Anda di halaman 1dari 34

Referat

ALVEOPLASTI

Nama : Rahmad R
NIM : J045182002
Pembimbing : drg. Nurul Ramadhanty, Sp.BM

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER GIGI SPESIALIS


BAGIAN BEDAH MULUT DAN MAKSILOFASIAL
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2019

1
DAFTAR ISI

Halaman Judul............................................................................................

DAFTAR ISI........................................................................................................................2

BAB I PENDAHULUAN...............................................................................................3

I.1 Latar Belakang..............................................................................................................3

I.2 Tujuan Penulisan..........................................................................................................5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA....................................................................................6

II.1 Bedah Preprostetik......................................................................................................6

II.2 Alveoplasty...................................................................................................................7

II.3 Prinsip Evaluasi dan Perencanaan Perawatan Pasien......................................8

II.4 Pemeriksaan Jaringan Pendukung Tulang...........................................................9


II.5 Evaluasi Jaringan Lunak Pendukung ........................................................11
II.6 Rencana Perawatan ...................................................................................12
II.7 Rekontouring Ridge Alveolar ...................................................................14
II.7.1 Simple Alveoloplasty Oleh Karena Pencabutan Beberapa Gigi
...................................................................................................................14
II.7.2 Intraseptal Alveoloplasty.................................................................16
II.7.3 Pengurangan Tuberositas maksilaris (Jaringan Keras)....................20
II.7.4 Exostosis Buccal dan Undercut Berlebihan ....................................22
II.7.5 Exostosis Palatal Lateral .................................................................24
II.7.6 Pengurangan Ridge Mylohyoid ......................................................25
II.7.7 Reduksi Tubercle Genial ................................................................26

BAB III PENUTUP..........................................................................................................27

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................28

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perawatan bedah
endodontik adalah
pengembangan perawatan
yang lebih luas
untuk menghindari
pencabutan gigi. Ruang
lingkup perawatan bedah
endodontik
diantaranya insisi untuk
drainase, bedah apeks,
hemiseksi, amputasi
akar dan
3
replantasi.
Perawatan bedah
endodontik adalah
pengembangan perawatan
yang lebih luas
untuk menghindari
pencabutan gigi. Ruang
lingkup perawatan bedah
endodontik
diantaranya insisi untuk
drainase, bedah apeks,
hemiseksi, amputasi
akar dan
replantasi.

4
Perawatan bedah
endodontik adalah
pengembangan perawatan
yang lebih luas
untuk menghindari
pencabutan gigi. Ruang
lingkup perawatan bedah
endodontik
diantaranya insisi untuk
drainase, bedah apeks,
hemiseksi, amputasi
akar dan
replantasi.
Perawatan bedah
endodontik adalah
5
pengembangan perawatan
yang lebih luas
untuk menghindari
pencabutan gigi. Ruang
lingkup perawatan bedah
endodontik
diantaranya insisi untuk
drainase, bedah apeks,
hemiseksi, amputasi
akar dan
replantasi.
Perawatan bedah
endodontik adalah
pengembangan perawatan
yang lebih luas
6
untuk menghindari
pencabutan gigi. Ruang
lingkup perawatan bedah
endodontik
diantaranya insisi untuk
drainase, bedah apeks,
hemiseksi, amputasi
akar dan
replantasi.
Perawatan bedah
endodontik adalah
pengembangan perawatan
yang lebih luas
untuk menghindari
pencabutan gigi. Ruang
7
lingkup perawatan bedah
endodontik
diantaranya insisi untuk
drainase, bedah apeks,
hemiseksi, amputasi
akar dan
replantasi.
Perawatan bedah
endodontik adalah
pengembangan perawatan
yang lebih luas
untuk menghindari
pencabutan gigi. Ruang
lingkup perawatan bedah
endodontik
8
diantaranya insisi untuk
drainase, bedah apeks,
hemiseksi, amputasi
akar dan
replantasi.
Bedah preprostetik adalah bagian dari bedah mulut dan maksilofasial yang
bertujuan untuk membentuk jaringan keras dan jaringan lunak yang seoptimal
mungkin sebagai dasar dari suatu protesa. Meliputi teknik pencabutan sederhana
dan bedah preprostetik lebih ditujukan untuk modifikasi bedah pada tulang
alveolar dan jaringan sekitarnya untuk memudahkan pembuatan dental protesa
yang baik, nyaman, dan estetis. Gigi geligi asli ketika hilang perubahan akan
terjadi pada alveolus dan jaringan lunak di sekitarnya. Beberapa dari perubahan
ini akan mengganggu kenyamanan pembuatan gigi tiruan. Tujuan dari bedah
preprostetik adalah untuk menyiapkan jaringan lunak dan jaringan keras dari
rahang untuk suatu protesa yang nyaman yang akan mengembalikan fungsi oral,
bentuk wajah dan estetis.1
Salah satu kelainan yang dapat mengganggu fungsi dari gigi tiruan adalah
adanya penonjolan tulang (eksostosis). Eksostosis adalah suatu pertumbuhan
benigna jaringan tulang yang keluar dari permukaan tulang. Secara khas keadaan
ini ditandai dengan tertutupnya tonjolan tersebut oleh kartilago. Penonjolan di
daerah midline rahang atas disebut torus palatinus sedangkan penonjolan dilateral
1
rahang bawah disebut torus mandibularis.
Patogenesis dari eksostosis ini masih diperdebatkan, yang dapat
dipengaruhi faktor genetik misalnya umur dan jenis kelamin atau faktor
lingkungan misalnya trauma setelah pencabutan gigi dan tekanan kunyah.
Penonjolan tulang berhubungan dengan meningkatnya umur dan jenis kelamin,

9
hal ini bisa dilihat dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Aree Jainkittivong
dkk. (2000) yang menunjukkan prevalensi penonjolan tulang tertinggi terjadi pada
umur 60 tahun dan pada kelompok umur yang lebih tua yaitu sebesar 21,7%.2
Distribusi penonjolan tulang berdasarkan jenis kelamin didapat
bahwasanya laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan perempuan dengan
perbandingan 1,66:1. Sementara itu dari penelitian yang dilakukan oleh Firas dkk
(2006) dan Sawair dkk (2009) menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan
3
prevalensi eksostosis yang signifikan antara laki-laki dan perempuan.
Meskipun terdapat kemajuan yang besar dalam teknologi untuk
mempertahankan gigi, perbaikan prostetik dan rehabilitasi sistem pengunyahan
masih diperlukan pada pasien dengan full edentulous atau edentulous parsial.
Faktor sistemik dan lokal berpengaruh terhadap jenis dan pola resorpsi tulang
alveolar. Faktor sistemik termasuk abnormalitas nutrisi dan kelainan tulang
secara sistemik seperti osteoporosis, disfungsi endokrin, atau kondisi sistemik
lainnya yang dapat memengaruhi metabolisme tulang.4
Faktor-faktor lokal yang mempengaruhi resorpsi pada ridge alveolar
termasuk teknik alveoloplasty yang digunakan pada saat pencabutan gigi dan
trauma lokal yang berhubungan dengan kehilangan tulang alveolar. Penggunaan
gigitiruan juga dapat berpengaruh pada resorpsi tulang alveolar karena adaptasi
ridge yang tidak tepat dari gigi tiruan atau distribusi tekanan oklusal yang tidak
tepat. Model dari struktur wajah dapat berperan pada pola resorpsi dengan dua
cara:
(1) Ketebalan tulang yang ada pada ridge alveolar berbeda-beda sesuai dengan
bentuk wajah;
(2) individu dengan sudut bidang mandibula yang rendah dan sudut gonial yang
berlebih mampu menghasilkan kekuatan gigitan yang lebih tinggi sehingga
memberikan tekanan yang lebih besar pada daerah ridge alveolar.4
Hasil jangka panjang dari gabungan faktor umum dan lokal adalah
hilangnya ridge alveolar, peningkatan interarch space, peningkatan tekanan pada
jaringan lunak di sekitarnya, penurunan stabilitas dan retensi prostesa, dan
ketidaknyamanan yang meningkat dari adaptasi prostesa yang tidak tepat. Pada

10
kasus resorpsi yang parah, terjadi peningkatan risiko fraktur mandibula yang
signifikan.4

1.2 Tujuan Penulisan


Tujuan dari penulisan referat ini adalah untuk mendeskripsikan tentang,
indikasi, kontra indikasi, armamentarium, teknik pembedahan dan komplikasi dari
prosedur alveoplasti sebagai tambahan informasi untuk para klinisi.

11
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Bedah Preprosthetik


Mengembalikan fungsi prostetik pada kehilangan gigi atau gigi yang
tidak erupsi sering memerlukan tindakan pembedahan pada jaringan mulut yang
tersisa untuk mendukung penggantian prostetik yang baik. Seringkali, struktur
rongga mulut seperti frenal attachment dan eksostosis tidak memberikan efek
yang signifikansi ketika gigi masih ada tetapi menjadi hambatan untuk konstruksi
alat prostetik setelah kehilangan gigi. Menjadi hambatan prostetik pasien
termasuk proses perbaikan fungsi pengunyahan, dikombinasikan dengan
pemulihan atau perbaikan estetika gigi dan wajah. pemeliharaan jaringan keras
dan lunak selama persiapan bedah preprostetik juga wajib dilakukan. Jaringan
mulut sulit untuk diganti ketika terjadi kehilangan. Tujuan dari bedah
preprosthetic adalah untuk mempersiapkan struktur pendukung yang tepat
sebagai tempat gigi tiruan. Dukungan gigi tiruan terbaik memiliki 11 karakteristik
berikut;4
1. Tidak adanya kondisi patologis intraoral atau ekstraoral
2. Hubungan rahang interarch yang ideal dalam dimensi anteroposterior,
transversal, dan vertikal
3. Konfigurasi dan dimensi dari prosesus alveolar yang baik (Bentuk ideal
prosesus alveolar adalah ridge yang berbentuk U dan luas, dengan dimensi
vertikal sejajar), (gambar. 1.1)
4. Tidak ada tonjolan tulang atau jaringan lunak
5. Bentuk palatal yang baik
6. Bentuk tuberositas posterior yang baik
7. Ketebalan mukosa yang memadai pada daerah gigi tiruan primer
8. Kedalaman vestibulum yang memadai untuk perlekatan prostesa

12
9. Penambahan kekuatan di mana fraktur mandibula dapat terjadi
10. Terdapat perlindungan terhadap jaringan neurovaskular
11. Dukungan tulang yang adekuat dan jaringan lunak yang menutupinya untuk
memfasilitasi penempatan implan bila diperlukan

Picture 1.1 A, Ideal shape of alveolar process in denture-bearing area. B to E, Diagrammatic representation
of progression of bone resorption in mandible after tooth extraction.

II.2 Alveoplasti
Alveoplasti adalah suatu tindakan bedah untuk membentuk prosesus
alveolaris sehingga dapat memberikan dukungan yang baik bagi gigi tiruan
immediate maupun gigi tiruan yang akan dipasang beberapa minggu setelah
operasi dilakukan.5
Akhir-akhir ini banyak ahli bedah mulut yang menggunakan istilah
alveolektomi dan alveoplasti untuk menyatakan tindakan pembentukan kembali
prosesus alveolaris dibandingkan pembuangannya. Karena setiap tindakan
pencabutan gigi selalu diikuti dengan resorbsi tulang alveolar, maka dalam
melakukan tindakan alveoplasti seorang dokter gigi harus berusaha melindungi
tulang sebanyak dan sepraktis mungkin, sehingga dapat membentuk suatu
jaringan pendukung gigi tiruan yang baik.5

13
Alveoplasti adalah suatu tindakan bedah untuk membuang prosesus
alveolaris yang menonjol baik sebagian maupun seluruhnya. Alveoplasti juga
berarti pemotongan sebagian atau seluruh prosesus alveolaris yang menonjol atau
prosesus alveolaris yang tajam pada maksila atau mandibula, pengambilan torus
palatinus maupun torus mandibularis yang besar.
Adapun pembuangan seluruh prosesus alveolaris yang menonjol atau
prosesus alveolaris yang tajam yang lebih dikenal dengan alveoplasti, tidak
diindikasikan pada rahang yang diradiasi sehubungan dengan perawatan
neoplasma yang ganas. Alveoplasti bertujuan untuk mempersiapkan alveolar
ridge sehingga dapat memberikan dukungan yang baik bagi gigitiruan. Tindakan
ini meliputi pembuangan undercut atau cortical plate yang tajam, mengurangi
ketidakteraturan puncak ridge atau elongasi, dan menghilangkan eksostosis.
Alveoplasti dilakukan segera setelah pencabutan gigi atau sekunder.5

II.3 Prinsip Evaluasi dan Perencanaan Perawatan Pasien


Sebelum melakukan perawatan bedah atau prostetik, evaluasi
menyeluruh dengan menguraikan masalah yang harus diselesaikan dan
menentukan rencana perawatan yang spesifik harus dilakukan untuk setiap pasien.
Ini sangat penting agar setiap prosedur bedah dilakukan didasarkan pemahaman
yang jelas tentang desain yang diinginkan dari prosthesa.4
Perawatan bedah preprosthetic harus dimulai dengan riwayat
menyeluruh dan pemeriksaan fisik pasien. Aspek penting dari riwayat pasien
adalah untuk mendapatkan pemahaman yang jelas tentang keluhan utama pasien
dan hasil perawatan bedah dan prostetik yang diinginkan. Aspek estetika dan
fungsional pasien harus dinilai dengan baik dan ditentukan apakah harapan ini
dapat terpenuhi. Pemeriksaan tentang kesehatan umum secara keseluruhan sangat
penting untuk menentukan teknik bedah preprosthetic yang lebih maju karena
banyak tindakan yang membutuhkan anestesi umum, pengambilan daerah donor
sebagai bahan graft autogen, dan prosedur bedah yang multiple. Pemeriksaan pada
kemungkinan penyakit sistemik yang berkontribusi pada tingkat resorpsi tulang
juga harus dilakukan. Tes laboratorium seperti kadar serum kalsium, fosfat,

14
hormon paratiroid, dan alkali fosfatase bermanfaat dalam menentukan potensi
masalah metabolisme yang dapat mempengaruhi resorpsi tulang. Faktor
psikologis dan kemampuan beradaptasi pasien merupakan faktor penting dari
pemakaian gigi palsu keseluruhan atau sebagian.4
Informasi tentang keberhasilan alat prostetik sebelumnya dapat
membantu dalam menentukan sikap pasien dan kemampuan beradaptasi terhadap
perawatan prostetik. Anamnesis harus berisi tentang informasi penting seperti
status risiko pasien untuk prosedur pembedahan, dengan memperhatikan penyakit
sistemik yang dapat mempengaruhi penyembuhan tulang atau jaringan lunak.4
Pemeriksaan intraoral dan ekstraoral pasien harus memberikan penilaian
hubungan oklusal yang ada jika ada terdapat gigi yang tersisa, jumlah dan kontur
tulang yang tersisa, kualitas jaringan lunak di atasnya, kedalaman vestibulum,
lokasi perlekatan otot, hubungan rahang, dan adanya jaringan lunak atau kondisi
patologis pada tulang.4

II.4 Pemeriksaan Jaringan Pendukung Tulang.


Pemeriksaan pada jaringan pendukung tulang harus dilakukan dengan
inspeksi visual, palpasi, pemeriksaan radiografi, dan, dalam beberapa kasus,
evaluasi model. Kelainan pada jaringan tulang yang tersisa dapat dinilai selama
inspeksi visual; Namun, karena resorpsi tulang dan lokasi perlekatan otot atau
jaringan lunak, banyak kelainan tulang yang susah kita temukan. Diperlukan
palpasi pada semua area rahang atas dan rahang bawah, termasuk daerah ridge
gigitiruan primer dan area vestibular.4
Pemeriksaan dilakukan pada daerah ridge gigitiruan rahang atas
termasuk pemeriksaan bentuk ridge alveolar. Tidak ada undercut pada tulang atau
tonjolan tulang kasar yang menghalangi jalur insersi gigitiruan harus didapatkan
pada ridge alveolar, vestibulum bukal, atau palatum. Torus palatina yang
membutuhkan koreksi harus diperhatikan. Bentuk post-tuberositas yang adekuat
harus ada untuk stabilitas gigitiruan posterior dan seal perifer.4
Ridge mandibula yang tersisa harus dinilai secara visual untuk bentuk
dan kontur ridge keseluruhan, bentuk ridge yang irreguler, torus, dan eksostosis
bukal. Dalam kasus resorpsi tulang alveolar sedang hingga berat, kontur ridge

15
tidak dapat dinilai secara adekuat hanya dengan inspeksi visual. Otot dan mukosa
dekat area puncak ridge dapat menghalangi persepsi anatomi tulang dibawahnya,
terutama pada mandibula posterior, di mana dapat dilakukan palpasi dengan
penekanan antara daerah bukal dan daerah tonjolan mylohyoid. Lokasi foramen
mental dan neurovaskular mentale dapat diraba untuk mendapatkan aspek
superior mandibula, dan gangguan neurosensori.4
Evaluasi hubungan interarch antara rahang atas dan mandibula penting
dilakukan diantaranya pemeriksaan hubungan anteroposterior dan vertikal, serta
adanya kemungkinan hubungan yang asimetri antara rahang atas dan rahang
bawah. Pada pasien partial edentulous, adanya gigi supraerupted atau malposisi
juga harus diperhatikan. Hubungan anteroposterior harus dilakukan pemeriksaand
alam dimensi vertikal yang tepat. Oklusi mandibula yang berlebihan dapat
menyebabkan hubungan Kelas III skeletal tetapi tampak normal jika dievaluasi
dengan mandibula pada posisi yang tepat. Radiografi sefalometrik lateral dan
posteroanterior dengan rahang pada posisi postural yang tepat dapat membantu
menggambarkan perbedaan tulang. Jarak interarch harus diperhatikan, khususnya
di daerah posterior, di mana ketinggian vertikal dari tuberositas, baik jaringan
tulang atau jaringan lunak, dapat menutup ruang yang diperlukan untuk
penempatan prostesa yang didesain dengan benar.4 (Gambar 13-2)

Gambar 1-2 Examination of interarch relationships in proper vertical dimension often reveals lack
of adequate space for prosthetic reconstruction. In this case, bony and fibrous tissue excess in
tuberosity area must be reduced to provide adequate space for partial denture construction.
Inspection

16
Radiografi yang tepat adalah bagian penting dari diagnosis awal dan
rencana perawatan. Teknik radiografi panoramik memberikan gambaran yang
sangat baik dari struktur tulang yang dan kondisi patologis. Radiografi harus
memberikan gamabaran tentang lesi patologis tulang, gigi yang terkena dampak
atau bagian dari akar yang tersisa, pola dari alveolar ridge, dan pneumatisasi sinus
maksila.4
Radiografi sefalometrik juga dapat membantu dalam mengevaluasi
konfigurasi cross-sectional area ridge mandibula anterior dan hubungan ridge.
Untuk mengevaluasi hubungan ridge dalam dimensi vertikal dan anteroposterior,
mungkin diperlukan radiografi sefalometrik dalam dimensi vertikal yang sesuai.
Ini membutuhkan penyesuaian atau rekonstruksi gigi palsu pada posisi ini atau
membuat bite rim yang disesuaikan untuk menentukan posisi pada saat dilakukan
foto radiografi.4
penggunaan radiografi, seperti CT scan, dapat memberikan informasi
lebih akurat. CT scan sangat membantu dalam mengevaluasi anatomi cross-
sectional rahang atas, termasuk bentuk ridge dan anatomi sinus. Anatomi
crosssectional mandibula, termasuk konfigurasi tulang basal dengan ridge alveolar
dan lokasi nervus alveolaris inferior, dapat digambarkan lebih tepat.4

Penilaian kualitas jaringan pada daerah ridge gigitiruan primer di atas ridge
alveolar sangat penting. Banyaknya jaringan keratin yang melekat pada tulang di
bawahnya di daerah ridge gigitiruan harus dibedakan dari jaringan yang
keratinisasinya buruk atau bebas bergerak. Palpasi dapat menunjukkan adanya
jaringan fibrosa hypermobile yang tidak adekuat untuk basis gigi tiruan yang
stabil.4

II.5 Evaluasi Jaringan Lunak Pendukung


Penilaian kualitas jaringan pada daerah ridge gigitiruan primer di atas
ridge alveolar sangat penting. Banyaknya jaringan keratin yang melekat pada
tulang di bawahnya di daerah ridge gigitiruan harus dibedakan dari jaringan yang
keratinisasinya buruk atau bebas bergerak. Palpasi dapat menunjukkan adanya

17
jaringan fibrosa hypermobile yang tidak adekuat untuk basis gigi tiruan yang
stabil.4 (gambar 1.3)

Gambar 1.3 Palpation reveals hypermobile tissue that will not provide adequate base in denture-
bearing area.

Area vestibulum harus bebas dari inflamasi seperti bekas luka atau
ulserasi yang disebabkan oleh tekanan gigi tiruan atau jaringan hiperplastik akibat
gigi tiruan yang tidak pas. Jaringan pada vestibulum anterior harus lentur dan
teratur untuk retensi maksimal gigitiruan. Penilaian vestibulum harus diukur dari
perlekatan otot yang berdekatan. Dengan mengencangkan jaringan lunak yang
berdekatan dengan area ridge alveolar, dokter gigi dapat mencatat perlekatan otot
atau jaringan lunak (termasuk frena) yang mendekati puncak ridge alveolar dan
sering berpengaruuh atas hilangnya retensi gigitiruan selama berbicara dan
pengunyahan.4
Aspek lingual mandibula harus diperiksa untuk menentukan perlekatan
otot mylohyoid dalam kaitannya dengan puncak ridge mandibula dan perlekatan
otot genioglossus pada mandibula anterior. Kedalaman linguovestibular harus
dievaluasi dengan lidah pada beberapa posisi karena pergerakan lidah disertai
dengan peningkatan otot mylohyoid dan genioglossus adalah penyebab umum
pergerakan dan perpindahan gigi tiruan bagian bawah.4
II.6 Rencana Perawatan
Sebelum intervensi bedah dilakukan, penetuan rencana perawatan harus
ditentukan terlebih dahulu. Dokter gigi yang membuat prostesa harus melakukan

18
konsultasi dengan bedah, jika diperlukan. Pemeliharaan jangka panjang dari
tulang dan jaringan lunak basis protesa, serta peralatan prostetik, harus selalu
diingat setiap saat. Ketika terjadi atrofi tulang, penatalaksanaan harus ditujukan
pada koreksi kekurangan tulang dan perubahan jaringan lunak terkait. Ketika
terjadi atrofi alveolar beberapa derajat, perbaikan area ridge gigitiruan dapat
dilakukan dengan mengoreksi defisiensi tulang atau dengan menggantinya dengan
operasi jaringan lunak.4
Rencana perawatan yang tepat harus mempertimbangkan ketinggian, lebar,
dan kontur ridge. Beberapa faktor lain juga harus dipertimbangkan: Pada pasien
usia lanjut di mana resorpsi tulang moderat terjadi, koreksi jaringan lunak saja
mungkin cukup untuk meningkatkan fungsi prostesa. Pada pasien yang sangat
muda yang telah mengalami tingkat atrofi yang sama, diindikasikan prosedur
augmentasi tulang. Peran implan dapat berperan dalam modifikasi bedah jaringan
tulang atau jaringan lunak.4
Perencanaan perawatan yang terburu-buru, tanpa mempertimbangkan
hasil jangka panjang, dapat mengakibatkan hilangnya tulang atau jaringan lunak
yang tidak semestinya dan alat prostetik tidak berfungsi dengan baik. Sebagai
contoh, ketika ada jaringan lunak yang berlebihan di area alveolar, rencana
perawatan jangka panjang yang paling tepat adalah graft tulang untuk
meningkatkan kontur ridge alveolar atau mendukung implan endosteal.
Pemeliharaan jaringan lunak yang baik diperlukan untuk meningkatkan hasil
prosedur grafting. Jika jaringan ini dihilangkan tanpa mempertimbangkan manfaat
jangka panjang dari prosedur grafting, kesempatan untuk meningkatkan fungsi
dan pemeliharaan jangka panjang dari jaringan tulang dan jaringan lunak akan
hilang. Jika diindikasikan untuk dilakukan augmentasi tulang tergantung pada
ketersediaan jaringan lunak yang berdekatan untuk membebaskan tension dari
graft.4
Pembedahan jaringan lunak harus ditunda sampai graft jaringan keras
dan penyembuhan terjadi. Hal ini terutama untuk konservasi gingiva dan jaringan
lunak keratin, yang menyediakan lokasi implan yang lebih baik. Oleh karena itu,
biasanya dilakukan penundaan prosedur jaringan lunak definitif sampai masalah

19
tulang basis telah selesai. Namun, ketika graft luas, pengobatan kelainan tulang
yang lebih kompleks tidak diperlukan, persiapan tulang dan jaringan lunak
kadang-kadang dapat diselesaikan secara bersamaan.4
II.7 Rekontouring Ridge Alveolar
Tulang alveolar yang tidak beraturan dihasilkan pada saat pencabutan gigi
atau setelah periode penyembuhan memerlukan proses rekonturing ulang sebelum
melakukan prosedur prostetik. Pembahasan ini berfokus terutama pada persiapan
ridge untuk protesa lepasan, tetapi beberapa kasus diindikasikan pemasangan
implan nantinya dan kebutuhan penghematan tulang dan jaringan lunak sebanyak
mungkin.4

II.7.1 Simple Alveoloplasty Oleh Karena Pencabutan Beberapa Gigi


Bentuk paling sederhana dari alveoloplasty adalah kompresi dinding
lateral soket ekstraksi setelah pencabutan gigi sederhana. Pada beberapa kasus
ekstraksi gigi tunggal, kompresi yang dilakukan cukup pada kontur tulang
dibawahnya, jika tidak ada kontur tulang irreguler yang ditemukan pada darah
post ekstraksi. Ketika banyak tulang irreguler, sering perlu dilakukan pengerjaan
ulang yang lebih luas. Alveoloplasti konservatif dalam kombinasi dengan
ekstraksi multipel dilakukan setelah semua gigi di lengkung telah di cabut.
Apakah recontouring ridge alveolar dilakukan pada saat pencabutan gigi atau
setelah periode penyembuhan, teknik ini pada dasarnya sama. Daerah bertulang
yang membutuhkan rekonturing harus diekspos menggunakan jenis flap envelope.
Insisi mucoperiosteal di sepanjang puncak ridge, dengan ekstensi anteroposterior
yang memadai ke area yang akan dibuka, dan flap memberikan visualisasi dan
akses yang memadai ke ridge alveolar. Bila lapangan pandang tidak memadai,
insisi vertical harus dilakukan.4
Tujuan utama dari mucoperiosteal flap reflection adalah untuk lapangan
pandang yang memadai dan akses ke struktur tulang yang membutuhkan
rekonturing dan untuk melindungi jaringan lunak yang berdekatan dengan area ini
selama prosedur. Meskipun insisi membutuhkan waktu penyembuhan yang lama,

20
teknik ini tentu lebih disukai daripada adanya luka yang tidak diinginkan ketika
lapang pandang yang tidak memadai tidak dapat dicapai dengan flap envelope.
Terlepas dari desain flap, mucoperiosteum terekspose hanya sejauh
lapangan pandang pada daerah tulang yang bermasalah. Flap yang berlebihan
dapat menyebabkan area nekrosis tulang, yang terjadi setelah tindakan operasi,
dan berkurangnya adaptasi jaringan lunak ke area ridge alveolar.4
Berdasarkan tingkat ketidakteraturan ridge alveolar, recontouring dapat
dilakukan dengan knable tang, bone file, atau bur tulang pada handpiece,
digunakan tunggal atau dikombinasikan. (Gambar 1.4). Irigasi larutan salin
dengan jumlah banyak harus dilakukan selama prosedur pemulihan untuk
menghindari overheating dan nekrosis tulang. Setelah rekonturing, flap harus
disatukan kembali dengan tekanan minimal dan ridge dipalpasi untuk memastikan
bahwa semua eksostosis telah dihilangkan (Gambar 1.5). Setelah irigasi untuk
memastikan pembuangan debris, margin gingiva dapat dirapatkan dengan jahitan
interrupted atau continue.4
Jahitan resorbable biasanya digunakan untuk menyatukan jaringan dan
menambah kekuatan tarik melintasi margin luka. Bahan resorbable diurai oleh
enzim saliva proteolitik atau hidrolisis selama beberapa hari hingga minggu,
mencegah jahitan terlepas. Jika flap yang luas telah dibuat, jahitan continue
cenderung tidak menggangu pasien dan pembersihan pasca operasi yang lebih
mudah karena simpulnya minimal dan simpul berada pada ujung insisi. Jaringan
lunak yang berlebih yang terjadi setelah pengurangan tulang sering menyusut dan
beradaptasi kembali di atas alveolus, memungkinkan gingiva melekat dengan
baik.4
Ketika ujung ridge tajam pada mandibula, bagian superior alveolus yang
tajam dapat dihilangkan dengan cara yang sama pada prosedur alveoloplasti
sederhana. Setelah anestesi lokal bekerja, insisi crestal dilakukan, memanjang
sepanjang ridge alveolar, sekitar 1 cm di luar kedua ujung area yang
membutuhkan pengurangan tulang (Gambar 1.6). Setelah flap minimal pada
mucoperiosteum, knable tang dapat digunakan untuk menghilangkan bagian
utama dari area yang tajam dari aspek superior mandibula. Bone file digunakan

21
untuk menghaluskan aspek superior mandibula. Setelah dilakukan irigasi, area ini
ditutup dengan jahitan continue atau terputus. Sebelum pengangkatan tulang,
Pertimbangan rekonstruksi bentuk ridge harus diperhatikan dengan menggunakan
prosedur okulasi.4

Gambar 1.4 Simple alveoloplasty eliminates buccal irregularities and undercut areas by removing
labiocortical bone. A, Elevation of mucoperiosteal flap, exposure of irregularities of alveolar ridge,
and removal of gross irregularity with rongeur. B, Bone bur in rotating handpiece can also be used
to remove bone and smooth labiocortical surface. C, Use of bone file to smooth irregularities and
achieve final desired contour.

Gambar 1.5 A, Clinical appearance of maxillary ridge after removal of teeth. B, Minimal flap
reflection for recontouring. C, Proper alveolar ridge form free of irregularities and bony undercuts
after recontouring

22
Gambar 1.6 Recontouring of a knife-edge ridge. A, Lateral view of mandible, with resorption
resulting in knife-edge alveolar ridge. B, Crestal incision extends 1 cm beyond each end of area to
be recontoured (vertical-releasing incisions are occasionally necessary at posterior ends of initial
incision). C, Rongeur used to eliminate bulk of sharp bony projection. D, Bone file used to
eliminate any minor irregularities (bone bur and handpiece can also be used for this purpose). E,
Continuous suture technique for mucosal closure.

Setelah dilakukan multiple extractions, lapisan alveolar bukal dan tulang


interseptal diperiksa untuk mengetahui adanya protuberansia dan tepi yang tajam.
Incisi dibuat melintangi interseptal crest. Mukoperiosteum diangkat dengan hati-
hati dari tulang menggunakan Molt kuret no.4 atau elevator periosteal. Kesulitan
terletak pada permulaan flap pada tepi tulang karena periosteum menempel pada
akhiran tulang, tetapi hal ini harus dilatih agar flap tidak lebih tinggidari dua per
tiga soket yang kosong. Jika terlalu tinggi akan dapat melepaskan perlekatan
lipatan mukobukal dengan mudah, dengan konsekuensi hilangnya ruang untuk
ketinggian denture flange. Flap diekstraksi dengan hati-hati dan tepi dari gauze
diletakkan di antara tulang dan flap. Knable tang universal diletakkan pada
setengah soket yang kosong, dan lapisan alveolar bukal atau labial direseksi
dengan ketinggian yang sama pada semua soket.4
Knabale tang diposisikan pada sudut 45° di atas interseptal crest, satu
ujung pada masing-masing soket, dan ujung interseptal crest dihilangkan.

23
Prosedur ini dilakukan pada semua interseptal crest. Perdarahan tulang dikontrol
dengan merotasi curet kecil pada titik perdarahan. File ditarik secara ringan pada
satu arah pemotongan secara menyeluruh sehingga meratakan tulang. Partikel-
partikel kecil dihilangkan, gauze juga dilepaskan sehingga awalan flap terletak
pada tulang, dan jari digesek-gesekkan (dirabakan) pada permukaan mukosa
untuk memeriksa kedataran tulang alveolus. Lapisan bukal harus dibuat kontur
kurang lebih setinggi lapisan palatal dan dibuat.6

II.7.2 Intraseptal Alveoloplasty


Salah satu alternatif perawatan pada ridge alveolar yang tidak teratur
dengan teknik alveoloplasti sederhana adalah alveoloplasti intraseptal, atau teknik
Dean, yang melibatkan pengangkatan tulang intraseptal dan reposisi tulang
kortikal labial, daripada pengangkatan area yang berlebihan atau tidak teratur pada
korteks labial. Teknik ini paling baik digunakan pada daerah ridge dengani kontur
yang relatif teratur dan tinggi yang memadai tetapi terdapat undercut pada ruang
labial karena konfigurasi ridge alveolar. Teknik ini dapat dilakukan pada saat
pencabutan gigi atau pada periode awal penyembuhan pasca operasi.4
Setelah puncak alveolar ridge terlihat pada flap mucoperiosteum yang
minimal, knable tang kecil dapat digunakan untuk menghilangkan bagian
intraseptal tulang alveolar (Gambar 1.7). Setelah pengangkatan tulang dilakukan,
tekanan minimal cukup untuk membuang bagian labiokortikal dari ridge alveolar
untuk memperkecil dimensi labiopalatal. Kadang-kadang, potongan vertikal pada
kedua ujung plat labiocortical memperbaiki reposisi segmen yang retak. Dengan
menggunakan bur atau osteotome yang dimasukkan pada soket ekstraksi distal,
dilakukan penembusan tanpa perforasi mukosa labial. Tekanan minimal pada
labial ridge dijadikan indikator tulang sudah baik dan untuk memastikan bahwa
mukosa tidak rusak. Setelah memposisikan bagian labiocortical, area iregular pada
tulang yang kecil dan mukosa alveolar dapat disatukan dengan teknik jahitan yang
terputus atau continue. splint atau immediate denture yang dilapisi dengan soft
lining dapat diinsersikan untuk mempertahankan posisi tulang sampai
penyembuhan awal terjadi.4

24
Gambar 1.7 Intraseptal alveoloplasty. A, Oblique view of alveolar ridge, demonstrating slight
facial undercut. B, Minimal elevation of mucoperiosteal flap, followed by removal of intraseptal
bone using fissure bur and handpiece. C, Rongeur used to remove intraseptal bone. D, Digital
pressure used to fracture labiocortex in palatal direction. E, Cross-sectional view of alveolar
process. F, Cross-sectional view of alveolar process after tooth removal and intraseptal
alveoloplasty. By fracturing labiocortex of alveolar process in palatal direction, labial undercut can
be eliminated without reducing vertical height of alveolar ridge.

Teknik ini memiliki beberapa keunggulan: Kelebihan labial dari ridge


alveolar dapat dikurangi tanpa mengurangi ketinggian ridge di area ini. Perlekatan
periosteal pada tulang di bawahnya juga dapat dipertahankan sehingga
mengurangi resorpsi dan remodeling tulang pasca operasi. Akhirnya, perlekatan
otot pada area ridge alveolar dapat terjadi dengan sendirinya dengan prosedur ini.
Michael dan Barsoum melaporkan hasil penelitian yang membandingkan efek
resorpsi tulang pasca operasi setelah tiga teknik alveoloplasty. Dalam penelitian
mereka, ekstraksi nonsurgical, alveoloplasty labial, dan teknik alveoloplasty
intraseptal dibandingkan untuk mengevaluasi resorpsi tulang pasca operasi. Hasil
awal pasca operasi adalah sama, tetapi perawatan jangka panjang paling baik dari
tinggi puncak alveolar ditemukan pada ekstraksi nonsurgical, dan teknik
alveoloplasty intraseptal menghasilkan resorpsi yang lebih sedikit dibandingkan
dengan pengangkatan tulang labiokortikal untuk mengurangi irreguler ridge.4

25
Kerugian utama dari teknik ini adalah penurunan ketebalan ridge terjadi
pada prosedur ini. Jika bentuk ridge yang tersisa setelah teknik alveoloplasty ini
terlalu tipis, akan merugikan penempatan implan pada waktu yang akan datang.
Karena itu, alveoloplasty intraseptal harus mengurangi ketebalan ridge dalam
jumlah yang cukup hanya untuk mengurangi atau melakukan pomotongan
undercut di daerah di mana rencana untuk menempatkan implan endosteal tidak
ada.7

II.7.3 Pengurangan Tuberositas maksilaris (Jaringan Keras)


Kelebihan horizontal atau vertikal dari daerah tuberositas maksila
merupakan akibat dari kelebihan tulang, peningkatan ketebalan jaringan lunak
yang menutupi tulang, atau keduanya. Radiografi pra operasi atau pemeriksaan
selektif dengan jarum anestesi lokal bertujuan untuk menentukan sejauh mana
tulang dan jaringan lunak berkontribusi terhadap kelebihan ini dan untuk
menemukan dasar sinus maksilaris. Rekontruksi area tuberositas maksila mungkin
diperlukan untuk menghilangkan irregular tulang atau untuk menciptakan jarak
interarch yang memadai, yang memungkinkan konstruksi peralatan prostetik yang
tepat di daerah posterior. Pembedahan dapat dilakukan dengan menggunakan
infiltrasi anestesi lokal atau alveolar posterosuperior dan blok palatine mayor.
Akses ke tuberositas untuk pengangkatan tulang dilakukan dengan membuat
sayatan crestal yang meluas hingga aspek posterior area tuberositas. Aspek paling
belakang dari sayatan ini sering dibuat dengan pisau bedah No. 12.4
Pembuatan flap mukoperiosteal dengan full tikness dilakukan dalam
arah bukal dan palatal untuk mendapatkan akses yang memadai ke seluruh area
tuberositas (Gambar 1.8). Tulang dapat diangkat menggunakan knable tang atau
rotary instrument, dengan hati-hati dilakukan untuk menghindari perforasi dasar
sinus maksilaris. Jika sinus maksila perforasi secara tidak sengaja, tidak
diperlukan perawatan khusus, asalkan membran sinus belum tembus. Setelah
tulang yang tepat dihilangkan, area tersebut harus dihaluskan dengan bone file dan
diirigasi dengan larutan saline. Flap mucoperiosteal kemudian dapat dirapatkan
kembali.4

26
Gambar 1.8 Bony tuberosity reduction. A, Incision extended along crest of alveolar ridge distally
to superior extent of tuberosity area. B, Elevated mucoperiosteal flap provides adequate exposure
to all areas of bony excess. C, Rongeur used to eliminate bony excess. D, Tissue reapproximated
with continuous suture technique. E, Cross-sectional view of posterior tuberosity area, showing
vertical reduction of bone and reapposition of mucoperiosteal flap. (In some cases, removal of
large amounts of bone produces excessive soft tissue, which can be excised before closure to
prevent overlapping.)

Kelebihan, jaringan lunak yang tumpang tindih akibat pengangkatan


tulang dikeluarkan secara elips. Penutupan tanpa tegangan pada area ini penting,
terutama jika dasar sinus terekspose. Jahitan harus dipertahankan sekitar 7 hari.
Pembuatan gigitiruan awal dapat dikerjakan kira-kira 4 minggu setelah operasi.4
Dalam hal perforasi dasar sinus yang melibatkan terbukanya membran
sinus, penggunaan antibiotik pasca operasi dan dekongestan sinus dianjurkan.
Amoksisilin biasanya merupakan antibiotik pilihan, kecuali dikontraindikasikan
oleh alergi. Dekongestan sinus seperti pseudoefedrin, dengan atau tanpa
antihistamin, sudah memadai. Antibiotik dan dekongestan harus diberikan selama
7 hingga 10 hari pasca operasi. Pasien diedukasi tentang kemungkinan komplikasi
dan diinstruksikan untuk tidak menciptakan tekanan sinus berlebihan seperti
meniup hidung atau menghisap dengan sedotan selama 10 hingga 14 hari.

27
II.7.4 Exostosis Buccal dan Undercut Berlebihan
Tonjolan tulang yang berlebihan dan area undercut yang dihasilkan lebih
sering terjadi pada rahang atas dibanding rahang bawah. Infiltrasi anestesi lokal di
sekitar area yang membutuhkan pengurangan tulang. Untuk exostosis bukal
mandibula, blok alveolar inferior diperlukan untuk menganastesi tulang. Sayatan
crestal memanjang 1 hingga 1,5 cm di luar setiap ujung area yang membutuhkan
rekonturing, dan flap mucoperiosteal fullthickness diperlukan untuk mengekspos
area eksostosis tulang. Jika lapangan pandang tidak dapat diperoleh, insisi vertikal
diperlukan untuk memberikan akses dan mencegah trauma pada flap jaringan
lunak. Jika area bermasalah kecil, penggunaan bone file sudah cukup; area yang
lebih luas memerlukan penggunaan knable tang atau rotary instrument (Gambar
1.9). Setelah rekonturing tulang, jaringan lunak dikembalikan, dan inspeksi visual
dan palpasi dilakukan untuk memastikan bahwa tidak ada tonjolan atau undercuts
tulang. Teknik penjahitan interupted atau continue digunakan untuk menutup
insisi jaringan lunak. pembuatan gigi tiruan dilakukan 4 minggu pasca operasi.4
Meskipun area yang sangat besar dari eksostosis tulang umumnya
membutuhkan pengangkatan, area dengan potongan kecil paling baik dirawat
dengan diisi graft tulang autogen atau alogenik. Kondisi itu dapat terjadi pada
maksila anterior atau mandibula, di mana pengangkatan tonjolan tulang bukal
menghasilkan penyempitan di daerah alveolar ridge dan area ini tidak baik untuk
gigi tiruan, serta area yang dapat resorbsi lebih cepat. .4
Infiltrasi anestesi lokal untu daerah bukal undercut. Bagian undercut dari
ridge dengan insisi crestal dan diseksi standar, atau area undercut dapat diakses
dengan insisi vertikal yang dibuat di daerah rahang atas atau rahang bawah
anterior (Gambar 1.10). elevator periosteal kecil digunakan untuk membuat jalur
subperiosteal yang area nya akan diisi dengan graft. Bahan autogenous atau
allogeneicditempatkan pada daerah tadi dan ditutupi dengan membran resorbable.
pencetakan gigi tiruan dilakuakan setelah penyembuhan jaringan 3 sampai 4
minggu setelah operasi.4

28
Gambar 1.9 Removal of buccal exostosis. A, Gross irregularities of buccal aspect of alveolar
ridge. After tooth removal, incision is completed over crest of alveolar ridge. (Vertical-releasing
incision in cuspid area is demonstrated.) B, Exposure and removal of buccal exostosis with
rongeur. C, Soft tissue closure using continuous suture technique.

Gambar 1.10 Removal of mandibular buccal undercut. A, Cross-sectional view of anterior portion
of mandible, which, if corrected by removal of labiocortical bone, would result in knife-edge
ridge. B, Vertical incision is made and subperiosteal tunnel developed in depth of undercut area. C,
Cross-sectional view after filling defect with graft material. The material is contained within the
boundaries of the subperiosteal tunnel.

29
II.7.5 Exostosis Palatal Lateral
Aspek lateral palatum tidak teratur karena adanya eksostosis palatum
lateral. Ini menimbulkan masalah dalam pembuatani gigi tiruan karena undercut
yang dihasilkan oleh eksostosis dan penyempitan palatum. Kadang-kadang,
eksostosis ini cukup besar sehingga mukosa yang menutupi daerah tersebut
mengalami ulserasi.4
Dibutuhkan anestesi lokal pada foramen palatine besar dan infiltrasi di
area insisi. insisi crestal dibuat dari arah posterior tuberositas, memanjang sedikit
di luar area anterior eksostosis, yang membutuhkan rekonturing (Gambar 1.11).
Flap mucoperiosteum dalam arah palatal harus dilakukan dengan memperhatikan
foramen palatine untuk menghindari kerusakan pada pembuluh darah palatine dan
arean dianteriornya. Setelah eksposur yang memadai, rotary instrumen atau bone
file digunakan untuk menghilangkan kelebihan tulang di area ini. Diirigasi dengan
saline dan ditutup dengan jahitan continue atau interupted. Tidak diperlukan
surgical splint dan pembedahan yang berlebihan, dan jaringan lunak berlebihan
akan beradaptasi setelah prosedur ini.4

Gambar 1.11 Removal of palatal bony exostosis. A, Small palatal exostosis that interferes with
proper denture construction in this area. B, Crestal incision and mucoperiosteal flap reflection to
expose palatal exostosis. C, Use of bone file to remove bony excess. D, Soft tissue closure

30
II.7.6 Pengurangan Ridge Mylohyoid
Salah satu area yang sering konstruksi gigitiruan mandibula adalah area
ridge mylohyoid. Selain tulang dengan lapisan tipis mukosa yang mudah rusak,
perlekatan otot pada area ini sering menyebabkan gigitiruan lepas. Ketika ridge ini
sangat tajam, tekanan gigi tiruan akan menyebabkan nyeri di daerah ini. Dalam
kasus resorpsi parah, kemiringan eksternal dan daerah ridge mylohyoid
sebenarnya dapat membentuk area yang paling menonjol dari mandibula
posterior, dengan bagian tengah dari ridge mandibula yang ada terbentuk struktur
cekung. Dalam kasus seperti itu, augmentasi posterior mandibula, daripada
menghilangkan ridge mylohyoid, akan lebih baik. Namun, beberapa kasus dapat
diperbaiki dengan mengurangi area ridge mylohyoid.4
Anastesi nervus alveolar inferior, bukal, dan blok saraf lingual diperlukan
untuk mengurangi ridge mylohyoid. insisi linier dibuat di atas ridge pada aspek
posterior mandibula. Perluasan insisi yang terlalu jauh ke aspek lingual harus
dihindari karena ini dapat menyebabkan trauma pada saraf lingual. Flap
mucoperiosteal fullthickness dilakukan, yang memperlihatkan area ridge
mylohyoid dan perlekatan otot mylohyoid (Gambar 1.12).
Serat otot mylohyoid dikeluarkan dari ridge dengan menyisahkan
perlekatan otot di daerah asal tulang. Ketika otot dilepaskan, lemak yang
mendasarinya terlihat pada area pembedahan. Setelah refleksi otot, rotary
instrument dibawah jaringan lunak digunakan dengan hati-hati untuk
menghilangkan area tajam dari ridge mylohyoid. Penggantian gigi tiruan segera
dilakukan untuk membantu proses relokasi yang lebih rendah dari perlekatan otot;
Namun, hal ini tidak dapat diprediksi dan akan lebih baik dilakukan prosedur
menurunkan dasar sulkus.4

31
Gambar 1.12 Mylohyoid ridge reduction. A, Cross-sectional view of posterior aspect of mandible,
showing concave contour of the superior aspect of ridge from resorption. Mylohyoid ridge and
external oblique lines form highest portions of ridge. (This can generally best be treated by
alloplastic augmentation of mandible but, in rare cases, may also require mylohyoid ridge
reduction.) B, Crestal incision and exposure of lingual aspect of mandible for removal of sharp
bone in mylohyoid ridge area. Rongeur or bur in rotating handpiece can be used to remove bone.
C, Bone file used to complete recontouring of mylohyoid ridge

II.7.7 Reduksi Tubercle Genial


Ketika mandibula mulai resorpsi, area perlekatan otot genioglossus di
bagian anterior mandibula semakin menonjol. Dalam beberapa kasus, tuberkel
sebenarnya dapat berfungsi sebagai tempat gigi tiruan dibuat, tetapi biasanya
membutuhkan reduksi untuk membuat prostesis dengan benar. Sebelum
melakukan pengurangan tonjolan, harus mempertimbangkan augmentasi anterior
mandibula daripada pengurangan tuberkulum genial. Jika augmentasi adalah
solusi, tuberkel harus dibiarkan menambahkan dukungan pada graft di daerah ini.
Infiltrasi anestesi lokal dan blok saraf lingual bilateral harus memberikan efek
anestesi yang memadai. insisi crestal dibuat dari area premolar hingga garis
tengah mandibula. Flap mucoperiosteal fullthickness arah lingual untuk
mengekspos tuberkulum genial. perlekatan otot genioglossus dapat dihilangkan
dengan insisi yang tajam.4
Menghaluskan dengan bur atau knable tang diikuti dengan bone file
menghilangkan tubercle genial. Otot genioglossus dibiarkan menempel kembali
secara acak. Seperti halnya otot mylohyoid dan pengurangan ridge mylohyoid,
prosedur untuk menurunkan dasar mulut juga dapat bermanfaat bagi mandibula
anterior.4

32
BAB III
PENUTUP

Bedah preprostetik adalah bagian dari bedah mulut dan maksilofasial yang
bertujuan untuk mempersiapkan rongga mulut baik jaringan lunak dan jaringan
keras sebelum pemasangan protesa.
Salah satu kelainan yang dapat mengganggu fungsi dari gigi tiruan adalah
adanya penonjolan tulang atau eksostosis. Eksostosis adalah suatu pertumbuhan
benigna jaringan tulang yang keluar dari permukaan tulang yang mengganggu saat
kontruksi protesa.
Alveoplasti adalah suatu tindakan bedah untuk membuang prosesus
alveolaris yang menonjol baik sebagian maupun seluruhnya. Alveoplasti juga
berarti pemotongan sebagian atau seluruh prosesus alveolaris yang menonjol atau
prosesus alveolaris yang tajam pada maksila atau mandibula, pengambilan torus
palatinus maupun torus mandibularis yang besar. pembuangan seluruh prosesus
alveolaris yang menonjol atau prosesus alveolaris yang tajam yang lebih dikenal
dengan alveoplasti, diindikasikan pada rahang yang diradiasi sehubungan dengan
perawatan neoplasma yang ganas. Alveoplasti bertujuan untuk mempersiapkan
alveolar ridge sehingga dapat memberikan dukungan yang baik bagi gigitiruan.
Tindakan ini meliputi pembuangan undercut atau cortical plate yang tajam,
mengurangi ketidakteraturan puncak ridge atau elongasi, dan menghilangkan
eksostosis. Alveoplasti dilakukan segera setelah pencabutan gigi atau sekunder.

33
DAFTAR PUSTAKA

1. Basa S, Uckan S, Kisnisci R. Preprosthetic and oral soft tissue surgery. United
Kingdom: Wiley-blackwell, 2010: 321-23.
2. Kurtzman GM, Silverstein LH. A Technique for surgical mandibular exostosis
removal. Compendium 2006; 27(10):520-5
3. Sawair FA, Shayyab MH. Prevalence and clinical characteristics of tori and
jaw exostoses in a teaching hospital in Jordan. J Saudi Med (2009); 30(12):
1557-1562.
4. R Hupp James, at all. Contemporary oral and maksilofacial surgery.six edition
2014, P200-213

5. Purwanto dan Basoeseno. Buku ajar praktis bedah mulut. Jakarta: EGC; 2013.

120-2.

6. Gustav O Kruger. Preprosthetic surgery. The C V Mosby Company, St Louis,


Toronto, London, 2006

7. Michael CG, Barsoum WM: Comparing ridge resorption with various surgical
techniques in immediate dentures. J Prosthet Dent 35:142–155, 1976

34