PROPOSAL
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK)
PERILAKU KEKERASAN
Disusun:
oleh
RISKIYANTI [Link]
P00220217037
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN PALU
PROGRAM STUDI DIII KEPERWATAN POSO
TAHUN 2019/2020
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Manusia adalah makhluk sosial, yang terus menerus membutuhkan adanya
orang lain di sekitarnya. Salah satu kebutuhan manusia untuk melakukan interaksi
dengan sesama manusia. Interaksi ini dilakukan tidak selamanya memberikan hasil
yang sesuai dengan apa yang diharapkan oleh individu, sehingga mungkin terjadi suatu
gangguan terhadap kemampuan individu untuk interaksi dengan orang lain (Azizah,
2010).
Kelompok adalah kumpulan individu yang memilih hubungan satu dengan
yang lain. Anggota kelompok mungkin datang dari berbagai latar belakang yang harus
ditangani sesuai dengan keadaannya, seperti agresif, takut, kebencian, kompetitif,
kesamaan ketidaksamaan, kesukaan dan menarik diri (Stuart dan Laraia, 2006). Terapi
kelompok adalah suatu psikoterapi yang dilakukan oleh sekelompok penderita bersama-
sama dengan jalan diskusi satu sama lain yang dipimpin, diarahkan oleh terapis/petugas
kesehatan yang telah dilatih (Keliat, 2009).
Terapi aktivitas kelompok itu sendiri mempermudah psikoterapi dengan
sejumlah pasien dalam waktu yang sama. Manfaat terapi aktivitas kelompok yaitu agar
pasien dapat belajar kembali bagaimana cara bersosialisasi dengan orang lain, sesuai
dengan kebutuhannya memperkenalkan dirinya. Menanyakan hal-hal yang sederhana
dan memberikan respon terhadap pertanyaan yang lain sehingga pasien dapat
berinteraksi dengan orang lain dan dapat merasakan arti berhubungan dengan orang
lain (Bayu, 2011).
Pada pasien dengan perilaku kekerasan selalu cenderung untuk melakukan
kerusakan atau mencederai diri, orang lain, atau lingkungan. Perilaku kekerasan tidak
jauh dari kemarahan. Kemarahan adalah perasaan jengkel yang timbul sebagai respon
terhadap kecemasan yang dirasakan sebagai ancaman. Ekspresi marah yang segera
karena suatu sebab adalah wajar dan hal ini kadang menyulitkan karena secara kultural
ekspresi marah yang tidak diperbolehkan. Oleh karena itu, marah sering diekspresikan
secara tidak langsung (Sumirta, 2013).
Atas dasar tersebut, maka dengan terapi aktivitas kelompok (TAK) pasien
dengan perilaku kekerasan dapat tertolong dalam hal sosialisasi dengan lingkungan
sekitarnya. Tentu saja pasien yang mengikuti terapi ini adalah pasien yang mampu
mengontrol dirinya dari perilaku kekerasan sehingga saat TAK pasien dapat
bekerjasama dan tidak mengganggu anggota kelompok lain.
B. Rumusan Masalah
1. Apa landasan teori TAK stimulasi perilaku kekerasan ?
2. Apa masalah keperawatan yang dapat diambil?
3. Apa tujuan TAK stimulasi perilaku kekerasan ?
4. Bagaimana persiapan TAK stimulasi perilaku kekerasan ?
5. Bagaimana kegiatan TAK stimulasi perilaku kekerasan ?
6. Bagaimana kriteria eveluasi TAK stimulasi perilaku kekerasan ?
7. Bagaimana rencana pelaksanaan TAK stimulasi perilaku kekerasan ?
8. Bagaimana pelaksanaan TAK stimulasi perilaku kekerasan ?
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Pasien dapat mengendalikan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan.
b. Mengidentifikasi tanda dan gejala perilaku kekerasan.
c. Mengidentifikasi perilakuk kekerasan yang dilakukan.
d. Mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Perilaku kekerasan
1. Definisi
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan
tindakan yang dapat membahayakan secara fisik, baik kepada diri sendiri maupun
orang lain. Sering disebut juga gaduh gelisah atau amuk dimana seseorang marah
berespon terhadap suatu stressor dengan gerakan motorik yang tidak terkontrol
(Yosep, 2009).
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan
tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang
lain, maupun lingkungan dimana hal tersebut untuk mengungkapkan perasaan kesal
atau marah yang tidak konstruktif (Stuart & Sundeen, 2005).
2. Penyebab
a. Faktor Predisposisi
1) Faktor psikologis
Frustation-aggresion theory: teori yang dikembangkan oleh pengikut
freud ini berawal dari asumsi, bahwa bila usaha seseorang untuk mencapai
suatu tujuan mengalami hambatan maka akan timbul dorongan agresif
yang pada gilirannya akan memotivasi perilaku yang dirancang untuk
melukai orang atau objek yang menyebabkan frustasi. Jadi hampir semua
orang yang melakukan tindakan agrresif mempunyai riwayat perilaku
agresif.
Pandangan psikologi lainnya mengenai perilaku agresif, mendukung
pentingnya peran dari perkembangan presdiposisi atau pengalaman hidup.
Ini menggunakan pendekatan bahwa manusia mampu memilih mekanisme
koping yang sifatnya tidak merusak. Beberapa contoh dari pengalaman
tersebut:
a) Kerusakan otak organik, retardasi mental sehingga tidak mampu untuk
menyelesaikan secara efektif.
b) Severe emotional deprivation atau rejeksi yang berlebihan pada masa
kanak-kanak,atau seduction parental, yang mungkin telah merusak
hubungan saling percaya dan harga diri.
c) Terpapar kekerasan selama masa perkembangan, termasuk child
abuse atau mengobservasi kekerasan dalam keluarga, sehingga
membentuk pola pertahanan atau koping.
2) Faktor soosial budaya
Social-Learning Theory: teory yang dikembangkan oleh Bandura
(1977) dalam Yosep (2009) ini mengemukakan bahwa agresi tidak berbeda
dengan respon-respon yang lain. Agresi dapat dipelajari melalui observasi
atau imitasi, dan semakin sering mendapatkan penguatan maka semakin
besar kemungkinan untuk terjadi. Jadi seseorang akan berespon terhadap
kebangkitan emosionalnya secara agresif sesuai dengan respon yang
dipelajarinya. Pelajaran ini bisa internal atau eksternal.
Kultural dapat pula mempengaruhi perilaku kekerasan. Adanya norma
dapat membantu mendefinisikan ekspresi agresif mana yang dapat
diterima atau tidak dapat diterima. Sehingga dapat membantu individu
untuk mengekspresikan marah dengan cara yang asertif.
3) Faktor biologis
Penelitian neurobiologi mendapatkan bahwa adanya pemberian
stimulus elektris ringan pada hipotalamus bidatang ternyata menimbulkan
perilaku agresif. Rangsangan yang diberikan terutama pada nukleus
periforniks hipotalamus dapat menyebabkan seekor kucing mengeluarkan
cakarnya, mengangkat ekornya, mendesis dll. Jika kerusakan fungsi sistem
limbik (untuk emosi dan perilaku), lobus frontal (untuk pemikiran rasional)
dan lobus temporal.
Neurotransmiter yang sering dikaitkan dengan perilaku agresif:
serotonin, dopamin, norepineprine, acetilkolin dan asam amino GABA.
Faktor-faktor yang mendukung:
1) Masa kanak-kanak yang mendukung
2) Sering mengalami kegagalan
3) Kehidupan yang penuh tindakan agresif
4) Lingkungan yang tidak kondusif (bising, padat)
b. Faktor Presipitasi
Faktor-faktor yang dapat mencetuskan perilaku kekerasan sering kali
berkaitan dengan (Yosep, 2009):
a. Ekspresi diri, ingin menunjukkan eksistensi diri atau simbol solidaritas
seperti dalam sebuah konser, penonton sepak bola, geng sekolah,
perkelahian masal dan sebagainya.
b. Ekspresi dari tidak terpenuhinya kebutuhan dasar dan kondisi sosial
ekonomi.
c. Kesulitan dalam mengkomunikasikan sesuatu dalam keluarga serta tidak
membiasakan dialog untuk memecahkan masalah cenderung melalukan
kekerasan dalam menyelesaikan konflik.
d. Ketidaksiapan seorang ibu dalam merawat anaknya dan ketidakmampuan
dirinya sebagai seorang yang dewasa.
e. Adanya riwayat perilaku anti sosial meliputi penyalahgunaan obat dan
alkoholisme dan tidak mampu mengontrol emosinya pada saat
menghadapi rasa frustasi.
f. Kematian anggota keluarga yang terpenting, kehilangan pekerjaan,
perubahan tahap
3. Rentang Respon Marah
Menurut yosep, (2010) perilaku kekerasan merupakan status rentang emosi
dan ungkapan kemarahan yang dimanifestasikan dalam bentuk fisik. Rentang
respon kemarahan individu dimulai dari respon normal (asertif) sampai pada respon
sangat tidak normal (maladaptif).
Respon Adaptif respon maladaptif
Asertif Frustasi Pasif Agresif Kekerasan
Klien mampu Klien gagal Klien merasa Klien Perasaan
mengungkapka mencapai tidak dapat mengekspresi marah dan
n marah tanpa tujuan mengungkapak kan secara bermusuhan
menyalahkan kepuasan/saat an fisik, tapi yang kuat dan
orang lain dan marah dan perasaannya, masih hilang
memberikan tidak dapat tidak berdaya terkontrol, kontrol,
kelegaan menemukan dan menyerah mendorong disertai amuk,
alternatifnya orang lain merusak
dengan lingkungan
ancaman.
4. Mekanisme Koping
Mekanisme koping yang biasa digunakan adalah:
a. Sublimasi, yaitu melampiaskan masalah pada objek lain.
b. Proyeksi, yaitu menyatakan orang lain mengenal kesukaan/ keinginan tidak
baik.
c. Represif, yaitu mencegah keinginan yang berbahaya bila diekspresikan dengan
melebihkan sikap/ perilaku yang berlawanan.
d. Reaksi formasi, yaitu mencegah keinginan yang berbahaya bila diekspresikan
dengan melebihkan sikap perilaku yang berlawanan.
e. Displecement, yaitu melepaskan perasaan tertekan dengan bermusuhan pada
objek yang berbahaya.
f. Perilaku kekerasan biasanya diawali dengan situasi berduka yang
berkepanjangan dari seseorang karna ditinggal oleh orang yang dianggap
berpangaruh dalam hidupnya. Bila kondisi tersebut tidak teratasi, maka dapat
menyebabkan seseorang harga diri rendah (HDR), sehingga sulit untuk
bergaul dengan orang lain. Bila ketidakmampuan bergaul dengan orang lain
tidak dapat diatasi maka akan muncul halusinasi berupa suara-suara atau
bayang-bayangan yang meminta klien untuk melakukan kekerasan. Hal ini
data berdampak pada keselamatan dirinya dan orang lain (resiko mencederai
diri, orang lain dan lingkungan).
5. Tanda dan Gejala
Yosep (2009) mengemukakan bahwa tanda dan gejala perilaku kekerasan
adalah sebagai berikut :
a. Fisik b. Verbal
1) Muka merah dan tegang 1) Bicara kasar
2) Mata melotot/ pandangan tajam 2) Suara tinggi, membentak atau
3) Tangan mengepal berteriak
4) Rahang mengatup 3) Mengancam secara verbal atau
5) Postur tubuh kaku fisik
6) Jalan mondar-mandir 4) Mengumpat dengan kata-kata
kotor
5) Suara keras
6) Ketus
c. Perilaku d. Emosi
1) Melempar atau memukul 1) Tidak adekuat
benda/orang lain 2) tidak aman dan nyaman
2) Menyerang orang lain 3) rasa terganggu
3) Melukai diri sendiri/orang lain 4) dendam dan jengkel
4) Merusak lingkungan 5) tidak berdaya
5) Amuk/agresif 6) bermusuhan
7) mengamuk
8) ingin berkelahi
9) menyalahkan dan menuntut.
e. Intelektual f. Spiritual
1) Mendominasi 1) Merasa diri berkuasa
2) Cerewet 2) merasa diri benar
3) Kasar 3) mengkritik pendapat orang lain
4) Berdebat 4) menyinggung perasaan orang
5) meremehkan lain dan tidak perduli dan kasar.
g. Sosial h. Perhatian
1) Menarik diri 1) Bolos
2) Pengasingan 2) Mencuri
3) Penolakan 3) melarikan diri
4) Kekerasan 4) penyimpangan seksual.
5) Ejekan
6) Sindiran
B. Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) Stimulasi Persepsi
1. Definisi
Terapi aktivitas kelompok merupakan suatu psikoterapi yang dilakukan
sekelompok pasien yang mempunyai masalah keperawatan yang sama lalu
bersama-sama dengan jalan berdiskusi satu sama lain yang dipimpin atau
diarahkan oleh seorang therapist atau petugas kesehatan jiwa yang telah terlatih
(Yosep,2007).
Kelompok adalah kumpulan individu yang memiliki hubungan satu dengan
yang lain, saling bergantung dan mempunyai norma yang sama ( Stuart & Laraia,
2001). Anggota kelompok mungkin datang dari berbagai latar belakang yang harus
ditangani sesuai dengan keadaannya, seperti agresif, takut, kebencian, kompetitif,
kesamaan, ketidaksamaan, kesukaan, dan menarik. Semua kondisi ini akan
mempengaruhi dinamika kelompok, ketika anggota kelompok memberi dan
menerima umpan balik yang berarti dalam berbagai interaksi yang terjadi dalam
kelompok.
Manfaat terapi aktivitas kelompok yaitu agar pasien dapat belajar kembali
bagaimana cara bersosialisasi dengan orang lain, sesuai dengan kebutuhannya
memperkenalkan dirinya. Menanyakan hal-hal yang sederhana dan memberikan
respon terhadap pertanyaan yang lain sehingga pasien dapat berinteraksi dengan
orang lain dan dapat merasakan arti berhubungan dengan orang lain (Bayu, 2011).
Dalam terapi aktivitas kelompok, stimulasi persepsi dibagi menjadi 5 sesi,
yaitu:
2. Tujuan
Menurut Yosep (2007), ada dua tujuan umum dari terapi aktivitas kelompok ini
yaitu tujuan terapeutik dan tujuan rehabilitatif.
a. Tujuan terapeutik meliputi :
1) Menggunakan kegiatan untuk memfasilitasi interaksi
2) Mendorong sosialisasi dengan lingkungan (hubungan dengan luar diri klien
3) Meningkatkan stimulus realitas dan respon individu
4) Memotivasi dan mendorong fungsi kognitif dan afektif
5) Meningkatkan rasa memiliki
6) Meningkatkan rasa percaya diri
b. Tujuan rahabilitatif
1) Meningkatkan kemampuan untuk ekspresi diri
2) Meningkatkan kemampuan empati
3) Meningkatkan keterampilan sosial
4) Meningkatkan pola penyelesaian masalah
BAB III
PELAKSANAAN TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK
STIIMULASI PERSEPSI PERILAKU KEKERASAN
A. Pengorganisasian
Hari/tanggal :
Waktu Pelaksanaan :
1. Pembukaan :
2. Inti :
3. Penutup :
Tempat :
B. Terapist :
1. Leader
1) Mengkoordinasi seluruh kegiatan
2) Memimpin jalannya terapi kelompok
3) Memimpin diskusi kelompok dengan evaluasi kelompok.
2. Co Leader
1) Membantu leader mengkordinasi semua kegiatan
2) Mengingatkan leader jika ada kegiatan yang menyimpang.
3) Membantu memimpin jalannya kegiatan.
4) Menggantikan leader jika ada berhalangan.
3. Observer
1) Mengamati semua proses kegiatanyang berkaitan dengan waktu, tempat
danjalannya acara.
2) Melaporkan hasil pengamatan pada leader dan semua angota
4. Fasilitator
1) Memotivasi peserta dalam aktivitas kelompok.
2) Memotivasi anggota dalam ekspresi perasaan setelah kegiatan.
3) Mengatur posisi kelompok dalam lingkungan untuk melaksanakan kegiatan.
4) Membimbing kelompok selama permainan diskusi.
5) Membantu leader dalam melaksanakan kegiatan.
6) Bertanggung jawab terhadap program antisipasi masalah
C. Setting tempat:
a. Terapis dan klien duduk berhadapan dan berdampingan.
b. Ruangan nyaman dan tenang
keterangan
: Observer : Fasilitator
: Peserta : Leader
: Co Leader
D. Peserta
1. Kriteria
1) Klien dengan riwayat perilaku kekerasan.
2) Klien yang mengikuti TAK ini tidak mengalami perilaku agresif atau mengamuk,
dalam keadaan tenang.
3) Kondisi fisik dalam keadaan baik
4) Klien dapat diajak kerjasama (cooperative)
5) Mau mengikuti kegiatan terapi aktifitas kelompok
2. Proses seleksi:
1) Mengobservasi pasein yang masuk kriteria.
2) Megidektifikasi pasien yang masuk kriteria.
3) Mengumpulkan pasien yang masuk kriteria.
4) Membuat kontrak dengan pasien yang setuju ikut TAK PK. Mengikuti:
menjelaskan tujuan TAK PK pada pasien, rencana kegiatan kelompok, dan
aturan main dalam kelompok.
E. Metode Aktivita Kelompok
1. Diskusi tanya jawab
2. Melengkapi jadwal harian
3. Bermain peran atau stimulasi
4. Dinamika kelompok
F. Terapi Stimulasi Persepsi perilaku kekerasan
a. Sesi 1: Mengenal Perilaku Kekerasan yang Biasa Dilakukan
Tujuan :
1. Klien dapat menyebutkan stimulasi penyebab kemarahannya.
2. Klien dapat menyebutkan respon yang dirasakan saat marah (tanda dan gejala
marah).
3. Klien dapat menyebutkan reaksi yang dilakukan saat marah (perilaku kekerasan).
4. Klien dapat menyebutkan akibat perilaku kekerasan
Standar Operasional Prosedur
No
Stimulasi Persepsi Perilaku Kekerasan Sesi 1
Tahap Pra-Interaksi
1 Memilih klien perilaku kekerasan yang sudah kooperatif
2 Membuat kontak dengan klien
3 Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
Alat :
G. Papan tulis / flipchart/ whiteboard
H. Kapur/ spidol
[Link] catatan dan pulpen
J. Jadwal kegiatan klien
Tempat :
a. Ruangan nyaman dan tenang
Tahap Orientasi
4 Salam terapeutik
a. Salam dari terapis kepada klien
b. Perkenalkan nama dan panggilan terapis (pakai papan nama).
c. Menanyakan nama dan panggilan semua klien (beri papan nama)
5 Evaluasi
a. Menanyakan perasaan klien saat ini
b. Menanyakan masalah yang dirasakan
6 Kontrak
a. Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu mengenal perilaku kekerasan yang biasa
dilakukan.
b. Menjelaskan aturan main berikut
Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus minta izin kepada
terapis.
Lama kegiatan 45 menit
Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai
Tahap Kerja
7 Mendiskusikan penyebab marah.
a. Tanyakan pengalaman tiap klien
b. Tulis di papan tulis/ flipchart/whiteboard
8 Mendiskusikan tanda dan gejala yang dirasakan klien saat terpapar oleh penyebab
marah sebelum perilaku kekerasan terjadi.
a. Tanyakan perasaan tiap klien saat terpapar oleh penyebab (tanda dan gejala)
b. Tulis di papan tulis/ flipchart/whiteboard
9 Mendiskusikan perilaku kekerasan yang pernah dilakukan klien (verbal, merusak
lingkungan, mencederai/memukul orang lain, memukul diri sendiri)
a. Tanyakan perilaku yang dilakukan saat marah.
b. Tulis di papan tulis/ flipchart/whiteboard.
10 Membantu klien memilih salah satu perilaku kekerasan yang paling sering dilakukan
untuk diperagakan
11 Melakukan bermain peran/ simulasi untuk perilaku kekerasan yang tidak berbahaya
(terapis sebagai sumber penyebab dan klien yang melakukan perilaku kekerasan).
12 Menanyakan perasaan klien setelah selesai bermain peran /simulasi.
13 Mendiskusikan dampak/akibat perilaku kekerasan
a. Tanyakan akibat perilaku kekerasan.
b. Tulis di papan tulis/ flipchart/whiteboard
14 Memberikan reinforcement pada peran serta klien.
15 upayakan semua klien terlibat.
16 Beri kesimpulan penyebab; tanda dan gejala; perilaku kekerasan dan akibat perilaku
kekerasan.
Tahap Terminasi
17 Evaluasi
a. Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK.
b. Memberikan reinforcement positif terhadap perilaku klien yang positif.
18 Tindak lanjut
a. Menganjurkan klien menilai dan mengevaluasi jika terjadi penyebab marah, yaitu
tanda dan gejala; perilaku kekerasan yang terjadi; serta akibat perilaku kekerasan.
b. Melaporkan kepada perawat jika klien tidak mampu memperagakkan perilaku
kekerasan
19 Kontrak waktu
a. Menyepakati , belajar cara baru yang sehat untuk mencegah perilaku kekerasan
b. Menyepakati waktu dan tempat TAK berikutnya
Tahap Evaluasi
20 Evaluasi dilakukan pada saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja.
Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK.
21 Untuk TAK stimulasi persepsi perilaku kekerasan sesi 1, kemampun yang diharapkan
adalah mengetahui penyebab perilaku, mengenal tanda dan gejala, perilaku
kekerasan yang dilakukan dan akibat perilaku kekerasan.
Formulir evaluasi sesi 1: TAK simulasi perilaku kekerasan
Kemampuan psikologis
No Nama Klien Penyebab PK Memberi tanggapan tentang
Tanda& Gejala PK Perilaku Kekerasan Akibat
PK
Petunjuk :
1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien Untuk tiap klien,
beri penilaian tentang kemampuan mengetahui penyebab perilakuk kekerasan, tanda
dan gejala dirasakan, perilaku kekerasan yang dilakukan dan akibat perilaku
kekerasan.
2. Beri tanda √ jika klienmampu dan tanda x jika klien tidak mampu
b. Sesi 2: Mencegah Perilaku Kekerasan Fisik
Tujuan:
1. Klien dapat menyebutkan kegiatan fisik yang biasa dilakukan klien
2. Klien dapat menyebutkan kegiatan fisik yang dapat mencegah perilaku kekerasan.
3. Klien dapat mendemonstrasikan dua kegiatan fisik yang dapat mencegah perilaku
kekerasan
Standar Operasional Prosedur
No
Stimulasi Persepsi Perilaku Kekerasan Sesi 2
Tahap Pra-Interaksi
1 Mengingatkan kontrak dengan klien yang telah ikut sesi 1.
2 Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
Alat :
a. Kasur / kantong tinju/ gendang
b. Papan tulis/ flipchart/ witheboard
c. Buku catatan dan pulpen
d. Jadwal kegiatan klien
Tahap Orientasi
3 Salam terapeutik
a. Salam dari terapis pada pasien
b. Klien dan terapis pakai papan nama.
4 Evaluasi
a. Menanyakan perasaan klien saat ini
b. Menyanyakan apakah ada kejadian perilaku kekerasan: penyebab; tanda dan
gejala; perilaku kekerasan serta akibatnya.
5 Kontrak
a. Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu secara fisik untuk mencegah perilaku
kekerasan
b. Menjelaskan aturan main berikut :
Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus minta izin kepada
terapis.
Lama kegiatan 45 menit
Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.
Tahap Kerja
6 Mendiskusikan kegiatan fisik yang biasa dilakukan oleh klien
a. Tanyakan kegiatan : rumah tangga, harian, dan olahraga yang biasa dilakukan
klien
b. Tulis di papan tulis/ flipchart/whiteboard
7 Menjelaskan kegiatan fisik yang dapat digunakan untuk menyalurkan kemarahan
secara sehat : tarik napas dalam, menjemur/memukul kasur/bantal, menyikat kamar
mandi, main bola, senam, memukul bantal pasir tinju, dan memukul gendang.
8 Membantu klien memilih dua kegiatan yang dapat dilakukan.
9 Bersama klien mempraktikan dua kegiatan yang dipilih
a. Terapis mempraktikan
b. klien melakukan redemonstrasi
10 Menanyakan perasaan klien setelah mempraktikan cara penyaluran kemarahan
11 Upayakan semua klien berperan aktif
Tahap Terminasi
12 Evaluasi
a. Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
b. Menanyakan ulang cara baru yang sehat mencegah perilaku kekerasan
13 Tindak lanjut
a. Menganjurkan klien menggunakan cara yang telah dipelajari jika stimulus
penyebab perilaku kekerasan
b. Menganjurkan klien melatih secara teratur cara yang telah dipelajari
c. Memasukkan pada jadwal kegiatan harian klien
14 Kontrak waktu
a. Meyepakati untuk belajar cara baru yang lain, yaitu interaksi sosial yang asertif
b. Meyepakati waktu dan tempat TAK berikutnya
Tahap Evaluasi
15 Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK.
16 Untuk TAK stimulasi persepsi perilaku kekerasan Sesi 2, kemampuan yang di
harapkan adalah 2 kemampuan mencegah perilaku kekerasan secara fisik.
Formulir evaluasi sesi 2 : TAK simulasi perilaku kekerasan
Kemampuan mencegah perilaku kekerasan fisik
No Nama Klien Mempraktikan cara fisik Mempraktikan cara fisik yang
yang pertama kedua
1
2
Petunjuk :
1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien.
2. Untuk setiap klien, beri penilaian tentang kemampuan mempraktikan dua cara fisik untuk
mencegah perilaku kekerasan. Beri tanda jika klien mampu dan tanda jika klien
tidak mampu.
c. Sesi 3: Mencegah Perilaku Kekerasan Sosial
Tujuan
1. Klien dapat mengungkapkan keinginan dan permintaan tanpa memaksa.
2. Klien dapat mengungkapkan penolakan dan rasa sakit hati tanpa kemarahan.
Standar Operasional Prosedur
No
Stimulasi Persepsi Perilaku Kekerasan Sesi 3
Tahap Pra-Interaksi
1 Mengingatkan kontrak dengan klien yang telah ikut sesi 2
2 Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
Alat :
a. Papan tulis / flipchart/whiteboard dan alat tulis
b. Buku catatan dan pulpen
c. Jadwal kegiatan klien
Tahap Orientasi
3 Salam terapeutik
a. Salam dari terapis pada pasien
b. Klien dan terapis pakai papan nama.
4 Evaluasi
a. Menanyakan perasaan klien saat ini.
b. Menanyakan apakah ada penyebab marah, tanda dan gejala marah serta perilaku
kekerasan.
c. Tanyakan apakah kegiatan fisik untuk mencegah perilaku kekerasan sudah
dilakukan.
5 Kontrak
a. Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu cara sosial untuk mencegah perilaku
kekerasan.
b. Menjelaskan aturan main berikut :
Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus minta izin kepada
terapis.
Lama kegiatan 45 menit
Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.
Tahap Kerja
6 Mendiskusikan dengan klien cara bicara jika ingin meminta sesuatu dari orang lain.
7 Menuliskan cara-cara yang disampaikan klien.
8 Terapis mendemonstrasikan cara meninta sesuatu tanpa paksaan, yaitu “Saya perlu /
ingin/ minta ..., yang akan saya gunakan untuk...”.
9 Memilih dua orang klien secara bergilir mendemonstrasikan ulang cara pada poin 8
10 Ulangi poin 9 sampai semua klien mencoba.
11 Memberikan pujian pada peran serta klien.
12 Terapis mendemonstrasikan cara menolak dan menyampaikan rasa sakit hati pada
orang lain, yaitu “Saya tidak dapat melakukan ...” atau “Saya tidak menerima
dikatakan ...” atau “Saya kesal dikatakan seperti ...”.\
13 Memilih dua orang klien secara bergilir mendemonstrasikan ulang cara pada poin 9.
14 Ulangi 13 sampai semua klien mencoba
15 Memberikan pujian pada peran serta klien
Tahap Terminasi
12 Evaluasi
a. Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK.
b. Menanyakan jumlah cara pencegahan perilaku kekerasan yang telah dipelajari.
c. Memberikan pujian dan penghargaan atas jawaban yang benar.
13 Tindak lanjut
a. Menganjurkan klien menggunakan kegiatan fisik dan interaksi sosil yang asertif ,
jika stimulus penyebab perilaku kekerasan terjadi
b. Menganjurkan klien melatih kegiatan fisik dn interaksi sosial yang asertif secara
teratur
c. Memasukkan interaksi sosial yang asertif pada jadwal kegiatan harian klien
14 Kontrak waktu
a. Menyepakati untuk belajar cara baru yang lain, yaitu kegiatan ibadah.
b. Menyepakati waktu dan tempat TAK berikutnya.
Tahap Evaluasi
15 Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK.
16 Untuk TAK stimulasi persepsi perilaku kekerasan Sesi 3, kemampuan klien yang
diharapkan adalah mencegah perilaku kekerasan secara sosial
Formulir evaluasi sesi 3 : TAK simulasi perilaku kekerasan
Kemampuan mencegah perilaku kekerasan sosial
No Nama klien Memperagakan Memperagakan Memperagakan cara
. cara meminta cara menolak yang mengungkapkan
tanpa paksa baik kekerasan yang baik
1.
2.
3.
Petunjuk:
1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien.
2. Untuk tiap klien, beri penilaian akan kemampuan mempraktikan pencegahan perilaku
kekerasan secara social : meminta tanpa paksa, menolak dengan baik ,
mengungkapkan kekesalan dengan baik. Beri tanda centang jika klien mampu dan
tanda silang jika klien tidak mampu.
d. Sesi 4 : Mencegah Perilaku Kekerasan Spiritual
Tujuan
1. Klien dapat melakukan kegiatan ibadah secara teratur.
Standar Operasional Prosedur
No
Stimulasi Persepsi Perilaku Kekerasan Sesi 4
Tahap Pra-Interaksi
1 Mengingatkan kontrak dengan klien yang telah ikut sesi 3
2 Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
Alat :
a. Papan tulis / flipchart/whiteboard dan alat tulis
b. Buku catatan dan pulpen
c. Jadwal kegiatan klien
Tahap Orientasi
3 Salam terapeutik
a. Salam dari terapis pada pasien
b. Klien dan terapis pakai papan nama.
4 Evaluasi
a. Menanyakan perasaan klien saat ini.
b. Menanyakan apakah ada penyebab marah, tanda dan gejala marah serta perilaku
kekerasan.
c. Tanyakan apakah kegiatan fisik dan interaksi social yang asertif untuk mencegah
perilaku kekerasan sudah dilakukan
5 Kontrak
a. Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu kegiatan ibadah untuk mencegah perilaku
kekerasan.
b. Menjelaskan aturan main berikut :
Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus minta izin kepada
terapis.
Lama kegiatan 45 menit
Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.
Tahap Kerja
6 Menanyakan agama dan kepercayaan masing masing klien.
7 Mendiskusikan kegiatan ibadah yang biasa dilakukan masing masing klien.
8 Menuliskan kegiatan ibadah masing masing klien.
9 Meminta klien untuk memilih satu kegiatan ibadah.
10 Meminta klien mendemonstrasikan kegiatan ibadah yang dipilih.
11 Memberikan pujian pada penampilan klien.
Tahap Terminasi
12 Evaluasi
a. Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK.
b. Menanyakan jumlah cara pencegahan perilaku kekerasan yang telah dipelajari.
c. Memberikan pujian dan penghargaan atas jawaban yang benar.
13 Tindak lanjut
a. Menganjurkan klien menggunakan kegiatan fisik, interaksi sosial yang asertif, dan
kegiatan ibadah jika stimulus penyebab perilaku kekerasan terjadi.
b. Menganjurkan klien melatih kegiatan fisik, interaksi social yang asertif, dan
kegiatan ibadah secara teratur.
c. Memasukkan kegiatan ibadah pada jadwal kegiatan harian klien.
14 Kontrak waktu
a. Menyepakati untuk belajar cara baru yang lain, yaitu minum obat teratur.
b. Menyepakati waktu dan tempat pertemuan berikutnya.
Tahap Evaluasi
15 Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK.
16 Untuk TAK stimulasi persepsi perilaku kekerasan Sesi 4, kemampuan klien yang
diharapkan adalah perilaku 2 kegiatan ibadah untuk mencegah kekerasan.
Formulir evaluasi sesi 4 : TAK simulasi perilaku kekerasan
Kemampuan mencegah perilaku kekerasan spiritual
No Nama Klien Mempraktikkan Mempraktikkan
Kegiatan ibadah pertama Kegiatan ibadah kedua
1.
2.
3.
Petunjuk:
1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien.
2. Untuk tiap klien, beri penilaian tentang kemampuan mempraktikkan dua kegiatan ibadah
pada saat TAK. Beri tanda centang jika klien mampu dan tanda silang klien tidak
mampu.
e. Sesi 5 : Mencegah Perilaku Kekerasan dengan Patuh Mengkonsumsi Obat
Tujuan :
1. Klien dapat menyebutkan keuntungan patuh minum obat.
2. Klien dapat menyebutkan akibat/kerugian tidak patuh minum obat.
3. Klien dapat menyebutkan lima benar cara minum obat.
Standar Operasional Prosedur
No
Stimulasi Persepsi Perilaku Kekerasan Sesi 5
Tahap Pra-Interaksi
1 Mengingatkan kontrak dengan klien yang telah ikut sesi 4
2 Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
Alat :
a. Papan tulis/flipchart/whiteboard dan alat tulis
b. Buku catatan dan pulpen
c. Jadwal kegiatan klien
d. Beberapa contoh obat
Tahap Orientasi
3 Salam terapeutik
a. Salam dari terapis pada pasien
b. Klien dan terapis pakai papan nama.
4 Evaluasi
a. Menanyakan perasaan klien saat ini
b. Menanyakan apakah ada penyebab marah, tanda dan gejala marah, serta perilaku
kekerasan.
c. Tanyakan apakah kegiatan fisik, interaksi social yang asertif dan kegiatan ibadah
untuk mencegah perilaku kekerasan sudah dilakukan
5 Kontrak
a. Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu patuh minum obat untuk mencegah perilaku
kekerasan.
b. Menjelaskan aturan main berikut :
Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus minta izin kepada
terapis.
Lama kegiatan 45 menit
Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.
Tahap Kerja
6 Mendiskusikan macam obat yang dimakan klien : nama dan warna (upayakan tiap
klien menyampaikan)
7 Mendiskusikan waktu minum obat yang biasa dilakukan klien.
8 Tuliskan di whiteboard hasil 6 dan 7.
9 Menjelaskan lima benar minum obat, yaitu benar obat, benar waktu minum obat,
benar orang yang minum obat, benar cara minum obat, benar dosis obat.
10 Menjelaskan tentang prinsip 5 benar dan meminta klien menyebutkan lima benar cara
minum obat, secara bergiliran.
11 Berikan pujian pada klien yang benar
12 Mendiskusikan perasaan klien sebelum minum obat (catat di whiteboard)
13 Mendiskusikan peranan klien jika teratur minum obat (catat di whiteboard).
14 Menjelaskan keuntungan patuh minum obat, yaitu salah satu cara mencegah perilaku
kekerasan/kambuh.
15 Menjelaskan akibat/kerugian jika tidak patuh minum obat, yaitu kejadian perilaku
kekerasan/kambuh.
16 Minta klien menyebutkan kembali keuntungan patuh minum obat dan kerugian tidak
patuh minum obat.
17 Memberi pujian setiap kali klien benar
Tahap Terminasi
18 Evaluasi
a. Terapis menyanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK.
b. Menanyakan jumlah cara pencegahan perilaku kekerasan yang telah dipelajari.
c. Memberikan pujian dan penghargaan atas jawaban yang benar.
19 Tindak lanjut
a. Menganjurkan klien menggunakan kegiatan fisik, interaksi social asertif, kegiatan
ibadah, dan patuh minum obat untuk mencegah perilaku kekerasan.
b. Memasukkan minum obat dalam jadwal kegiatan harian klien.
20 Kontrak waktu
Mengakhiri pertemuan untuk TAK perilaku kekerasan, dan disepakati jika klien perlu
TAK yang lain.
Tahap Evaluasi
21 Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK.
22 Untuk TAK stimulasi persepsi perilaku kekerasan sesi 5, kemampuan yang
diharapkan adalah mengetahui lima benar cara minum obat, keuntungan minum obat,
dan akibat tidak patuh minum obat.
Formulir evaluasi sesi 2 : TAK simulasi perilaku kekerasan
mencegah perilaku kekerasan dengan patuh minum obat
No Nama Klien Menyebutkan lima Menyebutkan Menyebutkan akibat
benar minum obat keuntungan minum tidak patuh minum
obat obat
Petunjuk :
1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien.
2. Untuk tiap klien, beri penilaian tentang kemampuan menyebutkan lima benar cara minum
obat, keuntungan minum obat, dan akibat tidak patuh minum obat. Beri tanda v jika klien
mampu dan tanda x jika klien tidak mampu
DAFTAR PUSTAKA
Azizah, L.M. (2011). KeperawatanJiwa : aplikasi PraktikKlinik. GrahamIlmu: Yogyakarta.
Keliat. B. A and Akemat. (2009). “Mode Praktik Keperawatan Profesional Jiwa”. Jakarta:
ECG.
Sumirta, Nengah, I. (2013). Relaksasi Nafas dalam Terhadap Pengendalian Marah Klien
dengan Perilaku Kekerasan. [Link] [Link]/files/JURNAL%20GEMA
%20KEPERAWATAN/JUNI%202015/I%20Nengah%[Link].
Stuartdan Sundeen.(2006).BukuSakuKeperawatanJiwa,Edisi [Link]:EGC.
Yosep, Ivus. (2010). “Keperawatan Jiwa”. Bandung: Refika Adi