Anda di halaman 1dari 3

Tren Riset Studi Islam Internasional

Pembicara : Bapak Chaider S. Bamualim, Ph.D

Isu yang diangkat dari kuliah umum tersebut berkaitan dengan Islam dan dunia Barat. Untuk
lebih detail, ada dua faktor utama diantaranya

1. Trend in world population


2. Terrorist attack on 11 September 2001

Sebagai pemulaan, jumlah populasi muslim tersebar di seluruh funia dan bahkan mencapai
50 juta orang. Seiring dengan tahun 2010, ada 1,6 miliar muslim menyebar di seluruh dunia,
representasi 23% dari seluruh dunia. Itulah membuat Islam menjadi salah satu agama terbesar
kedua.

Jumlah muslim di seluruh dunia diperkirakan meningkat dratis mencapai beberapa dekade
ke depan kemudian, berkembang terus menerus mendekati jumlah 2,8 miliar di tahun 2050.
Muslim diperkirakan tumbuh mencapai 2 kali secepat dengan populasi yang global. Demikian
muslim disebutkan meningkat dari 23% dari populasi seluruh dunia di tauun 201 ke 30% pada
tahun 2050 (menurut pew research center). Yang menjadi fokusan adalah isu-isu yang
berkembang dalam riset studi Islam di belahan dunia, hampir semua orang yang membutuhkan
kebebasan. Banyak orang mau tinggal di luar negeri, amerika misalnya karena di sana seseorang
bebas menunjukkan identitasnya. Identitas yang dikembangkan bisa memberikan pengaruh yang
menguntungkan atau justru merugikan. Apabila orang Islam mendapatkan kebebasan untuk
dapat mengekspresikan tentang identitas agama dan kebudayaan mereka di manapun. Di situlah
konflik terjadi dimana paham sekularisme yang dianut di beberapa negara, London salah
satunya. Orang Islam yang menempati negara atau bermigrasi ke negara lain yang kebetulan
menganut sistem sekulerisme. Konflik seperti ini merupakan isu internasional yang sering dikaji
Eropa dan Inggris. Untuk mencari solusi untuk mencegah konflik yang terjadi di timur tengah
dimana orang-orang cenderung berantem.

Tema yang pokok dimasukkan dalam riset diantaranya lain;

1. SALAFISME

Perkembangan riset Salafisme

a) Pertama, jauh sebelum 11 September


-Salafisme dikaji sebagai sejarah sosio-keagamaan
-Adanya Gerakan dakwah
-Tradisi keagamaan orang-orang Hijaz
b) Kedua, peristiwa terjadi sejak tahun 1980
-Salafisme dikaji sebagai Gerakan fundamentalisme dan neo-fundamentalisme
c) Ketiga, peristiwa terjadi pada tahun 1990an
-Salafisme dikaji sebagai bagian dari gejala Radikalisme agama
d) Keempat, sesudahterjadinya aksi terror 11 September
-Salafisme dipelajari terkait dengan isu keamanan (security), dan juga sebagai bagian dari
gejala Radikalisme
Dalam membahas tentang salafisme, diperlukan bukti dan referensi sebagai pendukung
diantaranya
Roel Meijer, Global Salafisme : Islam’s New Religious Movement (2009)
Istilah Salafisme telah lama menyebar di Indonesia yang dibawa oleh orang Arab pada
tahun 1980an namun akan tetapi belum banyak masyarakat Indonesia yang memahami istilah
tersebut. Salafisme Di dalam buku ini, Salafisme selalu dikaitkan dengan doktrin yang
dugunakannya dan bagaimana terlibat dalam kegiatan-kegiatan politik. Alasan kajian tentang
Salafisme global ini dianggap penting karena di dalam realitas historis telah mengubah idealisme
Islam sebagai rahmat bagi masyarakat dunia menjadi ancaman dunia. Hal ini sebagaimana
dinyatakan oleh Quintan Wiktorowicz.

2. ISLAMISME AND POST ISLAMISME


-Barry Rubin, Guide to Islamist Movement (London : M.E. Sharpe, 2010)
-Asef Bayat, Making Islam Democractic: Sosial Movement and the post-Islamist Turn
(Stanford : Stanford University Press, 2007)
-Bayat, Post Islamisme : The Changing Faces of Political Isla (Oxford University Pareess,
2013)
Adapun argument yang dikemukakan oleh Asef Bayat dalam buku Making Islam Democractic:
Sosial Movement and the post-Islamist Turn sebagai berikut ;
Cita-cita demokrasi kurang berkaitan dengan esensi agama apa pun. Cita-cita Ini lebih
mengacu ke bagaimana agama dipraktikkan dalam kehidupan. Bayat menawarkan pendekatan
baru dalam memahami Islam dan demokrasi, menguraikan bagaimana perjuangan sosial
dilakukan oleh organisasi-organisasi sosial seperti organisasi pelajar, pemuda, organisasi wanita,
intelektual, dan kelompok sosial lainnya, dapat menjadikan islam demokratis. Bayat
mengeksplorasi tinggi terhadap hubungan yang dibangun antara agama, politik dan kehidupan
sehari-hari muslim di Timur Tengah.
3. ISLAMIC LAW AND SOCIETY
Abdullahi Ahmad An-Naim, Islam and Secular State: Negiotating the Future of Sharia (Harvard
University Press, 2011)
Menurut Abdullah Ahmad, subjek yang diangkat dari bukunya adalah pembentukan negara
sekuler demi mencapai kehidupan religius sesungguhnya, baik bagi muslim maupun non muslim.
Sekularisme disebutkan berkaitan dengan hukum Islam dan politik.
Dapat diketahui bahwa sekularisme secara sosio historis bukan berasal dari dunia Islam
tetapi dari eripa. Paham sekularisme mengharuskan umat agama untuk tunduk pada aturan
menyangkut segala aspel kehidupan mencakup kehidupan keluarga, sosial, ekonomi dan politik
terlebih ilmu pengetahuan. Untuk itu diambil jalan tengah dari hal tersebut adalah agama
merupakan keyakinan yang tetap diakui keberadaannya tetapi tidak diikutsertakan dalam
mengatur urusan masyarakat. Agama harus dipisahkan dari urusan kehidupan masyarakat.
4. ISLAM AND DEMOCRACY
Jeremi Menchick, Islam and Democracy in Indonesia;Tolerance without Liberalism (Cambridge
University Press, 2016)
Negara Indonesia disebut sebagai negara sangat menjaga dengan yang namanya toleransi.
Dengan demikian, Indonesia dapat menerapkan sistem demokrasi. Nilai-nilai keislaman juga
mampu diaplikasi di negara demokrasi ini dengan pendekatan yang lebih legalistis. Menurut
Jeremi, sistem demokrasi dengan nilai-nilai keislaman berhasil diterapkan di Indonesia.
5. ISLAMIC AUTHORITY

Otoritas agama Islam yang dapat mempengaruhi masyaraat Islam atau dijadikan acuan oleh
masyarakat Islam dalam segala aspek kehidupan.