Anda di halaman 1dari 20

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Pustaka
1. Konsep Coronavirus (Covid-19)
a. Pengertian
Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) adalah penyakit menular
yang disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus
2 (SARS-CoV-2). SARS-CoV-2 merupakan coronavirus jenis baru
yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada manusia. Ada
setidaknya dua jenis coronavirus yang diketahui menyebabkan penyakit
yang dapat menimbulkan gejala berat seperti Middle East Respiratory
Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).
Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) merupakan penyakit menular
yang disebabkan oleh Coronavirus jenis baru(Kemenkes, 2020).
Virus Corona adalah sebuah keluarga virus yang ditemukan pada
manusia dan hewan. Sebagian virusnya dapat mengingeksi manusia
serta menyebabkan berbagai penyakit, mulai dari penyakit umum
seperti flu, hingga penyakit-penyakit yang lebih fatal, seperti Middle
East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory
Syndrome (SARS) (Kemenkes, 2020).
b. Etiologi
Penyebab Covid-19 adalah virus yang tergolong dalam family
coronavirus. Coronavirus merupakan virus RNA strain tunggal positif,
berkapsul dan tidak bersegmen. Terdapat 4 struktur protein utama pada
Coronavirus yaitu: protein N (nukleokapsid), glikoprotein M
(membran), glikoprotein spike S (spike), protein E (selubung).
Coronavirus tergolong ordo Nidovirales, keluarga Coronaviridae.
Coronavirus ini dapat menyebabkan penyakit pada hewan atau
manusia. Terdapat 4 genus yaitu alphacoronavirus, betacoronavirus,

8
9

gammacoronavirus dan deltacoronavirus. Sebelum adanya COVID-19,


ada 6 jenis coronavirus yang dapat menginfeksi manusia, yaitu HCoV-
229E (alphacoronavirus), HCoV-OC43 (betacoronavirus), HCoVNL63
(alphacoronavirus) HCoV-HKU1 (betacoronavirus), SARS-CoV
(betacoronavirus), dan MERS-CoV (betacoronavirus) (Kemenkes,
2020).
Coronavirus yang menjadi etiologi Covid-19 termasuk dalam
genus betacoronavirus, umumnya berbentuk bundar dengan beberapa
pleomorfik, dan berdiameter 60-140 nm. Hasil analisis filogenetik
menunjukkan bahwa virus ini masuk dalam subgenus yang sama
dengan coronavirus yang menyebabkan wabah SARS pada 2002-2004
silam, yaitu Sarbecovirus. Atas dasar ini, International Committee on
Taxonomy of Viruses (ICTV) memberikan nama penyebab Covid-19
sebagai SARS-CoV-2 (Kemenkes, 2020).
Belum dipastikan berapa lama virus penyebab Covid-19 bertahan
di atas permukaan, tetapi perilaku virus ini menyerupai jenis-jenis
coronavirus lainnya. Lamanya coronavirus bertahan mungkin
dipengaruhi kondisi-kondisi yang berbeda (seperti jenis permukaan,
suhu atau kelembapan lingkungan). Penelitian (Doremalen et al, 2020)
menunjukkan bahwa SARS-CoV-2 dapat bertahan selama 72 jam pada
permukaan plastik dan stainless steel, kurang dari 4 jam pada tembaga
dan kurang dari 24 jam pada kardus. Seperti virus corona lain, SARS-
COV-2 sensitif terhadap sinar ultraviolet dan panas. Efektif dapat
dinonaktifkan dengan pelarut lemak (lipidsolvents) seperti eter, etanol
75%, ethanol, disinfektan yang mengandung klorin, asam peroksiasetat,
dan khloroform (kecuali khlorheksidin) (Kemenkes, 2020).
c. Manifestasi Klinis
Gejala-gejala yang dialami biasanya bersifat ringan dan muncul
secara bertahap. Beberapa orang yang terinfeksi tidak menunjukkan
10

gejala apapun dan tetap merasa sehat. Gejala Covid-19 yang paling
umum adalah demam, rasa lelah, dan batuk kering. Beberapa pasien
mungkin mengalami rasa nyeri dan sakit, hidung tersumbat, pilek, nyeri
kepala, konjungtivitis, sakit tenggorokan, diare, hilang penciuman dan
pembauan atau ruam kulit.
Menurut data dari negara-negara yang terkena dampak awal
pandemi, 40% kasus akan mengalami penyakit ringan, 40% akan
mengalami penyakit sedang termasuk pneumonia, 15% kasus akan
mengalami penyakit parah, dan 5% kasus akan mengalami kondisi
kritis. Pasien dengan gejala ringan dilaporkan sembuh setelah 1
minggu. Pada kasus berat akan mengalami Acute Respiratory Distress
Syndrome (ARDS), sepsis dan syok septik, gagal multi-organ, termasuk
gagal ginjal atau gagal jantung akut hingga berakibat kematian. Orang
lanjut usia (lansia) dan orang dengan kondisi medis yang sudah ada
sebelumnya seperti tekanan darah tinggi, gangguan jantung dan paru,
diabetes dan kanker berisiko lebih besar mengalami keparahan
(Kemenkes, 2020).
d. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang dilakukan sesuai dengan manifestasi klinis,
antara lain:
1) Laboratorium: Darah lengkap/Darah rutin, LED, Gula Darah,
Ureum, Creatinin, SGOT, SGPT, Natrium, Kalium, Chlorida,
Analisa Gas Darah, Procalcitonin, PT, APTT, Waktu perdarahan,
Bilirubin Direct, Bilirubin Indirect, Bilirubin Total, pemeriksaan
laboratorium RT-PCR, dan/atau semua jenis kultur MO (aerob)
dengan resistensi Anti HIV.
2) Radiologi: Thorax AP/PA (Kemenkes, 2020).
11

e. Komplikasi
Virus corona yang menyebabkan penyakit SARS bisa menimbulkan
komplikasi pneumonia, dan masalah pernapasan parah lainnya bila tak
ditangani dengan cepat dan tepat. Selain itu, SARS juga bisa
menyebabkan kegagalan pernapasan, gagal jantung, hati, dan
kematian.Hampir sama dengan SARS, novel coronavirus juga bisa
menimbulkan komplikasi yang serius. Infeksi virus ini bisa
menyebabkan pneumonia, sindrom pernapasan akut, gagal ginjal, dan
bahkan kematian (Kemenkes, 2020).
f. Komorbid
1) Diabetes Mellitus
2) Glucocorticoid-associated diabetes
3) Penyakit terkait Geriatri
4) Penyakit terkait Autoimun
5) Penyakit Ginjal
6) ST Segment Elevation Myocardial Infarction (STEMI)
7) Non-ST-segment Elevation Myocardial Infarction (NSTEMI)
8) Hipertensi
9) Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK)
10) Tuberculosis
11) Penyakit kronis lain yang diperberat oleh kondisi penyakit Covid-
19 (Kemenkes, 2020).
g. Tatalaksana
Hingga saat ini, belum ada vaksin dan obat yang spesifik untuk
mencegah atau mengobati covid 19. Pengobatan ditujukan sebagai
terapi simptomatis dan suportif. Ada beberapa kandidat vaksin dan obat
tertentu yang masih diteliti melalui uji klinis (Kemenkes, 2020).
12

h. Diagnosis
WHO merekomendasikan pemeriksaan molekuler untuk seluruh pasien
yang terduga terinfeksi Covid-19. Metode yang dianjurkanmetode
eteksi olekule /NAAT (Nucleic A id Amplif cati n Test) (Kemenkes,
2020)
i. Penularan
Coronavirus merupakan zoonosis (ditularkan antara hewan dan
manusia). Penelitian menyebutkan bahwa SARS ditransmisikan dari
kucing luwak (civet cats) ke manusia dan MERS dari unta ke manusia.
Adapun, hewan yang menjadi sumber penularan Covid-19 ini masih
belum diketahui.
Masa inkubasi Covid-19 rata-rata 5-6 hari, dengan range antara 1
dan 14 hari namun dapat mencapai 14 hari. Risiko penularan tertinggi
diperoleh di hari-hari pertama penyakit disebabkan oleh konsentrasi
virus pada sekret yang tinggi. Orang yang terinfeksi dapat langsung
dapat menularkan sampai dengan 48 jam sebelum onset gejala
(presimptomatik) dan sampai dengan 14 hari setelah onset gejala.
Sebuah studi Du Z et. al, (2020) melaporkan bahwa 12,6%
menunjukkan penularan presimptomatik. Penting untuk mengetahui
periode presimptomatik karena memungkinkan virus menyebar melalui
droplet atau kontak dengan benda yang terkontaminasi. Sebagai
tambahan, bahwa terdapat kasus konfirmasi yang tidak bergejala
(asimptomatik), meskipun risiko penularan sangat rendah akan tetapi
masih ada kemungkinan kecil untuk terjadi penularan.
Berdasarkan studi epidemiologi dan virologi saat ini membuktikan
bahwaCovid-19 utamanya ditularkan dari orang yang bergejala
(simptomatik) ke orang lain yang berada jarak dekat melalui droplet.
Droplet merupakan partikel berisi air dengan diameter >5-10 μm.
Penularan droplet terjadi ketika seseorang berada pada jarak dekat
13

(dalam 1 meter) dengan seseorang yang memiliki gejala pernapasan


(misalnya, batuk atau bersin) sehingga droplet berisiko mengenai
mukosa (mulut dan hidung) atau konjungtiva (mata). Penularan juga
dapat terjadi melalui benda dan permukaan yang terkontaminasi droplet
di sekitar orang yang terinfeksi. Oleh karena itu, penularan virus Covid-
19 dapat terjadi melalui kontak langsung dengan orang yang terinfeksi
dan kontak tidak langsung dengan permukaan atau benda yang
digunakan pada orang yang terinfeksi (misalnya, stetoskop atau
termometer).
Dalam konteks Covid-19, transmisi melalui udara dapat
dimungkinkan dalam keadaan khusus dimana prosedur atau perawatan
suportif yang menghasilkan aerosol seperti intubasi endotrakeal,
bronkoskopi, suction terbuka, pemberian pengobatan nebulisasi,
ventilasi manual sebelum intubasi, mengubah pasien ke posisi
tengkurap, memutus koneksi ventilator, ventilasi tekanan positif non-
invasif, trakeostomi, dan resusitasi kardiopulmoner. Masih diperlukan
penelitian lebih lanjut mengenai transmisi melalui udara (Kemenkes,
2020).
2. Konsep Kecemasan
a. Definisi Kecemasan
Menurut kamus Kedokteran Dorland, kata kecemasan atau disebut
dengan anxiety adalah keadaan emosional yang tidak menyenangkan,
berupa respon-respon psikofisiologis yang timbul sebagai antisipasi
bahaya yang tidak nyata atau khayalan, tampaknya disebabkan oleh
konflik intrapsikis yang tidak disadari secara langsung (Dorland, 2010).
Ansietas adalah suatu perasaan takut akan terjadinya sesuatu yang
disebabkan oleh antisipasi bahaya dan merupakan sinyal yang
membantu individu untuk bersiap mengambil tindakan menghadapi
ancaman. Pengaruh tuntutan, persaingan, serta bencana yang terjadi
14

dalam kehidupan dapat membawa dampak terhadap kesehatan fisik dan


psikologi. Salah satu dampak psikologis yaitu ansietas atau kecemasan
(Sutejo, 2018).
Kecemasan merupakan reaktivitas emosional berlebihan, depresi
yang tumpul, atau konteks sensitif, respon emosional (Clift, 2011).
Pendapat lain menyatakan bahwa kecemasan merupakan perwujudan
dari berbagai emosi yang terjadi karena seseorang mengalami tekanan
perasaan dan tekanan batin. Kondisi tersebut membutuhkan
penyelesaian yang tepat sehingga individu akan merasa aman. Namun,
pada kenyataannya tidak semua masalah dapat diselesaikan dengan baik
oleh individu bahkan ada yang cenderung di hindari. Situasi ini
menimbulkan perasaan yang tidak menyenangkan dalam bentuk
perasaan gelisah, takut atau bersalah (Supriyantini, 2010).
b. Klasifikasi Tingkat Kecemasan
Kecemasan sangat berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak
berdaya. Menurut Suliswati (2014) ada empat tingkatan yaitu :
1) Kecemasan Ringan
Dihubungkan dengan ketegangan yang dialami seharihari. Individu
masih waspada serta lapang persepsinya meluas, menajamkan
indera. Dapat memotivasi individu untuk belajar dan mampu
memecahkan masalah secara efektif dan menghasilkan pertumbuhan
dan kreatifitas.
2) Kecemasan Sedang
Individu terfokus hanya pada pikiran yang menjadi perhatiannya,
terjadi penyempitan lapangan persepsi, masih dapat melakukan
sesuatu dengan arahan orang lain.
3) Kecemasan Berat
Lapangan persepsi individu sangat sempit. Pusat perhatiannya pada
detil yang kecil dan spesifik dan tidak dapat berfikir hal-hal lain.
15

Seluruh perilaku dimaksudkan untuk mengurangi kecemasan dan


perlu banyak perintah/arahan untuk terfokus pada area lain.
4) Panik
Individu kehilangan kendali diri dan detil perhatian hilang. Karena
hilangnya kontrol, maka tidak mampu melakukan apapun meskipun
dengan perintah. Terjadi peningkatan aktivitas motorik,
berkurangnya kemampuan berhubungan dengan orang lain,
penyimpangan persepsi dan hilangnya pikiran rasional, tidak mampu
berfungsi secara efektif. Biasanya disertai dengan disorganisasi
kepribadian.
c. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kecemasan
Menurut Stuart (2013), faktor yang mempengaruhi kecemasan
dibedakan menjadi dua yaitu:
1) Faktor prediposisi
Ketegangan dalam kehidupan dapat berupa hal-hal sebagai berikut :
a) Peristiwa traumatic
b) Konflik emosional dan frustasi
c) Gangguan konsep diri
d) Gangguan fisik
e) Pola mekanisme koping keluarga
2) Faktor Presipitasi
a) Faktor Eksternal meliputi ancaman Integritas Fisik dan ancaman
Sistem Diri
b) Faktor Internal meliputi usia, stressor, lingkungan, jenis
kelamin, pendidikan
Annisa dan Ifdil (2016) menyebutkan beberapa faktor yang
mempengaruhi kecemasan, seperti pengetahuan yang dimiliki dalam
menyikapi suatu situasi yang mengancam serta mampu mengetahui
kemampuan mengendalikan diri dalam menghadapi kecemasan
16

tersebut.
Annisa dan Ifdil (2016) menyatakan terdapat dua faktor yang dapat
menimbulkan kecemasan, yaitu:
1) Pengalaman negatif pada masa lalu
Penyebab utama munculnya kecemasan yaitu adanya pengalaman
traumatis yang terjadi pada masa kanak-kanak. Peristiwa tersebut
mempunyai pengaruh pada masa yang akan datang. Ketika individu
menghadapi peristiwa yang sama, maka ia akan merasakan
ketegangan sehingga menimbulkan ketidaknyamanan. Sebagai
contoh yaitu ketika individu pernah gagal dalam menghadapi suatu
tes, maka pada tes berikutnya ia akan merasa tidak nyaman
sehingga muncul rasa cemas pada dirinya.
2) Pikiran yang tidak rasional
Pikiran yang tidak rasional terbagi dalam empat bentuk, yaitu.
a) Kegagalan ketastropik, individu beranggapan bahwa sesuatu
yang buruk akan terjadi dan menimpa dirinya sehingga individu
tidak mampu mengatasi permasalahannya.
b) Kesempurnaan, individu mempunyai standar tertentu yang
harus dicapai pada dirinya sendiri sehingga menuntut
kesempurnaan dan tidak ada kecacatan dalam berperilaku.
c) Persetujuan
d) Generalisasi yang tidak tepat, yaitu generalisasi yang
berlebihan, ini terjadi pada orang yang memiliki sedikit
pengalaman.
Terdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan kecemasan.
Saifudin & Kholidin (2015) menyebutkan beberapa faktor yang
mempengaruhi kecemasan seseorang meliputi
a) Usia dan tahap perkembangan, faktor ini memegang peran yang
penting pada setiap individu karena berbeda usia maka berbeda
17

pula tahap perkembangannya, hal tersebut dapat mempengaruhi


dinamika kecemasan pada seseorang.
b) Lingkungan, yaitu kondisi yang ada disekitar manusia. Faktor
lingkungan dapat mempengaruhi perilaku baik dari faktor
internal maupun eksternal. Terciptanya lingkungan yang cukup
kondusif akan menurunkan resiko kecemasan pada seseorang.
c) Pengetahuan dan pengalaman, dengan pengetahuan dan
pengalaman seorang individu dapat membantu menyelesaikan
masalah-masalah psikis, termasuk kecemasan.
d) Peran keluarga, keluarga yang memberikan tekanan berlebih
pada anaknya yang belum mendapat pekerjaan menjadikan
individu tersebut tertekan dan mengalami kecemasan selama
masa pencarian pekerjaan.
d. Alat Ukur Kecemasan
Cheung dan Sim (2014) menyatakan bahwa tes kecemasan telah
dikonseptualisasikan dalam berbagai cara sepanjang tahun. Beberapa
peneliti merujuk pada gangguan kognitif yang terlibat dan orang lain
untuk reaksi emosional. Ada kesepakatan bahwa kecemasan dapat
diklasifikasikan menjadi dua komponen, keadaan dan ciri kecemasan.
Hawari (2011) mempopulerkan alat ukur kecemasan yaitu
Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS-A). Alat ukur ini terdiri dari
14 kelompok gejala yang masing-masing kelompok dirinci lagi dengan
gejala-gejala yang lebih spesifik. Masing-masing kelompok gejala
diberi penilaian angka antara 0-4, yang artinya adalah nilai 0 tidak ada
gejala (keluhan), nilai 1 gejala ringan, nilai 2 gejala sedang, nilai 3
gejala berat, dan nilai 4 gejala berat sekali. Kemudian masing-masing
nilai angka dari 14 kelompok gejala tersebut dijumlahkan dan dari hasil
penjumlahan tersebut dapat diketahui derajat kecemasan seseorang,
yaitu total nilai kurang dari 6 tidak ada kecemasan, 6-14 kecemasan
18

ringan, 15-27 kecemasan sedang, nilai > 27 kecemasan berat.


3. Konsep Mekanisme Koping
a. Definisi
Mekanisme koping diartikan sebagai proses atau cara untuk
mengelola dan mengolah tekanan psikis (baik secara eksternal maupun
internal) yang terdiri atas usaha baik tindakan nyata maupun tindakan
dalam bentuk intrapsikis seperti peredaman emosi, pengolahan input
dalam kognitif (Hasan & Rufaidah, 2013). Mekanisme koping
didefinisikan sebagai suatu proses tertentu yang disertai dengan suatu
usaha dalam rangka merubah domain kognitif dan atau perilaku secara
konstan untuk mengatur dan mengendalikan tuntutan dan tekanan
eksternal maupun internal yang diprediksi akan dapat membebani dan
melampaui kemampuan dan ketahanan individu bersangkutan
(Rubbyana, 2012). Mekanisme koping melibatkan kemampuan-
kemampuan khas manusia seperti pikiran, perasaan, pemrosesan
informasi, proses belajar, mengingat dansebagainya. Strategi koping
tujuannya untuk menyesuaikan diri terhadap tuntutan atau tekanan baik
dari dalam maupun dari luar (Hasan & Rufaidah, 2013).
Mekanisme koping yang berfokus pada emosi merujuk pada
berbagai upaya untuk mengurangi berbagai reaksi emosional negatif
terhadap stres yaitu (Mutoharoh, 2010; Taylor, 2012):
1) Penerimaan, menggambarkan penerimaan akan keadaan. Penerimaan
diharapkan terjadi dalam keadaan dimana stresor merupakan sesuatu
yang tidak dapat dihindari dan bukan hal yang mudah diubah.
2) Menjaga jarak, menggambarkan usaha-usaha untuk melepaskan atau
memisahkan diri dari keadaan yang penuh stres.
3) Kontrol diri, menggambarkan usaha-usaha untuk mengatur perasaan
atau diri sendiri. Mekanisme koping ini lebih mengarahkan usahanya
untuk mengendalikan emosi-emosi yang tidak menyenangkan
19

daripada menghadapi sumber stres itu sendiri secara langsung.


4) Penghindaran, menggambarkan akan harapan atau usaha untuk lari
atau menghindari dari situasi. Mekanisme koping ini kadang-kadang
muncul sebagai suatu respon terhadap stresor dan terjadi pada
penilaian awal. Penghindaran akan berguna pada tahap awal
menghadapi stres namun akan menyulitkan mekanisme koping pada
tahap selanjutnya.
5) Kembali ke agama, individu mencari pegangan pada agama saat ia
mengalami stres.
6) Penilaian positif, usaha-usaha untuk menemukan arti positif dalam
pengalaman yang terjadi. Individu secara emosional dapat lebih
tenang dan berpikir jernih sehingga dapat meneruskan atau memulai
kembali tindakan mekanisme koping yang terarah pada masalah
secara aktif.
Mekanisme koping berfokus pada emosi lebih mengarah kepada
mekanisme koping yang lebih buruk dibandingkan mekanisme koping
berfokus masalah karena penyelesaian masalah dengan Mekanisme
koping berfokus emosi biasanya bertahan sementara waktu saja karena
sifatnya hanya menghindari bukan menyelesaikan masalah (Taylor,
2012). Mekanisme koping yang baik akan menghasilkan adaptasi yang
menetap yang merupakan kebiasaan baru dan perbaikan dari situasi
yang lama, sedangkan mekanisme koping yang buruk berakhir dengan
maladaptif yaitu perilaku yang menyimpang dari keinginan normatif
dan dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain atau lingkungan
(Hasan & Rufaidah, 2013). Madonna (2014) mengemukakan suatu
penelitiannya bahwa terdapat empat jenis mekanisme koping sebagai
berikut : active coping, acceptance coping, emotional focused coping,
avoidance coping (Mutoharoh, 2010).
b. Penggolongan Mekanismekoping
20

Menurut Yusuf (2015), Respon koping seseorang dapat dievaluasi


dalam suatu rentang yaitu adaptif dan maladaptif. Sehingga mekanisme
koping dapat digolongkan menjadi dua yaitu :
1. Mekanisme Koping Adaptif (Konstruktif)
Mekanisme koping adaptif merupakan mekanisme koping yang
mendukung fungsi integritas, pertumbuhan, belajar dan mencapai
tujuan. Kategorinya adalah berbicara dengan orang lain,
memecahkan masalah dengan efektif, teknik relaksasi, latihan
seimbang dan aktifitas konstruktif. Dalam mekanisme ini kecemasan
dilakukan sebagai sinyal peringatan dan individu menerima sebagai
tantangan dalam menyelesaikan masalah
2. Mekanisme Koping Maladaptif (Destruktif)
Mekanisme koping maladaptif merupakan mekanisme koping yang
menghambat integrasi, memecah pertumbuhan, menurunkan
ekonomi dan cenderung menguasai lingkungan. Mekanisme koping
ini menghindari kecemasan tanpa menyelesaikan.
c. Tipe Mekanisme Koping
Ada tiga tipe mekanisme koping yaitu sebagai berikut :
1. Mekanisme koping berfokus pada masalah
Mekanisme ini terdiri atas tugas dan usaha langsung untuk mengatasi
ancaman diri. Contoh : negosiasi, konfrontasi dan mencari nasihat.
2. Mekanisme koping berfokus secara kognitif
Mekanisme ini berupa seseorang dapat mengontrol masalah dan
menetralisasinya. Contoh : perbandingan positif, selective
ignorance, substitution of reward dan devalution of desired objects.
3. Mekanisme koping berfokus pada emosi
Individu menyesuaikan diri terhadap distres emosional serta tidak
berlebihan. Contoh : menggunakan mekanisme koping pertahanan
ego seperti denial, supresi atau proyeksi.
21

d. Faktor-faktor yang mempengaruhi strategi mekanismekoping


Faktor-faktor yang mempengaruhi strategi mekanisme koping keluarga
adalah
1. Harapan akan self-efficacy, harapan akan self-efficacy berkenaan
dengan harapan terhadap kemampuan diri dalam mengatasi
tantangan yang kita hadapi, harapan terhadap kemampuan diri
untuk menampilkan tingkah laku terampil, dan harapan terhadap
kemampuan diri untuk dapat menghasilkan perubahan hidup
(Mutoharoh, 2010).
2. Dukungan sosial, individu dengan dukungan sosial yang tinggi
akan mengalami stres yang rendah ketika mengalami stres, dan
mereka akan mengatasi stres atau melakukan strategi koping yang
lebih baik (Taylor, 2012).
3. Optimisme, pikiran yang optimis dapat menghadapi suatu masalah
lebih efektif dibandingkan pikiran yang pesimis berdasarkan cara
individu melihat suatu ancaman. Individu dengan pikiran optimis
akan melihat masalah sebagai sesuatu hal yang harus dihadapi
sehingga mereka memilih menyelesaikan masalah yang ada
(Mutoharoh, 2010).
4. Pendidikan, tingkat pendidikan individu memberikan kesempatan
yang lebih banyak terhadap diterimanya pengetahuan baru
(Mutoharoh, 2010).
5. Jenis kelamin, terdapat perbedaan mekanisme koping antara laki-
laki dan perempuan. Anak laki-laki sering menunjukkan perilaku-
perilaku yang kita anggap sulit yaitu gembira berlebihan dan
kadang-kadang melakukan kegiatan fisik yang agresif, menentang,
menolak otoritas. Perempuan diberi penghargaan atas sensitivitas,
kelembutan, dan perasaan kasih (Mutoharoh, 2010).
Cara individu menangani situasi yang mengandung tekanan ditentukan
22

oleh sumber daya individu yang meliputi kesehatan fisik atau energi,
ketrampilan mengatasi masalah, ketrampilan sosial dan dukungan sosial
serta materi : kesehatan fisik dan keyakinan atau pandangan positif.
d. Pengukuran Mekanisme Koping
Mekanisme koping diukur dengan menggunakan sebuah kuesioner atau
butir-butir pertanyaan yang sesuai dengan jenis - jenis mekanisme
koping menurut Siswanto (2007) dengan empat tipe pilihan sesuai
dengan skala likert yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju
(TS), Sangat Tidak Setuju (STS), masing-masing diberi nilai 1 sampai
4. Selanjutnya dibedakan menjadi 2 kategori yaitu adaptif dan
maladaptif, yaitu koping adaptif jika skor > 50 dan koping maladaptif
jika skor ≤ 50 (Azwar,2011).
4. Konsep Keluarga
a. Definisi Keluarga
Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat. Keluarga
didefinsikan dengan istilah kekerabatan dimana invidu bersatu dalam
suatu ikatan perkawinan dengan menjadi orang tua. Dalam arti luas
anggota keluarga merupakan mereka yang memiliki hubungan personal
dan timbal balik dalam menjalankan kewajiban dan memberi dukungan
yang disebabkan kelahiran, adopsi, maupun perkawinan (Stuart,2014).
Keluarga merupakan sekumpulan orang yang dihubungkan oleh
ikatan perkawinan,adopsi,kelahiran yang bertujuan menciptakan dan
mempertahankan upaya yang umum,meningkatkan perkembangan fisik
mental,emosional dan social dari tiap anggota keluarga
(Harnilawati,2013).
b. Fungsi Keluarga
Fungsi keluarga menurut Friedman, (2010) adalah :
1) Fungsi Afektif
23

Fungsi afektif merupakan hubungan sosial yang positif berhubungan


dengan hasil kesehatan yang lebih baik, umur panjang, dan
penurunan tingkat stres. Sebaliknya, kehidupan keluarga juga dapat
menimbulkan stres dan koping disfungsional dengan akibat yang
dapat menganggu kesehatan fisik (misal tidur, tekanan darah tinggi,
penurunan responimun).
2) Fungsi Sosialisasi
Fungsi sosialisasi adalah proses perkembangan atau perubahan yang
terjadi atau dialami seseorang sebagai hasil dari interaksi dan
pembelajaran peran sosial. Sosialisasi dimulai dari sejak lahir dan
keluarga merupakan tempat individu untuk belajar bersosilalisasi.
3) Fungsi Reproduksi
Fungsi reproduksi adalah fungsi keluarga untuk meneruskan
kelangsungan keturunan dan menambah sumber daya manusia.

4) Fungsi Ekonomi
Fungsi ekonomi adalah fungsi keluarga untuk memenuhikebutuhan
keluarga, seperti makanan, pakaian, perumahan,dan lain-lain.
5) Fungsi Perawatan Keluarga
Fungsi untuk menyediakan makanan, pakaian, perlindungan, dan
asuhan kesehatan/keperawatan. Kemampuan keluarga melakukan
asuhan keperawatan atau pemeliharaan kesehatan memengaruhi
status kesehatan keluarga dan individu.
c. Tipe dan Bentuk Keluarga
Beberapa tipe keluarga antara lain adalah sebagai berikut:
1) Nuclear Family (keluarga inti), yaitu keluarga yang terdiri dari orang
tua dan anak yang masih menjadi tanggungjawab dan tinggal dalam
satu rumah, terpisah dari anak keluargalainnya.
24

2) Extended Family (keluarga besar), yaitu satu keluarga yang terdiri


dari satu atau dua keluarga inti yang tinggal dalam satu rumah dan
saling menunjang satu samalain.
3) Single parent family, yaitu satu keluarga yang dikepalai oelh satu
kepala keluarga dan hidup bersama dengan anak-anak yang masih
bergantungkepadanya.
4) Nuclear dyed, yaitu keluarga yang terdiri dari sepasang suami istri
tanpa anak, tinggal dalam satu rumah yangsama.
5) Blended family, yaitu suatu keluarga yang terbentuk dari
perkawinanpasangan, yang masing-masing pernah menikah dan
membawa anak hasil perkawinan terdahulu.
6) Three generation family, yaitu keluarga yang terdiri dari tiga
generasiyaitu kakek, nenek, bapak, ibu, dan anak dalam satu rumah.
7) Single adult living alone, yaitu bentuk keluarga yang hanya terdiri
dari satu orang dewasa yang hidup dalamrumahnya.
8) Middle age atau ederly couple, yaitu keluarga yang terdiri dari
sepasang suami istri paruhbaya (Friedman, 2010).
d. Struktur Keluarga
1) Struktur PeranKeluarga
Terdapat 2 perspektif dasar mengenai peran orientasi struktural
yang menekankan pengaruh normatif yaitu pengaruh yang
berkaitan dengan status – status tertentu dan peran – peran
terkaitnya dan orientasi interaksi yang menekankan timbulnya
kualitas peran yang lahir dari interaksi sosial. (Turner, 1970 dalam
Friedman, 2010).
a) PeranFormal
Keluarga membagi peran secara merata kepada para
anggota keluarga seperti cara masyarakat membagi peran –
perannya, bagaimana pentingnya pelaksanaan peran bagi suatu
25

sistem. Peran formal yang standar terdapat dalam keluarga


(pencari nafkah, ibu rumah tangga, tukang perbaiki rumah,
pengasuh anak dan manager keuangan).
Menurut Gaces, 1976 dalam (Friedman, 2010)
mendefinisikan 6 peran dasar yang membentuk posisi sebagai
suami (ayah) dan istri (ibu), peran-peran tersebut adalah peran
sebagai provider (penyedia), peran sosialisasi anak, peran
rekreasi, peran persaudaraan, peran terapeutik, (memenuhi
kebutuhan afektif dari pasangan), peran seksual.
b) Peran Informal
Peran informal bersifat implisit biasanya tidak tampak
kekuasaan permukaan dan dimainkan hanya untuk memenuhi
kebutuhan – kebutuhan emosional individu dan untuk menjaga
keseimbangan dalam keluarga (Stir, 1976 dalam Friedman,
2010).
2) Struktur Nilai
Nilai adalah sebuah keyakinan abadi yang mempunyai bentuk
perilaku spesifik (Rokeach, 1973 dalam Friedman, 2010).
Sedangkan nilai – nilai keluarga didefinisikan sebagai suatu sistem
ide, sikap, dan kepercayaan tentang nilai suatu keseluruhan atau
konsep yang secara sadar mupun tidak sadar mengikat bersama –
sama seluruh anggota keluarga dalam suatu budayalazim.
3) Struktur Kekuatan Keluarga
Kekuasaan merupakan kemampuan potensial maupun aktual dari
seorang individu untuk mengontrol, mempengaruhi, mengubah
tingkah laku seseorang. Kekuasaan keluarga sebagai sebuah
karakteristik dari sistem keluarga adalah kemampuan untuk
potensial maupun actual dari seseorang anggota individu untuk
mengubah tingkah laku anggota keluarga.
26

4) Pola dan Proses Komunikasi


a) Pola interaksi keluarga yang berfungsi bersifat terbuka dan
jujur, selalu menyelesaikan konflik, berfikiran positif, tidak
mengulang – ulang isu dan pendapatsendiri.
b) Karakteristik keluarga berfungsi sebagai karakteristik
pengirim dan karakteristik penerima. Karakteristik pengirim
berfungsi dalam mengemukakan sesuatu pendapat yang
disampaikan jelas dan berkualitas, selalu meminta dan
menerima umpan balik. Sedangkan karakteristik penerima
berfungsi siap mendengarkan, memberikan umpan balik,
melakukan validasi.

B. Kerangka Teori

MEKANISME
KOPING
1. Harapan akan
KECEMASAN self-efficacy
1. FaktorPresdisposisi 2. DukunganSosi
2. FaktorPresipitasi al
3. Optimisme
4. Pendidikan
5. JenisKelamin

KELUARGA
C. Kerangka Konsep 1. Peran
Formal
Kerangka konsep merupakan suatu2. uraian
Perandan visualisasi tentang hubungan
Informal
atau kaitan konsep-konsep atau variabel-variabel yang akan diamati atau
diukur melalui penelitian yang akan dilakukan (Notoatmodjo, 2012).
Adapun kerangka konsep dari penelitian ini tersaji dalam skema I berikut :
Skema I
Skema kerangka konsep
Covid -19

 Tidakadakecemasan
KECEMASAN  KecemasanRingan
 KecemasanSedang
 KecemasanBerat
27

MEKANISME KOPING  ADAPTIF


 MALADAPTIF