

Awalnya, nyeri neuropatik digunakan hanya untuk menggambarkan nyeri yang

berhubungan dengan neuropatik perifer, dan nyeri sentral pada lesi di sistem saraf

pusat yang berhubungan dengan nyeri. Nyeri neurogenik menyangkut semua

penyebab, baik perifer maupun sentral.1,2,3

Nyeri neuropatik yang didefinisikan sebagai nyeri akibat lesi jaringan

saraf baik perifer maupun sentral bisa diakibatkan oleh beberapa penyebab seperti

amputasi, toksis (akibat khemoterapi) metabolik (diabetik neuropati) atau juga

infeksi misalnya herpes zoster pada neuralgia pasca herpes dan lain-lain. Nyeri

pada neuropatik bisa muncul spontan (tanpa stimulus) maupun dengan stimulus

atau juga kombinasi.1,2,3


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Nyeri post herpetikum (Neuralgia Post Herpetik = NPH / Post Herpetic

Neuralgia = PHN) merupakan nyeri persisten yang muncul setelah ruam

Herpes Zoster telah sembuh (biasanya dalam 1 bulan). Nyeri ini terjadi

disepanjang serabut saraf yang mengikuti pola ruam segmental dari Herpes

Zoster.3

Neuralgia ini dikarakteristikan sebagai nyeri seperti terbakar, teriris

atau nyeri disetetik yang bertahan selama berbulan-bulan bahkan dapat sampai

tahunan. Burgoon, 1957, mendefinisikan neuralgia paska herpetika sebagai

nyeri yang menetap setelah fase akut infeksi. Rogers, 1981, mendefinisikan

sebagai nyeri yang menetap satu bulan setelah onset ruam herpes zoster. Tahun

1989, Rowbotham mendefinisikan sebagai nyeri yang menetap atau berulang

setidaknya selama tiga bulan setelah penyembuhan ruam herpes zoster.

Dworkin, 1994, mendefinisikan neuralgia paska herpetika sebagai nyeri

neuropatik yang menetap setelah onset ruam (atau 3 bulan setelah

penyembuhan herpes zoster). Tahun 1999, Browsher mendefinisikan sebagai

nyeri neuropatik yang menetap atau timbul pada daerah herpes zoster lebih

atau sama dengan tiga bulan setelah onset ruam kulit. Dari berbagai definisi

yang paling tersering digunakan adalah definisi menurut Dworkin. Sesuai

dengan definisi sebelumnya maka The International Association for Study of

Pain (IASP) menggolongkan neuralgia post herpetika sebagai nyeri kronik


yaitu nyeri yang timbul setelah penyembuhan usai atau nyeri yang berlangsung

lebih dari tiga bulan tanpa adanya malignitas.4

NPH umumnya didefinisikan sebagai nyeri yang timbul lebih dari 3

bulan setelah onset (gejala awal) erupsi zoster terjadi. Nyeri umumnya

diekspresikan sebagai sensasi terbakar (burning) atau tertusuk-tusuk (shooting)

atau gatal (itching). Nyeri ini juga dihubungkan dengan gejala yang lebih berat

lagi seperti disestesia, parestesia, hiperstesia, allodinia dan hiperalgesia. Pada

pasien dengan NPH, biasanya terjadi perubahan fungsi sensorik pada area yang

terkena. Pada satu penelitian, hampir seluruh penderita memiliki area erupsi

yang sangat sensitif terhadap nyeri, dengan sensasi abnormal terhadap sentuhan

ringan, nyeri atau temperature pada area kulit yang terkena. Nyeri umumnya

dipresipitasi oleh gerakan (allodinia mekanik) atau perubahan suhu (allodinia

termal). Sementara pada penelitian lainnya dinyatakan bahwa derajat defisit

sensorik berhubungan dengan beratnya nyeri. Selain itu, pasien dengan NPH

lebih cenderung mengalami perubahan sensorik dibanding penderita dengan

zoster yang sembuh tanpa neuralgia.5

B. Epidemiologi
Dalam sebuah survei yang dilakukan antara 1988 dan 1994 di AS, lebih

dari 99% orang dewasa berusia ≥40 tahun memiliki bukti serologis infeksi

VZV sebelumnya dan karenanya berisiko terkena HZ. Sekitar 1 juta kasus HZ

terjadi setiap tahun di AS, dan satu dari setiap tiga orang mengembangkan HZ

selama hidup mereka. Diperkirakan bahwa 5% -20% dari mereka dengan HZ

melanjutkan untuk mengembangkan PHN. Frekuensi dan tingkat keparahan


PHN meningkat dengan bertambahnya usia, terjadi pada 20% orang berusia

60-65 tahun yang memiliki HZ akut, dan lebih dari 30% orang berusia> 80

tahun. Selain usia, faktor risiko untuk mengembangkan PHN setelah HZ

termasuk adanya prodrome (didefinisikan sebagai rasa sakit dan / atau sensasi

abnormal sebelum timbulnya ruam), ruam parah (didefinisikan sebagai> 50

lesi: papula, vesikel, atau vesikel berkrusta), dan sakit parah selama fase akut.

Tinjauan sistematis dan meta-analisis terbaru juga mengidentifikasi

keterlibatan oftalmikus sebagai faktor risiko. Faktor-faktor risiko tambahan

yang mungkin termasuk systemic lupus erythematosus, diabetes, dan trauma

baru-baru ini. Pasien immunocompromised berada pada peningkatan risiko

reaktivasi VZV serta komplikasi neurologis.5

Insidensi HZ 1,5-3 orang per 1000 penduduk pada semua usia dan 7-11

orang per 1000 penduduk per tahunnya pada usia lebih 1 60 tahun di Eropa dan

Amerika Utara. Terdapat lebih dari 1 juta kasus HZ di Amerika Serikat setiap

tahunnya, dengan rata-rata 3-4 kasus per 1000 penduduk. Beberapa penelitian

menyebutkan terjadinya peningkatan insidensiHZ. Pasien yang tidak mendapat

vaksin yang berusia sekitar 85 tahun memiliki risikomengalami HZ sebanyak

50%, dan kurang lebih 3% 2pasien memerlukan perawatan di rumah sakit.6

C. Etiologi
Neuralgia post herpetik disebabkan oleh infeksi virus herpes zoster.

Virus varisella zoster merupakan salah satu dari delapan virus herpes yang

menginfeksi manusia. Virus ini termasuk dalam famili herpesviridae. Struktur

virus terdiri dari sebuah icosahedral nucleocapsid yang dikelilingi oleh


selubung lipid. Ditengahnya terdapat DNA untai ganda. Virus varisella zoster

memiliki diameter sekitar 150-200 nm. Infeksi primernya secara klinis dikenal

dengan Varicella (chicken pox), umumnya terjadi pada anak-anak. Tipe Virus

yang bersifat patogen pada manusia adalah herpes virus-3 (HHV-3), biasa juga

disebut dengan varisella zoster virus (VZV). Virus ini berdiam di ganglion

posterior susunan saraf tepi dan ganglion kranialis terutama nervus kranialis V

(trigeminus) pada ganglion gasseri cabang oftalmik dan vervus kranialis VII

(fasialis) pada ganglion genikulatum.6

D. Patofisiologi
Patofisiologi PHN kurang dipahami. Replikasi virus varicella-zoster yang

laten pada ganglion sensoris menyebabkan cedera sistem saraf perifer dan

pusat (PNS, CNS). Proses patofisiologis yang berbeda tampaknya terlibat

dengan pengembangan HZ dan PHN. Penelitian telah menunjukkan bahwa

pada HZ akut, kulit meradang dan sebagian mengalami denervasi. Proses

inflamasi awal ini memiliki durasi yang bervariasi, dan dapat bertahan selama

berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan. Mediator inflamasi, seperti

bradikinin, substansi P, histamin, sitokin, dan ion H + dilepaskan setelah

cedera jaringan, berkontribusi pada aktivasi nosiseptor dan mengurangi

ambang nyeri.

Proses sensitisasi perifer dimulai dengan eksaserbasi akibat respons

terhadap rangsangan berbahaya dan tidak berbahaya. Pada ganglion akar dorsal

terdapat peradangan, nekrosis hemoragik dan kehilangan saraf, terutama

serabut C. Sebagai akibatnya, terdapat sprouting serat A-beta di situs koneksi


serabut C aferen, memperluas bidang reseptor neuron dan membantu

interpretasi rangsangan mekanik perifer yang tidak berbahaya sebagai agresif,

fenomena yang dikenal sebagai allodynia mekanis, sering diamati pada pasien

PHN. Dipercayai bahwa allodynia dan kehilangan sensoris pada dermatom

yang terkena berhubungan dengan fenomena deafferentation, yang merupakan

konsekuensi dari reorganisasi bidang reseptor spine dorsal. Serabut A-delta dan

C saraf terutama terlibat dalam nosisepsi dan serat A-beta terkait dengan

sensasi sentuhan. Serat-serat ini meninggalkan pinggiran dan bergerak ke

tanduk posterior medula spinalis, yang tersusun dalam bentuk laminar. Lamina

Rexed diberi nomor dari I ke X.

Dalam situasi fisiologis, lamina I, II dan V bertanggung jawab untuk

transmisi stimulus nyeri, sedangkan lamina yang berdekatan berhubungan

dengan sensasi transmisi sentuhan. Di hadapan cedera saraf, ada reorganisasi

bidang reseptif, yang memungkinkan stimulus sentuhan dirasakan dan

ditafsirkan oleh tubuh sebagai informasi nyeri. Serabut A-beta terhubung

dengan transmiter traktus spinalis sensasi nyeri dan berasal perubahan sensoris

dan allodynia. Proses pensinyalan sistem saraf normal diubah dalam PHN.

Dipercaya bahwa tunas akson noradrenergik simpatis pada ganglion akar

dorsal, di sekitar serat A-delta, bertanggung jawab untuk aktivasi serat aferen

sensorik setelah stimulasi simpatik. Selain itu, hilangnya neuron gabaergik dan

cedera pada elemen yang membentuk sistem nyeri penghambatan turun

berkontribusi terhadap peningkatan sensitivitas di daerah yang terkena.3


E. Manifestasi Klinis
Tanda khas dari herpes zooster pada fase prodromal adalah nyeri dan

parasthesia pada daerah dermatom yang terkena. Dworkin membagi neuralgia

post herpetik ke dalam tiga fase:1,9

1. Fase akut: fase nyeri timbul bersamaan/ menyertai lesi kulit. Biasanya

berlangsung < 4 minggu

2. Fase subakut: fase nyeri menetap > 30 hari setelah onset lesi kulit tetapi < 4

bulan

3. Neuralgia post herpetik: dimana nyeri menetap > 4 bulan setelah onset lesi

kulit atau 3 bulan setelah penyembuhan lesi herpes zoster.

Pada umumnya penderita dengan herpes zoster berkunjung ke dokter

ahli penyakit kulit oleh karena terdapatnya gelembung-gelembung herpesnya.

Keluhan penderita disertai dengan rasa demam, sakit kepala, mual, lemah

tubuh. 48-72 jam kemudian, setelah gejala prodromal timbul lesi

makulopapular eritematosa unilateral mengikuti dermatom kulit dan dengan

cepat berubah bentuk menjadi lesi vesikular. Nyeri yang timbul mempunyai

intensitas bervariasi dari ringan sampai berat sehingga sentuhan ringan saja

menimbulkan nyeri yang begitu mengganggu penderitanya. Setelah 3-5 hari

dari awal lesi kulit, biasanya lesi akan mulai mengering. Durasi penyakit

biasanya 7-10 hari, tetapi biasanya untuk lesi kulit kembali normal dibutuhkan

waktu sampai berminggu-minggu.1,9

Penyakit ini dapat sangat mengganggu penderitanya. Gangguan

sensorik yang ditimbulkan diperberat oleh rangsangan pada kulit dengan hasil

hiperestesia, allodinia dan hiperalgesia. Nyeri yang dirasakan dapat


mengacaukan pekerjaan si penderita, tidur bahkan sampai mood sehingga nyeri

ini dapat mempengaruhi kualitas hidup jangka pendek maupun jangka panjang

pasien. Nyeri dapat dirasakan beberapa hari atau beberapa minggu sebelum

timbulnya erupsi kulit. Keluhan yang paling sering dilaporkan adalah nyeri

seperti rasa terbakar, parestesi yang dapat disertai dengan rasa sakit (disestesi),

hiperestesia yang merupakan respon nyeri berlebihan terhadap stimulus, atau

nyeri seperti terkena/ tersetrum listrik. Nyeri sendiri dapat diprovokasi antara

lain dengan stimulus ringan/ normal (allodinia), rasa gata-gatal yang tidak

tertahankan dan nyeri yang terus bertambah dalam menanggapi rangsang yang

berulang.1,9

Pada masa gelembung –gelembung herpes menjadi kering, orang sakit

mulai menderita karena nyeri hebat yang yang dirasakan pada daerah kulit

yang terkena. Nyeri hebat itu bersifat neuralgik. Di mana nyeri ini sangat panas

dan tajam, sifat nyeri neuralgik ini menyerupai nyeri neuralgik idiopatik,

terutama dalam hal serangannya yaitu tiap serangan muncul secara tiba – tiba

dan tiap serangan terdiri dari sekelompok serangan – serangan kecil dan besar.

Orang sakit dengan keluhan sakit kepala di belakang atau di atas telinga dan

tidak enak badan. Tetapi bila penderita datang sebelum gelembung –

gelembung herpes timbul, untuk meramalkan bahwa nanti akan muncul herpes

adalah sulit sekali. Bedanya dengan neuralgia trigeminus idiopatik ialah adanya

gejala defisit sensorik. Dan fenomena paradoksal inilah yang menjadi ciri khas

dari neuralgia post herpatik, yaitu anestesia pada tempat – tempat bekas herpes

tetapi pada timbulnya serangan neuralgia, justru tempat –tempat bekas herpes
yang anestetik itu yang dirasakan sebagai tempat yang paling nyeri. Neuralgia

post herpatik sering terjadi di wajah dan kepala. Jika terdapat di dahi

dinamakan neuralgia postherpatikum oftalmikum dan yang di daun telinga

neuralgia postherpatikum otikum.1,9

Manifestasi klinis klasik yang terjadi pada herpes zoster adalah gejala

prodromal rasa terbakar, gatal dengan derajat ringan sampai sedang pada kulit

sesuai dengan dermatom yang terkena. Biasanya keluhan penderita disertai

dengan rasa demam, sakit kepala, mual, lemah tubuh. 48-72 jam kemudian,

setelah gejala prodromal timbul lesi makulopapular eritematosa unilateral

mengikuti dermatom kulit dan dengan cepat berubah bentuk menjadi lesi

vesikular. Nyeri yang timbul mempunyai intensitas bervariasi dari ringan

sampai berat sehingga sentuhan ringan saja menimbulkan nyeri yang begitu

mengganggu penderitanya. Setelah 3-5 hari dari awal lesi kulit, biasanya lesi

akan mulai mengering. Durasi penyakit biasanya 7-10 hari, tetapi biasanya

untuk lesi kulit kembali normal dibutuhkan waktu sampai berminggu-minggu.

Intensitas dan durasi dari erupsi kulit oleh karena infeksi herpes zoster dapat

dikurangi dengan pemberian acyclovir (5x800mg/hari) atau dengan famciclovir

atau valacyclovir.

Manifestasi klinis neuralgia paska herpetika adalah penyakit yang dapat

sangat mengganggu penderitanya. Gangguan sensorik yang ditimbulkan

diperberat oleh rangsangan pada kulit dengan hasil hiperestesia, allodinia dan

hiperalgesia. Nyeri yang dirasakan dapat mengacaukan pekerjaan si penderita,

tidur bahkan sampai mood sehingga nyeri ini dapat mempengaruhi kualitas
hidup jangka pendek maupun jangka panjang pasien. Nyeri dapat dirasakan

beberapa hari atau beberapa minggu sebelum timbulnya erupsi kulit. Keluhan

yang paling sering dilaporkan adalah nyeri seperti rasa terbakar, parestesi yang

dapat disertai dengan rasa sakit (disestesi), hiperestesia yang merupakan respon

nyeri berlebihan terhadap stimulus, atau nyeri seperti terkena/ tersetrum listrik.

Nyeri sendiri dapat diprovokasi antara lain dengan stimulus ringan/ normal

(allodinia), rasa gata-gatal yang tidak tertahankan dan nyeri yang terus

bertambah dalam menanggapi rangsang yang berulang.1,9

F. Diagnosis
a. Anamnesis
Riwayat ruam pada tempat yang dirasakan nyeri penting untuk

mengarahkan neuralgia paska herpes. Lokasi paling bayak adalah daerah

dada dan wajah. Nyeri dapat bersifat terus menerus (continous), hilang

timbul (paroxysmal) ataupun spontan.11

Nyeri erupsi vesikuler sesuai dengan area dermatom merupakan

gejala tipikal herpes zoster. Seiring dengan terjadinya resolusi pada erupsi

kulit, nyeri yang timbul berlanjut hingga 3 bulan atau lebih, atau yang

dikenal sebagai nyeri post herpetik. Nyeri ini sering digambarkan sebagai

rasa terbakar, tertusuk-tusuk, gatal atau tersengat listrik.8,3

b. Pemeriksaan Fisik
Hasil yang didapatkan pada pemeriksaan fisik antara lain :11

a. Pemeriksaan Fisik Umum

Terlihat adanya raut wajah kesakitan pada saat serangan nyeri


b. Pemeriksaan Fisik Khusus

Pada inspeksi dapat ditemukan bekas ruam atau jaringan parut

pada area kulit sesuai dengan dermatom

c. Pemeriksaan Fisik Neurologi

Di daerah dermatom atau area persarafan bekas ruam dapat

ditemukan hipestesi atau anestesi (anestesia dolorosa), alodinia atau

hiperalgesia. Nyeri biasanya dipicu oleh pergerakan (alodinia mekanik)

atau perubahan suhu (alodinia panas dan dingin). Abnormalitas ini

dapat meluas sampai di daerah batas erupsi awal.

c. Pemeriksaan Penujang
Tidak diperlukan pemeriksaan penunjang secara khusus.11

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan, yaitu: 8,3

1. Pemeriksaan neurologis pada nervus trigeminus dan pemeriksaan

neurologis lainnya.

2. Elektromiografi (EMG) untuk melihat aktivitas elektrik pada nervus

3. Cairan cerebrospinal (CSF) abnormal dlm 61% kasus

4. Pleositosis ditemui pada 46% kasus, peningkatan protein 26% dan

DNA VZV 22% kasus.

5. Smear vesikel dan PCR untuk konfirmasi infeksi.

6. Kultur viral atau pewarnaan immunofluorescence bisa digunakan

untuk membedakan herpes simpleks dengan herpes zoster

7. Mengukur antibodi terhadap herpes zoster. Peningkatan 4 kali lipat

mendukung diagnosis herpes zoster subklinis.


G. Penatalaksanaan
1. Pencegahan; vaksin virus varicela zoster, terutama pada usia ≥ 50 tahun

2. Fase Akut Infeksi Herpes Zoster

a. Analgesik seperti asetaminofen, OAINS dan opioid sesuai dengan

analgesic step ladder.

b. Antidepresan

Amitriptilin, 25 mg/hari selama 3 bulan sejak diagnosis awal infeksi

herpes zoster (IASP, 2015).

c. Antiviral dalam 72 jam awitan ruam zoster:

1) Asiklovir; 5 x 800 mg, selama 7-10 hari

2) Valasiklovir, 3 x 1000 mg, selama 7 hari

3) Famsiklovir, 3 x 500 mg, selama 7 hari

4) Pada kondisi immune-compromised berat (AIDS, transplantasi

organ, keganasan limfoproliferatif) terapi antiviral intravena

asiklovir 10-12,5 mg/kgBB setiap 8 jam selama 7 hari

3. Neuralgia paska herpes

American Academy of Neurology tahun 2004 merekomendasikan

antidepresan trisiklik (amitriptilin, nortriptilin, desipramine dan maprotilin),

gabapentin, prgabalin, opioid dan lidokain patch topikal dalam terapi

neuralgia paska herpes.


Obat-obatan dalam terapi neuralgia paska herpes (IASP, 2015)

Golongan Dosis per hari Durasi Pengobatan


Antidepresan trisiklik
- Amitriptilin 75-100 mg 3-6 minggu
- Despiramin 160-250 mg 6 -8 minggu
- Nortriptilin 160 mg 8 minggu
Pregabalin 150-600 mg 4-13 minggu
Gabapentin 1800-3600 mg 7-8 minggu
Gabapentin ER 1800 mg 10 minggu
Tramadol 50-100 mg 6 minggu
Opioid
- Oksikodon 60 mg 4 minggu
- Morphine 240 mg 8 minggu
Kapsaicin 8 % Single application 4-12 minggu
Krim Kapsaisin Kapsaisin 0,075 % krim. 6 minggu

H. Pencegahan
Cara mencegah Nyeri Post Herpetikum ini adalah dengan mencegah

terinfeksinya virus Zoster itu sendiri. Pencegahan neuralgia pascaherpetika

dapat diusahakan dengan kombinasi agen antiviral dan usaha agresif

mengurangi nyeri akut pada pasien herpes zoster. Kombinasi ini diharapkan

akan mengurangi kerusakan saraf dan nyeri akut. Terapi antiviral harus

dimulai segera setelah diagnosis ditegakkan, dan lebih baik jika dimulai pada

tiga atau empat hari pertama. Terapi antiviral diharapkan dapat menghentikan

replikasi virus, sehingga durasi penyakit akan lebih singkat, dan menurunkan

kejadian neuralgia pascaherpetika. Antiviral yang dapat digunakan adalah

asiklovir, valasiklovir, atau famsiklovir. Terapi analgetika akan mengurangi

nyeri yang merupakan faktor risiko utama neuralgia pascaherpetika.10


Telah dikembangkan vaksin pencegahan herpes zoster yang

direkomendasikan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC)

bagi mereka yang berusia 60 tahun atau lebih. Dalam penelitian klinis yang

melibatkan ribuan lansia berusia 60 tahun atau lebih, vaksin ini mengurangi

risiko herpes zoster sebesar 51% dan risiko neuralgia pascaherpetika sebesar

67%. Efek proteksi vaksin ini dilaporkan dapat mencapai 6 tahun atau bahkan

lebih. Selain itu, The United States Advisory Committee on Immunization

Practices (ACIP) juga telah merekomendasikan lansia diatasumur 60 tahun

untuk memperoleh vaksin herpes zoster ini sebagai bagian dari perawatan

kesehatan rutin.Vaksin Oka-strain hidup baru-baru ini telah disetujui oleh

Food and Drug Administration untuk mencegah Varicella.7,9

I. Edukasi

a. Edukasi penderita mengenai keuntungan dan kerugian terapi serta

kemungkinan terapi dalam jangka waktu yang lama

b. Edukasi bahwa kontrol terhadap intensitas nyeri perlu asesmen yang

berulang dan bertahap

c. Edukasi penderita dan keluarga untuk membantu mengurangi kecemasan

atau depresi pasien karena dapat mempengaruhi kontrol nyeri selama terapi
J. Prognosis
Sindrom nyeri yang timbul pada PNH ini cenderung beresolusi dengan

lambat. Pada pasien-pasien dengan PNH, kebanyakan berespon dengan baik

terhadap obat-obatan analgesik, seperti pada antidepressan trisiklik, namun

pada sebagian kasus, nyeri yang dirasakan semakin memburuk dan tidak

berespon terhadap terapi yang diberikan.5

Umumnya prognosisnya baik, di mana ini bergantung pada tindakan

perawatan sejak dini. pada umumnya pasien dengan neuralgia post herpetika

respon terhadap analgesik seperti antidepressan trisiklik. Jika terdapat pasien

dengan nyeri yang menetap dan lama dan tidak respon terhadap terapi medikasi

maka diperlukan pencarian lanjutan untuk mencari terapi yang sesuai.5

Prognosis ad vitam dikatakan bonam karena neuralgia paska herpetik

tidak menyebabkan kematian. Kerusakan yang terjadi bersifat lokal dan hanya

mengganggu fungsi sensorik. Prognosis ad functionam dikatakan bonam

karena setelah terapi didapatkan perbaikan nyata, dan pasien dapat beraktivitas

baik seperti biasa.5

Prognosis ad sanactionam bonam karena walaupun risiko berulangnya

HZ masih mungkin terjadi sebagaimana disebutkan dari literatur, selama pasien

mempunyai daya tahan tubuh baik kemungkinan timbul kembali kecil.5


BAB III
PENUTUP

Nyeri Post Herpetikum adalah suatu kondisi nyeri yang dirasakan di

bagian tubuh yang pernah terserang infeksi herpes zoster. Herpes zoster sendiri

merupakan suatu reaktivasi virus Varicella yang berdiam di dalam jaringan saraf.

NPH  dapat  diklasifikasikan  menjadi neuralgia herpetik akut (30 hari setelah

timbulnya ruam pada kulit), neuralgia herpetik subakut (30-120 hari

setelah timbulnya  ruam  pada  kulit)  dan  NPH  (rasa  sakit yang terjadi  setidakn

ya  120  hari  setelah  timbulnya  ruam  pada kulit).

NPH terjadi oleh karena cedera neuron yang mengenai sistem saraf baik

perifer maupun pusat. Cedera ini mengakibatkan neuron sentral dan perifer

mengadakan discharge spontan sementara juga menurunkan ambang aktivasi

untuk menghasilkan nyeri yang tidak sesuai pada stimulus yang tidak

menyebabkan nyeri.

Manifestasi klinis yang sering di jumpai adalah nyeri seperti rasa terbakar,

parestesi yang dapat disertai dengan rasa sakit (disestesi), hiperestesia yang

merupakan respon nyeri berlebihan terhadap stimulus, atau nyeri seperti terkena/

tersetrum listrik. Penatalaksanaan penyakit ini dapat dilakukan dengan terapi

farmakologi dan non farmakologi. Pemeriksaan penunjang pada penyakit ini tidak

terlalu berarti, cukup dengan anamnesis dan pemeriksaan fisis, diagnosa penyakit

ini sudah dapat ditegakkan. Prognosisnya tidak buruk, pada umumnya dapat

sembuh dengan terapi yang teratur.


DAFTAR PUSTAKA

1. Evina B. Berawi K.N. Ibrahim A. 2016. Manajemen Kasus Herpes Zoster


yang Berisiko Tinggi Neuralgia Paska Herpetik. J Medula Unila Vol. 6 No.1
Desember 2016.
2. Hadley G.R. et al. 2016. Post-herpetic Neuralgia:a Review. CrossMark
Journal (2016) 20:17.
3. Oliveira C.A. Castro A.P.C.R. Miyahira S.A. 2016. Post-herpetic Neuralgia.
Rev Dor. Sao Paulo, 2016;17.
4. Bandjar F.K. Djawad K. 2017. Neuralgia Pasca Herpetik. 2017. Molucca
Medica vol.10, no.1, Oktober 2017.
5. Searle T.M. Snodgrass B. Brant J.M. 2016. Post herpetic neuralgia:
epidemiology, pathophysiology, and pain management pharmacology.
Journal of Multidisciplinary Healthcare 2016:9 447-454.
6. Ayuningati L.K. Indramaya D.M. 2015. Studi Retrospektif: Karakteristik
Pasien Herpes Zoster. Departemen Staf Medik Fungsional Ilmu Kesehatan
Kulit dan Kelamin FK Unair/RSUD Dr. Soetomo Surabaya. BIKK-Berkala
Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin. Periodical of Dermatology and
Venereology Vol. 27 No.3 Desember 2015.
7. McNicol ED. Ferguson MC. Schumann R. 2017. Methadone for Neuropathic
Pain In Adults (Review). Cochrane Library 2017, Issues 5.
8. Wiffen PJ. et al. 2016. Paracetamol (acetaminophen) with or without codeine
or dihydrocodeine for neuropathic pain in adults (Review). Cochrane Library
2016, Issues 12.
9. Gaskell H. et al. 2016. Oxycodone for neuropathic pain in adults (Review).
Cochrane Library 2016, Issues 7.
10. Cooper TE. et al. 2017. Morphine for chronic neuropathic pain in adults
(Review). Cochrane Library 2017, Issues 5.
11. Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia. 2016. Panduan Praktik Klinis
Neurologi