Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM

BIOSITEMATIKA CRYPTOGAMAE

MODUL II
DIVISI PTERIDOPHYTA (TUMBUHAN PAKU)

DISUSUN OLEH :

NAMA : JIHADIL ARSYI


NIM : G 401 15 045
KELOMPOK : VII (TUJUH)
ASISTEN : NUR ISTIQOMAH

LABORATORIUM BIOSISTEMATIKA TUMBUHAN


JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS TADULAKO
DESEMBER 2021
BAB I
PENDAHULUAN

2.1 Latar Belakang


Tumbuhan paku (Pteridophyta) merupakan salah satu golongan tumbuhan yang
hampir dapat dijumpai pada setiap wilayah di Indonesia. Tumbuhan paku
dikelompokkan dalam satu divisi yang jenis-jenisnya telah jelas mempunyai
kormus dan dapat dibedakan dalam tiga bagian pokok yaitu akar, batang, dan daun.
Bagi manusia, tumbuhan paku telah banyak dimanfaatkan antara lain sebagai
tanaman hias, sayuran dan bahan obatobatan. Namun secara tidak langsung,
kehadiran tumbuhan paku turut memberikan manfaat dalam memelihara
ekosistem hutan antara lain dalam pembentukan tanah, pengamanan tanah
terhadap erosi, serta membantu proses pelapukan serasah hutan. (Loveless, 1989)
Tumbuhan paku dapat tumbuh pada habitat yang berbeda. Berdasarkan tempat
hidupnya, tumbuhan paku ditemukan tersebar luas mulai daerah tropis hingga
dekat kutub utara dan selatan. Mulai dari hutan primer, hutan sekunder, alam
terbuka, dataran rendah hingga dataran tinggi, lingkungan yang lembab, basah,
rindang, kebun tanaman, pinggir jalan paku dapat dijumpai (Tjitrosoepomo, 1994)
Tumbuhan paku dapat dibedakan menjadi dua bagian utama yaitu organ
vegetatif yang terdiri dari akar, batang, rimpang, dan daun. Sedangkan organ
generatif terdiri atas spora, sporangium, anteridium, dan arkegonium. Sporangium
tumbuhan paku umumnya berada di bagian bawah daun serta membentuk gugusan
berwarna hitam atau coklat. Gugusan sporangium ini dikenal sebagai sorus. Letak
sorus terhadap tulang daun merupakan sifat yang sangat penting dalam klasifikasi
tumbuhan paku. Divisi Pteridophyta dapat dikelompokkan ke dalam empat kelas
yaitu Psilophytinae, Lycopodiinae, Equisetinae dan Filiciane (Tjitrosoepome,
2005).
Berdasarkan uraian di atas yang melatarbelakangi praktikum ini adalah untuk
mengetahui ciri-ciri tumbuhan Paku secara morfologi serta dapat mengidentifikasi
ciri yang membedakan antara kelas Psilophytinae, Lycopodiinae, Equisetinae dan
Filiciane.

1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mengetahui ciri-ciri tumbuhan Paku
secara morfologi serta dapat mengidentifikasi ciri yang membedakan antara kelas
Psilophytinae, Lycopodiinae, Equisetinae dan Filiciane.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Tumbuhan paku merupakan suatu divisio tumbuhan yang telah memiliki sistem
pembuluh sejati (kormus), artinya tubuhnya dengan nyata dapat dibedakan dalam tiga
bagian pokok yaitu akar,batang dan daun. Namun demikian, tumbuhan paku tidak
menghasilkan biji untuk reproduksinya. Kelompok tumbuhan ini masih menggunakan
spora sebagai alat perbanyakan generatifnya, sama seperti lumut dan fungi.
(Tjitrosoepome, 2005).
Tumbuhan paku sangat heterogen, apabila ditinjau dari segi habitus maupun
cara hidupnya. Berdasarkan habitusnya ada jenis-jenis tumbuhan paku yang yang
sangat kecil dengan daun-daun yang kecil dan memiliki struktur yang sangat
sederhana, ada pula yang besar dengan ukuran daun yang dapat mencapai sampai 2 m
atau lebih dengan struktur yang rumit. Tumbuhan paku purba ada yang mencapai tinggi
sampai 30 m dengan diameter batang sampai 2 m. Berdasarkan cara hidupnya ada
jenis-jenis paku yang hidup diatas tanah (terrestrial), ada yang hidupnya menumpang
pada tumbuhan lain (epifit), dan ada paku air (higrofit) (Dayat, 1999)
Distribusi tumbuhan paku tersebar luas dan hampir terdapat di seluruh bagian
dunia, kecuali daerah bersalju abadi dan daerah kering (gurun). Total spesies yang
diketahui hampir 10.000 (diperkirakan 3000 di antaranya tumbuh di Indonesia),
sebagian besar tumbuh di daerah tropika basah yang lembab. Tumbuhan paku
cenderung menyukai tempattempat teduh dengan derajat kelembaban yang tinggi dan
tidak tahan pada kondisi dengan ketersediaan air yang terbatas (Darnaedi, 2001)
Tumbuhan paku dikelompokkan dalam satu divisi yang jenis-jenisnya telah
jelas mempunyai kormus dan dapat dibedakan dalam tiga bagian pokok yaitu akar,
batang, dan daun. Bagi manusia, tumbuhan paku telah banyak dimanfaatkan antara lain
sebagai tanaman hias, sayuran dan bahan obatobatan. Namun secara tidak langsung,
kehadiran tumbuhan paku turut memberikan manfaat dalam memelihara ekosistem
hutan antara lain dalam pembentukan tanah, pengamanan tanah terhadap erosi, serta
membantu proses pelapukan serasah hutan. (Loveless, 1989)
Bentuk tumbuhan paku bermacam-macam, baik ditinjau dari segi habitus
maupun cara hidupnya. Tumbuhan paku ada yang sangat kecil dengan daun-daun yang
kecil dan memiliki struktur masih sangat sederhana, namun demikian adapula
tumbuhan paku yang besar dengan ukuran daun dapat mencapai 2 m atau lebih dengan
struktur yang rumit, misalnya yang berupa pohon (paku pohon, biasanya tidak
bercabang). Dari segi cara hidupnya ada jenis paku terrestrial (paku tanah), paku epifit
(paku yang menumpang pada tumuhan lain atau pohon inang), dan paku higrofit (paku
air) (Widhiastuti dkk, 2006)
Kebanyakan tumbuhan paku yang dijumpai berupa terna dengan rizoma yang
menjalar di tanah atau humus dan ental (frond) yang menyangga daun dengan ukuran
yang bervariasi (sampai 6 m). Ental yang masih muda selalu menggulung (seperti
gagang biola) dan menjadi satu ciri khas tumbuhan paku. Tumbuhan paku sering
dijumpai mendominasi vegetasi suatu tempat sehingga membentuk belukar yang luas
dan menekan tumbuhan yang lain (Sunarmi & Sarwono, 2004)
Daur hidup tumbuhan paku mengenal pergiliran keturunan, yang terdiri dari
dua fase utama:gametofit dan sporofit. Tumbuhan paku yang mudah kita lihat
merupakan bentuk fase sporofit karena menghasilkan spora. Bentuk generasi fase
gametofit dinamakan protalus (prothallus) atau protalium (prothallium), yang
berwujud tumbuhan kecil berupa lembaran berwarna hijau, mirip lumut hati, tidak
berakar (tetapi memiliki rizoid sebagai penggantinya), tidak berbatang, tidak berdaun.
(Julianus, 2009)
Secara tradisional, Pteridophyta mencakup semua kormofita berspora, kecuali
lumut hati, lumut tanduk, dan tumbuhan lumut. Selain paku sejati (kelas Filicinae),
termasuk di dalamnya paku ekor kuda (Equisetinae), rane dan paku kawat
(Lycopodiinae), Psilotum (Psilotinae), serta Isoetes (Isoetinae) (Julianus, 2009)
Penyebaran dan keanekaragaman tumbuhan paku memang sangat besar, begitu
pula dengan potensi dan manfaatnya yang cukup penting baik untuk tanaman hias,
sayuran, obat-obatan hingga peranannya sebagai keseimbangan ekosistem. Namun,
data dasar ISSN 2013 tumbuhan paku berkenaan dengan komposisi, keanekaragaman
dan distribusi belum banyak terungkap (Suryana, 2009)
Generasi gametofit terdapat pada fase seksual. Tahapan generasi gametofit
diawali dari protalium. Spora yang jatuh di tempat lembab akan berkembang menjadi
protalium dengan bentuk seperti talus. Protalium akan menghasilkan sel gamet jantan
(spermatozoid) dan betina (ovum). Hasil dari pembuahan sel gamet akan menghasilkan
zigot diploid yang akan berkembang menjadi tumbuhan paku. Generasi gametofit dari
daur hidup tumbuhan paku adalah protalium. Karakteristik dari genearsi gametofit
adalah pada tumbuhan paku yang berlangsung sangat singkat. Secara umum,
metagenesis tumbuhan paku atau daur hidup tumbuhan paku meliputi tahapan-tahapan
yaitu Spora yang berasal dari sporangium pada daun mengalami pematangan dengan
mitosis, kemudian menjadi protalium/protallus. Protalium tersebut kemudian
berkembang sehingga berkembang menjadi alat reproduksi. Meliputi anteridium yang
menghasilkan spermatozoid dan arkegonium yang menghasilkan sel telur Kemudian,
sel telur dan spermatozoid bertemu sehingga terbentuk zigot lalu Zigot tumbuh menjadi
tumbuhan paku dewasa Selanjutnya, daur hidup tumbuhan paku kembali lagi ke fase
sporofit dan begitulah seterusnya (Tjitrosoepome, 2005).
Penyebaran dan keanekaragaman tumbuhan paku memang sangat besar, begitu
pula dengan potensi dan manfaatnya yang cukup penting baik untuk tanaman hias,
sayuran, obat-obatan hingga peranannya sebagai keseimbangan ekosistem. Berkenaan
dengan komposisi, keanekaragaman dan distribusi belum banyak terungkap. Bahkan
laju kepunahan jenis akibat perbuatan manusia saat ini telah sampai pada tingkat yang
mengkhawatirkan. Diperkirakan bahwa hampir 140 jenis punah setiap harinya. Banyak
jenis yang akan hilang sebelum diketahui keberadaan dan potensinya bagi pertanian
maupun kedokteran Selain itu, kegiatan inventarisasi keanekaragaman flora di
Indonesia sudah dimulai sejak Rumphius pada tahun 1970, namun hingga sekarang
belum selesai dilaksanakan (Sastrapradja dkk, 1980)
Kelas Filicinae merupakan kelompok tumbuhan paku yang mendominasi
kepulauan Indonesia, Filipina, Guinea dan Australia Utara .Kelas Filicinae dikenal
sebagai paku sejati karena memiliki daun sempurna.Ditinjau dari lingkungan hidupnya
dibedakan menjadi tiga golongan paku, yaitu paku tanah, paku air dan paku epifit. Ciri
khas tumbuhan paku kelas ini daunnya besar, daun muda menggulung, daun menyirip,
spora dihasilkan dalam sporangium yang tersusun membentuk sorus terletak pada
bagian bawah daun. Tumbuhan paku banyak dimanfaatkan sebagai tanaman hias,
bahan dasar obat, pupuk hijau dan sayuran. (Herdina dkk, 2005)
Tumbuhan paku kelas Filicinae ini ada yang memilki batang di dalam tanah
yang pendek, pada bagian bawah masih mempunyai prostele, tetapi ke atas
mengadakan diferensiasi dalam berkas pengangkutannya seperti pada bangsa
Ophioglossales. Ada juga batangnya dapat mencapai besar satu lengan atau lebih,
umumnya tidak bercabang dan pada ujungnya terdapat suatu rozet daun (Herdina dkk,
2005)
Semua warga Filicinae mempunyai daun-daun besar (makrofil), bertangkai
mempunyai banyak tulang-tulang. Waktu masih muda daun itu akan tergulung pada
ujungnya, dan pada sisi bawah mempunyai banyak sporangium.19 Ada daun paku
yang berukuran kecil (mikrofil) dan ada pula yang berukuran besar (makrofil). Ada
daun tumbuhan paku yang khusus menghasilkan spora, daun ini disebut sporofil dan
ada daun yang tidak menghasilkan spora, disebut tropofil. (Diah dkk, 2001)
Psilopsida berasal Psilopsida berasal dari bahasa 5u dari bahasa yunani
yaitu psilos yang berarti telanjang dimana psilopsida ini psida ini adalah tumbuh
adalah tumbuhan yang tidak yang tidak memiliki akar dan daun sejati. jika memiliki
daun ukurannya kecil dan menyerupai sisik sedangkan akar psilopsida ini
menggunakan rizoid yang fungsinya sama dengan akar (Santoso, 2007)
Psilopsida merupakan tumbuhan paku purba (primitif) yang sebagian besar
anggotanya sudah punah dan ditemukan sebagai fosil. Tumbuhan ini di duga hidup
pada periode antara zaman Silurian dan Devonian yaitu sekitar 447 juta tahun yang
lalu. Keduanya termasuk ke dalam era Paleonoikum. Psilopsida yang masih hidup di
bumi saat ini misalnya Psilotum nudum (Santoso, 2007)
Paku purba (Psilopsida) mempunyai struktur tubuh yang sederhana dengan
ukuran tinggi sekitar 30 Cm – 1 m. Ciri Psilopsida yang paling mencolok adalah tidak
adanya akar dan daun sejati. Paku purba yang memiliki memiliki daun, daunnya akan
berukuran berukuran kecil dan bentuknya bentuknya menyerupai sisik. Sedangkan
batangnya beruas dan berbuku nyata (Syarief, 2009)
Paku kawat Lycopodiella cernua merupakan salah satu paku yang mempunyai
daun bertipe mikrofil. Jenis ini tergolong dalam Famili Lycopodiaceae, Ordo
Lycopodiales kelas Lycopsida. Pada umumnya anggota Lycopodiaceae mempunyai
karakteristik rizom yang menjalar dengan cabang tegak, daun kecil dan menyerupai
sisik tersusun pada seluruh permukaan batang, sporangia tersusun terminal pada ujung
cabang membentuk strobilus (Zhang & Iwatsuki 2013).
Lycopodiella pada umumnya merupakan paku helofit, yaitu paku yang hidup
pada habitat yang sedikit berair. Namun inventarisasi paku ini di Provinsi Riau
menunjukan adanya tipe habitat yang berbeda, yaitu terestrial pada daerah terbuka
maupun tertutup (Zhang & Iwatsuki 2013).
Paku ekor kuda (Equisetum debile L. Spesies ini tersebar luas dari Afrika, Asia,
Jepang melalui selatan Filipina, Indonesia, daratan Guinea Baru, Kepulauan Bismarck,
Kepulauan Solomon, ke arah timur menuju Kaledonia Baru dan Fiji. Spesies ini
memiliki toleransi terbesar di Papuasia dan relatif dominan diantara tanaman lainnya
(Sutrisna, 2011)
Paku ekor kuda (horsetail) memiliki percabangan batang y memiliki
percabangan batang yang khas berbentuk ang khas berbentuk ulir atau ulir atau
lingkaran sehingga menyerupai ekor kuda. Paku ekor kuda sering tumbuh di tempat
berpasir. Sporofitnya berdaun kecil (mikrofil) atau berbentuk sisik, warnanya agak
transparan dan tersusun melingkar pada batang. Batang Sphenopsida berongga dan
beruas-ruas. Batang tampak keras karena tersusun oleh sel-sel dengan dinding sel
mengandung silika (sehingga dikenal juga sebagai scouring scouring rushes atau
ampelas, atau ampelas, yang dapat di yang dapat digunakan sebagai bahan gunakan
sebagai bahan penggosok). (Ahmad, 2010)
BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 08 Desember 2021 pukul
13.30 WITA sampai selesai. Yang bertempat di ruang Laboratorium
Biosistematika Tumbuhan Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Tadulako.

3.2 Alat dan Bahan

3.1.1 Alat

Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah lup, mikroskop, objek
glass dan deck glass, alat tulis menulis, silet, pinset dan Papan seksi.
3.1.2 Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu jenis paku


Nephrolepsidaceae, Polypodiaceae. Thelypteridaceae, Linsaeaceae, dan
Nephrolepidaceae

3.3 Prosedur Kerja

Prosedur kerja dari praktikum ini yaitu disiapkan semua alat dan bahan yang
akan digunakan untuk praktikum. Diamati tiap tumbuhan Paku yang disiapkan
dengan lup atau mikroskop. Diambil gambarnya dengan kamera digital.
Dideskripsikan bagian morfologinya. Letak sporanya dan disusun urutan
klasifikasinya
BAB IV

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan pada praktikum ini diperoleh 5 spesies Paku pakuan dari 5

Famili yang berbeda yatu

No Nama Ilmiah Famili


1 Davalia trichomarsides Davaliaceae
2 Lycopodiella cernua Lycopoodiaceae
3 Oleandra neruformis Oleandraceae
4 Nephrolepis cordifolia Dryopteridaceae
5 Pittyrogramma calomeianos Pteridaceae

4.2 Pembahasan

Adapun morfologi dari masing masing spesies sebagai berikut

4.2.1 Davalia trichomarsides

A B C

A : Akar Serabut B : daun majemuk memanjang C : Sporangium duduk


berhadapan
Famili Davaliaceae

Spesimen paku dengan nama latin Davalia trichomarsides merupakan


famili dari Davaliaceae. Paku tersebut memiliki habitat yaitu di atas tanah
(teristerial), akarnya yang berbentuk serabut, tinggi atau panjangnya yang
berukuran 187 cm, tangkai daunnya berbentuk bulat (teres), permukaan tangkai
daun licin (laevis), panjang tangkai daunnya yang berukuran 87 cm, tangkai daun
yang berwarna hijau kecoklatan, daun yang merupakan daun majemuk, bangun
daun yang berbentuk memanjang, permukaan daun yang licin (laevis), ujung
daun yang berbentuk runcing, pangkal daun yang berbentuk rompang (truncate),
tepi daun yang bergerigi, pertulangan daun sejajar, ukuran daun berkisar antara
(0,8 x 0,2) cm sampai 1,1 x 0,4 cm, daun yang berwarna hijau, sporangium yang
berwarna putih, letak duduk sporangium yang berada di tepi daun serta
ketinggian 200 kaki/100 m.

4.2.2 Lycopodiella cernua

A B C

A : Daun Majemuk B : Spora berada dibawah C : Akar Tunggang


tepi daun

Famili Lycopoodiaceae
Spesimen paku dengan nama latin Lycopodiella cernua merupakan famili
dari Lycopoodiaceae. Paku tersebut memiliki habitat yaitu di atas tanah
(teristerial), akarnya yang berbentuk tunggang, tinggi atau panjangnya yang
berukuran 120 cm, tangkai daunnya berbentuk bulat (teres), permukaan tangkai
daun berambut halus, panjang tangkai daunnya yang berukuran 114 cm, tangkai
daun yang berwarna hitam, daun yang merupakan daun majemuk, bangun daun
yang berbentuk memanjang, permukaan daun yang halus, ujung daun yang
berbentuk meruncing, pangkal daun yang berbentuk truncate, tepi daun yang
bergerigi, pertulangan daun yang menyirip, ukuran daun berkisar antara 0,1 x 0,5
cm, daun yang berwarna hijau, sporangium yang berwarna hitam, letak duduk
sporangium yang berada di tepi bagian bawah daun serta ketinggian 200 kaki/100
m.
4.2.3 Oleandra neruformis

A B C

A : Akar Serabut B : Daun Tunggal C : Letak Spora yang


Mengumpul ditengah

Famili Oleandraceae
Spesimen paku dengan nama latin Oleandra neruformis Cav merupakan
famili dari Oleandraceae. Paku tersebut memiliki habitat yaitu menumpang pada
tumbuhan lain (epifit), akarnya yang berbentuk serabut, tinggi atau panjangnya
yang berukuran 140 cm, tangkai daunnya berbentuk bulat (teres), permukaan
tangkai daun licin (laevis), panjang tangkai daunnya yang berukuran 100 cm,
tangkai daun yang berwarna kecoklatan, daun yang merupakan daun tunggal,
bangun daun yang berbentuk lonjong, permukaan daun yang licin (laevis), ujung
daun yang berbentuk tumpul (obtusus), pangkal daun yang berbentuk truncate,
tepi daun yang bergelombang, pertulangan daun yang sejajar, ukuran daun
berkisar antara 77 x 9 cm, daun yang berwarna hijau, sporangium yang berwarna
coklat, letak duduk sporangium yang berada di tengah daun serta ketinggian 500
kaki/200 m.
4.2.4 Nephrolepis cordifolia

A B C

A : Akar Serabut B : Daun Majemuk C : Sporangium terletak


Ditepi Daun
Famili Dryopteridaceae
Spesimen paku dengan nama latin Nephrolepis cordifolia yang
merupakan famili dari Dryopteridaceae. Paku tersebut memiliki habitat yaitu di
atas tanah (teristerial), akarnya yang berbentuk serabut, tinggi atau panjangnya
yang berukuran 140 cm, tangkai daunnya berbentuk bulat (teres), permukaan
tangkai daun berambut halus, panjang tangkai daunnya yang berukuran 125 cm,
tangkai daun yang berwarna coklat, daun yang merupakan daun tunggal,
bangun daun yang berbentuk lanset oval, permukaan daun yang berbulu halus,
ujung daun yang berbentuk meruncing, pangkal daun yang berbentuk truncate,
tepi daun yang bergerigi, pertulangan daun yang menyirip, ukuran daun
berkisar antara (0,8 x 1,5) cm sampai (1,7 x 10) cm, daun yang berwarna hijau,
sporangium yang berwarna putih, letak duduk sporangium yang berada di
bagian atas tepi daun serta ketinggian 660 m.

4.2.5 Pittyrogramma calomeianos

A C

A : Daun Majemuk B : Akar Serabut C : Sporangium Terletak


di tepi daun
Famili Dryopteridaceae
Spesimen paku dengan nama latin Pittyrogramma calomeianos (L.) Link
yang merupakan famili dari Pteridaceae. Paku tersebut memiliki habitat yaitu
menumpang pada tumbuhan lain (epifit), akarnya yang berbentuk serabut, tinggi
atau panjangnya yang berukuran 73 cm, tangkai daunnya berbentuk bulat (teres),
permukaan tangkai daun berambut halus, panjang tangkai daunnya yang
berukuran 73 cm, tangkai daun yang berwarna hijau kecoklatan, daun yang
merupakan daun majemuk, bangun daun yang berbentuk lonjong, permukaan
daun yang licin (laevis), ujung daun yang berbentuk meruncing, pangkal daun
yang berbentuk truncate, tepi daun yang bergerigi, pertulangan daun yang
menyirip, ukuran daun berkisar antara (1 x 0,4) cm sampai (3 x 1) cm, daun yang
berwarna hijau, sporangium yang berwarna kecoklatan, letak duduk sporangium
yang berada di tepi daun serta ketinggian 1000 kaki/200 m.
BAB V
KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan

Kesimpulan dari praktikum ini yaitu Tumbuhan paku merupakan suatu


divisio tumbuhan yang telah memiliki sistem pembuluh sejati (kormus), artinya
tubuhnya dengan nyata dapat dibedakan dalam tiga bagian pokok yaitu
akar,batang dan daun. Namun demikian, tumbuhan paku tidak menghasilkan
biji untuk reproduksinya. Kelompok tumbuhan ini masih menggunakan spora
sebagai alat perbanyakan generatifnya, sama seperti lumut dan fungi.

Dari hasil pengamatan morfologis pada sampel ditemukan 4 sampel berakar


serabut yaitu Pittyrogramma calomeianos, Nephrolepis cordifolia Oleandra
neruformis dan Davalia trichomarsides. Sementara sampel Lycopodiella
cernua berakar tunggal. Selain itu pada morfologis smpel daunya hanya spesies
Oleandra neruformis yang bertipe daun tunggal dengan sporangium yang
berkumpul ditengah daun.

5.2 Saran
Saran untuk praktikum ini yaitu diharapkan saat melihat morfologi pada
tumbuhan paku perlu diperhatikan secara teliti agar tidak keliru dalam
mendeskripsikan sampel yang akan di amati.
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad. C. 2010. Pterydophyta (Tumbuhan Paku). Bandung : Rineka Cipta.


Darnaedi, D. 1999. Prosiding Seminar Nasional Konservasi Flora Nusantara. UPT
Balai Pengembangan Kebun Raya LIPI. Bogor.
Dayat, F. 1999. Studi Floristik Tumbuhan Paku (Pteridophyta) di Hutan Lindung
Gunung Dempo
Diah I. Dwi A. & Julianus K. 2001. Keragaman Jenis Tumbuhan Paku (pteridophyta)
di Cagar Alam Gunung Ambang Sulawesi Utara (the pteridhopyta diversity in
Gunung Ambang Nature Reserve North Sulawesi). 2012. Vol 2 No 1, h. 17
Herdina S.P, Susriyati M, Murni S.S. 2005. Inventarisasi Tumbuhan Paku Kelas
Filicinae di Kawasan Watu Ondo sebagai Media Belajar Mahasiswa, h. 733.
Hong, eds., Flora of China, Vol. 2–3 (Pteridophytes). Beijing: Science Press; St. Louis:
Missouri Botanical Garden Press.
Julianus K. 2009. Mengenal Beberapa Jenis Tumbuhan Paku Di Kawasan Hutan
Payahe Taman Nasional Aketajawe Lolobata Maluku Utara. Balai Penelitian
Kehutanan Manado
Loveles, A. 1989. Prinsip-Prinsip Biologi Tumbuhan Untuk Daerah Tropik. Gramedia.
Jakarta.
Santoso, I. 2007. Biologi : Bekasi. Interplus
Sastrapradja, S., J. J. Afriastini, D. Darnaedi & Elizabeth, 1980, Jenis Paku Indonesia.
Bogor, Lembaga Biologi Nasional.
Sunarmi & Sarwono, 2004, Inventarisasi Tumbuhan Paku di Daerah Malang. Jurnal
Berk. Penel. Hayati Vol. 10.
Suryana .2009. Keanekaragaman Jenis Tumbuhan Paku Terestrial dan Epifit di
Kawasan PLTP Kamojang Kab. Garut Jawabarat. Jurnal Biotika, No. 1 Vol. 7
Juni 2009.
Sutrisna. P. 2011. Klasifikasi Tumbuhan Sphenophyta. Bandung : Raja Grafindo
Persada. Sumatera Selatan. Seminar Program Pasca Sarjana IPB
Syarief. S. 2009. Botani Tumbuhan Rendah. Jakarta : PPATK
Tjitrosoepomo,G. 2005. Taksonomi Tumbuhan (Schizophyta, Thallophyta,
Bryophyta, Pteridophyta). Cet. Ke-7. Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta. P.219-307
Widhiastuti, R., T. A. Aththorick & W. D. P. Sari, 2006, Struktur dan Komposisi
Tumbuhan Paku- pakuan di Kawasan Hutan Gunung Sinabung Kabupaten
Karo. Jurnal Biologi Sumatera, No.
2 Vol. 1 Juli 2006.
Zhang, L.B. & Iwatsuki, K. 2013. Lycopodiaceae. Pp. 13–34 in Z. Y. Wu, P. H. Raven
& D. Y.
LEMBAR ASISTENSI

NAMA : JIHADIL ARSYI


NIM : G40115045
KELOMPOK : VII (TUJUH)
ASISTEN : NUR ISIQOMAH

NO HARI/TANGGAL PERBAIKAN PARAF

Anda mungkin juga menyukai