Anda di halaman 1dari 53

BUKU PEDOMAN

UTSAWA DHARMAGĪTA TINGKAT NASIONAL XIV


SECARA SEMI VIRTUAL TAHUN 2021

LEMBAGA PENGEMBANGAN DHARMAGĪTA PUSAT

1
KATA SAMBUTAN

Om Swastyastu,
Digitalisasi pelayanan publik menjadi keniscayaan dalam upaya meningkatkan
transparansi dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat, terutama dalam kondisi
pandemi Covid-19. Pelayanan dengan sistem digital atau daring menjadi hal yang utama dalam
era new normal. Dengan adanya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK)
berbagai pertemuan tatap muka akan semakin berkurang. Revolusi Industri 4.0 merupakan
bentuk kemajuan teknologi yang mengintegrasikan dunia fisik, digital, dan biologis, sehingga
terjadi perubahan mendasar dalam cara hidup manusia.

Satu bentuk pengaplikasian tersebut adalah MELALUI UTSAWA DHARMAGITA


TINGKAT NASIONAL SECARA SEMI VIRTUAL memungkinkan terjadinya otomatisasi hampir
disemua bidang. Teknologi dan pendekatan baru yang menggabungkan dunia fisik, digital, dan
biologi secara fundamental akan mengubah pola hidup dan interaksi manusia melalui kegiatan
Utsawa Dharmagīta (UDG) sebagaimana yang telah dilaksanakan selama ini.

Dharmagīta merupakan salah satu dari enam metode pembinaan umat Hindu yang
dikenal dengan Sad Dharma (darmatula, dharmawacana, dharmagīta, dharmayatra,
dharmasadhana, dan dharmasanti). Nilai-nilai ajaran agama Hindu yang adiluhur tersirat di
dalam Kitab Suci dan kitab-kitab susastra Hindu, baik yang berbahasa Sansekerta, Jawa Kuna
maupun yang berbahasa daerah. Susastra Hindu tersebut perlu digali dan diaktualisasikan
melalui seni keagamaan agar memudahkan pemahaman dan penghayatannya. Seni dimaksud
adalah dharmagīta.
Lembaga Pengembangan Dharmagīta Tingkat Pusat menyambut baik tersusunnya
Buku Pedoman ini untuk dipergunakan sebagai pedoman dalam penyelenggaraan Utsawa
Dharmagīta Tingkat Nasional XIV Tahun 2021 secara Semi Virtual. Lembaga Pengembangan
Dharmagīta Tingkat Pusat menyampaikan terima kasih kepada Tim Penyusun Materi Lomba
dan Buku Pedoman serta semua pihak yang telah bekerja dengan sungguh-sungguh demi
tersusunnya Buku Pedoman ini. Semoga Hyang Widhi melimpahkan waranugraha atas
subhakarma kita bersama.
Om Santih, Santih, Santih Om
Jakarta, Januari 2021
Lembaga Pengembangan Dharmagīta Pusat
Ketua Umum

Tri Handoko Seto

2
SEKAPUR SIRIH
KEGIATAN UTSAWA DHARMAGITA SECARA SEMI VIRTUAL
Menumbuh kembangkan Literasi Dan Moderasi Beragama untuk
Mewujudkan Masyarakat Umat Hindu Yang Cerdas Dan Berintegrasi

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang plural dan multikultural, keberagaman


di Indonesia menjadi sebuah anugerah dan kehendak Tuhan yang patut disyukuri
karena dengan keragaman itulah seseorang dapat mengambil jalan tengah dalam
segala hal, ketika satu pilihan yang tersedia tidak memungkinkan untuk dijalankan.
Perkembangan tekhnologi komunikasi yang ada telah merubah paradigma komunikasi
dominan yang sebelumnya terasa berlangsung satu arah – antara pemerintah kepada
masyarakat. Perkembangan tekhnologi komunikasi juga memperluas kesempatan
terjadinya komunikasi dua arah, yaitu antara masyarakat kepada pemerintah dan
sebaliknya. Disinilah terjadi perubahan atau transformasi dalam mekanisme kerja
pemerintah .
Dalam meningkatkan kualitas pengelolaan organisasi dan kelembagaan pada
Ditjen Bimas Hindu semua pihak harus bersinergi agar pelayanan semakin baik.
Direktotrat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu salah satu tugasnya adalah
membina Lembaga Agama dan Lembaga Keagamaan Hindu, Lembaga Pendidikan
Agama dan Keagamaan Hindu, Yayasan Keagamaan Hindu dan Rumah Ibadah
(Pura).
Kementerian Agama RI yang bertugas untuk membina umat Hindu
didelegasikan kepada Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu, maka Ditjen
Bimas Hindu berkewajiban membina dan melayani Lembaga Pendidikan Keagamaan
Hindu, Lembaga Agama dan Keagamaan Hindu, Yayasan Keagamaan Hindu dan
Rumah Ibadah (Pura) tersebut. Disitulah Peran Direktorat Jenderal Bimbinga
Masyarakat Hindu dalam membina dan Melayani umat Hindu sangatlah besar
Media sosial saat ini berhasil membentuk kekuatan besar dalam membentuk
perilaku manusia dalam kehidupan modern yang dinamis. Belakangan ini, media
sosial merupakan fenomena baru yang sangat digandrungi masyarakat modern tanpa
mengenal usia dan afiliasi sosial apapun. Alih-alih menggunakan untuk hiburan
semata, tapi menjadi bumerang bagi diri sendiri. Masyarakat perlu mengetahui dibalik
kebebasan media sebagai alat ekspresi diri dalam berpendapat, tetap ada berbagai
ranah aturan serta etika yang harus dipenuhi. istilah umum yang merujuk pada
kemampuan dan keterampilan seseorang dalam membaca, menulis, berbicara,

3
menghitung, juga memecahkan masalah di dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata
lain, literasi tidak bisa dilepaskan dari kemampuan seseorang dalam berbahasa.
Di tengah maraknya sentimen tentang Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA)
yang belakangan ini  masih menggejala, masyarakat kembali diingatkan untuk tetap
saling menghormati atas perbedaan agama dan suku dengan cara mengedepankan
sikap moderasi beragama.   "Ini adalah kewajiban sebagai umat beragama dalam sisi
hukum kenegaraan, bahkan lebih dari itu, kitab suci agama-agama juga
mendambakan kehidupan yang rukun itu bagian dari pilar utama dalam hidup
beragama.  “Paham agama pasti moderat, namun ada masyarakat yang memahami
agama itu belum tentu moderat. Sehingga, masyarakat yang belum moderat inilah
perlu disampaikan bagaimana mengedepankan moderasi dalam beragama.
Satu bentuk pengaplikasian yang memungkinkan terjadinya otomatisasi hampir
disemua bidang. Teknologi dan pendekatan baru yang menggabungkan dunia fisik,
digital, dan biologi secara fundamental akan mengubah pola hidup dan interaksi
manusia melalui kegiatan Utsawa Dharmagīta (UDG) sebagaimana yang telah
dilaksanakan selama ini.

Adapun dalam tradisi Hindu, akar ruh moderasi beragama, atau jalan tengah,
dapat ditelusuri hingga ribuan tahun ke belakang.Periode itu terdiri dari gabungan
empat Yuga yang dimulai dari Satya Yuga, Treta Yuga, Dwapara Yuga, dan Kali
Yuga. Dalam setiap Yuga, umat Hindu mengadaptasikan ajaran-ajarannya sebagai
bentuk moderasi.
Di tengah keterbatasan akses teknologi dan akses internet. Model Kegiatan
Utsawa Dharmagita secara semi Virtual ini juga untuk menjaga kedekatan Umat Hindu
yang berdomisili di seluruh Indonesia, pelaksanaan dengan semi Virtual atau
kombinasi pembelajaran daring dan luring bisa menjadi alternatif untuk menghadirkan
kegiatan kegiatan lain yang efektif selama pandemi Covid-19.

OM anobadrah Krtawayantu Wiswatah


OM shanty, shanty, Shanty OM

Panitia

4
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pandemi Corona – 19 banyak menggeser acara dari ofline ke online,


Acara Semi Virtual telah menjadi jenis acara popular sekarang ini, Di era
perkembangan teknologi yang semakin canggih seperti saat ini mengubah banyak
hal secara radikal (disruption) dalam kehidupan masyarakat. Tidak terkecuali pada
aspek tata kelola birokrasi dan pelayanan public pada pemerintah. Zaman teknologi
mengubah paradigm berfikir, bersikap dan bertindak. Demikian juga bentuk
layanan public yang diselenggarakan oleh pemerintah, dituntut lebih cepat ,
mudah, efektif, efisien, dan transparan . Publik menuntut kepada penyelenggara
pemerintahan agar dapat memberikan pelayanan yang baik yang berorientasi
kepada kepuasan dan akurat. ADEGIUM lama yang sering mengemuka “ Selama
bisa diperlambat kenapa harus dipercepat”, benar benar tidak manusiawi, dan
melanggar prinsip Good Governanceand Clean government. Sering juga ditemukan
pelayanan dengan tingkat akurasi, data rendah dan sering error. Berdasarkan
pemikiran tersebut Dharmagīta sebagai nyanyian suci keagamaan Hindu memiliki
peran sangat penting dalam meningkatkan pemahaman, penghayatan, dan
pengamalan ajaran agama Hindu di seluruh Indonesia. Naskah dharmagīta
bersumber pada kitab suci Weda dan Susastra Hindu yang mengandung nilai-nilai
spiritual, etika, dan estetika yang sangat tinggi sehingga memberi tuntunan
pemahaman agama Hindu mulai dari aspek Tattwa, Susila, dan Acara.

Penyelenggaraan Dharmagīta dalam bentuk nyanyian suci keagamaan


dengan irama lagu yang melankolik sangat membantu menciptakan suasana hening
dan suci. Oleh karena itu, keberadaan dharmagīta sangat dibutuhkan sebagai
bagian integral kegiatan yadnya. Bait-bait mantra suci Weda yang dirangkai dalam
bentuk puisi menjadi dharmagīta terasa lebih membangkitkan suasana spiritual
keagamaan Hindu.
Keberadaan dharmagīta di kalangan umat Hindu memiliki keragaman
dalam bahasa, irama lagu, dan cara-cara melantunkannya, sehingga mengantarkan
umat Hindu pada kekayaan budaya di bidang seni yang tak terbatas dalam
memberi dukungan dan membangkitkan rasa spiritual keagamaan Hindu sesuai

5
dengan budaya daerah masing-masing, ataupun dalam meningkatkan pemahaman,
penghayatan, dan pengamalan ajaran agama Hindu.
Dharmagīta sebagai budaya luhur yang tersebar di seluruh wilayah
Indonesia patut dilestarikan, dibina, dan dikembangkan lebih luas lagi, tidak hanya
di kalangan generasi tua ataupun tokoh-tokoh agama Hindu, melainkan juga
kepada generasi muda, remaja, dan anak-anak.
Salah satu media pelestarian dan pengembangan dharmagīta adalah
melalui kegiatan Utsawa Dharmagīta (UDG) sebagaimana yang telah
dilaksanakan selama ini. Untuk tingkat nasional Utsawa Dharmagīta dilaksanakan
sekali dalam 3 (tiga) tahun. Kegiatan ini diharapkan menjadi ajang pembuktian
kemampuan olah seni suara para peserta/utusan dari Provinsi di seluruh Indonesia.

1.2 Nama dan Bentuk Kegiatan

Nama kegiatan adalah UTSAWA DHARMAGĪTA TINGKAT


NASIONAL XIV TAHUN 2021 SECARA SEMI VIRTUAL . Utsawa berarti
festival atau lomba, sedangkan dharmagīta adalah nyanyian suci keagamaan.
Dengan demikian, Utsawa Dharmagīta adalah festival atau lomba nyanyian suci
keagaman Hindu.
Dalam Utsawa Dharmagīta Tingkat Nasional XIV Tahun 2021
diselenggarakan kegiatan dengan semi virtual :
a. Pengukuhan Dewan Juri;
b. Technical meeting;
c. Pawai Budaya Daerah Bernuansa Hindu dengan ;
d. Upacara Pembukaan dengan ;
e. Utsawa Membaca Śloka;
f. Utsawa Membaca Palawākya;
g. Utsawa Membaca Kakawin;
h. Utsawa Dharmawacana Berbahasa Indonesia;
i. Utsawa Dharmawacana Berbahasa Inggris;
j. Utsawa Nyanyian Keagamaan Hindu;
k. Utsawa menghafal Śloka;
l. Pentas Seni Bernafaskan Hindu;
m. Sarasehan; dan
n. Upacara Penutupan.

6
1.3 Dasar Pelaksanaan
Utsawa Dharmagīta Tingkat Nasional XIV Tahun 2021 Secara Semi Virtual
dilaksanakan berdasarkan Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia.
1.4 Tujuan
Tujuan penyelenggaraan Utsawa Dharmagīta Tingkat Nasional XIV secara
Semi Virtual Tahun 2021 adalah:

a. Tujuan Umum
1) Meningkatkan pemahaman, penghayatan, dan pengamalan ajaran kitab
suci Weda beserta susastra Hindu dalam upaya memperkokoh karakter
bangsa.
2) Meningkatkan śraddha dan bhakti sebagai landasan terbentuknya
susila Hindu.
3) Menyamakan persepsi tentang dharmagīta.
4) Melestarikan dan mengembangkan dharmagīta termasuk kearifan
budaya lokal dalam rangka membangun peradaban dharma.
5) Memantapkan kerukunan internal umat Hindu yang dinamis dan
faktual dalam upaya memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.
6) Meningkatkan kajian terhadap kitab suci Weda dan susastra Hindu.
b. Tujuan Khusus
1) Meningkatkan keterampilan membaca kitab suci Weda dan susastra
Hindu /Nyanyian-Nyanyian keagamaan Hindu.
2) Meningkatkan penguasaan materi ajaran agama Hindu.
3) Memperluas wawasan tentang Nyanyian keagamaan Hindu .
4) Menyiapkan kader-kader pendharmagīta dan pendharmawacana.
5) Memilih peserta terbaik Utsawa Dharmagīta Tingkat Nasional.
6) Menemukan solusi terbaik terhadap berbagai permasalahan dalam
penyelenggaraan Utsawa Dharmagīta.

1.5. Tema

Tema Utsawa Dharmagīta Tingkat Nasional XIV Tahun 2021 adalah


“Literasi Umat Hindu Menjadi Sumber Daya Manusia Unggul dan
Berintegritas”

7
1.6. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Utsawa Dharmagīta Tingkat Nasional XIV Tahun 2021 dilaksanakan secara
Semi Virtual pada Juli – Agustus 2021.

1.7. Biaya
Biaya kegiatan Utsawa Dharmagīta Tingkat Nasional XIV Tahun 2021
dibebankan pada:
a. DIPA Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian
Agama RI Tahun Anggaran 2021;

BAB II
PENYELENGGARAAN

2.1. Tahapan Penyelenggaraan


Tahapan penyelenggaran Utsawa Dharmagīta Tingkat Nasional XIV secara
Semi Virtual Tahun 2021 dilaksanakan :
a. Pembentukan Panitia Pelaksana Tingkat Nasional;
b. Penetapan Program Kerja Panitia dan Jadwal Kegiatan;
c. Penetapan Dewan Juri;
d. Penetapan Peserta;
e. Pelaksanaan kegiatan Utsawa Dharmagīta;
f. Evaluasi dan pelaporan kegiatan; dan
g. Pembubaran Panitia.

2.2. Kepanitiaan

Panitia Pelaksana Utsawa Dharmagīta Tingkat Nasional XIV Tahun 2021


dilaksanakan secara Semi Virtual dibentuk dan ditetapkan dengan Keputusan Menteri
Agama Republik Indonesia. Guna penyelenggaraan Utsawa Dharmagīta yang
berkualitas, maka dalam melaksanakan tugas-tugasnya, Panitia Pelaksana berpedoman
pada Tri Sukses yaitu sukses perencanaan, pelaksanaan, dan pertanggungjawaban,
yang terpadu dalam koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi (KIS).

8
2.3. Penetapan Tempat Penyelenggaraan Berikutnya
Kesiapan daerah menjadi calon tempat penyelenggaraan Utsawa Dharmagīta
(UDG) Tingkat Nasional berikutnya dibicarakan di dalam Sarasehan UDG Tingkat
Nasional. Masing-masing daerah memiliki hak bicara dan hak suara yang diwakili oleh
satu orang. Daerah yang diprioritaskan sebagai tuan rumah berikutnya adalah daerah
yang telah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi dan mendapat persetujuan serta
untuk selanjutnya dibuktikan dengan Surat Kesediaan dari Pemerintah Provinsi yang
bersangkutan.
Daerah-daerah yang bersedia menjadi tuan rumah akan di-ranking menjadi 3
(tiga). Ketiga daerah tersebut akan dijajagi dan dievaluasi secara intensif, kemudian
disimpulkan dan untuk selanjutnya diusulkan kepada Menteri Agama untuk ditetapkan
sebagai Daerah Tempat Penyelenggaraan UDG Tingkat Nasional. Masa waktu
penetapan sebagai tuan rumah selambat-lambatnya 1 (satu) tahun setelah Sarasehan
dalam Utsawa Dharmagīta Tingkat Nasional.

2.4. Sarasehan
Sarasehan dalam Utsawa Dharmagīta Tingkat Nasional XIV Tahun 2021akan
dilaksanakan dengan Daring /SEMI VIRTUAL yang diikuti oleh 150 orang
peserta terdiri atas:
a. Pengurus LPDG Tingkat Pusat 8 (delapan) orang;
b. Pengurus LPDG Tingkat Provinsi 33 (tiga puluh tiga) orang dari 34 (tiga
puluh empat) provinsi;
c. Pengurus Harian PHDI Pusat 3 (tiga) orang;
d. Ditjen Bimas Hindu 15 (lima belas) orang;
e. Kabid/Pembimas Hindu se Indonesia = 34 (tiga puluh empat) orang;
f. Ketua PHDI Provinsi 34 (tiga puluh empat) orang;
g. Panitia Pelaksana UDG Tingkat Nasional 12 (duabelas) orang; dan
h. Tokoh masyarakat dan pemuka agama Hindu tuan rumah 10 (sepuluh) orang.
Kehadiran peserta sarasehan dari masing-masing unsur tersebut diundang oleh
Panitia UDG Tingkat Nasional XIV Tahun 2021.

9
BAB III
PESERTA
Peserta untuk masing-masing kontingen dari semua jenis dan kategori lomba
adalah sebagai berikut.
1. Utsawa Membaca Śloka
Diikuti oleh peserta pasangan:
a. Tingkat Anak-anak Putra dan Putri (satu pasang putra dan satu pasang
putri)
b. Tingkat Remaja Putra dan Putri (satu pasang putra dan satu pasang
putri)
2. Utsawa Membaca Palawākya
Diikuti oleh peserta pasangan:
a. Tingkat Remaja Putra dan Putri (satu pasang putra dan satu pasang
putri)
b. Tingkat Dewasa Putra dan Putri (satu pasang putra dan satu pasang
putri)
3. Utsawa Membaca Kakawin
Diikuti oleh peserta pasangan:
a. Tingkat Remaja Putra dan Putri (satu pasang putra dan satu pasang
putri)
b. Tingkat Dewasa Putra dan Putri (satu pasang putra dan satu pasang
putri)
4. Utsawa Nyanyian Keagamaan Hindu
Diikuti oleh peserta remaja beregu (satu regu 5 orang) putra/putri, atau
campuran putra dan putri.
5. Utsawa Dharmawacana Berbahasa Indonesia
Diikuti oleh peserta perorangan:
a. Tingkat anak-anak putra dan putri (satu orang putra dan satu orang putri)
b. Tingkat remaja putra dan putri (satu orang putra dan satu orang putri)
c. Tingkat dewasa putra dan putri (satu orang putra dan satu orang putri)
6. Utsawa Dharmawacana Berbahasa Inggris
Diikuti oleh peserta perorangan:
a. Tingkat Remaja Putra dan Putri (satu orang putra dan satu orang putri)
b. Tingkat Dewasa Putra dan Putri (satu orang putra dan satu orang putri)

10
7. Utsawa menghafal Śloka
Diikuti oleh peserta perorangan:
a. Tingkat Anak-anak Putra dan Putri (satu orang putra dan satu orang
putri):
b. Tingkat Remaja Putra dan Putri (satu orang putra dan satu orang putri);

Peserta yang sudah pernah mendapatkan juara I dalam suatu jenis lomba pada
UDG Tingkat Nasional, tidak boleh menjadi peserta pada jenis lomba yang sama.
Maksimum jumlah peserta adalah sesuai dengan jumlah jenis lomba yang
diikuti. Dalam hal kontingen mengikuti semua jenis lomba maka jumlah maksimum
peserta adalah 43 orang.

11
BAB IV
OFFICIAL

Setiap jenis lomba (7 cabang lomba) didampingi oleh seorang official, yang
bertugas:
a. Mendampingi Peserta.
b. Mengikuti technical meeting.
c. Mempersiapkan peserta untuk masing-masing lomba.
d. Mengurus segala perlengkapan yang diperlukan peserta lomba.
e. Menghubungi pihak Panitia sesuai dengan keperluan kontingen.
Maksimum jumlah official adalah sesuai dengan jumlah jenis lomba yang diikuti.
Dalam hal kontingen mengikuti semua jenis lomba maka jumlah maksimum official
adalah 7 orang.

12
BAB V
DEWAN JURI

Komposisi dan personalia Dewan Juri Utsawa Dharmagīta Tingkat Nasional


XIV Tahun 2021 ditetapkan dengan Surat Keputusan Direktur Jenderal Bimbingan
Masyarakat Hindu Kementerian Agama R.I. Rekrutmen Juri Utsawa Dharmagīta
Tingkat Nasional XIV Tahun 2021 berasal dari hasil seleksi peserta TOT Calon Juri
Utsawa Dharmagīta Tingkat Nasional.
Dewan Juri dikukuhkan oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu
Kementerian Agama R.I. Juri hendaknya berpegang pada prinsip-prinsip dasar yaitu
profesionalisme dan nasionalisme, untuk memperkuat kesatuan dan kemajuan umat
Hindu, bangsa, dan negara.
Juri pada masing-masing cabang lomba mengadakan rapat internal untuk
membahas hasil lomba. Hasil rapat internal dibawa ke dalam forum sidang dewan juri
lengkap.

13
BAB VI
TECHNICAL MEETING
6.1. Peserta dan Tempat
Technical Meeting diikuti :
a. Seluruh Dewan Juri;
b. Perwakilan kontingen masing-masing 1 orang Official; dan
c. Perwakilan Panitia;
Technical Meeting dilaksanakan di ruang tertutup dan dipimpin oleh Ketua
Dewan Juri.

6.2. Susunan Acara


Susunan acara technical meeting adalah sebagai berikut:
a. Sambutan Dirjen Bimas Hindu;
b. Pemilihan Pimpinan Dewan Juri;
c. Penyerahan palu sidang kepada Pimpinan Dewan Juri;
d. Pembukaan technical meeting oleh Pimpinan Dewan Juri;
e. Arahan teknis lomba dari Dewan Juri;
f. Tanya jawab;
g. Pengundian nomor tampil peserta pada masing-masing cabang lomba; dan
h. Penutup.

14
BAB VII
TEKNIS UTSAWA/LOMBA
( SECARA SEMI VIRTUAL )

Teknis Semi Virtual yang juga dikenal sebagi online adalah acara yang sepenuhnya
online ( daring ), tanpa berkumpul secara langsung ( luring ). Teknis utsawa/lomba
secara umum dan khusus diatur sebagai berikut:

Secara Umum :
1. Penentuan nomor tampil peserta dilakukan melalui undian pada waktu
technical meeting.
2. Naskah wajib dan pilihan beserta terjemahannya untuk pembacaan Śloka dan
Palawākya yang dilombakan adalah seperti yang tertulis pada Lampiran Buku
Pedoman ini.
3. Naskah pilihan dan terjemahannya untuk utsawa Śloka dan utsawa Palawākya
dibawakan dengan cara hafalan.
4. Terjemahan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
5. Jumlah bait wajib yang dibawakan peserta, baik dalam pembacaan Śloka
maupun Palawākya adalah 2 (dua) bait sesuai dengan yang tercantum dalam
Buku Pedoman dan ditentukan melalui undian pada saat technical meeting.
6. Naskah pilihan Śloka dan Palawākya dipilih sendiri oleh peserta dari bait-bait
pilihan yang tersedia dalam Buku Pedoman dan dibawakan hanya 1 (satu) bait.
7. Bait kakawin dan terjemahannya yang dilombakan adalah dua bait (pada)
kakawin wajib seperti yang tertulis pada Lampiran Buku Pedoman ini.

Secara khusus :
1. Konektivitas video sangat penting
Camera yang digunakan adalah camera Full HD 2 Unit atau alternative
menggunakan camera Mirroles. Kedua camera langsung dengan mixer video
supaya langsung bisa dilakukan recording pada mixer video. Mixer video sudah
include video recorder dan hasil output videonya full HD yang memiliki
kwalitas gambar 1080p dengan resolusi 1.920 x 1.080 pixels 50 s.d. 60 fps.

15
2. Stabilitas siaran Video
Posisi camera di centre tengah 1 unit untuk pengambilan full wide dan 1
disisidepan kiri atau kanan untukmpengambilan gambar dari sisi depan
samping. Penerangan area ferform menggunakan lampu Freshnel 200 watt 4
unit dengan warna netral ( putih ) dengan Posisi lampu depan area perfom.
3. Konten yang direkam
Pengambilan gambar harus sesuai dengan Rundown acara dan tepat waktu.
Peserta harus mempersiapkan diri sebelum perform menurut urutan rundown .
Pengambilan Gambar atau perfom hanya boleh dilakukan satu kali saja dan
tidak boleh diulang. File dari hasil pengambilan gambar atau Perfom dipotong
perkategori Lomba dan diberi nama kategori Lomba serta asal Provinsi.
4. Hasil Perekaman atau Tapping tidak boleh di take ulang, dan langsung diambil
petugas atau panitia yang mewakili disetiap daerah yang ikut lomba.

16
BAB VIII
PENETAPAN PEMENANG DAN HADIAH
8.1 Pemenang untuk masing-masing jenis dan kategori lomba ditentukan berdasarkan
jumlah nilai terbanyak yang berhasil diperoleh dan ditetapkan dalam surat
Keputusan Dewan Juri Utsawa Dharmagīta Tingkat Nasional XIV Tahun 2021
dilaksanakan secara SEMI VIRTUAL.
8.2 Juara Umum Utsawa Dharmagīta Tingkat Nasional XIV Tahun 2021 dilaksanakan
secara SEMI VIRTUAL diberikan kepada daerah/provinsi yang berhasil meraih
Juara I terbanyak, bila juara I sama maka akan ditentukan oleh Juara II terbanyak,
demikian seterusnya, dan ditetapkan dalam Keputusan Dewan Juri.
8.3 Kejuaraan dalam Utsawa Dharmagīta Tingkat Nasional XIV Tahun 2021
dilaksanakan secara SEMI VIRTUAL terdiri atas:
1. Utsawa Membaca Śloka Pasangan Anak-anak Putra:
Juara I
Juara II
Juara III
Juara Harapan I
2. Utsawa Membaca Śloka Pasangan Anak-anak Putri:
Juara I
Juara II
Juara III
Juara Harapan I
3. Utsawa Membaca Śloka Pasangan Remaja Putra:
Juara I
Juara II
Juara III
Juara Harapan I
4. Utsawa Membaca Śloka Pasangan Remaja Putri:
Juara I
Juara II
Juara III
Juara Harapan I

5. Utsawa Membaca Palawākya Pasangan Remaja Putra:

17
Juara I
Juara II
Juara III
Juara Harapan I
8. Utsawa Membaca Palawākya Pasangan Remaja Putri:
Juara I
Juara II
Juara III
Juara Harapan I
9. Utsawa Membaca Palawākya Pasangan Dewasa Putra:
Juara I
Juara II
Juara III
Juara Harapan I
10. Utsawa Membaca Palawākya Pasangan Dewasa Putri:
Juara I
Juara II
Juara III
Juara Harapan I
11. Utsawa Membaca Kakawin Pasangan Remaja Putra:
Juara I
Juara II
Juara III
Juara Harapan I
12. Utsawa Membaca Kakawin Pasangan Remaja Putri:
Juara I
Juara II
Juara III
Juara Harapan I
13. Utsawa Membaca Kakawin Pasangan Dewasa Putra:
Juara I
Juara II
Juara III
Juara Harapan I

18
14. Utsawa Membaca Kakawin Pasangan Dewasa Putri:
Juara I
Juara II
Juara III
Juara Harapan I
15. Utsawa Nyanyian Keagamaan Hindu
Juara I
Juara II
Juara III
Juara Harapan I
16. Utsawa Dharmawacana Berbahasa Indonesia Remaja Putra:
Juara I
Juara II
Juara III
Juara Harapan I
19. Utsawa Dharmawacana Berbahasa Indonesia Remaja Putri:
Juara I
Juara II
Juara III
Juara Harapan I
20. Utsawa Dharmawacana Berbahasa Indonesia Dewasa Putra:
Juara I
Juara II
Juara III
Juara Harapan I
21. Utsawa Dharmawacana Berbahasa Indonesia Dewasa Putri:
Juara I
Juara II
Juara III
Juara Harapan I
22. Utsawa Dharmawacana Berbahasa Inggris Remaja Putra:
Juara I
Juara II
Juara III

19
Juara Harapan I

23. Utsawa Dharmawacana Berbahasa Inggris Remaja Putri:


Juara I
Juara II
Juara III
Juara Harapan I

24. Utsawa Dharmawacana Berbahasa Inggris Dewasa Putra:


Juara I
Juara II
Juara III
Juara Harapan I

25. Utsawa Dharmawacana Berbahasa Inggris Dewasa Putri:


Juara I
Juara II
Juara III
Juara Harapan I

26. Utsawa Menghafal Śloka Anak-anak Putra:


Juara I
Juara II
Juara III
Juara Harapan I
27. Utsawa Menghafal Śloka Anak-anak Putri:
Juara I
Juara II
Juara III
Juara Harapan I
28. Utsawa Menghafal Śloka Remaja Putra:
Juara I
Juara II
Juara III

20
Juara Harapan I
29. Utsawa Menghafal Śloka Remaja Putri:
Juara I
Juara II
Juara III
Juara Harapan I

8.4. Masing-masing Juara I, II, III , Juara Harapan I, diberikan piala tetap, piagam
penghargaan, dan uang pembinaan sampai pada juara harapan I.
8.5. Kontingen yang meraih Juara Umum Utsawa Dharmagīta Tingkat Nasional
XIV Tahun 2021 dilaksanakan dengan SEMI VIRTUAL diberikan piala
bergilir, piagam penghargaan, dan uang pembinaan.

21
LAMPIRAN

Untuk menjamin kelancaran dan ketertiban Utsawa Dharmagīta Tingkat


Nasional XIV Tahun 2021 yang dilaksanakan secara SEMI VIRTUAL perlu
ditetapkan Persyaratan Peserta dan Tata Tertib seperti terlampir.

TATA TERTIB
UTSAWA DHARMAGĪTA TINGKAT NASIONAL XIV TAHUN 2021

BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Istilah/Pengertian
1. Pelaksana ialah Panitia Pelaksana Utsawa Dharmagīta Tingkat Nasional XIV
Tahun 2021 yang dibentuk dan ditetapkan dengan Keputusan Menteri Agama
Republik Indonesia.
2. Kontingen adalah totalitas jumlah orang dalam rombongan suatu provinsi yang
menghadiri Utsawa Dharmagīta.
3. Peserta ialah bagian dari kontingen yang menjadi utusan provinsi seluruh Indonesia
terdiri atas:
a. Mengikuti lomba/utsawa.
b. Menjadi Official.
4. Juri ialah orang yang bertugas menilai dan menetapkan kejuaraan Utsawa
Dharmagīta Tingkat Nasional XIV secara SEMI VIRTUAL Tahun 2021 sesuai
jenis dan kategori lomba.
5. Naskah adalah materi yang dilombakan dan dinilai seperti yang tercantum dalam
Buku Pedoman.
6. Official adalah pelatih/pendamping peserta pada masing-masing jenis lomba.
7. Tecnical Meeting adalah pertemuan khusus dan tertutup yang dipimpin oleh
Pimpinan Dewan Juri, membahas teknis pelaksanaan utsawa/lomba, dihadiri oleh
unsur Panitia, Dewan Juri, dan Official.
8. Mantra adalah syair-syair kitab suci Weda,
9. Śloka adalah syair-syair kitab Susastra Weda seperti Bhagavadgīta dan lain-lain.

22
10. Palawākya adalah materi lomba yang diambil dari Śarasamuçcaya, Adiparwa, dan
susastra lainnya.
11. Kakawin adalah puisi Jawa Kuna yang menggunakan kaidah guru-laghu.
12. Dharmawacana adalah lomba ceramah keagamaan Hindu yang temanya ditentukan
dalam Buku Pedoman ini dan judulnya ditentukan oleh peserta.
13. Nyanyian Keagamaan Hindu adalah lagu bernafas Hindu dengan lirik berbahasa
Indonesia dan memakai alat musik lokal/modern.

Pasal 2
PESERTA, PAKAIAN, DAN ATRIBUT
1. Setiap daerah provinsi diharapkan mengirim 1 (satu) orang/pasang/regu untuk
mengikuti setiap jenis lomba.
2. Satu orang/pasang/regu hanya boleh mengikuti 1 (satu) jenis/kategori lomba.
3. Ketika peserta tampil dalam lomba mempergunakan pakaian bebas, rapi, dan sopan.
4. Nomor urut tampil dikeluarkan oleh panitia dan dipasang ketika peserta tampil.
5. Peserta harus hadir 15 (lima belas) menit sebelum lomba dimulai.
6. Selama lomba berlangsung peserta tidak diperkenankan meninggalkan tempat

Pasal 3
UPACARA PEMBUKAAN DAN PENUTUPAN
1. Pada upacara pembukaan dan penutupan seluruh kontingen wajib menggunakan
pakaian seragam kontingen masing-masing.
2. Kontingen setiap provinsi diwajibkan membawa bendera lambang daerah
provinsinya masing-masing.
3. Masing-masing kontingen wajib menampilkan 1 pasang peserta dengan berpakaian
daerah untuk devile.

23
BAB II
SARASEHAN

Pasal 1
PESERTA
(1) Sarasehan diikuti oleh peserta sarasehan yang telah ditentukan di dalam Buku
Pedoman dan diundang oleh panitia pelaksana UDG Tingkat Nasional XIV Tahun
2021.
(2) Seluruh peserta sarasehan memiliki hak bicara yang mekanismenya diatur oleh
moderator.
(3) Selama sarasehan berlangsung peserta wajib mematuhi tata tertib yang telah
ditetapkan.
(4) Peserta sarasehan wajib mengisi daftar hadir yang disediakan oleh panitia.

Pasal 2
HAK SUARA
(1) Hak suara dalam sarasehan diberikan dengan ketentuan sebagai berikut.
a. Utusan setiap Provinsi memiliki satu suara.
b. LPDG Pusat 8 suara.
c. Panitia pelaksana 1 suara.
d. Parisada Pusat 1 suara.
e. Ditjen Bimas Hindu 5 suara.
f. Tokoh umat Hindu tuan rumah 1 suara.
(2) Sarasehan akan menentukan 3 (tiga) daerah provinsi sebagai nominasi calon
tempat penyelenggaraan UDG Nasional berikutnya.
(3) Bila tidak tercapai kata mufakat dalam menentukan tuan rumah berikutnya
maka akan diadakan pemungutan suara. Hasil pemungutan suara bersifat mutlak
untuk menentukan ranking daerah sebagai calon tuan rumah.
(4) Hasil sarasehan dituangkan dalam bentuk rekomendasi dan ditandatangani oleh
perwakilan pemegang hak suara sebagaimana terdapat dalam Pasal 2 ayat (1) di
atas.

24
Pasal 3
MATERI DAN NARASUMBER
(1) Materi sarasehan ditentukan oleh panitia UDG dengan syarat:
a. Materi bersifat aktual dan kontekstual;
b. Materi bertemakan multikultur, nasionalisme, dan kemanusiaan;
(2) Narasumber sarasehan ditentukan oleh panitia.

Pasal 4
LAIN-LAIN
Tiga daerah yang di-ranking menjadi calon tempat penyelenggara UDG
Tingkat Nasional berikutnya akan dijajagi, dievaluasi, dan diverifikasi oleh Ditjen
Bimas Hindu dan LPDG Tingkat Pusat, untuk selanjutnya diusulkan kepada Menteri
Agama Republik Indonesia untuk ditetapkan.

BAB III
KETENTUAN KHUSUS

Pasal 1
PEDOMAN UTSAWA MEMBACA ŚLOKA

1. Pada waktu tampil, peserta menyampaikan salam panganjali dan diakhiri dengan
paramasanti.
2. Pelafalan teks disesuikan dengan dialek masing-masing daerah kecuali bunyi “ Ā “
dibacakan sesuai dengan bunyi “ Ā “ dalam bahasa Indonesia.
3. Pembacaan aksara awagraha menurut pola ślokanya (Awagraha tidak dibaca).
4. Untuk Reng (irama) Śloka memakai Reng Śruti.
5. Naskah yang dipakai adalah yang tercantum dalam Buku Pedoman.
6. Umur peserta yang mengikuti lomba ini adalah Tingkat Anak-anak berusia 7 - 14
Tahun dan atau masih duduk sebagai murid SD; Tingkat Remaja berusia 14 - 21
tahun dan/atau masih duduk sebagai murid SMP/SMA/SMK (dibuktikan dengan
Kartu Pelajar/KTP), Rentang Nilai/Interval nilai antara 60 sampai 100.
7. Bila terdapat nilai yang sama, maka yang menjadi bahan pertimbangan akhir adalah
Nilai Suara (Vokal) Pembaca.
8. Teknis lomba dan penilaian diatur oleh dewan juri pada waktu technical meeting.

25
9. Kriteria umum penilaian Utsawa Membaca Śloka tingkat anak-anak, remaja, dan
dewasa putra dan putri adalah:

No Komponen Penilaian Bobot Nilai Total Keterangan


Wajib Pilihan (Wn +Pn x
Bt)
A PEMBACA
1 Penampilan: 5
- Pakaian (tata
busana)
- Gerak tubuh/
tangan (tetanganan)
- Posisi duduk (tata
lungguh) pembaca
di sebelah kiri
2 Suara/vokal:
- Jenis suara angkus 15
prana berada di
pangkal lidah
- Kemerduan/gregel
suara
3 Ucapan (tabuh basa)
- Irama/reng sruti 15
- Pelafalan (onek-
onekan)
4 Guru laghu 10

5 Ekspresi (raras):
- Mimik 5
- Penjiwaan
JUMLAH A 50
B PENERJEMAH
Penampilan:
1 - Pakaian (tata 5
busana)
- Gerak tubuh/
tangan (tetanganan)
- Posisi duduk (tata
lungguh)
penerjemah di
sebelah kanan
2 Suara/Vokal
Keserasian dgn suara 15
pembaca
3 Penggunaan bahasa
Indonesia yang baik 15
dan benar
(kalengutan basa)
4 Ketepatan 10
Terjemahan
5 Ekspresi:
 Mimik 5
 Penjiwaan

26
JUMLAH B 50
JUMLAH A  B 100

Pasal 2
PEDOMAN UTSAWA MEMBACA PALAWĀKYA
1. Pada waktu tampil, peserta menyampaikan salam Pangañjali dan diakhiri
Paramasanti.
2. Pelafalan teks disesuaikan dengan dialek masing-masing daerah.
3. Naskah yang dipakai adalah yang terdapat dalam Buku Pedoman.
4. Umur peserta yang mengikuti lomba ini;
a. Tingkat Remaja berusia 14 tahun sampai 21 tahun atau masih duduk sebagai
murid SMP/SMU/SMK (dibuktikan dengan Kartu Pelajar/KTP).
b. Tingkat Dewasa berusia 21 tahun sampai 41 tahun (dibuktikan dengan KTP).
5. Rentang nilai/interval nilai antara 60 sampai 100.
6. Bila terdapat nilai yang sama, maka yang menjadi bahan pertimbangan adalah nilai
suara (Vokal) pembaca.
7. Teknis lomba dan teknis penilaian diatur oleh dewan juri pada waktu technical
meeting.
8. Kriteria umum penilaian utsawa Pembacaan Palawākya tingkat remaja dan dewasa
putra dan putri adalah:
No Komponen Penilaian Bobot Nilai Total Keterangan
Wajib Pilihan (Wn +Pn x
Bt)
A PEMBACA
1 Penampilan:
- Pakaian (tata busana) 10
- Gerak tubuh/ tangan
(tetanganan)
- Posisi duduk (tata
lungguh) pembaca di
sebelah kiri
2 Suara/vokal: 15
- Suara angkus prana
(di pangkal lidah)
- Kemerduan/gregel
suara
3 Ucapan (tabuh basa): 15
- Intonasi (guru basa)
- Pelafalan (onek-

27
onekan)
4 Ekspresi (raras):
- Mimik 10
- Penjiwaan
JUMLAH A 50
B PENERJEMAH
1 Penampilan:
- Pakaian (tata busana) 5
- Gerak tubuh/ tangan
(tetanganan)
- Posisi duduk (tata
lungguh) penerjemah di
sebelah kanan
2 Suara/Vokal
Keserasian dgn suara 15
pembaca
3 Penggunaan bahasa
Indonesia yang baik dan 15
benar (kalengutan basa)
4 Ketepatan Terjemahan 10
(artos)
5 Ekspresi (raras):
 Mimik 5
 Penjiwaan
JUMLAH B 50
JUMLAH A + B 100

Pasal 3
PEDOMAN UTSAWA MEMBACA KAKAWIN
1. Pada waktu tampil, peserta menyampaikan salam Panganjali dan diakhiri
Paramasanti.
2. Penampilan boleh dalam bentuk pacapariring dengan mentaati aturan guru-
laghu.
3. Materi yang dibaca adalah teks naskah kakawin yang terdapat dalam Buku
Pedoman.
4. Umur peserta yang mengikuti lomba ini;
a. Tingkat Remaja berusia 14 tahun sampai 21 tahun atau masih duduk
sebagai murid SMP/SMU/SMK (dibuktikan dengan Kartu Pelajar/KTP).
b. Tingkat Dewasa berusia 21 tahun sampai 41 tahun (dibuktikan dengan
KTP).
5. Rentang nilai/ interval nilai antara 60 sampai 100.
6. Bila terdapat nilai yang sama, maka yang menjadi bahan pertimbangan adalah
nilai suara (Vokal) pembaca.
28
7. Teknis lomba dan teknis penilaian diatur oleh dewan juri pada waktu technical
meeting.
8. Kriteria umum penilaian utsawa membaca Kakawin tingkat remaja dan dewasa
putra dan putri adalah:

No Komponen Penilaian Bobot Nilai Total Keterangan


Wajib Pilihan (Wn +Pn x
Bt)
A PEMBACA
1 Penampilan:
- Pakaian (tata busana) 5
- Gerak tubuh/ tangan
(tetanganan)
- Posisi duduk (tata
lungguh) pembaca di
sebelah kiri
2 Suara/vokal: 15
- Suara angkus prana
(di pangkal lidah)
- Kemerduan/gregel
suara
3 Guru-Laghu 15
4 Onek-onekan (Pelafalan) 10
5 Ekspresi (raras):
- Mimik 5
- Penjiwaan
JUMLAH A 50
B PENERJEMAH
1 Penampilan:
- Pakaian (tata busana) 5
- Gerak tubuh/ tangan
(tetanganan)
- Posisi duduk (tata
lungguh) penerjemah di
sebelah kanan
2 Suara/Vokal
Keserasian dgn suara 15
pembaca
3 Penggunaan bahasa
Indonesia yang baik dan 10
benar (kalengutan basa)
4 Ketepatan Terjemahan 15
(artos)
5 Ekspresi (raras):
 Mimik 5
 Penjiwaan
JUMLAH B 50
JUMLAH A + B 100

29
Pasal 4
NASKAH UTSAWA MEMBACA ŚLOKA, PALAWĀKYA, DAN KAKAWIN
Naskah untuk utsawa membaca śloka, palawākya, dan kakawin disusun oleh Tim yang
dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Lembaga Pengembangan Dharmagīta Tingkat
Pusat/Ditjen Bimas Hindu.

Pasal 6
PEDOMAN UTSAWA DHARMAWACANA
1. Dharmawacana pada Utsawa Dharmagīta Tingkat Nasional XIV Tahun 2021
dilombakan dalam dua bahasa yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, dengan
ketentuan sebagai berikut:
a. Naskah dharmawacana tingkat anak-anak , remaja dan Dewasa bahasa
Indonesia baik putra maupun putri serta dharmawacana tingkat remaja dan
dewasa bahasa Inggris baik putra maupun putri ditulis/disusun oleh setiap
peserta lomba.
b. Dharmawacana bahasa Indonesia untuk tingkat dewasa putra maupun putri
tidak menyiapkan naskah, namun tema akan diundi pada saat technical meeting,
dengan tujuan peserta lebih menyiapkan diri untuk menguasai dan
mengelaborasi semua tema yang sudah ditentukan.
c. Naskah diketik di atas kertas HVS A4 dengan spasi ganda (dua).
d. Letter/tulisan memakai calibri ukuran huruf 12.
e. Jumlah halaman isi minimal 5 (lima) halaman.
f. Tema dharmawacana dalam UDG Tingkat Nasional XIV Tahun 2021 untuk
semua tingkatan adalah sebagai berikut:
1. Dana Punya 7. Cinta Kasih
2. Himsa Karma 8. Tri Hita Karana
3. Tirtha Yatra 9. Pluralisme Hindu
4. Subha Karma 10. Kepemimpinan Hindu
5. Sraddha dan Bhakti 11. Gender menurut agama
6. Kerukunan menurut agama Hindu
Hindu 12. Panca Yadnya

g. Judul ditetapkan oleh peserta sesuai dengan tema yang telah ditentukan di
atas.

30
2. Naskah dikirim ke Panitia Pusat di Jakarta beserta soft copy dan diterima paling
lambat 2 (dua) bulan sebelum kegiatan Utsawa Dharmagīta Tingkat Nasional XIV
Tahun 2021.
3. Dharmawacana disampaikan secara hafalan/lisan yang materinya sesuai naskah
yang diserahkan ke Panitia.
4. Umur peserta yang mengikuti Utsawa Dharmawacana ini adalah :
a. Tingkat anak-anak berusia 7 - 14 tahun dan/atau masih duduk sebagai siswa SD,
dapat dibuktikan dengan menunjukkan Kartu Pelajar atau identitas lainnya yang
sah (Dharmawacana bahasa Indonesia)
b. Tingkat Remaja berusia 14 - 21 tahun dan/atau masih duduk sebagai siswa
SMP/SMU/SMK/Mahasiswa, dapat dibuktikan dengan menunjukkan Kartu
Pelajar/Kartu Mahasiswa/KTP atau identitas lainnya yang sah (Dharmawacana
bahasa Indonesia dan bahasa Inggris).
c. Tingkat dewasa berusia 21 - 40 tahun, dapat dibuktikan dengan menunjukkan
KTP atau identitas lainnya yang sah (Dharmawacana berbahasa Indonesia dan
berbahasa Inggris).
5. Pada waktu tampil, peserta menyampaikan salam Panganjali dan diakhiri dengan
Paramasanti.
6. Dharmawacana disampaikan selama minimal 8 (delapan) menit maksimal 10
(sepuluh) menit untuk tingkat anak-anak bahasa Indonesia serta tingkat remaja dan
dewasa bahasa Inggris terhitung sejak mengucapkan salam panganjali sampai
dengan salam paramasanti.
7. Untuk tingkat remaja dan dewasa bahasa Indonesia minimal 10 menit dan maksimal
15 (limas belas) menit terhitung sejak mengucapkan salam panganjali sampai
dengan salam paramasanti
8. Struktur materi dharmawacana terdiri atas pembukaan, isi dan penutup.
9. Penilaian menggunakan angka antara 60 sampai 100.

31
10. Format Penilaian Utsawa Dharmawacana:

No Indikator Penilaian Bobot Nilai Total Keterangan


(Bt x N)
1 Penguasaan Diri: 25
• Sikap
• Gaya
• Ekspresi
• Penampilan

2 Penguasaan Materi: 30
•kesesuaian naskah
dengan penyajian
•kesesuain judul dengan
tema dan isi
3 Penguasaan 25
Audience :
• Interaksi dengan
audience
• improvisasi
penyajian
4 Bahasa 15
Indonesia/Ingggris yang
baik dan benar
5 Ketepatan waktu 5

JUMLAH 100

Pasal 7
PEDOMAN UTSAWA NYANYIAN KEAGAMAAN HINDU

1. Pada waktu tampil, peserta menyampaikan salam Panganjali dan diakhiri dengan
Paramasanti.
2. Peserta remaja beregu putra/putri/campuran (satu regu berjumlah 5 orang, termasuk
pengiring maksimal 3 orang dan boleh ikut bernyanyi).
3. Peserta wajib membawakan 2 (dua) lagu keagamaan Hindu berbahasa Indonesia dan
berbahasa daerah.
4. Waktu penyajian untuk kedua lagu maksimal 15 menit.

32
5. Masing-masing peserta menyerahkan naskah nyanyian keagamaan Hindu berbahasa
Indonesia dan yang berbahasa daerah dilengkapi dengan terjemahan bahasa
Indonesia, pada saat technical meeting.

6. Rentang nilai antara 60 sampai 100.


7. Bila terdapat nilai yang sama maka yang menjadi pertimbangan adalah nilai
kreativitas aransemen.
8. Teknis lomba dan teknis penilaian diatur oleh dewan juri pada waktu technical
meeting.
9. Kriteria:
Nyanyian Keagamaan Hindu berbahasa Indonesia.
 Nyanyian keagamaan Hindu berbahasa Indonesia berbentuk kreasi baru.
 Diiringi musik pengiring secara langsung atau kombinasi langsung dan
rekaman.
 Lagu boleh berbentuk baru atau aransemen dari lagu yang sudah ada.
 Diperbolehkan menggunakan kutipan bahasa Sanskerta atau Jawa Kuno
dengan jumlah tidak lebih dari 20 suku kata.
 Jika menggunakan iringan langsung, maka pemain iringan musik dan
vokalis tetap berjumlah lima orang.
Nyanyian keagamaan Hindu berbahasa daerah.
 Menggunakan bahasa daerah Nusantara.
 Bagi daerah yang tidak memiliki nyanyian keagamaan Hindu berbahasa
daerah setempat, dapat menggunakan nyanyian keagamaan Hindu Nusantara
lainnya.
 Nyanyian dapat menggunakan kidung, macapat, dan lagu rakyat yang sudah
ada namun bernuansa keagamaan Hindu.
 Diperbolehkan menggunakan background music etnis dalam bentuk kaset,
CD, atau flashdisk.

10. Peserta tampil menggunakan busana sembahyang yang bersih, rapi, sopan, dan
pantas
11. Kriteria umum penilaian Utsawa Nyanyian Keagamaan Hindu adalah:
Nyanyian Keagamaan Hindu Berbahasa Indonesia.

NO KRITERIA BOBOT % NILAI JUMLAH

1 Bentuk
a. Isi naskah 25
b. Pola lagu
c. Pola syair
2 Suara: artikulasi, intonasi, 30
keseimbangan
3 Penyajian: teknik vocal, 30
kerjasama/kekompakan,
33
keharmonisan, rias-
kostum
4 Kretivitas 15

Nyanyian Keagamaan Hindu Berbahasa Daerah.

NO KRITERIA BOBOT NILAI JUMLAH


%
1 Bentuk
a. Isi naskah 25
b. Pola lagu
c. Pola syair
2 Suara: artikulasi, intonasi, 40
keseimbangan
3 Penyajian: teknik vokal, 35
kerjasama/kekompakan,
keharmonisan, rias-
kostum, sikap

Pasal 8
PEDOMAN UTSAWA MENGHAFAL ŚLOKA

1. Utsawa Menghafal Śloka diikuti oleh peserta perorangan tingkat anak anak
putra/putri, tingkat remaja putra/putri, dan tingkat dewasa putra/putri.
2. Śloka dan terjemahannya dibawakan dengan cara menghafal.
3. Sumber naskah yang dilombakan dan nomor ślokanya ditentukan panitia sesuai
Buku Pedoman.
4. Durasi waktu tampil masing-masing peserta adalah 5 (lima ) menit.
5. Bila terdapat nilai yang sama maka yang akan menjadi pertimbangan adalah nilai
kebenaran śloka.
6. Umur peserta yang mengikuti lomba ini adalah :
a. Tingkat Anak-Anak berusia 7 tahun sampai 14 tahun.
b. Tingkat Remaja berusia 14 tahun sampai 21 tahun dan/atau masih duduk
sebagai murid SMP/SMU/SMK (dibuktikan dengan Kartu Pelajar/Kartu
Mahasiswa/ KTP).
7. Teknis lomba dan teknis penilaian diatur oleh dewan juri pada waktu technical
meeting.
8. Kriteria umum penilaian lomba menghafal Śloka adalah:

34
No Aspek Penilaian Bobot Nilai Total Keterangan
(Bt x N)
1 Jumlah śloka/mantra yang 30
dibawakan
2 Ketepatan dan keutuhan 30
śloka/mantra
3 Ketepatan terjemahan 30
4 Kejelasan vokal 10
JUMLAH 100

BAB IV
KEPANITIAAN
Pasal 1
PEMBENTUKAN KEPANITIAAN
1. Personalia Panitia Daerah, Ketua Umum dan sebagian dari Pengarah serta Penasihat
diusulkan oleh/dari daerah penyelenggara melalui mekanisme yang terkoordinasi
dan terintegrasi dengan baik.
2. Jumlah personalia pada setiap bidang disesuaikan dengan volume dan jenis
kegiatan, ketersediaan waktu, dan kinerja yang bersangkutan.
3. Draf susunan dan personalia panitia diusulkan oleh Dirjen Bimas Hindu kepada
Menteri Agama Republik Indonesia untuk mendapatkan penetapan.
4. Pelantikan panitia secara simbolis diadakan di daerah.

35
Pasal 2
PERTANGGUNGJAWABAN KEPANITIAAN
1. Kegiatan penyelenggaraan Utsawa Dharmagīta dipertanggungjawabkan oleh
Panitia kepada Menteri Agama Republik Indonesia melalui Dirjen Bimas Hindu.
2. Laporan pertanggungjawaban Panitia diterima oleh Dirjen Bimas Hindu selambat-
lambatnya 30 (tiga puluh) hari kalender setelah Utsawa Dharmagīta ditutup.
3. Bahan-bahan pertanggungjawaban Panitia disiapkan oleh bidang-bidang kepanitia-
an secara terkoordinasi dan terintegrasi, selanjutnya dihimpun menjadi laporan
Ketua Harian kepada Ketua Umum.

BAB V
KETENTUAN LAIN
Segala sesuatu yang belum diatur dalam Buku Pedoman ini akan diatur oleh Panitia.

36
LAMPIRAN-LAMPIRAN

Lampiran 1 Materi Utsawa Membaca Śloka

37
Lampiran 2 Materi Utsawa Membaca Palawakya

Palawakya Wajib
Pasangan Remaja Putri

1. Sang Dropadi sira ta sinwayambarakên de mahàràja Drupada, prasàsta karêngö


ring deúàntara. Mangkana pawarah sang brahmana tamuy ri Sang Yudisthira.
Mahyun ta sira milwa ring swayêmbarakàrya. Tadanantara datêng ta bhagawan
Byasa. Manêmbah ta sang åûi, mangaturakên pàdyàrghàcamanya. Mojar ta
bhagawan Byàsa.

Terjemahan
Sang Dropadi disayembarakan oleh maharaja Drupada sangat terkenal terdengar di
seluruh daerah. Demikian pemberitahuan brahmana tamu kepada Sang Yudistira.
Berkeinginanlah beliau mengikuti sayembara itu. Tiada lama antaranya datanglah
Bhagawan Byasa. Sang resi menyembah memberikan air pencuci kaki dan pencuci
mulut. Berkatalah Bhagawan Byasa.

2. "Anaku Sang Kunti! Hananta Sang Pandawa, matangyan datêng kami mangke ri
kita, kumona kita mareng Pàncala, umilwa ri swayêmbara Sang Drupada.
Kacaritan ikang anak dàra, hana pwa ya brahmanikanyà, pratidinàmùjà ri Bhatara
Úangkara, amalaku aswani uttama, salwira ning guóanya, dharmajña, úùra,
balawàn, kåtawidya priyambada.
(Dikutip dari Adiparwa, XVI)

Terjemahan
Anakku Sang Kunti, demikian pula Sang Pandawa, sebabnya saya datang sekarang
menemuimu, hendaknya kalian pergi ke Pancala, untuk ikut dalam sayembara Sang
Drupada. Adapun cerita tentang anak gadis yang disayembarakan adalah anak
seorang brahmana, setiap hari memuja Bhatara Sangkara, memohon suami yang
utama, pandai, berpengetahuan dharma, pemberani, kuat, pintar dan sopan santun.

38
Palawakya Pilihan
Pasangan Remaja Putri

1. Kalinganya, yan ing wêngi Sang Hyang Candra sira pinaka damar, yan ring rahina
Sang Hyang Rawi pinaka damar, Yan ring triloka Sang Hyang Dharma pinaka
damar. Kunang yan ing kula ikang anak suputra pinaka damar, ling ning haji
(Úlokantara, sloka 24 (52)).

Terjemahan
Sesungguhnya, pada waktu malam hari bulanlah sebagai penerang, jika pada siang
hari matahari sebagai penerang, jika di tiga dunia ini dharmalah sebagai penerang.
Adapun dalam keluarga, putra yang baiklah sebagai cahayanya. Demikian menurut
ajaran kitab suci.

2. Kalinganya, hana pwekang wwang atyanta pinênuhan ing rupa lituhayu, mwang
wayahnya yowana, lawan ika yinogyakên dening göng ika kulani ri ya, ndan têka
hina ring sarwa úastra, tan hana haji kawruhnya saúabdaúàstra, kunang ikang
wwang mangkana, tan ahalêp ika ri madhya ning sabhà, paran ika padanya,
kadyangga ning kêmbang palàsa, abhrà dinêlö sakeng doh, kunang yan inambung
tan pagandha, nahan ika papadanya (Úlokantara, sloka 28 (24)).

Terjemahan
Sesungguhnya ada orang yang dianugrahi rupa yang sangat cantik dan masih
muda, lagipula keturunan bangsawan, tetapi dia itu tidak tahu sama sekali dengan
ilmu pengetahuan, tidak berpengetahuan, tidak mengetahui tata bahasa, adapun
orang yang seperti itu tidak ada sinarnya di dalam persidangan, Orang seperti itu
diibaratkan sebagai bunga kembang sepatu, merah dan agung tampak dari jauh,
tetapi tidak berbau harum, demikian persamaannya.

39
3. Kalingannya, ikang wwang angabyàsa úàstra, yan harêp tan parêp, dadi wisa ikang
úàstra ring wwang mangkana, mangkana ikang wwang amangan, yan tan jirna ring
wêtêng, tuwin harêp tan parêp dadi wiûa yan mangkana. Kunang ikang wwang
daridra, asing inucap de nika pinakawisa, apan sawuwus ing janma kasyasih,
dinalih harêp dening sugih, ling ning haji. (Úlokantara, sloka 31 (9)).

Terjemahan
Sesungguhnya bagi orang yang bebal yang dipaksa mempelajari ilmu pengetahuan,
walau dia suka atau tidak suka, pengetahuan itu merupakan racun bagi orang itu.
Demikan pula orang makan, jika tidak hancur makanannya di perut suka atau tidak
suka makanan itu menjadi racun baginya. Adapun orang yang miskin semua
ucapannya ibarat racun karena ucapan orang miskin, selalu dianggap berharap dari
orang yang kaya. Demikian disebutkan kitab suci.

4. Kalinganya, ikang àcàra mamarahakên kula ning wwang, ikang bhasa


mamarahakên panangkan ring deúa ning wwang, ikang mata mamarahakên hala
hayu ning hati ning wwang ing jro, ika úarira mamarahakên kurang ing bhukti,
mangkana panêngêran ing solah ing wwang. (Slokantara 34 (81)).

Terjemahan
Sesungguhnya, kelakuan seseorang mencerminkan asal keluarganya, cara
berbahasanya menunjukkan dari daerah mana dia berasal, sinar mata seseorang
mencerminkan maksud baik atau buruk yang terkandung dalam hatinya. Keadaan
tubuh seseorang mencerminkan kurang atau lebihnya makanan. Demikian ramalan
untuk mengetahui perilaku seseorang.

40
Palawakya Wajib
Pasangan Remaja Putra

1. Inanugrahan ta yàswàmya limang siki makagunang dharmàdi, hêlêm ing pùrwa


janmanya, ikang brahmaóarûikanya, mangkanànugrahanya, sangkeng Sang
Hyang Úangkara ya ta pinakànak màhàraja Drupada makangaran Sang Dropadi.
Tatan hana yogya swàmya niki bheda sangke rahadyan sanghulun, matangyan
tanaya mami yogya kita milwa ring swayambara. (Adiparwa, XVI)

Terjemahan
Ia akan dianugrahi suami lima orang, yang pandai tentang dharma, pada
penjelmaannya kelak. Demikianlah anugrah Sang Hyang Sangkara kepada anak
putri brahmana itu. Anak itu menjadi putri maharaja Drupada yang bernama
Dropadi, tidak ada yang lebih tepat menjadi suaminya selain dari kalian semua.
Oleh karenanya anakku sangat tepat jika kalian mengikuti sayembara itu.

2. Mangkana ling Bhagawan Byasa nêhêr antarlina sira. Agirang ta Sang


Pandawa; ri lungha Bhagawan Byasa, amwit ta sireng brahmana dunungan ira.
Lumampah ta sireng rahineng kulêm, saha ri wêdi niràn kasepa ring
swayambara. Sêdêng têngah wêngi wahu sumurup sang hyang wulan, màngên-
angên ta Sang Arjuna suluh pinaka panghulu ni laku nira. (Adiparwa XVI).

Terjemahan
Demikian perkataan Bhagawab Byasa, lalu beliau pergi. Sang Pandawa sangat
senang setelah Bhagawan Byasa pergi, lalu para Pandawa minta diri kepada
brahmana tempatnya menumpang. Mereka berjalan siang dan malam karena
takut terlambat dalam sayembara itu. Pada tengah malam, bulan baru saja
terbenam, berpikirlah Sang Arjuna untuk membuat penerang (obor) untuk
menuntun perjalanannya.

41
Palawakya Pilihan
Pasangan Remaja Putra

1. Lawan manêh, hana ya mukhàwasa ngaranya, madya matahapan tutuk asilih,


mangkana rakwa krama nikang sang kàmi mwang kàmini, yan dêlön, tan hana
bhedanya lawan ilu, ya mukhàwasa, ndan yan ilu pangara ning wwang elik
ajêjêb ya, yapwan mukhawasa pangaranya harsa ya ta karin umancana awaknya.
Maka sadhana ngaran karikan wwang an mangkana ikang ngaran gawe nikang
wwang ika, hinganyan aglis ikang manah kalinganika. (Sarasamuscaya, 87).

Terjemahan
Lain lagi, ada yang dinamakan mukhawasa, yaitu air liur yang menggairahkan
hati pria dan wanita yang sedang berciuman bibir dengan bibir, jika
diperhatikan baik-baik, mukhawasa itu tidak ada bedanya dengan air liur biasa,
namun jika disebut air liur orang tidak suka dan jijik. Apabila disebut
mukhawasa orang akan suka dan senang, bukankah orang memperdaya dirinya
sendiri dengan penggunaan nama itu. Nama itu hanyalah buatan manusia,
sesungguhnya sangat cepatlah pikiran itu berubah-ubah.

2. Tonên waneh, tunggala tuwi ikang wastu, dudu juga agraha ning sawwang-
sawwang irika, wyaktinya, nàng susu ning ibu, dudu apti nikang anak, an
monêng ing ibu, lawan apti nikang bapa, hinganya manah magawe bheda
(Sarasamuscaya, 85)

Terjemahan
Lihatlah yang lain, sekalipun hanya satu bendanya tetapi berbeda jika tanggapan
tiap-tiap orang terhadapnya. Sesungguhnya seperti buah dada seorang ibu,
berbedalah tanggapannya si anak yang menyayangi si ibu daripada tanggapan si
ayah. Jadinya pikiranlah yang membuat perbedaan itu.

3. Nyàyeki kadeyàkêna ning wwang, ikang buddhi màsih ring sarwapràni, yatika
pagêhakêna, haywa dêngki, haywa ta engin, haywa ta humayam-ayam, ikang

42
wastu tan hana, wastu tan yukti kunêng, haywa ika inangên-angên.
(Sarasamuscaya, 89)

Terjemahan
Inilah hendaknya yang dilakukan orang, perasaan cinta kasih kepada semua
mahluk, hal itu patut dikuatkan, janganlah dengki, janganlah menginginkan dan
merindukan sesuatu yang tidak ada atau yang tidak benar, hal itu jangan dipikir-
pikirkan.

4. Ikang wwang irsyà ri padanya jadma tumon màsnya, rùpanya, wiryanya,


kasujanmanya, sukhanya, kasubhaganya, ya ta amuhara irûyà i ri ya, ikang
wwang mangkana kramanya yatika prasidha ning sangsara ngaranya, karakêt
laranya tan patamban. (Sarasamuscaya, 91).

Terjemahan
Orang yang iri hati kepada sesama manuasia jika melihat emasnya, wajahnya,
kekuasaannya, kelahirannya, yang utama, kesenangannya, kebahagiannya, jika
hal itu menyebabkan iri hati padanya; maka orang yang demikian keadannya
sungguh-sungguh sengsara namanya. melekat penderitaan hatinya tidak
terobati.

43
Palawakya Wajib
Pasangan Dewasa Putri

1. Drupadajànaá sahàsinan anyonaý yo bhidarsayet


Yan hana wwang sanakta durug ing rowangta, ri kàlanya làwan Sang Dropadi,
ya tikà lumakwa wanawàsa, gumawayaknang kabrahmacaryan, lawasnya
rwawêlas tahun. Mangkana samaya gawayaknanta, yatanyan atùt asànak
makaphala haywanta. Nahan ta ling Bhagawan Narada, amisinggih ta Sang
Pandawa. Suksmàntarlina ta Bhagawan Narada ri palinggihan ira. (Adiparwa,
XVII).

Terjemahan
Kalau ada saudaramu menyusul saudaranya ketika sedang berada dengan Sang
Dropadi, dia itu harus pergi ke hutan melaksanakan tapa brahmacari selama 12
tahun. Demikianlah perjanjian yang dibuatnya yang harus ditaati saudara-
saudaranya supaya selalu bersatu. Demikian perkataan Bhagawan Narada yang
dihormati dan dituruti oleh Sang Pandawa. Bhagawan Narada lalu menghilang
dari tempatnya.

2. Hana ta brahmana tamolah irikang deúa, kagarbha de nikang Indraprastha. Sira


ta kahilangan lêmbu. Manangis ta sira ri panangkilan ing kadatwan, sumêsêl ri
mahàraja Yudhistira, an hana maling tumama ri deúa nira. Karêngö pwa de
nirànangis de Sang Arjuna, inujaran ira ta sira, kinon mahenakàmbêk nira.
(Adiparwa, XVII)

Terjemahan
Ada seorang brahmana bertempat tinggal di daerah Indaprastha. Dia kehilangan
lembu. Menangislah dia di tempat menghadap raja di istana menyampaikan
kepada maharaja Yudistira bahwa ada pencuri memasuki daerahnya.
Terdengarlah oleh Sang Arjuna orang menangis lalu disuruhnya menenangkan
pikirannya.

44
Palawakya Pilihan
Pasangan Dewasa Putri

1. Kalinganya, ikang ulà ring huntunya unggwan wisa nika, mangkana ikang
durjana mùrkha, ring cittanya unggwan ing wisanya. Kunang ikang wwang tan
rowang ing anak, amatyani pinaka wisanya, muwah ikang stri, canggih ring
lakinya, unggwan ing wisa ika, mangkana ling ning aji. (Úlokantara, 32 (8)).

Terjemahan
Sesungguhnya, racun ular itu terletak di giginya, demikian juga orang jahat dan
bodoh itu racunnya ada di dalam hatinya. Racun orang yang namanya telah
jatuh terletak pada sifat ganasnya membunuh sesama manusia. Adapun seorang
istri atau wanita letak racunnya adalah pada perbuatannya yang selingkuh
menyakiti suaminya. Demikian ajaran kitab suci.

2. Kalinganya, ikang dadi wwang ngaranya, tan hana luputa ring dosa, yawat
ikang wwang inalêma guna dening loka, hana ika calanya dening padanya
wwang. Yadyan sugiha, pira wruhanya mangaji, pira lituhayuhan ing rupanya,
yayanika cinalan dening padanya jadma, sangksepanya, tan hana juga manulus
tan pacalaha, kadyangga nikang kêmbang padma, inucap pawitra têmên ika arah
aparan ta yan cinalan, agatêl ling nikang loka. (Slokantara, 79 (46)).

Terjemahan
Sesungguhnya, yang namanya menjadi manusia tidak ada yang luput dari
kesalahan (dosa) walaupun dia itu dikagumi oleh rakyat, tetapi dia punya
kelemahan karena dia sebagai manusia. Walaupun orang itu kaya, pandai segala
ilmu pengetahuan, dan bagaimanapun cantiknya rupanya, namun dengan
lahirnya sebagai manusia, ia tidak luput dari kesalahan. Intinya tidak ada yang
mulus tanpa cela, seperti kembang seroja yang terkenal kesuciannya, namun
apakah cacat celanya? Tangkainya menyebabkan gatal. Demikian orang
mengatakan.

45
3. Deya ning aweha dàna haywa maprayojana pelêman haywa dening wêdi, haywa
maphala pratyupakàra, haywa ring bhandagina, mangkana deya sang dharmika,
maweha mata sira, ndatan dàna ngaranika, weweh dêmakan pratyupakara
ngaranika. (Sarasamuscaya, 188).

Terjemahan
Hendaknya orang memberikan sedekah, jangan disertai tujuan akan pujian,
jangan karena rasa takut, jangan mengharapkan balasan, jangan kepada pemain
sandiwara. Demikianlah caranya sang dharmika, jika memberikan sedekah,
tetapi bukan sedekah namanya jika diberikan dengan mengharapkan balasan.

4. Lawan waneh yadyapin hana tan hana kunêng ikang phala, wehakêna ta pwa
yathàsambhawa, sakàya-kàya, ikang yogya wehakêna mangkanang wastu yogya
pùjàkêna, pùjàkêna juga, nyata maphala pwa ng dàna, nguni-nguni tikàn
gawayên. (Sarasamuscaya, 197)

Terjemahan
Tambahan pula, baik ada atau tiada pahalanya berikanlah juga sedekah
sebagaimana mestinya dan sesuai kemampuan, yang patut (layak) diberikan.
Demikian pula barang yang layak untuk persembahan, persembahkanlah
sehingga sedekah itu berpahala, lebih-lebih hal itu yang dilakukan.

46
Palawakya Wajib
Pasangan Dewasa Putra

1. Tumama ta Sang Arjuna ri kahanan mahàràja Yudhistira. Sira ta sêdêng hana


lawan Sang Dropadi, prayojana nira màlapa ri sañjata nira nutùtana maling.
Inalap tang dhanuh mwang úara. Mengêt pwa sira wêkasan i samaya Bhagawan
Narada, tatapinya manglampu sira lumakwa wanawasa, yatanyan siddha karya
sang brahmana. Huwus niromalap laras nira, tinùt nirekang maling. (Adiparwa,
XVII).

Terjemahan
Masuklah Sang Arjuna ke tempat Sang Yudhistira yang kebetulan sedang
bersama Sang Dropadi. Tujuan Sang Arjuna hanya mengambil senjatanya untuk
mengejar maling. Lalu busur dan panahnya diambil. Akhirnya dia ingat akan
janjinya dengan Bhagawan Narada, tetapi dia memilih tinggal di hutan setelah
berhasil menyelesaikan urusan brahmana tadi. Setelah dia mengambil
senjatanya lalu diikutinya pencuri itu.

2. Amwit ta sire suku mahàràja Yudhistira, lumakwàwanawàsa. Ndan atêngêt


màhàràja Yudhistira, màngên-angên i lara niran mapasaha. Ndatan anggà Sang
Arjuna ri pasayut sang kaka, awêdi ring mithya wacana. Inanujnàn ta sireng
wêkasan, apan tumuhwàkêni samaya sang rûi. Lumampah ta sira wêkasan.
(Adiparwa, XVII).

Terjemahan
Sang Arjuna mohon diri kepada Sang Yudistrita akan pergi dan tinggal di hutan.
Tetapi maharaja Yudistira melarangnya karena memikirkan sedihnya berpisah.
Sang Arjuna tidak mengindahkan larangan kakaknya karena dia takut

47
melanggar janjinya. Akhirnya diijinkan pergi karena menepati janji sang rsi.
Maka akhirnya pergilah Sang Arjuna.

Palawakya Pilihan
Pasangan Dewasa Putra

1. Lawan ta wih ikang sukha ning aharas mwang stri ning wang, yàntah katêmu
irikang parastri, tan pahi wih denyàgawe wancana tah, mangkana ring awasana
wisih, yaya tah niyata nika tan pahi, mangkana pwa ya, apa ta phala ning
parastri n kenginakêna. (Sarasamuscaya, 155).

Terjemahan
Lagi pula kesenangan bersentuhan dengan istri sendiri, itu pula yang dirasakan
pada wanita lain, tidak berbeda sesungguhnya akan membuat bencana,
demikianlah pada akhirnya ia tidak menunjukkan cinta kasih lagi, tidak lain
seperti itulah kejadiannya, demikianlah apa gunanya menginginkan wanita lain.

2. Tasmàd vàkkàyacittaistu nàcaredaçubhaý narah, çubhàçubham hyàcarati


tasya tasyàçnute phalam
Matangnyan nihan, kadàyakêna ning wwang, tan wàk, kàya, manah, kawarjana,
makolahang asubhakarma, apan ikang wwang mulahakên ikang hayu, hayu
tinêmunya, yapwan hala pinakolahnya, hala tinêmuwya. (Sarasamuscaya, 156)

Terjemahan
Oleh karenanya inilah yang harus diupayakan orang, janganlah berkata, berbuat,
dan berpikir buruk, karena orang yang berbuat baik, kebaikan yang akan
diperolehnya, apabila berbuat jahat maka penderitaan yang ditemukan olehnya.

48
3. Prawåtti rahayu kta sàdharma ning rumakseng dharma, yapwan sang hyang aji,
jñana pagêh ekatàna sadhana ri karakûanira, kunang ikang rùpa, si radin
pangrakûa irika, yapwan kasujanman, kasuúilan sadhana ning rumaksa ika.
(Sarasamuscaya, 162).

Terjemahan
Tingkah laku yang baik merupakan alat untuk menjaga dharma, adapun ilmu
pengetahuan, pikiran yang teguh dan tekad yang bulat saja merupakan upaya
untuk menjaganya. Adapun kecantikan dan ketampanan wajah hanya
kebersihan menjaganya. Mengenai kelahiran yang mulia, hanya diperoleh
dengan menegakkan budi pekerti dan susila.

4. Hana ta waneh mangke kramanya, maweh anugraha, masukha agawe bodhana,


ring wwang daridra, enak ta ya manahnya, ika ta wwang mangkana, wåddhi
anaknya, putunya, wêka wetnyan têkeng wênang-wênangnya, lawan kocapani
lêkasnya ring hayu. (Sarasamuscaya, 166).

Terjemahan
Ada lagi orang yang perilakunya, suka memberi hadiah, dengan senang hati
memberi pelajaran dan nasihat kepada orang miskin, senanglah hatinya, orang
seperti itu, tumbuh berkembang dengan selamat anak-anaknya, cucu-cucunya,
semua keturunannya, semua ternaknya. Lagi pula akan dikenallah semua
perbuatan baiknya.

49
Lampiran 3 Materi Utsawa Membaca Kakawin

MATERI KAKAWIN PASANGAN DEWASA PUTRI


UTSAWA DHARMAGITA NASIONAL 2021

Wirama Wangúapatrapatita: -oo/-o-/ooo/-oo/ooo/oo = 17

1. Norana mitra manglêwihane waraguna maruhur,


norana úatru manglêwihane gêlêngana ri hati,
norana sih mahãnglêwihane sih-ikang-atanaya,
norana úakti daiwa juga úakti tanana manahên.

2. Kokila ring swaranya makarùpa kinalêwihakên,


strī makarùpa diwya kapatibrata linêwihakên,
ring úruti dharmaúàstra guru waktra kinalêwihakên,
ring kûama rùpa sang parama paóðhita linêwihakên.

Terjemahannya:

1. Tidak ada sahabat melebihi kemuliaan pengetahuan yang tinggi.


Tidak ada musuh melebihi kemarahan hati.
Tidak ada cinta kasih melebihi kasih sayang orang tua kepada anak.
Tidak ada yang sakti, hanya takdir jugalah yang tak bisa ditahan.

2. Keunggulan burung kokila terletak pada suaranya.


Kemuliaan seorang istri terletak pada kesetiaannya kepada suami.
Dalam hal mendalami ajaran sruti dan dharmasastra, petuah guru merupakan
hal yang utama.
Kesabaran merupakan hal yang utama bagi seorang pendeta agung.

Catatan: suku kata yang dicetak tebal pada teks kakawin di atas adalah
Guru!

50
MATERI KAKAWIN PASANGAN DEWASA PUTRA
UTSAWA DHARMAGITA NASIONAL 2021

Wirāma Rāgakusuma: ---/oo-/o-o/oo-/ooo/ooo/-o-/oo =23

1. Sang Hyang Candra Tarànggaóà pinaka dhīpa mamadhangi ri kàla ning


wêngi,
Sang Hyang Sùrya sêðêng prabhàsa makadhīpa mamadhangi ri bhùmi
maóðala,
widyàúàstra sudharma dhīpa nikanang tribhuwana sumênö prabhàswara,
yan ring putra suputra sàdhu guóawàn mamadhangi kula wandhu wandhawa.

2. Singgih yan têka ning yugãnta kali tan hana lêwiha sakeng mahàdhana,
tan wàktan guóa úùra paóðhita widagdha padha mangayaping dhaneúwara,
sakweh ning rinahasya sang wiku hilang kula ratu padha hīna kãsyasih,
putrãdwe pita ninda ring bapa si úùdra banija warawīrya paóðhita.

Terjemahannya:

1. Bulan dan bintang merupakan penerang menerangi dunia pada malam hari.
Matahari yang sedang bersinar menjadi penerang yang menerangi jagatraya.
Pengetahuan dan ajaran suci merupakan penerang ketiga dunia yang bersinar
terang.
Putra yang baik adalah anak yang memiliki pengetahuan dan kesolehan menjadi
penerang keluarga.

2. Jika zaman kali telah tiba tidak ada yang lebih mulia daripada orang kaya.
Tidak perlu disebutkan lagi para ilmuwan, prajurit, orang bijak, dan akademisi
semua mengabdi kepada orang kaya.
Segala hal yang dirahasiakan para pendeta hilang, para pejabat pada dihina
menderita kesengsaraan.
Anak-anak berani kepada orang tua, para gelandangan berubah menjadi
saudagar, meraih kekuasaan dan kependetaan.

Catatan: suku kata yang dicetak tebal pada teks kakawin di atas adalah
Guru!

51
MATERI KAKAWIN PASANGAN REMAJA PUTRI
UTSAWA DHARMAGITA NASIONAL 2021

Wirama Wangúastha/Swandewī: o-o/--o/o-o/-oo =12

1. Prihên têmên dharma dhumāraóang sarāt,


sarāga sang sādhu sireka tùtana,
tan artha tan kāma pidonya tan yaúa,
ya úakti sang sajjana dharma rākûaka.

2. Sakā nikang rāt kita yan wênang manùt,


manùpadeúa prihatah rumākûa ya,
kûayā nikang pāpa nahan prayojana,
janānurāgādi tuwin kapangguha.

Terjemahannya:

1. Upayakanlah kebenaran itu menjadi dasar dalam mengayomi dunia,


Orang-orang bijaksana agar senantiasa dijadikan suri tauladan,
Bukan harta, bukan nafsu, bukan pula jasa yang menjadi tujuan utama,
Namun menjadi seorang cendekiawan yang hebat dengan berpegang teguh pada
kebenaran.

2. Kita akan menjadi penyangga dunia bilamana kita mengikuti


Ajaran Manu yang harus diupayakan dan dijaga dengan saksama,
Mengentaskan kesengsaraan masyarakat, itulah menjadi tujuan kita bersama.
Menjadi manusia teladan dan mulia, sungguh akan kita temukan.

Catatan: suku kata yang dicetak tebal pada teks kakawin di atas adalah
Guru!

52
MATERI KAKAWIN PASANGAN REMAJA PUTRA
UTSAWA DHARMAGITA NASIONAL 2021

Wiràma Kusumawicitra: ooo/o--/ooo/o-o = 12

1. Taki-taki ning sewaka guóa widyà,


smara wiûaya rwang puluh-ing-ayuûya,
têngahi tuwuh sanwacana gêgönta,
patilaringatmeng tanu pagurokên.

2. Waûita nimittanta manêmu lakûmi,


waûita nimittanta pati kapangguh,
waûita nimittanta manêmu duhka,
waûita nimittanta manêmu mitra.

Terjemahannya:
1. Kita harus bersungguh-sungguh mengabdikan diri pada kebajikan dan ilmu
pengetahuan.
Kita baru boleh menikmati asmara pada usia dua puluh tahun.
Pada usia setengah umur kita patut mendalami ajaran suci.
Perpisahan jiwa dengan raga pun patut kita pelajari.

2. Kata-kata menyebabkan kita menemukan kebahagiaan.


Kata-kata menyebabkan kita menemukan kematian.
Kata-kata menyebabkan kita menemukan kedukaan.
Kata-kata menyebabkan kita menemukan sahabat.

Catatan: suku kata yang dicetak tebal pada teks kakawin di atas adalah
Guru!

53