Anda di halaman 1dari 48

PROPOSAL SKRIPSI

ANALISIS PERBANDINGAN BIAYA PENGGUNAAN MATERIAL


POLIMER DAN MATERIAL KAYU LAPIS UNTUK BEKISTING
BETON
Disusun sebagai tugas untuk mendapatkan gelar sarjana teknik

Disusun Oleh :
Aldy Yafi – 41119120181
`

PROGAM STUDI TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MERCU BUANA
2020
LEMBAR PENGESAHAN SIDANG
SARJANA PROGRAM STUDI TEKNIK
SIPIL FAKULTAS TEKNIK
Q
UNIYERSITAS MERCU BUANA

Semester : Ganjil Tahun Akademik : 2020/2021

Tugas Akhir ini untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi persyaratan dan layak

memperoleh gelar Sarjana Teknik, jenjang Pendidikan Strata 1 (S-1), Program Studi

Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Mercu Buana, Jakarta

Judul Tugas Akhir :

ANALISIS PERBANDINGAN BIAYA PENGGUNAAN MATERIAL POLIMER

DAN MATERIAL KAYU LAPIS UNTUK BEKISTING BETON

Disusun Oleh :

Nama : Aldy Yafi

NIM : 41119120181

Progam Studi : Teknik Sipil

Telah diajukan dan dinyatakan LULUS pada Sidang Sarjana Tanggal

Mengetahui,

Pembimbing Tugas Akhir Sekretaris Progam Studi Teknik Sipil

Ir. Hamonangan Girsang, ST.MT.IPM. Ir. Muhammad Isradi, MT.IPM

Ketua Penguji Penguji Tugas Akhir 1

………………….. ………………………..

ii
LEMBAR PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama : Aldy Yafi

NIM : 41119120181

Fakultas : Teknik

Progam studi : Teknik Sipil

Universitas : Mercubuana Warung Buncit

Dengan ini menyatakan bahwa Tugas Akhir ini dibuat dengan data-data yang

didapatkan dari data Proyek dan juga dari sumber-sumber lain yang telah dicantumkan

referensinya

Jakarta, ……….

Penyusun/Penulis

Aldy Yafi

iii
ABSTRAK

Judul : Analisis Perbandingan Biaya Penggunaan Material Polimer dan Material

Kayu Lapis Untuk Bekisting Beton

Nama : Aldy Yafi., Nim : 41119120181

Dosen Pembimbing : Hamonangan Girsang, Ir., ST., MT., IPM., 2020

Perkembangan teknologi konstruksi bekisting pada saat ini semakin pesat sehingga

memberikan opsi kepada para pelaku konstruksi mengenai penggunaan metode

bekisting, bekisting merupakan acuan cetakan beton atau elemen struktur sementara

dalam dunia konstruksi, pemilihan penggunaan metode bekisting berperan penting

dalam pencapaian keberhasilan suatu pekerjaan struktur terutama dalam hal biaya

pekerjaan. Pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan harga antara

penggunaan bekisting kayu dengan bekisting bahan polimer . Penulisan Tugas Akhir ini

menggunakan metode deskriptif analisis, dimana data-data yang didapat dari berbagai

sumber selanjutnya dianalisa dan digunakan untuk proses penelitian dalam

membandingkan biaya. Untuk hasil penelitian itu sendiri masih dibutuhkan penelitian

sebagai pembuktian perbandingan harga antara penggunaan bekisting kayu dengan

bekisting bahan polimer.

Kata kunci : Perbandingan biaya, bekisting polimer, bekisting kayu lapis

iv
ABSTRACT

The development of formwork construction technology is currently increasing rapidly

so that it provides options for construction actors regarding the use of the formwork

method, formwork is a reference for concrete molds or temporary structural elements in

the world of construction, the choice to use the formwork method plays an important

role in achieving the success of a structural work, especially in terms of cost.

profession. This study aims to determine the price comparison between the use of wood

formwork and polymer formwork. The writing of this final project uses a descriptive

analysis method, where the data obtained from various sources are then analyzed and

used for the research process in comparing costs. For the results of the research itself,

research is still needed to prove the price comparison between the use of wood

formwork and polymer formwork.

Keywords: Cost comparison, polymer formwork, plywood formwork

v
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat, hidayah ,
serta karuniaNya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis
Perbandingan Biaya Penggunaan Material Polimer dan Material Kayu Lapis Untuk
Bekisting Beton”.

Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik
pada Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mercu Buana Jakarta. Dengan
adanya penulisan skripsi ini diharapkan dapat memberikan wacana dan manfaat
khususnya bagi penulis sendiri dan bagi orang lain pada umumnya.

Atas bantuan dan kerjasama yang baik dari semua pihak hingga selesainya skripsi ini,
penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Segenap Pimpinan Fakultas Teknik Univeritas Mercu Buana Jakarta.
2. Segenap Pimpinan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mercu Buana
Jakarta.
3. Ir. Muhammad Isradi, MT.IPM selaku Sekretaris Progam Studi Teknik Sipil.
4. Hamonangan Girsang, Ir., ST., MT., IPM., selaku Dosen Pembimbing yang telah
banyak memberikan arahan dalam menyusun laporan ini.
5. Rekan-rekan mahasiswa program transfer teknik sipil atas kerjasama dan
bantuannya.

Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan sumbangan
pemikiran bagi pembaca, karena banyak kekurangan yang masih harus diperbaiki.
Kritik dan saran akan penulis terima untuk kesempurnaan tulisan ini.

Jakarta, ………

Penulis

vi
Daftar Isi

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...............................................................................................i

LEMBAR PENGESAHAN...................................................................................ii

LEMBAR PERNYATAAN..................................................................................iii

ABSTRAK.............................................................................................................iv

KATA PENGANTAR...........................................................................................vi

DAFTAR ISI.........................................................................................................vii

DAFTAR TABEL.................................................................................................ix

DAFTAR GAMBAR..............................................................................................x

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang......................................................................................I-1

1.2. Identifikasi Masalah.............................................................................I-2

1.3. Rumusan Masalah................................................................................I-2

1.4. Tujuan Penelitian..................................................................................I-2

1.5. Manfaat Penelitian................................................................................I-2

1.6. Pembatasan Masalah............................................................................I-3

1.7. Sistematika Penulis...............................................................................I-3

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan Teori....................................................................................II-5

2.2. Syarat dan Ketentuan Dalam Pekerjaan Bekisting.............................II-7

2.3. Jenis dan Tipe Bekisting....................................................................II-8

2.4. Material Penyusun Bekisting...........................................................II-11


vii
Daftar Isi

2.4.1. Kayu.....................................................................................II-11

2.4.2. Multiplex..............................................................................II-11

2.4.3. Material Penompang (Perancah) dan Pemikul.....................II-12

2.5. Tabel Penelitian Terdahulu...........................................................II-14

2.6. Kerangka Berpikir.........................................................................II-24

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Metodologi Penelitian..................................................................III-26

3.1.1. Penjelasan Diagram Alir Tugas Akhir...............................III-28

3.2. Tempat dan Waktu Penelitian......................................................III-31

3.3. Instrument Penelitian..................................................................III-31

3.3.1. Data Primer.......................................................................III-31

3.3.2 Data Sekunder....................................................................III-32

3.4. Jadwal Penelitian........................................................................III-32

DAFTAR PUSTAKA...............................................................................III-34

viii
Daftar Isi

viii
Daftar Tabel

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Klasifikasi Kayu di Indonesia...........................................................II-11

Tabel 2.2 Tabel Penelitian Terdahulu.............................................................II-15

Tabel 3.1 Time Schedule Peneltian..................................................................III-34

ix
Daftar Gambar

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Bekisting Konvensioal.....................................................................II-9

Gambar 2.2 Bekisting Semi Sistem...................................................................II-10

Gambar 2.3 Bekisting Sistem (PERI)................................................................II-11

Gambar 2.4 Diagram Kerangka Berfikir............................................................II-25

Gambar 2.4 Diagram Kerangka Berfikir..........................................................III-28

x
Bab I Pendahuluan

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan teknologi konstruksi bekisting pada saat ini semakin pesat sehingga

memberikan opsi kepada para pelaku konstruksi mengenai penggunaan metode

bekisting, bekisting merupakan acuan cetakan beton atau elemen struktur sementara

dalam dunia konstruksi, pemilihan penggunaan metode bekisting berperan penting

dalam pencapaian keberhasilan suatu pekerjaan struktur terutama dalam hal biaya

pekerjaan. Bekisting metode konvensional merupakan bekisting yang untuk pasang dan

bongkarnya dengan cara melepas komponen bekisting satu per satu bagian, sedangkan

metode semi sistem ialah pengabungan dari bekisting sistem dengan konvensional

Namun dalam pembangunan sebuah konstruksi sangat membutuhkan material kayu

dalam jumlah yang besar. Dimana kayu adalah material yang telah lama digunakan

sebagai bahan bekisting untuk pekerjaan struktur beton bertulang. Sebagian besar kayu

yang digunakan selama ini telah berperan merusak hutan. Hutan semakin lama semakin

berkurang dengan cepat dan kayu pun semakin langka. Seiring dengan perkembangan

teknologi konstruksi, salah satu langkah untuk menghemat penggunaan kayu adalah

dengan menggunakan sistem bekisting modern seperti Peri Sistem. Selain dapat

mengurangi penggunaan kayu, sistem bekisting dengan bahan polimer juga dapat

mengurangi biaya bekisting konstruksi karena penggunaanya dapat dilakukan berkali-

kali.

Oleh karena itu, penulis bertujuan untuk membandingkan antara bekisting konvensional

dengan sistem bekisting modern dari segi biaya.

I-1
Bab I Pendahuluan

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat diidentifikasi beberapa masalah sebagai

berikut:

1. Perlu dilakukannya analisa harga satuan bekisting antara bekisting kayu dengan

bekisting bahan polimer.

2. Perlu dilakukan estimasi untuk mengetahui biaya pelaksanaan bekisting antara

bekisting kayu dengan bekisting bahan polimer.

1.3 Rumusan Masalah

Dalam penulisan tugas besar ini penulis mengangkat beberapa masalah yang akan dikaji

pada tugas besar ini, yaitu :

1. Bagaimanakah cara membuat analisa harga satuan bekisting kayu dengan

bekisting bahan polimer ?

2. Berapakah selisih harga antara penggunanaan bekisting kayu dengan bekisting

bahan polimer ?

1.4 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dilakukan penelitian ini adalah:

1. Mengetahui cara membuat analisa harga satuan bekisting kayu dan bekisting bahan

polimer.

2. Mengetahui perbandingan harga antara penggunaan bekisting kayu dengan

bekisting bahan polimer.

I-2
Bab I Pendahuluan

1.5 Manfaat Penelitian

Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah:

1. Bagi peneliti, dapat mengetahui cara membuat Analisa harga satuan dalam kasus

nyata serta memberikan analisis secara mendetail terhadap perbandingan harga

antara bekisting kayu dengan bekisting bahan polimer.

2. Bagi kontraktor, dapat dijadikan gambaran antara penggunaan bekisting kayu

dengan bekisting bahan polimer.

3. Bagi kampus/akademisi, dapat dijadikan sumber referensi penggunana bekisting

kayu dengan bekisting bahan polimer

1.6 Pembatasan Masalah

Mengingat akan keterbatasan waktu yang ada dalam penyusunan tugas akhir ini, maka

penulis menganalisis batasan permasalahan yang menjadi beberapa point :

1. Pengambilan data diambil pada proyek pembangunan Jalan Tol Bekasi-Cawang-

Kampung Melayu Seksi Ramp On/Off Jatiwaringin Sisi Barat

2. Analisis harga menggunakan produktifitas pekerja pada proyek pembangunan Jalan

Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu Seksi Ramp On/Off Jatiwaringin Sisi Barat.

1.7 Sistematika Penulisan

Dalam menyusun tugas besar ini penulis menggunakan sistematika penulisan dengan

beberapa bab sehingga pembaca dapat dengan mudah memahami isi dari tugas besar ini,

yang secara garis besar disusun sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

I-3
Bab I Pendahuluan

Berisikan tentang latar belakang, identifikasi masalah, perumusan masalah, maksud dan

tujuan penelitian, manfat penelitian, pembatasan dan ruang lingkup masalah.

BAB II Kajian Pustaka

Bab ini mengulas tentang teori-teori yang digunakan sebagai acuan dalam skripsi

ini.Studi pustaka dilakukan pada buku-buku referensi yang ada, jurnal ,bahan kuliah,

dan sumber lain yang mendukung penelitian ini.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Bab ini memaparkan pembahasan mengenai metodologi penelitian yang mencakup

penetapan metodeanalisis, identifikasi data, pola pengumpulan data, dan pola

pengolahan data, serta penentuan variable yang akan digunakan.

BAB IV PEMBAHASAN

Bab ini berisi pembahasan hasil pengolahan data yang dilakukan pada bab III dengan

menggunakan metode yang diuraikan.

BAB V KESIMPULAN & SARAN

Bab ini berisi tentang kesimpulan yang didapatkan dari pembahasan pada bab-bab

sebelumnya dan saran mengenai temuan-temuan penting untuk dijadikan pertimbangan,

serta saran tindak lanjut terhadap hasil yang diperoleh dari penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

I-4
Bab II Tinjauan Pustaka

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Teori

Rencana Anggaran Biaya (RAB) adalah sebuah prakiraan biaya material, biaya

upah, dan biaya lain – lain yang dibutuhkan untuk mendirikan suatu bangunan

(Daghu et al., 2019) Definisi perkiraan biaya menurut National Estimating

Society-USA adalah seni memperkirakan (the art of approximating)

kemungkinan jumlah biaya yang diperlukan untuk suatu kegiatan yang

didasarkan atas informasi yang tersedia pada waktu itu. Menyusun perkiraan

biaya berarti melihat masa depan, memperhitungkan dan mengadakan prakiraan

atas hal-hal yang akan dan mungkin terjadi. Prakiraan biaya merupakan

perhitungan banyaknya biaya yang diperlukan untuk bahan dan upah, serta biaya

lain yang berhubungan dengan pelaksanaan suatu proyek. Perkiraan biaya

diperlukan untuk setiap pekerjaan dalam suatu proyek konstruksi sehingga akan

diperoleh anggaran biaya total yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu

proyek. Anggaran biaya merupakan harga dari bangunan dihitung secara teliti,

cermat, dan memenuhi syarat (Wahyudi & Boer, 2019)

Anggaran biaya pada bangunan yang sama akan berbeda-beda di masing-masing

daerah. Faktor-Faktor yang mempengaruhi perbedaan biaya pembangunan :

1. Biaya Transportasi

2. Biaya kerja

3. Jarak

4. Perbedaan Bahan Yang Digunakan

5. Perbedaan Harga Bahan (Sekarsari et al., 2018)

II-5
Bab II Tinjauan Pustaka

Dalam menyusun biaya diperlukan gambar-gambar bestek serta rencana kerja,

daftar upah, daftar harga bahan, buku analisis, daftar susunan rencana biaya,

serta daftar jumlah tiap jenis pekerjaan. Biaya (anggaran) adalah jumlah dari

masing-masing hasil perkiraan volume denga harga satuan pekerjaan yang

bersangkutan

Dalam menghitung anggaran biaya, perlu memperhatikan ketentuan-ketentuan

sebagai berikut : Semua bahan untuk penyusunan anggaran biaya dikumpulkan

dan diatur dengan rapih ; Gambar-gambar rencana/gambar bestek dan penjelasan

atau keterangan yang tercantum dalam peraturan dan syarat-syarat ; Membuat

catatan sebanyak mungkin yang penting, baik mengenai gambar.; Menentukan

system yang tepat dan teratur yang akan dipakai dalam perhitungan. Penyusunan

anggaran biaya dilaksanakan dengan cara pembuatan daftar-daftar sebagai

berikut :

Dalam memperkirakan biaya proyek banyak sekali metode yang dapat

digunakan, salah satunya yaitu analisa harga satuan metode lapangan. Menurut

A.Soedradjat Sastraatmadja dalam buku Anggaran Biaya Pelaksanaan

menjelaskan penaksiran anggaran biaya adalah proses perhitungan volume

pekerjaan, harga dari berbagai macam bahan dan pekerjaan yang akan terjadi

pada suatu konstruksi. Karena taksiran dibuat sebelum dimulainya pembangunan

II-6
Bab II Tinjauan Pustaka

maka jumlah ongkos yang diperoleh ialah taksiran bukan biaya sebenarnya

(actual cost). Secara umum proses analisa harga satuan pekerjaan dengan

metode Lapangan/Kontraktor adalah sebagai berikut :

1. Membuat Daftar Harga Satuan Material dan Daftar Harga Satuan

Upah

2. Menghitung harga satuan bahan dengan cara ; perkalian antara harga

satuan bahan dengan nilai koefisien bahan,

3. Menghitung harga satuan upah kerja dengan cara ; perkalian antara

harga satuan upah dengan nilai koefisien upah tenaga kerja,

4. Harga satuan pekerjaan = volume x (jumlah bahan + jumlah upah

tenaga kerja).

5. Rencana Anggaran Biaya penawaran proyek

6. Site plan Perumahan

2.2 Syarat dan Ketentuan Dalam Pekerjaan Bekisting

Bekisting merupakan pekerjaan yang penting didalam pelaksanaan pekerjaan

beton, karena bentuk, posisi, serta ukuran dari beton ditentukan oleh pekerjaan

bekisting dan sebagai struktur penyangga sementara bagi seluruh beban pada

pekerjaan beton (Aek et al., 2019). Adapun persyaratan bekisting adalah sebagai

berikut :

a. Bekisting harus kuat dan mampu mendukung beban kerja dan getaran getaran

vibrator selama pengecoran sehingga dapat menjamin kedudukan konstruksi

yag tetap.

b. Bekisting harus kaku atau (rigid) untuk menahan beban beban yang bekerja

selama pembangunan berlangsung, sehingga dapat mempertahankan bentuk

dan dapat mencetak struktur beton sesuai rancangan.

II-7
Bab II Tinjauan Pustaka

c. Bekisting harus cukup stabil dan kuat untuk dapat mempertahankan garis

alinyemen bebagai bagian struktur beton.

d. Bekisting cukup kokoh dan tidak akan mengalami kerusakan permukaan

perubahan bentuk dan ukuran pada waktu di angkut ataupun di gunakan

ulang.

e. Permukaan bekisting harus rapat dan rata, serta dapat mencegah,

merembesnya air semen, sehingga jumlah Faktor Air Semen (FAS) tidak

berkurang.

f. Permukaan bekisting harus terbuat dari bahan baik, dan tidak mudah meresap

air, sehingga waktu pembongkaraannya dengan mudah dapat dilepaskan dari

permukaan beton tanpa menyebabkan kerusakan pada beton(SM & Yulianto,

2017)

2.3 Jenis dan Tipe Bekisting

Jenis bekisting secara umum dibagi menjadi 3 tipe yaitu bekisting konvensional,

bekisting semi sistem dan bekisting sistem (Pandu et al., 2018)

a. Bekisting konvensional

Adalah bekisting yang setiap kali setelah dilepas dan dibongkar menjadi

bagian-bagian dasar, dapat disusun kembali menjadi sebuah bentuk lain.

Pada umumnya bekisting konvensional terdiri dari kayu papan atau material

balok, sedangkan konstruksi penopang disusun dari kayu balok (pada lantai).

Bekisting konvensional ini memungkinkan pemberian setiap bentuk yang

diinginkan pada kerja beton. Keunggulan bekisting konvensional adalah:

1. Materialnya mudah dicari.

2. Murah.

3. Tidak memerlukan pekerja yang ahli.

II-8
Bab II Tinjauan Pustaka

Kekurangan bekisting konvensional adalah:

1. Material kayu tidak awet untuk dipakai berulang-ulang kali.

2. Waktu untuk pasang dan bongkar bekisting menjadi lebih lama.

3. Banyak menghasilkan sampah kayu dan paku.

Gambar 2.1 Bekisting Konvensioal

b. Bekisting Semi Sistem

Dengan berbagai kekurangan metode bekisting konvensional tersebut maka

direncanakanlah sistem bekisting semi sistem yang terbuat dari plat baja

atau besi hollow. Untuk satu unit bekisting semi sistem ini material yang

digunakan jauh lebih awet dan tahan lama dari bekisting konvensional,

sehingga dapat digunakan seterusnya sampai pekerjaan selesai, jadi jika

ditotal sampai selesai pelaksanaan, bekisting semi sistem ini menjadi jauh

lebih murah. Keunggulan bekisting semi sistem adalah tahan lama dan lebih

murah. Kekurangan bekisting semi sistem adalah memerlukan area untuk

pabrikasi bekisting

II-9
Bab II Tinjauan Pustaka

Gambar 2.2 Bekisting Semi Sistem

c. Bekisting Sistem (PERI)

Bekisting sistem adalah elemen-elemen bekisting yang dibuat di pabrik,

sebagian besar komponen-komponen yang terbuat dari baja. Bekisting

sistem dimaksudkan untuk penggunaan berulang kali. Tipe bekisting ini

dapat digunakan untuk sejumlah pekerjaan. Bekisting sistem dapat pula

disewa dari penyalur alat-alat bekisting. Dalam dunia konstruksi, bekisting

ini termasuk pemakaian bekisting modern. Dengan bobot yang ringan pada

setiap komponen dapat mempermudah proses perakitan dan pembongkaran

(Rafik & Cahyani, 2017)

Keunggulan dari bekisting sistem (PERI) adalah:

1. Mudah dipasang dan dibongkar.

2. Ringan.

3. Dapat dipakai berulang kali.

4. Kualitas pengecoran baik dengan siklus pembongkaran yang cepat serta

dapat dipakai pada pekerjaan konstruksi beton yang besar.

II-10
Bab II Tinjauan Pustaka

Kekurangan dari bekisting sistem (PERI) adalah mahal dan

membutuhkan keahlian dan peralatan berat dari baja (Rosaria Kristy

Anggraeni et al., 2017)

Gambar 2.3 Bekisting Sistem (PERI)

2.4 Material Penyusun Bekisting

Meterial yang umumnya digunakan dalam pekerjaan bekisting

konvensional adalah sebagai berikut :

2.4.1. Kayu

Penggunaan kayu sebagai material bekisting diatur ketentuan dan ketentuan

dan persyaratanya dalam Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia (PKKI).

Dalam peraturan PPKI ini jenis-jenis kayu diklasifikasikan berdasarkan berat

jenis, kekuatan tekan mutlaknya menjadi 5 ( lima) kelas.

No Kelas kuat Berat jenis Kuat lentur Kuat tekan


kering mutlak mutlak
udara 2
(kg/cm ) (kg/cm )
2

1 I > 0,9 3)
(gr/cm > 1100 > 650
2 II 0,90 – 0,60 1100 – 725 650 – 425
3 III 0,60 – 0,40 725 – 500 425 – 300
4 IV 0,40 – 0,30 500 - 360 300 - 215

II-11
Bab II Tinjauan Pustaka

5 V < 0,30 < 360 < 215


Sumber : PPKI Tahun 1961

Tabel 2.1 Klasifikasi kayu di Indonesia

2.4.2. Multiplex

Triplek terdiri sejumlah lapisan kayu finer yang direkatkan bersilang satu di

atas yang lain. Pada umumnya lapisan-lapisan finer dikupas dari sebatang kayu

bulat; finer yang ditusuk akan memperhatikan retakan-retakan kecil di

permukaannya. Ketebalan satu lapisan finer berkisar antara 1,5 – 2,5 hingga 3

mm. setiap lapis finer dari satu plat tidak harus sama tebal dan dari jenis kayu

yang sama.

Dalam penggunaannya sebagai material kontak, lapisan terluar daripada triplek

ini harus terbuat dari kualitas kayu yang lebih baik daripada lapisan yang ada

didalamnya dan yang paling utama adalah tahan lama serta tahan aus.

2.4.3. Material Penopang (Perancah) dan Pemikul

Tuntutan-tuntutan terpenting yang yang diharapkan dari suatu penompang


dalam suatu konstruksi bekisting adalah :

1) Dengan bobot yang ringan harus dapat dan mampu untuk memindahkan
beban-beban yang relatif berat.

2) Tahan terhadap penggunaan yang berlangsung kasar.

3) Pemasangan dan penyetelan dengan cara yang sederhana

4) Sesedikit mungkin komponen-komponen lepas

5) Mudah dikontrol

6) Dapat dipakai berulang-ulang

Penopang dapat dibagi dalam beberapa kelompok utama, antara lain yaitu:

1) Stempel kayu (penopang dari kayu)

Stempel dari kayu gergajian, kayu bulat dan kayu yang diberi
II-12
Bab II Tinjauan Pustaka

kekuatan, sudah digunakan sejak dahulu sebagai alat penopang pada


bekisting. Tetapi dalam tahun-tahun terakhir ini penggunaannya
semakin berkirang. Karena muncul bebagai macam material yang
tidak memerlukan terlampau banyak penanganan namun dengan
kemungkinan penyetelan yang sangat luas.

2) Stempel baja

Pada beban-beban yang lebih besar, stempel baja tetap menarik


untuk dijadikan pilihan sebagai penompang. Sekalipun harganya
relatif mahal. Sebaliknya material untuk stempel ini digunakan
dalam bentuk profil. Dikombinasikan dengan penyangga dan balok-
balok atas dari baja maka terbentuklah pemikul.

3) Steger pipa dari baja

Komponen-komponen untuk membuat sebuah steger pipa baja


terdiri dari bagian yang ringan dengan bantuan perangkai-perangkai
dapat dihubungkan satu sama lain dengan cara sederhana. Profil baja
yang diperlukan adalah pipa yang dilas tumpul dengan garis tengah
sebesar 48,3 mm, ketebalanya 3,6 kg/m. pipa steger dapat diperoleh
dalam ukuran panjang 1-1.5,2,3,4, dan 6 m. dengan beban yang
diijinkan untuk satu tiang bervariasi antara 5 sampai 40 kN.
Meskipun pendirian sebuah penopang dari steger pipa mememrlukan
banyak pengerjaan, namun material ini bisa sangat menarik untuk
sebuah bekisting. Karena dengan steger pipa dapat disususn
konstruksi-konstruksi yang paling rumit sekalipun.

4) Steger sistem dari baja

Dibandingkan dengan steger pipa dari baja, steger sistem ini


mempunyai kelebihan sebagai berikut:

• Tidak begitu banyak memerlukan pengerjaaan.

• Tidak memerlukan tenaga ahli.

• Komponennya lebih sedikit.

• Menara-menara yang dibangun sudah mempunyai stabilitas


sendiri.
II-13
Bab II Tinjauan Pustaka

Steger-steger sistem dapat dirangtkai dalam arah ketinggianny,


sedangkan pembangunannya dapat dilaksanakan dengan cepat.
Steger-steger sistem dibangun melalui penumpukan sebuah kuda-
kuda dengan menggunakan 2 tiang atau sebuah menara dengan
menggunakan 3 atau 4 tiang

II-14
Bab II Tinjauan Pustaka

2.5 Tabel Penelitian Terdahulu

Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu

No Judul Penulis Lokasi Tujuan Variabel Metode Analisis Hasil


(tahun)
1 Analysis Of Bobi Eko Menganalisis Y : Biaya Metode penelitian Hasil dari penelitian
National
Contruction Cost Iswahyudi Efisiensi biaya X1 : Metode kuantitatif dengan ini adalah efisiensi
Institute of
Efficiency Between , Subandiyah antara metode bekisting cara menganalisis harga bangunan antara
Technology
Precast Method and Azis pracetak dan konvensional dua data yang metode pracetak dan
Malang
Conventional , Andrianus metode X2 : Metode berbeda metode konvensional
(2017)
Method In Agus Santosa konvensional bekisting Precast di Gedung

Building Project Perpustakaan Institut

Agama Islam Negeri

Samarinda

Proyek adalah Rp.

341.372.815,86 atau

II-15
Bab II Tinjauan Pustaka

7,12%
2 Analisa Alya Universitas Membandingkan Y : Biaya dan Analisis dengan Dari segi biaya,

Perbandingan Biaya Risdiyanti, Wijaya Biaya dan Waktu Waktu pendekatan data metode konvensional

dan Waktu Antara Siswoyo Kusuma Antara Metode X1 : Metode secara lebih efisien 0.04

Metode Surabaya Konvensional dan bekisting Kuantitatif (RAB, % dari metode

Konvensional dan (2018) Pracetak konvensional Kurva S, gambar) pracetak. Sedangkan

Pracetak (Studi X2 : Metode metode pracetak

Kasus : Under Pass bekisting lebih efisien dari

Bundaran Satelit Pracetak segi waktu sebesar

Mayjend Sungkono 10,94 % dari metode

Surabaya) konvensional.

Presentase keuntungan

yang besar ada pada

metode pracetak yaitu

penghematan sebesar

10,94 %. Maka,

II-16
Bab II Tinjauan Pustaka

metode pracetak lebih

efisien
3 Analisis I Made Universitas Menganalisis Y : Biaya Analisis dengan 1. dengan

Penghematan Biaya Pandu Weda Udayana biaya bekisting X : Metode pendekatan data menggunakan

Penggunaan Wiguna, I (2018) Pelat lantai untuk bekisting secara bekisting pelat

Bekisting Pelat Gusti Agung bangunan tipikal konvensional Kuantitatif (RAB, konvensional model

Lantai Adnyana Kurva S, gambar panel dapat

Konvensional Putera, G.A.P mengefisiensikan

Model Panel Pada Candra pemakaian bekisting

Bangunan Tipikal Dharmayanti hingga 6 kali

(Studi Kasus Pada pemakaian, dan

Proyek Amartha kemudahan dalam

Residence) melakukan bongkar

pasang

2. penghematan yang

dilakukan sebesar

II-17
Bab II Tinjauan Pustaka

69% dari nilai kontrak

di RAB
4 Studi Perbandingan Yehezkhiel Universita Membandingkan Y : Biaya Membuat Analisa (1) Bahan pelat

Biaya Bahan Pada Daghu Tribhuwana biaya bahan X1 : Bahan kayu Harga Satuan dari bondek lebih murah

Bekisting Kayu dan , Andy Tunggadewi bekisting kayu X2 : Bahan bekisting kayu dan 9% dari bahan

Bondek Pada Kristafi (2019) pelat lantai dan Bondek bondek. bekisting kayu,

Museum MPU Arifianto bondek. (2) Pelat bondek lebih

Purwa Kota Malang , Handika mudah dalam

Seytia pelaksanaan,

Wijaya (3) Material untuk

pekerjaan bekisting

kayu lebih mudah

didapatkan dibanding

dengan pelat bondek.

Berdasarkan ketiga

aspek tersebut, untuk

II-18
Bab II Tinjauan Pustaka

pemilihan khususnya

pekerjaan pelat

direkomendasikan

untuk menggunakan

pelat bondek.
5 Tingkat Efisiensi M Rizal Universitas Membandingkan Y : Biaya Membuat Analisa Tingkat efisiensi biaya

Biaya Pekerjaan Wahyudi, Islam Riau biaya untuk X1 : Metode Harga Satuan dari pekerjaan bekisting

Bekisting Struktur Astuti Boer (2019) bekisting Core Semi Sistem bekisting semi struktur core wall

Core Wall Wall X2 : Metode sistem dan untuk perbandingan

Menggunakan menggunakan Climbing System climbing system menggunakan

Metode Semi metode konvensional dengan

Sistem dan konvensional dan semi sistem sebesar

Climbing System nonkonvensional 25,97% dan untuk

perbandingan

menggunakan metode

konvensional dengan

II-19
Bab II Tinjauan Pustaka

climbing system

sebesar 1,13%
6 Analisis Dewi Universitas Membandingkan Y : Biaya Membuat Analisa Perbedaan indeks,

Perbandingan Biaya Sekarsari Sam biaya nyata yang X1 : Metode Harga Satuan daftar harga Bahan

Nyata Dengan SNI, Jantje B. Ratulangi terjadi dilapangan Analisa SNI Metode SNI dan dan Upah

Pembangunan Ruko Mangare, (2018) dengan biaya SNI X2 : Metode Metode di mempengaruhi harga

di Daerah Sorong Revo L. (RAB) Analisa di Lapangan satuan pekerjaan.

Papua Barat Ingkiriwang Lapangan Sehingga hasil

Terhadap Daerah perhitungan didapat

Manado Sulawesi adalah harga biaya

Utara nyata lebih kecil dari

biaya SNI
7 Analisa Hario Surya Universitas Membandingkan Y : Biaya dan Membuat Analisa Jika mengutamakan

perbandingan Pratama, Diponegoro penggunaan Waktu Harga Satuan dan segi biaya, pekerjaan

penggunaan Rosaria (2017) bekisting X1 : bekisting analisa waktu dari bekisting lebih tepat

bekisting Kristy konvensional, konvensional bekisting menggunakan

II-20
Bab II Tinjauan Pustaka

konvensional, semi Anggraeni, semi sistem, dan X2 : Bekisting konvensional, bekisting semi sistem.

sistem, dan sistem Arif Hidayat, sistem Semi Sistem sistem dan semi Jika mengutamakan

pada kolom gedung Riqi Radian X3 : Bekisting sistem dari segi waktu,

bertingkat Khasani Sistem pekerjaan bekisting

lebih tepat

menggunakan

bekisting

sistem(PERI) karena

durasi pekerjaan

bekisting sistem lebih

cepat.
8 Tinjauan Aumur Rafik, Politeknik Membandingkan Y : Biaya Membuat Analisa Dari hasil perhitungan

perbandingan biaya Rinova Negeri Biaya X1 : bekisting Harga Satuan dari analisa harga satuan

penggunaan Firman Banjarmasin pelaksanaan kayu bekisting kayu, terdapat selisih

bekisting kolom Cahyani (2017) pekerjaan X2 : Bekisting plywood dan perbandingan biaya

kayu, plywood dan menggunakan plywood sistem peri yang cukup jauh

II-21
Bab II Tinjauan Pustaka

sistem peri (peri bekisting kayu, X3 : Bekisting antara bekisting kayu,

lico) plywood, dan sistem peri plywood, dan sistem

Peri sistem (Lico) peri (dalam harga

sewa) yaitu 1 : 1 : 8
9 Analisa Paskalis Aek Universita Membandingkan Y : Biaya dan Membuat Analisa 1. Menggunakan

Perbandingan , Suhudi Tribhuwana Biaya waktu Harga Satuan dan bekisting pra cetak

Penggunaan , Handika Tunggadewi pelaksanaan X1 : bekisting Analisa waktu dari lebih murah dan

Bekisting Setya Wijaya (2019) pekerjaan konvensional bekisting efisien dibandingkan

Konvensional menggunakan X2 : Bekisting konvensional dengan

dengan bekisting pracetak dengan bekisting menggunakan

Pra Cetak pada konvensional pracetak bekisting

Pekerjaan Kolom dengan Pracetak konvensional

Apartemen 2. Hasil analisa waktu

Begawan Malang yang didapat adalah

yang dapat digunakan

dua jenis

II-22
Bab II Tinjauan Pustaka

bekisting agar

menghasilkan waktu

yang paling efektif

dan efesien yakni

bekisting pra cetak.


10 Perbandingan Biaya Hastanto S.M Sekolah Membandingkan Y : Biaya dan Membuat Analisa Dari perbandingan

dan Durasi , Tinggi Biaya waktu Harga Satuan dan biaya perhitungan

Pelaksanaan Gilang Teknik PLN pelaksanaan X1 : bekisting Analisa waktu dari harga

Pekerjaan Bekisting Yulianto (2017) pekerjaan multipleks bekisting pekerjaan bekisting

Multipleks dan menggunakan X2 : Batako multipleks dengan multipleks dan

Batako Pada bekisting batako bekisting

Pekerjaan Pile Cap multipleks batako menunjukan

Proyek Double – dengan batako bahwa bekisting

Double Track multipleks dapat

Stasiun Manggarai menghemat biaya

34,97%

II-23
Bab II Tinjauan Pustaka

begitupun terhadap

waktu pelaksanaan

bekisting multipleks

lebih cepat 46.69 %

dibanding dengan

bekisting batako

II-24
Bab II Tinjauan Pustaka

2.6 Kerangka Berfikir

Menurut Sugiyono (2014:93) mengemukakan bahwa kerangka


berpikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori
berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai
masalah yang penting.

Mulai

Identifikasi Masalah

Rumusan Masalah

Tujuan Permasalahan

Tinjauan Pustaka

Pengumpulan Data

Data Primer Data Sekunder

Data Teknis Proyek Jurnal, Buku, Penelitian


(AHS,Gambar kerja) terdahulu

II-25
Bab II Tinjauan Pustaka

Analisis Data

Kesimpulan dan Saran

Selesai

Gambar 2.4 Diagram Kerangka Berfikir

II-26
Bab II Tinjauan Pustaka

II-27
Bab III Metodologi Penelitian

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metodologi Penelitian

Penulisan Tugas Akhir ini menggunakan metode deskriptif analisis, dimana

data-data yang didapat dari berbagai sumber selanjutnya dianalisa dan

digunakan untuk proses penelitian dalam membandingkan biaya, antara

pekerjaan bekisting system peri dengan bekisting konvensional pada proyek

pembangunan Jalan Tol Bekasi Cawang-Kampung Melayu Seksi Ramp On/Off

Jatiwaringin Sisi Barat. Baik berupa wawancara, pengamatan secara menyeluruh

maupun dengan kajian pustaka. Pada penelitian ini dilakukan analisis terhadap

pelaksanaan pekerjaan bekisting pada struktur dengan menggunakan data primer

dan data skunder. Metode penelitian deskriptif analitis bertujuan untuk

menganalisa terhadap suatu pekerjaan. Serta mengidentifikasi masalah dan

memeriksa kondisi dari praktek yang dilaksanakan dilapangan, membuat

perbandingan atau evaluasi dan menentukan apa yang dilakukan orang lain

dalam menghadapi masalah yang sama dan belajar dari pengalaman mereka

untuk menentukan apa yang dilakukan orang lain dalam menghadapi masalah

yang sama untuk menetapkan rencana dan keputusan pada waktu yang akan

datang sehingga dapat mengidentifikasi masalah-masalah dan dapat di antisipasi

pada proyek-proyek selanjutnya.

III-28
Bab III Metodologi Penelitian

Langkah-langkah dalam metode penelitian yang akan dilakukan, dapat dilihat

dalam diagram alir dibawah ini :

Mulai

Identifikasi dan Perumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Pengumpulan Data

Data Primer
Data Sekunder

Analisis Data
 Harga satuan Bekisting Sistem
 Harga satuan Bekisting Konvensional

Validasi Pakar

Kesimpulan

Selesa
i

Gambar 3.1 Diagram Alir

III-29
Bab III Metodologi Penelitian

Metode penelitian adalah langkah-langkah atau cara-cara penelitian suatu

masalah, kasus, gejala, atau fenomena dengan jalan ilmiah untuk

menghasilkan jawaban yang rasional. Metode penelitian digunakan

sebagai dasar akan langkah- langkah berurutan yang didasarkan pada

tujuan penelitian dan menjadi suatu perangkat yang digunakan untuk

menarik kesimpulan, sehingga dapat diperoleh penyelesaian yang

diharapkan untuk mencapai keberhasilan penelitian.

Data yang diperoleh dari penelitian yang menggambarkan suatu kondisi

proyek tertentu disusun rapi dan dianalisis. Metode yang digunakan

dalam penelitian ini adalah metode analisis dan deskriptif. Analisis

berarti data yang sudah ada diolah sedemikian rupa sehingga

menghasilkan hasil akhir yang dapat disimpulkan. Deskriptif maksudnya

memaparkan masalah-masalah yang sudah ada atau tampak.

3.1.1 Penjelasan Diagram Alir Penyusunan Tugas Akhir

1. Latar Belakang

Merupakan Latar Belakang adalah dasar atau titik tolak untuk

memberikan pemahaman kepada pembaca atau pendengar mengenai

apa yang ingin kita sampaikan. Latar belakang disusun dengan sejelas

mungkin dan disertai dengan data atau fakta yang mendukung.

2. Identifikasi dan Perumusan Masalah

Merupakan kegiatan awal yang dilakukan untuk dapat membuat

rencana untuk setiap pekerjaan yang ada dalam pelaksanaan

pekerjaan. Kegiatan identifikasi dan perumusan masalah bertujuan


III-30
Bab III Metodologi Penelitian

agar dapat mengetahui perbandingan antara bekisting konvensional

dengan bekisting sistem (PERI).

3. Tujuan Penelitian

Merupakan kegiatan penentuan tujuan yang dihasilkan berdasarkan

identifikasi dan perumusan masalah yang ditinjau dari tugas akhir

ini.

4. Pengumpulan Data

Merupakan tahap pengumpulan informasi dari objek permasalahan

yang ditinjau. Ada 2(dua) jenis data, yaitu :

a. Data Primer, adalah data yang diperoleh langsung dari

sumber asli mengenai pelaksanaan pekerjaan.

b. Data Sekunder, adalah data yang diperoleh dengan cara

mengumpulkan sumber informasi yang berupa dokumen-

dokumen yang sudah ada.

5. Analisis Data

Merupakan tahap mengolah dan menganalisis data yang ada

tentang pelaksanaan pekerjaan menjadi sebuah hasil yang dapat

dijadikan acuan dalam pelaksanaan pekerjaan yang terkait meliputi

antara lain :

a. Dokumen tertulis, berupa, Shop Drawing dan Site

III-31
Bab III Metodologi Penelitian

Instruction dan Rencana Spesifikasi Teknis.

b. Harga satuan peralatan.

c. Harga satuan material.

d. Harga satuan upah pekerja

e. Harga satuan bekisting sistem dan bekisting

konvensional

6. Validasi Pakar

Hasil analisis yang diperoleh divalidasi oleh pakar yang relevan

dan berkompeten. Dan ketentuan ketentuan yang didapat pada

penelitian di konfirmasi kebenaranya oleh pakar yang

berkompeten. Selain itu hasil analisis juga ditambahkan dengan

saran dan masukan dari pakar tersebut. Kriteria Pakar yang terlibat

dalam penyusunan tugas akhir ini yaitu yang bekerja pada bidang

teknik sipil serta mempunyai pengalaman lebih dari 10 tahun pada

bidang konstruksi. Pakar yang dipakai pada penyusunan tugas akhir

ini yaitu :

1. Manager Proyek pembangunan Jalan Tol Bekasi Cawang-

Kampung Melayu Seksi Ramp On/Off Jatiwaringin Sisi

Barat

2. Ast. Manager Adkon & Rendal Proyek pembangunan

Jalan Tol Bekasi Cawang-Kampung Melayu Seksi Ramp

On/Off Jatiwaringin Sisi Barat


III-32
Bab III Metodologi Penelitian

3. Ast. Manager Teknik & Pengadaan, Kepala Lapangan

Proyek pembangunan Jalan Tol Bekasi Cawang-Kampung

Melayu Seksi Ramp On/Off Jatiwaringin Sisi Barat

7. Kesimpulan dan Saran

Merupakan hasil dari analisis data yang dilakukan lalu

membandingkan dengan tujuan yang diinginkan dari penulisan

tugas akhir.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian tugas akhir ini berlokasi di proyek pembangunan Jalan Tol Bekasi

Cawang-Kampung Melayu Seksi Ramp On/Off Jatiwaringin Sisi Barat. Analisis

data penelitian menggunakan data dari bulan Maret 2021 – Juli 2021.

3.3 Instrument Penelitian

Saat ini, data dijadikan sebagai suatu keterangan hingga bahkan acuan untuk

memudahkan seseorang dalam mencari maupun mengamati suatu hal.

Keterangan dari data ini sendiri dapat berupa kata-kata, kalimat, simbol, angka,

dan lain sebagainya. Namun, apabila ingin mengetahui lebih lanjut mengenai

data tersebut maka ada baiknya Anda mencari tahu terlebih dahulu apa

pengertian data.

Data sendiri saat ini sudah menjadi bagian dari aktivitas keseharian manusia.

Dari data tersebut, seseorang dapat mengetahui beberapa informasi berdasarkan

apa yang diinginkan. Terlebih data sendiri juga memiliki fungsinya yang sangat

memudahkan manusia dalam memperoleh dan merangkum hasil penelitian.

III-33
Bab III Metodologi Penelitian

3.3.1 Data Primer

Data primer merupakan data yang diambil dari sebuah

penelitian dengan menggunakan instrument yang dilakukan

pada saat tertentu dan hasilnya pun tidak dapat di

generalisasikan hanya dapat menggambarkan keadaan pada saat

itu. Data primer biasa berasal dari wawancara atau hasil

pengamatan terhadap obyek tertentu. . Pengamatan mencakup

hal-hal sebagai berikut :

1. Analisis biaya pelaksanaan bekisting system peri

dengan metode bekisting konvensional.

2. Interview dengan Bapak Juwanto selaku kontraktor PT

Waskita Beton Precast pada proyek pembangunan

Jalan Tol Bekasi Cawang-Kampung Melayu Seksi

Ramp On/Off Jatiwaringin Sisi Barat

3.3.2 Data Sekunder

Data sekunder adalah sumber data penelitian yang diperoleh

melalui media perantara atau secara tidak langsung yang berupa

buku, catatan, bukti yang telah ada, atau arsip baik yang

dipublikasikan maupun yang tidak dipublikasikan secara

umum. Data sekunder adalah data yang didapat dari instansi

yang terkait, meliputi data-data sebagai berikut :

1. Dokumen tertulis, berupa ; Shop Drawing, Site Instruction

dan Rencana Spesifikasi Teknis (RKS)


III-34
Bab III Metodologi Penelitian

2. Harga satuan peralatan.

3. Harga satuan Material.

4. Harga satuan upah tenaga kerja.

5. Harga satuan bekisting sistem dan bekisting konvensional

3.4 Jadwal Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember Tahun Ajaran 2020. Jadwal

penelitian yang meliputi persiapan, pelaksanaan dan pelaporan hasil penelitian.

III-35
Bab III Metodologi Penelitian

Nov-20 Dec-20 Jan-21 Feb-21 Mar-21 Apr-21 May-21 Jun-21 Jul-21


Kegiatan
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Pengajuan
Judul Tesis
Menyusun
proposal
Seminar
Konsultasi dan
bimbingan
Waktu
Penelitian
Pelaksanaan
pengambilan
data
Penyusunan
Skripsi Bab I –
III

Bimbingan
tesis Bab I – III

Penyusunan
tesis Bab IV –
V
Bimbingan
tesis Bab IV –
V

Revisi Hasil
Bimbingan

Penyusunan
Tesis
Persetujuan
Ujian Tesis

Sumber : Olahan Peneliti, 2021

Tabel 3.1 Time Schedule Peneltian

III-36
Daftar Pustaka

DAFTAR PUSTAKA

Aek, P., Wijaya, H. S., Studi, P., Sipil, T., Teknik, F., Tribhuwana, U., & Malang, T.
(2019). Analisa Perbandingan Penggunaan Bekisting Konvensional dengan Pra
Cetak pada Pekerjaan Kolom Apartemen Begawan Malang. 2, 2–7.
Daghu, Y., Arifianto, A. K., & Wijaya, H. S. (2019). Studi Perbandingan Biaya Bahan
Pada Bekisting Kayu dan Bondek Pada Museum MPU Purwa Kota Malang. 3(2),
200–206.
Pandu, I. M., Wiguna, W., Agung, I. G., Putera, A., & Dharmayanti, G. A. P. C. (2018).
Analisis Penghematan Biaya Penggunaan Bekisting Pelat Lantai Konvensional
Model Panel Pada Bangunan Tipikal ( Studi Kasus Pada Proyek Amartha
Residence ) Cost Saving Analysis of the Use of Conventional Model Panel
Formwork Slabs in Typical Buildings ( Cas. Jurnal Spektran, 6(1), 59–64.
Rafik, A., & Cahyani, R. F. (2017). Tinjauan Perbandingan Biaya Penggunaan
Bekisting Kolom Kayu, Plywood Dan Sistem Peri (PERI LICO). Jurnal Gradasi
Teknik Sipil, 1(1), 9–17. https://doi.org/10.31961/gradasi.v1i1.409
Rosaria Kristy Anggraeni, Anggraeni, R. K., Hidayat, A., & Khasani, R. R. (2017).
Analisa Perbandingan Penggunaan Bekisting Konvensional, Semi Sistem,. Analisa
Perbandingan Penggunaan Bekisting Konvensional, Semi Sistem, Dan Sistem
(Peri) Pada Kolom Gedung Bertingkat, 6, 303–313.
Sekarsari, D., Mangare, J. B., & Ingikiriwang, R. L. (2018). Analisis Perbandingan
Biaya Nyata Dengan Sni, Pembangunan Ruko Di Daerah Sorong Papua Barat
Terhadap Daerah Manado Sulawesi Utara. Jurnal Sipil Statik, 6(12), 1113–1118.
SM, H., & Yulianto, G. (2017). Perbandingan Biaya Dan Durasi Pelaksanaan Pekerjaan
Bekisting Multipleks Dan Batako Pada Pekerjaan Pile Cap Proyek Double –
Double Track Stasiun Manggarai. Jurnal Forum Mekanika, 6.
Wahyudi, M. R., & Boer, A. (2019). Tingkat Efisiensi Biaya Pekerjaan Bekisting
Struktur Core Wall Menggunakan Metode Semi Sistem dan Climbing System
Terhadap Metode Konvensional (Studi Kasus: Proyek Pembangunan Menara Bank
Rakyat Indonesia Pekanbaru). JURNAL SAINTIS, 19(02), 51–60.
https://doi.org/10.25299/saintis.2019.vol19(02).3917

III-37