Anda di halaman 1dari 15

Matahari pagi sudah menyoroti kamar gadis yang masih terlelap di tempat tidurnya dengan tenang

tanpa merasa terganggu cahaya matahari yang mulai menghangat menyoroti muka cantiknya.
Kriiinggg!!
Suara jam beker di nakas membuat si empunya terlonjak kaget yang membuatnya langsung
mengambil posisi duduk tak lupa ekspresi kaget akibat dari suara jam beker.
"Ish ngagetin aja" ucapnya kesal seraya mematikan jam beker nya gemas.
"Masih pagi ju-apa?!!" Jam menunjukkan pukul 07.00 dia berteriak kaget lebih kaget daripada saat
jam beker nya berbunyi buru buru dia turun dari kasur menuju kamar mandi langkah nya yang rusuh
membuatnya hampir terjatuh, hal ini sudah biasa terjadi sebenarnya penyebab nya tak lain dan tak
bukan karena dia bermain game sampai larut malam, selalu saja begitu jika sudah berurusan dengan
game suka lupa waktu sehingga kejadian seperti ini selalu saja terulang, entahlah dia belum kapok
mungkin dengan hukuman yang ia dapat tiap harinya saat telat.

Gadis tersebut adalah Kinara biasa dipanggil Nara seorang gadis berparas manis dan cantik memiliki
rambut dengan panjang sebahu yang hitam legam, bertubuh tinggi nan ramping dan mempunyai
hobi main game, kegiatan yang sangat ia sukai sedari kecil. Sikapnya agak tomboy dan petakilan yang
membuatnya selalu dikira tidak ada masalah hidup saking kelihatan sangat santai dan selalu bahagia
tidak pernah menunjukan kalau dia sedih.

Selesai mandi dan berpakaian rapih Nara segera turun ke dapur untuk mendapatkan sarapan
paginya.
"Nara ya ampun hari ini kamu telat lagi!" Ucap bunda nya kesal dan juga bosan karena sudah
berulang kali kalimat ini dilontarkan saat Nara selalu telat bangun pagi dan telat berangkat ke
sekolah.
"Hehehe maaf bun" senyum Nara tanpa dosa seraya melahap sandwich buatan bunda nya santai
tidak ingat bahwa dirinya sudah telat.
"Kamu itu ya! Besok besok jangan telat lagi kalau enggak PS kamu bunda sita!" Ucap bunda mutlak
"Yahhh bunda jangan dong pliss" rengek Nara dengan menunjukan muka memelas andalannya tak
lupa gaya tangan memohon.
"Enggak ada! Bunda bakal bener bener sita PS kamu kalau kamu telat bangun dan telat berangkat
sekolah lagi!" Ucapnya tegas
"Bunda pliss jangan, iya iya deh Nara janji gak bakal telat lagi" ucapnya putus asa, dia harus bangun
lebih pagi demi PS kesayangan nya.
"Memang dari dulu kamu tuh harus bangun pagi jangan main game terus sampai larut malam gak
baik buat kesehatan kamu juga Nara" ceramah sang bunda
"Iyaa bunda" ucapnya lelah karena setiap Nara telat pasti saja bunda nya selalu mengeluarkan
ancaman bahwa PS nya akan di sita juga ceramah ceramah bunda yang menurut Nara
membosankan, hampir tiap hari Nara mendapatkan nya, ya itu karena Nara selalu telat.

Setelah sarapan dan pamitan kepada orang tua nya Nara pun langsung menaiki ojek online yang
sudah di pesan nya.
"Pak buruan yah saya udah telat" titah Nara kepada kang ojol.
"Iya neng"
Setelah 10 menit perjalanan Nara pun sampai di sekolah
"Ini mang" ucap Nara sembari memberikan uang 10 ribu.
"Iya makasih neng"
Saat Nara hendak masuk, gerbang sudah di tutup dan dijaga oleh 2 orang anak OSIS padahal Nara
sudah lari secepat cepatnya untuk sampai gerbang tapi saat sudah sampai, gerbang nya malah sudah
di tutup, buang buang tenaga aja, begitu batin Nara.
"Permisi, boleh tolong bukain gak? Saya mau masuk nih" mohon Nara enteng kepada 2 anggota OSIS
tersebut.
"Enak aja, kamu tau ini udah jam berapa?" Tanya salah satunya dengan nada ketus, yang saat Nara
lihat name tag nya bertuliskan 'Arlan Adiputra' -Ketua OSIS, cuih mentang mentang ketos nyebelin,
batin Nara lagi yang tidak sadar bahwa dia juga menyebalkan karena datang terlambat dan dengan
seenak jidat minta di buka kan pintu gerbang seakan tidak terjadi apa apa, jadi siapa yang
menyebalkan di sini?
"Hey kamu denger gak?!" Katanya menyadarkan lamunan Nara.
"Hah? Eh apa? Tadi nanya apa?" Ucapnya gelagapan
"Astagaa" balasnya seraya menepuk jidat, Nara yang melihat hanya tersenyum kikuk merasa malu
"Kamu datang jam 07.25 menit dan itu artinya kamu telat oleh karena itu kamu gak bisa masuk
gerbang sampai jam pelajaran pertama selesai" ucapnya tegas
"Oh yaudah sih gak papa" balas Nara santai dan mulai menselonjorkan kakakinya di depan gerbang
menunggu jam mapel pertama selesai.
Kedua laki laki tersebut hanya bisa menggelengkan kepala gak paham sama sikap Nara yang kelewat
santai saat telat aplagi dia perempuan.
Setelah mendata siapa saja yang telat mereka berdua pun memutuskan untuk menyudahi tugas jaga
telat nya dan masuk kelas untuk melakukan pembelajaran.

1 jam berlalu itu artinya jam mata pelajran pertama telah usai murid murid berhamburan keluar dari
kelas menuju kantin untuk mengisi perut yang keroncongan.
Juga itu artinya pintu gerbang sudah dibuka bagi murid yang telat dierbolehkan masuk tak lupa
hukuman yang menanti seusai pulang sekolah.

Nara pun masuk tidak langsung ke kelas melainkan menuju kantin untuk menemui sahabat nya juga
meredakan haus yang sudah daritadi dia tahan.
"Hai Jess" sapa Nara lesu dan duduk di kursi depan sahabatnya itu.
"Hai, telat lagi Ra?" Tanyanya dengan nada mengejek, dia Jessi pemilik rambut ikal berbando biru
yang sudah menjadi sahabat Nara sedari kecil sampai sekarang, awet sekali pertemanan mereka.
"Hmm" balas Nara se adanya kemudian meneguk air mineral botol di hadapan nya
"Woi itu punya aku elah" sungut Jessi tak terima minuman nya dihabiskan
"Minta dikit"
"Dikit dikit bapak mu, udah habis juga" kesal Jessi seraya menatap botol yang sudah habis isinya
"Bagi kali ah pelit amat" Jessi hanya memutar bola matanya malas
"Tadi pelajaran matematika Pak Suripto ngapain Jess?"
"Cuma bagian hasil ulangan minggu kemaren doang sii tapi langsung remedial buat yang nilainya
kurang kkm"
"Demi apa?!"
"Iya kenapa emang? Kok kaget gitu?"
"Emang minggu kemaren ada ulangan yah?"
"Ya ampun Ra, masa kamu lupa sih masih muda juga udah pikun" ucap Jessi tak habis pikir dengan
sahabatnya ini.
"Aku lupa beneran deh"
"Udah ayo ke kelas aja, hasil ulangan kamu ada di aku"
"Beneran? Ya ampun makasih" mereka pun berjalan menyusuri lorong sekolah menuju kelas.
"Kamu sih Ra pake acara telat segala ketinggalan mapel kan jadinya di Alfa in pula" omel Jessi tak
kalah dengan ceramahan bunda nya Nara.
"Iya maaf, tanggung tadi malem tuh nge push rank dulu"
"Bacot banget Ra, udah dibilangin jangan begadang main game masih aja"
"Udah deh Jess pusing ah, mana hasil ulangan aku"
"Yeee dibilangin juga, jangan kaget ya kamu liat hasil ulangannya, nih" ucap Jessi seraya
menyerahkan selembar kertas ulangan. Nara pun mengambil kertas tersebut dan betapa terkejutnya
Nara saat melihat nilai nol besar yang tertera di pojok kanan atas kertas ulangannya ditulis dengan
tinta merah yang benar benar dapat memalukan diri dia sendiri, seketika Nara lemas dan hanya bisa
terduduk di atas kursi selagi menatap nanar kertas ulangan tersebut.
"Ra kamu gak papa kan?" Tanya Jessi khawatir saat sahabat satu satunya yang terkenal dengan
kerusuhan, kegaduhan, dan petakilan nya tiba tiba diam begitu saja. Nara hanya menanggapi dengan
gelengan, menunduk mengeluarkan air mata nya diam diam agar orang orang tidak tahu bahwa dia
sedang sedih. Jessi yang melihat pun reflek memeluk Nara untuk sekedar menyalurkan semangat
agar sedih Nara berkurang.

Beberapa menit kemudian bel masuk berbunyi, buru buru Nara menyeka air mata yang membasahi
pipi nya dan tersenyum ke arah Jessi menandakan bahwa pelukannya membuat Nara merasa lebih
baik.
Saat murid murid mulai masuk kelas, ada 2 orang perempuan, Irene dan Jennie menghampiri Nara
dan secara tiba tiba merebut kertas ulangan Nara, Nara tidak mengerti apa maksudnya mereka,
tetapi melihat Irene dan Jennie yang secara gamblang memperlihatkan kertas ulangan tersebut
kepada teman teman sekelas Nara seolah memperlihatkan kebodohan Nara karena mendapat nilai
nol suasana kelas pun ramai menertawakan juga mengejek nilai ulangan yang di dapat Nara, Nara
yang merasa tak terima juga marah langsung berusaha merebut kertas ulangan nya tetapi tidak
semudah itu Irene dan Jennie malah meremas kertas ulangannya dan di lempar ke sana kemari
seolah olah itu adalah bola basket yang sedang dimainkan, kemarahan Nara semakin membuncah
dia pun menarik baju Irene menantang,
"Maksud kamu apa hah?!" Teriak Nara di depan wajah Irene.
Irene hanya tersenyum licik tak merasa bersalah sama sekali.
"Hahah jangan sok deh Ra, nilai kecil aja masih berani" ucap Irene meremehkan.
"Kamu pikir kamu siapa hah?! Kamu pikir kamu siapa?! Kamu gak berhak malu malu in aku di depan
mereka semua!" Ucap Nara geram matanya sudah berair dan mulai mengencangkan tarikan baju
Irene juga menunjuk sekeliling nya.
"Kita tuh malu tau gak punya temen sekelas kayak kamu yang nilai nya kecil terus, suka telat pula,
kelas kita bisa di cap jelek kalau kamu gini terus"
"Kelas kita sering dibandingin sama kelas lain dan itu udah cukup ngebuat kita semua muak, cuman
gara gara satu murid kayak kamu kita semua jadi kena getahnya" ucap Irene santai. Mendengar itu
hati Nara merasa sakit apa Nara seburuk itu? Apa begini caranya? Dengan mempermalukan Nara?
Enggak, itu bukan solusi yanga ada Nara makin geram dan mulai menjambak rambut lembut Irene,
tak mau kalah Irene pun balik menjambak rambut Nara tak kalah kencang sehingga membuat kepala
Nara pusing, teman yang lain hanya melihat dan terus bersorak Nara tidak mengerti kenapa teman
teman nya bisa sejahat ini kepada Nara di tengah aksi jambak menjambak itu Jessi sudah mencoba
melerai tetapi tenaga mereka terlalu kuat sehingga membuat Jessi terpental ke belakang tak mau
diam saja setelah itu Jessi ke ruang guru untuk memanggil guru yang bertugas mengajar di kelas nya,
tetapi dengan sangat kebetulan sekali guru yang dijadwalkan mengajar di kelas sedang ada
keperluan sehingga tidak masuk. Tetapi pada akhirnya Jessi bisa tenang karena masih ada guru piket
yang menggantikan, mereka pun berlari menuju kelas, sesampainya aksi jambak menjambak belum
selesai tetapi bisa di akhiri karena ada guru yang melerai.
"Kalian ini apa apaan?! Sudah besar juga masih saja berantem ingat kalian itu sudah kelas 3
seharusnya belajar yang benar bukan melakukan hal yang tidak ada gunanya seperti ini! Lihat kelas
sebelah mereka diam diam saja selagi tidak guru! Ada apa sih dengan kelas ini?!"
"Sudah, semua nya duduk saya yang akan menggantikan Bu Laras mengajar IPS" ucapnya tegas.
Nara mengambil kertas ulangan nya yang sudah kusut di lantai dan menangis sesenggukan terlalu
sakit baginya, dia merasa bersalah dan merasa beban bagi teman teman nya.

Akhirnya jam pulang sekolah pun tiba semua nya bersemangat pulang ke rumah hanya untuk
bersantai dan melepas lelah.
Terkecuali Nara yang masih berada di halaman sekolah menyapu sampah dan dedaunan yang
berserakan, ya, ini adalah hukuman karena Nara telat tadi pagi sebenarnya masih ada murid lain
yang telat tapi mereka ditugaskan berbeda, sehingga sekarang hanya Nara sendiri yang menyapu
halaman dengan kondisi baju juga pikiran yang berantakan, Nara masih merasa kecewa dan malu
pada diri dia sendiri dia merasa gagal, bagaimana jika bunda dan ayah nya juga tau bahwa Nara
mendapat nilai nol? Pikiran itu terus saja berputar di kepala Nara membuat nya resah.

Selesai mengerjakan hukuman nya, Nara pun pulang dijemput oleh ayahnya, saat di perjalanan Nara
lebih banyak diam Nara hanya menjawab dengan gelengan dan anggukan saat ayahnya bertanya,
membuat ayahnya pun khawatir juga bingung, Nara hanya masih memikirkan hal yang terjadi
beberapa jam lalu.

Saat sampai rumah Nara cepat membersihkan diri kemudian turun untuk makan, setelah makan
Nara mengambil kertas ulangan yang sudah lecek karena kejadian tadi di sekolah, dia deg deg an
karena takut ayah dan bunda nya marah, tetapi setelah meyakinkan dirinya akhirnya dia
memperlihatkan hasil ulangan nya.
"Apa ini?!" Tanya ayah dengan nada yang agak meninggi
"U-ulangan matematika yah" jawabnya gemetar
"Kok bisa nilai kamu sampai kayak gini?" Kini giliran bunda nya yang bertanya dengan nada lembut.
"Pasti gara gara game ini" kata ayah menyela
"Enggak yah bukan gara gara game aku nya aja yang kurang belajarnya"
"Iya kamu kurang belajarnya karena kelebihan main game Nara"
"Sudah ayah putuskan, kamu harus les!" Ucapnya tegas tanpa mau adanya penolakan.
"Yahh tapi aku masih bisa belajar sendiri" mohon Nara
"Enggak ada kamu harus les, mulai besok"
"Tapi yah Nara capek kalo harus les apalagi kalo tempatnya jauh"
"Udaah enggak ada alesan kamu harus les, kamu udah kelas 3 dan bentar lagi ujian, mau sampai
kapan nilai kamu gini terus?" Mata Nara mulai panas dan mengeluarkan air mata.
"Iya Nara kamu nurut yah sama bunda sama ayah ini demi kebaikan kamu juga, kamu anak satu
satunya cuma kamu harapan kami berdua, tolong yaa turutin" ucap bunda lembut. Nara pun mau
gak mau ya harus mau dan menyetujui buat les demi masa depan dia dan orang tua nya.
"Iya aku mau" setelah itu Nara naik ke atas dan ngerem di kamar dia butuh waktu sendiri setelah
hari yang sangat panjang dan melelahkan ini, tak terlewat juga acara main game nya untuk
menghalau stres, Nara belum kapok rupanya.

Besok pagi nya, dengan tumben sekali Nara bisa bangun pagi dan sudah siap sebelum jam 07.00,
sekarang Nara sedang sarapan di dapur besama kedua orang tua nya.
"Nara" panggil ayah
"Ya?"
"Hari ini kamu mulai les, ayah gak akan nempatin les jauh jauh, kata bunda tetangga kita, Tante Diah
punya anak yang pinter sering mengikuti olimpiade dan gak jarang juga mendapat juara dan lebih
beruntungnya lagi dia satu sekolah sama kamu" jelas ayah panjang lebar, tapi Nara masih bingung
siapa tetangga nya? Satu sekolah dengan Nara?
"Iya yah" jawab Nara singkat padahal masih banyak yang ingin dia tanyakan seperti, namanya
mungkin? Tapi yang pasti hari ini juga dia bakal ketemu cepat atau lambat pasti bakal tau.

Bel istirahat berbunyi, Nara dan Jessi menuju kantin membeli makanan pengganjal sebelum makan
siang.
"Ra" panggil Jessi
"Hmm" Jessi jadi merasa bersalah telah memberikan kertas ulangan itu, lihat sekarang teman yang
paling cerianya masih murung dan gak mau banyak bicara.
"Maafin yah" Nara pun menoleh bingung
"Kenapa emang?"
"Gara gara kertas ulangan, maaf yah" Nara tertawa hambar
"Hahahah, gak papa kali Jess itukan kertas ulangan punya aku yah harus aku ambil aku harus tau"
"Iya tapi tetep"
"Udah gak papa bukan salah kamu kok" ucap Nara tersenyum lembut agar Jessi tak merasa bersalah
lagi.

Setelah itu mereka mengambil tempat duduk untuk memakan bakso yang sudah di pesan.
"Jess" panggil Nara, Jessi menoleh
"Kenapa Ra?"
"Aku disuruh les sama ayah, tapi aku gak mau"
"Lah kenapa? Kan bagus biar hmm maaf nilai kamu lebih bagus lagi" ucap Jessi ragu ragu
"Iya aku tau, tapi kan aku udah capek sekolah maksudnya dari sekolah juga kita dapet tugas apalagi
kita pulang sore terus karena ada mapel tambahan" ucap Nara lesu
"Hmm iya juga sih, emang ayah kamu nyuruh les di mana?"
"Di tetangga" jawab Nara polos
"Tetangga? Yang bener Ra?" Tanya Jessi bingung
"Iyaa tetangga aku, Tante Diah katanya punya anak pinter suka ikut olimpiade terus katanya masih
anak sini juga"
"Anak sini gimana? Sekolah di sini gitu?"
"Iya, tapi gak tau juga yang mana anaknya"
"Ooh, eh tapi setau aku kalo yang suka ikut olimpiade kan si Arlan iya gak si"
"Hah? Gak tau aku" balas Nara santai
"Ish Ra..Ra apa sih yang kamu tau? Udah pasti si jawabannya, game, kamu cuma tau game doang"
"Hehehe" Nara tertawa kikuk tidak tau harus menjawab apa karena memang benar begitu. Jessi
menoyor kepala Nara lagi lagi tidak mengerti dengan sahabat nya itu.
"Nanti deh, sore kan aku langsung les pasti bakal tau" ucap Nara
"Kasih tau yah nanti siapa tau gitu kann" ucap Jessi sambil senyum dan menarik turun kan ke dua alis
nya.
"Siapa tau apaan sih Jess? Ga jelas banget" ucap Nara memasang ekspresi jijik melihat muka Jessi.
"Hehehe siapa tau ganteng terus bisa di gebet gitu kann" tawa Nara pecah seketika mendengar
ucapannya Jessi.
"Ada ada aja kamu Jess, dah jangan banyak ngayal" setelahnya mereka berdua hanya tertawa dan
lanjut menyantap bakso yang tinggal setengah.

Kriiinggg!!
Bel masuk berbunyi semua siswa yang tengah asik di kantin buru buru masuk kelas.

.......
4 jam sudah berlalu bel pulang sekolah sudah berbunyi Jessi dan Nara langsung membereskan meja
nya, memasukkan buku buku ke tas dan segera keluar, biasanya mereka masih akan tinggal untuk
beberapa saat tapi karena kejadian kemaren Nara menjadi tidak betah di kelas apalagi bertemu
dengan Irene dan Jennie, menyebalkan dan rasanya ingin terus menjambak rambut nya bila
bertemu.

"Ra pulang sama siapa?" Tanya Jessi saat mereka sudah berada di dekat gerbang
"Sama ayah, kenapa?"
"Gak papa sih takut kalo gak ada yang jemput, kamu malah belok dulu ke warnet biasa buat main
game" ujar Jessi
"Gak lah udah tobat nih biar dapet nilai bagus terus jadi anak pinter, lagian kalau ketauan ayah abis
aku" kata Nara tertawa
"Iya juga sih, inget Ra kalo sekarang kurang kurangin deh yah main game nya, kalo udah lulus dapet
nilai bagus baru deh boleh main game sampe mabok juga gak papa" ledek Jessi
"Kamu niat ngingetin apa ngejek si Jess?" ucap Nara kesal tetapi pada akhirnya mereka hanya
tertawa sampai mobil berwarna hitam berhenti di hadapan mereka berdua dan memperlihatkan
seorang lelaki memakai jas hitam berumur 45 tahun an.
"Nara!" Panggil nya dari dalam mobil
"Eh iya yah, Jessi duluan yaa!" Nara pun memasuki mobil
"Iya hati hati" setelah itu keduanya melambai kan tangan.

"Ra sore bisa kan les?" Tanya ayahnya


"Iya bisa yah" seketika suasana hening kembali, hanya terdengar suara mesin mobil.

Setelah sampai rumah, Nara langsung mandi dan makan habis itu segera pergi les hanya jalan kaki
karena Nara hanya les di tetangga nya saja.

"Permisi" ucap Nara di depan pagar sembari melihat ke arah dalam rumah Tante Diah. Tak lama
seorang perempuan memakai rok selutut bertubuh langsing dengan muka yang sangat keibuan
keluar menyambut hangat Nara.
"Hai Nara, masuk sayang" katanya lembut
"Oh iya tante" ucap Nara sopan, Nara harus menjaga sikap tidak boleh petakilan dan malu malu in,
itu yang terus diucapkan Nara dalam hatinya. Setelah masuk ke dalam rumah yang bergaya
minimalis tersebut Nara dipersilahkan duduk di ruang tamu dengan suguhan berbagai macam
cemilan, Mata Nara berbinar melihat makanan sebanyak itu juga bingung mengapa Nara di kasih
banyak sekali makanan padahal niatnya hanya mau les kalau begini Nara hanya akan makan dan
melupakan niat awalnya datang kemari.
"Nara tunggu di sini dulu yah, Tante panggil Arlan dulu" seketika Nara sadar dari lamunan, dan
memproses perkataan Tante Diah tadi. Arlan? Begitu batin Nara
Tak sampai 1 menit orang yang membuat Nara penasaran datang, Nara terkejut karena ucapan Jessi
di kantin tadi benar bahwa yang akan menjadi 'guru les' Nara adalah Arlan si ketua OSIS
menyebalkan.
"Kamu?!" Ucap Nara sedikit berteriak, si empunya hanya menatap datar, memang sebelumnya Arlan
sudah tau bahwa dia akan menjadi 'guru les' Nara dan dia menyetujui jadi dia tidak merasa terkejut
atau apa pun itu.
"Dah cepet keluarin buku nya kita belajar" titah Arlan dan mengambil posisi duduk di sebelah Nara,
Nara masih berdiri mematung, kenapa dia harus les dengan Arlan? Pasti Nara bakal dimarah marahin
kalau dia gak bisa nyelesain soal, batin Nara khawatir dan gugup.
Melihat Nara yang hanya berdiri membuat Arlan kesal kemudian menarik pergelangan tangan Nara
untuk duduk di sebelahnya, Nara yang diperlakukan begitu terkejut dan buru buru melepaskan
pegangan Arlan setelah itu mengeluarkan buku tebal berisi soal soal matematika.

"Kamu harus belajar serius, 2 bulan lagi udah ulangan akhir nilai kamu harus bagus" ucap Arlan
seraya membuka buku tebal yang Nara bawa.
"Hmm" ucap Nara malas
"Oke setiap pertemuan kamu ngerjain 20 soal aja" ucap Arlan enteng
"Aja?!" Tanya Nara nge gas
"Emang kenapa? 20 soal doang loh"
"20 soal doang mata mu, itu banyak banget tau kurangin doong" mohon Nara
"Enggak, pokonya 20 soal kalo gak beres gak boleh pulang"
"Ih apaan banget gak lah kalo udah malem harus pulang gak baik anak cewek pulang malem tau"
"Apa sih orang rumah kamu di sebelah doang ribet banget tingggal jalan" ucap nya sudah malas
"Iya tapi kan-" ucapan Nara terpotong karena Arlan yang sudah menyodorkan rumus rumus
membingungkan di hadapan nya
"Kerjain pake cara ini" katanya cepat
"Hah? Langsung nih ngerjain?"
"Yaiyalah, terus mau kapan? Tahun depan? Keburu lulus" katanya dengan muka datar
"Haha gak lucu" ucap Nara malas dengan tawa yang dibuat buat
"Gak ada yang ngelucu, cepet kerjain" ucap Arlan tegas yang membuat nyali Nara menciut. Setelah
itu Nara mengerjakan soal dengan cara yang sudah Arlan berikan.
"Lan ini gimana sih kok bisa jadi gini?" Tanya Nara masih kebingungan. Arlan hanya menghela napas
dia butuh kesabaran ekstra saat mengahar Nara, batinnya.
Arlan pun menjelaskan dengan panjang kali lebar kali tinggi agar Nara mengerti tapi lihat Nara, saat
Arlan menjelaskan dia hanya sibuk memakan cemilan yang disediakan Tante Diah tanpa
memperdulikan ucapan Arlan.
Arlan yang melihat itu langsung bangkit dari duduk nya dan pergi.
"Eh eh hey mau kemana ini belum selesai, aku belum ngerti" teriak Nara yang tidak sadar bahwa dia
masih di rumah orang lain. Arlan pun berhenti dan berbalik badan
"Kali lagi di jelasin perhatiin makannya, bukan makan terus iya lah gak bakal ngerti" ucap Arlan
marah, Nara pun menciut dan perlahan menyimpan cemilannya di meja
"Iya maaf kan sayang udah disediain tapi gak di makan" ucap Nara mempout kan mulutnya, Arlan
hanya memutar bola mata malas terus duduk kembali dan mengambil pensil mulai menuliskan
penjelasan dari rumus rumus matematika yang rumit. Kali ini Nara benar benar memperhatikan dia
takut kalau kalau Arlan marah lagi dan tidak mau mengajari Nara lagi, jujur marah Arlan tadi
menyeramkan.

Setelah pukul 7 malam Nara baru menyelesaikan 20 soal nya.


"Makasih ya Lan, hehehe" ucap Nara dengan cengiran khas nya
"Hmm, dah pulang sana" ucap Arlan malas dia sudah capek mengajari Nara yang banyak tanya dan
omong sehingga dia ingin segera merebahkan tubuhnya di kasur.
"Ngusir?"
"....." tidak ada jawaban dari Arlan dan hanya menatap Nara horor.
"Iya iya ini pulang, dah bye" jawab Nara seraya menggendong tas ransel nya kesal. Arlan
mengantarkan Nara sampai pintu gerbang setelah itu masuk kerumah, menuju kamar dan
merebahkan dirinya di kasur sungguh nikmat.

Sedangkan Nara hanya di kamar dan bermain dengan game nya kalau untuk belajar Nara bisa bilang
capek tapi kalau untuk game tidak ada kata capek baginya, ya itu lah Nara.

Besoknya Nara bisa bangun pagi lagi, tentu ayah dan bunda nya senang ada yang berubah dari
anaknya.
"Bun, Nara berangkat dulu"
"Iya sayang pinter yahh" ucap bunda seraya menusap puncak kepala Nara dan mengecup keningnya.
"Iya bun" setelah pamitan Nara keluar menuju mobil untuk berangkat bareng sang ayah.
"Kemaren gimana les nya?" Tanya ayah dengan mata yang masih fokus menyetir.
"Hmm gak gimana gimana sih, cuman Arlan tuh galak banget orang nya judes gitu lah yah, Nara
takut" mendengar itu ayah pun tertawa kencang.
"Ih ayah kenapa?" Tanya Nara kebingungan
"Kamu itu masa Arlan galak sih? Tadi pagi pas ayah lagi manasin mobil dia nyapa ayah ramah banget
kok"
"Ih iya yah beneran deh dia tuh mukanya datar banget kalo ngeliat Nara, terus bawaanya marah
marah mulu kaya lagi pms" kata Nara ngelantur
"Mana ada laki laki pms Ra ya ampun, anak ayah ini" ucap ayah mengacak acak rambut Nara gemas.

Setelah bebrapa menit mereka sampai sekolah, Nara pun pamitan kepada ayahnya dan segera
masuk gerbang sebelum di tutup.
Saat berjalan di koridor Nara melihat perempuan dengan penampilan khas nya yaitu rambut ikal
dengan bando biru, cepat dia lari menyusul.
"Jess!" Sapa Nara seraya merangkul tiba tiba Jessi dari belakang yang hampir membuat nya
terhuyung ke depan.
"Eh Ra tumben gak telat" ucap Jessi menoleh ke arah Nara
"Jahat banget kamu Jess" Nara pun berakting sekolah olah sedang menangis
"Hahahah canda Ra" mereka pun tertawa dan semakin mengencangkan rangkulan nya di bahu. Jessi
senang sahabat kecil nya ini sudah mulai ceria lagi.

Jam pelajaran pertama sedang berlangsung murid murid sedang mencatat materi yang sedang di
jelaskan pak guru di depan. Diam diam Jessi memulai obrolan ke pada Nara
"Ra kemaren gimana les?" Tanya Jessi bisik bisik agar tidak ketahuan
"Ternyata beneran si Arlan yang kemaren kamu sebutin itu" balas Nara santai. Mendengar itu Jessi
mebulatkan bola matanya.
"Beneran?!" Tak sadar suaranya terdengar oleh seluruh penghuni kelas. Murid serta guru pun
langsung memusatkan perhatian nya kepada Nara dan Jessi. Melihat itu Nara dan Jessi hanya bisa
tersenyum masam merasa malu sekali dan menggumakan kata maaf.
"Kalian sedang apa hah?" Tanya Pak Ganjar sang guru PKN
"Eh pak maaf, enggak ada apa apa kok pak" kata Jessi gemetar
"Perhatikan dan pahami jangan ngobrol terus, kalau mau gantikan saya saja di sini menjelaskan"
"Eh enggak pak bapak aja"
"Oke lanjut semua nya perhatikan ya" titah nya
Jessi dan Nara hanya saling pandang saja, ingin rasanya Nara menggetok kepala Jessi karena sudah
membuat Nara juga malu. Akhir nya mereka mendengarkan dan memperhatikan penuturan Pak
Ganjar dengan cermat.
Satu satu mata pelajaran telah usai, kini bel telah bunyi. Nara dan Jessi segera menuju gerbang.
"Ra hari ini les lagi?"
"Iya dong tiap hari sekolah aja, kecuali hari minggu itu mah buat pacaran"
"Hah? Pacaran gimana?" Ucap Jessi bingung
"Iya pacaran, sama game, hehehe" ucap Nara tertawa dan langsung berlari menuju mobil ayahnya
yang kebetulan sudah sampai sebelum kena rentetan pukulan dari Jessi.
Jessi yang melihat pun hanya menghela napas dan geleng geleng.
"Dah Jessi duluan yah, babay" teriak Nara dari jendela mobil dan hanya di balas anggukan juga
lambaian tangan oleh Jessi.

Seperti kemaren setelah sampai rumah Nara langsung bersiap untuk les di rumah tetangganya,
Arlan. Tak lupa membawa buku tebal yang membuat tasnya langsung berat hanya dengan
membawa 1 buku.
"Arlaaan!" Teriak Nara tak tau malu. Kemudian keluarlah seorang lelaki dengan tinggi 170 cm, tidak
kurus tidak pula gendut, berkulit putih, memakai celana jeans pendek dan kaos bertuliskan 'NASA' di
tengahnya.
"Masuk" Nara pun nurut dan segera masuk, dilihat nya meja dengan cemilan yang sama banyak nya
seperti kemaren Nara jadi berfikir seberapa banyak stok cemilan yang dimiliki keluarga ini?
"Langsung belajar, hari ini ngerjain 10 soal aja, mau futsal soalnya" Nara menatap Arlan tak percaya
multitasking sekali dia, pulang sekolah kalau ada pr dia pasti ngerjain pr dulu abis itu jadi 'guru les'
Nara dan sekarang? Dia mau futsal? Wah Nara menjadi kagum kepada Arlan.
"Jangan bengong cepetan keluarin bukunya" suara tegas Arlan membuyarkan lamunan Nara dan
segera menepis kata 'kagum' kepada Arlan tadi. Segara Nara mengerjakan soal dari buku tebal
tersebut di bantu oleh Arlan tentunya mana bisa Nara mengerjakan sendiri yang ada sampai jam les
selesai 1 soal pun gak ada yang ke isi. Syukur hari ini tidak ada perdebatan seperti hari kemaren
sehingga suasana les menjadi tenang dan rumus rumus yang diberikan Arlan bisa masuk dengan
mudah ke otak Nara. Nara tuh pintar sebenarnya tapi Nara terlalu malas untuk belajar, membuka
buku saja malas apalagi membaca dan memahami materi nya.

....
Keesokan hari nya Nara, Jessi, dan murid murid kelas 3 lainnya sudah berada di aula sekolah untuk
menerima pengumuman dari guru, entah apa itu.
"Baik, anak anak sekalian yang bapak banggakan dan bapak cintai dikumpulkan nya kalian di sini
adalah untuk memberikan informasi mengenai ujian sekolah yang akan di adakan 2 bulan lagi, tolong
siap kan diri kalian untuk menghadapi ujian ini dan benar benar memanfaatkan waktu yang ada
untuk menguasai materi yang diberikan jangan lupa berdoa dan terus berusaha, itu saja mungkin
dari bapak, dilanjutkan oleh Bu Laras yang akan menjelaskan tentang pemantapan atau jam
pelajaran tambahan untuk persiapan ujian sekolah, sekian terimakasih" begitu ucapan dari Bapak
kepala sekolah dan dilanjutkan oleh Bu Laras selesai semua murid kembali ke kelas masing masing.

"Ra gak kerasa yah kita udah mau lulus aja, rasanya sedih, seneng, campur aduk lah pokonya" ucap
Jessi saat berjalan beriringan di lorong menuju kelas.
"Iya Jess kita bakal pisah, gapai impian masing masing" balas Nara dengan nada sedih
"Ih gak gitu lah Ra, kita kan masih bisa ketemu kalau ada waktu"
"Iya kalau ada waktu kalau enggak?"
"Ih pasti ada kok, udah tenang aja kita pasti masih bakal ketemu lagi kok, sekarang fokus aja belajar
bentar lagi ujian, oke?" Ucap Jessi menenangkan dan merangkul bahu Nara masuk kelas.
......
Setelah pulang sekolah Nara terus saja berbaring bermain game hingga lupa waktu, dan tak ingat
kalau dia harus ke rumah Arlan untuk les.
Double kill
Savage
Enemy has been slain
The turret under attack
Triple kill
Suara suara itu terus saja memenuhi kamar bernuansa putih milik Nara sampai akhirnya Nara sadar
ketika melihat jam, sudah pukul 5 sore itu artinya Nara sudah telat 1 jam untuk les ke rumah Arlan.
Nara mengusap wajah nya gusar dan segera turun bersiap siap ke rumah Arlan saat di tangga
menuju bawah Nara terkejut melihat lelaki bernama Arlan dengan muka sumringah nya masuk ke
rumah Nara saat bunda Nara menyuruhnya masuk benar benar beda sekali sikapnya saat dengan
Nara, menyebalkan.

"Loh Nara kamu tuh daritadi ngapain aja sampai lupa les?"
"Malah jadi Arlan yang ke sini,, kamu tuh gimana sih Ra" omel bunda kepada Nara yang masih
membeku di tangga.
"Sini cepetan udah sore banget jangan sampe les kemaleman selesainya"
"I-iya" Nara pun cepat turun dan menghampiri Arlan yang sedang menatap sekeliling rumah Nara.
"Lan, maaf yah heheh jadi kamu yang ke sini" ucap Nara malu malu, bukan sikap Nara banget inii.
"Gak papa santai aja, lagian kamu pake acara lupa segala"
"Iya maaf"
"Dah cepet duduk sini" kata Arlan menepuk tempat kosong di sebelahnya. Nara pun menuruti dan
langsung mengerjakan 10 soal dengan cara yang sudah diajarkan Arlan.

"Lan, makasih yah" ucap Nara setelah beres mengerjakan soal.


"Hmm, sama sama aku pulang dulu bilangin ke bunda"
"I-iya" bales NARA gugup

Setelah beres les, Nara membuka ponsel nya dan langsung membuka aplikasi bermain game.
Welcome to Mobile Legend
Dengan semangat Nara memijit mijit layar ponsel layaknya pemain pro.

.....
Keesokan hari nya di sekolah.
"Nara!" Panggil Jessi dari arah belakang saat Nara sedang berjalan menuju kelas.
"Hey Jess" keduanya tersenyum dan masuk ke kelas.

2 jam kemudian bel istirahat berbunyi.


"Nara, besok kan ada ulangan harian matematika, usahain belajar ya, jangan nol banget nilainya"
Nara pun tertawa
"Ih aku serius Ra" kata Jessi merajuk
"Iya iya Jesii" ucap Nara dan mencubit kedua pipi gembul Jessi.
"Lagian aku kan udah les jadi adaa lah yang aku ngerti, heheh"
"Hmm iya iya"
Mereka pun menyantap makanan yang sudah di pesan.

....
Sore pun tiba seperti biasa Nara akan pergi untuk les apalagi besok ia ada ulangan, Nara harus
belajar dengan serius. Suasana les hari itu sangat khidmat, Nara sudah mulai bisa mengerjakan soal
sendirian tanpa di bantu Arlan sebuah kemajuan yang luar biasa bukan?
Setelah beres les Nara makan malam bersama kedua orangtua nya di meja makan.
"Ra, gimana lesnya sama Arlan?" Tanya bunda membuka obrolan.
"Seru kok bun, Nara juga udah ngerti dikit dikit materi matematika nya" ucap Nara seraya
menyendokkan nasi ke mulut.
"Syukur kalau gitu, semoga ada perubahan sama nilai kamu yah"
"Iyaa bunda, aamiin"

Makan malam pun usai, setelah gosok gigi Nara segera naik ke tempat tidur memilih langsung tidur,
hari ini tidak ada acara main game, Nara sudah terlanjur lelah karena semua kegiatan hari ini.

......
Saat ini Nara sedang menjalani ulangan harian matematika, berbeda dengan sebelum sebelum nya
karena Nara merasa kesusahan dengan soal yang diberikan oleh Pak Suripto, kali ini Nara benar
benar bisa mengerjakan dengan lancar tanpa kesusahan, Nara tak henti henti nya mengucapkan
syukur.
1 jam terlewati semua murid mengumpulkan kertas ulangan, tinggal menunggu hasil nya dibagikan.
"Wah Ra akhir nya beres juga ya, lega banget tadi di kelas aku gemeteran loh Ra" cerita Jessi antusias
"Hahaha, iya Jess, tadi juga gatau kesambet apa aku bisa ngerjain 10 soal maut Pak Suripto dengan
tenang" ucap Nara bangga.
"Beneran Ra? Bagus dong, huwaa selamat Ra les kamu selama 1 bulan ini berhasil"
"Hahaha iya Jess, aku harus bilang makasih sama si Arlan"

Tidak tau kebetulan atau apa, setelah nama Arlan di sebut orang nya tiba tiba lewat di depan Nara
dan Jessi yang sedang duduk di kantin.
"Eh Ra, tuh Arlan, bilang sekarang aja gih sana" ucap Jessi seraya mengguncang guncangkan tubuh
Nara antusias.
"Ih ih Jess diem dulu deh"
"Hehehe maap, tapi Ra itu Arlan" Jessi menunjuk Arlan dengan dagunya.
"Iya aku juga tau kali itu Arlan, tapi nanti aja deh pas les aja malu di sini liat tuh banyak temen temen
nya"
"Oh oke deh"

....
Waktu les pun tiba, Nara sudah menyiapkan coklat yang tadi dia beli saat jalan pulang sebagai
bentuk terimakasih kepada Arlan.
"Arlaaan!" Panggil Nara di depan pagar.
"Eh Ra" Nara terkejut tumben tidak langsung menyuruh nya masuk dengan muka datar andalannya,
kali ini mukanya terlihat lebih ramah dengan senyum manis yang jarang bahkan tidak pernah Nara
lihat.
"Tumben" gumam Nara, tetapi masih bisa di dengar oleh Arlan.
"Tumben apa Ra?" Kan tumben banget dia peduli dengan omongan Nara.
"Tumben banget nanya nanya terus banyak omong"
"Gak boleh? Yaudah" ucap Arlan merajuk dan kembali memasang wajah datar. Nara memutar bola
mata malas.
"Yaa enggaak, cuma aneh aja gitu gak biasa nya"
"Hmm, udah ayo masuk" sikap Arlan berubah lagi seketika menjadi Arlan yang kemarin kemarin.

Di tengah mengerjakan soal les nya Nara ingat sesuatu bahwa di ingin mengucapkan terimakasih
kepada Arlan.
"Lan" panggil Nara hati hati
"Apa?" Wah hari ini Nara banyak terkejut karena sikap Arlan
"Hmm, aku mau bilang makasih"
"Makasih?"
"Iyaa, tau gak? Tadi ulangan matematika aku bisa loh"
"Masa?"
"Ih beneran Arlan aku bisa ngerjain 10 soal maut nya Pak Suripto"
"Oh, bagus deh kalo gitu, makanya kalo les tuh yang bener jangan sampe lupa lagi" ucap Arlan
seraya menyubit pipi Nara yang sudah penuh dengan cemilan nya.
"Arlan!" Teriak Nara memenuhi seisi ruangan tanpa memperdulikan mamahnya Arlan yang ada di
pinggir ruangan sedang menonton tv.
"Hey, Arlan kamu apain Nara?" Kata mamah nya sedikit berteriak.
"Enggak ngapa ngapain kok mah, Nara aja yang lebay"
"Jangan ribut terus yaa"
"Iya mah"

"Ish tuh kan Arlan jadi dimarahin" ucap Nara seraya memasang muak kesal.
"Siapa juga yang di marahin?" Tawa Arlan pecah dan mencubit ke dua pipi Nara gemas.
"Arlan sakit ih" protes Nara tak terima dari tadi pipinya di cubitin terus, sehingga memukul tangan
Arlan tanpa ampun.
"Aw! aw! Iya iya, ampun ampun Ra" mohon Arlan kesakitan.
Nara pun menyudahi pukul pukul tangan Arlan nya dan melanjutkan mengerjakan soal.

Sebelum pulang Nara berhenti dulu di depan pagar Arlan, melihat itu Arlan kebingungan.
"Kenapa Ra? Ada yang ketinggalan?"
"Eh enggak kok" setelah itu Nara langsung merogoh tas nya mengeluarkan satu bungkus coklat dan
diberikan kepada Arlan.
"Apaan nih Ra?" Tanya Arlan makin bingung
"Makasih yah"
"Apa sih Ra, ya ampun" tanya Arlan di selingi dengan tawa hambarnya.
"Dah ambil aja, aku pulang dulu bye" Nara pun jalan menuju rumah yang ada di sebelahnya.
Arlan hanya menatap coklat tersebut dengan senyum senyum.

.....
Tak terasa 2 bulan berlalu ujian sekolah sudah di depan mata semua murid kelas 3 merasa gugup
dan merasa belum siap sepenuhnya.
Begitu juga dengan Nara jantung nya berdetak lebih cepat saat sudah di kelas dan bersiap
mengerjakan soal ulangan.
Nara terus saja meyakinkan dirinya dan berdoa agar ulangan akhir nya ini bisa dikerjakan dengan
lancar dan mendapat kan hasil yang memuaskan.
Setelah 2 jam berkutik dengan soal ulangan, Nara dan semua siswa keluar dari kelas siap untuk
pulang ke rumah mempersiapkan hari esok untuk ulangan hari ke dua dengan perasaan penuh harap
pada hasil ulangan masing masing.

Nara sudah pulang dari 20 menit yang lalu, di sekolah tadi dia bertemu Jessi dan Arlan mereka
mengobrol sebentar sebelum pulang, ya, Arlan dan Jessi pun sudah dekat semenjak dia ikut Nara ke
rumah Arlan untuk belajar bersama menyiapkan ujian.

Nara bosan karena pulang lebih cepat dari biasanya sehingga masih banyak waktu sebelum waktu
les tiba.
Dari tadi dia hanya guling guling di kasur bingung mau melakukan apa. Jangan harap Nara bisa
bermain game di saat ujian seperti ini orang tua nya melarang keras, kalau tetap nekat dan ketahuan
kedua nya habis sudah Nara di marahin.

Sehingga dia benar benar harus menahan diri untuk tidak menyentuh aplikasi bermain game, PS, dan
hal hal berbau game lainnya untuk 3 hari ke depan, ayolah hanya 3 hari tapi Nara sudah benar benar
tidak tahan.

Waktu les pun tiba, Nara bersemangat sekali, di depan rumah sudah ada Jessi yang beberapa minggu
kemarin ikutan juga les bersama menunggu Nara agar bareng menuju rumah Arlan.

Mereka bertiga pun belajar bersama dengan serius saling bertanya jika ada yang tidak dipahami,
mengerjakan soal sebanyak banyak nya dan diskusi lannya yang membuat mereka tambah dekat
sebagai teman baru, ya teman baru Nara dan Jessi, Arlan.

Malam pun tiba Nara tidak langsung tidur dia masih berkutat dengan buku buku nya memahami
materi yang tersusun rapih di sana.
Hingga tak terasa waktu telah menunjukan jam 12 malam, perut Nara bersuara minta diisi tetapi
Nara sudah terlalu lelah dan mengantuk untuk hanya sekedar turun ke bawah dan memakan
masakan bunda nya yang ia lewati karena belajar.

Nara pun tertidur mengistirahatkan tubuhnya.

......
Selama ujian Nara selalu tidur larut malam karena belajar, dia sungguh sungguh ingin mendapatkan
nilai terbaik agar kedua orang tua nya bangga, juga tak jarang Nara melewati waktu makan nya.

Hari ini adalah hari terakhir ujian semua siswa senang bercampur cemas dengan hasil nya.
Mereka berkumpul di lapangan merayakan hari terakhir ulangan, di sana semua guru mengucapkan
selamat dan memberikan sedikit wejangan untuk semua murid kelas 3, semuanya menyambut
antusias tak terkecuali Nara, Jessi, juga Arlan mereka tertawa lepas dan saling berpelukan, setelah
itu sampai lah sesi foto foto dan salam salam an.
Hingga semua pun membubarkan diri menuju rumah masing masing dan bebas melakukan aktivitas
sesuka nya. Nara juga sangat senang dia bisa bermain lagi dengan game game nya yang sudah ia
rindukan dari 4 hari yang lalu.

.....
Saat malam hari tiba Nara masih berkutat dengan game nya seperti biasa kalau sudah dengan game
suka lupa waktu, dan baru tertidur sekitar pukul 2 pagi.

....
Pagi harinya Nara masih terlelap walau matahari telah menyoriti muka cantiknya. Bunda nya yang
sudah menyiapkan sarapan langsung naik ke atas untuk membangunkan Nara.
"Nara!" Panggil bunda nya, mengetuk pintu kamar Nara.
Nara hanya menggeliat malas mendengar teriakan bunda nya. Dia merasa matanya sangat berat,
tubuhnya menghangat dan lemas di sekujur tubuh, juga pusing di kepala sehingga membuat dia
makin merasa susah untuk bangun. Dengan suara parau habis bangun tidur Nara mempersilahkan
bunda nya masuk kamar.
"Masuk aja bunda"
Bunda pun masuk dan terkejut melihat kondisi Nara yang sudah pucat, bunda pun buru buru
mendekat mengecek keadaan Nara, bunda terkejut karena suhu Nara benar benar di atas rata rata
saat telah di cek suhu, bunda pun langsung menyiapkan air dan lap kecil untuk mengompres dahinya
yang panas.
Siang nya Nara langsung di bawa ke dokter oleh ayah, kata dokter Nara kecapek an dan telat makan
sehingga mengganggu sistem imun, Nara harus istirahat beberapa hari sampai keadaan nya pulih
kembali.

Mendengar hal ini Jessi juga Arlan datang ke rumah Nara untuk menjenguk, mereka datang
menghibur dan memberikan semangat kepada Nara untuk sembuh, Nara benar benar bersyukur
mempunyai 2 sahabat yang sangat pengertian seperti mereka, walau pada awalnya Nara sempat
benci kepada Arlan karena sikap menyebalkan nya tetapi lihat, mereka mejadi teman bahkan
sahabat sekarang.

"Makasih ya, Jess, Lan udah repot repot nyempetin waktu buat jenguk aku" ucap nya lemah, Jessi
dan Arlan membalas dengan senyuman manis nya
"Eh jangan bilang gitu kita gak repot sama sekali kok" ucap Jessi menyangkal omongan Nara
"Iya Ra kita seneng malah bisa dateng ke sini, kita kan sahabat Ra harus saling semangatin dan bantu
kalau temen nya ada susah" Jessi hanya anggun manggil setuju sedangkan Nara hanya tersenyum.

Tak terasa sore telah tiba Jessi dan Arlan pamit pulang.
"Ra kita pulang dulu yah, cepet sembuh, pokonya pas acara kelulusan nanti kamu harus dateng!"
Ucap Jessi penuh penekanan.
"Hahaha iya iya pasti dateng kok aku, lagian cuma demam doang besok juga sembuh" ucap Nara
lembut tidak seperti biasanya yang teriak teriak semangat.
"Cuma demam nenek mu, pokonya janji harus sembuh terus dateng ya Ra!" Kata Arlan bersemangat
dan lebih cerewet dari biasanya.
"Iya iya udah sana pulang"
"Dih ngusir" kata Arlan tak terima
"Iya udah yu ah pulang, kita ngambek loh Ra" kata Jessi menggoda
"Bodo amat udah sana pulang aku mau tidur, makasih yaa" kata Nara seraya menarik selimut
menutupi setengah tubuhnya. Arlan dan Jessi hanya memutar bola mata malas dan menutup pintu
kamar Nara pamitan kepada ayah dan bunda Nara untuk pulang.
"Makasih ya kalian udah mau jenguk Nara" kata bunda lembut
"Iya bunda sama sama" ucap Jessi dan Arlan bersamaan
"Kita pamit dulu bunda, yah" ucap Arlan membungkuk sopan
"Iya hati hati yah" kata ayah
"Iya yah rumah Arlan cuma di sebelah kok" celetuk Arlan seraya nyengir kuda
"Hahaha tapi kan ini ada Jessi dia rumah nya jauh Lan, jangan geer deh" ucap ayah mereka pun
tertawa, menertawakan Arlan lebih tepatnya.

....
Hari ini adalah pengumuman hasil ujian, semua siswa merasa lega telah mendapatkan hasil nya.
Nara yang dari 2 hari lalu sudah sembuh dari demam nya pun merasa sangat bahagia dan lega,
karena nilai yang ia dapat sangat sangat memuaskan, sehingga membuat kedua orang tua nya ikut
bangga dan bahagia.
.....
Hari ini adalah acara perpisahan seperti janji Nara kepada ke dua sahabatnya dia akan datang,
dengan memakai kebaya berwarna merah yang pas di tubuhnya membuat Nara terlihat sangat
anggun, tak lupa polesan sederhana make up di wajah mungilnya membuat Nara makin terlihat
cantik dan manis bak putri keraton.

Nara, Jessi, dan Arlan bertemu di gedung tempat cara perpisahan di selenggarakan, setelah
mengikuti semua rangkaian acara mereka berfoto foto ria mengabadikan momen indah yang tak
terlupakan ini.
Semua nya tertawa bahagia setelah melewati masa masa 'sulit' selama 3 tahun sekolah.
Perjalanan mereka belum usai, mereka masih harus berjuang menggapai cita cita nya dan
mendapatkan semua yang diinginkan. Tak terasa semua nya telah usai Nara sangat bersyukur bisa
menyelesaikan semua nya dengan baik, Nara pun sangat berterima kasih kepada kedua orang tua
dan ke dua sahabatnya yang selalu mendukung dan menyemangati Nara tak lupa guru guru yang
selalu dengan sabar menghadapi sikap Nara dan mengajari Nara, juga yang terakhir adalah Irene dan
Jennie mereka adalah salah satu alasan Nara ingin berubah, Nara menjadikan omongan menusuk
Irene waktu itu sebuah motivasi dan berusaha membuktikan bahwa Nara bisa berubah.