Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN PENDAHULUAN LUKA BAKAR

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Laporan Praktik Profesi Ners Stase
Keperawatan Medikal Bedah

disusun oleh:

Nama : Robi Awaludin


NIM : 320026

PROGRAM STUDI PROFESI NERS A


SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN
PPNI JAWA BARAT
BANDUNG
2020
KONSEP LUKA BAKAR

A. Definisi
Luka bakar adalah injury pada jaringan yang disebabkan oleh suhu panas
(thermal), bahan kimia, elektrik dan radiasi (Suryadi, 2001). Luka bakar adalah
luka yang disebabkan oleh kontak dengan suhu tinggi seperti api, air panas,
listrik, bahan kimia, dan radiasi juga disebabkan oleh kontak dengan suhu
rendah (Masjoer, 2003). Luka bakar adalah kerusakan atau kehilangan jaringan
yang disebabkan kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan
kimia, listrik dan radiasi. (Musliha, 2010).
Luka bakar merupakan kerusakan kulit tubuh yang disebabkan oleh trauma
panas atau trauma dingin (frost bite). Penyebabnya adalah api, air panas, listrik,
kimia, radiasi dan trauma dingin (frost bite). Kerusakan ini dapat menyertakan
jaringan bawah kulit (DEPKES, 2019)
Luka bakar adalah luka pada kulit atau jaringan organik lainnya yang
terutama disebabkan oleh panas atau akibat radiasi, radioaktivitas, listrik,
gesekan atau kontak dengan bahan kimia. Cedera kulit akibat radiasi ultraviolet,
radioaktivitas, listrik atau bahan kimia, serta kerusakan pernapasan akibat
menghirup asap, juga dianggap luka bakar (WHO, 2020)
Jadi, luka bakar adalah kerusakan pada kulit/jaringan yang disebabkan oleh
radiasi sinar ultraviolet, api, panas, elektrik, radioaktif, dan bahan kimia
berbahaya.
Kulit Sehat Kulit Dengan Luka Bakar

❖ Kulit merupakan organ terbesar tubuh dan terdiri dari tiga lapisan yaitu epidermis, dermis dan jaringan subkutan (Brunner
dan Suddarth, 2001).
❖ Epidermis merupakan lapisan luar kulit yang utamanya disusun oleh sel-sel epitel
❖ Dermis merupakan lapisan yang kaya akan serabut saraf, pembuluh darah, dan pembuluh darah limfe. Selain itu dermis juga
tersusun atas kelenjar keringat, sebasea, dan folikel rambut
❖ Jaringan subkutan atau hipodermis merupakan lapisan kulit yang paling dalam. Lapisan ini terutama berupa jaringan
adiposa yang memberikan bantalan antara lapisan kulit dan struktur internal seperti otot dan tulang
❖ Fungsi kulit (Moore dan Agur, 2003) 1.
1. Perlindungan terhadap cedera dan kehilangan cairan (misalnya pada luka bakar)
2. Pengaturan suhu
3. Sensasi melalui saraf kulit dan ujung akhirnya yang bersifat sensoris (misalnya untuk rasa sakit).
4. Sebagai barrier dari invasi mikroorganisme patogen ataupun toksin
B. Etiologi
Menurut DEPKES, (2019) & WHO, (2020), luka bakar dapat disebabkan oleh:
1. Luka bakar suhu tinggi (Thermal Burn):
a. Gas
b. Cairan
c. Bahan padat (solid)
2. Luka bakar bahan kimia (Hemical Burn)
3. Luka bakar sengatan listrik (Electrical Burn)
4. Luka bakar radiasi (Radiasi Injury)
5. Luka bakar radiasi sinar ultraviolet
Penyebab Persentase
Api 53,1%
Air Panas 19,1%
Listrik 14%
Kimia 3%
Gesekan/kontak 5%
(DEPKES, 2019)
C. Derajat Luka Bakar
Derajat luka bakar menurut WHO, 2019 meliputi :
Sedangkan derajat kedalaman luka bakar yang digunakan oleh Emergency
Managament Severe Burn course oleh Australian & New Zealand Burn
Association (ANZBA), 2013 meliputi :
Kedalaman Gambar Keterangan
Epidermal Luka bakar superfisial adalah luka bakar yang dapat sembuh secara spontan dengan
bantuan epitelisasi. Luka bakar epidermal. Luka bakar yang hanya terkena pada
bagian epidermis pasien. Penyebab tersering luka bakar ini adalah matahari dan
ledakan minor. Lapisan epidermis yang bertingkat terbakar dan mengalami proses
penyembuhan dari regenerasi lapisan basal epidermis. Akibat dari produksi
mediator inflamasi yang meningkat, luka bakar ini menjadi hiperemis dan cukup
menyakitkan. Dapat sembuh dalam waktu cepat (7 hari).
Superficial Luka bakar superficial dermal. Luka bakar yang terkena pada bagian epidermis dan
Dermal bagian superfisial dermis (dermis papiler). Ciri khas dari tipe luka bakar ini adalah
munculnya bula. Bagian kulit yang melapisi bula telah mati dan terpisahkan dari
bagian yang masih viable dengan membentuk edema. Edema ini dilapisi oleh
lapisan nekrotik yang disebut bula. Bula dapat pecah dan mengekspos lapusan
dermis yang dapat meningkatkan kedalaman dari jaringan yang rusak pada luka
bakar. Oleh karena saraf sensoris yang terekspos, luka bakar kedalaman ini biasanya
sangat nyeri. Dapat sembuh secara spontan dengan bantuan epiteliassi dalam 14 hari
yang meninggalkan defek warna luka yang berbeda dengan kulit yang tidak terkena.
Luka bakar Pada luka bakar mid-dermal jumlah sel epitel yang bertahan untuk proses re-
mid-dermal epitelisasi sangat sedikit dikarenakan luka bakar yang agak dalam sehingga
penyembuhan luka bakar secara spontan tidak selalu terjadi (8). Capillary refilling
pada pasien dengan luka bakar kedalaman ini biasanya berkurang dan edema
jaringan serta bula akan muncul. Warna luka bakar pada kedalaman ini berwarna
merah muda agak gelap, namun tidak segelap pada pasien luka bakar deep dermal
(8). Sensasi juga berkurang, namun rasa nyeri tetap ada yeng menunjukkan adanya
kerusakan pleksus dermal dari saraf cutaneous. L
Deep dermal Luka bakar deep memiliki derajat keparahan yang sangat besar. Luka bakar
kedalaman ini tidak dapat sembuh spontan dengan bantuan epitelisasi dan hanya
dapat sembuh dalam waktu yang cukup lama dan meninggalkan bekas eskar yang
signifikan. Luka bakar deep-dermal. Luka bakar dengan kedalaman deepdermal
biasanya memiliki bula dengan dasar bula yang menunjukkan warna blotchy red
pada reticular dermis. Warna blotchy red disebabkan karena ekstravasasi
hemoglobin dari sel darah merah yang rusak karena rupturnya pembuluh darah. Ciri
khas pada luka bakar kedalaman ini disebut dengan fenomena capillary blush. Pada
kedalaman ini, ujung-ujung saraf pada kulit juga terpengaruh menyebabkan sensasi
rasa nyeri menjadi hilang.
Full thickness Luka bakar full thickness. Luka bakar tipe ini merusak kedua lapisan kulit epidermis
dan dermis dan bisa terjadi penetrasi ke struktur-struktur yang lebih dalam. Warna
luka bakar ini biasanya berwarna putih dan waxy atau tampak seperti gosong. Saraf
sensoris pada luka bakar full thickness sudah seluruhnya rusak menyebabkan
hilangnya sensasi pinprick. Kumpulan kulit-kulit mati yang terkoagulasi pada luka
bakar ini memiliki penampilan leathery, yang disebut eskar
D. Klasifikasi Luka Bakar
Klasifikasi Luka Bakar
Luka bakar ringan Luka bakar sedang Luka bakar berat
Kriteria luka bakar ringan: Kriteria luka bakar sedang: Kriteria luka bakar berat:
a. TBSA (Total Body Surface a. TBSA 15–25% pada dewasa dengan a. TBSA ≥25%
Area)≤15% pada dewasa kedalaman luka bakar full thickness b. TBSA ≥20% pada anak usia dibawah
b. TBSA ≤10% pada anak b. TBSA 10-20% pada luka bakar partial 10 tahun dan dewasa usia diatas 40
c. Luka bakar full-thickness dengan thickness pada pasien anak dibawah tahun
TBSA ≤2% pada anak maupun 10 tahun dan dewasa usia diatas 40 c. TBSA ≥10% pada luka bakar full-
dewasa tanpa mengenai daerah mata, tahun, atau luka bakar full-thickness thickness
telinga, wajah, tangan, kaki, atau c. TBSA ≤10% pada luka bakar full- d. Semua luka bakar yang mengenai
perineum. thickness pada anak atau dewasa daerah mata, wajah, telinga, tangan,
tanpa masalah kosmetik atau kaki, atau perineum yang dapat
mengenai daerah mata, wajah, telinga, menyebabkan gangguan fungsi atau
tangan, kaki, atau perineum kosmetik.
e. Semua luka bakar listrik
f. Semua luka bakar yang disertai
trauma berat atau trauma inhalasi
g. Semua pasien luka bakar dengan
kondisi buruk
E. Penilaian Luas Luka Bakar
Penilai luas luka bakar menurut WHO, (2007), meliputi :

Luka bakar yang membutuhkan rawat inap meliputi :


1. Lebih dari 15% luka bakar pada orang dewasa
2. Lebih dari 10% luka bakar pada anak
3. Luka bakar pada usia sangat muda, lanjut usia atau yang lemah
4. Luka bakar di daerah khusus: wajah, tangan, kaki, perineum, luka bakar
melingkar
5. Cedera pernafasan - Trauma terkait atau penyakit sebelum luka bakar yang
signifikan: misalnya diabetes.
F. Patofisiologi
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Jackson pada tahun 1947,
mengenai patofisiologi luka bakar meliputi :
Respon tubuh terhadap luka bakar
Respon tubuh terhadap luka bakar terbagi menjadi dua yaitu :
1) Respon tubuh lokal
2) Respon tubuh sistemik
Respon tubuh lokal
Pemahaman luka bakar saat ini terbagi menjadi tiga zona cedera:
a. Zona koagulasi
b. Zona stasis
c. Zona hiperemia
a. Zona Koagulasi
Pada zona ini, kerusakan jaringan sudah tidak dapat diperbaiki karena
protein penyusun jaringan tersebut sudah mengalami koagulasi. Zona ini
melambangkan kerusakan maksimal akibat cedera termis.
b. Zona Stasis
Jaringan pada zona ini masih dapat diselamatkan, namun sudah terdapat
penurunan perfusi di jaringan yang mengelilinginya. Perfusi di jaringan
inilah yang berusaha ditingkatkan saat resusitasi luka bakar, sekaligus
mencegah kerusakan menjadi ireversibel. Perlu diwaspadai bahwa
adanya komorbiditas seperti hipotensi berkepanjangan, infeksi, maupun
edema, memiliki potensi menjadikan jaringan di zona stasis rusak secara
permanen.
c. Zona Hiperemia
Perfusi jaringan ditemukan tertinggi pada zona hiperemia, yang
merupakan zona terluar dalam luka bakar. Jaringan pada zona ini
biasanya akan mengalami perbaikan. Namun, adanya perburukan kondisi
sistemik seperti sepsis atau hipoperfusi jangka panjang dapat
mengganggu proses perbaikan jaringan pada zona hiperemia
Respon Tubuh Sistemik
Efek sistemik muncul dipengaruhi oleh pelepasan sitokin dan mediator
inflamasi terutama setelah area luka bakar mencapai 30% dari total luas
permukaan tubuh/ total body surface area (TBSA).

1. Perubahan Kardiovaskular
Perubahan kardiovaskular yang terjadi adalah peningkatan permeabilitas
kapiler. Hal ini berakibat pada perpindahan protein dan cairan intravaskuler
ke jaringan interstisial. Sebagai respon peningkatan permeabilitas, akan
terjadi pula vasokonstriksi perifer dan splangnikus, sementara kontraktilitas
miokard menurun. Kaskade kejadian ini dipengaruhi oleh dilepaskannya
mediator inflamasi tumour necrosis factor α (TNF α). Semua perubahan
yang telah disebutkan di atas, ditambah dengan hilangnya cairan dari zona
luka, dapat berakibat hipotensi sistemik dan hipoperfusi end organ.
Secara khusus, gangguan sirkulasi yang telah disebutkan di atas dimediasi
oleh 4 mekanisme, yaitu :
a. Perubahan integritas membran mikrovaskular.
Perubahan integritas membran mikrovaskular diawali dengan cedera
termis yang mengaktivasi pelepasan mediator pro inflamasi seperti
histamin. Hal ini kemudian mengaktivasi faktor komplemen yang
mempromosikan perlekatan Polymorphonuclear (PMN) ke endotel.
Endotel yang mengalami inflamasi kemudian melepaskan radikal bebas
yang kemudian diikuti peroksidasi lipid. Rangkaian kejadian ini
kemudian mengaktivasi kaskade koagulasi dan pelepasan sitokin (IL1,
TNF α). Secara keseluruhan endotel yang mengalami inflamasi
kemudian mengalami perubahan bentuk menjadi membulat. Hal ini
menyebabkan jarak interstitial melebar dan permeabilitas kapiler
meningkat.
b. Perubahan hukum Starling
Perpindahan cairan yang diakibatkan peningkatan permeabilitas kapiler
juga diatur oleh Hukum Starling. Berdasarkan hukum tersebut,
perpindahan cairan bergantung dari gradien tekanan hidrostatik yang
berlawanan dengan tekanan osmotik dari jaringan koloid.
c. Gangguan perfusi/syok selular
Keluarnya cairan dari intravaskuler menyebabkan hipovolemia
intravaskular yang berujung gangguan perfusi (hipoksia) pada organ
yang kemudian dapat berakibat cedera reperfusi dan syok.
d. Evaporative heat loss.
Kehilangan kulit sebagai barrier akibat cedera termis juga menyebabkan
evaporative heat loss yang memperparah keseluruhan gangguan perfusi
2. Perubahan respiratori
Perubahan respiratori mediator inflamasi menyebabkan bronkokonstriksi,
dan pada kasus luka bakar yang berat dapat menyebabkan sindroma gagal
napas (respiratory distress)
3. Perubahan Metabolik
Perubahan metabolik laju metabolik basal (basal metabolic rate BMR)
meningkat hingga tiga kali dari BMR normal. Hal ini, terutama jika
dibarengi oleh hipoperfusi splanchnic, mengakibatkan proses katabolisme
yang hebat.
4. Perubahan Imunologi
Perubahan imunologi terdapat penurunan respon sistem imun yang non-
spesifik, baik melalui jalur cell-mediated maupun humoral.
Jika luka bakar disebabkan oleh cedera elektrik, aliran listrik akan mengalir
dalam tubuh dan menyebabkan kerusakan di antara titik masuk (entry) dan titik
keluar (exit) listrik. Di dalam tubuh, aliran listrik akan menghasilkan panas,
sebesar 0,24 x (voltase) squared x resistensi. Selanjutnya, panas yang
ditimbulkan akan merusak jaringan dan menyebabkan perubahan fisiologi
tubuh seperti yang sudah dijelaskan di atas. Cedera yang disebabkan di dalam
tubuh akan bergantung dari voltase aliran listrik.
Pathway
G. Gambaran Klinik
Menurut DEPKES, (2019), Gejala yang muncul pada kulit tergantung dari
seberapa dalam kerusakan lapisan kulit. Di bawah ini adalah penjelasan
mengenai gejala luka bakar sesuai tingkatannya.
1. Luka bakar derajat 1
• Kulit menjadi merah dan bengkak.
• Terasa nyeri.
• Kulit menjadi kering setelah luka bakar sembuh.
2. Luka bakar derajat 2
• Kulit bengkak dan berwarna merah, atau berwarna putih dengan
bercak merah.
• Terdapat luka lepuh.
• Seiring waktu, luka lepuh pecah dan terbentuk jaringan tebal dan
lunak, seperti keropeng, di sekitar luka.
• Terdapat jaringan parut pada luka bakar yang dalam.
3. Luka bakar derajat 3
• Kulit yang terbakar berwarna hitam, coklat, atau putih.
• Kulit menjadi timbul atau terasa kasar dan keras
• Tidak ada luka lepuh.
• Luka bakar ini merusak saraf sehingga bisa membuat kulit menjadi
mati rasa
H. Pencegahan
1. Pencegahan fire burn
a. Mempromosikan penggunaan kain tahan api untuk pakaian tidur anak-
anak dan mendidik tentang pemakaian pakaian yang longgar dan
mengalir.
b. Hindari merokok di tempat tidur dan dorong penggunaan korek api
tahan anak.
c. Tutupi api terbuka dan batasi ketinggian api terbuka di rumah-rumah
yang sedang berkembang negara.
d. Mempromosikan penggunaan kompor yang lebih aman dan bahan bakar
yang tidak terlalu berbahaya.
e. Memperbaiki pengobatan epilepsi, terutama di negara berkembang.
f. Mempromosikan penggunaan detektor asap, penyiram api, dan sistem
penyelamatan kebakaran di tempat tinggal.
g. Menerapkan peraturan keselamatan untuk desain dan bahan rumah, dan
mendorong rumah inspeksi.
h. Mempromosikan pendidikan keselamatan kebakaran
2. Pencegahan scalds
a. Turunkan suhu di keran air panas.
b. Memperbaiki desain peralatan dapur dan pembuatan kompor, termasuk
permukaan dan perangkat memasak yang stabil untuk melindungi dan
mencegah akses oleh anak-anak.
c. Mempromosikan pendidikan keselamatan.
I. Komplikasi
Komplikasi luka bakar yang dalam atau meluas dapat meliputi:
1. Infeksi bakteri, yang dapat menyebabkan infeksi aliran darah (sepsis)
2. Kehilangan cairan, termasuk volume darah rendah (hipovolemia)
3. Suhu tubuh yang sangat rendah (hipotermia)
4. Masalah pernapasan akibat asupan udara panas atau asap
5. Bekas luka atau daerah bergerigi yang disebabkan oleh pertumbuhan
berlebih jaringan parut (keloid)
6. Masalah tulang dan sendi, seperti ketika jaringan parut menyebabkan
pemendekan dan pengetatan kulit, otot atau tendon (kontraktur)
7. Curting Ulcer
8. Sepsis
9. Pneumonia
10. Gagal Ginjal Akut
11. Deformitas
12. Kontraktur dan Hipertrofi Jaringan parut Komplikasi yang lebih jarang
terjadi adalah edema paru akibat sindrom gawat panas akut (ARDS, acute
respiratory disters syndrome) yang menyerang sepsis gram negatif.
Sindrom ini diakibatkan oleh kerusakan kapiler paru dan kebocoran cairan
kedalam ruang interstisial paru. Kehilangan kemampuan mengembang dan
gangguan oksigen merupakan akibat dari insufisiensi paru dalam
hubungannya dengan siepsis sistemik (wong, 2008).
J. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboraturium meliputi:
1. Hemoglobin
2. Hematokrit
3. Elektrolit
4. Ureum kreatinin
5. Urin Lengkap
6. AGD
Pemeriksaan Radiologi:
1. Foto Thorax
2. EKG
3. CVP untuk mengetahui tekanan vena sentral.
K. Penatalaksanaan Medis
Menurut DEPKES 2018, penatalaksanaan luka bakar sebagai berikut
a. Penatalaksanaan Awal
Sebelum memulai penatalaksanaan, perlu diingat perlindungan diri bagi
penolong, khususnya bagi penolong yang berada di tempat kejadian. Pajanan
seperti api atau listrik harus dipastikan tidak ada lagi atau diminimalisir oleh
alat pelindung diri saat penolong masuk. Seringkali korban cedera elektrik
mengalami gangguan kardiak seperti aritmia atau bahkan fibrilasi ventrikel.
Dapat diusahakan untuk menangani masalah tersebut sesuai prinsip ATLS
(Advanced Trauma Life Support) di rumah sakit atau sebelum ke rumah sakit
bila fasilitas tersedia.
b. Penatalaksanaan Lanjutan
Penatalaksanaan lanjutan dimulai dari penatalaksanaan kegawatdaruratan
hingga manajemen luka.
1. Resusitasi Jalan Napas
Jika pada penilaian awal terdapat masalah pada airway, harus segera
dilakukan resusitasi jalan napas. Resusitasi jalan napas bertujuan untuk
mengamankan jalan napas dan perawatan jalan napas. Mengamankan jalan
napas dapat dilakukan melalui berbagai teknik antara lain:
a) Intubasi :
Pengamanan jalan napas jangka pendek (<7 hari) Non-invasif dan dapat
dengan cepat dilakukan. Bila pasien masih sadarkan diri mungkin perlu
diberikan pelemas otot. Beberapa kelainan anatomis dapat menghambat
kesuksesan intubasi.
Krikotiroidotomi :
Tindakan invasif yang cepat sebagai alternatif intubasi.
b) Trakeostomi :
Tindakan invasif namun lebih sulit dilakukan dibandingkan
krikotiroidotomi, sebaiknya dijadikan alternatif pada kasus elektif. Dapat
dipergunakan untuk jangka panjang (>7 hari). Setelah jalan napas berhasil
diamankan, perawatan jalan napas perlu dilakukan dengan cara:
1) Periodic suction sesering mungkin
Pemberian Oksigen 2-4 liter/menit yang mengandung uap air
(humidified) untuk mencegah sekret di saluran napas terlalu kental.
Apabila pasien diintubasi, titrasi oksigen untuk menjaga saturasi
>94% atau pO2 100 mmHg. Broncho-alveolar lavage / bilas bronkus
apabila diperlukan. Baku emas tindakan ini adalah dengan
menggunakan bronkoskopi. Apabila dianggap perlu, sebaiknya
dilakukan di awal perawatan
2) Nebulizer
2. Resusitasi Mekanisme Pernapasan
Penatalaksanaan lanjut untuk pernapasan terkait dengan adanya gangguan
ekspansi toraks akibat luka bakar melingkar atau adanya luka di daerah dada
atau abdomen. Dalam hal ini perlu dilakukan eskarotomi segera setelah
resusitasi jalan napas. Eskaratomi dilakukan dengan melakukan sayatan
menembus eskar hingga keluar darah (pertanda sudah mencapai sub-eskar).
3. Resusitasi Cairan
Resusitasi cairan dilakukan setelah penanganan airway dan breathing selesai.
Prinsip resusitasi cairan adalah penggantian volume secara adekuat dalam
waktu singkat. Untuk mencapai resusitasi cairan yang cukup dapat digunakan
beberapa jalur intravena sekaligus. Resusitasi cairan menyesuaikan dengan
derajat keparahan luka pasien. Jenis-jenis resusitasi cairan adalah sebagai
berikut:
Resusitasi Cairan Berdasarkan Prinsip ATLS
• Pemberian kristaloid yang telah dihangatkan sebelumnya sebanyak
2000 mL atau titrasi untuk mencapai urine output 0,5 – 1 ml/kg/jam.
Resusitasi Cairan Berdasarkan Prinsip Parkland
• Resusitasi cairan berdasarkan prinsip Parkland untuk luka bakar sedang
atau luas luka bakar <25% tanpa syok :
Rumus menghitung kebutuhan cairan 24 jam berdasarkan Parkland
adalah 4 mL x kgBB x luas % luka bakar
• Pada 24 jam pertama, 50% diberikan pada 8 jam pertama dan 50%
diberikan pada 16 jam berikutnya.
• Pada 24 jam kedua diberikan secara merata
Resusitasi Syok
Resusitasi syok (untuk luka bakar berat: luas luka bakar >25%, dengan
syok, atau keterlambatan > 2 jam). Untuk mengetahui berapa cairan yang
harus digantikan, terlebih dahulu harus diprediksi volume sirkulasi.
Volume sirkulasi merupakan 10% dari total volume tubuh
Populasi Volume sirkulasi
Pria dewasa 60%
Wanita dewasa 70%
Anak dan usia lanjut 80%
Neonatus 90%
Bila volume sirkulasi yang hilang > 25% syok hipovolemia akan terjadi.
Cairan kristaloid dapat diberikan di awal sesuai jumlah volume sirkulasi.
Pada kasus resusitasi masif, sebaiknya menggunakan koloid non-protein.
Jika resusitasi awal tidak mengalami masalah, dapat digunakan koloid iso-
onkotik seperti HES 6% sebagi plasma substitute. Untuk kebutuhan
resusitasi yang lebih besar (contoh: kasus terlambat datang, CVP tetap
rendah setelah pemberian cairan dalam jumlah besar), maka dapat
diberikan plasma expander seperti HES 10%
Pemantauan Pasca Resusitasi
Pemantauan pasca resusitasi cairan antara lain:
1. Volume adekuat: CVP 8-12 mmH2O
2. Oksigenasi, meliputi delivery oksigen, konsumsi oksigen, dan saturasi
oksigen
3. Deteksi adanya hipoperfusi splangnikus, ditandai dengan adanya
iskemia mukosa saluran gastrointestinal.
4. Penilaian perfusi seluler dengan melihat apakah ada peningkatan
glukosa, serum laktat, trigliserida, dan hipoalbuminemia
5. Penilaian hemodinamik dengan melihat tekanan darah dan produksi
urin, serta menilai balans cairan
Cairan pemeliharaan keseimbangan cairan dan elektrolit :
Dewasa : 2000 mL dalam 24 jam
Anak : 100 ml/10 kgBB pertama, 50 ml/10 kgBB kedua, dan 25
ml/10 kgBB sisanya. [2,3]
Pembersihan Luka dan Debridement
Pakaian atau kain yang menempel harus dilepaskan terlebih dahulu dengan
bantuan irigasi. Debridement dilakukan untuk mengurangi risiko infeksi,
dengan membersihkan sisa-sisa jaringan nekrotik dan material asing (contoh:
aspal) yang masih menempel. Saat ini disarankan agar luka dibersihkan
dengan menggunakan cairan saline normal dan sabun saja, tidak
menggunakan disinfektan (contoh: Povidon iodine) yang dapat menghambat
epitelisasi luka.
Bula Pada Luka Bakar
Bula yang telah ruptur dibersihkan hingga tidak ada jaringan tersisa. Untuk
bula yang belum ruptur, belum terdapat rekomendasi yang tepat apakah
sebaiknya dipecahkan atau tidak. Secara umum, bula yang relatif kecil dapat
dibiarkan karena justru bekerja sebagai barrier infeksi, sementara bula yang
sangat besar dan mungkin memberikan tekanan ke jaringan di bawahnya
dipecahkan dengan hati-hati dengan membuat lubang kecil pada ‘atap’ bula.
Aspirasi bula tidak disarankan karena dapat meningkatkan risiko infeksi.
Agen Antimikrobial
Terdapat banyak pilihan agen antimikrobial untuk wound dressing. Silver
sulfadiazine 1% sering digunakan, begitu pula antibiotik dan klorheksidin.
Kompres kassa (fine mesh) paling sering digunakan, walaupun di beberapa
negara maju menggunakan kompres hidrokoloid.
❖ Pertolongan pertama pada pasien dengan luka bakar (WHO, 2007) meliputi:
1. Jika pasien tiba di fasilitas kesehatan tanpa pertolongan pertama, basahi
luka bakar dengan air dingin untuk mencegah kerusakan lebih lanjut dan
lepaskan semua pakaian yang terbakar.
2. Jika area luka bakar terbatas, rendam area tersebut dalam air dingin
selama 30 menit untuk mengurangi nyeri dan edema serta
meminimalkan kerusakan jaringan.
3. Jika area luka bakar besar, setelah disiram dengan air dingin, aplikasikan
balutan bersih di sekitar area luka bakar (atau seluruh pasien) untuk
mencegah hilangnya panas sistemik dan hipotermia. Hipotermia adalah
risiko khusus pada anak kecil.
❖ Perawatan awal
1. Awalnya, luka bakar itu steril. Fokuskan pengobatan pada
penyembuhan cepat dan pencegahan infeksi.
2. Dalam semua kasus, berikan profilaksis tetanus. Kecuali pada luka
bakar yang sangat kecil, dan lakukan debridement semua bula.
3. Potong/hilangkan jaringan nekrotik (mati) yang melekat pada luka dan
bersihkan semua jaringan nekrotik selama beberapa hari pertama.
4. Setelah debridemen, bersihkan luka bakar secara perlahan dengan
larutan klorheksidin 0,25% (2,5 g / liter), larutan setrimida 0,1% (1 g /
liter), atau antiseptik berbahan dasar air ringan lainnya.
5. Pembersihan luka tidak menggunakan larutan berbasis alkohol.
Menggosok dengan lembut akan menghilangkan jaringan nekrotik.
6. Oleskan selapis tipis krim antibiotik (silver sulfadiazine).
7. Balut luka bakar dengan kain kasa minyak bumi dan kain kasa kering
yang cukup tebal untuk mencegah rembesan ke lapisan luar
❖ Perawatan harian
1. Ganti balutan setiap hari (dua kali sehari jika mungkin) atau sesering
yang diperlukan untuk mencegah rembesan melalui balutan.
2. Pada setiap penggantian balutan, singkirkan jaringan yang longgar.
3. Periksa luka apakah ada perubahan warna atau perdarahan, yang
mengindikasikan berkembangnya infeksi.
4. Demam bukanlah tanda yang berguna karena dapat terus berlanjut
sampai luka bakar ditutup.
5. Selulitis di jaringan sekitarnya merupakan indikator infeksi yang lebih
baik.
6. Berikan antibiotik sistemik pada kasus infeksi luka streptokokus
hemolitik atau septikemia.
7. Pseudomonas aeruginosa infeksi sering menyebabkan septikemia dan
kematian. Obati dengan aminoglikosida sistemik.
8. Berikan kemoterapi antibiotik topikal setiap hari. Perak nitrat (0,5%
aqueous) adalah yang termurah, diaplikasikan dengan dressing oklusif
tetapi tidak menembus eschar. Ini menghabiskan elektrolit dan menodai
lingkungan lokal.
9. Gunakan perak sulfadiazin (salep yang dapat larut 1%) dengan balutan
satu lapis. Ini memiliki penetrasi eschar yang terbatas dan dapat
menyebabkan neutropenia.
10. Mafenide acetate (11% dalam salep yang dapat larut) digunakan tanpa
dressing. Ini menembus eschar tetapi menyebabkan asidosis. Mengganti
agen ini adalah strategi yang tepat.
11. Rawat tangan yang terbakar dengan perawatan khusus untuk
mempertahankan fungsinya.
• Tutupi tangan dengan sulfadiazin perak dan letakkan di sarung
tangan plastik longgar atau tas yang diamankan di pergelangan
tangan dengan perban krep;
• Angkat tangan selama 48 jam pertama, lalu mulailah latihan
tangan;
• Setidaknya sekali sehari, lepaskan sarung tangan, mandikan
tangan, periksa luka bakar lalu oleskan kembali sulfadiazin
perak dan sarung tangan;
• Jika pencangkokan kulit diperlukan, pertimbangkan perawatan
oleh spesialis setelah jaringan granulasi yang sehat muncul.
L. Masalah keperawatan
Fisiologis
1. Obstruksi jalan napas/ARDS
2. Syok hipovolemik (aktual/risiko) (ketidakseimbangan cairan dan elektrolit)
3. Gangguan perfusi jaringan
4. Infeksi (aktual/resiko)
5. Nyeri
6. Kerusakan integritas kulit/jaringan
Psikologis
1. Kecemasan
2. Gangguan konsep diri