Anda di halaman 1dari 21

Bidang Fokus :Pangan dan Pertanian

LAPORAN AKHIR

PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

PKM PENYULUHAN BUDIDAYA DAN PEMASARAN PRODUK JAGUNG


SEBAGAI OBAT HERBAL DI DUSUN MATAJANG DESA TELUMPANUAE
KECAMATAN MALLAWA KABUPATEN MAROS

TIM PENGUSUL :

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
November 2020

1
RINGKASAN

Program Kemitraan Masyarakat penyuluhan budidaya dan pemasaran produk


jagung sebagai obat herbal dilaksanakan di Dusun Matajang Desa Telumpanuae
Kecamatan Mallawa Kabupaten Maros khususnya anggota Kelompok Tani Dusun
Matajang. Permasalahan utama yang dialami oleh mitra adalah 1) Limbah dari produk
jagung yang banyak disekitar wilayah mitra, namun tidak dimanfaatkan padahal
memiliki potensi besar 2) Pengetahuan mitra masih terbatas mengenai teknik
pengolahan produk 3) Permasalahan manajemen mitra untuk mengelola keuangan,
bagaimana perputaran modal usaha untuk produk ini. Adapun solusi yang ditawarkan
untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah 1) Pengadaan kegiatan penyuluhan
budidaya dan pemasaran produk jagung sebagai obat herbal, yang berbahan dasar
rambut jagung menjadi teh herbal, 2) Diadakan pelatihan budidaya dan pemasaran
produk jagung sebagai obat herbal dengan menghadirkan narasumber, 3) Manajemen
usaha budidaya dan pemasaran produk jagung sebagai obat herbal ini akan dibahas dan
dianalisis bersama narasumber dengan analisis SWOT.
Target luaran yang dicapai adalah artikel ilmiah akan dipublish di jurnal
Pengabdian JCES (Journal of Character Education Society) Universitas
Muhammadiyah Mataram 2614-3666 (Online) 2715-3665 (Print) dan p-ISSN: 2615-
5273, artikel terbit di media massa elektronik matajurnalisnews.com, peningkatan
penerapan IPTEK pada masyarakat khususnya untuk produksi produk dan peningkatan
jenis serta kualitas produk yang dihasilkan sehingga mampu meningkatkan
perekonomian mitra.

Kata Kunci: Teh Herbal Rambut Jagung , Kelompok Tani Dusun Matajang

2
PRAKATA

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahNya
sehingga laporan akhir kegiatan pengabdian kepada masyarakat “PKM Penyuluhan
Budidaya dan Pemasaran Produk Jagung Sebagai Obat Herbal” ini dapat diselesaikan,
sebagai akhir dari pelaksanaan kegiatan PKM yang didanai oleh Universitas
Muhammadiyah Makassar melalui LP3M.

Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada LP3M Universitas


Muhammadiyah Makassar yang telah memberikan dana kegiatan PKM ini. Kepada
Kelompok Tani dusun matajang juga penulis ucapkan terima kasih karena telah
berkontribusi positif dan bekerjasama dalam pelaksanaan kegiatan PKM ini. Serta
berbagai pihak yang tidak dapat penulis sebutkan.

3
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN SAMPUL 1

RINGKASAN 2

PRAKATA 3

DAFTAR ISI 4

DAFTAR TABEL 5

DAFTAR GAMBAR 6

BAB 1. PENDAHULUAN 7

1.1 Analisis Situasi 7

1.2 Permasalahan Mitra 8

BAB 2. SOLUSI DAN TARET LUARAN 9

2.1 Solusi Permasalahn Mitra 9

2.2 Target Luaran 10

BAB 3. METODE PELAKSANAAN 10

3.1 Metode Pelaksanaan 10

3.3 Evaluasi Pelaksanaan Program dan Keberlanjutan Program Lapangan 11

BAB 4. KELAYAKAN PERGURUAN TINGGI 12

BAB 5. HASIL DAN LUARAN YANG DICAPAI 13

BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN 18

DAFTAR PUSTAKA 18

LAMPIRAN 20

4
DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1 Rencana Target Capaian Luaran 10

Tabel 4.1 Pengelolaan Kegiatan Pengabdian pada Masyarakat oleh 12

LP3M Unismuh Makassar

5
DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1.1 Lahan Perkebunan Jagung 7

Gambar 2.1 Penyuluhan Budidaya Produk Jagung Sebagai Obat Herbal 9

Gambar 5.1 Penyuluhan Budidaya dan Pemasaran Produk Jagung Sebagai

Obat Herbal 13

Gambar 5.2 Rambut Jagung 15

Gambar 5.3 Teh Herbal dari Rambut jagung 18

6
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Analisis Situasi
Wilayah dusun Matajang desa Telumpanue terdiri dari area perkebunan yang
cukup luas. Mayoritas warga desa Telumpanue berprofesi sebagai petani. Di desa
Telumpanue banyak petani yang memilih jagung sebagai salah satu jenis tanaman yang
paling banyak ditanam. Jagung merupakan salah satu komoditas tanaman palawija
utama di Indonesia yang kegunaannya relatif luas, terutama untuk konsumsi manusia
dan kebutuhan bahan pakan ternak. Jagung juga merupakan komoditas yang diminta di
pasar dunia. Namun demikian, jagung di Indonesia sebagaimana umumnya komoditas
pangan lainnya merupakan hasil produksi petani-petani skala kecil.
Para petani di desa Telumpanue tergabung ke dalam beberapa kelompok tani.
Perekonomian para anggota kelompok tani dusun Matajang masih sangat bergantung
pada hasil dari bercocok tanam. Para petani menunggu beberapa bulan hingga musim
panen tiba. Padahal anggota dari kelompok tani ini memiliki potensi untuk
berwirausaha. Mereka memiliki lahan perkebunan jagung yang cukup luas untuk
dimanfaatkan sebagai salah satu aspek pendukung untuk berwirausaha. Salah satu usaha
yang dapat dilakukan adalah usaha pembuatan produk herbal yang berbahan dasar dari
rambut jagung. Selama ini masyarakat yang ada di Dusun Matajang memanfaatkan
jagung sebagai salah satu produk pertanian yang dijual, sebagai bahan makanan atau
sebagai bahan pakan ternak.

Gambar 1.1 Lahan Perkebunan Jagung


Rambut jagung umumnya hanya dijadikan sebagai limbah dari produk jagung
yang tidak digunakan lagi. Hal ini dikarenakan banyak masyarakat yang tidak
mengetahui manfaat dari adanya produk rambut jagung yang dapat dijadikan sebagai
produk obat herbal. Rambut jagung memiliki senyawa bioaktif yang dapat bertindak
sebagai antioksidan apabila dikonsumsi tubuh. Selain itu, rambut jagung juga memiliki

7
khasiat sebagai obat tradisional yang dapat digunakan untuk peluruh air seni dan
penurun kadar kolesterol dalam darah diabetes mellitus dan anti-depressant. Manfaat
tersebut dapat diperoleh melalui produk olahan rambut jagung, salah satunya adalah
minuman teh herbal dari rambut jagung. Petani yang membudidayakan jagung ini,
selain mampu menjual produk dipasaran juga diharapkan mampu untuk meningkatkan
perekonomian keluarga yakni berwirausaha dengan membuat produk teh herbal yang
berbahan dasar rambut jagung. Tentunya hal ini juga akan meningkatkan kesehatan
anggota keluarga karena teh herbal dari jagung ini memiliki banyak manfaat untuk
kesehatan tubuh.
Berdasarkan keadaan tersebut, maka pelatihan budidaya dan pemasaran produk
jagung sebagai obat herbal perlu diberikan kepada mitra, dengan mempertimbangkan
desa Telumpanue sebagai lokasi kegiatan budidaya dan pemasaran produk jagung
sebagai obat herbal. Alasan dipilihnya desa Telumpanue adalah:
1. Berdasarkan hasil survei yang telah dilakukan, beberapa anggota dari mitra
memiliki perkebunan jagung yang luas
2. Pada daerah ini terdapat limbah rambut jagung dengan jumlah yang cukup banyak
3. Kegiatan PKM ini diharapkan mampu untuk memotivasi masyarakat untuk
memanfaatkan limbah produk jagung agar lebih termanfaatkan dan meningkatkan
perekonomian keluarga. Kegiatan budidaya dan pemasaran produk jagung sebagai
obat herbal juga diharapkan dapat membantu masyarakat dalam menjaga
kesehatannya.
1.2 Permasalahan Mitra
Adapun permasalahan prioritas mitra dalam program PKM ini adalah :
a. Limbah dari produk jagung yang banyak disekitar wilayah mitra, namun tidak
dimanfaatkan padahal memiliki potensi besar untuk digunakan mengembangkan
wirausaha guna meningkatkan perekonomian keluarga.
b. Permasalahan produksi
 Pengetahuan mitra masih terbatas mengenai teknik pengolahan produk yang
tepat agar memperoleh hasil maksimal sehingga memiliki nilai jual yang tinggi.
 Permasalahan pemasaran juga menjadi salah satu kendala bagi mitra. Kemana
mereka akan menyalurkan produk yang dihasilkan.
c. Permasalahan manajemen mitra untuk mengelola keuangan, bagaimana perputaran
modal usaha untuk produk ini.

8
BAB 2. SOLUSI DAN TARGET LUARAN
2.1 Solusi Permasalahan
Solusi yang ditawarkan untuk mengatasi permasalahan mitra adalah sebagai
berikut:
a. Penyuluhan diberikan kepada mitra terkait pemanfaatan limbah produk jagung
menjadi obat herbal sebagai penurun kadar kolesterol dalam darah, diabetes mellitus
dan anti-depressant, dalam hal ini produk diolah menjadi teh rambut jagung.

Gambar 2.1 Penyuluhan Budidaya dan Pemasaran Produk Jagung Sebagai Obat Herbal
b. Kurangnya pengetahuan mitra mengenai aspek produksi, maka dilakukan pelatihan
budidaya dan pemasaran produk jagung sebagai obat herbal dengan menghadirkan
narasumber untuk menjelaskan permasalahan mengenai aspek produksi dan
solusinya, seperti:
 Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatannya adalah pemilihan
bahan baku yang berkualitas sehingga perlu dilakukan sortasi, kemudian hal
lain yang diperlukan adalah pencucian, penirisan, pelayuan,
perajangan/penggilingan, pengeringan, dan pengemasan. Sortasi bahan baku
merupakan tahap awal yang perlu dilakukan untuk mendapatkan rambut
jagung yang berkualitas. Tahap berikutnya adalah pencucian yang dilakukan
untuk membersihkan potongan-potongan benda lain atau kotoran berupa tanah
atau debu yang menempel. Selanjutnya perajangan dan penggilingan
bertujuan untuk mendapatkan bentuk teh yang berukuran halus sehingga
mudah untuk mendapatkan ekstrak rambut jagung saat penyeduhan.

9
Selanjutnya pengeringan dapat dilakukan dengan menggunakan alat. Setelah
proses pengeringan selesai, maka dilanjutkan dengan proses pengemasan.
 Untuk mengatasi masalah pada aspek pemasaran, mitra akan dibantu untuk
mendapatkan rekanan yang akan membeli hasil produk, dengan pemasaran
lewat social media seperti Facebook dan Instagram. Serta membuat logo
untuk mitra sebagai penanda produk teh herbal.
c. Manajemen usaha budidaya dan pemasaran produk jagung sebagai obat herbal ini
akan dibahas dan dianalisis bersama dengan narasumber. Untuk mengetahui
kelayakan usaha untuk dilanjutkan serta tantangan persaingan yang harus dihadapi.
Analisis usaha ini dilakukan dengan analisis SWOT, yang dilakukan dengan
kepakaran dosen tim pelaksana yaitu bidang Matematika.
Luaran yang akan dihasilkan adalah peningkatan penerapan IPTEK yaitu
usaha budidaya dan pemasaran produk jagung sebagai obat herbal yang dipadukan
dengan manajemen usaha berbasis analisis SWOT.
2.2 Target dan Luaran
Jenis luaran yang akan dihasilkan adalah terbentuknya kegiatan budidaya dan
pemasaran produk jagung sebagai obat herbal, sehingga dapat meningkatkan
perekonomian anggota kelompok tani dusun Matajang melalui pemanfaatan produk
limbah jagung. Adapun rencana target capaian luaran dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2.1 Rencana Target Capaian Luaran
Indikator
No Jenis Luaran
Capaian
Luaran Wajib
1 Publikasi ilmiah pada Jurnal ber ISSN/Prosiding  Published
2 Publikasi pada media masa cetak/online/repocitory PT  Sudah Terbit
Peningkatan daya saing (peningkatan kualitas, kuantitas,
3 serta nilai tambah barang, jasa, diversifikasi produk, atau Produk
sumber daya lainnya)
Peningkatan penerapan IPTEK di masyarakat
4 Penerapan
(mekanisasi, IT, dan manajemen)
Peningkatan tata nilai masyarakat (seni budaya, sosial,
5  Ada
politik, keamanan, ketentraman, pendidikan, kesehatan)

BAB 3. METODE PELAKSANAAN


3.1 Metode Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan ini terdiri dari dua tahapan yaitu; (a) penyuluhan, (b)
Monitoring, dan (c) pengolahan produk teh herbal dari limbah jagung.

10
a. Penyuluhan, Kegiatan ini berlangsung di kediaman ketua kelompok tani dusun
Matajang dan dihadiri oleh 8 orang anggota. Kegiatan berlangsung selama satu hari.
Pada kegiatan ini mitra diberikan penyuluhan budidaya dan pemasaran produk
jagung sebagai obat herbal. Pada kegiatan ini narasumber memberikan materi terkait
masalah produksi, pemasaran maupun manfaat dari produk teh herbal ini yang
berasal dari limbah rambut jagung. Hal ini dilakukan agar mitra dapat memahami
manfaat rambut jagung yang sangat berguna untuk masalah kesehatan. Serta cara
pengolahannya sehingga hasil penjualannya dapat menjadi sumber penghasilan bagi
para mitra.
b. Monitoring pembuatan produk teh herbal, kegiatan ini juga dilaksanakan secara
terbatas dikarenakan masa pandemi. Kegiatan monitoring bertujuan untuk
memantau kegiatan produksi produk teh herbal dan kendala apa saja yang ditemui.
Kegiatan monitoring ini berlangsung selama 1 bulan dimulai saat pengumpulan
bahan, proses produksi dan pemasaran. Tim datang ke lokasi mitra untuk melakukan
monitoring, juga melakukan monitoring melalui video conference karena pandemi
Covid-19.
c. Pengolahan produk jagung sebagai obat herbal. Pengolahan produk ini berupa
limbah rambut jagung yang diolah menjadi teh herbal yang bermanfaat untuk
kesehatan. Kegiatan ini berlangsung di rumah mitra dan berlangsung selama 2 hari.
Tim bersama mitra saling bekerjasama agar dapat menghasilkan produk teh herbal
dengan yang kualitas baik. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan nilai jual teh
herbal. Terutama bagi masyarakat yang menyukai minuman teh, sebab teh herbal
berbeda dengan teh biasa. Pada teh biasa mengandung kafein sedangkan, teh herbal
tidak mengandung kafein dan memiliki kandungan herbal spesifik yang dapat
memberikan efek tertentu bagi kesehatan seperti relaksasi, penyembuhan dan lain-
lain (Ravikumar, 2014).
3.2 Evaluasi pelaksanaan program dan keberlanjutan program
Kegiatan evaluasi dilakukan pada akhir pelaksanaan kegiatan budidaya dan pemasaran
produk jagung sebagai obat herbal ini. Evaluasi dilakukan untuk melihat peluang usaha
produksi teh herbal dari rambut jagung ini untuk berkembang lebih besar. Analisis
usaha dilakukan dengan menggunakan analisis SWOT untuk melihat kesempatan usaha
ini untuk berkembang serta tantangan dan hambatan usaha produk teh herbal ini. Selain
itu, tim pelaksana juga membantu mitra untuk mendapatkan akses kepada beberapa
pihak yang dapat mendukung usaha produk teh herbal, seperti para konsumen yang

11
sedang menjaga pola kesehatannya terutama bagi penderita diabetes. Hal tersebut
dilakukan agar usaha mitra dapat berkembang dan memotivasi anggota-anggota mitra
lainnya serta masyarakat sekitar untuk turut serta menjalankan usaha ini pula.

BAB 4. KELAYAKAN PERGURUAN TINGGI


Universitas Muhammadiyah Makassar turut berperan serta secara aktif dalam
usaha peningkatan mutu Sumber daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Alam (SDA).
Melalui Pusat Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat, memberikan kesempatan
bagi dosen dan mahasiswa untuk melakukan kegiatan-kegiatan penelitian dan
pengabdian tersebut. Kegiatan pengabdian masyarakat meliputi kegiatan pelatihan,
pendampingan, Konsultasi Usaha Mikro dan Program Pemantapan Profesi Keguruan
(P2K).
Kelayakan Universitas Muhammadiyah Makassar untuk melaksanakan kegiatan
ini ditunjukkan oleh kinerja LP3M dalam 2 tahun terakhir. LP3M mengelola kegiatan
pengabdian pada masyarakat, baik dengan sumber dana internal Universitas
Muhammadiyah Makassar maupun dana eksternal dari berbagai sumber. Data
pengelolaan kegiatan pengabdian pada masyarakat oleh LP3M Unismuh Makassar
dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.1 Pengelolaan kegiatan pengabdian pada masyarakat oleh LP3M Unismuh
Makassar
Ketua
Tahun Skema Judul
Pelaksana
Dewi IbM Kelompok Tani Ternak Ayam Di
2015 IbM Puspita Sari Kecamatan Maritengngae Kabupaten
S.P, M.Si Sidrap
IbM Kelompok Tani Pembudidaya Ikan
Abdul Haris Nila Di desa Gentungan, Kecamatan
2015 IbM
S.Pi., M.Si Bajeng Barat, Kabupaten Gowa, Sulawesi
Selatan
IbM Pelatihan Pembuatan Alat Pembakar
Haerul M Ikan Model Oven Katahi Pada Masyarakat
2015 IbM
S.Si Penjual Sop Saudara Di Kabupaten
Pangkep Sulawesi Selatan
Instalasi Pengolahan Air Tanah Asin
Amrullah
Sederhana (IPATAS) untuk Penyediaan
2015 IbM M.S.T.,
Air Bersih Tekolabbua Desa
M.T
Borimasunggu Kab. Maros
Ana IbM Diversifikasi Produk Olahan dan
Dhiqfaini Bentuk Kemasan Nira-Aren yang Bernilai
2015 IbM
Sultan Kompetitif Tinggi Di Desa Mariorilau
S.Si,M.Pd Kecamatan Mariorilau Kabupaten Soppeng
Dr. Dra IbM Kelompok Pengrajin Rotan Di
2015 IbM
Fatmawati Kelurahan Lembo

12
Salwa IbM Pelatihan dan Pendampingan
2015 IbM Rufaida Pembuatan Fish Dryer bagi Pengusaha
S.Pd.,M.Pd Ikan Kering Di Kabupaten Barru
IbM Masyarakat Tani Ternak Melalui
Pemanfaatan dan Sentuhan Teknologi Pada
2015 IbM Irma Hakim Pengolahan Susu Sapi yang Berbasis
Techno-Social dalam Pengembangan
Usaha di Desa Gunung Perak.
Arsyuni Ali
IbM Masyarakat Di Pinggiran Sungai Tallo
2015 IbM Mustary
Kelurahan Buloa Kota Makassar
S.T.,M.T

BAB 5. HASIL DAN LUARAN YANG DICAPAI


1. Penyuluhan
Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan mengenai
budidaya dan pemasaran produk jagung sebagai obat herbal. Pada kegiatan ini
petani diberikan pengetahuan terkait produksi teh herbal dari limbah produk
jagung, guna mengasah keterampilan dan untuk meningkatkan produktivitas,
pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Selain itu dengan adanya
penyuluhan ini dapat menjadi referensi bagi masyarakat agar lebih mampu
menjaga kesehatan tubuh dengan mengkonsumsi obat herbal.

Gambar 5.1 Penyuluhan Budidaya dan Pemasaran Produk Jagung Sebagai Obat Herbal
Penyuluhan tentang pembuatan teh herbal yang berasal dari limbah
rambut jagung ini tentunya memiliki tujuan. Tujuan dalam penyuluhan ini
adalah mensosialisasikan manfaat limbah jagung sebagai pangan fungsional
yang aman bagi kesehatan dan memberikan pelatihan pembuatan teh
herbal yang berasal dari limbah. Diharapkan bermanfaat bagi kelompok

13
tani dan masyarakat sekitar menjadi sadar mengenai besarnya potensi
rambut jagung sebagai pangan fungsional yang baik untuk kesehatan.
Selain itu, diharapkan dapat bermanfaat untuk meningkatkan
keterampilan dalam mengolah dan mengembangkan produk baru hasil
olahan teh herbal rambut jagung, sehingga nantinya dapat sebagai
digunakan sebagai bekal untuk berwirausaha. Dengan peluang berwirausaha
yang terbuka dari pemanfaatan olahan teh herbal rambut jagung dapat
menghasilkan keuntungan yang lebih untuk Kelompok Tani ataupun
masyarakat sekitar menjadi lebih baik (Siqhny, 2020). Selain itu pada
penyuluhan ini lebih diarahkan terkait manfaat dari rambut jagung ini untuk
kesehatan.
Rambut jagung berbau aromatik lemah, rasanya agak sepat. Rambut
jagung yang dikeringkan selanjutnya dihaluskan ternyata besar manfaatnya,
karena zat-zat yang terkandung, yaitu asam maisenat (2%-2,25%), minyak
lemak, damar, gula, dan garam-garam mineral, sangat baik dipakai bagi
diuretika, dengan dosis antara 4 gram sampai dengan 12 gram. Selain itu
rambut jagung mengandung asam lemak 2,5%, miyak atsiri 0,12%, karet
3,8%, resin 2,7%, saponin 3,18%, dan alkaloid 0,05% . Rambut jagung juga
dapat digunakan sebagi obat tradisional yakni sebagai peluruh air seni,
penurun tekanan darah tinggi dengan senyawa yang diduga berperan adalah
saponin (Rahmayani, 2007).
Rambut jagung mengandung beberapa komponen bioaktif seperti
flavonoid, fenol dan senyawa fenolik lainnya. Komponen tersebut dapat
berperan sebagai senyawa antioksidan yang sangat bermanfaat bagi kesehatan
tubuh (Wijayanti et al., 2016).
Menurut Sofia dalam Redha (2010), juga disebutkan bahwa gugus prenil
flavonoid banyak dikembangkan untuk pencegahan atau terapi terhadap
penyakit-penyakit yang diasosiasikan dengan adanya radikal bebas, seperti
penyakit degeneratif. Flavonoid ini dapat menggantikan sumber vitamin E
yang berfungsi untuk tubuh manusia. Hal ini membuktikan bahwa rambut
jagung memiliki banyak kandungan nutrisi yang baik untuk kesehatan.
Pada penyuluhan ini selain menjelaskan manfaat dari rambut jagung
sebagai produk teh herbal juga di paparkan pula terkait proses pemasarannya.
Pemasaran produk ini dengan menggunakan sosial media baik berupa

14
Facebook atau Instagram. Melalui sosial media mitra dapat mempromosikan
produknya dengan skala yang lebih luas.

2. Monitoring
Kegiatan monitoring bertujuan untuk memantau kegiatan produksi
produk teh herbal dan kendala apa saja yang ditemui. Kegiatan monitoring ini
berlangsung selama 1 bulan dimulai saat pengumpulan bahan, proses produksi
dan pemasaran. Selama proses monitoring berlangsung terdapat beberapa
kendala terutama pada proses pengeringan. Proses pengeringan merupakan
proses yang sangat penting terutama dalam hal menjaga kandungan gizi pada
rambut jagung.
Berdasarkan hasil penelitian Harun (2011), menunjukkan bahwa
karakteristik teh herbal rambut jagung diperoleh interaksi lama pelayuan dan
lama pengeringan terhadap kadar air, serat kasar, dan penilaian organoleptik
teh herbal rambut jagung yang dihasilkan. Teh herbal rambut jagung
terbaik dari segi analisis fisio-kimiawi dan penilaian organoleptik adalah
perlakuan pelayuan 18 jam dan pengeringan 4 jam.

Gambar 5.2 Rambut jagung


Proses pengeringan rambut jagung yang baik dilakukan pada suhu 30°C-
90°C (terbaik 60°C). Namun pada kondisi bahan aktif tidak tahan terhadap
panas atau mengandung bahan yang mudah untuk menguap, dilakukan pada
suhu 30°C-45°C atau dilakukan dengan menggunakan oven vakum.
Umumnya, senyawa-senyawa yang berwarna memiliki kerentanan terhadap
sinar matahari. Selain harus memperhatikan cara pengeringan yang dilakukan,
proses pengeringan juga harus memperhatikan ketebalan dari simplisia yang
dikeringkan (Pramastya, 2011).

15
Selain proses pengeringan, proses pemilihan bahan juga merupakan hal
yang penting. Memilih umur rambut jagung yang akan digunakan, rambut
jagung yang digunakan adalah rambut jagung manis dan hibrida yang
berumur 8 minggu (pada jagung basah atau segar) dan rambut jagung manis
dan hibrida yang berumur 10 minggu (pada jagung yang sudah kering).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Garnida (2018), menunjukkan umur
rambut jagung yang baik adalah umur rambut jagung 8 minggu baik pada
jagung manis dan jagung hibrida, sedangkan waktu pengeringan terpilih
adalah waktu pengeringan 5 jam. Suhu pengeringan berpengaruh terhadap
kadar vitamin C dan warna seduhan teh herbal rambut jagung. Jenis jagung
berpengaruh terhadap kadar vitamin C, warna, rasa dan aroma seduhan teh
herbal rambut jagung. Interaksi suhu pengeringan dan jenis jagung
berpengaruh terhadap kadar vitamin C, warna, rasa dan aroma seduhan teh
herbal rambut jagung. Perlakuan terpilih yaitu suhu pengeringan 60⁰C jagung
manis dengan kadar abu 4.31% dan kadar vitamin C sebesar 1.40%.
Perlakuan terpilih dilakukan analisis flavonoid dan memiliki kandungan
flavonoid sebesar 0.04 % (b/b).
3. Pengolahan Produk Jagung Sebagai Obat Herbal
Pengolahan produk ini berupa limbah rambut jagung yang diolah menjadi
teh herbal yang bermanfaat untuk kesehatan. Adapun langkah-langkah
pengelolaannya yakni sebagai berikut.
a. Persiapan bahan
Rambut jagung manis dan hibrida umur 8 minggu disiapkan untuk
dilakukan proses selanjutnya.
b. Sortasi
Sortasi bahan baku merupakan tahap awal yang perlu dilakukan untuk
mendapatkan rambut jagung yang berkualitas. Sortasi akan menentukan
hasil akhir yang akan diperoleh sesuai dengan kuaitas yang diinginkan. Hal
ini dapat dilakuakan dengan cara manual untuk memisahkan bahan baku
yang baik, cacat, atau busuk. Sortasi dilakukan dengan memilih bagian
rambut jagung yang diutamakan yakni rambut jagung yang berada di bagian
dalam yang masih tertutup kulit jagung. Hal ini dikarenakan rambut jagung
yang masih tertutup masih banyak mengandung senyawa-senyawa alami
dan belum banyak terkontaminasi oleh lingkungan luar.

16
c. Pencucian
Pencucian ini dilakukan untuk membersihkan potongan-potongan benda
lain atau kotoran berupa tanah atau debu yang menempel. Dalam pencucian
diusahakan agar kotoran tidak mempengaruhi warna penampakan bahan
baku. Karena dikhawatirkan kotoran yang terbawa akan mempengaruhi
khasiat dari teh rambut jagung. Pencucian juga tidak boleh terlalu lama
untuk menghindari penurunan kualitas dan kandungan senyawa aktif.
d. Penirisan dan perajangan
Setelah selesai barulah, rambut jagung ditiriskan untuk dirajang/digiling.
Perajangan dilakukan dengan menggunakan pisau pada skala kecil atau
penggilingan dengan menggunakan mesin untuk produksi skala besar.
Rambut jagung memiliki ukuran yang kecil dan mudah dihancurkan
sehingga tidak terlalu sulit dalam proses perajangan maupun penggilingan.
Perajangan dan penggilingan bertujuan untuk mendapatkan bentuk teh
herbal yang berukuran halus sehingga mudah untuk mendapatkan ekstrak
rambut jagung saat penyeduhan.
e. Pengeringan
Proses pengeringan rambut jagung yang baik dilakukan pada suhu 30°C-
90°C (terbaik 60°C). Namun pada kondisi bahan aktif tidak tahan terhadap
panas atau mengandung bahan yang mudah untuk menguap, dilakukan pada
suhu 30°C-45°C atau dilakukan dengan menggunakan oven vakum.
Umumnya, senyawa-senyawa yang berwarna memiliki kerentanan
terhadap sinar matahari. Selain harus memperhatikan cara pengeringan
yang dilakukan, proses pengeringan juga harus memperhatikan ketebalan
dari simplisia yang dikeringkan (Pramastya, 2011).
f. Pengemasan
Pengemasan dilakukan dengan tujuan untuk menjaga kualitas teh herbal
ini. Sehingga dapat menarik perhatian dan minat konsumen.
g. Pemasaran
Pemasaran dilakukan dengan menggunakan media sosial seperti
facebook dan instagram sebagai alat untuk melakukan promosi. Sehingga
dapat membantu pemasaran produk ini.

17
Gambar 5.3 Teh herbal dari rambut jagung

BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN


Penyuluhan budidaya dan pemasaran produk jagung sebagai obat herbal, dengan
menggunakan produk limbah rambut jagung. Produk ini dapat dijadikan sebagai usaha
untuk memanfaatkan limbah yang terbuang menjadi lebih berguna. Usaha budidaya
pemasaran produk jagung sebagai obat herbal, oleh mitra berjalan dengan baik. Hasil
yang diperoleh berupa produksi limbah rambut jagung yang kemudian, diolah menjadi
teh herbal yang sangat baik untuk menjaga kesehatan.
DAFTAR PUSTAKA
Alwi, A.N. S. & Rosalina A. L. Potensi Teh Herbal Rambut Jagung (Zea mays L.)
Sebagai Sumber Antioksidan: Kajian Pustaka. Jurnal Ilmu Pangan dan Hasil
Pertanian. Vol. 4 No. 1

Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi. 2005. Tanaman Obat Indonesia


jagung. Jakarta: IPTEKnet BPPT.

Badan Pusat Statistik. 2009. Grafik Produksi Jagung di Indonesia. Jakarta: Badan Pusat
Statistik Republik Indonesia.

Departemen Kesehatan. 2009. Hindari Hipertensi, Konsumsi Garam 1 Sendok Teh per
Hari. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Dhalimartha S. 2006. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia, Jilid II. Jakarta: Trubus Agri
Widya.

Garnida, Yudi. Dkk. 2018. Pengaruh Suhu Pengeringan Dan Jenis Jagung Terhadap
Karakteristik Teh Herbal Rambut Jagung (Corn Silk Tea). Pasundan Food
Technology Journal. Vol.5, No.1

Hambali, E. M. Z., Nasution dan Herliana, E. 2005. Membuat Aneka Herbal Tea.
Penebar Swadaya, Jakarta

18
Harun, N., Rossi, E., dan Adawiyah M. (2011). Karakteristik Teh Herbal Jagung
dengan Perlakuan Lama Pelayuan dan Lama Pengeringan. Program Studi
Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Riau.

Hasanudin, K., Hasyim, P. dan Mustafa, S. 2012. Corn Silk (Stigma maydis) in
Healthcare: A Phytochemical and Pharmalogical Review. Journal Molecules.
17: 9697-9715

Indriani, H., Aang, S., dan Anna, A. (2010). Pengembangan Potensi Rambut Jagung
(Zea mays) dan Kulit Jeruk Manis (Citrus sinesis) Sebagai Alternatif Terapi
Limbah Herbal Meluruhkan Batu-Batu Empedeu (Gallstones) Secara Alamiah.
Program Kreativitas Mahasiswa. Universitas Negeri Malang.

Iskandar Y. 2007. Tanaman obat yang berkhasiat sebagai antihipertensi. Karya ilmiah.
Fakultas Farmasi: Universitas Padjajaran Bandung.

Kusumaningrum, H. P. dan Zainuri, M. 2013. Aplikasi pakan alami kaya karotenoid


untuk post larvae Penaeus monodon Fab., ILMU KELAUTAN: Indonesian
Journal of Marine Sciences, 18, 143 – 149.

Laeliocattleya, R.A., Prasiddha, I.J., Estiasih,T., Maligan, J.M., dan Muchlisyiyah, J.


2014. “Potensi Senyawa Bioaktif Rambut Jagung (Zea Mays L.) Hasil
Fraksinasi Bertingkat Menggunakan Pelarut Organik Untuk Tabir Surya
Alami”. Jurnal Teknologi Pertanian. Vol. 15 No. 3.

Pramastya, Hegar. (2011). Pengolahan Pasca Panen Simplisia dan Produk Bahan Alam
Nabati.ttp://hegarpramastya.files.wodpress.com/Pengolahan-pasca-panen-
simplisia-dan-produk-bahan-alam-nabati. Akses 30 oktober 2013.

Rahmayani A. 2007. Telaah kandungan kimia rambut jagung (Zea mays L.) [tesis].
Bandung: Departemen Farmasi, Institut Teknologi Bandung.

Ravikumar, C. 2014. Review on Herbal Teas. Journal of Pharmaceutical Sciences and


Research. Vol. 6 (5), 2014, 236-238

Redha, A. 2010. Flavonoid: Struktur, Sifat Antioksidatif dan Peranannya Dalam Sistem
Biologis. Jurnal Belian. 9(2): 196-202

Sayuti, K. dan Yenrina, R. 2015. Antioksidan, Alami dan Sintetik. Padang: Andalas
University Press

Subekti et al. 2006. Morfologi Tanaman dan Fase Pertumbuhan. Maros : Balai
Penelitian Tanaman Serealia.

Sukamdar EY. 2006. Alam Sumber Kesehatan, Manfaat dan Kegunaan. Jakarta: Balai
Pustaka.

Wijayanti, F. dan Ramadhian, M. R. 2016. Efek Rambut Jagung (Zea mays) Terhadap
Penurunan Kadar Kolesterol Dalam Darah. Majority. Vol. 5, No. 3

Winarti, S. 2010. Makanan Fungsional. Yogyakarta: Graha Ilmu

19
LAMPIRAN:

DOKUMENTASI PENYULUHAN BUDIDAYA DAN PEMASARAN PRODUK


JAGUNG SEBAGAI OBAT HERBAL

SOSIALISASI PENYULUHAN BUDIDAYA PRODUK JAGUNG SEBAGAI OBAT


HERBAL

20
SOSIALISASI PEMASARAN PRODUK JAGUNG SEBAGAI OBAT HERBAL

21